The Conspiracy – Chapter 1: Minho?

Author: mmmpeb

Rating: PG16

Genre: complicated

Length: chaptered

Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Shim Changmin
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
Other cast:
  • Jung Yonghwa
  • Kim Kibum / Key
  • Lee Taemin
  • Kang Minhyuk

Disclaimer: Murder At 1600 with many editings

Summary:

Seorang detektif muda dari kepolisian pusat Korea Selatan dengan kemampuannya tidak bisa dipandang sebelah mata, Lee Jinki (25 tahun), mencium kejanggalan atas kematian salah seorang sekretaris presiden bernama Han Hyunah (24 tahun) yang terjadi satu minggu yang lalu. Kecurigaannya bermula pada saat ia menemukan sebuah foto yang menampakkan anak semata wayang presiden sekaligus sahabatnya sendiri, Choi Minho (23 tahun), bersama dengan sang korban di hari yang sama, detik-detik menjelang kematian Hyunah. Kecurigaannya bertambah saat ia mendapati Minho sedang berinteraksi diam-diam dengan seorang pembunuh bayaran

Prev: teaser

**********************************************************

 

Kamar mandi umum khusus wanita nan besar itu sunyi sebelum seorang cleaning service masuk dan mulai membersihkan seisinya. Sesekali ia bersenandung, menyanyikan lirik lagu yang di dengarnya melalui iPod. Satu persatu iya bersihkan setiap part. Hingga part ketiga, matanya menangkap sesuatu yang mengundang rasa ingin tahunya. Cairan merah yang berasal dari part terakhir yang belum dibersihkannya. Ia menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri. Dengan segenap keberanian ia membuka part tersebut dan berteriak layaknya orang yang kesetanan begitu mendapati seorang wanita tergeletak di lantai
dengan bola mata yang nyaris keluar.

 

 *****

Kafe 24 jam itu cukup sepi karena hanya didatangi pengunjung yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Termasuk Jinki dan Yonghwa.

Pria berambut hitam pekat sibuk dengan ponselnya. Sesekali mengikik geli membaca pesan singkat yang didapat dari istrinya. Pria yang satu lagi sibuk dengan laptop yang sudah hampir dua jam tidak lepas darinya.

“Kau seperti orang gila, Yong!” seru Jinki tanpa melepas pandangannya dari layar laptop.

“Hahaha! Istriku mau aku pulang membawa pizza dengan topping pisang!”

Kepala Jinki terangkat. Ditatapnya sang rekan kerjanya itu dengan sebelah alisnya yang terangkat.

“Apa semua wanita hamil selalu ngidam yang aneh-aneh?”

“Tidak juga. Kenapa berpikir begitu?”

“Ibuku pernah cerita saat sedang mengandungku, ia selalu ingin naik jet coaster.”

“Ekstrim!”

Mereka berdua tertawa. Dan tak lama kembali menekuri kesibukan mereka masing-masing.

Salah satu dari dua ponsel di atas meja berdering. Milik Jinki. Dipandanginya layar ponsel tersebut. Sedikit terkejut karena yang menelponnya adalah salah satu atasan tertinggi dari kepolisian.

“Kim Sanghyun? Untuk apa dia menelponku tengah malam begini?”

“Nuguya? Pak Kim? Jangan bilang aku ada di sini!”

Jinki memutar bola matanya. Tanpa menunggu lebih lama ia menerima sambungan tersebut.

“Yobosseyo?”

Yonghwa diam sejenak. Ia penasaran dengan apa yang Jinki bicarakan dengan sang atasan sampai-sampai Jinki bungkam bicara.

“Dasi dan jas? Aku membawanya. Tapi untuk apa?”

 

-

 

Di depan kediaman keluarga presiden sangat ramai dengan orang-orang. Media dan masyarakat, mereke melebur menjadi satu. Tidak sulit bagi Jinki untuk menembus kerumunan itu dengan mobil pribadinya karena para polisi sudah membuat barikade agar akses dapat dimudahkan.

Jinki turun dari mobilnya dan langsung disambut beberapa pria dengan setelan resmi.

“Tuan Lee Jinki?”

Jinki mengangguk.

“Sebelah sini!”

Tiga pria berbadan tegap itu mempersilahkan Jinki berjalan mendahului mereka memasuki gedung yang ditempati oleh keluarga presiden. Cukup aneh dengan situasi di sekitar. Tidak seperti rumah, lebih seperti kantor pemerintah. Ramai.

Tiga pria penjaga keamanan kediaman presiden itu mempersilahkan Jinki untuk memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Ia menghampiri salah seorang juru fotografi kepolisian pusat yang sibuk mengambil gambar seorang wanita yang ia duga si korban pembunuhan.

“Hai, Minhyuk!”

“Oh, hai, hyung! Kenapa di sini?”

Minhyuk bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Jinki yang berdiri tidak jauh darinya.

“Pak Kim memintaku ke sini!”

Spontan kerut Minhyuk mengerut. “Setahuku divisimu tidak ada sangkut pautnya dengan presiden.”

“Mwolla! Tadi aku dihubunginya.”

Minhyuk mengangkat kedua bahunya. Memilih untuk melanjutkan pekerjaannya ketimbang memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkannya lebih jauh.

Jinki berjongkok. Mengamati sang korban. Miris melihat kondisinya yang mengenaskan. Sungguh wanita cantik bernasib malang. Kulit putih mulusnya tertutup darah yang sudah mulai mengering. Orang bodoh mana yang berani-beraninya membunuh anak singa di kandang singa?

“Jam berapa kira-kira dia meregang nyawa, Tuan?” tanya Jinki pada ahli forensik di dekatnya yang tidak ia ketahui namanya.

“Perkiraanku tiga jam yang lalu. Sekitar jam 11 malam. Aku akan menyelidikinya lebih lanjut.”

Kini Jinki bergelut dengan pikirannya sendiri. Banyak pertanyaan bermunculan.

“Anda tidak seharusnya di sini, Tuan Lee!”

Jinki menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya. Ia berdiri dan membungkuk hormat pada pria tinggi itu.

“Aku diminta untuk menangani kasus ini.”

“Siapa yang memintamu?” tanyanya dengan angkuh.

“Aku!”

Keduanya menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Seorang pria berumur dengan pembawaan yang terkesan berwibawa, berjalan menghampiri mereka.

“Aku yang memintanya!”

“Tapi dia bukan bagian dari-“

“Aku yang berhak memutuskan, Shim Changmin!”

Pria yang bernama Changmin itu diam. Melangkah mundur satu langkah, pertanda ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika seseorang yang jabatannya lebih tinggi darinya berkomando.

“Lanjutkan pekerjaanmu, Lee!”

“Siap, Pak! Ah ya, kalau boleh aku tahu, untuk apa nona Han Hyunah berkeliaran di tengah malam?”

Sanghyun tertawa. “Ini kediaman sekaligus merangkap kantor pemerintahan kedua setelah gedung pemerintahan pusat. Bekerja untuk presiden tidak mengenal waktu.”

Jinki diam. Kepalanya mengangguk seolah paham dengan situasi apa dimaksud sang atasan tertinggi. Tidak ada jam malam di kediaman presiden. Kesibukan tetap saja melanda baik siang maupun malam.

Sanghyun pergi. Tatapan Jinki beralih pada Changmin. Tersirat jelas rasa ketidaksukaan Changmin pada Jinki. Tidak tahu alasan atas ketidaksukaan itu. Namun yang bisa Jinki lakukan hanya bersikap layaknya seseorang yang profesional, tidak peduli jika orang-orang di sekitarnya tidak menyukainya. Ia ke sana untuk menyelidiki kasus.

“Changmin-ssi! Boleh aku minta semua data tentang nona Hyunah?”

“Untuk apa?”

“Jelas saja untuk keperluan penyelidikan.”

Changmin hanya diam. Sebisa mungkin ia menahan kekesalannya. Dengan enggan ia mengangkat handy talky-nya dan berbicara dengan anak buahnya.

“Agen Park, antar Tuan Lee Jinki ke kediaman nona Hyunah!” perintahnya tanpa melepas pandangan tajamnya dari Jinki.

Tanpa membuang-buang waktu, Changmin beranjak keluar dari TKP. Tempatnya bukan di sana sehingga ia memilih keluar dari pada mengikuti perkembangan penyelidikan.

Changmin berusaha menahan kekesalannya begitu menyadari tahu-tahu Jinki sudah berjalan beriringan di sampingnya. Sikapnya waspada. Ia bersikap seolah tidak menyadari kehadiran Jinki.

“Changmin-ssi?”

Langkah Changmin terhenti. Memutar tubuhnya serah sembilan puluh derajat hingga matanya kini bertemu dengan mata sipit Jinki.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan Jinki?” tanyanya seramah mungkin. Jinki sadar jika Changmin merasa terganggu akan dirinya. Namun tuntutan profesi membuatnya harus mengabaikan rasa itu. Fokusnya kali ini adalah kasusnya. Apapun ia lakukan untuk bisa memecahkan itu.

Tapi Jinki cukup risih dengan sikap Changmin yang tidak bersahabat.

“Aku ingin bertanya.! Pertama, bisa kau katakan apa kesalahanku padamu?”

“Apa itu termasuk bagian dari penyelidikan?”

Changmin mendengus kesal dan kemudian berjalan meninggalkan Jinki. Dengan langkah cepat Jinki kembali menyusulnya.

“Tidak ada, sih!” seru Jinki. Suaranya sedikit bergetar karena harus bicara sembari melangkah dengan cepat agar bisa menyamain langkah cepat Changmin. “Aku hanya heran. Sikapmu aneh padaku!”

Langkah Changmin kembali terhenti.

“Dengar! Aku kepala pengawas di sini dan ini rumahku!” kata Changmin memberikan penekanan pada dua kata terakhir. “Kau pikir aku senang dengan keramaian seperti ini? Sekalipun kau detektif, aku harus waspada. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu kini, Jinki-ssi! Dan sekarang urus urusanmu sendiri! Orang yang akan mengantarmu sudah menunggu!”

Changmin mengendikkan dagunya ke arah belakang Jinki. Jinkipun menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita dengan balutan pakaian formal ala agen wanita kepresidenan. Jinki cukup tertegun memandanginya dari kejauhan. Kemeja putih, blazer biru tua yang senada dengan rok selututnya. Ditambah rambut hitam pendek yang menurut Jinki justru terlihat cantik.

Jinki kembali teringat pada Changmin. Kembali membetulkan posisinya dan matanya tidak lagi menangkap sosok Changmin.

Misterius.

“Tuan Lee Jinki?” tanya wanita yang Jinki pandangi tadi yang tahu-tahu sudah ada di belakang Jinki.

“Ah.. ye! Lee Jinki imnida!” Jinki menjulurkan tangannya pada wanita itu. Entah kenapa ia jadi merasa gugup.

“Bisa kita pergi sekarang? Waktu kita tidak banyak!” wanita itu beranjak dari hadapan Jinki, meninggalkan pria dengan tangan kanan yang masih terjulur bebas.

 

-

 

Mobil melaju di kesunyian jalan. Waktu menunjukkan pukul  tiga pagi dan jalanan lengang di pagi buta. Suasana yang tidak biasa walaupun Jinki sudah biasa melewati lengangnya jalanan di jam-jam tersebut. Hanya saja kali ini terasa berbeda. Di mobilnya tidak hanya ada dirinya, melainkan seseorang yang entah kenapa baginya terkesan angkuh.

Wanita itu hanya diam. Ia akan bicara jika Jinki mengajaknya bicara.

“Jiyeon-ssi?”

Wanita itu lagi-lagi diam saat Jinki menyebut namanya. Dan Jinki tahu kenapa itu bisa terjadi.

“Agen Park?”

“Ya?”

“Aku agak risih harus bersikap formal seperti ini.”

“Kalau begitu Anda harus bisa membiasakannya sampai kasus tuntas!”

Jinki mengumpat dalam hati karena sikap angkuh wanita ini. Matanya kembali fokus ke depan dan kembali memikirkan kasus yang jarang terjadi. Bukan jarang melainkan tidak pernah. Ini pertama kalinya terjadi pembunuhan di kediaman presiden yang notabenenya keamanannya super duper ketat.

Jinki menepikan mobilnya begitu Jiyeon menyuruhnya untuk berhenti. Tanpa diberitahu Jiyeonpun, Jinki sudah tahu kalau rumah itu adalah kediaman Hyunah. Mobil-mobil polisi dan beberapa orang yang berkumpul di depan pembatas garis polisi karena penasaran sangat mencolok.

Mereka berdua turun. Jiyeon memimpin perjalanan, membuat Jinki mau tidak mau mengerutkan keningnya. Belum pernah ia bertemu dengan seorang wanita seangkuh agen itu.

Langkah Jiyeon terhenti dan ia menyilakan Jinki masuk ke dalam rumah itu. Jinkipun masuk tanpa mempedulikan wanita itu. Matanya menerawang kesana-kemari melihat seisi rumah mungil milik sang korban.

“Berapa gajinya? Aku rasa sebaiknya para sekretaris presiden menuntut kenaikan gaji!”

“Gajinya besar, hanya saja si korban adalah orang yang sederhana.”

Jinki menoleh ke samping begitu mendengar suara seorang pria yang menyahuti gumamannya. Ia menangkap sosok Yonghwa sedang duduk, membaca setumpuk buku yang Jinki yakini adalah buku harian Hyunah.

“Lama sekali kau datang? Kau berputar-putar ke mana saja?” tanya Yonghwa saat Jinki sudah mendudukkan dirinya di sampingnya.

“Maksudmu?”

Kepala Yonghwa mengendik ke arah Jiyeon yang berdiri di ambang pintu. Jiyeon yang merasa diperhatikan segera memegang earphonenya dan bersikap seolah ia sedang berbicara dengan seseorang.

“Dia cantik, tapi bukan tipeku!” kata Jinki.

Tangannya mengambil salah satu buku dari tumpukkan-tumpukkan buku diari di depannya.

“Cepat cari pasangan! Ibumu selalu saja menyuruhku untuk mencarikan seorang gadis untukmu.”

“Kalau tidak mau ya jangan dilakukan!”

“Aku bukannya tidak mau! Sudah hampir dua puluh gadis aku bawa hanya untukmu. Semua kau tolak!”

“Tsk! Fokus saja pada kasus ini.”

Yonghwa menyerah. Berdebat pada Jinki sama aja membuang semua tenaganya. Jinki adalah orang yang tidak terbantahkan.

Look!”

Yonghwa menoleh pada Jinki ketika Jinki menyenggol lengannya. Menatap sebuah foto yang sengaja Jinki perlihatkan secara diam-diam.

“Kenapa? Hanya sebuah foto darmawisata antar teman sepertinya.”

“Bagimu iya, bagiku tidak!” bisik Jinki.

Yonghwa merebut foto itu dan melihatnya dengan seksama. Matanya menelusuri setiap sudut foto itu. Tidak ada yang aneh. Foto yang diambil kemarin –tanggal tertera di sudut foto-, di hari yang sama dengan kematian Hyunah. Foto itu menampilkan sosok Hyunah yang tidak sengaja terekam saat ia sedang berbicara dan menarik tangan si pengambil gambar.

“Lihat tangan si pengambil gambar itu!” Jinki menunjuk sebuah tangan yang terpotong. “Gelang rantai itu! Kau tidak mengenalnya?”

“Apa? Aku tidak mengerti!”

Baru Jinki sadari kalau Yonghwa memang tidak mengerti karena tidak mengenal betul sosok yang Jinki maksud, kecuali statusnya sebagai anak seorang presiden.

“Itu tangan Minho!”

“Mwo? Dia pacaran dengannya?”

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu pacarnya memang ada di sana-sini.”

Yonghwa berdecak.

“Uang sahabatmu pasti banyak untuk menutup mulut semua wanita itu.”

“Bayangkan saja kalau kau adalah anak presiden!”

Jinki kembali fokus pada foto itu. Keningnya mengerut karena memikirkan sesuatu yang baginya mustahil. Ia tertawa sebentar dan kemudian kembali serius.

“Mustahil!” gumamnya. Matanya masih serius menatap foto digenggamannya. Bagaimana bisa ia berpikir Minholah sang pelaku. Seperti yang ia gumamkan barusan, mustahil.

Jinki menyadari Jiyeon sedang berjalan menghampirinya dan Yonghwa. Dengan sikap biasa namun cepat, tangannya dengan sigap memasukkan foto tadi beserta filmnya ke dalam kantung dalam jas coklatnya.

“Sudah selesai, tuan-tuan?” tanya Jiyeon.

“Sudah!” jawab Jinki. Ia berdiri dan menarik Yonghwa untuk segera berdiri. “Jiy- Maksudku, Agen Park! Kenalkan rekan sekaligus sahabatku, Jung Yonghwa!”

Yonghwa tersenyum tipis pada Jiyeon dan menjulurkan sebelah tangannya pada wanita itu. Bukannya mendapat sambutan, justru Jiyeon membelakangi mereka berdua. “Kita harus kembali ke kediaman presiden, Tuan Lee!” Dan kemudan Jiyeon berjalan dengan anggun meninggalkan Yonghwa dan Jinki yang tercengang.

“Wanita itu hebat, Jinki! Mobilku untukmu kalau kau bisa mendapatkannya!”

Jinki menepuk bahu Yonghwa dan berjalan ke arah pintu.

Deal!” katanya lantang seraya mengangkat tangannya dan melambai-lambai.

 

-

 

Ruangan itu cukup ramai karena banyaknya televisi kecil yang menayangkan setiap sudut ruangan-ruangan kediaman presiden, lorong kecilpun tak luput dari pengawasan. Jiyeon membawa Jinki ke ruang pengawas karena ada yang ingin Changmin tunjukkan padanya.

“Pukul 22.12, Han Baekim melewati lorong yang searah dengan TKP,” kata Changmin sembari menunjuk salah satu televisi kecil di ujung yang menampilkan seseorang berperawakan agak tua sedang berjalan di lorong itu. “Kemudian pukul 22.14, dengan tangga lipat ia mendekat pada kamera pengintai dan seolah sedang membersihkannya. Dan kamera tiba-tiba mati.”

Kening Jinki mengerut begitu televisi menayangkan semut-semut berwarna abu-abu. Sedikit menerima alibi itu walau perasaannya mengatakan ada sesuatu yang aneh pada kasus itu.

Changmin berjalan mendekat pada Jinki dan kemudian memberikan sekantung putih transparan berisi dua kancing berwarna biru yang terkena bercak darah padanya.

“Itu dua kancing seragam cleaning service yang dikenakan Baekim. Darahnya cocok dengan darah Hyunah.”

“Oh, ya?” Jinki meraih kantung itu dan mengamatinya dengan seksama. Tapi sebelumnya, ada sesuatu yang ingin ditanyakan Jinki sejak tadi. “Changmin-ssi, kemana keluarga presiden? Aku tidak melihatnya sejak tadi.”

“Mereka sedang ke Jeju sejak pagi. Dijadwalkan mereka akan kembali siang ini.”

Jinki berusaha mencerna kata-kata Changmin barusan. Seingatnya, lusa kemarin Minho memberitahunya  jika ia akan ke Jeju sendiri dan sempat bilang mengenai keadaan orang tuanya yang sedang sibuk dengan urusan negara.

Untuk sekarang ini, Jinki lebih mengesampingkan masalah berlibur itu dan kembali fokus menatap dua kancing di dalam plastik. Warna kancing itu memang senada dengan seragam cleaning service yang berwarna biru muda. Tapi tetap saja Jinki merasa janggal.

“Kau bisa mengeceknya sendiri. Mayatnya akan dibawa setengah jam lagi,” kata Changmin lagi seolah ia bisa membaca pikiran Jinki.

Jinkipun memilih untuk memastikan sendiri. Ditinggalkannya ruang pengawas itu, menyisakan Jiyeon dan Changmin.

“Anda tidak mengatakan pada saya kalau presiden beserta istrinya juga ikut ke Jeju,” kata Jiyeon dengan suara yang amat pelan.

“Untuk apa aku memberitahumu, Agen Park! Urusanmu adalah kediaman, bukan kegiatan keluarga presiden,” kata Changmin pelan namun tegas.

Changmin pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Jiyeon masih sibuk dengan pikirannya. Ia mulai merasa ada yang aneh. Divisinya memang bukan sesuatu yang ada sangkut-pautnya dengan kegiatan keluarga presiden, tapi sebagai wakil kepala pengawas, Jiyeon selalu diberitahu mengenai hal itu oleh Changmin. Lain halnya dengan sekarang.

“Sangat aneh!” gumam Jiyeon.

*****

 

Jinki berjalan dengan santai di lorong tempat di mana ia bekerja. Sesekali tersenyum membalas sapaan orang-orang yang melewatinya.

bayangin di dalam jas onew ada atribut senjata kayak di atas

bayangin rambut onew yang begini

Ia berhenti di depan sebuah pintu. Mengetuknya beberapa kali dan masuk tanpa seizin pemilik ruangan.

“Hai, Key-ssi!”

“Oh, hyungnim! Annyeong!” sambut seseorang yang sejak pagi tadi telah berada di dalam ruangan tersebut.

Jinki berjalan menghampiri orang yang bernama Key tersebut. Terlihat sibuk sampai-sampai matanya tidak lepas dari komputer saat Jinki menyapanya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Key menoleh pada Jinki setelah menutup jendela aplikasi yang sedang digunakannya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dispenser di sudut ruangan, bermaksud untuk menyeduh segelas cappuccino hangat untuk sang tamu.

Jinki mendudukkan dirinya di kursi putar di depan meja Key.

“Aku ingin kau meneliti sesuatu!”

Setelah mengaduk-aduk cangkir berisi kopi itu, Kim Kibum atau yang biasa dipanggil Key berjalan dengan sebuah cangkir lebar berwarna coklat di tangannya dan meletakkannya di dekat Jinki. Dan ia kembali duduk di singgasananya.

What is?”

Jinki mengeluarkan dua buah foto. Foto yang ia ambil kemarin dari rumah Hyunah dan satu foto yang menampilkan dirinya dengan seseorang, foto yang ia ambil satu tahun yang lalu saat berpesta malam tahun baru dengan orang itu.

So?” tanya Key dengan aksen Britishnya. Lama menetap di London membuatnya tidak bisa melepaskan bahasa itu.

Jinki meletakkan dua foto itu berjajar di hadapan Key.

“Apakah pemilik tangan ini,” Jinki menunjuk sebuah tangan yang tertangkap bersama sosok Hyunah, “Sama dengan si pemilik tangan orang ini?” Kemudian Jinki menunjuk sosok di foto yang kedua.

Kening Key spontan mengerut.

“Minho? You mean… Minho..”

“Aku tidak menuduhnya. Hanya… Periksa sajalah!”

“Akui saja, hyung! Kau mencurigai putra presiden itu, kan? I can read you!”

“Yeah, whatever! Lakukan saja seperti yang aku minta, Kibum!”

“Owh, kau menyebut namaku! Oke, kau bisa kembali saat aku menghubungimu lagi, hyung! See ya!”

Jinki bangkit dari duduknya setelah mendapat pengusiran secara halus dari Key. Ia tahu orang itu tidak suka bekerja saat ada orang lain di sekitarnya.

 

-

 

Tepat saat Jinki ingin membuka pintu apartemennya, pintu sudah terbuka terlebih dahulu dari dalam. Seseorang muncul dari dalam secara tiba-tiba, mengejutkan Jinki hingga hampir menjatuhkan kantung kertas belanjaannya.

“Ya, Taeminie! Kau mengejutkanku!”

“Maaf, hyung! Aku sudah terlambat.”

“Ke mana?”

“Les. Ke mana lagi! Dah, hyung!”

Taemin bergegas pergi, meninggalkan Jinki yang kini melihatinya hingga lenyap dari pandangan. Kemudian Jinki masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintu.

Tiba-tiba saja Jinki merasa waspada begitu mendengar sesuatu. Ia menghentikan langkahnya dan meletakkan belanjaannya dengan pelan di lantai. Diambilnya sebuah pistol kecil yang ia sematkan di balik jas dan berjalan dengan langkah pelan namun waspada menuju ke tempat yang ia yakini berasal dari dapur.

Saat langkah tepat di dekat ambang sekat dapur, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia merogoh kantung dalam jas dengan cepat dan melihat layar ponsel dengan seksama.

“Apa, Taemin?” bisiknya pelan.

Suaramu pelan sekali, hyung! Aku cuma mau bilang, ada tamu yang menunggumu di dalam. Katanya sih temanmu.”

Tubuh Jinki yang kaku seketika berubah menjadi tegak.

“Siapa yang ber- Halo? Halo? Tsk! Anak ini!” rutuknya begitu sambungan telah terputus.

Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung, lalu dengan sikap yang tidak sewaspada tadi, ia berjalan memasuki dapur. Namun matanya tidak menangkap satu orangpun di sana.

Lalu suara apa itu?

“Aku di sini!”

Dengan sekali hentakan, Jinki membalikkan tubuhnya dan kini ia bisa melihat seseorang di hadapannya. Seseorang yang sangat tidak di kenalnya. Apa dia orang yang Taemin maksud? Ia merasa sama sekali tidak memiliki teman berperawakan seperti orang itu.

“Nuguseyo?” tanya Jinki. Tangannya mengarahkan pistol yang sejak tadi ia genggam pada orang asing itu.

“Wow! Santai, Tuan!” kata orang itu dengan seringaian yang makin membuat kening Jinki mengerut. “Aku ke sini hanya ingin bekerja sama! Tapi bisa singkirkan senjatamu dari depan wajahku?”

Awalnya Jinki ragu. Ia masih bimbang dengan apa yang harus diperbuat. Namun tak lama ia memasukkan senjatanya kembali setelah ia berpikir orang yang dihadapannya mungkin saja tidak berbahaya.

Thanks!”

Selanjutnya Jinki hanya bisa dibuat tercengang oleh orang asing itu. Duduk di sofa seenaknya tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik.

“Kau tidak duduk?”

“M…mwo?”

 

Jinki POV

 

“Kau tidak duduk?”

“M…mwo?”

What-the-hell! Aku tidak salah masuk apartemen, kan? Sebenarnya siapa pemilik tempat tinggal ini? Kenapa dia yang bersikap seolah ini adalah tempat tinggalnya?

Tapi mau tidak mau aku juga ikut duduk di sana. Sedikit menjaga jarak dari orang yang sama sekali tidak aku kenal ini. Tapi dia mengaku sebagai temanku pada adikku. Aku yakin sekali tidak pernah berteman dengan orang ini, melihat perawakannya yang seperti dinosaurus saja baru kali ini. Eh? Dia juga terlihat seperti puppy. Lihat saja matanya yang membulat menatapku seolah mengingikan sesuatu dari majikannya.

“Kau mungkin bertanya-tanya siapa aku yang berani mengaku sebagai temanmu!”

Mataku masih menatap lekat dirinya. Entah kenapa aku merasa dia bukan orang sembarangan.

I have heard the case you handle. Well, i’m Korean and I always update about something in here.”

Kalau orang Korea kenapa tidak bicara dengan bahasa Korea saja sepenuhnya? Tsk! Sejenis dengan Kibum.

“Jadi, maumu?”

“Dengan berbesar hati, aku datang jauh-jauh dari New York ke sini bermaksud untuk membantumu menuntaskan kasusmu! Free! You don’t have to pay me!”

Siapa dia sebenarnya? Aku makin merasa yakin kalau dia bukan orang biasa.

Tatapan yang ia berikan padaku  sangat tajam. Seolah melalui sorotan matanya itu terdapat dendam membara yang sewaktu-waktu akan ia tumpahkan. Atau jangan-jangan tujuannya kemari karena itu? Ah, nan mwolla!

“Siapa kau sebenarnya?” tanyaku.

Ia kembali menyeringai.

“Aku salah satu agen FBI!”

M…mwo? Tidak salah? Orang seperti ini yang disebut agen FBI? Lihat saja pakaiannya. Dia lebih cocok disebut model ketimbang seorang agen khusus.

“Tidak percaya?”

Orang itu mengambil sesuatu dari balik jaketnya dan kemudian melempar sebuah benda berbentuk dompet tipis ke pangkuanku. Kugenggam dompet hitam itu dan membukanya.

Name: Ty Kim / Kim Jonghyun

Division: Sharpshooter – Cheetah

Code: FBI562-464-1204

Tiga baris kalimat itu sudah cukup membuatku tercengang. Aku tidak memikirkan apakah identitas itu asli atau tidak. Aku tahu benda ini asli karena sebelumnya aku pernah bekerja sama dengan beberapa agen FBI dan ada tanda khusus di kartu identitas tersebut, tanda yang tidak bisa dibuat oleh sembarangan orang.

“Masih tidak percaya?”

Aku mendongak kepalaku padanya.

Apa tujuan sebenarnya datang menemuiku?

 

-tbc-

 

RCL~ kayaknya susah banget meluangkan waktu yang ga sampe 5 menit hanya untuk mengetik beberapa kata/kalimat doang *lirik silent riders*

maaf kalo kurang greget. Tapi bakal ada konflik-konflik baru nan tak terduga yang bakal muncul nanti.

Kalo ada yang ga ngerti bilang aja, bakal aku jawab di bawah chapter 2 nanti. Btw aku ga bales komen bukan berarti aku ga baca ya. Aku baca loh. Kalo ada waktu pasti aku bales. Kalo ga sempet ya enggak xD

 

76 thoughts on “The Conspiracy – Chapter 1: Minho?

  1. Minho jadi pembunuh???? Omonaaa….gak bisa ngebayangin kekekek. Ehitu si jiyeon kenapa jutek amat yak?-___-v hahaha. Ceritanya seru thor, aku suka apalagi ini detektif2 gitu. Jd bikin penasaran hehehe. Ditunggu part selanjutnya~

  2. Pingback: Playboy VS Playgirl [EPILOG] | FFindo

  3. Rame jg chrcter d ff ne..
    Jiyeon jd angkuh skap ny.. Kyak ny tar jiyeon jg bkal bntuin jinki.. Ga sbr pngen mobil ny yonghwa mlayang k tngan ny jinki..
    Jjong ny pecicilin bgt..
    Ak tggu part 2 ny y..

  4. omo ..
    bayangin onew jadi gituan … *?*
    kalo yong sih cocok abis .. hahaha

    itu bneran minho yang bunuh ?
    masa ?
    masa brani ?

    itu jong punya motiv apa juga ko urusin kasusnya onew ?
    hayoo apa ??

    mian baru comment ya :)
    baru ada modem ..

  5. huaaa akhirnya kesampaian juga mau baca FF ini. kemaren tiap mau baca kepentok ulangan mulu =.= /sigh
    wihiii deg2an~ deg2an~! di sini semua member SHINee terlibat ya?
    perannya Onew keren! jarang2 om Ayam (/plak) dapet peran kaya gini >< Jonghyun jadi agen FBI sama Taemin yg jadi adiknya Onew. dan Minho…. is he the real murderer? ._.
    Jiyeon-nya somse banget. Changmin-nya juga galak =A=
    okelah, next part-nya SANGAT DITUNGGU /caps kegigit

    nice FF chingu btw ^-^b

  6. ya ampuuuuunnn~
    perannya jinki keren banget!!
    ckckck, changmin jadi kepala pengawas yang disepelekan. haha
    ditunggu lanjutannya thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s