credit poster: Cute Pixie
Author: Unie
Genre: Angst, AU (Alternate Universe)
Rating: PG-15
Length: Chaptered
Main cast:
- Lee Donghae
- Sung Hyosun
- Jessica Jung
- Choi Seung Hyun [TOP]
Other cast:
- Shim Changmin
- Cho Kyuhyun
- Lexy Kim
- Victoria Song
Disclaimer:
FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni
[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5] [CHAPTER 6][CHAPTER 7][CHAPTER 8]
“Apa maksud SMS-mu?” tanya Donghae.
Dia menghampiriku yang sedang duduk di ruang tengah. Dia menjinjing tas, lengkap dengan busana kerjanya. Dia baru pulang dari kantor. Aku sedang memusatkan mataku pada televisi walaupun hatiku berlalu lalang ke sana kemari tanpa fokus. Aku tidak menghiraukannya.
“Aku sudah memasakkan makanan untukmu. Makanlah” kataku kemudian berlalu dari hadapannya.
Aku masuk ke kamar, lalu menguncinya dari dalam agar dia tidak masuk tanpa permisi. Aku malas membahas tentang Jessica, si orang lama di hunian ini atau kami yang merupakan tetangga barunya. Kalau diam itu bisa menghukum dan membuka mata hatinya untuk melihat apa yang aku rasakan, akan aku lakukan.
3 days later…
Ini hari ketiga aku mendiamkan dan tidak menemuinya dengan cara tidak berada di luar kamar saat dia di rumah. Aku bangun lebih pagi untuk memasak sarapan lalu masuk ke kamar lagi saat dia bangun. Malam harinya tidak jauh beda dengan yang aku lakukan pada pagi hari. Aku kembali mengunci kamarku setelah semua makanan terhidang di atas meja sebelum dia pulang dari kantor. Hampir setiap hari dia memastikan aku baik-baik saja di dalam kamar dengan cara mengetuk pintu kamarku dan aku menjawabnya dengan satu pesan singkat ke ponselnya yaitu “I’m Ok”.
Pagi ini tidak seperti biasanya. Aku merasa cepat lelah, padahal kerjaku hanya mengetik-ngetik naskah novel yang sekarang menjadi project-ku selama menjadi ‘istri’ Donghae. Tengkukku terasa kaku sampai-sampai aku harus menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Aku bangun pukul lima, seperti biasa saat keadaan luar masih berselimut kegelapan dan tentu saja Donghae masih terlelap di kamarnya.
Aku membuka lemari makanan untuk mengambil bahan untuk membuat pancake lalu mengambil wadah untuk adonannya dari rak yang terletak di sebelah lemari makanan. Aku memegangi tengkukku yang terasa tegang.
“Mau sampai kapan kau seperti ini?”
Damn! Sontak aku langsung berbalik ke belakang saat mendengar suara yang tak lain adalah milik Donghae. Itu cukup mengagetkan dan membuat jantungku terasa hampir copot. Dia dengan santai bersedekap dan menyenderkan badannya di kulkas.
“Sedang apa kau di situ?” tanyaku balik agar tidak terlihat kaget dihadapannya.
“Kenapa sih selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang baru? Kenapa kau menghindariku?” tanyanya tajam.
Well, mau tidak mau pada akhirnya aku pasti akan menghadapinya juga. Tapi apa yang harus aku katakan? Sepertinya dia memang sengaja bangun bersamaan denganku untuk meminta penjelasan.
“Aku mau masak” aku melengos menghadapi tepung yang baru saja aku buka kemasannya dengan gunting dapur. Aku mengabaikannya yang masih berdiri di belakang.
Aku merasa derak langkahnya kian mendekatiku diiringi bayangan hitam yang semakin mendekat. Dia mencengkram pergelangan tangan kananku. Aku menoleh secepat kilat “Lepaskan. Kau tidak melihat kalau aku sedang sibuk?”
“Kau kenapa?”
“Menurutmu apa? Lepaskan!” aku mulai meronta dengan menanggapi perlakuannya itu. Tapi dia tetap tidak mau melepaskanku.
“Tidak sebelum kau mengatakan alasannya” katanya bersikukuh tanpa mengesampingkan sakit yang aku rasakan.
“Kau kasar sekali! Lepaskan!”
Dia menghempaskan tanganku dengan geram. Matanya berkilat-kilat memandangku yang tidak mau memberi alasan kenapa aku mendiamkannya belakangan ini. Walaupun reaksi dari sebuah kata “diam” ini cukup lama, tapi aku percaya kalau hal inilah yang membuatnya gelisah.
“Kau kenapa, Hyosun-ah? Apa aku salah padamu?”
“Apa pedulimu?” tanyaku tak mau kalah.
“Kita berada di satu rumah, tidak bisakah kau bersikap lebih baik dari ini?”
“Tidak. Kau sendiri yang membuatku menyikapi kepindahan kita di sini dengan cara seperti ini. Kenapa kau memilih apartemen yang sama dengan Jessica? Kau tahu sendiri aku tidak merasa nyaman jika dia di dekatku. Apa kau sengaja melakukan ini?”
Dia mendengus dengan menampakkan senyum liciknya.
“Sudah ku duga” gumamnya samar. Tapi untuk jarak yang sedekat ini pendengaranku masih cukup kuat untuk bisa mendengarnya.
“Apa maksudmu?” dahiku berkerut.
“Lepaskan kalungmu” dia menunjuk tepat ke leherku.
Dia menunjuk kalung berbandul huruf “MH” yang menggantung sempurna di tempat itu. Aku memakai kalung pemberian Max ini lagi setelah hari pernikahan kami dan menyimpan kalung keluarga Lee ke tempat asalnya.
“Untuk apa?” aku memegang logam itu protectif.
“Lepaskan saja”
“Aku tidak mau!” aku mencengkram liontinnya lebih erat dari sebelumnya. Aku mundur ke belakang tapi dia malah mendekatiku. Dari sorot matanya Donghae terlihat tidak main-main kali ini.
“Jangan sampai aku memaksamu” ancamnya.
“Donghae, mundur! Atau aku akan memukulmu dengan…”
Aku kebingungan lalu melirik segulung tissue yang ada di dekat papan potong. Aku melemparnya ke arah Donghae tapi dia keburu menghindar.
Dia mengulurkan tangannya “Berikan padaku”
“Tidak!” teriakku dan di saat yang bersamaan badanku membentur tembok. Posisiku terpojok.
“Berikan” katanya lagi.
“Untuk apa?”
“Ya, berikan saja”
“Tidak akan!” tukasku tajam.
Dan hal itu malah membuatnya semakin mendekat. Aku berusaha mendorongnya dengan kedua tanganku. “Menjauhlah, Donghae!”
Dengan cepat dia menangkap tanganku dan menguncinya di dinding. Aku menoleh ke samping kanan dan kiri dengan gugup, melihat tanganku yang rasanya seperti diborgol. Dia menatapku sejenak lalu mendekatkan wajahnya ke leherku. Mulanya dia menciumi bagian samping kiri tapi langsung merambat kemana-mana. Bulu kudukku kian meremang.
“Donghae, apa yang kau lakukan?” aku berusaha meronta lagi, tapi dia tidak bergeming.
Dia malah sibuk menciumi area tubuhku yang cukup sensitif itu dengan intens bahkan sampai ke daun telingaku. Makin lama seperti ada sesuatu yang basah saat dia melakukan itu. Aku mengeratkan gigiku kuat-kuat agar tidak mengeluarkan erangan atau bahkan desahan saat dia memakai lidahnya. Ya, ampun apa dia mau memperkosaku di dapur?
“Lepaskan…” kataku semakin lemah berusaha mendorong dadanya agar menjauh dari badanku walaupun percuma. Kakinya juga menempel kuat di kakiku hingga aku benar-benar terkunci, tidak bisa melakukan perlawanan baik itu dengan tangan ataupun kaki.
Tapi dia tidak menghiraukan kata-kataku. Malah semakin lama aku merasa ada rasa perih saat yang tertinggal di satu bagian dari leherku. Dia sedang asik dengan satu titik di daerah pangkal leherku. Apa dia mau meninggalkan jejak di di bagian itu? Aku memejamkan mataku kuat-kuat, menahan sensasi ini. Terasa cengkraman tangan kanannya kian melemah dan benar-benar terlepas beberapa detik kemudian. Dia mundur ke belakang setelah aku menangkap suara tumbukan logam kecil. Aku memberanikan diri membuka mataku sedikit demi sedikit dan aku baru sadar betapa bodohnya diriku, kalung itu sekarang sudah mendarat di tangan kanannya. Aku berusaha menahan nafasku sebisa mungkin agar tidak tersengal-sengal.
“Kalung dari mantanmu?” tanyanya merasa puas setelah mengerjaiku.
Kurang ajar! Bagaimana bisa dia melepaskan kalung itu hanya dengan mulutnya? Sial! Pasti saat aku merasa digigiti tadi. Dia memanfaatkan situasi saat aku terlena.
“Kau…Kembalikan, Donghae! Itu milikku!” aku menatapnya garang dan berusaha merebut benda itu dari tangannya. Tapi dia terlalu gesit dalam menghindar. Dia memasukkan benda itu ke saku celana lalu bersedekap di hadapanku.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengantonginya?”
“Seberapa penting benda ini untukmu?” tanyanya lagi dengan mata yang menyipit.
“Itu sangat penting bagiku. Kembalikan!” aku berusaha meraih lubang kantungnya tapi dia selalu berhasil menghindar.
“Apa akan sepadan jika kalung ini ku tukar dengan yang lebih baru?”
Dia merogoh saku celananya yang lain lalu menyodoriku dengan logam emas putih yang bentuknya seperti rantai jangkar kapal berukuran seribu kali lebih kecil. Di bagian tengahnya juga ada liontin huruf “H” tanpa embel-embel huruf “M”. Sudah pasti harganya tidak murah, tapi aku merasa lebih nyaman menggunakan kalung pemberian Max ketimbang kalung yang masih terlihat asing di mataku itu.
“Aku tidak mau!” kataku sengit, menatapnya galak.
“Lalu apa yang sepadan dengan kalungmu?”
“Tidak ada. Menurutku itu istimewa!”
Dia tertawa melihat reaksiku. Eh, apa yang lucu?
“Lalu, menurutmu apa istimewanya aku di mata Jessica?”
“Apa maksudmu?” alisku naik sebelah, masih merasa heran dengan apa yang dikatakannya.
“Sama halnya dengan Jessica. Dia mencintaiku dan merasa kau telah merebutku darinya. Aku hanya ingin memberikan gantinya dengan tinggal di sini walaupun itu tidak sepadan dengan apa yang dia rasa telah ‘dipinjam sementara’ olehmu. Kalungmu hanya benda mati, sementara aku makhluk yang bisa bernafas dan dekat dengannya. Kalau urusan kalung ini saja membuatmu segeram itu, bagaimana dengan perasaan Jessica melihatku menikah denganmu?” paparnya blak-blakan.
Analogi kalung? Cih! Kenapa tidak blak-blakan saja dengan mengatakan ingin melindungi perasaannya? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Kenapa dia tidak peduli dan mencoba mengerti.
“Aku hanya mencoba melindungi perasaannya”
-DEG-
Hal yang barusan ku gerutukan dalam hati lolos juga dari mulutnya. Rasanya sakit mendengar itu. Seperti dilempar ke jurang lalu digencet dengan batu-batu berukuran besar. Memangnya aku tidak punya perasaan? Kapan dia akan mengerti aku? Aku menatapnya tajam dan setelah itu melemparkan pandangan ke arah lain.
“Mengertilah” pintanya dan itu membuatku mendengus, muak.
Dia memintaku untuk mengerti tapi dia tidak pernah mencoba mengerti perasaanku. Aku menatapnya sekilas lalu pergi dari hadapannya. Aku pergi ke kamar sebelum airmataku tumpah di hadapannya.
“Hyosun-ah!” panggilnya, tapi aku tidak menghiraukan panggilan itu melainkan memilih untuk mengunci kamarku rapat-rapat.
Aku langsung menuju meja rias dan menghadap ke kaca yang ukurannya cukup besar untuk memantulkan bayanganku dari perut hingga ujung kepala. Aku melihat leherku yang terasa sedikit perih. Dan benar, dia menggigitinya hingga menimbulkan bercak merah. Brengsek! Seharusnya aku tahu kalau dia ingin mengambil kalung dari Max. Dia mengelabuhiku dengan cara memberiku skinship singkat. Keterlaluan! Untung saja aku tidak pernah ikut ekstrakulikuler karate atau taekwondo saat kuliah, kalau saja iya sudah patah tulang-tulangnya karena memperlakukanku seperti itu. Bukan berarti setelah malam itu aku bisa diperlakukan seenaknya. Yang aku lakukan hanya sebatas syarat.
Mungkin ada benarnya dia melakukan itu karena Jessica terlanjur tahu dengan keputusannya menikah denganku, tapi tetap saja aku tersakiti. Tersakiti karena Donghae lebih memilih melindungi perasaan Jessica daripada menjaga perasaanku.
Setelah kejadian di dapur tadi aku tidak melanjutkan pekerjaanku lagi. Aku memilih untuk tiduran di atas kasur dengan pikiran yang masih melalang buana. Bahkan saat Donghae mengetuk pintu dan ingin berangkat bekerja, aku tidak bergeming. Menjawabnya melalui SMS pun aku juga merasa enggan.
~ceklek~
Pintu luar sudah tertutup lagi dan itu pertanda bahwa Donghae telah pergi ke kantor. Aku turun dari ranjang, memutuskan untuk mengambil air mineral di dapur. Saat aku melintasi meja makan, mataku terbelalak melihat Donghae sudah duduk di salah satu kursi. Lalu suara pintu itu? Ya Tuhan, dia mengecohku ‘lagi’.
Dia menatapku “Aku tidak biasa makan sendirian”
Aku mendesis tapi mengikuti apa yang dimintanya. Di meja makan sudah tersebar beberapa jenis makanan. Jangan ditanya siapa yang memasak, sudah pasti dia. Melihat ini aku merasa malu karena membiarkan suamiku sendiri memasak untukku.
“Besok malam ada acara reuni SMA. Bisakah kau luangkan waktu?” tanyanya sebelum memasukkan sepotong omlette ke dalam mulutnya.
Aku menghela nafas cukup panjang “Apa dress code-nya?”
Dia tersenyum, menyimpulkan persetujuanku yang secara explisit itu
“Black tie” katanya singkat.
Black tie semacam pesta yang bernuansa formal dan lebih ditunjukkan pada kalangan pria. Kaum pria memakai toxedo dilengkapi dengan dasi hitam dan pasangannya hanya mengikuti dengan coctail gown selutut atau two piece tapi tetap terlihat elegan. Tatanan rambut dibuat seperti french twist atau digelung ke atas. Dan yang paling penting adalah para pria diwajibkan mengenakan dasi hitam (black tie). Berbeda dengan white tie yang mengharuskan undangan wanita menggunakan gaun yang panjangnya hingga menyentuh lantai.
“Baiklah” kataku kemudian memotong omlette dengan pisau lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Bersamaan dengan itu, perutku terasa keram. Seperti diaduk-aduk hingga menimbulkan rasa sakit yang cukup membuatku meletakkan garpu dan pisau. Aku memegangi perutku yang terasa keram. Keringat di dahi sepertinya juga mulai bermunculan. Tidak ini tidak boleh terjadi. Ini bukan jadwalku datang bulan. Pasti ini hanya keram biasa.
“Hyosun, kau kenapa? Wajahmu pucat” Donghae menghentikan makannya lalu mendekatiku.
Aku menggeleng kuat-kuat, tapi tanganku masih mencengkram kain yang melapisi bagian perutku.
“Kau sakit?”
Tidak mungkin! Bagaimana bisa aku menstruasi pada tanggal ini. Seharusnya minggu depan aku baru mendapatkan menstruasiku. Aku menatap Donghae tidak percaya, lalu beranjak dan pergi ke kamar mandi terdekat. Aku bersandar di balik pintu untuk beberapa saat sambil menatap kaca penuh tanda tanya. Kenapa cepat sekali? Berarti apa yang aku lakukan dengan Donghae waktu itu tidak ada artinya? Aku masih memegangi perutku yang keram, tapi mau tidak mau aku harus mengetahui kebenarannya. Perlahan aku menurunkan celana dalamku dan aku bisa melihat bercak-bercak merah di situ. Dan saat itulah aku merasa hancur. Impian untuk mendapatkan anak gagal sudah.
“Hyosun, kau tidak apa-apa?” Donghae menggedor pintu.
Apa yang harus ku katakan padanya? Tak terasa airmataku meleleh pelan karena menstruasi bulan ini. Tapi aku buru-buru mengusapnya lalu keluar untuk menjawab kecemasan Donghae.
“Aku sedang menstruasi.” Kataku dengan suara lemah.
Wajah yang tadinya cemas kini berubah menjadi sebuah kekecewaan. Dia sadar setelah beberapa detik bahwa dia tidak akan mendapatkan anak dari hubungan badan yang dilakukan baru saru kali. Aku merasa sedih melihat ekspresinya karena ini bukan situasi yang tepat untuk mengatakan “kita bisa mencobanya lagi” bahkan untuk berkata “kita bisa melakukannya dengan cara lain” pun tidak ada gunanya.
“Tapi perutmu?”
“Ini sudah biasa terjadi saat hari-hari pertama menstruasiku”
”Oh…” desahnya lesu.
“Jangan terlalu dipikirkan. Masih ada jalan dan waktu” dia mengelus puncak kepalaku, mencoba tegar dengan menampilkan sedikit senyumnya.
“Aku akan berangkat ke kantor sekarang” dia beranjak lalu menyambar tas kerjanya yang berada di kursi. Aku melihat makan yang sengaja di campakkannya setelah mendengar jawabanku.
“Kau tidak mau menghabiskan makananmu dulu?”
“Aku sudah telat. Aku pergi dulu”
Dia pergi begitu saja. Membawa rasa kecewa yang baru saja didapatnya dariku.
_
Aku mengamati wajahku di cermin. Menilik dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku memakai dress putih polos sepanjang lutut tanpa tali dengan belahan dada yang tidak begitu rendah. Bagian bawah cukup melebar tapi terkunci oleh ikat pinggang hitam yang aku padukan dengan high heels tali berwarna gelap. Biasanya aku merias wajahku agar tampak cassual tapi kali ini aku harus memberi riasan mencolok terutama dalam memoleskan lipstick, aku harus memakai warna merah. Aku memilih warna merah bata, jadi tidak terlalu menor walaupun harus tetap terlihat glamour.
“Hyosun, kau sudah siap?” Donghae menggedor pintu kamarku dengan beberapa tekukan jarinya.
“Ya. Sebentar lagi aku keluar” jawabku lalu menarik tas hitam kecil seukuran dengan dompet yang biasa aku bawa kemana-mana.
“Kita berangkat sekarang?” tanyaku saat membuka pintu dan mendapatinya sedang mondar-mandir di depan kamarku.
Donghae menoleh padaku. Dia menatapku dengan sorot mata yang cukup ganjil tanpa berkedip. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Apa foundation yang aku gunakan melebihi batas atau goresan pensil alisku melenceng? Aku memang baru pertama kali ini memakai riasan yang berlebihan di hadapannya.
“Apa ada yang salah?” tanyaku gugup menyikapi ekspresinya yang tak terdeteksi itu.
“Tidak. Ayo berangkat sekarang” katanya buru-buru lalu mendahului langkahku.
Mungkin hanya firasatku saja. Donghae memang aneh dan tatapannya juga tidak konsisten. Tapi kenapa aku malah menyukainya. Aku tersenyum kecil lalu buru-buru mengekor di belakangnya.
“Donghae!” panggil sebuah suara di belakangku.
Tidak. Jangan dia, please. Donghae langsung menoleh, tapi aku masih sibuk berdo’a dalam hati agar wanita itu bukan…
“Jess. Ada apa?” tanya Donghae dan ucapan yang keluar dari mulutnya itu menjawab do’aku yang tak terkabul. Dia memang Jessica.
“Kau ke acara reuni, kan? Bolehkah aku menumpang di mobilmu? Hari ini mobilku di bengkel” tanya Jessica, bersamaan dengan aku yang tengah membalik badan.
Donghae menoleh canggung padaku. Aku berharap dia menanyakan padaku apakah aku setuju atau tidak. Tapi dia tidak melakukannya.
“Baiklah. Masih ada tempat kosong” jawab Donghae dengan gampangnya.
“Terimakasih” kata Jessica dengan cukup riang.
“Nona Hyosun, tentu kau tidak keberatan kan?” Jessica memandangku dengan tatapan memaksa dan mengancam di balik senyumnya yang terlihat menawan.
Aku mendengus kesal lalu memilih berjalan terlebih dahulu. Aku bilang keberatan pun Donghae juga tidak akan peduli. Bagaimana bisa dia membiarkan situasi yang seperti ini? Satu mobil dengan aku, Jessica dan dia. Lalu siapa yang akan duduk di sampingnya? Jessica atau aku?
_
Sepanjang jalan aku hanya bisa menggerutu kesal. Aku seperti menumpang di mobil Donghae. Dia membiarkan Jessica duduk di sebelahnya sementara aku di kursi belakang. Bahkan ketika sudah berada di acara reuni pun dia tidak terlalu banyak bicara denganku. Orang-orang ini seluruhnya asing di mataku kecuali dia dan Jessica, dan hal itu membuatku sulit untuk berinteraksi.
Terlihat sekali semua yang hadir begitu menikmati acara nostalgia ini. Mereka tersenyum dan sesekali terkekeh ketika bercerita tentang masa-masa SMA-nya. Sementara aku terpuruk di kesunyian di tengah hingar bingar pesta. Reuni macam apa ini? Membosankan!
“Nona, Hyosun. Ku dengar kau bertemu dengan Donghae di Paris, apa itu benar?” tanya salah satu di antara tiga teman SMA Donghae padaku. Dia memakai kacamata dan penampilannya sedikit kuno menurutku. Namanya Alex.
“Iya. Kebetulan dia adalah editor di sana” Donghae memotong, menjawab pertanyaan itu sebelum aku membuka suara.
“Bertemu di kota Paris pasti sangat romantis. Suasana sungai Seine, menara eiffel…”
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan-celotehan teman lama Donghae ini. Romantis apanya? Cih! Aku memandangi gelasku yang tengah kosong. Aku mengedarkan pandangan ke arah bartender berdasi kupu-kupu yang sekarang sedang sibuk menunjukkan kebolehannya di hadapan tamu undangan. Dia mendapatkan pujian dan tepuk tangan.
“Donghae…” aku menunjukkan gelasku yang kosong dan dia mengerti kalau aku ingin menambah minum. Dia mengangguk.
“Aku boleh minta yang non-alkhohol?” tanyaku pada pelayan yang satunya.
“Orange jus atau soda?”
“Orange Jus juga boleh”
“Tunggu sebentar” kata pelayan itu kemudian pergi ke balik tirai.
Aku mengamati bartender yang masih dikerubungi oleh para tamu karena atraksinya yang lumayan menarik. Dia mengocok bottle shake kemudian melemparkannya ke udara dan menangkapnya dengan tangan kiri di belakang punggung.
“Tolong White wine satu” kata seseorang yang kini duduk di sampingku. Dia sedikit menghalangiku untuk melihat atraksi lanjutan dari bartender itu.
“Tuan, bisakah kau…”
“Kau?” dia berbalik memandangku saat aku mengusik bahunya.
Astaga, kenapa dia lagi? Dia kan yang waktu itu melihatku menangis di landasan helikopter.
“Kau yang…”
“Yang waktu itu melihatmu menangis” potongnya meneruskan kalimatku yang terputus. Dia mendengus senang. Pipiku serasa memanas dia membahas itu lagi.
“Berhentilah membahas itu!” tukasku.
“Baiklah. Aku kan hanya mengingatkan siapa aku”
Dia mengulurkan tangan “Namaku Choi Seung Hyun. Biasa dipanggil TOP”
Aku memperhatikan jemarinya yang terulur lalu menatapnya matanya yang seolah berkata ‘ayo jabat tanganku’.
“Hyosun” aku menjabat tangannya dan menjawab singkat.
“Margamu?”
“Lee. Lee Hyosun” kataku akhirnya, menyebutkan marga Donghae padanya. Kami menarik tangan masing-masing secara bersamaan.
“Ngomong-ngomong, kau angkatan tahun berapa? Sepertinya aku tidak pernah menemuimu selama SMA?”
“Aku memang bukan alumni. Aku menemani suamiku di sini. Kau kenal Donghae? Dialah suamiku”
“Apa? Donghae suamimu? Aku pikir dia kakakmu” katanya tampak terkejut.
“Kami menikah dengan dua minggu yang lalu. Memangnya kenapa?”
“Bagaimana kau bisa menikah dengannya? Kau yakin dengan pilihanmu?”
“Kau ini kenapa sih? Memangnya apa yang salah dengan pernikahan kami?”
Dia diam, berfikir sejenak dan pandangan matanya berubah ke tempat lain, seperti mencari-cari sesuatu.
“Setahuku Donghae berpacaran dengan dia” dia menunjuk ke arah lain dengan matanya. Aku menengok ke belakang dan melihat Donghae yang tengah mengobrol dengan Jessica. Melihat Donghae tengah tersenyum dengan wanita itu rasanya darahku mendidih.
“Katakan apa saja yang kau ketahui?” aku menatapnya tajam.
“Aku tidak tahu banyak. Tapi sebulan terakhir ini aku lihat mereka sering jalan bersama. Itu saja” dia mengangkat bahu lalu meneguk white wine satu gelas kecil.
“Kau tahu darimana?”
“Bagaimana aku tidak tahu. Kami kan tinggal di hunian yang sama.”
Sebulan terakhir? Apa selama Jessica di sini mereka berdua sering bertemu? Pertanyaan macam apa ini, Hyosun? Itu sudah pasti. Donghae memang masih mencintainya.
“Kau tidak salah memilih pasangan hidup?”
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Kasian sekali kau…”
Persetan! Gerutuku dalam hati. Cara apalagi yang harus ku gunakan untuk mendekati Donghae? Rasanya semua ini tidaklah cukup. Tinggal bersama hanya mengubah sikapnya sementara.
“Hyosun-ah. Kau sedang apa dengan pria ini?” aku berbalik ke belakang dan mendapati Donghae yang terlihat kebingungan dan heran.
“Oh, Tuan Lee. Sudah lama kita tidak bertemu. Sekarang kau sudah menjadi tentanggaku rupanya. Kau di lantai 7 dan aku satu lantai di atasmu” Top menatapnya sedikit sinis.
Donghae mendengus “Iya. Senang bisa menjadi tetangga barumu”
Dari nada suara keduanya, sepertinya mereka tidak begitu akrab.
“Ayo kita ke sana” Donghae memegang pergelangan tanganku, tapi aku tidak bergeming hingga membuatnya menoleh.
“Aku masih mau di sini” kataku ketus.
“Sebentar lagi acara selesai. Kita bisa langsung pulang” dia belum mau melepaskan tangannya.
“Aku akan pulang bersama dia. Kau pulang saja sendiri” aku menunjuk Top dengan mendongakkan daguku.
“Kau pulang dengan dia?” Donghae heran bukan kepalang hingga memandang sebelah mata pada Top.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak. Kau harus pulang denganku”
“Aku tidak mau, Donghae.” Aku menghempaskan tanganku dari cengkramannya.
“Hei, kenapa kau memaksanya Donghae? Kau tidak dengar dia ingin pulang bersamaku?” Top menengahi.
“Kau serius ingin pulang dengannya?” tanya Donghae dingin.
Aku memberinya sebuah anggukan.
“Terserah kau” Donghae langsung pergi begitu saja dari hadapanku.
Aku melihat punggungnya yang kian menjauh kemudian menghadap pada pria yang tengah meneguk wine keduanya. Dia tersenyum padaku.
“Aku tidak pernah menawarimu tumpangan” katanya.
“Aku juga tidak berniat menumpang. Aku akan naik taxi”
“Sudah ku duga hubungan kalian tidak harmonis”
“Berhentilah membahas itu” kataku ketus. Aku mengambil gelas berisi cairan berwarna orange itu lalu meminumnya hingga tetes terakhir.
“Kau galak sekali. Tidak usah naik taxi. Kita tinggal di wilayah yang sama. Aku akan memberimu tumpangan”
“Tidak perlu”
“Kau keras kepala sekali. Wanita tidak baik keluar malam-malam”
_
Akhirnya aku pulang bersama Top, pria yang baru aku kenal di acara reuni Donghae. Banyak hal yang diceritakan tentang Donghae dan Jessica. Bagaimana mereka berdua selama SMA dan lain-lain. Cukup menohok mendengar kisah mereka dari Top, tapi mau tidak mau aku harus mendengarnya.
“Darimana saja kau?” Donghae beranjak dari tempat duduknya, menghampiriku.
“Aku langsung pulang”
“Bohong. Kalau kau langsung pulang seharusnya sejak tadi kau sudah ada di rumah” sergah Donghae, tak terima dengan jawabanku.
“Aku tadi mampir untuk makan ramen bersama Top”
Aku beringsut menjauhinya. Tidak peduli dengan ekspresi marah yang terpancar dari matanya. Lagi pula kenapa dia harus marah? Aku hanya tidak mau menjadi orang yang paling tolol di tengah-tengah Donghae dan Jessica.
“Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria itu”
Aku menghentikan langkahku, kemudian menoleh pada Donghae yang tengah menatapku.
“Kenapa? Dia baik padaku” aku bersedekap.
“Aku tidak menyukainya!”
“Tapi aku menyukainya” tantangku.
“Kau…”
“Kenapa?”
Aku berharap Donghae mengatakan bahwa aku adalah istrinya. Ayo katakan! Tapi dia tidak mengatakan apapun dan memilih mendahuluiku pergi ke kamar lalu membanting pintu kamarnya. Aku tidak menyangka semuanya akan terasa seberat ini.
_
Setelah malam reuni itu Donghae yang berbalik mengabaikanku. Kenapa harus bersikap seperti itu? Bukankah dia lebih tua dariku tapi kenapa sifatnya sangat kekanak-kanakan. Terlebih lagi saat dia tahu aku telah bertukar nomor ponsel dengan Top. Setiap berbicara dia tidak akan memandangku sama sekali. Dan karena hubungan kami yang semakin runyam ini, aku memutuskan untuk meminta Top agar tidak menghubungiku sama sekali. Kalau tidak, hubunganku dengan Donghae akan lebih susah.
“Bukankah itu lebih bagus jika dia marah karena kedekatan kita?” kata Top saat aku berkunjung ke apartemennya.
“Apa maksudmu?”
“Bantu aku, maka aku akan membantumu”
Top menyodorkan sebuah kartu nama berwarna emas padaku. Sebuah kartu nama yang cukup bonafide dari salah satu penerbitan kenamaan di kota Seoul.
“Apa maksudnya?” tanyaku. Dia tersenyum kecil menanggapi pertanyaanku.
-TBC-
Halo… Halo… /plak. Udah lama nunggu chapter 9 ya? Sory ini rada flat haha karena emang chapter-nya harus begini. Masalah Panjang atau enggaknya setiap chapter itu relatif dari tubercolosis yang aku kasih. Nanti pas Klimaks aku malah mau posting 2 lembar kerja words dalam 1 chapter. Jadi gak usah protes atau kaget. Aku men-drable 1 part FF juga pernah (gak lebih dari 200 kata). … Udah segini aja dan saatnya……..
KUIS!!!!
Kuis apa nih? Yang jelas bukan Who want’s to be a millioner ya? Ngepet/Jual diripun gak akan cukup buat nyari hadiahnya LOL. Ini cuma sekedar tebak-tebakan aja sih, dan keikutsertaan gak wajib. Hadiahnya juga gak menarik-menarik banget. Tapi aku saranin ikutan, ntar nyesel kalo gak ikut. Untuk hadiahnya masih aku rahasiakan karena kalau aku bilang sekarang malah gak ada yang mau ngikut lagi hahahaha…
Caranya gampang, ikuti rule ini:
Nama korea/umur/kota asal:
Jawab 2 pertanyaan ini:
o Siapakah nama author favoriteku [unie]?
o Ada satu hal yang belum pernah dibahas oleh readers manapun tentang FF ini yang membedakan FF ini dengan FF yang lain. Sebutkan!
Jawaban aku tunggu sampai chapter depan. Yang mau ikutan silahkan tapi kalau gak mau juga gak apa-apa. Tapi jangan nyesel pas pengumuman haha…
Oke, C U…
LUVE U ALL:D

Bg Ikaan, masa nyamain kalung ma org gt sih?? aisshh… gemes ma Hae… kesannya gmn gt?? tiu jg si TOP, dia mnt bantuan apa ma Hyosun??
kartu nm apaan noh???
wah smakin rumit…
lanjuuuuuuuttttt!!!!!!!!!!
makin rumit,,,,