Author: v3aprilia, dwiananing, Fiensa_F
Length: chaptered
Genre: drama, family, friendship, romance
Rating: PG
Main Cast:
No! Name’s member:
- Choi Eunhoon (Orchid Choi) —> dwiananing
- Jung Iseul (Kiara Jung) —> v3aprilia
- Park Jiyoo (Jane Park) —> Fiensa_F
- Byeon Ji Young (Jill Byeon) —> LiaaML
- Kim Hye Ran (Rainy Kim) —> Rani Dwi
JYJ
- Kim Jaejoong
- Park Yoochun
- Kim Junsu
PART I
“Bagus hyung, kau membuat semua orang heboh,” kata Junsu kepada Jaejoong setelah dia selesai melihat salah satu berita tentang JYJ di internet. Lebih tepatnya, berita itu lebih memfokuskan pada Kim Jaejoong dengan ide yang, menurut Junsu, nekat: ingin membuat managemen baru.
Jaejoong menoleh kearah Junsu. “Kenapa memangnya?”
“Berita tentang rencana pendirian managemenmu itu… padahal kau belum membuat pernyataan resmi, tapi entah bagaimana caranya sudah tersebar luas di internet. Semenit yang lalu aku lihat baru ada 95 komentar, tapi sekarang sudah membludak hampir 2000.”
“Kupikir kau sudah sepakat denganku dan Yoochun tentang masalah ini…” Jaejoong berhenti bicara saat melihat Junsu tidak menghiraukannya dan kemballi menatap layar laptop.
“Kau tidak suka?” tanya Jaejoong.
Dengan suasana hati yang seperti ini, Junsu ingin sekali mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu. Pada awalnya Junsu juga merasakan antusiasme yang sama dengan Jaejoong dan Yoochun, terutama saat Jaejoong pertama kalinya mengusulkan ide itu. Tapi semakin lama Junsu malah semakin ragu dengan keputusannya mendukung Jaejoong. Dia takut mereka bertiga akan mendapat masalah.
“Apa kau benar-benar serius ingin melakukan ini?” tanya Junsu pelan.
“Oh, jadi kau ragu?” tanya Jaejoong. “Memangnya apa yang salah? Rain saja punya J-Tune…”
“Tapi situasinya berbeda,” kata Junsu. “Rain tidak punya masalah dengan JYP, beda halnya dengan kita…”
“Kau takut mereka menghalangi kita?” potong Jaejoong.
“Banyak yang kutakutkan,” kata Junsu. “Terutama reaksi publik terhadapmu. Kau tahu apa komentar pertama yang muncul di pikiranku? Mereka akan menganggap rencanamu itu tak lebih dari sekadar proyek balas dendam.”
“Itu kan hanya bayangan ketakutanmu saja, Junsu…”
Junsu hendak membantah, tapi Jaejoong lebih dulu memotong. “Aku hanya ingin kau percaya padaku, Junsu. Mendirikan managemen baru itu bukan hal yang buruk. Aku yakin sebenarnya sangat ingin mendukung rencanaku kan, hanya saja kau masih terpaku dengan masa lalu. Ya, kan?”
Junsu tidak menjawab, tapi dalam hati dia membenarkan semua kata-kata Jaejoong.
“Mungkin…” lanjut Jaejoong lagi. “Kau merasa sangat lelah dengan semua hal yang kita hadapi selama ini. Sebenarnya aku juga lelah, tapi aku juga tidak mau seperti ini terus menerus.”
“Kau tahu, hyung,” kata Junsu pelan. “Aku merasa kita seperti mencoba menaiki perahu yang rapuh, tanpa ada sekoci yang kita gunakan kalau seandainya perahunya karam. Kalau beruntung, kita akan selamat mengarungi lautan. Tapi kalau tidak… kita akan tenggelam.”
Jaejoong tersenyum, lalu menepuk pundak Junsu. “Kita akan bekerja keras membuat perahu itu menjadi kuat, Junsu. Percaya padaku.”
***
Beberapa hari kemudian…
Shim Changmin berkutat di depan layar laptopnya pada waktu senggang malam ini. Sudah beberapa bulan ini dia mencoba untuk membiasakan diri tinggal di dorm yang sepi ini. Sepi karena 3 penghuninya, sahabat-sahabatnya, sudah tidak tinggal bersamanya lagi. Meskipun masih ada Yunho, tapi tetap saja berbeda, dibandingkan dulu saat masih ada Yoochun yang sering mengajaknya makan saat malam hari, Jaejoong yang sering memasakkan yang enak untuknya, serta Junsu ‘musuh bebuyutannya’. Meskipun di depan publik, khususnya Cassieopeia, Changmin masih tetap bersikap ramah dan ceria, tapi semuanya berbeda saat dia kembali ke dorm. Terasa sangat lengang dan sepi, dia benci itu.
Changmin seringkali berusaha mengusir rasa sepinya dengan mencari berita seputar DBSK dan JYJ. Dia suka melihat foto-foto selca JYJ karena dengan itu dia bisa tahu kalau ketiga sahabatnya baik-baik saja. Changmin bertambah senang lagi setelah mengetahui penjualan album JYJ, The Beginning, masuk top 100 Billboard Chart.
Tapi malam ini matanya terbelalak ketika membaca judul berita yang terpampang di bagian paling atas situs berita tersebut. JYJ’S OFFICIAL STATEMENT ABOUT THEIR NEW MANAGEMENT.
Managemen? Maksudnya? gumam Changmin penasaran. Kenapa aku sama sekali tidak tahu?
Changmin sedikit terlambat mengetahui berita yang membuat heboh ini, karena selama beberapa hari ini dia sangat sibuk. Pihak JYJ sudah memberikan pernyataan resmi bahwa mereka memang benar akan mendirikan managemen baru, JYJ Entertainment.
“JYJ Entertainment?” Changmin membacanya dan perasaannya bercampur antara takjub dan heran. Kasus persidangan JYJ dan SMEnt saja masih berlangsung, tapi JYJ berani membuat keputusan seperti ini.
“Kau sedang melihat apa?” tanya Yunho saat dia keluar dari kamarnya.
“Kau sudah tahu tentang JYJ, hyung?” Changmin balik bertanya dengan nada antusias.
“Tentang managemen baru itu?” tanya Yunho. “Jadi berita itu benar?”
“Ah, kenapa hyung selalu lebih tahu dari aku…” keluh Changmin. “Ya, tentang managemen baru itu.”
Yunho tersenyum. “Pasti Jaejoong yang lebih dulu memiliki rencana itu.”
“Tapi hyung,” kata Changmin. “Apa itu tidak sedikit terlalu ‘nekat’? Masalah mereka kan belum selesai…”
“Bukan masalah mereka, Changmin, tapi masalah kita juga,” kata Yunho.
“Iya, hyung,” kata Changmin. “Tapi, aku khawatir itu akan menjadi bumerang bagi JYJ.”
“Kalau nanti mereka dianggap mencari sensasi dengan mencoba bersaing dengan SM?” tebak Yunho.
Changmin mengangguk. “Atau mungkin yang lebih parah lagi…” dia membaca komentar-komentar di bawah berita yang dia baca. “…‘sebagai alat untuk membalas dendam’. Itu komentar dari netizen.”
“Memangnya kau lebih percaya dengan ucapan netizen?” tanya Yunho.
“Tentu saja aku percaya dengan JYJ. Tapi apa artinya kalau hanya kita saja yang percaya? Orang-orang pasti akan dengan mudahnya menarik keimpulan dari apa yang mereka lihat, contohnya komentar dari netizen itu. Gampang sekali dia mengaitkan JYJ Entertainment dengan kasus persidangan melawan SM,” kata Changmin. “Aku takut orang-orang akan terbawa pengaruh pemberitaan ini, aku takut banyak yang mengurungkan niat untuk mandaftar jadi peserta audisi karena tidak mau ikut terseret masalah…”
Yunho menatap wajah Changmin yang gusar. Sebenarnya dia juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan Changmin, khawatir berita ini akan berdampak buruk bagi JYJ, mereka bertiga pasti akan lebih disorot lagi setelah ini. Tapi kalau dia juga menunjukkan ketakutannya di depan Changmin, magnae ini tidak akan bisa tenang.
“Kita ikuti saja perkembangannya, Changmin. Saat ini aku belum bisa menyimpulkan apa-apa,” kata Yunho.
***
“Wow, aku sama sekali tidak berpikir kalau mereka bisa sampai sejauh itu,” Kim Young Min meletakkan koran berisi berita tentang JYJ dan managemen baru mereka di depan pimpinannya, pemilik SM Entertainment, Lee Soo Man. Pria paruh baya itu hanya menarik senyum di salah satu sudut bibirnya saat melihat foto ketiga mantan artisnya itu terpampang di koran itu.
“Jangan hanya tersenyum saja, Soo Man-ssi. Katakan sesuatu,” kata Young Min.
“Aku salut,” kata Soo Man, membuat Young Min tercengang. Dia mengira pimpinannya ini akan mengeluarkan kata-kata hinaan yang intinya mengatakan kalau JYJ mengambil keputusan yang bodoh dengan mencoba untuk bersaing dengan Soo Man.
“Salut? Ini namanya nekat! Baru saja seminggu yang lalu pengadilan memutuskan kalau JYJ bisa bebas melakukan aktivitas mereka di Korea, sudah muncul berita seperti ini. di mataku mereka tidak lebih dari kumpulan bocah-bocah yang sembrono dan tidak tahu diri!”
Soo Man tertawa. “Dari kata-katamu itu, sepertinya kau takut.”
“Takut? Pada mereka?” kata Young Min merendahkan. “Maksud anda apa?”
“Kalau kau memang tidak takut, kau tidak perlu seheboh itu,” kata Soo Man. “Anggap saja seperti berita biasa. Wajar kan kalau ada yang mendirikan managemen baru…”
“Kadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Soo Man-ssi,” kata Young Min. “Mana mungkin hal seperti ini bisa kau anggap wajar?”
“Mereka hanya mencoba melakukan yang lebih baik dari kita,” kata Soo Man santai. “Memiliki managemen yang lebih baik dan besar dari SM, jauh dari sensasi dan skandal. Biarkan saja dulu, kita lihat sejauh apa kemampuan mereka.”
Young Min masih kurang puas dengan kata-kata Soo Man, tapi Soo Man sudah lebih dulu memalingkan wajahnya, menunjukkan kalau dia tidak ingin dibantah.
***
Sebulan kemudian…
Jung Iseul berdiri di depan makam ayahnya. Yeoja mungil berumur 20 tahun itu sesaat tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain berdiri mematung. Di tangannya tergenggam sepucuk surat, surat yang menjadi titik awal usahanya untuk mewujudkan mimpinya selama ini.
Surat itu, surat yang menyatakan kalau dia dan teman-temannya, Choi Eunhoon, Park Jiyoo, dan Kim Hye Ran lolos audisi awal JYJ Entertainment. Usahanya selama ini untuk menyukseskan band mereka, No! Name, tampaknya mulai menunjukkan titik terang.
“Appa, hari ini aku mendapat kiriman surat,” kata Iseul, bermonolog di depan makam ayahnya. “No! Name lolos audisi awal di JYJ Entertainment, lolos audisi kategori grup. Dan tiga hari lagi kami akan berangkat ke Seoul untuk mengikuti audisi kedua.”
Sampai disana Iseul terdiam. Seorang yeoja berkacamata hitam berjalan melewatinya. Iseul tidak mau mengambil resiko dicap sebagai orang gila oleh yeoja itu karena berbicara sendiri. Setelah yeoja itu berjalan cukup jauh, Iseul kembali bicara.
“Bahkan hingga Appa meninggal, Appa tetap tidak menyetujui impianku menjadi seorang penyanyi. Kita selalu bertengkar tentang masalah ini. Tapi meskipun begitu, aku tetap merasa kalau aku harus memberitahumu.”
Iseul merutuk dalam hati. Bahkan untuk bicara seperti ini saja, dia merasa sangat canggung. Hubungannya dengan ayahnya bisa dibilang kurang akrab. Hal yang paling sering menjadi pemicu pertengkaran antara Iseul dan ayahnya adalah tentang keinginan Iseul untuk menjadikan No! Name grup band yang sukses.
Karena merasa tidak ada hal lain yang ingin dikatakan, Iseul memilih pergi dari makam ayahnya dan menuju makam sahabatnya, Jung Bo Ra.
Bo Ra. Yeoja inilah yang dulu membentuk No! Name. Dialah yang menciptakan nama No! Name, dengan disertai alasan uniknya, “Karena aku tidak tahu nama apa lagi yang cocok untuk band kita.” Bo Ra adalah orang yang selalu optimis kalau suatu saat nanti No! Name akan sukses, meskipun dia sendiri juga tahu kalau band perempuan kurang mendapat tempat di dunia musik, khususnya di Korea. Namun justru itu yang membuat Bo Ra yakin kalau No! Name suatu saat nanti akan menjadi band perempuan yang sukses di Korea.
Tapi kemudian, Bo Ra terpaksa keluar dari No! Name setelah dia lolos audisi SM. Itulah terakhir kalinya Iseul dan teman-temannya bertemu dengan Bo Ra, karena setelah itu Bo Ra pindah ke Seoul dan menjadi trainee SM. Lalu tiba-tiba saja, Bo Ra tidak pernah lagi menelepon, hingga akhirnya terdengar berita buruk dari surat kabar: seorang trainee di salah satu managemen besar di Korea meninggal karena serangan jantung mendadak. Trainee itu adalah Jung Bo Ra.
Kalau saja jenazah Bo Ra tidak diotopsi, mungkin sampai sekarang Iseul tidak akan percaya kalau Bo Ra meninggal karena serangan jantung. Bo Ra tidak pernah sakit sebelumnya, dia tidak pernah mengeluh sama sekali. Kasus kematian Bo Ra tidak berkelanjutan karena pihak keluarga sudah menganggap itu sebagai musibah. Semua orang yang mengenal Bo Ra hanya bisa menangisi kepergiannya sambil berharap kesedihan mereka akan memudar seiring dengan berjalannya waktu.
Iseul akhirnya sampai di depan makan Bo Ra. Tapi dia kaget melihat sudah ada buket bunga anggrek putih yang ditaruh di atas makam, bunga kesukaan Bo Ra. Bunga itu terlihat sangat segar, seperti baru saja diletakkan di sana. Tapi tak ada seorangpun yang berada di pemakaman itu kecuali Iseul.
Mungkinkah yeoja yang melewatiku tadi?
Sayangnya, Iseul sama sekali tidak mengenal yeoja itu.
***
Iseul dan teman-temannya melihat peserta audisi yang sudah mengantri di depan pintu gedung yang belum dibuka itu. padahal mereka sengaja berangkat lebih awal, tapi ternyata orang-orang ini datang lebih dulu.
“Jangan-jangan mereka menginap disini,” gumam Kim Hye Ran.
Iseul tidak terlalu mempedulikan kata-kata Hye Ran. dia tersenyum sendiri melihat antusiasme peserta audisi yang berdiri di sekitarnya ini. Sebagian besar dari mereka tampak sibuk menghapal lagu sambil mendengarkan lagu di iPod, serta melatih tarian mereka. Banyak pula yang membantuk kelompok-kelompok kecil, dan seperti Iseul, mereka pasti mengikuti audisi grup.
“Aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil meraih mimpiku di Seoul.”
Itu pesan dari Iseul kepada ibunya sebelum dia dan teman-temannya masuk ke dalam kereta yang membawa mereka ke Seoul. Ibunya memeluk Iseul dengan erat, lebih lama dari biasanya. Sebagian dari hatinya sebenarnya tidak ingin Iseul pergi, meskipun dia juga mendukung putri sulungnya ini. Iseul sendiri sebenarnya merasa berat mengatakan itu, tapi dia melakukan itu supaya ibunya bisa melihatnya sebagai seseorang yang kuat.
Beberapa saat kemudian keluar dua orang namja, tampaknya mereka menjadi semacam panitia audisi. Dua orang itu membuka pintu gerbang dan para peserta masuk secara tertib. Mereka dibawa masuk ke sebuah aula dengan panggung yang besar, serta meja panjang yang sudah pasti akan diduduki oleh para juri. Di panggung itu nantinya para peserta akan menunjukkan bakat mereka masing-masing, entah itu menyanyi, menari, atau berakting.
“Hei, kau tahu kalau audisi akhir ini JYJ akan menjadi jurinya langsung?” tanya salah seorang peserta yang duduk di depan Iseul kepada temannya.
“Benarkah?”
Peserta audisi itu mengangguk semangat.
“Ah, ottokhe? Aku takut gugup kalau melihat wajah Yoochun oppa, aku takut suaraku tidak keluar atau lupa lirik lagu…”
“Aigoo, jangan mengkambinghitamkan Yoochun hyung. Kalau gugup ya gugup saja!” timpal seorang namja yang duduk di sebelah mereka.
Iseul tersenyum sendiri mendengar pertengkaran peserta audisi di depannya ini. Pantas saja yeoja-yeoja ini berebut ingin duduk paling depan, posisi yang paling dekat dengan juri. Ternyata mereka sudah tahu kalau jurinya adalah ketiga member JYJ sendiri.
“Onnie, kau yakin pilihan lagumu itu sudah tepat?” tanya Hye Ran, yang memang paling muda dari teman-temannya, pada Park Jiyoo.
“Kenapa? Lagunya susah? Kau tidak suka?” tanya Jiyoo.
“Aku suka, sangat suka. Tapi apa lagu itu tidak sedikit… ‘sensitif’? Selain itu, kita juga tidak menggunakan alat musik apapun.”
Eunhoon tertawa. “Tidak, tenang saja. kalau kau ingin menonjolkan kemampuan vokalmu, ya lagu itu yang cocok. Juri tidak mungkin mengusir kita hanya karena kita menyanyikan lagu itu.”
Hye Ran mengangguk. Dia beberapa kali menghela napas dan menggoyang-goyangkan kakinya, kebiasaan yang sering dia lakukan untuk mengatasi rasa gugup.
Suasana riuh dari peserta seketika lenyap saat pintu masuk aula terbuka dan beberapa orang melangkah masuk. Para peserta menoleh dan melihat ternyata orang-orang itu adalah para juri audisi akhir ini. Yeoja-yeoja di aula itu menutup mulut mereka demi menahan diri agar tidak menjerit, ketika melihat orang yang berjalan paling depan itu adalah Kim Jaejoong, disusul Park Yoochun dan Kim Junsu, serta dua orang lain yang mungkin juga menjadi juri.
Dan akhirnya, audisi pun dimulai. Masing-masing peserta menunjukkan bakat mereka masing-masing. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, sekaligus menghindari menatap para peserta di panggung, Iseul menatap suasana aula, memperhatikan para peserta audisi yang masih duduk ataupun yang sedang bersiap-siap naik ke panggung. Bukan hanya bakat para peserta saja yang membuat nyali Iseul ciut, tapi dia juga sedikit merasa rendah diri melihat para peserta yang terlihat trendi, kebanyakan pasti membawa iPod atau mp3 player. Sementara Iseul datang ke audisi hanya memakai baju rajut berwarna hijau lumut yang dibuat ibunya, skinny jeans dan sepatu kets.
Karena terlalu asyik melihat sekelilingnya, Iseul tidak sadar kalau giliran grupnya sudah dekat.
“Onnie, siap-siap!” Hye Ran menarik lengan baju Iseul, dan Iseul buru-buru berdiri. Sekarang giliran mereka. Eunhoon berjalan paling depan, dia menghembuskan napas panjang lalu berjalan paling depan menuju panggung.
Selama beberapa detik Iseul merasa jantungnya berhenti berdetak, lalu mendadak kembali berdetak sangat kencang hingga dadanya terasa sakit. Di sana, di jarak yang tidak lebih dari tiga meter, di belakang meja panjang itu duduk tiga namja yang berarti dalam hidup Cassiopeia manapun di dunia. Kim Jaejoong, Park Yoochun, dan Kim Junsu, tiga namja tampan itu tersenyum saat melihat peserta yang naik panggung untuk menunjukkan kebolehannya. Senyum JYJ bisa mengandung dua arti. Senyum untuk menyambut calon bakat baru yang akan bergabung dalam keluarga JYJ Entertainment, atau mungkin senyum untuk menyembunyikan kelelahan mereka karena belum menemukan apa yang mereka harapkan dari peserta audisi akhir ini. “Ayolah, masa hanya ini yang kami lihat di audisi akhir?” Mungkin itu yang ada di benak mereka.
No! Name menunjukkan kemampuan vocal mereka, dengan memilih lagu yang sudah sangat familiar di telinga mereka berempat sebagai Cassiopeia, Always There.
Suara merdu Eunhoon yang mengawali lagu, mengalun menghanyutkan para juri dan semua peserta yang ada di dalam aula itu. Junsu mencondongkan tubuhnya ke depan, memandang peserta audisi di depannya ini tanpa berkedip sedikitpun. Semua orang seperti tersihir, para juri menaruh pulpen mereka dan mendengarkan No! Name menyanyi, alih-alih memberikan penilaian di kertas mereka.
Entah apa yang ada di benak JYJ saat mereka mendengar lagu ini, dan menatap No! Name tanpa berkedip sedikitpun. Apa mereka terpesona mendengar suara No! Name? Atau rindu dengan lagu ini? Tapi melihat ekspresi para juri, mendadak perasaan gugup Iseul menguap, dia menyanyi bahkan sambil menatap Jaejoong tepat di matanya. Iseul merasakan kebahagiaan yang aneh saat melihat wajah Jaejoong, Yoochun, dan Junsu. Entah kenapa, Iseul berpikir kalau hingga detik ini JYJ masih mengingat lagu itu, merasa kalau lagu itu masih menjadi bagian dari diri mereka, dan bangga melihat ada orang yang bisa menyanyikannya sebaik mereka.
Para juri itu menghela napas panjang, seperti baru saja menahan napas selama beberapa lama, saat No! Name selesai menyanyi. Para peserta bertepuk tangan, sekilas tidak terlihat seperti sedang audisi.
No! Name membungkuk lalu berjalan turun. Berpasang-pasang mata langsung memandang kearah keempat yeoja itu, sebagian besar memandang dengan ekspresi takjub dan tidak percaya.
“Suara mereka benar-benar bagus.”
“Apa yang menyanyi tadi itu benar-benar mereka?”
“Mereka pasti lolos dengan mudah.”
No! Name merasa canggung dengan perhatian seperti itu, mereka segera duduk di tempat mereka. Iseul berusaha tersenyum pada siapapun yang memandangnya. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada seseorang yang duduk di bangku atas, sedikit memisah dari peserta lain. Sepertinya dia memang datang sendirian, dan tidak ikut memandangi No! Name. Dia hanya komat kamit menghapal lagu yang didengarnya dari iPod, sesekali menggerakkan tangannya, sepertinya dia sedang melatih rap-nya. Yeoja itu menoleh dan menatap Iseul sekilas, dan saat Iseul membalas tatapannya dengan tersenyum ramah, yeoja itu kembali menunduk dan meneruskan latihannya, sama sekali tidak membalas senyuman Iseul.
***
Sudah lewat sejam setelah audisi berakhir, tapi para juri belum juga kembali ke aula, menandakan mereka masih merundingkan siapa yang lolos audisi akhir ini dan menjadi trainee JYJEnt. Para peserta mencoba menghilangkan ketegangan dengan saling mengobrol dengan teman mereka, termasuk Eunhoon yang mencoba menenangkan dirinya dengan bersenandung kecil.
Pintu aula membuka dan para juri masuk kembali. Telapak tangan Iseul mendadak basah, dia menggosok-gosokkannya ke celana. Hye Ran semakin keras menggoyangkan kakinya. Jaejoong berdiri di tengah panggung, di tangannya sudah ada selembar kertas yang sangat penting karena menentukan hasil akhir para peserta.
“Setelah mendiskusikannya dengan para juri, yang ternyata cukup sulit karena melihat penampilan kalian yang sangat bagus, kami sudah mengantongi daftar peserta yang lolos audisi kedua ini. Saya akan bacakan nomor peserta yang lolos, dimulai dari peserta individu.”
Jaejoong kemudian membacakan daftar peserta yang lolos, suasana di dalam aula seketika bercampur antara pekik bahagia dari peserta yang nomornya disbeut, wajah tegang peserta yang nomornya belum disebut, dan akhirnya helaan napas peserta yang kecewa kalau dia tidak lolos. Iseul melihat yeoja cantik penyendiri tadi, dia lolos audisi, tapi ekspresi bahagianya tak lebih dari senyum tipis dan menganggukkan kepalanya sekali.
“Sekarang, peserta per grup.”
Ini dia, gumam Iseul. ayo, Jaejoong oppa, sebut nomor 43, nomor 43…
“Grup yang lolos, nomor 30… 39…”
43, 43… gumam Iseul dalam hati. Dia semakin tegang karena nomor No! Name tak kunjung disebut. Apa No! Name tidak lolos? Apa suara mereka tadi jelek? Atau karena pilihan lagunya salah? Apa pilihan lagu menentukan?
“Dan yang terakhir, nomor 43.”
Hye Ran secara refleks langsung memeluk Iseul, diikuti Eunhoon dan Jiyoo. “Kita lolos! Kita lolos!” katanya.
“Selamat untuk peserta yang lolos audisi akhir ini, mulai hari ini kalian telah resmi menjadi trainee di JYJ Entertainment. Untuk peserta yang tidak lolos, jangan berkecil hati…”
Iseul sama sekali tidak mendengarkan apa yang Jaejoong katakan, dari tadi dia terus menggenggam handphone-nya di saku, tak sabar ingin segera menelepon ibunya.
***
Iseul memisahkan diri dari teman-temannya, hendak menelepon ibunya. Tapi sebelum sempat dia memencet nomor telepon rumah, Iseul melihat yeoja yang tadi tidak membalas senyumnya itu berdiri di dekatnya. Tampaknya dia orang yang penyendiri, dari tadi dia sama sekali tidak mengobrol dengan siapapun.
“Halo,” Iseul mencoba menyapa yeoja itu. “Kau lolos audisi?”
Yeoja itu menoleh. “Ya,” hanya itu saja jawabnya.
“Grupku juga lolos,” kata Iseul ramah. “Oiya, siapa namamu?”
“Ji Young,” kata yeoja itu sambil lalu. “Byeon Ji Young.”
“Aku Jung Iseul, bangapseumnida. Dan itu teman-temanku…”
“Aku pergi dulu,” kata Ji Young datar, lalu pergi meninggalkan Iseul. Iseul menatap Ji Young, yeoja yang cantik tapi dingin itu. segala sesuatu dalam dirinya terlihat keren tapi juga misterius. Sikapnya yang dingin itu mungkin terasa menyebalkan, tapi entah kenapa Iseul yakin kalau Ji Young bukan orang yang jahat.
Di luar gedung, Ji Young menggantung sebelah tali ranselnya di bahu. Dia berhenti di tengah halaman, memandangi langit yang mulai gelap.
Ji Young menghela napas panjang. “Welcome to this world… Byeon Ji Young.”
***TO BE CONTINUE***

ide ceritanya menarik. ditunggu lanjutannya..
udah ada lanutannya kok, makasi ya
ahhhh telat baca. .><
btw aku juga ikut tegang bacanya wktu audisi itu kekeke. .
ok lanjut ke part brikutnya
berasa ikut audisi juga ya chingu, kekeke
monggo dibaca part berikutnya
Hello, aku new reader ^^
Keren ff nya ><p
aku lanjut baca nya yaa
sipsip makasi
Ah.. Q bru baca FF ini..
Kereen.. Aku suka idenya..
Daebak..
makasi, ayo baca lanjutannya hehe
yaaah, baru baca remake-nya sekarang (mohon maaf), dan kalo diinget2 emang beda banget sama versi yg sebelumnya ya.. yg ini lebih gimanaaa gitu.. (apanya?) >,<
baideweei, saya akan lanjut baca (_ _)
sip, makasi
baru baca,wahahaha..
telat banget..
ga akan komentar banyak” deh..lanjut part 2,wussshhh..