Kidneypea [Part 1]

Title: Kidneypea

Author: Choi Seunwoo a.k.a Sunu

Genre: Drama, Romance

Rating: PG-15

Main Casts:

-          Sung Yohee (OC)

-          Jo Kwangmin (Boyfriend) *namanya gua ubah, haha maaf banget itu random ._.v*

Support Casts: Someone in T-Ara, F(x), APink, Beast, Super Junior

Poster by unniKNA @ ahnneulyoung.wordpress.com

Hello hello~ saya membawa satu ff request teman saya yg berulang tahun dan pembaca semua pasti tahu siapa yang berulang tahun disini soalnya dia author ffi juga. FF ini terinspirasi dari game Harvest Moon, game yang udah jadi legend-nya PS1 itu loh pasti pada tahu semua, dan ff ini dibikin berdua sama temen saya yang lain makanya jadinya panjang banget-,-v udah deh langsung aja, ini dia.

Sung Yohee, atau begitulah namanya sekarang, berdiri didepan tempat itu. Sebuah papan menunjukkan namanya, Aeratown. Sebuah kota kecil yang terlihat damai dan sejuk, terletak di kaki pegunungan yang hijau dan asri. Dari dulu ia selalu ingin suasana yang seperti ini, tenang, damai, tanpa gangguan, benar – benar seperti surga. Ini adalah tempat terakhir yang dipikirkan olehnya dalam perjalanan panjangnya. Dulu ia pernah berlibur disini bersama keluarganya, orang yang menyebabkan dia harus kembali lagi kesini.

Bukannya tidak ingin kembali kesini—walaupun ia sebenarnya tidak pernah berpikiran begitu—namun satu alasan yang memaksanya untuk pergi, dan tempat inilah yang dipilih olehnya. Alasan, yang membuat dia stress, takut, dan tertekan. Tempat inilah yang menurutnya paling jauh dari kota, tempat yang bising, ruwet, semrawut, dan disanalah semua kenangan dan alasan buruk itu berasal.

Disinilah ia sekarang, Balai Kota Aeratown. Pertama – tama ia harus mengesahkan perubahan identitasnya tersebut.

“Nama?” tanya pria kurus berkumis itu datar.

“Sung Yohee,” jawab wanita itu dengan mantap.

“Tanggal lahir?”

“11 Januari.”

“Usia?”

“Dua pulu dua.”

“Penduduk baru atau perpanjang?”

“Penduduk baru.”

“Baiklah, pintu kedua disebelah kanan,” ujarnya sambil memberikan secarik kertas.

“Terimakasih,” kemudian Yohee melangkah ketempat yang ditunjukkan tadi dengan membawa beberapa persyaratan yang senantiasa ia bawa kapanpun ia ingin mengganti identitasnya.

Selesai, ia mendapatkan sebuah kartu identitas baru dengan nama Sung Yohee. Detik pertama menjadi orang yang baru, ia menghirup udara segar ini.

“Saya sudah dapat kartunya pak, sekarang apa lagi?” tanya Yohee kepada seorang pria tinggi besar yang berdiri disebelahnya. Choi Siwon, walikota Aeratown.

“Ya, setelah ini bapak akan mengantarmu ke penginapan tempat kamu akan bermalam untuk beberapa hari. Ayo,” Yohee mengikuti kemanapun ia pergi.

Satu lagi yang ia suka dari kota kecil ini, penduduknya amat ramah. Tidak jarang Yohee disapa oleh beberapa penduduk yang ia tidak kenal. Mereka cukup baik kepada orang baru seperti Yohee. Satu lagi, disini hampir sama sekali tidak ada kendaraan bermotor. Mereka lebih senang berjalan kaki atau bersepeda untuk pergi kemana – mana. Motor hanya dipakai bagi kurir yang membawa barang – barang hasil pertanian atau barang lainnya saja dengan cara mengaitkannya dengan gerobak, dengan begitu udara disini dijamin kesegarannya.

“Inilah penginapannya,” ujar pak Siwon dengan bangga menunjukkan sebuah bangunan besar yang nampak kokoh dan cukup besar itu. “bapak ingin pergi dulu, ada urusan lain.”

“Ah, ya, pak! Terimakasih atas bantuannya!” Yohee membungku sebelum pria itu berjalan pergi. Kemudian Yohee masuk kedalam penginapan itu, lonceng pintunya berbunyi.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pria dengan ramah dari balik meja kasir. Tempat ini lebih mirip sebagai kafe daripada penginapan, meja – meja dan kursi berjajar disana – sini ruangan tertata rapih.

“Hmm, aku ingin menginap disini,” jawab Yohee sambil tersenyum.

“Ah, kau pasti penduduk baru itu ya?” belum ada satu hari ia berada disana bapak ini sudah tahu “namaku Kim Ryeowook aku pemilik penginapan dan kafe ini. Siapa namamu?”

“Namaku Sung Yohee, senang berkenalan denganmu pak Ryeowook,” jawab Yohee. Tak berapa lama muncul seorang gadis seusia Yohee dari lantai dua.

“Wah, ada tamu!” gadis itu berjalan semangat kearah Yohee.

“Yohee, perkenalkan ini Kim Namjoo, keponakanku.”

“Aku Namjoo, salam kenal!” ujar gadis itu mengajak bersalaman.

“Aku Yohee,” ucap Yohee menyambut jabatan tangan itu.

“Nah, Namjoo, antarkan Yohee ke kamarnya ya!” suruhnya kepada gadis itu.

“Baiklah, paman! Ayo Yohee, kamarmu ada dilantai dua. Kita bisa mulai mengobrol – ngobrol nanti! Ikuti aku,” dan Yohee-pun mengikutinya sambil menggeret serta koper kesayangannya.

***

            Tempat itu begitu tidak terawat dan penuh semak belukar. Terang saja, tanah bekas rumah dan perkebunan itu sudah ditinggal delapan tahun yang lalu oleh empunya, seorang kakek tua yang sudah meninggal. Sejak saat itu tidak ada orang yang menempatinya, dibiarkan begitu saja, atau sesekali semak belukarnya dipotongagar tidak menutupi jalan. Di tanah itu terdapat sebuah lahan kosong yang luas untuk menanam berbagai macam jenis tumbuhan, sebuah rumah, dan sebuah kolam ikan.

Empat orang pria itu berdiri didepannya, membawa serta alat – alat seperti cangkul, sabit, palu, dan sebagainya. Ini akan menjadi pekerjaan yang berat, membersihkan tempat ini.

“Kita mulai dari mana dulu?” ujar salah satu dari mereka. No Minwoo, seorang laki – laki muda yang merupakan cucu dari seorang tukang kayu di Aeratown.

“Bagaimana kalau halamannya dulu?” usul yang lainnya. Son Dongwoon, seorang kurir. Dialah yang bertugas mengantarkan barang – barang bila diminta oleh penduduk.

“Tidak, lebih baik kita bagi tugas saja,” ujar satu orang lagi. Choi Minho, dia adalah anak dari walikota.

Satu orang lagi, ia terlihat sangat tidak tertarik. Dia hanya diam saja, merengut sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Kwangmin, mengapa daritadi cemberut saja? Seperti ayam,” ledek Dongwoon.

“Iya, ayo bantu kami membersihkan tanah ini, tidak lama lagi aka nada lagi yg menempatinya,” ujar Minho.

“Siapa yang mau menempati tanah ini?” ketusnya.

“Kabarnya sih wanita, benarkan?” ujar Dongwoon menyolek Minwoo.

“Iya benar, tadi aku melihatnya sedang diajak berkeliling oleh Walikota,” ujar Minwoo.

“Lalu apa urusanku?” ujar Kwangmin makin ketus.

“Sudahlah kau jangan marah – marah terus! Lebih baik bantu – bantu saja. Dongwoon dan Minwoo bersihkan rumahnya, aku dan Kwangmin akan mengatasi halamannya,” perintah Minho seperti seorang bos, tak dipungkiri auranya dan sifatnya memang mewarisi ayahnya, dan tidak ada yang berniat untuk membantahnya. Sedetik kemudian semuanya tenggelam dalam tugasnya masing – masing.

Dalam hati ia kesal, ia merasa tidak suka dan tidak mau mengerjakan ini bila ada orang yang akan menempatinya. Ia tidak suka tempat ini dimiliki orang lain, merubah apa yang ada disini, ia tidak suka kenangan dari setiap benda yang ada disini dirubah orang lain. Ia tidak sudi melihat orang yang menempatinya apabila ia merubah satu apapun dari tempat itu—dan nampaknya memang itu yang akan terjadi.

“Siapapun yang berani mengacak tempat ini,” ujarnya dalam hati “aku bersumpah akan membencinya.”

***

            Yohee bangun dari kasurnya, hari kedua ia berada di Aeratown. Semalaman ia mengobrol dengan Namjoo dan sekarang ia sudah bersahabat dengannya.

Tok… tok… suara pintu diketuk.

“Yohee, ayo kita sarapan!” teriak seorang gadis, Namjoo.

“Iya, tunggu sebentar!” dengan cepat Yohee mengganti baju tidurnya dengan sesuatu yang lebih enak dipandang serta merapihkan rambutnya kemudian ia turun bersama, pak Ryeowook sudah menunggu mereka.

“Sudah bangun kalian semua rupanya, ayo sarapan setelah itu kalian bisa beraktivitas lagi,” ujarnya. Di salah satu meja restoran itu sudah tersaji beberapa menu seperti roti, telur goreng, selai, susu, dan air putih, sederhana namun terlihat sangat menggiurkan. Sudah lama Yohee tidak merasakan makanan enak seperti ini mengingat hidupnya yang lama begitu suram. Merekapun makan dengan lahap dan suasana sarapan pagi itu begitu akrab. Yohee menceritakan kepada mereka kalau dia merantau dari kota—bagian yang itu tidak ia ceritakan—dan mereka mendengarkan dengan tertarik mengingat kehidupan di desa ini—mereka sebenarnya mmasih lebih modern dari desa tapi bukan desa, tapi kita sebut begitu saja untuk membedakannya—berbeda jauh dari kota tempat tinggal Yohee.

“Hmm, pak Ryeowook. Kalau boleh saya ingin bekerja disini untuk menambah penghidupan,” pinta Yohee.

“Ya tentu saja boleh! Jujur sekali aku dan Namjoo agak kewalahan menangani pengunjung kafe bila sudah malam. Ramainya bukan main!” ujar pak Ryeowook semangat “tapi aku tidak bisa menggajimu terlalu besar ya, nak,” lanjutnya.

“Terimakasih, pak! Iya tidak apa, asal cukup untuk modal hidup awal,” ujar Yohee.

“Baiklah sekarang lebih baik kalian mandi dan bersiap, kafe buka pukul duabelas siang nanti dan kalian pasti tidak ingin tampil buruk didepan pelanggankan?” ucap pak Ryeowook dan sesegera mungkin mereka menurutinya.

Bekerja di kafe seperti ini tidak terlalu sulit, hanya perlu mencatat pesanan, menyampaikannya, dan jika sudah jadi hanya tinggal membawanya kepada pelanggan. Itulah yang dilakukan Yohee, agak risih juga sebenarnya disapa terlalu banyak orang namun untuk pertama tidak apalah.

Yohee sudah mengenal beberapa orang disini. Semua orang – orang tua-nya—bukan tua dalam arti sepuh, namun, ya, yang bukan anak muda—lebih banyak datang pada siang hari dan pada malam hari kafe menjadi sangat ramai. Nyaris seluruh penduduk datang kesana termasuk muda – mudinya, dan ia juga melihat pak Siwon yang malam itu memesan segelas kopi hangat. Dalam satu malam, Yohee sudah banyak memiliki kenalan. Sulli, dia anak bungsu bapak walikota—nama kakaknya adalah Minho. Ada Jiyeon, dia sepupu dari ibu Soyeon yang pemilik supermarket. Juga ada beberapa orang pria—Minho, Dongwoon, dan Minwoo—yang sempat menertawakannya saat Yohee tersandung ketika membawakan pesanan mereka, jengkel? Sudah pasti. Namun ia masih bisa bersabar, dia akui itu memang sedikit lucu.

Seorang pria seumuran Yohee masuk dengan langkah yang angkuh. Sepertinya ia tidak terlalu bersahabat, lebih baik tidak terlalu dekat dengannya, pikir Yohee. Tapi profesi menuntutnya untuk mendekat.

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” ujar Yohee sesopan mungkin.

“Hmm, siapa kau? Aku baru tahu ada pelayan baru disini,” ujar pria itu tidak menyenangkan. Namun Yohee tetap berusaha tersenyum mengingat pengalamannya sebagai SPG dulu yang menuntutnya untuk selalu ramah.

“Namaku Yohee, aku penduduk baru. Salam kenal,” ujar Yohee.

“Oh kau penduduk baru itu, yang akan menempati tanah itu?” ucap pria itu semakin angkuh. Namun ia tetap bersabar.

“Maaf? Apa yang ingin anda pesan?” ujar Yohee mengganti topik.

“Teh madu seperti yang biasa dan cepat, aku tidak suka menunggu,” dan dengan cepat pula Yoohee meninggalkan pria itu menuju meja yang disana ada Namjoo yang sudah menunggu. Dasar pria menyebalkan, ujarnya dalam hati.

“Namjoo, orang itu memesan Teh-madu-seperti-yang-biasa-dan-cepat-aku-tidak-suka-menunggu,” ujar Yohee menirukan nada menyebalkannya. Namjoo tertawa kecil.

“Iya,” kemudian ia meneriakan pesanan itu kepada ayahnya didapur kemudian kembali lagi. “Namanya Jo Kwangmin, dia pemilik peternakan ayam diujung jalan depan kafe ini.”

“Peduli amat siapa namanya,” ketus Yohee dengan suara kecil “aku bahkan mulai tidak menyukainya.”

“Hahaha jangan begitu. Memang sikapnya begitu. Tapi dia cukup menarik,” ujar Namjoo sambil tertawa kecil lagi.

“Menarik dari mana, hah? Pria menyebalkan begitu benar – benar minta ditimpuk sandal jepit!” sebal Yohee dengan suara yang dikecilkan agar Kwangmin tidak mendengarnya. Teh madu pesanannya sudah jadi dan sekarang Yohee terpaksa haru mengantarkan kembali pesanan itu. Payah, walaupun begitu ia tetap bertindak ramah.

“Ini pesananmu,” ujarnya, ia sedikit menyembunyikan wajahnya. Tanpa berucap apa – apa Kwangmin menyeruput minuman itu. Sebelum sempat kembali…

“PUAH!!” yak, minuam itu tersembur tepat dibaju Yohee. “Minuman apa ini? Tidak ada rasanya! Kalau melayani orang yang benar dong! Dasar pelayan yang payah!” cercanya.

“Maaf,” namun hanya itu yang bisa keluar dari mulut Yohee. Ia tidak mau rebut ditengah keramaian ini, belum apa – apa saja dia sudah diperhatikan banyak mata.

“Ganti ini, cepat!” tanpa babibu lagi ia meraih gelas itu dan kembali ke meja pesanan.

“Apa – apaan dia itu! menyembur seenaknya. Bajuku jadi basah begini kan,” dumel Yohee, ia mencicipi minuman tersebut “ini bahkan terasa enak dimulutku! Memang dasar ya… aarrgghh!!” tangannya mengepal – ngepal.

“Sudahlah, sabar Yohee. Lebih baik dia aku saja yang atasi, kau ganti pakaian dulu saja sana,” usul Namjoo dan dengan cepat Yohee berlari ke lantai dua.

***

Pagi yang indah ditempat yang baru, Yohee terbangun dari kasurnya sendiri. Sekarang Yohee sudah memiliki tanah dan rumah sendiri, dengan sedikit uang tabungannya yang masih tersisa. Sebuah rumah dan bagusnya lagi ia memiliki halaman yang sangat luas untuk membangun perkebunan. Tapi, ia merasa familiar dengan tempat ini, namun ia meninggalkan pikiran itu. Di halamannya yang luas Yohee menanam bunga – bunga, masih ada alat – alat pertanian digudang rumah ini dan ada bibit bunga yang tidak terpakai. Ia merasa sangat senang, halamannya penuh dengan warna – warni bunga dan penuh kupu – kupu. Ia memiliki sebuah ide, dengan bantuan seorang tukang kayu ia membangun sebuah toko kecil di sisa halamannya itu.

YOHEE’S SHOP, Menerima dan Menjual Hasil Perkebunan. Itu bisnis baru Yohee, dengan modal dari hasil bekerjanya di kafe ia bekerja sama dengan Dongwoon—si kurir—dan penduduk desa untuk menjual barang – barang perkebunannya ke kota. Selain itu ia juga menjual berbagai macam jenis bunga. Sampai saat ini sudah banyak orang kota yang memesan penduduk yang membeli dari sana. Namun ia tetap bekerja di kafe, siangnya di toko malamnya ia kembali menjadi pelayan.

“Yohee, yang ini seikat harganya berapa?” tanya Dongwoon yang sedang datang melihat – lihat, menunjuk seikat bunga mawar putih.

“Oh, yang itu seikat lima ribu,” jawabnya.

“Oke, aku ambil satu. Ah iya, diikatnya pakai pita merah ya!” pesannya.

“Beres,” ujar Yohee sambil mengikat bunga – bunga itu “ngomong – ngomong kenapa kau tumben sekali membeli bunga? Ada yang pesan ya di kota?” tanya Yohee.

“Tidak,” jawabnya sambil melihat – lihat lagi “jangan bilang siapa – siapa ya,” lanjutnya.

“Jangan bilang apa? Kalau kau membeli bunga?”

“Bukan, kau tahu mengapa aku ingin membeli bunga ini?” kemudian ia mendekatkan diri, berbisik “aku ingin menyatakan cinta kepada Namjoo.”

“Ah, yang benar?!” Yohee terkejut “kau bohong?” ujarnya sambil memberikan seikat bunga pesanan Dongwoon.

“Tidak aku tidak bohong,” jawab Dongwoon memberikan selembar uang “simpan saja kembaliannya. Doakan aku ya!” ujarnya.

“Iya! Semangat ya!” ucap Yohee menyemangati. Kemudian Dongwoon keluar dari toko itu, dan Yohee mengambil selembar uang itu dari atas meja “uang pas.”

Saat toko sudah mendekati jam tutup Yohee berpikir untuk mengecek kebun bunganya takut – takut ada yang memetiknya. Ia berjalan menuju kebun, aman, semua masih ada ditempatnya. Ia berjalan sebentar menikmati hasil tanamnya ini, wangi bunga semerbak.

“Ehm,” seorang pria datang, pria menyebalkan itu. Wajahnya tidak ramah.

“Ada apa?” ujar Yohee.

“Ini apa, hah?” tanya Kwangmin menunjuk kebun bunga.

“Tentu saja bunga dasar bodoh,” ketus Yohee. Tiba – tiba Kwangmin menendang sepetak bunga itu hingga hancur berantakan. “KYAAA!! BUNGAKU!!! Apa yang kau lakukan, hah?! Bunga – bungaku rusak tahu!” pria itu nyaris saja mencekik Yohee jika saja ia tidak buru – buru menahan tangannya.

“Kau, merubah tanah ini. Tak bisa ku maafkan,” dan ia menendang lebih banyak lagi petak bunga kemudian ia pergi.

***

            Mala mini penuh cukup indah, bintang – bintang bersinar di langit seperti berlian, suasana yang tepat untuk menyatakan cinta. Yohee sedang tertidur ketika mendengar suara berisik itu dari arah tokonya. Ia berjalan mengendap – endap agar penghasil suara itu tidak kabur, ia curiga mereka adalah pencuri. Ia mengintip dari jendela, dua orang menggunakan topeng hitam sedang asyik mengambil selusin telur, dengan bekal sebuah kayu yang ia pungut di halaman ia maju.

“HA!! PENCURI!!” seketika suasana menjadi gaduh. Telur – telur itu pecah dan nyaris tanpa membawa apa – apa selain badan dan kaus mereka dua pencuri itu lari keluar toko, Yohee mengejarnya sambil terus mengayun – ayunkan kayu itu.

“Kembali kau!!!” semakin lama semakin kencang, mereka menuju arah padang rumput.

Dan Yohee melihat pohon itu, dia berhenti, tertegun. Ia membiarkan pencuri itu kabur, toh mereka tidak membawa apa – apa dari tokonya.

“Ini….,” ujarnya. Sebuah pohon, besar, tinggi, dan kokoh. Daunnya rimbun dan bergoyang ditiup angin, sudah nyaris limabelas tahun. “Kidneypea,” lalu ia mengingat semuanya, tentang desa ini, tentang rumah itu, dan tentangnya.

***

            “Kau kenapa anak manis?” ujar kakek itu. Hayeon hanya bisa menangis, ia tidak tahu dimana ia sekarang. Beberapa menit lalu ia bersama orang tuanya dan sekarang ia sudah berada ditempat yang begitu jauh. “Baiklah, kau bersama kakek saja disini sampai orangtuamu menjemput ya.

            “Junwoo, ini kakek bawa teman untukmu. Ayo, nak, perkenalkan ini cucu kakek,” Hayeon bersalaman dengannya, seorang anak laki – laki seumuran dengannya. “Sekarang kau berdua bermain sana, kakek ingin bekerja dulu.”

Hayeon dan Junwoo semakin hari semakin akrab. Bermain dengan anjing peliharaan, mengejar ayam, memancing ikan, bermain kejar – kejaran. Sejak dulu Junwoo tidak memiliki teman, jadi ia merasa sangat senang memiliki seorang sahabat seperti Hayeon. Seperti mendapat, ehm, cinta pertama.

 

Mereka berdua berjalan riang gembira, seperti biasa, menuju kearah padang rumput. Ia menemukan sebuah bibit pohon jati tercecer diperjalanan.

“Ayo kita tanam,” mereka menggali sebuah lubang, memasukkan bibit itu kedalamnya, menutupnya, dan menyiramnya dengan air sungai didekatnya.

“Mari kita beri nama,” ujar Hayeon.

“Bagaimana kalau Ranger?” usul Junwoo.

“Jangan! Kidneypea saja,” usul Hayeon.

“Oke, Kidneypea. Nama yang bagus,” ujar Junwoo “aku tidak sabar melihat pohon ini tumbuh besar nanti.”

“Iya, aku juga. Nanti kalau pohon ini sudah besar kita bertemu lagi disini ya!” Hayeon sumringah, Junwoo mengangguk. Hayeon mengukir sesuatu di sebuah batu dekat situ, tanggal hari ini. Mereka pergi meninggalkannya dan membiarkan pohon itu tumbuh bersama hujan yang turun saat itu juga. Mereka berlari kembali, bergandengan tangan.

 

“Haeyeon!!” ujar seorang wanita, ia memeluk Haeyeon dan terlihat terharu. “Akhirnya kau ketemu juga nak.”

Hari ini Hayeon dibawa pulang oleh orang tuanya. Dengan bantuan polisi akhirnya mereka bisa menemukan Hayeon. Berkali – kali kakek itu memperjelas ceritanya tentang Hayeon dan itu membuatnya sangat bosan.

Ada satu masalah, Haeyeon sudah pergi, namun ia tidak sempat memberi salam perpisahan kepada Junwoo. Junwoo merasa sedih, ia kembali harus menjalani hari – hari sendirian. Namun ia tidak akan pernah lupa janjinya. ‘Nanti kalau pohon ini tumbuh besar kita bertemu lagi disini ya!’ dan selamanya ia akan mengingatnya.

***

 Sekali lagi ia mengingat – ingat kenangan itu, betapa indah. Ia sampai lupa dengan hal itu. Ia kembali melihat ukiran itu, ’11 Januari, Hayeon-Junwoo’, melihatnya ia nyaris menangis. Mendadak ia rindu dengan Junwoo, cinta pertamanya, dimana dia sekarang? Sedang apa? Tempat itu, ya, rumahnya, tidak lain adalah bekas perkebunan kakek itu, pasti. Namun dimana Junwoo? Sudah beberapa bulan ini ia berada disana namun ia tidak melihat atau mengenal sama sekali siapapun yang bernama Junwoo. Atau mungkin dia pergi ke kota? Merantau? Malam itu ia habiskan untuk menggali kembali kenangan yang terkubur dalam itu.

Ia tidak tahu bahwa disana ada orang lain, bersembunyi memperhatikannya.

“Apa mungkin dia?” ujarnya dalam hati “tapi tidak mungkin.”

***

Di suatu tempat di kota

BRAK!!

“Bagaimana bisa kau kehilangan dia?!” ujar pria itu menggebrak meja.

“Maaf, tuan Kyuhyun. Dia tidak terdeteksi lagi oleh kami,” jawab pria itu gemetar. Orang itu, Kyuhyun, adalah bosnya. Jadi ia tidak berani sama sekali terhadapnya.

“Cepat cari lagi, Donghae. Aku tidak mau tahu kali ini harus berhasil kita mendapatkannya,” sedetik kemudian Donghae sudah keluar dari ruangan Kyuhyun. Ia bingung, kemana lagi ia harus dicari? Sudah berkali – kali tertangkap namun ia bisa lolos, licin seperti belut.

“Tuan! Tuan! Tuan Kyuhyun!” ujarnya berlari masuk kearah Yesung “aku punya kabar untukmu,” lanjutnya sumringah.

“Kuharap kali ini kau membawa sesuatu yang baik, Sungmin,” ucapnya “kabar apa yang kau bawa?”

“Dia tuan, aku membawa kabar tentangnya. Kode Sebelas.”

“Kau bercanda?” nadanya lebih kearah tidak percaya.

“Aku serius Tuan, aku membawakan sesuatu untukmu,” ujar Sungmin sambil memberikan sebuah amplop. Sebuah lampiran izin usaha.

“Hahahahaha!! Akhirnya aku mengetahui keberadaanmu lagi,” tawa Kyuhyun dan Sungmin merasa senang telah memberikan hal yang baik untuk bosnya. “Lebih baik kau segera berkemas, kita akan melakukan sebuah perjalanan.”

*TBC*

Untuk part 2 insyaAllah dilanjutkan Besok, tanggal 11 Januari 2012. Bisa ada keterlambatan dikarenakan beberapa hal yang tidak bisa dipikirkan (?).

Selamat membaca ^.^b

Buat Kidneypea. HAPPY BIRTHDAY!!! 11 JANUARY!!! WISH YOU ALL THE BEST!!! :D

Salam dari seluruh pembaca dan teman – temanmu ^.^b

10 thoughts on “Kidneypea [Part 1]

  1. kyahahaha muugyaaa xD masa masa masa.. kwangmin jadi rick gitu? o.O
    dongwoon jadi zack! ngakaaak~
    itu maksudnya ada kyuhyun tuh apa? maksudnya apaa? T_T
    anjrit! minwoo ngetawain gua..
    kurang ajar bet kwangmin nyemburin minuman ke baju gue -_– hahahah
    ditunggu besok!! mugyahaha

  2. iihh… aku sukaa… >.<
    aku dulu juga penggila harvest moon!!
    hahahaha :)
    aku ngebayangin kalo si Namjoo tuh Ann..
    Kwangmin jadi Rick?
    Ahh.. gatau dah…
    Tapi yang pasti aku suka FFnya!!

  3. baca ini langsung kebayang harvest moon..
    mbayangin settingnya harvestmoon tapi orangnya KPOP, lucu banget hahaha
    lho hayeon itu siapa? namanya Yohee? *bingung
    langsung lompat ke part selanjutnya dah…

  4. BAGUS BANGET! liat d atas terinspirasi dr harvest moon. aku baca ff mu jd ngebayangin game harvest moon ! XD kok karakter dokter ny gak ad? blm muncul kali ya ^^ *sotoy* *di gampar*
    yg ngeliatin Yohee itu Kwangmin bukan?
    DAEBAKK~! aku suka, nostalgia deh sm Harvest moon :DDDDDDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s