Goodbye my Love

Author : inwonderplace

Cast : Lee Jinki, Kang Min Kyung (DaVichi’s member), Lee Minho

Genre : Romance, Tragedy(May be…??)

Length : OneShoot/songfic

Rate : PG-13/teen

Disclaimer : ff ni terinspirasi dari MV’a 8eight – Goodbye my Love, atau mungkin lebih tepatnya menceritakan isi MV ntu dech.

Recommend song : 8eight – Goodbye my Love

Mian kalo ni ff gaje abizz, maklum belum ada pengalaman dalam dunia per-ff-an. Jadi mohon bantuannya ya~~ *gaya mbah Tarno* -.-‘

Untuk para reader sekalian *blah, ni bahasa…..*, mohon bantuannya buat komen ni ff, sekalipun ga suka ato mungkin negbosenin ato juga dianggap bagus *ngarep…* please leave me a comment, karena comment dari reader semua sangat membantu bwat diri q biar dalam ff selanjutnya bisa lebih baik lagi. Mian kebanyakan bla bla bla, let’s check it out!!

-.-.-.-.-

“annyoung jal jinaeni?
gwiyubdun ni ulgooleun yaejun gwa gateunji
jogeum neujen anbu neujeun ibyuleul dama sseunda…..”
(hello, how are you?
is your face still cute like before..
pouring out my late regards and my late farewells, i write..)

“Annyeong, bagaimana kabarmu hari ini? Tentu baik saja bukan? Kalau hariku tentu saja menyenangkan. Tapi, tetap saja menyakitkan. Apa kau tahu bagaimana perasaanku selama ini terhadapmu? Apa kau juga tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu selalu bersama MinHo? Aku sangat sakit melihatnya. Kau tahu kenapa hatiku sakit melihatnya? Jawabannya sangat mudah kok! Kau harus tahu bahwa aku itu mencintaimu sampai kapanpun, walaupun aku tahu kau lebih mencintai MinHo dan begitu juga dengan MinHo. Mungkin kau memang tak mengetahui perasaanku. Kau pasti hanya menganggapku sebagai sahabat. Tak apalah, berada disisimu saja aku sudah merasa senang. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Karena aku mencintaimu… Saranghaeyo Kang Min Kyung….”

Airmataku jatuh tak tertahan mendengar pernyataan seseorang yang kini telah meninggalkanku untuk selamanya. Aku merasa sangat sedih dan sekaligus bersalah dengan pengakuannya barusan. Aku tak menyangka bahwa JinKi mempunyai perasaan seperti itu terhadapku. ‘Maafkan aku JinKi, selama ini aku tak pernah mengerti dirimu. Aku tak pernah menyadari perasaanmu. Mianhaeyo…’ batinku. Hatiku kini dipenuhi dengan penyesalan dan kesedihan. Kenapa aku baru tahu tentang hal itu saat kau telah tiada. Kenapa di saat kau telah pergi aku mengetahui tentang semua kenyatan yang kau rasakan sendiri. Kenapa saat kau masih berada bersama kami kau tak mengatakannya. Kini aku merasa sedih mengetahuinya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menangisi kepergianmu yang meninggalkanku dengan semua kenyataan itu.

“Min Kyung, kau tak apa kan?” Tanya MinHo yang sedari tadi duduk di sampingku dan kini beralih memelukku yang masih menangis dalam keadaan setengah shock dengan kenyataan barusan.

“Sudahlah Min Kyung, jangan kau tangisi terus. Aku tahu mungkin ia sangat terlambat mengatakannya. Tapi kuharap kau bisa menerimanya. Bukankah kemarin kau bisa menerima kepergiannya. Sekarang memang mungkin kau tak bisa menerimanya karena pernyataannya barusan.”

“Sudahlah, sekarang lebih baik kau pergi. Aku sedang ingin sendiri….” Ucapku parau, masih dengan cucuran airmata.

“Baiklah jika itu maumu. Tapi jika terjadi apa-apa panggil aku ya.” Ujar MinHo lalu melenggang pergi meninggalkanku sendiri yang masih berlinang airmata memandang layar televisi di depanku. Aku mencoba mengangkat tanganku berlaih mengambil remote, tapi rasanya sungguh lemas sekali. Aku sudah seperti tak punya tenaga. Aku berhasil mendapatkan remote-nya kini kutekan tombol next untuk melihat kelanjutan video yang sedang kutonton.

“Hahh… hari yang cerah ya…” ujar JinKi dalam video. Ia terlihat senang sekali, seperti tak punya beban sedikitpun dalam hidupnya.

“Lihatlah mereka sedang bermain tanpa mengajakku…” terlihat aku dan MinHo sedang berlarian bersama di tengah padang bunga yang kami datangi beberapa hari yang lalu.

“JinKi!! Pergi dari sana! Awas!” Teriakku dan MinHo sambil melambaikan tangan.

TEEEETTTTT!!!!!!
BRUUUUUUUUUUKKKKKKKK!!!!!!

Aku bisa melihat dengan jelas penyebab JinKi meninggal. Sebuah truk telah sukses menabrak JinKi. Tangisku kini tak tertahan lagi, semula airmataku masih terbendung di pelupuk mataku tapi kini airmata tersebut jatuh mengalir di pipiku.

“Saranghae….” Ucap JinKi dan mungkin itu adalah kata-kata terakhirnya. Kini tangisku benar-benar pecah, aku menejerit dengan cucuran airmata melihat kejadian tersebut.

“Min Kyung?!” seru MinHo dan kemudian menerobos masuk ke ruangan tempatku berada dan memelukku.

“Kau kenapa?” tanyanya

“JinKi…”

“Kenapa dengannya?”

“Ia meninggal…”

“Sudahlah, jangan kau tangisi ia terus. Itu sudah takdirnya. Kau harus belajar merelakannya.” Aku semakin menangis dalam pelukan MinHo. Aku…aku…aku…aku sudah tak bisa berkata-kata lagi untuk mengungkapkan semua kesedihan dan penyesalan yang kini menyelimutiku….

-flashback-

3 hari yang lalu…..

JinKi’s POV

Hari ini, hari yang cerah. Semalam aku mendapat pesan dari kedua sahabatku, Min Kyung dan Min Ho. Mereka mengajakku jalan-jalan hari ini ‘mumpung hari libur’ kata mereka. Kini aku sedang bersiap-siap dan mengemasi barang-barang yang akan kubawa. Kulirik handycam yang akan ku bawa, aku melihat isinya terlebih dahulu. Entah kenapa rasanya aku ingin merekam diriku sendiri. Akupun memutuskan untuk merekamnya.

***

“JinKi!!” panggil seseorang dan akupun reflex melirik ke arahnya dan ia menghampiriku bersama seseorang yang dibawanya.

“Hai, Min Kyung, Min Ho.”

“Apa kau sudah lama menunggu?” Tanya Min Ho.

“Akh tidak, aku juga baru sampai.”

“Kalau begitu apa kalian sudah siap?” Tanya Min Kyung pada kami berdua.

“Tentu saja!!” jawab Min Ho bersemangat. Aku hanya mengangguk mengiyakannya.

“Kajja!!” Min Kyung menarik tanganku dan Min Ho menaiki bis yang kebetulan telah sampai di depan halte bis tempat kami menunggu.

“Ayo duduk di belakang!” ajak MinHo menarik tangan Min Kyung, aku hanya bisa mengikuti mereka.

Kami bertiga hendak bermain ke pantai karena hari ini cuacanya cukup cerah di musim semi saat ini. Aku memilih duduk di bangku yang berada tepat di depan mereka. Rasanya tidak enak saja harus mengganggu mereka berdua.

“JinKi, kenapa duduk di situ? Di sini saja kita sama-sama…” ujar Min Kyung.

“Benar JinKi, duduk saja bersama-sama. Lagian tempatnya juga masih kosong.” Lanjut MinHo.

“Anni, tak usah. Aku duduk di sini saja, aku tak mau mengganggu.” Ujarku dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Apa maksudmu? Mengganggu kami?” Tanya Min Kyung.

“Akh, annio annio… sudahlah,”

“Hmm, baiklah jika itu maumu..”

Aku tersenyum dan berbalik, kini aku mengeluarkan secarik kertas dan sebuah bolpoint. Entah kenapa, rasanya aku ingin sekali menuliskan sesuatu. Mungkin perasaan yang sedang kualami saat ini akan lebih baik jika aku membaginya dengan kertas ini. Aku mulai menulis dan bisa kudengar tawa dan canda Min Kyung dengan MinHo. Aku hanya bisa tesenyum mendengarkan mereka berdua. Mendengar tawa dan canda Min Kyung membuat hatiku senang. Aku bisa merasa senang walaupun tawa dan candanya bukan bersamaku. Mendengarnya saja sudah cukup bagiku.

Aku telah selesai menulis dan kini aku mengambil handycam yang kubawa aku bermaksud mereka perjalanan kami selama perjalanan ini. Aku merekam mulai dari diriku sendiri.

“…ddeun geum ubsshi wae pyunjinyago mootji aneulji
maesaeji mini hompi heunhandae goodji
peneul deuneun gun hokshina nae mam da mot junhwalggabwa
daleun bangbubeulon yukshina andwelguh gatta
himgyubduhla mani saranghetdun tuhla
mwuh hana hana nae ddeutdaelo dwaeneun gae ubduhla
geuman nul gwaelob hyuhla seuseulo dajimhago
jookeun deut gidalyuhdo niga oneun gun aniduhla…”
(i wonder if you’ll simply ask me why it’s a letter
when messages on mini homepages are more common
firmly, i pick up my pen.. just in case i can’t convey my heart
i feel like i can’t do this any other way
it was really hard. when i loved you,
nothing happened the way i wanted it to
i keep promising myself to stop bothering you
even though i wait until death, you won’t come)

“Annyeong!” ujarku sambil melambaikan tangan. “Hari ini aku dan kedua sahabatku sedang melakukan perjalanan menuju pantai di hari yang begitu cerah ini.” Kuputar kameranya dan mengarahkannya ke arah Min Kyung dan Min Ho.

“Annyeong!” seru Min Kyung sambil elambaikan tangan saat melihat kameraku.

Kini aku mengarahkannya pada Min Ho. “Annyeong,” ujarnya.

Aku merekam tingkah laku mereka dalam perjalanan ini. Mereka sibuk bermain kartu tarot di dalam bis dan aku hanya ikut tersenyum melihat mereka bermain.

Min Ho mulai mengocok tumpukan kartu yang ada di tanagnnya.

“Ayo ambil satu..” ujar Min Ho menyuruh Min Kyung.

“Baiklah.” Min Kyung mengambil salah satunya dari tumpukan kartu.

“perlihatkan padaku.” Ujar Min Ho

“Ini..”

“Wah! Kau hebat! Kau mendaptkan katu yang berarti tanda cinta.” Seru Min Ho.

“Benarkah?” Tanya Min Kyung dengan girangnya. “JInKi, menurutmu siapakah cintaku?”

“Entahlah, aku tak tahu.” Jawabku masih sambil merekam.

“Sekarang giliranmu yang mengocok.” Ucap Min Ho sambil memberikan tumpukan kartunya.

Min Kyung pun mengocok tumpukan kartu itu. Ia terlihat sangat senang melakukannya.

“Sekarang ambil.” Min Ho mengambil satu kartu. “JinKi apa kau juga mau mengambil kartunya?” tawarnya padaku.

“Annio, tidak usah. Aku menonton saja.” Jawabku.

“Baiklah, kalau begitu. Sekarang kartu apa yang kau dapat?”

“Lihat ini! Aku mendapat pasangan kartu tanda cinta yang kau ambil tadi!” seru Min Ho girang.

“Mungkin kalian memang berjodoh,” celetukku.

“Apa-apaan sih kau, JinKi…” uja Min Kyung tersipu malu mendengar perkataanku. Aku hanya tertawa melihatnya.

Kini mereka berdua sedang menceritakan lelucon yang mereka buat dan aku masih tetap berkutat dengan handycam yang ada di genggamanku merekam tingkah mereka berdua. Jika ada bagian yang lucu aku ikut tertawa dengan mereka dan terkadang aku juga memberikan komentarku. Mungkin mereka hanya melihatku yang senang dari luar. Padahal kenyataanya dalam hatiku aku merasa cemburu dan rasa cemburu itu yang selalu membuat hatiku sakit. Min Kyung seandainya kau tahu seberapa sakitnya aku melihatmu bersamanya.

***

Setelah satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di pantai tujuan kami. Pantai ini tidak ramai, malah bisa disebut sangat sepi. Karena saat kami sampai tidak ada satupun pengunjung di sini. Maklumlah ini bukan pantai yang di gunakan sebagai tempat wisata jadinya sepi.

Kulihat Min Kyung berlari kea rah pantai sambil menggenggam tangan Min Ho, sepertinya mereka benar-benar tak terpisahkan. Sedangkan aku hanya mengikuti langkah mereka dari belakang sambil tersenyum nanar melihat mereka berdua.

Aku terus melangkah mengikuti mereka yang tengah berlarian menantang ombak yang menggulung di pinggir pantai. Aku mengambil kembali handycam-ku dan merekam tingkah mereka berdua. Aku menyaksikan kelakuan mereka yang seperti anak kecil, kejar-kejaran, bermain air, berlari dengan bahagia, seperti tak merasakan penderitaan yang aku rasakan. Terlihat Min Kyung dan MinHo tertawa dengan lepasnya tanpa sedikitpun beban tersirat di wajah mereka. Sejujurnya aku merasa iri dengan MinHo, ingin rasanya aku melakukan hal itu bersama Min Kyung.

“JinKi!! Ayo kemari!!” teriak Min Kyung dan MinHo besamaan memanggilku.

“Ne,” jawabku singkat dengan senyuman sedikit terkembang. Aku melangkah mendekati mereka dan tetap fokus dengan kamera-ku.

Kulihat MinHo mengekuarkan tumpukan kartu yang ia mainkan tadi di dalm bis. Tapi MinKyung merebutnya dan melemparkan semua kartu itu ke udara dan membuat kartu-kartu itu berternbangan. Minho mencoba memunguti kartu-kartu itu sambil menggerutu pada Min Kyung dan Min Kyung, ia hanya tertawa melihatnya. Aku menatap ke bawah, kulihat selembar dari salah satu kartu-kartu itu jatuh di hadapanku, katu itu berwarna hitam dan gelap.

***

“Akh, capek!!” keluh Min Kyung sambil jatuh terduduk di pasir. Akupun mengikutinya duduk di pasir.

“Akh bagaimana kau ini? Baru segitu saja sudah capek, yak seru!!!” ujar MinHo sambil berkacak pinggang di hadapan kami berdua.

“Biarin! Weeeekkk!!” seru Min Kyung sambil menjulurkan lidahnya. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. “JinKi, kenapa dari tadi kau diam saja? Apa kau sedang tak enak badan?” tanyanya tiba-tiba sambil melirik ke arahku.

“Eh, aku baik-baik saja. Aku masih seperti biasa. Lihat! Aku masih sehat!” ujarku sambil menunjukkan otot-ototku *padahal nyatanya aku sama sekali tak berotot*.

“Hahaha…” MinHo tertawa melihat tingkahku barusan. “ JinKi, apa kau sedang patah hati?”

“Mungkin..” jawabku sedikit lirih.

“Wahh!! Benarkah kau sedang patah hati?! Gadis mana yang telah membuatmu begini??! Biar aku beri dia pelajaran…” ujar Min Kyung sambil menyingsingkan tangan bajunya.

“Ceritakanlah pada kami.” Pinta MinHo sambil merangkul pundakku *kini ia telah duduk di sampingku*

“Ayo ceritakan!” Pinta Min Kyung juga sambil menarik-narik lengan bajuku. Aku menatap wajah mereka sambil bergiliran. Terlihat ekspresi penasaran dari mereka berdua.

“Dia…” ucapku menggantung. “Siapa?” Tanya Min Kyung penasaran. Apa yang harus kukatakan pada mereka. Jika aku mengatakan yang sejujurnya bahwa gadis yang membuatku sakittt adalh gadddis yyyang kini berada di sampingku, itu sama saja dengan aku cari mati. “Lupakan,” ujaraku singkat dan kini kujatuhkan seluruh tubuhku di atas hamparan pasir.

“Huuhh~~ dasar!!” seru Min Kyung memanyunkan bibirnya, yang kutahu ia merasa sedikit kesal dan kecewa karena tak memberitahunya. Aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu, neomu kyeopta.

“Sudahlah, berarti dia tak menganggap kita sebagai sahabatnya lagi…” mendengar perkataan MinHo semakin membuat senyumku lebar. “kalau begitu kita gelitik dia sampai dia mau bicara!!” seru MinHO mulai meggelitiki badanku lalu diikuti oleh Min Kyung.

Aku tertawa terbahak-bahak karena tak bisa menahan kelitikan mereka. Mereka sangat senang melihatku menderita oleh kelitikan mereka. Aku meronta-ronta meminta mereka menghentikannya, tapi bukannya berhenti malah mereka semakin bersemangat menggelitikku.

“Sudah akh capek…” keluh Min Kyung kemudian berbaring di sebelahku.

“Hosh…hosh…” aku menarik nafas dalam-dalam setelah terengah-engah sehabis digelitik oleh kedua sahabatku ini. “Siapa suruh menggelitikku…” ucapku masih terengah.

“MinHo yang suruh…” jawab Min Kyung.

“Ya deh aku yang salah….” Jawab MinHo kemudian ikut berbaring bersama kami. Tiba-tiba aku tersenyum, semakin lama senyumku semakin melebar dan akhirnya aku tertawa sendiri tanpa sebab. Min Kyung dan MinHo pun ikut tertawa tanpa sebab sepertiku. Kami tertawa tanpa henti, mungkin ini efek dari kelitikan barusan.

“Haaahh… andai hari ini takkan berakhir…” gumamku.

“Hari ini takkan berakhir begitu saja.” Ujar Min Kyung yang sepertinya mendengar gumamanku barusan. Kemudian ia mengambil sesuatu dari kantung bajunya. “Ayo bilang chiissss!!!” seru Min Kyung.

CCTTTRRREEEEKKK!!

“Akh, kau tak bilang mau berfoto, aku kan tidak siap!!” gerutu MinHo kemudian bangun dari berbaringnya. Dan akhirnya kami malah berfoto bersama.

***

Setelah puas berada di pantai, kami melanjutkan kembali langkah kami. Sekarang kami sedang menuju padang bunga yang berada tak jauh dari pantai.

“Pasti bunga-bunganya bermekaran!” seru Min Kyung.

“Tentu saja ini kan musim semi…” jawab MinHo dengan santai. Tak lama kemudian kamipun sampai di padang bunga yang dimaksud.

“Waaaaaaahhhhhhhhhh!!!!!! Indahnya!!!!!” seru Min Kyung kegirangan kemudian ia berlari kea rah tengah padang bunga tersebut.

“Min Kyung tunggu aku!” seru MinHo sambil menyusul Min kyung.

Aku kembali mengambil handycam dari tasku dan kembali merekam moment-moment yang mungkin takkan kujumpa lagi di lain waktu. aku berjalan ke tengah padang bunga mencoba menikmati pemandangan yang tersaji di hadapanku. Kini aku mulai mengarahkan kameraku ke segala arah tapi itu semua terhenti di saat aku menangkap pemandangan yang kurang menyenangkan hatiku. Tatapanku yang tadinya senang kini berubah muram melihat MinHo menggenggam tangan MinKyung.

Aku sungguh tak kuat melihatnya. ‘Kenapa dia bisa melakukan itu pada Min Kyung, apa salahku? Kenapa aku tak bisa sepeti itu?’. Karena aku benar-benar tak kuat melihatnya, aku memutuskan menjauh meninggalkan mereka, daripada hatiku semakin sakit melihatnya.

Langkahku berhenti di tengah jalan raya yang sepi, ku arahkan kamera ke arahku sendiri dan mulai merekam diri sendiri.

“Min Kyung… apa kau tahu perasaanku padamu? Tahukah kau? aku sangat menyukaimu…” ujarku.

“JInKi!! Pergi dari sana! Awas!” Teriak MinHo dan Min Kyung dari arah padang bunga. Aku arahkan pandanganku pada mereka. Mereka seperti khawatir dan memperingatkanku akan sesuatu. Aku memalingkan pandanganku kea rah sesuatu yang mereka risaukan. Sebuah truk yang melaju cukup kencang……….

TEEEETTTTT!!!!!!
BRUUUUUUUUUUKKKKKKKK!!!!!!!

Kurasakan tubuhku seperti dihantam benda itu. Tubuhku serasa melayang di udara dengan merasakan sakit yang amat sangat. Aku terprlanting dari tempatku berdiri tadi dan kini kurasakan jasadku jatuh di atas aspal yang keras. Kurasakan cairan merah mengalir dari kepalaku. Tubuhku tak bisa bergerak sekarang, rasanya terlalu sakit untuk bergerak.

Selintas aku masih bisa melihat handycam yang tergeletak di hadapanku. Aku mencoba menggapainya, dan setelah berhasil menggapainya, aku mengarahkannya tepat ke wajahku yang kini tergeletak di atas aspal jalanan.

“Saranghae…” kata yang bisa kuucapkan untuk terakhir kalinya. Dengan senyum yang sangat tulus kuucapkan kata terakhir itu. Sebelum akhirnya aku…….

“…jalgayo nae sarang ijen bonaejoolggaeyo
giuk choouk modoo ijeulggaeyo
jioogo jiwuhsuh sarang hanjumdo biwuh nelggaeyo
nae mamaesuh…”
(goodbye, my love. i’ll let you go now.
the remembrances and the memories, i’ll forget them all
i’ll erase and erase and empty out every drop of love)
from my heart)

***

Min Kyung’s POV

“JInKi!! Pergi dari sana! Awas!” teriakku dan Min Ho bersamaan sambil melambaikan tangan menyuruh JinKi pergi dari tempat itu.

TEEEETTTTT!!!!!!l
BRUUUUUUUUUUKKKKKKKK!!!!!!!

Terlambat! JinKi telah di hantam truk itu lebih dulu.

“JinKi!!!” seruku sambil tak kuasa menahan tangis saat kulihat tubuh JinKi terpelanting jauh karena terhantam truk itu. Tanpa banyak berpikir aku langsung berlari menghampiri JinKi. Dan MinHo ia mengikutiku berlari ke arah JinKi.

“JinKi! Bangunlah!” seruku saat aku telah berada di samping jasad JinKi yang kini telah tergeletak lemah tak berdaya. Aku memukul pelan pipi JinKi tapi tak ada sedikitpu reaksi dariny. Darah segar terus saj mengalir dari kepalanya yang sepertinya terbentur. Aku benar-benar tak kuat melihatnya.

“Min Kyung minggirlah sebentar.” Ujar MinHo, kulihat ia mencoba memeriksa denyut nadi JinKi. Setelah selesai kulihat ekspresi wajahnya kaget bercampur sedih dan shock.

“MinHo katakan padaku! Katakan bahwa JinKi tak apa-apa!” ujarku dengan lirih pada MinHo. Tanpa menjawab apapun MinHo merangkulku dengan meneteskan airmata. Aku mencoba memberontak dan mendorong MinHo hingga ia sedikit terpental ke belakang.

“Katakan bahwa JinKi tak apa-apa…” ujarku lagi.

“Min Kyung…” ucap MinHo dengan suara bergetar. “JinKi….” Ucapnya lagi.

“Katakan….”

“Ia telah tiada…….”

Betapa hancurnya hatiku saat mendengar salah satu sahabatku telah pergi dari dunia ini. Aku shock mendengarnya, aku benar-benar sudah tak bisa menahan airmataku yang kini telah mengalir dengan derasnya. Aku tak menyangka JinKi akan pergi secepat ini. Aku benar-benar tak bisa menerima kepergiannya secepat ini. Kini aku hanya bisa duduk sambil menangis di hadapan jasadnya sambil di rangkul oleh MinHo.

***

3 hari kemudian…

Hari ini kami –aku dan MinHo- pergi ke laut untuk menaburkan abu milik JinKi. JinKi selamat jalan, kini aku bisa menerima kepergianmu yang tiba-tiba. Sejujurnya aku merasa sakit, sedih karena kehilanganmu. Tapi aku tak mau terlarut dalam Susana seperti itu terus, karena aku tahu kau pasti akan sedih jika terus melihatku seperti itu. Dan aku tak mau melihatmu bersedih walaupun aku takkan melihat itu. Aku harap kau bisa bahagia di alam sana, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.

Selamat jalan Lee JinKi…

“MinKyung ayo pulang,” ajak MinHo. Aku dan MinHo pun akhirnya pulang. Tapi kami tidak pulang ke rumah masing-masing, melainkan ke rumah JinKi.

Di rumah JinKi, Ummanya memberikan padaku sebuah kotak. Ia bilang ini benda yang digunakan JinKi sebelum ia meninggal. Aku membuka kotak terssebut dan mendapati handycam yang 3 hari lalu dibawa olehnya saat kami pergi bermain. Aku menemukan kasetnya dan kuputuskan untuk melihat isi kaset tersebut.

-end of flashback-

Aku masih menangis dalam pelukan MinHo. Aku benar-benar membeku tak bisa melakukan apapun lagi setelah melihat isi kaset itu. Aku benar-benar tak menyangka bahwa selama ini JinKi menyukaiku. Aku menyesali semuanya, kenap aku tak sedikitpun merasakannya, merasakan sedikit apa yang JinKi rasakan padaku. Aku benar-benar gadis yang bodoh. Aku memang gadis yang bodoh yang tak mengerti perasaan sahabatnya sendiri. Aku memang bodoh tidak peka dengan perasaan seseorang yang berada di sampingku selama ini. Kenapa aku harus mengetahui kenyataan ini di saat aku sudah kehilangannya.

***

“…duh shigani jinamyun nuhleul ijeul jool alatneundae
dashi ddo dashi nun nae mamsokae chajawa…”
(i thought i would forget you as time goes by
but you keep finding your way into my heart again and again)

4 hari kemudian…

Ini adalah hari ketujuh sejak terjadinya kecelakaan yang membuat JinKi meninggal. Aku kembali datang sendiri ke padang bunga yang menjadi tempat terakhir yang aku datang bersama JinKi. Aku berjalan di tengah hamparan bunga berwarna kunig yang sangat indah ini seorang diri dengan perasaan hampa kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupku. ‘Tuhan, tolong pertemukan aku dengan jinKi sekali lagi, aku ingin sekali meminta maaf padanya.’ Do’aku dalam hati.

Aku terus saja berjalan di hamparan padang bunga itu sambil melihat berkeliling. Tiba-tiba pandanganku terhenti melihat sosok seseorang yang berdiri di tepian jalan raya. Aku mencoba memperjelas pandanganku untuk melihat siapa sosok itu. Aku teperanjat kaget melihat sosok yang sedang berdiri itu. ‘Benarkah itu JinKi?’ pikirku. Sadarlah Min Kyung, JinKi sudah tiada. Ia sudah meninggal 7 hari yang lalu karena kecelakaan di tempat ini. Tapi sosok itu melambaikan tanganya padaku. Dan kini aku benar-benar percaya bahwa itu JinKi.

“JinKi!!” seruku senang. Aku segera berlari menghampiri sosoknya yang sedang berdiri di pinggir jalan. Aku langsung menghambur memeluk tubuhnya saat aku benar-benar berada di hadapannya. Aku terus memeluknya, mungkin hanya untuk melampiaskan kerinduanku padanya.

“JinKi, benarkah ini kau?” Tanyaku padanya sambil melepaskan pelukanku, ia hanya tersenyum hangat. Senyuman itu benar-benar kurindukan.

“Min Kyung, bagaimana kabarmu?” tanyanya balik.

“aku rindu padamu…” jawabku.

“Syukurlah jika kau baik saja.”

“JinKi, aku minta maaf…”

“Untuk apa?” tanyanya.

“Aku benar-benar minta maaf karena aku tak mengetahui perasaanmu aku minta maaf karena telah membuat hatimu sakit. Aku….” Jari telunjuknya yang dingin kini ditempelkannya di bibirku.

“Kau tak perlu minta maaf, kau tak salah. Aku ke sini hanya ingin mengatakan perasaanku padamu.” Ia menghela nafasnya. “Min Kyung aku mencintaimu…”

“JinKi, aku…” ucapku terpotong.

“Kau tsk usah menjawabnya, aku tahu kau menyukai MinHo begitu juga MinHo. Aku, kau mengetahui perasaanku saja sudah cukup bagiku. Jadinya aku tak punya beban yang tertinggal lagi di dunia ini.”

Chu~ bibir dinginya menyentuh keningku lembut. Aku hanya menutup mata.

“Jalgayo, nae sarang. Saranghaeyo…” bisik JinKi lembut seraya dengan hembusan angin dingin yang menusuk tubuh.

Kubuka mataku perlahan, kini sosok seseorang yang mengecup keningku telah menghilang dari hadapanku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling mencoba mencari sosok JinKi kembali, tapi nihil hasilnya. Kini kuarahkan pandanganku ke langit, terlihat selembar kertas melayang jatuh ke hadapanku. Aku memungut kertas itu dan mencoba membaca isi yang tertera di dalamnya.

Dear Min Kyung,

Aku ingin kau tahu perasaanku sesungguhnya
Aku benar-benar tak bisa menghilangkan bayanganmu dari dalam hatiku
Walaupun kau hanya mengganggapku sebagai sahabat
Aku bisa menerima keadaan itu
Tapi, satu kata yang takkan pernah bosan keuar dari bibirku untukmu
Saranghae,
Saranghae,
Saranghae …
Lee JinKi
12 Mei 2010

Tak terasa airmataku jatuh menetes saat membaca surat itu. Nama da tanggal yang tertera di dalamnya menunjukkan bahwa JinKi yang menulis itu sebelum ia meninggal. Aku jatuh terduduk sambil memeluk surat itu dan tak tertinggal airmata yang mengalir deras dari mataku.

‘Mianhaeyo JinKi….’

“….andwaeyo nae sarang bonelsooga ubneyo
geudel geudel ijuhya haneundae
jioogo jiwuhdo naegen ddo geudae bboonin gabayo
mian haeyo…”
(i can’t.. i can’t let go of my love
i have to forget you, you
no matter how much i try to erase i guess you’re the only one for me
i’m sorry)

-FIN-

….mian kalo ff’a aneh n gaje, maklum ni baru p’tama post n author otak’a agak konslet bikin crita kaga pernah bener *hohoho*….

Jangan lupa komen’a ya…..

Makasih banyak buat yang udah rela baca ni ff…^^

Jeongmal gomawoyo….^^

About these ads

9 thoughts on “Goodbye my Love

  1. huhuuuu~~~ jd kpngen bnr2 dngr lagunya deh =<
    kok FF kita sm ya chingu? hehehee :D
    mksdnya sm2 peran cow yg cintanya g mnyatu dgn shbtnya sndri,
    jheheheee :D nice ff ^^b thor*author jd thor*
    kmbrannya thata si jinki ksian skali :( *plak/dkejar2 shawol*
    oiya mw ksih sara ni, kalo ngpost jgn lp disisipkan eh apalah tu nmnya
    yg brfungsi kalo dihome dy cmn nmpak gmbr sm ketrngn kmu doang,
    hbisnya td thata liad dihome bussett pnjg bner,
    psti bner g dsisipkn. hehehe :D
    jd tlong dprbaiki lg yg it y, biar g pnjg bgt di home.

  2. huhuhuhuhu~~~ lagu’a enak banget lho… >_<
    apalg mv'a…. tragissss bangetttt….T_T
    FF kita sm, jgan2 sehati kali ya…*bow* hehehehehe
    gomawo buat saran'a….
    tadi lupa gx dsisipin, byasa otak'a lagi kacau balau pusing……
    ampe hal pnting gtu klupaan…
    mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo…. *bungkuk trus2an*
    ^o^b thx bwt komen n dah read….

    • wahh kepengennnnn ntar donlot aghh~ >,,<
      hahaha XD iyaya? masasi? *thata tb2 gajebo gt*
      iya samasama ^_^
      hehe,gpp hr prtma thata ngpost jg hmpir lp,
      eh buru2 editt deh sblom dbca org2. hehee
      iya camacama, oiya skrg gliran chingu yg baca,hihiiii
      *tb2 thata brubah mnjadi lucifer dan mmksa heena untk mmbca FFnya*

      fiuhhh~

      *tragis*

      hehehee :D peace (V)

  3. Waah onnie~
    FF’a bagus… ^^
    NIce FF… aku suka banget ama MV Good Bye My Love, aplg yg main Jinwoon, eh… skrg ad vers. SHINee’a… Lbh suka lagi deh.. XD
    Ohya, salam kenal utk semua’a… Ini pertama kalinya aku komen disini..
    Tp udh sering baca… XD
    Sekali lagi nice FF onnie ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s