We Got Married (Part 4)

22 May

Tittle      : We Got Married

Author  : Vhii Kikey Shawol

Cast       :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jinki

Cameo  :

  • Park Ji Yeon
  • Kim Jong Hyun
  • And Other

Genre   : Comedy,Romance

Rating   : PG+15

Length  :Chaptered

Backsound : Whistlist (Apink)

Disclaimer  : Fanfiction My Own

(Author Pov)

Tiffany duduk di pinggir kasurnya dengan lemas, kaget bercampur tak percaya masih menyelimuti benaknya.

Ia tidak pernah percaya bahwa orang tuanya akan menjodohkannya dengan lelaki yang belum pernah ia kenal sebelumya.

Kedua tangannya menjambak rambutnya frustasi, bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya, matanya yang selalu memperlihatkan keceriaan Nampak hitam dan sembab.

Masih teringat dan terngiang di otak dan di telinganya perkataan appanya di ruang keluarga tadi.

(Flashback)

“Mau ataupun tidak!! Kamu tetap harus menikah dengan putra sahabat appa itu.” Pekik Tuan Hwang

“Ini bukan jaman perjodohan lagi appa… aku berhak menentukan pasangan hidupku sendiri tanpa perlu di jodoh-jodohkan!!” Ujar Tiffany dengan sedikit membentak dan juga terisak

“Kau berani membantah perkataan appamu huh?!” seru Tuan Hwang

“…” Tiffany diam

“Appa menjodohkanmu dengan putra sahabat Appa agar kau bahagia,memiliki kehidupan yang jelas, dan kau bisa memiliki suami yang baik. Itu saja.” Jelas Tuan Hwang

“Tapi aku…”

“Tidak pernahkah kau berpikir untuk membuat kedua orang tuamu senang huh?!”

“Aku selalu…” Tiffany menggantungkan katanya seraya mencoba menahan air matanya yang sebentar lagi akan kembali keluar.

“Aku selalu memikirkanny! Setiap saat aku selalu berpikir dan bertanya pada diriku sendiri bagaimana cara agar bisa membuat kedua orangtuaku senang! Tapi aku tidak pernah tau dan tidak pernah menemukan jawabannya!!”

“Untuk membuat aku dan oemmamu senang. Kau cukup menerima perjodohan ini.” Ujar Tuan Hwang tegas

“Ak…aku…” Tiffany bangkit dari sofa dan berlari menaiki anak tangga.

“Tiffany!!!” seru Tuan Hwang

“Sudahlah, biarkan dia untuk memikirkan ini.” Ujar Nyonya Kim seraya menghampiri Tuan Hwang dan merangkul suaminya itu.

(End Flashback)

***

22.00 KST

Malam ini kota Seoul di landa hujan yang cukup deras, malam yang sangat dingin, angin bertiup begitu kencang.

Jalanan kota Seoul yang biasanya masih ramai meski sudah larut malampun kini Nampak sepi, hanya mungkin beberapa mobil saja yang masih berlalu lalang di jalanan kota Seoul.

Jinki membawa mobilnya dengan pelan, mengingat jalanan kota Seoul yang licin karena di siram air hujan malam ini.

Jinki menikmati sebuah alunan lagu lewat ipodnya, mulutnya seperti tengah berkomat-kamit mengikuti lirik lagu yang di dengarnya. Matanya terfokus menatap jalanan, tangannya asyik memegang setir mobil.

“Byul bitchi kimami modu meot daemyeon… haeonal su opge gidari bonel suobneyo… saranghi raso nan saranghi raso…” Jinki menyanyikan lagu yang tengah ia dengarkan, dan tiba-tiba saja ia teringat kepada kekasihnya Park Ji Yeon dan musuh bebuyutan baginya yaitu Tiffany, yang notabene akan menjadi istrinya mungkin 2 atau 3 bulan mendatang.

Ia benar-benar bingung, di otaknya sekarang banyak sekali pertanyaan yang muncul

Apakah Ji Yeon akan membenciku?

Apakah Ji Yeon akan bisa menerimanya?

Apakah Ji Yeon masih tetap mau menjalin hubungan denganku walau hanya sebagai sahabat?

Apakah Ji Yeon bisa memaafkanku?

Apakah… Apakah…Apakah…

Berjuta pertanyaan menghampiri otaknya namun ia sama sekali tidak tahu jawaban apa yang nanti akan di dapat olehnya.

“Jika aku menikah dengan Tiffany? Berarti setiap hari akan selalu terjadi masalah kecil? Entah itu pagi,siang,sore,ataupun malam.” Gumam Jinki

“Tapi sebenarnya Tiffany itu baik kok. Walau sepertinya hanya padaku saja dia seperti itu.” Lanjutnya

Jinki menggeleng-gelengkan kepalanya “Apa sih yang kau pikirkan? Babo!” ujar Jinki seraya menjitak kepalanya sendiri.

Sesaat kemudian Jinki sampai di rumahnya, Jinki memasukan mobilnya ke garasi dan segera turun dari mobil seraya bergegas masuk ke dalam rumah.

***

22.30 KST

“Jinki…Jinki…ckck…” decak Tuan Lee kesal

Jinki berhenti dan menengok pada Tuan Lee yang notabene adalah ayah kandungnya.

Jinki menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tertawa kecil “Hehe…”

“Kau ini sekarang sering sekali pulang malam. Dari mana saja kau huh?” Tanya Tuan Lee seperti seorang polisi yang tengah mengintrogasi tersangka

“Jalan-jalan bersama teman-teman SMA ku dulu.” Ujar Jinki berbohong

“Hemmm…” Tuan Lee menarik nafas dan kemudian berkata

“Appa tahu kau sudah dewasa tapi itu bukan berarti kamu bisa pulang kerumah larut malam begini.” Jelas Tuan Lee

“Mianhae.”

“Kau ini.” Dengus Tuan Lee sebal seraya kemudian berlalu masuk ke kamarnya

Jinki mengelus dadanya dan menarik nafas lega seraya kemudian melanjutkan langkah menuju kamarnya.

***

Ji Yeon duduk di sofa kamarnya seraya kemudian meraih remote televisi dan mengganti channelnya.

Ji Yeon terus mengubah-ubah channel sampai akhirnya ia berhenti di channel TBC SBS untuk menyaksikan reality Show “Star King” dimana di acara itu banyak sekali bintang-bintang papan atas yang akan menghibur semua orang yang menontonnya.

Ji Yeon tertawa sendiri melihat kekocakan bintang papan atas yang hadir di situ. Terkadang ia juga sampai terbatuk-batuk karena tertawa terlalu keras.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, di bukanya flip ponselnya dan melihat pada layar ponsel. Dapat ia lihat sebuah pesan masuk.

Ji Yeon membuka pesan itu dan mulai membacanya.

From : My Rabbit

Kau Sudah tidur belum?

Ji Yeon tersenyum melihat pesan yang di kirimkan oleh kekasihnya itu

To : My Rabbit

Belum, aku masih nonton reality show sbs.

Ji Yeon membalas pesan singkat Jinki, tak sampai semenit ponsel Ji Yeon kemudian kembali berbunyi

From : My Rabbit

Tidurlah chagi~ jangan bergadang. Besok kau kan kuliah

Ji Yeon membalas pesan singkat Jinki, tangannya dengan indah menari-nari di atas keypad ponsel miliknya.

To : My Rabbit

Ok… aku mau tidur dulu ya… J

Good Night and have a nice dream…

Love you baby J

Ji Yeon menekan tombol send dan sesaat kemudian Nampak di layar ponselnya message delivery.

Sesaat kemudian ponsel Ji Yeon bunyi kembali, Ji Yeon membuka pesan yang di terimanya dan membacanya

From : My Rabbit

Aku juga mau tidur…

Good Night and have a nice dream Too…

Me Too…

I’m really really love you baby :*

Ji Yeon tersenyum membaca pesan Jinki seraya kemudian mematikan televisinya dan meletakkan ponselnya di bawah bantal. Ji Yeon menarik selimut untuk menutupi setengah tubuhnya seraya kemudian merebahkan tubuhnya dan mulai terlelap.

(End Author Pov)

(Jinki Pov)

Aku menutup pintu kamarku dan menguncinya. Ku lempar tasku entah kemana , aku kemudian mengambil handuk yang terselampir di kursi meja belajarku. Aku kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku lagi, ya walaupun tadi sore sebelum menjemput Ji Yeon aku sudah mandi.

Setelah sekitar 10 menit berada di dalam kamar mandi akupun keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawahku dan dengan bertelanjang dada.

Aku kemudian memakai boxer dan mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk.

Aku menjatuhkan tubuhku di sofa dan menggerakkan leherku ke kiri dan ke kanan hingga menimbulkan suara tujuannya hanya untuk meregangkan urat-urat sarafku.

Aku kemudian meraih ponselku dan mulai memainkan jari-jariku dengan lincah di atas keypad ponselku.

To : Yeon Jinki

Kau Sudah tidur belum?

Aku kemudian menekan tombol send dan sesaat kemudian akupun menerima balasan dari Ji Yeon

From : Yeon Jinki

Belum, aku masih nonton reality show sbs.

Setelah membaca pesannya aku kemudian segera membalas pesannya.

To : Yeon Jinki

Tidurlah chagi~ jangan bergadang. Besok kau kan kuliah

Ji Yeon, dia jam segini belum tidur karena menonton reality show sbs star king, jadi aku menyuruhnya untuk tidur agar ia tak bangun kesiangan besok. Aku kembali menerima balasan dari Ji Yeon, akupun membuka dan membaca pesan darinya.

From : Yeon Jinki

Ok… aku mau tidur dulu ya… J

Good Night and have a nice dream…

Love you baby J

Aku tertawa kecil melihat balasan darinya, aku pun kemudian membalas pesan singkat darinya barusan dengan cepat dan cekatan

To : Yeon Jinki

Aku juga mau tidur…

Good Night and have a nice dream Too…

Me Too…

I’m really really love you baby :*

Setelah mengetik balasan akupun mengirimkan pesan yang sudah ku ketik tadi pada Ji Yeon. Aku yakin pesan ini tak akan dib alas, dan benar saja dugaanku pesanku memang tidak di balas oleh Ji Yeon, pasti dia sudah tidur sekarang.

Aku membanting ponselku di sampingku, seraya merebahkan diri di atas sofa.

Sekarang aku tidak lagi memikirkan Ji Yeon, tapi sekarang yang tengah ku pikirkan adalah yeoja gila bernama Tiffany yang satu atau dua bulan lagi mungkin akan menikah denganku tanpa melakukan acara tunangan terlebih dahulu.

Aku menyipitkan mataku, tersimpan seribu pertanya di dalam diriku.

Apakah Tiffany tahu dia akan di jodohkan denganku?

Apakah dia tahu calon suaminya adalah aku?

Apakah dia akan menerima perjodohan ini?

Apakah dia… aish…

Untuk apa juga aku menyimpan pertanyaan itu, aku yakin Tiffany pasti sudah tahu semua tapi bisa juga kan orang tua Tiffany belum memeberi tahunya tentang masalah perjodohan ini.

Aish… kenapa aku jadi memikirkan yeoja itu sih?

Harusnya sekarang aku memikirkan nasib Ji Yeon nanti…

Tapi dari pada memikirkan hal-hal yang hanya akan membuatku pusing dan merasa ribet lebih baik aku tidur saja. Aku menutup mataku dan kini aku mulai masuk kea lam mimpi.

(End Jinki Pov)

(Author Pov)

Minho berjalan menghampiri Jong Hyun yang tengah sibuk mendriblle bola basketnya di lapangan.

“Kenapa kau kemarin tak dating?” Tanya Minho

“Aku kemarin jalan-jalan dengan Tiffany.”

“Oh begitu. Oh iya kita akan sering-sering latihan karena 2 minggu lagi kita akan memulai pertandingan.”

“Ne arraso.”

“Mana Fany? Tumben jam segini dia belum menemuimu.”

Jong Hyun tercekat mendengar perkataan Minho barusan

‘Benar juga ya? Kemana Tiffany? Tumben sekali dia tidak kesini.’ Batin Jong Hyun

“Ya! Ditanya malah diam!” hardik Minho

“Ah mianhae… aku tidak tahu, mungkin dia ada urusan.” Sahut Jong Hyun yang baru tersadar dari lamunannya

“Bagaimana kalau kita ke kantin?” tawar Minho

“Ide bagus, aku tidak sempat sarapan tadi pagi.” Jong Hyun menerima ajakan Minho.

Mereka berduapun lantas pergi meninggalkan lapangan basket dan berjalan menuju kantin.

***

07.00 KST

“Hey Taeng!!” sapa Jinki seraya duduk di depan Tae Yeon yang tengah membaca buku

“Wae?” Tanya Tae Yeon ketus seraya mendongak sebentar kemudian kembali membaca bukunya

“Kemana pacarmu itu?” Tanya Jinki

Tae Yeon mendongak dan menatap Jinki, ia memincingkan matanya tak mengerti.

“Pacar? Yang mana?” tanyanya Bingung

“Haha… maksudku Tiffany.” Jinki tertawa lepas

Tae Yeon mendengus sebal seraya menimpuk kepala Jinki dengan buku tebal yang tengah di bacanya

“Awww…” rintih Jinki

“Enak bukan.” Sindir Tae Yeon

“Sangat sadis.” Komentar Jinki

“Kau itu benar-benar…” Tae Yeon menahan emosinya dan mencoba focus membaca bukunya kembali

“Hey Taeng!! Kau belum menjawab pertanyaanku.” Celetuk Jinki

“Molla, aku tidak tahu sejak tadi pagi aku tidak melihatnya.” Ujar Tae Yeon

Jinki membulatkan matanya dan mengerutkan kening

‘Tumben yeoja gila itu jam segini belum datang.” Batin Jinki

Tiba-tiba Jong Hyun dan Minho datang menghampiri meja Tae Yeon

“Annyeong Tae Yeon~sshi.” Sapa Jong Hyun

Tae Yeon dan Jinki menengok ke pada Jong Hyun bersamaan.

“Annyeong Jong Hyun~sshi. Mencari Fany?” Tanya Tae Yeon yang seolah mengetahui segalanya

“Ne… apa Tiffany tadi bersamamu?” Tanya Jong Hyun

“Tidak, bukannya biasanya habis memarkir mobil dia langsung menemuimu ya?”

“Iya sih, tapi hari ini dia tidak menemuiku sama sekali.” Tutur Jong Hyun

Tae Yeon Nampak berpikir seraya kemudian mulai berbicara

“Mungkin dia masih di rumah atau bisa juga dia sakit.” Ujar Tae Yeon menerka-nerka

“Sakit? Bisa jadi.”

“Eh…”

“Kemarin dia ku ajak jalan-jalan sampai malam, mungkin saja dia masuk angin dan jatuh sakit.”

“Oh berarti kalau begitu Tiffany memang sedang sakit.”

“Hemmm… kalau begitu aku kesana dulu ya. Bye.” Jong Hyun dan Minho kemudian berjalan meninggalkan meja Jinki dan Tae Yeon

“Itu tadi pacar yeoja gila itu?” Tanya Jinki

“Iya, kenapa?”

“Aniya… Cuma Tanya. Ya sudah aku kesana dulu ya. Bye.” Jinki bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Tae Yeon.

***

“Yeoja gila itu sakit, berarti hari ini bisa-bisa dia tidak masuk dong. Aish aku jadi tidak ada teman untuk beradu mulut aku pasti akan sangat merindu…” Jinki menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apa yang kau katakana barusan Jinki… Jeongmal baboya.” Ujar Jinki mengumpat dirinya sendiri

“Ddor…!!!” seru Ji Yeon seraya memegang kedua bahu Jinki yang spontan langsung membuat Jinki berteriak kaget.

“Naega jeongmal baboya.” Serunya sambil meloncat

Melihat itu Ji Yeon langsung tertawa terpingkal-pingkal. Jinki yang baru mengetahui kalau yang mengagetinya barusan langsung memincingkan matanya dan memanyunkan bibirnya.

“sudah cukup tertawanya?” Tanya Jinki sok dingin

Ji Yeon terdiam mendengar ucapan Jinki yang benar-benar dingin barusan

“Aku Tanya apa kau sudah puas tertawa eum?!!” bentak Jinki

“…”

“Jawab!!” Bentak Jinki

“Mianhae… maaf kalau aku membuatmu terkejut, tapi ku mohon jangan marah.” Ujar Ji Yeon ketakutan

Jinki benar-benar tak sanggup lagi menahan tawanya saat ia mendengar permintaan maaf Ji Yeon dengan nada dan ekspresi yang sangat takut.

Jinkipun menjawab dengan sedikit tertawa “ kita seri haha…” Jinki sontak langsung berlari menjauh dari Ji Yeon agar Ji Yeon tak sempat memukulnya.

“Lee Jinki!!!” seru Ji Yeon seraya mengejar kekasihnya yang telah berlari jauh dari hadapannya.

“Awas kau!!!”

***

08.00 KST

Tiffany keluar dari kamarnya dengan mata yang cukup bengkak dan hitam, dia juga masih mengenakan pakaian yang kemarin ia gunakan. Tiffany berjalan menghampiri kedua orang tuannya yang tengah menunggunya di meja makan.

“Selamat pagi.” Sapanya tidak bersemangat, membuat orang tuanya sangat khawatir

“Fany, kau tidak apa nak?” Tanya Nyonya Kim khawatir

Fany menggeleng lemah seraya membalik piringnya dan mencomot sepotong roti dari piring di hadapannya dan mengolesinya dengan mentega.

“Jika kau tidak mau di jodohkan, appa bisa membatalkannya.” Ujar Appa

Tiffany sekali lagi menggeleng lemah, membuat orang tuanya bingung.

Kedua orang tua Tiffany menatap Tiffany dengan penuh kekhawatiran.

Setelah menghabiskan setengah roti miliknya akhirnya Tiffanypun mulai berbicara.

“Aku sudah memikirkannya semalam…” Tiffany menggantungkan kata-katanya

Kedua orang tuanya hanya menunggu kelanjutan kata-kata Tiffany dengan harap-harap cemas

“Aku mau di jodohkan dengan sahabat Appa itu.” Lanjutnya seraya kemudian kembali memakan rotinya

“Kau tidak bercandakan Fany?” Tanya Appanya tidak percaya

“untuk apa aku bercanda.” Ujarnya dingin seraya kemudian beranjak dari kursi dan kembali ke lantai dua

“Syukurlah, untung dia mau.” Ujar Nyonya Kim tersenyum lega

(End Author Pov)

(Tiffany Pov)

Semoga apa yang telah ku pilih adalah yang terbaik bagiku dan kedua orangtuaku, meski sakit asal orang tuaku bahagia aku rela mengorbankan perasaanku pada Jong Hyun.

Aku menutup pintu kamarku, kamarku kembali gelap lagi namun tidak segelap tadi malam karena pagi ini cahaya matahari masih bisa sedikit-sedikit menembus gorden jendelaku.

Aku membuka gorden jendela kamarku dan membuka jendelanya tak lupa aku juga membuka pintu yang menuju balkon kamarku.

Aku merapihkan kasurku yang berantakan, dan juga merapikan barang-barangku yang berserakan kemana-mana.

Aku kemudian mengecek ponselku, terdapat banyak pesan masuk, 80 persen pesan yang ku dapat kebanyakan dari Jong Hyun dan sisanya lagi dari teman-temanku yang lain. Aku tidak membuka ataupun membuka pesan yang kuterima, aku justru membiarkannya.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, kulihat nama Tae Yeon tertera di layar ponselku aku tidak mengangkat telpon dari Tae Yeon tapi aku langsung mematikannya.

Ya sudah kuputuskan untuk 2 atau tiga hari ini aku ikin menenangkan diri dulu di rumah, dan tidak mau berhubugan dengan orang-orang luar termasuk Jong Hyun, aku harus mengabaikannya.

Ku letakkan ponselku di atas meja yang terdapat di samping tempat tidurku seraya kemudian duduk di depan meja rias yang terdapat di kamarku.

Dapat kulihat dari kaca meja rias, mataku yang sembab dan juga wajahku yang seperti orang tidak terurus. Aku semakin sedih melihat diriku yang begitu menyedihkan di kaca, jadi ku putuskan untuk masuk ke kamar mandi dan berendam air hangat.

Aku menyiapkan air hangat di bathtub yang terdapat di kamar mandi ku, seraya kemudian menuangkan sabun cair ke dalamnya, busa mengembul keluar aku kemudian membuka seluruh benang yang menempel di tubuhku dan masuk ke dalam bathtub.

Benar-benar segar, aku memainkan busa yang begitu banyak. Terkadang aku meniup-niup busa itu, ternyata berendam bisa sedikit menghilangkan stresku.

Setelah sekitar setengah jam aku berendam aku pun segera membersihkan tubuhku yang berlumur busa, seraya kemudian memakai bathrobe berwarna biru dengan motif bunga.

Aku kemudian memakai pajama berwarna biru muda dengan motif kelinci. Aku kemudian menyisir rambut hitam nan panjangku kemudian ku kuncir kuda. Seraya menaburkan sedikit bedak sebagai sentuhan terakhir.

Tok…tok…tok…

Ku dengar pintu kamarku diketuk.

“Siapa?” tanyaku seraya menoleh pada pintu kamarku

“Saya nona.” Sahut Hyun In ahjumma

“Ada apa Ahjumma?” tanyaku

“Ada nona Yuri.” Ujar Hyun In Ahjumma

Aku mengerutkan keningku ‘Yuri? Ada perlu apa dia kesini?’ batinku

“Suruh masuk saja.” Perintahku

“Baik nona.”

Tak sampai beberapa saat, ku dengar suara pintu kamarku di buka, dan Nampak Yuri masuk ke kamarku dengan senyum yang mengembang.

“Fany!!” serunya seraya berlari dan memelukku.

“Ada apa?” tanyaku ketus

Yuri tertawa “Haha… tidak apa, aku hanya lagi senang.”

Aku mengerutkan keningku “senang? Senang kenapa?”

“Pokoknya aku senang sekali, makanya aku kesini untuk berbagi kesenangan denganmu.” Tuturnya

Aku menyipitkan mataku dan menatapnya dengan tatapan Tidak-Jelas

“Kalau mau berbagi kesenangan denganku,cepat ceritakan.” Ujarku tak sabaran

“Iya… jadi begini aku… aku…”

“Aku apa?” tanyaku

“Aku akhirnya bisa mendapatkan pemain basket tampan itu.”

“Pemain basket tampan? Maksudmu Minho? Choi Minho?” tanyaku

“Iya… siapa lagi kalau bukan dia.” Ujarnya sambil senyum senyum tidak jelas

Ku kira kesenangan apa, ternyata hanya begini saja.

“Kenapa? Kau tidak suka?” Tanya Yuri dengan ekspresi mencurigai ku

“Tidak, hanya saja ku kira kau senang kenapa ternyata cyma begini saja.” Ujarku jujur

“Kau ini.” Yuri mendengus sebal

“Eh karena aku sedang senang, bagaimana kalau kita jalan? Aku yang traktir.” Tawarnya

Tanpa piker panjang aku langsung menolak ajakannya

“Mianhae Yuri~ah, aku sedang tidak mau keluar.” Tolakku halus

“Kenapa?” Tanya Yuri bingung

“Taka pa, aku hanya sedang ingin di rumah dulu.” Ujarku

“Aku rasa kau ada masalah, bisa kau ceritakan masalahmu padaku? Aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu.” Tawar Yuri

“Baiklah, jadi begini….bla…bla…bla…”

Aku mulai menceritakan semua kejadian yang ku alami kemarin.

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

“Bagaimana?” Tanya Jinki

Tae Yeon mendongak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, Jinki menatapnya bingung.

“Tak di jawab. Malah di matikan.” Ujar Tae Yeon kecewa

“Huh dimatikan?”

Tae Yeon mengangguk

“Sepertinya yeoja itu tidak sakit.” Komentar Jinki

“Dapat presepsi dari mana kau hingga berani bicara seperti itu?” Tanya Tae Yeon seraya mengangkat alisnya

“Karena, Tiffany itu tipe yeoja ceria jika ia sakit pasti ia akan mengangkat telpon dari temannya dan membertahukan keadaannya pada temannya itu.” Tutur Jinki

“Kalau tidak sakit lalu apa?” Tanya Tae Yeon

“Mungkin dia sedang ada masalah.” Jawab Jinki

Tae Yeon terdiam seperti sedang berpikir

“Bisa juga sih, tapi masalah apa?” Tanya Tae Yeon

“I don’t Know.” Ujar Jinki seraya mengangkat kedua bahunya

“Hemmm…” Tae Yeon menarik nafas

“Jinki.” Panggil Tae Yeon

“Ya?” sahut Jinki

“Bagaimana kalau nanti sore kita kerumahnya Tiffany?” ajak Tae Yeon

Jinki tercekat mendengar ajakan Tae Yeon “Mianhae, nanti sore aku harus mempersiapkan acara makan malam dengan Ji Yeon.” Tolak Jinki

“Baiklah, aku bisa kesana sendiri.” Ujar Tae Yeon

“Sekali lagi maaf.” Ujar Jinki

“Ne gwenchana.” Tae Yeon tersenyum seraya kemudian kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya.

***

Ji Yeon berjalan melewati koridor sekolah sendirian seraya mendekap buku-buku yang di bawanya. Tiba-tiba salah seorang sahabatnya datang menghampirinya.

“Hey Ji Yeon~ah.” Sapa Eun Jung

“Hey.” Sapa Ji Yeon balik

“Mana Jinki? Biasanya kau jalan berdua dengannya.”

Ji Yeon mengangkat alisnya mencoba mencerna maksut perkataan Eun Jung

“Eh… dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya.” Jawab Ji Yeon

“Dengan siapa?” Tanya Eun Jung

“Dengan teman sekelasnya Tae Yeon, memang kenapa?” Tanya Ji Yeon balik

“Aniya… ku kira kau tidak tahu, aku kesini hanya ingin memberitahumu saja eh tapi ternyata kau sudah tahu ya sudah aku tidak jadi memberitahumu.” Tutur Eun Jung

“Hemm…” Ji Yeon menarik nafas ‘jadi kesini Cuma mau mengadu domba.’ Batin Ji Yeon

“Hey kau kenapa?” Tanya Eun Jung seraya melambaikan tangan di wajah Ji Yeon

“Eh gwencahana.” Jawab Ji Yeon seraya memasang senyum terpaksa

“Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku kesana dulu ya. Bye.” Eun Jung kemudian berjalan meninggalkan Ji Yeon.

Ji Yeon kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

***

“Kau yang sabar saja ya.” Ujar Yuri seraya memeluk tubuh Tiffany

“Ne, terimakasih Yuri. Terimakasih karena kau mau mendengar curahan hatiku.” Ujar Tiffany

“Kau tidak perlu berterimakasih sudah sewajarnya aku sebagai sahabat mau mendengarkan curahan hati sahabatku.” Tutur Yuri

Tiffany tersenyum kecil.

Yuri melirik jam tangannya, jarum jam menunjuk angka 14.30 KST. Yuri kemudian beranjak dari sofa kamar Tiffany dan merapihkan bajunya.

“Fany aku pergi dulu ya, aku harus ke kampus.” Pamit Yuri

“Ne, hati-hati di jalan ya.” Ujar Tiffany

“Ye.” Yuri berjalan keluar dari kamar Tiffany, 4 menit setelah Yuri keluar dari kamarnya Tiffanypun juga keluar.

“Hyun In ahjumma, kau dimana?!” seru Tiffany

“Nona mencari saya?” Tanya Hyun In

“Ne..”

“Ada perlu apa nona?”

“Tolong jika ada teman kampus saya yang mencari tolong ahjumma bilang bahwa aku tidak ada di rumah.” Jelas Tiffany

“Loh memangnya kenapa non?”

“Tidak apa ahjumma, hanya saja aku sedang tak ingin di ganggu.” Tutur Tifany

“Oh begitu, baiklah non. Apa nona Yuri juga?” Tanya Hyun In

“Ah iya, kalau dia perbolehkan masuk saja.” Ujar Tiffany

“Oh baiklah kalau begitu nona. Apakah saya boleh kembali bekerja?”

“Ya silahkan.” Tiffany kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.

***

16.30 KST

Tae Yeon memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Tiffany seraya kemudian berjalan menuju pintu utama rumah sahabatnya tersebut.

Tae Yeon menekan tombol bel rumah Tiffany tiga kali dan sesaat kemudian pintu rumah terbuka.

Nampak Hyun In tengah berdiri di depannya.

“Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Hyun In

“Tiffany ada?” Tanya Tae Yeon

“Oh nona Tiffany sedang tidak ada di rumah.” Tutur Hyun In

“Kemana ya?”

“Maaf, saya juga tidak tahu.”

“Oh kalau begitu terimakasih ahjumma, saya pamit dulu kalau begitu.” Ujar TAE Yoen berpamita seraya kemudian berjalan menghampiri mobilnya dan membawa mobilnya keluar dari halaman rumah Tiffany.

***

“Kau sudah coba hubungi dia?” Tanya Minho pada Jong Hyun yang sedang duduk seraya memegang kepalanya karena memikirkan Tiffany

“Yap, tapi tidak ada jawaban.”

“Apakah dia masih marah?”

Jong Hyun menggeleng “Tidak.”

“Kalau begitu?”

“Aku juga tidak tahu.” Ujar Jong Hyun

Minho terdiam sejenak seraya kemudian kembali membuka suara

“Bagaimana kalau kau kerumahnya.” Usul Minho

“Kau benar juga. Tapi…” Jong Hyun menggantungkan kata-katanya

“Tapi apa?”

“Aku tidak mau meninggalkan latihan hari ini, kemarin kan aku sudah meninggalkan latihan.” Lanjut Jong Hyun

“Latihan kan bisa kau lakukan sendiri di rumah.” Ujar Minho

Jong Hyun menggeleng dan menarik nafasnya dalam-dalam ‘Tidak bisa, mengingat pertandingan yang hanya tinggal 2 minggu lagi.”

“Kau benar juga.”  Ujar Minho

“Kalau begitu ayo kita kembali latihan.” Minho kemudian berdiri dan kembali ke lapangan di ikuti kemudian oleh Jong Hyun.

***

17.00 KST

Jinki sudah menyewa sebuah tempat di hotel bintang lima untuk dinner malam ini dengan Ji Yeon. Balkon hotel itulah yang menjadi tempat pilihan Jinki. Balkon itu di hias sedimikian rupa dan seindah mungkin. Jinkipun sudah memakai pakain rapih, ia mengenakan jas berwarna abu-abu,kemeja putih, dan celana jeans berwarna putih.

Setelah semuanya selesai sekitar puku 19.00 KST , Jinki keluar dari hotel dan membawa mobilnya menuju rumah Ji Yeon

***

Angin malam semilir-semilir berhembus ke dalam kamar Tiffany lewat pintu balkon kamarnya yang tak ditutup. Nampak Tiffany yang tengah duduk di sofa kamarnya sambil mendengarkan alunan music lewat ipodnya.

Rambut hitmanya yang panjang sesekali tertiup angin membuatnya terlihat semakin cantik. Tiffany menutup matanya sambil berkomat-kamit menirukan lirik lagu yang di dengarkannya.

Cklek…

Seseorang membuka pintu kamar Tiffany dan masuk ke dalamnya, orang itu adalah ibu kandung Tiffany yaitu nyonya Kim. Nyonya Kim duduk di samping Tiffany dan mengelus rambut Tiffany lembut.

“Fany.” Ujar Nyonya Kim lembut seraya mengelus rambut Tiffany

Tiffany membuka matany seraya kemudian melirik oemmanya sekilas

“Ada apa ?” tanyanya

“Ayo turun sebentar lagi waktunya makan malam.”

“Iya, oemma turun saja duluan. Aku nanti menyusul.” Ujar Tiffany

“Fany…” dengus Nyonya Kim

“Baiklah.” Ujar Tiffany seraya melepas headsetnya dan kemudian keluar dari kamarnya.

Nyonya Kim tersenyum seraya kemudian mengikuti Tiffany keluar.

***

Ji Yeon Nampak cantik dengan mini dress berwarna putih tulang dan bermodel one shoulder, yang membuatnya Nampak lebih dewasa dan sedikit berbeda. Ji Yeon mengkuncir kuda rambutnya tanpa mengikutkan poninya, Poninya disisir lurus kedepan. Di taburkan bedaknya ke permukaan wajahnya, seraya mengenakan mascara dan eyeshadow . Dan untuk sentuhan terakhir dia mempoles bibir mungilnya dengan lipstic berwarna sama dengan bibirnya.

Setelah ia selesai berdandan ia meraih tas yang berwarna senada dengan dress yang di gunakannya seraya kemudian keluar dari kamarnya. Selang beberapa saat pintu rumah Ji Yeon di ketuk oleh seseorang.

Ji Yeo tersenyum kecil. “Tunggu sebentar.” Kata Ji Yeon seraya berjalan untuk membukakan pintu.

Cklek.

“Kau sud…”

Jinki terdiam tak melanjutkan kata-katanya, ia sungguh takjub melihat penampilan Ji Yeon yang benar-benar berbeda dari biasanya. Cantik dan manis.

“kau kenapa?” Tanya Ji Yeon

“Eh?” Jinki tersadar dari lamunannya.

“Kau kenapa?” Ji Yeon mengulang kata-katanya

“Ah Ani… kau sudah siap?” Tanya Jinki

“Tentu… kajja.” Ji Yeon tersenyum

Jinki merangkul tangan Ji Yeon dan  mereka kemudian naik ke mobil Jinki.

Mobil Jinki pun melesat meninggalkan pekarangan rumah Ji Yeon.

***

“Tiffany…” panggil Tuan Hwang

Tiffany mendongak seraya melihat pada Tuan Hwang

“Wae appa?” Tanya Tiffany

“Err… besok keluarga Lee akan makan malam di sini.”

“Keluarga Lee?? Nugu?”

“Keluarga Lee itu adalah Keluarga sahabat appa yang anaknya akan appa jodohkan denganmu.”

“Oh.” Tiffany membulatkan mulutnya seraya kemudian melanjutkan makannya

“Besok sore kau ajak Yuri jalan-jalan untuk memilih gaun untuk makan malam besok ya.” Perintah Tuan Hwang

“Ne appa.” Ujar Tiffany seraya mengangguk mantap

Tuan Hwang tersenyum melihat sikap Tiffany yang sudah mulai menunjukkan kedewasaannya begitu pula Nyonya Kim.

Tiffany bangkit dari tempat duduknya “Appa oemma, aku ke kamar dulu ya.” Ujarnya seraya kemudian langsung naik ke lantai dua.

Tuan Hwang dan Nyonya Kim hanya tersenyum melihat putrid tunggalnya itu.

***

Pintu balkon hotel terbuka, Ji Yeon dan Jinki berjalan menuju balkon itu.

Ji Yeon sungguh takjub dengan suasana mewah yang di lihatnya.

Sebuah meja dengan ditutupi taplak berwarna putih yang panjang hingga menutupi kaki meja tersebut. Sekuntum mawar merah yang terletak di dalam vas, lilin kecil yang berjajar di sekitarnya dan satu botol wine dengan dua gelas antik yang berjajar di sampingnya, semakin menambah kesan mewah dan romantis.

“Kenapa diam saja? Ayo duduk.” Jinki menuntun Ji Yeon duduk

Tiba-tiba seorang pelayan datang dengan membawa  banyak makanan mewah khas hotel tersebut.

Pelayan itu kemudian menuangkan wine di setiap gelas, kemudian pergi meninggalkan Ji Yeon dan Jinki.

Mereka pun memakan hidangan makanan yang telah di sajikan dengan diiringi alunan music yang mengalun lembut dari tuts piano yang di tekan oleh pianist *authorngelantur* Di tengah-tengah makan mereka tiba-tiba Jinki membuka suara.

“Apa kau suka?” tanyanya seraya menatap Ji Yeon lekat

Ji Yeon mendongak dan tersenyum pada Jinki “Neomu.” Ujar Ji Yeon sumringah seraya kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan sopan.

Jinki tersenyum kecil dan kembali melanjutkan makannya.

“Eumm oh iya sejak kapan kau menyiapkan ini semua?”

“Sejak tadi sore.”

“Mwo? Tadi sore? Bagaimana bisa?”

“Tentu bisa.”

“Bagaimana caranya?” tanya Ji Yeon penasaran

“Hanya aku yang boleh tahu haha…”  ujar Jinki seraya tertawa kecil

“dasar.” Ji Yeon mendengus kesal seraya memanyunkan bibirnya membuat Jinki tertawa dengan ekspresinya barusan.

Jinki beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Ji Yeon, di ulurkannya tangannya di depan Ji Yeon, Ji Yeon yang melihat itu langsung menatap Jinki bingung dan mengangkat alisnya.

Jinki tersenyum kecil seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Ji Yeon.

“Mau berdansa denganku Princess?” tanya Jinki

Ji Yeon mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu seraya kemudian menerima uluran tangan Jinki. Jinki tersenyum seraya memegang erat tangan Ji Yeon kemudian mencium punggung tangan kekasihnya tersebut.

Dengan ditemani oleh alunan music yang dimainkan oleh pianist mereka berdansa dengan indah. Penuh kemesraan, membuat orang yang melihat mereka pastisangat iri.

“Ji Yeon~ah…”

“Ne…”

“Jika seandainya…” Jinki menggantungkan kata-katanya

“seandainya?”

“Seandainya, ah tidak jadi.”

“Seandainya apa?”

“Tidak, tidak apa.”

“sungguh?”

“Eumm… oh iya ayo kita kesana.” Ujar Jinki mengalihkan pembicaraan seraya mengajak Ji Yeon berjalan mendekat pembatas balkon

“Pemandangan kota Seoul jika di lihat dari sini indah ya.” Ujar Jinki

“Iya, indah sekali. Lampu-lampu penduduk yang menyala terang layaknya bintang-bintang di langit yang menyinari dunia.”

Jinki memandangi Ji Yeon lekat-lekat, Ji Yeon yang merasa di perhatikanpun langsung menggubris Jinki

“Ya!!”

Jinki tak berkutik dan hanya diam

“Kau kenapa?” tanya Ji Yeon seraya memiringkan kepalanya

“Aniya… oh ya coba kau lihat itu.” Ujar Jinki seraya menunjukke langit malam dengan tangan kanannya seraya kemudian kembali berucap “1…2…3…” ucap Jinki dan suara kembang apipun terdengar.

Nampak kembang api yang begitu indah di langit dan kembang api itu berbentuk sebuah Tulisan yang bila mana di baca adalah “Park Ji Yeon Jeongmal Saranghaeyo Youngwonhi.”

Ji Yeon benar-benar takjub atas kejutan yang di beri Jinki ini, ia merasa terharu dan merasa sangat senang, ia baru tahu ternyata kekasihnya ini benar-benar romantis.

Ji Yeon menoleh ke samping dan menatap Jinki lekat.

“Gomawo.” Ujar Ji Yeon sumringah seraya memeluk Jinki

“Na do.” Jinki balas memeluk Ji Yeon dan membelai rambutnya mesra, merikapun kemudian kembali menikmati kembang api yang masih terus menerus di hidupkan.

***

Tiffany duduk di pinggir kasurnya seraya kemudian memainkan ponselnya. Ia kemudian menelpon Yuri. Setelah beberapa saat Tiffany menghubunginya akhirnya Yuripun mengangkat telpon darinya.

“Yeobseyo.” Sapa Yuri

“Ne Yeobseyo, Yuri~ah apa besok kau bias menemaniku?”

“ke…?”

“Ke mall, aku mau mencari gaun untuk makan malam besok.”

“eumm baiklah.”

“Okey, besok aku kerumahmu jam 8 pagi, dank au sudah harus siap arra?!”

“baiklah, aku tunggu besok.”

“Ya sudah kalau begitu, sampai jumpa besok ya. Bye.” Tiffany mengakhiri pembicaraannya dengan Yuri, saat hendak menaruh ponselnya di laci tanpa sengaca ia mendapati sebuah frame photo yang berisi photo dirinya berdua dengan Jong Hyun. Tiffany meletakkan ponselnya dan kemudian mengambil frame photo tersebut.

Di pandanginya frame photo itu lekat-lekat, dan bulir-bulir air matanya tanpa sengaja jatuh membasahi kaca frame tersebut.

“Mianhae.” Kata Tiffany lirih seraya memeluk frame photo tersebut

“Nan jeongmal mianhae.” Ucapnya lagi, seraya makin mempererat pelukannya.

Tiffany merebahkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan keadaan yang masih memeluk frame photo Tiffany pergi kea lam mimpinya yang baru.

***

Ke esokan harinya…

“Annyeong appa … annyeong oemma…” sapa Tiffany seraya berjalan melewati meja makan

“Kau tidak sarapan?” Tanya  Nyonya Kim

“Aku mau ke rumah Yuri.Pagi ini kami mau ke mall mencari gaun untuk makan malam nanti malam.” Sahut Tiffany

“Oh… Tapi kau jangan lupa mampir di café atau restoran untuk mengisi perutmu!!” ujar  Nyonya Kim mengingatkan

“Ne Oemma.” Ujar Tiffany seraya berjalan keluar rumahnya.

Tiffany berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir di halam depan rumahnya seraya membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.

Tiffany duduk di kursi kemudi dan memasang sabuk pengaman seraya kemudian membawa mobilnya melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.

Hari ini Tiffany sudah janjian dengan Yuri untuk pergi ke mall, dan Tiffany akan menjemput Yuri di rumahnya.

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit Tiffay akhirnya sampai di depan rumah Yuri. Dan saat ia sampai di depan rumah Yuri, Yuri sudah berada di depan rumahnya untuk menunggu kedatangan Tiffany.

“Ayo masuk.” Ujar Tiffany dari dalam mobilnya

Yuri berjalan dan membuka pintu mobil Tiffany seraya kemudian duduk di samping Tiffany.

“Berangkat sekarang?” Tanya Yuri

“Tahun depan saja ya.” Canda Tiffany

“Kau ini.” Dengus Yuri sebal

“Haha… just kidding.” Tawa Tiffany seraya kemudian menjalankan mobilnya.

***

Di rumah Jinki~

10.00 KST

“Oppa tidak kuliah?” Tanya Eun Ji yang melihat Jinki sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga

“Aniya… wae?” Tanya Jinki

“Tidak apa… aku kan hanya bertanya saja.” Cetus Eun Ji

“kau sendiri?” Tanya Jinki balik

“Sekolahku kan sedang libur uwek…” balas Eun Ji seraya mecibir Jinki dengan lidah yang menjulur

Jinki hanya menggeleng sebal.

“Oh iya… nanti malam kita sekeluarga di undang makan malam oleh keluarga Hwang Jung Dong ahjusshi.” Ujar Eun Ji

Jinki tercekat seraya memandang Eun Ji seolah perkataan Eun Ji barusan hanyalah mengada-ada

“Kau bohong.” Ujar Jinki tak percaya

“Aku tidak bohong oppa, kalau tidak percaya tanyakan saja pada oemma dan appa.” Ujar Eun Ji

Tiba-tiba terdengar suara Nyonya Goo yang berteriak teriak mencari Jinki.

“Jinki!! Jinki!!” seru Nyonya Goo

“Ne oemma.” Jinki bangkit dari sofa

“Ada apa?” tanyanya

“Kau nanti malam jangan kemana-mana. Nanti malam kita sekeluarga akan makan malam di rumah Jung Dong ahjusshi arra?”

Aku mendengus pasrah “baik oemma.”

“Dan jangan lupa kau harus berpakaian rapih karena nanti malam kau aka bertemu dengan calon istrimu.” Lanjut Nyonya Goo seraya berjalan meninggalkan ruang keluarga

“benarkan kataku tadi.” Ujar Eun Ji

“…” Jinki tak menanggapi pernyataan Eun Ji barusan seraya malah asyik berkutat dengan pemikirannya sendir.

‘Berarti kalau begitu nanti malam aku akan bertemu dengan yeoja gila itu.’ Batinnya

Jinki menggeleng dan berteriak sangat keras “andwaeeeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!!!!”

***

13.00 KST

Sudah berjam-jam Tiffany dan Yuri mendatangi butik-butik yang berada di mall-mall besar di kota Seoul, namun tak ada satupun gaun yang sesuai seleranya. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah café yang terdapat di mall yang sekarang tengah mereka kunjungi.

“capek sekali.” Ujar Yuri seraya meletakan barang-barang belanjaannya di sampingnya

Berbanding terbalik dengan Yuri yang sudah membeli banyak barang belanjaan dan membawa banyak tas besar Tiffany malah tidak membawa apa-apa, yak arena ia belum menemukan sesuatu yang sesuai seleranya.

Tiffany melambaikan tangan pada seorang pelayan, pelayan itu langsung menghampiri Yuri dengan terpogoh-pogoh.

“Mau pesan apa nona?” Tanya pelayan itu seraya mengeluarkan buku catatan kecil untuk menulis makanan ataupun minuman yang akan di pesan oleh Tiffany dan Yuri.

“Aku mau vanilla latte dan tiramisu.” Celetuk Tiffany

“Aku mau juice coklat dan nasi goreng.” Ujar Yuri

“Baik akan segera saya antarkan.” Ujar pelayan itu seraya berjalan meninggalkan Yuri dan Tiffany

“Apa habis ini kita langsung pulang?” Tanya Yuri

“Sepertinya begitu, karena sudah dari tadi kita ke mall-mall di kota Seoul dan mengelilingi semua penjuru yang ada mall ini, aku belum menemukan gaun yang sesuai seleraku.” Jelas Tiffany

“Jadi lebih baik aku memakai gaun yang ada saja.” Lanjutnya

“Oh iya hari ini kau tidak kuliah?”

“Tidak, hari ini aku kuliah sore.”

“Oh begitu.”

Sesaat kemudian seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa makanan yang tadi di pesan oleh Tiffany dan Yuri.

“Selamat menikmati.” Ujar pelayan itu seraya berjalan meninggalkan Yuri

“Ayo kita makan.” Ujar Yuri seraya kemudian mulai memakan makanan pesanannya.

***

Seusai makan Tiffany dan Yuri memutuskan untuk kembali. Tapi saat mereka hendak masuk ke dalam lift tanpa sengaja Tiffany melihat gaun yang sesuai dengan seleranya, Tiffanypun kemudian mengajak Yuri untuk menghampiri butik tempat gaun itu bernaung.

“Wah bagus sekali Tiffany.” Puji Yuri melihat gaun pilihan Tiffany yang terpasang di sebuah mannequin

Baju berwarna hitam yang elegant, tak bertali dan tak berlengan, dan dengan sabuk berwarna merah di tengahnya yang dikenakan di bawah dada mannequin tersebut.

“Kau mau membeli gaun ini?”

“Iya.” Ujar Tiffany seraya kemudian memanggil penjaga butik dan kemudian melakukan transaksi dengan kasir butik tersebut.

Tiffany juga membeli sebuah high heels bermodel elegant dan berwarna hitam seperti gaunnya.

Tiffany kemudian pulang bersama Yuri dengan membawa gaun dan sepatu untuk acara makan malam nanti dengan keluarga calon suaminya yang  belum pernah ia kenal sebelumnya.

***

16.00 KST

Tiffany masuk ke dalam rumahnya dengan menenteng 2 buah tas besar yang berisi high heels dan sebuah gaun untuknya nanti malam.

Dapat di lihat suasana rumah Tiffany yang sangat sibuk, seluruh pembantu di rumahnya tengah sibuk membereskan rumah dan menata rumah secantik mungkin dan sebagian lagi sibuk menyiapkan hidangan makan malam di dapur.

Tiffany masuk ke dalam kamarnya dan segera mencoba gaun yang di belinya tadi, dan sungguh sangat pas di tubuhnya, Tiffany kelihatan cantik,anggun, dan juga elegant. Sangat mempesona, dengan gaun itu Tiffany benar-benar Nampak sebagai seorang putri yang hidup di era modern.

(End Author Pov)

(JinkiPov)

Hari ini aku sudah mengenakan pakaian rapih dan siap berangkat ke rumah Tiffany dengan kedua orang tuaku dan kedua adikku, jika mereka mau ikut.

Ku dengar oemma sudah berteriak-teriak memanggilku di luar, aku pun melirik jam tanganku, aish baru jam enam sore tapi sudah pada repot, lagian makan malamnya kan mulai jam 7 nanti.

“Jinki!! Jinki!!” teriak oemma

“Iya oemma!!” ujar ku kesal seraya kemudian keluar dari kamar.

“Dari tadi kamu ngapain saja sih? Lama sekali.” Cerocos Oemma

“Aku tadi masih ganti baju.” Balasku

‘Sudahlah, lebih baik ayo kita berangkat sekarang.” Ujar Appa

“Eun Ji dan Taemin bagaimana?”

“Mereka tidak mau ikut.” Ujar appa seraya berjalan keluar terlebih dahulu bersama oemma.

“Oh.” Aku kemudian berjalan keluar mengikuti mereka.

(End Of Pov)

(Tiffany Pov)

Seusai ganti baju dan merias diri aku langsung turun ke lantai bawah, dan sesaat kemudian mobil calon mertuaku atau sahabat appa itu datang.

Aku bersama oemma dan appa keluar untuk menyambut mereka.

Tapi sepertinya ada yang kurang.

Oh iya, di mana anak mereka yang akan di jodohkan denganku? Kenapa hanya ada Calon Appa dan Oemma mertua saja yang datang.

“Hey Ji Hoon, kau sudah datang.” Ujar Appa seraya menepuk punggung sahabatnya yang bernama Ji Hoon itu

“Seperti yang kau lihat. Oh iya ini putrimu?” Tanya Ji Hoon ahjusshi seraya menunjuk ku akupun hanya tersenyum

“Iya.” Jawab Appa

“Wah cantik sekali ya, tak salah aku memilihnya sebagai calon istri putraku.”

“Haha…” appa tertawa lepas sedang aku hanya memasang senyum di paksakan mendengar ucapan Ji Hoon ahjussi

“Oh iya ngomong-ngomong mana putramu?”

“Dia masih di jalan.”

“Oh begitu ya, kalau begitu kita masuk dulu saja ya.” Ujar Appa seraya mengajak Ji Hoon ahjusshi dan istrinya masuk ke dalam.

***

Aku duduk di sofa di samping oemmaku yang sedang berbicara dengan Yee Jin ahjumma, tch membosankan, hanya duduk mendengarkan pembicaran orang tua yang sungguh tidak penting.

Gara-gara putra Ji Hoon ahjusshi masih di jalan terpaksa kami menunggunya di ruang keluarga.

Aku duduk sambil menunduk dan memainkan jari-jariku,lama sekali sih? Kemana perginya anak Ji Hoon ahjusshi? Menyebalkan sekali sih.

Baru sesaat aku mengumpat dalam hati tiba-tiba terdengar sebuah suara seorang namja yang sudah taka sing lagi bagiku, apa benar dia? Tidak mungkin.

Aku mendongak dan ternyata benar dia orangnya. Oh Tuhan kenapa begini?

Aku bangkit dari dudukku dan menatapnya tidak percaya…

“Kau…?”

In my dream I still don’t know
my only one person
You you you you
I always imagine by myself
The one who’ll wake me up like the sunshine
Holding my hands
and looking at my eyes
The person who’ll listen to my story
Like in a drama or a movie
The person
who’ll come to me and keep me safe by my side
Come come come to me
Come closer step by step
With the image I dreamed of
Come to me
Sadness (is) bye bye bye
You’ll make me smile
I waited so long for
you you you come into my heart
aaaaaaaa oh
my wishlist
My a aaaaaaa oh
my wishlist
Secretly again today
In my dream
the person who makes me (my heart) flutter
You you you you
I’m always smiling
The person who makes me fall into a sweet imagination
I don’t know love
The person who’ll smile warmly at me
even when I’m clumsy at it (love)
With any words
that will be whispered sweetly to me
The person who’ll be the light by my side
Come come come to me, Come closer step by step
With the image I dreamed of
Come to me
Sadness (is) bye bye bye
You’ll make me smile
I waited so long for
you you you come into my heart
Just by thinking, just by drawing you
My heart flutters so much
The person who’ll love me
more than anything and anybody else
Love (is) why why why
Still in my eyes
I can’t see
When will it come to me
Come come come closer
Come closer a bit quicker
You you you come to my side
the one I’ve always waited for
aaaaaaaa oh
my wishlist
aaaaaaaa oh
my wishlist

Tbc…

Please di harap RCL kalian semua….

Mian karna ffnya makin geje *bungkuk*

Dan mian juga karna kemarin Vhii gag sempat mempublishnya hhe :D

41 Responses to “We Got Married (Part 4)”

  1. hyuna January 11, 2012 at 12:16 am #

    صدمه :|

  2. it'sme Min2 September 26, 2012 at 12:41 pm #

    sambungan dari kata kau ntu adalah ” kau telah mencuri hatiku hatikuuuuuuuuu “

  3. Nayyong December 5, 2012 at 3:11 pm #

    lanjuttkannn

  4. Miina Kim September 9, 2013 at 9:44 pm #

    akhirnya…. mereka sama2 tau….
    hahahhaaaa…..
    apa yang bakal terjadi…?
    penasaran,,,,

  5. ichiez May 8, 2014 at 12:12 pm #

    hemmm….
    sepertinya rasa cinta mulai tumbuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,475 other followers

%d bloggers like this: