No One Else [Part2]

Title : No One Else [Part2]

Author : ilmacuccha

Cast :

  • SHINee Kim Jonghyun
  • f(x) Amber
  • f(x) Choi Sulli

Support Cast : SHINee member and other

Genre : Family, friendship, fluff

Length : Three-shoot

Rate : PG13

Poster and Thanks To : Shinstarkey (Mian agak ada linknya)

Disclaimer : I just own the story (But I want own Kim Jonghyun, haha)

Preview : Part1 (Klik!)

NB : Diharapkan kepada merasa tidak suka dengan salah satu cast disini untuk tidak membaca FF –nista- saya ini. Karena ditakutkan bisa menimbulkan serangan jantung, pingsan mendadak, dan badan menggigil serta mata yang terus melotot, atau juga keracunan(?). Juga untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Termikasih atas perhatiannya.

Not For Silent Readers!!

Normal P.O.V

“Saudara kembar tepatnya,” tambah Jonghyun yang langsung membuat Onew cs terbelalak kaget. Key bahkan hampir jatuh kalau saja dia tidak sadar kalau dia ini memiliki pamor yang bagus di kalangan fansnya. 

“K..k..kau bisa u..ul..ulangi la..gi Jjong?” Tanya Onew tergagap.

“Aku dan Amber itu sebenarnya saudara kembar, puas?” Tanya Jonghyun yang langsung membuat Onew cs menelan ludahnya.

Mereka memang menyadari jika Jonghyun dan Amber memang sangat mirip, pertama karena rambutnya, lalu bentuk wajahnya bahkan bibirnya sekalipun. Key menepuk dahinya sendiri, dia berpikir kenapa dia tak pernah terpikir jika mereka bersaudara. Taemin kini mulai cegukan karena kekagetannya, dan Minho dia hanya diam seolah sudah mengetahui berita ini sebelumnya.

“Kau tak bercanda?” Tanya Onew lagi. Kini dia sudah bisa mengendalikan pikirannya dan mulai bersikap seperti Onew biasnaya yang selalu bijak.

“Kau pikir untuk apa aku bercanda?” Tanya Jonghyun heran.

“Lalu?” Tanya Minho. Kali ini setelah dia hanya diam saja bahkan seolah tak peduli pada apapun, dia pun mengeluarkan pertanyaan.

“Lalu apa?” Tanya Jonghyun.

“Apa yang ingin kau lakukan dengan menyembunyikan identitasmu dan Amber itu?” Tanya Minho panjang lebar. Jonghyun menyipitkan matanya dan diam seolah berpikir.

“Entahlah, hanya tak ingin orang-orang tahu. Sulli lebih tepatnya,” ujar Jonghyun.

Key membulatkan mulutnya. “Yeah, kalau Sulli aku tahu. Dia seperti brother complex,” ujar Key.

“Kurasa bukan brother complex lagi, tapi Jonghyun complex,” ralat Minho.

Jonghyun mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” Tanya Jonghyun heran.

“Kau tahu, dia selalu menyingkirkan yeoja yang dekat denganmu kan? Dan terkadang sedikit keterlaluan untuk seorang adik yang ingin dapat perhatian dari Oppanya, aku malah terkadang mengartikan dia menyukaimu Jjong,” ujar Minho yang langsung membuat semuanya tersedak.

“Aku sedikit ragu, tapi soal menyingkirkan itu memang benar. Aku juga merasakannya, oleh karena itu aku ingin kalian merahasiakannya dari Sulli,” ujar Jonghyun.

“Merahasiakan apa Oppa?” Tanya seorang yeoja dari belakang mereka. Kelima namja itu pun serentak menoleh dan menelan ludahnya sendiri.

“A-ani, ini soal namja, kau tak boleh mendengarnya, sudah sana!” Ujar Jonghyun sambil nada mengusir. Sulli hanya mengerucutkan bibirnya dan menjauh dari meja Jonghyun dengan teman-temannya yang menunggunya dari kejauhan.

“Ada apa Sulli?” Tanya temannya.

“Kerja baru,” ujar Sulli sambil tersenyum polos.

***

Seorang yeoja membulatkan matanya saat baru saja masuk ke kelas. “Ya! Apa yang terjadi dengan bangkuku?!” Tanyanya kesal sambil berusaha menyingkirkan sampah yang berserakan di mejanya. Yeoja itu semakin kesal ketika membaca sebuah catatan cukup besar yang sudah terpampang di mejanya. Yeoja Jalang.

“Sialan! Siapa yang melakukan ini HAH?!” Ujarnya geram.

“Ada apa sih?” Tanya seorang namja berambut kuning heran saat melihat kelasnya kini cukup kotor.

“Jonghyun! Ada seseorang yang menulis ini di mejaku!” Seru Amber sambil menunjuk sebuah catatan di bangkunya pada Jonghyun. Jonghyun mengernyit heran lalu kemudian mengangguk mengerti.

“Sudahlah, biarkan penjaga sekolah mengurus bangku ini, kau pakai bangku yang kosong dulu di kelas ini. Dan semuanya bubar, pelajaran akan segera dimulai,” titah Jonghyun. Semua murid pun menurut dan kembali ke bangkunya masing-masing. Pamor Jonghyun memang cukup berpengaruh di kelasnya, apalagi dengan pamor yang membuat dia cukup ditakuti itu.

“Tap..i Jong-,”

“Diam, sudah kubilang pakai saja bangku yang kosong dulu, ara?” Potong Jonghyun sambil menatap tajam Amber.

Amber hanya menghela nafasnya menyadari perbedaan sikap Jonghyun, dia pun duduk di belakang Jonghyun. Walaupun dalam hatinya dia masih penasaran siapa yang berbuat seperti itu padanya, dia masih murid baru dan sudah ada yang benci padanya? Oh my! Itu terdengar sangat buruk sekali.

“Ya! Apa yang terjadi dengan kelas ini?! Kenapa kotor?! Kalian tidak membersihkannya?!” Tanya Kim Songsaenim yang baru saja masuk sambil menutup hidungnya.

“Hanya orang iseng, kami sudah membersihkannya, hanya ada beberapa sampah yang menempel dengan bangku milik Amber jadi kami akan membersihkannya nanti, dan saya rasa Anda tidak perlu menutup hidung Anda karena sampahnya tidak bau sama sekali,” ujar Jonghyun dingin. Kim Songsaenim hanya menatap Jonghyun sedikit kesal dan takut. Akhirnya dia pun langsung mengajar tanpa berkomentar apapun lagi.

“Masalah lagi,” desah Jonghyun pelan.

Jonghyun mendesah pelan pada kawanannya di kantin. Mereka kini sedang berwajah masam sambil memikirkan sesuatu.

“Aku tak menyangka akan secepat ini,” ujar Jonghyun. Onew mengangguk.

“Dia serius, sepertinya,” ujar Minho.

“Tapi apa yang membuatnya bergerak cepat?” Tanya Jonghyun bingung. Onew menoleh pada Key, sementara Key hanya mengangkat bahunya dan memasang wajah seperti ingin mengatakan ‘terserahmu-lah-hyung-!’

“Oke, kami akan jujur. Sulli yang melaporkan kau mencium kening Amber pada saat akan mengantarnya pulang, dia berbicara ini pada Taemin dengan menggebu-gebu. Sepertinya dia sudah mulai berpikir saat itu,” terang Onew.

“Aku tahu, tidak mungkin Sulli tidak diam di balkon sambil menunggu aku pulang,” ujar Jonghyun.

“Lalu kenapa kau sengaja memancing amarahnya Jjong? Itu akan membuat kita dan tentunya aku menjadi repot!” Gerutu Key sambil menunjuk-nunjuk Jonghyun.

Jonghyun memandang Key sebentar. “Nah, masalahnya bagaimana bisa menuduhnya melakukan semua ini?” Lanjut Jonghyun tanpa memperdulikan Key yang kini sudah mengambil ancang-ancang untuk menonjok si pemilik rambut kuning itu.

“Sudahlah berhenti Key!” Teriak Onew sambil berusaha mencegah tangan Key yang beberapa senti lagi akan mencapai pipi Jonghyun. Key mencibir, sementara Jonghyun tersenyum simpul melihatnya.

“Yah, dia tak akan mengalah dan bercerita yang sebenarnya jika hanya tuduhan tanpa bukti. Dan masalah keduanya adalah dia sudah cukup pintar dalam pekerjaannya,” ujar Onew dengan nada yang bijaksana.

“Sulli memang musuh sekaligus adik yang harus diperhitungkan, dia tak akan mengulangi kesalahannya saat ingin menyingkirkan Luna,” ujar Jonghyun lagi.

“Yah, tapi dia berhasil membuat Luna pergi ke Amerika, walaupun memang Luna yang setuju sih. Aku yakin dia akan memakai anak buah dan membuatnya tidak akan ketahuan seperti kasus Luna,” tambah Key. Dia sudah mulai ikut dalam pembicaraan ini dengan serius.

“Dan aku rasa, kali ini dia tahu kalau Amber orang yang penting bagi Hyung jadi dia sepertinya akan sedikit hati-hati seperti pada Luna,” Taemin pun angkat bicara. Onew hanya mengangguk pelan.

“Cari bukti dan Jonghyun kau harus membuatnya jera, ara?” Tanya Onew yang diikuti anggukan dari Jonghyun dan yang lain. “Ini harus jadi yang terakhir,” lanjutnya dengan serius.

“Sepertinya lebih berat,” gumam Taemin. Semuanya pun mengangguk dan akhirnya mulai memakan makan siang mereka setelah rapat singkat tadi.

“Eh, Hyung, lalu bagaimana dengan Appa Hyung mendengar Amber Noona pulang dan sekolah di sekolah yang sama denganmu Hyung?” Tanya Taemin.

“Ya, dia cukup senang setidaknya aku dan dia bisa bertemu lagi, dan katanya dia akan mengunjungi rumah Umma sebagai tetangga baru,” jawab Jonghyun sambil terus memakan makanannya. Taemin hanya membulatkan mulutnya.

“Kalian memang benar-benar saudara kem-, apa itu?!” Tanya Onew panik saat mendengar suara sesuatu yang jatuh dengan keras di sekitar kantin. Semua orang pun langsung berlari menuju sumber suara begitu pula dengan Jonghyun dan yang lainnya.

Jonghyun membulatkan matanya setelah melihat apa yang terjadi. “Amber?!” Teriak Jonghyun panik.

Dia mendekati Amber yang masih shock terduduk beberapa senti dari pot jatuh yang membuat semua orang panik itu. Jonghyun bisa melihat wajah Amber yang cukup pucat dan deru nafas dari Amber yang memburu.

“Be..berapa senti l..lagi, ma..k..ka aku ma..mati,” gumamnya dengan nada yang bergetar. Jonghyun memandang Amber iba, ketika dia hendak memeluk Amber, seorang yeoja datang dengan nafas yang memburu juga.

“A..apa hh yang terjadi? Hhh,” ucapnya sambil menopang badannya dengan memegang lututnya. Jonghyun menoleh kearah yeoja itu dan menatapnya dengan tajam.

“Dia hampir mati kalau saja dia berjalan beberapa senti lagi, kau pasti tahu kan Sulli?” Tanya Jonghyun dengan geram pada Sulli. Sulli hanya mengernyit heran dia kemudian menghampiri Jonghyun dan berjongkok dihadapannya.

“Apa maksud Oppa?” Tanyanya.

“Kau tak perlu pura-pura, kau kan yang melakukan semua ini?!” Seru Jonghyun tepat didepan wajah Sulli.

Sulli terduduk saking kagetnya dengan suara Jonghyun. “Maksud Oppa aku yang melakukan semuanya? Bagaimana bisa?” Tanyanya dengan wajah kaget.

“Tak usah berbohong! Kau kan yang mem-argh!” Erang Jonghyun sambil terjatuh saat Minho menonjoknya. Jonghyun mengusap darah yang sudah mengalir di sudut bibirnya, dan memandang tajam Minho.

“Oppa!” Seru Sulli. Baru saja dia akan menghampiri Jonghyun, Minho memegang pergelangan tangan Sulli.

“Biarkan dia, dia butuh ketenangan, kau ke kelas saja daripada nanti dia jadi brutal,” titah Minho. Sulli pun menurut walaupun dari pandangan matanya masih memancarkan kekhawatiran pada Jonghyun. Setelah Sulli pergi, Onew dengan segera menyuruh semua orang bubar.

“Jong, kau harus sabar, bagaimana bisa membuatnya mengaku kalau kau emosi seperti ini?” Ujar Onew sambil membersihkan pecahan pot yang berserakan. Sementara Key dan Taemin kini sedang mencoba menghibur Amber yang masih shock, dan Minho dia sedang mengompres lebam yang dibuat oleh dirinya sendiri di sudut bibir Jonghyun.

“Tapi kau kan tak perlu memukulku separah ini kan?” Seru Jonghyun kesal.

Minho terkekeh pelan. “Tapi menyenangkan, setidaknya melihatmu mengerang karena tonjokanku cukup memuaskan hatiku,” ujarnya sambil sedikit menyerigai. Jonghyun mencibir.

“Bagaimana dengan rencana kita yang cemerlang itu?” Seru Key dari kejauhan.

“Jangan dulu, setidaknya sampai dia benar-benar sudah keterlaluan,” jawab Jonghyun.

***

“Semakin menyenangkan, rencana selanjutnya ‘teriak’,” ujar seorang yeoja sambil mengetik sebuah pesan sebelum akhirnya seringaian terlukis di bibirnya.

***

Drrt..Drrt..

Amber merogoh ponsel di saku roknya yang kini sedang sedang bergetar, dia mengerutkan keningnya saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya itu.

“Yoboseyo,”

“Hari ini kita makan ice cream yuk! Jangan lupa pulang sekolah kutunggu!” Seru seorang namja di seberang sana dan langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Amber.

“Ya! Jong! Kau ini! Argh!” Gerutu Amber kesal sambil menatap kesal layar ponselnya.

“Amber-a, waeyo?” Tanya seorang yeoja berambut panjang disamping Amber. “Hanya orang aneh, jangan dipirkan Krystal-ah,” jawab Amber pada teman sekelasnya itu.

Krystal hanya tersenyum, dia pun mengeluarkan ponselnya dari saku roknya. “Ah ya, Amber-a, boleh aku minta nomormu?” Tanya Krystal.

“Tentu,” jawab Amber. Krystal memberikan ponselnya ke Amber dan membiarkan Amber mengetikkan nomornya di ponsel Krystal. Krystal tersenyum penuh arti saat itu.

“Kau bisa sms aku nanti,” ujar Amber sambil menyerahkan kembali ponselnya pada Krystal.

Krystal mengangguk sambil tersenyum. Amber sekarang masih sibuk dengan ponselnya tanpa mengetahui makanannya sudah sampai, Krystal lagi-lagi tersenyum penuh arti.

“Amber-a, makanannya sudah sampai, kajja kita makan!” Ajak Krystal sambil menyodorkan makan siang Amber. Amber tersenyum dan mengangguk dia pun dengan segera melahap makanannya sambil sedikit bercanda dengan Krystal.

“Eum, mashita!” Seru Amber saat makanannya sudah habis. Krystal ikut mengucapkan kata yang sama seperti Amber sambil mengelap pelan sudut bibirnya dengan tissue.

“Kita ke kelas langsung?” Tanya Krystal.

“Ehm, ne,” ujar Amber. Setelah membayar semua makanan yang mereka makan, mereka pun berjalan santai ke kelas mereka, terkadang sambil membicarakan sesuatu.

“Kulihat akhir-akhir ini kau dekat dengan Jonghyun,” ujar Krystal.

Amber terdiam sebentar. “Eh? Ani, apa kau berpikir seperti itu?” Tanya Amber sedikit kaget dengan ucapan Krystal.

Krystal mengangguk sambil memandang Amber. “Ne, ini bukan pikiranku saja, tapi pikiran semua orang yang mengenal Jonghyun juga fansnya,” jawab Krystal.

Amber tertohok mendengar ucapan Krystal. “Jonghyun, di-dia di-dia punya FANS? Masa?! Aigoo~ kenapa orang seaneh dia terkenal sih?! Hahahaha,”

Amber malah tertawa mendengar jawaban Krystal. Dia benar-benar tak menyangka Jonghyun yang benar-benar dia anggap aneh itu walaupun ada janji aneh yang dulu pernah dia ucapkan soal tampannya Jonghyun, tapi dia ingin tertawa mendengar Jonghyun punya fans yang mengangung-agungkan dia.

“Amber-a, waeyo? Jonghyun memang terkenal kok, buktinya jarang ada yeoja yang bisa dekat dengannya dalam jarak satu meter kecuali Sulli adiknya dan kau,” jelas Krystal. Amber berhenti tertawa, pantas saja beberapa hari ini banyak sekali yang menjahilinya, dan itu pasti karena dia dekat dengan Jonghyun.

“Aku tak tahu kalau dia itu sebenarnya ter-aduh, perutku sakit sekali,” lenguh Amber sambil menekan perutnya.

“Gwenchana? Kita perlu ke UKS?” Tanya Krystal dengan nada khawatir.

“Ani, aku ingin ke toilet dulu, sepertinya tadi aku terlalu banyak memakai saus di makananku, kalau aku telat ijinkan aku sebentar ya, oke Krys?” Ujar Amber sambil buru-buru berjalan meninggalkan Krystal. Dia dengan secepat kilat pergi ke toilet yang cukup jauh dari kantin dan kelas. Dia tak mempedulikan tatapan aneh orang lain yang melihatnya terus melenguh dan terus menekan perutnya.

“Aigoo, aigoo,” ujarnya saat akhirnya dia sudah sampai di toilet.

Dia pun segera masuk ke toilet dan menyelesaikan urusannya dengan tempat yang sebenarnya cukup ditakuti itu. Amber bernafas lega setelah benar-benar menyelesaikan ‘urusan’nya, dia pergi ke wastafel dan mencuci tangannya, sambil sedikit bersiul dengan maksud menghibur dirinya sendiri.

“Selesai, aku harus segera keluar Lee Songsaenim tak akan membebaskan aku,” gumam Amber sambil berjalan menuju pintu keluar toilet. Dia terheran melihat pintu itu tiba-tiba sudah menutup, Amber memegang kenop pintu itu dan mencoba membukanya namun ternyata hasilnya pintu itu terkunci.

“Aneh, kurasa tak ada aturan kalau sedang belajar toilet dikunci,” gumam Amber. Dia kembali mencoba membuka pintu itu sambil berharap ada seseorang yang menyadari dirinya di berada di dalam toilet. Namun nihil pintu itu tetap terkunci, Amber mengambil ponselnya dan berusaha mengirim pesan pada Jonghyun dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Jong, tolong aku, pintu toilet terkunci dan ak-,” Amber memutuskan kata-katanya.

Dia ikut berhenti mengetik pesan ketika lampu di toilet mati. Amber menghela nafas panjang, dia masih memegang ponselnya yang masih menyala. Dia bisa melihat ruang kosong di sekitarnya sangat gelap walau ada satu ventilasi yang memancarkan cahaya, tapi itu cahaya yang sungguh benar-benar tak berarti bagi Amber sekarang. Amber masih berdiri di dekat pintu keluar yang masih terkunci, dia sangat waspada dengan apa yang terjadi. Dia sekarang tidak bisa mengetik pesan lagi saking terlalu takutnya dia terhadap kegelapan.

Amber memukul-mukul pintu toilet. “Ya! Yang diluar tolong aku! Aku terkunci di toilet!! Ya! Tolong aku!!” Teriaknya dengan sekuat tenaga dari dalam toilet. Namun tak ada siapapun di luar karena memang semuanya sedang belajar, ditambah toilet memang cukup jauh dari beberapa ruang kelas.

“Ya!! Tolong aku!! Buka pintunya!! Ya!!” Amber masih berusaha berteriak di tengah ketakutan yang manghinggapinya kini.

Dia terus menoleh ke belakang dan sampingnya, dan masih terus membiarkan ponselnya menyala. Dia kini sudah sibuk menekan tombol-tombol yang terdapat di ponselnya, berusaha melanjutkan pesan yang akan dia kirim untuk Jonghyun.

Srek

Amber menghentikan aktivitas mengetiknya, dia mengawasi sekelilingnya. Tidak ada apapun disana. Pikiran Amber kini sudah mulai terkontaminasi oleh hal-hal yang sering terlihat di film horror dan pembunuhan yang pernah ia tonton. Amber menggelengkan kepalanya sambil berusaha berpikir positif.

“Mungkin tikus,” gumamnya menenangkan dirinya sendiri. baru saja dia mengetikkan satu huruf di ponselnya suara itu terdeteksi lagi oleh telinganya. Kali ini Amber benar-benar sudah menyesali kenapa dia pergi sendirian ke toilet, padahal tadi ada Krystal!

“Huh, ayo lanjutkan sms,” ujar Amber sambil mengambil nafas panjang.

Srek

Lagi-lagi suara itu. Amber semakin merinding mendengarnya, dia masih terus mengawasi toilet dan beberapa bilik toilet dengan nafas yang sedikit memburu.

Srek

Suara itu semakin terdengar jelas, dan Amber sangat yakin sekaligus menyesal karena berpikir suara itu sedang mendekatinya. Suara seperti kain yang menyapu lantai kini benar-benar terdengar jelas oleh Amber, dia sedikit menyorotkan cahaya yang dipancarkan ponselnya ke lantai (untuk menghindari sesuatu yang dilihatnya jika dia menyorotkannya ke bagian depan).

Nafas Amber semakin memburu saat melihat sesuatu berwarna putih sedang berjalan mendekatinya. Amber sudah mulai tak tenang, dia terus menghela nafas panjang dengan bibir yang sedikit bergetar. Dia ingin sekali berteriak dan menangis memohon agar seseorang segera datang dan mendobrak pintu toilet itu. Dia ingin sekali bisa menyelesaikan pesan singkatnya untuk Jonghyun agar dia segera datang, sayangnya tangannya terlalu bergetar hebat dia bahkan bisa merasakan ponselnya mulai lepas dari genggamannya.

Amber hanya bisa diam sambil sedikit menitikkan air matanya karena ketakutannya. Suara itu semakin terdengar dan Amber hanya bisa pasrah, dia semakin menyesali pikirannya yang berpikir kalau ‘sesuatu’ itu sudah berada beberapa meter lagi di depannya.

“Apapun, asal jangan takuti aku,” ujar Amber dengan nada yang bergetar.

Suaranya begitu parau, dan terdengar begitu takut. Amber mulai terduduk sambil memeluk lututnya, berharap ‘sesuatu’ itu pergi dan membiarkan dia hidup bahagia. Amber merasakan ‘sesuatu’ itu ikut merunduk dan dia bisa merasakan rambut si ‘sesuatu’ itu di lututnya. Walaupun gelap, dia masih bisa melihat sedikit karena ada sedikit cahaya yang masuk ke toilet.

“KYAAAA!!” Amber berteriak saat merasakan sesuatu seperti tangan menyentuh pundaknya. Setelah itu tanpa dia sadari dia pun langsung pingsan di toilet itu.

***

Kali ini Jonghyun sedang berlari dengan wajah yang terlihat khawatir pada seseorang. Dia langsung membuka pintu sebuah ruangan dengan tergesa-gesa dan masuk ke ruangan yang terlihat dipenuhi dengan warna putih.

“Apa yang terjadi?” Tanya Jonghyun dengan nada khawatir.

“Apa yang terjadi pada Amber?” Tanyanya lagi pada seorang siswi dan satu orang yang terlihat seperti dokter itu.

“Dia hanya pingsan, tak usah khawatir,” ujar guru kesehatan itu.

Jonghyun menghembuskan nafasnya. “Jeongmal? Huft, aku pikir dia kenapa, kamsahamnisa Lee Songsaenim,” ujar Jonghyun sambil membungkuk pada guru kesehatan itu. Lee Songsaenim pun pamit sebentar ketika melihat raut wajah Jonghyun seperti ingin berbicara pada yeoja yang sedang duduk di pinggir Amber itu.

“Apa yang terjadi sebenarnya, Krystal?” Tanya Jonghyun pada yeoja itu.

“Tadi saat kau permisi ingin ke toilet, kau tak masuk lagi dan ada seorang siswa yang memberitahuku kalau Amber sedang di UKS, apa ada hubungannya?” Tanya Jonghyun sedikit menyelidik. Yeoja yang bernama Krystal itu menggeleng saat menyadari ucapan Jonghyun sedikit memberitahu kalau yeoja itu pelakunya.

“Ani, Jonghyun-sshi, dengar dulu. Tadi aku di kantin bersama Amber, setelah selesai Amber berkata kalau dia sakit perut dan menyuruhku duluan ke kelas, tapi setelah pelajaran berlangsung anehnya Amber tak datang, aku jadi khawatir dan memutuskan untuk ke toilet juga. Tapi, saat aku datang ke toilet itu aku menemukan kalau toilet itu terkunci dan aku pun meminta penjaga sekolah membukakannya, setelah itu,”

“Kau melihat Amber sedang pingsan begitu?” Tanya Jonghyun setelah mendengar penjelasan Krystal itu. Krystal mengangguk dan tak berani menatap mata Jonghyun. Jonghyun mendesah, dia sudah mempunyai calon tersangka dalam pikirannya. Satu-satunya orang yang mempunyai motif adalah adiknya sendiri, Kim Sulli.

Jonghyun mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. “Lakukan saja,” ujar Jonghyun pada orang yang diteleponnya tadi. Dia sedikit terlihat lega dan duduk di depan Krystal.

“Kau boleh ke kelas, aku yang akan menjaganya,” ujar Jonghyun sambil tersenyum pada Krystal.

Krystal sedikit kaget melihat perubahan wajah Jonghyun setelah menelpon seseorang tadi, tapi dia mengangguk mengerti bisa melihat Jonghyun tersenyum padanya saja sudah menjadi sebuah kebanggaan yang harus dipamerkan pada temannya.

“Annyeong Jonghyun-sshi,” ujar Krystal sambil sedikit menundukkan kepalanya. Jonghyun mengangguk kemudian tersenyum kembali pada Krystal dan langsung memantapkan pikiran Krystal untuk pamer dihadapan teman-temannya.

Jonghyun sedikit mencengkram sisi tempat tidur yang ditiduri Amber itu. “Ya, bodoh, cepat sadar,” ujar Jonghyun atau bisa disebut lirihan karena hampir tak akan terdengar jika saja ruangan itu tak sepi.

Dia pun duduk di samping Amber, sambil memandang wajah Amber yang hampir mirip dengannya. Jonghyun sedikit menguatkan hatinya untuk membelai rambut Amber, walaupun itu bisa menjatuhkan reputasinya sebagai seorang kakak yang terkesan ‘cool’.

“Karena kau lebih bodoh dariku aku jadi duduk disini menunggumu, karena aku majikanmu kau harus cepat sadar bodoh!” Ucap Jonghyun sedikit berteriak.

Dia memang tipe yang tak bisa jujur pada seseorang berarti baginya, bahkan untuk Onew cs pun dia merahasiakan rahasia soal Amber sejak mereka berteman 6 tahun yang lalu.

“K..kau in..i ber..kata ap..pa sih? Membuatku t..ak bisa tidur saja,” ujar Amber dengan suara paraunya. Jonghyun terkesiap, dia dengan segera menjauhkan tangannya dari kening Amber.

“Tak usah kau anggap saja, lagian kau tadi itu tidur atau pingsan sih? Aku daritadi menunggumu sampai bisa lumutan gini ditambah lagi kau itu kok mendengkur sih?” Tanya Jonghyun panjang lebar berusaha menutupi kalau dirinya sangat khawatir pada saudara kembarnya itu.

Amber tersenyum bahagia, dia pun duduk di tempat tidur dan langsung memeluk Jonghyun. “Aku tak apa-apa kok, jangan khawatir,” ujar Amber seolah tahu apa yang ada dipikiran Jonghyun sejak dia ditemukan pingsan di toilet.

“Si-apa yang menanyakan keadamanmu huh? Kau ini terlalu pede!” Ujar Jonghyun tanpa berusaha melepaskan pelukan Amber.

Amber terkikik geli saat Jonghyun salah mengucapkan ‘keadaan’ menjadi ‘keadaman’, dia semakin tahu kalau saudara kembarnya yang sangat narsis ini sangat khawatir padanya. Mana mungkin dia melupakan kebiasaan saudaranya walaupun sudah pernah tak bertemu selama 10 tahun.

“Gwenchana, kau tak usah menangis seperti ini,” ujar Amber.

“Siapa yang menangis hah?!” Teriak Jonghyun sambil melepaskan pelukannya dengan Amber. Amber semakin terkikik melihat tingkah laku Jonghyun yang sudah sangat aneh ini.

“Pokoknya tak peduli, kita makan ice cream setelah sepulang sekolah, jangan coba kabur!” Teriak Jonghyun sambil meninggalkan Amber di UKS dengan senyum yang lebih merekah dibanding ketika baru saja masuk ke ruang tersebut.

“Bodoh,” gumam Amber.

***

Sementara itu di tempat lain…

“Kita lakukan hari ini, jangan sampai ketahuan, rencana yang cemerlang harus disertai aksi cemerlang pula,” ujar seseorang kepada teman-temannya.

***

Semilir angin sepoi-sepoi menerpa wajah seorang yeoja dikuncir dua yang kini tengah berdiri di sebuah taman kecil di belakang sekolah. Sambil menutup mata seolah menikmati suasana tenang itu, dia mendegarkan seorang yeoja yang kini tengah berada di belakangnya.

“Rencananya memang berhasil, tapi aku melihat Jonghyun seperti sangat menyukai Amber, dari raut wajahnya saat mendengar Amber pingsan kita bisa tahu kalau Amber memang berarti bagi Jonghyun,” ujar yeoja itu pada yeoja yang ada didepannya.

“Setelah Luna, sekarang ada pengganggu lain, aigoo~, bagaimana dengan yeoja yang kau suruh menakutinya itu? Kau sudah membungkamnya kan?” keluh yeoja berkuncir dua itu.

Yeoja yang ada di belakang itu mencibir pelan. “Kau pikir aku bodoh sampai tak memikirkan itu? Tentu saja rencana ini sudah kusiapkan dengan matang. Lalu,yang kudengar dari temanku mereka akan makan ice cream setelah pulang sekolah,” ujar yeoja yang satunya.

“Mwo?! Aku saja jarang diajak keluar olehnya!” Teriak yeoja berkuncir dua itu kesal. Yeoja pelapor itu hanya mengangkat bahunya saat yeoja berkuncir dua menatapnya seperti meminta pendapat.

Yeoja berkuncir dua itu menghela nafas pelan. “Unnie, kau boleh pergi maaf sudah merepotkanmu,” ujar yeoja berkuncir dua itu pada yeoja yang terus melapor itu.

“Baiklah, tapi Sulli kau harus tahu aku seumuran denganmu,” ujar yeoja itu pada berkuncir dua yang tak lain  adalah Sulli.

“Tapi kau ini berstatus kakak kelas sekarang, Krystal,” timpal Sulli. Krystal hanya tersenyum.

“Yah, menyenangkan juga bekerja sama denganmu Sulli, kau bisa meminta bantuanku kapan-kapan,” ujar Krystal sambil tersenyum kecil.

“Iblis kau,” timpal Sulli sambil masih terlihat berpikir.

Krystal terkekeh pelan. “Kau pikir kau apa? Aku hanya membantumu mencapai tujuanmu itu, setidaknya aku lihat Jonghyun dua kali tersenyum padaku dan berbicara dengan nada lembut padaku,” ujarnya.

Sulli membalikkan badannya dan menatap Krystal. “Aku yang harusnya lebih pamer padamu Krys,” ujar Sulli.

Krystal hanya terkekeh pelan. “Aku duluan, Sul-a,” ujar Krystal.

Kali ini dia benar-benar meninggalkan Sulli dengan pikirannya. Sulli memang tak bisa ditebak, wajahnya yang imut itu mengandung beberapa persen kebencian pada yeoja yang dekat satu senti saja dari Jonghyun kecuali Umma dan mungkin saudaranya. Itu bisa disebut brother complex, tapi untuk kasus Sulli, seperti yang dulu Minho katakan kalau Sulli mempunyai penyakit lebih parah, yaitu Jonghyun complex.

Sulli memutuskan untuk pergi ke kelasnya dan mencari rencana baru, namun barus saja dia melangkahkan kakinya beberapa langkah sepasang tangan besar sudah membekap mulut dan hidungnya dengan saputangan. Seketika itu Sulli pun pingsan karena menghirup obat bius yang terdapat di saputangannya itu.

“Lancar,” ujar orang tersebut.

No One Else status : To Be Continued

Annyeong All!!

Ketemu lagi sama pacarnya Jonghyun, hihi. Mian lama update part2-nya, kemaren sibuk mikirin FF yang I’m Hungry nih udah pada baca belom?? #malahpromosi

Oh ya, bagi penggemar SHINEEFFECT (SHINee+f(x)) Jangan lupa kunjungin + komen ke blog Shinyeffect disitu semuanya soal Shinee+f(x). Ah! terus kunjungin blog aku juga ya klik –> My station

Ya udah basa-basinya, pokoknya aku minta maaf soalnya rada lama aku post part2-nya, mianhae #bow

Note :

1. Jangan panggil saya thor, panggil aja mail/chingu oke?

2. Buat yang gak suka, please jangan baca aja, daripada komen aneh(?)

3. Please Leave a Comment (Important) !!

4. See You on Next Fanfiction !!

5. Ini note terakhir : BYE!!


-ilmacuccha-

17 thoughts on “No One Else [Part2]

  1. Pingback: No One Else [Part3] « FFindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s