TEASER | INNOCENT 1 | INNOCENT 2 | INNOCENT 3
Author: v3aprilia feat dwiananing
Length: chaptered
Genre: friendship, Angst, romance, family
Rating: PG-13
Cast: udah bisa ditebaklah,
Soundtrack: Eric Clapton – Tears In Heaven
PS: di akhir FF nanti ada polling, readers boleh vote part berapa di FF Innocent Love ini yang paling readers suka. It’s just for fun, sekaligus nyari tau siapa pairing yang paling difavoritkan, hehehe
INNOCENT 6
Gikwang – Iseul
Iseul mendongakkan kepalanya ketika dia mendengar suara pintu dapur belakang di kedai ramen itu membuka. Wajah pucatnya yang kelelahan mendadak cerah melihat sosok yang keluar itu adalah orang yang ditunggunya sejak sore tadi, Son Dongwoon. Sebenarnya Iseul tidak asing lagi dengan kedai ramen ini, karena sebenarnya ini adalah kedai milik ibunya, dan beberapa hari yang lalu ibunya bercerita kalau ada pegawai baru di kedainya.
“Namanya Dongwoon, dan saat dia melamar kerja padaku sebulan yang lalu, dia masih memakai seragam sekolah, seragamnya sama denganmu.”
Iseul tahu, dia adalah Dongwoon yang dia cari, kakak Hye Ran yang sudah sebulan ini kabur dari rumah. Iseul tidak tahu bagaimana cara Dongwoon bertahan hidup selama sebulan ini, karena meskipun dia bekerja, tentu saja dia tidak punya tempat tinggal. Dia ingin membujuk Dongwoon supaya mau kembali pulang ke rumah, meskipun dia tahu itu akan sulit. Salah satu caranya, Iseul meminta tolong pada ibunya supaya dia tidak cerita kalau Iseul adalah anaknya, karena kalau sampai Dongwoon tahu Iseul adalah anak dari bosnya, dia pasti tidak mau lagi bekerja di kedai.
“Permisi,” kata Iseul. Dongwoon, yang masih kerepotan membawa bungkusan besar berwarna hitam yang berisi sampah, menoleh. Dia tersenyum sekilas, membuang sampah yang dibawanya ke bak sampah besar di dekatnya.
“Kalau anda ingin makan ramen, pintunya ada di depan, anda salah masuk,” kata Dongwoon.
“Aku tidak ingin makan,” kata Iseul. “Aku datang kesini untuk mencarimu.”
Dongwoon mengerutkan kening, menatap Iseul aneh.
“Aku Iseul, sahabat adikmu, Hye Ran.”
Air muka Dongwoon seketika berubah keruh. Dia mendengus keras lalu segera menutup pintu belakang.
“Tunggu sebentar!” seru Iseul. “Tolong dengarkan aku dulu!”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Dongwoon dingin. “Memintaku supaya aku pulang ke rumah, karena kau sudah terlanjur menerima bayaran yang tinggi dari keluargaku?”
“Jangan menuduhku seperti itu!” kata Iseul tersinggung. “Memangnya wajahku ini seperti wajah orang yang mata duitan?”
“Maaf, aku sibuk, kau pulang saja,” kata Dongwoon. Tepat sebelum dia menutup pintu, Iseul berteriak,
“Aku akan tunggu sampai kedai tutup!”
***
Dua orang karyawan di kedai itu terlihat sedang mengelap meja dan menaikkan kursi-kursi ketika Iseul masuk. Salah seorang karyawan itu, yang memang mengenal Iseul karena yeoja mungil itu adalah anak bosnya, hendak menyapa. Tapi Iseul meletakkan jarinya di bibir. Bisa gawat kalau ketahuan Dongwoon.
“Aku mau mencari Dongwoon,” kata Iseul, setengah berbisik. Dia menunjuk-nunjuk dapur, dan karyawan itu mengangguk. Dengan diiringi tatapan heran karyawan kedai, Iseul masuk ke dapur.
Dongwoon masih mengelap meja dapur, dan saat dia melihat Iseul sudah berdiri di pintu, dia menghela napas kesal.
“Mau apa lagi?” tanyanya. “Sebaiknya kau telepon Hye Ran dan bilang padanya kalau aku tidak akan menemui orangtuanya lagi.”
“Dengan kata lain, orangtuamu juga,” kata Iseul. Dongwoon membanting lap meja di tangannya dan beralih merapikan mangkuk-mangkuk di rak, yang sebenarnya sudah rapi dari tadi.
“Hye Ran selalu memikirkanmu,” kata Iseul. “Selama sebulan kau pergi dari rumah, selama itu juga hampir tiap hari dia menangis karena dia bingung harus mencarimu kemana.”
“Benarkah?” tanya Dongwoon dingin, tanpa sekalipun menatap lawan bicaranya.
“Kenapa kau juga bersikap dingin padanya? Dia kan adikmu,” kata Iseul. “Memangnya apa salahnya padamu?”
“Karena dia adalah anak dari seseorang yang sangat kubenci.”
“Orang yang kau benci itu kan ibumu…”
“Dia bukan ibuku!” teriak Dongwoon. Iseul terkejut dan dia mundur beberapa langkah, sementara karyawan yang berada di luar dapur bergegas masuk.
“Dongwoon-ah!” teriak mereka. Ibu Iseul juga ikut masuk ke dapur dan melihat anaknya dan karyawannya.
“Apa yang kau lakukan, Dongwoon-ah?” tanya ibu Iseul. Dongwoon tergagap, dia tidak sadar kalau dia berteriak terlalu keras.
“Maaf, aku yang membuat keributan,” kata Iseul, berusaha membela Dongwoon. Dongwoon menoleh dan menatapnya heran. Kenapa anak ini melindunginya?
“Aku… akan keluar sekarang. Aku minta maaf,” kata Iseul, dan dia bergegas keluar lewat pintu belakang. Dongwoon menyusulnya, tapi belum sempat namja itu bicara, Iseul sudah lebih dulu menyelanya.
“Memangnya salah ya, kalau Hye Ran adalah anak dari seseorang yang kau benci?” tanya Iseul. “Apapun masalah yang sedang kau alami dengan ibumu, jangan libatkan Hye Ran. Dia mana tahu dengan masalahmu, dia tidak salah apa-apa.”
“Lalu apa urusanmu?” tanya Dongwoon. “Aku bahkan tidak mengenalmu, tapi kau tiba-tiba masuk dan sok menjadi pahlawan ingin menyatukanku kembali ke keluargaku!”
“Aku tidak ingin membantumu, aku ingin membantu Hye Ran!” kata Iseul. “Dia sahabatku, dan kau pikir aku hanya akan melihat Hye Ran menangis terus menerus tanpa melakukan sesuatu, hanya mengelus-ngelus punggungnya dan menyuruhnya bersabar?”
Dongwoon hendak menyanggah, tapi Iseul kembali lebih dulu menyelanya. “Dan kenapa kau berpikir aku kesini untuk membujukmu supaya kau pulang?”
Wajah Dongwoon yang penuh emosi perlahan mengendur. “Apa?”
“Aku tidak datang kesini untuk memohon padamu atas nama Hye Ran supaya kau pulang,” kata Iseul. “Aku datang kesini membawakan surat.”
Iseul merogoh kantong seragamnya, lalu mengeluarkan amplop putih yang dilipat, lalu mengulurkannya ke Dongwoon. “Ini. Dari keluargamu.”
Dongwoon hanya menatap surat itu tanpa tergerak untuk mengambilnya.
“Sudah kuduga kau tidak akan mau menerimanya,” kata Iseul. Dia melangkah masuk ke dapur, lalu menaruh surat itu di meja.
“Paling tidak kau baca isinya, setelah itu terserahlah mau kau apakan,” kata Iseul. Dia kemudian pergi meninggalkan Dongwoon. Dongwoon sendiri, setelah Iseul pergi, dia mengambil surat di atas meja lalu naik ke lantai dua, tempat dimana selama ini dia menumpang tidur. Tapi dia sama sekali tidak membuka surat itu, hanya menaruhnya di laci paling bawah.
***
“Bagaimana, kau sudah bertemu dengan Dongwoon?”
Iseul menoleh dengan wajah bersungut-sungut karena keasyikannya melamun di atap sekolah diganggu lagi, siapa lagi kalau bukan oleh Gikwang, sahabatnya. Gikwang nyengir, dia tahu kalau Iseul merasa terganggu dengan kehadirannya. Dia duduk di sebelah yeoja itu.
“Apa saja yang kau katakan padanya?”
“Aku bilang padanya kalau aku datang mencarinya hanya ingin memberinya surat,” jawab Iseul. “Kalau aku bilang langsung ingin membujuknya pulang, dia pasti tidak akan mau.”
“Surat? Surat apa? Ibu Dongwoon menitipkanmu surat?” tanya Gikwang penasaran.
“Coba kau baca suratnya, isinya bagus tidak,” Iseul merogoh sakunya dan memberikan Gikwang selembar kertas yang dilipat.
“Ini surat dari ibu Dongwoon? Kenapa malah kau yang membawa?”
“Sudah, baca saja dulu. Bagus, tidak?”
Gikwang segera membuka lembaran itu dan membacanya.
Dongwoon-ah,
Sudah sebulan ini kau tidak pernah pulang ke rumah, dan aku tidak tahu harus mencarimu kemana lagi. Kami semua tidak bisa berhenti memikirkanmu, karena sudah sebulan ini pula kau tidak pernah masuk ke sekolah. Aku tidak tahu bagaimana caranya harus menjelaskan pada pihak sekolah kenapa kau terus saja membolos. Kau terancam dikeluarkan, Dongwoon-ah, tahukah kau?
Dan Hye Ran, selama sebulan ini sudah dua kali dia demam tinggi, hampir tiap hari dia menangis memikirkanmu dan memohon padaku supaya dia diizinkan mencarimu. Hatiku sakit, karena memikirkan kalian berdua.
Dongwoon-ah, aku tahu, mungkin kau hanya akan mencampakkan surat ini saat Iseul-ssi memberikannya padamu. Aku tahu, kau akan sangat sulit memaafkanku dan aku sangat mengerti itu. Aku pun paham kalau kau tidak sudi melihatku lagi, mengakuiku sebagai ibu, apalagi pulang kembali padaku. Aku paham itu, aku akan anggap ini sebagai hukuman dari Tuhan untukku, karena kesalahanku, kedua anakku harus ikut menanggung bebannya. Aku memang pantas menerima ini semua, aku memang pantas dibenci olehmu.
Dongwoon-ah,
Kalau memang kau tidak mau lagi melihatku, atau kembali pada ibumu ini, paling tidak, izinkan aku mengetahui keadaanmu, bahwa kau baik-baik saja di luar sana. Bahwa kau tidak menderita, sekecil apapun itu. Aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu, yang membuatmu sangat membenciku dan tidak sudi melihatku lagi.
Aku mencintaimu, Dongwoon-ah…
Gikwang melipat surat itu dan menatap Iseul heran. “Maksudnya?”
“Astaga, bodohnya kau ini… Masa surat begitu saja kau tidak mengerti?” tanya Iseul.
“Bukan itu! Maksudku, ini surat dari ibu Dongwoon, kenapa kau yang bawa?” Gikwang balik tanya. “Dan kau malah mengizinkanku membacanya.”
“Bagus tidak, isinya? Mengharukan, tidak?”
“Ya, mengharukan. Tapi memangnya, apa kesalahan ibu Dongwoon, sampai Dongwoon kabur dari rumah?”
“Mana kutahu, aku kan hanya mengarangnya saja.”
“APA?!” Gikwang berteriak kaget, matanya melotot. “Kau yang menulis surat ini? Ini bukan tulisan ibu Dongwoon?”
“Makanya, aku bisa memiliki kopian surat ini,” jawab Iseul santai. “Aku yang menulis karena…”
“KAU GILA?!” sembur Gikwang. “Dongwoon akan tambah marah padamu karena kau sudah menipunya!”
“Satu-satunya cara yang menurutku tepat untuk membuka hati Dongwoon ya membuat Dongwoon berkomunikasi dengan ibunya! Kalau hanya aku saja yang memohon-mohon supaya Dongwoon pulang, dia pasti tidak akan mau! Lagian aku ini siapa sih, keluarganya saja bukan, mana mau dia menuruti kata-kataku!” kata Iseul berusaha membela diri.
“Tapi… kalau sampai ketahuan…”
“Ya aku beritahu saja alasanku kenapa melakukan itu,” kata Iseul.
Gikwang menghela napas. “Kenapa sih kau ngotot sekali ini membantu dia supaya pulang ke rumah?”
“Aku tidak ingin membantunya, aku ingin membantu Hye Ran. Aku kasihan melihatnya menangis terus dan sakit karena memikirkan kakaknya. Dia memang tidak cerita dengan jelas kenapa Dongwoon bertengkar dengan ibunya lalu kabur dari rumah, aku juga tidak mau tahu hal itu. Aku hanya ingin membantunya,” kata Iseul.
“Aku hanya khawatir melihatmu seperti ini, membuat orang lain bahagia padahal kau sendiri susah payah mengusahakan semua itu,” kata Gikwang pelan. Dia menaruh surat itu di sebelah Iseul, lalu pergi. Iseul menatap sahabatnya yang berjalan menjauh, wajahnya memerah.
Gikwang mengkhawatirkanku?
***
Iseul menunggu di meja di pojok ruangan menatap pengunjung yang ramai memenuhi kedai ibunya, dan juga memperhatikan ibunya yang melayani pelanggan dengan ramah. Dia memakan pelan-pelan makanannya, sesekali melongok ke dapur, kalau saja Dongwoon sempat keluar dari sana. Dongwoon memang sempat keluar, dan saat tidak sengaja dia menoleh ke meja di pojok, Iseul melambai sambil tersenyum. Dongwoon melengos, pura-pura tidak melihat.
“Kau ini benar-benar keras kepala ya,” kata Dongwoon dingin. Iseul menoleh dan menatapnya dengan tenang, lalu mengangkat bahu.
“Kau sudah baca suratnya?” tanya Iseul.
“Menyentuhnya saja tidak,” kata Dongwoon sambil lalu. Dia melihat dari sudut matanya, Iseul terlihat kecewa.
“Begini saja, aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena kau sudah peduli dengan Hye Ran dan aku, tapi kalau boleh aku menjelaskan lagi padamu, apa yang kami alami adalah masalah pribadi keluarga dan kau tidak perlu repot-repot berusaha membantu kami,” kata Dongwoon lalu berbalik pergi. Tapi kemudian dia menoleh kearah Iseul lagi.
“Oiya, katakan pada… ibuku,” Dongwoon terlihat sangat berat mengucapkan kata ‘ibuku’, “dia tidak perlu tahu bagaimana keadaanku. Dan untuk Hye Ran, katakan padanya untuk tidak usah terlalu sering memikirkanku. Demam tinggi karena memikirkanku itu sia-sia saja, karena aku tidak akan pulang.”
“Berarti sebenarnya kau membaca surat itu kan?” sergah Iseul cepat. Dongwoon berhenti melangkah, wajahnya berubah keruh.
“Kau bohong kan, padaku?” tanya Iseul girang. Rahang Dongwoon mengeras, dia keceplosan bicara sehingga Iseul tahu kalau dia sebenarnya sudah membaca surat itu. Dia pergi, masuk ke dapur lagi. Iseul tersenyum-senyum sendiri, usahanya sudah mulai menunjukkan hasil meskipun Dongwoon masih belum mau pulang ke rumah. Iseul menyeruput ramennya sambil bersenandung, mendadak lututnya terasa nyeri tapi dia tidak mempedulikannya.
***
13 Juni 2011
Usahaku mulai menunjukkan hasil! Dongwoon ternyata sudah membaca surat yang kubuat seolah-olah ditulis oleh ibunya, dan meskipun dia sempat berbohong, akhirnya dia keceplosan juga. Aku senang sekali, kupikir, meskipun Dongwoon marah dengan ibunya, aku yakin dia masih menyisakan rasa cinta untuk ibunya. Sesekali dia pasti memikirkan ibunya, meskipun sebagian hatinya menolak untuk melakukan itu. Kuharap, dengan surat itu, Dongwoon akan membuka hatinya dan kembali ke pelukan keluarganya. Aku ingin sekali melihat wajah Hye Ran yang ceria.
Tapi lebih daripada itu, aku juga merasakan kebahagiaan yang besar. Aku bahagia melihat Gikwang ternyata mengkhawatirkanku. Meskipun itu hanya hal kecil yang dilakukannya sebagai bentuk perhatiannya pada sahabatnya, aku bahagia, sangat bahagia. Semua rasa sakit di tubuhku seperti menghilang saat aku melihat wajahnya, kekuatan dalam diriku tumbuh berlipat-lipat saat dia mengatakan itu. “Aku hanya khawatir melihatmu seperti ini.” Hahaha, bahkan aku mengingat kata-katanya, kalau dia mungkin sudah lupa pernah mengatakannya.
Ah, kenapa hari ini aku kehabisan kata-kata? Aku terlalu bahagia saat ini, sulit untuk menceritakannya.
***
Pagi itu, Hye Ran berlari tergopoh-gopoh memasuki kelas, dia celingukan mencari-cari sahabatnya, Iseul. Tapi dia hanya melihat Gikwang, sahabatnya yang lain.
“Gikwang, kau melihat Iseul?” tanya Hye Ran.
“Dia belum datang,” jawab Gikwang. Dia tertarik melihat wajah Hye Ran yang hari ini cerah, pertama kali sejak dia menangis karena kakaknya pergi dari rumah. “Kenapa?”
“Iseul harus tahu ini,” kata Hye Ran gembira. “Kakakku pulang! Dongwoon oppa sudah pulang!”
“Benarkah?” tanya Gikwang antusias. “Dongwoon pulang?”
Hye Ran mengangguk semangat. “Omma seperti orang yang nyaris depresi setelah sebulan Dongwoon oppa kabur dari rumah, dia mencarinya kemana-mana. Saat itu tanpa sengaja Omma bertemu Dongwoon oppa, ternyata Dongwoon oppa bekerja paruh waktu di kedai ramen milik ibu Iseul! Percayakah kau?”
Gikwang sebenarnya sudah tahu itu, dia menunjukkan ekspresi antusias. “Benarkah? Lalu?”
“Tentu saja Omma langsung menghampirinya, dan mereka sempat bertengkar hebat di pintu belakang kedai. Omma tidak mau menceritakannya secara detail padaku, dia hanya menangis saat aku menanyakannya. Aku sempat khawatir dan menangis, aku takut kalau setelah Omma tahu Dongwoon oppa bekerja di kedai, oppa akan pergi lagi. Tapi besoknya, Dongwoon oppa sudah berdiri di depan pintu rumah kami dan memeluk Omma. Aku bahagia sekali, Gikwang!”
Gikwang mmenggenggam tangan Hye Ran, ikut bahagia dengan yeoja itu. Ternyata Iseul sama sekali tidak menceritakan usahanya untuk membantu Hye Ran pada sahabatnya ini. Gikwang paham sekali kebiasaan Iseul, dia tidak suka mengumbar-ngumbar hal yang belum tentu berhasil.
“Kuharap Iseul cepat-cepat datang, aku tidak sabar ingin menceritakan ini padanya!” seru Hye Ran.
***
Tapi Iseul tidak pernah masuk sekolah lagi sejak hari itu.
Gikwang dan Hye Ran kesulitan menghubunginya, handphone-nya tidak pernah aktif. Wali kelasnya hanya mengatakan kalau Iseul absen karena sakit, tanpa keterangan sakit apa.
“Iseul belum pernah sakit sampai seminggu lebih,” kata Hye Ran khawatir.
“Aku akan ke rumahnya sekarang,” kata Gikwang lalu bergegas mengambil ranselnya.
“Tapi sebentar lagi ada jam pelajaran tambahan,” kata Hye Ran.
“Aku bolos!” kata Gikwang.
Dia bergegas pergi ke apartemen Iseul. Gikwang naik ke lantai 2 gedung apartemen, tapi saat dia hendak pergi ke apartemen Iseul, dia melihat adik laki-laki Iseul, Minwoo, mengunci pintu apartemen, lalu bergegas turun lewat anak tangga yang berbeda dengan yang dinaiki Gikwang. Gikwang ingin menyapa Minwoo, tapi sepertinya Minwoo tergesa-gesa.
Minwoo pergi ke halte bis, Gikwang bergegas menyusulnya.
“Minwoo-ya!” panggil Gikwang. Minwoo menoleh, dan wajahnya berubah gugup. Gikwang curiga melihat Minwoo mendadak segugup itu.
“Mau kemana?” tanya Gikwang ramah.
“Oh, ini… menjenguk teman…” jawab Minwoo pelan, dia menunduk menatap buah di tangannya. “Dia sakit…”
“Oiya, noona-mu sudah lama tidak masuk. Apa dia sakit?”
Minwoo terlihat semakin gugup, dia menggigit bibirnya. “Ya, noona istirahat di rumah…”
“Tapi kenapa kulihat tadi kau mengunci pintunya?” tanya Gikwang curiga.
“Oh, itu… Noona tidak mau istirahatnya terganggu, jadi dia menyuruhku mengunci saja pintunya, supaya tidak ada orang yang bertamu. Noona… sudah punya kunci cadangan, kok…” jawab Minwoo. “Oh, bisnya sudah datang. Aku pergi duluan ya, Hyung!”
Minwoo bergegas masuk ke dalam bis sebelum Gikwang sempat bertanya lagi.
Ada apa dengan Minwoo? tanya Gikwang dalam hati.
***
Gikwang kembali mengikuti Minwoo keesokan harinya, kali ini Hye Ran ikut, karena hari ini Iseul kembali tidak masuk sekolah. Ternyata Minwoo memang benar pergi ke rumah sakit, dada Gikwang berdebar, jangan-jangan Iseul ada disini?
“Noona,” Minwoo melongok ke kamar Iseul. Iseul menoleh dan tersenyum kearah adiknya, wajahnya pucat.
“Kau sudah datang,” kata Iseul pelan. Minwoo menghampiri kakaknya dan duduk di pinggir tempat tidur.
“Omma tampaknya tidak bisa meninggalkan kedai hari ini, ada banyak pengunjung,” kata Minwoo.
“Kenapa kau tidak membantu?”
“Lalu siapa yang menemani noona disini?”
“Memangnya kau pikir noona ini anak kecil?” tanya Iseul.
“Iseul.”
Kakak beradik itu menoleh kearah pintu, dan mereka kaget ternyata Gikwang dan Hye Ran berdiri disana. Iseul menatap adiknya, Minwoo menggeleng panik.
“Aku tidak tahu kalau Gikwang hyung dan Hye Ran noona…”
“Kenapa kau membohongiku?” tanya Gikwang marah. “Hampir dua minggu Iseul tidak masuk sekolah, kau pikir kami tidak khawatir?”
“Hyung, maafkan aku…”
“Jangan salahkan Minwoo, aku yang menyuruhnya,” kata Iseul. “Minwoo-ya, pergilah ke kedai, bantu Omma.”
“Tapi…”
“Sudahlah, kau bantu Omma di kedai,” kata Iseul. Minwoo tampak tidak suka, tapi Iseul juga tidak mau dibantah. Minwoo pergi meninggalkan kakaknya, bertiga dengan Gikwang dan Hye Ran.
“Kau ini kenapa?” tanya Hye Ran. “Sebelumnya kau tidak pernah sakit sampai selama ini, kau bahkan tidak menceritakan apapun pada kami. Kau sebenarnya sakit apa?”
Iseul tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya ke jendela.
“Iseul, jawab aku,” kata Gikwang. “Kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Tolong ceritakan pada kami.”
Iseul mulai menangis, pertama kalinya dia menangis di hadapan sahabat-sahabatnya. “Aku sakit…”
Hye Ran duduk di pinggir tempat tidur, dia ingin menyentuh bahu Iseul, tapi Iseul dengan cepat berseru, “Jangan disentuh!”
Hye Ran kaget dan segera menarik tangannya.
“Jangan sentuh,” kata Iseul. “Aku takut terjadi perdarahan…”
“Perdarahan apa?” tanya Hye Ran tidak mengerti.
“Hemofilia?” tanya Gikwang. Iseul tidak menjawab apa-apa. Dada Gikwang berdebar kencang, berarti itu memang benar.
“Ayahku meninggal karena penyakit ini,” kata Iseul. “Dan ketika aku lahir, inilah ketakutan terbesar yang dirasakan Appa dan Omma, karena anak perempuan dari seorang laki-laki penderita hemofilia, akan menderita penyakit yang sama. Dan benar saja, di tahun pertama kelahiranku, aku divonis menderita penyakit ini.
Seumur hidup aku selalu dihantui ketakutan karena penyakit ini, saat-saat aku mengalami menstruasi adalah saat-saat terberat, bagaimana kalau nanti aku terus mengalami perdarahan berat? Bagaimana kalau aku mati? Meskipun ibuku sudah tahu bagaimana cara memberikan obat pembekuan darah padaku, aku tetap saja takut.
Dan mulai sebulan ini, kesehatanku menurun. Aku harus bolak balik ke rumah sakit tiap minggu untuk check up rutin, menjalani terapi pembekuan darah. Karena itu, itu aku sering berbohong dengan mengatakan kalau pulang sekolah aku harus membantu ibuku di kedai, sebenarnya aku tidak pernah bekerja disana. Aku ke rumah sakit, atau istirahat di rumah.”
Hye Ran menangis mendengar cerita Iseul, dia sama sekali tidak tahu kalau Iseul ternyata menderita sakit yang cukup parah. Gikwang memandang keluar jendela, padahal sebenarnya dia tidak ingin Iseul melihatnya menangis.
“Tapi penyakitmu pasti sembuh kan? Bukankah terapi penanganan hemofilia sudah semakin bagus?” tanya Hye Ran menguatkan diri.
Iseul diam saja. Terapi yang dimaksud Hye Ran hanya memungkinkan bagi penderita hemofilia A, sementara Iseul mengidap hemofilia B, dia tidak tahu apakah terapi itu akan berhasil untuknya.
“Kau lebih rapuh dari daun-daun kering,” kata Gikwang, Iseul dan Hye Ran menoleh menatapnya. Gikwang menatap Iseul, wajahnya basah oleh air mata. “Kau bahkan tidak bisa disentuh, kau takut sedikit sentuhan saja akan menyebabkan ototmu bergesek dan timbul perdarahan. Kau menderita, tapi kau masih memaksakan diri untuk menemui Dongwoon…”
“Menemui oppa?” tanya Hye Ran kaget. “Kau tahu kalau oppa bekerja di tempat ibumu? Iseul, kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Masa kau tidak tahu Iseul?” tanya Gikwang, menatap tajam Iseul sementara Iseul, meskipun marah karena Gikwang membocorkan rahasianya, dia tidak berbuat apa-apa. “Orang-orang tidak perlu tahu apa yang dia lakukan, yang penting mereka bahagia. Kalau saja aku tahu kau sakit, aku tidak akan mengizinkanmu…”
“Iseul, apa maksudnya?”
“Memangnya kau pikir Dongwoon pulang ke rumah karena kenginannya sendiri?” tanya Gikwang. “Kalau bukan karena Iseul menulis surat yang dibuatnya seakan itu ditulis oleh ibumu, kau tidak akan melihat kakakmu pulang.”
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?” kata Hye Ran.
Gikwang marah karena Iseul selama ini berpura-pura sehat hanya demi ingin membantu orang lain, dia tidak tahan dan berjalan keluar kamar.
“Gikwang!” seru Hye Ran. “Iseul, kau…”
Iseul tidak menjawab apa-apa, dia hanya menangis.
***
26 Juni 2011
Gikwang marah padaku. Dia akhirnya tahu kalau aku menderita hemofilia dan dia tidak suka aku membohonginya selama ini. Hatiku sakit karena kebohonganku membuatnya marah. Tapi aku juga tidak sanggup mengatakannya, aku tidak sanggup mengatakan kalau aku sakit.
Aku takut, selama ini aku selalu ketakutan kalau tiba-tiba saja aku mati karena penyakit ini. Kalau aku menceritakannya pada Gikwang atau Hye Ran atau siapapun, aku akan semakin memikirkannya dan itu semakin membuatku takut. Ada yang lebih ingin kuungkapkan pada Gikwang, lebih penting daripada penyakitku ini.
Gikwang, mianhae… jangan marah lagi padaku, jangan pergi… Aku ketakutan…
***
“Suster Kim, bolehkah aku jalan-jalan keluar? Aku bosan di kamar,” kata Iseul. Suster Kim yang baik dan sudah mengenalnya cukup lama, menemaninya jalan-jalan di halaman rumah sakit menggunakan kursi roda. Karena sendi siku Iseul sedang nyeri, dia tidak kuat kalau harus pergi sendiri, jadi suster Kim membantunya mendorong kursi roda.
Di halaman sebelah barat rumah sakit, dari kejauhan Iseul melihat ada yeoja berambut panjang yang duduk di bangku taman, ditemai seseorang. Dari gerakannya, Iseul tahu kalau yeoja itu buta. Dan namja yang disebelahnya, dia tahu, itu Yoseob, kakak kelasnya.
“Kau mengenalnya?” tanya suster Kim.
“Namja yang di sebelah yeoja buta itu, dia kakak kelasku,” kata Iseul.
“Oh… kau ingin kesana?”
“Tidak, tidak perlu,” kata Iseul. Dia melihat Yoseob begitu perhatian dengan yeoja itu. Ya, dia ingat sekarang, itu kakak perempuan Yoseob, Eunhoon.
Sementara suster Kim mendorong kursi rodanya, Iseul tidak bisa berhenti memikirkan Eunhoon. Dia tidak tahu kenapa Eunhoon buta, apakah itu karena cacat sejak kecil atau karena sebab lain, tapi karena melihat yeoja itu, Iseul mulai terpikir untuk melakukan sesuatu.
Mendonorkan mata? Mungkinkah? Tapi bukankah pendonor baru bisa mendonorkan mata kalau dia sudah meninggal?
Meninggal… satu kata yang selalu menghantui Iseul. Hal-hal kecil yang dialaminya sehari-hari sudah membuatnya takut kalau tiba-tiba saja dia mendadak mengalami perdarahan. Dan memikirkan kemungkinan untuk mendaftar menjadi pendonor mata, semakin menguatkan ketakutannya akan kematian.
“Iseul, kau disini rupanya,” kata ibu Iseul, sepertinya dia khawatir Iseul tidak ada dikamarnya.
“Dia ingin jalan-jalan keluar, sepertinya dia bosan di kamar terus,” kata suster Kim. Ibu Iseul mengucapkan terima kasih pada suster Kim dan dia menggantikan mendorong kursi roda putrinya.
Iseul tetap diam bahkan ketika dia dan ibunya sudah kembali ke kamar. Pelan-pelan dia menggerakkan tubuhnya menaiki tempat tidur.
“Omma,” panggil Iseul. Ibunya menoleh.
“Ya? Kenapa, sayang?”
“Apa aku boleh mendonorkan mata?”
Ibu Iseul menatap anaknya dengan kaget. “Apa?”
“Aku ingin mendaftar jadi pendonor mata. Bolehkah?”
“Kenapa mendadak kau ingin mendonorkan mata?”
Iseul terdiam sesaat, mencari-cari jawaban sementara dia menatap hampa keluar jendela. “Kupikir… aku ingin berguna bagi orang lain, meskipun nanti aku sudah…”
Mati. Iseul takut sekali mengatakannya. Ibunya menatap wajah Iseul, ekspresinya sama dengan anaknya, mungkin dia juga memikirkan kata itu.
“Kapan kau bisa berhenti memikirkan orang lain dan berusaha membahagiakan dirimu sendiri?” tanya ibunya getir.
“Itulah yang membuatku bahagia, Omma,” kata Iseul. “Melihat orang-orang tersenyum karena aku membantu mereka, itu adalah hal paling membahagiakan bagiku. Apa Omma ingat saat aku pertama kali menjadi juara kelas saat SD dulu? Omma tersenyum dan bertepuk tangan untukku. Aku bahagia sekali saat itu, bukan karena aku jadi juara kelas, tapi karena Omma tersenyum. Aku membuatmu bangga dan kau tersenyum. Omma, apa kau mengizinkanku?” tanya Iseul.
Ibu Iseul mengusap air matanya, wajahnya yang memerah tersenyum terharu. Dia perlahan mengangguk.
***
27 Juni 2011
Dadaku berdebar kencang karena aku sangat bersemangat, aku mendaftar jadi pendonor mata. Aku bertemu dengan Dokter Yoon dan menanyakan beberapa hal tentang donor mata padanya, dan dia terkejut. Dia bilang donor mata sangat sulit dicari, dan aku adalah salah satu dari orang yang sedikit itu. Dia juga terkejut karena aku masih berumur 16 tahun, sangat muda untuk seorang calon pendonor mata.
Apa yang akan Gikwang katakan kalau dia tahu aku mendonorkan mata? Marahkah? Dia tidak suka aku terlalu baik pada orang-orang, dia tidak suka setelah melihatku sakit.
Apakah dia masih marah padaku? Kenapa dia tidak pernah menjengukku?
***
“Iseul.”
Iseul menoleh, dan matanya berbinar melihat orang yang berdiri di belakangnya, saat dia sedang duduk sendirian di atas kursi rodanya di sebelah bangku semen di taman rumah sakit.
“Gikwang?”
Gikwang menghampiri Iseul, tersenyum tipis. “Bagaimana kabarmu?”
“Baik,” jawab Iseul. “Mana Hye Ran?”
“Ada pelajaran tambahan lagi di sekolah.”
“Kau membolos?” tanya Iseul kaget.
Gikwang mengangkat bahu, cuek. “Aku tidak suka pelajarannya.”
“Aigoo, kusumpahi kau tidak naik kelas,” kata Iseul kesal.
“Ya! Jangan menyumpahiku begitu, dong!”
“Aku kesal denganmu! Bisa-bisanya kau membolos! Balik ke sekolah, sana!”
“Shireo! Lagipula sudah bolos sejam lebih, aku pasti tidak akan diizinkan masuk.”
Iseul menghela napas, antara kesal dan pasrah. Mereka menatap kebun bunga di depan mereka, melihat pasien-pasien yang berjalan-jalan disana.
“Mianhae,” kata Gikwang. “Bodoh sekali aku marah padamu waktu itu…”
“Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf tidak memberitahumu dan Hye Ran,” kata Iseul. “Aku… entah kenapa aku ingin kalian melihatku kuat…”
Iseul menatap kebun bunga dengan pandangan nanar. Gikwang menatap Iseul lama, dan saat Iseul menoleh dan melihatnya, Gikwang tersenyum. “Itu yang kusuka darimu.”
Wajah Iseul memanas. “Apanya?”
“Kau berusaha untuk terlihat kuat hanya supaya orang-orang tidak khawatir denganmu, apa itu salah satu caramu untuk membahagiakan orang lain?” tanya Gikwang.
Iseul diam. Dalam hati dia bahagia mendengar pujian Gikwang.
Gikwang menguap lebar. “Aigoo… kenapa aku mengantuk sekali ya?”
“Itu karena kau membolos,” cibir Iseul.
“Enak saja kau bicara!” kata Gikwang. “Aku tidur sebentar ya, kau tunggui aku disini. Bangunkan aku kalau sudah jam 5.”
Gikwang bersandar di pilar semen di sebelahnya dan sebentar saja, dia sudah tertidur lelap.
Iseul menatap Gikwang yang sedang tidur pulas, dia tidak pernah bisa mengalami kesempatan ini, menatap wajah Gikwang sepuasnya tanpa disadari namja ini. Iseul menatap wajah namja yang sudah lama dia cintai ini, menikmati setiap debaran aneh yang selama ini selalu dia coba untuk tahan tiap kali dia duduk di sebelah atau berbicara dengan Gikwang. Iseul melepas kalung salib emas yang menggantung di lehernya, lalu mengalungkannya ke leher Gikwang. Dia menatap wajah Gikwang sekali lagi, lalu mencium pipi namja itu.
“Saranghaeyo…” bisiknya.
***
Gikwang mendadak terjaga saat ada seseorang yang mengguncang-guncang tubuhnya.
“Ireona, jangan tidur disini!” kata orang itu. Gikwang mengerjapkan matanya, ternyata pegawai rumah sakit. Gikwang menoleh ke kursi roda di sebelahnya, Iseul tidak ada.
“Iseul kemana?” tanya Gikwang. “Anda melihat yeoja yang tadi duduk disini?”
Petugas itu menggeleng. “Waktu aku membangunkanmu kursi roda ini memang sudah kosong.”
Gikwang panik, dia bergegas masuk ke rumah sakit dan mencari Iseul ke kamarnya, tapi di depan kamar dia melihat ibu Iseul dan Minwoo berdiri di depan.
“Minwoo, Eommoni,” panggil Gikwang, dia sudah terbiasa memanggil ‘Eommoni’ pada ibu Iseul. “Iseul…”
“Gikwang-ssi…” ibu Iseul menggenggam tangan Gikwang, wajahnya dibasahi air mata. “Iseul perdarahan lagi…”
Gikwang kaget, dia menghampiri pintu kamar dan dari kaca dia melihat ada beberapa dokter mengelilingi Iseul sedang menanganinya.
“Dokter bilang dia mengalami shock hipovolemik, penurunan plasma darah karena perdarahan yang banyak…” kata ibu Iseul, kata-katanya membuat dada Gikwang sakit. Dia menangis melihat Iseul berbaring tidak sadarkan diri.
“Iseul…” gumamnya.
Mereka bertiga menunggui Iseul sampai larut malam. Ibu Iseul mondar mandir di samping ranjang Iseul, bawah matanya menghitam tapi dia sama sekali tidak mau tidur.
“Kau pulang saja, Gikwang, ini sudah larut malam,” kata ibu Iseul.
“Tapi, Iseul…”
“Omma akan menjaganya disini, kau pulang saja,” kata ibu Iseul. “Dan tolong antar Minwoo pulang…”
“Aku juga mau diam disini,” kata Minwoo.
“Tapi Minwoo, besok kan kau sekolah…”
“Aku mau bolos!”
“Minwoo!” tegur Gikwang.
“Ya sudah, kalau Minwoo mau diam disini juga tidak apa-apa,” kata ibu Iseul. “Pulanglah, Gikwang, orangtuamu pasti menunggumu dirumah.”
Dengan berat hati Gikwang mengambil ranselnya lalu berjalan keluar kamar, tapi sebelum dia benar-benar keluar, dia sempat melihat Iseul, setengah berharap Iseul membuka matanya. Tapi tak ada yang terjadi.
Gikwang menaiki bis terakhir malam itu, dan berjalan gontai menuju rumahnya. Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang dingin melingkari lehernya. Dia merabanya, ternyata kalung salib.
Kenapa kalung Iseul ada disini? gumam Gikwang. Dia menyentuh salib itu, masih terasa dingin.
“Saranghaeyo…”
Gikwang menoleh. Dia seperti mendengar ada sesuatu yang dibisikkan di telinganya, sangat halus, tapi anehnya terdengar jelas di telinga. Gikwang menoleh ke belakangnya, tak ada siapapun.
***
Keesokan paginya, Gikwang menaruh ranselnya di atas bangku dengan malas. Kalau saja dia bisa bolos hari ini, dia akan kerumah sakit sekarang juga…
Dia menelepon Minwoo. Dua kali dia menelepon tapi tidak diangkat. Baru telepon ketiga akhirnya diangkat oleh Minwoo.
“Yobosaeyo? Gikwang hyung?”
“Minwoo-ya…” Gikwang berdebar, suara Minwoo terdengar serak. “Minwoo-ya? Bagaimana Iseul?”
Lama tak terdengar jawaban.
“Minwoo-ya?”
“Hyung…” suara Minwoo bergetar di seberang telepon. “Noona… sudah tidak ada.”
Gikwang tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tubuhnya mendadak lemas mendengar Minwoo menangis di seberang telepon. “Minwoo-ya? Bagaimana Iseul?” tanyanya lagi.
“Noona sudah meninggal, Hyung… Noona sudah tidak ada…”
Gikwang jatuh merosot hingga bangkunya terdorong, air matanya mengalir. Teman-teman sekelasnya segera merubunginya.
“Gikwang? Gikwang, kau kenapa?” tanya Hye Ran. Gikwang tidak menjawab, dia menutup mulutnya dan menangis keras.
“Gikwang? Kenapa?” Hye Ran panik dan mengguncang-guncang tubuh Gikwang. “Gikwang, apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan Iseul? Gikwang, jawab!”
Tangis pun pecah di kelas itu, semua teman-teman Iseul menjerit tidak percaya mengetahui kabar Iseul meninggal. Hye Ran menangis histeris mengetahui kenyataan itu, dia pingsan.
***
“Hyung…”
Minwoo berdiri di sebelah Gikwang, di tangannya dia membawa buku tebal berwarna biru muda. Gikwang menoleh, wajahnya sembap.
“Noona meninggalkan ini di bawah bantalnya,” Minwoo menyerahkan buku biru muda itu pada Gikwang. “Aku lihat isinya, sepertinya ini memang dibuat untukmu, hyung.”
“Gomawo,” kata Gikwang singkat. Dia memisahkan diri dari orang-orang, lalu membuka buku itu. Ternyata itu buku harian Iseul, dan Gikwang terkejut melihat ada begitu banyak fotonya yang ditempel di halaman-halaman buku itu. Bukan fotonya bersama Iseul dan Hye Ran, tapi hanya fotonya sendiri.
Di halaman paling terakhir, tidak ada foto, hanya ada tulisan yang sedikit berantakan, mungkin ditulis saat Iseul sedang kesakitan.
10 Juli 2011
Kapan dia akan tahu perasaanku? Apakah sempat tersampaikan? Atau hanya akan aku pendam dan aku bawa mati?
Dadaku yang berdebar ini, akan berdebar kencang tiap kali aku melihat wajahnya, melihat senyumnya yang manis, mendengar suaranya. Tapi apa yang menyebabkan rasa aneh di dadaku itu? Cinta? Apa yang menyebabkan cinta itu muncul?
Aku tidak tahu, dan tidak penting untuk tahu. Kalaupun dia bertanya, ‘kenapa kau mencintaiku?’, aku jawab saja, ‘aku tidak tahu’.
Aku mencintai Gikwang, aku mencintainya. Dialah yang menjadi alasanku untuk bertahan, membuatku berani untuk menghadapi ketakutanku akan kematian. Hanya mengingat wajahnya saja, rasa sakit di tubuhku menghilang. Aku mencintainya, selamanya…
Gikwang memeluk buku harian Iseul, menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit membayangkan Iseul selama ini harus menahan sakit karena penyakit dan perasaan cintanya pada Gikwang, yang tak akan pernah diucapkan langsung padanya dan tak akan pernah bisa diucapkan. Mereka sudah berada di dunia yang berbeda.
***
Hye Ran menatap hampa bangku kosong di depannya, tempat dimana dulu Iseul duduk disamping Gikwang. Tak ada seorangpun yang menggantikan posisi Iseul disana, bangku itu dibiarkan kosong.
Yoseob perlahan masuk ke kelas, dia melihat Hye Ran, yeojachingu-nya, masih duduk termangu sendirian di dalam kelas, padahal sekolah sudah bubar 15 menit yang lalu. Dia ingin sekali mengajak Hye Ran pulang, tapi melihat keadaannya sekarang, entah kenapa dia tidak bisa melakukan itu. Yoseob juga merasa sangat kehilangan, Iseul-lah yang membantunya mengungkapkan perasaannya pada Hye Ran dulu. Kalau saja bukan karena bantuan yeoja itu, mungkin sampai sekarang dia masih berteman saja dengan Hye Ran.
Hye Ran berdiri di bangkunya, lalu berpindah duduk ke bangku Iseul. Dia mengelus mejanya, merasakan sisa-sisa kehangatan tangan Iseul yang menulis, mengusap-usapkan tangannya, atau tertidur disana. Dia masih bisa mendengar sisa-sisa tawa Iseul, yang selama ini dia gunakan untuk menutupi rasa sakitnya.
Hye Ran menelungkupkan wajahnya di atas meja itu, membiarkan meja itu basah oleh air matanya. Dia terlalu merindukan Iseul, dia tidak percaya kalau Iseul tidak akan pernah lagi menduduki bangku ini, tertawa bersamanya lagi…
Yoseob menangis diam-diam.
***
Gikwang membuka matanya, dan tiba-tiba saja, Iseul sudah berdiri di hadapannya.
Iseul menoleh, menatapnya dengan senyumnya yang manis. Dia terlihat cantik, jauh lebih cantik dari yang selama ini dilihat Gikwang. Seperti biasa, dia menyapa Gikwang dengan ceria, lalu mengoceh panjang lebar. Tapi Gikwang sama sekali tidak mendengarkan.
Gikwang mengulurkan tangan, menggenggam tangannya. Iseul terdiam, tapi kali ini dia tidak menolak genggaman tangan itu. Gikwang mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Iseul.
Iseul menatapnya, tersenyum meskipun air mata mengalir. Dia cantik sekali.
“Gomawo…” bisiknya.
Gikwang terbangun, dia sudah berada kembali di kamarnya yang gelap. Ternyata dia hanya bermimpi.
“Aku merindukanmu…” bisik Gikwang.
***
6 bulan kemudian…
Pameran mozaik foto di Seoul berlangsung meriah. Para peserta menampilkan karya terbaik mereka, menciptakan karya terbaik mereka dari kumpulan banyak foto. Eunhoon datang ke pameran itu ditemani Junhyung.
Mereka berhenti di salah satu mozaik foto karya salah satu peserta. Junhyung mendekati catatan di dekat mozaik foto itu.
“Lee Gi Kwang…” bacanya. “Wow, dia peserta termuda di pameran ini. Eunhoon, ternyata dia hoobae-ku! Dia satu SMA denganku!”
“Benarkah?” tanya Eunhoon. Dia menatap mozaik foto itu, melihat sebentuk wajah mungil seorang yeoja yang dibentuk Gikwang dari kumpulan foto, membentuk wajah orang yang paling berarti dalam hidup Gikwang. Jung Iseul.
Tanpa terasa air mata Eunhoon mengalir saat menatap mozaik foto Iseul. junhyung heran melihatnya.
“Ada apa?” tanyanya. “Kau mengenal yeoja itu?”
“Tidak,” kata Eunhoon. “Tapi aku merasa, aku memiliki bagian dari dirinya.”
Junhyung dan Eunhoon menatap mozaik foto itu, menatap wajah Iseul yang manis dan ceria itu. Eunhoon tidak akan mengerti kenapa dia menangis, dia tidak akan pernah tahu kalau pemilik mata yang didonorkan padanya, Iseul, sedang menatap mozaik fotonya melalui dunia yang berbeda…
“Aku mungkin tidak ada di dunia lagi. Tapi aku akan tetap menatap keindahannya melalui orang lain. Dan mungkin, aku akan bisa melihat wajahmu lagi, Gikwang…”
***THE END***

sumpah author sukses bgt sama FF ini.
bikin aq nangis ngejer..
FF pertama yg bikin aq nangis …
DAEBAKK BGT…
hikz..hikz.. #lapingus T_T
huaaaaaaaa author daebak !!!!!!!!!!!!!
ya ampun chingu, npa ffny sedih bget.
aku bner2 nangis bca part ini, critany dalem bget.
iseul yg kocak n suka nyampuri mslah org lain n slalu ingin ngebuat orang lain itu bahagia.
g nyangka dgan raut wajahny yg slalu bahagia, ternyta slama ini dia itu nahankn rasa skit yg luar biasa.
dia skit parah n org lain g ada yg tau selain keluargany.
Bahkan cintany bner2 dbwa smpai mati, krna wlwpun dia udah blg kalo dia cinta m gikwang, tpkan gikwangny wktu itu tdur.
Iseul. . Iseul. . Mulia bget sih hatiny.
daebakk chingu, ffny bner2 sukses.