Mannequin Girl (I’d Lie) Part 12

Author  : mumuturtle

Title      : Mannequin girl (I’d Lie)

Genre   : romance

Rating   : G

Length  : on going…..

Cast     :

  • Kim Min Hwa
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Choi MinHo (SHINee)
  • Kim Ki Bum (SUJU)

Other casts       : temukan sendiri…!

Disclaimer        : cerita ini hanya fiksi, apabila ada character atau plot yang sama, saya                            mohon maaf. But, this is pure my imajination. Hope you enjoy this story…

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

PREVIOUS STORY

”apa yang kau lakukan! Berikan padaku!” minhwa menelentangkan tangan kanannya meminta handphonenya di kembalikan.

”shireo! Ya! Kau mau menelpon taemin sedangkan namjachingumu ada di depanmu? Kau tak punya perasaan sekali!” seru minho sembari mengantungkan handphone minhwa ke dalam saku celananya.

”cih, kalau taemin bisa menjemputku kenapa tidak?” cibir minhwa.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minhwa dan minho-pun akhirnya memutuskan untuk pulang setelah memastikan hujan telah benar-benar reda. Meski langit malam tidak berbintang dan menandakan langit masih mendung. Mereka terpaksa harus berjalan kaki dan menempuh perjalanan panjang ke rumah minho sebelum pada akhirnya minhwa di antar pulang.

Mereka berjalan dalam diam. Minho sibuk dengan pikirannya sementara minhwa terus saja menggerutu tak karuan. Sesekali minhwa menatap minho dengan kesal yang harus membuatnya berjalan kaki. Terlebih lagi tubuhnya yang masih basa kuyup itu, membuatnya sedikit risih. Belum lagi minhwa mulai merasa peri di jari-jari kakinya—yang mungkin telah lecet. Dalam hati minhwa menggerutu kesal

Mereka terus berjalan. Suasana malam sangat hening, tentu saja karena bahkan hari sudah menjelang larut malam. Tak jarang mereka bertengkar di sepanjang perjalanan—seperti biasa yang mereka lakukan—sehingga membuat sedikit keributan di sekitar mereka.

Minhwa mengerucutkan bibirnya saat ia tak bisa lagi membalas ledekkan-ledekkan minho. Ia mempercepat langkahnya menyamakan langkah panjang minho.

Minho sesekali menghembuskan nafasnya sembari menggembungkan pipinya. Asappun seraya mengepuld dari mulutnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya. Sesekali ia bergidik kedinginan.

Mereka berdua kini diam. Hanya terdengar derapp langkah kaki mereka dan suara desahan nafas minho yang memburu. Minhwa menatap minho yang kini terdiam.

Wajah minho pucat. Bibirnya sedikit membiru. Ia menatap tubuh minho dari bawah sampai atas sembari terus berjalan. Ia baru menyadari minho hanya mengenakan kaos putih yang bisa dibilang tipis. Ia tak mengenakan satu helai penghangat tubuh di badannya dan malah memberikan jaketnya untuk dikenakan minhwa.

“kau kedinginan?” tanya minhwa sembari terus menatap minho. Minho kini menoleh dan balik menatap minhwa. Ia hanya diam mendapati minhwa yang menatapnya dengan lekat. Tak tanggung-tanggung jantungnya langsung berdegup kencang saat itu juga. Mereka berdua terhenti.

“kurasa kau harus mengenakan jaket ini.” ujar minhwa sembari melepaskankan jaket hitam yang ia kenakan.

“andwe! Kau pakai saja, tubuhmu basah!” tolak minho.

“aku tak mungkin tega melihat orang kedinginan seperti itu. kita bisa memakainya bersama.” Minhwa kini menyampirkan jaket itu ke badan tegap minho dan membuatnya harus sedikit berjnjit. Minho hanya terdiam. Apalagi saat melihat wajah minhwa yang perlahan mendekat ke arahnya.

“kau ingin kita berjalan sambil berpelukan?” goda minho sembari mengeluarkan seringaiannya. Minhwa hany mendelik.

“kau tak mau kan? Makanya pakai saja! Lagi pula aku tidak kedinginan.” Minho mengembalikan jaket itu ke tubuh minhwa. Minhwa hanya diam. Ia kembali menatap wajah minho yang pucat itu.

Minho kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Meredam rasa dingin yang sebenarnya sangat menusuk tulangnya. Tapi ia berusaha tak memperlihatkannya pada gadis di hadapannnya itu.

“bohong!” ucap minhwa. Ia menarik tangan kanan minho yang masih terselip di saku celananya. Ia memegang tangan yang sudah seperti membeku itu. sangat dingin. Bahkan dinginnya seperti bongkahan es batu di dalam pendingin.

“kalau kau tak kedinginan kenapa tanganmu membeku seperti ini?” tanya minhwa. Minho sama sekali tak bisa menjawab dan hanya bisa membungkam mulutnya.

“kajja! Sebelum hari lebih larut lagi!” ujar minhwa yang di rasakan minho berbeda. Tak seperti biasanya yang selalu menggerutu kesal pada minho, atau membentak-bentaknya tak karuan seakan minho selalu saja salah di depan matanya.

Terlebih lagi saat minhwa menggegam erat tangan kanan minho dan mmasukkannya tangan mereka ke dalam saku jaket yang kini di kenakan oleh minhwa. Hal itu sempat membuat jantungnya berdegup tak karuan dan melonjak-lonjak girang. Bahkan kini ia tak tahu harus bersikap bagaimana.

“apakah ini yang selalu di rasakan taemin?” batin minho

~15 menit kemudian.

“aigoo!!! Jinjja! Capek sekali, kaki rasanya mau patah! Omo!!” rajuk minhwa dan menghentikan langkahnya membuat minho juga harus ikut berhenti. Tangan mereka masih bertautan di dalam saku jaket tersebut.Minho menatap wajah minhwa yangtampak kusut dan sedang mengerucutkan bibirnya itu. sepertinya minhwa memang benar-benar kelelahan.

“minho~ya, aku lelah! Apa masih jauh? Kakiku perih sekali, sepertinya lecet!” minhwa meringis menahan rasa perih yang dirasakannya.

“sebentar lagi sampai!” ujar miho berusaha bersikap dingin sepertibiasanya. Meskipun sekarang sebenarnya hatinya sangat ingin bersikap lembut pada minhwa.

Minhwa kembali mendengus kesal. Minhopun melepaskan tangannya yang masih digenggam erat oleh minhwa. Ia kini berjongkok di depan minhwa membuat minhwa tertegun. Apa-apaan yang dilakukan anak ini? batin minhwa.

“naiklah kepunggungku!” ujar minho. Minhwa membelalakanmatanya melihat minho yang kini berongkok bersiap untuk menggendongnya.

“kau..”

“cepat naik seblum hujan turun lagi!” seru minho yang sedikit membentak. Tapi sebnarnya minho tak bermaksud untuk membenta. Ia hanya sedang menyembunyikan kegugupannya.

Minhwapun akhirya berjalan mendekat dengan ragu. Ia mulai melingkarkan kedua tanganya pada leher minho dan mendekapnya erat. Minho mulai berdiri dan menggendng minhwa semetara minhwa terus mndekap erat minho. Minho bisa merasaan deru nafas minhwa di tengkuknya. Wajahnya seketika itu memerah dan ia merasa hawa panas ulai menggerayangi tubuhnya.

“kenapa wajamu memerah?” ujar minhwa di tengah perjalana.

“a… a… aku…” minho tergagap. Bingng harus dengan apa ia menutupi perasaannya ini.

“aahh.. ara ara. Kau pasti sudah mulai merasa hangat kan? Seharusnya aku meyuruhmumenggendongku dari tadi.” Ujar minhwa. Minh hanya tersenyum simpul mendengar spekulasi minhwa itu.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

MINHO POV

Setelah aku sampai di depan gerbang rumahku, aku menurunkan minhwa dari punggungku. aku menatap minhwa yang masih membenahi roknya yang basah itu.

“huuffftt!!” aku menghembuskan nafas pnjang. Bukan karena kelelahan—karena jujur tubuh minhwa ta seberat yang kukira—melainkan menghilangkan rasa gugupku. Aku masih saja bisa merasakan hembusan nafas minhwa yangbeberapa saat lalu membuat tengkukku menegang.

Aku membuka pagar rumah dengan cepat dan mempersilahkan minhwa untuk masuk.

“omma!!” panggilku pada ommaku.

“ne minho~ya! Kenapa kau pulang larut begini?” kulihat sosok paruh baya turun dari tangga dan menghampiri kami.

Tepat seperti dugaanku sebelumnya. Omma pasti akan terkejut melihat aku membawa seorang gadis masuk ke dalam rumah ini. belum lagi ini sudah larut malam dan keadaan kami yang basa kuyup.

Minhwa menyikut lenganku. Sepertinya ia kebingungan harus bersikap bagaimana pada ommaku. Tapi aku hanya menatapnya seolah mengatakan untuk tenang.

“siapa gadis ini?” tanya omma saat ia telah sampai di depan kami. Omma menatap minhwa terlebih dahulu sebelum beralih menatapku.

“kim min hwa imnida!” minhwa memperkenalkan dirinya sembari membungkuk hormat. Sedangkan omma masih saja menatapku penuh tanya. Ia seakan tak suka melihatku embawa seorang gadis.

“nae yeojachingu!” ujarku. Omma mengerutkan keningnya.

Omma pasti masih saja mencurigaiku. Aku dulu memang selalu membawa seorang gadis keluar masuk rumah ini. dan gadis-gadis itu pun berbeda satu sama lain. Aku memang tak pernah serius dengan menjalin hubungan dan omma mengetahui kebiasaan burukku itu.

Jadi jelas saja jika ia menatap minhwa dengan cara meremehkan seperti itu.

“yeojachingu?” omma menatap minhwad ri atas sampai bawah.

Minhwa menatapku seakan meminta bantuan bagaimana ia  harus menjelaskan pada ommaku. Tapi aku hanya diam saja.

“ne, aku pacarnya minho.” Ujar minhwa terbata-bata. Mungkin karena ia terlalu gugup.

“baiklah! Keringkan badan kalian dulu!” titah omma dan menuju ke dapur.

Aku menggamit minhwa dan mengajaknya untuk ke kamarku. Ia hanya menurutiku.

“kurasa ommamu tak suka denganku.” Minhwa terdengar seperti kecewa.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Aku mencari sebuah nama dari deretan nama di ponselku. Saat aku melihat nama “kim ki bum” terlah kutemukan, aku segera menghubunginya. Aku mendekatkan ponselku ke dekat telingaku.

“yeoboseyo? Hyung, ini aku minho. Minhwa ada di rumahku! Karena hujan deras jadi kurasa sebaiknya ia menginap di rumahku. Ne hyung, gokjongma! Aku tak akan berbuat macam-macam. Annyeong.”

Aku meletakkan ponselku di atas meja.

Hujan kini kembali turun. Bahkan lebih deras dari sebelumnya. Petir yang menyambar dimana-mana juga menyertai hujan itu. kurasa akan ada badai malam ini.

Klekk…

Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Sontak aku menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dan benar saja. Sosok gadis keluar dari dalam dengan kaki yang tanpa alas.

Aku sedikit mendelikkan mataku saat kini minhwa berdiri tiga meter dari ku. Aku menatapnya dari atas sampai bawah berulang-ulang memastikan mataku bahwa aku tak salah lihat.

Jantungku kembali berdetak tak karuan. Aku menelan ludahku dengan susah payah.

Minhwa menundukkan kepalanya. Rambutnya yang setengah basah itu tergerai. Ia mengenakan kemeja putih milikku. Aku tak tahu baju apa yang harus kuberikan untuk ia kenakan. Dan alhasil, baju itu memang tampak kebesaran di tubuh minhwa. Ia menggelung lengannya agar tidak menjuntai panjang. Dan beruntungnya kemeja itu mampu menutupi tubuhnya sampai setengah paha.

Naluri lelakiku tak bisa menolak jika dipertontonkan pemandangan indah seperti itu. tanpa sadar aku menatap pahan putih mulusnya yang hanya tertutup setengah itu. menuju kebawah ke kaki jenjangnya yang indah itu. jika saja aku sudah tak punya akal sehat mungkin aku sudah menidurinya sekarang juga.

“ehem.” Aku berdeham berusaha memulihkan ke adaan.

“aku sudah menelpon ki bum hyung.” Ujarku. Aku kembali mengambil ponselku dan memencet-mencet tombol tanpa maksud. Aku hanya berniat untuk mengalihkan pandanganku saja.

“kau sudah menelponnya?”

“ne. aku sudah menelponnya dan bilang jika kau akan menginap disini.” Ujarku apa adanya. Aku kembali menelan ludahku saat aku merasa ia mulai berjalan mendekat ke arahku.

“mwo? Jadi kau tak akan mengantarku pulang?” tanyanya.

“kau tak lihat! Diluar hujan turun lagi! Dan sepertinya aka nada badai! Sudah jangan membatah!” bentakku. Aku menghela nafas panjang.

Bisakah ia menjauh dari ku sekarang? aku benar-benar panas sekarang.

“minho~ya!” panggilnya dengan suara lirih. Aku memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku. Menarik anfas panjang dan memberanikan diri untuk menatapnya.

Minhwa kini tertunduk. Rambut panjangnya itu menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya dari tadi terus saja menarik-narik ujung bajunya seakan berusaha menutupi seluruh bagian kakinya.

“mwo?”

“chogi…” ia mendongak dan menatapku. “apa… tak ada pakaian lain… yang bisa… kukenakan?”

Aku menatapnya yang kini mulai tertunduk lagi. Wajahnya mulai memerah saat ini. mungkin ia malu harus mengenakan pakaian pendek seperti itu. apa lagi kini ia berada satu kamar dengan seorang laki-laki.

“eopseo!” jawabku. Kulihat ia mengerucutkan bibirnya yang membuatku sedikit gemas.

Aku menatapnya lagi. Dari atas sampai bawah seakan mengintimidasinya. Kulihat jemari kakinya yang dimainkannya. Terdapat beberapa luka disana. Ternyata kakinya benar-benar terluka karena berjalan sangat jauh.

“duduklah! Aku akan mngobati lukamu.” Perintahku.

Ia hanya menuruti perintahku dan duduk di tepi ranjangku. Ia mengayun-ayunkan kakinya layaknya anak kecil. Lalu aku mendekatinya.

Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan pribadiku ini. ia juga sempat mengamati beberapa fotoku yang terpajang.

Aku berhenti di depannya. Ia menatapku begitu juga sebaliknya. Lalu aku menopangkan tanganku di sisinya, meminimalisasi jarak antara wajahku dengannya. Ia memebelalakkan matanya trkejut. Aku terus merangsek ke depan membuatnya semakin terpojok.

Perlahan ia ikut mundur beriringan dengan tubuhku yang terus mendekatinya. Kini ia berbaring dan tubuhku berada tepat di atasnya. Jika saja aku tak bisa mengendalikan kerja sarafku mungkin sekarang aku sudah menyentuhnya.

“apa yang… kau… lakukan, minho~ya?” tanyanya. Kurasa ia sangat ketakutan sehingga ia berbicarasaja sampai terbata-bata.

Aku menyeringai.

“aku ingin mengambil kotak obat di atas nakas.” Ujar dan mengulurkan tanganku meraih kotak obat di atas nakas tersebut. Minhwa sepertinya kebingungan.

Ia segera menegakkan tubuhnya setelah aku menjauh darinya. ia menatapku kesal yang sedang berjongkok mempersiapkan alhokol, betadine, dan kapas untuk mengobatinya.

Aku hanya terkekeh kecil.

“ya! Ternyata tubuhmu bagus juga.” Godaku sembari mulai mengobati lukanya.

“mwo?”

Aku menatapnya dan tersenyum nakal.

“tubuhmu. Kau terlihat seksi. Apa lagi dengan baju yang sangat pendek itu.”

“ya! Awas saja jika macam-macam denganku.”ancamnya.

“tenang saja, aku akan melakukannya saat kita resmi menikah!” godaku lagi. Kurasa sekarang ia sudah sangat kesal denganku. Entah mengapa membuatnya kesal sangat menyenangkan untukku. apa lagi jika melihatnya yang sedang mengerucutkan bibirnya. Lucu.

“mwo? Memangnya kita akan menikah? Aaawww…. Sakit!” ia meringis kesakitan.

Kurasa aku terlalu kasar mengobatinya.

“tentu saja. Nah selesai.” Ucapku setelah selesai memasangkan plaster pada luka di kakinya.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk kecil berwarna putih yang tersampir di leherku. aku menatap pantulan diriku di cermin dan terus menggosok-gosok rambutku.

Aku menatap cermin lagi dan melihat sosok gadis yang aku cintai sedang tertidur pulas di ranjangku. Ia tertidur memunggungiku.

Kleeekk…

Aku menatap kea rah pintu kamar saat mendengar uara pintu yang terbuka. Pintu itu terbuka perlahan dan sebuah kepala muncul terlebih dahulu.

“omma?”

Ternyata omma.

Omma lantas masuk ke dalam kamarku. Ia mendekatiku sembari tersenyum. Aku sudah bisa menebak apa yang akan omma lakukan sekarang. pasti ia akan menanyakan perihal keseriusan hubunganku dengan minhwa.

“ia sudah tidur?” tanya omma dan hanya kubalas dengan anggukan.

Kulihat omma kini berjalan menuju almari yang ada di sudut kamar. Ia membuka almari itu dan mengeluarkan dua buah selimut juga satu bantal dari sana. Ia memberikan bantal dan satu selimut itu kepadaku.

Ia kemudian berjalan mendekati minhwa. Disibakkannya selimut itu dan menyelimuti minhwa yang sedang tertidur pulas. Kini omma duduk di tepi ranjang sembari menatap gadis itu.

“apa kau serius dengan hubunganmu kali ini?” ujar omma tanpa mengalihkan pandangannya. Kini ia bahkan mengusap lembut pipi minhwa.

“ne, aku serius. Aku benar-benar mencintainya omma.” Ujarku mantab.

Aku memang benar-benar serius kali ini. aku sudah bukan minho yang memainkan wanitalagi. Aku bukan minho yang selalu berganti-ganti pacar setiap harinya. Aku bukan minho yang selalu saja menyampakkan wanita dengan mudahnya setelah menyampaikan kata-kata manis. Aku bukan minho yang dulu lagi, semenjak mengenal minhwa.

“nomu yeppuda!” puji omma sembari tersenyum menatap minhwa.

“ne, nomu yeppo.”

“geurae, jaga baik-baik cintamu!” ujar omma lalu meninggalkan ku di kamar ini.

Aku menatap kepergian omma. Setelah memastikan pintu kamarku telah tertutup rapat, aku mendekati ranjang tempat minhwa tertidur. Aku duduk di tepi ranjang itu sembari menatap wajah polosnya yang sedang tertidur pula situ.

“saranghae!” gumamku sembari mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.

Drrrttt… drrttt… kudengar sebuah ponsel yang bergetar. Aku melirik menatap ponsel minhwa yang menyala-nyala tanda sebuah panggilan masuk. Aku mengambilnya dan menatap nama penelpon itu.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

MINHWA POV

Aku membuka pintu rumah dengan cepat setelah segera turun dari mobil minho. Kulirik ke belakang. Mobilnya masih berada di sana. Apa ia menungguku untuk masuk ke dalam rumah?

Huhhh….

Aku menhembuskan nafas panjang. Aku benar-benar tak mengerti dengan isi otakku. Bagaimana bisa aku tidur bermalam di rumah seorang pria. Lebih-lebih lagi pria ini bukan sahabat dekat apalagi—pacarku! Aku juga malu setengah mati harus mengenakan pakaian pendek seperti tadi malam di depan minho. (–3—)

Aku melangkahkan kakiku mulai memasuki pelataran rumahku. Aku melihat sebuah mobil van yang sudah terlihat butut terparkir di garasi rumah. Itu berarti Appa ada di rumah.

Aku memasuki rumah dan menadapati mereka ada di ruang tamu. Mereka yang akhir-akhir ini menjadikan hidupku indah tapi—lebih banyak—menyakitkan.

“aku pulang appa!” sapaku saat melihat appa yang tersenyum padaku. Aku mengalihkan pandanganku.

Jujur aku merindukan pandangan teduh appa itu. aku sangat merindukan saat ia menatapku lekat dan memanjakanku seperti itu. aku ingin sekali memeluknya dan menangis sejadinya melepas kerinduan. Tapi beriringan saat aku melihat wanita itu duduk di samping appa rasa rinduku itu memudar dan berganti dengan kebencian.

Aku melenggang lagi mengabaikan wanita yang sedang menimang anaknya—dan dengan berat hati aku mengabaikan appa.

“minhwa~ya!” panggil appa dan membuat langkahku terhenti.

Suara paraunya itu sangat menyentuh hatiku. Tenggorokanku tercekat begitu saja setelah mendengar suara itu. suara itu mampu membuatku menahan tangis sekarang.

Aku mengepalkan tanganku. Memberanikan diri menatap mereka.

“kau menginap di rumah pacarmu?” tanya appa lembut. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan, karena aku yakin jika aku bersuara aku tak akan memapu menahan tangisku lagi.

“sepertinya dia anak yang baik. Kau pasti sangat menyayanginya.” Ujarnya sembari tersenyum lebih lebar.

Aku hanya tersenyum tipis. Aku menundukkan kepalaku. Kalau saja appa tau dia memaksaku apa ia akan mengatakan hal seperti itu juga?

“ah.. kau sudah makan minhwa~ya? Aku akan menyiapkanmu makanan.” Ujar suara seorang wanita yang mampu membuat senyum yang tadi kupaksakan memudar.

Aku menatap sosok wanita yang kini juga menatapku. Tangannya menggenggam lemah tangan mungil bayi digendongannya.

Hatiku seperti tertumbuk pinggiran meja saat ini. sakit sekali. Aku ingin sekali pergi dan tak mau lagi berhadapan dengan wanita itu. jika boleh memilih aku ingin menjorokkannya. Aku tak ingin menatapnya seperti ini.

Tapi aku sadar appa ada di sana. Meski aku memendam benci yang teramat dalam pada wanita itu tapi aku tahu jika aku bersikap dingin pada wanita itu itu akan membuat apa sakit hati. dan aku tak ingin membalaskan kesakit hatianku ini pada appa. Aku tak ingin appa merasakannya. Karena aku yakin, appa dan omma berpisah karena kehadiran wanita itu. jika saja wanita itu tak hadir aku yakin smapai saat ini omma masih berada bersamaku disini. Bercengkrama bersama sekeluarga. Dan tawa-tawa bahagia akan memenuhi rumah ini.

“aku sudah makan tadi. Gokjeongma… ahjumma!” ujarku yang sebisa mungkin kubuat lembut.

“aku ke kamar dulu!”  lanjutku.

“chamkanman!” seru ayah membuatku terhenti lagi. Nada bicaranya kini berubah. Tidak selembut pada awalnya tadi.

“minhwa~ya, kenapa kau masih memanggil marisha dengan sebutan ‘ahjumma’?” tanya appa sembari menghempiriku.

Aku memakukan pandanganku pada appa yang berjalan mendekatiku. Perasaan rinduku benar-benar bergejolak sekarang. terlebih lagi saat mendapati appa yang berada sangat dekat denganku. Tapi aku berusaha sekuat mungkin menahannya. Aku tak ingin terlihat lemah.

“wae? Memang seharusnya aku memanggilnya seperti itu, kan?” aku mencoba tersenyum pada appa.

Kini ia mengulurkan tangannya, membelai lembut pipiku. Aku menundukkan kepalaku, memejamkan  mataku, merasakan sensasi yang kurasakan saat appa membelaiku penuh kasih sayang. Sesuatu yang selama ini sangat ingin kudapatkan darinya. hanya ini yang ingin kudapatkan. Tak lebih.

“tapi dia itu ommamu!” ujarnya.

Aku membuka mataku. Mendengar perkataan appa yang mengatakan jika wanita yang kini masih duduk di sofa menatap kami—aku dan appa—adalah ommaku benar-benar membuat batu kebencian dihatiku yang semula hilang kembali menyeruak. Bahkan lebih menyebarkan rasa kebencian itu hingga seluruh aliran darahku yang terkecil.

“mwo? Nae omma?” aku menatap appaku tajam. Appa hanya menganggukkan kepalanya dan kini beralih mengusap lembut rambutku.

Aku menepis tangan appa. Appa tampak terkejut dengan kelakuanku.

“wanita itu bukan ibuku! Aku tak akan pernah menganggapnya ibuku sampai kapanpun. Aku tak sudi memanggil wanita itu dengan sebutan ‘omma’ sekalipun.” Ujarku penuh penekanan.

Kini air mataku sudah tak bisa untuk ku bending lagi. Aku kini menangis. Meski aku berusaha menahan isak tangisku tapi aku tak bisa menahan air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk mataku.

“minhwa~ya!” lirih wanita itu.

Sementara appa menatapku tajam. Mungkin ia marah padaku yang telah membenci wanita kesayangan appa itu. tapi aku akan tetap pada pendirianku untuk tidak memanggilnya omma. Meski appa memukulku sekalipun.

“APA YANG KAU KATAKAN? DIA ITU OMMAMU!!” bentak appa. Aku memejamkan mataku mendengar bentakan appa itu.

Tangisku semakin dalam dan aku menggigit bibir bawahku dengan kuat. Kurasakan asin di mulutku saat darah keluar dari bibirku yang kugigit itu mulai robek.

“ANI!! Dia bukan ommaku, appa. Ommaku hanya satu. HANYA SATU!!”

“YA!!”

“bahkan appa lebih membela wanita itu dari pada anakmu yang lebih lama bersamamu? iya? Apa lebih memilih wanita itu?” tanyaku.

Appa hanya diam. Aku lihat appa mengepalkan tangannya. Mungkin ia sedang meredam keinginannya untuk menamparku yang telah berkata kurang mengenakkan ini.

Aku segera berlari dengan cepat menuju kamarku. Kubuka pintu kamarku dengan cepat dan membantingnya.

Aku bersandar pada pintu. Aku menutup mulutku agar isak tangisku tak terdengar. Perlahan tubuhku merusut hingga berjongkok di lantai.

“kau bahkan tak berusaha menenangkan tangisku?” ujarku lirih dengan isak tangis di sela-selanya.

Aku menenggelamkan kepalaku dan menangis sejadi-jadinya.

Mungkin ini memang bukan hal yang kuinginkan. Melihat appa marah bahkan sampai membentak dan ingin memukulku. Membuat appa marah bukanlah hal yang kuinginkan. Akan tetapi di samping itu, memanggil wanita itu ‘omma’ juga hal yang sangat kubenci.

Aku tak sudi mengatakannya.

Apa yang harus kulakukan? Mana yang harus kupilih?

Aku tak bisa menghilangkan rasa kebencian ini. rasanya seperti sudah mendarah daging di dalam tubuhku.

Aku berbohong jika aku senang melihat appa sakit hati seperti itu. aku berbohong jika aku dengan gampangnya membentak appa. Aku berbohong jika aku mengatakan aku tak rindu pada appa. Dan aku berbohong jika aku mengatakan tak ingin memeluknya atau bahkan tak menikmati belaiannya.

Bahkan sampai saat ini aku belum memeluknya. Aku belum bisa melepaskan kerinduanku semua karena kebencianku yang terlalu mendalam pada wanita itu.

Kenapa wanita itu harus datang?

Haruskah aku untuk mengakhirinya?

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

AUTHOR POV

Ruangan itu remang-remang. Hanya di terangi lampu kecil yang berada di nakas juga lempu belajar. Sayup-sayup terdengar suara dua benda yang sedang beradu.

Tok… tok…

Gadis it uterus menulis dengan cepat tak menghiraukan waktu yang sudah larut juga pegal-pegal di tangannya. Ia masih setia menekuni lembar kerja fisika miliknya.

Berulang kali ia menepuk-nepuk pela pipinya agar ia tersadar dari rasa ngantuk yang menderanya. Wajah gadis itu sangat sayu, bahkan terlihat lelah di bawah lampu belajar yang berada dekat dengannya itu.

“aaahhh… aku capek sekali.” Keluh gadis itu sambil merenggangkan kedua tangannya.

Ia menyandarkan tubuhnya pada badan kursi kayu yang didudukinya.

Ia melirik kea rah ponselnya yang diletakkannya tak jauh dari tempatnya. Di amatinya layar ponsel tersebut. Seberkas senyuman terulas di wajahnya.

Minhwa~ya, apa kau sudah tidur?

Hanya itu pesan singkat yang di terimanya. Namun mampu membuatnya tersenyum melihat sang pengirim adalah sosok namja bernama Lee Taemin. Ia segera membalas pesan tersebut.

Ia mulai berkutat lagi dengan pekerjaannya. Sesekali ia menggigit pensilnya seraya memikirkan rumus-rumus fisika yang lalu lalang di pikirannya. Ia juga melirik ponselnya berulang-ulang, cemas menunggu balasan.

Drrrtt… drrrtt…

Ponsel itu kembarli bergetar. Namun kali ini buka sebuah pesan masuk, melainkan panggilan masuk. Minhwa segera menerima panggilan itu.

“yeoboseyo taemin~ah?” ujarnya pada penelpon itu.

“kau belum tidur?” tanya taemin.

“O! seperti yang aku katakana di pesan tadi. Ada apa taemin~ah?” tanya minhwa sembari menyambi obrolannya dengan mengamati beberapa soal yang belum selesai di kerjakannya.

“apa harus ada alasan untukku menelponmu?”

“mwo? Tentu saja tidak. Kau bisa menelpon ku kapan saja taemin~ah. Hanya saja, kenapa kau meneleponku malam-malam begini?”  minhwa merasa tidak enka pada taemin. Ia mulai kembali menuliskan beberapa angka dan huruf di lembar jawab itu.

“apa aku mengganggumu?”

“tidak. Aku sedang bebas, tenang saja.” Ujar minhwa berbohong.

Bohong sekali jika ia mengatakan sedang bebas. Sudah jelas sekarang ia sedang memeras otak untuk mengerjakan soal perihal pelajaran yang sangat tak disukainya. Ia juga bahkan menahan kantuknya.

“baiklah, sebenarnya aku ingin bertanya. Kemana kau tengah malam kemarin?” tanya taemin dan membuat minhwa menghentikan kegiatan menulisnya.

Ia menatap heran soal yang ada di hadapannya. Bukan heran dengan soal yang memmbingungkan itu—karena itu sudah biasa untuknya. Melainkan heran dengan pertanyaan taemin itu.

“mwo? Memangnya kenapa?” minhwa balas bertanya.

“tak apa. Hanya saja, saat tengah malam kemarin aku menelponmu… yang mengangkatnya adalah… minho hyung.” Ucap taemin dan sontak membuat minhwa tersentak.

Minhwa memutar bola matanya. Ia sama sekali tak tahu menahu soal telpon dari taemin tengah malam itu. minho sama sekali tak menceritakan apapun tentang itu. apa minho sengaja menyembunyikannya?

“benarkah?”

“ne. jadi kau semalam bersama minho hyung? Sampai tengah malam? Eodi e ga?”

Minhwa mengerutkan keningnya. Ia kini memutar otaknya dan memusnahkan segala rumus-rumus di dalamnya dan mencari-cari jawaban apa yang tepat untuk menjelaskan ini semua.

Kleekk…

“minhwa~ya!” suara pintu terbuka beriringan dengan suara berat seseorang yang di kenalnya. Oppanya.

Minhwa menatap pintu kamar yang perlahan terbuka itu.

“chogi taemin~ah, aku akan menjelaskannya besok. Annyeong!” minhwa segera menutup telponnya itu.

Minhwa kembali berkutat pada pekerjaannya meskipun dengan sedikit gelagapan. Kini berbagai pikiran berkelebat di pikirannya. Ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan sesuatu di hadapannya kali ini.

“minhwa~ya, kau belum tidur?” ujar ki bum yang berdiri di ambang pintu.

“sebentar lagi oppa!” seru minhwa sembari tersenyum pada oppanya.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Suasana kelas itu sangat ramai. Siswa-siswi di sana bergegas membereskan buku-buku mereka dan  berlarian keluar kelas. Canda tawa mereka juga menggema di ruangan kelas tersebut.

Minhwa menyampirkan tas punggungnya. Ia berdiri dari tempat duduknya lalu menatap lelaki yang satu bangku dengannya, yang sedang membereskan buku-bukunya.

“kau ada ekskul hari ini?” tanya lelaki itu sembari mendongak menatap gadis di sampingnya. Mata belo-nya itu menatap lembut ke arah gadis itu.

Minhwa mengangguk, “ne, aku ada ekskul sekarang.”

“aku juga ada latihan basket hari ini. kalau begitu setelah selesai aku akan menunggumu didepan. Ara?” titah lelaki itu sembari kembali memngecek isi tasnya. Takut jika ada barang yang tertinggal.

Minhwa memutar bola matanya. Ia mengeratkan pegangannya pada tali tasnya sembari berkacak pinggang.

“ya! Minho~ya! Kalaupun aku menolaknya pasti percuma kan? Karena kau akan terus memaksaku! Jadi terserah kau saja!”  ujar minhwa sembari menaikkan salah satu alisnya.

Minho hanya tersenyum mendengar kata-kata gadisnya itu. sepertinya minhwa mulai mengerti sikap minho.

Minho bangkit dari duduknya dan mengangguk menanggapi pernyataan minhwa barusan.

“a! chogi, apa saat aku dirumahmu ada yang menelponku saat aku tertidur?”  tanya minhwa setengah berbisik.

Ia tak ingin jika ada anak kelasnya yang mendengar bahwa minhwa pernah bermalam di rumah minho, bahkan di kamar minho!

Minho hanya menggeleng dan di sambut dengan kerutan kening minhwa. Minhwa seperti memikirkan sesuatu tentang telpon taemin semalam. Tapi ia berusaha mengabaikannya dan berlalu menuju ruang seni.

Sebenarnya ia tak ingin minho tau jika mereka bertelponan semalam, meskipun ia agak sedikit marah akrena minho telah berbohong padanya soal telpon itu.

Sementara itu, minho hanya berdiri menatap kepergian kekasihnya itu. dalam hati ia meminta maaf karena teah berbohong. Ia melakukannya hanya agar minhwa tak lepas dari genggamannya.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Di ruang seni…

Gadis berambut ikal itu tengah membereskan peralatan melukisnya. Ia memasukkan kuas-kuas kotor dan palet yang telah digunakannya ekdalam sebuah plastic hitam, lalu memasukkannya ke dalam tasnya.

Ia menyampirkan tasnya hendak keluar dari ruang seni itu, tapi sebuah tangan menghentikannya. Ia menoleh mendapati lelaki yang selalu duduk bersebelahan dengannya itu menatapnya lekat.

“bisakah kau temani aku disini, minhwa?” tanya lelaki berambut pirang itu dengan sopan.

Gadis yang ditanyai justru menaikkan salah satu alisnya. Tapi sedetik kemudian ia mengangguk.

Ia kembali duduk di tempatnya. Ia menatap lelaki di sampingnya seraya menunggu apa yang di perlukan oleh lelaki itu atau apa yang hendak di becarakan.

Akan tetapi lelaki itu hanya diam sembari membereskan peralatannya. Ia hanya mengulur waktu. Menunggu  hingga ruangan itu sepi untuk mereka berdua, sehingga mereka akan leluasa berbincang.

“kau belum menjawabku semalam, kemana kau semalam?” tanya taemin sembari berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan itu dan menatap beberapa lukisan yang bertumpuk di depan. Ia mengangkat satu persatu lukisan di sana menatapnya cermat.

“aku…”

“kau di rumah minho hyung? Matchi?” tanya taemin memotong perkataan minhwa.

Minhwa menatap taemin yang berdiri memunggunginya dua meter di sana. Lalu ia menundukkan kembali kepalanya saat taemin membalikkan tubuhnya menghadapnya.

Minhwa mengangguk pasrah. Ia layaknya anak kecil yang pasrah dengan hukuman yang akan di berikan ayahnya. Ia menatap taemin yang juga tengah menatapnya.

“berarti kau menginap disana? Aku sedikit kecewa.”ujarnya. meskipun terdapat senyum di akhir kalimatnya, tapi nada berbicaranya tampak sekali jika ia sangat kecewa.

Minhwa mengernyitkan dahinya. Di angkatnya tubuhnya hingga berdiri lalu melangkah mendekati taemin.

Minhwa menghembuskan nafas panjangnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Wajahnya merona saat ia merasakan sentuhan hangat tangan taemin di pipi kanannya.

Taemin menatap minhwa dengan lembut. Dan mampu membuat kaki gadis itu lemas. Sama halnya dengan taemin yang harus menahan hasratnya untuk memiliki gadis di depannya ini.

Ia tak bisa memungkiri. Bahwa ia ingin sekali mencium lembut bibir pink gadis itu. ia ingin setiap saat bisa menggenggap erat tangan gadis itu. ia ingin bisa selalu menjadi sandarannya saat menangis. Ia ingin bisa memeluk dengan leluasa dan meluapkan rasa sayangnya.

Tapi ia tak mungkin melakukannya.

“saranghae!” ujar taemin lembut dan membuat minhwa sedikit tersentak. Minhwa menggigit bibir bawahnya, menahan agar mulutnya tak mengerluarkan kata-kata yang mengartikan jika ia juga mencintai pria di depannya itu.

Ia sadar betul posisinya masih belum memungkinkan untuk membalas perasaan taemin. Mungkin bisa saja ia mendua. Tapi ia tak mau harus terus berbohong lagi. Kehidupannya sudah penuh dengan kebohongan atas kematian ibunya dan ia tak ingin lebih menambah daftar keboohongan yangmemajng sudah memanjang itu.

“araseo! Kau sudah pernah mengatakannya. Tapi…” minhwa menggantungkan kalimatnya.

Minhwa menatap lantai keramik putih di bawahnya. Keramik yang banyak terdapat noda-noda cat minyak di mana-mana.

“tapi kau sudah menjadi milik minho hyung!” taemin melanjutkannya.

Minhwa mendongak seketika. Ditatapnya taemin yang sedang tersenyum masam itu. memang itu yang akan dikatakan minhwa, tapi ia tak berniat untuk mengataan bawah ia telah menjadi milik minho.

TIDAK!! Teriak minhwa dalam hatinya.

“chogi… sebenarnya aku dan minho…” minhwaberpikir sejenak. Taemin menatap minhwa penasaran. “sebenarnya aku tak mencintainya!” lanjut minhwa dengan cepat dan setengah berteriak.

Taemin sedikit terkejut tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Meskipun hatinya saat ini ingin sekali melonjak karena ia masih harapan tapi ia tetap berusaha berpikir mungkin saja minhwa hanya menghiburnya yang sedang patah hati. drrrttt… handphonenya berdering. Kali ini bukan pesan masuk melainkan sebuah telepon. Taemin bergantian menatap minhwa dan handphonenya.

“chamkanman!”

Taemin pergi menjauh. Kesudut ruang seni yang sekiranya jauh dari pendengaran minhwa. Ia menoleh menatap minhwa yang sedang tertunduk. Di tekannya tombol hijau pada permukaan handphonenya dan medekatkannya pada telinganya.

“yeoboseyo?” sapa taemin. Nadanya sangat canggung. Jantung taemin berdetak tak karuan saat mendengar suara di seberang menyahuti sapaannya. Ada tatapan rindu yang berbinar di matanya.

“aku makan dengan baik disini. Tenang saja. Ne, nado bogoshipo! Huum… baiklah kalau begitu, aku masih ada urusan. Annyeong, jin~ah!” taemin memutuskan sambungan telpon itu.

Ia mendesah tertahan. Di tatap nya layar ponselnya dengan sayu. Lalu ia kembali menghampiri minhwa dan berusaha tersenyum meski hatinya tak mengatakan seperti itu. ia menatap minhwa lekat.

“aku tak mencintainya.” Ulang minhwa lagi. Minhwa mendesah pelan dan bersandar pada meja di belakangnya. “nuguya?”

“bukan siapa-siapa. Cepat jelaskan padaku!” seru taemin sembari mengangkat tubuh ramping minhwa hingga ia duduk di meja yang menjadi sandarannya tadi. Taemin bertopang pada meja di depannya itu, sembari menatap minhwa lekat meminta penjelasan.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Seorang lelaki bertubuh jangkung itu tengah memasukan handuk kecilnya kedalam tas sampirnya. Beberapa lelaki masih bertelanjang dada di dalam ruang ganti tersebut. Tawa mereka membahana di ruangan yang remang-remang itu.

Tapi tidak dengan minho, ia seperti tak ingin membuang waktunya. Ia segera mengenakan kemejanya dan mengancingkannya dengan cepat. Setelah semuanya terkancing rapi, ia menyampirkan tasnya pada bahunya dan berlari keluar ruangan itu.

“ya! Aku duluan!” teriaknya pada teman-teman se-tim basketnya itu.

Ia segera keluar dari gedung sekolah itu dan menuju ke tempat parkiran di mana mereka berjanji untuk pulang bersama. Ia menekan sebuah tombol pada remot kecil di tangannya dan seketika sebuah mobil berwarna hitam berkedip.

Ia membuka pintu mobil itu dan masuk pada tempat kemudi. Ia mengambil ponselnya dari balik celana bahan yang dikenakannya. Di tekannya satu tombol lalu sebuah foto—sebagai wallpapernya—terlihat.

Minho tersenyum menatap wanita itu. wanita yang tersenyum hingga matanya membentuk seperti bulan sabit. Rambut ikal panjangnya tergerai dan dihiasi sebuah pita di samping kirinya. Ia mengusap wanita dalam layar ponselnya itu sembari terus tersenyum.

Dialihkannya pandangan menatap gedung yang beranjak sepi itu. ia melirik kea rah jam tangan berwarna biru yang melingkar di tangannya. Sudah sepuluh menit ia menunggu. Seharusnya ekskul melukis sudah selesai. Tapi kemana wanita itu?

Ia pun memutuskan untuk menghubunginya.

“aish… mailbox!” umpatnya saat ia mendengar suara operator dari seberang ponselnya.

Iapun membuka pintu mobilnya dan melangkah kembali memasuki gedung sekolah itu.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

“jadi saat itu ia menyatakan perasaannya padamu, tapi kau tak menjawabnya sama sekali?” tanya taemin memastikan.

Ia menatap gadis di hadapannya itu cemas. Paru-parunya seperti terikat sebuah tali tambang hingga tak memungkinkan untuknya bernafas. Lalu gadis di hadapannya itu mengangguk. Akhirnya ia bisa bernafas lega.

“aku tak menjawabnya. Tapi ia malah menarikku ke aula dan mengaku jika kami resmi pacaran. Padahal sama sekali tidak.” Ujar minhwa dan kini ia mengerucutkan bibirnya.

Taemin tersenyum melihat gadis yang di pujanya itu kini tampak menggemaskan.

“lantas kenapa kau diam saja saat ia menciummu di aula? Bukankah kau tak mencintainya?” taemin kembali bertanya.

Minhwa menatap taemin dengan matanya yang sedikit membesar. Ia merasa seperti di introgasi sekarang. tapi ia tetap dengan senang hati menjawab, demi mengklarifikasikan semuanya pada taemin—selaku namja yang dicintainya.

“ANI! Kami tak berciuman waktu itu. ia hanya… mencium pipiku saja. Aku kesal sekali saat itu. ia bahkan menganggapiku sebagai pacarnya sanpai saat ini, membuatku susah untuk mengklarifikasikannya!” gerutu gadis itu.

Taemin seketika itu tersenyum. Wajahnya merona merah mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.

“jadi, aku orang pertama yang menciummu?” tanya taemin sembari menunjuk bibirnya sendiri. Ia tersenyum nakal pada minhwa.

Minhwa hanya berdeham dan mengalihkan pandangannya. Jantungnya kembali berdebar cepat saat itu. apa lagi taemin kini berada dekat dengannya. Sejenak mereka terdiam, sama sekali tak ada yang bersuara di antara mereka.

“kenapa kau menceritakan semua itu padaku?” tanya taemin. Minhwa menatap taemin tak mengerti. Ia mengerutkan keningnya.

“kenapa kau bilang kalau kalian tak benar-benar pacaran? Kenapa kau mengatakan jika kau tak mencintainya? Kenapa kau mengatakan semua itu padaku? Apa kau juga menyukaiku?” tanya taemin bertubi-tubi.

Minhwa hanya bisa terdiam. Ia memutar bola matanya mencari jawaban. Tapi yang ada ia malah hanya bisa menundukkan mukanya yang memerah karena malu. Malu harus mengakui bahwa ia memang menyukai namja di hadapannya.

Minhwa menunduk dalam hingga taemin bisa menatap puncak kepala minhwa. Sedetik kemudian sebuah kekehan terdengar.

“aku sudah kacau sekali akhir-akhir ini. tapi ternyata aku tak bertepuk sebelah tangan.” Ucap taemin diiringin kekehannya.

Minhwa yang mendengarnya hanya memejamkan matanya menahan rasa malu. Malu sekali rasanya, rasa sukanya harus di ketahui padahal ia sama sekali tak mengatakannya.

Taemin meraih dagu minhwa dengan ujung jarinya. Minhwa mendongak mengikuti arahan taemin. Mereka beradu pandang.

“datanglah padaku! Setelah kau menyelesaikan masalahmu itu. aku akan menunggu!” ujar taemin lembut namun sarat dengan penekanan.

Minhwa ingin sekali menundukkan wajahnya yang sudah memanas itu. tapi ia tak bisa karena di tahan oleh jari taemin yang masih bersarang di dagunya.

“tapi jangan terlalu lama juga. Aku takut jika kau terlalu mengulur waktu, kau malah akan berpaling!” kini taemin tampak seperti memohon.

“saranghae!” serunya lembut.

Taemin merengkuh leher minhwa dengan lembut. Minhwa hanya diam mengatupkan mulutnya rapat. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah.

Taemin mendekatkan wajahnya. Perlahan tapi pasti hingga kini jarak mereka sangat dekat. Taemin memejamkan matanya dan mencium lembut gadis di hadapannya. Minhwa tersentak, jantungnya seakan mau copot sekarang. tapi ia tak mau mendorong taemin untuk melepas ciumannya, maka ia memejamkan matanya juga.

Taemin mulai melumat bibir minhwa perlahan penuh dengan kasih syaang. Direngkuhnya kepala minhwa agar lebih mendekat. Taemin terus melumat bibir minhwa hingga akhirnya minhwa yang dengan ragu juga membalas ciuman taemin.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Minho mengeratkan peganganya pada tali tasnya. Ia melangkah dengan langkah lebar menyusuri koridor yang sudah sepi menuju ruang seni. Sesekali ia melirik ponselnya, jika saja tiba-tiba minhwa memberinya kabar.

 

Sebuah pintu yang bertuliskan “ruang seni” sudah dalam jangkauan pandangannya. Enam meter dari tempatnya. Ia mempercepat langkahnya dan membuka pintu ruang seni itu.

Baru setengah pintu itu terbuka, ia menghentikan dorongannya. Ia menatap ke arah dua sejoli yang kini sedang bermesraan itu. meski ia tak dapat melihat wajah mereka, tapi ia tau pasti jika wanita yang sedang berciuman itu adalah minhwa. Ia hafal betul rambut gadis yang sangat dicintainya itu.

Ia menggenggam gagang pintu dengan erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras dan pandngannya penuh dengan amarah.

BRAKKK…

Minho membanting pintu itu dan berjalan cepat menghampiri mereka. Tapi dilihatnya bukannya mereka melepaskan ciuman mereka, pria itu malah melumat bibir gadis didepannya lebih cepat.

Minho menarik baju taemin dan meleparnya hingga ia membentuk tumpukan lukisan itu. lukisan-lukisan itu kini jatuh berserakan di lantai.

“APA YANG KAU LAKUKAN??” teriak minho. Minho langsung melayangkan tinjunya pada wajah taemin.

Taemin bergeming. Ia hanya diam menerima pukulan yang bertubi-tubi di arah minho padanya. Minho yang menindih tubuh taemin kini bisa leluasa melampiaskan amarahnya. Ia terus saja memukuli taemin, tak peduli dengan darah yang sudah mengalir di pelipis taemin, hidung juga sudut bibirnya.

“YA!! HENTIKAN!!” teriak minhwa tapi sama sekali tak di gubris oleh keduanya. Mata minhwa berkaca-kaca menatap pria itu ditonjok hingga babak belur seperti itu.

“minho~ya!” ia kini menarik tubuh minho agar menjauh dari taemin. Di tepisnya tangan minhwa yang melingar di lengan minho dengan kasar. Minho berbalik menatap minhwa dengan penuh amarah.

Beberapa detik kemudian, ia menarik tangan minhwa. Minho membawanya keluar dari ruangan itu. sementara minhwa berjalan terseok-seok mengikuti langkah minho yang sangat cepat.

Taemin menatap kepergian mereka dengan mata yang setengah lebam. Ia mendesah pelan, lalu meringis menahan sakit. Ia menusap darah di sudut bibirnya dan berusaha berdiri meski sangat sakit rasanya.

“kau harus menepati janji mu minhwa! Datanglah secepatnya!” guman taemin dan berjalan dengan bertopang pada tembok-tembok disampingnya.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

MINHWA POV

Minho menarikku dengan sangat erat dan berjalan dengan sangat cepat. Aku bahkan sampai kewalahan mengikutinya. Pergelangan tanganku juga terasa sangat perih sekali.

Apa ia akan marah padaku kali ini?

Apa kali ini ia akan memutuskanku?

Apa kali ini ia akan memukulku karena aku sudah berselingkuh di belakangnya?

Tapi apa aku tak boleh melakukannya? Disamping aku sama sekali tak mencintainya. Aku sama sekali tak memendam rasa apapun padanya.

Ia menghempaskan tanganku dengan keras dan membuatku sempat mengaduh kesakitan. Ia menarik bahuku dan mendorongku hingga aku bersandar di dinding. Aku meringis kesakitan saat punggungku bertumbukan dengan dinding yang kokoh ini.

Ia meletakkan kedua tangannya di samping kepalaku, ia seakan hendak mendorong tembok di depannya dengan amarahnya yang meluap itu. aku hanya bisa menatapnya dengan takut-takut. Tapi aku menundukkan kepalaku saat aku menatap matanya itu.

Ia menatapku dengan lekat. Kudengar nafasnya yang memburu.

Jujur aku sangat takut saat ini. apa kali ini emosinya akan sangat meledak?

Tidak.

“gwenchana? odi apha?” tanyanya. Raut wajahnya kini berubah menjadi lembut. Ia menatap ke setiap inchi tubuhnya meastikan aku sama sekali tak terluka.

“a… ani.ya! nan… gwen… gwenchana!” ujarku gugup. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat ini. ia tak marah sama sekali?

“syukurlah!” ia menghembuskan nafas lega lalu menarikku ke dalam pelukannya.

Aku hanya terdiam sementara ia memelukku semakin erat.

Apa yang dia lakukan? Apa ia bodoh? Bukankah sudah jelas di matanya aku sedang berciuman dengan namja lain? Sedangkan ia sama sekali tak pernah bisa menciumku?

Apa ia benar-benar tak memendam rasa marah padaku. Padahal aku sepenuhnya yakin hatinya pasti sangat sakit. Tapi ia malah bersikap lembut padaku. Seolah aku ini adalah korban dari kebejatan seorang pria. Kini ia bahkan memelukku dengan sangat lembut. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Ia mengusap kepalaku lembut. Apa ia benar-benar mencintaiku? Apa sebesar ini cintanya sampai ia tak marah padaku padahal aku jelas-jelas salah? Apa ia benar-benar takut kehilanganku?

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Author POV

Lapangan basket indoor itu sangat ramai. Suara jejeritan penonton menggema di seluruh sudut ruangan besar itu. suara tepuk tangan, teriaka, bahkan hentakan kaki melebur menjadi satu. Suara dencitan bola saat beradu dengan lantai membuat suasana pertandingan tiu semakin menegang.

Namja bernomor punggung 15 itu mendrible bola dengan gesit. Tak dibiarkannya orang lain merebut bola yang dianggapnya kekuasaannya itu. rambut pirangnya itu setengah basah oleh keringat, terlihat jika ia sangat berusaha untuk menang.

“minho~ya!!” teriak namja pirang, jonghyun, dan melambungkan bola berwarna orange itu kepada namja yang berjarak dua meter darinya.

Namja tinggi itu meraih bola dengan mudahnya karena postur tubuhnya yang mendukung. Ia segera mendrible bola itu dan melakukan lay up hingga akhirnya bola itu berhasil masuk ke dalam ring. Otomatis timnya bertambah satu point. Pertandingan masih setengah jalan, tapi ketegangan para penonton yang menerka-nerka siapa yang menang sudah mencapai puncaknya.

Seorang gadis yang sedang duduk di barisan depan bangku penonton itu mengerucutkan bibirnya. Ia melipat tangannya dan bersandar lemas pada kursi. Ia terus menatap kearah namja-namja yang sedang bertanding basket itu. tatapannya terjurus pada satu pria. Pria yang sudah satu bulan lebih, bahkan hampri dua bulan bersamanya sebagai pacarnya. Meski ia masih tak memiliki perasaan apapun yang bergejolak di hatinya.

Ia menatap lekat pria itu. keseriusan wajahnya saat menghadapi pertandingan mampu membuatnya terbang kelamunannya. Pantas saja jika banyak yang mengangguminya, batin gadis itu.

“hey!” suara seseorang membuyarkan lamunannya. Gadis itu menoleh, lantas tersenyum saat mendapati pria berambut pirang sedikit panjang berdiri di sampingnya. “boleh aku duduk disini?” minhwa lantas mengangguk semangat.

Mereka beradupandang dan masih saling melempar senyuman. Tak lama setelah pertemuan mereka itu terjadilah obrolan yang sangat seru diantara mereka. Membuat perhatian mereka bahkan teralih dari pertandingan yang menjadi tontona utama saat ini. bahkan minhwa yang tadinya sedang mengaggumi sosok minho pun kini sudah teralihkan dengan kehadiran taemin. Matanya seakan menemukan kutub magnetnya saat taemin datang. Dan membuatnya harus berpikir ulang untuk berpaling.

Minho merebut bola dari lawannya yang bertubuh kekar dan berambut cepak. Dengan sigap ia berputar di sekitar lawannya itu agar mempersulit bola untuk direbut. Ia mulai berlari menuju ring basket. Pandangannya yang semula focus pada bola dan lawan-lawannya kini terbuyarkan. Ia berhenti sejenak menatap kearah kiri dimana gadis yang ia harap bisa mendukungnya saat pertandingan malah berbincang asyik dengan namja lain. Tentu saja hatinya jadi tak tenang dan seperti terbakar api. Ia cemburu.

“minho awas, kananmu!!!” teriak jonghyun memperingati saat minho lengah. Minho berusaha berkelit dan berhasil mematahkan usaha lawan untuk merebut bolanya.

“jonghyun~ah, kuserahkan padamu!!” ujar minho datar sembari menyerahkan bola pada jonghyun. Jonghyun hanya menangkap bola itu dan menatap minho penuh tanya. Tapi ia segera berlari mendribel bola saat lawan sudah mulai mengerubunginya.

“benarkah? Jadi kapan kau akan mengikuti lomba itu?” tanya minhwa antusias.

“sepertinya tiga minggu lagi. Aku harap kau bisa melihatku!” ujar taemin sembari menyunggingkan senyumnya seperti biasa.

Minho berjalan cepat dengan langkah panjangnya. Ia menaiki beberapa tangga dengan setengah berlari dan segera menarik tangan minhwa saat ia sudah berada dekat dengannya. Minho langsung saja menarik minhwa keluar dari indoor itu.

“ya! Apa yang kau lakukan?” teriak minhwa sembari berusaha melepaskan cengkraman minho.

“sakit! Kau sudah gila? Kenapa kau pergi dari lapangan?” tanya minhwa saat mereka sudah sampai di luar indoor itu. minho menatap tajam kea rah minhwa yang sedang mengelus tangannya yang sedikit memerah.

“harusnya aku yang bertanya padamu! Apa kau gila? Apa yang kau lakukan dengannya?” minho membentak. Minhwa sedikit berjenggit dibuatnya.

“mwo?”

“pacarmu sedang bertanding sekarang! kau bukannya memberi dukungan malah asyik dengan namja lain? Disana banyak orang yang melihat! Bagaimana bisa kau melakukannya didepan orang banyak termasuk AKU?” seru minho.

Minhwa mengernyitkan dahinya. Sedikit tak mengerti dengan apa yang dikatakan minho.

“kau cemburu?” tanya minhwa yang membuat minho mendelik seketika. “huh, biar saja mereka tahu. Bukankah aku memang tak memiliki perasaan apapun padamu? Sudahlah, kembalilah kedalam, kau tak mau bukan jika timmu kalah?”

“ya! Jaga bicaramu!” ujar minho datar sedater ekspresinya.

“lalu apa yang harus aku lakukan?! Aku harus selalu menuruti kemauanmu? Aku harus selalu menerima kau mengikutiku kemanapun aku pergi? Aku harus diam saja saat hidupku diatur oleh pria sepertimu yang bahkan tiba-tiba mengaku pacarku?” seru minhwa bertubi-tubi. Ia mengeluarkan semua gemelut dihatinya yang membuatnya dongkol.

“aku hanya menjaga!” balas minho sedikit membentak.

“menjaga apa?”

“menjaga agar kau tak lepas dariku.”

“menjaga dengan menggenggamnya dengan erat? Apa kau tak tahu jika kau terlalu erat menggenggam kau justru akan menyakitinya? Apa kau tak tahu itu? mana ada cinta yang memaksakan seperti ini!!” minhwa mengacak-acak rambutnya sebal. Nafasnya menderu bersamaan dengan emosinya yang membuncah. Ia menatap minho tajam. Sementara minho menundukkan kepalanya.

“tak ada wanita yang senang jika dikekang seperti ini.” desis minhwa dan kemudian beranjak meninggalkan minho.

Minho mendongak. Menatap kepergian gadis yang begitu dicintainya itu. ia ingin sekali melangkah untuk menahannya agar tak pergi. Untuk tak sekalipun berpaling darinya. ia tak ingin hal itu terjadi. Tapi kakinya seakan kaku. Sama sekali tak bisa bergerak satu langkahpun untuk menggapainya yang terus menjauh.

Apa aku terlalu mengekangmu? Apa aku salah jika aku hanya ingin kau tak pergi dariku? Batin minho.

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

TBC

Aduhhh… kayaknya part ini kepanjangan deh. Terlalu bertele-tele ceritanya. Mian readers jika ceritanya membosankan plus updatenya lama. Author mohon dengan sangat komen dari kalian. Setiap saran dan kritikan diterima disini. Supaya author termotivasi untuk menjadi lebih baik… gomawo semuanya, baik active readers maupun silent readers. Setidaknya kalian semua membaca FFku. ^^

30 thoughts on “Mannequin Girl (I’d Lie) Part 12

  1. waw… dari part 1 sampe part 12 aku baca semuanyaaa… memang semua partnya benar” “WAW”
    hehehe.. gak kepanjangan lah author… malah makin panjang makin baik :)
    lanjutin thor! ;D

  2. waaaa….aku bingung..nanti yg jadi sama minhwa siapa?
    minho atau taemin?
    tapi kalau diibaratkan minho itu kaya jun pyo ya?
    apa nanti minhwa sama minho..
    nah bagus kalau gitu!!!
    nanti Lee Tae Min sama aku aja..hhhaaaa #reader sarap
    lanjutnya jangan kelamaan ya!!

  3. wahh, seru banget ceritanya thor. daebakk.
    tapi aku lebih setuju minhwa sama minho thor. aku lbh suka sama minho. kasian minho ya. lanjutannya jangan lama2 ya thor. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s