[Freelance] Another Sad Story

Title                : Another Sad Story (Oneshot)

Author          : Saff.

Twitter          : @saffanahnf

E-mail           : saffadhila@ymail.com / saffanah_nurf@yahoo.co.id

Casts             : Choi Minho, Park Yoon-Hee (OCs), Onew, Jonghyun, Key, Taemin, & Kwon Yuri.

Genre             : Romance

Rating             : General

Disclaimer      : The plot is inspirated by U-Kiss’ Music Video 0330. But the story is quite different with the concept of 0330.

Note                : Special thanks for U-Kiss (Thanks for inspirating me!^^), my laptop (Thanks for accompanying me until midnight! >_<) and absolutely you, as the reader of this fanfiction J

                        Just leave a comment if you like my story. Thanks J

Love is simple.

 I love you, and you do.

 But it is not as simple as it seen.

Because there is no ‘us’ between you and me.

***

Siang itu, suasana di dorm SHINee sedikit muram. Tidak ada satupun di antara mereka yang berwajah ceria, kecuali Choi Minho. Keempat rekannya pun bingung dengan keadaan yang menyergap sahabat mereka itu.

Jonghyun melepas jas hitamnya. Ia hanya menangkupkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. Onew dan Key mulai beranjak ke dapur untuk memasak sesuatu, sedangkan Taemin duduk di sebelah Minhoyang sedang bermain game Winning Eleven.

“Minho-ya. Tolong hentikan sebentar permainanmu. Aku mau berbicara denganmu,” panggil Jonghyun seraya menatapMinho.

“Sebentar lagi, hyung. Kalau aku berhasil memasukkan sekali gol lagi, maka Yoon-Hee harus menepati janjinya untuk menemaniku ke toko buku,” kataMinho, sedangkan matanya tetap tak berkutik memandang layar televisi.

Taemin mendongak, mendapati wajahMinhobegitu serius mengucapkannya. Jonghyun menggelengkan kepalanya saatMinhomenyebut nama Yoon-Hee.

“Hanya sebentar. Tidak lebih darilimamenit,” ucap Jonghyun lagi.

“GOAL!” teriakMinhoberseri-seri. “Oke! Yoon-Hee harus menemaniku ke toko buku! Kau mau menjadi saksi karena kemenanganku,kan, Taemin?”

“Ah… I, iya, hyung,” jawab Taemin ragu.

“Oke. Adaapa, Jonghyun hyung?”Minho berbalik menatap Jonghyun yang bengong melihat sikapnya.

“Oh,” Jonghyun tersadar dari lamunannya sementara. “Kau… kapan pergi… ke toko buku?”

“Sore ini! Ah, nyaris saja aku lupa! Latihan basket bersama Yoon-Hee di lapangan atas! Aku pergi dulu!” Minhoberlari ke kamar dan mengambil kunci mobil serta sebuah bola basket yang ditandatangani dirinya dan Yoon-Hee. Ia keluar dari dorm SHINee dan membawa mobil sport biru kesayangannya ke arah lapangan atas.

Taemin bergidik ngeri saat ia tersadarMinhosudah pergi.

“Adaapa… dengan Minhohyung?”

Jonghyun hanya menggeleng. “Ia terlalu terpukul. Ia terlalu sakit hati,”

“Aku akan mengikutinya dengan mobilku. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya.” Key bergegas melepas celemeknya dan berlari keluar dorm. Onew muncul dari dapur dan menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.

“Apa Minho baik-baik saja? Ia telah menyaksikan pemakaman Yoon-Hee dengan mata kepalanya sendiri, lantas kenapa ia masih menganggap Yoon-Hee ada?”

***

Ketika sampai di tempat pemakaman, Choi Minho hanya termangu sendiri di mobil, sementara yang lainnya sudah keluar dari mobil Key.

Ya! Minho-ya! Kajja, jangan melongo seperti itu!” Onew menarik lengan Minho.

“Hahaha, ini mimpi kan, hyung?” jawab Minho dengan senyuman. Onew hanya melongo balik saat Minho bereaksi.

“Minho? Gwenchanayo?”

“Aku tahu ini mimpi! Bangunkan aku, cepat!” teriak Minho frustasi. Onew menampar pipi Minho. Tidak keras, namun cukup membuat pipi Minho memerah.

“Terimalah kenyataan, Choi Minho! Jangan bertingkah seperti anak kecil!” jerit Onew. Ia kehabisan kata-kata. Minho memandang Onew penuh amarah, lalu muncullah butiran bening di pelupuk matanya. Ia bergerak memeluk hyungnya itu.

“Yoon-Hee belum meninggal, hyung! Yoon-Hee belum meninggalkanku!!” Minho mempererat rengkuhannya pada Onew. Ia terlihat sangat kacau dan frustasi.

“Minho-ya… Kumohon, kau harus melihat proses pemakamannya…”

“Itu bukan Yoon-Hee! Itu orang lain! Aku tidak mau melihat proses pemakaman orang yang tidak kukenal!” Minho tiba-tiba melepaskan pelukannya kasar. Matanya menatap nanar setiap orang yang mengenakan pakaian berwarna hitam.

“Choi Minho! Jangan lari dari kenyataan!” Onew merasakan jeritannya seperti sudah lebih dari bunyi ultrasonik.

“Diamlah, hyung! Aku tidak pernah punya kenyataan seperti ini!”

Onew menangkap kedua bahu Minho dan mengguncangkannya dua kali dengan kuat.

“Yang akan dimakamkan itu adalah pacarmu, Park Yoon-Hee!” Onew mulai geram. Mata Minho memerah demi mendengar kata-kata Onew. Seketika tubuhnya mulai melemas dan bersandar di lengan hyungnya.

Hyung… Antarkan aku… Tolong… Yoon-Hee… Aku harus melihatnya…” Minho dan Onew mulai berjalan, memasuki area pemakaman.

***

Key memandangi mobil sport biru di depannya yang berhenti di depan sebuah rumah bercat putih. Rumah milik keluarga Park, di mana Park Yoon-Hee tinggal. Ia tak melihatMinho keluar dari mobil dan berkunjung ke rumah Yoon-Hee.Minho hanya tetap diam di mobil, seperti sedang menunggu sesuatu. Tak bisa menunggu lama, Key keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca mobilMinho.

“Oh, kau rupanya!” ucapMinhoceria seraya membuka kaca mobilnya. “Adaapa, Kibum?”

“Hmm, mobilku mogok… Boleh aku ikut denganmu?” Key merasa tidak enak membohongiMinho, tapi ia tahu ia harus melakukan ini.

“Boleh saja! Masuklah, tapi kau duduk di belakang, ya. Yoon-Heekanduduk di sebelahku,”Minhotersenyum dan membuka pintu belakang. Key kaget, tapi ia tetap masuk ke mobilMinho.

Key menatap jok di sebelahMinho. Tidak ada siapapun disana.

“Oke, ayo kita berangkat, Yoon-Hee! Jangan lupa, kalau aku berhasil memasukkan bola ke ring sampailimapuluh kali, kau akan mentraktirku makan es krim, iyakan? Kita berangkat!!”Minhomenyalakan mesin mobilnya setelah selesai berbicara pada ‘orang’ di sebelahnya.

Key membelalakkan matanya tidak percaya. Choi Minho di hadapannya bukanlah Choi Minho yang dulu lagi. Ia sudah berubah.

***

Taemin membukakan pintu dorm dan mendapati Key berdiri dengan wajah tidak percaya dan sedikit gila.

Hyung! Bola matamu nyaris keluar!Ada apa?!” Taemin sontak berteriak begitu melihat kondisi Key. Jonghyun dan Onew datang.

“Ah. Aku gila. Benar. Aku tidak gila.” Key bergumam tidak jelas.

“Kim Kibum! Apa yang terjadi padamu?” Jonghyun mengguncangkan bahu Key.

Key menatap Taemin, Onew, dan Jonghyun satu-satu, lalu ia mulai membuka mulutnya.

***

“Yoon-Hee! Oper padaku!” Minho asyik bermain dengan bola basketnya, sementara tidak ada siapapun yang menjadi partner mainnya. Sebenarnya, Key sudah ia ajak, tapi Key menolak dan memilih duduk saja. Ketika Minho berhasil memasukkan bolanya ke ring, ia menepuk udara dengan kedua tangannya.

Nice pass, chagiya!” Minho tertawa bahagia.

Hal itu terus berlanjut hingga Minho berhasil memasukkan bolanya sebanyak lima puluh kali. Key lalu bergegas membeli air mineral di minimarket terdekat, kemudian ia memberikan pada Minho yang terlihat kehausan.

“Kenapa kau hanya membeli dua botol? Untukmu dan untukku saja?” Minho terlihat aneh saat menerimanya. Key mengangguk bingung.

“Tentu saja. Siapa la…”

“Ini untukmu, Yoon-Hee. Aku akan beli sebotol lagi untuk diriku sendiri. Kau minum saja,” Minho tersenyum ke sebelahnya dan menaruh botol minum itu di atas lapangan kemudian ia berlari ke minimarket untuk membeli air mineral.

Ketika ia dan Key telah menghabiskan air minumnya, Minho bergegas membuang botol-botol plastik itu. Ia juga membuang botol minum yang ia berikan pada ‘Yoon-Hee’, namun botol itu masih utuh, belum tersentuh sama sekali.

Ya! Minuman itu kan belum diminum!” sahut Key spontan.

“Kau ini bicara apa? Yoon-Hee sudah tidak mau minum lagi, makanya aku buang,” Minho mengambil bola basketnya dan berjalan menuju mobilnya.

“Key, kau mau ikut pulang atau tidak? Aku akan mengantar Yoon-Hee pulang, jadi kau bisa mengambil mobilmu. Aku akan membantumu agar mobilmu tidak mogok lagi,” ucap Minho seraya memandang Key. Key hanya terbirit masuk ke  mobil tanpa membalas pandangan Minho.

Dan selanjutnya, apa yang dilakukan Minho sungguh gila di mata Key. Laki-laki itu berbicara sendiri. Melakukan dialog dengan seorang ‘Yoon-Hee’ yang sesungguhnya hanya monolog untuk dirinya.

***

Sudah tiga hari iniMinhoberkelakuan aneh. Menelepon seseorang bernama ‘Park Yoon-Hee’ hingga berjam-jam, pergi dengan alasan kencan dengan seseorang bernama ‘Park Yoon-Hee’, bahkan berbicara seakan-akan ‘Park Yoon-Hee’ ada di hadapannya.

“Minhobenar-benar berubah!” Key mendengus. “Ia terlihat sangat bahagia. Seharusnya ia dalam keadaan berkabung karena pacarnya meninggal!”

“Tutup mulutmu, Key,” Onew meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Key bergerak menutup mulutnya.

“Tapi, sungguh, Minhohyung berubah menjadi orang lain. Meski ia masih rajin berlatih untuk konser kita, tapi jiwanya berubah…” Taemin merenung. Yang lain berpikir bahwa pernyataan Taemin benar.

“Kalau begini, kita harus melakukan sesuatu!” Jonghyun mengambil inisiatif. Ia memandang pintu kamar Minho. Dari sanaterdengar suara obrolan dan tawa bahagia. Mereka dapat menebak bahwa Minhosedang bertelepon dengan seseorang bernama ‘Park Yoon-Hee’. Berkali-kali mereka mendengar Minhomengucapkan Yoon-Hee atau chagiya.

Tiba-tiba, pintu dorm diketuk seseorang. Key bergegas membukanya dan mendapati Kwon Yuri ada di situ.

“Oh, annyeong noona,” sapa Key. Onew, Jonghyun dan Taemin bergerak menyapa noona yang mereka kenal baik itu. Yuri bukan hanya noona yang mereka kenal karena mereka berada dalam satu manajemen, tapi juga karena Yuri dulu sangat dekat dengan Minho, sebelumMinho bertemu dengan Yoon-Hee.

Yuri tersenyum, kemudian matanya mencari-cari seseorang dalam dorm.

“Mencari Minho, noona?” tanya Onew. Yuri hanya tersipu malu.

“Iya. Di mana dia? Aku… khawatir dengannya. Bagaimana keadaannya setelah… setelah Yoon-Hee meninggal?” Yuri berkata pelan dan hati-hati. Onew, Jonghyun, Taemin dan Key saling berpandangan.

Noona, masuklah. Ikuti kami, dan kau akan tahu apa yang terjadi padaMinho.” Ucap Jonghyun. Mereka berjalan beriringan menuju kamarMinho, dan pintu tersibak karena Jonghyun mendorongnya.

Minhoyang sedang asyik bertelepon menatap nanar teman-temannya itu.

“Sebentar dulu, Yoon-Hee. Teman-teman datang, sepertinya mereka akan membicarakan sesuatu denganku. Nanti aku telepon lagi, chagiya,” ujarMinho pada ponselnya, kemudian ia memandang teman-temannya.

Yuri menutup mulutnya yang terkejut karena perubahan pada seorang Choi Minho yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Sadarlah, Minho-ya! Jangan hidup dalam khayalanmu!” Jonghyun merebut ponsel Minho kasar dan membantingnya ke atas sofa di kamarMinho. Alis Minho menaik dan ia merasakan emosinya menjalar di setiap saraf tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan, hyung? Kalian semua kenapa?! Kenapa kalian bertingkah aneh begini padaku, ha?!” Minho menarik ujung kerah Jonghyun kasar. Ia tak peduli lagi bahwa Jonghyun adalah hyungnya. Yang jelas, ia sangat marah saat ini.

“Bangunlah pada kenyataan, Choi Minho! Park Yoon-Hee sudah meninggal! Jangan mengada-ada bahwa ia masih hidup!” teriak Key. Mata marahMinhoberalih pada Key.

“Yoon-Hee masih hidup!”

“Sadarlah,Minho!” teriak Onew putus asa.

“Diamlah, hyung! Jangan mengada-ada!”

“Minho-hyung! Kau sudah gila?! Yoon-Hee noona sudah meninggal! Kau bahkan melihat langsung pemakamannya!” Taemin mengeraskan volume suaranya.

“Tutup mulutmu, Lee Taemin!” Mata Minho semakin memerah, semerah wajahnya karena pengaruh emosinya yang meledak.

“CHOIMINHO! Sadarlah!” Yuri tiba-tiba berlari dan menghambur ke pelukanMinho. Air matanya berurai, menyisakan bekas di pipinya. Ia merengkuh laki-laki itu penuh kasih sayang. Ia benar-benar tidak kuat melihat laki-laki yang ia cintai berkelakuan seperti ini.

Genggaman jariMinhopada ujung kerah Jonghyun merenggang seketika. Laki-laki itu seakan tersengat listrik saat Yuri memeluknya. Ia merasa… begitu rapuh dan lemah.

“Choi Minho, dengarkan aku. Tolong, bersikaplah sepertiMinhoyang seperti biasa. Kau sangat mencintainya, aku tahu itu! Kau tidak rela ia meninggalkanmu, aku tahu itu! Tapi tolong, jangan bersikap seperti ini! Tolong…” Yuri terisak pelan.Minhomerasakan bobot tubuhnya jatuh. Ia dan Yuri jatuh terduduk di atas lantai.

“Aku… Yoon-Hee… Ya! Aku tahu Yoon-Hee sudah tiada!”Minhomerasakan matanya basah. “Aku sadar, aku tahu Yoon-Hee tidak akan pernah bisa mendampingiku lagi. Aku sadar Yoon-Hee dan aku berada dalam dua dunia yang berbeda…”

Jonghyun, Taemin, Key dan Onew hanya bisa memandangi Yuri yang berusaha menenangkanMinho. Mereka cukup tahu diri untuk tidak mencampuri percakapan antara Yuri danMinho.

“Aku ingin ia tetap hidup dalam hatiku… Aku ingin ia tahu aku sangat mencintainya meski ia tak bisa muncul di hadapanku… Aku ingin mengenangnya…” air mataMinhoberjatuhan tak beraturan. Yuri memeluknya semakin erat.

“Aku tahu, aku mengerti, Minho-ya. Tapi kau tahu, itu bukan cara yang benar. Ketika kau melakukan hal itu, kau terlihat begitu sulit untuk melepasnya pergi. Yoon-Hee bahagia jika kau bahagia. Kau bahkan menyisakan bahagiamu bukan di hatimu, tapi justru di wajahmu dengan banyak kebohongan di antaranya. Kau mengaku pada orang-orang bahwa kau bahagia menjalani kehidupan dengan menganggap Yoon-Hee ada, tapi bahkan hatimu terpuruk. Kau sakit hati, kecewa, dan sedih, yang kau pendam dalam kesendirian…”

Minhomasih menangis dalam diam. Matanya yang besar memandang langit-langit, seakan berharap Yoon-Hee ada di situ, sedang melihatnya.

“Ya, aku sadar aku sendiri. Aku memang berusaha menutupinya dengan melakukan aktivitas yang sering kulakukan bersamanya serta menganggap dirinya ada. Tidak disangka, rupanya hatiku sakit karena hal itu. Ia pergi untuk selamanya, dan aku harus menerimanya….”Minhomenutup matanya pelan. Membiarkan setiap air matanya jatuh, mewakili semua kepedihan dalam hatinya.

Ingatan panjang tentang Park Yoon-Hee ia biarkan mengalir. Ia biarkan dirinya memikirkan saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu. Saat pertama kali ia merasakan debaran jantung saat bersama gadis itu. Saat kencan pertamanya dengan status ‘pacaran’ bersama gadis itu. Saat ciuman pertama mereka di lapangan Atas. Saat mereka bermain basket bersama, serta saat ia terakhir kali melihat Park Yoon-Hee.

Park Yoon-Hee meninggal karena kecelakaan mobil.Minhotelat menjemput gadis itu karena terjebak macet. Saat ia sudah hampir sampai, kecelakaan yang merenggut nyawa gadis yang sangat ia cintai itu terjadi di depan matanya. Sebuah truk besar melintas saat gadis itu menyeberang jalan untuk menghampiriMinhodi seberang jalan.

Kejadian itu kini bagaikan foto yang beredar dalam otakMinho. Saat truk itu menghantam Yoon-Hee. Saat tubuh gadis yang ia cintai terseret mobil jahanam itu. Saat ia segera berlari mengejar Yoon-Hee. Saat ia mendapati gadisnya berlumuran darah. Saat ia berteriak dan menitikkan air mata karena luka yang diderita gadis itu. Serta… saat gadis itu mengucapkan kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanMinho.

“Saranghae… Minho oppa…”

Ucapan gadis itu masih menggema dalam sudut telinganya.Minhohanya menutup matanya lagi dan menjambak sejumput rambutnya. Tidak. Ia tidak bisa terus-terusan meratapi gadis itu. Ia tidak bisa terus-terusan menyerahkan hidupnya pada khayalan. Ia tidak bisa terus-terusan bergantung pada Park Yoon-Hee.

Minhomengusap matanya yang basah. Ia memandangi sekelilingnya. Ada Onew, Jonghyun, Key, dan Taemin. Sahabat-sahabat yang sudah pasti akan selalu mendukungnya dalam kondisi apapun. Dan gadis dalam pelukannya, Kwon Yuri. Gadis yang secara tidak langsung selalu menyemangatinya lewat sikapnya untukMinho.

Sore itu, angin bertiup dengan khidmat. Senada dengan perasaan Minhoyang campur aduk karena Park Yoon-Hee. Minhotersenyum memandang jendela dorm dan memandang Yuri yang masih berada dalam pelukannya. Onew, Jonghyun, Key dan Taemin menepuk pundakMinho pelan seraya memberikan sahabat mereka sebuah senyuman untuknya.

Minhomenutup matanya, menguatkan ia dan hatinya sendiri, agar ketika ia membuka matanya ia sudah kembali menjadi Choi Minho yang dikenal seperti biasa. Choi Minho yang mencintai Park Yoon-Hee, namun Choi Minho yang juga akan bisa mencintai orang lain selain gadis itu.

***

Can you feel me? Can you touch me? Can you look at me just for once?

You’re there, I’m here. But there is something between us. That’s love for me, and for you.

-

FIN.

About these ads

23 thoughts on “[Freelance] Another Sad Story

  1. ihh!!
    aku merinding!!!
    huwaaa,,:(
    gak kebayang ngeliat dengan mata kepala sendiri orang yang kita cinta pergi dengan tragis pula,,:(
    huhuhu
    fighting oppa,,:)

  2. ya ampunn. seremmm. bikin mewek. feelnya kena banget. apalagi yang katakatanya “that’s love for me, and for you” wowww. keren banget kata-katanya. bagus banget thor.

  3. Sumpah ini sedih banget :’(:’(
    Minhooooo gak maugakmauuu
    Gak ngebayangin kalo minho kayak gitu beneran
    Aigoaigoooooo
    Yuri ayo ayo bimbing minho :’

  4. daebakkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!
    nangis bombay krn t’lalu m’hayati crta

    knp hrus dongsaeng qu yg merana???
    gk tega liat dya frustai kyk gtu..

    mantappppppppppp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s