Happily Ever After (Ch.1)

Happily Ever After

Title : Happily Ever After

Author : zeya

Genre : angst, romance, hurt, friendship

Rating : G | PG-13

Length : Chaptered

Cast (Main) :

Kim Jonghyun | Jonghyun (18)

Jung Sooyeon | Jessica (19)

Lee Sunhye | Hye (18)

Yoon Jisun | Jisun (18)

Lee Taemin | Taemin (18)

Disclaimer : I do not own characters on this fanfic except Lee Sunhye. Do not plagiarize or copying without my permission.

A/N : Diharapkan maklum dengan cerita ini. Beberapa dari kejadian nyata, beberapa rekayasa dengan sempilan kisah nyata. Semoga suka ^^

Poster : Cute Pixie

 

The first thing that I would do is thank God because He made you, the one that I loved, and the one who hurted me… – zeya

 CHAPTER I

 

“Aku dan dia sudah tidak bisa bersama lagi.” – Kim Jonghyun, Happily Ever After

==

Namanya Kim Jonghyun. Hanya pria yang sebaya denganku, tetapi mengikuti kelas percepatan. Suaranya sangat indah, dan ia juga pintar. Pantas saja ia memiliki banyak penggemar, mulai dari penggemar rahasia, hingga yang benar-benar frontal dihadapannya.

“Kenapa mereka tidak mengerti kalau aku sudah bersama Sica?” itu kata-kata yang sering diucapkannya padaku.

“Yasudah, tulis saja di punggungmu ‘Milik Sica’. Gampang, ‘kan?” ujarku. Di nada suaraku apakah terdengar nada sinis? Tampaknya tidak.

“Benar juga kau. Tumben pintar?” ejeknya. Sialan anak ini, pikirku. Aku menjitak kepalanya. “Aw! Sakit, Hye!” ujarnya.

“Oh..” jawabku singkat, ingin sedikit bermain-main dengannya. Apa lagi yang bisa aku katakan tentang pria bernama Kim Jonghyun ini? Tidak ada.

Tapi, jangan berpikir bahwa aku menyayanginya. Aku memang menyukainya, tapi aku menyayangi Thunder, teman sekelasku. Dan dia memang menyukaiku. Hanya saja, kami berdua malu untuk menyatakannya. Dan, aku? Aku sedang berusaha melupakannya. Bisa dibilang letih.

“Bagaimana kabar Thunder-mu itu?” tanyanya. Aku mencubit lengannya keras.

“Sialan kau! Kecilkan suaramu! Kalau guru-guru tau siapa yang aku sukai, apa kau mau tanggung jawab jika guru memberitahukannya pada orangtuaku?” protesku.

“Hey, sori!” ujarnya meminta maaf. “Dia belum menembakmu?”

“Hah, dia? Belum.” Ujarku, sedikit sedih. Aku sudah menunggu Thunder selama 3 tahun. Aku berteman dengannya sudah 4 tahun sebenarnya, tapi, mulai menyukainya sejak 3 tahun silam. Argh, rasanya lumutan menunggunya.

“Sabar.” Sialan, si cowok sok ganteng ini menasehatiku. Mentang-mentang punya pacar!

“Apa Sica tidak marah melihatmu bersamaku?” tanyaku padanya. Dia menggeleng.

“Sica sudah pindah.” Aku sedikit terkejut. “Kami sekarang menghadapi ‘LDR’. Hahh..” ia mendesah keras. Aku mengangguk-angguk dengan simpati.

“Tapi, tetap saling berhubungan kan?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Tiap malam aku meneleponnya ke Jepang.” Aku melongo. Jepang?! Itu kan mahal!

“Gila kau! Itu pasti mahal, pabbo!” ujarku menjitak kepalanya. Ia meringis kesakitan. Aku tergelak.

“Aku tidak gila! Ck… Biasa saja, dia juga sering meneleponku.” Aku mengangguk-angguk. “Tapi, kau tau. Rasanya aku seperti jauh darinya..” curhatnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku. Ia mengangkat bahunya.

“Entah. Kami seperti sering bertengkar. Liat pesannya.” Ujarnya seraya mengambil handphone-nya dari saku celananya, dan menunjukkan pesan dari Sica.

Jjong, please stop this argument! Please! I beg you :’( If you want, lets just break up. Let’s stop this. Stop this if you love me, Jjong. Please.

Aku terdiam beberapa saat dan mengangguk kecil, pertanda aku sudah membaca pesannya. Ia menatapku pasrah. Aku menunjukkan wajah simpatiku padanya.

“Sudahlah. Kau sudah minta maaf?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Tampaknya, kami akan putus. Sudah dua bulan ia disana..” ia terdiam. Aku menatap kolam ikan didepan taman sekolah kami. Apa yang harus aku katakan, tidak ada kan?

“We will talk later. Bel akan bunyi dalam waktu 4 menit, lebih baik kau ke kelasmu sana.” Ujarku. Ia mengangguk.

“Aku akan kerumahmu nanti sore. Bisa?” aku menangguk kecil, dan segera meninggalkannya menuju kelasku. Dan, aku melihatnya. Thunder. Ia sedang bercerita dengan Yoosung, salah seorang temannya. Jisun, teman baikku, menyenggolku pelan.

“Sudah, jangan dilihat terus..” ejeknya. Aku tertawa kecil. Bisa saja anak ini, pikirku. Aku duduk tepat disebelahnya, dan ia merangkulku.

“Ya! Ada apa denganmu, aneh?” tanyaku. Ia melepaskan rangkulannya, dan memanyunkan bibirnya. Sialan anak ini. “Ck… Sudaaah~”

“Oya, kau tau, banyak yang bilang Thunder berpacaran dengan Jihyun!” aku melongo. Nam Jihyun? Si cantik+playgirl itu? Hell no!

“Hey, yang benar saja?” ulangku.

“Aku sih bilangnya tidak. Thunder saja saat ditanya, ia bilang ia tidak kenal perempuan bernama Jihyun di sekolah ini. Kasian, ganteng-ganteng kuper.” Aku menjitak kepalanya.

“Hush!” ujarku. Jisun terkikik.

“Sana! Bela terus tuh, si pangeranmu.” Aku tertawa.

“Bagaimana kabarmu dengan Taemin?” tanyaku. Pipi Jisun bersemu merah. Aku tertawa.

“Kami sudah jadian seminggu yang lalu.” Aku tersenyum puas. Mereka berdua memang cocok, pikirku.

“Wah, chukkae! Langgeng ya! Aku belum dapat PJ darimu, pabbo!” ujarku. Jisun mencubit lenganku.

“Nanti saja pulang.” Jawabnya.

“Sayang sekali, aku tidak bisa. Ada urusan dengan si ‘sok-ganteng-Jonghyun’ itu!” jawabku sedikit jengkel.

“Ah, sayang sekali. Yasudah, lain kali saja, ya!” ujarnya. Aku mengangguk. Dan benar saja, 4 menit pun berlalu dengan dentingan bel yang memekakkan telinga itu.

“Bel sialan! Sekolah ini harus mengganti bel dengan bel yang keras tetapi suaranya enak didengar. Malah bel seperti ini. Tch!” umpatku. Jisun tertawa.

“Sudah.. Eh, setelah ini.. ulangan Fisika, kan?” tanya Jisun. Aku menepuk jidatku.

“Sialaaan! Aku belum belajaar!!!” kataku, aku segera duduk dan membuka buku fisikaku, semoga dengan waktu 15 menit yang diberikan Kim saengnim, bisa membantuku mendapatkan nilai standar yang susah didapatkan itu.

Waktu 2 jam itu terasa seperti seabad lamanya. Sialan, umpatku.

“Ulangannya sangat mudah!” terdengar nada puas dari Jisun. Aku menyerosotkan badanku di bangku. Thunder tampaknya sangat puas dengan

“Bagimu mudah, bagiku? Seperti neraka! Kenapa sih, tidak bisa menyontek? Jarak duduk kita padahal dekat sekali!” protesku. BUKK!

“Kau itu..” suara yang sangat kukenal, si sialan itu!

“Diam kau!” bentakku. Jonghyun memukulkan bukunya di kepalaku sekali lagi. Brengsek, umpatku.

“Jisun itu pintar, tidak sepertimu. Jisun itu sopan tidak sepertimu. Kau itu.. Seperti laki-laki saja..” ejek Jonghyun. Kalau bukan karna disekolah, aku pasti sudah mencekek pria ini dan memutilasinya. Aku meninju perutnya sedikit keras.

“Sialan kau!” ujarku. Jisun tertawa.

“Kalian berdua lucu sekali. Jadian saja!” ujarnya. Aku menatap Jisun tidak percaya. Apa gadis ini pikir aku sudah kehilangan harapan, pikirku.

“Aku? Dengan pria jelek ini? Hell no!” protesku. “Sun-ah, tidak ada yang lebih ganteng?” tanyaku. Jonghyun mencubit pipiku. “Apa sih, cubit-cubit!” protesku lagi padanya.

“Kau itu cerewet sekali sih!” ujar Jonghyun tenang.

“Diam kau!” ujarku. “Ayo, kita masuk, Sun! Aku malas meladeni pria sok-ganteng ini!” ujarku. Jisun melambaikan tangannya pada Jonghyun, sedangkan aku menendang kakinya lalu ngeloyor pergi. Enak sekali mengerjai si sok-ganteng itu.

Jam terakhir sangat lamaaaaa sekali bagiku. Penjelasan sejarah yang sangat mumet. Aku hanya menggambar di buku sketsaku, entah apa yang aku gambar, aku tidak peduli.

“Baiklah, Sunhye!” Jung saengnim memanggil namaku. Aku tersentak, dan gambarku tercoret sedikit.

“Ne?” tanyaku, santai. Atau cuek? Entah, aku tidak peduli.

“Kenapa Perang Dunia 1 bisa terjadi? Penyebab secara langsungnya.” Ujarnya. Aku menguap sekali.

“Terbunuhnya Franz Ferdinand.”

“Good.” Jawabnya. Tuntas kan?

._._._.

“Kau pulang dengan Taemin?” tanyaku pada Jisun. Jisun menggeleng. “Pulang sama-sama yuk!” tawarku.

“Bagaimana dengankuuu?” suara itu lagi??

“Kim Jonghyun. Bisakah sehari tanpa mengganggukuu?” tanyaku. Ia merangkulku-mencekikku-dengan lengannya yang kuat itu.

“Oh.. Tidak bisa…” jawabnya sambil tertawa. Semua orang melihat kearah kami, dan Thunder juga! Mati aku!

“Uhukk.. Uhukk.. Lepaskan.. Aku!” ujarku seraya memukul tangannya-lengannya-yang besar dan kuat itu. Ia tertawa dan melepaskannya. “Aku bisa saja mati karenamu, babbo!” ujarku.

“Biar saja..” tawanya. Aku menatapnya dengan tatapan setanku yang sering aku luncurkan padanya.

“Aku tidak akan membiarkanmu masuk kerumahku. Sialan kau, Kim Jonghyun!” umpatku.

“Jangan begitu dong.. Aku ingin kerumahmu, yaya?” ia membujukku. Aku menghempaskan tangannya. “Aaah.. Jebal, Hye-ya..!” katanya. Aku menggeram sedikit keras hingga ia bahkan Jisun bisa mendengarnya.

“Baiklah!” jawabku akhirnya. Ia memelukku sangat erat sampai-sampai aku merasa tidak bisa bernapas sama sekali.

“Gomawo, Hye-ya! Kau baik sekali!! Saranghae!” aku terdiam. Saranghae?

“Bilang ke Jessica saja sana!” ujarku, mencoba menutupi nada suaraku yang gemetar karena jantungku berdegup lebih cepat. Ada apa denganku ini?

Aku menatap Jisun. Ia memberikan kode ‘Kau kenapa?’ padaku. Aku hanya mengangkat bahu.

“Ya! Kim Jonghyun! Lepaskan akuu!” protesku. Jonghyun melepaskan pelukan beruangnya (?) dariku. Aku menghela napas panjaaang.

“Jam 5 nanti aku kerumahmu. Kue yaa!” ujarnya, lalu berlari sebelum aku bisa memukul kepalanya, atau melemparinya dengan sepatuku yang seperti sepatu futsal ini.

Aku dan Jisun berpandangan. “Apa?” tanyaku. Jisun terkikik geli.

“Kau… Seperti ada koneksi dengan Jonghyun. Hmm.. Seperti apa ya? Susah dijelaskan.” Aku membuka mulutku, bingung dengan penjelasan Jisun.

Aku mendorong bahunya. “Ayo pulaaang!” rengekku yang seperti anak kecil. Jisun hanya tertawa dan berjalan didepanku. Gila, pikirku.

._._._.

Dengan baju kaos hijau dan celana pendek jeans, aku duduk berselonjor diruang tamu rumahku, dan menguyah kue yang ada dihadapanku. Menunggu pria sok-ganteng itu seperti menunggu Santa Claus datang.

“Aku datang!” ujarnya seraya memasuki rumahku. Ia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hijau-sepertiku- yang memamerkan ototnya, dan celana panjang.

“Pakai baju yang sopanan dikit kali..” komentarku, ia memukul kepalaku. “Sialan! Awas kau Jonghyun!”

“Kau sendiri? Pakai celana yang kekurangan bahan!” ledeknya.

“Setidaknya ini pakaian rumah, dan aku hari ini terus-terus dirumah. Daripada kau?” balasku, tidak mau kalah.

“Tetangga tidak protes saat melihatku, bahkan memuji otot-ototku ini.” Ujarnya. Aku tergelak.

“Terserahmu lah. Apa maumu kerumahku?” tanyaku. Jonghyun meminta waktu untuk menguyah makanan dan aku mengangguk kecil.

“Aku ingin meminta pendapatmu.” Ujarnya. Aku menutup majalah yang baru saja akan kubuka. “Aku ingin putus dari Jessica..” ujarnya. WTH?!

“Yang benar saja?!” ujarku tidak percaya. Aku meminum jus yang ada disebelahku, dan kembali menatap Jonghyun tidak percaya. “Bukankah kau sangat menyayanginya?” tanyaku.

“Tapi.. Kami sudah terlalu jauh…..” aku terdiam. Memang benar, sih. Tapi, putus?

“Apa tidak ada jalan lain? Mungkin kalian bisa bicara dulu..” jawabku. Ia menatapku seraya menggelengkan kepalanya.

“Kami terus bertengkar, tiap aku menghubunginya, ia selalu menangis. Aku… Aku merasa begitu bersalah menyakitinya. Aku merasa… Ia terlalu baik untuk disakiti..” Aku menarik napas perlahan.

“Lalu? Kau mau aku melakukan apa?” tanyaku.

“Apa yang harus kukatakan padanya? Aku ingin melepasnya, tidak ingin membuatnya menderita..” aku terdiam. Ia melakukan apa yang akan kulakukan, pikirku.

“Aku… Aku juga akan melakukan itu pada diriku sendiri. Melupakan Thunder. Aku lelah menantinya menyatakan perasaannya padaku yang tidak pernah kunjung tiba.” Ujarku. Jonghyun mengusap rambutku pelan.

“Aku yakin kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya..” aku tersenyum kecil. Aku harap juga begitu, batinku. Aku dan Jonghyun hanya saling menatap dan tersenyum. Tuhan, jangan katakan aku mulai menyukai sahabatku sendiri.

._._._.

“Yeoboseyo?” sapaku malas. Hari masih pagi, tetapi telepon genggamku sudah berbunyi tidak karuan. Mengganggu tidurku saja, gerutuku malas. Aku mengucek mataku dua kali agar aku sadar, dan mendengar suara yang tidak asing lagi ditelingaku.

“Bangun!” ujarnya diseberang sana. Si sialan itu mengganggu tidurku, umpatku.

“Ya! Kim Jonghyun! Kau itu benar-benar mengganggu tidurku, kau tau!” protesku padanya. “Lagipula kan ini masih jam setengah 6!” ujarku.

“Sudah, jangan cerewet! Cepat siap-siap, aku akan menjemputmu. Kita akan kesekolah bareng.” Aku membulatkan mataku. Ada apa dengan pria ini, kenapa baik sekali?

“Apa kau sedang kena demam? Ada angin apa kau jadi baik begini padaku?” tanyaku, sedikit curiga padanya. Jangan-jangan ia ada rencana terselubung dibelakang.

“Sudah, diam saja. Cepat ya! Setengah 7 tepat aku akan sampai dirumahmu, dan kau harus sudah bersiap!” titahnya. Sialan, umpatku. Aku menutup teleponku, dan berjalan malas ke kamar mandi. Kalau dia tidak menelepon tadi, pasti aku masih dialam mimpi, pikirku.

Setelah mandi, aku turun kebawah, bersiap ikut sarapan. Ibu menganga melihatku sudah siap sedia, dengan baju seragam agak berantakan.

“Ohayo, okaasan~” sapaku. Ibuku memang orang jepang. Dan bahasa koreanya tidak begitu bagus, jadi aku sering berbicara bahasa jepang dengannya.

“Tumben cepat bangun?” tanya ibu. Aku duduk dimeja makan, dan menyandarkan kepalaku ke meja.

“Aku akan berangkat dengan Jonghyun,bu. Entah ada angin apa dengan dirinya, anak aneh, biasa.” Rasakan itu jelek! Aku mengambil sepotong roti, dan mengoleskan selai coklat, lalu mulai makan.

“Oh, begitu. Sudah, cepat makan sana. Sudah jam 6..” katanya. Aku mengangguk. Jam berjalan sangat cepat, saat aku baru ingin duduk, Jonghyun sudah nangkring didepan pagar rumahku.

“Arrkh! Kenapa kau harus datang cepat sih?!” rutukku. Jonghyun tertawa.

“Aku kan sudah janji akan datang jam setengah tujuh, dan aku menepatinya!” ujarnya. Ia melemparkan helm hijau padaku. “Pakai..” ujarnya. Aku memakai helm pemberiannya itu.

“Jelek sekali warnanya.” Komentarku masam. Ia memukul kepalaku yang sudah dilindungi oleh helm itu. Ia meringis kesakitan. “Rasakan!” ejekku. Ia menatapku sinis.

“Sudah.. Ayo berangkat.” Aku menggumamkan kata ya, dan naik ke motornya, memeluk pinggangnya. Dapat kucium aroma parfum pria dari tubuhnya. Sedikit menyengat, namun aku menyukainya. Eh?

._._._.

Beberapa murid sedikit terkejut melihat kedatanganku bersama Jonghyun. Mungkin karena murid-murid banyak yang tidak tau soal kedekatanku dengannya. Aku turun dari motornya, dan melepaskan helmku, menyerahkan padanya dengan cepat, lalu berjalan pergi.

Tangannya yang besar dan kuat itu menahanku dengan menggenggam pergelangan tanganku. Aku mendesis kesakitan. “Lepas!” rintihku. Aku menatapnya lalu mengusap pergelangan tanganku.

“Bisa pulang nanti kita bicara?” tanyanya. Aku menatapnya lurus kematanya. Yang aku bisa tebak hanyalah perasaan sedih, kecewa, takut, yang bercampur menjadi satu.

“Ada apa?” tanyaku. Sekali lagi aku meringis kesakitan. Ia sudah membuat pergelangan tanganku merah. Ia segera memegang tanganku dan menarikku. “Lepaskan aku, Kim Jonghyun!” rontaku. Tidak menggubrisku, ia tetap menarikku, melewati puluhan pasang mata yang menatap kami aneh. Jisun yang melihatku dan Jonghyun segera mengikuti kami berdua.

“Ada apa?” tanyanya seraya mengikuti kami. Jonghyun benar-benar tidak memperdulikan diriku yang sudah meronta. Kami berhenti, dan kami sampai di…. UKS?

“Untuk apa mengantarku kesini?” tanyaku. Jonghyun mendorongku masuk, membuatku sedikit kaget. Ada apa dengan pria ini sebenarnya?

“Sonsaengnim, tolong obati pergelangan tangannya.” Ujarnya pada Ms.Lee. Aku menatapnya dan mengerjapkan mataku beberapa kali.

“Kau mau bicara apa denganku?” tanyaku padanya sekali lagi, saat tanganku sedang diperban. Cengkraman anak ini kuat sekali, pikirku.

“Hanya bercanda. Hahaha… Aku ke kelas dulu. Mianhae soal tanganmu.. Seeya!” ia mengecup pipiku cepat. Aku membulatkan mataku, apa ini? Kenapa… Kenapa ia mencium pipiku?

Aku memegang pipiku-yang baru saja dicium-dan tertegun beberapa lama sebelum Jisun menyadarkanku.

“Kau menyukainya..” komentar Jisun. Aku menatap Jisun dan menggeleng.

“Kau bercanda!” ujarku. “Bukankah aku menyukai Thunder?” ujarku padanya. Jisun tergelak. “Apa?”

“Kalau begitu, kenapa kau sampai shock begitu? Harusnya kau bisa mengartikan ciuman di pipi itu seperti ciuman dari sahabat untuk sahabatnya. Bukan begitu?” aku menundukkan kepalaku. Apa benar? Aku hanya bisa terdiam dengan pernyataan Jisun. Jisun menghela napas panjang.

“Aku tidak boleh menyukainya, Jisun-ah..” gumamku akhirnya. Tersenyum pahit padanya. Ya, aku mulai menyukai sahabatku.

“Wae?” tanyanya. Bingung padaku.

“Ia milik Jessica. Ia hanya untuk Jessica.” Jawabku simple. “Dia tidak bisa lebih dari sahabat untukku..” jawabku. Jisun mengusap bahuku.

“Aku mengerti perasaanmu..” jawabnya. Aku tersenyum kecut, menatap langit dari dalam ruang UKS. Please don’t make me fall for him God, batinku penuh harap.

Tuhan, kuatkanlah aku.

._._._.

Bel pulang berbunyi, aku dan Jisun melangkahkan kaki keluar kelas. Jonghyun mendatangiku dan merangkulku-mencekik-ku. Aku kembali meronta.

“Ya! Kim Jonghyun! Lepaskan aku!” ujarku. Jonghyun tertawa, dan melepaskan rangkulannya dariku, dan mengecek tanganku yang tadi dilukainya.

“Masih sakit?” tanyanya. Aku bisa mendengar nada khawatir di suaranya. Aku tersenyum simpul.

“Seperti yang kaulihat.” Jawabku. Ia mengusap rambutku, membuat rambutku berantakan. “Ya!” protesku.

“Mianhaee..” katanya dengan sedikit aegyo. “Tadi aku tidak sengaja mencengkrammu terlalu kuat. Soalnya kau tampaknya ingin kabur dariku. Kenapa?” tanyanya akhirnya. Jisun menepuk bahuku perlahan.

“Aku pulang duluan saja, ya!” ujarnya. “Ada Taemin yang menjemputku.” Ujarnya seraya menunjuk kearah gerbang. Taemin tersenyum padaku dan Jisun. Aku hanya mengangguk.

“Hati-hatilah dijalan!” ujarku pada Jisun. Jonghyun memegang wajahku, dan membuatku kembali menatapnya. Aku dapat merasakan hembusan napasnya di wajahku. Kami berdua saling menatap lama.

“Jawab aku… Lee Sunhye.” Ia jarang memanggilku dengan nama lengkapku, ada apa dengannya hari ini?

“Aku tidak ingin menyebarkan gosip yang tidak-tidak. Apalagi teman-temanmu itu pasti akan memberitahukannya pada Jessica, dan Jessica akan ngambek padamu, dan kalian marahan…………”

“Kami berdua sudah putus.” Aku tersentak. Secepat itukah? Aku menatapnya. Mataku mengerjap sesekali.

“Lebih baik kau kembali padanya.” Ujarku datar, dan melepaskan genggamannya. “Aku pulang dulu.” Ujarku, lalu meninggalkannya. Kembali ia menahan tanganku, kali ini tidak sekuat yang pertama.

“Biarkan aku mengantarmu.” Aku tersenyum.

“Tidak usah..” gumamku. Aku mencoba melepaskannya, tetapi tenaganya lebih besar dariku. “Lepaskan aku.”

“Aku tidak akan melepaskannya sampai kau mau diantar pulang olehku.” Aku tertegun. Kenapa anak ini?!

“Fine! Aku pulang denganmu!” ujarku-sedikit jengkel-padanya. Ada senyum puas mengembang di bibirnya. Aku hanya bisa tertawa kecil, anak ini aneh sekali.

._._._.

Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan yang kami buat. Tidak ada topik muncul. Hingga sampai kerumah, ia mencium pipiku sekali lagi yang membuatku terkejut tentu saja, dan bertanya padaku.

“Kau ada acara Minggu?” besok Sabtu, lalu Minggu. Acara? Hmm..

“Tidak ada.” Jawabku akhirnya. “Ada apa?” tanyaku.

“Aku ingin mengajakmu jalan-kencan-.” Aku terperangah. Baru putus sudah mengajak oranglain jalan?!

“Eh, tumben. Ada angin apa ini?” tanyaku, mencoba sedikit bercanda dengannya, walaupun sebenarnya jantungku berdegup terlalu cepat.

“Tidak apa-apa sih. Kau mau tidak?” tanyanya. Aku mengangkat bahuku.

“Entah. Aku tanya otoosan dulu ya.” Jawabku. Ia hanya menjawab dengan mengacak-acak rambutku. “Ya!” protesku lagi. Ia hanya tertawa.

“Aku pulang dulu, ya!” aku mengangguk.

“Hati-hati dijalan. Jangan ngebut.” Kataku. Ia sedikit terkejut dengan pernyataanku dan berusaha menyembunyikannya. Ia hanya mengangguk dan menghilang dari hadapanku.

‘Ada apa dengannya?’ pikirku. Pusing, aku masuk kedalam rumah dan menemukan otoosan sedang nonton bersama dengan appa. Aku menggumamkan ucapan ‘aku pulang’ dan segera naik ke kamarku, dan membaringkan tubuhku dikasur empukku.

Dikepalaku masih terngiang ucapan-ucapan manis Jonghyun yang tidak pernah ia lontarkan kepadaku. Masih terngiang jelas ucapannya bahwa ia putus dari Jessica. Masih terngiang ucapannya saat ia mengajaknya jalan. Semuanya masih jelas.

Aku mengangkat tubuhku dari kasur dan mengacak-acak rambutku. Semua perlakuannya padaku hari ini benar-benar aneh! Tidak seperti biasanya. Apa ia menyukaiku? Tentu tidak! Aku yakin tidak. Ya Tuhan, kumohon, jangan buat aku ataupun dia menyukai satu sama lain.

Aku merebahkan tubuhku kembali ke kasur dan mencoba untuk tidur. Aku tau kalau aku masih mengenakan seragam sekolah, tetapi aku tidak peduli. Aku butuh istirahat untuk meredakan kekagetan dan ke khawatiranku yang tampaknya agak berlebih.

30 thoughts on “Happily Ever After (Ch.1)

  1. Aku jadi tau ,ini siapa nih yang jd si jongnya dikehidupan kamu, emng kayak gt si XXX??
    Ciyeeeee rara ikut mampang dsni yee, aku jg dong aku jg (apadeh pengen bgt)
    Hohohohohooo, ceritanya bagus sih wlaupun klise, si kamunya suka blg “sialan” karakteristik bgt yahhh hahaha

  2. jjong uda suka ama Sunhye duluan kali ya~
    Uda suka mah suka aja huahahaha :D
    aku tunggu next chapt^^
    Terlalu banyak kata ”sialan” deh kayanya

  3. Wek! Zeya, diriku lupa comment. Mian
    Wah, kalau gini sih kemungkinan besar si jjong suka sama Hye. Hayo! Dilanjutin kan ffnya? Jangan sampai berhenti tengah jalan. Lama juga aku nunggu kok.
    Tapi kalau nggak lanjut, siap-siap aja ya . Buahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s