DR. SHIN – Case 3

26 Aug

Disclaimer dulu ah: semua cerita ini murni fiktif (dicampur beberapa penelitian author sih hahaha), jadi kalau ada kesalahan tentang prosedur ataupun kehidupan kedokterannya, harap dimaafkan :) dan oh ya, bayangkan Shindong disini ketika dia dalam kondisi terkurusnya, terkerennya. Sekurus-kurusnya, sekeren-kerennya yang pernah Shindong alami ya, biar lebih dapet kesan dokter angkuhnya (loh?) :p

 

DR. SHIN – Case 3

(Case 1; Case 2)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Shin Donghee, Kim Jaejoong, Zhou Mi, etc.


TIGA. BABY-BLUES SYNDROME1

“Yora-Yora-Yora, lihat apa yang aku temukan!” Dan BRAK! Pintu ruang istirahat ini pun terdengar dibanting begitu saja. Ah, itu suara Kim 2. Sial, berisik sekali… mengganggu tidurku saja. Apa dia tak tahu sudah dua malam aku tak tidur karena sibuk menangani berbagai operasi yang sudah menumpuk menungguku tepat selesai ujian attending itu??

Ah, tapi pasti dia tak tahu. Lagian untuk apa juga aku mengatakan hal itu pada intern? Maka cepat-cepat aku pun menarik selimut lebih jauh menutupi kepalaku lagi supaya sedikit bisa meredam suara bombastis gadis itu. Biar nanti saja kupikirkan hukuman untuknya.

“Hei, Dal-i!” Suara renyah Park terdengar membalasnya. Ah ya, aku bahkan tak sadar internku satu lagi itu tadi ada di ruangan ini. Beda dengan rekannya, anak bimbinganku yang satu ini memang memiliki frekuensi suara yang lebih rendah dan enak didengar. Yah, mungkin perbedaannya seperti infrasonik dan ultrasonik. Ah, tapi kenapa aku jadi membicarakan mereka? Ayo tidur!

“Eh, kamu lagi ngobrol, ya?”

“Um. Oh ya, kalian belum kenal ya? Jadi Dal-i, kenalkan ini Han Shinae, sahabatku dari Universitas Korea juga. Dia intern timnya dr. Son. Shinae, ini Kim Dal, dr. Shin juga.”

“Hai.”

“Hai.” Balas Kim 2.

“Oh ya, tadi ada apa kamu cari aku?” Tanya Park lagi.

“Ah, matda! Ini, ini. Lihat apa yang aku temukan waktu ‘serabutan’ di bagian arsip.” ‘Serabutan’ memang adalah term yang digunakan intern-intern gaduhku itu untuk menyebut pekerjaan non-penanganan kasus yang aku maupun dokter lain tugaskan atas izinku, pada mereka selama aku sibuk ujian dan tak bisa membimbing mereka. ‘Serabutan’ (kalau mau ikut istilah mereka) bisa macam-macam, dari mulai membantu di klinik, proyek tim resident lain, di apotek, bahkan bagian arsip RS ini. “Ya kan? Bisa lihat kan? Ternyata dr. Shin masih 26 tahun! Ya Tuhan…

Biarpun ternyata apa yang mereka bicarakan malah makin membuatku tidak bisa tidur lagi dan dipastikan akan mengamuk… Apa? Mereka ternyata membicarakan aku di belakang seperti ini?? Memang kenapa kalau aku baru 26 tahun, hah??

“Jinjja? Masa, sih? Berarti hanya lebih tua 4 tahun dari kita??”

GUBRAK! Tak kusangka si Park malah ikut tertarik. Ah, mereka berdua memang dasar sama saja… Ini masih mending nih, pasti dua intern priaku belum tahu, karena mulut mereka itu bahkan lebih parah dari wanitanya! Makanya harus segera kuajari dua anak ini sopan santun sebelum lebih banyak lagi intern-intern membicarakan resident-nya di belakang seperti ini!

Tapi belum sempat aku menyibak selimutku untuk memberitahu mereka aku sedari tadi disana, tiba-tiba pintu ruang ini sudah terbuka lebar begitu saja dengan keras.

“Mwoya?? dr. Shin masih 26 tahun? Jinjjaya?? Aahh, salah itu pasti, sebetulnya mau mengetik 36 itu…”

“Iya! 36 baru pas sama wajahnya, itu… HUAHAHAHA!”

“YA!!” mendengarnya, aku buru-buru meloncat dari ranjang bertingkat itu (tenang, aku yang di tingkat bawah kok) dan menghardik mereka, terutama dua pria yang baru datang, si Zhou dan Kim 1. Ibarat film Harry Potter, menjengkelkan dan ‘ember’-nya mereka itu sama seperti si kembar Fred dan George Weasley!! Mengesalkan sekali!

Mereka seketika langsung menoleh, dan secepat mungkin suasana langsung diam dibuatnya. Wajah-wajah kaget segera memenuhi ruangan melihat aku ternyata mendengar semuanya dari tadi. Para wanita yang tadi mengobrol sambil duduk di pinggir tempat tidur pun cepat-cepat berdiri dan ikut menunduk seperti kedua rekan pria mereka, tidak berani memandangku yang sedang murka. Ya, aku murka, MURKA!! Untung tadi yang sedang beristirahat disana hanya aku, jadi aku bebas memarahi intern-intern yang mulai kurang ajar ini.

“Intern dr. Son, silakan keluar.” Aku dengan dingin berkata pada seorang gadis berambut hitam bob di sebelah Park. Ia cepat-cepat memberi isyarat anggukan seraya menggenggam tangan temannya itu dan meninggalkan ruang ini.

Sepeninggalnya, aku segera beralih pada empat pemuda-pemudi berpakaian seragam medis RS kami yang berwarna biru tua itu, “Dan kalian! Aku tidak akan bicara apa-apa lagi karena kalian pasti sudah mengerti kesalahan kalian sendiri. Magang kalian semua digagalkan, nilai F dariku tanpa kecuali!!”

“Dok, Dok, Dok, maaf Dok…” Dengan segera Zhou, intern asal Cina-ku berlutut seraya memegangi celanaku, memohon ampun atas kesalahannya. Aku mengacuhkannya.

“Kami mengaku salah, Dok, kami salah…” Kini Kim 1 sang partner-in-crime turut memohon-mohon di bawah kakiku juga. Aku makin mendiamkan mereka, tahulah, keputusanku selalu final, dan dengan cepat dan BRAKK! membanting pintu, aku pun pergi dari ruangan itu begitu saja.

Dan… Bruk! Masih bisa kudengar suara yang bersumber dari Kim 2 yang segera jatuh bertumpu lututnya. Ia terlihat sangat shock sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan hal yang sama juga terjadi pada Park yang hanya diam namun pandangannya seketika kosong dengan mata membulat, tak percaya pada apa yang sudah terjadi pada masa depannya.

 

 

“Dokter! Dok, dr. Shin!”

Aku segera menoleh begitu mendengar panggilan itu, dan tak lama langsung mengerutkan kening juga begitu melihat sumbernya. Direktur RS-ku sendiri, dr. Hwan. Ada kasus apa sampai dia sendiri yang harus memanggilku sampai berlari-lari begitu?

“Ya, Dok…?” Responku.

“Saya dengar Anda baru saja menggagalkan seluruh magang intern Anda? Betulkah?”

Aku sukses makin mengernyit. Belum ada satu jam berita itu bahkan sudah sampai ke orang tertinggi RS ini! Tapi aku hanya mengangkat bahu dan menjawab santai, “Bisa dibilang begitu.”

Ia cepat-cepat menunduk pasrah sebelum memegang kedua bahuku orang, dan menatapku lekat-lekat. “Dokter… Bukankah saya sudah bilang jangan selalu langsung menggagalkan magang anak… Apalagi ini bukan hanya satu-dua seperti dulu, tapi semuanya! SEMUA, Dok! Setidaknya tempatkanlah Anda di posisi mereka, susah payah magang ini mereka dapatkan…”

“Masalahnya masa magang saya berjalan mulus-mulus saja, Dok. Karena saya serius, tidak seperti mereka. Jadi maaf, saya tidak bisa jika disuruh menempatkan diri di posisi mereka begitu.” Jawabku angkuh.

dr. Hwan menundukkan kepalanya lagi, makin stres sepertinya. “Geuraedo… (Biarpun begitu…) Ah, sudahlah. Donghee,” ia kini memanggilku dengan nama kecilku. Aku cukup terkejut dibuatnya, apa dia bermaksud meyakinkanku secara personal kini? Hanya demi intern-intern itu…?? “…aku tahu bahkan jabatanku sebagai Kepala RS tidak akan bisa mengintervensimu dalam keputusan ini, karena tentu resident punya hak penuh atas internnya. Tapi tolong, untuk yang satu ini, pandanglah aku sebagai mantan resident-mu, Shin Donghee. Aku pernah ada di posisimu, dan kamu pernah berada di posisi mereka. Untuk yang satu ini, bertenggang rasalah sedikit. Untukku.”

Dan kata-kata serta kesungguhannya itu pun seketika membawaku ke masa-masa internshipku yang dulu lagi dengan dokter ini sebagai pembimbingnya. dr. Hwan Junghwan, sejak awal aku mengenalnya, memang adalah satu-satunya orang yang betul-betul kurasakan rasa cinta dan pengabdiannya pada RS ini. Dia dokter yang hebat, bahkan sejak masih menjadi resident (yang masa baginya berakhir di angkatanku sekitar 4 tahun lalu) sebelum akhirnya kokoh sebagai dokter spesialis mata disini. Darinyalah aku belajar tentang loyalitas, kesetian pada almamater kami Universitas Korea. Darinya yang juga selalu menolak tawaran berbagai RS lain untuk berpindah pada mereka jualah, aku mendapatkan keyakinanku untuk tetap berada RS ini. Bahkan jika mungkin aku ditanya siapa yang akan berada di garis depan bila nantinya RS ini akan digusur atau gulung tikar? Tidak hanya sekedar menjawab, aku bahkan berani bertaruh bahwa ia pasti akan merelakan harta pribadinya untuk melindungi RS ini. Maka jika kini ia menjadi Direktur RS, itu amat sangat pantas baginya.

Namun kini, di atas sebegitu besar cintanya, dokter panutanku, pada RS ini, aku tega coba-coba membuat onar dengan mencoreng nama RS ini sebagai RS pendidik yang gagal, bahkan setelah ia memperingatiku sebelumnya?

Kutatap wajahnya yang sudah menua itu sebelum akhirnya mengangguk pelan, “Baiklah, Dok. Tapi saya tetap akan memberi hukuman pada mereka.”

Maka, tanpa perlu menunggu-nunggu lama lagi pun keempat internku kini sudah lengkap berkumpul di dalam kantor dr. Hwan dengan semua wajah tertunduk seraya berdiri berjajar, bahkan tidak berani menatapku yang sudah menikmati tehku di atas sofa.

“Duduklah.” Suruh dr. Hwan pada mereka. Aku hanya melirik sekilas seraya tertawa sinis melihat mereka yang sikut-sikutan hanya demi memaksa seseorang duduk di sofa yang sama denganku. Yah, biarpun akhirnya semua berhenti dengan sepakat duduk bersempit-sempit di sofa yang satunya, sih.

“Donghee, bicaralah.” Kini suruhan dr. Hwan mengarah padaku. Aku mengangguk seraya menurunkan sebelah kakiku yang barusan kusilangkan satu sama lain sebelum meletakkan cangkir tehku di atas meja.

“Kalian harus berterimakasih pada dr. Hwan karena telah menyelamatkan kalian dari masa depan suram.” Mulaiku. Satu per satu wajah-wajah mereka pun terangkat, masih tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Aku mengangkat bahu, “Well, it suddenly turns that I canceled my decision to fail you all.”

Mata mereka sekarang langsung terlihat hidup mendengarnya, “J-jeongmalyo, Dok?? Kami–”

“Kim 2, bidang kedokteran apa yang paling tidak kau sukai?” Potongku segera, sudah berganti topik saja. Yang ditanya segera mengangkat wajahnya bingung seraya menunjuk dirinya sendiri seperti berkata, “Saya, Dok?”

Tapi ia akhirnya menjawab ragu, “Fo… rensik. Saya seorang penakut, Dok.”

Aku mengangguk-angguk. Forensik memang cukup sering dijauhi banyak calon dokter. Padahal kalau saja mereka tahu, pekerjaan forensik sangatlah menantang dan bergengsi sekali. “Dan kau, Zhou?”

Pria Cina itu menelan ludahnya sebentar, “Eng… sepertinya sama seperti Dal-i, Dok… Forensik.”

Betul kan perkataanku? Setengah dari internku bahkan memilih bidang ini untuk dibenci.

“Kim 1?” Aku kini beralih pada seorang pria cantik yang duduk paling kiri di hadapanku.

Ia menjawab, “Saya… Obstetri dan Ginekologi. Saya merasa canggung kalau harus menangani masalah kandungan dan sebagainya, Dok.”

“Baiklah. Kim 2 dan Zhou, segera temui dr. Gong di bagian forensik untuk detensi selama dua minggu. Dan kalian Kim 1 dan Park, segera ke bagian Kandungan di gedung sebelah dan bertemu dr. Mi. Sekian.”

“NE??” Terlihat Kim 2 langsung terlihat stres karenanya, sementara di sebelahnya duo Fred dan George kita sedang menepuk dahi masing-masing. Merasa kacau.

“Tapi Dok, Dok–”

“Hm?” Aku kembali berbalik begitu mendengar panggilan itu setelah sebelumnya bahkan sudah bangkit dan siap keluar dari ruangan begitu saja, seperti biasa. Kutatap si sumber suara, intern imut itu, Park.

“Kenapa… saya tidak ditanya, Dok?”

Aku nyaris tertawa mendengarnya. Tidak, bukan aku lupa belum menanyainya, hanya… “Bagiku tidak perlu. Aku yakin tak ada bagian dari kedokteran yang tidak kau sukai.” sama sepertiku, lanjutku dalam hati. “Oke, kalau tidak ada pertanyaan lagi. Sampaikan salamku pada dokter-dokter ‘pembimbing baru kalian’.”

Dengan itu, aku pun pergi. Meninggalkan mereka yang satu per satu makin terlihat merasa menyesal sudah tanpa curiga menjawab pertanyaanku dengan jujur begitu saja…

 

***

 

“dr. Shin, ada ibu Anda di lobby.” Seorang resepsionis segera memanggilku begitu ia melihatku melewati meja informasi. Aku menoleh dan segera mengangguk, yang segera dibalas senyumnya. “Selamat Hari Keluarga, Dok.”

Aku menyusuri lorong RS yang seluruh interiornya berwarna putih ini dengan langkah cepat, tak ingin membiarkan ibuku menunggu lama. Ya, seperti yang dibilang resepsionis tadi, hari ini memang adalah Hari Keluarga bagi RS ini. Di hari ini, setiap staf boleh mengundang keluarga mereka untuk datang ke RS melihat-lihat tempat kerjanya. Setiap tahun ada saja para orangtua atau mungkin istri dan anak para staf yang merelakan diri datang jauh-jauh dari luar kota hanya untuk hari ini. Dan yang itu, termasuk ibuku kali ini. Selama ini selama 4 tahun, berhubung setelah kedua orangtuaku bercerai aku tinggal dengan ayah, memang selalu ayahkulah yang datang saat Hari Keluarga tiba. Namun kali ini mereka sepertinya sudah berbincang sehingga akhirnya sepakat untuk tahun ini giliran ibuku yang menemui putra sulungnya.

Dan tentang pekerjaan resident-ku, tak terasa sudah seminggu ini aku merasa beban di pundakku meringan sejak memberi detensi 4 bocah itu ke bagian-bagian yang mereka benci. Namun bukan berarti aku sepenuhnya lepas tanggung jawab, karena kutugaskan mereka untuk tiap 3 hari sekali menyerahkan review tentang hal baru yang mereka pelajari, merekapun juga masih boleh mengirim pesan pager padaku jika butuh bantuan. Dan untunglah dari obrolanku dengan dokter-dokter ‘pembimbing baru’ mereka, selama ini mereka belum pernah mengacau. Baguslah kalau memang mereka sudah betul-betul sadar dan mengoreksi kesalahan mereka dulu.

“Eomma.” Kusapa ibuku yang masih terlihat bugar itu dengan pelukan begitu melihatnya. Ia tersenyum seraya mengelus-elus rambutku. Aku pun segera mengambil alih semua bawaannya (yang sepertinya makan siang) dan segera mengajaknya mengelilingi RS ini, sebagai acara pembuka kunjungannya di tempat kerjaku.

“RS ini sangat bagus, Donghee-ya. Jika eomma sakit nanti, bolehkah eomma dirawat olehmu disini?” Tanyanya ketika kami sudah duduk bersama di atas rumput halaman luas di samping RS ini.

Aku menoleh seraya menggeleng, “Tidak boleh.” Jawabku tegas. Eomma-ku mengerutkan keningnya, maka aku segera melanjutkan, “Karena eomma harus selalu sehat.” Senyumku.

Beliau segera ikut tersenyum mendengarnya seraya kembali menyuruh-nyuruhku untuk makan banyak, memakan seluruh bawaannya. Aku mengangguk sambil kembali mencapit telur gulung favoritku. Selama memakannya, kutatap gelaran tikar-tikar keluarga staf lain yang juga menghabiskan makan siang mereka disini. Para anak berlarian, bahkan ada yang membawa layangan ataupun mainan lainnya dan bermain disini. Aku tersenyum menatap mereka. Ya, salah satu tujuan diadakannya hari spesial ini oleh RS-ku adalah untuk menyegarkan kembali pikiran para stafnya yang selalu kusut dengan segala carut-marut kehidupan RS yang tak pernah tenang ini, dengan berkumpul bersama keluarga. Dan itu memang berhasil, karena melihat ini semua, bahkan akupun yang belum memiliki keluarga sendiri bisa kembali segar pasca melihat bocah-bocah tanpa dosa itu.

Tapi ternyata ibuku menyadari pandanganku yang sedari tadi begitu bahagia melihat pemandangan riang anak-anak para staf lain, “Kamu pun, sudah saatnya menikah, Donghee-ya. Punya anak sendiri pasti akan lebih menyenangkan daripada hanya melihat anak orang lain.”

Aku cepat-cepat menoleh sambil mengibas-ngibaskan tanganku cepat, “Ani, aniya. Eomma ngomong apa, sih? Aku masih ingin fokus dengan pekerjaanku, kok.”

Beliau tersenyum hangat, “Setelah menikah pun kamu masih bisa terus bekerja, Donghee-ya…”

“Ya tapi–”

“Sudahlah.” Potongnya. “Setidaknya kalaupun kamu belum ingin menikah, mulailah melirik seorang wanita, Anakku… Sekarang eomma tanya, apa ada wanita yang akhir-akhir ini sedang menarik perhatianmu?”

Aku langsung bengong mendengar pertanyaan eommaku itu. Dan entah kenapa… tiba-tiba saja di kepalaku terlintas bayangan intern cerdas itu… Park. Ini, apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba dia yang muncul?? Memang sih sudah sejak awal kan aku bilang kalau dia imut, mungil, kritis pula, yang setelah kupikir-pikir memang betul-betul tipeku sekali. Eh tapi… andwae, andwae, andwae! Maka aku pun buru-buru menggeleng kencang, mencoba menghilangkan bayangannya yang mulai memenuhi kepalaku. TIDAAAK! Aku mohon jangan internku sendiri!

“Kenapa kamu?” Melihatku bertingkah aneh, eommaku pun segera merespon.

Aku cepat-cepat menggeleng lagi, kali ini untuk menyatakan bahwa aku baik-baik saja ketika PIP! tiba-tiba pagerku berbunyi.

 

ER kosong. Saya dapat pasien, Dok. Persalinan.

 

Pesan dari Kim 1 yang sudah seminggu ini memang menjalani hukumannya di bagian Kandungan segera membuatku cepat-cepat berdiri setelah sebelumnya tak lupa mencium pipi eommaku dengan kilat, “Eomma, maaf, aku tiba-tiba ada pekerjaan. Nanti akan kusuruh salah satu perawat menemani eomma sampai halte ya. Maaf sudah menyusahkan eomma begini, aku–”

“Gwaenchana.” Potong ibuku pelan seraya tersenyum. “Itulah tugasmu sebagai dokter, Nak. Justru eomma bangga banyak orang menggunakan jasamu. Eomma tidak apa-apa, tidak perlu diantar sampai halte.”

Aku menatapnya lekat-lekat, “Betulkah?”

Beliau mengangguk, “Betul, Sayang. Sudah sana pergi, keburu pasienmu gawat kalau disuruh menunggu lama.”

Dibilang begitu, aku segera memeluknya penuh terima kasih untuk terakhir kali sebelum cepat-cepat berlari menuju unit gawat darurat atau ER (emergency room) yang dikatakan internku tadi.

“Dok!” Sambutnya segera begitu aku datang. Dan benar saja… hanya ada segelintir staf medis di ER sebesar ini. Aku berani bertaruh kebanyakan pasti masih sibuk bercengkrama dengan keluarga mereka dan mematikan pager. Aduh… memang ada saja keburukan dibalik suatu kebijakan sebuah institusi.

Aku menatap wanita cantik dengan perut buncit yang terlihat menahan kesakitan didampingi seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai suaminya itu sebelum menerima berkas-berkasnya yang tergopoh-gopoh dibawakan Kim 1. Melihat internku yang terengah-engah itu, aku jamin sebelum ia mendapatkan pasien ini, ia pasti sudah disuruh membantu kesana kemari oleh dokter lain maupun perawat yang sedang menangani ER ini saking tak adanya orang. Karena setelah melihat berkasnya, pasien bersalin ini memang adalah pasien yang memang rutin mengonsultasikan kehamilannya disini jadi internku bisa berdalih ia sebagai (untuk sementara ini) bagian dari Spesialis Kandungan harus menanganinya dengan segera.

“Sudah memesan kamar rawat sebelumnya? Ya sudah segera dipindah kesana saja. Kemana dr. Oh?” Tanyaku menyebut nama dokter yang kulihat di berkas tadi sebagai dokter yang selalu menangani si pasien sejak kehamilan.

“Sedang menangani persalinan lain, Dok. Tadi saya sudah menghubungi beliau dan beliau minta bantuan Anda untuk persiapan selama ia menyelesaikan pasien tersebut.”

“Ya sudah, cepat minta perawat menyiapkan pakaian rawat dan segala kebutuhannya saja.” Instruksiku yang segera dijawab anggukan oleh Kim 1 sebelum ia pergi untuk melaksanakan semuanya. Aku pun mengiringi selama ranjang si pasien didorong oleh Kim 1, perawat, dan sang suami. Dan disaat itu aku baru sadar… kemana internku satu lagi yang ditugaskan di bagian Kandungan juga, hah?

“Baiklah, sebentar lagi Lee-ssi akan segera menjalani persalinan. dr. Oh sedang menuju kemari untuk menangani Anda, sementara itu saya diminta bertanya apakah ayahnya nanti akan ikut masuk ke ruang bersalin? Karena sebaiknya sang ibu diberi dukungan langsung dari suaminya selama menjalani proses.” Jelasku begitu pasien ini sudah selesai mengganti bajunya dibantu para perawat. Ia kini terbaring lemah dengan suaminya membantu mengelap keringat yang terus muncul akibat cukup lama menahan rasa mulas yang pastinya sedang dialaminya itu. Oh ya, melihat pasangan ini lagi… aku baru ingat kalau tadi aku sempat melihat keanehan dari mereka. Entah kenapa ketika para perawat akan menggantikan baju pasien, sang suami pun ikut keluar bersamaku dan Kim 1. Padahal biasanya juga para suami tetap akan di dalam, toh mereka juga ‘sudah melihat semuanya’, bukan? Itu baru satu. Dan sekarang aku melihat pasien yang usianya terlihat lebih tua dari suaminya ini sejak tadi membuang muka selama sang suami dengan sabar mengelapi keringatnya. Ada apa kira-kira dengan mereka? Apa sedang bertengkar…?

“Nanti–”

Sang suami sudah akan menjawab tanyaku ketika tiba-tiba pasien ini memotongnya, “Dia bukan suamiku, dan aku tidak akan melahirkan bayi ini sebelum suamiku datang-AH!”

Aku segera memeriksa keadaannya, dan ketubannya ternyata baru saja pecah. Terlihat air itu mulai merembes membasahi seprainya yang ditidurinya. Tapi… tunggu. Tadi apa yang dia bilang? Pria ini bukan suaminya… dan dia tak mau melahirkan?

Aku yang memang satu-satunya staf medis yang masih berada di kamar VIP itu karena Kim 1 dan perawat lain sedang keluar masih sibuk memproses kata-kata pasien tadi. Dan begitu sadar… apalagi setelah mendapat penjelasan tentang siapa suami pasien ini sebenarnya, aku yakin wajahku pasti sudah bengong, shock tak karuan dibuatnya

 

 

“Kim 1, cepat hubungi teman-temanmu, tanya siapa yang mengambil mata kuliah tambahan Psikologi waktu kuliah dulu, dan suruh kemari, cepat!” Aku buru-buru menginstruksikan Kim 1 yang baru kembali dari persiapan ruang bersalin dibantu perawat lain.

Ia langsung menjawabku dengan tatapan bingung. “Ada apa, Dok? Kalau Psikologi sih tak usah jauh-jauh, Yora mengambil semua mata kuliah tambahan yang ada di kampus dulu, nilainya juga selalu bagus–”

“Kalau begitu panggil dia sekarang, cepat! Dimana sih dia dari tadi??” Potongku galak (dan kalang kabut). Iyalah, karir keartisan seseorang sedang berada di tanganku sekarang, dan di saat aku sedang membutuhkan seorang psikiater untuk membujuk pasien ini agar mau melahirkan bayinya sebelum air ketuban itu habis dan membahayakan baik ibu dan sang bayi, satu-satunya psikiater RS ini sedang mengambil cuti melahirkan pula! Apalagi ternyata dr. Oh pun tidak pernah tahu kenyataan ini sebelumnya selama ini, bagaimana aku tidak stres dibuatnya??

“Tadi kan ayahnya datang untuk Hari Keluarga, Dok… dr. Park Gildong, cardiologist top itu lho—“

“Jae, ternyata kamu disini? Oh, ada dr. Shin juga. Annyeo–uwaaa!!” Park yang sudah datang begitu saja secara kebetulan buru-buru berseru ketika aku tiba-tiba menariknya begitu saja menjauhi Kim 1.

“Kim 1, tahan dulu dr. Oh, bilang aku butuh 10 menit untuk menyiapkan mental pasien ini.” Aku menginstruksikannya seraya masih menyeret Park yang masih bertanya-tanya untuk apa aku menarik-nariknya seperti itu. Aku akhirnya baru melepasnya di ujung lorong deretan kamar pasien dengan stres yang siap meledak. “Disini. YA! Kemana saja kau?? Mana pagermu? Lupa kalau resident dilarang keras mematikan pager mereka hah? Mau kutambah hukumanmu??”

“Ah, pager?” Tanyanya takut-takut seraya merogoh jas dokternya. “Omo! Maaf Dok, maaf, ternyata baterainya habis–”

“Aaargh, sudah lupakan dulu itu! Lihat kamar yang tadi? Lee Sojin, 35, hamil 38-39 minggu, dilatasi serviks2 9 cm, pecah ketuban sekitar 15 menit yang lalu, tapi bersikeras tidak mau melahirkan sebelum suaminya datang. Sementara suaminya…” Gantungku seraya melanjutkannya dengan berbisik di telinganya.

“EHHH??” Teriaknya segera begitu aku selesai bicara. “Yakin, Dok? Han Geng yang itu? Penyanyi terkenal itu?? Tapi dia single!” Serunya dengan bisikan juga sekarang. “…dan 35 tahun? Wanita itu jauh sekali lebih tua darinya…” Tambahnya, lebih untuk dirinya sendiri.

Aku mengangguk, “Itulah kenapa suaminya tidak bisa datang kemari. Bisa terjadi kehebohan besar.” Jelasku seraya menarik kembali tangannya menuju ke depan kamar pasien kami, dan membuka pintunya sedikit untuk mengintip. “Lihat, di sebelahnya itu adalah manager Han Geng. Tak ada yang tahu tentang pernikahannya dengan pasien ini kecuali manager itu, dan sekarang, kita.”

“Kita?” Park mengulang perkataanku sebelum akhirnya kembali memasang tampang shock yang sangat telat. “Kita?? Maksudnya… kita?? Kita berdua saja, Dok?? Ya ampun, kenapa Dokter harus kasih tahu saya, sih… Padahal saya sebelumnya cukup mengidolakan dia, lho…” Protesnya dengan wajah yang langsung tertekuk, kecewa tahu idolanya bahkan sudah menikah dan nyaris punya anak pula. Dasar, seperti fans ABG saja.

“Sudah, jangan banyak ribut! Sekarang aku hanya butuh Ilmu Psikologi-mu. Kau tahu kan kalau psikiater RS kita sedang ambil cuti melahirkan? Dan Kim 1 bilang kau menyelesaikan mata kuliah tambahan Psikologi dengan nilai bagus, karena itu cepat sana masuk, bujuk dia untuk segera bersalin dengan ilmu yang kau punya. Hus, hus.” Usirku seraya mendorong punggungnya paksa memasuki kamar rawat pasien itu.

Dengan ragu (dan jelas sekali terpaksa), internku pun berjalan menuju ke arah ranjang Queen size pasien kami dan duduk di pinggirnya, dengan tentu tidak terlalu dekat demi tetap menjaga privasi pasien yang notabene belum mengenalnya sama sekali. Aku tetap mengintip dari balik pintu, dan di dalam ia terlihat sedang meminta pria yang tadi mengaku sebagai suami pasien itu untuk meninggalkannya sebentar berdua saja dengan si pasien. Pria itu mengangguk paham dan akupun cepat-cepat berpindah tempat supaya tidak ketahuan sedari tadi sedang mengintip.

 

Di dalam kamar,

Yora bolak-balik menarik dan menghela napasnya demi menenangkan diri sebelum memutuskan untuk tersenyum seramah mungkin pada pasiennya. Wanita ini cantik sekali, pikirnya dalam hati. Ah ya sudahlah, sepertinya dia memang ditakdirkan untuk merelakan idolanya itu sudah menikah T.T “Lee Sojin-ssi?” Sapanya lembut. Tapi sang pasien malah makin membuang mukanya. Yora tersenyum, sepertinya dia sudah bisa mengira-ngira apa yang terjadi dengannya. Maka ia kembali berkata, “Sojin-ssi, apa… Anda tidak merasa sakit?”

“Tidak, aku tidak peduli. Pergi saja sana, aku hanya butuh suamiku sekarang, kalau tidak, sampai kapanpun aku tidak akan melahirkan bayi ini. Aku tahu kalau selama ini semua orang memang selalu hanya peduli pada bayiku dan tidak sama sekali padaku.” Jawabnya tegas. Tuh kan, Yora langsung berpikir, Baby-Blues.

Maka mencoba tetap tersenyum (sambil tetap memutar otak, mengingat-ingat semua isi mata kuliah Psikologi-nya), Yora pun meraih tangan Sojin, “Bukan, kok. Saya sama sekali tak peduli dengan bayi Anda, malah. Toh, bayi itu adalah anak Anda, hanya Anda-lah yang punya hak penuh disini untuk melahirkannya atau tidak.” Selanya cepat. “Yang sedari tadi saya khawatirkan itu Anda, makanya pertanyaan pertama saya untuk Anda adalah apakah Anda merasa sakit atau tidak, bukan?”

“Pasti Dokter menganggapku ibu yang sangat egois.”

“Tidak kok, sama sekali tidak. Di dalam RS ini sama sekali tidak ada hak bagi kami, para dokter, untuk bisa men-judge pasien begitu saja, sungguh. Saya sama sekali tidak punya hak untuk itu. Sekali lagi, semua adalah keputusan Anda baik untuk melahirkan bayi ini atau tidak. Hanya saja, jika nanti Anda memutuskan untuk melahirkannya–yang sama sekali bukan maksud saya untuk memintanya, ya–tapi, jika Anda benar-benar akan… melahirkannya, itu bukanlah hanya demi sang bayi. Itu demi suami Anda, demi Anda juga… kan? Pikirkanlah, betapa bahagianya Anda berdua saat mengetahui kehamilan ini…”

Dan perlahan-lahan, Sojin pun mulai menangis, mengingat semua suka dan duka yang ia alami selama jadi ‘istri rahasia’ seorang bintang besar seperti Han Geng. Selama ini ternyata ia memang hanya selalu merasakan dukanya: dibilang hamil diluar nikah oleh keluarganya karena tak sanggup mengatakan siapa suaminya, menahan perasaan tiap kali melihat tingkah para fans sang suami, merelakan diri untuk tidak pernah diakui selama dua tahun pernikahan ini, mati-matian menyembunyikan diri… Ia sama sekali tidak pernah sadar kalau masih banyak juga kebahagiaan baginya selama hidup dengan seorang Han Geng. Perlakuannya yang selalu memujanya layaknya ia satu-satunya wanita di dunia ini, perhatiannya yang tak pernah putus bahkan di tengah kesibukannya, dan ekspresi kesenangannya saat ia pertama menyampaikan kehamilan ini… Ternyata semua duka itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang ia terima… Kenapa ia bodoh sekali?

Yora pun kini sudah merengkuh sang pasien dalam pelukannya, mencoba menenangkannya. Dielus-elusnya rambut halus Sojin yang terus terisak-isak dengan sabar, “Selama ini, bukan berarti semua orang hanya peduli pada bayi Anda, hanya saja mereka tahu, bahwa kebahagiaan Anda, kebahagiaan suami Anda, semuanya ada pada makhluk kecil di dalam perut buncit ini,” senyum Yora seraya menyentuh perut besar pasiennya. Lee Sojin ikut tersenyum. “…ya, kan?”

Pasien itu mengangguk, tersenyum lemah. “Tolong katakan pada mereka bahwa aku akan melahirkan bayi ini, dan tolong, bisakah Dokter sampaikan juga pada suamiku kalau ia tak perlu datang? Aku sepenuhnya mengerti dengan pekerjaannya, dan umm…” Ia melihat sekilas nametag di jas dokter Yora. “…dr. Park, apakah Anda seorang ibu? Karena biarpun Dokter masih terlihat sangat muda, Anda seperti sangat mengerti perasaan seorang ibu…”

Yora yang sudah melepas pelukannya untuk pasien itu hanya bisa tertawa kecil, mengingat bahwa ia bahkan belum menikah tapi sudah ditebak sebagai seorang ibu?? Tapi mendengarnya Yora juga langsung jadi teringat pada sang tunangan, Choi Siwon. Yah, semoga saja mereka memang betul-betul akan menyusul pasangan bahagia ini. “Doakan saja.” Maka hanya itulah yang bisa Yora katakan pada sang pasien…

 

Ruang bersalin

“Sojin-ssi, himnaeseyo. Ne? (Sojin-ssi, berjuanglah. Ya?)” Bisik Yora seraya tersenyum begitu proses persalinan akan dimulai. Sojin yang sudah penuh peluh akibat menahan sakit kontraksi yang begitu menjadi hanya bisa mengangguk lemah. Tapi dalam hati Yora, ia sungguh salut pada wanita satu ini. Di usianya yang sudah rawan untuk hamil dan bahkan melahirkan ia masih bersikeras untuk melahirkan normal. Dan yang lebih hebat lagi, sejak tadi ia bahkan sama sekali tidak mendengar keluhan sakit dari wanita ini! Semua hanya ditahannya sendirian, dan bahkan tanpa kehadiran sang suami asli di sampingnya…

“Kami suntikkan pereda nyeri dulu ya, Lee-ssi. Yora, epidural berjalan3-nya, tolong.” Kata dr. Oh si spesialis kandungan yang menangani Sojin. Yora mengangguk seraya menghela napasnya. Biarpun sudah berkali-kali percobaan ‘epidural berjalan’ ini bersama dr. Mi, kepala bagian Kandungan yang membimbingnya, tapi tetap saja ini yang pertama kalinya ia betul-betul membantu persalinan sebenarnya! Ah, tapi ia harus bisa, katanya mau jadi ahli bedah syaraf? Ini bahkan masih perkara manipulasi syaraf yang kecil. Bisa Yora, bisa!

Maka dengan hati-hati dan dibawah pengawasan dr. Oh juga, Yora menyuntikkan semacam infus ke punggung bagian bawah Sojin. Agak lama di awal saking gugupnya, tapi dr. Oh segera membantunya mempercepat itu agar persalinan cepat dimulai dan tidak semakin menyiksa si pasien dan bayinya.

“Lee-ssi, ketika saya bilang mengejan, tolong mengejan sekuat-kuatnya. Jangan lupa mengatur napas. Kita sudah biasa berlatih, kan?” Dokter wanita itu berkata lugas namun tetap tidak melupakan senyumnya agar lebih membuat pasien rileks. Yora dan Jaejoong yang menyaksikan itu semua hanya bisa menahan rasa takjub melihat proses kelahiran satu individu lagi ke dunia itu. Persalinan normal pula… betul-betul kuasa Tuhan sangat besar dalam perjuangan hidup-mati seorang ibu ini.

“OWEEE, OWEE~” akhirnya, setelah sekitar setengah jam berjuang, tangis kuat bayi laki-laki pun terdengar memenuhi ruang. Semua orang terlihat menghela napas kelegaan. Seorang perawat yang menggendong bayi yang masih diselimuti darah, lendir, dan verniks (lemak pelindung janin dalam rahim) itu cepat-cepat membawa sang bayi merah untuk disorongkan ke dada sang ibu sebagai bentuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Tindakan ini berguna untuk memperoleh kolostrum atau antibodi alami yang hanya terdapat dalam ASI ibu tidak lama setelah kelahiran. Sementara Yora sudah langsung bertekad untuk juga akan melahirkan normal jika akan punya anak nanti begitu melihat itu semua (apalagi ketika IMD saat secara naluriah sang bayi mencari-cari sendiri puting susu ibunya, itu sweet sekali ><), suara dr. Oh tiba-tiba memanggil Jaejoong yang berada bersisian dengan Yora agak jauh dari ranjang bersalin demi membiarkan dr. Oh dan perawat lain leluasa bekerja tadi.

“Saya, Dok?” Tanya Jaejoong seraya menunjuk dirinya sendiri.

dr. Oh mengangguk, “Ya, ayo bantu aku untuk kelahiran plasenta.”

Mendengarnya, Jaejoong langsung menunjukkan wajah enggan seraya mendorong-dorong Yora untuk menggantikannya, “Yora… Kamu tahu kan aku nggak suka segala sesuatu tentang kandungan begini, apalagi ikutan membantu betul-betul kelahiran… Aku nggak sanggup melihat ‘onderdil’ istri orang, please please, gantikan aku…” Katanya memohon-mohon.

Yora menggeleng seraya menjulurkan lidahnya, “Belajar, ah! Nanti aku bilangin dr. Shin, nih ya…” Tegurnya sambil cekikikan membayangkan seorang Jaejoong yang memang benci sekali dengan bidang ini tiba-tiba membantu ibu-ibu melahirkan. Dan di saat itu panggilan dari dr. Oh pun kembali terdengar, yang mau tak mau akhirnya membuat Jaejoong menyeret langkahnya juga ke ranjang bersalin…

“Yora, bantu para perawat memandikan bayi.” Instruksi dr. Oh pada Yora. Gadis itu cepat-cepat mengangguk dengan riang seraya masih cekikikan begitu melewati Jaejoong yang terlihat sangat enggan memegang sisa tali pusat bayi tadi yang masih berhubungan dengan plasenta dalam tubuh sang ibu. Dan lagi-lagi terdengar suara dr. Oh memarahinya… “Jaejoong, aku bilang tarik lembut tali pusatnya sambil menekan perut bawah sang ibu… Lakukan dengan serius!”

“Ampun, Dokter~ T.T”

 

Di luar ruang bersalin,

“OWEEE, OWEE~” begitu mendengar suara itu, sontak aku yang memang baru saja datang kembali ke bagian kandungan ini untuk memantau pasien intern-internku setelah membantu di klinik sebentar tadi, langsung bangkit dari kursi berbarengan dengan pria yang mengaku manager Han Geng tadi. Kami berdua segera saling menatap, sebelum akhirnya sama-sama sadar dan segera mengucap syukur serta bersorak sorai.

“Selamat, Pak.” Kataku padanya. Ia mengangguk-angguk dengan wajah bahagia. Biarpun hanya manager bagi suami dari pasien ini, sepertinya aku bisa melihat kalau ia tentu juga sama bahagianya dengan kelahiran bayi mungil itu.

Setelah menunggu sekitar 15 menit sejak terdengarnya tangisan pertama bayi tadi, akhirnya yang dinanti-nanti keluar juga. Bayi ini yang dibalut selimut birunya, dalam gendongan nyaman internku, Park. Ia terlihat begitu hati-hati menggendong bayi merah ini seraya mendekati kami untuk memperlihatkannya. “Selamat, Pak. Bayinya laki-laki.” Jelasnya dengan senyum bahagia seolah-olah ia yang habis berhasil melahirkan bayi itu saja.

Tapi entah kenapa, aku tersenyum melihatnya. Sifat feminin yang selama ini memang selalu ditunjukkannya, sifat dewasa yang kusaksikan saat aku melihat dan mendengar semua yang dikatakannya saat membujuk pasien ini tadi, dan kini sifat keibuannya yang menggendong penuh sayang bayi ini, semua tiba-tiba seperti mengalir di dalam kepalaku. Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba cara pandangku terhadapnya menjadi tak sama lagi seperti biasanya? Kini ia terlihat… berkilauan.

Tapi aku buru-buru menggeleng cepat demi menghapus semua pikiran itu lagi. Tidak. Ini semua pasti karena ucapan eomma tadi. Tidak, tidak. Tidak dengannya, dia masih terlalu muda, sugestiku pada diri sendiri.

Melihatku yang mulai bertingkah aneh, dengan masih menggendong sang bayi mungil yang tertidur, internku bertanya heran, “Kenapa, Dok?”

Aku buru-buru sadar dari apa yang aku lakukan dan dengan segera menjawab lugas, “Tidak.” Jawabku, seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Rasanya tadi ada satu orang lagi disini… “Kemana manager tadi?”

“Oh, dia bilang dia mau menghubungi Han Geng-ssi dulu. Oh ya, untuk kunjungan sore ke pasien ini, dr. Oh mau minta tolong Anda lagi untuk menggantikannya karena beliau ada urusan. Apa Dokter bisa?”

Aku mengangguk, “Ya. Ya sudah, kalau begitu aku akan kembali ke klinik dulu. Nanti tolong kau–ah, Kim 1 maksudku,” kataku langsung berubah pikiran, tidak ingin sama sekali berurusan dengannya berdua saja untuk sementara ini, bahkan hanya dalam perjalanan dari klinik ke gedung bagian Kandungan ini. “…suruh dia untuk menjemputku saja ketika tiba waktu kunjungan. Tapi masih tetap jangan bilang padanya tentang rahasia pasien ini, oke? Kita harus menjaga kepercayaan yang diberikan pasien ini dan manager tadi.”

Ia mengangguk mengerti. Dan akupun segera pergi dengan terus mensugesti diriku sendiri dalam hati, bahwa aku tidaklah tertarik dengan Park. Tidak-tertarik-sama-sekali. Tidak-tertarik-sama-sekali. Aku mohon agar aku jangan sampai tertarik terhadapnya…!

Namun kenapa begitu membuka-buka buku penilaian performa para internku, aku akhirnya memutuskan memotret foto Park yang ada di lembar penilaiannya dan mengirimkan foto itu melalui MMS pada eomma-ku?

 

Bagaimana menurut eomma tentang gadis ini? Namanya Park Yora.

 

SEND.

 

***

 

Seminggu kemudian,

 

Semua, menghadapku di perpustakaan sekarang juga.

 

Aku mengirim pesan pager itu pada keempat internku sebelum kembali membolak-balik sebuah ensiklopedi tubuh manusia yang memang sudah mulai kubaca di perpustakaan ini sejak pekerjaanku meringan pasca menghukum anak-anak tadi ke bagian-bagian RS yang paling mereka benci itu. Dan kini sudah genap dua minggu, sudah saatnya aku mengakhiri detensi mereka. Tak berapa lama, duo Kim 1 dan Park yang selama dua minggu ini menjalani hukuman mereka di bagian Kandungan pun segera muncul dengan terengah-engah seperti habis berlari. Mereka pasti takut aku memarahi mereka kalau telat, seperti biasanya.

Namun berbicara tentang telat, ternyata memang ada yang telat dalam formasi 4 internku ini. Duo forensik Kim 2 dan Zhou. Sudah sekitar setengah jam akhirnya aku, Park, dan Kim 1 menunggu mereka di perpustakaan ini. Berkali-kali kusuruh dua anak itu menghubungi teman mereka, namun tetap tak ada hasil. Kemarahanku rasanya sudah sampai puncak, ketika tiba-tiba intern Cina-ku datang dengan napas memburu hasil berlari juga.

“Dokter, maaf, maaf saya telat.” Katanya seraya membungkuk berkali-kali dengan napas masih terputus-putus.

Aku buru-buru bangkit dengan menggebrak meja pelan, masih ingat kalau ini di perpustakaan. “Kenapa lama sekali?? Dan mana partnermu?”

“Itulah, Dok… Bisakah… Anda ke bagian Forensik? Dal…”

 

 

Di bagian forensik,

“YA! Kim 2, apa yang kau lakukan? Kenapa tidak datang menghadapku!” Aku cepat-cepat mengomel begitu melihat gadis ramai ini masih begitu antusiasnya mengeksplorasi sebuah mayat yang sepertinya masih baru dengan didampingi kepala bagian forensik, dr. Gong, di sampingnya.

Ia segera menoleh begitu mendengar seruanku, “Ah, Dok! Mimi, kamu tadi akhirnya pergi sendiri, ya? Sayang sekali, tadi dr. Gong habis mengajari cara terbaru identifikasi waktu kematian, lho–”

“KIM 2…!!!”

“Itu Dok, yang saya maksud.” Kini Zhou yang angkat bicara seraya menghela napas lelah melihat partner ‘kelewat ceria’-nya itu. “Padahal ingat kan waktu awal dia benci sekali dengan forensik? Tapi lihat itu, sekarang dia malah jadi sangat menyukainya, dan absennya dia tadi itu hanya karena dia tidak mau meninggalkan mayat baru ini, padahal saya sudah memperingatinya…”

“Dok, dr. Shin! Apa saya boleh pindah ke bagian forensik saja? dr. Gong, apa Anda mau jadi resident lagi untuk saya? Dok, bolehkah? Bolehkah?” Kicau Kim 2 lagi. Aku menepuk dahi, stres tingkat tinggi, sementara ketiga internku yang lain langsung terbengong-bengong melihat perubahan 180 derajat teman mereka.

“Tidak! Cepat kembali, jangan menyusahkan dr. Gong lagi! Kim 1, Zhou, cepat tarik dia keluar!!” Perintahku sambil bergegas keluar lagi setelah tak lupa membungkuk penuh terima kasih dan maaf terlebih dulu pada dokter veteran RS kami itu.

Ahh, sepertinya satu lagi internku sudah menemukan bidang yang ingin ditekuninya saat menjadi dokter sesungguhnya nanti…

 

TBC

 

1disebut juga Postpartum Distress atau arti harfiahnya ‘perasaan terpuruk pasca melahirkan’. Seperti namanya, sindrom ini memang biasanya menyerang para ibu (terutama yang baru pertama memiliki anak) setelah melahirkan, yaitu di awal-awal pengalamannya sebagai ibu seorang bayi. Sang ibu akan mulai membenci bayinya sendiri dan akhirnya menolak mengurusnya. Penyebabnya bisa dari latar belakang masa lalu seperti anak itu adalah hasil perkosaan, emosi kejiwaan sang ibu sendiri yang memang mudah tertekan dengan beratnya mengurus seorang bayi, sampai lingkungan yang terlalu banyak mendiktenya tentang pengurusan bayi seperti “jangan ini, seharusnya begitu…”

Namun dalam cerita ini diceritakan pasien sudah mengalami tanda-tanda Baby-Blues Syndrome sebelum melahirkan yang untungnya cepat ditangani sehingga tidak berkelanjutan :)

2bahasa umumnya yaitu ‘bukaan’. Dilatasi serviks atau bukaan jalan lahir terjadi sampai sekitar 10 cm sebelum akhirnya sang ibu melahirkan. Pada kelahiran pertama, biasanya bukaan akan bertambah 1 cm setiap jamnya, dan akan semakin cepat pada kelahiran bayi-bayi berikutnya.

3jenis dari analgesi epidural. Analgesi epidural sendiri adalah salah satu cara meredakan nyeri dalam persalinan dengan memberi obat yang mempengaruhi saraf nyeri ke ruang epidural yang terletak di antara tulang belakang bagian bawah (lumbar) dan kolom sumsum. ‘Epidural berjalan’ memiliki fungsi analgesi epidural yaitu mengurangi nyeri namun tanpa menghilangkan sensasi berpindah sehingga ibu dapat bergerak saat persalinan dan berperan aktif saat kelahiran (mengejan, dsb.). Ilustrasinya:

 

Fiuhhh… Capek juga ngerjainnya padahal case ini nggak terlalu ilmiah banget ya hahaha. *lap keringet*

BTW mulai nyerempet romance-romance nih keliatannya… #eeeaaaaa XD

6 Responses to “DR. SHIN – Case 3”

  1. enny August 26, 2011 at 5:07 pm #

    Author lupa naruh tanda ‘more’ and mana fotonya?
    Sesegera mgkn diedit ya
    Gomawo

    Admin enny

    • lolita309 August 26, 2011 at 5:08 pm #

      huahaha enny cepet yaa responnya… sip uda diedit!^^

  2. kim ji byung 김지병 August 26, 2011 at 6:51 pm #

    makin seruuuuuu aja….
    aigoooo dongheenya udh mulai tertarik nih ama yora, tapi yoranya udh punya tunangann, siwon lg *hiks….

    please jgn buat donghee sakit hati n kecewa ya author #lebay ^^

  3. June Shin ♥ August 26, 2011 at 7:40 pm #

    Aduh… Gemeteran -__—
    Ituu ituu.. Hangeng knapa udah ada istrinya coba =3= kan harusnya akuu #ditendang
    aaahh,,, ini tuh kayak baca komik say hello to blackjack XD haha…
    aah, buat yg anak kembar prematur dong unn :)
    kayaknya menarik tuuh,,, :D
    atau kalo ga, kejiwaan atau… kanker :D
    kekeke…
    fighting!! XD

  4. cello13 August 26, 2011 at 8:33 pm #

    yora tunangannya siwon? Andwaeeee kesian shindoong >,<

  5. putu501jungmin August 30, 2011 at 2:47 pm #

    keren banget nie ff.
    aku paling demen baca ff dokter-dokteran (?) kayak gini :D
    bener juga kata author.nya. sudah mengarah ke romance :D
    ya deh, kagak apa. yang penting seru ff.nya
    lanjutin, chingu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 21,186 other followers

%d bloggers like this: