Please, Marry Me! (Part.8)

22 Jan

Title : Please, Marry Me! (Part.8)

Author : Cute Pixie (Rara) & Keyholic (Nisa)

Main Casts : Choi Minho, Han Yooki

Minor Casts : Yoon Jisun, Lee Taemin, Shin Hyunchan, and other casts (still hidden)

Genre : Romance

Length : Series

Rate : PG-15


Kediaman keluarga Choi tampak seperti biasanya. Tak ada hiruk pikuk ataupun keributan yang terdengar di ruang tengah. Appa sedang duduk di salah satu ruangan, mendengarkan musik klasik di piringan hitam miliknya sembari memikirkan tawaran untuk mengajar di salah satu universitas negeri di Tokyo. Umma sedang membolak-balik lembar demi lembar majalah wanita di pangkuannya, sedangkan Hyunchan –anak sulung keluarga Choi, sedang menonton drama favoritnya di KBS TV. Sesekali ia mendumel sendiri saat si tokoh jahat mulai menunjukkan aksinya.

Sejak Minho tak tinggal disini lagi, beginilah Susana setiap malam jika para anggota keluarga Choi berkumpul. Biasanya saat Minho masih tinggal disini, kondisi rumah itu tak pernah tenang. Sangat ribut dan berisik. Noona-nya yang selalu mengusilinya merupakan penyebab utama keributan-keributan kecil yang sering terjadi diantara mereka. Tapi, kali ini beda. Suasana di ruangan ini sepi.

Kring.. kring…

Tiba-tiba, dering telepon yang telepon yang tak jauh dari posisi umma berbunyi –memecah kesunyian saat ini.

“Yeoboseo, kediaman keluarga Choi disini,” ucap umma saat mengangkat telepon itu.

Setelah beberapa detik penelepon diseberang sana berbicara, ekspresi wajah umma kontan berubah. Wajahnya memucat, matanya berkaca-kaca. Majalah yang sedang digenggamnya tadi terjatuh ke lantai, membuat appa menengok kebelakang, begitupula Hyunchan.

“Aigoo..” suara umma bergetar hebat, telapak tangannya menutupi mulutnya. Appa bangkit dari sofa dan mengambil alih telepon –mencari tahu hal yang membuat istrinya seperti itu.

Sementara umma hampir terjatuh, tapi untung saja Hyunchan dengan sigap menahan tubuh ummanya. Gadis itu memapah tubuh ummanya hingga terduduk di kursi dan memberikan air putih pada ummanya.

Hyunchan melihat ekspresi umma yang berubah sedih. “Umma, gwenchanayo?”

Umma tak bergeming. Ia tetap meneguk sedikit demi sedikit air putihnya, agar perasaannya sedikit lega.

Setelah selesai berbicara dengan si penelepon, Appa segera menutup gagang telepon dan menghampiri Hyunchan dan umma.

“Appa, ada apa sebenarnya?” Tanya Hyunchan lagi. Ia masih bingung.

“Pesawat yang ditumpangi Minho, kecelakaan.” Jawab appa, Nada suaranya diturunkan. Meskipun perasaannya sangat kacau sekarang, appa tetap berusaha agar Hyunchan dan umma jangan panik dulu.

“Omo..” Hyunchan Nampak sangat syok. Walaupun dari wajahnya terkesan galak, tapi dari ekspresi wajahnya ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Yooki dan Minho.”Lalu.. bagaimana dengan Minho dan Yooki? Mereka baik-baik saja, kan?”

“Minho sekarang ada di rumah sakit di Wonsan. Kata polisi tadi, ia masih dalam perawatan dokter, tapi..” appa menghentikan ucapannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, agar dapat menyampaikan kabar buruknya.

“Tapi.. Yooki.. hingga saat ini tim SAR belum menemukan korban yang bernama Han Yooki. Tapi tenang, polisi itu berjanti akan secepatnya menghubungi kita jika Yooki sudah ditemukan.”

Hyunchan benar-benar tak percaya. Di satu sisi, ia bersyukur adiknya sudah ditemukan, tapi di satu sisi ia  takut kalau terjadi hal yang buruk menimpa Yooki dan kandungannya. Menurut buku yang pernah dibacanya, sangat kecil kemungkinan seorang wanita hamil yang kecelakaan akan selamat kandungannya.

Appa tiba-tiba bergegas keluar. “Appa mau segera ke rumah sakit. Hyunchan, tinggallah disini. Jaga umma-mu,”

“Aniyo, aku akan ikut ke rumah sakit. Lagipula percuma aku tinggal di rumah tanpa melihat keadaan Minho. Aku pasti tidak akan bisa istirahat dengan baik,” ucap umma, menolak permintaan appa.

“Tapi, umma..” Hyunchan baru saja ingin menahan umma yang bangkit dari sofa, namun umma menepis tangan Hyunchan. “Sudahlah, aku sudah baikan. Sekarang cepat siap-siap. Kita akan berangkat ke Wonsan sekarang,”

***

Umma dan Hyunchan duduk di kursi tunggu depan ruang operasi sambil terus berdoa, sementara appa mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Hyunchan meremas tangannya yang mulai berkeringat. Jantungnya berdegup dengan cepat lebih dari yang biasanya. Di otaknya masih tersimpan pertanyaan besar tentang nasib adiknya. Ia tak ingin terjadi hal yang buruk pada Minho.

Semenit kemudian, seorang dokter muncul dari balik pintu ruangan tersebut, memcah kesunyian ruangan itu.

“Apakah ada keluarga tuan Choi Minho disini?”

“Aku ayahnya,” jawab appa. Dari raut wajahnya nampak sangat penasaran.

“Bagaimana keadaan anak kami, dokter?” umma ikut berucap sesuatu pada dokter itu.

“Choi Minho-ssi sudah melewati masa kritisnya, ia akan segera dipindahkan ke ruang pasien biasa,” dokter itu tersenyum menanggapi mimik ke khawatiran appa dan umma.

Hyunchan mengelus dada. Syukurlah. Berarti Minho masih selamat. Sedetik kemudian, pandangan dokter itu beralih pada appa dan umma.

“Hmm.. maaf, kalian bisa ikut sebentar? Ada hal yang perlu saya sampaikan pada kalian,”

Dokter itu pun beranjak pergi diikuti tuan dan nyoya Choi yang berjalan beriringan dibelakangnya, sedangkan Hyunchan menemani perjalanan pemindahan adiknya ke ruang inap biasa.

***

“Minho mengalami sedikit retakan di bagian tulang tengkoraknya. Diperkirakan ia mungkin terbentur sesuatu yang keras saat terjadi kecelakaan,”

Dokter bertage name Choi Siwon itu menjelaskan kepada dua orang di depannya seraya menunjukkan hasil-hasil foto ronsen yang menunjukkan letak retakan di tulang tengkorak Minho. Appa menatap foto ronsen didepannya dengan sedikit tercengang. Ada beberapa retakan yang serius memang di bagian tulang tengkorak anaknya.

“Kemungkinan besar, saat Minho sadar ia bisa jadi mengalami amnesia yang cukup berat diakibatkan retakan tulang itu,” jelas dokter.

Amnesia? batin appa.

“Jadi.. apa amnesianya bisa memakan waktu lama?” Tanya umma.

“Itu semua tergantung dari bagaimana kalian melakukan terapi ingatan padanya. Jika kalian rutin melakukannya, maka jangka waktu penyembuhan amnesia itu akan makin cepat.”

***

Semenjak kaki Hyunchan menapaki ruangan ini, ia tak henti-hentinya memandangi sosok yang kini tengah berbaring di atas ranjang. Sosok itu terpejam, dan badannya yang kurus diselimuti oleh selembar selimut putih khas rumah sakit. Hyunchan lantas berjalan mendekati sosok itu. Dipandanginya tubuh yang sudah beberapa tahun ini membagi berbagai pengalaman pahit dan manis bersamanya.

“Dasar bodoh! Lihat dirimu sekarang, Choi Minho! Kau jelek sekali dengan selang-selang itu, seperti alien..” desis Hyunchan, sebenarnya bukan maksudnya untuk mencerca dongsaengnya. Jujur saja, hatinya begitu miris melihat keadaan adik laki-laki yang selalu dikerjainya itu. Walaupun ia selalu menunjukkan tindakan kasar dan menyeramkan pada Minho, tapi tak ada yang tahu kalau ia sangat menyayangi namdongsaengnya itu.

“Cepatlah sadar, dan lepas selang-selangmu itu! Kalau tidak, aku jamin kepalamu itu akan jadi sasaran tinjuku!” Hyunchan berkata dengan nada marah. Air matanya mengalir tanpa bisa dikendalikan.

***

Di salah satu kafe yang cukup ramai dipadati manusia, Nyonya Choi duduk sambil mengaduk-aduk kopi miliknya dengan sendok kecil yang berada di tangannya. Setelah ini ia harus melanjutkan perjalanannya kembali ke Wonsan RS tempat Minho dirawat. Wanita itu menyeruput kopinya, sementara otaknya sedang memikirkan sesuatu. Bukan tentang anaknya, melainkan menantu yang sangat membuat hatinya sesak.

Tadi saat ia pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa keperluan untuk Minho, polisi kembali meneleponnya. Ia mengatakan Yooki telah ditemukan dan sekarang berada di rumah sakit yang sama dengan Minho. Jujur saja, wanita itu benar-benar tak ingin mendengar bahwa Yooki selamat. Saat itu, ia seakan-akan berharap agar nyawa gadis itu tak tertolong. Ya, itu mungkin terlalu kejam, yapi itulah bentuk kebenciannya selama ini pada Yooki.

Otaknya mulai berpikir lebih serius –menghubungkan beberapa pemikirannya.

Minho hilang ingatan.. hingga saat ini tak ada yang tahu kalau Yooki selamat. Dan..

Seulas senyum terbentuk di pipi pucatnya.Tapi sedetik kemudian senyum itu menghilang. Wanita itu mengambil secangkir kopi itu lagi, lalu menyeruputnya dalam-dalam.

***

Beberapa hari sudah berlalu, namun Minho belum juga sadarkan diri. Hyunchan duduk di salah satu  sisi tempat tidur Minho, sambil sesekali berbicara pada Minho, walaupun intinya pembicaraan itu lebih banyak ucapan yang bermakna memarahi Minho. Ya, selalu saja seperti ini. Beberapa hari ini, Hyunchan selalu menyempatkan diri menemani Minho, walaupun tak sesering appa. Walaubagaimanapun ia juga harus berkuliah, tak mungkin ia menemani Minho terus-terusan sepanjang waktu.

Hyunchan sadar, ia terlihat gila dengan tingkah seperti ini, tapi kata orang, orang yang belum sadar sepenuhnya seperti Minho masih tetap bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.

Sedangkan appa tertidur di sofa ruangan Minho. semalam ia tak tidur dan sepertinya appa kecapean.Hyunchan merasa iba pada appa. Seharusnya ia tak boleh membiarkan appa menjaga Minho semalaman.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Hyunchan yang perutnya mulai keroncongan bergerak ke arah pintu, ingin membelikan makanan untuk appa dan dia. Tiba-tiba umma masuk, dan mengurungkan niatnya untuk membeli makanan.

“Umma sudah dapat kabar tentang Yooki,”

Alis Hyunchan naik sebelah. Sedetik kemudian ia berteriak kesenangan.”Jeongmalyo, umma?”

Appa mendadak terbangun dari tidurnya gara-gara mendengar suara raksasa anaknya itu.

“Bagaimana keadaannya, umma? Dia baik-baik saja, kan? Di rumah sakit mana dia dirawat?” Tanya Hyunchan bertubi-tubi.

Umma terdiam sejenak, ekspresinya begitu sedih. Ia menghena nafas pelan, lalu menggeleng. “Dia..”

“Apa maksudmu, yeobo?” kini appa merasa bingung dengan ucapan istrinya itu.

“Dia.. Yooki sudah meninggal,” Umma akhirnya bebicara dengan berat hati.”Tubuhnya hangus terbakar –tak bisa dikenali, itu yang dikatakan polisi di daerah sekitar kecelakaan itu. Tadi pagi aku pergi ke daerah kecelakaan dan polisi setempat hanya memberiku benda ini,” Hyunchan dan appa memandang tas besar yang sedang di genggam umma.

Hyunchan syok, begitu juga dengan apa. Kini yang ada di pikiran Hyunchan adalah bagaimana cara menjelaskan semuanya saat ingatan Minho kembali? Pasti sangat berat di terimanya.

***

2 minggu kemudian..

Setelah beberapa hari berlalu, hari ini Minho pun keluar dari RS.Hyunchan dengan sigap memapah langkah Minho yang masih belum stabil, sedangkan appa dan umma mengikuti langkah Hyunchan dari belakang, keluar pintu rumah sakit.  Appa membuka mobil sedan bercat silver yang terparkir di parkiran rumah sakit, sementara umma sudah duduk di dalam mobil.

Tak lama, mobil bercat silver yang mereka tumpangi melaju keluar dari area parkiran rumah sakit Wonsan. Hyunchan yang duduk dibelakang, memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berlarian seiring laju mobil.

“Yeobo, kau kenal dokter Yamada, kan?”

“Dr. Yamada yang tinggal di Tokyo itu?” tanya appa. Pandangan appa terfokus ke depan, sementara sebelah tangannya memegang kendali setir.

Umma mengangguk. “Uhm.. aku berniat membawa Minho berobat kesana, kau tahu, kan.. dia itu dokter yang cukup bagus dalam menangani penyakit amnesia,”

Appa bisa menangkap maksud pernyataan umma. “Jadi, kau ingin membawa Minho ke Jepang?”

“Bukan hanya berobat, tapi aku ingin kita tinggal disana.”

“Mwo?” pekik appa dan Hyunchan yang berada dii dalam mobil itu terkejut. Sedangkan Minho, ia lebih memilih tidur sambil mendengarkan musik. Toh dia juga tak ingat siapa orang-orang di sekitarnya.

“Wae? Bukannya kau dapat tawaran mengajar di Jepang juga? Bagaimana kalau kau terima tawaran itu?” tanya umma. “Lagipula, lihatlah kondisi Minho. Kau pikir saja, saat ingatannya kembali dan ia tahu istrinya telah meninggal, ia pasti syok. Apalagi dengan keadaan kita yang masih tinggal di Seoul, kota ini terlalu banyak menyimpan kenangannya dengan Yooki, bisa-bisa jika amnesianya sembuh, ia menderita depresi. Aku tak mau Minho seperti itu,” jelas umma, berusaha meyakinkan hati appa yang sedikit ragu.

***

Hari ini adalah hari terakhir dimana keluarga Choi akan meninggalkan kota Wonsan dan memulai hidup mereka yang baru, tinggal di lingkungan kota Tokyo. Setelah umma membujuk appa untuk bertempat tinggal disana, akhirnya appa setuju.

Siang ini, seorang wanita berusia 40-an dan bertubuh agak kurus melangkahkan kakinya melewati lorong rumah sakit daerah Wonsan yang sepi. Dari raut wajahnya, dia nampak sangat tenang. Seolah-olah beban yang  sudah lama menumpuk di benaknya akan hilang sesaat lagi. Ada hal yang harus dilakukannya sebelum meninggalkan kota ini untuk selama-lamanya.

Saat wanita itu memasuki sebuah kamar inap, gadis yang dimaksudnya tengah terbaring dengan raut wajah tenang. Rambutnya yang sebahu ditimpa sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah jendela ruangan itu. Wajah sendu gadis itu tak membuat rencana nyonya Choi gagal.

Nyonya Choi melangkah mendekati tubuh Yooki yang masih terbaring lemah di tempat tidur berseprai putih itu. Dilihatnya keadaan Yooki sejenak. Tubuh Yooki nampak makin kurus. Di lengannya terpasang selang infus. Wajah gadis itu masih sama saat pertama kali dilihatnya.Tangan Nyonya Choi bergerak ke tas hitam miliknya, berusaha mencari sesuatu. Setelah menemukan benda yang dimaksud, ia meletakkan benda itu diatas nakas sebelah ranjang Yooki.

Nyonya Choi tertegun. “Selamat tinggal, nona Han. Kuharap kita tak pernah bertemu lagi,”

****

Salju akhirnya turun saat menahan diri semalaman. Lagi-lagi, pemandangan di ruangan serba putih itu membuat Taemin pilu. Disini, di bangku ini, sambil mengamati keadaan Yooki yang masih tertidur, Taemin terdiam. Hatinya begitu miris melihat tubuh tak berdaya itu. Taemin menyesal kenapa ia baru tiba di Wonsan sore tadi. Ia menyesal kenapa baru mengetahui keadaan Yooki dari umma tiri gadis itu.

Dan ia tak percaya saat mendengar pernyataan umma tiri Yooki bahwa Yooki mengalami keguguran. Taemin tahu, Yooki pasti sangat syok. Kata umma Yooki, gadis itu merasa sangat tertekan dengan masalah kandungannya dan juga Minho. Ia sediri tak tahu Minho sekarang berada dimana. Itulah sebabnya Taemin datang kesini, setidaknya untuk menemani Yooki yang masih syok dengan kejadian yang menimpanya.

Berkali-kali telapak tangan milik Taemin bergesekan dengan kedua matanya yang sudah memerah dan berair. Ia belum pernah tidur sama sekali sejak perjalanan dari Seoul-Wonsan pagi tadi. Matanya ingin sekali tertutup, tapi ditahannya kuat.

Taemin baru sadar ketika sebuah tangan dingin menyentuh lengannya. Mata Taemin terbuka sedikit, dilihatnya Yooki sudah sadar. Hati Taemin sedikit lega. Akhirnya Yooki sudah bangun, syukurlah.

“Taemin..”

Bau saja Yooki ingin bagkit, tapi tangan Taemin buru-buru menahannya agar tak bangkit. “Jangan bergerak dulu, Yooki-ya,” dan akhirnya Yooki menurut.

Yooki menoleh kearah Taemin. Dalam diam, Taemin tahu kalau Yooki menyuruhnya untuk membacakan surat yang terletak di nakas sebelah ranjangnya.

Taemin menarik nafas dalam-dalam sebelum membacanya. Ia mulai berbicara.

Mungkin saat kau membaca surat ini, pemakaman Minho telah selesai dan mungkin kami sekeluarga sudah tak berada di Korea lagi. Minho meninggal dalam kecelakaan pesawat itu, dan kami sekeluarga benar-benar terpukul dengan hal itu. Seoul sudah terlalu banyak menyimpan kenangan Minho bagi kami, jadi mungkin dengan cara pergi dari kota ini, kami bisa merelakan kepergian Minho sedikit demi sedikit..

Maaf atas perlakuan keluarga kami ataupun perlakuanku padamu selama ini. Dan kuharap kau bisa mengerti keadaan kami.

-Keluarga Choi-

Ucapan Taemin terhenti tepat saat isi surat itu berakhir. Taemin melihat reaksi Yooki yang tak percaya. Matanya membelalak, tangannya menutupi mulutnya yang setengah terbuka, jelas tak percaya. Tubuhnya merapat ke tembok. Sedetik kemudian tangisnya pecah, lalu didetik itu pula air matanya mengalir. Namja itu bisa melihat air mata Yooki yang mengalir deras saat mengetahui isi surat itu. Ia bisa mengerti perasaan Yooki. Pasti berat.. dan sakit.

***

Tokyo, Jepang.

Nyonya Choi sepertinya tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Setelah tiba di Tokyo, ia langsung mengantar Minho ke rumah sakit tempat kenalannya bekerja, Dokter Yamada.Kali ini, Minho menurut saja. Toh, semua juga demi kesembuhannya.

Setibanya di rumah sakit, Minho langsung medapatkan perawatan dari dokter Yamada. Dokter Yamada mulai memeriksa bagian tulang tengkorak Minho sembari melontarkan berbagai pertanyaan basa-basi, meskipun nyonya Choi lebih banyak menjawabnya. Akhirnya, setelah memeriksa, Dokter Yamada menarik sebuah kesimpulan.

“Dia mungkin akan segera sembuh dari amnesianya,”

Setelah mendengar pernyataan dokter, nyonya Choi melangkah keluar ruangan lain yang terletak tak jauh dari situ, lebih tepatnya ruang konsultasi dokter itu.nyonya Choi akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya kesini.

“Aku. Aku ingin mencuci ingatan anakku,”

Kening dokter Yamada berkerut. “Apa anda serius?”

Nyonya Choi terdiam, telihat menimbang-nimbang sejenak, dan pada akhirnya ia berucap,”Ya.”

“Aku ingin menghilangkan seluruh ingatannya. Aku tak ingin ia mengingat kenangan lama yang jika diingat akan membuatnya depresi berat. Aku tak mau hal itu terjadi pada anakku,” tambahnya.

“Tapi..”

Tangan wanita itu meraih tangan dokter Yamada, ia menatap wajah dokter itu dengan ekpresi memohon. “Aku mohon.. aku tak ingin anakku mengingat kejadian masa lalunya lagi. Aku melakukan semua ini demi kebaikannya, itu saja,”

 

.:::TBC:::.

 

Mian klo part yang ini hancur ya chingudeul… T.T aku berusaha bikin part selanjutnya lebih seru.. ^^

part yang ini sengaja khusus ummanya minho yang ‘bertindak’.. hehe

part selanjutnya, sabtu depan as always.. kkk~

makasih buat chingedeul yg masih mo komen ff nista ini.. *peluk2*

203 Responses to “Please, Marry Me! (Part.8)”

  1. Litaekyu June 29, 2012 at 4:36 pm #

    Astaga ummanya minho tega bgt ngelakuin hal kyk gt ke anaknya sendiri
    Hal kyk gitu yng ngelakuin bukan manusia
    Kampret pret pret pret ummanya minho

  2. okta July 4, 2012 at 4:08 pm #

    yaampun kenapa jadi begini T.T sumpah ini konflik2’a keren bangettt

  3. vany September 12, 2013 at 6:39 pm #

    JINJA…ummmanya minho jahaat banget kasian yookii-ah:'(….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,480 other followers

%d bloggers like this: