Tittle : I HAVE MONEY !!! SO WHAT ?!? [part 11]
Author : ninanino a.k.a. ninasomnia
Genre : romance
Cast :
- Lee Hyukjae as Eunhyuk Super Junior
- Han Kihyun [fictional character]
- Choi Minho as Minho SHINee
Another Casts :
- Han Shinbi [fictional character]
Disclaimer : I just do my own omagination. The fictional character and the others aren’t mine. They belong to themselves. Please enjoy and comment on it if just you want. I really appreciate speak reader.
Sorry for late late late update. My mom told me to stop writing, so I didn’t have enough chance for update. Sorry. Last part and the give away thing I will update after Ming’s bday. Marry Xmas all =)
Previous chapter : Prolog , Part 1 , Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6,Part 7, Part 8, Part 9, Part 10
Credit picture : shinbitoki18
Semua sudut pandang disini diambil dari sudut pandang Kihyun
___________________________________________________________
I HAVE MONEY !!! SO WHAT ?!?
***
Aku memasukkan baju terakhir ke dalam kopor. Sedikit memaksanya, karena sepertinya kopor ini terlalu berlebih muatannya. Kuedarkan mata sekadarnya. Memastikan tak ada satu barangpun tertinggal. Tadi pagi aku sudah mengambil sebagian barangku. Ini hanya sisa-sisa kecilnya.
“Kau yakin tak mau kubantu?”
Sedikit terkesiap dengan suara itu. Berdiri tegap dengan sosoknya yang menawan tepat di depan pintu kamarku.
Kugelengkan kepalaku lembut. Meraih selimut kecil yang tertata rapi di ujung tempat tidurku, untuk menutupi kopor bawaanku. Aku tak mau ia sadar aku sudah mengemasi semuanya. “Ah tidak perlu. Aku sudah selesai.”
Dia tersenyum. Lalu berjalan masuk ke dalam kamarku. Pandangannya menyapu semua sisi kamar ini. Aku yakin dia sedang memastikan pendapat pribadinya. Aku akan pergi dari rumah ini. Terlebih setelah pembicaraan di telepon dua hari lalu. Beruntung aku bisa ‘sedikit’ menyamarkan itu.
“Bisa kita bicara?” Ekspresi wajahnya berubah serius. Tak selembut sebelumnya.
“Tentu. Kau ingin bicara apa?” Kugeser posisiku. Memberinya sedikit tempat untuk duduk di sampingku.
“Maksud perkataanmu waktu itu, soal cerai.”
Aku tersenyum sekadarnya. Dari nada bicara yang kutangkap, dia terasa enggan membahas hal ini.
“Oh, cerai itu istilah yang digunakan sepasang suami istri yang memutuskan un-…”
“Nona Han, kau tahu benar bukan itu yang kumaksudkan.”
Aku mengangguk lemah. “Nde.”
Hyukjae meraih kedua bahuku. Menarik tubuhku tepat menghadapnya. Aku baru sadar, ada kantung mata di wajahnya. Dia terlihat lelah. Sangat lelah. Album baru mungkin menyita semua perhatiannya.
“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Kau, tidak pernah segugup ini.”
Kutundukkan kepalaku lemah. Dia benar. Aku, terlalu lemah. “Anniyo. aku baik-baik saja. Dan masalah perceraian, semuanya sudah siap.” Kutepis tangannya lembut. Kemudian bangkit dari dudukku. Meraih kopor yang sedari tadi sengaja kusembunyikan. Sepertinya saat ini kurasa itu tidak perlu lagi dilakukan. Dia harus tahu aku bena-benar akan pergi.
Suara derapan langkah terdengar di belakangku. Aku tahu, dia pasti tidak akan berhenti sampai benar-benar mendapatkan jawaban yang memuaskan dariku.
Genggaman tanganku terlepas. Kopor itu sudah berada di tangannya. Terangkat sempurna, tanpa sedikit merasa itu suatu beban. “Setidaknya, biarkan suamimu mengangkatnya.” Jelasnya singkat. Lalu beranjak keluar apartemen untuk mendahuluiku.
“Suami? Apakah aku pernah bertindak selayaknya seorang istri bagimu, tuan Lee?” Ucapku lirih, nyaris menitikkan airmata tepat saat aku sadar aku harus segera menyusulnya.
Tak butuh waktu lama untuk menyusulnya. Tak ada reaksi berlebih darinya saat aku mencapai mobil. Dia benar-benar seperti dirinya yang biasa.
“Hyukjae-sshi, tak bisakah kau bersikap manis padaku kali ini? Aku sudah akan pergi kau tahu.” Kupaksakan sedikit merajuk kali ini. Meski aku yakin pasti terdengar mengerikan.
“Jadi sekarang kau mengakui kau akan pergi?”
Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Begitu serius sekaligus menjatuhkan. “Maaf, Hyukjae-sshi.”
Dia menarik napas dalam. Sebelum memutuskan menjalankan mobilnya. “Tapi kenapa?”
Kuputuskan untuk membiarkan saja pertanyaannya itu. Berniat untuk menganggapnya angin lalu. Pikiranku terlalu penuh saat ini. Antara yang benar dan yang salah. Apa yang kulakukan saat ini benar, atau justru kesalahan yang lebih besar.
Kutengok sebentar ke arahnya. Mencuri pandang menikmati wajahnya itu. Tak ada keringat disana. Garis-garis wajahnya sedikit menonjol dari jarak sedekat ini. Aroma parfum yang tak pernah lepas dari wangi tubuhnya. Aku tahu dia sadar aku sedang menatapnya. Tapi sepertinya dia sengaja membiarkanku.
“Bisakah kau mengantarkanku ke kantor?Adaberkas yang tertinggal disana.” Pintaku lembut. Hyukjae menganggukkan kepala singkat. Tak banyak bertanya seperti sebelumnya. Dan entah kenapa aku justru merasa ini sedikit aneh.
Sepanjang perjalanan menuju kantorku, sama sekali tak ada sepatah katapun terucap dari mulutnya. Bahkan aku tak yakin dia menarik napas seperti biasanya, karena sepertinya aku tidak terlalu mendengarnya. Mungkin dia sangat berhati-hati dalam ‘bersuara’.
“Sudah sampai.”
Aku terlonjak mendengar ucapannya. Dua patah kata pertama yang keluar dari mulutnya. Setidaknya aku sedikit lega dia tidak benar-benar ‘mendiamkanku’.
Aku beranjak turun dari mobilnya. Berlari kecil menuju lobi -karena dia menurunkanku terlalu jauh dari tempat itu- sebelum kemudian aku berbalik menatapnya sesaat. “Tunggu aku. Tidak akan lama.”
Kulanjutkan langkahku. Kali ini tidak berlari seperti sebelumnya. Hanya melangkah sedikit tergesa, mencoba mengurangi waktu untuk membuat tuan Lee menunggu terlalu lama.
Semua orang di gedung ini masih menghormatiku. Setidaknya kesan itulah yang kutangkap dari kunjunganku kali ini. Meski pada kenyataannya aku sudah bukan lagi direktur Han mereka.
“Direktur.” Sapa sekretarisku, tepat saat aku mulai memasuki ruanganku. Kubalas dengan senyuman ala kadarnya. Sedikit menahan sakit, aku merindukan panggilan itu.
Kudekati sekretarisku. Menepuk bahunya lembut. “Aku sudah bukan direktur disini lagi, eonnie.”
Minjung eonnie –sekretarisku- tersentak dengan panggilan itu. Dia memang seniorku dulu. Dan ini kali pertama aku memanggilnya dengan sapaan ‘kehormatan’ itu. Seperti yang dia tahu, aku terlalu dingin dulu.
“Mau membantuku mengemas barang-barangku, eonnie?”
Dia tersenyum mendengar permintaanku. Menganggukkan kepalanya penuh keyakinan. “Tentu direktur. Dengan senang hati.”
Aku berjalan mendahuluinya. Membuka pintu ruang kerjaku, yang sangat kurindukan itu. “Berhenti memanggilku seperti itu eonnie. Aku sudah bukan direkturmu.”
Aku baru setengah perjalanan mencapai meja kerjaku saat dia mengucapkan kalimat itu. “Bagiku kau tetap direktur kami. Kami semua menyayangimu, direktur Han.”
Kugigit bibir bawahku. Menahan diri sebentar sebelum memutuskan untuk berbalik menghadapnya. “Gomawoyo eonnie. Benar-benar terima kasih atas pengabdian kalian. Aku berhutang banyak padamu.”
Minjung eonnie meraih tubuhku hati-hati. Memeluknya erat, penuh perasaan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa punya teman selain sepupuku, Shinbi.
“Eonnie, sepertinya aku harus buru-buru. Suamiku menunggu di bawah.”
Perlahan dia melepaskan pelukannya. Tangannya menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut-sudut matanya. “Kita mulai darimana?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Kali ini terdengar begitu bersemangat. Melupakan segala kegiatan melodramatis tadi. “Kau bantu aku mengemasi beberapa berkas, dan biar aku mengemasi mejaku.”
Dia mengangguk singkat. Lalu berjalan keluar ruanganku. Tak lama dia kembali dengan sekotak besar kardus kosong. Sesegera mungkin melakukan apa yang kusuruh barusan. Melihatnya seperti itu tiba-tiba aku merasa akan sangat merindukannya. Semuanya.
Aku berusaha menyadarkan pikiranku. Beranjak mendekati meja dan mengumpulkan beberapa barang yang kukira pantas kubawa ikut denganku. Hingga akhirnya aku sampai di laci itu. Tempat aku menyimpan dokumen perceraian yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari.
“Sudah saatnya dokumen ini sampai ke tangan yang tepat.”
***
Hampir tiga puluh menit waktu yang kuperlukan untuk melakukan tujuanku. Tepat saat aku kembali, Hyukjae sudah berdiri sempurna di dekat mobilnya. Tubuhnya sedikit membungkuk, dengan topi, masker dan kacamata untuk menghindari sengatan matahari. Kakinya memainkan kerikil kecil. Sesuatu yang biasa dilakukannya saat bosan.
Kupercepat langkahku. Meski saat ini kardus di tanganku sebenarnya cukup membebani. “Hyukjae-sshi.”
Cepat, dia bereaksi dengan panggilanku. Mendongakkan kepala, lalu beranjak masuk ke dalam mobilnya. Dan tunggu, dia melihatku seperti ini dan tidak berniat membantu? Baik sekali.
Aku sedikit tergopoh saat mencapai bagasi mobilnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk turun dan menawarkan bantuan. Kesal dengan sikapnya itu, kuputuskan untuk berpindah tempat duduk. Aku memilih membuka pintu belakang mobilnya. Memilih untuk duduk di belakang kursi penumpang.
“Maaf sudah membuatmu menunggu, Lee Hyukjae.” Sindirku. Dan sekali lagi, aku sudah kembali ke diriku yang dingin. Setidaknya sekarang aku sedikit berterima kasih pada sikapnya tadi. Bisa mengembalikan diriku yang lama.
Belum ada bunyi menderu tanda mesin telah dinyalakan. Baru saat aku akan bertanya, Hyukjae mulai membuka suara. “Duduk di depan.”
Suaranya sedikit terdengar dingin. Aku bisa melihat matanya dari pantulan kaca tengah mobil ini. Dan itu cukup terlihat mengerikan.
“Aku baik-baik saja Hyukjae-sshi. Jalankan saja mobilnya.” Aku kembali beralasan. Berharap dia akan terus mengajakku bicara saat aku duduk disini. Seperti saat ini.
Namun perkiraanku salah. Alih-alih mengajakku bicara, dia justru memutuskan keluar dari mobilnya. Membanting pintunya keras. Terlihat jelas emosi dari sikapnya.
Semua terjadi begitu cepat. Aku tak begitu menyadari sampai akhirnya dia membuka pintu di sampingku. Menarik lenganku kasar, membawaku berpindah duduk disamping kemudi. Kemudian dia kembali pada posisinya semula. Memacu mobilnya dalam kecepatan di atas rata-rata.
“Hyukjae-sshi, kumohon pelankan kecepatanmu.”
Kurasakan kecepatan mobil ini berubah. Tak lagi secepat sebelumnya.
“Hyukjae-sshi, masih ada satu tempat lagi yang aku ingin, kita kunjungi.” Ajakku lembut. Kutunggu beberapa saat hingga dia membuka mulutnya. Bertanya apa yang kumaksud tadi. Tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi. Dia tetap memilih diam seperti yang dilakukannya sepanjang hari ini.
“Belokan depan, kita ambil jalan kanan. Gedung di depan toko buku itu.”
Dia tidak bereaksi apa-apa. Masih mempertahankan keheningannya. Tapi aku tahu, dia tetap menuruti perintahku. Kecepatan mobil ini perlahan berkurang. Hingga akhirnya berhenti di tempat yang kuarahkan.
Aku masih membereskan barang-barangku, tepat saat akhirnya dia memutuskan bertanya tempat apa ini. “Kihyun-ah, siapa yang ingin kau temui?”
Aku tersenyum sekenanya. “Paman Kim. Kau akan tahu saat kita sudah sampai disana.”
Aku beranjak keluar, tanpa menunggu ijin darinya. Kurasakan dia mengikuti tepat di belakangku. Aku tahu itu bukan kemauannya. Dia hanya menuruti rasa penasarannya. Meski itu aku harus mengucapkan terima kasih pada sikapnya.
Aku mulai melepas jaket yang kukenakan tepat memasuki ruangan berpendingin itu. Menggantungnya di sudut, seakan aku berada di rumahku sendiri. Meski kenyataannya memang seperti itu. Aku mengenal tempat ini sudah sejak lama. Bahkan jauh lebih lama dari sekretaris tua yang berperangai kasar itu.
“Adayang bisa saya bantu nona Han?” tawarnya, tepat saat melihat sosokku muncul dari balik pintu masuk tempatnya bekerja.
“Beritahu pengacara Kim aku datang.” Dia menganggukkan kepala sungkan. Aku tahu betul dia tak begitu menyukai keberadaanku di dekatnya. “Oh iya, katakan padanya aku juga membawa suamiku.” Tambahku sesaat sebelum ia meraih gagang telepon.
Perempuan itu mendecakkan lidahnya keras. Kalau aku yang menjadi atasannya, mungkin sudah kupecat sekretaris tidak tahu sopan santun ini. Tapi sepertinya aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Mengingat selama perjalanan hidupku sebagai nona besar Kihyun, cibiran sudah terlalu sering kuterima.
“Anda bisa langsung masuk ke dalam.” Ujarnya dingin.
Aku hanya tersenyum seadanya. Melangkah penuh percaya diri melewati pintu yang sedari tadi tertutup rapat di belakang meja perempuan sinting ini. Baru saat aku meraih gagang pintu itu, aku sadar Hyukjae tidak ada di sampingku.
Aku berbalik. Berusaha memastikan keberadaannya. “Hyukjae-sshi. Kau akan ikut aku ke dalam bukan?”
Apa yang kuucapkan bukan terdengar seperti pertanyaan. Lebih ke arah, titah.
Terlihat dia sedikit terkejut dengan sindiranku tadi. Tubuhnya menegang, wajahnya sedikit terlihat, tak bisa kujelaskan. Intinya, berbeda. Dia berjalan memposisikan diri di belakangku. Tidak berniat mencari tahu dengan mendahuluiku.
Kulanjutkan kegiatan yang sempat tertunda beberapa saat tadi. Baru dua atau tiga langkah aku merasakan udara di ruangan itu, sebuah sapaan hangat menyeruak. Lembut namun penuh wibawa. “Kihyun-nie.”
Aku berjalan menyambut pelukannya. Sebuah ritual yang selalu kami lakukan. Selayaknya keluarga. “Pengacara Kim. Selamat siang.”
Tepukan di punggung tak berlangsung lama. Beliau mendorong tubuhku lembut. Lalu menatapku dan kemudian beralih ke Hyukjae. “Mengurusnya?”
Aku mengangguk yakin. “Sibukkah anda?”
Beliau berjalan memutari meja kerjanya. Memutuskan untuk mengistirahatkan diri di kursi kebesarannya itu. “Duduklah.”
Aku meraih tangan Hyukjae. Membimbingnya mengambil posisi di sampinku. Tepat di hadapan pengacara Kim. Tanganku mengulurkan gulungan dokumen yang sedari tadi tak lepas dari genggamanku. Kurasakan keempat pasang mata mencoba mencari tahu tentang apa dokumen itu berisi.
“Dokumen ini?” Pancing Kim ahjussi ingin tahu. Hyukjae sendiri masih terdiam. Belum menunjukkan reaksi berarti.
“Dokumen yang dulu kau berikan. Kami, ingin menggunakannya sekarang.” Kataku santai. Aku sempat mendengar desisan tepat dari mulutnya.
“Bukan kita, tapi kau.” Sanggah Hyukjae, tepat bersamaan dengan desisan itu.
Kuinjak kakinya spontan. Menggertakkan gigi keras sekali. “Apa maksudmu tuan Lee?”
“Kau tahu benar apa maksudku.” Dia menendang kakiku. Tidak terlalu keras memang. Namun cukup membuat kakiku terhempas. “Dan, pengacara. Bisakah aku menolak perceraian ini?”
Aku membulatkan mata tak percaya. Mengalihkan pandangan kepada pengacara Kim. Menggelengkan kepala sebagai tanda meminta bantuan darinya.
“Itu akan masuk ke agenda mediasi. Kalian bisa membicarakannya baik-baik terlebih dahulu, baru kemudian memastikan apakah akan tetap pada keputusan semula.”
“Dan keputusanku tetap seperti itu. A-ku-men-ce-rai-kan-mu.” Ucapku sedikit angkuh. Hyukjae menggebrak meja kerja ini pelan. Kubalas dengan tatapan seakan kau-lihat-tuan-Lee-kau-tidak-akan-bisa-menyangkalnya.
Lebih dari empat puluhlimamenit kami mendiskusikan semuanya. Keputusan, tuntutan, apapun mengenai perceraian ini. Apartemen itu, akan jatuh ke tangan Hyukjae. Beserta mobil yang dulu belum sempat kuserah terimakan padanya.Adalagi, masalah tunjangan keluarga. Hyukjae akan memberiku tunjangan bulanan secukupnya. Miris. Itulah yang kudapat dari keputusan terakhirnya.
“Sudah kubilang aku tidak perlu tunjangan itu, Hyukjae-sshi.” Tegasku saat kami sedang berjalan menuju mobilnya.
“Setidaknya itu kewajiban seorang suami. Kalau kau menerimanya, mungkin aku bisa simpulkan kau pernah menganggapku sebagai suamimu.” Ujarnya santai. Aku menghentikan langkahku. Membuatnya memimpin beberapa langkah di depan.
“Hyukjae-sshi…”
Dia ikut menghentikan langkahnya. Berbalik sembari menyipitkan matanya, mencoba untuk menghalau sinar matahari yang mengarah tepat ke arahnya. Tidak berkata apa-apa. Hanya diam, menungguku bicara.
“Bodoh. Tentu saja aku akan ingat itu. Aku orang yang melamarmu bukan.”
Dia tidak menunjukkan reaksi berarti. Atau bisa kukatakan, sekalipun dia bereaksi aku tidak akan melihatnya jelas. Sinar matahari itu terlalu menyilaukan. Dia memutuskan berbalik, dan melanjutkan langkahnya.
“Hyukjae-ssi, maaf.”
Aku tidak begitu yakin dia mendengarnya. Jarak kami yang terlampau jauh, serta suaraku yang begitu lirih semakin menguatkan bukti-bukti itu. Tersenyum sepintas, lalu berlari kecil. Mengejar ketertinggalanku dengannya.
Baru saat akan membuka pintu mobilnya, dia menahanku. Bukan dengan tindakan, hanya sebuah tatapan penuh arti. Tak bisa kusimpulkan itu tatapan apa. “Aku ingin kau bertemu orangku.”
“Nde?!?”
Dia menarik pintu masuknya. Kemudian menghilang dari pandanganku. Sampai aku menyadari kaca jendela di hadapanku, atau tepatnya di kursi sebelah pengemudi, turun separuhnya. Menampakkan wajah Hyukjae yang kemerahan, dengan ditimpa kacamata hitam kesayangannya. “Aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit. Hari ini kami ada konferensi pers soal album baru. Kau bisa kesanasendirikan?”
Aku tersenyum seadanya. Mengangguk lembut. Ternyata ini alasan ketidaknyamanannya sejak tadi. “Pergilah. Aku bisa naik taksi.”
Dia membalas dengan melambaikan tangannya. Perlahan mobilnya berlalu dari hadapanku. Baru setelah menjauh, aku menyadari sesuatu. “Hyukjae-ssi, koporku.”
Terlambat. Mobilnya sudah terlalu jauh, bahkan takkan sempat kalaupun aku mengejarnya takkan sempat. Ah, biar nanti kukirim pesan singkat saja.
***
Belum ada reaksi berarti. Aku jadi tidak yakin menghentikan alat-alat itu keputusan yang tepat.
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Masih mengingat bagaimana aku mengumpat dokter itu dalam hati. Bagaimana bisa seorang dokter bisa tidak tahu tentu kemungkinan seperti ini.
Belum lagi masalah perceraian. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada keluarga Hyukjae. Kuliah Shinbi, darimana aku sanggup membiayai semuanya. Dan lagi, kebangkrutan. Oh, sepertinya kejatuhanku kali ini sungguh sempurna. Great!
“Tak perlu memikirkan kuliahku. Aku baru saja mendapatkan beasiswa diNew York.”
“Ha?” Bukannya aku tak mendengarnya dengan jelas. Hanya merasa terkejut darimana dia bisa membaca pikiranku.
“Kau tahu, kau itu sangat cantik Kihyun-nie. Hanya saja kau terlihat lebih tua dari usia seharusnya.”
Reflek kuraba wajahku. “Apa aku sudah mulai mengalami penuaan?Adakeriput di wajahku?”
Shinbi tertawa. Menyentil keningku dengan jarinya. “Babo. Maksudmu lihat penampilanmu. Kau berdandan selayaknya perempuan berusia tiga puluh tahunan. Blazer, kemeja, highway skirt, dan make up setebal itu. Tunjukkan padaku perempuan mana yang melakukannya di usia dua puluh tahun?”
“Di drama-drama kesukaanmu banyak yang melakukannya.” Aku merengut. Shinbi menyindirku?
“Paman memberikan kepercayaan perusahaan itu kepadamu, bukan untuk memberatkanmu. Dia hanya ingin mempercayaimu. Dan beliau jelas sekali kecewa, karna kau menggunakannya untuk mendapatkan Eunhyuk oppa.”
Diam. Aku tak berani berkomentar. Topik ini terlalu sensitif bagiku.
“Saat paman memberikan kepercayaannya, aku yakin kau bisa mengatasi semuanya. Kau pintar, berbakat, memiliki semuanya. Nyaris sempurna untuk ukuran gadis seusiamu.” Dia menyikut perutku. Seolah berusaha sedikit membuat santai pembicaraan ini. “Dan itu termasuk cinta.”
“Uhuk…uhuk…” Aku tersedak ludahku sendiri. Shinbi memukul-mukul punggungku lembut.
“Kau tidak apa-apa?” Dia mengulurkan sebotol air mineral, yang langsung kuraih dan meneguknya cepat. Aku tak mau pembicaraan ini tertahan disini.
“Apa maksud ucapanmu tadi?” Tanyaku lugas, tak berniat menjawab kekhawatirannya tadi.
“Maksudmu, cinta?”
Aku hanya mengangguk cepat. Meneguk lagi air di tanganku.
“Kau tidak perlu melepasnya kalau kau tak mau. Jangan jadikan kisah keduamu ini berakhir seperti dulu.”
Kutatap lantai di bawahku. Memainkan kuku-kuku jariku. “Aku tak berniat menjadikan akhir yang sama.”
Tak ada balasan dari Shinbi. Dia sengaja membiarkanku berbicara saat ini. “Aku, menyayangi mereka.Minho, aku baru sadar aku mencintainya saat aku kehilangan dia. Dan Hyukjae, tak pernah sedetikpun terlintas di otakku untuk berhenti memikirkannya. Hahaha. Lucu ya, aku mencintai dua orang laki-laki di waktu yang bersamaan.”
Suaraku mulai terasa serak. Aku berniat mengungkap perasaanku saat ini. “Tiga tahun lalu, hanya ada gadis keras kepala bernama Kihyun. Berpenampilan sederhana, layaknya penggemar lain. Dengan celana pendek, kaos besar, topi golf, dan rambut panjang ekor kuda. Gadis yang tak pernah jauh dari ponsel hanya demi mendapatkan berita tentang Eunhyuk Super Junior.”
Kutarik napas dalam. Menahan pembicaraan ini, sekaligus mengontrol emosiku. “Tapi kemudian, ayahnya meminta gadis itu berhenti bermain-main, dan memintanya menjadi perempuan dewasa. Itu mengerikan kau tahu. Sampai suatu hari, gadis itu tidak sengaja melihat sepupunya menonton drama, dimana sang pria membayar sang wanita untuk menjadi istri bohongannya.”
“Hei?” Shinbi bereaksi terhadap pengakuanku. Aku tak berniat melihat ekspresinya saat ini. Aku hanya ingin menceritakan semuanya.
“Gadis keras kepala itu lalu merencanakan semuanya. Memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Menemui pria idolanya, dan membicarakan tentang pernikahan palsu itu. Meski awalnya gadis keras kepala itu ingin membuat pria itu jatuh hati padanya, tapi semuanya berubah.”
“Maksudmu?” sela Shinbi tak mengerti. Aku tersenyum, masih dalam keadaan tertunduk.
“Gadis itu tumbuh dewasa Shinbi-ya. Aku tumbuh dewasa.” Kusejajarkan tubuhku. Menatap mata Shinbi penuh keyakinan. “Blazer, kemeja, dan rok kantor itu mungkin bisa membuatnya terlihat seperti wanita dewasa. Tapi pikiran gadis itu, selamanya dia hanya gadis. Gadis kecil keras kepala, dan juga egois.” Tambahku. Tak ada kekecewaan di nada ini.
“Itu salahmu. Kau terlalu menanamkan kata keras kepala dan egois di otakmu itu.”
Aku terkekeh pelan. “Arraseo eonnie.”
Sekali lagi dia tersentak dengan ucapanku. “Lanjutkan.” Ucapnya seakan-akan dia tidak terkejut mendengar panggilanku tadi. Mau tak mau aku hanya bisa menggigit bibir bawahku. Menahan tawa.
“Gadis itu sadar. Dia sudah merebut kekasih orang lain. Gadis itu melukai banyak pihak Shinbi. Gadis itu jahat. Aku tidak yakin Tuhan mau memaafkannya.” Kali ini aku hanya mampu memejamkan mata. Menerawang ucapanku barusan. Terlihat sok dewasa mungkin. Tapi inilah pertama kalinya aku mau mengakui semuanya. Setidaknya sebelum aku melakukannya kepada ayahku.
“Kihyun-ah, buka matamu.Adayang ingin kutunjukkan.”
Aku menatap bingung ke arah sepupuku ini. Tangannya menarik tanganku lembut. Membawaku masuk ke ruang tempat ayah dirawat. Lembut, dia mendorongku ke arah sofa di sudut ruangan. Aku mengerti ini sebagai perintah darinya agar aku duduk disana. Menunggunya. Melihatnya yang sedang berjalan pelan ke arah nakas kecil di samping tempat tidur appa. Menarik lacinya pelan, takut membuat suara dari tindakan yang dilakukannya. Tak lama sebuah map berwarna coklat keluar darisana. Tangannya menggenggam lembut benda itu, berjalan kembali ke arahku.
“Lihat ini.” Map itu sudah tersodor di hadapanku. Rasa penasaran mulai mendorongku untuk mencari tahu apa yang ada di dalamnya. Meraih beberapa lembar kertas yang sudah bersatu dengan sebuah klip kertas kecil di sudut sebelah kirinya.
“Ini?”
Shinbi menyilangkan kedua tangan di dadanya. Mengangguk lembut sembari menahan senyuman di wajahnya. “Benar. Itu peninggalan orang tuaku. Kita tidak sepenuhnya bangkrut. Kau bisa menggunakannya.”
Aku menggelengkan kepala emosi. Menyodorkan kembali map dan kertas-kertas itu. “Tidak. Ini hakmu bodoh.”
“Memang. Tapi kau lebih bisa mengelolanya daripada aku. Kau tidak maukan keluarga Han mengalami kebangkrutan kedua kalinya?”
Aku mencoba mencerna maksud ucapannya. Dia benar-benar menyerahkan semua ini padaku?
“Aku tidak mempunyai kemampuan memimpin sepertimu. Maka dari itu aku menyerahkannya padamu. Kumohon Han Kihyun. Bantulah aku sekali ini.”
Kutundukkan kepalaku pasrah. “Kau ingin kita semua pindah ke Amerika maksudmu?”
“Kau bisa mengajak suamimu kalau kau mau. Lagipula disana paman akan mendapatkan perawatan yang lebih baik.” Dia melempar pandangan ke arah appa. Membuatku mau tak mau ikut melihat apa yang dilihatnya. Sosok tubuh ayahku, yang terbaring lemah tak berdaya. Benar-benar menyedihkan.
“Kau benar. Kita akan pindah ke Amerika segera. Tapi sepertinya, Hyukjae tidak akan ikut.” Shinbi mengembalikan pandangannya ke arahku. Menatapku penuh curiga.
“Apa maksudmu?”
Kupaksakan diri untuk tersenyum. Sembari mengeluarkan desisan kecil dari sela-sela bibirku. “Kami akan bercerai. Itu keputusanku.”
“Kihyun-ah…”
“Seminggu lagi kau dan appa akan berangkat ke Amerika. Aku akan menyusul setelah urusanku selesai.” Kuabaikan rajukannya tadi. Beranjak pergi, dan meraih bangku di samping tempat tidur appa. “Kau lihat Shinbi, beliau tenang sekali disini. Tapi tetap berwibawa. Seperti biasa.”
Kurasakan sebuah tangan memelukku dari belakang. Kemudian menyandarkan dagunya ke bahuku. “Sangat tenang. Bahkan aku merasa tak enak untuk membangunkan beliau.”
Aku tertawa ringan. “Jangan sampai appa terlalu menikmati istirahatnya. Sampai membuatnya lupa bagaimana caranya bangun.”
“TIDAK AKAN BODOH.”
***
From : tuan Lee ^^
Tunggu sebentar lagi, Sungmin hyung akan menjemputmu. Kau akan bertemu orangku sebentar lagi.
p.s. kumohon pikirkan kembali tentang perceraian itu. Aku menyayangimu J
Tawa hampa mulai terasa. Kalimat terakhirnya cukup menyakitkan sekaligus menggelikan. Kau pikir aku melepaskanmu dengan begitu mudahnya tanpa pemikiran. Tuan Lee bodoh.
Aku menyiapkan mantelku. Musim gugur sudah mulai datang. Yang sama artinya hampirlimabulan pernikahan kami. Atau bisa kuperjelas lagi, satu bulan lagi semuanya seharusnya selesai. Mengingat kontrak kami. Kontrak bodoh yang sudah kami batalkan.
Aku sudah di depan lobi rumah sakit tepat saat melihat sosok Sungmin oppa membenarkan topinya. Bersiap masuk ke dalam rumah sakit.
“Oppa…” panggilku setengah berteriak. Sengaja tidak memanggil namanya agar tak ada yang menyadari keberadaanya.
Matanya berpendar. Mencari sosok yang memanggilnya itu. Lalu tersenyum setelah menyadari itu aku. Berjalan santai ke arahku. Membuatku kemudian lebih memilih menunggunya dengan berdiam di tempatku. “Sungmin oppa. Apa kabar?”
“Baik. Bisa pergi sekarang saja? Dia sudah menunggu kita.” Tawarnya langsung. Aku mengangguk lemah, lalu mengayunkan tangan memintanya berjalan mendahuluiku.
Tak perlu waktu lama untuk mencapai mobilnya. Aku hampir masuk ke kursi penumpang sesaat sebelum dia menyadarinya. Dan kemudian menarikku untuk duduk di sebelahnya. Hal yang sama persis dilakukan Hyukjae beberapa hari lalu.
“Jiwa nyonya besar-mu selalu keluar ya?”
Aku menengok ke arahnya. Kerutan di dahiku sepertinya cukup untuk membuatnya sadar ketidakmengertianku.
“Maksudku tadi, kau memilih duduk di belakang.” Jawabnya santai. Kemudian kembali berkonsentrasi ke jalanan di hadapannya. Mobilnya berjalan tak terlalu pelan ataupun kencang. Jalanan yang tak begitu ramai membuatku sedikit menikmati perjalanan ini. Kecuali bagian aku harus menemui orang utusan suamiku itu.
“Oh itu, mungkin iya. Sejak kecil aku tidak pernah duduk di samping sopir.”
Aku menahan tawaku. Ternyata menjadi angkuh saat kita tidak menginginkannya itu cukup menggelikan.
“Eunhyuk-kie menceritakannya. Kau ini sedikit angkuh. Ternyata dia benar. Hahaha.”
Aku kembali menatap tak percaya ke arahnya. Ini pertemuan ketiga atau keempat kami. Tapi entah kenapa dia bisa berkata sejujur itu. Tidakkah dia belajar menghargai wanita sewaktu sekolah dulu.
“Tidak ada yang lucu di bagian itu tuan Lee Sungmin. Dan kau beruntung, selain di samping suamiku, aku tak pernah duduk di tempat ini.”
Sungmin terkekeh keras sekali. Cukup untuk membuatku melayangkan kedua telapak tangan menutupi telinga. “Kau itu benar-benar lucu kau tahu. Hahahaha. Pantas saja Eunhyuk-kie tak pernah bisa bekerja dengan tenang sekarang. Dia memiliki hal yang lebih indah dari pekerjaannya ternyata.”
Aku tersentak mendengar pengakuannya. Namun lebih memilih menahan emosi semacam itu. “Terserah apa katamu tuan Lee Sungmin. Aku mau tidur. Bangunkan saja aku kalau kita sudah sampai.”
Seseorang menyentil bahuku cukup keras. Pelakunya disini pasti Sungmin oppa, siapa lagi. “HEI!!!”
Cengiran bodoh ia tunjukkan setelah melakukan itu. Telunjuknya mengarah ke tempat di samping kiriku. “Kita sudah sampai. Itu tempatnya.”
Aku meneliti tempat itu sebentar. Kedai sederhana, dengan taman kecil di depannya. Dan sepertinya aku pernah mengunjungi tempat ini. Hanya saja aku lupa kapan.
“Kalau tempatnya sedekat ini, kenapa kau harus menjemputku. Aku bahkan bisa berjalan kaki untuk sampai kesini.” Umpatku malas. Aku tidak terlalu memperhatikan ekspresinya. Memilih turun dari mobil, mendahuluinya.
Aku masih memperhatikan bangunan yang berdiri limameter di hadapanku. Aksen bunga dengan cat warna keunguan begitu mendominasi disini. Merasa dejavu dengan tempat ini. Meski sepertinya sia-sia. Aku memiliki ingatan amat sangat lemah. “Ayo masuk. Dia sudah menunggumu.”
Kualihkan pandangan pada genggaman yang melingkari tanganku. “Ini?”
Sungmin oppa tidak meresponnya sama sekali. Memilih melanjutkan perjalanannya, dan menarikku sedikit terburu-buru.
Langkahnya terhenti tepat di sebuah meja kecil. Dengan seorang gadis yang kukenali sebagai Sora eonnie. Mulutku terbuka sempurna. Memberika tatapan tidak mengerti.
“Sora eonnie…”
Sungmin menarik kursi di hadapannya. Membimbingku lembut untuk menempatkan diri disana. “Hai…lama tidak bertemu denganmu.”
Aku mengulurkan diri. Mengecup pelan kedua pipi kakak iparku ini. “Maaf sudah membuatmu lama menunggumu eonnie. Aku tidak tahu itu kau.”
Sungmin oppa ikut menarik kursi disini. Menyimak sapaan kami. “Aku yang membuatnya lama. Maaf noona.”
Senyuman di wajah Sora eonnie melebar. “Ah tak apa. Hyukjae sudah memberi tahuku semuanya…” Mataku membulat seiring dengan ucapannya yang tertahan. Semua yang dimaksud disini, apa termasuk kontrak? Sial. Mulut pria itu sepertinya memang perlu disumpal sesuatu.
Sora eonnie meraih cangkir tehnya. Menyesapnya pelan, lalu kembali menatap kami bergantian. “…bisakah kau jelaskan kenapa kau menuntut cerai dari adikku?”
Kuatur napasku. Inilah pikiran terburukku. Harus menjelaskan pada keluarga Hyukjae. “Eonnie…”
“Aku disini sebagai kakak Hyukjae, Kihyun-ah. Mungkin kita belum terlalu dekat. Tapi aku mohon, aku memberikan Hyukjae padamu bukan tanpa pertimbangan. Aku ingin kau menjaganya. Aku mohon padamu.”
Mataku memanas. Ini bukan pertama kalinya ada orang memohon padaku. Tapi ini pertama kalinya seseorang yang kuanggap keluarga memohon setulus ini. “Maaf eonnie. Bukan maksudku untuk menyakitinya.”
“Apa ada masalah diantara kalian?”
Aku menggeleng. “Tidak bisa kubilang kami baik-baik saja. Aku mencintainya kalau eonnie ingin tahu soal itu. Tapi ini bukan masalah cinta atau semacamnya.”
Aku mendekap tangan Sora eonnie. Benar katanya. Kami jarang sekali berhubungan. Dan ini menjadikan kami tak begitu dekat.
“Cinta tak cukup mengikat kami eonnie. Di luarsana banyak sekali gadis yang mencintainya lebih dari yang aku lakukan. Dan dia pantas untuk mendapatkannya.” Tambahku, mencoba meyakinkannya.
“Kihyun-ah…” suara Sora eonnie sedikit merajuk. “Kumohon pikirkan kembali hal itu. Mungkin banyak gadis diluarsana yang mencintainya lebih dari yang kau lakukan. Tapi aku yakin tak ada gadis yang dia cintai selain kau. Bahkan dia sampai melupakan kami, maksudku keluarga selalu jadi prioritasnya. Tapi semenjak dia memiliki keluarganya sendiri, dia jarang pulang ke rumah. Ini dalam konteks positif tentunya.”
Aku menarik napas dalam. Menghembuskannya pelan, melakukan lagi beberapa kali. Mengatur emosi tujuannya. “Eonnie, jangan seperti ini. Kumohon.”
“Dengarkan aku dulu Kihyun. Pikirkan lagi. Pernikahan kalian ini bukan main-main. Pernikahan itu ikatan suci. Kalian sudah terikat satu sama lain di hadapan Tuhan. Ikatan itu tak bisa kalian lepaskan begitu saja.” Dia membalik keadaan. Menarik dekapan tanganku dan meremasnya sedikit keras. “Han Kihyun, aku bersedia Hyukjae menikah mendahuluiku bukan tanpa pertimbangan. Aku menyayangi adikku. Aku ingin dia bahagia dengan pilihannya. Apa aku salah dengan keinginan sederhana itu?”
Aku menggeleng. “Tentu tidak eonnie.”
“Lalu? Jelaskan padaku alasannya.” Tanyanya lembut. Pertahananku mulai runtuh disini. Seharusnya aku tidak menangis disini. Tidak di hadapan Sungmin atau pria manapun.
“Aku tidak bermaksud ikut campur disini. Tapi Sora noona benar. Kami disini karna kami menyayangi kalian. Berhentilah bersikap keras kepala disini Kihyun-ah.”
Pembicaraan kami berlangsung cukup lama. Sora eonnie tidak pernah berhenti memintaku memikirkan tentang perceraian ini. Lalu Sungmin oppa akan menjadi penengah saat suasana mulai terasa memanas. Begitu seterusnya. Dua jam yang melelahkan untukku.
Sengaja tak kutunjukkan kedinginanku di depan kakak iparku itu. Sekali ini aku ingin meninggalkan kesan yang baik di mata orang lain. Tak ada topik mengenai kontrak disini. Yang mungkin bisa kuartikan Hyukjae menghilangkan bagian itu dari versi ceritanya. Kuceritakan alasanku. Membuat alur cerita bodoh lain. Mengatakan aku harus pergi ke luar negeri, demi kesehatan appa.
“Maaf eonnie. Benar-benar maaf.”
Kubungkukkan tubuhku serendah mungkin dalam dudukku. Isakan kecil keluar dari bibir Sora eonnie. Aku mengerti itu. Bagaimanapun dia seorang kakak yang membela adiknya. Meski kenyataannya aku disini lebih keras kepala.
“Kau mau pindah kemana?”
Tangannya tak henti-hentinya mengusapkan tisu di pipinya. Menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir disana. Kuulurkan tisu ke arahnya. Meski akhirnya diabaikan. Aku tidak heran, dia membenciku. Membenci orang yang mempermainkan adiknya.
“Aku akan ke Eropa. Bisnis kami sedang berkembang disana.” Aku mengubah sedikit ceritaku. Takut kalau berkata jujur, justru akan membuat Hyukjae menderita di akhir.
Sora eonnie menatapku sinis. “Bisnis? Kau pindah hanya demi bisnis? Mengorbankan pernikahanmu? Aish~”
Aku menahan diri mendengar luapan emosinya. Sekali lagi aku tak mau meninggalkan kesan buruk di ingatannya. Hanya sebagai penghancur hati adiknya, itu sudah cukup.
“Aku tidak bisa menjalankan hubungan jarak jauh. Dan lagi di Eropa appa bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Maaf eonnie.”
“Pengobatan? Paman, sakit?” tanyanya tak percaya.
Kualihkan pandangan ke arah Sungmin oppa. Meminta penjelasan darinya. Bagaimana bisa Sora eonnie tidak tahu hal ini.
“Appa jatuh sakit beberapa waktu lalu. Keadaannya koma. Dan aku memutuskan membawanya pengobatan ke luar negeri.” Jelasku sesaat setelah melihat endikkan bahu dari Sungmin.
“Maaf, aku tak tahu soal itu.”
Kupaksakan diri tersenyum. Menyesap coklat hangat di hadapanku untuk terakhir kalinya. “Taka pa eonnie. Rencananya lusa ayahku dan sepupuku akan berangkat terlebih dulu. Aku mewakili mereka, meminta maaf kalau ada salah kata pada keluarga Lee.”
“Kau benar-benar yakin pada keputusanmu ini?” tanyanya mulai terdengar pasrah.
“Seyakin saat aku menikahi adikmu. Kumohon eonnie. Ini demi kebaikan kami.”
Kulihat Sora eonnie menggigit bibir bagian bawahnya. Matanya mulai berair, namun memilih menahannya daripada mengeluarkan tangisan lain. “Aku akan membantumu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, dengan bantuanku ini jangan berpikir aku merestui perpisahan ini.”
Aku terkekeh pelan. Beranjak dari tempatku, memeluk kakak iparku hangat. Untuk terakhir kalinya mungkin. “Maaf, dan terima kasih.”
“Aku akan berbicara dengan orang tuaku. Pesanku jangan sungkan pada kami. Bagaimanapun kita pernah menjadi keluarga Kihyun-ah” pesan Sora eonnie ini cukup membuatku tersenyum. Setidaknya ini cukup menguatkanku.
“Dan akan selalu menjadi keluarga eonnie. Tak perlu khawatir.” Aku melepas pelukanku. Mengalihkan pandangan ke arah Sungmin oppa. “…begitu juga Super Junior. Bolehkan aku menghubungi kalian nanti?” tambahku.
Sungmin oppa ikut bangkit dari tempatnya. Meraih tubuhku dan memeluknya hangat. “Tentu. Kapanpun kau ingin, kau bisa datang menemui kami.”
Pembicaraan itu selesai setelahnya. Seperti saat berangkat tadi, Sungmin mengantarkanku kembali ke rumah sakit.
Suasana ruang perawatan sendiri sedikit sepi. Shinbi mengurus hal-hal berhubungan dengan kepindahan kami ke Amerika. Kali ini hanya aku sendirian disini. Sampai kemudian sebuah ketukan di pintu mencoba menghilangkan keheningan itu. Kuputar pelan kenop pintu, mencari tahu siapa yang datang.
“Annyeonghaseyo…Kihyun-shii.”
Dahiku mengernyit. Tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapanku. “Kau. Mau apa kau kemari?”
Hembusan napas berat terdengar darinya. Wajahnya mulai tertunduk, tak sepercaya diri sebelumnya. “Boleh aku masuk?”
Aku merengut. Tapi tetap menggeser tubuhku. Memberinya ruang untuknya masuk. Mengikutinya kemudian setelah menutup pintunya.
“Maaf.”
Ucapannya begitu lirih. Wajahnya masih tetap tertunduk. Namun kali ini terfokus pada sosok ayahku yang terbaring di tempat tidur. “Maaf karna membuatnya seperti ini.”
Emosiku menghilang. Dia datang kesini dengan bedamai. Bukankah itu artinya aku harus menyambutnya.
“Bukan salahmu. Aku yang memulainya. Adatujuan apa kau datang kesini Hyoseong-sshi?”
Akhirnya aku kembali melihat wajahnya. Rasa bersalah benar-benar menguasai emosinya. Baru kali ini kuperhatikan, dia sangat cantik. Pantas Hyukjae menyukainya.
“Kudengar kau ingin bercerai dari Eunhyuk oppa?”
Tawa ringan muncul dari bibirku. Entah untuk apa. “Benar. Bukankah itu yang kau inginkan?” Nada dingin itu kembali. Han Kihyun kembali.
Hyoseong menggeleng lemah. Tiba-tiba aku merasa sosok di hadapanku ini bukan Hyoseong. Dia benar-benar bukan Hyoseong yang selama ini kukenal.
“Dulu, mungkin iya. Tapi aku sadar, Eunhyuk oppa mencintaimu. Bukan aku.”
Disini aku mulai tak tahu harus bereaksi apa. Perkataanya sedikit menyanjungku. Tapi tidak, cukup bagiku menyakiti gadis ini. “Rasa cinta sesaat tepatnya. Atau bisa kukatakan dia mulai terbiasa dengan kehadiranku.”
“Jangan bodoh. Kalian bahkan hanya bertemu beberapa kali dalam seminggu. Tak mungkin hanya sekedar terbiasa.” Dia menarik kursi di sampingnya. Meminta ijin dariku untuk duduk disana. “Aku mengenalnya lebih lama dari yang kau duga. Aku tahu siapa saja gadis yang pernah dikencaninya dan bagaimana reaksinya ketika jatuh cinta. Dan itu semua ditunjukkannya akhir-akhir ini.”
Kakiku berjalan dua langkah kebelakang. Menggapai sofa merah di belakangku. “Bisa saja itu gadis lain. Hanya momennya saja bersamaan dengan kehadiranku.”
“Keras kepala. Sudah kubilang aku mengenalnya.”
“Kalau begitu ambil saja dia kembali. Kau mengenalnya dengan baik bukan?” sindirku.
Dia terkekeh. Kali ini dengan sisi lain darinya. Terlihat manis. “Sayangnya aku memang berharap itu. Tapi hatinya sudah dimiliki orang lain. Dan itu kau.”
Aku mulai bosan dengan pembicaraan ini. Gadis ini sama keras kepalanya denganku. “Terserah apa katamu nona Jin. Aku tetap pada keputusanku. Kami akan bercerai.”
Dia baru akan berbicara lagi tepat saat kuputuskan melanjutkan ucapanku. “Dan jangan khawatir. Dia akan mendapatkan pengganti yang seribu kali lebih baik dariku. Orang itu adalah kau. Jangan menyangkal. Aku jarang mengakui kehebatan orang lain.”
“Kihyun-sshi, kalau kau melakukan ini karena ayahmu, aku minta maaf. Aku tidak pernah tahu hasilnya akan sefatal ini. Tapi kumohon, menceraikannya sama artinya menyakitinya. Kalau begitu caramu, maaf aku tidak akan membiarkannya.”
“Lalu? Ambil saja dia kembali kalau kau mau…” Aku sedang memikirkan ucapanku selanjutnya sampai sebuah gebrakan dari arah pintu terdengar. Tak lama kemudian sosok Hyukjae muncul di baliknya. Kali ini dengan wajah sedikit memerah. Apa mungkin dia mendengar ucapanku? Oh Tuhan.
Dia berjalan yakin ke arahku. Menarik pergelangan tanganku. “Ikut!Adayang harus kita bicarakan.”
Tiba-tiba aku merasa pusing. Masalah sepertinya akan muncul disini. Siapapun, kumohon bantu aku.
****
-to be continued-

aaaaaaa
author cepat lanjutkan!!!!
aiissshhh…..
palli ……
eonni ff ini ada lanjutannya ndak ? kog aq cari nggak ktemu….. penasaran ma lanjutannya.
heish~ ini msh TBC yah?
Aku kira udh end *ngok*
kenapa kihyun harus terus sok kuat sih? Okelah itu emg karakter dia, tapi apa salahnya sih utk skedar menceritakan kenyataannya?
Alah, udahlah, itu terserah author
pkok.ny sih aku berharap ending yg melegakan, ga kdu bahagia
lanjutin yaa ^^