Cards: Joker (4th Joker: K. K.)

 

Author: AKD

Cast:

-Kim Kibum / Key

-Song Ahnrhee (OC)

-Kang Jiyoung

-Kang Dongwoon (ganti marga)

-Im Yoona

-Song Seunghyun

(other cameos…)

Genre: Fantasy, Supranatural, Romance

Rating: PG-15

 

Read & Comment, please…! :D

 


 

Part 1

 

Laki-laki berwajah tampan namun congkak tersebut tengah berdebat seru dengan perempuan mungil di hadapannya, yang tampak cemberut dan hampir meneteskan air mata. Lelaki itu kelihatan berang. “Siapa yang berani melakukan ini padamu?! Akan kuhabisi wanita jalang tersebut!” “Sudahlah, kak! Kau berkunjung ke sini mau mencari gara-gara?! Rekor tingkah lakumu di Night sudah buruk, kau tahu masalah besar pasti menantimu jika berbuat tidak sopan di sini!”

 

Ia tidak menghiraukan perkataan adiknya, meninju salah satu guci emas hiasan di sudut lorong gemas. Guci itu hancur berantakan seketika, kepingannya melayang kemana-mana. Adik perempuan si lelaki terkesiap kaget, sorot matanya penuh ketakutan. “DONGWOON!! APA KAU SUDAH GILA???!! KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?? DIA PASTI TAK AKAN MEMBIARKANKU HIDUP!!!”

 

Perempuan itu bergetar hebat, tubuhnya merosot ke bawah, menggigil kebingungan sambil menatap kosong serpihan-serpihan guci yang bertebaran. Kakak laki-lakinya tidak peduli, berjongkok di hadapan perempuan tersebut dan mengangkat dagunya, memaksa perempuan itu untuk melihatnya langsung pada mata. Ia mengertakkan giginya. “Siapa?”

 

Perempuan itu masih menangis sesenggukan, “Q-queen…” Dongwoon menegapkan badannya, hendak pergi ketika adiknya menahan kakinya. “J-j-jangan kak, aku memang melakukan kesalahan… kau tahu dia, k-kak… jangan gegabah..” “Lepaskan aku, Jiyoung.” Dongwoon melepaskan genggaman Jiyoung pada betisnya, wajahnya penuh amarah. Ketika ia melangkahkan kaki, tiba-tiba Jiyoung menahan bahunya dari depan. “K-kak…”

 

 

“Berhenti.”

 

 

Tangan Jiyoung menegang, ekspresi horor terlintas di wajah manisnya. Dongwoon, yang tidak mengenali suara itu, mengerutkan dahi tanda kesal sudah diinterupsi ketiga kali, sebelum membalikkan badan, menghadapi pemilik suara sedingin angin musim salju tersebut.

 

Di sana, berdiri lelaki dengan wajah paling tak ekspresif yang pernah Dongwoon temui, memakai setelan tuksedo hitam berekor, kerah kemeja putih tinggi dengan dasi hitam, rantai pocketwatch perak melintang pada saku ke sederet kancing pada atasannya. Ia tampak seperti butler, bukan hal yang sama sekali tidak mungkin karena rata-rata siswa Zenith adalah Nobles, jarang sekali ada Lord di sini.

 

Atau melihat lambang resmi pada saku tuksedonya, sepertinya ia guardian tingkat tinggi, meskipun wajahnya tak terlihat lebih tua daripada Dongwoon sendiri.

 

Dongwoon memandang rendah ke arah lelaki pendatang itu, “siapa kau? Jangan campuri urusan kami.” Ia tak bergerak sama sekali, sebelum mengucapakan kalimat perintah tegas, tatapannya menusuk.

 

 

“Zentih’ properties are belong to the right own of our ancestors, thus shall be kept without flaw, and one whom unintentionally or ruining the slightest part of the mentioned matters in purpose, might as well broken in pieces.”

 

 

Jiyoung menjatuhkan diri, berlutut memohon, “please forgive us! Kakakku hanya terbawa emosi, tolong jangan salahkan dia! Aku akan memperbaikinya, kalau perlu aku akan mencari penggantinya! Apapun yang kau minta!” Kemarahan Dongwoon memuncak seketika,

untuk apa kau berlutut, bodoh?!!!!

Ia berusaha menarik adik perempuannya untuk berdiri kasar, tetapi Jiyoung tetap bergeming. Dongwoon akhirnya menumpahkan semua kata-kata kotor kepada lelaki di hadapannya. “Apa yang kau katakan barusan??? Ingin menghancurkanku dan adikku, hah?! Pengecut, asal kau tahu, aku menghancurkan guci tak berguna itu karena kesal, dan memang ingin menghancurkannya.

 

Semua karena Ratu jalang mu menorehkan bekas luka di leher adikku padahal ia besok akan menghadapi keluarga Pasangan Abadi-nya. Mereka bisa berpikir macam-macam melihat bekas luka itu, dan semua yang telah kami usahakan bisa berakhir sia-sia, begitu?! Tunjukkan perempuan biadab itu sekarang!!!”

 

Jiyoung tak mampu berkata apa-apa, sorot matanya memohon kepada laki-laki di hadapan mereka. Lelaki itu seperti menangkap pikirannya, menatap Dongwoon sekilas, sebelum kembali ke arah Jiyoung. Seberkas kilatan aneh melintas pada bola mata biru es tersebut, sebelum ia menggelengkan kepala.

 

 

 

“Even to an outsider like him.”

 

 

Ia menarik jemari tangan kirinya yang terbuka dalam genggaman lepas. Seketika serpihan potongan-potongan guci antik di sekitar melayang bebas di udara, mengitari mereka bertiga. Dongwoon kebingungan, sementara Jiyoung menjerit ketakutan, sebelum suaranya terputus seketika, wajahnya mengekspresikan kesakitan luar biasa, tangannya mendekap lehernya kencang.

 

Lelaki itu telah memotong pita suaranya.

 

Dongwoon memegangi tubuh Jiyoung, rasa takut mulai menjalari pikirannya, kedua tangannya mengguncang-guncang tubuh adiknya, tak tahu akan apa yang telah terjadi. Ia menggeram penuh kemarahan, tangannya meninggalkan Jiyoung yang jatuh pingsan, lalu Dongwoon tampak menarik dinding-dinding sekitar, yang perlahan mulai retak….

 

 

sebelum kedua tangannya terpuntir ke belakang oleh tekanan tak terlihat, kedua kakinya tertekuk, dan Dongwoon kehilangan semua kendali akan tubuhnya. Belum selesai mimpi buruk berupa kenyataan ini, lelaki itu mengayunkan setengah jarinya ke depan, dan mata Jiyoung membelalak terbuka, seperti mau keluar dari rongganya.

 

Jika ia belum memutus pita suara Jiyoung, mungkin seluruh penghuni Zenith sudah terbangun oleh teriakan paling memilukan seorang wanita. Sebagian retak potongan guci itu menyelusup masuk ke dalam tubuh Jiyoung, memotong-motong organ vampir Nobles tersebut, mengacak-ngacak struktur tubuhnya, dan memantul-mantul keluar, terlihat dari bengkak biru yang bergerak tak beraturan dari satu tempat ke tempat lain pada permukaan kulit Jiyoung.

 

Merambat dari kakinya, menuju paha, ke bagian perut, menjalar naik ke dada, sampai di leher, lalu wajah Jiyoung mulai berubah tak berbentuk.

 

Dongwoon hanya bisa ternganga melihat penyiksaan Jiyoung tepat di depan matanya. Hal itu terus berlanjut sampai sang guardian merasa cukup, dan membalikkan telapak tangannya, punggung tangan menangkup lurus. Tubuh Jiyoung terangkat cepat ke atas, sebelum terhempas keras, badannya sudah tak bisa teridentifikasi, menjadi potongan-potongan mengenaskan.

 

Dongwoon berteriak histeris, putus asa dalam pikiran. Karena ia sudah terlalu lemah untuk mengeluarkan suara.

 

 

Bangsat sialan, kenapa adikku???!!! KENAPA??!! BUNUH SAJA AKU,, KENAPA DIA????????

 

 

Lelaki itu ganti menatapnya, air muka masih tetap datar, tampak tak terganggu.

 

 

Don’t worry. You’re next.

 

 

Ia menarik sisa potongan guci yang masih tersisa, mengulangi prosesi yang sama. Namun tangan kanannya membuat gerakan seperti menekan piano, sebelum mengepal kuat. Seluruh tubuh Dongwoon seperti tercincang, kedua tangan dan kaki nya terputus, dari kepala sampai pinggang masih berhubungan, sebelum ia memasukkan potongan-potongan guci itu ke setiap bagian tubuhnya.

 

Tetapi anehnya, Dongwoon masih bisa merasakan dengan jelas rasa sakit pada bagian tubuhnya yang telah terpisah, berkali-kali lebih menyiksa daripada yang dirasakan oleh adiknya. Dan laki-laki itu menghantamkan setiap bagian tubuh Dongwoon ke satu sama lain, sampai tak ada lagi yang tersisa.

 

Lelaki itu menatap dingin serpihan berceceran di lantai, yang bukan lagi berwarna emas guci, telah berganti menjadi potongan sepasang kakak adik yang membangkang.

 

 

“Show no mercy to those who taint the Queen’s name and betray her.”

 


Dan ia melenyapkan jasad mereka, sembari berlalu pergi, ekor tuksedo hitam melambai. Seiring langkah kakinya, retakan panjang pada ke dua dinding menutup kembali seperti semula.

 

****

 

Kibum membuka pintu kelas pertama, disambut oleh dengungan bisik-bisik dan pembicaraan seru akan sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Tiada satupun menyadari kedatangannya, sementara ia berjalan menuju tempat duduk paling belakang.

 

Saat itu baru beberapa siswa terhenti bicara, rata-rata perempuan, memandangi dirinya penuh kekaguman dan sedikit rasa… takut. Seorang bernama YoonA mengumpulkan keberanian untuk menyapa.

 

 

“Hei, Kibum!”

 

 

Kibum menghentikan langkahnya, melihat YoonA dari sudut mata, aura dingin dan tak bersahabat darinya tidak surut. Ketika ia tidak membalas sapaan dhampir perempuan paling populer tersebut, bisik-bisik terdengar makin kencang, kali ini berganti topik sementara wajah YoonA sedikit memerah kesal.

 

 

“Ia benar-benar dingin.”

 

“Jung Jessica mungkin Ice Princess of Night, tapi kita tak usah jauh-jauh mencari Ice Prince.”

 

“Dia berbeda jauh dengan kakaknya, meskipun aku tetap tidak bisa memilih mana yang lebih baik.”

 

“Menjadi Ahnrhee beruntung sekali; Kibum hanya mau berbicara dengannya.”

 

“Tentu saja, mereka teman masa kecil. Pastilah mereka sudah terbiasa bersama.”

 

 

Bisik-bisik terus berlanjut dan Kibum tetap mengabaikannya, memandang jauh keluar lewat jendela besar layaknya katedral ruangan kelas. Jauh, jauh dibalik hutan perbatasan, bertempat sedikit lebih rendah pada dataran Crystalline, terlihat panji-panji besar berlambang huruf N terkibas angin lewat.

 

Memandanginya cukup lama, perlahan ia mendesah kecil, merasakan panggilan. Meskipun belum yakin akan tujuannya, Kibum tak begitu keberatan. Sudah lama mereka tidak melihat wajah masing-masing.

 

 

Hei.

 

 

Ia menolehkan kepala, dan bertatapan langsung dengan perempuan anggun yang berdiri di muka pintu, tersenyum kecil. Kibum menganggukan kepala membalas sapaannya, kemudian kembali melamun. Ahnrhee menghampiri kumpulan siswi di bagian tengah kelas, berbaur dan mulai ikut berbincang.

 

Mereka berbisik pelan ke Ahnrhee sambil mencuri pandang sembunyi-sembunyi ke arah Kibum. Ahnrhee hanya melambaikan tangannya, tertawa. Tiba-tiba seorang siswi perempuan datang tergopoh-gopoh ke arah mereka, ekspresi wajah tegang.

 

YoonA mengangkat sebelah alisnya, “ada apa, Hara?”

“Kabar itu… sepertinya benar.”

 

Seketika semua siswi, bahkan para siswa yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka tadi sebelum Kibum masuk, air muka telah berganti keruh. Beberapa siswi bahkan menangis. Ahnrhee yang tidak tahu menahu, langsung menarik tangan YoonA, wajahnya penuh tanda tanya. YoonA menghela nafas, masih shock akan kabar dari Hara.

 

“Kau kenal Kang Jiyoung?” Ahnrhee menggigit bibirnya, lalu menggelengkan kepala. YoonA berpikir keras, sebelum ia bertanya lagi.

 

“Ingat tidak waktu kita pergi ke perpustakaan minggu lalu? Kau tak sengaja menabraknya, perempuan manis bergaris luka panjang di leher?” Matanya membulat, mengangguk-anggukan kepala tanda mengetahuinya.

 

“Kau tahu siapa yang menorehkan garis luka itu?” Ahnrhee menggeleng.

 

“Jiyoung berusaha mencuri mawar biru milik nya.” Seketika pengertian merambat di pikiran Ahnrhee, ia berbisik pelan sekali, “dia… masih ada di sini?”

 

YoonA tersenyum miris, wajahnya berubah kalut. “Itu bukan bagian terburuk.”

 

Ahnrhee menatapnya kebingungan. Masih bisa lebih parah kah?

 

“Satu peninggalan penting leluhur Zenith menghilang, dan menurut sepupuku di Night, kakak Jiyoung, Dongwoon belum kembali dari kunjungannya kemari.” Ahnrhee menahan nafas, menutup kelopak mata ngeri.

 

 

“Mereka di-Lenyapkan.”

 

 

Kibum menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Perlahan, kelopak mata miliknya tertutup rapat, ekspresi wajahnya tenang, tak terganggu oleh bisikan-bisikan pilu di sekitarnya.

 

****

 

Sesosok perempuan berdiri tegak, menghadap sebuah air mancur besar dengan dasar kristal transparan. Aliran air itu berbeda, sebagian jatuh mulus ke penampang, sebagian tertahan di udara, seperti membeku, sebelum ditimpa kembali oleh cipratan air dari belakang.

 

Ia termenung, suasana hening damai mengitari sekitar, namun ia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Ekspresi wajahnya halus, tapi tak ramah. Lama tiada bunyi memecah, suara perempuan itu melantun lancar.

 

 

“Kau banyak pikiran. Ini terlalu lama untuk dirimu tak menginterupsi diriku sedikitpun walau aku tak menegaskan untuk tidak diganggu. Ada apa?”

 

 

Lelaki yang sedari tadi menatapnya dari jauh, tiba-tiba berdiri tepat di belakangnya, berlutut sambil memberikan tanda hormat. Perempuan itu berpaling dan menatapnya.

 

 

“Berdiri.”

 

 

Ia melakukannya, dan tanpa basa-basi menyerahkan buket bunga mawar biru yang ia sembunyikan di belakang punggung. Perempuan itu terpana, meski hanya sebentar, sebelum mengambil buket tersebut dan mendecak kecil.

 

“Kebiasaan.” Lelaki itu tetap menundukkan kepala, sekilas mengangguk sambil berkata pelan. “Karena kau tak pernah menolaknya.” Ia berjalan menghampiri lelaki di hadapannya, sambil lalu menarik tangan kirinya, lalu menginspeksi telapak tangan lelaki itu yang terbalut sarung tangan putih. Ia mendeham tanda biasa.

 

 

“I see. You’ve done it.”

 

 

Jemarinya perlahan merambati lengan, sampai ke bahu. Perempuan itu menepuknya dua kali. “Good boy.”

 

Ia berjalan kembali, meninggalkan lelaki tersebut di tengah taman mawar biru bersentral air mancur setengah beku, menuju ke arah menara individual khusus miliknya. Tepat ketika ia hampir sampai di gerbang, semilir suaranya menghentikan langkah.

 

 

Happy birthday, Queen. Even it does not matter to you.

 

 

Perempuan itu melengkungkan senyum tipis. Indeed.


****

 

Seungyeon mungkin tak akan pernah beranjak dari sudut balkon sepi menara terjauh kastil Zenith jika Ahnrhee tidak sengaja menemukannya, terduduk menelungkup, wajah terbenam dan lutut terlipat ke dada. Ahnrhee sendiri terkejut melihat ada orang lain selain dirinya yang suka datang kemari.

 

Ahnrhee menemukan tempat ini saat ia dipenuhi banyak masalah dan berjalan tanpa arah tujuan yang jelas, sampai ia tiba di  balkon tersebut.

 

Ahnrhee sempat ingin meninggalkan perempuan itu sendirian, memberikannya privasi, saat senggukan tertahan keluar dari mulut Seungyeon. Ahnrhee langsung mendekapnya, terbawa naluri.

 

Seungyeon terkaget, hampir menghentak Ahnrhee untuk menjauh, namun malah menarik bahunya, menangis lebih lepas. Ahnrhee menepuk-nepuk punggungnya, berusaha menenangkan vampir yang bahkan tak ia kenal. Setelah beberapa menit berlalu, Seungyeon mulai tenang, dan Ahnrhee menangkap gumaman terima kasih darinya.

 

Ia mengangkat bahu Seungyeon, menatap matanya sambil berkata tulus, “kau tak apa-apa?” Saat melihat wajah Seungyeon, Ahnrhee menyipitkan mata. Ia mengenali wajah perempuan itu, sebelum sebuah kesadaran menghampirinya.

 

Meskipun wajah Seungyeon kacau penuh air mata, Ahnrhee cukup yakin ia adalah orang yang bersama dengan Jiyoung saat insiden tabrakan kecil di perpustakaan, ikut membantu memungut buku-buku Jiyoung. Seketika Ahnrhee tak perlu bertanya lagi alasan Seungyeon menangis sendirian di sini.

 

 

“Kau… teman Kang Jiyoung?” Tanyanya hati-hati.

 

Seungyeon langsung memicingkan mata, ekspresinya berubah makin sedih namun terlihat penasaran. Ahnrhee melanjutkan, gugup, “a-aku pernah melihatmu bersamanya.”

 

 

“…hmm.”

 

Seungyeon kembali diam, tetapi Ahnrhee masih merasa khawatir. Ia duduk menemaninya, memandangi langit sore. Matahari belum benar-benar terbenam, sekalipun warnanya sudah berubah dari kuning cerah membutakan menjadi orange tua padam yang berbaur…

 

 

“Jiyoung adalah teman baikku.” Ahnrhee menoleh, mendengarkan dalam bisu.

 

“Aku tahu ia bukan perempuan yang terlalu baik, kami berdua memliki kenakalan masing-masing. Aku terlalu keras kepala dan suka memaksakan pendapat, sementara dibalik wajah manis dan polosnya, rasa ingin tahu Jiyoung sering membuatnya terlibat masalah dan melanggar beberapa peraturan.

 

Walau sering cekcok dan mendapat musuh dimana-mana, egoku tak pernah turun, sama seperti Jiyoung yang tetap tertawa ceria sesudah hukumannya selesai. Kami tidak mempercayai akan keberadaan Queen dan pengawalnya, menganggap mereka hanya dongeng belaka. Toh tiada satupun orang yang mengetahui wujud mereka berdua kan? Tapi Jiyoung…,”

 

 

Seungyeon terhenti, memejamkan mata.

 

 

“Ia penasaran, benarkah ada mawar biru di taman dalam lingkungan menara terbengkalai tersebut. Kami menganggapnya tak berpenghuni karena tak percaya akan mitos itu. Yang aku tahu, malam setelah ia pergi ke sana, Jiyoung menutup dirinya dengan selimut sepanjang malam sambil terus menggigil.

 

Keesokan pagi, aku baru menyadari bekas luka di leher Jiyoung dan sekeras apapun aku memaksanya, Jiyoung tak mau mengaku siapa yang menorehkannya. Aku tak perlu bertanya-tanya lagi sekarang…”

 

Ia tertawa kosong. Ahnrhee menggigit bibirnya, mengalihkan pandangan dari Seungyeon ke langit-langit. Seketika percakapan samar telah lalu muncul di permukaan ingatannya.

 

 

“Apa kalian percaya tentang perempuan itu?” Ahnrhee mengerutkan dahinya. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini berjalan.

 

YoonA cuma mengangkat bahu, “entahlah. Tapi aku berusaha saja tidak melanggar ‘peraturan tak tertulis’. Semua orang tahu Zenith paling ketat dalam hal ini.”

 

Laki-laki berkacamata tebal di hadapannya mendengus terang-terangan. “Aku hanya percaya akan sesuatu yang aku lihat, atau sudah terbukti sebagai fakta.” Ahnrhee melirik Mir, bertanya, “kau tidak takut?”

 

Mir membetulkan letak kacamatanya, kembali membaca buku Sejarah Crystalline di tangan. “Untuk apa?” EunJung menggeleng-geleng pucat, “aku yakin ia ada. Aku bisa merasakan aura dingin kuat di sekitar menara.” YoonA tiba-tiba berpaling ke arah Ahnrhee. “Bagaimana denganmu?”

 

 

“Aku… masih ragu.”

 

 

Saat ia melamun, Seunghyun melintas di belakang mereka, membawa beberapa buku dan mengecek arloji miliknya. Tiba-tiba Ahnrhee menahan tangannya dan menanyakan pendapatnya. Seunghyun menatapnya balik, wajah tetap tenang sebelum menjawab pasti.

 

 

“Aku percaya.”

 

 

Ahnrhee sedikit terkaget karena bukannya ketakutan atau antipati seperti siswa-siswi lain, ‘the King’ Zenith saat itu malah menjawab dengan senyum lebar, seolah itu bukan suatu fakta mengerikan. Atau, membahayakan.

 

 

“Apa yang membuatmu percaya?”

“Apa yang membuatmu tidak?”

 

 

Ahnrhee mengerutkan dahi, sebelum melanjutkan sedikit terbata. Ketiga temannya ikut menyimak percakapan mereka.

 

“T-tapi, bukankah jika ia benar ada, posisimu yang paling…?” Entah kenapa Ahrhee tak bisa melanjutkan kata-katanya.

 

Pandangan Seunghyun tampak menembus dirinya, seperti berusaha menyadarkan Ahnrhee akan… sesuatu. Seunghyun mengetahui hal tersebut. Bagai terhipnotis, Ahnrhee terus mempetahankan kontak mata. Sebelum Seunghyun tersenyum sangat tipis dan menjawab.

 

“Trust me, out of all people here, I’m the least bit worried of her presence. Don’t you think so?”

 

Ketika empat pasang mata memandangnya serius, Seunghyun hanya menuturkan sebaris pernyataan, memandangi mereka semua.

 

 

“When nothing is sure, everything is possible.”

 

 

YoonA mengangguk tampak paham, meskipun wajahnya masih diliputi sedikit rasa tak percaya. Ahnrhee sepeti menarik kata-kata Seunghyun untuk dipertimbangkan, sementara EunJung kelihatan belum menangkap maksudnya. Mir terlihat ingin protes tepat ketika Seunghyun mengucapkan kalimat terakhir, sebelum menghilang dibalik sebuah rak, tak menghiraukan mereka lagi.

 


“You might need to change the topic of your conversation. She’s not one you can talked to behind her back.”

 

 

Ahnrhee tersenyum miris. Sekarang mitos dan ketidakpercayaan itu telah menjelma menjadi fakta dan ketakutan, menjalar pada setiap nadi penghuni Zenith. Dewan sekolah pun tidak melakukan apapun, mereka bahkan mengizinkan nya di sini, untuk alasan tak diketahui.

 

Seungyeon tertidur tanpa sadar, kepalanya terhentak ke belakang, bersandar pada dinding balkon. Ahnrhee tetap duduk di hadapannya selama beberapa waktu, lalu berdiri tegak dan mengelus rambut Seungyeon. Ia memajukan wajahnya untuk membisikkan sesuatu di telinga gadis malang tersebut.

 

****

 

Seunghyun memandang langit pekat dari jendela teratas milik ruangan khusus ‘the King’ Zenith. Namun ia tidak menikmati pemandangan tersebut. Wajahnya kusam, bibir terkatup rapat, mata beku tanpa ekspresi.

 

 

“What makes me deserve the honor to be here, asked by the King himself in the middle of the night?”

 

 

Sudut bibirnya terangkat sedikit, menangkap sarkasme dibalik kalimat yang seharusnya tanda hormat untuk dirinya. Lelaki pucat itu berdiri tegak di belakang Seunghyun, menunggu.

 

“Kau tahu aku tak menyukai pembicaraan langsung ke inti masalah, berbanding terbalik dengan dirimu. Tapi dalam hal ini, aku tak akan berputar-putar, namun bukan karenamu.”

 

Lelaki itu tertawa; suara tanpa rasa. Bahkan tawanya sama sekali tidak menunjukkan kelucuan atau apapun berkaitan dengan tawa.

 

“Dua kalimat itu masuk dalam kategori basa-basi, Song Seunghyun.”

 

Ia mempertahankan posisinya, angkuh tak tercela. Lelaki di belakangnya memang bukan pembicara manis. Seunghyun membalas mantap.

 

“King Zenith saat ini adalah aku.” Sebelum lelaki itu sempat membalas pernyataan tak penting Seunghyun, ia sudah berbalik ke arahnya, menatap tajam dan penuh peringatan tanpa main-main.

 

 

“And I’d like to keep it that way till the time I’ll graduate.”

 

Lelaki pucat tersebut mendengus terang-terangan; jadi ini?

 

“Untuk apa kau mengatakannya padaku?”

 

“Aku sudah tahu, kau yang akan mendapat posisi itu.” Seunghyun tersenyum kecil, mata berkilat akan sesuatu.

 

“Dan taruhannya hanya satu: kekuasaanku, dan rahasiamu.”

 

Wajah lelaki itu mengeras. “You won’t dare.”

 

Seunghyun mengangkat bahu. “Kenapa tidak? Toh, bukan tentang nya. Meskipun sekali kubocorkan hubunganmu dengan nya, ini akan menjai masalah kalian.”

 

Ia berjalan menghampiri si lelaki, memegang kedua bahunya. “Dan ia tak akan melakukan apapun kepadaku. Ia hanya akan mendepakmu pergi sebelum semua mengetahui identitas diri nya.”

 

Seunghyun mengeluarkan aura kemenangan melihat tak ada perubahan dari wajah menunduk lelaki di hadapannya. “You know her the most. What will she do to you, is not entirely unimaginable. Tak perlu buang-buang tenaga melawanku, Kibum.”

 

Saat Kibum mengangkat wajahya, Seunghyun merasakan sedikit penyesalan untuk berdiri berhadap-hadapan dengannya. Irisnya berubah; ya, bukan hal yang tak ia prediksi, namun tetap saja Seunghyun bergidik melihatnya. Warna biru es dingin melebur gelap menjadi warna lautan biru. Dagunya terangkat tinggi, dan bibir itu membentuk senyuman. Jawaban tanpa kata untuk penawaran Seunghyun terhadapnya.

 

 

“You chose a wrong person to mess with.”

 

 

Seunghyun mengangkat alisnya.

 

“That’s my word.”


Kibum menatapnya, sebelum melirik sekilas ke arah kedua tangan Seunghyun yang masih memegang bahunya. Seketika lengan Seunghyun jatuh kembali ke sisi tubuhnya walau ia tak berniat menariknya. Seunghyun terpaku sesaat, sebelum ia terlihat menimbang-nimbang, memandangi Kibum dari atas ke bawah.

 

Kibum berjalan menjauh, menuju pintu ruangan. Ia berhenti sebelum memutar kenop pintu.

 

 

“I’m going to talk to her. Afterall, my opinion doesn’t matter, hers is. Kau menang jika aku tak kembali. Tapi, sebaliknya…,” Kibum memandang Seunghyun terakhir kali, ekspresi tak terbaca.

 

 

“If she ever as so much given a chance, you better watch your mouth.”

 

 

Tepat ketika pintu tertutup, Seunghyun membalas perkataan itu.

 

“Kau tahu itu hal yang tidak mungkin.”

 

****

 

CARDS akan dimulai malam ini. Sesuai peraturan, kartu kedudukan akan dibagikan dalam interval acak tepat sebelum waktu CARDS berjalan, yaitu semenit sesudah tengah malam. Persiapkan diri jika kau mendapatkan kartu, berarti kau telah terpilih sebagai peserta. Bagi mereka yang mendapatkan Jack, bisa mendiskusikan hak khususnya pada dewan pengawas. Untuk Joker yang terpilih…

Kau pasti tahu tugasmu. Selamat berjuang.

 

 

“Pop!”

 

Lelaki pucat itu langsung mengangkat tangan ke atas, menangkap selembar kartu yang jatuh tepat kepadanya. Sosok joker bertopi merah darah terukir jelas pada bagian tengah kartu, sebaris nama tercetak sesaat kemudian.

 

 

Kim Kibum

 

 

Key hanya memandang benda itu sepersekian detik, sebelum memejamkan mata, menuju tempat familiar di mana ia sudah hafal luar kepala. Ketika ia membuka pandang kembali, menara tua itu berdiri kokoh di hadapannya. Tanpa ragu ia berjalan memasuki gerbang besi menara tersebut, berjalan menaiki tangga spiral dalam ruangan kosong beraura dingin menggigit.

 

Sesampainya di ujung tangga, terlihat tak ada apa-apa bagai kasat mata, namun sebenarnya terdapat selaput tipis tirai es transparan membatasi tangga dengan satu-satunya ruangan di puncak menara kosong ini. Key mengeluarkan arloji saku miliknya, menempelkan bagian perak yang terukir rumit ke tirai pembatas.

 

 

Tirai itu tersingkap, membuka menuju sebuah ruangan temaram bernuansa sejuk, berisikan tempat sangat luas yang tak terlihat dari luar tirai. Key berjalan masuk ke dalam tempat bercahaya putih buram, membuat benda-benda di sekitarnya tampak mengeluarkan aura magis dan bersejarah.

 

Sebuah aula besar dengan deretan berbagai macam artifak peninggalan leluhur Origin pendiri Zenith, dan sebuah kursi putih tinggi terletak di tengah, menghadapnya. Seperti takhta, kursi itu terbuat dari es abadi yang tak akan pernah mencair, penuh ukiran kata-kata puisi zaman lalu dengan huruf-huruf lampau. Namun bukan itu letak pandangan lurus Key jatuh.

 

Seorang perempuan berambut hitam berkilau tampak tidur tenang di atas kursi tersebut, punggung tangannya menopang dagu, bibir pink keunguan terkatup rapat. Kulit putih perempuan itu bahkan lebih pucat daripada Key, sewarna kertas, namun bersinar terang. Key melangkah mendekatinya, lalu bersimpuh pada lutut.

 

 

Queen.

 

 

Perempuan itu mengerjapkan kedua matanya, langsung menatap ke bawah, ke arahnya. Aura dingin dan beku menguar semakin pekat, ketika ia bergerak, kembali dalam posisi duduk lebih tegak. Iris hijau itu tak berekspresi, terlihat menghakimi tanpa perasaan.

 

Key baru mau membuka mulut, ketika ia dipotong oleh Queen.

 

 

“My lousy younger brother.”

 

 

Key tersenyum tipis. “He’s quite clever. As expected from your prediction about him.”

 

Queen menghela nafas. “That’s why I opposed his being here at the first place.”

 

“But you made an agreement, didn’t you?”

 

Queen mengangguk malas sambil tetap memandangi Key. Tiba-tiba ia mengulurkan jemarinya, menyentuh helaian kecoklatan poni personal guardian itu.

 

 

“Your hair’s getting longer.”

 

 

Key memejamkan mata, sedikit menikmati sentuhannya. “You don’t like it?”

 

“No,” kali ini Queen bebisik nyaris tak terdengar, “keep it that way until we meet again.”

 

Key memandang mata Queen langsung, walau hanya sesaat sebelum menundukkan kepalanya kembali. Namun tak lama, jemari lentik kedua tangan Queen mengangkat dagunya.

 

“So…, it’s up to me then?”

 

“It has always been you.” Queen tersenyum tipis menanggapi arti tersembunyi dari pernyataan Key.

 

Queen menarik tangan Key lembut, seperti mengajaknya berdansa, memutari ruangan oval tersebut. Key tak bisa melepaskan pandangannya, sementara Queen melambaikan tangannya ke arah dinding polos. Seketika, pintu gerbang besar membentuk dirinya pada dataran dinding pucat, bersinar cerah, sebelum tampak menyatu dengan bangunan. Bercat putih, dihiasi sulur daun hijau yang menuju tempat seperti taman asri, berbanding terbalik dengan menara dingin Queen.

 

 

Key memandang benda itu, sebelum pandangan bertanya melebar pada iris. Queen tersenyum, sebelum berbalik menatapnya, mendekatkan wajah kea rah Key, berbisik.

 

 

“One question. What did I lose, that made me stay here for so long?”

 

 

Key menelengkan kepalanya, menggeleng mantap sebelum merendahkan pandang ke lantai putih. Queen menyandarkan tubuhnya ke pintu, mencengkram lengan Key lembut.

 

“Guess you’ll need to find out.”

BRUKKKKKK!!!!

 

Queen mendorong pelan tubuh Key ke dalam pintu, yang membuka sesaat, lalu menutup erat kembali.

 

 

****

 

Key tergeletak telentang, masih shock akan hal yang barusan terjadi. Matanya tertutup, tidak yakin. Namun tangannya meraba, rasa halus dan lembut beralas tempat ia berbaring. Seperti… rerumputan? Bayang merah jatuh pada pelupuknya, tanda cahaya. Perlahan ia membuka kedua mata, disambut oleh seribu pertanyaan.

 

 

Ini di mana? Sejak kapan berubah musim panas? Tempat apa?

 

 

Sebentuk wajah polos perempuan seumuran dengannya muncul tiba-tiba, dalam jarak sangat dekat, Key bahkan bisa menghitung jumlah bulu mata si perempuan.

 

Ia memandanginya senang, mengerjapkan bola mata.

 

 

“Kau datang juga.”

 

19 thoughts on “Cards: Joker (4th Joker: K. K.)

  1. saeng ^^
    unn koment disini aja ya :D

    yang bunuh jiyoung ama dongwoon itu key kan???

    Wah, key dingin banget yah ==”

    Hmm, yang jadi queen siapa sich saeng???

    Trus seungyeon beneran king???

  2. waaaaaaaaaah udah di update ternyataaa :)
    *yaampun gw lupa belum comment yang part 3 nya hehe maaf ya AKD :***
    nanti deh aku comment ;) *udahdelnanti-nantiajaterus

    dongwoon?? dongwoon be2st maksud nya?? kalo jiyoung? jiyoung bigbang kah? mereka cowo kan?? apa si jiyoung cewe ya ._.? aduuuuuuh aku ga ngerti siapa aja yang cowo disini. aku ga negrti semua jenis kelamin mereka kecuali peran utama sama yoona, ohya sama queen juga deh. yang lain?? aku aja ga ngerti sama sekali -______- Ahnrhee aja cowo apa cewe ga jelas …

    myth .. mau jujur ga?? … aku lebih ga ngerti ini dari pada yang part jonghyun , eh tunggu … kalo yang jonghyun aku 100% ga ngerti yang ada DBSK nya, tapi yang ini … aku cuman 80%an ga ngerti part Seungyeon lagi berdua sama Ahnrhee sama 45% (yaa bisa dibilang juga 50%) aku ga ngerti part key sama si queen lagi dansa-dansa gaje itu, pas si key jatuh .. aku bingung ya kan dia udah di taman terus kenapa bisa ada pintu lagi -____-?? terus kenapa ada ‘lantai putih’ coba?? huaaaa imajinasi mu terlalu tinggi~ aku tak bisa menjangkau nya TTT—TTT

    tuksedo apa pula -.-?
    ohya yang di taman (pokoknya ada air mancur transparan) itu yang ngucapin ‘HAPPY BIRTDAY’ nya ke queen key bukaaan???

    sama itu yang alis mata bisa dihitung (maksud nya tipis kan??) itu si arnhee bukaan?? kan si key tuh ‘ice prince’ jadi kayak cool cool gituuuuu… kan di arnhee temen masa kecil nyaaaa~ (iyakan? janganjangan gw sotoy lagi -___- hehe) jadi dia mau ngomong sama temen tercinta nya itu tuh (?)

    OHYAAA !!! MYTHHHH!! KAMU PUNYA UTANG CERITA PART JONGHYUN YANG ADA DBSK NYA .. sumpah aku sampe sekarang ga ngerti TT–TT

    tapi penasaran bangeeet siapa sih yang ketiban rak buku .. kaciam amat (?) #abaikan

    udah deh itu aja !! JJANG !! DAEBAAK!! CEPET CEPET PART TAEMIN LAGI YAAA !! :***

    ohya kamu juga harus cerita deh besok (senin) tentang yang key jatuuuh aja yayayaya ! jadi utang nya ada tambah satu lagiiii! ><

    note: ini ga panjang kan?? please deh .. ini sebenr nya ga panjang koook! cuman ruang nya aa yang sempiiit .. jadi terliat panjaang. padahal kalo ruang nya lebaaar aja paling cuman beberapa baris ;)

    FINISH ! *takut dimarahin author+readers lain*

    • ohya satuuuuu lagi !! tadi lupa comment serius deh .. yang bunuh manusia tak berjenis (jiyoung sama dongwoon maksudnya) itu Queen kan?? apa kibum? awalnya sih aku kita key .. terus pas tadi si dongwoon bilang “Q-queen…” jadi aku kira si queen ..
      tapi aku aga sedikit ragu soal nya si kibum alias key pas yang lain lagi bergosip ria si key tenang-tenang aja …

      OHYA satuuuuuuuu lagi … si arnhee temen kecil nya si prince ice itu kaan?? terus si arnhee tau ga sih temen tercinta nya itu temenan ma mitos-mitos ga jelas itu (queen maksudnya)
      kalo dia tau berarti dia ga usah meragukan lagi doong .. tapi firasat ku dia ga tau .. soalnya di arnhee kan taruhan (sotoooy) maaf sebener nya aku udah bilang kan kalo aku ga ngerti pembicaraan si arnhee sama Seunghyun itu hehehe .. apa lagi yang tulisan-tulisan mirig itu .. aduh aku bacanya jadi pusiiiing~

      udah itu aja .. janji ga nambah lagi ;)

      tapi buat pertanyaan besok sih masih segudang .. tenang myth besok hari senin kita ketemu kok ;)

      hahaha readers yang jahat ><

    • Ini Jiyoung magnae nya KARA, dela -_- bkn GD oke??

      Yep, Dongwoon B2ST. Ahnrhee cewek kok. Itu bulu mata, bukan alis. Knp bisa dihitung? Soalnya mereka face-to-face, a.k.a. deket bgt jarak wajahnya. Bkn dansa2 gaje, Queen cm narik Key terus di dorong ke… tempat lain. Cewek itu rahasia.

  3. jujur…kok Q rada bingung ya……
    tapi paling enggak bisa nangkep intinya lah, tapi ya itu tadi, Q gag mudeng ma pemain2nya…
    tetep lanjutin ya…^^

  4. Thorr , itu siapa.?? Cwe.nya
    Oh iya mau nanya key ama kibum tadi sma g si orangnya? Sya agak bgung , otak aye emg lem0t kalo soal mistery gnian.
    .
    Keren thor
    Tp kpan klimaks.nya?ye masi g mudg mau dibawa kemana ini certa…yg musuh xg mana yg tmen yg mana,yg jaat yg mana yg baeg yg mana

    • Queen maksud kamu? nanti juga tahu… :)

      Maklum, aku kan bikin 5 sudut pandang, ini msh ‘awal’ Key, makanya blm klimaks. Abis ‘awal’ 5th Joker, baru mulai deh…

      Disini ga ada yg bener2 temen, musuh, baik, atau jahat ^^

  5. dongwoon mati? aigoo Key sadis banget bunuhnya u.u
    uwaaaa seunghyun hebat deh jadi the King XD hahaha
    oh maksudnya Seunghyun ttg rahasia Key, dia tau kalo Key punya hubungan gitu ama Queen? mereka pacaran yah? uwaaa ga setuju, lebih setuju key sama Ahnrhee XD
    uwaaa itu Queen dorong Key kemana? itu yeoja baru lagi! next part ASAP thor :D

  6. karena bacanya udah lama tapi baru komen jadi udah lupa lagi aja cerita + komentarnya ==”

    part yang ini buat key kan ya? tapi berasa lebih fokus ama si cowo yang entah siapa itu onn lupa lagi <– apadeh xD

    iyadeh, kayanya bahasanya terlalu berbelit atau entah apa, tapi part yang ini cuma bisa dimengerti beberapa scene aja ama onn, maklum kemampuan menyerap bahasa kurang -,-

    tapi cara penulisannya ga usah ditanya, diksinya mantep! baguuuuus~ :D

    • Iya ini buat Key, dan aku sengaja bikin part dia yg plg misterius, krna hubungannya dy sama partner nya yg plg rumit unn ^^

      (tp jujur aku sendiri jg agak bingung, jadinya begini deh *loh?

      emang jd kaya’ potongan2 scenes gt ya unn? >.<

      Thank you… :D

  7. wiii~ akhirnya dikau update juga ini ff~
    kkk~ saya telat lagi bacanya -,-”

    heum, seru dan..
    complicated banget yah. haha. jadi saya rada pusing bacanya. hahaha~

    keren. pertahankan. hehehe~
    dan saya tunggu update selanjutnyaa~
    CHOI MINHO DARI SKY~~

    ihihihihi~
    saya penasaran siapa si queen.

    hwaiting xD

    • Hey alya ^^

      wah minum aspirin dong (?) maaf saya jayus.

      Thank you so much :D

      Sip2, nanti bakal update kok, tunggu ya…

      Tbk2 aja dulu siapa Queen Zenith ini :)

      yep, I will!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s