Author: v3aprilia, dwiananing, Fiensa_F
Length: chaptered
Genre: drama, family, friendship, romance
Rating: PG
Main Cast:
No! Name’s member:
- Choi Eunhoon (Orchid Choi) —> dwiananing
- Jung Iseul (Kiara Jung) —> v3aprilia
- Park Jiyoo (Jane Park) —> Fiensa_F
- Byeon Ji Young (Jill Byeon) —> LiaaML
- Kim Hye Ran (Rainy Kim) —> Rani Dwi
JYJ
- Kim Jaejoong
- Park Yoochun
- Kim Junsu
PART IX
“Ji Young onnie keluar tepat tiga hari setelah Bo Ra onnie ditemukan meninggal di studio latihan karena serangan jantung mendadak.”
Sampai hari ini Changmin nyaris tidak percaya dengan kata-kata Amber itu. Dia sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari SM tapi dia merasa seperti terisolir dari lingkungan sekitarnya, sama sekali tidak tahu masalah yang sedang terjadi.
Changmin bukannya sama sekali tidak mempedulikan keluarga SM lainnya, dia malah mengenal beberapa trainee. Tapi dua nama itu, Jung Bo Ra dan Byeon Ji Young, baginya bagaikan dua nama dari antah berantah yang tiba-tiba muncul begitu saja dan membuatnya begitu penasaran. Bo Ra dan Ji Young seperti bukan bagian dari SM, meskipun kenyataannya mereka pernah berada disini, di gedung yang sama dengan Changmin.
Changmin tiba-tiba saja memiliki pikiran buruk tentang Ji Young, berpikir kalau apa yang terjadi dengan dua gadis itu adalah sesuatu yang buruk, seperti… pembunuhan.
“Astaga… tidak mungkin…” Changmin berusaha mengusir pikiran buruk itu jauh-jauh dari kepalanya. Tidak mungkin ada hal-hal mengerikan seperti itu di SM.
Tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan hal ini, dia harus tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam gedung ini. Meskipun Changmin sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah akhirnya dia mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia memutuskan untuk menyelidikinya.
***
“Ya, Eun-ah, jas siapa itu yang kau gantung di dekat lemari tadi pagi?” tanya Jiyoo pada Eunhoon, saat mereka mendapat jeda istirahat setelah berlatih selama 1 jam.
Eunhoon menoleh menatap Jiyoo, mendadak gugup. Dia merasa, terlalu mencurigakan kalau Eunhoon berterus terang tentang pemilik jas itu, yang tentu saja Jaejoong.
“Temanku…” jawab Eunhoon pelan.
“Onnie sudah berganti profesi ya?” ledek Hye Ran. “Membuka usaha laundry?”
Iseul dan Ji Young tertawa mendengar kata-kata Hye Ran. Baru setelah Eunhoon melotot galak kearah keduanya, tawa dua gadis itu mereda. Mereka hanya mendengus menahan tawa sambil berpura-pura membaca kertas partitur diatas meja.
“Mau teman atau tidak, jas itu jelas-jelas milik pria,” kata Jiyoo.
“Kyuhyun sunbae?” tanya Iseul, melirik Eunhoon curiga.
“Eunhoon dekat dengan banyak orang, memangnya nama itu saja yang muncul di kepalamu?” kata Jiyoo. “Aku malah merasa seperti pernah melihat jas itu… Menurutmu bagaimana, Onnie?”
“Jas sebagus itu tidak mungkin diproduksi dalam jumlah banyak…” komentar Ji Young singkat.
“Sepertinya aku pernah melihat PresDir Kim memakai jas yang mirip seperti itu…” gumam Jiyoo.
“Kenapa sih kalian langsung menyimpulkan kalau itu milik PresDir?” tanya Eunhoon.
“Memangnya tidak boleh? Lagipula Jiyoo kan hanya bilang kalau dia pernah melihat PresDir memakai jas seperti itu,” kata Iseul. “Kau sendiri kenapa tiba-tiba sewot?”
“Jangan mengelak, Onnie,” kata Hye Ran. “Tuh lihat, kaki onnie tidak bisa diam. Biasanya onnie selalu begitu kalau sedang menyembunyikan sesuatu.”
Ji Young melihat ke bawah meja, lalu mendengus menahan tawa. “Aigoo… uri-leader ternyata tidak pandai merahasiakan sesuatu ya…”
Eunhoon mendengus kesal. “Baiklah, itu memang punya PresDir, lalu kenapa? Apa selanjutnya kalian akan menanyakan kenapa jas itu bisa ada padaku?”
“Tentu saja,” kata Jiyoo. “Kau pikir kami tidak penasaran?”
“Asalkan kalian berjanji ini hanya jadi rahasia berlima saja, ok? Aku tidak mau ini berkembang jadi gosip yang macam-macam,” kata Eunhoon. “Arraseo?”
“Baiklah,” kata keempat gadis itu.
“PresDir meminjamkan jasnya karena…” Eunhoon menghela napas panjang. “Karena dia melihatku kedinginan dan aku tidak membawa jaket. Itu saja. Lagipula PresDir juga menyuruhku untuk mencucikan jas itu.”
“Wow, PresDir mempercayakan jas semahal itu untuk onnie pakai dan akhirnya dicuci olehmu, onnie…” kata Hye Ran.
“Bisa berhenti meledek, tidak?” kata Eunhoon kesal.
“Kenapa kau kesal? Bukankah PresDir itu biasmu?” tanya Iseul. “Dimana-mana seharusnya fans merasa bahagia kan, kalau mendapat sesuatu milik idolanya. Yah, katakanlah kau akan berteriak histeris sambil melompat-lompat diatas tempat tidur atau berlari mengelilingi dorm…”
“Memangnya kau pernah melihatku seperti itu?” tanya Eunhoon sewot, tapi juga merasa geli mendengar kata-kata Iseul. “Entahlah, aku juga merasa kalau itu bukan sesuatu yang harus digembar-gemborkan…”
“Tapi, setelah mendengar cerita onnie, aku jadi ingat berita yang dulu itu,” kata Hye Ran sambil tersenyum-senyum. “Dulu PresDir pernah mengatakan kalau kemungkinan dia akan menikahi salah seorang fans-nya, ingat?”
“Ah, iya,” Iseul tertawa. “Eunhoon yang mencucikan jas PresDir itu, jadi setelah itu mungkin PresDir mulai mempertimbangkan Eunhoon adalah fans yang cocok menjadi calon istrinya,” katanya. Dia dan Hye Ran tertawa lalu ber-high five.
“Astaga… kenapa kalian berpikiran seperti itu…” Eunhoon tidak berdaya dirinya menjadi bulan-bulanan dua maknae No! Name ini. “Sudahlah, waktu istirahat sudah habis! Ayo latihan lagi!”
Iseul dan Hye Ran masih tertawa meskipun Eunhoon memasang tampang galak.
“Ayolah, leader sudah menyuruh kita latihan,” sindir Ji Young. Jiyoo mendengus menahan tawa.
***
Jaejoong tidak tahu apa yang dia lakukan kali ini. Alih-alih menuju ke ruangannya, dia justru berjalan berlawanan arah menuju ke studio latihan. Dia hanya berdiri di depan pintu studio tanpa masuk ke dalamnya. Mencari Eunhoon? Entahlah, konyol kalau hanya itu tujuannya datang ke studio, pikirnya. Tapi tentunya lebih konyol lagi kalau dia hanya berdiri di depan pintu.
“Apa yang kau lakukan, hyung?”
Jaejoong menoleh, kaget mendengar suara Yoochun yang tiba-tiba saja sudah ada disampingnya. Yoochun sendiri heran melihat tingkah Jaejoong yang aneh.
“Apa yang kau lakukan?” Yoochun mengulang pertanyaannya.
“Ah, tidak…” jawab Jaejoong canggung. “Penampilanmu rapi sekali, mau kemana?”
“Menjemput ibuku. Kami diundang ke konferensi pers drama baru Yoohwan. Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya padamu?” tanya Yoochun, menyebut adik laki-lakinya, Park Yoohwan.
“Ah, ya, tentu saja. Maaf, aku lupa,” kata Jaejoong.
Yoochun melihat pintu studio latihan sekilas, lalu tersenyum. “Kau tampaknya ingin menagih jasmu kembali, ya?”
“Maksudmu apa?” tanya Jaejoong heran.
“Kau pikir aku tidak melihatmu diatap gedung kemarin malam? Kau meminjamkan jas pada Eunhoon-ssi kan?” tanya Yoochun. “Sudah lama aku tidak melihatmu meminjamkan jas pada seorang gadis, hyung…”
“Aku… memangnya tidak boleh?” kata Jaejoong, sedikit tersinggung dan malu. “Itu tidak berarti apa-apa!”
“Hahaha, arraseo… Tidak perlu sesewot itu, hyung,” kata Yoochun sambil tertawa. “Aku pergi dulu.”
Jaejoong mendengus kesal, tapi Yoochun hanya tertawa lalu pergi. Jaejoong menoleh kembali ke studi latihan, kemudian berjalan menjauh. Dia tidak mau mengambil resiko kalau member No! Name membuka pintunya dan melihatnya berdiri mematung disana, terlebih Eunhoon.
Tapi Jaejoong tidak sengaja mendengar sedikit obrolan artis didikannya itu.
“Bukankah PresDir itu biasmu?” “Ada kemungkinan suatu saat nanti PresDir akan menikahi fansnya, ingat?”
Jaejoong pergi, menuju ke ruangannya. Dia pura-pura menggerakkan bibir seolah sedang bersiul, meskipun tak ada suara siulan keluar dari mulutnya, untuk menyamarkan senyumnya setelah mendengar obrolan No! Name.
Eunhoon adalah fans-ku…
***
Changmin mengetuk pintu ruangan Young Min dan masuk. Dia melihat Young Min berdiri membelakanginya, menatap keluar jendela, dan pria itu tidak membalikkan badannya bahkan setelah Changmin berdiri tak jauh darinya.
“Anda memanggilku?” tanya Changmin.
“Aku tidak menyangka kau bisa memiliki rasa penasaran yang begitu besar tentang kedua gadis itu,” kata Young Min, tapi tetap berdiri membelakangi Changmin, seolah dia sedang berbicara dengan refleksi Changmin yang terpantul di kaca jendela.
Changmin langsung berpikiran kalau pria di depannya ini sudah memata-matainya sejak beberapa waktu yang lalu, dia tidak mengerti darimana Young Min bisa mengetahui kalau Changmin memang berniat menyelidiki Ji Young dan Bo Ra.
“Aku hanya tidak ingin terlihat konyol karena tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi di dalam gedung ini,” kata Changmin.
“Masalah?” Young Min berbalik menatap Changmin. “Seorang trainee yang berpindah manajemen itu hal yang pasti akan selalu terjadi. Menurutmu, itu adalah masalah besar yang harus kau selidiki?”
Tak ada satupun orang disini yang diperbolehkan mengungkit-ungkit namanya lagi… Changmin bisa melihat itu dari cara Young Min menyebut Ji Young. Alih-alih menyebut namanya, dia hanya menyebut Ji Young dengan sebutan ‘seorang trainee’.
“Aku tidak suka kau melakukan hal seperti itu,” kata Young Min. “Kenapa kau tidak fokus dengan pekerjaanmu saja? Malah melakukan hal-hal tidak berguna seperti ini…”
“Aku minta maaf sebelumnya, tapi…” kata Changmin. “Kalau anda hanya melarangku tanpa menjelaskan alasannya, itu justru semakin menguatkan kecurigaanku kalau memang ada sesuatu yang tidak beres dibalik keluarnya Byeon Ji Young…”
“Lakukan saja apa yang aku katakan, Shim Changmin,” kata Young Min, rahangnya mengeras ketika dia mendengar Changmin menyebut nama Ji Young dengan jelas di depannya. “Kau artisku, bukan detektif bayaran. Kau tidak usah ikut campur dengan hal-hal seperti ini!”
“Baiklah, aku mengerti,” kata Changmin. “Apa itu saja yang ingin anda katakan?”
“Ya,” kata Young Min singkat, terdengar amarah dari nada bicaranya.
“Baik, aku tidak akan melakukannya lagi,” kata Changmin. Dia membungkuk singkat pada Young Min lalu melangkah menuju pintu keluar. “Tapi, meskipun aku tidak melakukannya lagi, itu tidak berarti rahasia ini akan tersembunyi selamanya. Mungkin memang bukan aku yang akan mengungkapkannya ke publik, tapi suatu saat nanti, akan ada orang lain yang melakukannya.”
Changmin keluar dari ruangan tanpa melihat ekspresi Young Min setelah dia berbicara seperti itu.
***
“Kau kenapa?”
Changmin agak tersentak saat Kyuhyun menepuk pundaknya.
“Kau kenapa?” Kyuhyun mengulang pertanyaannya. “Sepertinya suasana hatimu sedang tidak bagus. Apa ada masalah didalam sana?” Kyuhyun menunjuk koridor yang mengarah ke ruangan Young Min dengan dagunya.
“Aku heran kenapa semua orang sepertinya sangat kompak untuk menutupi masalah ini,” kata Changmin. “Kau tahu kan, Ji Young…”
“Ayo kita ke kafetaria di lantai bawah,” Kyuhyun menepuk punggung Changmin.
“Aku tidak haus,” tolak Changmin.
“Tapi suasana hatimu buruk begitu, lebih baik kau minum teh denganku,” kata Kyuhyun.
“Kau sengaja?” tanya Changmin, dengan nada tidak suka, saat mereka berdua sudah duduk di kafetaria. “Kau ini sama saja dengan semua orang di SM…”
“Aku tidak suka membicarakan sesuatu yang serius sambil berdiri,” kata Kyuhyun. “Lagipula, sepertinya wajar kalau CEO tidak suka dengan tindakanmu itu, karena mungkin dia khawatir kau mengabaikan jadwal kegiatanmu…”
“Tapi aku tidak pernah melupakan jadwalku!” kata Changmin.
“Selain itu,” potong Kyuhyun. Dia berhenti sejenak saat pesanan teh untuknya dan Changmin datang. “Kau buang-buang waktu mencari info tentang Ji Young dan Bo Ra dari Amber, atau menyusuri seluruh gedung demi mencari info lainnya.”
Melihat dahi Changmin yang berkerut karena tidak mengerti, Kyuhyun melanjutkan kata-katanya. “Aku mengenal mereka berdua.”
“Astaga!” kata Changmin. “Dan kau bisa-bisanya merahasiakan itu dariku?”
“Masalahnya, aku juga tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahumu. Padahal sudah sejak beberapa waktu yang lalu aku melihat gelagatmu yang sangat ingin tahu segala hal tentang kedua gadis itu.”
“Lalu, apa saja yang kau tahu?” tanya Changmin. Dia kemudian menceritakan beberapa hal yang dia dengar dari Amber pada Kyuhyun.
“Mereka memang tidak tahu banyak, meskipun mereka memang sangat dekat,” kata Kyuhyun, membela Amber. “Tapi semoga saja, apa yang aku tahu ini bisa membantu mengatasi rasa ingin tahumu yang besar itu.”
“Aku curiga,” kata Changmin. “Atau jangan-jangan… kau dapat informasi itu dari gadis yang sedang dekat denganmu?” tanya Changmin, dan tepat pada saat itu, ponsel Kyuhyun bergetar. Changmin melihat wajah Kyuhyun mendadak sumringah saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. “Dia kan? Orchid?”
“Kau menganggapku sebagai pria yang tidak punya perasaan, ya?” kata Kyuhyun tersinggung. “Kami dekat karena kami memang beberapa kali bertemu, bukan karena aku sengaja mendekatinya!”
“Ne, ne, aku percaya,” kata Changmin. “Lalu kau akan bertemu dengan gadis itu lagi?”
Kyuhyun mengangguk, sambil membalas pesan dari Eunhoon. “Malam ini di restoran. Dan hari ini rencananya aku akan…”
“Ya! Stop dengan rencana pribadimu itu! Aku sedang membicarakan Ji Young!” kata Changmin. “Apa saja yang kau ketahui tentang kedua gadis itu? Apakah mereka sahabat, atau…”
“Lebih dari sekedar sahabat,” kata Kyuhyun. Dari caranya menatap lawan bicara, Changmin yakin Kyuhyun tidak bermain-main dengan hal ini.
***
Malam ini Eunhoon tidak langsung pulang ke dorm setelah menyelesaikan semua kegiatannya selama seharian itu, karena Kyuhyun sudah memesan satu tempat di restoran untuk makan malam bersamanya. Hubungan persahabatan mereka sudah semakin erat belakangan ini, dan melihat Kyuhyun yang sangat ingin menjadikan makan malam itu terasa istimewa, sepertinya Kyuhyun menganggap persahabatannya dengan Eunhoon sebagai hubungan yang spesial.
Sebelum Eunhoon menuju ke tempat yang sudah dipesan Kyuhyun, dia baru sadar kalau dia melupakan dompetnya, dan seingatnya, terakhir kali dia melihat dompetnya adalah saat dia berada di studio. Mustahil Eunhoon kembali ke studio untuk mengambil dompetnya, tapi dia juga khawatir kalau dompetnya tidak diambil, dompetnya akan benar-benar hilang. Eunhoon segera menghubungi Iseul yang malam itu juga belum pulang dari latihan drama musikalnya.
“Iseul-ah, apa kau sudah pulang dari latihan drama musikalmu?” tanya Eunhoon pada Iseul lewat telepon.
“Sedang dalam perjalanan. Kau sedang ada dimana?” tanya Iseul.
“Aku… sedang ada di restoran bersama Kyuhyun sunbae,” kata Eunhoon. “Iseul-ah, jalan pulangmu searah dengan studio kan? Bisakah aku minta tolong? Dompetku tidak ada di dalam tas, dan kupikir mungkin tertinggal di studio…”
“Kau memintaku mengambilkannya?”
“Iya, aku tidak bisa pergi kesana sekarang,” kata Eunhoon. “Kumohon, Iseul… Aku khawatir dompetku benar-benar hilang kalau kau tidak segera mengambilnya… Kau mau membantuku kan?”
“Iya iya, aku akan mengambilnya. Sebentar lagi aku sampai,” kata Iseul.
“Baiklah. Terima kasih, Iseul,” kata Eunhoon lega, lalu menutup teleponnya.
“Siapa itu?” tanya Kyuhyun, yang menghampiri Eunhoon.
“Ah, aku tadi menelepon Iseul. Maksudku, Kiara,” jawab Eunhoon.
Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum. “Gadis itu…” gumamnya, lalu menarikkan kursi untuk Eunhoon.
Eunhoon merasakan sesuatu yang tidak enak dari senyuman itu. Eunhoon tahu kalau Kyuhyun sudah mengetahui tentang Iseul yang tidak terlalu menyukai dirinya. “Sunbae, aku mohon kau mau memaklumi Kiara. Meskipun kenyataannya dia tidak terlalu menyukaimu, tapi dia tidak sampai berbuat seperti…”
“Iya, aku tahu,” kata Kyuhyun. “Aku ingat saat dia menyapaku di akhir acara Inkigayo minggu kemarin, dan dugaan netizen kalau Kiara-ssi tidak menyukaiku sepertinya berkurang karena mereka melihat dia respek denganku. Kau tahu, dari situ aku bisa melihat kalau Kiara itu pribadi yang unik.”
“Unik?”
Kyuhyun mengangguk. “Dia anti-fansku, aku tahu itu sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi aku tidak pernah khawatir karena dia tidak sama seperti anti-fans yang lain, yang menyerangku bahkan mengatatakan hal-hal buruk tentang keluargaku, padahal keluargaku sama sekali tidak ada sangkut pautnya…”
“Sunbae…” gumam Eunhoon, paham dengan apa yang dikatakan Kyuhyun tentang insiden buruk yang dialami Kyuhyun beberapa bulan yang lalu, saat anti-fans menyerang Kyuhyun lewat Twitter.
“Tidak apa-apa, itu sudah kejadian lama,” kata Kyuhyun sambil tersenyum.
***
Jaejoong baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan hendak pulang. Saat keluar dari ruangannya, Jaejoong melihat dari jauh, sesosok gadis berambut panjang sedang keluar dari studio.
Eunhoon? gumam Jaejoong dalam hati. Jantungnya berdetak kencang, terlebih saat gadis berambur panjang itu berjalan kearahnya sambil menatap benda di tangannya. Gadis itu memang terlihat seperti Eunhoon, karena gadis itu dilihatnya memakai blus warna biru gelap, mirip seperti gaya keseharian Eunhoon.
Gadis itu semakin mendekat kearah Jaejoong, dan wajah gadis itu sumringah ketika melihat Jaejoong. Dia tersenyum, lalu membungkuk.
“PresDir Kim.”
Jaejoong tersentak. Kenapa suaranya tidak mirip Eunhoon? Bukankah ini seperti suara Iseul?
Iseul heran melihat Jaejoong yang menatapnya dengan ekspresi seperti orang yang kaget. “PresDir? Kau tidak apa-apa?”
“Ah, tidak, tidak apa-apa,” kata Jaejoong. “Kau… kenapa rambutmu tiba-tiba panjang?”
“Oh, ini untuk keperluan drama musikal,” kata Iseul sambil menyentuh rambutnya. “Aku tidak cocok memakai wig, jadi aku menyambung rambutku. Bukankah PresDir sudah melihat rambutku kemarin?”
“Ah, ya, tentu saja. Maaf, hari ini rambutmu tidak selurus kemarin, aku lupa,” kata Jaejoong, asal bicara. “Kenapa kau masih ada disini malam-malam?”
“Eunhoon minta tolong padaku supaya mampir sebentar ke studio mengambilkan dompetnya, karena dia masih ada di restoran bersama Kyuhyun sun…”
“Dengan siapa?” tanya Jaejoong cepat. “Dia santai-santai makan malam di restoran sementara dia menyuruhmu mengambilkan dompetnya malam-malam begini?”
Iseul terkejut melihat Jaejoong mendadak emosi seperti ini. “Tapi, aku tidak keberatan…”
“Lihat wajahmu! Wajahmu sudah lelah seperti itu tapi kau masih saja mau disuruh-suruh olehnya! Harusnya dia sendiri yang mengambil dompetnya!” kata Jaejoong emosi. Bahkan dalam hati sekalipun, Jaejoong tidak mau mengakui kalau dia sebenarnya sedang cemburu.
“Tapi PresDir, aku…”
“Ayo pulang,” Jaejoong langsung menarik lengan Iseul, terkesan memaksa gadis itu.
“Tapi, taksinya masih menunggu…”
“Suruh saja dia pulang! Apa susahnya sih? Dia kan hanya menunggu bayaran!” kata Jaejoong. Iseul bergidik melihat Jaejoong yang mendadak galak.
Iseul masuk ke dalam mobil Jaejoong, heran melihat mood Jaejoong yang mendadak berubah hanya karena Eunhoon berada di restoran bersama Kyuhyun. Jaejoong akhirnya kembali setelah membayarkan argo taksi, dan menutup pintu mobilnya dengan keras.
“PresDir, ada apa dengan…” Iseul belum selesai bertanya, tapi dia menjerit karena Jaejoong memacu mobilnya dengan kecepatan gila-gilaan.
“PresDir! Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganmu dan Eunhoon, tapi aku tidak suka duduk di dalam mobil yang sedang ngebut!” kata Iseul.
“Ini mobilku! Terserah aku mau melakukan apa!” kata Jaejoong. Iseul tidak berani berkata apa-apa lagi. Gadis itu memeluk tasnya dengan erat, belum pernah dia menaiki mobil dengan kecepatan seperti ini. Sepertinya Jaejoong menekan pedal gas hingga habis.
Sebentar saja, mereka sudah sampai didepan dorm. Iseul nyaris terlonjak dan hampir saja membentur dashboard kalau saja dia tidak memakai seatbelt. Sudah dua kali Iseul melihat Jaejoong sangat marah, dan ekspresinya sama mengerikannya dengan Eunhoon.
“Masuk,” kata Jaejoong.
“Terima kasih banyak,” kata Iseul pelan, dalam hati dia mengucap syukur bisa kembali ke dorm dalam keadaan utuh. Dia keluar dari mobil, rasa lelahnya semakin terasa karena kali ini kepalanya juga pusing.
Jaejoong tidak langsung beranjak pulang, bahkan setelah Iseul masuk ke apartemen. Dia menunggu Eunhoon kembali dari restoran, dan kemungkinan Kyuhyun yang mengatarnya.
Sekitar 20 menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil Jaejoong. Jaejoong melihat Eunhoon keluar dari mobil itu dan membungkuk sambil mengucapkan terima kasih. Setelah mobil yang mengantar Eunhoon itu beranjak pergi, Jaejoong segera keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Eunhoon. Tanpa banyak bicara, dia langsung menarik Eunhoon menuju mobilnya.
“PresDir! Ada apa…”
Jaejoong berhenti berjalan, menatap Eunhoon sambil berusaha menahan emosinya yang nyaris meledak. “Aku sangat ingin bertengkar denganmu malam ini! Tapi kau tahu kan, tidak mungkin aku melakukannya disini!”
“Hah?” Eunhoon tidak mengerti dengan maksud perkataan Jaejoong. Tapi Jaejoong sudah memaksa gadis itu untuk masuk ke mobilnya. Dan lagi-lagi, Jaejoong memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membawa Eunhoon entah kemana.
“Maksudmu apa?” tanya Eunhoon. “Bertengkar? Memangnya apa yang sudah kulakukan?”
“Kau sudah melakukan satu hal dan itu membuatku sangat marah!” kata Jaejoong, menekankan kata ‘sangat marah’.
“Oh ya? Aku pikir, apapun yang kulakukan memang selalu membuatmu SANGAT MARAH!!” balas Eunhoon, setengah berteriak.
Tiba-tiba ponsel Eunhoon berbunyi. Eunhoon mengambilnya dan ketika melihat kalau yang meneleponnya ternyata Kyuhyun, Eunhoon menghela napas panjang untuk meredakan emosinya.
“Yobosaeyo? Ne, Kyuhyun sunbaenim…”
Jaejoong membuka jendela mobilnya.
“Ah, aku belum bisa ke dorm, sedang berada di…”
Tiba-tiba saja Jaejoong merampas ponsel Eunhoon dan diluar dugaan, dia melempar ponsel Eunhoon keluar mobil.
“Apa yang kau lakukan?!” teriak Eunhoon, refleks dia memukul lengan Jaejoong dengan keras. “Kenapa kau melempar ponselku?!”
“Itu yang membuatku marah!!” kata Jaejoong. Dia mengerem mobilnya tepat di depan taman yang tentu saja sudah sepi di waktu selarut itu. Dia keluar dari mobil diikuti Eunhoon, yang membanting pintu mobil dengan kasar.
“Itu! Itu yang membuatku marah!!” Jaejoong mengulang perkataannya. “Bisa-bisanya kau menyuruh-nyuruh Iseul yang sudah kelelahan hanya untuk mengambilkan dompetmu!”
“Hanya karena itu?” tanya Eunhoon. “Hanya karena itu, kau sampai harus melempar ponselku? Lantas sekarang bagaimana Iseul dan teman-temanku bisa menghubungiku?”
“Astaga, tidak usah pakai alasan seperti itu…” Jaejoong tertawa sinis. “Bilang saja kalau kau tidak mau melewatkan seharipun tanpa menelepon atau ditelepon Kyuhyun!”
“Kau ini kenapa sih?” tanya Eunhoon. “Kau tidak suka Iseul menolongku? Apa kau segitu perhatian dengannya? Kau menyukainya?”
Jaejoong belum sempat membantah, Eunhoon sudah lebih dulu menyelanya. “Ah, semestinya aku sudah tahu saat Iseul sakit dulu! Kau rela datang kerumah sakit untuk menjaganya, padahal kau sendiri juga sibuk! Akui saja, kau menyukai Iseul kan? Tapi jangan salahkan aku!”
“Dasar bodoh! Aku tidak punya perasaan apa-apa dengan Iseul!” teriak Jaejoong. “Aiish, jinjja… kau ini benar-benar gadis yang menyebalkan…”
“Aku seperti ini karena kau yang lebih dulu bertindak menyebalkan!” kata Eunhoon. “Sekarang, kau katakan padaku kenapa kau bertindak sekonyol itu, atau aku pulang sekarang juga!”
“Aku benci kau terus bersama dengan Kyuhyun!” seru Jaejoong, yang sedetik kemudian sadar kalau dia kelepasan bicara.
“Apa?” tanya Eunhoon.
Jaejoong tidak langsung menjawab, dia menekan dahinya setelah mengutuk dalam hati kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Beberapa saat kemudian, dia menatap Eunhoon. “Kau dengar sendiri kan? Aku benci kau terus bersama dengan Kyuhyun.”
Eunhoon masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Karena aku mencintaimu,” kata Jaejoong. Dia menarik Eunhoon lebih dekat dengannya, lalu mencium gadis itu.
***
Ji Young keluar dari studio diikuti Hye Ran setelah mereka berdua menyelesaikan syuting acara SBS “Strong Heart”. Saat mereka dan manajer berjalan menuju lift, Ji Young tidak sengaja melihat seorang gadis berjalan sendirian. Krystal f(x).
Saat melihat gadis itu, Ji Young kembali teringat dengan apa yang Krystal katakan beberapa hari yang lalu di sebuah acara. Saat ditanya siapa yang paling akrab dengannya saat trainee, Krystal menjawab, “Pada masa-masa awal trainee, aku tidak mengenal banyak orang, dan karena itu aku hanya akrab dengan kakakku saja.”
Hanya akrab dengan kakaknya… Siapapun tahu, Jessica SNSD adalah kakak kandung Krystal. Tapi bukan itu yang dipersoalkan Ji Young, melainkan kenapa Krystal berbohong. Ji Young tahu itu.
“Aku hanya akrab dengan kakakku saja”. Seolah-olah Krystal tidak punya teman lain, padahal kenyataannya, Ji Young tahu kalau semasa trainee dulu, Krystal dekat dengan Jung Bo Ra. Malah sangat dekat, dan mereka berdua juga dekat dengan Jessica karena Krystal-lah yang mengenalkan Bo Ra pada Jessica. Kenapa Krystal berbohong? Apa karena Bo Ra tidak pernah menjadi artis dan lebih dulu meninggal, jadi Krystal sungkan mengucapkan namanya?
Tanpa meminta izin pada manajernya, Ji Young segera pergi menyusul Krystal.
“Soo Jung-ah!”
Krystal menoleh saat nama aslinya disebut seseorang. Raut wajahnya seketika berubah ketika melihat Ji Young, orang yang memanggil namanya, berdiri tepat di belakangnya.
“Onnie…?”
“Lama tidak bertemu,” kata Ji Young pelan.
Krystal menghampiri Ji Young dan memeluk gadis itu. “Onnie! Kau sama sekali tidak mengabari kami selama ini, kupikir kau sudah melupakan kami!” Krystal melepaskan pelukannya, tapi Ji Young heran karena Krystal sesekali melihat ke sekelilingnya, seperti khawatir ada orang lain yang melihatnya sedang bersama dengan Ji Young.
“Oiya onnie, aku senang kau akhirnya debut. Selamat ya! Amber onnie sangat senang melihatmu sukses, dan dia tampaknya diam-diam sudah menjadi Anonymous sekarang…”
“Diam-diam?” tanya Ji Young. “Apa menjadi Anonymous adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dilarang di manajemenmu?”
Raut wajah Krystal berubah, antara sadar kalau dia sudah salah bicara, sekaligus heran melihat reaksi Ji Young. “Onnie…”
“Tujuanku menyusulmu sampai kesini, bukan karena aku merindukanmu, Soo Jung-ah. Yah, maksudku, itu bukan alasan utama,” kata Ji Young. “Aku hanya penasaran, siapa sebenarnya yang sangat dekat denganmu saat kau masih trainee…”
Krystal tampaknya tahu arah pembicaraan Ji Young. Kali ini dia seperti ketakutan.
“Apa di acara itu tidak boleh menyebut nama selain artis, sampai-sampai kau harus menyembunyikan fakta kalau sebenarnya kau akrab dengan orang lain, selain kakakmu…” kata Ji Young, menatap Krystal tepat di mata gadis itu. “Kalau seandainya bukan Bo Ra onnie yang dekat denganmu… kalau seandainya kau dekat denganku, apakah kau juga akan menyembunyikannya? Karena setahuku, namaku dan nama Bo Ra onnie sangat terlarang diucapkan di dalam gedung manajemenmu itu.”
“Onnie, aku tidak bermaksud…”
“Entahlah, Soo Jung-ah,” potong Ji Young. “Meskipun aku memaklumi kebijakan aneh itu, tapi saat aku melihatmu mengatakan itu, “aku hanya akrab dengan kakakku”, aku tersinggung. Dan sekarang, saat aku akhirnya bertemu denganmu, rasa tersinggungku semakin besar…”
“Aku takut!” kata Krystal, dan diluar dugaan Ji Young, Krystal menangis.
“Apa?”
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan…” isak Krystal. “Mungkin saja… mungkin saja… kalau mereka memiliki alat khusus yang bisa menghisap ingatan seseorang… mungkin mereka akan menggunakannya…”
“Memangnya apa yang sudah kami lakukan?” tanya Ji Young marah. “Memangnya kami ini hama? Virus berbahaya? Atau kami pernah mengkorupsi uang? Tidak pernah!”
Krystal bergidik melihat Ji Young yang meluapkan emosinya dihadapannya. Tapi Ji Young tidak peduli. “Hal terakhir yang kuingat sebelum aku keluar dari tempat itu, adalah Bo Ra onnie meninggal dan tak ada yang benar-benar peduli dengannya!”
“Byeon Ji Young.”
Kedua gadis itu menoleh kearah suara yang terdengar berat dan dalam itu. Baik Ji Young maupun Krystal sangat terkejut. Mereka tak menyangka kalau yang memanggil nama Ji Young itu ternyata Lee Soo Man.
Seorang Lee Soo Man berada disini? Untuk apa?
Krystal membungkuk kearah Soo Man, sikapnya berubah menjadi canggung dan takut. Tapi Ji Young masih berdiri tegak, tak membungkuk sedikitpun. Beberapa pria yang berdiri di belakang Soo Man menatap Ji Young tajam, sepertinya kesal karena Ji Young tidak mau bersikap sopan pada Soo Man.
“Ji Young-ssi…” Soo Man menghampiri Ji Young, menepuk pundak gadis itu pelan. “Kau kan sudah jadi artis sekarang, pandai-pandailah menjaga sikap… Kau tidak mau teriakanmu itu terdengar orang-orang di dalam gedung ini kan?”
Jangan coba-coba menasehatiku, gumam Ji Young dalam hati. Tapi dia sama sekali tidak menjawab.
Soo Man lalu menoleh kearah orang-orang di belakangnya. “Bisakah kalian meninggalkan kami berdua?” tanyanya, lalu sekilas menatap Krystal.
“Baik,” kata mereka, lalu pergi meninggalkan Soo Man dan Ji Young.
“Sudah beberapa tahun aku tidak melihatmu, ternyata sama saja,” kata Soo Man. “Masih tetap keras kepala.”
“Dan sudah beberapa tahun setelah aku keluar, ternyata anda sama saja,” balas Ji Young. “Masih takut kalau rahasia ini terbongkar.”
Soo Man menarik senyum tipis. “Maksudmu? Tujuanku menasehatimu tadi supaya orang-orang tidak penasaran dengan gadis itu?”
“Ayolah, aturan anehmu itu tidak berlaku di gedung SBS,” kata Ji Young sinis. “Arwahnya tidak akan gentayangan mencarimu hanya karena kau menyebut namanya.”
Senyum Soo Man tetap tidak menghilang. “Rupanya kau masih dendam padaku,” katanya pelan. “Kau sudah tahu kan, kalau namamu dan Bo Ra sudah lama kucoret dari daftar keluarga besar SM, karena dia sudah meninggal dan kau sendiri yang memilih keluar setelah kau tidak mau menuruti kata-kataku. Kalian… tidak berguna.”
Ji Young mengatupkan rahangnya keras-keras saat mendengar kata-kata Soo Man. Melihat pria tua di depannya ini, membuatnya teringat beberapa tahun lalu, di hari terakhirnya dia berada di SM.
“Jadi, kusarankan padamu untuk tidak usah menjadi pahlawan yang mencari keadilan untuk gadis itu. Itu hal yang sia-sia, setidaknya selama aku masih hidup dan memiliki banyak kuasa di negara ini.”
Soo Man menepuk pundak Ji Young sekali lagi, lalu dengan tenang pergi meninggalkan gadis itu. Setiap langkah kaki pria itu seperti terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Ji Young, memunculkan lagi perasaan trauma dan kesedihan luar biasa yang sudah coba dia kuburkan beberapa tahun yang lalu.
Ji Young menyandarkan punggungnya ke tembok, dia merasa sangat marah dan sakit hati. Sangat sakit hati. Baru kali ini ada orang yang menganggapnya tidak berguna, menganggapnya seperti sampah, tak punya perasaan padanya dan…
“Ada hubungan apa antara kau dan Bo Ra onnie?”
Ji Young menoleh kearah suara itu, bersamaan dengan air matanya yang menetes. Hye Ran berdiri tak jauh dari tempatnya, dan ternyata gadis itu sudah mendengar semua pembicaraan Ji Young dan Soo Man. Ji Young tidak tahu apa yang harus dia jawab, dia tidak menyangka rahasianya akhirnya diketahui Hye Ran dengan cara seperti ini.
“Kau tuli?” bentak Hye Ran. “Aku bertanya padamu!”
Ji Young tidak mau menjawab, dia memalingkan wajahnya dari Hye Ran dan berjalan menjauh. Hye Ran segera menyusul Ji Young dan menarik tangan gadis itu dengan kasar.
“Kau tahu, ini yang membuatku sangat membencimu!” seru Hye Ran. “Kau pikir semua orang suka dengan sikapmu seperti ini, hah?! Kenapa kau bisa mengenal Bo Ra onnie? Kenapa dia mengatakan hal itu padamu? Apa yang sudah kau lakukan pada Bo Ra onnie?!”
Ji Young menepis lengan Hye Ran, setengah berlari menuju atap gedung. Hye Ran semakin marah dengan perlakuan Ji Young padanya, dia berlari menyusul Ji Young sambil terus meneriakkan pertanyaan yang sama.
“Kau…” kata Hye Ran dengan napas tersengal-sengal, saat dia dan Ji Young sudah berada di atap gedung. “Aku tanya sekali lagi, ada hubungan apa antara kau dan Bo Ra onnie?”
Ji Young masih tetap tidak mau menjawab, air matanya mengalir tapi dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia sama sekali tidak mau menatap Hye Ran.
“JAWAB!!”
“DIA KAKAKKU!!” teriak Ji Young.
Hye Ran terkejut, dia merasa telinganya seperti berdengung saat Ji Young meneriakkan kata-kata itu.
“DIA KAKAK TIRIKU!!”
***TO BE CONTINUE***

Mamaaaaaa….mau nangis pas kalimat trakhirx….!!!! T,T
Mskipun itu kk tirix psti dy syg bgt kn sm adekx?? Siomay sialan….org brtalenta gtu d blg SAMPAH?! #camerazoominzoomout
Lagi2 adegan drma d bawa2,,,bang JJ please deh dah ckp d PTB tolong jgn d sni apalagi anak di2kmu sndri…baxk yg envy noh..apa msh krg bang??
KYAAAAA~
gak mau tahu Eunhoon harus sama Jaejoong! HARUS ONNIE!#plaakk, maksa!
huaaaa sweet banget dah itu Jae oppa, jadi makin cinnnntaaaaaa*cium Jae*
huaaaa–#dibekep onnie
DAEBAK!!
aku makin penasaran ama jalan ceritanya, apalagi EunJaenya MUAHAHAHAH~
Jangan lama-lama onnie, please. .^^
Onnie critax bgus bgt:).. Yg part 10 nya udh ada ato blum yahh?? Aq cri2 nggk ktmu. Aq udah pnsran bgt sma lnjutanx,, aplgi sma jaeppa n eunhoon.
Whata surprise!!
Bora?? Kakak tiri jiyoung? Eotteokhe??!!
Serumit ini jalan ceritanya lho.. Jadi makin tertarik aku..
Changmin.. Aku punya feeling kayaknya dia ini bakal punya sangkut paut yg kuat sama bora sama jiyoung.. But just opinion..
Eunhoon-Jaejoong
Iseul-Yunho
Baru itu aja pasangan yg kuyakin bakal jadi di endingnya nanti.. Tapi ga tau juga sih, bener apa ga.. Cuma ngerasa aja.. XOXO
i wanna go to the next chap.. Mumpung udah ada hehe^^
perlahan-lahan semuanya terkuak..
yah, aku pikir awalnya jiyoung-bora itu teman dekat biasa sama kaya member no! name yg lain, tp kenyataan kalo mereka saudara tiri itu ternyata bener2 bibir ini ga bisa mingkem. bener2 unpredictable banget.
dan scene kyu-min itu kayaknya kurang panjaaang (keliatan yg pengen tau bgt soal jiyoung-bora), dan dari sikap changmin sih bakalan ada sesuatu nanti, kayaknya abang satu ini walau penasaran pasti bakalan ngelakuin sesuatu (cuma berspekulasi)
aku juga bener2 speechless liat couple jae-hoon ini, aigoo.. alamaaakk! arghhh, gila sendiri dah jadinya. semoga couple2 selanjutnya cepat menyusul #eh
WOW! KAKAKNYA??? aaaahh keren!