MINHOOD [PART1]

Title: MinHood (prolog)

Author: Lyakissme12

Casts: Choi Minho, Kim Kibum, Lee Taemin, Kim Joonghyun, Lee Jinki, Lee Rae sun

Length: ???

Rating: PG15

Genre: Mystery, Romance, A bit Thriller

Disclaimer: This story belong to my own imagination. Choi Minho, Kim Kibum, Lee Taemin, Kim Joonghyun, Lee Jinki belong to themselves and SME. And Lee rae sun is a fiction girl for this strory.

NB: Anggap saja rambut Key masih kayak rambutnya di JoJo

Aku datang untuk mengambil yang bukan seharusnya milik mereka
Tak seorangpun akan bisa menjebakku
Tak seorangpun dapat mencegahku
Aku sekelebat bayangan yang bersatu dengan kegelapan
Tapi aku adalah kegelapan dengan setitik cahaya terang
Memberi kilatan harapan untuk mereka
Orang yang membutuhkan

Pagi yang lain seperti pagi-pagi di hari yang biasa. Mentari yang tersenyum menggelitik mimpi. Kicauan merdu burung yang bersahabat. Secangkir teh hangat penyegar pikiran yang tegang.

Disebuah flat sederhana dengan 1 kamar yang tampak begitu berantakan, tv kecil di sudut ruangan yang tidak mendapat perhatian menampilkan berita terhangat pagi ini. Sebuah berita pencurian besar di rumah seorang pejabat. Tampak beberapa wartawan mengerubungi seorang wanita yang memancarkan aura berwibawa. Wanita itu berceloteh perihal pencurian besar yang telah terjadi pada seorang pejabat besar negara yang terkenal di negeri ini.

Terdengar suara siulan merdu dan kucuran air dari dalam toilet. Siulan yang begitu merdu dan bersahabat. Siulan kemenangan.

Tak berapa lama, keran shower dimatikan. Keluar seorang pemuda dengan jeans belel dan tshirt usangnya. Dikibaskannya rambut yang masih basah dengan handuk. Siraman air hangat cukup menenangkan urat syarafnya dari ketegangan dalam ‘misi pentingnya’ tadi malam.

Pemuda itu duduk menyandar pada sebuah sofa reyot di depan tv yang masih menayangkan berita pencurian. Suasana penyidikan yang di tayangkan masih kentara dengan ketegangan. Tapi tidak bagi pemuda itu. Dia tersenyum puas melihat berita yang menjadi ‘hot news’ pagi itu.

“Kami akan secepat mungkin menangkap pelakunya. Dan jika sudah tertangkap, kami akan memberinya hukuman sesuai dengan apa yang diperbuat. Untuk selanjutnya, tim penyidik masih dalam upaya introgasi dengan beberapa penjaga rumah,” jelas seorang wanita berblazer coklat di tengah-tengah kerumunan wartawan yang menodongnya dengan recorder dan pertanyaan yang bertubi-tubi.

Pemuda itu memicingkan mata melihat wanita dalam berita yang menjadi perhatian. “Wow… jadi ini detektif terkenal yang dikatan akan menjadi ancamanku. Cantik. Terlalu cantik untuk kukdlabui,” pemuda itu terkekeh mendengar perkataanya sendiri.

Kringgg krringgg telepon model tua di samping tv berdering nyaring. Si pemuda segera menangkat panggilan masuk dari telpon tersebut.

Ia berdehem beberapa kali, “Yoboseo…”

“Ah… Another good job Minho-ah. Apa kau lihat berita pagi ini?” suara merdu seorang lelaki dari seberang telpon terdengar sama puasnya dengan si pemuda bernama Minho itu.

“Jonghyun hyung. Kupikir siapa. Ya, tentu saja aku lihat. Dan tampaknya kita mendapat mainan baru. Sebuah boneka yang begitu manis,” lelaki yang bernama Jonghyun terkekeh mendengar perkataan Minho.

“Ya. Aku sudah mendapat beberapa data tentang wanita itu. Namanya Lee Rae Sun,” Minho tampak mendengarkan dengan serius dan seksama, “Dia adalah anak dari mantan mata-mata terkenal. Lee Moon Yang. Dia juga lulusan terbaik dari akademi kepolisian di Los angeles. Setelah lulus, dia sempat ikut bergabung sebagai assisten detektif dalam organisasi penyidik ternama, selama 3 tahun,” Minho berdecak kagum mendengar deretan prestasi wanita bernama Lee Rae Sun itu.

“Boneka yang cukup mahal ternyata,” pandangannya kembali tertuju pada berita di tv, wanita itu tampak begitu cekatan dan tegas dalam bekerja.

“Sepertinya dia belum tahu apa-apa soal permainan kita,” jelas Joonghyun dengan selipan nada waspada dalam perkataannya.

“Semuanya bisa kuatur. Tenang saja hyung, dia tidak akan bertahan lama sama seperti detektif kacangan sebelumnya,” kata Minho dengan santainya.

“Baiklah. Aku tahu kau sudah profesional. Jadi jangan sampai semua usaha kita selama ini terbongkar,” peringat Joonghyun tegas lalu dia mengakhiri pembicaran dan mumutuskan telpon.

Minho menaruh kembali gagang telpon pada tempatnya. “Let’s play with me Dolly,” seulas senyum licik tergambar disudut bibirnya.

Di sebuah ruang kerja ber-ac yang begitu rapih. Seorang wanita muda sedang sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen penting di hadapannya. Dia tampak begitu serius dan teliti membaca setiap laporan dalam dokumen tersebut. Seolah takut melewati satu kata penting dalam setiap lembaran kasus yang dipelajarinya.

Sesekali dia menghela napas putus asa. Kasus yang dihadapinya setelah dia menjabat sebagai detektif senior tak semudah seperti yang dibayangkannya selama ini.

Ttttookkk ttookkk ketukan di pintu kayu berukir mewah membuyarkan konsentrasinya. “Masuk,” wanita itu meletakkan pena dan menutup dokumennya.

“Ah… agasshi,” seorang pemuda dengan kemeja coklat sederhana dan celana dasar berwarna hitam masuk. Dia membawa sebuah nampan berisi dua potong sandwich dan segelas coklat hangat.

“Jinki-sshi. Kamshanida,” wanita itu tersenyum manis pada pemuda bernama Jinki yang sedang meletakkan nampan tadi di atas meja tamu.

“Agasshi, pekerjaan memang penting. Tapi, jangan sampai lupa makan. Kalau sampai agasshi sakit, lalu siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan penting agasshi,” Jinki mulai menceramahi wanita itu.

Wanita itu beranjak dan ikut duduk di meja tamu. “Hmm.. kelihatannya enak,” dia mengambil sepotong sandwich lalu memakannya. “Ehmm… delicious. Kau yang membuatnya Jinki-sshi?” wanita itu lalu menyeruput coklat hangatnya.

“Kalau begitu habiskan,” Jinki sedikit mengancam, Rae sun tersenyum dan memakan potongan terakhir sandwichnya.

“Ah, ya. Jangan panggil aku agasshi. Aku tidak suka, panggil saja Rae sun, arraso?” Jinki mengerutkan keningnya mendengar permintaan dari atasannya itu.

Rae sun tersenyum licik mengancam. Jinki terkekeh, “Hehehe, ne… ne… arraso.”

“Ada kemajuan?” tanya Jinki memerhatikan Rae sun yang kembali serius dengan tumpukan dokumennya.

Rae sun menggeleng pelan. Jinki berdiri menghampiri Rae sun, “Hwaiting Rae sun-ah. Kau pasti bisa. Ini baru tugas pertama. Jangan putus asa,” Jinki mengepalkan kedua tangannya memberi semangat.

Rae sun menengadah dan tersenyum, “Gomapta chingu,” Jinki menggeleng heran ketika mendengar Rae sun memanggilnya Chingu.

Jinki pamit dan keluar dari ruangan Rae sun. ’Rasanya aneh dia memanggilku chingu lagi. Padahal kami adalah sahabat sejak kecil,’ Jinki tersenyum lebar. Dia menutup pintu kantor Rae sun dan kembali menekuni pekerjaannya sendiri.

Di lain tempat. Seorang pemuda berjas hitam tampak begitu serius berdiri di depan sebuah ruangan. Tampilannya yang begitu resmi kelihatan melenceng dari rambutnya yang agak panjang dan dibuat bergaya. Beberapa karyawan yang melewatinya berbisik dan terkekeh. Pemuda itu tetap diam tak bergerak dari posisi tegapnya.

CKLEK. Pintu ruangan terbuka. Seorang lagi pemuda yang tampak begitu elegan keluar sembari berjabat tangan dan berpamitan pada seorang pria paruh baya berkacamata.

“Senang berbisnis dengan anda Kibum-sshi. Semoga kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik,” ucap Pria berkacamata itu menjabat tangan pemuda bernama Kibum.

“Ah, saya harap juga begitu. Baiklah, saya pamit. Annyonhaseo,” Kibum membungkuk lalu berbalik dan pergi.

Pemuda yang sedari tadi siaga di depan pintu tadi ternyata adalah body guard Kibum.

“Jonghyun…” panggil Kibum.

Jonghyun sedikit mendekat, “Nde, sajangnim.”

“Malam ini tunda semua meeting. Aku ingin bersantai. Terserah kalau mereka mau membatalkannya. Mereka yang butuh aku, bukan aku yang butuh mereka,” nada bicaranya sedikit sombong dan angkuh.

“Nde sajangnim,” Joonghyun mengangguk sekali. Dia menarik interkomnya. “Batalkan semua meeting,” kata Joonghyun pelan di belakang Kibum. Orang di seberang interkom tampaknya membantah, “Batalkan,” Jonghyun menegaskan perkataannya. Orang di seberang interkom hanya mengiyakan perintah Jonghyun.

Di depan sebuah gerbang sekolah mewah, seorang pemuda manis yang masih memakai seragam sekolah dengan kesal berkali-kali memencet keypad hpnya.

“Aisshhh… Noona!” ucapnya frustasi sambil menghentak kedua kakinya. Dia melirik jam tangan cassio keluaran terbaru di pergelangan tangannya, 4.45 AM. Dia mendengus kesal dan mengacak-acak rambutnya.

“Jawab telponku Noona,” pemuda itu kembali menekan keypad hpnya.

Tuuutt…. ttuuutt…. tttuuuttt… nada sambung terdengar.

“Yoboseo,” terdengar jawaban dari seorang wanita di seberang telpon.

“NOONA! Sekarang sudah hampir jam lima. 15 menit lagi tepat satu jam aku menunggumu,” pemuda itu sedikit berteriak.

“Eh, mianhe Taemin-ah. Noona terlalu serius bekerja. Noona akan segera menjemputmu. Chnakkaman, arraso?” terdengar suara berisik barang-barang yang di serakkan.

“Phaliya,” ucap Taemin sedikit mendengeus kesal,

“Ne… Ne… Mianhe. Chankkaman dongsaeng,” Taemin menutup telpon. Dia berbalik dan duduk di gerbang sekolah. Dia terus menggerutu dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.

10 menit kemudian…

“Dongsaeng…” Rae sun melambai semangat dari kaca mobilnya ke arah Taemin.

Taemin menghela napas panjang lalu berjalan (lebih tepatnya menghentak) ke arah mobil mercy mewah milik noonanya itu.

“Mianhe. Noona terlalu serius bekerja. Sampai-sampai tidak mendengar telponmu. Mianhe Dongsaeng…” Rae sun menatap Taemin ragu-ragu.

Taemin menoleh, “Ne ne… lain kali awas kalau noona telat lagi menjemputku. Arraso?” ancamnya.

“Ne dongsaeng,” Rae sun mengacak-acak rambut pirang adik kesayangannya itu.

“Aigo, Noona,” Taemin menurunkan tangan Rae sun dari kepalanya.

“Hahaha, nae dongsaeng ternyata sudah besar yah,” ucap Rae sun sambil mejalankan mobil.

“Memangnya aku akan terus jadi anak kecil? Aku sudah SMA noona,” Taemin menunjukkan lambang SMA yang tejahit rapi di blazer seragamnya.

“Ara… ara. Tapi bagi noona kau tetap adik noona yang manis dan selalu merengek minta dibelikan coklat,” canda Rae sun menahan kikikannya.

“ NOONA!” Taemin berteriak protes.

Rae sun terkekeh puas melihat adiknya yang kini mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya.


“Ottokhe?” tanya Minho dengan nada serius. Jonghyun yang duduk di seberangnya mengeluarkan hp sederhana berlayar touch screen. Setelah mengutak-atik sebentar, Jonghyun menyerahkan hpnya pada Minho.

“Hmm.. dia. Sudah lama aku mencurigai orang ini. Dia sudah telalu lama terlibat dalam berbagai kegiatan penyelundupan dan mafia. Ternyata, kali ini dia sudah kelewat batas. Saatnya bertindak,” Minho meletakkan hp Jonghyun di atas meja. Terdengar gemeretak sendi-sendi tangan Minho yang menggenggam kuat “Let’s play. Catch me Dolly,” Minho menyeringai penuh kemenangan.


Bel rumah keluarga Lee berdenting menggema ke dalam rumah.

“Chankkaman-yo,” Taemin yang sedang mengerjakan PR di ruang tengah beranjak untuk membukakan pintu.

“Ah… Kibum hyung,” Kibum tersenyum ramah di depan pintu, “Ah… Rae sun noona?” tebak Taemin dengan senyum jahilnya.

“Aisshh… kau ini. Tahu saja,” canda Kibum dengan ekspresi seperti orang kalah lotre.

“Ahahaha… masuk. Biar kupanggilkan noona. Dia terlalu ‘gila’ bekerja akhir-akhir ini,” ucap Taemin dengan penekanan yang membuat Kibum menaikkan sebelah alisnya heran.

Taemin hanya menggeleng dan mempersilahkan Kibum masuk. Setelah mengantar Kibum ke ruang tengah yang masih berantakan dengan segala macam buku pelajaran milik Taemin yang berceceran dimana-mana.

“NOONA!!!!” Taemin berteriak dari tangga bawah memanggil Rae sun yang sedang ‘bergulat’ keras dengan pekerjaannya.

Rae sun mendesah kesal. Dimatikannya lampu benderang disudut meja kerjanya. “Nde Taemin. Chankkaman,” balasnya berteriak. Setelah membereskan rambutnya yang acak-acakan, Rae sun turun menghampiri Taemin, “Whae?” tanyanya masih sedikit kesal.

“Kibum hyung,” telunjuk lentik Taemin menunjuk ke arah ruang tengah.

Rae sun menghela napas panjang dan berjalan gontai menghampiri Kibum di ruang tengah. “Annyong…” sapanya saat melihat sosok namja yang masih berbalut jas hitam duduk tenang memandangi setiap sudut ruangan itu.

“Kau sedang bekerja?” tebak Kibum melihat wajah Rae sun yang dengan jelas tertera ‘jangan ganggu aku.’

“Begitulah… kasus yang lumayan sulit,” keluh Rae sun beralih duduk di samping Kibum.

Kibum tersenyum sekilas dan mengeluarkan tangan kanan di balik tubuhnya, sebuket bunga mawar pink. Sudut bibir Rae sun tertarik mengulas senyum melihat buket bunga kesukaannya itu.

“Gomapta…” Rae sun meraih buket bunga itu dan menariknya ke dalam pelukannya. Dihirupnya aroma wangi yang menyesap masuk melalui hidungnya.

“Eehhhmmm… eekkkhhhmmm,” terdengar suara berdehem. Taemin berdiri berkacak pinggang di depan Rae sun dan Kibum dengan wajah protes.

“Noona… Hyung… bisakah kalian meninggalkan aku dan ‘pacar-pacarku’ itu,” sindir Taemin menunjukkan pandangannya pada ‘pacar-pacarnya’ yang bertumpuk dan berserak di setiap sudut ruangan.

Rae sun dan Kibum terkekeh. “Mianhamnida dongsaeng. Baiklah… kami akan pergi dan membiarkanmu, ‘berkencan’ dengan mereka,” balsas Rae sun menggandeng tangan Kibum keluar.

“Ya… ya… ya… romansa orang dewasa,” ejek Taemin kembali pada ‘pacar-pacarnya’ yang menunggu di kerjakan XD

Ruangan gelap tanpa cahaya. Hanya setitik kecil yang menelusup masuk melalui gorden usang yang tampak begitu kotor bergelayut menutupi pemandangan kota yang gemerlap dengan lampu-lampu yang tampak begitu kecil dari atas flat sederhana itu. Minho duduk menyandarkan kepalanya ke sofa reyot yang didudukinya. Matanya terpejam, tapi ia tidak tertidur. Di depannya, sebuah handphone teronggok tak bergerak. Belum menunjukkan tanda-tanda dimulainya ‘permainan’ untuk level sselanjutnya.

DDDRRRRTTT DDRRRRTTTT, hp itu bergetar pelan. Layarnya mengerdip bercahaya. Minho membuka matanya dengan sigap meraih hp itu.

“It’s time…” terdengar suara singkat Joonghyun yang segera hilang digantikan nada terputus. Minho meletakkan kembali hp itu di atas meja.

Di raihnya sebuah kunci kecil di samping hpnya. Dengan langkah pelan ia menghampiri lemari tua. Di masukkannya kunci kecil itu ke lubang kunci di pintu lemari. Dengan putaran pelan, pintu lemari bergeming terbuka.

Lemari itu hampir kosong. Hanya ada segantung baju hitam. Di tariknya keluar baju itu.

Udara malam yang dingin menggelitik kuduk, membuat Rae sun mendekap erat tubuhnya.

“Kau kedinginan?” Tanya Kibum yang berjalan di samping Rae sun.

“Gwenchanao…” jawab Rae sun. “HAACCCIIIHHH!” oops, Rae sun kelepasan bersin.

“Ahahah, sudahlah. Jangan bohong,” Kibum melepas jas yang dipakainya, diselubungkannya jas itu ke bahu Rae sun.

“Gomapta Kibum-ah…” terima kasih Rae sun. Kibum hanya tersenyum dan merangkul bahu Rae sun.

“Apa kasus yang kau hadapi begitu berat?” Kibum membuka pembicaraan.

“Ahh… kepalaku serasa mau pecah. Tidak ada sama sekali jejak atau tanda-tanda atau bekas atau apalah, dari pencuri itu. Dia terlalu jenius,” cerocos Rae sun menumpahkan unek-uneknya.

Kibum terkekeh melihat Rae sun dengan ekspresi kesalnya. “Whae? Tidak lucu tahu,” Rae sun merengut kesal melihat tingkah Kibum.

Rae sun mempercepat langkahnya, Kibum berteriak memanggilnya, “Rae sun-ah…” Rae sun terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan dari Kibum.

“Kau marah?” Tanya Kibum. Rae sun terus mempercepat langkahnya. Kibum terkekeh, sedetik kemudian dia berlari kencang mensejajari langkah Rae sun.

“Mianhe. Jhagi…” panggil Kibum manja.

“Ya! Aku paling tidak suka di panggil seperti itu,” Rae sun berhenti dan berbalik menghadap Kibum.

“Whae? Kita pacaran, lalu kenapa aku tidak boleh memanggilmu JHAGIYA?” tekan Kibum.

Rae sun membelalak mendengar perkataan Kibum, “Ani, hanya tidak suka,” Rae sun berbalik dan meneruskan langkahnya. ‘AISSHHH ottokhe?’ batinnya. Rae sun menunduk menyembunyikan pipinya yang merah merekah.

Drrrrttt drrrttt ddrrrttt… hp mungil bercasing pink bergetar pelan dalam saku sweter Rae sun.

“Ne, Yoboseo…” jawabnya.

“Rae sun-ah… segera ke kantor. Terjadi pembobolan besar di salah satu rumah pejabat parlemen. Semua aset penting hilang dibawa pencuri,” suara Jinki yang terdengar masih parau tapi menyiratkan nada cemas.

“Mwo? Ne… Ne… chankkaman. Aku akan segera kesana,” Rae sun memutuskan pembicaraan.

“Kibum-ah… ada kasus lagi. Mianhe, lain kali saja kita jalan-jalan. Jeongmal Mianhe,” Kibum mengangguk pelan.

“TAXI!” teriak Rae sun begitu melihat Taxi berwarna hijau melintas di jalan tempat mereka berdiri. Dilepasnya jas hitam yang membalutnya dan mengembalikannya pada Kibum.

“Annyong,” Rae sun melambai kilat lalu masuk ke dalam mobil.

Kibum balas melambai melihat taxi itu berlalu. ‘Sarangheo ’ tertulis samar dari embun buatan di kaca taxi itu. Kibum tersenyum riang melihat tulisan berarti itu.


“AHHH…” Minho mendesah keras menahan sakit di sekitar lengannya yang mengeluarkan cairan segar merah pekat. Keadaannya masih terjepit dan belum aman. Dia terus bersembunyi dalam sunyi dan kegelapan gang sempit di sudut bangunan besar. Sebuah kantong dengan percikan bercak darahnya tertumpuk diam di sebelahnya.

“Sial!” umpatnya pelan. Karena ketidak hati-hatiannya, aksinya kali ini terancam gagal.

Pakaiannya yang serba hitam menyatukannya dengan malam. Topeng kecil menutupi daerah matanya.

“Minho-ah..” panggil sebuah suara dari ujung gang.

Minho menajamkan telinganya mengenali suara itu. “Joonghyun hyung…” Minho berusaha mengeluarkan suaranya.

“Minho-ah….” Jonghyun berlari kencang ke ujung gang tempat Minho meringkuk.

“Omo omo… gwenchana?” Tanya Jonghyun cemas melihat keadaan Minho yang tidak begitu baik.

“Jangan banyak bicara. Cepat bawa barang-barang ini dan bawa aku ke rumah sakit, PHALIYA!!” ucap Minho tersengal-sengal menahan sakit.

Tanpa banyak bicara, Jonghyun meraih kantong berukuran besar yang menggembung di samping Minho. Di taruhnya kantong itu dalam mobil sedan kecil tua yang diparkirnya tepat di ujung gang .

Setelah meletakkan kantong itu, Jonghyun bergegas membopong Minho yang masih terus meringis kesakitan. Lengan kanannya terus mengucurkan darah segar yang tak berhenti. ‘Hadiah’ dari seorang security yang ternyata baru saja kembali dari toilet dan tidak terbius. Begitu melihat Minho yang baru selesai menjarah harta korbannyaa dan hendak keluar dari jendela, security sialan itu melepaskan tembakan panas dari pistol kecil yang siaga di pinggangnya. Peluru itu memang meleset, tapi sayangnya peluru itu menggores pinggiran lengan Minho.

Jonghyun dengan hati-hati mendudukkan Minho di jok penumpang depan. Di raihnya sebuah kemeja lusuh yang tergantung di pegangan atas pintu mobil. Diberikannya kemeja itu pada Minho, “Pakai ini. Tidak mungkin kau ke rumah sakit dengan pakaian itu,” kata Jonghyun seraya menstarter sedan tua itu.

Dengan sisa tenaga menahan sakit, Minho memakai kemeja biru lusuh pemberian Jonghyun.


Rae sun mengamati ruangan mewah yang meruapakan ruang kerja pejabat tinggi, korban penjarahan. Dengan teliti mata Rae sun menelusuri sudut ruangan mewah itu. Berusaha menangkap suatu tanda yang dapat dijadikannya petunjuk.

Bercak darah. Rae sun menghampiri jendela besar di sisi barat ruangan itu. Bercak darah bercecearan dari kusen jendela. Dibukanya jendela itu. “Jinki-sshi…” panggil Rae sun pada Jinki yang sibuk mengintrogasi saksi mata di meja kerja ruangan itu.

“Ne…. chankkaman ahjussi,” Jinki menunda pembiacarannya dengan security yang menjadi saksi mata bergegas menghampiri Rae sun.

Telinjuk Rea sun mengarah pada bercak darah yang bececeran tadi. “Ambil ini. Siapa tahu ini pencuri yang sama dengan yang kemarin,” perintah Rae sun. Jinki mengangguk pelan dan mengeluarkan selembar tissue tipis dari saku jaketnya. Di sapukannya bercak tadi ke tissue. Setelah bercak itu berpindah, dengan hati-hati Jinki memasukkan tissue itu ke dalam plastik bening ukuran sedang.

“Apa ada tanda-tanda lain?” Tanya Rae sun.

“Aggashi…” suara tegas memanggil Rae sun dari depan pintu ruangan. Seorang anggota penyidik menunjukkan sebuah boneka porselen cantik.

“Ige bouya?” Tanya Rae sun heran memandangi boneka imut itu.

“Ini ditemukan di dalam brankas yang isinya sudah kosong aggashi. Dan… ini,” penyidik itu memberikan boneka mungil itu pada Rae sun. dengan waswas Rae sun meraih boneka itu. ‘Lee Rae sun,’ namanya terukir rapi dengan lekuk tulisan yang ramping di kerah baju boneka itu. Sontak Rae sun kaget.

“Mwo?” dibolak-baliknya boneka itu, tapi tampaknya boneka itu hanya boneka imut biasa. Rae sun mendesah kesal.

“Aggashi, apa mungkin ini…. Perbuatan dia,” seorang penyidik lain dalam ruangan itu angkat bicara. Penyidik yang tadi menyerahkan boneka kepada Rae sun kini ikut menegang .

“Nugu?” Rae sun penasaran dengan apa yang akan di katakan si penyidik itu.

Penyidik itu menelan ludah memandang orang-orang sekitarnya yang menatapnya penuh perhatian.

“Dia…..”

-TBC-

Dont forget to leave ur comment ^^

PS: mian kalau ada salah ketik atau ada yang kurang menurut readers, jadi mohon kritik dan saran kalian.

9 thoughts on “MINHOOD [PART1]

  1. weehe bagus kok
    pacarnya taemin pe-er… ^^
    cuman mau saran dikiit aja, itu yoboseo harusnya ditulis yoboseyo…
    udah itu aja, ditunggu lanjutannya! ^^

  2. weittss saya suka genre yg begini! makin scroll ke bwh mkn menggebu aja adrenalin hehehe
    taemin nakal deh… hohoho jd inget diri sendiri kalo jmptan telat dtg..
    Part 2nya dong..

  3. chingu……………………..*tb2 error*
    THIS IS VERY VERY COOL FF, EVER SEEN IN MY LIVE*bhasa si thata*
    Kerennn,,,mnduga2 thrillerr it pmbunuhn trnyta dtektif*stelah bk kamus* kekkekee~
    Yammmpun,bgus amat chingu ceritanya keren.thata suka bgt.bahasanya,pmikirannya,ttur struktur critanya,idenya,plotnya.arrrr.pkoknya smuanya….!!keren chingu,thata jd keinget film2 brgenre sprti ni.biasanya film kek bgnian bkn korea pnya.tp china pnya.thata slh satu pnggemar film2 CHINA loh,,hbisnya DAEBAKK
    Kayak FF chingu yg ni,DAEBAK bggggt,pngen nangis sngkin daebak-nya,krna chingu tlah mngingatkn thata dgn film2 CHINA yg bner2 keren..yammpun.hayooo ASAPPPP LNJUTANNYA.VERY COOL FF, THATA AKN SETIA MNUNGGU NEXT CHAP-NYA:HWAITINGG!!!!!

  4. wow keren
    suka ama cerita yg bergenre begini
    ckckck taem smpi bilang pacar-pacarx pada prx gr2 kakakx bermesraan dg kibum
    sprtix akn terjadi kisah cinta yg sangat rumit *sok tau hehehe
    g nyangka rae sun tu yeojachingu kibum, q kira dia suka ma jinki *salah besar saia
    makin penasaran apa yg akn terjadi selanjutx
    ditunggu kelanjutanx

  5. Lnjutin ffnya chingu,,, oya thriller nya krg dh, tmbahin y… Romance nya g ush dtmbhin, trus tkohnya jg, ckp sgtu za… Oya klo bsa lbh sadis lagi, tambahin pembunuhan nya atw apa gt… (”Mianhe,, bnyk maunya,,,,”)..

  6. wah ada sherlock holmes di ff
    nggg aku suka sherlock holmes, tapi apa mungkin lebih suka shinici kudo ya????
    *plak di gampar* gak penting
    bagussssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s