[Part 3 of ?] No! Name: Remake

1 | 2

Author: v3apriliadwiananingFiensa_F

Length: chaptered

Genre: drama, family, friendship, romance

Rating: PG

Main Cast:

No! Name’s member:

- Choi Eunhoon (Orchid Choi) —> dwiananing

- Jung Iseul (Kiara Jung) —> v3aprilia

- Park Jiyoo (Jane Park) —> Fiensa_F

- Byeon Ji Young (Jill Byeon) —> LiaaML

- Kim Hye Ran (Rainy Kim) —> Rani Dwi

JYJ

- Kim Jaejoong

- Park Yoochun

- Kim Junsu

PART III

 

Selama beberapa jam ini, Jung Yunho dengan bebas berjalan-jalan sendirian. Hari ini dia tidak punya kegiatan, dia bosan dikurung di dalam dorm, dan dia ingin istirahat sejenak setelah menjalani latihan untuk persiapan konser SM Town beberapa bulan lagi. Jadi dia sengaja keluar dari dari dorm dan memakai masker untuk menutupi setengah wajahnya. Sesekali dia pura-pura batuk, supaya orang-orang tidak heran kenapa ada orang memakai masker di tempat keramaian seperti ini.

Tapi kemudian, tanpa sengaja dia melukai yeoja ini, karena dia merenggangkan tangannya dan sikunya tanpa sengaja menghantam bahu yeoja ini. Dia terjatuh dan kakinya malah ikut terkilir juga. Yunho merutuk dalam hati, dari dulu sampai sekarang tenaganya yang besar selalu saja membuat orang lain susah.

“Dimana rumahmu?” tanya Yunho pada yeoja ini, Jung Iseul.

“Aku tidak tinggal di rumah, aku tinggal di dorm. Apartemennya tidak jauh dari sini,” kata Iseul.

“Dorm?”

Iseul mengangguk. “Aku trainee JYJ,” jawabnya lalu tersenyum bangga.

Deg! Yunho berhenti melangkah. Telinganya seperti berdenging saat Iseul mengatakan itu. JYJ?

“Kenapa berhenti?” tanya Iseul heran. “Hei, kenapa berhenti?”

Yunho tersentak dari lamunannya. “Ah, tidak, tidak apa-apa.” Dia kembali berjalan sambil menuntun Iseul yang berjalan terpincang-pincang. “Kau masuk ke JYJ, apa karena kau menyukai mereka?”

Iseul mengangguk lagi. “Dan tentu saja karena mereka mengakui bakatku. Sebenarnya bukan hanya mereka bertiga saja yang aku sukai, tapi kelimanya. Dong Bang Shin Ki, aku menyukai mereka semua. Aku ini Cassiopeia.”

Hati Yunho seperti teriris mendengar kata-kata Iseul. Bahkan ketika idolanya terpecah sekalipun, dia masih dengan bangga mengatakan kalau dirinya adalah Cassie.

“Siapa yang kau sukai di Dong Bang Shin Ki?” tanya Yunho pelan, berusaha supaya suaranya tidak terdengar bergetar.

“Siapa ya, aku suka semuanya,” kata Iseul. “Tapi saat aku pertama kali melihat MV Hug, aku langsung menyukai Jung Yunho.”

Yunho tertawa mendengar namanya disebut. “Kenapa kau bisa menyukai Jung Yunho?”

“Karena dia keren!” jawab Iseul cepat. “Dan aku suka kata-katanya dulu, ‘karena aku adalah leader yang akan menjaga tubuh semua anggotaku’. Aigoo, dimana lagi aku bisa melihat yang lebih berkarisma dari dia…”

Tapi yang sebenarnya adalah, perasaan Iseul pada Jung Yunho lebih dari itu. Dia tidak benar-benar yakin kalau dia menyukai Yunho hanya karena dia keren, tampan, berbakat, atau kharismatik. Ada sesuatu yang lain, ada rasa debar aneh dan kebahagiaan yang ganjil tiap kali Iseul mendengar nama itu, sejak dulu. Nama Yunho seperti melekat erat di dalam kepalanya, dan apapun yang Iseul rasakan dalam hatinya, entah itu perasaan sedih, bahagia, marah, atau apapun, dia selalu memikirkan Yunho, selalu mengkhayalkan kalau Yunho menjadi orang pertama yang mengetahui suasana hatinya itu. Iseul tahu itu konyol, dia jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan orang yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari jauh.

Yunho tersenyum getir di balik maskernya. “Kau tidak marah dengannya?”

Iseul menatap Yunho dengan heran. “Marah? Untuk apa aku marah?”

“Kau pasti tahu apa yang dia tulis di thanks to album Keep Your Head Down, kan?” tanya Yunho. Iseul langsung mengerti apa maksud namja yang menuntunnya ini. TVXQ yang baru telah dimulai! Itu tulisan yang nyaris menyita seluruh perhatian Iseul, saat dia membeli albumnya dulu. Kenapa Yunho harus mengatakan itu, bahkan dalam ‘thanks to’ di album kelima?

Iseul berhenti berjalan. Sakit sekali rasanya mendengar kata-kata itu. Iseul akui dia pernah sekali berpikir negatif, saat dia membaca ‘thanks to’ Yunho di album Keep Your Head Down. Belum hilang rasa penasaran Iseul dengan maksud kata-kata itu, dia melihat tweet Junsu yang ditujukan pada Yunho, yang intinya mempertanyakan ucapan ‘thanks to’ Yunho. Lalu kemudian disusul dengan tweet balasan dari Shindong, BoA, dan Sungmin lewat cyworld-nya. Semuanya mengatakan hal yang sama, memojokkan Junsu dan membela Yunho. Iseul saat itu berharap Yunho akan mengatakan sesuatu, entah itu cyworld-nya atau di jejaring sosial manapun, untuk meluruskan kekisruhan yang terjadi. Iseul berharap sang leader akan keluar dan membuktikan bahwa dia masih seperti yang dulu, masih terus menjaga tubuh setiap anggotanya. Tapi Yunho tidak pernah berkata apa-apa lagi. Iseul sangat bimbang, dia sangat menyukai Yunho tapi dia juga tidak mengerti kenapa Yunho tidak berbuat apa-apa.

Bukan, ini sama sekali tidak berarti Iseul membenci orang-orang yang memojokkan Junsu. Tapi Iseul merasa sakit, kenapa masalah ini jadi bertambah rumit?

“Jung Yunho melakukan itu karena suatu alasan,” kata Yunho. “Dia tidak pernah benar-benar ingin melakukannya…”

“Kenapa kita malah membicarakan hal itu?” tanya Iseul, memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Tidak usah mengantarku lagi, dorm-ku sudah dekat,” lanjutnya. Perlahan dia melepaskan genggaman tangan Yunho, lalu berjalan tertatih memasuki gedung apartemen dan memasuki lift. Tanpa dia sadari, ternyata Yunho mengikutinya dan menahan pintu lift agar tidak menutup.

“Apa yang kau lakukan?” kata Iseul, dia kaget melihat laki-laki ini ternyata mengikutinya. Yunho menarik maskernya, memperlihatkan keseluruhan wajahnya. Iseul terbelalak, kaget dan bahunya merosot, dia tidak menyangka orang yang bicara dengannya tadi adalah Jung Yunho. Dia bersandar di pinggir lift, kakinya mendadak lemas.

“Kau… kau…”

“Aku selalu takut kalau Cassieopeia kecewa dengan kata-kataku di kolom Thanks To saat itu,” kata Yunho, matanya yang dari tadi berkaca-kaca akhirnya tidak sanggup lagi menahan air mata yang menggenang. “Aku takut kalau mereka, dan kau, berpikir kalau aku sudah melupakan JYJ. Aku tidak pernah melupakan mereka, tidak sekalipun. Kumohon percayalah padaku.”

Iseul masih bersandar, tidak mengatakan apapun selain menatap Yunho.

“Maaf sudah mengganggumu,” kata Yunho. “Jangan katakan pada JYJ kalau kau baru saja bertemu denganku. Aku tidak mau kau jadi semacam penghubung antara aku dan JYJ, aku tidak mau kau terlibat masalah.”

Yunho melepaskan tangannya dari pintu lift, membiarkan Iseul ke lantai atas. Dia memakai kembali maskernya lalu pergi keluar apartemen.

Di dalam lift, Iseul merasa lemas. Air matanya keluar tanpa sempat ditahan. Hatinya sakit melihat Yunho menangis, dan Yunho terlihat seperti sudah memendam kata-kata itu sejak lama dan tidak tahu kepada siapa harus mengatakannya.

***

“Hyung, kau dari mana saja?” tanya Changmin.

Yunho hanya menoleh sekilas kearah Changmin, lalu melangkah ke dapur dan mengambil segelas air. “Hanya jalan-jalan sebentar.”

“Tapi kenapa wajahmu murung begitu?” tanya Changmin lagi.

Yunho tidak menjawab, dia meneruskan minumnya. Dia tidak mau menceritakan apapun tentang pertemuannya dengan Iseul tadi. Changmin tidak terlalu memusingkan kenapa Yunho tidak mau menjawab pertanyaannya. Dia sendiri masih tidak bisa berhenti memikirkan tentang Ji Young. Dia tidak tahu apakah Yunho mengenal mantan trainee SM itu atau tidak, tapi dia akan mencoba menanyakannya.

“Hyung, apa kau pernah mengenal trainee SM yang bernama Ji Young?”

Yunho menoleh, dahinya berkerut. “Siapa?”

“Ji Young. Dulu dia sempat menjalani training di SM, tapi sekarang sudah tidak lagi. Hyung mengenalnya?”

Yunho menggeleng. Changmin melihat ekspresi Yunho dan dia yakin kalau hyung-nya ini tidak berbohong.

“Tidak tahu,” kata Yunho. “Memangnya ada apa dengannya?”

Changmin menggeleng. “Tidak, aku hanya penasaran saja.”

“Penasaran kenapa?” desak Yunho.

Changmin menghela napas sesaat sebelum menjawab. “Gadis itu dulu calon rapper di grup f(x), tapi kemudian dia keluar. Dia lalu menjalani training di JYJ.”

“JYJ?” tanya Yunho. Sekilas dia teringat dengan yeoja yang dia temui tadi. “Lalu, apakah ada sesuatu yang aneh tentang Ji Young itu?”

“Entahlah, hyung,” kata Changmin tidak yakin. “Tadi aku sempat mendengar Luna dan Amber membicarakannya, tapi saat aku iseng menanyakannya pada Victoria noona, noona mengaku tidak mengenalnya.” Changmin masih mengingat ekspresi wajah Victoria yang mendadak gugup saat Changmin menanyakan tentang Ji Young.

“Victoria tidak mengenalnya, tapi Luna dan Amber mengenalnya?” tanya Yunho heran.

Changmin mengangguk. “Kalau memang tidak ada sesuatu yang aneh, kenapa Luna dan Amber harus membicarakan gadis itu secara diam-diam? Kenapa Vic noona mengaku tidak tahu?”

Yunho menggeleng ragu. Karena Changmin, dia juga ikut penasaran.

***

Keesokan harinya jam sepuluh, No! Name sudah berada di kantor JYJ. Mereka lalu masuk ke ruangan Jaejoong dan di sofa ruang tamu sudah duduk seorang yeoja berambut panjang. Yeoja itu menoleh ketika pintu ruangan terbuka. Iseul langsung mengenalnya. Yeoja itu Byeon Ji Young.

“Selamat pagi,” kata Jaejoong. “Tujuan saya mengumpulkan kalian semua disini ingin membicarakan mengenai perkembangan training yang sudah kalian jalani selama ini. Selama dua bulan ini, perkembangan kalian menunjukkan peningkatan yang cukup bagus, terutama kalian, No! Name.”

“Tapi menurut saya, No! Name masih kekurangan gitaris. Kami memang melihat kemampuan Choi Eunhoon yang cukup bagus, tapi rasanya tidak akan maksimal karena kau juga berperan sebagai main vocal dalam grupmu,” kata Jaejoong, menatap Eunhoon. “Untuk itu Choi Eunhoon harus dibantu dengan menambahkan seorang gitaris lagi.”

Iseul melirik Ji Young yang duduk di sofa di sebelahnya.

“Untuk itu saya juga memanggil Byeon Ji Young kemari,” kata Jaejoong sambil menunjuk Ji Young. “Kami memutuskan untuk memasukkan Byeon Ji Young ke dalam No! Name, dan mulai hari ini dia akan menjalankan training selama beberapa bulan kedepan bersama kalian.”

Ji Young tersenyum tipis dan mengangguk singkat kearah keempat member No! Name. Semua membalas senyum tipis itu, kecuali Kim Hye Ran. Dia merasa kurang sreg dengan kehadiran member baru di dalam grupnya, dia merasa yeoja itu seperti mengambil posisi yang ditinggalkan Jung Bo Ra, mendiang sahabatnya.

“Baiklah, untuk saat ini hanya itu saja yang hendak saya katakan. Kalian bisa pergi, terima kasih,” kata Jaejoong. Kelima yeoja itu berdiri lalu membungkuk, dan satu persatu keluar meninggalkan ruangan Jaejoong. Kecuali Hye Ran, dia berjalan pelan paling belakang, dan saat semua temannya sudah keluar, dia menutup pintu ruangan dan kembali menghadap Jaejoong di mejanya.

“PresDir Kim,” katanya. Jaejoong menoleh menatap Hye Ran di depannya.

“Ada apa?” tanya Jaejoong.

“Apa anda meragukan kemampuan Choi Eunhoon?” tanya Hye Ran, langsung bertanya ke titik masalah. “Tidak masalah baginya untuk membagi perhatian antara suara dan gitar. Anda sudah melihat kemampuannya.”

“Ya, aku memang sudah melihat kemampuannya, dan aku sudah katakan tadi, dia perlu dibantu,” kata Jaejoong tenang. “Aku tidak bermaksud merusak formasi yang sudah kalian tentukan sejak awal.”

Hye Ran masih belum puas dengan jawaban namja di depannya ini. “Apakah harus Byeon Ji Young?”

Jaejoong mengangguk. “Sejak dua bulan ini dia memang dilatih kemampuan vocal dan gitarnya, dan dia yang paling cocok mengisi posisi gitaris,” kata Jaejoong. “Kalau ini masalah perasaan kurang sreg, itu karena kau tidak mencoba untuk beradaptasi dengannya.”

Hye Ran tidak bisa membantah lagi, dia tahu Jaejoong tidak mungkin sembarangan memutuskan sesuatu. “Baiklah, mungkin karena saya belum mencoba beradaptasi. Saya minta maaf.” Hye Ran membungkuk lalu berjalan keluar ruangan. Tapi hatinya ingin berontak, dia tidak bisa menerima ada orang baru yang masuk ke lingkungannya dan teman-temannya. Hye Ran sudah terpengaruh dengan opini para trainee JYJ mengenai sosok Byeon Ji Young yang dipandang dingin dan sombong. Dia tidak mau orang seperti itu menggantikan Jung Bo Ra. Bagi Hye Ran, Bo Ra dan Ji Young seperti bumi dan langit.

***

“Baiklah, Byeon Ji Young-ssi, selamat bergabung di grup kami. Mulai hari ini kau akan tinggal satu dorm dan menjalani training bersama kami,” kata Eunhoon ramah. Ji Young tersenyum tipis dan mengangguk.

Eunhoon tersenyum. “Namaku Choi Eunhoon, kau bisa memanggilku Eunhoon. Ini Park Jiyoo, Kim Hye Ran, dan Jung Iseul,” Eunhoon memperkenalkan teman-temannya pada Ji Young.

“Dia sudah mengenalku,” kata Iseul ramah. “Kami berkenalan saat audisi akhir.”

“Benarkah?” kata Eunhoon. “Baguslah, kalau Ji Young sudah mengenal salah satu diantara kami, Ji Young akan lebih mudah beradaptasi.”

“Ya, aku mohon bantuannya,” kata Ji Young sopan.

“Kalau boleh tahu, berapa umurmu, Ji Young-ssi?” tanya Jiyoo.

“21 tahun.”

“Oh, kau lebih tua setahun dariku,” kata Jiyoo, yang sebelum Ji Young bergabung, dia adalah member tertua diantara ketiga member No! Name yang lain. “Jadi kami harus memanggilmu onnie?”

“Tidak harus, itu bukan aturan yang baku, kan,” kata Ji Young. “Kalian boleh hanya memanggil namaku saja.”

“Baiklah, mulai malam nanti, kau akan tidur di kamar ini denganku dan Hye Ran…”

“Aku sekamar dengan Iseul onnie saja,” potong Hye Ran cepat, membuat keempat yeoja itu menoleh heran.

“Denganku?” tanya Iseul heran. “Tapi kasurnya hanya ada untukku dan Jiyoo…”

“Aku mau sekamar dengan Iseul onnie,” Hye Ran mengulang kata-katanya lagi.

“Ya sudah, aku dan Ji Young bisa pindah ke kamar kalian. Kau, Iseul, dan Jiyoo bisa pindah ke kamar yang berisi tiga kasur,” kata Eunhoon.

Hye Ran mengangguk dan tanpa berkata apa-apa dia langsung masuk ke kamar. Iseul buru-buru menyusulnya.

“Maafkan Hye Ran, dia agak sulit beradaptasi dengan orang yang baru dikenalnya,” kata Eunhoon, merasa tidak enak dengan Ji Young.

“Tidak apa-apa,” kata Ji Young singkat.

Sementara di kamar, Iseul mencoba mendekati Hye Ran yang meringkuk di kasurnya sambil memeluk bantal dan membaca buku. “Hei, kau ini kenapa? Jangan bersikap ketus begitu.”

“Tidak apa-apa. Sikapku biasa saja,” kata Hye Ran datar, sambil membolak balik halaman buku di depannya.

“Ji Young onnie mungkin sedikit dingin, tapi aku tahu dia orangnya baik,” kata Iseul.

“Darimana onnie tahu kalau dia baik?” tanya Hye Ran.

“Aku hanya yakin saja,” kata Iseul. “Ayolah, kau jangan terpengaruh omongan orang-orang, mereka kan hanya asal menilai Ji Young onnie dari luar saja. Kau tidak boleh ikut-ikutan mereka.”

“Oh, aku lupa. MV-nya kan hari ini,” Hye Ran turun dari tempat tidurnya menuju ke laptop di atas meja.

“Ya! Kenapa sih kau tidak pernah mendengarkan kata-kataku?” Iseul protes. “Aku ini lebih tua setahun…”

“Onnie, Before You Go sudah keluar!” kata Hye Ran antusias. Iseul berhenti mengomel dan menghampiri Hye Ran. “Apanya?”

“Aigoo… kau ini Cassie atau bukan? MV terbaru TVXQ sudah keluar, Before You Go! Onnie tidak mau lihat?” tanya Hye Ran sambil menunjuk laptopnya.

Iseul benar-benar lupa kalau hari ini MV terbaru TVXQ, Before You Go, sudah keluar. Iseul tidak terlalu memperhatikan MV itu, meskipun matanya tidak berpindah dari layar laptop sama sekali. Melihat Yunho di MV itu, dia ingat kejadian tadi malam. Iseul tidak pernah menyangka kalau dia bisa bertemu langsung dengan namja tampan di MV itu, bahkan mengantarnya pulang ke dorm.

Dada Iseul berdebar kencang. Aku bahkan tidak sadar kalau tadi malam oppa terlihat tampan bahkan tanpa make up…

“Onnie…” Hye Ran melambaikan tangannya tepat di depan wajah Iseul. “Aigoo, jangan terlalu dipelototi seperti itu, onnie. Yunho oppa tidak mungkin melompat keluar dari layar…” katanya jahil. “Atau jangan-jangan onnie sedang mengkhayal menggantikan Go Ara onnie disana ya?”

“Enak saja! Aku tidak berpikir begitu!” elak Iseul. Dia memang tidak cerita pada siapapun kalau tadi malam dia bertemu dengan Yunho.

“Wajahmu saja sampai merah begitu, padahal hanya melihat MV saja,” kata Hye Ran. “Tidak apa-apa onnie, semua fansnya Yunho oppa pasti akan mengkhayal seperti itu juga…”

“Tapi aku tidak pernah berkhayal seperti itu! Itu konyol!” seru Iseul. Tapi Hye Ran hanya tertawa melihat Iseul bersikap canggung seperti itu. Karena kesal, Iseul memilih keluar dari kamar.

***

Akhirnya Iseul mendapatkan pekerjaan sampingan di café, sebagai pelayan sekaligus penyanyi di sana. Dia mengambil shift malam supaya bisa menyesuaikan dengan jadwal latihannya di JYJ. Iseul tahu ini akan melelahkan, tapi dia harus melakukan itu supaya ibunya tidak perlu lagi mengirim uang untuknya.

“Iseul, tolong gantikan dia,” kata seorang pria pada Iseul yang baru saja selesai mengantarkan minuman, di hari pertama Iseul bekerja. Iseul melihat kearah panggung kecil yang ditunjuk pria itu.

“Baik,” kata Iseul. Dia segera berjalan menuju panggung kecil itu, duduk di depan piano. Dia memperhatikan suasana café malam itu, yang terlihat santai. Perlahan dia menekan tuts piano.

There’s a song that’s inside of my soul

It’s the one that I’ve tried to write over and over again

I’m awake in the infinite cold

But you sing to me over and over and over again

 

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray

To be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

(Mandy Moore – Only Hope)

Iseul menyanyi dan memainkan piano seperti sudah hapal di luar kepala, saat menyanyi Iseul beberapa kali memejamkan mata untuk meresapi makna lagu itu. ada satu nama yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam kepalanya. Yunho. Entah kenapa dia ingin Yunho melihatnya menyanyi disini, bukan karena Iseul ingin memperlihatkan kemampuannya, tapi Iseul hanya ingin Yunho ada disini, untuk alasan yang tidak dia mengerti. Iseul tidak begitu memperhatikan kalau pengunjung café saat ini sedang memperhatikannya, menghentikan obrolan dengan teman mereka dan menyaksikan gadis yang menyanyi di panggung kecil itu. Suara Iseul menyita perhatian mereka, orang-orang nyaris tidak menyadari kalau gadis di panggung itu hanya seorang penyanyi café biasa.

Dan ketika lagunya selesai, pengunjung café sontak bertepuk tangan. Iseul terpana melihat sambutan orang-orang, dia tidak mengira kalau orang-orang memperhatikannya.

“Suaranya benar-benar bagus…”

“Apa dia trainee dari sebuah agensi?”

“Berapa umurnya? Bagaimana mungkin suaranya sebagus itu?”

Iseul membungkuk kearah pengunjung café, lalu bersiap untuk menyanyikan lagu berikutnya.

“Permisi…” seseorang memanggil Iseul. “Bisakah anda menyanyikan Love In The Ice?”

Love In The Ice, itu lagu favorit Iseul. Iseul tersenyum lalu mengangguk. “Baiklah. Seung Woo-ssi, kau bisa menyanyikannya, kan? Sepertinya bagus kalau kita duet.”

“Oke,” kata salah seorang teman Iseul yang juga bekerja di café itu, Seung Woo. Seung Woo berjalan menuju panggung, tapi kemudian dia berhenti karena seseorang sudah lebih dulu naik ke panggung dan berdiri di sebelah Iseul.

“Saya yang akan berduet dengannya.”

Iseul menoleh kearah suara itu, dan ternganga menatap orang di sebelahnya, pengunjung café yang semula bingung kenapa ada orang yang tiba-tiba naik ke panggung dan ingin menyanyi, mendadak heboh setelah melihat wajah orang ini.

“Jung Yunho! Yunho TVXQ!”

Iseul masih terbengong-bengong menatap Yunho. Baru saja dua menit yang lalu dia berharap Yunho datang kesini, ternyata doanya terkabul dan bahkan Yunho berdiri dengan jarak tidak lebih dari semester darinya. Yunho menoleh kearahnya, mencuri kesempatan membaca nama Iseul di seragam kerjanya, lalu tersenyum. “Ya! Penyanyi macam apa kau ini? Ayo!”

Iseul tersentak. “Oh! Iya, iya.” Iseul menghembuskan napas panjang untuk menguasai diri.

Shigeobeorin jakeun son jikeukhi tteollineun ipsul

Amu ildo eopseotdago kyeondil su ittji

Nugunggareul chueokhaneun nae moseup turyeounggeoni

Ib anaeseo maemdoneun mar aesseo samkhigo

Yunho lebih dulu membuka lagu dengan suaranya yang merdu, dan Iseul seringkali nyaris terpecah konsentrasinya karena beberapa kali Yunho menatap kearahnya dan tersenyum. Seandainya bisa melepaskan tangan dari tuts piano, Iseul akan langsung melepasnya dan menampar pipinya, supaya dia tahu kalau ini bukan mimpi.

Eodeowonjin pamhaneureul tteonajianneun byeolcheoreom

Sarangiran mideumeuro yeongwonhi hamggaehaneun ggeum

Keu sarang naega dwael su itdamyeon

Tashi hanbeon gudeobeorin keudae mameul

Yeongwonhan ddaseuhameuro kamssaaneulkeoya

Pengunjung café berulang kali bertepuk tangan menyaksikan dua orang yang berduet secara mendadak di depan mereka ini. Sambutan mereka begitu heboh, jauh lebih heboh daripada saat Iseul menyanyi sendirian. Setelah lagu itu selesai dinyanyikan, Iseul dengan gugup menarik tangannya dari tuts dan mengelap tangannya yang berkeringat ke roknya.

“Kamsahamnida,” kata Yunho, tersenyum kearah pengunjung café yang masih bertepuk tangan untuknya. Seolah belum cukup membuat kehebohan, Yunho mundur selangkah lalu berbisik pada Iseul, “Aku tahu Jaejoong tidak pernah membuat keputusan yang salah saat meloloskanmu.”

Setelah itu dia turun dari panggung dan tentu saja, beberapa orang segera menghampirinya untuk meminta tanda tangan. Barulah sekitar lima menit kemudian Yunho akhirnya duduk di kursinya. Dia tersenyum kearah Iseul, menggerakkan tangannya seperti sedang memainkan piano, lalu berbicara tanpa suara. “Ayo menyanyi lagi,” lalu mengacungkan jempol kearah Iseul.

Iseul tersenyum tipis, tapi raut wajahnya masih menyiratkan ekspresi tidak percaya. Dia menepuk-nepuk dadanya yang berdebar kencang.

Dadaku berdebar sampai terasa sakit, gumam Iseul. Kalau ini hanya perasaan senangku karena bertemu dengan idola, apa ini tidak terlalu berlebihan?

***

“Sepertinya aku mengidolakan seseorang yang suka kabur dari dorm,” kata Iseul pada Yunho, saat dia sudah keluar dari café.

Yunho tertawa. “Bagaimana kakimu?”

“Sudah lebih baik,” kata Iseul. “Tapi ini serius, aku tahu banyak tentangmu, tapi aku tidak tahu kalau kau ternyata suka keluar dari dorm lalu jalan-jalan seperti ini. Memangnya kau tidak punya kesibukan apa-apa? Bagaimana dengan album repackage? Syuting program Kiss and Cry? Konser Korean Wave di Tokyo? Konser SM Town?”

“Whooa, kau sangat tahu jadwalku,” kata Yunho takjub. “Kau jadi managerku saja, ya?”

Wajah Iseul memerah melihat Yunho tersenyum. “Bukan begitu. Tapi menurutku apa yang kau lakukan tadi itu… bukankah agak sedikit mencolok? Kalau orang-orang melihatku menyanyi denganmu, apalagi Cassie… habislah aku.”

Yunho tersenyum getir mendengar kata-kata Iseul. “Atau… apakah Jaejoong sudah tahu kalau sebelumnya kita pernah bertemu, lalu dia melarangmu?”

Iseul tertegun. Melihat ekspresi Yunho yang mendadak sedih, Iseul buru-buru menggeleng. “Tidak, jangan salah paham. Jaejoong-ssi tidak tahu tentang itu. Yah, lebih tepatnya, belum tahu. Karena itu, sebelum dia tahu, sebaiknya aku tidak bertemu lagi denganmu, Yunho-ssi. Aku tidak mau kalian berdua terlibat masalah,” kata Iseul, dia kemudian berbalik dan mulai berjalan pergi.

“Padahal aku ingin berterima kasih padamu,” kata Yunho. Iseul tertegun. Dia berbalik menatap Yunho.

“Aku ingin berterima kasih,” kata Yunho. “Karena kau masih menyukaiku bahkan dalam situasi apapun, disaat banyak orang menekanku dan membuatku berada pada posisi yang serba salah. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau kerja disana. Aku berjalan melewati café dan melihatmu duduk di depan piano, aku langsung masuk.” Yunho sekilas teringat dengan Jaejoong dulu saat mereka belum debut. Jaejoong mirip dengan Iseul, saat masih training Jaejoong juga bekerja part-time.

Iseul tersenyum. “Yunho-ssi, kau ini seperti tidak pernah mengenal Cassiopeia saja. Cassiopeia itu kuat dan akan selalu setia sampai kapanpun. Seperti bintang yang tidak pernah meninggalkan langit yang gelap, kita akan membawa mimpi ini bersama selamanya dengan rasa cinta dan kepercayaan…”

“Hei, itu kan lirik lagu yang kita nyanyikan tadi,” kata Yunho.

“Iya, aku tahu,” Iseul tertawa. “Ah, aku harus kembali ke dorm. Aku pergi dulu,” kata Iseul lalu melambai pada Yunho. Yunho mengangguk. Setelah Iseul berjalan menjauhinya selama beberapa saat, Yunho memanggilnya lagi.

“Aku akan menunggu sampai kau debut, Iseul-ssi!”

Iseul menoleh. Dia terkejut Yunho bisa mengetahui namanya.

“Setahun, dua tahun, atau tiga tahun, aku akan menunggu! Aku akan mengatakan kalau kau adalah rookie yang paling menarik perhatianku!”

Wajah Iseul memerah mendengar kata-kata Yunho. Dia tersenyum dan mengangguk semangat. “Aku pegang janjimu, Yunho-ssi. Aku akan bekerja keras!” katanya. Dia melambai kembali pada Yunho, lalu berbalik pergi.

***

Sosok laki-laki itu memakai topi biru tuanya sedikit turun sehingga menyamarkan wajahnya. Dengan mudahnya dia bisa masuk ke gedung utama JYJ karena petugas sudah mengenali seragam petugas servis AC yang dia kenakan. Dia bergegas memasuki lift dan memencet tombol lantai 3. Tujuannya: ruangan CEO Kim Jaejoong.

“Cari informasi dan data-data mengenai daftar trainee di sana. Dan manipulasi juga data keuangan mereka.”

Laki-laki itu menghela napas panjang. Dia mengerti maksud dari perintah atasannya itu: mengacaukan internal JYJ. Jika Kim Jaejoong menyadari kalau data-datanya dibobol seseorang, dia akan berpikiran kalau internal JYJ disusupi orang luar. Mengenai kemungkinan kalau Byeon Ji Young yang berpotensi menjadi tersangka utama, karena statusnya sebagai mantan trainee SM, bos laki-laki itu menjawab, “Aku tidak peduli siapa yang menjadi tersangka utama. Aku hanya ingin membuat kekacauan disana.”

Laki-laki itu sudah sampai di depan ruangan Jaejoong. Ini bukan pertama kalinya dia menyusup kemari. Dari penyelidikan yang sudah dia lakukan sebelumnya, dia tahu kalau pada jam-jam tertentu Jaejoong tidak akan berada di ruangannya. Laki-laki itu kemudian masuk. Dia menaruh tasnya di sofa dan menuju rak tempat menyimpan dokumen-dokumen penting. Dia sampai pada dokumen data para trainee JYJ. Laki-laki itu mengambilnya.

Berikutnya, membobol data keuangan JYJ. Hanya mengerjakan ini, lalu dia akan cepat-cepat pergi.

Tok. Tok. Tok. Tok.

Praaaak! Laki-laki itu tanpa sengaja menjatuhkan tumpukan map di atas meja. Dia terkejut setengah mati mendengar suara ketukan itu. Dia tidak sadar kalau dia menjatuhkan dokumen yang dia ambil dan dokumen itu tertendang kebawah sofa.

“PresDir Kim?”

Laki-laki itu berpikir keras dimana dia harus bersembunyi, sementara orang yang mengetuk pintu itu sudah membuka pintu ruangannya.

***TO BE CONTINUE***

39 thoughts on “[Part 3 of ?] No! Name: Remake

  1. wahhh makin penasaran. .
    sapa tuh yang masuk kantor?? ckck penyamarannya jdi service AC knp gak jadi tukang angkot(?)#gak mutu-___-
    hueee g tw knp seneng banget kalo Yunhonya muncul hahaha. .
    oya pas bget aku baca ini d.TV muncul wrong number kekeke. .walo bukan cassie tpi kangen jga ya. .
    btw lgu love in the ice pnyanya sapa??dbsk? jdi pngn denger. .

    • hahaha, maunya sih penyamarannya jadi tukang anter makanan atau cleaning service, tapi ngga jadi, kekeke
      iya, love in the ice itu lagunya dbsk, ada di album mirotic. Lagu favoritku tuh, coba aja liat liriknya juga *kok promosi?*
      gomawo komennya ya :)

  2. haaahh,,
    saya berharap klo kata” yunho k iseul ntu beneran nyata…
    Tp saya yakini aja deh..
    Hehe…

    Lanjut thor…
    #sawer

  3. Ak sk klo prsaan ny stiap anggt no name jg dkupas, biar lbh ngena
    kren de
    Tbknku bnr sl namja yg ga sngj lukain iseul
    X ne sp yg ngetok pntu?
    Eunhoon kyk ny y..?

  4. ternyata bang yunho, itu iseul beruntung ato beruntung ya?
    sampe lagu love in the ice muncul di situ, hayaaaah~
    ff inii, ff iniii… bener2 merusak tembok kesabaran saya, penasaran to the max! o(>w<o)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s