Title : Too Young to Love Part 1
Genre : Romance, Friendship, Angst (maybe)
Length : Chaptered
Rating : T-PG
Cast : Choi Minho (SHINee), Shin Injung (OC), Key (SHINee)
Other cast : Lee Minyoung, Cheryl, etc
Disclaimer : 99% fictional. The cast belong to theirsef.
Chapter One – The worst New Year.
“Shin Injung, kau antarkan ini ke meja 15, ok?”
Aku mengangguk sebagai jawabannya. Shin Injung, begitulah nama lengkapku, menurutku, aku gadis paling sial didunia. Umurku 18 tahun. Masih terlalu belia, bukan? Apalagi untuk seorang gadis yang hidup sebatang kara. Aku memang sendirian. Tapi ketahuilah, orang tuaku masih hidup. Baik ayah maupun Ibu, semuanya lengkap.
Yah, mungkin kau akan berpikir mereka orang tua yang tidak bertanggung jawab karena telah mentelantarkan anaknya. Pemikiran seperti itu juga sering terbesit di benak-ku. Tetapi sebenarnya mereka merupakan orang tua yang baik, sangat baik malah. Aku-nya saja yang tidak tahu di untung.
Ini semua seperti halnya mimpi yang sangat buruk. Mimpi buruk ini dimulai karena ‘kecelakaan’ bodoh yang terjadi satu bulan lalu. Hanya gara-gara pesta tahun baru. Semua yang kumiliki hilang dalam sekejab. Orang tua, adik, sahabat, sekolah, masa depan. Semuanya seperti angan yang terlalu jauh untuk dicapai lagi.
Penasaran? Aku yakin kau sudah bisa menebaknya. Aku hamil. Yeah benar. H-a-m-i-l. Ini-lah alasannya mengapa aku pergi dari rumah. Seharusnya sekarang aku menikmati masa remaja-ku bersama teman-teman disekolah, mengerjakan PR, jalan-jalan ke mall, bukannya menjadi waiter di salah satu cafe yang gaji-nya tidak seberapa, berkerja di hari minggu pula. Ini semua kulakukan demi hidup-ku serta calon anak-ku kelak.
Oh ya, kebanyakan orang jika mengetahui tentang kehamilan-ku pasti mereka aku men-judge aku anak nakal yang hoby main ke pub untuk bersenang-senang. Aku anak normal sebenarnya. Normal dalam artian aku slalu menuruti apa perintah guru, orang tua-ku, bahkan aku jarang keluar rumah. Aku slalu mendapat nilai sikap minimal B dalam pelajaran apa-pun. Tidak pernah dapat poin sikap buruk ataupun terlambat datang ke sekolah. Jadi sebenarnya ini tidak adil untuk-ku bukan? Yeah aku juga aneh kenapa harus aku yang mendapatkan musibah sekejam ini.
“Injung-ah, kenapa diam saja? Cepat antarkan pesanan-nya.”
“Ehh? Oh ne.” Beginilah perkerjaan-ku, keseringan melamun di jam kerja. Mereka tahu-nya aku adalah anak yatim-piatu yang tidak punya apa-apa dan harus terpaksa putus sekolah. Maka dari itu manager cafe ini menerimaku walau umurku masih sekecil ini. Tidak ada yang tahu bahwa aku hamil disini. Aku tahu itu, tinggal menunggu saatnya saja aku didepak dari sini. Tidak akan lama lagi pastinya.
Mataku terbelalak lebar saat melihat siapa tamu yang duduk di meja nomor 15 itu. Hanya sepasang muda-mudi, pengunjung biasanya juga ke-sering-an para remaja. Tapi pria itu. Pria yang tengah menatap lurus kedepan. Pria yang sama sekali tidak mau menatap kearahku. Pria dengan wajah tampan dan angkuhnya. Merupakan ayah dari anak-ku. Yeah tidak salah lagi. Dia.yang.telah.menghancurkan.masa.depan.indahku.
Flashback.
“Injung-ah, ayolah kau sudah 18 tahun, tidak ada salahnya-kan kalau ikut mereka ke Seoul?” Pujuk Minyoung, sahabatku.
“Sekali tidak yah tidak.”
“Ini kesempatan bagus. Kau bisa bergaul dengan anak-anak keren itu.”
“Pokoknya aku tidak mau, kenapa tidak kau saja?”
Dia menunduk sedih. “Aku-kan tidak diajak.”
“Itu dia! Kenapa hanya aku saja yang di ajak? Padahal aku bukan dari kalangan terlalu elit ataupun sejenis dengan mereka.”
“Kau itu cantik Injung-ah.”
“Aku biasa saja.”
“Keras kepala sekali.”
Uh, Key? Kali ini Key yang tiba-tiba hadir didekat kami. Dia duduk santai didepan mejaku dan Minyoung dengan arah badan menghadap ke belakang, ke arah kami.
AKu memandangnya sebal. “Yah! apa maksudmu?”
Key tersenyum hambar. “Apa salah-nya kau ikut saja? Lagian kau tidak bosan apa di rumah terus?”
“Lebih baik daripada harus jalan-jalan dengan orang asing.”
“Mereka teman-mu juga, kenapa menganggapnya asing, huh?”
Aku mendelikkan bahu. Aku juga bingung kenapa tidak pernah menyukai ‘mereka’ atau bisa disebut clique sekolah ini. Kumpulan dari beberapa gadis cantik dan kaya yang slalu up-to-date tentang fashion ataupun laki-laki tampan. Mereka merencanakan untuk liburan tahun baru ke Seoul. Daegu dan Seoul itu memang tidak terlalu jauh sebenarnya. Tapi awalnya mereka sempat merencanakan untuk keluar negeri. Benar-benar gila dan boros. Hanya sedikit beruntung mereka terlahir di keluarga kaya. Sebenarnya ini bukan urusanku, yang aneh adalah mereka mengajak-ku yang bukan siapa-siapa ini ke acara mereka. Konyol sekali, berbicara saja jika ada yang penting, seteguran juga jika tidak terpaksa. Dan tiada angin tiada hujan tiba-tiba mengajak-ku untuk ikut party mereka.
“Mereka ingin berdamai dengan-mu mungkin.” Sambung Minyoung lagi.
“Yeah mungkin tapi sayangnya aku lagi malas untuk ikut.”
Terlihat raut kecewa dari wajah Key. Dia memang teman dekat-ku dari kalangan orang terkenal disekolah ini. Incaran paling pas dari Gang gadis itu. Sudah jelas dia pasti akan ikut ke pesta mereka, jika dia tidak mau ikut maka aku yakin acaranya juga akan sia-sia.
“Injung-ah, kau tetap tidak mau ikut?” Satu suara lagi tiba-tiba muncul disekitar kami. Dari suara manjanya aku bisa menebak siapa gadis ini. Dia Cheryl, ketua clique itu. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana gaya dari ketua gank terkenal disekolah. Yang jelas, dia cantik.
“Mianhe Cheryl-ah, sepertinya aku sibuk.”
“Yaaa, bukannya orang tua dan adik-mu juga tidak dirumah akhir tahun ini?”
Aku mengangguk. Dia benar, orang tuaku akan ke Jepang setelah natal, sedangkan adik-ku memiliki acara sendiri dengan temannya, dan Minyoung? Dia juga pasti akan mengadakan tahun baru bersama orang tuanya. Tidak, sepertinya ini tidak terlalu buruk jika Minyoung ikut bersama-ku.
“Memangnya kau mau mati bosan di rumah?”
Aku menggeleng lagi. “Ayolah anggap ini sebagai acara pertemanan kita.” :Lanjutnya. Aku sedikit terkejut medengar ucapannya. Hah? Pertemanan? Sejak kapan dia jadi temanku? Hahaha, dasar gadis aneh, jika ada maunya saja bersikap sok baik.
Aku tersenyum kecut, lagian memang tidak ada salahnya sih. Daripada aku tidak ada kerjaan sendirian dirumah, lebih baik ikut mereka, kan? “Hmm baiklah, aku ikut tapi Minyoung juga iku, bagaimana?”
Aku memandang Minyoung sekilas yang diikuti oleh Cheryl, gadis dengan pita pink di rambutnya itu terlihat ragu awalnya tapi dia langsung tersenyum dan mengangguk sumringah “Baiklah.” Jawabnya pasrah. Yeah sepertinya tahun baru-ku kali ini takkan membosankan.
————————-
“Sudah siap, kah?” Mobil Van milik ayahnya Tiffany, teman Cheryl sudah membawa kami melaju ke arah bandara di kota ini. Aku hanya bisa berharap acaranya akan menyenangkan lagian aku menyukai jalan-jalan dengan teman.
Kami berlibur dengan jumlah 10 orang termasuk aku dan Minyoung. 6 perempuan dan 4 pria.
“Minyoung, Injung kenapa kalian diam saja?”
Aku dan Minyoung saling berpandangan, sama-sama terkejut. “Tidak apa-apa.” Jawabku disertai senyum yang sesungguhnya di paksakan. Kuharap nanti aku tidak mabuk, benar-benar memalukan jika muntah-muntah, didepan teman sebaya-mu pula. Apalagi ada beberapa laki-laki tampan disini.
Kami bersepuluh check-in dan menaiki pesawat yang diberikan sebagai hadiah tahun baru dari ayahnya Yoseob, terlalu boros sebenarnya, yang penting kan gratis untuk kami. Aku duduk bersebelahan dengan Minyoung dan Jinyoung. Jika di teliti, nama mereka hampir mirip, hanya beda satu hurup denpannya saja. Lucu sekali jika melihat wajah Minyoung ketika aku menggodanya dengan Jinyoung.
*
SEOUL, ibu kota dari negara yang ku tempatin sekarang. Benar-benar terkesan menakjubkan. Namanya juga Ibukota. Wajar jika kota ini menjadi kota yang paling di agung-agungkan pemerintah. Kami turun dari pesawat dan menyaksikan keindahan Incheon Airport. Yeah, ini benar-benar Indah dan tentunya jauh lebih menakjubkan daripada Daegu. Setelah ini kami akan menuju Hotel milik pamannya Cheryl untuk menjadi tempat tnggal sementara. Liburan gila-gilaan dan hanya mengeluarkan sedikit uang. Beginilah indahnya kehidupan memiliki teman anak orang kaya dan royal.
———————————-
Aku hanya tidak habis pikir. Ini terlampaui gila sebenarnya. Minyoung tiba-tiba tidak enak badan dan memaksaku untuk tetap ikut party mereka, sedangkan Key harus segera pulang ke Daegu karna neneknya sakit. Padahal malam ini acara puncaknya. Jadi siapa yang dekat denganku diantara mereka? Sepertinya tidak ada.
Kami berdelapan menelusuri seisi kota yang sangat amat ramai sambil bercanda tawa, ntah kenapa aku menjadi akrab dengan mereka. Jika dilihat-lihat mereka emang seru juga. Bahasan tingkat atas tapi mampu kupahami, amazing.
“Setelah ini kita kemana?” Tanyaku akhirnya. Tahun 2011 telah berakhir. Semoga segala kesalahanku ditahun itu tidak terjadi lagi dan aku bisa lebih beruntung di tahun ini.
“Bagaimana jika ke Club saja?” Balas Jinyoung.
“Hah?”
“Club, kau tidak keberatan kan?”
AKu sedikit berpikir. Maksudnya diskotik? Tempat yang errr sering dilarang keras oleh ayahku? Hhhhh mereka pasti bercanda mengajakku ke tempat seperti itu. Tapi jika itu benar-benar buruk kenapa banyak yang menyukainya? Lagian aku yakin mereka memiliki selera tinggi dan slalu di oke-kan oleh siapapun. Mungkin ayah-ku saja yang terlalu kolot.
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah.”
“Malam ini benar-benar pesta tahun baru terindah.” Sergah Tiffany.
Dia sedikit benar, aku juga berpikir begitu. Seumur hidupku baru kali ini aku merasakan pesta pergantian tahun dengan segembira ini. Biasanya aku melewati dengan bakar-bakaran bersama appa, eomma dan adikku.
Jadi seperti ini yah diskotik itu? Sama persis dengan apa yang kulihat di film ataupun drama. Lampu disco yang berkelab-kelib, meja bar panjang yang dibelakangnya tersusun rapi jenis wine dari negri manapun, ataupun sofa-sofa besar yang diduduki wanita berpakaian kurang bahan. Bau asap rokok bercampur alkohol menyeruak masuk ke hidungku. Menyengat sekali, sedikit membuatku mual. Ayolah Injung, jangan mempermalukan dirimu sendiri.
“Kau tidak apa-apa Injung-ah?”
AKu memaksakan tersenyum. Mereka pasti akan merendahkan-ku jika aku bilang aku ingin keluar dari sini karna tidak tahan dan merasa pening. “Aku tidak apa-apa kok, tempat ini menyenangkan.” Ucapku kalem. Menyenangkan sih iya, tapi tidak apa-apa itu aku bohong.
“Kalau begitu aku kesana dulu, yah? Kau nikmati saja.” Ucap Cheryl lalu dia pergi dan memencar dari kami diikuti oleh Tiffany dan Hara. Sekarang aku sendirian kah? Tidak, masih ada Jinyoung dan Yoseob.
“Injung-ah, kau mau ikut kami atau pergi sendiri?” Pertanyaan ini benar-benar meragukan. Mereka pria dan kami tidak dekat, pasti rasanya tidak enak sekali. Seandainya masih ada Key ataupun Minyoung, aku tidak akan terlihat sebodoh ini.
“Biar aku sendiri saja.” Jawabku sambil tersenyum kaku.
“Yasudah kau jaga dirimu baik-baik.”
Mereka telah berlalu dari hadapanku. Dan sekarang aku bingung harus melakukan apa. Karna merasa diperhatikan, aku mencoba berjalan dari tempatku berpijak sekarang. Keringat dingin sedikit keluar dari pori-pori kulitku. Aku hanya memakai dress hitam selutus dengan lengan 3 jari. Mungkin bagi orang-orang disekitar sini gayaku sangat norak tapi bagiku ini sudah terlalu sexy.
“Hi nona manis, mau berdansa denganku?” Tanya seorang pria. Jika kuperkirakan umurnya pasti sudah 20an keatas. Aku langsung menggeleng cepat. Kenal saja tidak, kenapa dia sok akrab sekali sih.
Aku mulai geram karna merasa sedari tadi gerak-gerikku diperhatikan. Sebegini salahkah gayaku sampai dilihat seperti itu? Padahal lampunya tidak begitu menerangkan.
Karna cari aman, aku memilih duduk di salah satu kursi dekat meja bar. Jelas langsung ditanyakan oleh bartender aku mau minum apa.
“Hmm terserah kau saja.” Ucap-ku canggung. Aku bukannya tidak mau memilih tapi aku tidak tahu harus memilih apa.
Bartender pria itu melihat ku dengan seksama lalu memberikanku sebuah gelas besar dengan cairan ntah apa didalamnya.
“Kamsahamnida.”
Aku meminumnya dengan pelan-pelan dan diresapi. Hoeek. Pahit asam manis(?). Rasanya abstrak dan sangat amat tidak enak.
“Nona, kau baik-baik saja?” Pria lain muncul dari sebelah tempatku duduk. Aku mengerjab-erjabkan mataku beberapa kali. Dia……………tampan sekali. Mirip dengan karakter manga. Ya Tuhan apakah anak Seoul itu sebegini tampannya? Jika Cheryl dan temannya itu juga melihat pria ini, mereka pasti akan berteriak histeris saking ke-syok-nya.
Aku mengangguk lalu melanjutkan minum-ku, pahit sekali tapi aku tetap meminumnya. Sekali saja aku ingin menjaga image didepan namja tampan.
Dia menahan gelasku. “Jangan minum jika kau tidak bisa minum.”
“Hah?” Hello semua manusia sehat pasti bisa minum, termasuk juga aku. Aku sudah bisa minum sendiri dari umur 3 tahun. Oke ini memang tidak penting.
“Kau tidak bisa minum alkohol, kan?” Dia tersenyum dan ya Tuhan benar-benar tampan. Aku bisa mati jika berjarak kurang dari satu meter terus darinya.
“Tentu saja aku bisa.” Aku meneguk cairan di gelasku dengan cepat tanpa dirasakan, anggap aku sedang minum obat malaria. Lidahku terasa keluh dan kepalaku pening luar biasa. Perutku mual.
“Nah kan.” Gumamnya meremehkan.
“Yah! Kau jang…an hueek mehremehkanku.”
“Nona. kau baik-baik saja kan? Maaf aku tidak tahu kalau kau tidak kuat minum.” Ucap bartender itu, terdengar samar ditelingaku. Kenapa semua orang menganggapku remeh begini? Ya Tuhan kepalaku benar-benar pening. Rasanya aku ingin cepat-cepat ada dikasur saat ini juga.
“Keras kepala.” Kata pria itu lagi. Sudahlah aku tidak mau mendengarnya. Perut-ku lagi-lagi terasa teraduk. Dan mau tidak mau aku mengeluarkan apa isi perutku. Pria itu membawaku keluar. Berjalan saja sudah tidak mampu lagi. Memangnya apa hebatnya minuman itu sampai mampu membuatku seteler ini?
Diluar aku memuntahkan segalanya, bajuku sedikit terkena muntahanku, errrr benar-benar memalukan.
“Nona, kau sendiri kesini?” Dia bertanya lagi masih memijat leher belakang-ku.
“Ti..dak uhuk tahu.” Balas-ku pasrah. Dia terlihat kesal. Walau mukanya sedang kesal tetap saja terlihat tampan. Aku berbalik kearahnya dan langsung memeluknya. Lelaki tampan ini telah membuat otakku tidak mampu berkerja dengan benar lagi. Kukecup bibirnya singkat. AKu tidak tahu cara berciuman dan tentu saja aku telah merelakan ciuman pertamaku untuknya.
Dia hanya diam saja dan sedikit syok melihat aksi cepatku itu. Apapun ekspresinya, pria ini kenapa begitu keren?
———————
Dia membawaku ke sebuah hotel mewah yang terletak tak jauh dari pub tadi. Meniduriku diranjang, tapi tangannya ku sergah ketika ia ingin pergi.
“Jangan pergi tampaaan.” Aku tersenyum malu, mataku sesekali terpejam karna pening di kepalaku.
“Aku ingin memanggil pelayan untuk mengganti bajumu.”
“Kenapa tidak kau saja?”
“Hah?” Dia terlihat terkekut dengan pernyataanku. Apanya yang salah?
Aku menaikkan sedikit rok-ku lalu setelahnya aku hampir lupa apalagi yang terjadi. Yang jelas aku tidak mau mengingatnya lagi.
Flashback end.
——————–
Malam yang terlampau indah ketika terjadi dan terlalu menyakitkan untuk diingat, itulah julukan yang tepat untuk malam itu. One night stand, dengan orang yang tidak kau kenali. Rendahan sekali, huh? Tapi saat itu aku benar-benar tidak sadar apapun. Pas esoknya, saat aku terbangun semuanya sudah berubah menjadi dunia kelam. Aku slalu berharap ini hanyalah mimpi, yang ketika aku terbangun semuanya masih baik-baik saja. Appa yang slalu kehilangan kaos kakinya dipagi hari, masakan eomma yang tidak pernah beres, PR adikku yang belum dikerjakan. Aku merindukan kerusuhan itu. Yang mungkin akan tejadi hanya lewat harapan-ku.
Hhhh kenapa ini harus terjadi padaku? Padahal aku hanya sedikit ceroboh. Seharusnya malam itu aku tetap bersama Minyoung saja. Atau seharusnya aku dan Minyoung memang tidak usah ikut. Teringat jelas olehku bagaimana perasaan Minyoung ketika mengetahui aku hamil muda. Dia kecewa berat dan mengutuk clique itu. Mereka hanya memandangku rendah waktu itu, tanpa ucapan rasa bersalah apapun. Kehidupanku dengan mereka memang berbeda dan seharusnya tidak cocok. Hey, bahkan aku jauh lebih baik-baik dibanding mereka, tidak seharusnya kan mereka menganggapku rendahan? Aku hanya korban disini. Mereka yang lebih ‘gila’ dariku saja hidupnya tetap senang-senang saja. Kenapa aku yang begini? Apakah dunia setidak adil ini?
Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa atas kejadian buruk yang menimpaku. Begitupun orang tuaku. Terlalu jahat jika aku menuduh mereka yang tidak mendidikku dengan baik. Sudah kubilang mereka itu orang tua yang baik, kan? Tolong aku tidak mau mengingat kehidupan lamaku yang baik-baik saja, yang berbanding terbalik dengan sekarang.
Aku menghela napas. Kenapa harus ada pria itu lagi disini? Aku sudah sangat muak melihat wajahnya. Bersama gadis lain pula. Dasar playboy. Tidak ada yang paling kubenci lagi selain pria ini, gara-gara dia masa depan-ku hancur.
Brrruuuuukk. Gelas yang tadinya berdiri kokoh diatas nampan yang kupegang terjatuh membuat isinya tumbah ke celana dan kaos pria itu. Baik dirinya ataupun gadis yang dihadapannya, reflek melihat kearahku.
“Mianhe.” Ucapku dibuat-buat. AKu juga tidak tahu tadi itu aku sengaja atau tidak. Yang jelas aku senang telah menumpahkan jus apel itu ke bajunya.
“Kau sengaja yah?” Tanya gadis itu, dia terlihat kesal denganku. Bodoh! aku bisa saja dipecat detik ini juga. Aku mengambil serbet dan mencoba untuk membersihkan baju pria itu
“Mianhe, aku benar-benar tidak sengaja.” Dia menghempaskan tanganku kasar lalu segera berdiri.
“Segera pergi dari sini.” Dia mengeluarkan dompetnya dan meletakkan uang puluhan ribu won diatas meja lalu pergi diikuti oleh gadis tadi. Dia tidak pernah menyukaiku, bahkan aku masih mengingat jelas bagaimana dia mengusirku, merendahkanku, dan mengataiku wanita murahan saat aku meminta pertanggung jawabannya. Lelaki macam apa dia? Benar-benar sialan, bukan? Tega sekali membuatku harus kerja sendirian diumur segini dengan calon bayi di rahimku. Hhhh, hidup ku terlalu miris. Tapi aku lelah menangis, aku lelah menyesal, aku lelah menyalahkan, toh itu semua tidak akan merubah apa-apa.
“Injung-ah, apa yang terjadi?” Tanya Jessica onnie, manager cafe ini. Aku terdiam kaku, aku benar-benar takut dipecat karna pria si pria-gila-sialan. “Kenapa anak itu pergi?”
“Tadi aku tidak sengaja menjatuhkan gelas.” Jawabku murung sambil menunduk.
“Yasudah kau kembali berkerja saja lagi, anak itu memang sensitif.”
“Onnie, kau mengenalnya?”
Wanita berumur pertengahan 20 tahun itu mengangguk. “Dia anak direktur pemilik cafe ini.”
Great! Lengkap sekali hidupku. Hhhh aku ingin tertawa, mentertawakan jalan menyedihkan ini dan diriku sendiri. Kenapa semua yang kulakukan harus berhubungan dengan pria itu? Semua saja punya ayahnya, cafe, hotel berbintang, resto, supermarket.
Lagian kenapa aku tetap tinggal di Seoul, kenapa tidak dikota lain saja?. Atau kalau perlu sekalian saja aku pindah ke Korea Utara. Setidaknya aku tidak perlu bertemu dan berurusan dengan tuan muda Choi Minho yang terhormat itu lagi. Jika begini, hidupku takkan lepas dari nya, dari hal yang paling kubenci.
Tbc
Need ur comment, critic and ur support.. kamshaaa :*

One night stand! Injung kyk d ksih obt prgsang..
Ak pkir minho ny baik, eh tnyta mlah playboy n ga mw btgg jwb..
Minhoooo, tampangnya emang ganteng eeehhh gataunya….
rame bgt! nexxxxxt!
Ya ampun, kasihan sekali nasibnya Injung. Aku jadi tidak tega melihatnya. Minho pura2 baik ke Injung, alhasil malah menelantarkan Injung. Ckck. Kualat lu ya Minho! Haha
Waahh, daebak onnie…
Suka ceritanya
omo~
lanjutkan oenni,
minho ya,kacian de lu