It’s not Real

Title : It’s not Real

Author : Summer Cho

Main Casts : Kim Myungsoo a.k.a L and Lee Sungyeol

Other Casts : Other INFINITE’s members

Genre : romantic, relationship, friendship, family, yaoi, AU

Rating : PG14~

Length : Oneshoot

Disclaimer : all casts except L isn’t mine, but the plot and L is mine, kkk~ XD dan terinspirasi dari video2 MYUNGYEOL MOMENTS ^^

Backsound : INFINITE – Nothing’s Over

Haha, ini FF yaoi pertamaku. Eksperimen baru.

Setelah lumayan lama ga nge-post FF karena disibukin ama tugas ulangan dan remedial *ketauan begonya XP

Karena udah lama ga bikin FF, jadi maaf aja kalo kata2nya jadi balelol :D alias gaje acak2an, mohon maaf ^^

Oke, sekian sambutan dari saya, selamat membaca :D

# # # # #

Aku memeluknya dari belakang dan bersandar dipunggungnya. Nyaman dan terasa hangat. Aroma tubuhnya yang khas membuatku semakin nyaman bersandar dipunggungnya. Ia juga tidak keberatan dengan apa yang kulakuka.

“Nyaman, huh?” tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara khasnya. Akupun mengangguk pelan menanggapinya. “Jangan tidur. Aku tidak sanggup menggendongmu ke dorm.” Guraunya membuat tawaku pecah.

“Tidak akan!”

“Ya, masa’ kau tidak sadar-sadar juga? Kalau kau sudah bertemu dengan sesuatu yang nyaman kau pasti tertidur, dan kau akan susah dibangunkan kalau sudah tidur! Dasar tukang tidur!” serunya seraya mendorong kepalaku pelan.

Aku hanya tertawa, aku tidak akan pernah bisa menang debat dengannya. Ia terlalu pintar berkata.

Lima menit kemudian, aku merasa bosan karena ia tidak berbicara lagi. Aish, aku ingin segera pulang ke dorm lalu tidur. “Kapan semuanya selesai? Aku capek.” Keluhku lirih. Bisa kurasakan ia melirik ke belakang.

“Myungkin sebentar lagi, sabarlah sedikit. Kau enak, bisa bersandar dipunggungku, berat tau!” aku terkekeh. Akhirnya ia mengoceh lagi. Aku suka.

Hyung, aku tau ini tidak boleh. Tapi, aku tidak bisa menghilangkannya. Aku tidak bisa menghilangkan rasa lebihku padamu, hyung.

# # # # #

“Tidur saja kalau kau mau.”

“Katanya jangan tidur. Hyung mau menggendongku?” tanyanya yang memelukku dari belakang.

“Yah, kalau acaranya selesai, kutinggalkan kau disini lalu aku ikut yang lain pulang ke dorm, mudah kan?” aku yakin mukanya ditekuk sekarang. Aku berusaha menahan tawa membayangkan wajahnya yang sedang merajuk.

“Hyung kejam.” Komentarnya. Aku berbalik menghadapnya, sontak iapun melepaskan pelukannya.

“Hahaha, wajahmu, hahahaha..aigoo..wajahmu, Myungsoo-ah! Hahahaha!” aku sukses membuatnya makin cemberut. Beberapa fans dan member lain melirik kearah kami dengan kening berkerut. Ups.

Aku langsung berbalik ke depan lagi dan menariknya untuk memelukku lagi. Walaupun aku harus menahan beban tubuhnya, entah mengapa, aku merasa nyaman ketika ia bersandar dipunggungku. Seperti ada sesuatu yang hangat yang membuat tubuhku menjadi hangat juga. Aku suka.

Jika Inspirit pikir, kita hanya fake couple, untukku kita adalah real couple. Kenyataan tanpa rekayasa sedikitpun. Aku suka ketika Inspirit menjuluki kami MyungYeol couple. Aku punya perasaan yang lebih padanya.

# # # # #

Kami sampai di dorm pukul 4 sore. Kulihat ia langsung melangkahkan kaki ke kamarnya. Aku mencoba untuk tidak menghiraukannya dan melangkah ke dapur. Aku lapar.

“aish, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?” aku berbalik dan melihat Hoya hyung tengah melihat-lihat isi kulkas. Aku ada ramyun, hyung mau?” tawarku seraya menunjukkan sebungkus ramyun yang akan aku masak.

“Andwae. Aku makan ini saja.” Ia mengeluarkan sebuah apel lalu menggigitnya.

Akupun melanjutkan aktivitasku memasak ramyun. Bisa kurasakan Hoya hyung masih ada dibelakangku. “Sungyeol-ah,”

“Ne, hyung?”

“Apa tidak terlalu berlebihan?” aku mengerutkan keningku bingung.

“Apanya?”

“Fanservice-mu dengan Myungsoo.”

DEG

Kenapa ada member yang mengungkit-ungkit hal ini? Padahal aku yakin yang aku lakukan dengannya tidak berlebihan. “Wajar-wajar saja, aku tidak merasa ada yang berlebihan.” Komentarku ketus. Aku yakin Hoya hyung tidak menyadari kekesalanku.

“Yah, menurutku sih, ada.” Hoya hyung tetap pada pendapatnya membuat telingaku panas. “Walaupun itu wajar-wajar saja bagimu, tapi aku merasa fanservice-fanservice itu tidak cocok dengan image kalian.” Jelasnya seraya membuang sampah apel yang sudah habis.

“Maksud, hyung?”

“Mungkin untukmu tidak apa-apa. Tapi, kasian Myungsoo. Tolong jangan berlebihan.” Hoya hyung melangkah keluar dapur sambil bersiul pelan. Aku hampir saja melempar panci panas ini ke wajahnya. Namun, aku masih punya hati nurani.

Apa yang berlebihan? Wajah-wajar saja, fans banyak ayng suka, kenapa ia harus protes?

# # # # #

Aku senyum-senyum sendiri melihat video-video MyungYeoul couple yang di upload fans. Dan ternyata ada fan yang meng-upload video diriku yang memeluk Sungyeol hyung dari belakang. Haha, manis juga.

“Myungsoo-ah!” tiba-tiba seseorang mengambil posisi disampingku. Sontak, aku menutup video yang sedang aku tonton. “Nonton apa?” tanya Dongwoo hyung membuatku kikuk.

“Aanniyo! Bukan apa-apa.” Dongwoo hyung hanya mengangkat bahu lalu mengeluarkan ponselnya.

“Ya, bolehkah aku bertanya?” serunya tiba-tiba.

“Tentu saja, hyung. Waeyo?”

“Kenapa kalian bisa kompak sepert itu? Seperti pasangan nyata saja.”

“Maksud, hyung?” tanyaku pura-pura bingung. Padahal aku tau apa maksudnya.

“Itu, kau dengan Sungyeol.” Jawab Dongwoo hyung tanpa menoleh dari ponselnya. Sesuai dengan dugaanku.

“Hahaha, mungkin ada kecocokan. Anni, kita bukan pasangan sungguhan kok!” bantahku lalu tertawa. Dongwoo hyung mengerutkan keningnya bingung melihatku tertawa.

“Kalau sampai kalian sungguhan, bisa jadi masalah besar! Kau tau? Inspirit akan gempar, kemungkinan kita akan bubar atau hanya kalian yang akan dikeluarkan. Itu sangat sangat gawat.” Cerocos Dongwoo hyung membuatku berpikir. Kemungkinannya gawat sekali.

“Tenang saja, hyung. Tidak akan.” Ucapku ragu.

# # # # #

“Myungsoo-ah!” aku berlari menyusul Myungsoo yang sudah berjalan duluan.

“Em, hyung!” balasnya tanpa menghentikan langkahnya. Akupun menyamakan langkahku dengannya.

“Menurutmu kenapa MyungYeol couple disukai fans?” tanyaku tiba-tiba. Ia tidak terlihat kaget.

“Karena kita cocok.” Jawabnya santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Bagaimana kalau kita jadi pasangan nyata?” godaku seraya mengedipkan sebelah mataku.

Myungsoo berusaha menahan tawanya lalu berkata, “terserah hyung saja.” Jawabnya menggoda balik. Ia membuka pintu gedung lalu masuk. Aish, kenapa aku harus menggodanya seperti itu!

# # # # #

Aigoo, jantungku berdetak cepat ketika Sungyeol hyung menggodaku. Hah, Sungyeol hyung, kau berhasil membuatku salah tingkah.

Aku mengingat-ingat kejadian-kejadianku bersama Sungyeol hyung dulu. Hampir berciuman, curi-curi pandang, asyik berdua dipanggung, memeluknya, variety show bersama, semuanya, menyenangkan.

Tiba-tiba aku teringat kata-kata Dongwoo hyung seminggu yang lalu. Ah ya, kalau aku dan Sungyeol hyung menjadi nyata, bisa-bisa semua orang berbalik membenci kami. Itu tidak boleh terjadi.

Tapi apa yang harus kulakukan agar semua itu tidak terjadi?

# # # # #

Hari ini Myungsoo pergi ke Jepang untuk syuting. Aigoo, aku bosan!

Aku berkali-kali menonton fancam saat Myungsoo memelukku dari belakang. Ketidakhadiran Myungsoo benar-benar terasa.

Aku mengecek ponselku, siapa tau Myungsoo meneleponku.

Niga meoreojinda meolli jeomi dwenda~

Bareul tteji mothae maeumman dwijjocha ttara ganda~

Panjang umur! Ia meneleponu!

“Yeoboseyo.”

“Hyung!”

“Wae?” tanyaku dengan nada yang dibuat sedatar mungkin. Padahal didalam hati aku berteriak kegirangan.

“Aish. Aku menelepon disaat yang tidak tepat ya?”

“Anni.”

“Lalu kenapa suara hyung terdengar bete seperti itu?”

“Aku bosan.”

“Uh?”

“Cepatlah pulang. Aku bosan.” Tidak ada jawaban darinya. Aish, aku keceplosan lagi.

“A–arasseo! Aku akan pulang besok! Hyung tunggu saja. Ah, syutingku akan segera dimulai. Sudah dulu ya, hyung. Annyeong!” Myungsoo memutuskan panggilan secara sepihak. Padahal aku masih ingin mengobrol banyak dengannya. Aku menghela nafas lalu melempar ponselku ke sembarang arah.

# # # # #

Tadi ia bilang apa? Cepat pulang? Dia bosan? Aku memutuskan panggilan sangking gugupnya. Aish, kau sudah memberi harapan cukup banyak, hyung! Awas saja kalau kau mengecewakanku nantinya!

Jujur, aku juga bosan disini. Tidak bisa mendengar celoteh Sungyeol hyung, menunjukkan fanservice dengannya, mendengarnya bernyanyi, bermain bersama.

Huahh, cepat selesaikan ini lalu kau akan bertemu hyung-mu tercinta itu, Kim Myungsoo.

# # # # #

Karena aku dan member lain harus syuting acara Sesame Player, jadi manager yang menjemput Myungsoo dibandara. Aish, kenapa mereka lama sekali? Aku rindu pada Myungsoo-ku!

“Annyeong!” aku dan kelima member lain berbalik. Myungsoo melambai pada kami seraya memamerkan senyum khasnya. Iapun melangkah mendekati kami.

“Bagaimana syutingmu? Lancar?” tanya Sungkyu hyung yang sedang diperbaiki make up-nya oleh penata rias. Myungsoo tersenyum.

“Lancar, hyung. Buktinya aku bisa pulang lebih cepat.” Jawabnya seraya memainkan rambutku. Ia berdiri tepat disamping tempatku duduk. Member yang lain menatapnya heran.

“Ya, ini bukan syuting. Tidak usah bermesraan seperti itu.” Tegus Woohyun lalu menoleh ke ponselnya. Aku terkekeh pelan.

“Kenapa? Hyung iri ya? Sungkyu hyung hanya bermesraan denganmu jika didepan kamera?” godaku membuat ia kaget.

“Iri? Enak saja! Aku malah merinding melihat kalian berdua bersama.” Balas Woohyun tak mau kalah.

“Karena kami cocok, makanya kami selalu bersama.” Seru Myungsoo disambut jetikkan jariku.

“Benar sekali!”

# # # # #

Aku terbangun pukul 1 pagi. Aigoo, perutku mendadak lapar. Padahal aku sudah makan banyak tadi. Aish, berlatih untuk comeback memang menguras tenaga.

Aku keluar dari kamar berbarengan dengan terbukanya pintu kamar Sungyeol hyung, Hoya hyung, dan Sungjong. Sungyeol hyung pun muncul.

“Myungsoo? Sedang apa kau malam-malam begini?” tanyanya seraya menutup pintu.

“Hyung sendiri?”

“Aku lapar.”

“Kebetulan, aku juga sedang lapar, hyung.” Aku berjalan mengikutinya yang duluan ke dapur. Ia mendengus ketika membuka kulkas. Tidak ada yang bisa kami santap malam ini.

“Bagaimana kalau kita ke minimarket saja? Kita beli ramyung.” Usulku.

“Ide bagus! Kajja!” ia langsung menarik tanganku keluar dorm. Aish, padahal aku hanya menggunakan kaus lengan panjang yang tipis. Dia enak, pakai jaket.

Kami sampai disebuah minimarket yang buka 24 jam. Membeli ramyun cup, dan membuatnya disana. Selagi menunggu mie yang direndam air panas, aku dan Sungyeol hyung sibuk memansang keluar minimarket. Tengah malam, pantas saja sepi.

“Sudah lama tidak seperti ini.” Celetuk Sungyeol hyung. Ia tersenyum lalu menoleh padaku. “Waktu awal debut, kita juga pernah seperti ini kan?”

Aku mengangguk lalu menerawang masa lalu. Ketika INFINITE baru memulai debut. Aku dan Sungyeol hyung suka terbangun dimalam hari karena kelaparan. Karena tidak ada apa-apa dikulkas, kami pun membeli ramyun cup di minimarket dan menyantapnya disana.

Aku dan Sungyeol hyung memakan ramyun kami dalam diam. Sesekali aku melirik kearah Sungyeol hyung. Terlihat sekali ia sangat kelaparan.

“Sampai kapan kau mau curi-curi pandang seperti itu?” tanya Sungyeol hyung tiba-tiba dan membuatku tersedak.

“Uhuk! Uhuk!” Sungyeol hyung menepuk-nepuk punggungku lalu memberiku sebotol air. Aku langsung meneguknya hingga tersisa setengah.

“Ya, gwaenchana? Kalau makan hati-hati dong!”

# # # # #

Aku melirik Myungsoo yang berjalan disampingku. Ia meneguk soda kalengnya perlahan. Tanpa sadar aku memerhatikannya dari atas sampai bawah. Benar-benar sempurna.

Aigoo, apa yang kau pikirkan, Lee Sungyeol? Kau laki-laki dan dia laki-laki, kalian tidak mungkin bersatu.

“Hmm, benar-benar nyaman bisa jalan-jalan malam seperti ini!” serunya girang. Aku hanya tersenyum tipis padanya.

Ketika ia meneguk sodanya lagi, sebagian mengalir keluar membuat sensasi tersendiri didalam diriku. Refleks, tanganku terjulur untuk mengelap (?) soda yang mengalir dari mulutnya. Ia tersentak dan langsung menjauh dariku.

“A–pa yang hyung lakukan?” tanyanya salah tingkah. Aku hanya tersenyum meremehkan.

“Kau ini berapa tahun sebenarnya? Minum saja tidak benar.”

Perjalan kembali ke dorm terasa sangat lambat. Kulihat Myungsoo menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Apa dia kedinginan? Ia tidak memakai jaket. “Kau kedinginan?” tanyaku. Namun ia hanya menggeleng. Akupun berinisiatif untuk melepas jaketku dan memberikannya pada Myungsoo. “Pakailah.”

“Tidak perlu.”

“Aish, kau sudah menggigil seperti itu kau bilang tidak perlu?”

“Lalu hyung bagaimana?”

“Kau lebih membutuhkan ini daripada aku, cepat pakai.” Aku melempar jaket itu padanya. Sementara ia memakai jaketku, aku berpikir. Sekarang kan bukan musim dingin, kenapa dia menggigil seperti itu?

“Myungsoo-ah.”

“W –wae, hyung?” kenapa suaranya bergetar? Aku menoleh dan kini aku bisa melihat wajah pucat Myungsoo dibawah sinar lampu jalan.

“Gwaenchana? Kau sakit?” tanyaku seraya menyentuh kedua bahunya.

“Sejak pagi aku memang sedikit pusing. Tapi, aku baik-baik saja, kogjognhajima!” ia berusaha tersenyum. Aku mendekatkan wajahku. Ia mundur, mundur, dan…

# # # # #

Aku merasakan sesuatu yang keras dibalik punggungku. Aish, tembok! Sedangkan wajah Sungyeol hyung semakin mendekat. Apa yang akan ia lakukan? Ya Tuhan, jantungku serasa ingin keluar.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat ketika hidungku dan hidung Sungyeol hyung bersentuhan. Lalu aku merasakan sesuatu yang keras dan hangat dikeningku. Setelah itu, tidak ada yang terjadi lagi. Agak lama aku menunggu, dan akupun memberanikan diriku untuk membuka mata. Oke Myungso, hana, dul, set!

Betapa kagetnya aku melihat wajah Sungyeol hyung sebegitu dekat. Ia menempelkan keningnya dikeningku. Matanya menatap lurus ke mataku.

“Panas.” Gumamnya tiba-tiba.

“M –mwo?”

“Aigoo, kau demam, Kim Myungsoo!” iapun menjauhkan wajahnya.

Ternyata ia hanya mengecek aku demam atau tidak.

“Ayo cepat pulang. Kau harus istirahat!” ia menarikku untuk berjalan lagi menuju dorm. Aku terus memandang tangannya yang menggenggam tanganku. Ya Tuhan, apa kami sudah kelewatan?

Kami masuk ke dalam dorm yang gelap itu. Pukul 2 pagi. Semua pasti sedang lelap-lelapnya.

“Cepat berbaring. Aku akan ambilkan obat. Mau tidur dikasurku? Biar nyaman.” Aku hanya bisa diam mendengar ocehan Sungyeol hyung. Perhatian sekali.

“Err, aku dikamarku saja, hyung.” Aku masuk ke kamar dan menutup pintu. Tubuhku merosot ke bawah. Otakku memutar kejadian yang baru saja terjadi. Aku meraba dadaku, bisa kurasakan degupan cepat didalam.

Tok Tok Tok

“Myungsoo, ini obatnya.” Aku bangkit lalu membuka pintu kamar. Sungyeol hyung berdiri seraya memegang sebutir obat dan segelas air. Kami terdiam sesaat.

Tiba-tiba ia menyeringai membuatku sedikit takut.

“Kenapa tidak diambil obatnya?”

“Oh, eung, ne.” Baru saja aku hendak mengambil obat, Sungyeol hyung langsung menutup tangannya.

“Atau mau kuminumkan?” tawarnya membuatku merinding. Apa maksudnya?

Diluar dugaan, Sungyeol hyung memasukkan obat tersebut ke dalam mulutnya, meminum sedikit air, lalu menarik kepalaku mendekat.

Begitu cepat.

Sangat cepat.

Sampai aku baru menyadari apa yang dia lakukan SEKARANG.

Bisa kurasakan sebutir obat juga air masuk ke mulutku dan langsung tertelan dengan sendirinya olehku.

Tidak mungkin. Sungyeol hyung, benar-benar…

Menciumku.

# THE END #

Ngegantung? *readers: IYA!

Emang sengaja *ditimpuk readers

Hahahaha, feel nya dapet? Gemes? Kesel? Seneng? Sedih? Marah? Apalah terserah

Maaf kalo FF ini mengecewakan, maklum yaoi pertama, mohon komennya yaaaa :D

19 thoughts on “It’s not Real

  1. AIGO! beneran deh ga bohong, aku ingin MyungYeol itu real!! :D D
    authornya kereeeen!! ^^b
    ayo semangat buat ff MyungYeol! ayo author ayo!! *ngasih dorongan* *taunya author kecebur di sawah* #eh wkwwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s