Author: Unie
Genre: Angst, AU (Alternate Universe)
Rating: PG-15
Length: Chaptered
Main cast:
- Lee Donghae
- Shim Changmin
- Sung Hyosun
- Jessica Jung
- Cho Kyuhyun
- Victoria Song
- Etc.
Disclaimer:
FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni
[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
Aku hanya menunduk dan memandangi pahaku yang kini tertekuk rapat. Aku menunggu wanita dihadapanku sekarang untuk angkat bicara terlebih dahulu. Di ruangan yang luasnya kurang lebih 100 meter per segi ini, aku sempat memperhatikan benda-benda tradisional yang diletakkan di beberapa sisi ruangan sebelum aku duduk bersimpuh di atas lantai kayu berplitur mengkilap. Ruangan ini bukan kamar untuk beristirahat, tapi lebih mirip seperti perpustakaan. Terdapat beberapa rak besar yang dipenuhi oleh buku-buku dengan judul yang beraneka ragam di dalamnya. Tapi bedanya si pembaca tidak diberi kursi untuk duduk, melainkan hanya meja biasa untuk sekedar meletakkan buku sementara badannya langsung bersentuhan dengan lantai. Meja itu kini tangah menyekat kami berdua dan hingga berhadapan satu sama lain. Aku tidak mau bertanya apapun tentang keadaan ruangan ini walaupun sebenarnya dalam hati berkecamuk. Aku masih menunduk, aku tahu kalau matanya mengawasiku.
“Jadi, namamu Sung Hyosun?” tanyanya membuka obrolan. Suaranya tidak begitu dalam, tapi sedikit nyaring khas nenek-nenek berusia hampir delapan puluh tahun. Aku mengangkat kepala dan memandang matanya yang memang serius mengamatiku.
Aku berkata sedikit ragu “Sebenarnya nama asliku bukan itu. Nama asliku adalah Kim Hyosun”
Alisnya naik sebelah kemudian bertanya lebih lanjut “Kenapa kau mengaku sebagai Sung Hyosun, bukan Kim Hyosun? Aku juga sudah mendengarnya dari Donghae kalau nama aslimu Kim Hyosun”
“Sung Hyosun adalah nama nenekku. Aku memakai nama ini karena aku sangat menghormatinya.”
“Ceritakan tentang dirimu” katanya mencoba mengujiku.
Aku berfikir sejenak dan memulai berbicara dengan hati-hati.
“Namaku adalah Kim Hyosun. Anak kedua dari Sung Ahn Jung dan Kim Eunhoo. Kedua orang tuaku adalah anak tunggal dari keluarga. Aku juga mempunyai seorang kakak yang bernama Kim Young Woon. Orang tuaku…”
Kalimatku terputus di situ. Tenggorokanku terasa kering dan pandanganku menjadi kabur karena mataku yang berkaca-kaca. Tetap di posisi sebelumnya, aku tidak menengadah, aku sedikit menunduk saat menceritakan ini.
“Orangtuaku mengalami kecelakaan…”
Aku mencoba menguatkan diri tapi tetap saja tenggorokanku tercekak. Airmata yang mati-matian ku tahan pun meleleh dengan sendirinya. Dia mengulurkan secarik tisu padaku. Aku menghapus airmataku kemudian mengeraskan hati untuk terus berbicara.
“Orang tuaku mengalami kecelakaan mobil saat liburan musim panas di hawai. Mereka berdua tewas”
Lebih parah dari sebelumnya, aku menumpahkan airmataku tanpa peduli di hadapan nenek tua ini. Ini menyimpang dari diriku yang biasa. Aku tidak pernah menangis dihadapan orang lain, kecuali orang yang benar-benar sudah dekat dan mengenalku.
“Dan mendengar itu, nenekku langsung terserang penyakit jantung. Dia juga meninggal di hari yang sama. Saat itu…” aku menghapus airmataku sejenak, kemudian melanjutkan.
“Saat itu yang tersisa hanya aku dan kakakku. Umurku masih tujuh tahun dan aku juga tidak mengerti kenapa harus tinggal di panti asuhan waktu itu.” akhirnya aku berhasil mengontrol diri walaupun suaraku masih terdengar bergetar.
“Sekarang kau tahu kenapa kau tinggal di sana?” aku tidak menatapnya dan tidak tahu raut macam apa yang ada di wajahnya sekarang ini.
“Saat aku berusia lima belas tahun, aku baru tahu kalau kami berdua tidak memiliki wali dan karena itulah aku harus tinggal di panti asuhan. Saat itu aku sudah tinggal dengan keluarga Cho. Mereka adalah sahabat karib umma dan baru bertemu denganku setelah aku tinggal di panti asuhan selama dua tahun”
“Sekarang dia dimana?”
“Siapa?” tanyaku.
“Kakakmu”
“Aku tidak tahu. Kabar yang aku dengar, dia berada di Paris. Karena itulah aku sempat…” aku berfikir ulang untuk mengatakan istilah “imigran gelap”, antara memilih berbohong atau mengatakan yang sejujurnya.
“Aku sempat bekerja di sana sebagai editor freelance. Itu yang aku lakukan sembari mencari kakakku. Aku tidak tahu kenapa dia meninggalkanku begitu saja di panti dan tidak memberitahuku apapun” mata bagian kiriku mulai berair lagi dan hal itu masih bisa ku atasi dengan sapuan jari-jari tangan.
“Kau masih mencarinya?”
“Donghae…”
“Mmm maksudku oppa sudah mengirimkan orang-orangnya untuk mencari kakakku” ralatku.
Dia mengamatiku penuh selidik, kemudian mengulur tangan untuk meraih secangkir teh yang ada di hadapannya sekarang. Cangkir itu dikembalikan lagi pada tempatnya, setelah dia menyesap isinya beberapa kali. Dia mengangguk-angguk kecil.
“Jadi, kalian berencana menikah?” tanyanya lagi.
“Itu yang kami harapkan”
“Apa yang kau harapkan darinya?” kali ini pertanyaannya lebih tegas, penuh penekanan.
“Maaf?” aku bertanya heran.
“Dia cucu laki-lakiku satu-satunya dan nantinya dia yang menjadi pewaris utama keluarga ini. Apa kau…”
“Tunggu sebentar biar aku jelaskan dulu. Uang bukan segalanya untukku. Aku ingin menikah dengannya karena aku ingin bahagia, itu saja. Jadi tolong jangan salah paham dengan ini” kataku memotong ucapannya yang belum selesai dilontarkan.
Aku mengerti apa maksudnya sekarang. Dia menganggap aku menyukai Donghae karena harta. Walaupun pernikahan ini adalah sebuah konspirasi terselubung, tapi aku tetap tidak mau dipandang rendah oleh siapapun. Karena harga diriku tidak mengijinkannya. Aku ingin bahagia, aku ingin berkumpul lagi dengan kakakku.
“Apa kau terbiasa memotong ucapan orang lain? Aku belum selesai berbicara” dia menatapku intens dan itu membuatku serba salah. Bodoh!
“Oh, maaf” aku menunduk, menghindari tatapannya.
“Apa kau mencintai, Donghae?”
Lagi-lagi pertanyaan seperti ini. Kenapa seluruh dunia seolah tahu kalau aku berkomplot dengan Donghae? Kenapa selalu ada pertanyaan apakah aku mencintainya?
“Jawablah dengan jujur” lanjutnya lagi dan itu semakin membuatku serba salah.
Menjawab iya, aku berbohong karena si tua ini sepertinya sedang menguji kejujuranku. Tapi menjawab tidak, beresiko pernikahan ini bisa gagal. Lalu apa yang harus ku lakukan? Ini seperti wawancara untuk menentukan kualifikasi fresh graduate di sebuah perusahaan.
“Kenapa kau diam?”
“Sebenarnya…” kataku masih mengambang.
“Kau harus tegas jika mengatakan sesuatu. Jangan setengah-setengah apalagi ragu-ragu seperti itu. Kau tidak mencintainya kan?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Aku…”
“Mencoba berbohong adalah hal yang percuma” potongnya cepat.
“Aku bisa melihat kalau kalian tidak saling mencintai” dia menghela nafas cukup panjang. Bagaimana ini? Bahkan orang tua yang hampir pikun seperti dia tidak bisa ku kelabui.
“Aku tahu Donghae sedang banyak tekanan sekarang ini. Dia ingin segera menggantikan posisi ibunya di perusahaan. Dia tahu ibunya tidak terlalu kokoh dalam mengelola perusahaan terutama menghadapi kolega-kolega bisnis dan para investor yang kian menyudutkannya.”
“Donghae tidak bisa menggantikan ibunya begitu saja. Dia tidak memiliki banyak saham. Sekarang ini dia hanya memiliki sekitar sepuluh persen saham perusahaan. Setelah dia menikah, tiga puluh persen saham ibunya akan dihibahkan padanya, tapi itu tidak cukup menjadikannya seorang presdir. Dia masih menjadi wakil karena posisi presdir masih dipegang oleh ibunya. Dan saat dia memiliki seorang anak, barulah enam puluh persen saham perusahaan bisa di kendalikannya. Tapi kalau dalam dua tahun terakhir dia tidak mempunyai keturunan juga, seluruh saham akan dilelang bebas di bursa saham dan rapat umum pemegang saham.” Dia menerawang tanpa memandangku seinci pun.
Dan tiba-tiba dia langsung menatapku tajam “Kalian menikah karena ingin mempunyai anak?”
Bingo! Akhirnya aku mengerti ke arah mana dia menggiring obrolan ini. Aku hanya berdiam diri tanpa mengatakan apapun. Lidahku terasa kelu seolah seluruh saraf di indra perasa ini kompak bekerjasama menahan diri untuk tidak bergerak. Sepandai-pandainya aku mengelak, dia lebih pandai untuk memojokkanku hingga tidak punya pilihan yang tepat untuk diutarakan.
“Ikut denganku” dia bangkit dari duduknya dan membuatku menengadah kemudian sejurus dengan itu, aku mengikuti langkahnya ke sisi lain ruangan ini.
Dia berdiri mematung di depan lukisan. Lukisan itu bergambar bunga teratai yang ukurannya kurang lebih sama dengan kalender dinding. Artistik. Kemudian dia mengangkat lukisan itu yang pada akhirnya mengantarkan pandanganku ke sebuah lemari besi di baliknya. Aku mengerti sekarang, ternyata lukisan itu hanya sekedar benda yang menutupi bagian private ruangan ini, bukan sebagai central-nya. Dia mulai memutar kombinasi angka yang ada.
“Aku bisa berbalik jika kau mau” aku memberikan tanda dengan tanganku agar dia tidak melanjutkan lebih jauh.
“Kenapa? Aku percaya padamu”
Mendengar itu aku hanya bisa memandangnya penuh tanya. Secepat itukah dia percaya padaku? Aku baru beberapa menit di sini.
“Atas dasar apa?” aku bertanya padanya penuh ragu.
“Entahlah” dia mengangkat bahu kemudian melanjutkan tangannya untuk memasukkan kombinasi angka.
Aku hanya diam dan mengabaikan pikiranku tentang orang tua ini berkecamuk di seratus juta neuron yang ada di otakku. Walaupun aku heran, toh aku juga tetap memperhatikan angka-angka itu. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya pintu lemari besi itu terbuka secara otomatis. Isinya bukan tumpukan uang kertas yang berlimpah atau apa, melainkan beberapa berkas-berkas dan sebuah kotak meyerupai tempat perhiasan. Dan benar saja. Dia memperlihatkan isinya padaku hingga terpampang sebuah kalung berwarna perak yang dililit oleh batu berkilau di beberapa bagian. Kalung itu berkelap-kelip di hadapanku dan tanpa sadar menggoda tanganku untuk mendekatinya. Aku ingin menyusuri setiap milinya dengan buku-buku jari yang aku miliki.
“Fantastic” aku berdecak kagum dengan sendirinya.
“Kau boleh menyentuhnya saat pernikahan nanti. Ini warisan keluarga Lee. Aku harap kau bisa menjaganya untuk menantu keluarga ini jika kau punya anak laki-laki kelak” dia menarik kalung berlian itu menjauhi tanganku.
Aku langsung menarikku tanganku karena tersadar betapa tololnya diriku sekarang.
“Mungkin saat menjalani pernikahan ini kau akan merasa berat, Hyosun-ah. Tapi ketahuilah, aku berharap dia bahagia dengan wanita pilihannya. Percayalah, cinta itu bisa hadir dengan sendirinya. Jadilah karang yang tetap kokoh walaupun diterjang ombak sekuat apapun” Paparnya sembari tangannya menutup kembali kotak perhiasan itu.
Mungkin ada sedikit celah di sini untuk berbohong.
“Aku mengerti. Aku akan mencoba memberinya perhatian-perhatian yang tidak begitu kentara namun menggelisahkan, tapi tidak terlalu samar agar dia paham” kalimatku lolos dengan sempurna. itulah kutipan dari salah satu buku Shakespeare yang pada abad delapan belas.
“Shakespeare” dia mendengus kecil kemudian memasukkan kembali kotak itu pada tempatnya. Dia mencoba mengangkat lukisan namun tanganku berhasil membantunya.
“Kau tahu tentang Shakespeare?” tanyaku setelah lukisan terpasang seperti sediakala.
“Kalau kau mau, kau bisa membaca beberapa karyanya di rak itu. yang paling atas” dia menunjuk rak yang letaknya tersekat oleh satu rak lain.
“Oh… Aku jarang sekali membaca bukunya secara langsung. Aku biasa menemukannya di internet.” kilahku.
“Hmmm, orang-orang di luar pasti bertanya-tanya sedang apa kita di sini. Mungkin mereka berfikir kalau aku akan menelanmu hidup-hidup”
Aku terkekeh mendengar itu, begitu pula dengannya.
“Donghae bilang kalau kau orang yang cerewet dan galak. Tapi kenyataannya jauh dari yang aku pikirkan”
“Dia terlalu berlebihan. Sudah, kau keluar dulu. Nanti aku akan menyusul”
“Oke”
Aku menggeser pintu ruangan itu ke sebelah kiri dan menutupnya kembali setelah memasang sepatuku yang memang harus dilepas saat memasuki ruang pribadi nenek Lee Donghae. Bukan obrolan yang serius, hanya sebuah motivasi yang diberikannya padaku sebelum menikah dengan Donghae. Dan belum sempat berbohong pun aku sudah gagal saat memulainya. Aku melihat Donghae sudah berjalan mendekatiku. Dia menanggalkan Jas dan dasinya dan menggulung kemejanya hampir mencapai siku.
“Ku rasa dia menyukaimu” celetuknya sembari mendekatiku.
“Benarkah?” aku pura-pura terkejut saat berdiri.
“Tidak semua orang bisa masuk perpustakaannya”
“Serius?”
“Bagaimana kau melakukannya?”
“Apanya?” tanyaku lagi.
“Kau mengatakan apa padanya?”
“Hanya menceritakan latar belakang keluargaku. Memangnya kenapa?”
“Kau tidak menceritakan tentang kenapa menikah kan?” dia memelankan suaranya dan cenderung seperti sebuah bisikan.
“Tanpa aku bilang dia sudah tahu motifmu?”
“Apa???” dia terbelalak dan hal itu tidak ditutupinya dengan baik.
“Untuk apa kalian masih di sini?” aku menoleh untuk memandang si pemilik suara. Nenek Donghae telah berkacak pinggang di depan kami berdua.
“Donghae-ah! Kemarin kau tidak datang ke makam ayah dan kakekmu. Apa sekarang kau tidak mau ke sana juga? Mau jadi anak apa kau ini???” lanjutnya dengan suara yang lebih melengking.
“Bisnis, bisnis, dan bisnis saja yang kau urusi. Bisakah sekali-kali kau memikirkan keluargamu dulu” omelnya frontal.
Dengan melihat ini semua aku jadi mengerti apa yang dimaksud Donghae saat di mobil. Neneknya galak dan cerewet seperti sekarang dan berhati lembut seperti saat bersamaku di perpustakaan.
“Iya. Kami akan berangkat. Ayo, Hyosun-ah.”
“Eh, kau mau berangkat dengan tangan kosong? Bawa bunga dan arak yang ada di atas meja! Sudah besar masih saja harus diingatkan. Mau jadi apa kau nanti” gerutunya saat kami belum sempat melangkah.
Donghae mengacak rambutnya sendiri dan aku hanya bisa tersenyum saat melihat tingkahnya itu.
“Iya. Iya” gerutunya sambil berjalan mengambil bunga dan dua botol arak untuk disiramkan di atas kuburan yang sempat terlupakan.
“Kau tidak memakai jasmu?”
“Demi Tuhan, nenek. Kau bisa cepat tua kalau mengomeliku terus” Donghae mendekati neneknya kemudian mencium pipi keriputnya kemudian langsung berlalu.
“Eh, dasar anak nakal”
“Kami pergi. Ayo, Hyosun-ah” Donghae berjalan mendahuluiku.
“Kami pergi dulu, Nek” Aku membungkuk kecil lalu berjalan menyusul langkah panjang Donghae.
“Hati-hati!!!” teriaknya di belakang kami.
Aku hanya tersenyum kecil mendengar itu. Sementara cucunya yang bengal ini tidak menunjukkan respons yang berarti. Memang sikapnya selalu seperti itu. Tidak mengherankan.
***
“Keterlaluan, kenapa kita harus berjalan kaki?” keluhku saat melewati beberapa rumah yang ukurannya tidak terlalu besar dan jaraknya yang tidak pula berdekatan.
“Hanya dua kilometer, kenapa mengeluh?”
“Kau tidak lihat aku memakai hak tinggi? Ini menyiksaku!” mulutku mengerucut, membantah pria yang kini berjalan mendahuluiku.
“Aku tidak menyuruhmu memakai itu” kilahnya.
“Dan kau juga tidak memberitahuku akan berjalan kaki sejauh ini. Kakiku lecet”
“Kenapa wanita harus menyiksa dirinya dengan benda itu? Toh, saat sepatu itu dilepas ketinggiannya tidak akan berubah” dia menoleh ke samping, sementara kakinya tetap menyusuri jalan setapak.
“Memangnya kenapa? Ini kan salah satu bentuk usaha untuk memperindah penampilan”
“Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita” kepalanya sedikit menggeleng.
“Kau terlalu banyak omong, Donghae-shi. Semakin banyak komentar, lama-lama kau mirip dengan komentator bola yang gagal” aku mendengus kesal dan dia tidak menggubris. Dia terus berjalan didepanku.
Rasanya kakiku mau patah setelah bolak-balik dari rumah ke pemakaman dan sekarang harus berjalan kaki lagi untuk kembali ke rumahnya. Ingin sekali aku melempar jauh-jauh sepatu hak tinggi yang kini ku kenakan. Pantas saja feeling-ku tidak enak saat memakai sepatu ini. Kalau tahu akhirnya begini, mungkin aku akan memilih untuk memakai pantofel biasa.
Aku memperhatikannya yang kira-kira berada satu meter di depanku. Dia berhenti di sebuah rumah berpagar kayu. Dari luar bagian dalam rumah itu tidak terlihat karena pagarnya cukup tinggi. Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan mengamati penuh arti.
“Kau jalan saja duluan” katanya.
“Rumah temanmu?” aku mengikuti pandangannya.
“Bukan”
“Lalu?” tanyaku lagi sembari mengamatinya.
Dia menoleh “Sudah ku bilang jalan saja dulu”
“Memangnya kenapa?” rasa keran mulai terpeta di dahiku dengan beberapa kerutan.
“Kau bisa lari?” tanyanya sebelum menjawab pertanyaanku.
“Aku pernah lomba marathon waktu SMA. Kenapa?”
“Menurutmu jarak dari sini menuju rumah seberapa jauh?”
“Kau pikir aku petugas yang mengukur jalan?” protesku bercampur rasa penasaran. Dia terus saja menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan baru.
“Kira-kira seberapa jauh?” dia menoleh padaku sedikit kesal.
Ck! Akhirnya aku mengira-ngira jarak dimana kami berpijak sampai pagar depan. Mungkin hampir satu kilometer. Masih jauh dari perkiraanku.
“Satu kilo meter. Kurang lebih”
“Sekarang kau tunggu aku di sana” dia menunjuk jalan setapak yang kira-kira berjarak tiga ratus meter dariku.
“Apa?”
“Lakukanlah, tidak perlu banyak bicara”
Well, dia memang seorang dictator. Dan aku adalah korbannya. Demi Tuhan, kenapa dia sangat menyebalkan? Menyuruh sesuka hatinya sendiri tanpa menjelaskan apapun. Dan bodohnya aku, malah mengikuti komando misteriusnya.
Setelah aku mencapai titik yang dimaksud, dia menoleh padaku sejenak. Kemudian dia berjalan mendekati rumah itu dan tanpa ragu langsung memencet bel.
“Sebentar!” suara dari dalam menjawab.
Tapi demi seluruh tulisan yang pernah ku baca sampai detik ini, Donghae malah bersembunyi di balik pagar tanaman yang mengitari rumah itu. Tampak seorang nenek tua tengah keluar dan menoleh ke samping kanan dan kiri.
“Apa kau yang memencet bel, nona?” tanyanya saat melihatku.
“Bukan… bukan aku. Tapi…” aku menengok ke arah Donghae yang memberi tanda diam di mulutnya dengan telunjuk.
“Apa kau melihat orang di sekitar sini?”
Aku menggeleng dengan cepat kemudian Donghae memberiku jempol kanannya dan seringai nakalnya. Apa dia mantan bandit kecil? Nakal sekali dia, mengerjai nenek itu. Akhirnya nenek itu kemudian masuk ke rumah dan menutup pagarnya lagi.
“Donghae… Kau gila ya? Apa yang kau lakukan?” bisikku takut-takut kalau nenek tadi masih berada di sekitar pagar rumahnya.
Dia tidak menjawabku, malah memencet bel rumah itu lagi. Astaga! Dia benar-benar sudah tidak waras. Aku menyelinap di balik pohon terdekat agar tidak menjadi tertuduh kalau-kalau nenek itu keluar lagi. Dan benar saja, dia keluar. Dia menoleh ke kanan dan kiri lalu masuk kembali ke dalam rumah setelah tahu tidak ada seorang pun yang ditemukannya. Sekali… Dua kali… tiga kali… Dia masih melakukan hal yang monoton itu. Kelewatan! Aku mendekat ke arahnya dan dia langsung berlari ke arahku tanpa prediksi. Eh? Kenapa? Dan setelah beberapa saat aku termenung, aku baru sadar ternyata ada seeokor anjing yang turut berlari di belakangnya. Bulunya berwarna hitam lebat. Mulutnya terbuka dan menampilkan barisan giginya yang terlihat sangat runcing. Kebuasannya dilengkapi dengan air liur yang tak henti menetes. Untuk beberapa saat aku masih termangu dengan pemandangan ini.
“Hyosun-ah, lari!!!!!!!!” teriakannya membuatku sadar.
Shit! Aku langsung melepas sepatu hak tinggiku kemudian menentengnya agar tidak kesusahan saat berlari nanti. Donghae yang kian mendekat langsung meraih pergelangan tanganku agar tidak terlalu lama di tempatku berdiri. Sinting!
“Sudah ku bilang lari!” pekiknya dibarengi dengan gonggongan anjing di belakang kami.
“Kau gila!!!”
“Tidak ada waktu untuk berkhotbah! Indra penciumannya cukup tajam, dia mendeteksi melalui bau kita. Dia tidak akan berhenti!”
“Dan bodohnya kau adalah kenapa malah memancing hewan sebesar domba itu!” teriakku menatapnya tak percaya.
Kakiku sedikit nyeri di beberapa lini. Rasa pegal yang belum sirna kini ku tambahi dengan gesekan kulit dengan jalan setapak. Benar-benar gila! Anjing itu menggonggong lagi.
“Terserah apa katamu!”
“Kau gila, Donghae-shi!!”
Kaki kami masih beradu dengan tanah. Saat mencapai persimpangan, salah satu sepatuku jatuh. Aku berniat mengambilnya, tapi Donghae keburu menarik tanganku lagi.
“Nanti ku belikan selusin kalau kau mau!”
“Itu sepatu kesayanganku!!” nafasku tinggal setengah, rasanya hampir mati karena berlari.
“Ya! Apa kau mau terkena rabies karena digigit anjing itu?”
“Awas saja! Aku akan membuat perhitungan atas ini”
“Kita bicarakan nanti! Sebentar lagi kita sampai di rumah!”
“Kau gila ya? Menunggu pagar depan terbuka secara otomatis sama saja membiarkan salah satu dari kita digigit anjing gila itu!!”
Anjing dibelakang kami masih menggonggong. Nadanya sangat mengancam kematian kami dengan sekali gigitan. Tengkukku dingin. Baru pertama kalinya aku dikejar anjing, terlebih lagi yang sebesar itu.
“Kita bisa lewat pintu samping. Kita akan aman!”
Pagar depan rumah sudah terlihat dari kejauhan. Semoga bisa! Semoga bisa! Ini lebih menegangkan ketimbang menaiki roller coaster. Adrenalinku terpacu dan jantungku berkali-kali ingin terjun dari tempatnya.
“Ke sini!” Dongahae yang masih memegangi tanganku membawaku ke samping kiri rumah.
Dan ternyata benar, ada pintu kecil di situ. Dia langsung membuka pintu itu dan mendahulukanku masuk, kemudian dengan kencang dia membanting pintu agar merapat sempurna. Tubuhku langsung merosot ke tanah dan begitu pula dengan Donghae. Nafasku tersengal-sengal dibarengi dengan gonggongan anjing yang kian memudar. Dadaku naik turun, begitu pula dengan Donghae.
“Tampilanmu saja elegan. Tapi tingkahmu seperti anak kecil yang baru lulus TK. Kau orang paling gila yang pernah ku temui” dadaku sesak, mencoba menarik nafas sedalam mungkin. Sepertinya gelembung alveolusku rontok semua dibarengi dengan patahnya cabang paru-paru. Sesak sekali.
“Bercelotehlah sesuka hati. Silahkan”
Dia malah tertawa terbahak-bahak. Mungkin masa kecilnya kurang bahagia atau apa aku juga tidak mengerti. Baru kali ini aku melihat dia menjadi sosok di luar dari dirinya yang biasa. Manis.
“Kau tahu, dulu aku pernah tertangkap oleh nenek itu. Saat itu aku masih SMP dan dia memukulku dengan gagang sapu” dia tertawa lagi seperti sedang mendongeng dan aku sebagai pendengar.
“Ayo kita masuk. Aku haus” dia bangkit dari duduknya dan mulai berjalan.
Saat dia mengawali langkah pertamanya, aku merasakan sesuatu yang nyeri di telapak kakiku. Tidak hanya nyeri, bahkan bisa dibilang sakit.
“Sampai kapan kau terus di situ?”
“Donghae-shi… Sepertinya…” kataku ragu dan terputus.
Aku langsung menarik kakiku dan melihat telapaknya. Aku melihat ada sepotong beling yang menancap di bagian tengah kakiku. Tercium bau anyir yang berasal dari darah yang mengalir melalui luka itu.
“Kenapa?” dia menoleh.
“Ada pecahan kaca di kakiku” aku menatapnya dengan tampang memelas.
Wajahku langsung pucat pasi dan selalu begini saat melihat darah. Aku melihat cairan kental itu keluar dengan tidak lancar karena pecahan kaca yang masih mengganjal lukanya. Sakitnya mungkin bisa ku tahan, tapi darah ini membuatku pusing.
Dia mengamatiku sejenak kemudian melemparkan pandangannya ke kakiku yang sekarang tanpa alas dan melihat itu, dia buru-buru langsung mendekatiku
“Kakimu berdarah” pekiknya.
“Semua ini gara-gara kau bodoh” desisku sembari menatapnya tajam.
“Ayo kita ke dalam. Biar Vic mengobatimu. Kaca itu harus dicabut” katanya lagi. Dia mengamatiku yang memandanginya penuh tanda tanya.
“Dia calon dokter. Ini tidak akan sulit baginya”
“Aku tidak bisa berjalan. Bisakah kau membawa mobil ke sini?”
Aku meringis. Kakiku benar-benar lunglai setelah berlari. Bukan hanya itu, perjalanan yang lumayan jauh dengan menggunakan high heels seolah telah menguras tenagaku untuk berjalan lagi. Ditambah lagi dengan luka akibat pecahan kaca yang cukup membuatku mengangkat bendera putih. Aku menyerah, aku tidak sanggup berjalan lagi.
“Kau gila ya? Tidak ada akses jalan menuju kemari. Tidak mungkin aku menerobos taman milik nenek. Cari mati!” protesnya kesal kemudian setelah berfikir sejenak berjongkok memunggungiku.
“Naiklah”
“Apa?” tanyaku masih bingung.
“Aku akan menggendongmu. Naiklah” katanya lagi.
“Aku tidak bisa. Aku memakai dress. Aku akan berjalan saja”
Aku mencoba berdiri dan dia membantuku. Aku berjalan dengan menahan rasa sakit yang menjalar di kakiku. Hanya beberapa meter, pasti aku bisa. Tapi tanpa ku duga, Donghae malah meraih tubuhku dan membopongnya di atas kedua tangannya.
“Donghae, apa yang kau lakukan?” protesku.
“Sudah diam. Bisa-bisa tahun depan kau sampai di rumah kalau berjalan seperti siput”
“Ini semua salahmu! Kenapa kau mengajakku dengan ide konyolmu itu!!?” aku menaikkan nada suaraku sedikit lebih tinggi.
“Aku minta maaf” dia mulai berjalan menjauhi pintu samping, mengarah ke serambi depan.
“Apa? Aku tidak mendengarnya” tanyaku memastikan.
“Maaf” gumamnya pelan.
“Kenapa kau harus menggumam seperti itu? Aku tidak mendengarnya”
“Aku bilang aku minta maaf, Sung Hyosun!” teriaknya dengan nada frustasi.
“Kau tidak perlu berteriak seperti itu, aku mendengarnya kok” aku menyeringai penuh kemenangan.
“Sekali lagi kau berbicara, aku akan menjatuhkanmu ke kolam itu” katanya dengan nada mengancam. Dia berhenti sejenak menatapku, kemudian melanjutkan jalannya saat aku tidak memprotesnya lagi.
Ini adalah kontak fisik terlama yang pernah ku lakukan dengannya. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa mencium bau tubuhnya yang bercampur minyak wangi. Aku lupa minyak wangi merk apa yang baunya seperti ini, tapi setahuku minyak wangi ini akan bereaksi dengan keringat dalam proses evaporasi. Aku juga bisa melihat singlet yang membatasi kemeja dan kulitnya. Ada sesuatu yang aneh. Aku merasa seperti ada sebuah generator yang menyala di dadaku dan semakin lama semakin kencang. Tidak hanya itu, rasanya aku juga kehilangan banyak persedian oksigen di sekitar sini. Kenapa ini? Normalnya aku bisa menghirup udara segar di halaman ini karena banyaknya tanaman. Tapi kenapa begini? Kenapa jantungku juga berdetak lebih kencang dari biasanya? Aku juga tidak punya riwayat penyakit jantung selama ini.
Dia meletakkan badanku dengan hati-hati di atas kursi panjang yang ada di depan rumah. Entah bagaimana mulanya, kalung yang biasa berada di balik bajuku keluar dan menyangkut di buah bajunya yang paling dekat dengan kerah kemeja. Saat dia menarik diri, badannya tertahan. Dia memandangku sedikit kesal, tapi di waktu yang bersamaan saat itulah untuk pertama kali aku melihat kedua bola matanya dengan jarak yang sangat dekat. Aku baru sadar kalau sinar yang terpancar sangat…indah.
“Kenapa bisa tersangkut sih?” dia menggumam kesal, tapi dari caranya aku tahu dia salah tingkah begitu pula denganku.
“Ya! Hati-hati menariknya. Lepaskan dulu kancingmu” protesku saat melihat dia menarik dengan sembarangan kalung pemberian Max itu.
“Menyusahkan” katanya sambil membuka kacing baju.
“Aku tidak menyuruhmu menggendongku”
Dia mendongak dan siap memulai perlawanan. Tapi baru membuka mulut, dia urung karena neneknya mendekati kami.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kakimu kenapa?” Nenek Donghae langsung panik melihat kakiku yang meneteskan cairan merah tanpa henti.
“Vic! Victoria! Kemarilah! Bawa kotak P3K!” teriak Donghae ke dalam rumah.
“Memangnya apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?”
“Ini karena ulahnya!” dengan seketika aku menunjuk pada Donghae.
Dia tertawa garing.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada yang garang.
“Kami dikejar-kejar anjing, Nek. Sungguh” katanya berusaha meyakinkan.
“Tapi awalnya dia mengganggu rumah nenek tua yang tidak jauh dari makam. Dan anjing itu mengejar kami sampai aku terkena pecahan kaca” jelasku.
“Kau ini! Memangnya kau anak SMP? Hah?” Nenek Donghae mencubit lengannya hingga dia berteriak.
“Ya! Ampun, Nek”
“Apa dia memencet bel rumahnya berulang-ulang?” Neneknya menatapku dan aku menjawabnya dengan anggukan.
“Kau ini! Sudah hampir menikah, tingkahmu seperti bayi yang lahir kemarin sore. Kekanak-kanakan”
Donghae terus saja diomeli sampai kupingnya terasa panas. Tapi dia hanya diam, sebagai wujud pengakuan kesalahannya.
“Ada apa? Kenapa harus memakai P3K?” Victoria berlari dari dalam rumah mendekati kami bertiga.
“Kau obati dia” kata Donghae.
Dia mengamatiku sejenak, kemudian mendekat ke arahku. Awalnya aku merasa canggung menerima perlakuan ini dari Victoria. Dia mencabut beling di kakiku, kemudian mengobatinya dan memberi perban pada lukaku agar tidak terkena benda asing. Walaupun dia tidak menyukaiku, dia tidak bisa menanggalkan jiwa sosialnya begitu saja. Dia tidak kehilangan jiwanya sebagai seorang calon dokter. Dia merawat kakiku dengan mengesampingkan rasa tidak sukanya terhadapku.
***
Dua minggu menjelang pernikahan…
Tinggal dua undangan lagi yang harus ku sebar. Yang pertama untuk sahabat SMP-ku, Lexy Kim dan yang terakhir adalah untuk kepala asrama panti asuhan “SONG SEOUL”. Sementara, undangan dari pihak keluarga Donghae secara keseluruhan telah dikirim. Jika Urusan undangan sudah beres, hal yang terakhir kami lakukan adalah fitting baju pengantin. Sisanya tinggal menunggu dari H.
“Aku tidak bisa lama, jam sebelas nanti ada rapat dengan klien” katanya dengan pandangan yang masih fokus pada jalanan sementara tangannya mengendalikan setir.
“Aku bisa memberikan undangan ini sendiri kalau menurutmu menyita waktu”
“Aku ingin bertemu kepala asrama SONG SEOUL. Sudah lama aku tidak berkunjung” dia menoleh sejenak kemudian mengembalikan perhatiannya pada jalanan.
Dahiku berkerut, menangkap kata yang ganjil dari ucapannya “Sudah lama? Memangnya kau sering ke sana?”
Dia mendengus “Apa aku harus mengatakan juga kalau aku adalah donator SONG SEOUL?”
“Benarkah?”
“Dari situlah aku tahu riwayatmu. Itu kebetulan yang tidak ku sengaja”
“Jadi, kau tahu seluruh dataku dari ibu kepala asrama?” aku terbelalak. Tidak percaya jika Ibu kepala asrama SONG SEOUL yang sangat aku hormati memberikan dataku begitu saja padanya.
“Aku punya beberapa teman yang tergabung dalam situs WikiLeaks. Bagi mereka mencari datamu sama dengan menjentikkan kuku jari” dia memandangku dengan tatapan meremehkan.
Aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala mendengarnya “Jangkauanmu seluas itu?”
“Aku hanya kenal beberapa orang di organisasi itu. Tapi mereka bukan orang yang bisa dianggap remeh”
Dia menginjak rem-nya tepat di parkiran SONG SEOUL “Ada yang mau kau tanyakan lagi?”
“Apa hanya sekedar kebetulan kau memilihku?”
“Kenapa kau selalu menanyakan pertanyaan yang berulang-ulang?”
“Pasti ada alasan tertentu” kataku bersikukuh.
“Demi Tuhan, dua minggu lagi kita akan menikah kau masih saja menanyakan itu?” dia memandangku sinis dan berlagak dramatis.
“Aku tidak cepat puas dengan satu pernyataan”
Dia mendengus “Setidaknya jika aku punya anak darimu dia bisa cantik dan sepintar dirimu”
Kemudian dia membanting pintu mobil tanpa memandangku lagi. Entah ekspresi macam apa yang bisa aku tangkap dari itu. Samar, wajahnya sedikit merona. Aku mengikutinya keluar dari mobil sambil tersenyum. Setidaknya aku puas dia mengakui kecantikan dan kepintaranku. Aku berjalan menyamai langkahnya menuju kantor kepala asrama panti asuhan. Sesampainya di sebuah pintu dengan papan nama berjudul “Jung Eunja” dia mengetuk pintu.
“Masuk” terdengar suara yang cukup keras dari dalam.
Donghae memutar gagang pintu dan kami berdua secara bergantian masuk ke dalamnya. Aku menemukan sosok yang selama lebih dari setahun ini tidak ku temui. Wajahnya masih seperti dulu, kerutan di wajahnya belum terlalu banyak.
“Tuan Lee, Hyosun-ah. Kalian kemari?” dia langsung bangkit dari mejanya menyambut kedatangan kami. Kami berjabat tangan secara bergantian.
“Apa kabar ibu asrama?” tanyaku seperti biasa.
“Aku baik. Ku dengar kalian akan menikah?”
Aku tersenyum, kemudian menyodorkan salah satu undangan yang ada di tanganku padanya.
“Aku harap kau bisa datang di acara pernikahan kami” lanjut Donghae.
“Tentu-tentu aku akan datang ke acara itu. Sekarang ceritakan bagaimana kalian bisa bertemu?” tanyanya antusias.
Sekitar empat puluh lima menit kami mengobrol tentang beberapa hal yang tidak berhubungan satu sama lain dengan ibu asrama SONG SEOUL. Dia adalah orang yang sangat aku hormati di panti. Walaupun aku sudah tinggal bersama keluarga Cho saat usiaku Sembilan tahun, tapi tetap saja hampir setiap minggu aku bermain di asrama ini. Karena itulah tempat ini adalah rumah keduaku. Berbeda dengan Donghae yang melanjutkan hal yang biasa dilakukan ayahnya selaku donatur panti asuhan.
Setelah beberapa saat kami di panti asuhan, Donghae menyempatkan diri untuk mengantarku ke Universitas Seoul. Aku akan bertemu dengan Lexi di fakultas kedokteran.
“Sampaikan maafku pada temanmu. Aku harus rapat sejam lagi” katanya saat aku menunduk melihatnya dari kaca.
“Oke. Nanti kalau sempat aku akan mampir ke kantormu”
“Oke”
Aku mundur, memberikan ruang untuknya melajukan mobil.
“Oh, iya. Ini untukmu”
Dia menyodorkan sebuah tas kertas padaku. Melihat ukurannya, aku yakin di dalamnya juga bukan benda yang ukurannya kecil. Aku mengulurkan tangan dan berhasil meraihnya melalui jandela yang masih terbuka.
“Apa ini?” tanyaku membuka sedikit kantong itu. Seperti sebuah kardus berbentuk balok.
“Itu sebagai ganti sepatumu yang tercecer sewaktu kita di Mokpo. Oke, aku pergi dulu”
Seketika dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aku menatap mobilnya hingga hilang dari pandanganku kemudian berjalan ke area kampus. Ku pandangi kantong itu sekali lagi tanpa melihat isinya sambil tersenyum mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Walaupun dulu aku kuliah di Inha, tapi untuk mencari dimana letak fakultas kedokteran tidak akan sulit bagiku mengingat dulu aku sering sekali bersafari ke universitas ini.
Aku mengambil ponsel dan menekan beberapa angka kemudian memencet icon gagang telephone berwarna hijau.
“Hallo. Kau dimana?” tanyaku pada suara yang ada di seberang.
“Susul aku di perpustakaan fakultas”
“Oke”
Aku menutup sambungan kemudian berjalan lagi menuju perpustakaan. Tidak heran jika dia akan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Dia sedang sibuk menyusun skripsi. Aku terus menyusuri beberapa koridor melewati orang-orang asing yang tak ku kenal. Beberapa mata memandangku tapi tak sedikit yang mengacuhkanku. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku menemukan perpustakaan itu.
“Busy girl” aku berdecak saat berada di depan wanita yang tengah sibuk mecoret-coreti buku catatannya.
“Seperti itulah” dia mengangkat bahunya malas.
“Judul apa yang di acc oleh dosen pembimbingmu?” tanyaku lagi.
“Sejauh ini belum ada yang di-acc. Aku sampai stress. Lima kali aku mengajukan judul berbeda dan lima kali itu pula judulku di tolak.” Dia mengacak rambutnya frustasi.
“Lalu apa rencanamu sekarang?” tanyaku sambil melihatnya yang hampir gila.
“Aku belum menentukan judulnya. Tapi aku sedang menimbang-nimbang untuk mengembangkan ini” dia menunjuk buku yang cukup tebal di hadannya yang berjudul “Metode Inseminasi”
“Inseminasi?”
“Intra Uterine Insemination. Teknik memasukkan sel-sel sperma yang telah dipreparasi langsung ke dalam rongga rahim menjelang ovulasi. Berbeda dengan bayi tabung yang dalam proses pertemuan sel-sel spermanya dengan sel telur dilakukan diluar rahim” katanya menjelaskan.
“Seberapa besar akurasinya?” tanyaku penasaran. Aku tahu teknik ini tapi tidak pernah mencari detailnya lebih jauh. Yang ada dipikiranku hanyalah bayi tabung yang lebih trend sekarang ini.
“Akurasinya sekitar 10 persen. Jika pasien yang melakukan inseminasi gagal, sebaiknya tidak mengulangnya lebih dari tiga kali”
“Kenapa?”
“Menurut penelitian, seterusnya juga akan gagal”
“Ada yang bilang tingkat keberhasilan bayi tabung sekitar 25 persen, berarti kemungkinan terbesar untuk mempunyai anak lewat jalur ini bisa dibilang lebih efisien dibanding insemninasi?” aku menarik kursi yang berada di sampingnya kemudian duduk, mendengarkan calon dokter ini berceloteh lebih jauh.
“Tidak sepenuhnya seperti itu. Kalau pada wanita kondisinya subur sementara masalah lebih banyak ditemui pada sperma laki-laki, lebih baik menggunakan teknik inseminasi karena pertemuan sel telur dapat dilakukan di dalam tubuh. Dan tata pelaksanaannya tidak serumit jika melakukan bayi tabung. Bayi tabung menuntut si pasien untuk bolak-balik ke rumah sakit, sementara inseminasi tidak. Semuanya tergantung situasi dan kondisi. Kenapa kau mau menanyakan ini? Kau kan anak sastra. Apa kau mau mempraktekkannya? ” dia menatapku curiga yang dari tadi mendengarkan penuturannya dengan saksama.
“Kau tidak waras ya? Ini” aku menyodorkan undangan terakhir padanya.
“Jadilah pendamping pernikahanku” lanjutku.
Dia tersenyum riang mendengar kabar gembira itu “Jadi kau benar-benar akan menikah?”
“Dua minggu lagi”
“Arrrrgh, kau mendahuluiku.”katanya protes sambil membuka undangan yang ada di tangannya.
“Segeralah menyusul. Ku dengar kau sedang dekat dengan seseorang?” tanyaku penuh selidik. Dia mengangkat wajahnya dan berpura-pura tidak mengerti maksudku.
“Siapa?”
“Jadi selama aku di Paris kau dekat dengan Kyu oppa?”
Dia tertawa kecil “Kami hanya sebatas teman”
“Kenapa kalian tidak berpacaran saja?”
“Aku belum berfikir untuk berpacaran. Aku masih senang menjalani yang seperti ini. Aku ingin meraih gelar sarjana kemudian mengambil spesialisasi dan setelah aku dinyatakan sebagai dokter muda, aku baru akan memikirkannya” dia melihatku dengan tatapan bangga pada dirinya sendiri.
“Kau tidak takut oppa berpindah ke wanita lain?” aku mengerutkan dahi.
“Kalau Cho Kyuhyun benar-benar serius denganku, dia pasti akan menungguku sampai selesai”
“Rupanya kalian?” aku mendongak ketika mendengar suara yang lumayan aku kenal. Suaranya terdengar sinis dan sedikit mengintimidasi.
“Vic? Kau di sini juga?” tanyaku heran.
“Kau mengenalnya?” tanya Lexy padaku.
“Dia adik sepupu Donghae”
Dia mendengus kemudian berkata “Kalian berdua sama saja!”
“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti. Bukannya menjawab dia malah pergi begitu saja dari hadapan kami.
“Dia memang seperti itu.” kata Lexy kemudian.
“Pada semua orang?”
“Tidak. Hanya denganku saja. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi kenapa dia bertingkah seperti itu juga padamu?” Lexymenutup buku yang telah selesai di-review-nya.
“Sahabatnya adalah bekas pacar Donghae. Sepertinya dia belum sepenuhnya menerima kehadiranku” aku mengangkat bahu.
“Kau yakin akan tinggal satu atap dengannya juga?”
“Kenapa tidak?”
***
“Donghae-shi, coba kau lihat ini” aku mengangsurkan beberapa artikel terkait inseminasi. Dia mengalihkan pekerjaannya sejenak. Aku sengaja datang ke kantornya untuk memberitahunya tentang teknik inseminasi.
“Lalu kenapa?” dia menatapku, setengah menengadah.
Aku memundurkan kursi, kemudian duduk berhadapan dengannya. “Kita bisa mencoba ini. Bayi tabung terlalu beresiko. Nenekmu tinggal bersama kita, bagaimana kalau dia bertanya kenapa aku harus bolak-balik ke rumah sakit? Tidak mungkin kita memberitahu ini kan?”
“Kau sudah tidak perawan ya?” tanyanya heran.
“Apa?” mataku terbelalak karena tidak mengerti apa maksud pertanyaannya barusan.
-TBC-
To: My lovely reader si bini ikan
Lexy Kim dataaaaaaaaaaaaaaang!!!!!!!!!
LOL LOL LOL aku gak becanda loh bikin kamu dikejar guguk…
Kalo gak gitu kan kamu gak digendong ama si ikan /plak/
Udah ah gitu aja /kabooooooor dari orang 4l4y/
Setelah banyak banget pertanyaan yang muncul dan permintaan untuk tidak mem-protect FF ini, akhirnya aku memutuskan membuka protect-nya. Kalian gak berkewajiban buat komentar, mulai sekarang kalau kalian mau jadi silent readers di FFku silahkan. Aku udah bener-bener ikhlas. Tergantung nyamannya kalian gimana. Aku gak akan mempermasalahkan siders lagi, niatku nulis adalah sekarang untuk memverbalkan tulisanku dan kalaupun ada yang komen, aku anggap itu sebuah bonus:D Ini udah aku pikirin dari semalem setelah perenungan2 (?) dan kalau kalian tanya kenapa FF ini aku protect waktu itu bukan karena ada NC-nya tapi karena aku lagi ngerasa males ada silent readers. Tapi sekarang aku udah gak gitu lagi. Aku gak akan mempermasalahkan ini lagi. Sekarang terserah kalian, kalau kalian mau komen aku baca kalau enggak aku percaya kalau kalian nunggu2 kelanjutan FF ini. I LUVE U ALL:D
Jadi, sekarang udah pada tahu ya siapa kakaknya Hyosun? Ya, jawabannya Kim Young Woon a.k.a Kang In. Nanti ada waktunya kenapa aku milih dia (gak tau di chapt berapa) dan seingatku di komen waktu itu yang nyebutin ini ada satu orang yaitu Lee Hyejin. LOL tapi aku dis karena dia jawabnya borongan. Semua marga Kim di SJ diborong. Ya gak bisalh wkwkwkwkwkwk Dan kemaren ada yang nge’tweet nama ini. Tapi sama aja… Semuanya disebutin. .
Oke, cukup ya… Temukan jawaban dari pertanyaan2 kalian melalui chapt ini dan kalau ada pertanyaan baru, temukan di chapt selanjutnya…
Dan kalau ada apa-apa ke twitter aja di @onyuni
Atau ke FB-ku di Kyu Hyuni

Waahh sbnrnya Vic itu knp toh ga suka ma hyosun?? nenek nya aja lsng suka…
aigo chingu,tenang saja.aku tidak menjadi silent readers kok.hehe ^^
Demi apapun juga donghae kekanakan sekali.haha tp itu juga meruapakan hal2 lucu dr dirinya.hftt-_- inseminasi?bayi tabung?buat anak aja susah ya.kkkkk
kirain kyu ma vict… ehh t’nyata g…
tp kug aq dpt feel si vict suka ma kyu ya???
tp np tw” donghae tanya itu sich???
Gagal nebak aku. Paraaah. Hae konyol bnget sech sampe ngkak aku. Ampun. Kayak anak TK tp seruuu.
Aish hae apa apa an itu nyebut PERAWAN. gilaaaa.
Kayaknya vic sk ma kyu yaa ?? Tp gr2 kyu sk sm sobat hyosu mknya vic gk sk ma itu org.
vik demen tuh kayaknya ma kyu,,, makanya nggak suka ma lexy….. makin asik…