The Last Confession

The Last Confession

 

Title                : The Last Confession

Main Cast      : Yang  Seung Ho (MBLAQ),

Park Hye Ni (OC)

Other Cast     : MBLAQ Member,

Fei (Miss A)

Genre              : Romance , Angst

Rating             : PG 13

Author            : Annisa a.k.a @Joonisa

 

“Terima kasih atas kerja keras kalian semua.”

“Terima kasih”

“Terima kasih..”

Semua member MBLAQ membungkuk hormat pada semua kru yang sudah bekerja keras mendukung comeback mereka kali ini. Ini adalah comeback live mereka yang pertama untuk lagu album terbaru mereka, jadi mereka harus bekerja ekstra keras agar penampilan mereka tidak mengecewakan.

Aishh kenapa baju ini panas sekali?” Lee Joon yang baru sampai di ruang ganti langsung membuka bajunya cepat-cepat.

Hyung, bajumu sudah setengah telanjang seperti itu kenapa masih saja mengeluh kepanasan?” tegur Mir yang sedang mengipasi dirinya sendiri dengan kertas – entahlah kertas apa itu.

Ya! Kau tidak lihat aku banjir keringat begini? Meskipun bajuku terbuka tapi tetap saja kita harus bergerak banyak!” Lee Joon mencoba membela diri dan melempar handuk bekas mengelap keringatnya ke arah Mir. Mir mencoba menghindar, tapi sayangnya handuk itu malah tepat mengenai wajahnya. G.O dan thunder yang sedang merebahkan diri mereka di sofa ruang ganti ikut terkikik melihat Mir dan Joon.

Ya! Joon yang bajunya terbuka seperti itu saja gusar karena kepanasan, apalagi Seung Ho Hyung yang memakai baju lengkap plus jaket kulit. Coba liat dia, dari tadi wajahnya kusut.” Tunjuk G.O pada Seung Ho yang duduk menyendiri di sudut kamar ganti. Sesekali ia menempelkan ponselnya ke telinga, lalu beberapa detik kemudian memandangi ponselnya dengan wajah bingung.

“Hyung, apa kau tidak merasa kepanasan? Paling tidak lepas jaketmu, nanti kau dehidrasi.” Panggil Lee Joon setengah berteriak pada Seung Ho.

Seung Ho yang dipanggil tidak bergeming. Alisnya terus berkerut memandangi layar ponselnya yang sedari tadi tidak menunjukkan perubahan yang diharapkannya. Keringat yang mengucur deras di dahinya pun tidak diacuhkannya. Ia kembali menempelkan ponselnya ke telinga entah untuk yang keberapa kali.

“Kenapa dia tidak menghubungiku juga? Kenapa teleponku juga tidak diangkat?” Seung Ho bergumam ketika ia kembali melihat ke layar ponselnya. Tapi sayangnya gumamannya terlalu keras sehingga member MBLAQ yang lain mendengarnya.

Lee Joon menghampiri Seung Ho, kemudian menepuk pundaknya.  “Hyung, kau dari tadi menunggu telepon darinya ya?”

Seung Ho mendongak ke arah Lee Joon, kemudian mengangguk. “Apakah dia begitu marah hanya karena aku tidak  mengucapkan selamat ulang tahun padanya tepat di hari ulang tahunnya secara langsung?”

“Kurasa dia bukan yeoja yang seperti itu, Hyung.” Lee Joon duduk di sebelah Seung Ho. “Bukankah dia mengerti kalau kita waktu itu sedang sibuk?”

“Makanya, aku juga bingung kenapa dia begitu ngambek. Aigo panas sekali.” Seung Ho akhirnya melepaskan jaketnya yang membuatnya banjir keringat, kemudian menyampirkannya di sandaran kursi. “Bahkan sampai sekarang ia tidak meneleponku, teleponku juga tidak diangkat.”

“Kau sudah ke rumahnya?” tanya G.O yang ikut penasaran.

“Sudah. Dan ibunya bilang ia tidak ada di rumah setiap kali aku ke rumahnya. Bahkan ketika aku sengaja ke rumahnya tengah malam, ibunya bilang dia menginap di rumah Fei.”

Joon mengusap-usap dagunya. “Aneh juga. Kenapa ia begitu menghindarimu?”

“Sudahlah.” G.O mulai mengganti pakaiannya, mengikuti Mir yang sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan jeans. “Sifat yeoja kadang memang seperti itu. Ngambek tanpa alasan yang jelas.”

“Tapi aku sangat merindukannya, Byung Hee.” Seung Ho menatap G.O sendu.

“Seung Ho Hyung!” seru Thunder tiba-tiba, kemudian ia langsung menyodorkan ponselnya pada Seung Ho. “Orang yang kau tunggu-tunggu itu tadi menonton penampilan live kita!”

Seung Ho langsung menyambar ponsel Thunder. Lee Joon, G.O, dan Mir langsung mengerubungi Seung Ho.

“Oh benar, ini foto kita perform tadi!” seru Mir. “Kalau dia meng-upload foto itu di twitter, berarti dia tadi menonton kita kan?”

Seung Ho mengamati foto itu dengan teliti, kemudian membaca tulisan di bawahnya.

MBLAQ Comeback stage… They’re always awesome

Seung Ho mendadak bangkit dari kursinya, membuat semuanya terkejut. Kemudian ia berjalan terburu-buru.

Hyung! Mau ke mana?” Thunder mencegat Seung Ho dengan tangannya.

“Tentu saja mau mencarinya! Ia pasti masih ada di gedung ini!”

===============

“Sampai kapan kau mau menyembunyikannya?” tanya Fei pada seseorang di ujung telepon. Fei saat ini sedang berada di ruang ganti Miss A dan menunggu giliran mereka untuk tampil di stage.

“Hari ini aku akan menemui dan mengatakan padanya, Eonni.” Jawab lawan bicara Fei. “Aku bahkan sudah mengirim petunjuk.”

“Petunjuk?” Fei mengerutkan alis. “Petunjuk apa, Hye Ni-ah?”

“Aku mengupload foto penampilan mereka tadi di twitter. Aku juga meninggalkan petunjuk di dorm mereka.”

“Hah? Jadi kau ada di sini?” Seru Fei tiba-tiba. Membuat Suzy, Min, dan Jia yang sedang di make up terkejut.

“Kenapa sih Fei Eonni?” tanya Min pada Jia. “Ngagetin aja.”

Jia mengendikkan bahu.

“Kau di mana?” Fei mulai panik. “Harusnya kau istirahat saja di rumah, kenapa malah jalan-jalan?”

“ Aku tidak apa-apa, Eonni. Aku cuma ingin melihat comeback stage’nya MBLAQ.” Jawab Hye Ni tenang, kebalikan dari Fei yang mulai mengetuk-ngetukkan jarinya kalau sedang panik.

“Habis ini kau langsung pulang ya, jangan pergi ke mana-mana lagi!” ujar Fei dengan nada cemas.

“Iya Eonni, aku akan pulang setelah menemui Seung Ho Oppa.”

“Di mana kau akan menemuinya?”

“Mmmm.. rahasia.”

“Kau tidak mau bertemu denganku dulu?” tanya Fei sembari mengusap air matanya yang tanpa sadar mengalir di pipinya. “Atau menyelesaikan aku perform, baru kuantar kau menemui Seung Ho?”

“Aku sudah melihat Eonni tampil minggu lalu. Eonni tetap yang paling DAEBAK menurutku. Hihi.” Jawab Hye Ni sembari terkekeh. “Untuk tawarannya, terima kasih Eonni. Aku mau menemui Seung Ho Oppa sendirian. Kalau ada Eonni, nanti malah mengganggu.”

“Dasar kau!” Fei mencoba tertawa untuk menyamarkan suaranya kalau ia tadi sempat menangis. Ia kemudian sedikit terkejut melihat member Miss A yang lain sudah selesai merias diri dan sudah siap naik panggung.. “Ya sudah kalau begitu. Aku sebentar lagi akan perform. Aku tutup ya teleponnya.”

Ne, Eonni.”

“Nanti kalau kau butuh apa-apa, telepon saja aku. Jangan pulang terlalu malam! Nanti kau kelelahan! Arasseo?”

Neeee…” jawab Hye Ni sembari tertawa. “Tenang saja, Eonni. Kau juga jaga kesehatan ya, Eonni.”

Nee.. Annyeong.”

KLIK!

Fei menutup teleponnya dan menyimpannya di dalam tas. Ia kemudian menengok ke cermin besar di ruang ganti untuk mengecek kembali penampilannya.

Eonni, kau habis menangis ya?” tanya Suzy yang berada di belakangnya. “Matamu merah.”

“Ah, gwaenchanayo.” Fei memulas ulang bedaknya di pipi. “Tadi cuma kemasukan debu.”

===============

Seung Ho berlari menelusuri lorong backstage. Ia kemudian berbelok dan menemukan pintu yang terhubung langsung ke studio tempat mereka melakukan comeback stage tadi. Seung Ho langsung membuka pintu itu dan masuk.

Seung Ho mengedarkan pandangannya ke bangku penonton. Tidak ada siapapun di sana, bahkan satu orang A+ pun tidak ada. Matanya beralih ke panggung tempat mereka perform, namun yang ia lihat hanya belasan kru yang mondar-mandir membereskan stage.

Aiissh.. dia sudah tidak ada!”

Seung Ho kemudian berlari lagi ke pintu keluar khusus penonton. Begitu sampai di luar, ia tidak menemukan siapapun di sana selain petugas kebersihan.

“Tidak ada juga…” gumam Seung Ho. Ia mengelap keringat yang membasahi pelipisnya. Rasanya ia sudah sangat lelah untuk mengejar sampai ke luar gedung stasiun tv. Belum lagi di sana pasti masih banyak A+. Tapi sedetik kemudian wajah Seung Ho seperti mendapat energi baru lagi.

“Ah! Kenapa aku tidak bertanya pada Fei? Dasar bodoh!”

Seung Ho kembali berlari. Kali ini menuju ruang ganti Miss A.

===============

Suzy dan Fei sedang berjalan menuju ke ruang ganti. Keringat membanjiri tubuh mereka berdua setelah perform. Mereka hanya berdua saja, sedangkan Jia dan Min sedang asyik ngobrol dengan anak-anak 2PM yang sedang mempersiapkan diri untuk perform juga di studio sebelah.

Eonni, aku ke toilet dulu ya.” Suzy melambaikan tangan pada Fei. Fei balas melambaikan tangan dan kini ia sendirian berjalan menuju ke ruang ganti. Begitu Fei membuka pintu ruang ganti, ia begitu terkejut ketika mendapati Seung Ho sedang duduk di salah satu kursi di depan meja rias.

“Seung Ho-ssi?”

Annyeonghaseyo.” Seung Ho bangkit dari duduknya dan langsung membungkuk hormat.

Annyeonghaseyo.” Fei balas membungkuk. “Ada apa? Tumben kau kemari?” Tanya Fei santai. Padahal sebenarnya ia tahu tujuan Seung Ho datang ke situ.

“Aku ingin menanyakan sesuatu.” Seung Ho menatap Fei serius. Fei sebenarnya gugup, tapi ia menyembunyikannya. Ia duduk di salah satu sofa yang letaknya jauh dari Seung Ho.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Kau pasti tau kan tadi Hye Ni datang ke sini?”

Fei terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk. “Ya, tadi dia bilang dia ada di sini. Tapi sekarang aku tidak tahu dia di mana.”

“Jadi dia ke sini bukan untuk menonton Miss A?”

Fei tersenyum, kemudian menggeleng. “Hari ini dia ingin menonton MBLAQ. Aku juga tidak tahu kalau dia hari  ini ke sini. Dia tidak mengatakan apa-apa.”

Seung Ho berjalan mendekat ke arah Fei. “Fei-ssi, sebenarnya Hye Ni kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Fei-ssi, selama hampir 4 bulan terakhir ini dia terus menghindariku. Teleponku tidak pernah diangkat, smsku tidak pernah dibalas, email apalagi. Aku sudah puluhan kali berusaha menemuinya ke rumah setiap ada waktu luang, tapi ia selalu tidak ada.” Seung Ho menjelaskan dengan nada sedikit frustasi. “Dia pasti menceritakan sesuatu padamu. Yang aku tau, kau adalah temannya yang paling dekat selain aku. Ya kan?”

Fei diam. Nafasnya mulai terasa berat.

“Fei-ssi.. kumohon. Ceritakan sesuatu padaku.”

Fei menghela nafas panjang. “Seung Ho-ssi, maaf, tapi aku tidak bisa karena Hye Ni tidak mengizinkanku untuk menceritakan apapun padamu.”

“Fei-ssi…”

“Aku tidak bisa mengatakannya karena aku menghargainya, Seung Ho-ssi. Ia memintaku merahasiakannya.”

“Apakah ia marah padaku karena aku tidak datang di acara ulang tahunnya malam itu?” tanya Seung Ho lemas.

“Bukan, bukan itu.” sanggah Fei.

“Lalu apa? Kenapa ia menghindariku? Kenapa sepertinya ia membenciku?” Seung Ho tidak dapat mengendalikan emosinya lagi.

“Ia tidak mungkin membencimu, Seung Ho-ssi.” Fei berusaha menenangkan Seung Ho.

Seung Ho terduduk lemas di kursi. “Aku benar-benar kehilangan petunjuk kalau begini caranya.”

===============

“WAAAA!!!!!” Mir berteriak histeris ketika ia mendapati ada 5 kotak kado dan 5 bouquet bunga mawar terletak di ruang tengah asrama mereka.

Ya! Mir! Telingaku lama-lama bisa tuli kalau begini!” Lee Joon yang berdiri tepat di sebelah Mir menutup telinganya.

“Ada 5 kotak dan 5 bouquet mawar!” teriak Mir lagi tanpa menghiraukan penderitaan Lee Joon. G.O dan Thunder tertawa melihatnya, sedangkan Seung Ho langsung merebahkan diri di sofa dan menyalakan tv tanpa memperdulikan kehebohan Mir.

“Ini untuk Thunder Hyung, G.O Hyung, dan Joonie Hyung.” Mir menyerahkan kotak berwarna putih dan bouquet mawar merah pada Thunder, G.O, dan Lee Joon. “Dan ini untukku.” Kata Mir pada dirinya sendiri setelah menemukan kotak dan bunga mawar yang bertuliskan namanya sendiri.

“Seung Ho Hyung, ini hadiah untukmu.” Lee Joon menyodorkan hadiah milik Seung Ho. “Warnanya berbeda dari punya kami semua. Mungkin ini dari penggemar beratmu.”

Seung Ho melirik malas ke arah kotak dan bouquet yang disodorkan Lee Joon. “Letakkan saja di meja. Nanti aku buka.”

Lee Joon meletakkan hadiah milik Seung Ho di meja di samping tv.  Seung Ho melirik sekilas lagi hadiah miliknya, kemudian melihat hadiah milik member MBLAQ yang lain. Memang benar, hadiahnya berbeda dari yang lain. Kotaknya berwarna merah dengan pita putih dan bouquet yang diterimanya berwarna putih. Tapi Seung Ho sudah kehilangan semangatnya secara total hari ini, jadi dia urung untuk melihat hadiah itu.

“Woaaa baju rajutan! Bagus sekaliii!!!” Mir kembali histeris dan langsung memakai baju rajutan berwarna merah itu. “Pas sekali!”

Hyung, sepertinya kau memang harus segera membuka hadiah milikmu! Baju ini benar-benar keren!” G.O juga tiba-tiba bersemangat ketika ia mendapatkan baju rajutan dengan warna merah juga, tapi dengan model yang berbeda.

“Nanti saja, aku malas.” Sahut Seung Ho yang masih memindah-mindah channel tv.

Thunder tiba-tiba berdiri di hadapan Seung Ho, menutupi pandangan Seung Ho ke arah tv. “Selamat untuk comeback kalian. Lagu kalian kali ini benar-benar keren. Penampilan kalian keren. Pokoknya kalian semua keren! Music Boys Live In Absolute Quality memang DAEBAK! Tetap bekerja keras ya! From Special A+…” Thunder melirik Seung Ho dari balik kertas yang dibacanya, kemudian berdehem. “PARK – HYE – NI.”

Seung Ho, yang sedari tadi menatap tv dengan tatapan kosong, langsung melompat ke arah Thunder begitu mendengar kalimat terakhir yang disebutkan Thunder.

Mwo? Park Hye Ni? Thunder, berikan surat itu padaku!” Seung Ho berusaha merebut kertas yang ada di tangan Thunder, tapi Thunder langsung kabur ke kamar.

“Bukalah hadiahmu sendiri, Hyung!” teriak Thunder dari dalam kamar.

Seung Ho berhenti mengejar Thunder, kemudian ia langsung menyambar hadiahnya yang ada di samping tv. Buru-buru ia membuka kotak hadiahnya dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Ternyata juga baju hasil rajutan, tapi dengan warna yang berbeda dari member yang lain. Kalau member lain mendapat baju berwarna merah, Seung Ho mendapat baju berwarna putih.

“I.. ini.. baju hasil rajutan.” Seung Ho menatap nanar pada baju miliknya, kemudian tiba-tiba ia meneteskan air mata dan langsung memakai baju itu. Seung Ho kemudian menemukan secarik kertas di dalam kotak itu, persis seperti kertas yang dibacakan oleh Thunder tadi.

Seung Ho Oppa, aku ingin bertemu denganmu di tempat kau mengajariku merajut dulu. Aku harap kau mau menemuiku langsung setelah membaca surat dariku.

From Your Special A+ … Park Hye Ni

Seung Ho langsung menyambar kunci mobilnya yang terletak di meja samping tv. Ia juga mengambil bouquet bunga mawar putih yang juga terletak di meja samping tv.

Hyung, mau ke mana?” tanya Lee Joon.

“Menemui si pengirim!” Seung Ho bergegas memakai sepatunya dan langsung keluar dorm.

“Ckckck.. Rupanya seperti itu Seung Ho Hyung kalau sedang merindukan seorang wanita.” Lee Joon menggeleng-gelengkan kepalanya. “G.O Hyung, kenapa mereka tidak pacaran saja sih?”

G.O mengendikkan bahunya. “Molla. Aku juga tidak tahu apa yang dipertimbangkan oleh Seung Ho.”

“Aaah aku sangat iri pada Seung Ho Hyung.” Thunder bersender di sofa, kelelahan setelah dikejar oleh Seung Ho. Ia kemudian mengambil kotak hadiah milik Seung Ho yang sudah kosong. Tapi kemudian pandangannya tertuju pada sesuatu yang menempel di kotak hadiah itu.

“Eh, apa ini?”

===============

Seung Ho memacu mobilnya secepat yang ia bisa. Rasanya ia ingin menginjak pol gasnya, tapi tidak mungkin karena jalanan di Seoul masih ramai. Bibirnya terus menyunggingkan senyum. Di kepalanya sudah terbayang bagaimana pertemuannya dengan Hye Ni nanti.

“Aku akan menjitakmu kalau kita bertemu nanti!” ucapnya pada dirinya sendiri. “Lihat saja! Beraninya menghindariku berbulan-bulan!”

Seung Ho dan Hye Ni sudah bersahabat sejak 5 tahun yang lalu, tepatnya setelah Seung Ho pindah ke rumah barunya di dekat rumah Hye Ni. Pertemuan pertama mereka adalah ketika tanpa sengaja Hye Ni mendapati Seung Ho sedang merajut di taman bermain di dekat rumah mereka. Saat itu Hye Ni sedang lari pagi.

“Hey..” Sapa Hye Ni pada Seung Ho yang tengah merajut di ayunan. “Kamu yang baru pindah rumah kemarin kan?”

 “Ne.” Jawab Seung Ho singkat. Matanya tidak lepas dari rajutan itu. “Kau siapa?”

“Oh, kenalkan, aku Park Hye Ni. Rumahku hanya berjarak 3 buah rumah dari rumahmu.”

Seung Ho akhirnya mendongak menatap Hye Ni, kemudian tersenyum. “Annyeong. Aku Yang Seung Ho.”

Ya! Kenapa kau langsung berbicara tidak formal padaku?” Hye Ni melontarkan protes sembari duduk di ayunan yang ada di sebelah Seung Ho.

“Memangnya kenapa?” Seung Ho menatap Hye Ni bingung. “Bukankah kau memang lebih muda dariku?”

“Memangnya berapa umurmu?”

“20 tahun.” Jawab Seung Ho sembari merapikan rajutannya. “Umurmu 16 tahun kan?”

Hye Ni terkejut. “Omo! Umurmu 20 tahun? Kenapa kita terlihat seperti seumuran ya?”

Seung Ho terkekeh. “Berarti aku yang awet muda dan wajahmu yang terlalu boros.”

Hye Ni menutup kedua wajahnya, kemudian berteriak histeris. “Aaaa! Berarti aku sudah mengalami penuaan dini!”

“Hahaha..” Seung Ho tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Hye Ni barusan. “Kau ini aneh.”

Hye Ni membuka wajahnya, kemudian menatap Seung Ho kesal. “Kau lebih aneh lagi. Seorang pria bisa merajut, sendirian, di taman bermain anak-anak pula! Aku yang perempuan saja tidak bisa merajut!”

“Tidak ada larangan kan seorang pria bisa merajut? Lagipula ini bakat yang diturunkan oleh nenekku, jadi aku ingin melestarikannya agar bakatku tidak hilang.” Seung Ho membalas omelan Hye Ni dengan santai.

“Oooh..” Hye Ni mengangguk-angguk, kemudian mengambil rajutan yang baru setengah jadi yang ada di pangkuan Seung Ho. “Yah, sepertinya kau memang berbakat. Rajutanmu cukup rapi.”

Seung Ho tersenyum bangga. “Aku memang pria yang penuh bakat, kan?”

Hye Ni mencibir. “Memangnya kau punya bakat apa saja?”

“Hmmm.. aku bisa main piano, main gitar, main drum, menggambar, b-boys dance, menyanyi, dan yang terakhir merajut ini.” Seung Ho menunjuk rajutannya yang sekarang sedang diamati Hye Ni. “Oh iya, selain itu aku juga bisa main basket, fotografi, dan mekanik.”

“Ckckck.. benarkah semua yang kau sebutkan itu?” Hye Ni terperangah mendengar jawaban Seung Ho.

“Tentu saja!” Jawab Seung Ho mantap.

“Kalau begitu ajari aku merajut. Aku kan seorang yeoja, pasti aku akan memiliki nilai plus di mata namja kan kalau aku bisa merajut? Hehehe..”

Seung Ho mencibir, kemudian tertawa. “Baiklah. Besok kita bertemu di sini, akan kuajari kau merajut mulai dari hal yang paling dasar. Oke?”

===============

Seung Ho menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah taman bermain di dekat rumahnya. Taman bermain itu masih sama seperti saat pertama kali ia ke sana. Perosotan, ayunan, dan mainan yang lainnya pun masih sama. Tidak ada yang berubah.

Seung Ho berjalan mengitari taman bermain itu. Tidak sampai dalam hitungan menit, Seung Ho sudah menemukan Hye Ni yang sedang duduk di ayunan.

“Ehem..” Seung Ho berdehem ketika ia sudah berada di dekat Hye Ni. Hye Ni menoleh, kemudian tersenyum menatap Seung Ho.

“Ada apa kau memanggilku ke sini?” Tanya Seung Ho dingin. Ia kemudian melipat kedua tangannya di dada. Hye Ni terlihat bingung.

Oppa, apakah kau sudah membaca suratku?”

“Sudah. Makanya aku datang ke sini.” Jawab Seung Ho singkat. Tatapannya menjadi setajam pisau ke arah Hye Ni.

“Oooh..” Hye Ni tertunduk lemas. Ia terlihat kecewa.

Sepertinya kau tidak membaca suratku, Oppa.” Gumam Hye Ni dalam hati.

“Tsk! Cuma seperti ini sambutanmu atas kedatanganku? Ayo! Berdiri!” Seung Ho kini membentak Hye Ni. Hye Ni sedikit terkejut dengan ulah Seung Ho, tapi ia tidak punya pilihan lain. Hye Ni pun berdiri.

“Maafkan aku Opp..”

Hye Ni kontan kehilangan kata-kata ketika Seung Ho langsung memeluknya dengan erat.

===============

Park Hye Ni POV

Sebenarnya aku sedikit sesak nafas dengan keadaan ini. Bagaimana tidak sesak nafas, tubuh Seung Ho Oppa yang cukup besar dan padat sedang memelukku seerat ini.

Tapi rasa senangku terlalu besar dan jauh melebihi rasa sesak nafasku. Dipeluk Seung Ho Oppa, rasanya jauh lebih baik dan menyenangkan. Belum lagi aroma parfumnya yang sangat aku sukai. Aku rela menukarkan seluruh harta milikku untuk bisa selalu bersama dan dekat seperti ini dengan Seung Ho Oppa. Alasannya tentu saja, karena aku sangat mencintainya.

Sudah lama sekali aku mencintai Seung Ho Oppa.

Tapi dia hanya menganggapku sebagai adik. Sigh.

“Dasar gadis jahat!” bisik Seung Ho Oppa di telingaku.

“Dasar namja aneh!” balasku. “Kenapa kau memeluk gadis jahat?”

Aku mendengarnya terkekeh. Suara tawanya yang khas membuat bulu kudukku merinding. Bukan, bukan karena dia makhluk halus. Tapi karena aku sangat merindukannya.

“Karena aku sangat merindukan gadis jahat ini.”

DEG!

Dia rindu padaku? Aku juga merindukanmu, Oppa! Aduh! Dadaku!

“Kau ke mana saja? Kenapa kau menghindariku beberapa bulan ini? Apa aku sudah melakukan kesalahan besar? Kau marah padaku?”

Aniyo, Oppa tidak salah apa-apa.”

Seung Ho melepas pelukannya.

“Lalu kenapa?” tanyanya gusar. “Kau tau, siang malam aku terus memikirkanmu di sela-sela jadwal MBLAQ yang padat, puluhan kali aku ke rumahmu, ratusan kali aku meneleponmu, tapi kau selalu tidak ada dan teleponku tidak diangkat. Belum lagi smsku yang mungkin ribuan, kau tidak membalasnya satu pun.”

Ya Tuhan! Sebenarnya aku tidak sanggup menjawabnya, bahkan menatap matanya pun aku tidak sanggup karena aku terlalu gugup dan debar jantungku terasa aneh. Dan debaran aneh ini cukup menguras tenagaku. Aku menunduk, berusaha menghindari tatapan matanya.

“Hye Ni, jawab aku. Jangan menunduk.” Seung Ho menarik daguku agar aku tidak menunduk. Baiklah, aku menatapnya. Berapa banyak lagi kekuatanku yang tersisa Ya Tuhan?

“Kau kenapa?” tanyanya khawatir. “Kau sakit?”

Aku menatap matanya. Kemudian aku menggeleng. “Aniyo, aku baik-baik saja.”

Ya Oppa, mungkin aku baik-baik saja sekarang. Tapi andai kau membaca suratku, pasti kau tidak akan bertanya.

Sayangnya kau tidak membacanya, Oppa.

“Ooh..” Dia mengangguk.

 “Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau selama ini menghindariku?”

“Aku hanya ingin membiarkan kau konsentrasi dengan MBLAQ, Oppa. Kau pasti sangat sibuk mempersiapkan album baru, kan? Pulang ke rumah pun kau tidak sempat, jadi kupikir kau pasti sangat sibuk.” Aku mencoba menjelaskannya pelan-pelan agar dia tidak salah paham. Tapi ia malah mengacak-acak rambutku.

“Hye Ni, itu bukan alasan kau menghilang sama sekali dari hadapanku. Meskipun aku sangat sibuk, tapi sesekali aku tetap ingin bertemu denganmu. Aku butuh suntikan semangat, tau!”

“Maafkan aku.” Suaraku melemah. Ini pasti karena efek antara perasaan bersalah dan tubuhku yang semakin melemah.

Aigo! Dadaku! Sakit!

“Aku pikir kau marah karena aku tidak menemuimu di hari ulang tahunmu malam itu.”

Ne?” Tanyaku bingung. Aku tidak menyangka kalau ia berpikir seperti itu. “Aku sungguh tidak marah sedikit pun mengenai hal itu, Oppa. Aku sangat mengerti kalau kau sedang sibuk.”

“Benarkah?” Tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk mantap.

Sebenarnya aku bersyukur ia tidak datang ke rumahku malam itu. Aku bersyukur karena ia tidak mendengar apa yang ingin kukatakan pada malam itu. Karena kalau dia datang, konsentrasinya dengan MBLAQ pasti buyar karena memikirkan apa yang akan aku katakan.

Dan sekali lagi, untunglah Seung Ho tidak datang malam itu.

===============

Author POV

@ Dorm MBLAQ

G.O, Lee Joon, Thunder, dan Mir duduk berjejer di lantai. G.O memegangi pelipisnya, Thunder menunduk, Mir menatap lurus dengan tatapan kosong, dan Lee Joon yang tertegun melihat 2 lembar kertas yang sedari tadi dipeganginya.

“Jantung… berlubang?” gumam Lee Joon.

Hyung, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kasihan sekali nasib Seung Ho Hyung. Hye Ni bahkan lebih mengenaskan.” Ucap Mir lemas.

Aishh! Kenapa Seung Hyo Hyung sampai melewatkan surat penting seperti ini?” Lee Joon membanting kertas yang dipegangnya ke lantai.

“Joon, tenanglah! Kau tidak liat tadi dia buru-buru?” G.O ikut menimpali.

“Ya sudah, kalau begitu kita sekarang susul mereka!” Lee Joon bangkit dari duduknya.

G.O menangkap lengan Lee Joon. “Jangan! Nanti kita malah mengganggu mereka! Biarkan saja!”

“Tapi Seung Ho Hyung harus tau!” Lee Joon bersikeras melepaskan tangan G.O.

“Joon Hyung benar.” Thunder mengusap air matanya. Rupanya sedari tadi ia menangis. “Seung Ho Hyung harus tahu sebelum ia mengira Hye Ni hanya tertidur.”

“Tapi kita tidak bisa melawan takdir, Thunder! Kalau memang waktunya sudah tiba, kita tidak akan bisa mencegahnya sedetik pun walaupun kita sudah ke sana!” G.O juga ikut bersikeras.

“Aku tau, Hyung. Tapi setidaknya inilah usaha kita. Kita akan jauh lebih menyesal kalau hanya diam dan menangisi mereka di sini.”

“Nah! Maksudku itu! Ayo kita temui mereka berdua sekarang sebelum terlambat!” Lee Joon mengambil kunci mobil milik manajer yang ada di meja ruang tengah. G.O, Thunder, dan Mir mengikutinya.

===============

Park Hye Ni POV

Oppa, kau tidak capek?” Tanyaku tepat di telinga Seung Ho Oppa. Sekarang aku berada di punggungnya. Ia menggendongku.

Aniyo.” Seung Ho Oppa menggeleng. “Aku masih kuat bahkan jika harus mengelilingi Seoul malam ini juga. Justru kau yang terlihat sangat kelelahan. Ada lingkaran hitam yang besar di matamu. Awas ya, kalau kau minta diturunkan!” ancamnya.

Ne..” jawabku pasrah. Kemudian Seung Ho Oppa tertawa.

“Hey, jangan salah paham. Aku bukannya marah padamu.”

“Iya, aku tau.” Jawabku. Aku memang tau kalau dia tidak sedang marah. Tapi dia sedang menunjukkan kasih sayangnya padaku.

Tapi ia hanya menganggapku sebagai adik. Hhhh….

“Tapi aku masih merasa aneh. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Aku diam. Membuat suasana malam yang sunyi ini semakin terasa sepi. Hanya terdengar suara langkah kaki Seung Ho Oppa. Memang ada beberapa hal yang kusembunyikan sekarang. Ah, Oppa, seandainya kau membaca suratku itu, pasti kau tidak akan bertanya.

“Tadi aku menemui Fei.”

Aku tersentak mendengar nama sahabatku itu. “Fei? Oppa menemui.. Fei?”

Seung Ho Oppa mengangguk. “Aku mencari tau di mana keberadaanmu. Tapi dia menutup mulutnya rapat-rapat. Ia bilang karena ia menghargaimu, makanya ia tidak mau mengatakannya sekalipun itu adalah aku, orang terdekatmu.”

Aku kembali terdiam. Seung Ho Oppa sampai berani menemui Fei, itu benar-benar di luar kebiasaannya. Seung Ho Oppa biasanya malas bertemu dengan artis wanita karena malas membuat dirinya menjadi bahan berita. Meskipun Fei Eonni itu juga adalah orang terdekatku setelah Seung Ho Oppa, tapi Seung Ho Oppa tidak akrab dengannya.

Aku memang menceritakan semuanya tentang Seung Ho Oppa kepada Fei Eonni. Tentang aku, dan tentang masalah yang kusembunyikan. Tentang penyakitku juga. Dan aku meminta Fei Eonni untuk tidak mengatakannya pada siapapun, termasuk Seung Ho Oppa.

Aku mengenal Fei Eonni ketika aku menjadi pekerja paruh waktu di sebuah restoran makanan China. Saat itu Fei Eonni sedang menjadi trainee di JYP Entertainment dan ia juga bekerja paruh waktu di sana. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri, karena aku adalah anak tunggal. Dan aku percaya padanya. Tidak ada yang tidak diketahui oleh Fei Eonni tentang aku, begitu pula sebaliknya. Aku tau semua tentang Fei Eonni.

Aaah!! Aduh! Sakit! Dadaku!

Aigo kenapa ini, pandanganku kabur, kepalaku sangat pusing dan dadaku sakit. Pasti kambuh lagi….

“Hye Ni,kau masih mau merahasiakannya dariku? Sebenarnya rahasia apa?”

Aku mendengar perkataan Seung Ho Oppa sayup-sayup. Kepalaku sangat pusing. Aku membenamkan wajahku di antara pundak dan lehernya. Menahan sakit yang menjalari seluruh tubuhku.

“Hmm..” Aku menarik nafas, mengumpulkan tenaga agar Seung Ho Oppa tidak curiga. “Aku ingin mengatakannya, tapi aku malu.”

“Hmm? Malu? Memangnya rahasia apa?”

Ah Oppa! Coba kau baca suratku! Rahasia itu tidak hanya satu, tapi ada dua! Tapi rasanya aku tidak sanggup mengatakan keduanya, aku terlalu lelah. Rasanya energiku sudah hampir habis. Sakit sekali…

Baiklah, aku akan mengatakan satu saja. Yang satunya, mungkin nanti Seung Ho Oppa akan tau sendiri.

“Aku… Tapi sebelumnya aku ingin bertanya satu hal pada Oppa.”

Aigo, kau ini mau mengalihkan topik pembicaraan ya?”

Aniyo, justru ini berhubungan dengan apa yang akan.. kukatakan…. nanti.” Aku mencoba menahan rasa sakitku, tapi yang keluar malah suaraku yang terbata-bata. Semoga Seung Ho Oppa tidak menyadarinya.

“Baiklah, apa yang mau kau tanyakan?”

“Mmm… Apa artinya aku untukmu, Oppa? Selama ini, bagaimana posisiku di dalam hidupmu?”

Ah! Akhirnya pertanyaan itu keluar dengan lancar. Tapi astaga Ya Tuhan, rasanya tenagaku lebih lemah daripada seekor siput sekarang. Rasanya sebentar lagi aku akan.. mati.

Eh, apa yang sedang kupikirkan? Mati?

Aku mendengar Seung Ho Oppa terkekeh.

“Kau itu adalah yeoja yang terpenting di dalam hidupku setelah ibuku dan nenekku. Bagiku kau bukan seperti orang lain. Kau itu seperti keluargaku. Kau selalu mebuatku merasa nyaman.”

Apa? Keluarga? Jadi.. kau masih tetap menganggapku adik?

“Ooh.. begitu.” Ucapku lemas. Aku benar-benar lemas sekarang. Tapi aku harus mengatakannya sekarang juga.

“Oppa.. Rahasianya adalah…” Astaga sakit sekali! Tuhan, kumohon sebentar lagi, aku harus mengatakannya. “Aku.. mencintai Oppa. Aku mencintaimu, Seung Ho Oppa.”

Aaah.. leganya.. aku sudah mengatakannya.

“Apakah itu rahasia yang kau sembunyikan?” tanyanya bingung. “Kalau itu aku sudah tau sejak lama. Aku tau kau mencintaiku.”

Hah?

“Kalau kau tidak mencintaiku, mana mungkin kita bisa sedekat ini selama bertahun-tahun. Iya kan?”

Errrr.. aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya dadaku terlalu sakit. Aku ingin memperjelas lagi perkataanku.

Oppa, aku mencintaimu sebagai seorang yeoja, bukan seorang dongsaeng.”

Akh! Aku benar-benar tidak tahan lagi!

Sakit sekali….

===============

Author POV

Hyung! Itu mereka!” Mir memukul bahu Lee Joon yang sedang menyetir mobil. Lee Joon meringis.

“Iya aku tau, aku juga liat! Tidak usah memukulku!” sahut Lee Joon sewot. Lee Joon kemudian meminggirkan mobilnya.

“Sepertinya Hye Ni tertidur.” G.O terdengar ragu-ragu pada ucapannya sendiri karena posisi Seung Ho yang membelakangi mereka. Tapi kemudian ia terkejut ketika Thunder yang duduk di sebelahnya langsung membuka pintu mobil dan melompat keluar.

“Thunder! Tunggu!” teriak G.O. “Joon, cepat parkir yang benar!”

===============

“Hye Ni, kau tau aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang yeoja?” Tanya Seung Ho pada Hye Ni. Tapi yang diajak bicara tidak memberikan reaksi. Ia diam saja.

“Kalaupun aku pernah dekat dengan yeoja, itu pun hanya sebatas teman biasa. Seperti misalnya Gyu Ri, Victoria, atau So Yeon, itu semuanya hanya teman. Tidak ada yang lebih dekat selain kau.”

Masih tidak ada jawaban dari Hye Ni.

Seung Ho menunduk. Ia baru menyadari ketika tangan Hye Ni terkulai lemas dan tidak melingkar di lehernya.

“Yaah, kau malah tidur.” Seung Ho melingkarkan tangan Hye Ni di lehernya. “Untung kau tidak jatuh. Kau pasti sangat lelah.” Ujarnya lembut.

HYUUUNG!”

Seung Ho terkejut dan langsung membalikkan badan.

“Thunder?” Tanyanya bingung ketika melihat Thunder yang tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Dibelakang Thunder ada Mir, Lee Joon, dan G.O yang juga berlari ke arahnya.

“Ada apa dengan kalian? Kenapa menyusulku ke sini?”

“HYE NI! HYE NI!” Lee Joon mengguncang-guncangkan badan Hye Ni.

Ya! Kenapa kau membangunkan orang yang sedang tidur?” Seung Ho menarik tangan Joon. Ia terlihat kesal.

“Sudah berapa lama ia seperti itu, Hyung?” tanya Thunder. Membuat Seung Ho semakin bingung.

“Baru saja. Kalian ini kenapa sih!” Seung Ho kembali kesal melihat Lee Joon dan Thunder yang berusaha menurunkan Hye Ni dari punggungnya.

Hyung, dia itu tidak tidur!” teriak Lee Joon kesal.

“Turunkan dia, Hyung!” kali ini Thunder yang terlihat kesal. Mir dan G.O menunggu dengan rasa cemas dan takut, sementara Seung Ho sudah hampir meledak amarahnya melihat Thunder dan Lee Joon yang menurutnya lancang.

Ya!!”

Sempat terjadi adegan tarik menarik antara Seung Ho, Joon, dan Thunder. Namun akhirnya dimenangkan oleh Lee Joon dan Thunder.

Lee Joon dan Thunder berhasil menurunkan Hye Ni dari punggung Seung Ho. Lee Joon menahan tubuh Hye Ni yang terkulai lemah dengan tangannya dan badan Lee Joon langsung gemetar ketika melihat wajah Hye Ni yang super pucat.

“Kau liat kan, Hyung, dia tidak tidur tapi dia sekarat!” teriak Lee Joon. Seung Ho yang tadinya ingin marah, langsung syok dan membeku di tempatnya berdiri ketika melihat Hye Ni.

“Hye Ni! Hye Ni apa yang terjadi padamu? Bangun! BANGUNLAH PARK HYE NI!” Seung Ho mengguncang-guncang tubuh Hye Ni, tapi tidak ada reaksi.

“Lebih baik kita langsung membawanya ke rumah sakit, Hyung!”

===============

Rumah sakit itu terasa agak mencekam ketika semua orang yang ada di sana menunggu dengan rasa khawatir dan cemas tanpa ada kepastian. Seung Ho, Lee Joon, Thunder, Mir, dan G.O duduk dalam satu baris bangku yang sama. Semuanya menunggu di luar ruang ICU, tempat Hye Ni dirawat sekarang, karena di dalam ruangan itu masih ada dokter yang memeriksanya.

“Kenapa kalian semua bisa mengetahui hal ini?” tanya Seung Ho datar. “Kenapa hanya aku yang tidak tahu?”

Lee Joon menyerahkan dua lembar kertas yang disimpannya di saku celana pada Seung Ho. “Sebaiknya kau baca ini, Hyung.”

“Apa ini?” tanya Seung Ho bingung.

“Sebuah surat panjang dari Hye Ni. Thunder yang menemukannya di dalam kotak hadiahmu. Surat ini menempel di kotak penutupnya.” Jawab Lee Joon datar.

“Kau tadi sangat terburu-buru, Hyung. Makanya kau tidak melihatnya dengan teliti.” Sambung G.O.

Seung Ho membuka kertas dan mulai membaca apa yang tertulis di dalamnya.

***

Untuk Seung Ho Oppa yang kurindukan.

Sangat kurindukan…

Sudah berbulan-bulan kita tidak bertemu atau saling menghubungi. Aku rindu sekali, Oppa. Apakah Oppa juga merindukanku? Aku harap begitu ^_^ Hehehe…

Awalnya aku ingin menjelaskan semuanya secara tentang alasanku menghindarimu beberapa bulan terakhir ini ketika kita bertemu nanti. Tapi kurasa akan memakan banyak sekali tenaga dan waktu kalau aku menyampaikan semuanya secara langsung padamu, Oppa. Sebenarnya yang kusampaikan hanya 2 hal. Tidak banyak memang, tapi menjelaskannya butuh waktu dan tenaga. Jadi aku memilih untuk membuat surat tambahan untuk menjelaskan hal yang pertama. Aku ingin menyimpan lebih banyak tenagaku.

Hal yang pertama ini adalah sebab utama kenapa aku menghindarimu, Oppa. Aku sekarang sedang dalam keadaan.. yah.. bisa dibilang tidak sehat. Beberapa minggu sebelum hari ulang tahunku, aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres denganku. Aku merasa mudah sekali lelah, pusing, dan dadaku terasa sangat sakit. Sakit sekali sampai-sampai rasanya aku tidak sanggup bernafas. Aku  masih dapat menahannya sampai beberapa hari, sampai akhirnya aku ditemukan Omma dalam keadaan pingsan di kamar.

Omma dan Appa membawaku ke dokter. Masih tidak dapat dipastikan sakit apa yang kuderita, Omma dan Appa memeriksakanku ke rumah sakit. Dan hasilnya sangat membuatku syok.

Jantungku berlubang.

Aku sama sekali tidak mengerti apa itu, tapi yah itulah yang dikatakan oleh dokter itu. Omma dan Appa kemudian memeriksakanku ke rumah sakit lain. Mereka berharap aku menderita penyakit yang lebih ringan dari itu. Tapi hasilnya sama saja. 3 dokter menyatakan jantungku ada lubangnya.

Dokter-dokter itu bilang aku harus mencari donor jantung agar aku dapat bertahan hidup. Tapi mencari donor jantung itu tidak mudah. Harus menunggu seseorang itu meninggal terlebih dahulu, baru aku akan mendapatkannya.

Aku merasa langit runtuh di kepalaku.

Miris sekali kan, Oppa? Mengharapkan kematian orang lain demi memperpanjang waktu kehidupan untukku. Rasanya aku menjadi manusia yang luar biasa egois. Rasanya aku seperti pelahap maut di film Harry Potter.

Kau tahu, Oppa, saat itu di pikiranku hanyalah kau. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan menceritakan semuanya. Aku ingin membagi bebanku denganmu karena aku merasa sangat berat menanggung ini seorang diri. Maka dari itu, aku sangat menunggumu di hari ulang tahunku itu. Karena aku tahu, setiap kali ada yang ulang tahun di antara kita berdua, kita selalu menghabiskan satu malam itu untuk makan-makan dan menceritakan banyak hal. Aku menunggu moment itu untuk menceritakannya padamu.

Tapi Oppa tidak datang…

Pada awalnya aku kecewa karena kau tidak datang. Alasanmu saat itu adalah karena kau sibuk mempersiapkan album baru MBLAQ. Tapi setelah mendengar alasanmu, segera aku menarik kembali kekecewaanku padamu, Oppa.

Untunglah kau tidak datang waktu itu…

Aku sangat bersyukur kau tidak datang waktu itu. Karena jika kau datang, mungkin aku malah akan membebani pikiranmu dan menyusahkanmu. Aku tidak mau hal itu terjadi. ^_^. MBLAQ hatrus tetap maju! MBLAQ Fighting!

Tapi yah, kau tau sendiri kan aku ini bagaimana. Aku ini anak tunggal. Aku tidak biasa menahan beban sendirian. Apalagi beban ini adalah beban terberat dalam hidupku. Aku butuh teman untuk bercerita. Dan aku akhirnya memilih untuk menceritakannya pada Fei Eonni. Meskipun Fei Eonni juga akan mempersiapkan album baru, tapi tugasnya tidak seberat Oppa sebagai leader dan Fei Eonni lebih banyak memiliki waktu luang. Hatiku cukup terhibur. Dan bebanku cukup berkurang. Dengan berkurangnya beban itu, aku berharap dapat hidup lebih lama.

Kenapa aku tidak pernah mau menemui, ditemui,  membalas sms, email, atau mengangkat telepon dari Oppa?

Aku takut keceplosan menceritakan penyakitku ini padamu, Oppa. Aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menceritakannya padamu. Karena selama ini aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu. Aku bahkan menunggu MBLAQ selesai melakukan promosi album baru untuk menceritakan semuanya padamu.

Tapi aku merasa waktuku di dunia ini tidak lama lagi. Karena semakin hari aku semakin merasakan sakit yang menjadi-jadi. Karena itu aku segera menulis surat ini, Oppa. Aku ingin kau segera mengetahuinya dan dapat menemaniku saat aku menemui ajal nanti. Meskipun aku tidak tahu kapan hal itu terjadi.

Dan sejujurnya aku tidak pernah menunggu jantung siapapun. Entahlah, apakah aku ini disebut pasrah atau putus asa. Yang aku lakukan untuk memperpanjang hidupku hanyalah menghemat tenaga dan berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikanku umur yang panjang agar bisa terus bersama-sama Omma, Appa, Oppa, dan Fei Eonni.

Sekian untuk hal yang pertama.

Untuk hal yang kedua, aku akan mengatakannya saat kita bertemu nanti. ^_^ sampai ketemu Oppa.

 

PS: Aku sengaja meletakkannya agak tersembunyi, supaya member MBLAQ yang lain tau dan hanya kau yang dapat menemukannya, Oppa. Oh iya, kau juga harus memberikan tanggapan pada hasil rajutanku ya ^_^

***

Seung Ho melipat surat itu. Air matanya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Biasanya ia selalu berusaha keras menahan air matanya agar tidak terlihat cengeng. Tapi kali ini lain. Ia benar-benar menangis.

“Maaf Hyung, kami sudah lancang membuka surat itu.” Lee Joon menepuk bahu Seung Ho.

Gwaenchanayo. Justru kalau kalian tidak membukanya, mungkin Hye Ni akan mati sia-sia tanpa aku ketahui.” Jawab Seung Ho sambil mengelap air matanya.

Dokter yang memeriksa Hye Ni pun keluar dari ruangan ICU. Seung Ho langsung berdiri menghampiri dokter itu.

“Dokter, bagaimana keadaannya?”

Dokter tersebut menghela nafas panjang. “Banyak-banyak berdoa saja, anak muda. Semoga ada keajaiban yang menghampirinya. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Permisi.”

Seung Ho terlihat sangat syok. Ia terdiam, tidak sanggup berkata apa-apa lagi ketika dokter itu berbalik kemudian meninggalkannya.

“Sabar ya, Hyung..” G.O menepuk pundak Seung Ho. Seung Ho mengangguk.

“Kalau begitu aku masuk dulu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedetik-pun sekarang.”

===============

Seung Ho duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang pasien. Ia menatap Hye Ni lekat-lekat, kemudian menggenggam tangannya.

“Jadi, itu yang kau sembunyikan?” Tanya Seung Ho pada Hye Ni. Hye Ni yang tidak sadarkan diri tidak memberikan reaksi apapun. Hanya suara alat pendeteksi jantung Hye Ni saja yang mengisi ruangan itu. Dan suaranya sangat pelan dan lambat, menggambarkan lemahnya jantung Hye Ni sekarang.

TUT……………………TUT………………….TUT………………..

“Kau mengambil keputusan yang tepat. Dan mengenai hal yang kedua, sepertinya kau agak salah paham.”

TUT……………………TUT……………………TUT…………………………………TUT……..

“Sejak aku berkenalan denganmu, sedetik pun aku tidak pernah menganggapmu sebagai dongsaeng. Aku selalu melihatmu sebagai seorang yeoja, Hye Ni.”

TUT……………………………..TUT………………………….TUT…………………………

“Aku juga sudah tahu sejak lama kalau kau mencintaiku. Mencintaiku sebagai seorang namja, bukan sebagai seorang kakak atau Oppa. Mungkin kau bingung aku tahu dari mana. Tapi apa kau lupa, aku mempunyai feeling yang kuat dan insting yang sangat tajam.”

TUT……………………………TUT…………………………………………………TUT

Seung Ho melirik alat pendeteksi jantung yang semakin melambat itu. kemudian mengusap air matanya.

“Dan.. kau tahu, aku pun merasakan hal yang sama. Aku mencintaimu, Hye Ni.”

TUT……………………………………………………………………..TUT…………………………………

“Aku mencintaimu sebagai seorang namja .”

TUT……………….TUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUT…..

==END==

Salam kenal para readers FFINDO!!!! ^_^

Yaaaaa… akhirnya FF ini di post kuga di FFINDO ^_^ *dancing Oh Yeah*. Pertama-tama, aku ucapkan terima kasih buat admin FFINDO yang udah mau ngepost’in FF ini. Terima kasih banyaaaak ^_^. Terus selanjutnya, terima kasih buat readers yang udah mau baca, nge-like, nge-comment, nge-kritik (?), atau bahkan yang memuji. Terima kasih banyaaak ^_^

FF ini aku persembahkan untuk seluruh penggemar FF, khususnya para A+ dan lebih khususnya lagi untuk para biasnya sang leader MBLAQ, Yang Seung Ho. FF ini murni imajinasi aku. Ngga copas punya orang lain apalagi plagiat punya orang. Pantangan banget tuh! Hehehehe…

Kalau FF ini jumlah commentnya sesuai harapan aku, aku bakal bikin sekuelnya. ^_^. Tapi kalau ngga sesuai harapan, yah, cukup sampai sini aja FF’nya hehehe ^_^.

FF ini juga udah pernah dipublish di blog FF pribadi aku :

Fangirlingff.wordpress.com

 

 NB: Ini FF temen lagi yang nitip ^^ dan bukan buatan aku. kkkkk~ keep RCL yak, tolong hargai authornya yang susah payah menulis ini ^^

 

 

 

 

68 thoughts on “The Last Confession

  1. Pingback: It’s Not The Last – Part 1 « FFindo

  2. Pingback: It’s Not The Last – Part 1 « Fangirling FF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s