Nay, Mahal Kita… – Part 4

Disclaimer: Song Seung Hyun, Choi Minhwan, Lee Jaejin, dan Lee Hongki bukanlah ciptaan saya. Mereka adalah diri mereka sendiri. Semua nama aneh yang ada adalah buatan saya. Ide cerita dan plot adalah hasil dari imajinasi saya.

Genre: AU, Crack, Fluff, Family, Friendship, Fantasy, Life

Cast:

  1. Kau sebagai Puchuraki
  2. Song Seung Hyun – FT Island
  3. Choi Minhwan – FT Island
  4. Lee Jaejin sebagai Bojahele / Lee Jaejin – FT Island

Other Cast:

  1. Lee Hongki – FT Island
  2. Oh Won Bin
  3. Choi Jonghun – FT Island

Part 1 | Part 2 | Part 3

Part 3:

Sedikit lagi, kau bisa menjadi Guardian Level Standar. Buat dia bisa bekerjasama denganmu.

Bojahele.

“Enak?” tanyamu.

Tidak ada jawaban. Song Seung Hyun tidak mengatakan apapun selama makan. Tiba-tiba kau merasa, semua pembicaraan kemarin malam hanyalah mimpi. Tapi, kalau itu memang mimpi, seharusnya Song Seung Hyun mengusirmu sekarang, dan dia tidak memanggilmu dengan nama Sohyun.

Choi Minhwan berlalu, dan kau kembali menunggu anak semata wayangmu keluar. Keadaan sudah mulai sepi, karena sudah begitu banyak anak yang keluar dari sekolah. Kau melihat sekeliling, ketika tiba-tiba sebuah suara familier tertangkap oleh pendengaranmu.

“Apa yang kau lakukan di sini!?”


Part 4

“Song Seung Hyun,” kau berbalik ke arah suara sambil tersenyum, berniat menyambut anakmu itu. Tapi, senyumanmu memudar ketika mendapatinya bertengger di atas dinding pagar sekolahnya. Kau berlari mendekatinya sambil berseru, “Song Seung Hyun, apa yang kaulakukan!? Cepatlah turun dengan hati-hati sebelum kau terluka!”

Dia sudah lebih dulu mendarat di tanah dengan mulus. Melihat apa yang baru saja dia lakukan, sudah bisa diduga kalau dia sering melakukannya. “Apa yang kaulakukan di sini?” dia mengulang pertanyaannya dengan nada kesal.

“Siapa itu, Song Seung Hyun?” sebuah suara lain terdengar, diikuti oleh munculnya orang lain dari balik dinding. Berbeda dengan Song Seung Hyun yang menyempatkan diri berhenti puncak dinding, orang itu benar-benar melayang dan melompati dinding yang tinggi itu, lantas mendarat di sebelah Song Seung Hyun. Kau yakin orang itu yang mengajarkan Song Seung Hyun melakukan hal berbahaya itu. Dia adalah seorang pemuda yang tampaknya lebih tua daripada anakmu, mungkin seumuran dengan Lee Hongki. Rambutnya tersisir, tapi tampaknya tetap saja ada bagian-bagian dari rambutnya yang mencuat dari jalurnya, membuat alur-alur berantakan yang modern. Ketika melihatmu, senyumnya merekah lebar. “Wah, siapa ini?”

Song Seung Hyun mendesah, tampaknya kurang siap untuk membohongi semua orang. Kau bisa melihat itu dari ekspresinya, maka kau memilih untuk lebih dulu berbohong—melindunginya. “Aku sepupu Song Seung Hyun.”

Wajah Song Seung Hyun menjadi sedikit terkejut ketika kau meliriknya, tapi dia langsung membuang muka dengan acuh, mendengus kesal.

“Wah, sepupu, ya?” pemuda di belakang Song Seung Hyun berjalan mendekat. Senyuman cerah masih menghiasi wajahnya. “kenalkan, aku Oh Won Bin. Siapa namamu?”

“Namaku Song Sohyun,” jawabmu sopan, membalas senyumnya. “senang berkenalan denganmu.”

“Aku juga,” Oh Won Bin menyisir rambutnya yang bagian depan dengan tangan. “jadi, apakah—“

“Sudahlah,” potong Song Seung Hyun, menyikut perut Oh Won Bin. “apa yang sebenarnya kaulakukan di sini?” tanyanya padamu.

“Aku hanya menjemputmu,” jawabmu sambil tersenyum, berharap dalam hati dia akan membalasnya.

Tapi, alih-alih menjawab dia justru menarik nafas berat dan menatapmu tajam. “Aku tidak ingin kau menjemputku. Memangnya aku anak kecil? Mengapa kau tidak di rumah dan melakukan apa saja yang bisa kaulakukan? Lagipula, bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

Kau menatap mata Song Seung Hyun cukup lama. Di matanya terukir kekesalan yang bisa menyayat hati orang yang melihatnya. “Aku naik—” kau mencoba mengingat nama kendaraan yang kaubaca di buku tentang dunia manusia, yang kaugunakan untuk pergi ke sekolah Song Seung Hyun. “—taksi.”

“Ternyata kau bisa naik taksi,” gerutu Song Seung Hyun. “sudah, pulanglah! Aku masih ada les setelah ini!”

“Les?” tanyamu. Apa itu les?

“Sudah, itu bukan urusanmu!” Song Seung Hyun membuang muka dan berlalu. “ayo, Hyung!”

Oh Won Bin tetap diam di tempatnya, sekalipun Song Seung Hyun sudah mulai berjalan. Dia mendecakkan bibir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, memperhatikan Song Seung Hyun yang semakin menjauh. “Anak itu memang kasar,” ujarnya. Dia menoleh padamu dengan wajah prihatin yang ramah. “kau pasti kewalahan.”

Kau tersenyum padanya. Sampai saat ini mungkin kau memang kewalahan mencari titik kepercayaan dalam hati Song Seung Hyun, tapi bagimu, “Tidak apa-apa, selama dia senang, aku juga akan senang.”

“Baik sekali,” puji Oh Won Bin sambil tertawa. Tiba-tiba sikapnya berubah, menjadi sedikit malu-malu yang membuat darahnya terkumpul di pipinya. “Mau kuantar pulang?” tanyanya.

“Won Bin-hyung!” panggil Song Seung Hyun. Kau dan Oh Won Bin menoleh bersamaan. Song Seung Hyun masih memasang wajah dinginnya.

“Anak itu,” Oh Won Bin mendesah. “maaf, ya, aku tidak bisa mengantarmu.”

Kau mengangguk maklum. “Tidak masalah,” gelengmu. “tolong jaga Song Seung Hyun baik-baik.” Kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutmu tanpa ada komando khusus. Seperti sebuah pesan wajib yang harus diberikan pada siapapun yang berada di dekat Song Seung Hyun.

Oh Won Bin hanya menjawab dengan tawa dan anggukan, lantas berlalu mengejar Song Seung Hyun yang sudah melangkahkan kakinya lagi karena tidak sabar. Ketika pandanganmu dan Song Seung Hyun bertemu, dia langsung membuang muka. Bahkan, dari jauh pun kau bisa mendengar dengusan kesalnya.

Ketika Oh Won Bin merangkul Song Seung Hyun dan mulai berbicara mengenai banyak hal, kau juga berbalik dan berjalan pulang. Dalam hatimu, kesedihan seolah membakar. Rasanya sulit sekali menerima kenyataan bahwa Song Seung Hyun belum bisa menerima dan mempercayaimu secara utuh.

Kau memutar kepalamu ke arah perginya Song Seung Hyun. Dia masih ada di sana bersama dengan Oh Won Bin. Kau kembali menatap jalanmu, berusaha menenangkan hatimu yang tiba-tiba merasa cemas dengan keadaan Song Seung Hyun. Semuanya akan baik-baik saja.

Sekali lagi, kau menoleh. Tampaknya langkah Song Seung Hyun dan Oh Won Bin sama pelannya dengan langkahmu. Mereka hanya sedikit bertambah kecil dari saat pertama kau menoleh. Dia baik-baik saja, ujarmu dalam hati. Dia akan baik-baik saja.

TIIN!

Lagi-lagi, segalanya terjadi dengan begitu cepat. Sebuah mobil bergerak cepat ke arahmu—warnanya merah, dan di dalamnya hanya ada satu orang. Lalu terdengar sebuah suara yang memanggil namamu, tepat ketika kau menutup wajahmu dengan kedua tangan. Tiba-tiba sesuatu mendorongmu ke samping, dan kau terjatuh ke tanah. Kedua tanganmu menahan tubuhmu secara otomatis, sementara matamu masih terpejam.

Terdengar sebuah suara tabrakan.

Apa yang terjadi padaku!?

Tidak, itu bukan kau.

CIIT!

Perlahan, dengan rasa takutmu yang menyesakkan, kau membuka kedua matamu. Di hadapanmu, tampak sesosok tubuh yang terlentang di jalan. Kepalanya membelakangimu, tapi kau tidak mungkin tidak bisa mengenalnya. Sosok yang seharusnya kaulindungi.

“Song Seung Hyun!” kau merangsek mendekati tubuh yang diam itu. Air mata mengalir deras di pipimu. Kau menyesal, merasa tidak berguna. Aku Guardian yang buruk! Jeritmu dalam hati. Aku tidak bisa menjaga Song Seung Hyun!

“Sohyun,” sebuah suara pelan terdengar dari samping. Oh Won Bin berlutut di sisimu.

Kau menatapnya. Kata-katamu sama sekali tidak bisa keluar, tercekat di tenggorokan seperti tahanan di balik jeruji besi. Hanya air mata dan isakan yang menggantikan kata-katamu. Matamu semakin mengabur oleh air mata. Sejenak setelah kumpulan air asin itu jatuh menuruni pipimu, mengikuti alur yang sudah dibuat oleh air mata sebelumnya, kau bisa melihat pertemuan mendadak antara jalan dan kulit di pipi Song Seung Hyun. Dia terluka. Di pipinya.

“Aku…” terdengar suara asing dari belakang.

Kau menoleh. Itu lelaki yang menabrak Song Seung Hyun, yang turun dari mobil merahnya. Dia berusaha tampak tenang sekalipun dia tidak bisa benar-benar menyembunyikan rasa sesal yang terlukis di garis wajahnya. Dia berlutut dengan satu kaki, berusaha untuk mengatakan sesuatu. Kau menghapus air matamu dan berkata dengan nada dingin yang bahkan kau sendiri tidak bisa mempercayainya. “Tidak perlu banyak bicara. Mengapa kau tidak melakukan sesuatu untuk bertanggung jawab?”

“Sabar, Sohyun,” ujar Oh Won Bin menenangkan. Dia pasti bisa merasakan kesedihanmu. Setelah itu dia bertanya dengan nada tegas pada lelaki itu. “Tidakkah kau punya pikiran untuk membawa temanku ke rumah sakit atau semacamnya, eh?”

Lelaki itu tampak sedikit gelagapan, tetapi antusias, seperti baru mendapatkan ide untuk bertanggung jawab.  Dia bangkit dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Oh, tentu! Ayo, mengapa tidak kita bawa dia ke rumah sakit? Kita bisa pakai mobilku!”

Tidak lama kemudian, kau sudah berada di dalam mobil merah yang dingin itu. Lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Choi Jonghun itu mulai banyak bicara dan terus-menerus meminta maaf, tapi kau tidak terlalu memedulikannya. Air matamu pecah lagi ketika melihat wajah Song Seung Hyun di pangkuanmu. Hal semacam ini baru terjadi kemarin. Air matamu menetes, meresap di pakaian Song Seung Hyun. Lalu aku berjanji untuk melindungi Song Seung Hyun, dan ini semua membuatku tampak seperti pembohong besar!

Beberapa kali Oh Won Bin dan Choi Jonghun menoleh ke belakang, melihat keadaanmu dengan tatapan kahwatir yang sama denganmu. Kau menatap lagi anakmu di pangkuanmu, menemukan lagi luka yang hampir mongering di pipinya. Dia terluka. Di pipinya. Tanganmu ingin membelai gurat kesakitan yang terlukis di pipi dan dahinya, tetapi aura penolakan seolah menguar cepat dari pancaran wajahnya, menahan uluran tanganmu untuk menyentuhnya seperti ibu kepada anaknya. Seperti ibu kepada anaknya.

Rumah sakit. Bangunan besar yang sama dengan rumah sakit di Azharala, tanpa segala kecanggihannya. Kau duduk di hadapan sebuah pintu di mana Song Seung Hyun berada. Sesekali air matamu keluar bersama dengan seabrek penyesalan dan rasa bersalah. Seberapa gigihnya kau untuk menimpakan kesalahan pada Choi Jonghun demi menenangkan dirimu, kau tidak bisa merubah kenyataan bahwa kau seharusnya melindunginya, bukan dia yang melindungimu. Choi Jonghun tidak bersalah, pikirmu. Dia hanya perantara Tuhan agar aku membuka mata, menyadari kelalaianku pada tanggung jawab.

Oh Won Bin duduk di sebelah kananmu, sementara Choi Jonghun di sebelah kiri. Tidak ada yang membuka suara. Lorong yang sepi itu hanya berisi suara isakan dan perasaan campur aduk yang semuanya menguar ke udara. Keadaan itu beberapa kali diinterupsi oleh suara dari kantong Choi Jonghun, entah panjang atau pendek, yang lebih sering diabaikannya.

Suara sejenis keluar dari kantong Oh Won Bin, tapi dia tidak mengacuhkannya seperti yang dilakukan oleh Choi Jonghun. Oh Won Bin bangkit dan berjalan agak menjauh, sekalipun suaranya masih terdengar jelas. “Halo,” katanya. “maaf, aku di rumah sakit.” Diam. sejenak “Ya, aku bersamanya.” Diam lagi. “Sejujurnya, Song Seung Hyun, dia…” dia melirikmu, tapi langsung memalingkan wajahnya begitu tahu kau memperhatikannya. “tidak, tenang saja, pelakunya sudah cukup banyak bertanggung jawab. Kau tidak perlu melakukan hal-hal gila untuk memaksanya.”

Desahan nafas penuh sesal terdengar dari samping kirimu.

“Sepupunya ada di sini,” kata Oh Won Bin pada orang yang meneleponnya. “apa maksudmu? Tentu saja! Sepupu bisa jadi berbeda dalam banyak hal!” Diam. “Aku akan menceritakan semuanya ketika kau sudah sampai di sini.” Oh Won Bin memutar bola matanya. “Tentu saja, kami terpaksa absen dari pelajaran bahasa Thailand hari ini.” Oh Won Bin manggut-manggut. “Baik, kami ada di kamar nomor—“ Oh Won Bin melirik nomor kamar di pintu. “—seratus tujuh puluh tiga.”

Oh Won Bin duduk kembali ke kursinya tanpa bicara. Keheningan menyeruak, menarik waktu agar bergerak lebih lamban dari seharusnya. Choi Jonghun sudah berkali-kali mengambil handphonenya yang terus berbunyi tanpa melakukan apapun pada bunyi-bunyi yang mulai merasuk ke dalam otakmu itu. Oh Won Bin lebih senang menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan dan sejenak kemudian dia kembali dengan tiga gelas minuman hangat yang rasanya bercampur antara pahit dan manis. “Kopi,” katanya ketika membagikan minuman itu padamu dan Choi Jonghun. Dia tersenyum, tampaknya ingin menularkan ketenangan padamu lewat senyuman itu.

Suara langkah yang sedikit terburu terdengar saat kau baru saja meneguk cairan kental berwarna coklat itu. Oh Won Bin dan Choi Jonghun menoleh bersamaan. Oh Won Bin bangkit dan menyambut orang itu. Tangisanmu pecah tiba-tiba. Lee Hongki. Kau tiba-tiba merasa semakin bersalah sekaligus malu begitu melihat wajah itu. Lee Hongki adalah orang pertama yang mempercayaimu untuk melindungi Song Seung Hyun. Belum ada sehari setelah kau berjanji pada Lee Hongki, tapi kau sudah menunjukkan betapa tidak becusnya kau melindungi Song Seung Hyun.

“Di mana dia?” tanya Lee Hongki. Saat dia mendengarkan penjelasan Oh Won Bin, matanya bertemu dengan matamu, tepat ketika air matamu jatuh ke pipi. Pandangannya dingin. Dia sama sekali tidak bicara setelah itu.

“Orang itu yang menabraknya,” Oh Won Bin menunjuk Choi Jonghun yang lagi-lagi mendesah penuh sesal. “tapi, dia yang akan menanggung semuanya.”

“Aku yang salah,” katamu sambil terisak. Kau menatap Lee Hongki. “aku minta maaf. Seharusnya aku bisa melindunginya, seperti janjiku. Aku minta maaf. Ini semua salahku. Seandainya aku memperhatikan jalan, seandainya aku tidak pergi ke sekolah Song Seung Hyun, seadainya aku tidak pernah datang kemari…” kau tercekat dalam hati. Seandainya aku tidak ada. Pikiran bodoh dari hati yang penuh sesal.

“Sudahlah, Sohyun,” Oh Won Bin menghampirimu, memberimu sebuah kain berwarna putih yang bisa menyerap semua air matamu, serta mudah sobek ketika air matamu sudah terlalu banyak ditanggungnya. Tapi, bagaimanapun, kain itu hanya bisa menyerap air matamu. Tidak semua penyesalanmu. Kau memandang ketulusan yang terlukis jelas di wajah Oh Won Bin. “Terima kasih.”

Lee Hongki hanya diam saja, melirikmu selama dia merapatkan punggung ke dinding. Choi Jonghun yang akhirnya mulai menyatakan penyesalannya—lagi. “Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku terlalu asyik dengan musik di mobilku. Aku seharusnya melihatmu di jalan. Tidak kusangka, dia mendorongmu sebelum aku sempat menginjak rem. Ini semua salahku.”

Kau merasa tidak bisa menyalahkan Choi Jonghun. Lebih dari apa itu “rem”, lebih dari apa yang sudah dia lakukan hingga membuat Song Seung Hyun berada di kamar nomor 173 itu, kau yang paling bisa disalahkan. Kau telah berjanji untuk melindunginya. Menjadi seorang ibu yang baik. Apa yang sudah Choi Jonghun lakukan—bertanggung jawab atas kelakuannya—sudah jauh lebih baik dari apa yang kaulakukan. Kau bersalah, dan kau tidak bertanggung jawab.

“Itu bukan salahmu,” katamu, seolah tanpa komando. Air matamu sudah sedikit tertahan oleh kain ajaib Oh Won Bin. Kau menoleh padanya. “kau sudah bertanggung jawab, dan itu masih lebih baik dariku yang tidak melakukan apa-apa. Terima kasih banyak.”

Choi Jonghun hanya menatapmu dengan ekspresi yang sulit diterka. Handphonenya berbunyi lagi dengan bunyi pendek, dan lagi-lagi Choi Jonghun mengabaikannya.

“Jangan terlalu merasa menyesal, ini bukan salahmu,” katamu lagi, kali ini menampakkan senyum. Menyalurkan ketenangan dari senyuman. “kau bisa menjawab salah satu dari orang-orang di dalam handphonemu.” Choi Jonghun tampak sedikit bingung dengan yang kaukatakan, dan kau juga menyadari bahwa kalimatmu pasti terdengar cukup aneh bagi orang-orang di sekitarmu. Tapi, tampaknya Choi Jonghun bisa mengerti maksudmu, dan dia pun berkata, “Tidak perlu, itu semua hanya panggilan dan pesan-pesan yang tidak penting.”

Keadaan berlanjut dalam alur yang datar, hening. Choi Jonghun akhirnya memutuskan untuk menjawab beberapa “orang di dalam handphonenya”. Oh Won Bin masih menyantap sekerat roti yang dia bawa setelah menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan lagi. Dia membagikannya juga, kali ini pada tiga orang. Kau masih diselimuti rasa bersalah, tetapi kau merasa sedikit tenang. Tidak ada artinya menyalahkan diri sendiri dan menyesali diri sebegitu besarnya. Ada orang-orang di sekitarmu, yang punya harapan sama tentang Song Seung Hyun. Choi Jonghun, orang baik yang merelakan “orang-orang di handphonenya” untuk Song Seung Hyun yang kini di bawah tanggung jawabnya. Oh Won Bin yang merelakan langkah dan tenaganya untuk bisa terus setia menunggu dan berharap bagi Song Seung Hyun.

Terakhir, Lee Hongki. Kini dia duduk di samping Oh Won Bin, menyantap rotinya. Sesekali pandangan kalian bertemu dan saat itu dia akan menatapmu dingin, sementara kau menatapnya ingin tahu. Pada awalnya kau mungkin merasa sangat kesal dan curiga pada pemuda itu, tetapi sekarang kau merasa bahwa Lee Hongki adalah anakmu yang lain, sosok seorang kakak yang tampaknya sangat dipuja –puja oleh Song Seung Hyun, terlihat dari betapa percayanya Song Seung Hyun pada Lee Hongki. Kau merasa harus mendapatkan kepercayaan penuh darinya juga, selain dari Song Seung Hyun. Bagaimapun, Lee Hongki tahu lebih banyak tentang Song Seung Hyun dibandingkan denganmu.

Pintu kamar Song Seung Hyun terbuka, dan seorang lelaki berpakaian putih keluar dari dalamnya. Itu pasti tabib! Kau dan Lee Hongki bangkit bersamaan dan menghampiri lelaki itu. Kau sampai lebih dulu dan langsung mencecar lelaki itu dengan banyak pertanyaan. “Bagaimana kondisi Song Seung Hyun? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan lukanya? Yang di pipinya? Apakah ada luka lain di tubuhnya? Apakah dia sudah bangun? Maukah dia memaafkanku?”

“Sohyun,” Oh Won Bin mencoba menenangkanmu. Kau tidak menoleh padanya, tetap terpaku dengan penuh harap pada lelaki berpakaian putih itu.

“Anda keluarganya?” tanya lelaki itu.

Kau mengangguk cepat tanpa berpikir. “Bagaimana keadaan Song Seung Hyun?” tanyamu lagi.

Lelaki itu tersenyum di wajahnya yang lelah. “Dia baik-baik saja. Mungkin hanya kakinya yang sedikit cedera, tetapi itu akan pulih dalam beberapa hari. Anda tidak perlu khawatir.”

Hatimu mencelos. Lega tiada terkira. Song Seung Hyun selamat! Kau bergembira dalam hati. “Bolehkah aku menemuinya sekarang?” tanyamu senang.

Tabib berbaju putih itu mengangguk. “Dia belum siuman, tetapi silakan saja,” lelaki itu memberi ruang untukmu masuk, dan kau segera menggerakkan kakimu ke dalam ruangan coklat pucat itu.

“Oh, ya, siapa yang menanggung semua ini?” tanya tabib itu.

Langkahmu terhenti. Kau berbalik. Aku.

“Saya,” jawab Choi Jonghun. Dia bangkit dari kursinya. “saya yang bertanggung jawab atas kejadian ini.”

Choi Jonghun tidak bersalah.

“Anda?” tabib itu berjalan mendekati Choi Jonghun. “kalau begitu mari ikut saya.”

Matamu mengikuti langkah si tabib dan Choi Jonghun. Dia menanggung semuanya, tetapi dia tidak bersalah. Sekali lagi, rasa bersalah membanjiri hatimu.

“Kau mau masuk, Sohyun?” tanya Oh Won Bin. Dia sudah berdiri di sampingmu. Lee Hongki berdiri di belakangnya, melirikmu dingin.

Kau mengangguk dan segera masuk. Air matamu ingin keluar begitu kau melihat tubuh Song Seung Hyun yang terbaring di ranjang. Kakimu melangkah setengah berlari mendekati tubuh itu. Guratan kesedihan di dahinya sudah terhapus, berganti ketenangan yang dalam di matanya yang tertutup.

Lee Hongki mengitari ranjang dan berdiri di sisi ranjang yang lain, di hadapanmu. Kau menatapnya dan melemparkan senyum. “Song Seung Hyun baik-baik saja,” katamu, melemparkan ketenangan melalui senyumanmu.

“Ya, dia baik-baik saja,” Oh Won Bin yang menjawab, bukan Lee Hongki. “dia pasti akan segera pulih. Song Seung Hyun bocah yang kuat.”

Kau menoleh pada Oh Won Bin dan mengangguk setuju sambil tersenyum. “Dia bocah yang kuat,” kau tertawa kecil, merasa geli dengan sebutan itu. Bocah.

Lee Hongki masih diam saja. Langit di belakangnya terlihat gelap dari jendela. “Sudah malam, ya,” kau berkata, dari menatap kedinginan Lee Hongki, lalu menembus dirinya, ke langit yang mulai bertabur bintang.

Tepat ketika itu handphone Oh Won Bin mengeluarkan suara pendek. Dia mengambilnya dan menatap layarnya beberapa saat. “Hmm,” dia mendekatimu, lagi-lagi merapikan rambut bagian depannya. “aku sangat bersyukur Song Seung Hyun baik-baik saja. Tapi, ini sudah malam dan aku harus pulang.”

“Oh, tidak masalah,” sahutmu, tidak ingin merepotkannya. “terima kasih banyak untuk semuanya.”

“Bukan, bukan itu,” Oh Won Bin mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. “kau sudah menangis dari tadi, dan kau pasti lelah. Apakah kau ingin pulang? Aku bisa… mengantarmu.”

“Eh?” kau menatap wajah Oh Won Bin. Ketulusan jelas terlukis di matanya. Kau menoleh pada Lee Hongki, ragu-ragu pada tawarannya.

“Pulang saja,” jawab Lee Hongki. Tatapannya dingin, dan di dalam matanya ada sedikit angin persaingan dan kebencian—ketidakpercayaan. “aku yang akan menjaga Seung Hyun di sini.”

Kau kembali menatap Oh Won Bin, dan dia tersenyum tipis, menyerahkan semua pilihan padamu. Ketika beralih pada Song Seung Hyun, kau menemukan kembali tugas utamamu. “Tidak,” kau menggeleng pelan, masih menatap Song Seung Hyun. “aku akan tinggal.” Kau menoleh pada Oh Won Bin, kekecawaan tersirat di wajahnya. “aku minta maaf, Oh Won Bin. Aku harus menjaga Song Seung Hyun, bertanggung jawab atas perbuatanku. Terima kasih banyak untuk semuanya.”

Oh Won Bin menarik nafas, mungkin mencoba menarik segala kekecewaannya, dan dia tersenyum sambil menghembuskan nafasnya. “Tidak masalah,” ujarnya. “kali ini, jagalah Song Seung Hyun baik-baik.” Dia memberimu senyuman dan anggukan menyemangati.

“Tentu,” jawabmu—janjimu.

Oh Won Bin berlalu setelah itu. Kini, tinggalah kau dan Lee Hongki. Diam, hening, hanya suara angin yang keluar dari sebuah benda berbentuk balok yang tertempel di dinding di ujung ruangan.

Pintu terbuka. “Bagaimana keadaan Song Seung Hyun?” Choi Jonghun menghampirimu, menatap Song Seung Hyun dengan mimik khawatir yang diselimuti harapan.

“Dia baik-baik saja,” kau mencoba menenangkannya dengan senyumanmu. “aku akan menjaganya mulai saat ini. Dia tidak boleh terluka seperti ini lagi.”

Choi Jonghun tersenyum. “Aku sangat menyesal, tapi terima kasih. Aku sudah membayar untuk perawatan Song Seung Hyun. Aku juga akan berusaha untuk lebih berhati-hati saat mengendarai mobil.”

Kau mengangguk. “Akan kusampaikan penyesalanmu pada Song Seung Hyun kalau dia bangun. Dia pasti mau memaafkanmu.”

“Terima kasih,” ujar Choi Jonghun. Sekali lagi handphonenya mengeluarkan suara panjang. Dia menatap layarnya sekilas dan langsung mematikan suara itu. “aku harus pergi sekarang, tapi aku berjanji akan menjenguk Song Seung Hyun besok. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, terima kasih,” sahutmu ketika Choi Jonghun berlalu melewati pintu dengan terburu-buru. Pasti ada sesuatu yang penting yang harus dia selesaikan.

Sekali lagi, tinggalah kau dan Lee Hongki. Dia masih diam saja dan hanya menghabiskan waktu dengan menatap wajah Song Seung Hyun sesekali, atau menggunakan sesuatu di telinganya, sama dengan yang digunakan Choi Minhwan di taman malam itu. Dia duduk di kursi yang sudah disediakan di situ, mengangguk-anggukkan kepalanya di sandaran kursi.

Kau memperhatikan yang dia lakukan. Apa kegunaan benda itu? Tanyamu dalam hati. Tadinya kau ingin menanyakannya pada Lee Hongki, tapi itu tentu akan memalukan. Kalau Choi Minhwan punya, lalu Lee Hongki juga, berarti benda itu sudah terkenal di dunia ini. Kau menatap Song Seung Hyun. “Bangunlah, Song Seung Hyun, masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.”

Lee Hongki menghentikan anggukan kepalanya dan melepas benda yang tergantung di telinganya. “Bagaimana kau bisa ada di sana?” tanyanya.

“Di… sana?” alismu terangkat sebelah, tidak paham.

“Sekolah Song Seung Hyun,” Lee Hongki menghela nafas. “kau kan seharusnya berada di rumah Song Seung Hyun. Apa yang kaulakukan di sekolahnya? Bagaimana caramu sampai ke sana?” Pertanyaan yang keluar dari bibir Lee Hongki mengandung nada tidak percaya dan curiga.

“Aku naik taksi,” jawabmu, seolah menciut di tempat. Bagaimanapun, kini kau yang bersalah karena telah menyalahi janjimu. Siapa yang tahu kalau Lee Hongki tidak marah karena itu? “aku ingin menjemputnya. Tapi, dia menolak, dan aku pulang, lalu, aku tidak melihat ada mobil Choi Jonghun, dan…” kau tidak melanjutkan kata-katamu. Kau tahu kelanjutannya.

Lee Hongki hanya menatapmu sesaat, lalu kembali terdiam. Dia menatap Song Seung Hyun, dan kau mengikutinya. Hanya itu yang bisa dilakukan.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar, renyah dan tanpa nada. Kau menyentuh perutmu, malu. Suara itu tidak bisa ditahan kalau kau sudah benar-benar lapar.

“Hmph,” Lee Hongki menutup mulutnya dengan tangan. Kau menatapnya malu. Dia sedang menahan tawanya, dan itu berarti dia juga mendengar suara itu. Kau hanya menunjukkan senyummu.

“Dasar,” akhirnya Lee Hongki tersenyum dan bangkit. “tunggulah di sini. Aku akan membeli makanan untukmu.”

Dia sempat tertawa kecil ketika berlalu melewati pintu. “Padahal tadi dia dingin sekali,” kau mengerucutkan bibir. Tetapi, sneyumanmu tiba-tiba terkembang setelah itu. “tapi, tidak apa-apa! Paling tidak dia membelikan makanan untukku!”

Kau kembali pada aktifitasmu, duduk di kursi yang berada di sebelahmu, membaringkan kepalamu di sisi ranjang, menatap wajah Song Seung Hyun. “Aku minta maaf, Song Seung Hyun,” katamu pelan.

Sebuah cahaya berpendar sekilas di belakangmu. “Puchuraki,” itu Bojahele. Dia menghampirimu sambil membawa wajah dinginnya yang biasa.

“Bojahele,” kau bangkit, menyambutnya. Cukup heran atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. “kupikir kau tidak seharusnya datang? Apakah aku masih menjadi Guardian paling buruk?” Tepat setelah mengatakannya, kau menunduk dalam. Itu pasti, aku telah lalai.

“Kalau kau sudah tahu, aku tidak perlu menjelaskannya,” Bojahele angkat bahu. “kau sudah lalai dalam tugasmu sebagai Guardian, dan itu membuat nilaimu dikurangi. Kuota untuk memenuhi syarat sebagai Guardian Level Standar jadi semakin jauh. Aku sebenarnya bisa memberitahukan ini padamu lewat pesan, tapi biar kuperjelas lagi, kau masih menjadi Guardian paling parah di kelompokku. Semua Guardian sudah menjadi Guardian Level Standar, bahkan tinggi. Kau,” dia menekankan kata itu. “hanya kau yang masih menjadi Guardian Tingkat Rendah.”

“Tapi, ini baru hari kedua,” kau mencoba beralasan. Hal yang seharusnya tidak kaulakukan jika kau menyadari kesalahanmu. Tapi, kali ini kau ingat impianmu untuk menjadi Candothy setelah melewati tingkat Guardian. Itu tidak akan tercapai jika kau mendapat nilai yang kurang dari rata-rata.

Bojahele menatap kedua matamu. “Sejujurnya, dari awal kau juga termasuk Junior paling buruk,” tatapannya seolah memasukkan kata-kata itu dengan paksa ke matamu. “itu juga yang membuatmu menjadi semakin buruk. Semua Junior sudah menjadi Guardian Level Standar pada awalnya, atau paling tidak mereka sudah mendekati kuota untuk sampai ke sana. Pada awalnya kau sudah lumayan bagus, dari caramu membuatnya percaya, sikapmu padanya, semuanya. Tapi, dengan adanya kelalaian ini, kuotamu merosot drastis. Pertama,” Bojahele menghitung jemarinya. “kau tidak melindunginya. Kedua, kau membuatnya melindungimu. Ketiga, kau membuatnya terluka.” Dia mengacungkan tiga jari yang dia hitung ke depan wajahmu.

Kau menjauhkan wajahmu dari ketiga jarinya. Bojahele menarik nafas sangat dalam sambil menutup mata sebelum akhirnya menghembuskannya. “Aku ingin kau merubahnya, Puchuraki, kalau kau memang ingin menjadi seorang Candothy,” Bojahele mengeluarkan tabung bambu dan memutarnya beberapa kali. Sebuah portal berwarna putih berpendar kaluar, dan dia masuk ke dalamnya tanpa mengatakan apapun. Dia pasti sangat marah, pikirmu.

Setelah portal Bojahele menghilang, kau menyandarkan punggungmu ke sandaran kursi. Kau membayangkan nilai-nilai yang dijatuhkan padamu. Kau membayangkan nilai yang kurang dari rata-rata. Tidak ada harapan untuk menjadi Candothy.

“Sohyun.”

Kau bangkit dan berbalik, sedikit terkejut. Lee Hongki sudah kembali dengan sebuah bungkusan di tangannya. “Maaf mengagetkanmu,” katanya sambil tersenyum, atau lebih tepatnya menahan tawa. “ini, makanlah.”

“Terima kasih,” kau menerima bungkusan itu. Kalian berdua duduk di kursi masing-masing. “apa ini?” tanyamu, tanpa berpikir. Untung saja kau belum membuka bungkusan itu, jadi bagi Lee Hongki pertanyaanmu hanya sekadar basa-basi, bukan karena tidak tahu.

“Sate,” jawab Lee Hongki sambil membuka bungkusannya sendiri. “sebenarnya ada yang lain, tapi aku memilih ini. Kupikir, mungkin di Cina satenya berbeda dengan yang ada di sini.”

“Oh, ya,” kau membuka bungkusanmu sendiri. Tampak daging kecoklatan yang ditusuk dengan kayu. “kurasa memang berbeda.” Bahkan makanan ini tidak ada di Azharala.

“Cobalah, kau pasti suka,” ujar Lee Hongki antusias.

Kau menggigit daging itu. “Enak,” ujarmu bahagia. Suara-suara yang mulai menghantam perutmu dengan rasa sakit langsung terhenti. “terima kasih.”

Lee Hongki tertawa. “Sama-sama.”

Kalian menikmati makanan kalian tanpa suara, meraup kelezatannya tanpa ada penghalang. Sekali Lee Hongki menatapmu, kau juga menatapnya, lalu dia tersenyum ramah padamu, dan kau membalas senyumannya. Tapi, tiba-tiba, kau merasa aneh. Lee Hongki tadi sangat dingin.

“Mengapa kau tiba-tiba ramah?” tanyamu ingin tahu.

Kau berusaha membuat nada suaramu terdengar biasa-biasa saja, tapi sepertinya itu sia-sia. Lee Hongki menghentikan aktifitasnya, menatapmu. “Apa maksudmu?” dia mengerutkan kening.

“Yaa…” kau angkat bahu, mencoba memilih kata-kata yang tepat agar tidak menyakiti hatinya. “tadi kau bersikap seolah aku musuhmu. Tapi, sekarang kau langsung banyak tersenyum padaku. Rasanya itu sedikit aneh.”

“Mereka bilang aku selalu bisa dijinakkan dengan lelucon,” Lee Hongki tersenyum. “sekesal apapun aku pada sesuatu, kalau kau bisa membuat sesuatu yang lucu, itu sudah cukup untuk membuatku lupa pada kekesalanku.”

“Jadi, kau kesal padaku?” tanyamu.

“Tidak,” Lee Hongki menggeleng, memanjangkan suku kata terakhirnya. “aku hanya heran padamu.”

“Heran? Soal apa?” kali ini kau juga menghentikan aktifitasmu, masih mengunyah daging di mulutmu.

Lee Hongki tersenyum. “Kau benar-benar sepupu Song Seung Hyun?” tanyanya. Ekspresinya ramah, tapi kau tetap tidak tenang. Dia kembali curiga.

“Tentu saja,” jawabmu, berusaha terlihat tenang. “mengapa kau bertanya begitu?”

“Karena sikapmu tidak seperti sepupu,” Lee Hongki angkat bahu, kembali menyantap makanannya. “sikapmu itu lebih seperti—“ Lee Hongki mengunyah makanannya dengan cepat, lantas menelannya untuk segera melanjutkan kata-katanya. “—ibu kepada anaknya.”

Ibu kepada anaknya?

Lagi-lagi late update~ :(

Mian, mian, mian! T_T

Saya nggak punya banyak waktu luang, dan mungkin karena itu juga, part 4 ini akan sedikit membosankan…

Sekali lagi, mian karena late update dan part yang membosankan! *bow*

16 thoughts on “Nay, Mahal Kita… – Part 4

  1. Rela2in baca ampe malem jam 2 gpp deh yang penting baca…
    oooooo!! TT–TT sediiiiiiiih kasian nilainya (?)

    Lama2 makin seruuU!! (Ato menyedihkan ya) :’(

    • wahh, pengorbanan untuk FF ini~ *terharu*
      gomaweo, chingu!!^^

      ehe, lebih kasian nilainya apa SOng Seung Hyun? :D

      ahay, gomaweo masih mau baca sampe part 4!
      dukung terus FF ini, ya~
      *kayak mau show apaan aja*

  2. Tambah kerenn ching….
    Ceritanya emang beda bgt dr yang lain…
    Baca ff ini bwt sya kangen sma ibu saya,,hweeee :’(
    semangat lanjutin ff nya, ching…

  3. wow update update :D
    akhirnya wonbin en jonghun muncul juga!!!! ^O^
    ehh…tp ini kok banyak bgt yah nangisnya…
    ntar gimana nasib mereka semua nih selanjutnya… :(
    bikin chapter yg lebih seru lagi yaaa author!!!! :D
    seperti biasa…aku bakal nungguin lanjutannya~ ;D

    • iya, update, update!^^

      hehe, biar lengkap, jadinya dikeluarin semuanya sekalian…
      iya, nih, banyak nangisnya, soalnya udah terlalu menyesal, sih!

      oke, saya akan bikin chapter yang lebih keren lagi! XP
      selamat menunggu, jangan lupa baca terus sampe akhir, ya!^^

  4. Yeayy… Bagus. Bagus.
    Makin lama aku makin kasihan sama bojahele, pasti stres banget dia ngurusin seohyun a.ka puchuraki :P
    Masih penasaran sama JongHun, dia disini jadi apa ya? Kok kayae sibuk banget :B
    Lanjuutin… Hhaha kupas tuntas tentang semuanya. Aku penasaran!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s