I’M NOT CINDERELLA [ENDING - FINAL]

29 Jul

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Lee / Cho Eunhye

Cho Kyuhyun

Kim Soohyun

Support cast : Super Junior

Genre : Romance

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

POV : semua cerita di ambil dari sudut pandang Eunhye

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

“Lelah dalam menjalani suatu hubungan bukanlah alasan yang kuat untuk mengakhiri hubungan, selelah apapun tetaplah cinta yang memutuskannya.” Ocha Syamsuri

Baca dulu : X b

***

I’M NOT CINDERELLA

****

Note : Sebelum membaca part ini, sebaiknya sambil dengar lagu Just Like Now by Super Junior’s Donghae feat Ryeowook, Love again by Kyuhyun dan Sorry-sorry by Super Junior. Soalnya aku nulis part ini sambil dengar lagu itu. Dan tolong jangan tanyakan kenapa aku nulis FF ini sambil dengar lagu sorry sorry, soalnya aku jg gk tau kenapa. Tapi aku dapat feel-nya pas aku denger lagu itu.

****

Lelah.

Ya, aku memang lelah menunggu dan berharap. Rasanya percuma mengharapkan seseorang yang nyatanya hanya memberikan luka dihatiku.

Ini bukan salah Kyuhyun. Luka yang ada dihati dan perasaanku ini akibat dari besarnya harapan yang kusemaikan sendiri di hatiku, saking besarnya sampai harapan itu berbalik mengejarku dan perlahan membunuh hatiku. Aku ingin berteriak meminta pembalasan darinya atas besarnya harapan dan cinta yang selama ini kuberi secara kasat dan tak kasat mata. Tapi untuk sekarang, hal itu tidak berguna lagi.

Aku lelah. Lelah untuk berharap, lelah untuk menunggu, dan lelah untuk mengerti.

Apa kau tahu jika kesabaran seorang manusia itu ada batasnya? Bahkan seorang malaikat pun akan marah jika kesabarannya melebihi batas. Tidak heran kan jika aku yang notabene hanya manusia biasa kesabaranku bisa melebihi batas?

Dan disinilah aku, di sekolahku. Aku berada disini bukan karena aku memutuskan untuk menjadi wanita naïf dan sederhana lagi, wanita yang hanya mengiba cintanya agar bisa dibalas. Aku memutuskan untuk mengikuti usul ajuhssi. Ya, aku memutuskan untuk pergi ke Amerika.

Aku memutuskan untuk pergi bukan karena aku ingin menghindar dan mencoba lari dari masalah. Aku hanya merasa dengan kepergianku semua sakit yang aku terima bisa terobati. Terserah orang lain menilainya bagaimana, aku tidak terlalu memusingkan berbagai presepsi yang ada dipikiran mereka.

Kau tahu, ada sebuah pepatah yang mengatakan ‘Jika kau ingin maju, maka jangan hiraukan gunjingan mereka’. Aku rasa pepatah kuno itu ada benarnya. Jika aku terus memikirkan apa yang akan di bicarakan oleh orang lain, maka sampai kapanpun nasibku hanya akan begini. Hatiku akan terus terluka, dan Kyuhyun tetap tidak menyadari kesalahannya.

“Jadi, apa keputusanmu untuk keluar dari sekolah ini sudah bulat Lee Eunhye-ssi?” Jang Songsaengnim, wakil kepala sekolahku menatapku dengan pandangan yang menuntutku untuk segera menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sekiranya masuk di logika-nya. Jang songsaengnim adalah tipikal orang yang berpikiran rasional, ia tidak akan segan-segan untuk menolak atau memberi hukuman jika alasan yang dikemukakan tidak masuk di logikanya.

“Ne, songsaengnim. Ajuhssi-ku memintaku untuk menemaninya di Amerika. Ia tidak ingin aku hidup sendiri di Korea sementara ia mengurusi perusahaan di Amerika. Ia tidak ingin perhatiannya terbagi, makanya ia mengajakku untuk ikut dengannya.” Kuharap alasan yang ku lontarkan sesuai dengan logikanya.

Jang songsaengnim mengusap pelipisnya dan memijat dagunya yang menurutku baru saja di cukur. Bulu-bulu kecil yang tumbuh di dagunya yang biasanya dapat terlihat jelas kini hanya tersisa amat tipis, itu pun jika dengan seksama memperhatikannya.

“Tapi aku dengar kau sudah menikah Lee Eunhye-ssi?” Suara berat Jang songsaengnim membuyarkan lamunanku mengenai bulu-bulu halus yang tumbuh didagunya.

“Ah~ye?” Interupsiku mengenai pernyataan yang ia kemukakan barusan. Darimana Jang songsaengnim mengetahui jika aku sudah menikah? Jelas-jelas peraturan sekolah menyebutnya semua siswa tidak ada yang boleh menikah sebelum ia lulus sekolah menengah. Menurutku Jang songsaengnim bukanlah guru yang akan berbaik hati memaklumi kesalahan siswanya.

“Suami-mu pernah datang kemari untuk mencari tahu siapa pelaku yang telah melukaimu. Dan soal melukaimu, saya mewakili para guru di sekolah ini meminta maaf sebesar-besarnya atas perlakuan para murid yang selama ini telah menyakitimu. Kau tenang saja Eunhye-ssi, murid-murid yang bertanggung jawab atas patahnya kakimu telah dihukum sesuai dengan hukum Negara Korea.”

Aku terkejut bukan karena murid-murid yang selalu menyiksaku itu telah dihukum sesuai dengan perbuatan mereka tapi terkejut karena mendengar Kyuhyun telah mengetahui siapa yang menyebabkan patahnya kakiku tapi selama ini ia bersikap biasa saja didepanku.

Ia tidak pernah menyinggung tentang perbuatan murid-murid yang mengatasnamakan diri mereka sebagai SparKyu. Walaupun aku tidak berharap ia akan bersimpuh di kakiku untuk mengucapkan terima kasih karena –memang– selama ini aku diam saja diperlakukan seperti itu untuk melindunginya, setidaknya aku berharap ia mengatakan ia sudah mengetahui pelakunya.

“Baiklah, surat pengunduran dirimu akan segera saya urus dan akan saya kirimkan secepatnya.”

“Ne, khamsahamnida songsaengnim.” Aku menundukkan badanku, menunjukkan rasa terima kasihku.

“Jaga dirimu Lee Eunhye, dan maafkan perbuatan siswa-siswa kami.”

Memaafkan perbuatan mereka? Haruskah?

****

Aku memandangi sebuah loker bernomor seratus empat puluh tiga yang berada satu meter dari hadapanku. Loker ini adalah saksi bisu betapa menyedihkannya kehidupan sekolahku pasca aku menikah dengan Kyuhyun. Berpuluh surat kaleng yang berisikan ancaman memenuhi loker-ku setiap hari. Semua surat berisikan ancaman dan peringatan agar aku tidak mencoba untuk mendekati idola mereka. Selain surat kaleng, terkadang mereka memasukkan bangkai tikus atau ular mainan di lokerku. Ketika aku menjerit ketakutan karena terkejut dengan ‘hadiah’ yang mereka taruh di lokerku, tawa mereka menggelegar seperti melihat pertunjukan opera sabun yang sedang memainkan adegan lucu.

“Ck, sang Cinderella sudah mau pergi. Syukurlah, akhirnya kau sadar diri juga rupanya.”

“Tentu saja sang Cinderella sadar diri, tidak mungkin ia mengharapkan seorang pangeran untuk membalas cintanya.”

“Kau tahu, bahkan aku mendengar kabar Kyuhyun oppa dan Victoria eonni telah menjalin hubungan.”

“Jinjja? Tapi aku setuju saja sih, daripada dengan Cinderella yang tidak tahu malu ini.”

Dan tawa penuh ejekan kembali terdengar di telingaku. Tawa yang seolah-olah mengejek buruknya nasibku karena pernikahan yang menurut orang-orang tidak seharusnya terjadi.

Aku mencengkram pentil pintu loker-ku dengan erat lalu menutup lokerku dengan kasar sampai terdengar bunyi yang bisa mengangetkan orang yang sedang melamun. Aku menghela nafasku dalam. Sekarang ini bukanlah keadaan dimana aku diam saja di hina dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang sok tahu seperti mereka.

Aku membalikkan badanku dan menatap wajah mereka satu persatu lalu menyunggingkan senyumku. Aku menarik nafasku lagi lalu berkata, “Jika aku Cinderella dan Kyuhyun adalah pangeran, lalu kalian siapa? Para tikus? Atau malah nenek sihir?”

“Ya!!” Hardik salah satu dari mereka.

Aku mengibaskan rambutku dengan sengaja untuk menampilkan efek dan sengaja kulakukan untuk mendramatisir keadaan, “Jika kalian ada waktu luang, aku sarankan seharusnya kalian belajar lebih giat agar kalian bisa dapat kerja yang bagus dan mendapatkan uang untuk biaya operasi. Apa di rumah kalian punya cermin? Kalian tidak sadar ya dengan buruknya rupa kalian itu? Dan ditambah dengan busuknya hati kalian, kurasa jangankan Kyuhyun akan melirik kalian, bahkan para gelandangan atau pemabuk sekali pun tidak akan ada yang melirik kalian.”

Salah satu dari mereka mencoba untuk menamparku namun dengan cepat kutahan tangan dari gadis berhati busuk ini lalu memelintirkannya kebelakang punggung gadis itu, “Dengar ya agasshi, jangan di kira aku takut dengan kalian karena selama ini aku hanya diam saja dengan perbuatan kalian.” Aku mendorong tubuh gadis itu ke arah loker dan menepuk bahuku seakan ada debu yang nempel di pakaianku. Aku memberikan senyuman manisku lagi dan sepertinya mereka meradang melihat tingkahku yang meremehkan mereka.

“Tch, Cinderella rupanya sudah berani membela diri rupanya.” Seorang yeoja berambut pirang maju satu langkah, ia mencengkram wajahku dan mempelototiku. Matanya yang besar –efek sayatan pisau operasi– seakan mau keluar karena terlalu bersemangat mempelototiku. Jika kemarin-kemarin aku menunduk takut dan diam saja, saat ini aku hanya memandang yeoja itu dengan pandangan datar dan tanpa ekspresi. Aku tidak takut apapun, terlebih lagi tidak ada alasan untukku untuk tidak membela diriku.

“Dengar ya Cinderella kesiangan, dengan kau keluar dari sekolah ini bukan berarti para SparKyu akan bersedia merelakan Kyuhyun oppa dengan yeoja murahan seperti kau! Kau itu sebaiknya bercermin dan melihat dirimu sendiri apa kau merasa pantas dengan namja sesempurna Kyuhyun oppa.” Yeoja itu menguatkan cengkramannya, kuku-kukunya yang tajam menusuk kulit wajahku.

Aku mengerang, bukan karena takut tapi karena kuku-kuku tajamnya yang menusuk dan merobekkan kulit wajahku.

“Jika bukan karena kami ingin menjaga image Kyuhyun oppa, kau sudah habis di tangan kami Cinderella jelek!”

Aku tidak menjawab apapun, hanya memandangnya datar. Aku lelah beradu mulut dengan mereka, sekeras apapun aku membela diri tetap saja dimata mereka aku ini bersalah.

“Kalau aku hamil anaknya Kyuhyun bagaimana?” Tantangku. Ck, babo! Kurasa perkataanku barusan dapat memancing amarah mereka kembali.

Dan benar saja, yeoja berambut pirang yang mencengkram wajahku kini bersiap menamparku dan hampir saja tangannya mengenai wajahku jika saja sebuah suara menghentikan tangannya yang sepuluh senti lagi mendarat mulus di wajahku. Yeoja itu menggeram kesal dan sedetik kemudian wajahnya pucat pasi ketakutan.

Aku merapikan rambutku dan pakaianku lalu menatap mereka dengan pandangan meremehkan. “Pangeran kalian sudah tiba, silahkan utarakan apa yang kalian lontarkan padaku barusan.”

Aku melirik Kyuhyun yang mendekat melalui sudut mataku, jantungku berdetak berkali ribu lipat, suara yang dihasilkan dari langkah kakinya membuat susunan syarafku menjadi kacau, bahkan untuk melarikan diri dari sini pun terasa sulit.

“Apa kalian gila hah? Aku kan sudah bilang jangan pernah sakiti istri-ku lagi! Kalau kalian mengaku sebagai penggemarku, kalian harus mendukung apapun yang kulakukan termasuk melindungi orang yang terpenting bagi hidupku.” Mata Kyuhyun berkilat-kilat, jelas sekali jika ia menahan amarahnya. Tak pernah aku melihatnya semarah ini sebelumnya. Kyuhyun itu terlalu ekspresif, sekecil apapun perasaannya pasti dapat terlihat jelas.

“Ma-maafkan kami Kyuhyun oppa.”

Tch, bagus sekali akting mereka. Di depan Kyuhyun mereka seolah menyesal, tapi di belakang Kyuhyun mereka menjadikan-ku seakan aku ini adalah musuh terbesar Negara Korea.

“Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada istriku.”

“Ma-ma-maafkan kami Eunhye-ah. Jeongmal mianhae.”

Aku diam saja. Apa aku harus memaafkan segala tindakan yang mereka lakukan kepadaku selama ini? Apa dengan kata maaf bisa menjamin kesungguhan hati mereka?

Dan aku tetap berada didalam kebungkamanku sampai ketika tangan Kyuhyun melingkari pinggangku dan menuntunku untuk pergi dari sini. Namun baru tiga langkah aku menghentikan langkah kakiku dan membalikkan badanku.

“Untuk semua perbuatan kalian, mungkin aku bisa memakluminya. Tapi, soal memaafkan perbuatan kalian. Kurasa aku bukanlah manusia sebaik dan serendah hati seperti itu. Perbuatan kalian tidak hanya menyakitiku secara fisik, namun juga menyakiti hatiku.” Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi oksigen di paru-paruku yang mulai menipis, “Dan aku bukanlah Cinderella. Kalau kalian menganggap nasib baikku yang menikah dengan namja sesempurna Cho Kyuhyun seperti Cinderella, kalian salah besar. Akhir cerita dari kisah Cinderella adalah kebahagian, sedangkan aku? Apa kalian bisa menjamin pernikahan kami berakhir seperti Cinderella? Tidak kan? Dan sekali lagi aku tegaskan pada kalian, AKU-BUKAN-CINDERELLA. Bahkan nasib Cinderella lebih bagus ketimbang dengan diriku. Aku harap kalian sadar dan tidak lagi memperlakukan semua wanita yang dekat dengan idola kalian sama seperti kalian memperlakukanku. Cukup aku saja, kuharap tidak ada lagi Lee Eunhye yang menjadi Cinderella kesiangan menurut versi kalian.”

Setelah mengatakan itu aku membalikkan badanku dan diam saja saat Kyuhyun menggenggam tanganku dan menuntunku keluar dari sekolah ini. Sepanjang lorong sekolah beratus pasang mata yang menatapku dengan tatapan iri sekaligus jengkel. Aku tidak peduli dengan reaksi mereka, terserah mereka mau menambah taraf kebencian mereka atau malah mengibarkan bendera putih. Aku tidak peduli bukan karena aku meremehkan mereka, namun pikiranku hanya terfokus pada tangan lembutnya yang menggenggam tanganku. Setiap sentuhannya memberikan efek luar biasa bagi pikiran dan perasaanku. Betapa aku merindukannya sekaligus mengingatkan aku kepada rasa sakit yang ia berikan. Rasa-rasa itu bercampur menjadi satu. Membuatku benci namun juga merindukannya.

“Lepas.” Ucapku dingin. Kini kami sudah berada di depan mobil Kyuhyun yang terparkir tidak jauh dari gerbang utama gedung sekolah. Kyuhyun tidak bereaksi apapun, ia hanya menatapku tanpa bergerak sedikitpun.

“Aku bilang lepas.” Aku meronta, meminta agar tangannya yang lembut dan hangat itu melepaskan tanganku, setidaknya itu dapat menghentikan siksaan yang ia berikan melalui genggamannya dan sentuhannya.

“Aku bilang lepas Cho Kyuhyun-ssi!!” Kali ini nada bicaraku sedikit meninggi. Andai saja ia tidak berpelukan dengan wanita itu di Rumah Sakit, mungkin saat ini aku sudah menghambur dipelukannya dan mengatakan betapa aku mencinta dan mendambanya.

“Jelaskan apa maksud perkataanmu barusan!”

“Perkataan apa?” Tanyaku tidak mengerti, dan memang aku tidak mengerti apa maksudnya. Perkataanku yang mana yang harus aku jelaskan kepadanya?

“Akhir pernikahan kita tidak seperti Cinderella? Apa maksudmu mengatakan itu?”

Aku mendengus, “Memang kan? Cinderella berakhir bahagia karena sang pangeran tidak pernah mengkhianati pernikahannya, sementara pernikahanku –kita–? Tidak satupun hal yang membuat kita tampak bahagia.”

“Kau cemburu dengan Song Qian?” Ia tersenyum jenaka. Brengsek! Ia pikir sakit hatiku itu sebuah lelucon?

“Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku rasa aku harus segera pergi.” Aku bersiap pergi namun tanganku yang masih berada didalam genggamannya membuatku sulit untuk melangkah lebih jauh lagi.

“Kau belum selesai bicara denganku.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Tukasku cepat. Berlama-lama berada didekatnya bisa memacu sesuatu yang ada didalam diriku berontak keluar.

“Dari sini-lah.”

Aku diam.

“Dari sinilah aku terus memandangimu, memastikan kau pulang dengan aman dan dijemput oleh supirmu. Lalu aku mengikutimu sampai dirumah dan..” *)

Dengan penjelasannya yang panjang lebar tidak sedikitpun mengubah presepsiku kepadanya. Ia tetaplah seorang Cho Kyuhyun yang sampai kapanpun tidak akan pernah mau mengerti dan memahami apa yang sebenarnya kutunggu selama ini.

Tidakkah ia bisa sedetik saja mengatakan jika ia mencintaiku dan menempatkanku di posisi yang paling terpenting dihidupnya? Kata-kata itu yang kutunggu selama ini. Selama ini aku bertahan dan bersabar hanya demi menunggunya mengatakan kata-kata itu.

“Cho Kyuhyun-ssi, apa yang ada dipikiranmu saat kau menamparku waktu itu?”

Rahangnya mengeras, genggamannya terlepas, badannya membeku serta tidak bereaksi sama sekali. “Mianhae, jeongmal mianhae Eunhye-ah.”

“Aku tidak butuh permintaan maaf-mu Kyuhyun-ssi. Yang aku mau adalah jawaban jujurmu. Apa yang ada dipikiranmu saat kau menamparku?”

“…”

“Wae? Kau tidak bisa menjawab?” Aku mengepalkan tanganku dan sekuat mungkin menahan diriku untuk tidak menangis atau memeluk dirinya, “Istri hanyalah statusku, sedangkan faktanya kau sama sekali tidak pernah memperlakukanku secara pantas. Tidak usah menyangkal Kyuhyun-ssi, akui saja.”

“Kau salah paham Eunhye-ah.”

“Dan bagian mana yang menurutmu aku salah paham Cho Kyuhyun-ssi?” Nada suaraku meninggi, “Bagian mana?” Aku mengusap kasar airmata yang menetes di wajahku, “Tidakkah kau memikirkan perasaanku dan bagaimana sakitnya hatiku saat kau menamparku? Tidakkah kau memikirkan apa yang ada di pikiranku ketika kau lebih mendahulukan seorang wanita yang kau sebut sahabat-mu itu?”

“Eunhye-ah.” Ia mencoba mengusap wajahku namun dengan cepat kutepis.

“Aku harap kau memikirkan definisi suami-istri sesungguhnya sebelum kau melontarkan penyanggahan atau apapun itu.”

Aku menaikkan tali tas yang berada dibahuku dan dengan cepat pergi meninggalkannya sebelum ia berhasil melakukan sesuatu yang bisa menggoyahkan hatiku lagi.

****

‘Mari bertemu di café dekat gedung SMent’

Sebaris pesan sampai di ponselku ketika aku nyaris saja melangkahkan kakiku kedalam bus. Aku tidak tahu mengapa wanita kau-tahu-siapa-orangnya itu mengirimiku pesan seperti itu dan memintaku untuk bertemu dengannya. Apa kabar mengenai keputusanku untuk pergi ke Amerika menyebar begitu cepat dan mencapai ke telinganya?

Lima menit setelah minuman yang kupesan datang, wanita kau-tahu-siapa-orangnya itu tiba di café. Ia memakai kacamata hitam dan langsung menuju ke tempatku duduk saat ini. Ia menaruh tas kulit bermerek Bally-nya di kursi di samping tempatnya duduknya lalu melepaskan kacamata hitamnya.

“Hot Chocolate satu.” Ujarnya, dan pelayan yang mencatat pesanan wanita kau-tahu-siapa-orangnya itu pergi dan mengantarkan pesanan wanita kau-tahu-siapa-orangnya lima menit kemudian.

“Aku dengar kau bertengkar hebat dengan Kyuhyun karena aku dan kau bermaksud untuk pergi ke Amerika, benarkah?”

“Jaringan informasimu benar-benar hebat Victoria-ssi.”

Ia tersenyum, “Gomawo.”

“Aku tidak sedang dalam memujimu Victoria-ssi.”

“Tapi kuanggap itu sebagai pujian.”

Aku meneguk jus Stroberiku dengan cepat, amarahku sulit dikendalikan jika terlalu lama berada didekat wanita kau-tahu-siapa-orangnya ini.

“Kau masih penasaran seperti apa hubunganku dengan suamimu, Lee Eunhye?”

“Ani. Aku tidak tertarik sama sekali”

“Aku mencintainya.”

Mataku membulat, “Mwo?”

“Aku mencintai Cho Kyuhyun.”

Aku menggigit bibirku kuat-kuat, sebisa mungkin mencegah adanya kemungkinan tangisku pecah. Dasar wanita jahat! Apa maksudnya mengatakan itu semua?

“Aku sungguh-sungguh mencintai Cho Kyuhyun, Eunhye-ssi. Bagiku dia sama seperti dia bagimu. Rasa cintaku juga sama besarnya seperti rasa cintamu kepadanya.”

“Lalu apa yang kau harapkan dariku dengan kau mengatakan itu semua? Kau ingin aku bersimpati dan menyerahkan ‘suamiku’ untukmu begitu?”

Ia tertawa lirih, “Aku bukan wanita yang butuh belas kasihanmu. Aku bisa mendapatkan Cho Kyuhyun dengan caraku sendiri.”

Ya, dengan caramu sendiri. Termasuk bermuka dua dan memutarbalikkan fakta.

“Aku rasa kau bukanlah tipe wanita yang bertele-tele, Victoria-ssi. Bisakah kau mengatakan apa tujuan utama-mu mengajakku bertemu disini?” Supaya aku tidak menarik rambutmu dan mencakar wajah sok lugumu itu.

Ia tertawa lagi, “Kau jenis perempuan yang tidak sabaran rupanya.”

Aku memutar bola mataku bosan, terlalu bosan mendengar semua perkataannya.

“Tujuanku datang mengajakmu bertemu adalah ingin memintamu kembali lagi ke Kyuhyun.”

Oke, bohong besar jika aku tidak terkejut mendengar perkataannya.

“Kembali ke Kyuhyun? Maksudmu?”

“Ya, aku memintamu untuk berbaikan dengan Cho Kyuhyun, suamimu.”

Kali ini aku yang tertawa, bahkan lebih keras dari tawanya, “Victoria-ssi, keumanhae. Jebal. Kau tampak lebih mengerikan ketimbang kau memakiku. Berbaikan dengan Cho Kyuhyun? Aku rasa kau salah minum obat Victoria-ssi.”

“Aku tidak bercanda. Kembalilah ke Cho Kyuhyun.”

“Atas dasar apa kau menyuruhku seperti itu? Kurasa kita tidak mempunyai jenis hubungan yang bisa membuatmu menyuruhku untuk melakukan apa yang kau inginkan.”

“Aku tahu aku bersikap seperti anak kecil, tapi aku melakukan itu semata-mata karena terlalu mencintainya dan ingin memilikinya secara utuh. Kau juga seorang wanita, kau pasti tahu seperti apa perasaanku.”

“Aku tidak sama sepertimu Victoria-ssi. Aku bukan wanita jahat yang tega merusak rumah tangga orang lain, terlebih lagi itu rumah tangga pria yang aku cintai. Kau lebih tua beberapa tahun dariku, apa kau tidak merasa malu bertengkar dengan anak kecil seperti diriku?”

“Didalam cinta tidak ada yang tidak mungkin.”

“Termasuk merusak rumah tangga orang lain?”

“Terserah apa katamu, yang jelas aku tulus memintamu agar berbaikan dengan Kyuhyun. Aku tidak tahu kau menilaiku seperti apa, tapi semua sikapku selama ini semata-mata karena aku terlalu mencintai Cho Kyuhyun. Aku harap kau dapat menjaga Kyuhyun dengan baik, sebelum aku berubah pikiran dan berniat merebutnya kembali.” Setelah mengatakan itu, ia memakai kacamata hitamnya kembali, meraih tasnya lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang masih terpaku memikirkan pernyataannya.

Sebenarnya jenis wanita seperti apa Victoria itu? Apa maksudnya mengatakan itu semua? Ia menyuruhku untuk berbaikan dengan Kyuhyun, namun ia juga mengatakan ia sangat mencintai Kyuhyun. Kenapa ia mengatakan sesuatu yang berbelit-belit?

Astaga, aku tidak mengerti sama sekali jalan pikirannya.

****

Aku memasukkan beberapa helai pakaianku ke dalam koper. Aku juga memilah beberapa barang yang sekiranya bisa kubawa ke Amerika. Tentu saja barang yang kubawa tidak ada sangkut pautnya dengan Kyuhyun. Aku tidak ingin ada sedikit pun kenangan mengenai pria itu. Setibanya di Amerika, aku ingin berubah menjadi Lee Eunhye yang baru, yang tidak bisa ditindas dan disakiti oleh siapapun.

“Kenapa kau memasukkan semua barangmu kedalam koper? Kau ingin kemana?”

Aku menoleh dan mendapati Kyuhyun berdiri tak jauh dariku, ia menatapku dengan tatapan penuh keheranan.

“Aku hanya ingin membereskan barang-barangku.” Aku menghindari tatapannya dan sebisa mungkin membuat diriku sibuk.

“Ya~ kau mau kemana Cho Eunhye? Dan satu lagi, tolong tatap mataku saat aku sedang berbicara denganmu.”

Aku menarik resleting koper, dan menutupnya. Lalu aku menarik ganggangan koper keatas dan menariknya. Kyuhyun menahan lenganku, ia menatapku dengan tatapan super tajamnya.

“Lepaskan aku Cho Kyuhyun.” Aku beronta tapi Kyuhyun malah makin mengeratkan cengkramannya.

“Tidak akan kulepaskan sampai kau jelaskan kau ingin pergi kemana dengan koper itu.”

“Aku ingin kembali ke rumahku.”

“Rumahmu? Ini rumahmu Eunhye-ah.”

Aku menghela nafas, “Aku mohon lepaskan tanganku Cho Kyuhyun, biarkan aku pergi. Aku lelah bertengkar denganmu.”

Bukannya melepaskan cengkramannya, Kyuhyun malah menarikku kedalam pelukannya, “Jebal Eunhye-ah, jangan siksa aku seperti ini lagi. Jebal. Sampai kapan kau akan berhenti menyiksaku seperti ini?”

Aku menunduk, menggigit bibir bawahku sekuat mungkin. Tidak, aku tidak boleh lemah. Sampai kapanpun Kyuhyun tidak akan pernah berubah. Ia pasti akan mengulang kesalahannya yang sama lagi.

Kyuhyun membenamkan kepalanya di sela-sela leherku , aku mengepalkan tanganku erat-erat. Ya Tuhan!! Nafasnya yang menghembus di leherku membuat jantungku berdegup kencang. Aku sangat merindukan sentuhannya, aku juga sangat mencintainya tapi aku tidak bisa mengatakannya. Cho Kyuhyun, berhentilah menyiksaku seperti ini.

“Tidak bisakah kau memaafkan kesalahanku? Tidak bisakah kau memberikanku kesempatan sekali lagi? Aku mohon Eunhye-ah, maafkan kesalahan bodohku. Aku, aku tidak dapat hidup tanpa dirimu Eunhye-ah.”

Aku tidak dapat hidup tanpa dirimu Eunhye-ah.

Kata-kata itu terus saja terngiang di telingaku, menari-nari di pikiranku, membuaiku menuju kesuatu tempat yang kutahu semuanya hanyalah semu dan tak bisa kusentuh.

Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh terbuai dengan kata-kata manisnya. Sadarlah Lee Eunhye! Kyuhyun hanya mencoba menggodamu, ia tidak bersungguh-sungguh. Bukan kau yang ada didalam hatinya, tapi wanita itu, Victoria. Kyuhyun tidak sungguh-sungguh menginginkanmu, ia hanya ingin mempermainkanmu.

“Aku sungguh-sungguh Eunhye-ah, aku mohon maafkan aku. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku mohon, jangan pergi jauh dari jangkauanku.”

Eomma-appa, eottokhe? Aku harus bagaimana?

Aku menangis, aku tidak kuat lagi menahan airmataku untuk tidak menetes. Kyuhyun, sadarkah kau kalau aku sangat mencintaimu? Sadarkah kau betapa tulusnya aku mencintaimu?

Tapi, kenapa kau selalu menyakitiku? Kenapa kau selalu mementingkan wanita itu? Apa arti diriku didalam hatimu?

Tidak, aku tidak boleh lemah seperti ini. Aku memejamkan mataku dan berujar, “Maaf Cho Kyuhyun, aku tidak bisa. Kau sudah terlalu banyak menyakitiku. Maaf, tapi kurasa kita tidak bisa bersama lagi. Terlalu banyak kenangan buruk yang kudapatkan, aku tidak ingin menambah kenangan itu lagi.” Aku melepaskan pelukannya, tangisanku masih saja mengisak, “Maaf, aku tidak bisa.”

Kyuhyun memegangi tanganku, “Eunhye-ah, kumohon.”

Aku menggeleng lemah lalu menarik tanganku, “Kumohon, jangan paksa aku Kyuhyun-ssi.” Dengan hati yang sangat terluka aku menarik koperku, keluar dari kamar dan dengan cepat melangkahkan kaki untuk segera pergi dari rumah ini.

“Jeongmal mianhae Kyuhyun-ah, aku sangat mencintaimu, tapi aku tetap tidak bisa. Hatiku sangat sakit mengingat semuanya.” Aku membalikkan badanku masuk kedalam taksi lalu menutup pintu mobil taksi.

Lagu Love Again yang dinyanyikan oleh Kyuhyun terdengar didalam taksi, entah diputar secara sengaja atau tidak oleh supir taksinya, yang jelas airmataku mengalir deras seiring dengan alunan lagu yang menggema di taksi yang kutumpangi ini.

jinachyo watdon sarangdeureul neukkil su itge
So that i can feel the love that i passed
hooo uwooo uooo~

 

dasi irona nal gidaryeo jun geudael bogosipo

I want to stand up again and see you who has waited for me

 

dasi doraga hagosipeunmal saranghamnida

I want to back again and say i love you

 

moreun chae sarawasso olmana sojunghessotneunji

I was living without realizing how the precious it was

hoooooo~

 

dasi irona nal gidaryeo jun geudael bogosipo

I want to stand up again and see you who has waited for me

 

dasi doraga hagosipeunmal

I want to back again and say this

 

saranghamnida

i love you

Love Again – SM The Ballad’s Kyuhyun

****

“Apa kau sudah mengambil semua barang-barangmu?” Ajuhssi mengulangi pertanyaan ini untuk yang ketiga kalinya.

“Hampir semua.” Dan ini adalah ketiga kalinya aku menjawab pertanyaan ajuhssi dengan jawaban yang sama.

Ajuhssi menganggukkan kepalanya, aku tidak tahu apa maksud ajuhssi menganggukkan kepalanya. Apa ia paham dengan jawabanku atau malah hanya sekedar mengangguk saja.

Ajuhssi menaruh beberapa lembar kertas di atas meja, aku menjulurkan kepalaku sedikit untuk mencari tahu kertas apa yang di taruh ajuhssi. Aku mengernyitkan keningku saat melihat tulisan berbahasa inggris yang menghiasi kertas itu, bukan karena aku tidak paham dengan bahasa internasional itu, aku hanya bingung kenapa ajuhssi menaruh kertas bertuliskan bahasa inggris.

“Itu adalah formulir sekolahmu yang baru, kau hanya perlu menandatanganinya saja Eunhye-ah. Hal lainnya sudah ajuhssi urus.” Jelas ajuhssi seperti mengetahui keheranan yang melandaku saat melihat kertas itu.

Aku mengambil kertas itu dengan perlahan, dan menarik nafasku dalam sebelum aku membaca isi yang ada di kertas itu.

“Bagaimana? Apa kau menyukai sekolahnya?”

Aku menatap ajuhssi dan tersenyum ragu, ajuhssi bergeser dari tempat duduknya dan duduk didekatku, ia mengelus rambutku. “Kau tenang saja, disekolahmu yang baru tidak akan ada lagi yang berani memusuhimu. Ajuhssi jamin, kau akan mendapatkan masa-masa sekolah yang indah di sekolah itu.”

“Hajiman..”

“Eunhye-ah, tidak ada kebahagian yang tidak ada pengorbanan. Kalau kau ingin bahagia, kau harus melupakannya.”

****

Hari ini adalah hari terakhirku berada di Korea, Negara-ku tercinta. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan kembali lagi ke sini. Entah itu lima tahun lagi, atau malah selamanya aku tidak akan kembali lagi. Sebisa mungkin aku menikmati udara Seoul, menikmati setiap inchi udara yang berhembus.

Gedung-gedung yang berdiri dengan kokohnya disepanjang pinggiran sungai Han menambah keeksotisan sungai yang terluas dan terpanjang di Korea ini. Ditambah lagi dengan kebersihannya yang selalu dijaga, membuat para turis mancanegara menjadikan sungai Han tempat wisata favorit mereka setelah pulau Jeju.

“Eunhye-ah, kau sudah lama datang?”

Aku membalikkan badan dan tersenyum melihat Sungmin oppa dan Eunhae couple berjalan mendekatiku. Setelah berbasa-basi sebentar kami memutuskan untuk menuju ke salah satu café yang terletak beberapa meter dari tempat kami bertemu. Café itu adalah café favorit Eunhyuk oppa untuk menghilang penat, Eunhyuk oppa bilang makanan yang ada di café itu sangat enak dan juga bisa mendapatkan diskon, soalnya manajer café itu adalah salah satu penggemarnya -____-

Kami berempat duduk di ruangan khusus di salah satu sudut café, karena tidak memungkinkan untuk oppadeul duduk di kursi yang bisa memancing perhatian para fangirl mereka.

“Kudengar kau membereskan barang-barangmu Eunhye-ah?” Sungmin oppa menatapku lembut, sementara Eunhae couple itu berpura-pura tidak mendengar percakapan kami.

Aku memotong waffle chocolate-ku dan memasukkan satu potong irisan kecil kedalam mulutku dan mengunyahnya. Aku berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Sungmin oppa.

“Kyuhyun sakitnya tambah parah, kau tetap tidak peduli dengannya?” *)

Aku menaruh kembali garpu keatas meja lalu meneguk Ocean float-ku, “Oppa, kudengar kau akan bermain drama musical. Benarkah?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan Eunhye-ah.” Ujar Eunhyuk oppa tiba-tiba. Donghae oppa yang tadinya bersikap acuh kini ikut-ikutan menatapku tajam, tatapannya sama seperti tatapan Sungmin oppa dan Eunhyuk oppa.

“Berpikirlah menggunakan hatimu Eunhye-ah, jangan siksa perasaanmu dan Kyuhyun hanya karena pikiranmu tidak menerima kesalahan yang diperbuat oleh Kyuhyun.” Aku terperangah mendengar ucapan Eunhyuk oppa, bukan karena kata-katanya tapi karena baru kali ini aku mendengarnya berbicara dengan bahasa yang sulit diartikan untuk ukuran manusia yang sering berpikiran yadong seperti dirinya.

“Ya~ kau jangan menatapku dengan tatapan seperti itu!” Seru Eunhyuk oppa tak terima, aku terkekeh melihat reaksinya.

“Eunhye-ah, apa kau tidak mencintai suami-mu lagi?” Tanya Donghae oppa.

Tentu saja aku sangat mencintai suami-ku, bahkan aku rela menyerahkan sebagian nafasku untuknya. Tapi…

“Apa hanya dengan cinta maka semuanya bisa kembali seperti semula oppa?”

Donghae oppa menarik nafasnya dalam, “Setidaknya cinta bisa menyelamatkan rumah tangga kalian.”

“Rumah tangga kami tidak ada masalah apa-apa oppa.”

“Lalu kenapa kau membereskan semua pakaianmu? Kau mau melarikan diri?” Sahut Eunhyuk oppa.

Aku melirik Sungmin oppa meminta pertolongan darinya namun Sungmin oppa malah membuang muka dan acuh saja seakan-akan tidak mau memperdulikanku.

“Walau bagaimanapun juga Kyuhyun adalah dongsaeng kami, kami tidak mau melihatnya tambah terpuruk karena perpisahan kalian.”

“Oppa, jebal. Jangan paksa aku begini.” Ujarku dengan nada memelas.

“Kau harus bersikap lebih dewasa lagi Eunhye-ah, jangan semata-mata karena egomu kau menghancurkan rumah tanggamu sendiri.” Ujar Sungmin oppa, “Kyuhyunnie sangat mencintaimu, apa kau tahu itu?”

Aku menggelengkan kepala, “Ani, oppa. Kyuhyun tidak mencintaiku. Dihatinya hanya ada Victoria. Hanya ada wanita itu. Dihatinya aku mungkin adalah istrinya namun tetap saja Victoria adalah wanita yang ia cintai.”

“Lalu kau ingin bagaimana sekarang?”

Aku menggeleng lemah.

****

Gwaenchanajil georago nan

That it’s gonna be okay

Jamshibbun ilgeorago nan

That it’s gonna be over right away

Shigani jinamyeon mudyeojil georago

That as time goes by, it’s gonna fade away

Geureoke mitgo nan sarawanneunde

I’ve been living with that belief

Gaggeumeun seotun pyohyeone

Sometimes because of my bad behavior

Geudaereul apeuge haetdeon

I’ve hurt you

Naye geu moseupdeul ijeneun jogeumssik

Now little by little

Dal la jil geo ra yak sok hae yo

I promise you that I’ll change

Just Like Now – Donghae ft Ryeowook

“Apa kau sudah membawa barang-barangmu?” Tanya Lee ajuhssi.

“Ne, ajuhssi. Semuanya sudah kubawa.” Kecuali hatiku.

“Ne, kalau begitu kita pergi sekarang.” Lee ajuhssi menepuk bahuku, ia masuk kedalam mobil duluan.

Aku diam sambil terus memandangi rumah yang telah kutempati sejak aku dari lahir, kenangan-kenangan mengenai masa kecilku bertebangan dibenakku. Tangisanku mulai mengeras takala kenangan mengenai saat terakhir kali aku bertemu dengan eomma dan appa-ku itu datang.

“Eomma-appa, maaf aku harus meninggalkan rumah kita lagi. Tapi aku berjanji akan segera kembali secepat mungkin.” Aku menghapus airmataku lalu masuk kedalam mobil. Supir pribadi Lee ajuhssi menutup pintu lalu menjalankan mobilnya.

****

Bandara Incheon siang ini cukup ramai di padati oleh turis mancanegara ataupun warga lokal yang ingin berpergian ke luar negeri. Tapi aku rasa keramaian bandara Incheon hari ini pasti dikarenakan oleh suatu sebab. Pasti ada artis idola yang sedang berada disini.

Aku menundukkan kepalaku sedikit untuk menghindari jepretan lampu kamera para wartawan yang beredar hampir diseluruh terminal keberangkatan ke luar negeri. Aku sampai menutup wajahku kalau-kalau tidak sengaja terfoto oleh mereka.

“Eunhye-ah ayo lewat sini.” Ajuhssi menuntunku menuju ke pintu khusus atau pintu VVIP, sebuah ruangan dimana hanya orang-orang yang tertentu saja bisa memasukinya. Dan juga ruangan ini lebih terjamin privacy-nya ketimbang ruangan yang biasa digunakan oleh masyarakat umum lainnya.

“Kau tunggu disini sebentar, ajuhssi mau mengurus sesuatu terlebih dahulu.”

Aku mengangguk. Setelah ajuhssi keluar dari ruangan ini aku menyenderkan badanku di pinggiran sofa dan memijat tengkuk leherku. Rasa kosong dan hampa menyelimuti hatiku. Harusnya aku merasa senang dan bahagia dengan kepergianku ke Negara adidaya itu, namun yang ada malah kebalikannya. Aku merasa hampa, dan tidak bergairah sama sekali.

Kurogoh ponselku yang ada di dalam tas, kutekan tombol power-nya. Sejak kemarin sore pasca aku bertemu dengan Sungmin oppa dan Eunhae couple itu aku memang mematikan ponselku. Lampu layar ponselku perlahan hidup, dan tak lama kemudian laporan panggilan tak terjawab serta puluhan pesan singkat muncul di layar ponsel-ku.

Aku menarik nafasku dalam-dalam ketika kulihat nomor yang amat kukenal muncul di id caller panggilan tak terjawab itu. Aku menekan tombol ‘exit’ dan beralih ke kotak masuk ponsel-ku. Lagi-lagi nomor yang sama yang muncul sebagai id sender pesan masuk yang memenuhi hampir seperdelapan isi pesan masuk-ku. Isi pesannya hampir sama, yaitu menanyakan aku berada dimana dan kenapa aku mematikan ponselku.

“Kyuhyun oppa!!!”

Suara teriakan dari para fangirl terdengar begitu nyaring. Aku mendongakkan kepalaku melihat apa yang terjadi. Jantungku berdetak begitu kencang saat menyadari nama siapa yang diteriakan oleh fan girl itu.

Ani, tidak mungkin Kyuhyun ada di sini. Bukankah kata Sungmin oppa dia sedang sakit. Kecil kemungkinan Kyuhyun datang ke bandara ini.

“Kyuhyun oppa!!”

Suara teriakan itu makin nyaring terdengar. Aku terpaku ditempatku tanpa bisa bergerak ataupun melakukan apapun. Dan aku dikejutkan oleh getaran yang dihasilkan oleh ponselku. Tanganku bergetar ketika melihat id caller penelepon-nya.

“Yeoboseo.” Ujarku lemah, nyaris tanpa suara.

“Eunhye-ah, neo eoddiga?” Suara yang amat kurindukan itu terdengar begitu putus asa.

“Wae?” Tanyaku pilu, aku tidak bisa mengucapkan apapun.

“Eunhye-ah, apa benar kau akan pergi ke Amerika dan meninggalkanku? Apa itu benar? Katakan padaku kalau itu bohong, katakan Eunhye-ah.”

Aku menangis terisak, aku menutup mulutku agar Kyuhyun tidak mendengar tangisanku.

“Eunhye-ah, jebal katakan kau dimana? Aku akan segera menjemputmu. Kau tidak boleh pergi kemana-mana, kau itu istriku Eunhye-ah.”

“…” Tangisanku makin kencang.

“Eunhye-ah, jebal. Kau tidak boleh pergi begitu saja meninggalkanku.” Suara Kyuhyun terdengar tersengal-sengal. Aku menggigiti bibirku keras-keras menahan agar aku tidak mengatakan apapun.

“Kau sungguh ingin meninggalkanku?” Kyuhyun menangis. Hah? Ia menangis?

Ya Tuhan, bunuh aku saja sekarang. Aku sungguh tidak sanggup mendengar tangisannya.

“Mianhae Kyuhyun, mianhae.”

“AKU TIDAK BUTUH PERMINTAAN MAAFMU!! YANG KUTANYAKAN KAU SEKARANG ADA DIMANA!!”

“Mianhae Kyuhyun-ah, mianhae.”

“Eunhye-ah, kau harus mendengarkan penjelasanku dulu. Kenapa kau selalu menutup hati dan telingamu dan tidak pernah mau mendengar penjelasanku? Kau membenciku?”

Aku menggelengkan kepalaku, ingin sekali rasanya aku berteriak tapi aku tidak bisa.

“Eunhye-ah..”

Pintu ruangan VVIP terbuka, Lee ajuhssi mendekatiku. Ia heran melihatku yang menangis, ia melirik kearah ponsel yang masih melekat di telingaku, dan wajahnya berubah kecut saat mengetahui penyebab mengapa aku sampai menangis seperti ini.

“Eunhye-ah, pesawat kita sepuluh menit lagi akan berangkat. Ayo bereskan barang-barangmu.” Ajuhssi menyeret kopernya dan hendak menarik tanganku tapi cepat-cepat aku menahan tangannya.

“Ajuhssi, tunggu sebentar. Beri aku waktu dua menit lagi. Kumohon.” Aku menatap Lee ajuhssi dengan tatapan memelas, namun ajuhssi tetap bersikeras menolaknya.

“Eunhye, matikan ponselmu. Kita sudah tidak punya waktu lagi.”

“Ajuhssi, jebal.”

“Kau tidak boleh lemah lagi Eunhye-ah. Kau harus berubah, kau tidak boleh lagi tertipu oleh mulut manis suami-mu itu.” Suara ajuhssi mengeras, aku harus sampai menutup ponsel dengan tanganku agar suara ajuhssi tidak kedengaran oleh Kyuhyun. Bagaimanapun aku tidak ingin Kyuhyun salah paham dan merasa sakit hati.

Aku menatap ajuhssi lagi, kali ini lebih memelas lagi. Ajuhssi mendengus kesal, “Baiklah. Kau kuberi waktu satu menit.”

Aku tersenyum bahagia dan menempelkan lagi ponsel ke telingaku, “Halo.”

“Eunhye-ah, apa kau benar-benar akan pergi meninggalkanku? Meninggalkan suami-mu?”

“Mianhae Kyuhyun, jeongmal mianhae.”

“Kenapa kau terus meminta maaf?” Tukasnya gusar, “Jebal, beritahu aku kau ada dimana sekarang? Aku sudah keliling bandara tapi aku tetap tidak menemukanmu.”

Ajuhssi memberi tanda agar aku cepat mengakhiri percakapanku dengan Kyuhyun.

“Kyuhyun mianhae, aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang. Mianhae, jeongmal mianhae.”

“Neo!! Kau ingin membunuhku hah? Brengsek!! Apa kau tidak tahu kalau aku sangat mencintaimu hah? Cho Eunhye, aku mencintaimu. Aku…”

Tanganku bergetar, ponselku terjatuh ke lantai. Dengan langkah yang terseok-seok aku mendekati ajuhssi, aku mencengkram lengan ajuhssi. “Ajuhssi, Kyuhyun bilang dia mencintaiku. Dia mencintaiku ajuhssi. Eottoke? Aku harus bagaimana?”

Ajuhssi melepaskan cengkramanku lalu menarikku kedalam pelukannya, “Dia hanya mencoba untuk menggodamu saja. Apa kau tidak ingat berapa banyak luka yang ia berikan untukmu? Kau tidak boleh termakan rayuannya.”

“Tapi dia mencintaiku ajuhssi, dia mencintaiku sama seperti aku mencintainya.”

“Tidak, dia berbohong! Dia hanya ingin menggodamu.”

“Ajuhssi…”

“Ayo cepat, nanti kita ketinggalan pesawat.”

Ajuhssi menarik tanganku, aku mencoba untuk melepaskannya namun ajuhssi mengeratkan cengkramannya. Dan terus saja menarikku walaupun aku berteriak untuk dilepaskan. Sesekali aku menengok kebelakang berharap Kyuhyun datang dan menyelamatkanku. Tapi, sepertinya itu hanyalah harapanku yang sia-sia. Kyuhyun tetap tidak ada.

“Kyuhyun, mianhae. Tapi aku juga sangat mencintaimu.”

****

Aku mengeratkan selimutku erat-erat. Musim dingin di NewYork jauh lebih menyebalkan dari musim dingin di Korea. Disini dinginnya sangat menusuk tulang. Aku sampai harus memakai berlapis-lapis pakaian untuk menghangatkan tubuhku.

Aku baru saja ingin melanjutkan mimpi indahku sampai aku teringat jika hari ini aku ada ujian masuk universitas. Ya, ujian universitas!!

Aku segera terbangun dan menyambar handuk mandiku lalu masuk kedalam kamar mandi. Setelah bersiap-siap aku mengambil kunci mobilku dan berlari menuju parkir.

Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan seratus sepuluh kilometer per jam. Persetan dengan surat tilang yang akan kuterima nanti. Ujian universitasku jauh lebih penting aku tidak boleh mengacaukannya. Ini adalah kesempatanku satu-satunya untuk meraih kebahagiaanku.

Tiga jam bertarung dengan soal-soal super sulit, aku langsung mengambil mobilku dan pulang ke rumah. Hari ini Lee ajuhssi berulang tahun yang ke tiga puluh lima tahun. Sesuai dengan tradisi masyarakat Korea, setiap yang berulang tahun wajib memakai sup rumput laut. Dan aku lah yang berkewajiban memasakkan sup rumput laut untuk keluargaku satu-satunya di dunia ini.

****

“Bagaimana ujian-mu?”

“Lancar sekali ajuhssi.”

“Baguslah.”

“Tapi, ajuhssi masih ingat kan janji ajuhssi?”

Ajuhssi tersenyum dan menepuk tanganku, “Kalau kau lulus di universitas itu, ajuhssi akan ijinkan kau pulang ke Korea tiga bulan sekali untuk menemui suami-mu itu.”

“Tiga bulan sekali?” Mataku membesar, “Benarkah? Ahh, gomawo ajuhssi.” Aku memeluk badan ajuhssi.

****

Sudah setahun yang lalu aku meninggalkan Korea, tepat di musim yang sama aku meninggalkan Korea dan aku kembali ke Korea di musim yang sama namun tahun yang berbeda. Setahun meninggalkan Korea tak membawa perubahan yang banyak. Korea sama seperti dulu saat aku pergi ke Amerika.

Aku mempercepat langkah kakiku menuju ke taman bermain yang terletak tidak jauh dari hotel yang ku tinggali sementara selama aku liburan. Senyumku mengembang ketika sesosok makhluk super tampan sedang berdiri menyender di pohon dengan mata terpejam. Ia sedang mendengarkan lagu melalui i-podnya. Sesekali ia menggerakkan bibirnya menyenandungkan lagu yang ia dengar.

Aku mengambil sebelah earphone dan menaruhnya di telingaku lalu aku menyenderkan kepalaku di bahunya. “Apa ini lagu baru Super Junior?”

“Hemm, bagaimana? Bagus tidak?”

“Bagus sekali. Iramanya sangat enak dan menenangkan.”

“Berapa lama waktu yang diberikan oleh ajuhssimu yang super galak itu?”

“Tiga hari.”

“Mwoya? Tiga hari? Ya~ kau pergi selama setahun lebih dan ajuhssi-mu memberikanmu waktu pulang ke Korea menemui suamimu yang TAMPAN ini hanya tiga hari?”

Aku tergelak dan cepat mencium bibirnya sebelum ia berteriak lagi.

“Ya~ jangan teriak lagi. Ayo kita gunakan waktu tiga hari ini sebaik-baiknya.”

****

Eomma benar. Kadang kala jika kita ingin berbahagia, kita harus lebih bersabar. Ada sesuatu hal yang indah dan manis dibalik pahitnya kesabaran yang kita jalani.

Aku memang bukan Cinderella, karena aku tidak mempunyai sepatu kaca dan ibu peri yang setiap saat sedia menolongku. Tapi aku menjadi Cinderella dengan caraku sendiri. Dengan cara kesabaran dan kepercayaan yang tidak putus-putus aku berikan.

Aku tahu ajuhssi bermaksud baik kepadaku. Ia hanya tidak ingin aku terluka karena ego masa remajaku. Aku terlalu muda untuk berumah tangga. Ego dan sifat kekanak-kanakanku masih sangat mendominan. Dan aku baru tahu tujuan ajuhssi mengajakku pergi ke Amerika. Ajuhssi hanya ingin menjadikanku seorang wanita yang kuat dan bisa berpikir logis. Ajuhssi tidak membenci Cho Kyuhyun, ia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran karena pria itu telah sering menyakiti hatiku.

Dan soal wanita-kau-tahu-siapa-orangnya-itu , entahlah. Aku tidak ambil pusing.

Inilah kisah perjalanan cintaku. Apakah terdengar seperti dongeng Cinderella? Kurasa tidak. Karena AKU BUKAN CINDERELLA, yeah I’m not Cinderella.

***END***

*) akan dijelaskan di YOU’RE MY CINDERELLA

Puahahahaha akhirnya selesai juga FF sinetron ini XD endingnya gak mengecewakan kan? Sebenarnya aku mau ngejadiin FF nista ini sad ending, tapi aku ngebaca salah satu komen dari readers yang ngebuat aku NGAKAK sekaligus jadi ide yang cemerlang buat ending FF nista ini.

Aku lupa siapa nama readersnya tapi inti komen dari dia adalah “Eunhye dan Kyuhyun kan sudah dewasa. Masa gak malu sih kalau mereka sampai bercerai? Please eonni, jangan biarin mereka cerai. Malu sama umur mereka.” Kkkkk~ dan aku ngakak banget baca komennya. Dan, ayoo ngaku siapa yang ngerasa pernah komen kayak gitu? Karena berkat komen dari readers itu, aku ngerubah ending FF nista ini dari ending yang udah aku rencanakan sejak dari FF nista ini pertama kali dibuat.

Kenapa endingnya aku buat sampe 3 part? err, kalian bisa liat sendiri kan kalau endingnya masih ribet banget. Di final ini aja sampe 27 pages MS WORD, apalagi kalau aku gabungin jadi satu. Bisa-bisa sampe 50 pages -____-

Terima kasih banget buat yang udah ngikutin FF nista ini dari awal. Maaf aku gak bisa sebutin nama kalian satu persatu.

Dan sampai jumpa di FF aku yang lain !!!

YOU’RE MY CINDERELLA IS COMING SOON !!!

Sorry for typo.

Nb : Berhubung ini part terakhir, aku bakalan ngbalesin komen-komen kalian. Kalau ada yang mau nanya, sok atuh. Insyaallah aku bakal jawab satu-satu.

312 Responses to “I’M NOT CINDERELLA [ENDING - FINAL]”

  1. aka-_-kai March 23, 2014 at 8:59 pm #

    maaf baru komenn…
    keasyikan baca -_-
    aku bela.belain gak belajr biologi demi bca ff ini…
    bbbaaaaggguuuuuussss….!!!
    YOU’RE MY CINDERELLA ny mana mna mna?

  2. iea June 3, 2014 at 10:00 am #

    gomawo udh happy ending..ffny bnr2 bagus..

  3. LaillaMP July 1, 2014 at 12:18 am #

    aduh tolong ternyata i’m not cinderella ada endingnya. kenapa saya malah baca you’re my cinderella duluan? -_- karna ini part akhir jadi saya mau ngomen panjang ya thor haha….

    ceritanya mengharu biru sampe ga rela mau ninggalin komputer cuma buat baca ff ini. ff ini walaupun menurut author-nim sinetron tapi ini emang sinetron /digampar/ sinetron yang ceritanya menarik dan dikemas baik. aku udah ngira kalo ceritanya kyuhyun bakal nemuin eunhye karna mereka jodoh/?

    untunglah author masih punya rasa bahagia buat dibagiin ke ceritanya jadi happy ending. ga ngebayangin kalo sad ending. udah bukan cinderella, harus sad ending juga lagi.

    thankyou for the good ff ya thor. aku mencintaimu/? mumumumu ~~~

  4. gyuwoonmel July 8, 2014 at 5:16 pm #

    Akhirnya selesai juga. Seneng seneng akhirnya eunhye dapat yg terbaik buat dia. Puas sama fic ini.

  5. lotus August 21, 2014 at 1:37 am #

    makasii thoor…
    walaupun endingnya diluar harapanku sih, tp baca ini sukses bikin aku nyesek. good job ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,713 other followers

%d bloggers like this: