FF/1SHOT/PG-13/FOUR SEASONS

14 Jan

Title : Four Seasons

Author : shineeisland

Genre : Romance

Rating : PG-13

Casts : Kim Sun Hee [Rana Rafidah Giani]

Lee Jinki [Onew SHINee]

*****

Musim semi adalah musim favoritku. Pada musim semi, kita bisa melihat bunga-bunga bermekaran, hewan-hewan keluar dari persembunyian, dan lain-lain.

Hari ini adalah hari pertama musim semi. Namun kenapa sih di hari pertama musim yang berbahagia ini harus dibuka dengan kesialan…?

“Ah, hari ini naik kereta lagi…” keluhku. “Kenapa sih supirku pulang kampung, jadinya aku harus naik kereta kan.”

“Memangnya tidak ada yang menggantikannya, Sunhee?” tanya Sooyoung yang sedang berjalan di sampingku.

“Tidak ada… Kau tahu kan oppaku si Jaejin itu tidak bisa menyetir…”

“Kenapa tidak sewa supir lain saja?” Sooyoung bertanya lagi. Lama-lama aku mulai malas menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang tidak penting itu.

“Tidak ada yang sempat pergi untuk mencarinya, lagipula appa dan oemmaku sibuk…” jawabku lemas. Tiba-tiba klakson mobil berbunyi. Pasti mobil Sooyoung.

“Sunhee-ah, aku sudah dijemput, sampai ketemu besok yaa!” Sooyoung berlari sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku hanya balas melambai dengan lemas.

Setelah Sooyoung pulang, aku jadi semakin lemas. Sambil berjalan menuju stasiun, kukeluarkan earphone-ku dari tas. Aku mulai memutar sebuah lagu…

Ddaseuhan bomee omyun

Haessalmankeum haemalgeh ootdun nureul saenggakhae

Nalsshiga pogeunhadamyuh

Baggeuro nagajamyuh nal ggaeoo gon haettji

Tanpa terasa aku sudah sampai di stasiun. Aku segera membeli tiket dan menunggu di peron stasiun.

“Kereta tujuan Daegu akan segera tiba…” Petugas stasiun mengingatkan para penumpang untuk bersiap-siap

Aku beranjak dari bangku dan berjalan ke dekat rel. Rumahku memang jauh, di Daegu. Tapi appaku menyekolahkanku di Seoul agar aku bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Kereta telah tiba. Kadang aku aneh dengan kereta. Mengapa kalau kita berada di dalam kereta, rasanya kereta lambat sekali. Sementara kalau kita melihatnya dari luar, ternyata kereta melaju dengan sangat cepat.

Sebenarnya aku suka sekali naik kereta. Kalau kita naik kereta akan lebih cepat sampai. Selain itu aku suka sekali dengan angin yang dibuat kereta. Angin yang dibuat kereta sangat kencang dan bisa menerbangkan barang-barang. Aku suka melihat pemandangan sejenis ini, kertas-kertas beterbangan, diikuti dengan suara kereta yang melaju…

Akhirnya kereta berhenti. Aku melangkah masuk perlahan. Kereta hari ini sangat sepi. Sebenarnya dari kemarin juga sudah sepi. Aku tak tahu kenapa, padahal kan sekarang musim semi, pasti menyenangkan bisa naik kereta.

Aku mencari tempat duduk yang kosong. Sebenarnya yang lebih tepat bukan tempat duduk yang kosong, tapi tempat duduk yang nyaman, karena semua tempat duduk di sini semuanya kosong, hanya aku saja yang ada di sini.

Tiba-tiba seseorang melangkah masuk. Ah, untuk apa ada orang itu. Padahal aku sudah senang berada di sini sendirian. Kalau sendirian rasanya kereta ini milik sendiri.

Orang itu duduk tak begitu jauh dariku. Ternyata dia anak laki-laki. Sepertinya seumuran denganku. Dia memakai seragam sekolah dan memegang banyak buku.

Kereta mulai bergerak. Aku memandang keluar jendela dan melihat pemandangan di sana. Ah, indahnya… Aku menikmati pemandangan sambil mendengar lagu. Earphone-ku masih terpasang.

Haru jongil du oon yureum eh do

Nae gyuteh neul bootuh ittdun nae imaeh maethin

Ddambangool neul daggajoodun neega saenggakna

Neul gidarilgeh…

Tiba-tiba seseorang menyenggolku. Ternyata anak itu. Ah, padahal lagunya sudah mau masuk ke reff. Untuk apa sih dia menyenggol-nyenggolku?

“Permisi…” kata anak itu.

“Hah? Apa yang kau katakan?” Aku yang masih memakai earphone tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

“Aku bilang, permisi… bisakah kau mengambilkan pulpenku yang jatuh?” Dia berkata lagi. Namun aku masih saja tidak bisa mendengarnya dengan baik. Akhirnya aku melepas earphone-ku dan bertanya untuk ketiga kalinya.

“Apa yang ingin kau katakan tadi?”

Senyum dari muka anak itu tidak hilang sedikit pun. Padahal aku sudah membuatnya mengulang kata-katanya sampai tiga kali.

“Aku hanya ingin minta tolong padamu untuk mengambilkan pulpenku…” katanya lagi. Suaranya lembut sekali. Seperti suara malaikat.

Aku mencari-cari. Namun aku tak menemukan pulpen itu. Kurasa dia menyadari kalau aku tidak melihat pulpen itu dari raut wajahku yang kebingungan.

“Itu, ada di bawah kakimu…” Aku segera melihat ke bawah kakiku. Ternyata benar ada di sana. Aku segera memungutnya dan memberikan pulpen itu kepadanya.

“Gamsahamnida…” Dia mengatakannya sambil tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya. Setelah itu kami kembali duduk dalam hening.

*****

Hari ini aku akan naik kereta lagi. Tidak seperti biasanya, aku merasa lebih bersemangat karena aku tahu aku akan bertemu anak itu lagi. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya. Mungkin inilah yang disebut love at first sight. Ah, tapi itu tidak mungkin, mana mungkin orang bisa jatuh cinta kepada seseorang pada saat mereka bertemu pertama kali. Mustahil!

Aku melangkah maju mendekati rel. Kereta akan tiba sebentar lagi. Wooz… Kereta akhirnya tiba. Aku masih berdiri menunggu keretanya berhenti sambil merasakan anginnya. Sejuk sekali…

Saat kereta berhenti, aku segera melangkah masuk dan duduk di tempat yang sama lagi. Namun anak itu tidak ada. Semenit, dua menit, anak itu belum datang juga. Tibalah waktunya kereta berangkat. Kereta sudah bergerak sedikit. Tiba-tiba…

“Chakkaman! Chakkaman!” Seseorang berteriak dari luar. Aku menoleh ke luar lewat jendela. Anak itu. Senyuman kecil terbentuk di wajahku.

Anak itu berhasil naik ke kereta. Dia segera mengambil tempat duduk yang sama seperti sebelumnya. Dia tersenyum saat melihatku.

Hening. Tidak ada yang mulai berbicara. Ingin rasanya aku menyapanya tapi bibir ini tak bisa membuka. Aku merasa sangat gugup, sementara anak itu terlihat biasa-biasa saja. Ia terus membaca bukunya tanpa melihat keadaan di sekitarnya.

Sampai aku turun di stasiun pemberhentian, tidak ada di antara kami yang mengeluarkan sepatah kata pun. Saat kereta berhenti, anak itu langsung turun, sepertinya ia terburu-buru.

Aku juga sudah bersiap-siap untuk turun. Tiba-tiba aku melihat sesuatu di bangku kereta. Sebuah buku. Aku segera mengambilnya dan membaca nama pemiliknya yang ada di halaman paling depan. Lee Jinki. Jadi namanya Lee Jinki?

*****

Hari ini adalah hari pertama musim panas. Libur akan tiba sebentar lagi. Sudah empat bulan, tapi supirku tidak pulang-pulang juga. Makanya hari ini aku akan naik kereta lagi. Pulang sekolah aku segera menuju stasiun. Dari hari ke hari, aku merasa semakin bersemangat. Setelah kupikir-pikir, naik kereta itu asyik sekali lho. Kita bisa melihat semua pemandangan dari atas kereta. Mulai dari desa, kota, persawahan, perbukitan…

Buku anak itu masih kupegang. Buku Lee Jinki lebih tepatnya. Hari ini aku berniat mengembalikannya. Saat aku melangkah masuk ke kereta, ternyata Lee Jinki sudah duduk di sana. Ia tersenyum sebentar kepadaku dan melanjutkan membaca.

Aku duduk dan melepaskan sandangan tasku dari punggung. Aku diam saja. Tidak tahu mau mulai darimana. Padahal tadi niatnya aku mau mengembalikan buku Jinki.

“Hey, darimana kau dapatkan buku itu?” Sebuah suara mengagetkanku. Ternyata suara anak itu. Aku menjadi semakin gugup.

“M-mma-maksudmu buku i-ini?” tanyaku dengan sedikit gagap. Tiba-tiba Jinki tersenyum.

“Kau kenapa jadi gugup seperti itu?” katanya ramah, tentu saja dengan senyuman khasnya itu. Hal itu membuat wajahku bersemu. “Apa itu bukumu?” Dia bertanya lagi.

“B-bukan, b-bbuku ini kutemukan di bangku kereta kemarin,” jawabku jujur. “Ap-apakah ini bukumu?” Aku menyodorkan buku itu kepadanya.

“Sepertinya iya,” katanya. Ia mulai membalik-balik halaman buku. “Iya, ini bukuku,” katanya tiba-tiba. “Terima kasih sudah menyimpankannya untukku.” Dia tersenyum lagi.

“Apa kau suka sekali membaca buku?” Ahirnya aku memberanikan diri bertanya kepadanya.

“Tentu saja, membaca itu sangat menyenangkan,” jawabnya. “Apa kau juga suka membaca buku?”

“Sebenarnya… aku tidak terlalu suka…” Aku menjawab dengan jujur. Dia kembali tersenyum.

“Semua orang selalu menganggap membaca buku itu adalah hal yang sangat membosankan. Tapi sebenarnya tidak… Buku memberi kita banyak pengetahuan baru. Pikiran kita menjadi lebih luas dan tidak tertutup terhadap hal-hal baru,” terangnya. “Apa kau mau mencoba membaca satu?”

“Ah, ani… Tidak usah. Lagipula aku tidak terlalu suka,” tolakku.

“Tidak apa, cobalah membaca buku ini. Buku ini keren sekali lho.” Ia menyodorkan buku yang kukembalikan tadi. Aku menatap buku itu dengan ragu-ragu.

“Mengapa kau terlihat ragu-ragu? Ayo, ambil saja buku ini,” katanya meyakinkan. “Ambil saja buku ini untukmu, aku sudah selesai membacanya kok.”

Akhirnya aku menerima pemberiannya. Ia tersenyum, lalu berkata, “Kalau kau sudah selesai membacanya, bilang padaku, agar kita bisa mendiskusikan buku ini.”

“Ah, ne… ne…” Aku hanya mengangguk seolah-olah mengerti. Sebenarnya aku betul-betul tidak tertarik dengan buku. Apalagi buku setebal ini.

Kereta berhenti. Ternyata kami sudah sampai. Sebelum turun, anak itu berkata, “Sampai jumpa besok…” sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk-angguk dan membalas senyum malaikatnya itu.

*****

Hari-hari berlalu. Sudah tiga musim kami lewati bersama, musim semi, musim panas, musim gugur, di kereta itu. Aku jarang sekali berbicara dengan Jinki, jarang sekali. Bahkan Jinki saja belum pernah menanyakan namaku.

Setiap kami bertemu, ia selalu menanyakan apakah aku sudah membaca buku pemberiannya atau belum. Aku hanya menjawab, “Belum selesai, belum selesai,” padahal sejak dia memberikan buku itu padaku, aku tak pernah lagi menyentuhnya. Tapi Jinki tak pernah menyadari kebohonganku selama ini.

Aku melewati hari-hari yang menyenangkan bersama Jinki. Aku senang bisa berteman dengannya. Ia pintar sekali. Ia tahu semua hal. Ia bisa menjawab pertanyaan yang selama ini aku tak pernah mengetahui jawabannya, yaitu, mengapa kalau kita berada di dalam kereta, rasanya kereta lambat sekali, sementara kalau kita melihatnya dari luar, ternyata kereta melaju dengan sangat kencang. Jinki bisa menjawabnya.

“Itu disebut teori relativitas khusus yang dicetuskan oleh Einstein. Bagi orang yang berada di dalam kereta, orang itu akan melihat kereta jalannya cepaaat sekali, sementara orang yang berada di dalam akan merasa kereta berjalan dengan pelan karena kita melihat orang di sebelah kita hanya duduk dengan tenang, bahkan hampir tanpa bergerak. Itu karena waktu tidak mempunya nilai absolut… begitu pula dengan ruang…”

Selain itu Jinki juga sering bercerita tentang kisah-kisah yang sedikit aneh. Ia berkata bahwa musim gugur terjadi karena pohon-pohon takut daunnya akan dimakan oleh butiran salju, makanya pohon akan mengugurkan daunnya saat musim dingin akan segera tiba.

:: Flashback ::

“Hey, apa kau tahu?” kata Jinki.

“Tahu apa?” Aku balik bertanya.

“Kau tahu musim gugur terjadi karena pohon-pohon takut daunnya akan dimakan oleh butiran salju?”

“Ah, aneh-aneh saja kau ini. Itu bukan karena itu, tapi karena pohon-pohon melakukan adaptasi agar bisa bertahan hidup saat musim dingin tiba. Kau pikir aku babo sekali?”

“Tidak, aku serius… Dan apakah kau tahu kalau saat hari pertama musim dingin kau menemukan koin yang diciptakan sesuai dengan tahun lahirmu, pada akhir musim dingin itu kau akan menemukan belahan jiwamu?”

“Kurasa kau terlalu banyak membaca buku fiksi.” Aku menyindir. Sementara Jinki hanya tertawa.

:: Flashback End ::

*****

Tanpa sadar musim gugur telah berlalu, dan sekarang sudah memasuki musim dingin. Aku benci musim dingin. Pada musim dingin, semua menjadi dingin dan aku harus memakai pakaian yang tebal-tebal. Aku jadi merasa seperti penguin saja.

Dan yang paling menyebalkannya lagi, aku harus tetap sekolah. Memang sekolahku itu disiplin sekali, sampai-sampai walaupun terjadi badai salju, sekolahku tidak akan memberi libur sedikit pun.

Kemarin malam supirku sudah pulang. Aku sangat senang dan bersyukur. Tapi aku merasa sedikit sedih juga, itu tandanya aku tidak akan bertemu dengan Jinki lagi…

“Sunhee-ah, ppali, supirnya sudah menunggu!” sahut oemma dari dapur.

“Ne, oemma. Ini aku baru mau berangkat. Aku berangkat dulu yaa!” Aku berlari masuk ke mobil. Mobil melaju dengan kencang.

Selama di mobil, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aneh karena tidak ada Jinki lagi di sampingku. Biasanya Jinki akan tersenyum padaku saat aku memasuki kereta. Yaa… walaupun kami tidak berbicara sedikit pun, setidaknya dia selalu tersenyum padaku. Senyumnya saja sudah cukup.

Setelah beberapa lama, akhirnya aku sampai di sekolah. Sekolah masih sepi, belum banyak yang datang. Mungkin karena hari ini merupakan hari pertama musim dingin, jadi orang-orang masih belum terbiasa bangun di pagi hari yang sangat dingin seperti ini. Kalau aku sudah biasa bangun pagi. Setiap hari aku bangun pagi, karena Jinki juga bangun pagi. Kalau aku telat sebentar saja, aku tidak akan satu kereta lagi dengan Jinki.

Saat aku sedang berjalan, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang berkilauan di balik tumpukan salju. Apa itu? Batinku. Aku berjalan mendekati kilauan cahaya yang memantul-mantul itu. Sepertinya itu logam, atau jangan-jangan perak? Platinum? Aku berpikir yang aneh-aneh. Kusibakkan salju-salju yang menutupi benda berkilau itu.

“Koin?” Aku bingung. Aku segera membaca tahun pengeluaran koin tersebut. “1994?”

Tiba-tiba aku teringat tentang kata-kata Jinki. Kalau saat hari pertama musim dingin kau menemukan koin yang diciptakan sesuai dengan tahun lahirmu, pada akhir musimnya kau akan menemukan belahan jiwamu. Ah, ramalan macam apa itu… pikirku. Namun sebenarnya aku sedikit percaya juga dengan kata-kata Jinki. Bisa saja terjadi… Bila itu memang terjadi, aku harap orang itu adalah Jinki.

*****

Sudah satu minggu aku tidak naik kereta lagi. Namun entah kenapa aku ingin, ingin sekali naik kereta. Entah aku rindu dengan pemandangan dari kereta, suasana kereta, atau aku rindu dengan… dia.

Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke stasiun. Tak lupa aku minta izin pada oemma. Untung oemma mengizinkanku. Aku berlari-lari ke stasiun. Walaupun hari ini dingin sekali, demi bertemu dia, aku akan melakukan apa saja. Walaupun begitu aku sampai di sana aku hanya akan melihat senyumannya, senyumannya yang seperti malaikat itu.

Aku berdiri di dekat rel dengan senyum di wajahku. Aku sudah tidak sabar setelah seminggu tidak bertemu dengannya. Akhirnya kereta api itu tiba, aku kembali merasakan angin sejuk itu. Suasana di sini senyaman rumah sendiri…

Aku melangkah terburu-buru ke dalam kereta. Namun, mana senyuman itu? Mana Jinki? Mengapa dia tidak duduk di sana?

Aku menunggu dan menunggu. Namun Jinki tak kunjung datang sampai kereta berangkat. Kini aku sendirian di kereta yang dingin ini.

*****

Saat pulang sekolah, aku berniat untuk naik kereta lagi, manatahu Jinki akan menyambutku dengan senyuman di sana. Tapi tetap saja dia tidak ada. Tetap saja senyuman itu tidak ada. Mana Jinki? Ke mana dia? Kini aku bisa merasakan rindu yang amat sangat. Aku rindu suaranya, aku rindu heningnya suasana saat kami berada di kereta, aku rindu cerita-ceritanya yang aneh-aneh itu, bahkan aku rindu, sangat rindu, dengan senyumannya itu.

Namun selama apa pun kutunggu, ia tak kunjung datang. Apakah dia marah padaku karena hari itu aku tidak naik kereta selama seminggu? Apa iya?

*****

Hari ini hari terakhir musim dingin. Tanpa terasa hari berlalu dengan cepat. Namun aku belum juga bertemu dengan Jinki. Hari-hariku menjadi kosong karena tidak ada Jinki.

Selama Jinki tidak ada, aku membaca buku yang diberikannya hari itu. Ternyata Jinki benar, buku itu… sangat hebat, menakjubkan. Buku itu bercerita tentang seorang anak pendiam yang bertemu dengan pangerannya di sebuah kereta, dan pada akhirnya mereka menjadi sahabat.

Tunggu… bukannya itu aku?

Hari ini hari terakhir musim dingin. Aku masih ingat kata-kata Jinki hari itu, tentang koin, musim dingin, dan belahan jiwa. Aku harap itu benar-benar terjadi. Dan aku sangat sangat berharap, orang yang kutemui adalah Jinki.

Pagi hari aku naik kereta, namun Jinki tidak ada. Siang hari, juga tidak ada. Bahkan aku menunggu di peron sampai malam. Namun Jinki tetap saja tidak ada di sana.

Kau bohong, Jinki-ah! Kau bohong! Aku meneriakkan kata-kata itu dalam hatiku. Kau bilang aku akan bertemu belahan jiwaku? Mana? Mana? Ternyata kau memang pembohong, Jinki…

Aku berjalan meninggalkan peron dengan lesu. Jinki, pembohong! Kata-kata itu terus saja muncul di benakku. Lagipula, kenapa sih aku bisa percaya dengan ceritanya itu? Aku tahu cerita itu semua BOHONG. Seandainya aku tidak mempercayainya, pasti hatiku tidak sesakit ini.

Stasiun semakin jauh, dan aku terus berjalan. Kurasa kita tidak akan bertemu lagi, Jinki. Aku berjalan sambil menendang-nendang batu kerikil. Tiba-tiba aku tidak sengaja menendang batu kerikil dan mengenai kaki seseorang.

“Sunhee-ah…”

Aku berniat mendongak untuk melihat siapa yang datang. Aku berharap itu Jinki. Ah, tak mungkin itu Jinki. Jinki kan tidak tahu namaku.

Aku melanjutkan berjalan dan bertingkah seolah tidak mendengar apa pun. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku dari belakang.

“Sunhee-ah, apa kau tidak dengar aku?” kata orang itu lagi. “Mianhae, tapi aku terpaksa…”

Aku menoleh. Ternyata Jinki. Aku kaget sekaligus senang. Tapi aku juga sedih, dan sedikit marah.

“Kau pembohong, Jinki-ah! Kau pembohong!! Kau bilang aku akan bertemu belahan jiwaku jika aku menemukan koin di hari pertama musim dingin! Tapi mana? Sekarang sudah hari pertama musim semi! Musim dingin sudah lewat satu menit yang lalu…” Aku berbicara sambil menangis. Jinki hanya melihatku dengan tatapan kosong.

“Aku tahu, Sunhee-ah. Aku tahu.” Jinki menjawab, masih dengan tatapan kosong.

Aku terisak. Aku menangis bukan karena Jinki, tapi aku berpikir, kenapa aku bisa sebodoh ini? Percaya dengan ramalan seorang anak pembohong seperti dia.

“Jeongmal mianhae, waktu itu aku…” Jinki berhenti sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya lagi. “Sebenarnya aku sudah pindah sekolah…”

Aku ternganga kaget.

“Dan aku juga pindah kota… Keluargaku pindah ke kota lain, dan aku harus ikut pergi ke sana.”

Hening sejenak, hanya terdengar isak tangisku.

“Namun, aku tahu, kau pasti menemukan koin itu… karena… akulah yang menaruh koin itu di sana…”

“Hari itu, hari pertama musim dingin itu, sebenarnya aku ingin… menyatakan perasaanku, dan… sekalian mengucapkan salam perpisahan… namun ternyata kau tidak naik kereta…”

Aku tersentak. Aku sadar, sebenarnya akulah yang salah. Aku yang duluan meninggalkan Jinki, aku yang selama seminggu tidak naik kereta lagi…

“Aku yakin kau pasti menungguku di peron ini, Sunhee-ah…”

“Aku yakin kau pasti percaya dengan kata-kataku waktu itu…”

Kata-kata Jinki kembali terngiang di telingaku. Apakah…

“Dan aku sengaja datang ke sini malam ini, untuk menemui belahan jiwaku yang sebenarnya…”

Belahan jiwa?

“Aku tahu aku salah telah meninggalkan belahan jiwaku itu, dan aku tahu aku juga terlambat untuk menemuinya… aku terlambat satu menit… aku tahu itu…”

“Tapi… sampai kapan pun aku tak bisa melupakan belahan jiwaku itu. Dan kini aku berada di depannya. Kaulah belahan jiwaku, Sunhee-ah…”

Air mataku semakin deras mengalir. Jadi dia memaksa dirinya datang jauh-jauh hanya untuk… membuktikan bahwa kata-katanya benar?

“Gomawo, Jinki-ah…” Aku langsung memeluk Jinki. Ia menerima pelukanku.

“Cheonmaneyo, Sunhee…”

*****

Malam itu, kami naik kereta bersama lagi. Di kereta yang sama, dan tempat duduk yang sama, persis seperti saat pertemuan pertama…

“Jinki-ah…” Aku memulai pembicaraan. “Dari mana kau tahu namaku?”

Jinki tersenyum, lalu menjawab, “Tentu saja aku pasti mengetahui namamu! Aku bahkan mengetahui nomor teleponmu! Kau tahu, saat kau ketiduran di kereta, aku sering diam-diam mengambil HP-mu untuk melihat nomor teleponmu!”

Aku dan Jinki tertawa. Lalu Jinki menambahkan, “Ini sudah satu tahun sejak pertemuan kita yang pertama, hari pertama di musim semi…”

Aku terdiam. Aku jadi teringat saat pertama kali aku bertemu Jinki. Dia menjatuhkan pulpennya di dekat kakiku. Ingin tertawa aku jika mengingatnya.

“Kau tahu, Sunhee-ah?” kata Jinki lagi.

“Apa?”

“Kau tahu, katanya kalau kita menemukan koin dengan tanggal lahir kita pada hari terakhir musim semi, berarti orang yang pertama kali kau temui saat hari pertama musim semi itu adalah belahan jiwamu…”

Aku tersenyum. “Jadi kau akan menaruh koin lagi di sela-sela rerumputan di sekolahku?”

Aku dan Jinki tertawa. Setelah itu kami hening sejenak. Jinki tersenyum seperti biasa. Dan aku membalas senyumannya seperti biasa.

I’ll wait for you (until the end)

Giuk halgeh sagyeh juleh soomuh ittneun neu moseub

Noonmool gamabomyun nun uneusae gyuteh issuh

I’ll wait for you (byunhabubshinul gidaryuh)

Gidarilgeh sagyehjuleh soomu ittneun nee moseub

Nooneul gamabomyun nun uneusae gyteh issuh


*****

11 Responses to “FF/1SHOT/PG-13/FOUR SEASONS”

  1. Dat sarange ontae January 14, 2010 at 2:58 pm #

    Hmm, so sweet sekali rana…
    Gk bosan” bca ffmu yg 1 ini..
    Pdhl wkt itu jga da bca..
    Hehehe

  2. ree January 15, 2010 at 12:14 am #

    Sambil baca ff sambil belajar..^^

    Wow..bahasa penulisannya bagus, ceritanya juga, romantis bgt.. ternyata dari awal Jinki udah suka sama Sunhee..
    Klo bisa ketemu Jinki d kereta ku juga mau naik kereta tiap hari..*ngayal.com*

    Like this..
    Banyak jempol buat author..
    Lam kenal..
    Ree imnida..

    • shineeisland January 15, 2010 at 9:57 am #

      hyaaa~ gomawoyo uda mau baca ffku yang geje ini T.T *tears drop out* *authorlebay.co.kr*

  3. tamiionyuu January 15, 2010 at 12:25 am #

    kyaaaaa keren ceritanyaaa
    good job, author ! :D

  4. IamNA"kyuna_GDonew" January 15, 2010 at 1:53 am #

    cerita yg bagus.. ngebayangin onew oppa senyumanx! aaaaaaa

    • shineeisland January 17, 2010 at 12:11 pm #

      kalo nyunyu senyum, duniaku teralihkan seketika *cieilah bahasanya sok puitis*

  5. naa October 13, 2010 at 12:32 am #

    ecciieee rana…..
    *baru baca sekarang. hahaha telat

  6. channie March 26, 2012 at 6:08 pm #

    bagus ceritanya
    ya ampun onew maksa banget ya sampe naro koinnya sendiri :D

  7. Nabilah (@NabilahZhafirah) April 17, 2012 at 4:30 pm #

    So Sweet..
    Suka bgt sm nie ff..
    Nice author, nice ff..
    Daebbaakkk… ^_~

  8. cho nara October 5, 2012 at 2:17 pm #

    nice ff…keep writing thor..
    ditunggu, ff keren lainnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,481 other followers

%d bloggers like this: