Love is Abnormal <<Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5<<
Love is Normal (Sequel) <<Part 1 Part 2 Part 3 Part 4 Part 5 Part 6 Part 7<<
Author : misstis a.k.a Bella
Main Cast : Kim Kibum (Key SHINee), Kim Jiyoung (Avyhehe)
Other Cast : Im Yoona (SNSD), Ok Taecyeon (2PM), Kim Jungsoo Leeteuk (SuJu), Kim Taeyeon (SNSD), Etc
Genre : Romance, friendship, family, AU, little bit smut #PLAK
Rating : PG-17
Length : Chaptered (sequel)
Aku kasih sedikit peringatan, part ini rada aneh dan mungkin bakal ada typo karena begitu selesai ngetik aku langsung publish. Udah liat keadaan poster sebelumnya kan? Nah,daripada author bikin kontroversi di sini, mending aku senseor aja =p. Udah ya, author mau kabur dulu sebelum digebuk reader ;D *lambai-lambai* *kabuuuuurrr!!*
—–>
*Kibum POV*
Pukul 4 dini hari, hasratku untuk tidur telah hilang. Namun mata enggan terbuka. Aku tak ingin berpisah dengan mimpi indahku. Mimpi yang aku rasa mengungkapkan sebuah kebenaran yang cukup memalukan untuk aku akui. Mau tahu apa di dalam mimpiku? Baiklah! Jadi, di dalam mimpiku, aku merasakan setiap inci demi inci kehangatan dari mantan pacarku, Jiyoung. Aku tidak bilang kita putus. Maksudku menyebutnya mantan pacar karena dia bukan lagi pacarku. Dia adalah istriku sekarang. Satu-satunya. Yang pertama dan terakhir. Dan di dalam mimpiku,dia benar-benar “indah” dan “menghangatkan”. Juga sangat “menggelitik” hasrat.
Ah… percuma saja. Bayang-bayang yang menghanyutkanku itu telah tertelan kegelapan mataku. Maka dengan enggan aku buka mataku. Aneh, mimpi itu hilang, tapi aku merasa hangat. Kehangatan dengan bau yang khas.
“Omon…” pekikku namun tertahan. Takut untuk membangunkan seorang gadis yang memelukku dalam tidur. Matanya terpejam. Bibirnya tersungging sebuah senyum manis. Hangat. Itulah yang aku rasakan. Malu? Aku rasa sedikit. Sebab ini kali pertamanya aku tidur satu kasur dengan seorang wanita, selain Bunda. Aku bahkan sempat tidak percaya di tidur di sebelahku saat ini. Bibir merahnya ranum menggodaku untuk mencicipinya.
Jiyoung, tak apa kan cicipi bibirmu itu? Sedikit saja. Tak akan lama. Mau kan kau kabulkan satu permintaan kecilku itu pagi ini?
“Ngg…” Jiyoung yang masih tertidur tanpa sadar mengeratkan pelukannya ke tubuhku yang sudah pasti membuat jarak kami sedikit lebih dekat dari sebelumnya. Membuat jantungku terpompa lebih kencang. Baiklah Jiyoung, aku anggap itu sebagai jawaban “iya”. Bersiaplah!
Cup
Sebuah kecupan kecil bibirku menyentuh bibir Jiyoung. Semoga dia tak akan bangun dengan itu. Karena aku takut dia marah karena mengejutkannya pagi-pagi. Oke, sudah waktunya aku bangun. Aku ingat pagar semak depat rumah belum aku pangkas. Lebih baik aku kerjakan cepat sebelum toko di buka.
Ting tong… ting tong…
Ng? Siapa yang tiba-tiba bertamu sepagi ini? Hah, aku terpaksa berpisah dari pelukan Jiyoung. Mau bagaimana lagi, aku memang harus begitu. Aku singkirkan tangan Jiyoung dari tubuhku perlahan-lahan supaya dia tidak terbangun. Baru setelah itu berjalan ke bawah untuk membuka pintu.
“Tante? Ada apa tiba-tiba datang?” seruku agak terkejut melihat siapa yang memencet bel.
“Maaf mengganggu pagi-pagi, Jiyoungnya ada?” tanya Tante Taeyeon.
“Ada masih tidur tante. Mau aku panggilin?” tawarku.
“Eh, tidak.Sebenarnya aku justru ingin dia tidak bangun dulu. Aku hanya ingin bicara denganmu. Boleh?” kata Tante Taeyeon. Hah? Bicara denganku? Tentang apa?
“Tentu tante. Memangnya ada apa?”
“Ehm… bagaimana malam kalian?”
“Malam kami maksudnya?”
“Itu, apa semalam kalian—satu ranjang?” kata Tante Taeyeon ragu-ragu.
“Iya, aku tidur di kamar Jiyoung sekarang.”
“Apa ada sesuatu yang lain lakukan… sebelum tidur…?”
“Ah,tante ini. Jangan bertanya seperti itu. Yaaa… sekedar cerita-cerita sambil bercandain dia. Kalau yang tante maksud itu kontak fisik dalam tanda kutip itu, kita belum melakukannya. Masih terlalu dini sepertinya untuk aku dan Jiyoung,” kataku malu-malu. Padahal sepertinya aku sudah agak tidak sabar merasakan surga dunia itu dengan Jiyoung. Maklumlah, naluri lelaki. Paling tidak itu membuktikan aku itu manusia dan normal.
“Oh, begitu.”
“Kenapa? Tante mau cepet-cepet punya cucu? Kalau mau, aku dan Jiyoung akan mengusahakannya,” godaku.
“Tidak-tidak! Hanya saja kau ini benar-benar berbeda dengan seseorang,” ucap Tante Taeyeon lirih. Ouch, sepertinya aku menangkap apa yang Tante Taeyeon pikirkan.
“Tante mengandung Jiyoung saat tante masih kuliah, kan? Maksudku, tante menikah saat…”
“Iya,haaaah… kejam sekali orang tua tante dulu menikahkanku dengan orang itu di usia muda. Oh, ya ampun, kenapa lagi aku membahasnya? Sudahlah! Sebenarnya ada sesuatu yang benar-benar sangat ingin aku tanya. Apa menurutmu Jiyoung akan bangun sebentar lagi?”
“Hmm… sepertinya belum. Aku lihat tidurnya pulas sekali. Dan lagi kami juga baru tidur tengah malam. Jadi aku rasa belum.”
“Kalau begitu, tante mau bertanya. Ngg… apa dia membicarakan sesuatu tentang tante?”
“Hmm…”
“Apa saja. Dia pasti membicarakan tante kan?”
“Ngg… ya dia memang membicarakan tante semalam…”
—flashback—
“Aish, menjelang musim dingin saja dinginnya sudah menggigit. Bagaimana kalau nanti,” gerutu Jiyoung sambil mengeratkan badannya lekat dengan selimut. Aku hanya senyum-senyum kecil kemudian bergerak memeluknya.
“Yaaaa… jangan peluk aku!” jerit Jiyoung sambil melepas pelukanku.
“Kenapa? Tadi kau bilang kau kedinginan?” kataku heran.
“Aish, kalau dipeluk kamu aku malah kepanasan,” dumal Jiyoung sambil tidur membelakangiku. Hihihi… mukanya merah banget.
“Ih, edut mukamu merah tuh. Ati-ati mimisan lagi gara-gara tidur bareng aku,” godaku sambil menoel-noel pundaknya.
“Endut lu bilang konci? Sumpah nggak sudi mimisan gara-gara tidur sama kamu!”
“Terus maksud kamu kepanasan itu apaan?” candaku. Jiyoung berbalik sebentar melihatku. Kemudian dia tarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.
“Aaaaa… aku malu Kibum. Ini benar-benar pertama kalinya aku tidur dengan laki-laki. Apa lebih baik kita tetap pisah kamar saja?” rengek Jiyoung dari balik selimut.
“Omong kosong! Aku tidak peduli apa pun alasanmu, kamarku itu akan jadi kamar anak kita nantinya. Atau kau ingin tetap kesepian saat aku sudah tiada,” ledekku sambil mendekap tubuhnya dalam pelukanku.
“Kyaaa… Kibum!” jerit Jiyoung dari dalam selimut. Dia pun mengintip sedikit keluar selimut melihatku. Terlihat sekali wajahnya merah sekali. Hihihi… lucu, dan manis.
“Kalau kamu terus malu-malu padaku. Aku akan paksa kamu bergantung padaku,” ancamku dengan senyum jahat.
“Yaaa… kau mau apa?” pekik Jiyoung. Aku pun menarik paksa selimut yang menutupi tubuhnya. Jiyoung pun tak mau serta-merta membiarkan selimutnya di ambil melakukan perlawanan. Gila ni cewek tenaganya kuat juga. Tapi tetep aku yang lebih kuat. Akhirnya aku berhasil menarik selimut itu lalu melemparnya keluar melalui jendela. Di mana saat itu sedang turun hujan.
“Waaa… Kibum!! Apa yang kau lakukan? Itu selimut satu-satunya yang masih bersih!” pekik Jiyoung sambil memukul-mukuliku.
“Berarti kita akan tidur tanpa selimut. Ayo tidur! Aku ngantuk,” kataku sambil kembali menuju kasur. Jiyoung hanya berdiam diri dengan muka merana.
“Eh, endut! Ngapain diem? Kalau nggak cepet tidur, kamu nggak akan bisa bangun pagi,” kataku.
“Cih!” endusnya kesal. Dia pun akhirnya kembali berbaring di atas kasur denga posisi membelakangiku. Aku perhatikan gerak-geriknya yang tampak menahan dingin.
“Dingin, Jiyoung?” sindirku.
“Nggak!”
“Bohong!”
“Enggak!”
“Masa?”
“Iya,ng… haccchiim…” Walah? Udah flu lagi? Ckckck… kasian amat Jiyoung nggak kuat dingin.
“Sini, kalau emang dingin,” kataku sambil memeluknya.
“Aa… Kibum oppa, aku…”
“Udah diem dan biar saja kita tidur dalam posisi seperti ini,” potongku. Aku mengeratkan pelukanku dan itu mebuatku nyaman. Mungkin juga karena Jiyoung yang agak gendut makanya empuk buat dipeluk. Ahaha… aku yakin aku bakal dibunuh kalau bicara terus terang padanya.
Jiyoung yang awalnya agak meronta pun akhirnya diam juga. Sudah merasa nyaman sepertinya. Baguslah! Aku kan juga tidak ingin bikin dia sakit.
“Eh oppa, ngg… itu… soal mama,” ucap Jiyoung setelah hening sesaat.
“Ya ada apa?”
“Kenapa dia bisa tiba-tiba terlibat di acara kita? Memang dia tahu dari mana?” tanyanya. Posisi kamu masih tetap sama.
“Yoona Taecyeon yang mengundangnya. Mereka bilang jaringan mamamu yang luas itu benar-benar berguna untuk menyiapkan acara kita ini. Lagipula mamamu itu sebenarnya baik. Kau beruntung punya ibu seperti dia. Walau mungkin, yah dia agak mencampakanmu. Tapi lihat sisi positifnya, kok bisa mandiri seperti dirinya bukan?”
“Iya iya, aku tahu itu. Sejak lama pun aku sudah mulai berpikir begitu. Hanya saja aku tidak tahu sebenarnya aku ini apa dimatanya?”
“Maksudmu?”
“Yaaa… kau tahu, aku bingung apa dia melihatku sebagai anaknya atau sebagai tanggung jawab biasa. Habis, kalau dibilang mencampakan, dia tidak sepenuhnya mencampakanku. Dia sesekali menelpon kalau penting. Tapi kalau dibilang sayang, dia tidak pernah ada di sisiku selayaknya ibu yang biasanya.”
“Ya aku cukup mengerti. Aku rasa aku beruntung bundaku benar-benar orang yang penyayang,” ucapku.
“Aku iri padamu. Oh ya, kau lihat tidak ke mana papaku setelah kita ber—itu tadi? Entah kenapa dia tiba-tiba hilang.”
“Om Jungsoo?”
“Iya, menurutmu bagaimana? Apa papa masih membenci mama hingga saat ini? Habis setelah papa menghilang mama menyanyi di panggung kan?”
“Aku rasa pasti ada sebuah keganjalan yang masih menyumbat hubungan mereka Jiyoung. Itu memang hubungan antar mantan suami istri yang rumit.”
“Aku takut…” ucapnya lirih. Tubuhnya agak bergerak merapat ke arahku. Takut? Aku rasa memang wajar dia merasakannya. Apalagi dia baru saja memperbaiki hubungannya dengan papanya. Sebuah perasaan terjepit antara permusuhan pasti sedang menjeratnya.
Aku intip wajahnya yang sepertinya sejak tadi diam. Oh, dia sudah tidur rupanya. Cepat sekali. Dasar kutu kasur. Hmm… wajar sih. Ini memang hari yang melelahkan. Jadi aku pun harus cepat tidur untuk menyambut besok.
“Mimpi indah sayang…”
—end flashback—
Tante Taeyeon terdiam. Mempikirkan sesuatu yang aku tidak tahu apa. Sepertinya kesalahan besar aku menceritakan hal itu tadi.
“Maaf,” ucapku pelan.
“Tak ada sesuatu yang perlu kau minta maafnya,” kata Tante Taeyeon.
“Tapi tante aku…”
“Sudah tidak apa-apa. Tolong jangan katakan kedatangan tante ini pada Jiyoung ya,” pesan Tante Taeyeon. Dia pun akhirnya pamit dan pergi meninggalkanku. Ckckck… sampai sekarang aku benar-benar masih tidak mengerti tentang hubungan keluarga ini.
*Jiyoung POV*
“Woy, endut bangun woy! Udah pagi! Atau mau tak guyur pake air es?” seru Kibum sambil mengguncang tubuhku dengan sadis.
“Iya iya iya! Aku udah bangun nih. Hu’uh! Salah kamu juga kenapa kamu lempar selimutnya keluar,” dumalku sambil memeluk tubuhku yang mengigil.
“Hehehe… Damai. Udah aku cuciin kok. Makan gih! Aku dah masak.”
“Tunggu, aku harus rapihin kasur dulu. Ya ampun, kenapa tepat yang kau tiduri tuh pasti aja berantakannya edun pisan?” kataku. Kibum ya kayak biasa cuman bisa cengar-cengar kayak kuda pake behel. Percaya deh, kalau semua tempat yang Kibum tidurin pasti berantakannya ya kayak itu tadi, “edun pisan”. Bantal aja minimal satu aja udah bugil kagak pake baju (ekh, kok tiba-tiba omonganku mesum gini? o.o). Alas kasurnya? Beeeh! Kasur udah kayak orang pake handuk doang (Jiyoung, ada apa dengan otak sucimu? O,o). Kalau tidur di sofa, minimal satu bantal sofa mental dua meter dari sofa. Bisa dibilang sih Kibum tuh kalau tidur suka “motah”. Cuman uniknya gini lho, tidur dia tuh nggak bisa diem, tapi entah kenapa posisi tidur teteeep aja anggun. Ibarat orang pake baju bagus tapi dalemannya bolong-bolong plus kotor (Hentikan pikiran menjijikan itu, Jiyoung! Martabatmu menangis nanti! ><) Dasar malaikat aneh!
Oke, sekarang aku dan Kibum lagi makan bareng di meja makan yang menghadap ke TV. Tidak ada yang terlalu berubah dari kehidupan kita. Makan bersama sambil menonton berita. Setelah itu biasanya Kibum suka baca koran, yang sudah pasti isinya hampir sama dengan berita di TV (Katanya sih biar keliatan rada mature dan macho gitu lah. Tau lah nggak jelas! Kalau emang udah tampang bosah ya nggak usah nge-sok dewasa deh, nggak pantes).
Di TV yang sedang kami tonton lagi memberitakan tentang girlband Cherrybelle yang baru aja rilis album baru (author : ekekek… jangan protes ya, menurut author nih cuman GB ini nih yang berkualitas di Indonesia =p)
“Cantik…” komentar Kibum tampak berpaling dari TV. Idih! Cantik apanya? Muka sok imut tapi nggak imut itu dibilang cantik? Kibum kena katarak apaan sih? Liat baik-baik dong. Liat gesture-nya. Centil banget nggak sih? Kayak yang minta dimasukin (PLAKPLAKPLAK!!! SEBUT JIYOUNG, SEBUT!! O__O).
“Tch…” decakku pelan namun masih terdengar. Aku sendok makananku dengan agak kasar. Huh, baru juga nikah dia sudah tergoda orang lain. Aku saja sudah tidak minat lagi sama cowok (dan cewek) mana pun. Sekali pun muka mereka sudah dipermaki orang dokter operasi plastik paling handal dan apa pun lah yang orang katakan sempurna.
“Aih, Jiyoung ini. Aku kan cuman bercanda,” seru Kibum gemas sambil mencubit pipiku.
“Tapi itu membuktikan kamu pun masih sedikit tergoda dengan cewek lain,” timpalku.
“Heuh… kayak gitu doing mah biasa kale… Udah kodratnya gitu,” bela Kibum.
“Dasar cowok. Aku aja udah nggak minat sama satupun makhluk di alam ini,” kataku lagi. Pandanganku masih fokus pada makanan. Sepi. Kenapa aku cuman mendengar alat makanku saja yang bergerak. Aku pun sedikit mendongangkan kepalaku.
“Apaan sih liat-liat?” seruku ketus pada Kibum yang, itulah, senyam-senyum nggak jelas tanpa berkedip melihatku. Pasti anehnya kumat lagi nih.
“Pantesan aja aku sama cinta sama kamu,” gumam Kibum sambil tertawa geli.
“Karena aku nggak kayak cewek biasanya?” kataku ketus.
“Ngg… mungkin salah satunya karena itu. Tapi ada yang jauh lebih penting. Karena kamu setia.”
KTLIIING
Sumpitku langsung terjatuh ke arah mangkuk nasi yang sudah hampir habis. Dia tadi muji aku atau nyindir?
“Bener kan. Nah, sekarang coba aku tanya. Selain Yoona sama aku, ada nggak orang lain yang bikin kamu tertarik?”
“Berhenti merayuku Kibum,” timpalku sambil tertawa kecil. Dia ini, selalu saja meletakanku di atas langit. Padahal dia jauh diatasku atas segalanya. Ckckck…
***
“Mimpi apa aku semalam?!! Щ(ºДºщ)” teriak Yesung frustasi. Dia kesal karena sejak tadi dia harus terus memasak nonstop sampai siang ini. Wajar saja kalau melihat keadaan hari ini. Hari ini pelanggan benar-benar banyak diluar biasanya. Kibum bilang, dia benar-benar menjalankan promo “spesial pernikahan kita” dengan diskon sampai 40% (sinting banget nggak sih? Diskonnya dia kasih kegedean). Dan ternyata itu promo manjur. Aku sama Kibum aja sampai harus turun tangan. Kibum sekarang lagi di cabang 3 yang letaknya memang paling strategis di antara semua cabang bakery.
“Hebat sekali ya hari ini. Pelanggan banyak sekali yang mengantri,” seru Seo Nyeo kagum sambil sibuk membuat pudding.
“Hebat apanya? Dari tadi tanganku nyaris kesayat mulu nih gara-gara berurusan dengan benda tajam mulu. Noh, liat 6 jariku luka,” seru Yesung sambil memamerkan enam jarinya yang sudah diberi plester.
“Masih mending lah kejadiannya ketimbang tangan aku yang pernah ketumpahan air mendidih, hyung,” seru Minho yang sibuk dengan kue kering.
“Oi, kalian berhenti ngobrol dan lanjutkan pekerjaan kalian!” perintahku tegas dengan tangan bergerak membuat adonan roti.
“Tapi habis ini kita naik gaji ya,” seru Yesung.
“Ngeh!” seruku. Hei, yang tadi itu aku nggak serius lho. Gini-gini sebenarnya aku kasian juga sama mereka. Apalagi kalau sampai ada yang luka. Mungkin aku harus berunding dengan Kibum tentang kenaikan gaji.
Dddrrrrttt… dddrrrrtttt…
Handphone-ku bergetar dalam sakuku. Aku tepuk tanganku sebentar untuk mengurangi tepung yang menempel di tanganku. Kemudian aku ambil handphoneku. Dari Juno. Dia itu yang jadi wakil aku dan Kibum di cabang 5.
“Yoboseyo?”
“Bos! Kita kekurangan tenaga kerja. Sebenarnya aku ada beberapa kenalan yang bisa aku mintakan bantuan. Kira-kira maksimal berapa saya boleh pinjam tenaga luar?” tanyanya panik. Ya ampun, sampai segitunyakah?
“Sebanyak yang kau butuhkan saja. Nanti bayar seperti ketentuan kayak biasanya, mengerti? Aku serahkan padamu Juno!”
“Baik! Terima kasih, bos,” seru Juno sigap. Kontak langsung saja aku putus. Fiuh, beginilah bisnis. Ada naik turunnya. Kalau sudah begini sih aku jadi merasa kudu menambah karyawan. Hayul bekerja sendirian di bagian take away. Sering kali dia harus bolak-balik dari stand-nya ke dapur untuk mengambilkan pesanan. Sekarang pun dia jadi terpaksa mengambil sendiri pesanan dari tamu. Berarti aku butuh satu di bagian take away , dia yang akan mengambil apa-apa saja yang dipesan oleh tamu. Eh tunggu, aku jadi merasa pekerjaannya terlalu mudah. Mungkin untuk yang bagian ini jangan di tambah dulu.
Bagaimana dengan Gyuri? Dia juga bekerja sendiri. Begitu pula dengan kasir di cabang lain. Dia juga mirip dengan Hayul, tapi dia hanya perlu mengambil kue dari estalase kaca. Tapi bagian ini justru lebih dituntut untuk bergerak cepat karena pastilah bagian ini yang paling banyak dijadikan tempat irang bertransaksi. Kenapa aku tidak tambah kasir di tiap cabang 2? Yah! Apalagi Gyuri kadang berhalangan karena anaknya. Kibum pasti setuju dengan saranku. Berarti kita harus membuat laporan pada pemerintah dan memasang lowongan pekerjaan di koran.
Lalu dengan juru masak? Ada Minho, Yuri, Seon Nyeo, dan Yesung. Sepertinya sedikit sekali. Minho bagian kue kering, Yuri bagian roti dan kue-kue besar, Seon Nyeo bagian kue-kue besar dan minuman, dan Yesung bagian pastry. Aku rasa bagian pastry dan kue kering harus benar-benar ditambah. Minho dan Yesung pasti sulit juga menanganinya sendiri walau sudah dikerjakan sebelum toko buka. Kalau pudding dan es-krim memang sudah disiapkan sebelum bakery buka. Namun sekarang ini malah Ye Eun yang harus sibuk bolak-balik dari dapur untuk memenuhi estalase atau kalau sempat juga membatu Hayul. Menghilangkan tugas utamanya sebagai pelayan.
Akhirnya yang menjadi pelayan hanya Jinki, Junghyun, sama Jinah. Dan yang lebih parahnya lagi, di sini belum ada karyawan yag khusus buat bersih-bersih! HUAAAA!!! Bakeryku perlu pembaharuan!!!
“Bos, kita hampir kehabisan buah-buahan dan keju leleh,” lapor Yuri yang baru keluar dari gudang penyimpan bahan baku.
“MWO?” seruku kaget. Buah-buah mau habis? Secepat ini? Padahal biasanya baru sore-sorenya habis atau malah kadang nyisa. Tidak mungkin kan aku menyetok buah terlalu banyak. Buah gampang busuk dan tidak segar.
“Aku juga kekurangan kayu manis madu,” lapor Seon Nyeo.
“Di sini kurang daging bos!” lapor Yesung.
“Baik-baik! Aku catat bahan yang habis dan kurang, nanti aku langsung ke pasar. Yuri, rotinya kamu yang teruskan nih!” seruku. Aku keluarkan handphone lalu mencantat segala yang harus aku beli. Oh ya, aku lupa bawa dompet. Aku harus ambil uang dari kasir. Saat ini Gyuri sedang mengambilkan kue yang sedang seorang tamu pesan. Aku pun langsung membuka kunci laci kasir lalu mengambil beberapa uang bernominal besar.
“Hoi! Ngapain kamu? Mau maling ya?” seru seorang ibu-ibu di barisan terdepan dengan ketus. Ngek? Aku dikira maling?
“Enak aja. Aku yang punya toko di sini,” seruku tak kalah ketus. Aku sampai lupa untuk bersikap sopan di depan tamu.
“Pemilik toko apanya? Tampang masih muda gitu mana bisa jadi bos?” seru ibu-ibu itu. Hah? Nggak salah denger nih? Emang kalau masih muda aneh gitu kalau punya bisnis besar? Justru bagus dong masih muda dah punya bisnis sendiri. Udah bisa buka lowongan bekerjaan.
“Lho? Bos? Ngapain di sini?” tanya Gyuri yang hendak mengemas pesanan seorang tamu.
“Nggak papa. Cuman mau ngambil uang aja buat beli bahan baku yang kurang,” kataku dengan berbagai penekanan dia setiap kata. Aku pun sambil melirik ke arah si ibu-ibu rese itu yang terperanga mendengar sebutan bos yang ditujukan padaku.
“Oh ya, anakmu kira-kira bakal kambuh lagi nggak nih?” tanyaku sekedar basa-basi. Biar rada manas-manasin si ibu-ibu itu. Wahahai!
“Ada ibuku di rumah. Jadi dia bisa menjaga Miyoung kalau ada apa-apa,” jelas Gyuri dengan tangan sibuk menghitung harga dengan kasir.
“Baguslah, kau benar-benar dibutuhkah hari ini. Semangat ya!” seruku berusaha terlihat berwibawa sambil menepuk pundaknya untuk menyemangati.
“Baik bos,” serunya patuh. Wah dia benar-benar harus aku beri bonus. Aku pun berjalan menuju pintu keluar dengan uang di saku. Aku merasa banyak orang yang melihatku karena insiden tadi. Antara tidak percaya dan kagum barangkali. Atau mereka berpikir “jadi ini toh pengantin baru yang dingembor-gembor Yoona dan Taecyeon”. Sayut-sayut aku mendengar gumaman ibu-ibu tadi pada Gyuri.
“Dia benar-benar pemilik bakery ini?”
“Iya. Dia pemilik sekaligus pendiri pertama bakery ini nyonya. Lalu suaminya…”
Aku tak lagi mendengar ucapan Gyuri karena aku sudah berada di luar toko. Aku berdiri di pinggir jalan raya menunggu taksi atau pun bus yang mengarah ke pasar langgananku. Namun naas sekali nasibku setiap taksi yang melewatiku selalu “berpenghuni”. Bus yang lewat pun tak ada yang sesuai tujuanku. Mobil Kibum bawa. Karyawanku pada nggak bawa motor pula. Hiks… menyedihkan.
TIN TIIIN
“Butuh tumpangan?” Aku menoleh mengenali suara itu.
“Papa!” seruku girang saat melihat papa sudah dengan mobilnya.
“Sebenarnya tujuan awal papa mau pamit dulu sama Jiyoung sebelum papa kembali ke Busan,” jelas papa.
“Papa datang di saat yang tepat! Jiyoung nebeng dulu dong pa. Penting. Aku harus ke pasar sekarang,” seruku.
“Naiklah. Beritahu aku pasar yang mana,” ajak papa.
“Ii… makasih papa!” pekikku girang. Aku langsung aja masuk ke dalam mobil. Papa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntun sekali aku punya papa seperti dia. Dia benar-benar jago mengemudi bab pembalap. Biasanya kan orang udah tua tuh nyetirnya rada hati-hati kan. Efek main game nih kayaknya.
Sebentar saja kami sudah sampai. Aku berusaha berbelanja secepat mungkin. Kemudian dengan tertatih-tatih membawa belanjaan yang berat, aku kembali ke tempat papa memarkir mobilnya dan langsung tancap gas untuk kembali.
Di perjalanan aku jadi teringat kembali akan sesuatu. Saat papa tiba-tiba menghilang dalam acara pernikahanku.
“Papa, boleh Jiyoun bertanya sesuatu?”
“Tentang apa, sayang?”
“Tentang kemaren. Papa kok tiba-tiba menghilang?”
“Engg… itu…” Papa kelihatan gugup setelah aku bertanya begitu.
“Karena ada mama?” Papa terus saja bungkam. Pasti benar karena mama.
*Author POV*
“Kenapa diam saja? Atau semua itu memang benar?” desak Jiyoung. Om Jungsoo berpikir keras mencari alasan yang logis.
“Kau menyuruhku jujur Jiyoung? Apa aku harus jujur aku iri denganmu yang bisa memiliki pasangan hidup yang baik sementara aku jelas-jelas gagal dalam hal itu?” pikir Om Jungsoo.
“Kamu tak pernah bilang mama akan datang juga,” tanya Om Jungsoo ragu-ragu.
“Aku juga tidak tahu, pa. Mama juga tidak memberitahuku sebelumnya,” jelas Jiyoung. Om Jungsoo mangguk-mangguk mengerti.
Kenapa Taeyeon datang saat aku juga ingin menjalin hubungan baik dengan Jiyoung?
***
*Jiyoung POV*
Malam hari baru semua kegilaan berakhir. Semua, termasuk aku pada tepar gara-gara kecapean.
“Bos, kau harus membayar karena semua ini,” rengek Ye Eun yang tepar di sofa tamu.
“Heh, aku juga capek di sini!” kataku tak mau kalah.
Kliniing
“Lho? Kalian belum pulang?” seru Kibum heran melihat kami semua masih berada di bakery.
“Pelanggan hari benar-benar bikin kita semua gila bos,” lapor Jinki.
“Sstt… Yesung,” bisik Junghyun sambil menyikut Yesung.
“Wae?”
“Itu…” Junghyun langsung membisikkan sesuatu ke telinga Yesung.
“Oh iya. Bos Kibum,” seru Yesung.
“Apa?”
“Gimana malam pertamanya kemaren, bos?” seru Junghyun jail.
“MWO??” seruku kaget.
“Ayolah, bos. Jangan malu-malu. Gimana semalam sama bos Jiyoung asik nggak?” seru Yesung sambil menyikut tangan Kibum.
“Eh, kami tidak…”
“Iya, bos Jiyoung juga. Semalam gimana? Nyampe berapa ronde?” tanya Seon Nyeo ikut-ikutan menggodaku.
Seluruh karyawan terus menerus menggodaku, kecuali Yuri, Minho, dan Jinki. Mereka hanya bengong mendengar pembicaraan “menggelitik” itu. Maklum, hanya mereka bertiga karyawan yang masih “suci” di sini.
“Ih, apa-apaan sih? Kita belum ngapa-ngapain juga,” seruku kesal digodain mulu, apalagi sama bocah hamil mesum ini.
“Lho? Belum?” tanya Junghyun masih tidak percaya.
“Memang belum. Kita belum mau buru-buru,” kata Kibum dengan tangan merangkulku.
“Yah, nggak asik,” ujar Jinah.
“Bos, kita kasih tau ya.” Yesung menarik tangan Kibum agar agak menjauh dariku. “Melakukan itu justru bisa makin mengharmoniskan kalian,” jelas Yesung setengah berbisik.
“Pikirin deh bos. Kenapa coba ada pasangan suami istri yang bisa bertahan sampai tua tanpa memikirkan kejenuhan? Ya karena itu. Karena justru di situlah salah satu hanya yang menyenangkan dalam pernikahan,” susul Junghyun.
Kibum langsung melihatku. Rauk mukanya agak ragu sekaligus berpikir. Aku tidak bisa menerka apa yang dia pikirkan. Aduh, kenapa desakanku sebagai istrinya malah dimula-mula dari sini sih. Aku memang bukan Yuri lagi. Hanya saja pendapatku tentang “tubuh cowok yang menjijikan” masih sedikit membekas dalam jalan pikirku.
Aku—aku harus apa?
—tbc—
Ngebosenin dan panjang kan? Baiklah kalau begitu saya harus bersiap sebelum aku ditagih-tagih lagi. KYAAAAA!!!!!!! 

Pingback: Love is Normal (Part 9) | FFindo
Pingback: BBM Di Indonesia | Sulutindo Blog