credit poster: Cute Pixie
Author: Unie
Genre: Angst, AU (Alternate Universe)
Rating: PG-15
Length: Chaptered
Main cast:
- Lee Donghae
- Sung Hyosun
- Jessica Jung
- Choi Seung Hyun
Other cast:
- Shim Changmin
- Cho Kyuhyun
- Lexy Kim
- Victoria Song
Disclaimer:
FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni
[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5] [CHAPTER 6][CHAPTER 7]
Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar mandi dan telah berbalut pakaian yang lebih baru dan tertutup dibanding yang semalam. Rambutku juga sudah setengah kering karena aku memakai hair dryer untuk mengeringkannya. Aku tidak menghiraukan rasa nyeri yang masih tersisa saat aku berjalan. Kata orang –yang sudah pernah melakukan malam pertama- lama kelamaan hal ini akan hilang dengan sendirinya.
Aku menatap ke arah kasur berseprai kusut dan tidak menemukan Donghae di atasnya. Pandanganku menghambur ke seluruh penjuru ruangan namun nihil. Aku tidak menemukannya. Tapi saat aku melihat ke arah balkon, aku bisa melihat Donghae memandang ke jalanan yang sudah mulai macet. Jari-jarinya mencengkram besi pembatas. Aku berjalan mendekat dengan pelan, tapi implusnya yang jauh lebih cepat menangkap keberadaanku. Dia setengah menoleh, tapi tidak berbalik.
“Kau… Mau mandi, Donghae? Aku sudah selesai” kataku sedikit ragu karena dia telah mengetahui kedatanganku.
Dia hanya mengenakan singlet putih polos dan celana panjang yang semalam ia kenakan. Dia tidak berbalik, tapi menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang tidak seharusnya.
“Kita akan pindah ke apartemen. Aku akan membicarakan ini dengan Nenek dan Ibu. Kita bisa leluasa dengan kamar yang terpisah.” Katanya dingin.
Entah kenapa kalimatnya ini begitu menyakitkan. Rasanya dia seperti menggali sebuah jurang yang lebih dalam agar aku benar-benar tidak bisa menggapainya. Dia benar-benar tidak nyaman berada di dekatku. Apakah hal yang kami lakukan semalam tidak ada artinya?
“Bagaimana kalau mereka menolak?”
“Kita berdua yang akan mengatakan ini pada mereka. Bantu aku meyakinkan mereka. Untuk sementara kita akan tinggal di rumah selama seminggu. Semalam aku sudah bicara dengan salah satu kenalan yang bekerja di bidang properti. Dia akan mencarikan apartemen yang letaknya tidak jauh kantor” katanya masih sedingin sebelumnya, kemudian melenggang ke kamar mandi melewatiku tanpa memandangku sedikit pun.
Tidak ada pembicaraan setelah melakukan ‘itu’? Oke, fine. Aku bisa menerimanya. Tidak ada percakapan antar suami istri sebagaimana layaknya? Tidak masalah. Tapi pindah ke sebuah apartemen adalah salah satu penolakan yang dia tunjukkan secara terang-terangan. Itu sama halnya dengan membangun tembok yang lebih tinggi agar aku semakin sulit untuk melihatnya. Bagaimana dia bisa sikapnya sedingin itu? Seolah-olah aku adalah musuh yang sangat mengancam. Apa ada yang salah? Ada apa dengannya? Dia tampak sangat mengerikan sekarang, jauh lebih parah dibanding Donghae yang aku kenal sebelumnya.
_
Donghae menarik dasinya agar lebih longgar kemudian mengepalkan jemari dan menempelkannya ke bibir yang masih rapat lalu berdeham.
“Nenek, kami akan pindah ke apartemen mulai minggu depan?” katanya di sela-sela makan malam kami di rumahnya tiga hari setelah kami kembali dari hotel.
Di ruangan ini ada aku, Dia, Ibunya, Neneknya dan tentu saja Victoria yang sekarang duduk tepat di depanku. Dia melihat ke arah Donghae sejenak, lalu memandangku dengan menampilkan kerutan di dahinya.
Neneknya tidak langsung menjawab melainkan Ibunya yang langsung bertanya padaku “Apa itu benar, Hyosun-ah?”
“Kami telah membicarakan ini sebelumnya…” aku melirik pada Donghae yang sedang menghentikan makannya sejenak dan memilih mendengarkanku.
“Dan keputusan yang lebih baik adalah pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan kantor Oppa. Apa ibu keberatan?”
Donghae menoleh ke arahku sejenak. Ini kali pertama aku menyebut namanya dengan sebutan “oppa” di hadapannya secara langsung. Tapi beberapa detik kemudian, dia berubah menjadi Donghae yang semula.
“Kenapa kau mau pindah? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman untuk tinggal di sini?” Victoria menatapku tajam setelah mengetuk meja sebanyak dua kali dengan sumpitnya.
Ada satu hal. Yaitu sikap Victoria. Selebihnya aku menyukai apa yang ada di rumah ini. Tapi jika aku boleh memilih, aku ingin tinggal di sini walaupun harus berhadapan dengannya setiap hari daripada tinggal di satu apartemen dengan Donghae. Karena dengan pindah, aku akan lebih banyak kehilangan intensitas dengannya. Dia mempersempit ruang yang dari awal sudah sesak.
“Tidak ada.” Aku mengangkat sedikit bahuku.
“Aku hanya menuruti apa kata suamiku. Bukankah istri yang baik harus patuh pada suaminya?”
“Yang benar saja? Bukankah istri yang baik adalah istri yang bersedia tinggal bersama orang tua si suami?” katanya mencemooh.
“Dimanapun suamiku tinggal aku akan ikut dengannya. Kalau dia berubah pikiran dan memilih tetap tinggal di sini, aku sama sekali tidak keberatan”
Aku mengepalkan tanganku di balik meja sebagai manifestasi emosi yang aku tahan. Kenapa dia begitu menyebalkan? Kenapa dia tidak mau menerimaku dengan tangan terbuka? Tidak ada perubahan yang berarti agar dia menyukaiku, melainkan semakin menjadi-jadi kebenciannya terhadapku.
“Kenapa kalian malah berdebat. Vic, ini urusan interen mereka. Kau tidak usah ikut campur dengan masalah ini” Ibu Donghae menengahi kami berdua.
“Tentu saja ibu tidak keberatan. Semuanya tergantung keputusan Nenek, bukan Ibu karena beliau yang paling dituakan di sini”
Aku menatap Nenek yang tengah menyuap sepotong daging. Kami yang di ruangan itu menunggunya memberi jawaban.
“Bagaimana, Nek?” tambah Donghae.
“Kau ikut ke ruanganku sekarang”
Nenek meminum air di gelasnya sebagian lalu mengelap mulut dengan serbet, dan setelah itu berjalan menuju ruangan pribadinya. Donghae melakukan hal yang sama, lalu mengekor di belakang orang tertua di rumah ini.
“Ibu sudah selesai. Ibu akan kembali ke kamar”
“Iya, bu” jawabku sopan saat dia memundurkan kursi ke belakang dan pergi meninggalkan kami.
“Kenapa kau mau pergi? Kau merasa terancam karena aku tidak menyukaimu di rumah ini?” tanya Victoria saat kami hanya berdua saja di meja makan.
“Aku tidak punya alasan menganggapmu sebagai ancaman. Lagi pula aku juga tidak bisa membenci seseorang hanya karena dia membenciku.”
“Naif” gumamnya samar tapi masih terdengar dengan jelas di telingaku.
“Boleh aku tanya sesuatu, Vic?”
Dia menaikkan sebelah alisnya hingga membuatku menyimpulkan bahwa mimiknya itu adalah sebuah kata tanya “apa”.
“Kenapa kau tidak menyukaiku?”
Dia mendengus dan memandangku dengan tatapan mencemooh seperti biasa. Dia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang kupingnya lalu bersedekap.
“Menurutmu apa?” tanyanya sengit.
“Kalau aku tahu jawabannya aku tidak perlu bertanya”
“Karena kau bukan Jessica. Jessica adalah orang yang selalu bisa mengerti aku dan saat pertama kali melihatmu, aku langsung membencimu. Karena aku berharap yang duduk di hadapanku sekarang adalah Jessica, bukan kau!”
Katanya sarkastis. Tapi itu tidak membuatku heran karena pertanyaan ini hanya sekedar memastikan saja apa benar yang dikatakan Donghae bahwa Victoria membenciku karena Jessica. Dan jawabannya adalah benar.
~Ting Tong~
“Itu pasti Jessica!” katanya cepat lalu berlari menuju pintu masuk dan membukanya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang melalui benda elektronik yang tertempel di dinding.
“Ahh, Jess! Sudah ku duga yang datang adalah kau”
Aku melihat sosok wanita yang tidak asing di mataku tengah masuk ke rumah ini. Dia membalut tubuhnya dengan mantel berwarna pastel peach yang panjangnya melewati batas lutut dan di tangannya tergantung tas Gucci berwarna terang namun tetap senada dengan pakaian yang dikenakannya. Dia berbalik memandangku dan senyum yang tadinya ditawarkan pada Victoria lenyap sudah. Sikapnya yang tidak welcome padaku itu memperkuat karakter antagonis yang terbentuk dari rahang dan garis wajahnya. Dia tidak basa-basi menunjukkan ketidaksukaannya terhadapku.
“Jess, ini Hyosun” Victoria mengenalkannya padaku tapi dari kalimatnya lebih condong sebagai pernyataan Ini-wanita-yang-merebut-Donghae-darimu.
“Hallo” aku mengulurkan tangan, berusaha sopan walaupun basa-basi.
Dia tidak membalas uluran tanganku, memilih bersedekap dan menatapku dari atas hingga ke bawah. Aku langsung menarik tanganku lagi, refleksi dari sikapnya yang kelewat dingin.
“Kau yang berada di kantor Donghae waktu itu, kan?”
“Kau sudah bertemu dengannya?” Victoria bertanya heran.
“Sekitar tiga minggu yang lalu. Hari pertama aku sampai di Korea”
“Benarkah?” tanya Victoria sedikit tercengang.
Jessica tidak melepaskan tatapannya dariku dan itu sangat membuatku risih. Keduanya seperti sepasang ular yang siap mendiskreditkanku kapan saja.
“Kenapa kau…”
“Vic!! Bisakah kau kemari sebentar?” teriak Ibu dari kamarnya, memotong ucapan Victoria yang belum sempat lolos dari mulutnya.
“Ya, ahjumma!”
“Jess, kau tidak keberatan kan?”
“Tentu saja tidak” jawabnya cepat.
“Kau mau minum?” tanyaku basa-basi lagi saat Victoria telah berlalu meninggalkan kami berdua.
Dia tidak menjawab dan mendekatiku.
“Kau harus sadar, nona Hyosun. Donghae tidak benar-benar menganggapmu sebagai istrinya. Aku harap kau tahu batasan-batasannya” katanya langsung ke pokok masalah.
Aku sedikit tersentak mendengarkan pernyataannya itu tapi masih di ambang batas kekagetanku. Sudah ku duga Donghae akan membeberkan semuanya pada wanita ini. Dari sikapnya yang seperti ini, sudah tidak mungkin lagi jika aku berbaik hati dengan basa-basi di hadapannya lagi. Lebih baik sama-sama mengangkat pedang dan melihat siapa yang terhunus terlebih dahulu.
“Dengar, Jess. Aku tidak peduli jika Donghae membatasi dirinya untuk dekat denganku. Tapi aku tidak akan membatasi diriku sendiri untuk masuk ke kehidupannya. Aku tidak peduli siapa yang dia cintai sekarang, tapi aku percaya bahwa suatu saat Donghae akan berbalik mencintaiku”
“Percaya diri sekali kau? Jujur saja aku muak dengan keputusannya untuk menikah denganmu tanpa sepengetahuanku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menunggu sekarang. Menunggu kau diceraikan oleh Donghae, setelah anaknya lahir. Aku mengenal Donghae selama bertahun-tahun, sementara kau masih dalam hitungan bulan” katanya dengan intonasi yang cukup dinamis tapi cukup ampuh untuk menghujamku pelan-pelan.
Aku pikir dia adalah wanita yang anggun dan berkepribadian baik saat melihatnya pertama kali. Tapi ternyata aku salah, dia tidak memiliki karakter seperti itu. Dia membuatku muak. Bagaimana bisa Donghae berpacaran dengan orang seperti dia?
“Kita lihat saja nanti, Jess. Apa kau yakin kau benar-benar mengenal dia” kataku tidak mau kalah.
“Donghae memang kaya raya jadi wajar saja jika kau berusaha mengejarnya mati-matian. Kau harus sadar diri, nona”
“Kau…”
“Kenapa? Benarkan? Kau hanya mengincar harta Donghae?” potongnya cepat dan hal itu cukup membuatku naik pitam.
Rasanya darah panasku sudah terkumpul di ubun-ubun. Tanganku sekarang mengepal keras namun aku sembunyikan agar dia tidak bisa melihatnya. Mati-matian aku menahan amarahku agar tidak keluar dengan tindakan-tindakan frontal.
“Yeah, mungkin awalnya kau sepakat karena Donghae akan mencarikan kakakmu dan membantumu menjadi warga negara Perancis. Tapi setelah kau melihat apa yang dimiliki Donghae, kau mau meraih semuanya kan? Kau memang serakah!” dia mendengus. Nadanya begitu meremehkan.
“Jaga bicaramu, Jess. Apa Donghae buta? Bagaimana bisa dia memacari wanita bermulut racun sepertimu?”
“Apa katamu? Bermulut racun? Dengar, nona Kim…”
“Oh, salah. Mungkin kau lebih senang jika aku panggil dengan sebutan nyonya Lee. Yah, setidaknya sampai kau dan Donghae berpisah. Aku berkata seperti ini hanya padamu, bukan orang lain. Aku hanya memperingatkanmu agar tidak terlalu berharap karena itu pekerjaan yang sia-sia”
“Yang benar saja. Kami di bawah atap yang sama, Jess. Jangan lupakan itu dan apapun bisa terjadi”
“Benarkah? Kau punya kaca di rumah? Lihatlah dirimu di cermin, apa kau pantas berdampingan dengan Donghae?”
Aku mengunci mulutku rapat-rapat agar tidak terpancing oleh obrolan yang semakin tak terarah ini. Dia seperti sedang memancing kemarahanku agar meledak tak terkendali. Aku memilih berjalan melaluinya, mengabaikan kata-kata kasar yang diucapkannya. Tapi saat, aku mendekat dia malah menahan lengan kananku dan aku terpaksa mendengarkan apa yang akan dia katakan selanjutnya. Aku menatap cengkraman tangannya, penuh intimidasi.
“Dengar nona Hyosun. Di mata Donghae kau bukanlah apa-apa. Jadi kau jangan bermimpi untuk merebutnya dariku”
Aku menatapnya dengan kilatan yang tak jauh berbeda dengan yang dia tampilkan “Lepaskan tanganmu!”
“Aku akan mengawasimu, nona Hyosun. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil milikku yang paling berharga” tambahnya lagi.
“Donghae bukan piala bergilir yang bisa direbut oleh siapapun. Tapi Donghae adalah ayah dari anakku kelak dan aku akan patri hatinya secara permanen sampai-sampai dia tidak ingat pernah mengenalmu. Sementara kau? Lihat dirimu. Apa kau bisa menghadirkan seorang anak di tengah hubungan kalian?” perlahan aku menarik tangannya dari badanku.
Dia terbelalak, mungkin tidak menyangka kata-kataku bisa sekasar ini. Dia menyadari kekurangan dalam dirinya dan sekarang wajahnya sudah terlihat miris.
“Maaf kalau ucapanku kasar, kau yang memulainya lebih dulu” aku beringsut menjauhkan badanku darinya dan membiarkannya berada dalam pikiran-pikirannya sendiri. Kemudian meraih tissue yang dapat ku jangkau dan mengelap lengan yang telah dicengkeramnya. Bukan karena kotor atau apa, tapi karena aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tidak bisa diremehkan begitu saja.
Aku berjalan menuju kamar dan di saat yang bersamaan Donghae telah keluar dari ruangan neneknya. Dia memandangku sekilas “Kita bisa pindah dua hari lagi”
“Donghae-shi…” pekik Jessica yang masih berdiri di tempatnya semula.
“Jess, sejak kapan kau di sini?” Donghae langsung mengabaikanku tanpa menunggu komentar yang ingin aku sampaikan.
“Baru saja. Kebetulan aku sedang lewat, jadi sekalian mampir.” Katanya bersikap manis.
Dan yang aku tangkap adalah dia benar-benar ular berkepala dua. Dia bisa bersikap manis tanpa dosa di hadapan Donghae, tapi di sisi lain sikapnya sangat jahat terutama padaku. Dia menempatkanku di urutan pertama sebagai orang yang tidak di sukainya. Atau sebenarnya dia hanya membenciku seorang karena menjadi istri Donghae? Aku mengabaikan mereka berdua lalu masuk ke kamar.
Donghae hanya beberapa menit di luar, lalu masuk ke kamar. Ini lebih cepat dari perkiraanku sebelumnya. Mungkin dia tidak mau mengambil resiko karena di rumah ini ada Ibu dan Neneknya. Aku tidak berkata apapun saat dia masuk. Aku duduk di depan meja rias, bermain-main dengan sisir yang aku gunakan untuk merapihkan rambutku yang sedikit berantakan.
“Nenek setuju kita pindah. Dan aku juga sudah mendapat apartemen yang cocok untuk kita”
“Ohh…”
Mendengar jawabanku yang lebih mirip seperti gumaman, dia menoleh. Aku tidak menatap balik padanya melalui pantulan kaca, melainkan bermain dengan ujung rambutku seolah hal itulah yang lebih menarik ketimbang mendengarnya berbicara. Aku tidak berkomentar banyak dan tidak berminat untuk berkomentar lebih lanjut.
“Kau mau melanjutkan kuliah lagi, Hyosun-ah? Aku bisa mengurusi program mastermu jika kau mau” tawarnya lagi.
Aku menatapnya dari pantulan kaca, dia juga menatapku walaupun hanya sepersekian detik. Rasanya bertahun-tahun lamanya dia tidak menatap mataku secara langsung seperti barusan. Dia memilih tidak menatapku ketika berbicara dan baru melihatku ketika aku menatap benda yang lain. Dia seperti bermain petak umpet denganku. Tidak tahukah kalau aku merindukan tatapan itu, Donghae?
“Aku belum berfikir ke arah situ” kataku singkat.
“Atau kau mau bekerja lagi sebagai editor? Aku bisa mengenalkan rekanku yang bekerja di penerbitan jika kau mau” tawarnya lagi
Hal itu membuatku berbalik dengan cepat. Bukan karena antusiasme mengenai pembicaraan di bidang editing yang terdengar menarik tapi agar tidak kehilangan kesempatan untuk menatap matanya secara langsung. Kali ini dia tidak memalingkan wajahnya, tapi malah menatapku intens. Rasanya waktu terasa berhenti ketika dia menatapku seperti ini. Seperti ada palu yang mengetuk jantungku sampai-sampai debarannya terdengar keluar, nafasku terasa tinggal setengah karena persediaan oksigen di sekitar menipis.
“Kau tertarik?” tanyanya lagi dan hal itu membuat pikiranku buyar.
Aku menjawabnya dengan kegugupan yang tidak bisa ku tutupi seperti maling yang tertangkap basah sedang mencuri.
“Akan aku pikirkan” kataku kemudian lalu berbalik menghadap kaca lagi.
Bodoh! Dalam hati selalu protes kenapa dia tidak memandangmu dan setelah dia memandangmu cukup dalam kau bertingkah tolol. Maumu apa, Hyosun-ah???
“Oke. Dan masalah kewarganegaraanmu…” katanya terputus, berfikir lagi untuk mengeluarkan kata-kata yang pas. Aku menatapnya melalui pantulan kaca.
“Apa kau yakin akan pindah menjadi warga negara Perancis?”
“Kenapa memangnya?”
“Bagaimana kalau kakakmu ternyata tidak ada di sana? Bagaimana kalau dia sebenarnya di Korea?”
Aku berbalik cepat lagi dan kali ini aku mampu mengesampingkan tatapannya karena pembicaraan ini sangat membuatku terpancing.
“Apa kau sudah menemukan jejaknya?”
Dia menggeleng “Orang-orangku belum memberi laporan apapun. Tapi besar kemungkinan dia masih menjadi warga negara Korea. Apa kau masih mau mengganti kewarganegaraanmu?”
Aku berfikir, menekuri pertanyaan Donghae yang masuk akal. Benar apa yang dikatakannya, bagaimana kalau Kak Young Woon masih di Korea? Kabar tentang keberadaannya di Perancis masih simpang siur, tapi aku begitu yakin dia ada di sana. Kembali lagi, bagaimana kalau benar dia masih di Korea? Apa gunanya aku merubah kewarganegaraan?
“Pikirkanlah lagi. Jangan sampai menyesal. Kau tidak bisa kembali menjadi warga negara Korea jika sudah melepasnya untuk kewarganegaraan yang lain”
“Apa orang-orangmu tidak bisa lebih cepat menemukan kakakku, Donghae?” kataku dengan suara bergetar.
“Tidak semudah itu, Hyosun-ah. Tapi aku sudah berjanji dari awal akan mempertemukanmu dengan Young Woon dan aku tidak akan mengingkarinya. Sekarang tidurlah, jernihkan pikiranmu agar kau bisa lebih hati-hati dalam mengambil keputusan”
Donghae beranjak, lalu merebahkan badannya di atas ranjang berseprai marun dengan gambar bunga tulip di beberapa sudut. Aku memandangnya yang mulai memejamkan mata lalu berjalan ke bagian ranjang yang masih kosong bersekat dua guling yang menghalangi badanku dan Donghae. Aku turut merebahkan badanku. Itulah keadaan kami di dalam kamar selama di rumah ini. Tidak ada kasur yang digelar di atas lantai agar kami terpisah karena kami ingin meminimalisir hal yang tidak terduga-duga seperti: kepergok berpisah ranjang oleh salah satu anggota keluarga rumah ini. Aku memiringkan badanku agar bisa melihatnya dengan jelas, berbeda dengan hari-hari sebelumnya tatkala aku memilih memunggunginya atau tidur dengan posisi telentang. Dia sedikit berbeda setelah keluar dari ruangan neneknya. Apa yang dikatakan neneknya?
“Masih ada yang ingin kau tanyakan?” tanyanya, mengetahui bahwa aku tengah mengawasinya. Dia membuka matanya dan menoleh.
“Tidak…” kataku buru-buru lalu menelentangkan tubuhku seperti biasa.
Semakin melihatnya aku semakin ingin memilikinya. Apa dia bisa mencintaiku sebagaimana aku mencintainya, Tuhan? Aku memejamkan mataku dan mengenang hari pertama aku melihatnya. Sikapnya angkuh dan sangat kentara mengintimidasiku waktu itu. Sementara aku tak kalah angkuhnya, karena menurutku melawannya adalah sebuah seni. Terkadang membuat frustasi tapi tidak jarang aku malah hanyut dalam egoku saat menghiraukannya. Karena alasan itulah aku ingin tau orang seperti apa Lee Donghae sebenarnya. Dan aku menemukan hal lain yang membuatku ingin lebih mengenalnya yaitu di pertemuan kedua. Di hari dimana dia mengatakan bahwa dia menikahiku untuk melindungi nama baikku sebagai ibu dari anaknya kelak. Dia akan tetap menuliskan nama kami ‘berdua’ sebagai orangtua kandungnya. Dari situ aku bisa merasakan bahwa dia adalah pria yang baik. Aku akan memegang ini sebagai pedoman, Donghae. Aku akan kuat dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu sendiri. Sekalipun hatimu masih milik Jessica, aku akan mengambilnya perlahan tapi pasti. Maafkan aku Tuhan, tapi dalam hal cinta bukankah aku harus berjuang sekalipun pada akhirnya harus menyakiti hati orang lain? Ampuni aku jika harus ada yang terluka. Dan kalaupun pada akhirnya yang terluka adalah aku sendiri, kuatkanlah aku.
_
“Ini kamarmu” Donghae membuka salah satu pintu yang ter-display di apartemen baru ini.
Aku bisa mencium cat merah batanya yang masih baru, Perabot-perabot mahal yang masih belum terjamah oleh debu, meja berplitur sempurna dan kaca-kaca mengkilap yang sepertinya baru saja di lap. Ada gorden bermotif bunga aster yang menggantung di dekat ranjang berukuran cukup besar untuk ku tiduri sendiri. Secara keseluruhan aku menyukai kamar baru ini.
“Kau menyukainya?” tanyanya lagi.
“Ini lebih dari cukup” kataku ringan.
“Aku tidur di kamar sebelah.” Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya sejenak.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang.”
Dia langsung keluar setelah memakai jas-nya kembali dan menenteng tas kerjanya. Hari sudah gelap dan dia harus rapat. Aku memperhatikan punggungnya yang kian menjauh saat berjalan di koridor.
“Donghae-shi…” pekikku. Dia berhenti dan menoleh.
“Hati-hati di jalan” kataku lagi.
Dia tersenyum kecil tanpa menjawab apapun lalu berjalan lagi dengan kecepatan yang tidak di rubah. Aku memperhatikan badannya yang kian menjauh sampai pandanganku tak mampu menjangkaunya.
“Jadi kalian benar-benar pindah hari ini?”
-DEG- suara itu?
Bulu kudukku sedikit meremang saat mendengar suara yang baru saja tertangkap oleh telingaku itu. Aku membalikkan tubuhku dan berharap yang ku dengar adalah suara orang lain.
“Kenapa? Kau terkejut?” katanya saat aku benar-benar mendapatinya sedang berdiri di belakangku.
~Jessica~
“Sudah ku bilang kalau aku akan mengawasimu selama bersama Donghae. Kau tidak lupa obrolan kita di kediaman keluarga Lee, kan?”
“Kau sengaja membeli apartemen di sini?” tanyaku heran. Benar-benar seperti di sambar petir tapi tidak mati.
Dia menggeleng dan tersenyum sinis, menganggap pertanyaanku yang terdengar lucu di telinganya.
“Donghae yang memutuskan tinggal di sini. Dia yang memilih berada di dekatku. Dari awal aku memang sudah tinggal di sini, nona Hyosun. Kenapa kau kaget begitu? Sudah ku bilang kan, kalau Donghae itu milikku dan sudah pasti dia akan menimbang-nimbang usulku untuk tinggal di sini”
Donghae, apa lagi ini? Kau menyakitiku melalui Jessica. Apa kau tidak tahu kalau aku sangat tidak nyaman berada di dekatnya? Ini lebih dari sekedar neraka dunia. Tinggal berdua saja sudah membuat keadaan terpuruk, bagaimana jika ditambah dengan Jessica di sekitar kami? Sama saja tidak ada kesempatan untukku.
“Oh, iya. Rencananya aku tidak akan melanjutkan study-ku di New York. Aku akan masuk di salah satu akademi yang serupa di kota ini. Selamat menghuni apartemen barumu, nona Hyosun. Semoga kau betah di sini”
Dia membungkukkan badan berlagak mematuhi peraturan tak tertulis tentang sopan santun terhadap penghuni apartemen yang baru. Melihatnya aku benar-benar ingin mengeluarkan seluruh isi di dalam perutku yang belum lama aku masukkan. Dia berjalan menjauh lalu menghilang di balik pintu yang letaknya terpisah dari 3 pintu yang lain.
Aku masuk ke kamar lalu mengambil ponselku yang berada di dalam tas. Aku mengetikkan beberapa karakter dengan emosi yang meluap-luap. Sepertinya hatiku seperti lelehan lava yang siap keluar dari perut bumi. Panas!
To: Lee Donghae
Kau baru saja memadamkan lilin-lilin yang masih redup, Donghae.
Melemparkan kerikil di air yang mulai tenang.
Demi Tuhan, ini sangat menyakitkan.
Aku mengabaikan benda elektronik itu kemudian pergi meninggalkan apartemen yang baru beberapa sudutnya terjamah oleh keberadaanku. Membiarkan airmata berlinang beriringan dengan langkah kaki yang kian cepat menyerupai berlari.
_
“Arrrrrrrrrrrrrrrrrrghhhhhhhh… BODOH!!!” teriakku di tempat paling tinggi gedung ini.
Aku membiarkan tangis memenuhi udara. Kerlap-kerlip lampu yang seharusnya bisa aku nikmati keindahannya kini menjadi sinar-sinar yang buram karena airmata yang menggenang di pelupuk mata. Bahkan langit yang begitu cerah bertabur bintang pun tak kuasa membuatku terhibur.
Kenapa? Kenapa dan kenapa? Satu kata yang selalu berputar-putar di otakku sekarang ini. Kenapa kau jahat Donghae?
“Sudah selesai belum?”
Aku terperanjat saat menyadari seseorang bersuara sedikit berat mengagetkanku. Aku buru-buru mengusap airmataku yang menyusuri pipi kemudian berbalik dengan canggung.
“Sejak kapan kau di situ?” tanyaku salah tingkah.
“Sebelum kau datang” katanya seraya mendekatiku. Aku memandangi sapu tangan yang diulurkannya padaku kemudian memandangnya.
Lekuk wajahnya sangat kuat. Matanya sipit dilengkapi dengan sorot yang cukup tajam tapi tidak terasa mengancam. Kalau aku pikir-pikir dia lebih mirip aktor berperan antagonis di drama-drama yang pernah aku tonton di TV. Siapa dia?
“Aku tidak butuh itu” kataku kemudian hengkang dari tempat itu.
Aku merasa malu karena ada orang yang melihatku menangis seperti tadi. Ya ampun, Hyosun. Kenapa kau bodoh sekali? Bagaimana kau tidak sadar kalau ada orang di sekitarmu berada?
-TBC-
Victoria dan Jessica tidak untuk di-bash di FF ini. Silahkan kalau mau menuliskan kekecewaan atau rasa kesal, tapi tidak dengan menjelek-jelekkan keduanya. Tanks:D
Hallo selamat malam… Udah pada tidur semua kah? Terinspirasi dari film india yg kebetulan tayang malam ini (?) akhirnya aku dapat ilham buat posting lanjutan FF ini malam ini juga [padahal niatnya minggu dpan] LOL…
Oke, di chapter sebelumnya Kyu berasa kesambet malaikat dari surga gitu ampe bahasanya jadi 4l4y [entah kenapa aku demen bgt pake kata 4l4y LOL] kan? Apa itu karena authornya pinter nulis? Atau authornya emang anak sastra? LOL keduanya salah. Aku cuma terinspirasi dari sebuah lagu aja yang pernah dinyanyiin sama Kyu Bahahaha… Dan aku cukup puas dengan komentar kalian karena kalian dapet Feel-nya. Jujur aja chapter kemaren buatku cukup susah ampe bersemedi ke gunung kidul buat nyari feel-nya biar bener2 berasa /plak. Masalah pra pernikahan [sertivikasi sebelum nikah] dan catatan sipil sengaja aku skip biar ceritanya gak bertele-tele XD
Oke!!! Sesuai poster dan tag yang aku buat, aku udah nurunin status Changmin dari main cast ke other cast dengan ditandai Choi Seung Hyun sebagai penggantinya. Inilah cerita yang sebenarnya (?) LOL… Ada yang tahu gak Choi Seung Hyun itu siapa? Nama aslinya emang kurang beken, yang beken nama panggungnya Bahahahaha…
Untuk lanjutan side story-nya aku post setelah poster yang aku pesen jadi ya…
LOVE U ALL:D
Semoga chapter ini menjawab pertanyaan-pertanyaan readers, kalau ada pertanyaan baru atau pertanyaan yg belum terjawab juga tunggu chapter selanjutnya yaaaaaaaaaa…
Link: Winter In The Red Square [LET'S MAKE A BABY side's story][1/3]
Notes tambahan:
Myungie
Pujian emang bikin motivasi tapi ada jga loh author yang keseringan dipuji tapi gak mau nrima kritik sama sekali. Aku pernah follow dia, tapi pas tau attitude-nya kaya gitu lebih baik aku unfoll. Kebanyakan pujian emang harus diimbangi sama kritik, kalau gak bisa jadi egois dan aku gak mau kaya gitu hehe. Walaupun mengendalikan kritikan itu gak gampang [bisa marah gak jelas, gak terima, ngerubah mood buat nulis lagi dll] tapi harusnya berbesar hati kan nerima itu karena itu bisa bikin tulisan jauh lebih terarah. Tapi kalau kritik yang sifatnya subjectif aku gak gitu menghiraukan jga sih LOL Kita sama-sama author di sini pasti tau lah rasanya kaya gimana:D

lho???
sapa lg tuh???
ahh bikin pnasaran kyk yg atunya…
lanjuuuuuuuuuuttttttt!!!!!!!!!!!
makin seru nihhh,,, donghae kok kayak nggak berperasaan sih????