Title: Protect The Noona
Author: dwiananing (@yeolzy)
Length: Series
Main Cast:
- Choi Eunhoon (@yeolzy)
- Kim Myungsoo (L) INFINITE
Minor Cast:
- Oh Sehun EXO
- Hyunseung B2ST
Genre: Romance, Friendship
Rating: PG
Soundtrack:
Myungsoo’s POV
Saat aku hendak pergi dari kelas Eunhoon, aku mendengarnya memanggilku dengan suara lantangnya.
“Myungsoo-ah, kau mau kemana?” tanyanya. Semua orang, tidak terkecuali, semuanya menoleh ke arahku.
Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya, “Tadinya aku ingin memberikanmu ini noona. Tapi aku lihat kau sedang bersama temanmu. Jadi aku tidak ingin mengganggumu.”
Aku menyerahkan sebungkus kado spesial berpita biru padanya dan tersenyum padanya.
“Ah Se Hun? Kenalkan, dia sahabatku,” katanya tersenyum. Se Hun yang berada di sebelahnya membungkuk ke arahku dan tersenyum padaku.
“Annyeong, Se Hun imnida.”
“Annyeong sunbae, Myungsoo imnida,” kataku tersenyum lalu membungkuk. Aku merasa kalau Se Hun adalah namja yang baik.
“Ah, panggil saja aku hyung,” kata Se Hun sambil menepuk pundakku. Aku lalu mengangguk pelan.
“Ah iya, aku kan belum ulang tahun. Kenapa kau memberikan kado untukku?” tanya Eunhoon sambil menatapku heran.
“Aku hanya ingin memberikannya untukmu noona. Bukan dalam rangka apa-apa,” jawabku gugup. Aku bisa merasa keringat dingin mengucur di keningku.
“Baiklah. Gomawo Myungsoo-ah,” katanya tersenyum manis. “Apa aku boleh membukanya sekarang?”
“Jangan noona. Kau buka saja nanti di rumah,” cegahku dengan cepat.
“Hmm baiklah. Sekali lagi terima kasih ya. Aku dan Se Hun kembali ke kelas dulu. Dah,” katanya melambaikan tangannya lalu berbalik dengan Se Hun di sampingnya.
Hatiku lega, karena Eunhoon mau menerima kadoku dan tentu saja, karena namja yang bersama Eunhoon tadi ternyata sahabatnya, bukan lebih dari yang aku bayangkan.
***
Eunhoon’s POV
“Hmm, kira-kira apa ya isi kado ini?” tanyaku tersenyum sendiri lalu perlahan membuka pita biru yang cantik itu. Aku sendiri bingung, darimana dia tahu kalau warna biru adalah warna kesukaanku ya?
Aku perlahan membuka bungkus kado itu dan melihat sepasang kaos kaki dan sepasang sarung tangan angry birds yang selama ini aku cari di dalamnya. Ya, aku memang suka sekali dengan angry birds dan mengumpulkan segala pernak-pernik yang berbau angry birds. Kelihatan seperti anak kecil bukan? Tapi aku memang benar-benar menyukainya karena dari kecil aku memang suka mengumpulkan boneka. Dan kebiasaan itu tidak bisa hilang sampai sekarang.
Tiba-tiba saja segala pertanyaan muncul di kepalaku. Tadi aku berpikir bagaimana dia bisa tahu kalau ya aku menyukai warna biru. Dan sekarang, bagaimana dia bisa tahu kalau aku suka sekali angry birds dan sedang mencari sepasang kaos kaki dan sepasang sarung tangan itu? Walaupun aku sangat senang, tapi tentu saja aku jadi penasaran darimana dia mengetahui hal ini. Aku bahkan belum lama berkenalan dengannya dan belum pernah menceritakan tentang apa saja yang aku suka.
Aku lalu memakai sepasang kaos kaki dan sepasang sarung tangan dan tersenyum, “Myungsoo-ah, terima kasih banyak.”
Aku berbaring di kasur empukku dan mematikan lampu kamar. Aku yakin malam ini aku akan tidur nyenyak.
***
“Myungsoo-ah,” panggilku padanya. Aku sudah merasa datang paling pagi, tapi saat aku tidak sengaja melewati kelas Myungsoo, aku sudah melihatnya sedang sendirian di kelas dan menelungkupkan wajahnya ke meja dan menutupnya dengan kedua tangannya. Entah mengapa, aku tersenyum melihatnya.
Dan karena aku merasa dia tidak mendengarku, aku perlahan masuk ke kelasnya dan mencoba membangunkannya.
“Myungsoo-ah,” panggilku pelan tepat di telinganya dan sedikit membungkuk.
“Myungsoo-ah,” panggilku lagi. Namun dia tetap tidak bergerak sedikit pun.
“Myung–“
Belum sempat aku memanggil namanya dan menepuk pundaknya berniat untuk membangunkannya lagi, tiba-tiba saja wajahnya sudah menghadap ke arahku dan jarak wajah kami sangat dekat. Atau bahkan terlalu dekat.
Entah mengapa aku tidak bisa bergerak sama sekali, seolah terbius oleh ketampanan Myungsoo yang mungkin selama ini belum aku rasakan. Apalagi dengan jarak sedekat ini.
Wajahnya benar-benar sempurna. Dan yang benar-benar membuatku tertegun adalah matanya. Ya, matanya memancarkan sesuatu yang seolah-olah menghipnotisku. Matanya benar-benar indah
“Noona, sedang apa kau disini?” tanyanya tersenyum manis padaku dan masih tetap dengan posisi yang sama. Hembusan nafasnya sangat terasa di wajahku.
Aku perlahan tersadar dan dengan cepat berdiri dan duduk di kursi yang berada di depan Myungsoo. Aku bisa mendengar Myungsoo bangun dari duduknya dan duduk di depanku, dengan wajahnya berada tepat di depan wajahku. Nafasku benar-benar tidak beraturan, keringat dingin mengucur di keningku dan aku yakin sekali kalau mukaku merah padam. Aku benar-benar ingin cepat pergi dari tempat ini.
“Aku.. kesini.. karena.. aku.. ingin.. berterima.. kasih.. padamu. Soal kado yang.. kamu berikan padaku.. kemarin,” jawabku terbata-bata. Aku benar-benar tidak berani menatap wajahnya.
“Ah soal itu. Tidak apa-apa noona. Aku malah senang karena kau menyukai kado yang kuberikan, “ katanya. “Oh ya noona, apa aku boleh tahu nomor handphonemu?”
“Eh?” tanyanya bingung. Akhirnya aku berani menatap wajahnya, walaupun sepintas saja. Dadaku masih berdegup kencang
“Boleh kan noona? Aku mohon. Kau sudah menganggapku temanmu kan? Karena aku sendiri sudah menganggap noona seperti temanku. Ya, walaupun kita baru beberapa hari ini berkenalan,” katanya sambil mengeluarkan senyum manis andalannya.
“Baiklah.”
Aku menyebutkan nomorku dengan cepat lalu berlari meninggalkan kelas Myungsoo dengan cepat, tanpa berani menatapnya lagi.
Entah mengapa, tiba-tiba aku merasakan hal yang sudah lama tidak pernah kurasakan. Entah, aku sendiri juga tidak tahu rasa apa yang kurasakan saat ini.
***
Myungsoo’s POV
Aku mendengar Eunhoon memanggilku. Aku mendengar derap langkah kakinya saat berjalan ke arahku. Aku mendengarnya saat dia memanggilku tepat di telingaku. Karena sebenarnya, aku tidak tidur. Aku hanya menelungkupkan wajahku ke meja dan menutupnya dengan kedua tanganku. Dan aku secara tiba-tiba bangun dan entah mengapa, tepat sekali saat dia juga sedang menatapku.
Aku menatapnya lama, sangat lama dan itu benar-benar terasa sangat indah. Aku bisa menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Melihat wajahnya yang sempurna dan sangat cantik. Keningnya, alisnya, matanya, hidungnya, pipinya dan bibirnya. Bibirnya yang mungil dan berwarna pink cerah. Entah mengapa saat itu juga sebenarnya aku ingin sekali menciumnya. Namun untungnya aku masih bisa mengontrol diriku dan tidak melakukannya.
Dan soal kado yang aku berikan padanya, itu bukan hal yang mudah tentu saja. Dan untuk memberikan kado yang benar-benar spesial ini, aku menanyakannya langsung pada sahabatnya, Hyunseung. Ya, aku benar-benar bertanya padanya, saat aku tidak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan kampus.
-Flashback-
“Hyung, warna kesukaan Eunhoon noona apa?” tanyaku langsung dan tentu saja membuat Hyunseung kaget.
“Mwo? Memangnya kenapa?” tanyanya bingung.
“Aku hanya ingin tahu hyung,” jawabku pelan.
“Dia suka warna biru dan yang paling penting, dia itu suka angry birds. Kalau kau ingin memberikan sesuatu untuknya, carilah sepasang kaos kaki dan sarung tangan angry birds. Aku yakin dia akan sangat senang karena dia sedang mencari benda itu dan sampai sekarang belum menemukannya. Apa sudah cukup jelas?”
Aku menatap Hyunseung dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa membaca pikiranku sedetail itu?
“Kau menyukai Eunhoon kan?” tanyanya tepat pada sasaran. Aku benar-benar tidak tahu harus jujur atau tidak tentang perasaanku ini. “Kalau kau diam, berarti jawabannya iya.”
Aku terdiam, lama.
“Ya sudah, aku sudah tahu tentang hal ini sejak pertama kali aku melihatmu sedang menatap Eunhoon di taman. Dan ya, dugaanku benar. Tapi apa kau tahu kalau Eunhoon tidak suka namja yang lebih muda darinya?”
Hatiku mencelos, “Aku sudah tahu hyung.”
“Jinjja? Ya, kalau begitu kau seharusnya sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan sebelum kau bertindak terlalu jauh nanti. Kau boleh saja menyukainya. Tapi untuk berharap kau bisa berpacaran dengannya, jangan dulu berpikiran sejauh itu. Eunhoon punya masa lalu yang buruk soal itu, dan jangan harap aku mau menceritakan tentang hal itu.”
“Hyung, kumohon ceritakan padaku,” kataku memaksanya.
“Tidak akan,” jawab Hyunseung. “Aku harus segera kembali ke kelas karena jam kedua akan segera dimulai. Oh ya, good luck ya. Semoga kau mendapatkan apa yang aku katakan tadi.”
Hyunseung meninggalkanku sendirian di perpustakaan yang memang sedang sepi saat itu. Seburuk apakah masa lalu yang pernah dialami Eunhoon?
-Flashback end-
Perlahan ingatanku tentang apa yang dikatakan Hyunseung muncul lagi. Pengalaman buruk apa yang pernah dialami Eunhoon?
***TO BE CONTINUE***

poor myungsoo
smoga pandangan Eunhoon berubah
aduhhhh singkat banget sich org lge asyek baca !
di tunggu kelanjutannya……
Wah… Seru nih, meskipun ngak gitu panjang. Cerita nya bikin penasaran. Ok, sekarag udah bingung mau ngomong apa saking bagus nya FF ini–” Aku tunggu lanjutan nya!^^
Eunhoon udah mulai suka sama L ><
tapi kependekan thor . d tunggu kelanjutann ^^
kok pendek banget thor?
omonaaa chingu kenapa ff mu pendek terus -____-”
sumpah deh,aq jd bygin yang iya2 ttg L gra2 bc efef ini hahaha
suka bgt ff ini x3
ditunggu lanjutanny xD
Eunhoon udah mulai suka tu ama Myungsoo :$
tapi sumpah penasaran banget ama masa lalunya Eunhoon :I
Tapi romantis banget ga sih rasanya bayangin Myungsoo ama Eunhoon di kelas itu .____.
trus so sweet banget Myungsoo ampe nanyain ke Hyunseung soal kesukaan Eunhoon
terlalu pendek thor, tapi lumayan memuaskan XD
nice ff chingu, hwaiting ~
aduh,,,knpa pndek x sich pdahal ge sru2 @ aq bca,,,,,,tpi gk pa2,?
daebak thour…..