-Part I- Timeline [ Summer in Seoul ] (edited)

Title               : -Part I- Timeline [ Summer in Seoul ]

Author          : Kyurielfsone88 {@IcHa_KYURI88}

Main Cast    :

Kwon Yuri, SNSD as Adrienne Kwon

Cho Kyuhyun, Super Junior as Cho Kyuhyun

Choi Dong Wook ( Se7en)

Park Han Byeol, Solois

Genre           : Romance, Friendship, AU, Family, Angst

Length          : Chaptered

Rate               : PG+13/PG+15

Disclaimer   : on True Story Ilana Tan novels! Ok, let’s check this out ^^

HAPPY READING

Unwanted meeting turns into a friendship and continue to be a hope..   Hope to protect the girl, which he love very much. However, He could not forget her. When in every circumstances, Cho Kyuhyun will always protect  Adrienne Kwon … ♥♥

 

Author POV

“SEKARANG aku masih di jalan… Mm, baru pulang kantor… Aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah.”

Adrienne melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil merah. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Park Tae Jun, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.

“Tae Jun~ssi, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,” Adrienne menyela ucapan Park Tae Jun dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal.

Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini.

Adrienne semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang.

Ini bukan pertama kalinya Adrienne harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari.

Ia berhenti melangkah dan mendesah. “Bisa gila aku,” gumamnya pada diri sendiri.

Adrienne memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Adrienne masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Aroma makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samar-samar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan tertawa.

Tiba-tiba Adrienne merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko makanan kecil di seberang jalan. Setelah merenung sesaat, ia mengangguk dan bergumam, “Baiklah,” seolah menyerah pada perdebatan yang dia lakukan seorang diri.

Adrienne menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, Adrienne langsung berjalan ke rak keripik.

“Nah, kenapa dengan wajahmu, Nak. Ada masalah apa lagi di kantor?” tanya bibi pemilik toko setelah melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Adrienne di meja kasir.

Adrienne tersenyum malu. “Ah, tidak ada. Saya hanya sedikit stres.” Ia membuka tas tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu?

“Sebentar, Bibi. Saya yakin sekali sudah memasukkan dompet tadi…” Adrienne mengaduk-aduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat, tiga keping uang logam, saputangan merah, ponsel, dua lembar struk belanja yang sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut. Adrienne bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet?

Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Adrienne melirik ponselnya yang tergeletak di meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.

“Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana.”

Adrienne menoleh ke arah suara bernada rendah itu. Suara itu milik pria bersetelah putih yang berdiri di belakangnya. Rupanya bunyi tadi adalah bunyi ponsel pria tersebut. Sekarang Adrienne melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima botol

Soju. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan besar.

Pria itu memandang Adrienne, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Adrienne melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat…

Adrienne menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir.

Tiba-tiba Adrienne merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan melihat bibi pemilik toko sedang tersenyum kepadanya dan berkata, “Nak, bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?”

Adrienne memandang bibi pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri di belakangnya. “Oh, ya. Maaf.” Adrienne menyingkir ke samping dan pria itu melangkah maju.

“Berapa?” tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi.

Kepala Adrienne mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali.

Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring.

Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus punya dua? pikir Adrienne sambil memijat-mijat pelipisnya.

Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir. “Maaf,” gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Adrienne.  Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.

Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Adrienne memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan putih yang diparkir di depan toko.

Karena Adrienne tetap tidak bisa menemukan dompetnya, bibi pemilik toko mengizinkannya membayar besok. Adrienne mengumpulkan kembali barang-barangnya yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.

Begitu keluar dari toko, Adrienne langsung membuka sebungkus keripik dan mulai makan. “Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri.  Selesai berkata begitu, ponselnya berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari ponsel diciptakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab ponselnya karena merasa harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda tidak tahu diri itu terus menjerit minta diangkat. Akhirnya Adrienne menyerah dan mengaduk-aduk tasnya dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit histeris di tengah jalan.

“Haaloo!” Adrienne ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa.

Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?

“Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?”

Adrienne baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu di seberang sana.

“Maaf… bukankah ini ponsel Kyuhyun?”

Siapa lagi orang ini?

“Anda salah sambung. Ini ponsel Adrienne Kwon ,” ujar Adrienne ketus dan langsung menutup flap ponselnya dengan keras.

Adrienne menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa dongkol. “Tidak bisakah kaubiarkan aku tenang sedikit?” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumah. Walaupun Adrienne tinggal di Seoul dan orangtuanya di Jepang, mereka sering menelepon dan mengecek keberadaannya. Tadi ibunya malah sudah sempat menelepon untuk menanyakan kenapa Adrienne belum sampai di rumah.

Ia membuka ponselnya kembali dan menekan angka satu yang akan langsung terhubung ke rumah orangtuanya di Jepang, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu. Bukan tulisan “Rumah Perancis” yang tertera seperti biasa, tapi nama “Choi Dong Wook”. Adrienne cepat-cepat memutuskan hubungan dan tertegun.

Adrienne memerhatikan ponsel yang dipegangnya. Memang itu ponsel miliknya, setidaknya bentuk dan warnanya sama persis dengan ponsel miliknya. Ia membuka daftar telepon di ponselnya dan melongo melihat nama-nama yang tidak dikenalnya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir.

Tadi di toko bibi itu, semua barangnya berserakan di meja kasir, termasuk ponselnya. Ketika ponsel milik pria yang berdiri di belakangnya tadi berbunyi untuk pertama kali, ia mengira ponselnya sendiri yang berbunyi karena dering ponsel mereka sama.

Kemudian ponsel kedua pria itu berbunyi. Pria itu meletakkan ponselnya yang pertama di meja dan mengeluarkan ponsel kedua. Jadi, di meja kasir ada ponsel pria itu dan ponsel Adrienne.

Adrienne teringat bentuk ponsel pria itu yang diletakkan di meja memang sama dengan bentuk ponselnya sendiri. Sebelum keluar dari toko, pria itu berbalik untuk mengambil ponsel pertamanya yang tertinggal di meja. Sekarang Adrienne memegang ponsel dengan daftar nama yang tidak dikenalnya.

Otaknya mulai bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Artinya… artinya… orang itu telah mengambil ponsel yang salah. Pria tadi mengambil ponsel Adrienne.

Adrienne memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa. “Bagaimana ini? Aduh, bisa gila aku. Gila.” Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Mobil pria itu sudah tidak tampak. Adrienne merasa tubuhnya nyaris ambruk ke tanah. Rasanya ingin menangis saja. Ke mana ia harus mencari orang itu?

Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh. Ponselnya ada pada pria itu, bukan? Berarti Adrienne bisa menelepon ke ponselnya dan pria itu akan menjawab. Sebersit tenaga muncul kembali. Ia menghubungi ponselnya dengan ponsel pria tadi yang sedang dipegangnya.

Adrienne berjalan mondar-mandir di tepi jalan dengan gelisah sambil menunggu hubungannya tersambung. “Cepat angkat… cepat… tolong… ce—Halo?”

***

“Oh, Hyung. Kenapa lama sekali?”

Choi Dong Wook tersenyum meminta maaf kepada laki-laki bertubuh tinggi yang membuka pintu, lalu melangkah masuk ke rumah yang sudah sering didatanginya. “Maaf, jalanan agak macet,” katanya sambil berjalan ke ruang duduk yang luas. “Hei, Kyuhyun. Punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman.”

Cho Kyuhyun mengikuti Choi Dong Wook ke ruang duduk. Ia tidak menghiraukan pertanyaan temannya dan balik bertanya, “Hyung sudah dengar gosipnya?”

Choi Dong Wook memerhatikan temannya mengempaskan diri ke sofa. Tatapan Cho Kyuhyun terlihat menerawang dan cemas. Sebagai manajer Cho Kyuhyun, Choi Dong Wook memahami alasan kekhawatirannya.

“Dari mana asal gosip itu?” kata Kyuhyun, seakan-akan bertanya pada dirinya sendiri.  Choi Dong Wook hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sebotol soju kepadanya.

Kyuhyun membuka tutup botol itu dan meneguk isinya. “Aku dibilang gay.” Kyuhyun tertawa pahit. “Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku, Hyung. Jangan-jangan selama ini Hyung juga berpikir seperti mereka?”

Choi Dong Wook duduk di kursi di hadapan Kyuhyun, ikut meneguk soju langsung dari botolnya. “Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu,” ujarnya tenang. “Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun di depan publik.”

Cho Kyuhyun mengangkat bahu. “Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa. Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”

Choi Dong Wook menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan. Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa menimbulkan gosip-gosip lain. Bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit. Produsermu tidak akan senang. Ditambah lagi, bagaimana dengan para penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar.”

Cho Kyuhyun mendongak menatap langit-langit dan mengembuskan napas berat. “Lalu bagaimana?”

Choi Dong Wook meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seorang wanita kepada publik.”

Kepala Kyuhyun berputar cepat ke arah Choi Dong Woon. “Apa?”

“Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Choi Dong Wook langsung.

“Apa?”

Choi Dong Wook tidak memandang Cho Kyuhyun dan melanjutkan dengan nada serius, “Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Bisa jadi skandal. Terlalu berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”

Choi Dong Wook mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikiran. Akhirnya ia menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang menunggu hasil renungannya.

“Baiklah,” katanya sambil tersenyum. “Kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa wanita itu dan tidak ada yang pernah melihatnya.”

Kyuhyun mengerutkan kening karena bingung. “Tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada sekadar kata-kata belaka.”

“Tapi kita bisa memberikan bukti.”

“Bukti apa?”

“Foto dirimu bersama wanita itu.”

“Wanita yang mana?”

“Wanita yang menjadi kekasihmu.”

“Kekasih yang mana?”

“Semua bisa diatur kalau memang kau mau.”

“Maksudnya?”

Senyum Choi Dong Wook bertambah lebar. “Kita cari wanita yang tidak dikenal siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”

Kyuhyun merenung, lalu berkata, “Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usul wanita itu? Lagi pula di mana kita cari wanita yang bersedia dan bisa dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”

Choi Dong Wook meneguk soju-nya lagi dan menatap Kyuhyun. Temannya itu tampak mempertimbangkan usulnya dengan ekspresi sangat cemas. Alisnya berkerut, sesekali ia menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa saat, Kyuhyun mendesah dan melanjutkan, “Wanita yag seperti apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita pertama yang berjalan melewati pintu itu?” Ia menunjuk pintu depan rumahnya dengan dagu.

Tawa Choi Dong Wook meledak. Kyuhyun menatapnya dengan pandangan bingung. “Hyung, ada apa?”

Choi Dong Wook mendorong pelan bahu Kyuhyun. “Astaga, Kyuhyun. Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius begitu?”

“Apa?”

Choi Dong Wook menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.”

Kyuhyun mendengus, lalu tertawa kecil. “Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan sebentar. Hyung mau ikut?” kata Kyuhyun sambil merebahkan kepala di sandaran sofa dan memandang langit-langit ruang duduk.

Choi Dong Wook mengangkat bahu. “Oke.”

Kyuhyun mengayun-ayunkan botol soju yang sedang dipegangnya, lalu bertanya, “Oh, Hyung, ponselku sudah diperbaiki belum?”

Choi Dong Wook mengeluarkan ponsel dan mengulurkannya kepada Kyuhyun. Tiba-tiba ia teringat pada telepon yang diterimanya dalam perjalanan ke rumah Kyuhyun tadi. Wanita yang mengaku bernama Adrienne Kwon itu berkata ponsel mereka tertukar. Karena ia sendiri tidak bisa kembali mengambilnya, Choi Dong Wook meminta wanita itu datang ke rumah Cho Kyuhyun. Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena bagaimanapun tertukarnya ponsel mereka bukan salah wanita itu, tapi apa boleh buat. Cho Kyuhyun sedang uring-uringan dan kalau sedang uring-uringan, ia tidak suka menunggu lama.

Ia baru akan menceritakan hal ini kepada Kyuhyun ketika bel pintu berbunyi.

“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Kyuhyun heran.

Adrienne benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai di rumah ia harus cepat-cepat mandi kembang tujuh warna seperti yang pernah diajarkan ibunya, apa pun untuk mengguyur hingga tak bersisa segala kesialan. Sekarang ia berdiri di depan pintu rumah besar berwarna putih. Pria yang katanya bernama Choi Dong Wook menyuruhnya kemari untuk mengambil ponselnya yang tertukar. Adrienne jengkel. Kenapa ia yang harus datang, bukankah orang itu yang duluan mengambil ponsel yang salah? Ia bahkan sampai harus meminjam uang dari bibi pemilik toko supaya bisa naik bus, ditambah harus berjalan kaki untuk sampai di kawasan perumahan elite ini.

Adrienne kembali menghembuskan napas. Sudahlah, tidak apa-apa. Hal terpenting sekarang adalah mendapatkan ponselnya kembali. Setelah ini ia bakal bisa bergegas pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.

Pintu terbuka dan Adrienne mengenali wajah pria yang membuka pintu itu. Ia pria yang ada di toko tadi. Walaupun agak sulit, Adrienne memaksakan seulas senyum sopan. Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.

“Apa kabar? Saya Adrienne Kwon yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan ponsel Anda. Ini.” Adrienne mengulurkan tangannya yang memegang ponsel.

“Oh, terima kasih banyak,” kata pria itu ramah. “Saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan. Silakan masuk. Ponsel Anda ada di dalam.”

Sebenarnya Adrienne tahu ia tidak boleh masuk ke rumah pria yang tidak ia kenal, apalagi pada jam selarut ini. Tapi otaknya sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya dan ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah supaya bisa pulang ke rumah dan tidur. Lagi pula pria itu kelihatannya sangat baik.

Adrienne melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa ke ruang duduk luas dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Wajahnya tampan, potongan rambutnya bagus dan rapi, walaupun Adrienne pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang agak pirang. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu. Tapi di mana ya?

“Mungkin Anda salah sambung,” Adrienne mendengar pria itu berkata di ponselnya. “Tidak ada yang namanya Adrienne Kwon di sini.”

Adrienne menatap Choi Dong Wook dengan pandangan bertanya sambil menunjuk ke arah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu.

“Ya, itu ponsel Anda,” kata Choi Dong Wook sambil tersenyum kecil.

Laki-laki yang duduk di sofa masih sibuk sendiri, tidak menyadari kedatangan Adrienne. Keningnya tampak berkerut sebal. Ia berkata dengan nada agak marah. “Maaf, Park Tae Jun~ssi saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Adrienne Kwon. Bagaimana saya bisa meminta dia menjawab telepon? Anda salah sambung.”

Selesai berkata seperti itu, laki-laki itu menutup flap ponselnya dengan keras. “Orang aneh,” ia menggerutu sendiri.

“Hei…,” Adrienne mendengar Choi Dong Wook memanggil laki-laki itu. “Ponsel itu milik nona ini.”

Laki-laki di sofa itu berpaling ke arah Choi Dong Wook, lalu ke arah Adrienne. Ketika mata mereka bertemu, Sandy baru sadar siapa laki-laki itu.

Cho Kyuhyun agak bingung mendengar penjelasan Choi Dong Wook. Pandangannya berpindah-pindah dari sang manajer ke gadis yang berdiri di hadapannya, lalu kembali ke manajernya lagi. Secara sekilas, ia mengamati orang asing yang sekarang ada di ruang tamunya itu: gadis bertubuh kecil dengan rambut dikucir dan tangan menjinjing kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam, lelah, dan pucat. Gadis itu diam tak bersuara sementara Choi Dong Woon menjelaskan apa yang sudah terjadi.

“Oh, jadi ini ponsel Anda?” tanya Kyuhyun sambil bangkit dari sofa. Ia mengulurkan ponsel yang sedang dipegangnya. “Itu… tadi—siapa namanya, maaf, saya lupa—menelepon mencari Adrienne Kwon. Anda sendiri Adrienne Kwon?”

Gadis itu tersenyum samar dan menjawab, “Ya, itu nama saya.”

***

Tiba-tiba ponsel itu berbunyi dan membuat Adrienne tersentak kaget. “Silakan dijawab,” katanya cepat.

Adrienne menerima ponsel itu dan langsung membuka flap-nya. “Halo?”

Kemudian Kyuhyun dan Dong Wook tertegun ketika mendengar gadis itu berbicara dalam bahasa asing. Kyuhyun yakin percakapan tersebut bukan dalam bahasa Inggris ataupun Jepang karena ia menguasai kedua bahasa itu. Entah bahasa apa yang sedang dipakai gadis itu, pokoknya ia berbicara lancar sekali. Kyuhyun menoleh ke arah manajernya untuk bertanya dan sebagai jawaban Dong Wook menggeleng.

Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah menutup telepon si gadis memandang Choi Dong Wook dan Kyuhyun bergantian dengan sikap serbasalah. Sambil tersenyum kaku ia berkata, “Ehm, terima kasih banyak. Saya pulang dulu.”

“Tunggu,” Dong Wook menyela. Gadis itu memandangnya tanpa ekspresi. “Kalau boleh tahu, yang tadi itu bahasa apa?”

“Bahasa Perancis,” jawab gadis itu langsung.

“Oh, begitu.” Dong Wook tersenyum dan mengangguk-angguk karena sepertinya gadis itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. “Anda bisa berbahasa Perancis rupanya.”

“Saya permisi,” kata gadis itu lagi sambil beranjak ke pintu.

“Sebentar,” Dong Wook kembali menahan gadis itu. Ia memandang Kyuhyun sekilas, lalu kembali memandang gadis itu. “Anda tidak datang dengan mobil, bukan? Tadi saya lihat tidak ada mobil di luar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar. Bagaimana kalau Anda kami antar? Saya merasa tidak enak karena Anda harus mengantar ponsel itu kemari.”

Gadis itu tersenyum kaku dan menggoyang-goyangkan sebelah tangannya. “Tidak usah. Saya bisa naik bus.”

“Kami bisa mengantar Anda ke halte bus,” timpal Kyuhyun. Ia tidak yakin gadis itu bisa pulang sendiri karena bila dilihat dari keadaannya sekarang, gadis itu sepertinya bisa jatuh pingsan kapan saja. “Anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda maaf dari kami.”

Gadis itu memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar. Raut wajahnya tampak bimbang. Sepertinya otaknya sedang berputar, mencari cara untuk menolak tawaran itu. Kyuhyun bisa memahaminya. Seorang gadis yang langsung bersedia diantar dua pria tidak dikenal sudah pasti gadis yang tidak beres.

“Tidak usah khawatir. Kami tidak akan macam-macam. Percayalah,” kata Kyuhyun sambil tersenyum lebar, walaupun ia tahu pasti kalimat itu terdengar tidak terlalu meyakinkan.

“Oh, bukan. Saya tidak bermaksud begitu,” kata gadis itu sambil menggoyang-goyangkan tangannya lagi.

“Ayo, biar kami antar sampai ke halte bus,” sela Kyuhyun sambil meraih kunci mobil manajernya yang ada di meja. Ia menoleh ke arah Dong Wook. “Hyung, kita pakai mobilmu saja, ya?”

Sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam. Bila diajak bicara, ia hanya menjawab seperlunya. Kyuhyun melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang. Gadis itu duduk bersandar dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Kyuhyun ingin tahu apa yang membuat gadis itu terlihat begitu lelah.

Tiba-tiba gadis itu membuka suara, “Saya turun di depan sini saja.”

Kyuhyun membalikkan tubuhnya sedikit supaya bisa melihat gadis itu. “Di sini saja? Yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?”

“Benar, kami tidak keberatan,” Dong Wook menambahkan.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Tidak usah. Berhenti di sini saja.”

Dong Wook menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat halte bus.

“Terima kasih,” kata gadis itu sambil keluar dari mobil. “Selamat malam.”

Ketika gadis itu membungkuk untuk memberi salam kepada mereka berdua, Dong Wook menurunkan kaca mobil dan bertanya, “Adrienne Agasshi, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?”

Kyuhyun menyadari manajernya sedang menunjuk ke arahnya.

Adrienne Kwon mengerjapkan matanya sekali, lalu mengangguk. “Orang ini? Cho Kyuhyun, bukan? Cho Kyuhyun yang penyanyi itu?” Lalu seakan baru menyadari sesuatu, ia memandang Kyuhyun dan berkata, “Lagu Anda… lagu Anda… bagus.”

Author End POV

TBC or Not?

Notes             : untuk judulnya maaf aku ganti, tapi teteup belakangnya ada tambahan. Biar readers ga bingung. Trus untuk pemilihan cast, Se7en pantes jadi Hyungnya Kyu, secara beda 4 tahun umurnya, hehehe. Trus yang jadi temannya Yuri disini Park Han Byeol Onnie, dia realnya kan pacaran sm Se7en jadi mereka saya pair aja, itu lebih baik ^^. Ok, saya tau sangat terlambat banget buat post ff ini. Tapi, sumpah buat ngetiknya rasa malesnya itu luar biasa banget. But Thanks To yang masih setia sama FF-FF aku yang blm jelas dan enggak kelar’’ sampai skrg, dan beberapa orang yang bertanya utk beberapa ff yang masih ketunda itu, belum bisa aku pastikan kapan selesainya. Lagipula ketika udah ngetik, tiba-tiba mandek nulisnya ditengah jalan. Jadi Mood nulis pun ilang dan sering kali males buat lanjut #eh(?) dan terkadang ada beberapa readers yang ga aku kenal terus bashing di beberapa FF aku. Sebenernya capek ngomong ini berulang kali, tapi kalian pasti selalu baca Header FFindo kan, No Bashing!!! Ga boleh ada kata Bashing!! Ya kalo ga suka cukup diem aja, itu lebih baik. Daripada berkoar’’, karna saya juga enggak suka bashing utk shipper lainnya. Dan sangat jarang kecuali saya benar-benar sudah kesal! Sekian curhatnya, maaf jika comment kalian ga saya balas, tapi saya pantau terus kok. Terima kasih sekali lagi buat readers’’ tercinta :D . Untuk FF Nado Saranghae, Oppa! Kalian bisa add FB : Riku Kazu Shiroyaki, dia bilang bakal post ff-ff nya di notes fbnya. Jadi kalian kalo mau baca lanjutannya, baca aja ya :*, maaf saya ga bs post ff dia lagi, gumawo ^o^

30 thoughts on “-Part I- Timeline [ Summer in Seoul ] (edited)

  1. yaelaaaah eon, ke mana aja? baru ngepost FF sekarang. heu =A= /plak
    hmm hmm, jadi ini Summer in Seoul versi KyuRi ya eon? aku belom pernah baca sih. jadi bacanya lewat FF ini aja deh. kekeke~ XD
    aaa hari itu mbak Yuri lagi ketiban sial seharian yak. hadeuh, ngebayangin gimana repotnya =.=
    terus ceritanya di sini Yuri itu blasteran Prancis ya eon? wew o.O
    hmm hmm dan mencium kayaknya di sini perannya Kyuhyun bakal rada belagu gimanaaa gitu. iya gak sih? *jelas aja, orang artis ._.v* ehehehe .-.
    pasti entar Yuri deh yg jadi pacar boongannya Kyuhyun. asik asik, syalalala~ u.u
    ini mah harus TBC ya eon. pokoknya harus dilanjut. hoho ^-^9

    nice FF btw Icha onnie ^-^b

  2. waahhh~ icha onn! aku suka banget novel”nya ilana tan! tdnya aku juga pengen nulis FF dr novelnya, eh udh keduluan onni yg summer in seoul,, hehe~
    brarti aku hrus brubah haluan ke novel yg seasonnya lain nih :D

  3. Wah oenn bagus ffnya. Cerita pada tiap partnya panjangin lagi ya? Oennie semangat nulisnya, kita semangat bacanya. He3x. Janji deh bkl ksh coment. Oh ya, lanjut ya? Jangan lama2 ksh kelanjutannya. Gomawo.

  4. waw .
    uda lama gabaca ff kyuri…
    cocok cocok ..
    aku suka banget novel ilana tan ..
    semuanya , four seasonnya ..

    itu yuri sumpah apes hari ituu ..
    uda capekcapek …
    yah , sabar yah …

    suka :)
    mian baru sempet comment skarang ya :)

  5. Akhirnya icha onnie update lagi ….
    Wah keren nih !!
    aku belum pernah baca novelnya tapi kata temen ku bagus beruntung ada ffnya kyuri lagi …..
    semangat baca dech !!!!
    TBC ya onnie !!!
    ditunggu part selanjutnya….

  6. Pingback: Cara berpikir orang-orang sukses « TROUGH of MY HEART

  7. Pingback: Kwon Yuri on Cosmopolitan September 2011 « Eriş DENİZ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s