The Rings [3rd Part]

25 Feb

Title     : The Rings

Author  : Ima Shineeworld (@bling0320)

Cast       : Park Sun Yeon, Ahn Yun Hee, Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Lee Taemin

Genre   : Fantasy, Mystery (?), Angst, Romance, Friendship

Rating   : PG-15

Length  : On Writing

[The Rings Prologue] [1st Part] [2nd Part] [3rd Part]

Taemin memeriksa setiap sudut kamar asramanya. Setelah melihat cincin yang dipakai Sun Yeon, sepertinya ia teringat sesuatu. Ibunya pernah memberikan sebuah cincin yang mirip dan ia entah menaruhnya dimana. Saat pertama kali melihat cincin itu, ia tidak pernah merasa tertarik ingin memakainya. Karena modelnya yang cukup kuno dan terlebih lagi ia seorang laki-laki.

Seulas senyum muncul di bibir Taemin ketika melihat cincin itu tergeletak di dalam lemari. Ia mengambil cincin itu kemudian memakainya secara perlahan. Sun Yeon pasti akan kaget melihatnya bisa mempunyai cincin yang sama. Ia menatap jari-jari tangannya yang terhiasi cincin itu kemudian bergegas mengambil tas sekolahnya. Waktu berjalan dengan sangat cepat ketika ia mencari cincin itu sepertinya.

Tepat ketika Taemin memasuki gerbang sekolah bel masuk baru saja berbunyi. Ia bisa menghela napas lega tentu saja. Ternyata tidak sia-sia berlari dari halte bis tadi. Mungkin lain kali ia akan berpikir dua kali untuk terlambat berangkat ke sekolah lagi.

“Aah, ahjussi. Ayolah, aku ada kuis matematika hari ini,”

Taemin menolehkan kepalanya ketika mendengar teriakan seorang laki-laki yang tengah berdiri di depan gerbang –yang ternyata sudah ditutup oleh penjaga sekolah. Ia sedikit menyipit untuk memperjelas penglihatannya. Dan sedetik kemudian ia berjalan kembali ke arah gerbang, menatap laki-laki yang berdiri di depan gerbang itu.

“Lee Taemin-ssi,” gumam laki-laki itu seraya menatap memohon Taemin dengan kedua mata garisnya.

“Tuan Yong, dia temanku. Tolong biarkan dia masuk,” seru Taemin pada tuan Yong yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya. Pria paruh baya itu mengangguk lalu mengeluarkan beberapa kunci dari sakunya, membuka gembok yang mengunci gerbang itu dan membukanya sedikit agar laki-laki itu bisa masuk.

“Kamsahamnida ahjussi,” seru laki-laki itu, tersenyum lebar kemudian menoleh menatap Taemin, “Gomawo Taemin-ssi,”

“Karena kau teman Sun Yeon, jadi kita berteman juga, Onew-ssi,” jawab Taemin seraya melebarkan senyumnya juga.

Kedua laki-laki itu pada akhirnya berjalan beriringan menuju kelas mereka masing-masing. Mereka terus mengobrol hingga pada akhirnya Taemin harus berbelok ke ruang kelasnya. Taemin masih saja tersenyum mengingat hal yang dibicarakannya dengan Onew bahkan ketika sudah menghempaskan tubuhnya di tempat duduk. Sun Yeon yang menyadari sesuatu yang aneh segera mencondongkan tubuhnya, memandang Taemin dari samping sembari mengerutkan kening.

“Neo wae ?” tanya Sun Yeon menginterogasi. Taemin menoleh ke samping kiri kemudian tersenyum.

“Aku mengobrol dengan temanmu. Onew ? Kau tahu ‘kan ? Aaah jinjja, dia lucu juga,” jawab Taemin membuat kerutan di kening Sun Yeon semakin bertambah.

“Onew-ssi ? Dia bukan temanku. Dia hanya seorang laki-laki cerewet yang entah datang darimana dan sering mengangguku,” Sun Yeon kembali memundurkan tubuhnya lalu melipat tangan di depan dada.

Baru saja ia akan membuka mulut, namun terhenti begitu saja ketika melihat sebuah benda berkilauan yang menghiasi jemari Taemin. Laki-laki itu terlihat sibuk mengeluarkan buku dari dalam tas sedangkan Sun Yeon tetap memandangi sebuah benda –yang menurutnya cincin itu.

“Ya~, sejak kapan kau pakai cincin ?” tegur Sun Yeon, membuat kegiatan Taemin itu terhenti. Taemin menatap secara bergantian cincin yang dipakainya dan juga Sun Yeon.

“Kau tidak sadar cincin kita sama ? Otte ?” tanya Taemin seraya menaik-turunkan kedua alisnya, meminta pendapat Sun Yeon. Gadis itu mengerutkan kening kemudian memandangi cincin di jarinya dan juga cincin di jari Taemin.

“Astaga~, kau dapat darimana cincin itu ?” tanya Sun Yeon, merasa heran dengan kesamaan cincin yang tengah mereka pakai.

“Eomma memberikannya sebelum aku masuk asrama. Kebetulan yang lucu, eh ?”

Sun Yeon kembali duduk di kursinya ketika menyadari seorang wanita paruh baya sudah memasuki kelas. Namun ia tetap tidak habis pikir kenapa Taemin bisa mempunyai cincin itu. Kebetulan yang sangat aneh. Ia menemukan cincin itu secara tidak sengaja di sebuah buku –yang ia pinjam dari perpustakaan dan tidak bisa dilepas dengan cara apapun. Sedangkan Taemin, cincin itu diberikan oleh ibunya dan bisa dipakai atau dilepas sesuka hati. Dan entah kenapa ia merasa tertarik untuk menyelidiki tentang cincin itu.

***

Bel istirahat yang berbunyi membuat Sun Yeon bisa menghembuskan napas lega. Ia membereskan buku-buku yang berserakan diatas meja ke dalam tas kemudian beranjak dari bangkunya. Dengan santai Sun Yeon melangkah melewati meja Taemin dan keluar dari kelas untuk menuju kantin. Namun belum sempat ia melewati pintu, seseorang sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Sun Yeon menoleh dan menatap orang yang sudah menarik lengannya itu dengan dingin.

“Ya~, kau masih berani menatapku seperti itu ? Kita teman sekarang, kau lupa ?” tanya Taemin, membuat Sun Yeon sedikit merubah tatapannya.

“Sudahlah, ayo ke kantin,” Sun Yeon melepaskan lengannya dari genggaman Taemin dan berjalan lebih dulu.

Kali ini Sun Yeon menghiraukan semua murid wanita yang menatap sinis ke arahnya. Ia menoleh ke samping dan sedikit mendongak untuk menatap Taemin yang tengah berbicara padanya. Well, jika boleh jujur. Sun Yeon merasa seperti ada drum di dalam dadanya sekarang. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

“Kau duduk saja di meja, aku akan ambil makan siang untuk kita berdua,” seru Taemin, membuat Sun Yeon tersadar dari lamunannya.

“Tanganmu hanya dua, Lee Taemin. Kedua nampan besar itu tidak bisa kau bawa hanya dengan kedua tanganmu,” balas Sun Yeon seraya beranjak meninggalkan Taemin dan mulai mengantri makan siang. Taemin mendengus pelan kemudian ikut berdiri di belakang gadis itu.

Keduanya keluar dari antrian segera setelah mendapatkan nampan berisi jatah makan siang mereka. Taemin mengitarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin –yang terlihat lebih seperti sebuah pasar sekarang. Sangat ramai dan sepertinya semua meja sudah penuh. Baru saja ia akan memberitahu Sun Yeon tentang kepenuhan kantin ketika melihat sebuah tangan melambai diantara kerumunan para siswa itu.

“Taemin-ssi, Sun Yeon-ah !” panggil Onew, membuat sebuah senyuman muncul di bibir Taemin. Taemin menatap Sun Yeon sejenak sebelum melangkah menghampiri meja Onew –yang dikelilingi murid wanita itu.

“Kami boleh duduk disini ?” tanya Taemin seraya memiringkan kepala ke arah Sun Yeon yang berdiri di sebelahnya.

“Keurae,”

Dan pada akhirnya Sun Yeon harus mengikuti Taemin duduk bersama Onew di satu meja. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara ketiganya. Taemin yang menyadari ada sesuatu diantara kedua orang di dekatnya, segera menatap Sun Yeon dan Onew bergantian. Onew terlihat biasa-biasa saja, namun Sun Yeon sangat mencoba untuk tidak terlibat pembicaraan apapun dengan Onew.

“Oh, cincin kalian sama ?” tanya Onew tiba-tiba. Taemin menghentikkan kegiatan makan siangnya sejenak lalu menatap cincin di jarinya.

“Hanya kebetulan,” potong Sun Yeon tiba-tiba, bahkan sebelum Taemin menjawabnya.

“Cincin yang unik,” Onew tersenyum lebar seraya menatap keduanya. Ia masih saja menatap cincin milik Sun Yeon dan Taemin itu dengan heran. Ia masih bingung bagaimana cara mengetahui cincin Erhys yang asli. Ia tidak tahu bagaimana cara mencari tahu siapa diantara seluruh kandidat yang ada yang merupakan keturunan dunia Swyden ataupun dunia Tyres. Dan ia tidak tahu bagaimana cara mengambil cincin Erhys itu dari para pemiliknya.

***

Kona Beans. Sebuah café yang tidak terlalu besar dan baru saja buka beberapa minggu yang lalu. Hanya terlihat dua pasang laki-laki dan perempuan yang tengah menikmati makanan mereka. Sedangkan Yun Hee –yang memang bekerja disana masih tetap berdiri di belakang kasir, menunggui tamu yang ada di café itu. Ia sebenarnya sangat ingin pulang, jam kerjanya sudah hampir habis tetapi Eun Jung belum datang untuk menggantikannya. Ia harus segera ke panti asuhan di daerah Kangnam untuk membantu salah satu pengurus panti. Tapi sepertinya ia harus terlambat lagi datang kesana.

“Kau tidak pulang ?” tanya seseorang tiba-tiba membuat Yun Hee mengangkat kepalanya. Seulas senyum muncul di bibir gadis itu saat menyadari laki-laki –yang baru saja memanggilnya adalah Key.

“Kibum-ah,” panggilnya pelan. Rasanya cukup canggung memanggil Key tanpa embel-embel –ssi seperti sebelumnya. Namun Key sudah menganggapnya sebagai teman, dan ia akan menganggapnya juga seperti itu.

“Bukannya sekarang jadwalmu pulang ?” tanya Key lagi.

Yun Hee mengerutkan keningnya. Key memang sudah menjadi temannya sekarang, tapi apa laki-laki itu juga mengetahui semua jadwal kerjanya ? Seingatnya, mereka baru saja bertemu tidak kurang dari seminggu yang lalu.

Key yang menyadari perubahan raut wajah Yun Hee segera meralat ucapannya kembali, “Hanya perkiraanku saja. Kau bekerja dari pagi ‘kan ?” tanyanya kemudian tertawa canggung.

“Yun Hee-ssi, annyeong !” pekik Eun Jung tepat setelah membuka pintu café itu.

“Oh, Eun Jung-ssi. Akhirnya kau datang juga,” balas Yun Hee seraya beranjak pergi dari bagian belakang kasir itu menuju ruang ganti.

Key mengusap pelan dadanya. Ia terlalu ceroboh tadi dan membuat Yun Hee sedikit curiga. Semua yang tengah dipikirkan Key pun buyar saat melihat Yun Hee sudah keluar dari ruang ganti, pakaian kerjanya kini sudah berganti menjadi sebuah pakaian non-formal.

“Oh, kau menungguku ?” tanya gadis itu.

“Keurae. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat,” ajak Key, dan dengan tiba-tiba meraih pergelangan tangan gadis itu. Yun Hee tersentak kemudian segera menarik tangannya kembali. Ia merasa pertemanannya dengan Key belum sejauh itu.

“Aaah, kajja,” Yun Hee tersenyum ragu lalu berjalan mendahului Key. Ia berbelok ke jalan sebelah kanan, namun langkahnya kembali terhenti ketika seorang laki-laki sudah berdiri tepat di hadapannya. Yun Hee sedikit mendongak dan hampir saja tersedak saat melihat wajah laki-laki itu.

“Kyuhyun-ssi, annyeong,” Yun Hee membungkuk sopan pada laki-laki –pemilik café tempatnya bekerja itu. Laki-laki yang dipanggil Kyuhyun olehnya itu hanya mengangguk pelan kemudian melewati Yun Hee begitu saja dan memasuki Kona Beans.

“Ya~, kau mau kemana ? Mobilku ada di seberang jalan,” seruan Key membuat Yun Hee kembali berbalik. Ia menggaruk pipinya sekilas kemudian menyusul Key yang sudah terlebih dulu menyeberang jalan.

Tidak ada pembicaraan yang terjadi ketika Key sudah menjalankan mobilnya. Yun Hee hanya menatap keluar jendela dan mencoba tidak membuat kontak mata apapun dengan laki-laki di sebelahnya. Setelah kejadian –memegang tangan tadi, ia merasa sedikit canggung dengan Key. Ia hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.

“Ya. Dimana cincin pemberianku ? Kenapa kau malah pakai cincin kuno itu ?” tanya Key sesaat setelah memperhatikan cincin yang dipakai Yun Hee. Yun Hee memandangi jarinya dan baru sadar bahwa cincin pemberian neneknya itu masih dipakai.

“Aku lupa. Ini cincin dari nenekku, dan entah kenapa aku sedang ingin memakainya hari ini,”

Key menyeringai pelan. Yun Hee memakai cincin Erhys disaat yang tepat. Ia baru saja akan menanyakan Yun Hee tentang cincin Erhys sebenarnya. Tapi sepertinya ia sedang beruntung hari itu. Karena tanpa penyelidikan pun, cincin Erhys sudah datang dengan sendirinya.

***

Pelajaran olahraga baru saja selesai beberapa saat yang lalu. Sun Yeon menutup loker miliknya setelah selesai berganti baju dan segera keluar dari dalam ruang ganti itu. Ia berjalan melewati koridor yang sudah mulai sepi. Biasanya Taemin akan menemaninya pulang ke asrama. Sun Yeon menghela napas panjang ketika menyadari tidak ada kehadiran laki-laki itu di dekatnya.

Sun Yeon menggelengkan kepalanya dengan cepat. Untuk apa ia memikirkan Taemin sekarang. Ia lebih terbiasa pulang sendirian daripada bersama Taemin tentu saja. Ia harusnya sadar Taemin mempunyai kesibukan lain selain hanya menemaninya di sekolah seharian. Langkah Sun Yeon tiba-tiba terhenti ketika melihat seorang laki-laki tengah berdiri di dekat gerbang sekolah. Sambil berjalan mendekat, Sun Yeon masih mencoba mencerna siluet tubuh laki-laki itu.

“Onew-ssi ?” panggilnya setelah cukup dekat, membuat laki-laki itu berbalik ke arahnya.

“Kau sudah selesai ?” tanya Onew polos seraya memamerkan senyum manisnya. Sun Yeon tersenyum simpul kemudian memperhatikan penampilan Onew yang masih memakai seragam lengkap. Seingatnya, kelas Onew tidak ada jadwal tambahan sampai sore. Apa mungkin laki-laki itu menunggunya ?

“Kau tidak menungguku ‘kan ?” tanya Sun Yeon menyelidiki. Onew tampak salah tingkah dengan menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Karena Taemin tidak bisa menemanimu pulang ke asrama, jadi dia menyuruhku untuk menunggumu sampai jam terakhir selesai,” elak Onew. Tentu saja ia berbohong tentang Taemin. Laki-laki yang baru saja dikenalnya beberapa hari itu tidak mungkin langsung menyuruhnya untuk menemani Sun Yeon.

“Ah, baiklah,”

Onew dan Sun Yeon mulai melangkah meninggalkan lingkungan sekolah. Butuh hampir 5 menit untuk sampai di halte bis terdekat yang akan membawa mereka ke asrama Yeongdae. Onew memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari berpikir keras untuk membuka pembicaraan dengan gadis itu untuk 5 menit kedepan.

“Boleh aku jujur ?” tanya Onew akhirnya dan hanya dijawab sebuah gumaman pelan oleh gadis itu.

“Kau cantik,”

Sun Yeon hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri saat mendengar ucapan Onew. Apa laki-laki itu berusaha menggodanya ? Sudah yang kedua kalinya Onew menggodanya seperti itu. Entah apa maksud Onew bersikap seperti itu. Hanya saja, Sun Yeon merasa geli mendengar ucapan orang lain yang menyinggung keadaan fisiknya.

“Berhenti menggodaku, Onew-ssi. Aku tidak tertarik sama sekali,” balasnya acuh.

Tubuh Sun Yeon tiba-tiba saja terpelanting ketika seseorang menabraknya. Ia hampir saja terjatuh jika Onew tidak menahan tubuhnya saat itu. Sun Yeon segera bangkit dan menatap dengan kesal ke arah punggung seorang wanita yang baru saja menabraknya. Ia sepertinya mengenal pemilik tubuh itu. Dan tepat ketika tubuh wanita itu sedikit berbalik, seluruh dunia Sun Yeon seakan runtuh begitu saja.

“Sun Yeon-ah, kau tidak apa-apa ?” tanya Onew saat menyadari tubuh Sun Yeon sedikit limbung. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir Sun Yeon. Onew hanya melihat tatapan gadis di hadapannya itu berubah menjadi kosong. Ia melemparkan tatapannya pada seorang wanita yang menjadi pusat perhatian Sun Yeon saat itu.

“Ahn Yun Hee ?”

***

Melihat keadaan Sun Yeon yang sudah seperti mayat hidup setelah melihat Yun Hee tadi, akhirnya Onew membawa gadis itu ke sebuah taman kota. Ia membiarkan Sun Yeon duduk di salah satu kursi disana, sedangkan ia mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Entah apa yang terjadi diantara Sun Yeon dan Yun Hee sebelumnya. Tapi ia tahu pasti bahwa masalah itu adalah sesuatu yang sangat besar, bahkan sampai membuat Sun Yeon sempat kehilangan kesadarannya beberapa saat.

“Ini,” Onew menyodorkan sekaleng jus buah ke hadapan gadis itu. Sun Yeon mengangkat kepalanya sejenak, ia sempat menatap ragu namun kemudian meraih kaleng itu dengan lemah.

Sun Yeon kembali menegakkan duduknya dan mulai membuka penutup kaleng itu. Namun entah kenapa, semua tenaganya seolah terkuras habis begitu saja. Bukannya membuka penutup kaleng, ia malah menjatuhkan kaleng berisi jus apel itu ke tanah. Ia menghela napas panjang sebelum membungkuk untuk mengambil kembali jus kaleng itu, namun Onew sudah terlebih dulu mencegahnya.

“Jangan diambil. Igeo,” ujar laki-laki itu seraya menyerahkan jus kaleng yang sudah terbuka ke hadapan Sun Yeon.

“Gomawo,” Sun Yeon menerimanya dengan ragu dan kemudian meneguk isinya.

“Apa kau kenal dengan wanita tadi ?” ucapan Onew, membuat Sun Yeon menoleh. Sun Yeon hanya menggumam pelan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Bisa kita pulang ke asrama sekarang ? Aku tidak enak badan,” balasnya mencoba mengalihkan pembicaraan. Tanpa menunggu jawaban laki-laki di sebelahnya, Sun Yeon segera bangkit dari kursi. Tubuhnya sedikit limbung, namun ia berhasil mengendalikannya.

Onew menutup rapat bibirnya untuk tidak bertanya lebih jauh lagi. Ia melangkah menyusul Sun Yeon yang sudah cukup jauh berjalan di depannya. Masalah antara Sun Yeon dan Yun Hee. Entah kenapa ia sangat ingin mengetahuinya lebih jauh lagi. Keduanya mempunyai cincin Erhys, dan entah kenapa ia semakin yakin bahwa salah satu diantara Sun Yeon dan Yun Hee adalah keturunan dunia Swyden ataupun dunia Tyres.

***

Key selalu melebarkan senyum manisnya pada Yun Hee yang kini tengah duduk di sebelahnya. Mereka kini tengah menonton sebuah drama musical. Key hampir saja terbahak karena melihat ekspresi kagum Yun Hee jika saja tidak ingat dimana ia berada sekarang. Ia harus secepat mungkin bertindak untuk melepaskan cincin itu dari jari Yun Hee. Namun ia masih belum tahu bagaimana caranya.

Mungkin tindakannya ini akan sedikit gila. Well, di dalam cerita-cerita yang pernah ia baca sebelumnya, seorang wanita akan diam membatu jika seorang laki-laki menciumnya. Mungkin hal itu akan memberinya kesempatan untuk melepaskan cincin Erhys, disaat pikiran gadis itu berkecamuk dengan apa yang tengah dilakukannya.

Semua lampu tiba-tiba diredupkan karena drama musical itu sudah hampir mencapai klimaksnya. Yun Hee masih saja menatap kagum ke atas panggung dan tidak menyadari bahwa wajah Key sudah mendekat ke arahnya.

“Yun Hee-ya,”

“Sst, aku – hmmph,”

Kedua mata Yun Hee melebar saat sesuatu membungkam mulutnya. Ciuman dari Key itu berhasil membuatnya diam. Suara debuman musik klimaks drama musical itu pun seolah lenyap dari pendengarannya. Dan entah kenapa tubuhnya tidak bisa bekerja sama dengan otaknya untuk segera mendorong tubuh Key menjauh. Ia tetap dalam posisi yang sama selama beberapa saat.

“YA !” setelah mendapatkan kesadarannya kembali, akhirnya Yun Hee mendorong laki-laki itu.

PLAK

“Aku kira kau laki-laki yang baik, Kibum-ssi. Kau. . . sama saja seperti mereka. Brengsek,” Yun Hee beranjak dari kursinya. Berlari keluar dari hall itu dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya. Bahkan ketika sudah keluar dari gedung dimana hall itu berada, ia tetap berlari. Tidak peduli dengan umpatan beberapa orang yang sudah ditabraknya. Dengan cepat ia memberhentikan taksi dan masuk ke dalamnya sebelum Key menyusulnya. Ia benci ketika mendapati kenyataan bahwa laki-laki itu ternyata sama saja dengan laki-laki lain.

Sementara itu Key malah tersenyum puas, semua rencananya berjalan dengan lancar. Ia memandang sebuah benda berkilauan yang sudah berada di genggamannya. Hanya dengan semudah itu bukan mendapatkan satu cincin Erhys ? Ia hanya perlu mencari beberapa cincin Erhys lainnya untuk mencari salah satu yang asli.

***

Sepertinya tenggat waktu waktu yang diberikan terlalu singkat untuknya. Onew tidak bisa berpikir jernih sekarang ketika mendapat berita bahwa Key sudah mendapatkan salah satu cincin Erhys. Dan yang membuatnya semakin panik adalah, cincin itu milik Yun Hee –yang kemungkinan besar pemilik cincin Erhys yang asli. Waktu yang diberikan hanya satu minggu lagi. Mungkin Onew akan bergerak sedikit lebih cepat untuk sekarang.

Onew tengah berada di café tempat Yun Hee bekerja sekarang. Kona Beans. Ia menyesap kopi yang baru saja datang sambil memperhatikan gerak-gerik pemilik café itu. Cho Kyuhyun atau biasa dikenal dengan nama Marcus Cho. Ia baru saja mendepat informasi itu dari Yun Hee sendiri tadi. Laki-laki pemilik café itu tengah melayani para tamunya sendiri, dengan senyuman ramah dan wajah tampannya hampir semua tamu yang datang ke café itu adalah wanita.

“Kau mau pesan apalagi ?” tanya Yun Hee yang kini sudah berdiri di depannya. Onew hanya tersenyum manis kemudian menggeleng pelan.

“Keurae ? Kalau begitu, aku pulang sekarang, Jinki-ssi,” gadis itu membungkuk singkat kemudian berjalan menjauh. Onew kini melemparkan tatapannya pada Kyuhyun, laki-laki itu juga ikut memperhatikan Yun Hee yang sudah melangkah keluar dari café. Sedetik kemudian Kyuhyun beranjak dari belakang kasir dan berlari menyusul gadis itu. Well, Onew sudah bisa menebak bahwa Kyuhyun menyukai Yun Hee.

Onew ikut berlari keluar. Udara dingin langsung menusuk kulitnya saat itu. Ia bisa melihat dengan jelas mobil hitam Kyuhyun mencoba menyamai langkah Yun Hee yang sudah hampir sampai di halte bus. Yun Hee sedikit terlonjak ketika mendapati mobil Kyuhyun berada di sebelahnya. Onew segera berlari menyusulnya dan berdiri tepat di dekat Yun Hee.

“Kenapa kau pulang duluan ?” tanya Onew, membuat Yun Hee sontak menoleh ke arahnya.

“Oh, Jinki-ssi. Aku –,”

“Ayo pulang bersama. Aku bisa mengantarmu ke apartemen,” ujar Kyuhyun memotong ucapan Yun Hee saat itu. Onew sedikit menundukkan kepalanya, menatap Kyuhyun yang berada di dalam mobil. Tatapan Onew beralih pada sebuah benda berkilauan yang tergantung pada kaca spion yang berada di dalam mobil. Cincin Erhys bahkan dijadikan hiasan mobil oleh laki-laki itu.

“Aku boleh ikut ‘kan ?” tanya Onew antusias. Kyuhyun menatap Onew dan Yun Hee bergantian kemudian mengangguk pelan.

“Yun Hee-ssi, ayo naik,” ajak Kyuhyun. Yun Hee sempat terlihat ragu, namun kemudian menaiki mobil itu. Bukan duduk di samping Kyuhyun, melainkan duduk di kursi penumpang belakang. Onew tersenyum puas dan segera mengambil tempat duduk di samping Kyuhyun.

Terdengar helaan napas kecewa dari Kyuhyun. Namun pada akhirnya laki-laki itu menjalankan mobilnya. Dan kali ini tatapan Onew tertuju pada cincin Erhys yang selalu bergoyang-goyang di depan matanya karena mobil yang berguncang. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan Yun Hee tidak melihat ke arah cincin Erhys juga. Ia bisa menghela napas lega ketika melihat Yun Hee hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Sepertinya apa yang dilakukan Key membuat Yun Hee cukup shock.

“Oh aku turun disini saja,” seru Onew tiba-tiba. Kyuhyun malah tersenyum lebar kemudian menepikan mobilnya.

“Terima kasih atas tumpangannya Kyuhyun-ssi,” Onew menoleh ke belakang, “Yun Hee-ssi, aku turun duluan,”

“Ah ahni. Aku juga ikut turun. Apartemenku tidak jauh dari sini,” sahut Yun Hee tiba-tiba.

Onew bergegas keluar dari mobil milik Kyuhyun diikuti Yun Hee. Kyuhyun membuka kaca mobilnya, menundukkan kepala dan menatap Yun Hee yang berdiri di sebelahnya.

“Hati-hati,” Kyuhyun tersenyum menyeringai pada Onew kemudian kembali melajukan mobilnya di jalanan.

Baru saja Onew menoleh ke samping, gadis itu sudah pergi entah kemana. Ia membalikkan tubuhnya, menatap punggung Yun Hee yang sudah cukup jauh. Onew kembali memandang ke depan dan segera menaiki bus untuk pulang ke asrama. Setelah memastikan mendapatkan tempat duduk yang aman, Onew segera merogoh saku celananya. Ia menatap benda melingkar –cincin yang berhasil di dapatkannya dari mobil Kyuhyun. Cincin Erhys. Walaupun sang pemimpin dunianya mengatakan bahwa seorang laki-laki sangat kecil kemungkinannya untuk memiliki cincin Erhys yang asli, ia harus tetap mengambilnya sebagai bahan pertimbangan.

***

Keadaan kelas yang ricuh tetap tidak membuat Sun Yeon tersadar dari lamunannya. Ia hanya memandang kosong keluar jendela, memutar kembali ingatan singkat tentang wajah yang dilihatnya kemarin. Sudah bertahun-tahun ia tidak melihat wajah itu. Dan walaupun kejadian pahit itu sudah bertahun-tahun yang lalu, rasa benci itu belum hilang sampai sekarang.

Suara bel akhirnya membuat Sun Yeon kembali ke alam sadar. Ia memalingkan wajahnya ke arah depan kelas. Sebuah kerutan muncul di keningnya ketika tidak mendapati Taemin duduk disana. Biasanya laki-laki itu akan datang pagi, hampir bersamaan dengannya.

“Ah, molla. Kenapa aku harus peduli ?” gerutu Sun Yeon pada dirinya sendiri. Ia mulai mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya dan memperhatikan langkah guru yang sudah memasuki kelas.

Baiklah. Ada yang berubah pada dirinya akhir-akhir ini. Setelah memakai cincin –yang ditemukannya itu dan mulai berteman dengan Taemin, ia tidak pernah terbangun di tengah malam. Ia tidak pernah tidak tidur sampai pagi lagi. Tidak pernah tertidur lagi di kelas. Dan yang terpenting, ia mulai senang memperhatikan setiap pelajaran di sekolah.

Bahkan karena terlalu asyik memperhatikan pelajaran –yang dulu sangat dibencinya setengah mati itu, tanpa terasa bel istirahat sudah berbunyi. Sun Yeon meringis pelan kemudian membereskan seluruh buku –Matematika miliknya ke dalam tas. Ternyata Taemin benar-benar tidak masuk sekolah hari itu. Dan sepertinya ia harus sendirian berkeliaran di sekolah selama istirahat.

Sun Yeon hanya menyantap makan siangnya dalam diam. Ia duduk sendirian di sebuah meja di kantin, tanpa teman tentu saja. Siapa lagi temannya selain Taemin ? Ah iya, dan Onew tentu saja. Hanya mereka berdua yang mau berteman dengannya.

“Dimana Taemin ?” tanya Onew seraya duduk di hadapan Sun Yeon dengan tiba-tiba. Gadis itu mendongak lalu mengendikkan bahu.

Onew ikut mengendikkan bahu kemudian melahap makan siangnya. Namun belum sempat seluruh makanan itu masuk ke dalam perutnya, obrolan beberapa wanita yang duduk di dekat tempat duduknya saat itu berhasil membuatnya terdiam. Ia menatap Sun Yeon yang sepertinya mendengar ucapan para wanita itu.

“Apa kalian bisa mengulanginya ?” tanya Onew tiba-tiba seraya menoleh ke arah para wanita itu. Ketiga wanita itu menoleh, menatap Sun Yeon sekilas lalu kembali menatap Onew.

“Taemin mengalami kecelakaan bis. Dia dirawat dirumah sakit sekarang,”

“Dimana ?”

“Pyeongchang,”

Onew kembali meluruskan tubuhnya menghadap Sun Yeon. Ia melihat gadis itu menaruh sumpit yang tengah dipegangnya, kemudian beranjak dari sana dengan setengah berlari dan panik tentu saja. Onew melakukan hal yang sama dan segera menyusul Sun Yeon.

***

Sun Yeon segera turun dari bis dengan berlari. Ia memasuki lobby rumah sakit di daerah Pyeongchang itu dengan langkah lebar. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tapi ia merasa sangat panik dan tidak memedulikan keadaan di sekitar saat mendengar Taemin mengalami kecelakaan. Ia sangat mengkhawatirkan laki-laki itu. Mungkin karena Taemin teman terbaik yang dimilikinya saat ini.

“Lee Taemin dimana ?” tanya Sun Yeon pada seorang wanita yang berdiri tepat di belakang meja bertuliskan ‘resepsionis’.

“VIP 213,”

“Kamsahamnida,”

Beberapa pasien yang tengah berjalan di koridor pun memperhatikan bagaimana Sun Yeon berlari disana. Gadis itu berbelok ke sebuah koridor yang diberi tanda ruang rawat VIP, ia mulai memperlambat langkahnya seraya memperhatikan nomor yang tertera di setiap pintu. Setelah menemukan nomor yang dicari, Sun Yeon menarik napas sejenak sebelum membuka pintu dan melangkah masuk ke dalamnya.

Langkah Sun Yeon terhenti tepat setelah membuka pintu kamar rawat Taemin. Laki-laki –yang akan dijenguknya itu kini tengah bersandar pada tempat tidur dan menerima setiap suapan bubur yang disodorkan oleh seorang wanita paruh baya yang duduk di dekat tempat tidur Taemin. Tanpa perlu bertanya pun Sun Yeon tahu wanita itu adalah ibunya Taemin.

“Annyeonghaseyo,” sapanya ramah seraya melangkah masuk.

Taemin tersedak. Ia menatap Sun Yeon yang sudah melangkah masuk ke dalam kamar rawatnya. Apa gadis itu melihat melihat semua yang dilakukannya tadi ? Termasuk saat ia disuapi oleh ibunya ?

“Oh, kau temannya Taemin ?” tanya nyonya Lee ramah. Sun Yeon mengangguk pelan lalu menatap Taemin yang masih berusaha meredakan kerongkongannya sehabis tersedak tadi.

“Eomma, sepertinya masih ada obat yang belum diambil,” sahut Taemin, membuat nyonya Lee menoleh ke arahnya. Wanita itu tersenyum, mengangguk mengerti lalu beranjak dari kursi yang tengah didudukinya saat itu. Bahkan kini anak laki-lakinya sendiri pun, mengusirnya hanya karena seorang gadis. Padahal jelas-jelas semua obat Taemin sudah diambil semua olehnya.

Pintu kamar rawat itu tertutup dan hanya menyisakan Taemin serta Sun Yeon di dalamnya. Sun Yeon berdehem pelan kemudian berdiri di dekat tempat tidur Taemin. Karena terlalu panik tadi, ia tidak tahu harus membuka pembicaraan apa sekarang.

“Apa cukup parah ?” tanya Sun Yeon akhirnya seraya menatap kedua mata Taemin.

“Tidak juga. Hanya retak tulang kaki, memar di bagian belakang kepala, dan luka-luka kecil di tangan karena pecahan kaca,” Taemin melebarkan senyum manisnya, sementara Sun Yeon menganga tidak percaya.

“Hanya ? Itu termasuk sangat parah, Lee Taemin. Retak tulang kaki ?” tanya Sun Yeon tidak percaya. Ia duduk di kursi –tempat nyonya Lee duduk tadi kemudian menggeleng pelan.

“Kau kabur dari sekolah ? Tasmu mana ?” tanya Taemin heran, pandangan laki-laki itu tertuju pada setiap sudut kamar rawatnya. Seingatnya Sun Yeon belum menaruh apapun setelah masuk tadi.

“Ah. . tasku. ..  Mmm, tertinggal di kelas,” Sun Yeon menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap kedua mata Taemin. Sial. Seharusnya ia tidak perlu sepanik itu tadi. Sekarang ia bisa mendengar suara kekehan Taemin. Laki-laki itu pasti menertawakannya.

“Kau pasti sangat panik ‘kan ? Ya~ Kau lari dari ke sekolah karena mendengarku kecelakaan ‘kan ? Park Sun Yeoooon,” goda Taemin seraya mendorong pelan bahu kanan Sun Yeon.

“Tidak ! Aku hanya. .. .,” baiklah. Sun Yeon tidak tahu harus menjawab apa karena kenyataannya memang seperti itu.

Taemin masih saja tertawa sementara Sun Yeon tetap menundukkan kepala dan tidak berani menatap laki-laki itu. Sial. Seluruh rasa percaya dirinya menguap entah kemana sekarang. Saat berada di depan Taemin, otaknya tidak bisa berpikir dengan cepat. Dan sialnya, semua yang ditebak oleh Taemin benar-benar sesuai dengan keadaannya.

***

Onew mendorong tubuh Key hingga tersungkur ke lantai atap asrama Yeongdae. Key mengerang pelan ketika merasakan pusing yang amat sangat menyerang kepalanya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, memerhatikan Onew yang tengah berjalan mendekat ke arahnya. Onew kembali mencengkeram kerah baju Key, ia mengangkat laki-laki itu sehingga berdiri tepat di depannya.

“Apa dunia Tyres mengajarkanmu menjadi laki-laki brengsek seperti itu hah ?!” tanya Onew seraya mendorong tubuh Key kembali.

“Tch, apa pedulimu ? Kau tidak berhak mengatur hidupku, Chase Lee !” seru Key, ia menghilang dari posisinya semula dan muncul tepat di belakang Onew,”Berhenti mencampuri urusanku. Aku punya cara tersendiri untuk mengambil cincin itu,”

Onew dengan cepat berbalik menghadap laki-laki itu, namun Key sudah tidak berada disana. Ia mengumpat dalam hati. Kemampuan Key benar-benar sudah berada jauh diatasnya.

“Berhenti bermain-main, Key. Aku serius,” ancam Onew. Namun bukan Key namanya jika laki-laki itu menyerah begitu saja.

Pikiran Onew tiba-tiba berkecamuk hebat. Ia merasakan tubuhnya menabrak tembok, dan sesaat kemudian Key kembali muncul di hadapannya. Onew tidak bisa melakukan apapun kali ini. Seluruh tubuhnya terkunci. Ia hanya bisa menatap Key yang kini berjongkok tepat di hadapannya.

“Kau yang memulai permainan ini, Onew-ssi. Kau tidak berhak mencampuri urusanku lagi sejak aku keluar dari dunia Swyden,” Key menyeringai pelan kemudian berdiri. Ia membenturkan kepala Onew sekali lagi ke tembok sebelum meninggalkan laki-laki yang lebih tua satu tahun diatasnya itu.

“Ayo bekerja sama,” ucapan Onew menghentikan langkah Key yang bersiap membuka pintu atap asrama Yeongdae. Key menoleh dengan cepat, ia tertawa pelan –lebih mengarah pada meremehkan.

“Bekerja sama ? Kau bercanda ?” tanya Key seraya menurunkan tangannya dari kenop pintu.

Onew menyeka sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah, ia segera berdiri dan berjalan mendekat ke arah laki-laki itu, “Bekerja sama, bukan untukku atau pun dunia Swyden. Ini semua untuk Lucille,”

Sangat terlihat perubahan raut wajah Key saat nama itu terlontar dari bibir Onew. Tatapan dinginnya berubah menjadi sebuah tatapan kosong, pikirannya menerawang kembali semua ingatannya tentang gadis itu.

“Lucille Kim, adik kandungmu,” ucapan Onew kembali menjatuhkan semua lamunan Key. Key menggeleng pelan, ia tidak boleh mengkhianati dunianya sendiri hanya karena ucapan Onew. Ia harus tetap pada pendiriannya untuk tetap setia pada dunia Tyres.

“Tidak. Jangan mempengaruhiku,” tukas Key seraya mengibaskan tangannya.

“Kenapa ? Apa kau rela membiarkannya hancur bersama dunia Swyden nanti ? Kau senang melihatnya menderita ?” tanya Onew dan kembali menggoyahkan pendirian Key.

“Aku akan mengajaknya ke dunia Tyres,”

Sebuah pukulan dengan keras mendarat tepat di pipi kiri Key. Key mengumpat pelan kemudian menatap Onew geram. Laki-laki itu mencoba mencari masalah dengannya lagi ?

“Dia harus melewati beberapa tahap –yang sangat menyakitkan untuk masuk ke dunia Tyres. Kau laki-laki dan dia wanita. Dia bukan kau. Sangat kecil kemungkinannya untuk Lucille bisa masuk ke dunia Tyres,” jelas Onew membuat amarah Key menghilang begitu saja.

Ucapan Onew tidak ada yang salah. Seleksi masuk ke dunia Tyres sangat berbeda dengan dunia Swyden. Ia bahkan sempat hampir putus asa di tengah-tengah seleksi masuk itu karena merasa lelah dengan semuanya. Dan ia tidak mungkin membawa Lucille ke sana. Gadis itu bisa mati.

“Pikirkan semuanya. Aku tahu kau tidak sejahat itu, Key,” Onew menepuk pelan bahu laki-laki berambut hitam legam itu sebelum kembali masuk ke dalam asrama Yeongdae. Key memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Seluruh pikiran tentang Lucille benar-benar membuatnya bingung. Ia tidak bisa mengkhianati dunia Tyres. Namun di sisi lain, ia tidak bisa membiarkan Lucille menderita di dunia Swyden saat kehancuran itu tiba ataupun ketika gadis itu masuk ke dunianya. Dunia hitam.

[The Rings continued]

A/N : Masih pada mau dilanjutin ga ? tadinya aku sempet mikir ga bakal nerusin The Rings karena ga ada waktu banget. . tapi aku usahain buat ngelanjutin buat para readers baik hati yang selalu komen tiap partnya ^^ jadi tolong komen tentang kritik atau sarannya tentang cerita ini, terus lanjut apa ngganya :D makasih banyak ya :)

About these ads

25 Responses to “The Rings [3rd Part]”

  1. baboozubogoshipoe February 27, 2012 at 5:46 pm #

    lnjutannya chingu!!!

  2. Ri-chan February 28, 2012 at 6:14 am #

    Dlnjutin lagi dong thor,..
    Aku padamu dh

  3. hanjia February 28, 2012 at 4:04 pm #

    wah, jadi bingung siapa sih sebenarnya pewaris cincin tsb?
    taemin kenapa bisa kecelakaan?
    kayaknya sunyeon ada rasa nih ma taemin. keke :p
    ada hubungan apa antara sunyeon dan yun hee?
    lanjut lanjut lanjut… :D

  4. fitriashawol March 1, 2012 at 3:43 pm #

    lanjutaannya thorr…segera segeraaa ditunggu!! seruuuu!!!

  5. esthiwicaksanti April 18, 2012 at 1:14 pm #

    ini salah satu ff fantasy terkeren yg pernah aku baca.. secara aku emang penggemar semua yg berbau fantasy

    so, please terusin thor, jangan smpe ff ini berenti ditengah jalan, kalau sampe itu terjadi aku gak akan maafin author (?)

    ini authornya lg ujian ya? kalo gitu gpp rada molor dikit, yg penting segera di post aja ff nya kalo udah gak sibuk

    okeokeoke
    cemungudth ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,309 other followers

%d bloggers like this: