Supernatural: Death Recap 1 B

1 Apr

SUPERNATURAL: DEATH

Title: Supernatural

Author: Chinchi (@Flamc2)

Cast:

Jeon Boram (T-ara)

Lee Jinki (SHINee)

Lee Taemin (SHINee)

Minor Cast:

Im Yoona (SNSD)

Tia Hwang as Tia Im (Chocolat)

Cho Kyuhyun (SUJU)

Choi Minho (SHINee)

Jung Jinyoung (B1A4)

Kim Seulmi (Ulzzang)

Support Cast: will be different.

Genre: AU, Angst, Thriller, a bit romance, horror, mystery.

Rating: PG 17 for safety

Length: Short Story/ chapter??

Previously: Teaser | The Game (Part 1A)|

Backsound:  I suggest you to listen: Avril—Alice in Wonderland

Paramore—Decode

Disclaimer: I own all of the story, some concept is inspired from some movie and anime. Don’t be a plagiator. First don’t bash me cause the casts, I don’t mean to make some casts look EVIL  in here, forgive me!

Happy Reading! BEWARE: THE BAD ENGLISH EVER!

RECAP: 1B

WE ARE TRAPPED IN MURDERLAND

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

They called me Alice, who don’t know where she trapped, and why she never comeback to real world…

                          Because the game, that Time’s Game, it wont let Alice comeback…like stupid peterpan did to Wendy. Like Death never let the prey gone…

# # #

Boram’s POV

Mati, darah, roh, sixth sense? Percaya?

Aku sangat percaya dengan hal-hal itu, karena mungkin aku bagian dari mereka. Kau bingung mengapa aku bisa berasumsi demikian. Karena aku Indigo, anak yang katanya terlahir dengan kemampuan istimewa. Tapi aku berbeda dengan indigo umumnya, aku terlahir untuk menjadi penghubung antara ‘dunia sana’ dengan dunia ini.

Hal ini aku dapatkan semenjak umurku 7 tahun, saat itu akupun sudah merasa bahwa ibuku akan mati, tapi aku tidak berani bilang pada siapapun, karena aku tahu aku akan mengacaukan segala sausana. Ibuku pun nampaknya tahu, karena dialah orang yang tahu pertama kalinya.

Jangan pernah tutupi kemampuanmu, kau istimewa. Biarkan saja dunia yang menjagamu Boram-ah, arrachi?”

Kata itu, sekiranya masih kuingat sampai hari ini. kata-kata terakhir ibuku sebelum menghadap tuhan. Begitu pula dengan Taemin, disanalah pertama kalinya aku bertemu dengan pemuda berambut panjang sebahu itu.

FlashBack

           Aku sedang menunggu ayahku di kursi tunggu, hari itu hujan datang dengan lebat dan hari itu pula aku kehilangan senyumanku untuk selamanya, bersama dengan jasad ibu yang sudah tidak bernyawa di dalam kamar inap yang ia tinggali selama 2 minggu.

           Bagiku, hari itu adalah sejarah tercekam dalam 17 tahun hidupku, saat itulah inderaku kembali terbuka, menampilkan sekelebat bayangan seorang anak muda berumur sekitar 18 dan anak perempuan yang kurasa lebih muda 1 tahun dariku.

         Dalam bayangan itu aku melihat sebuah mobil dan motor nyaris beradu, si pemuda yang mengendarai motor mencoba menghindar bersamaan dengan si mobil. Ia terpental karena menabrak pembatas jalan.

         Darah seketika muncrat dari mulutnya setelah kepalanya dengan keras membentur sebuah pohon, sementara mobil berisi anak perempuan dan ayahnya itu menabrak sebuah halte kosong. Anak perempuan itu nampak terjepit di badan mobil yang ringsek.

         Aku terkesiap dalam dudukku ketika bayangan itu menghilang, dan ayah sudah berada di sebelahku dengan wajah kacaunya yang nampak stress.

         Beberapa menit kami dalam posisi terdiam hingga ia akhirnya bersua, “Kita pulang Boram-ah!”

          Aku turun dari kursi, kalau ayah nampak kacau aku bahkan tidak berekspresi sama sekali, bagiku menangis untuk ibu tidak akan berguna. Toh dia tidak benar-benar meninggalkan kami untuk saat itu, aku masih bisa melihat dia mengikuti kami di belakang.

          Saat sampai di koridor, aku melihat sekelompok perawat dan dokter membawa tiga troli dengan terburu-buru masuk ke dalam unit darurat. Aku menengok ke arah troli terakhir, dan saat itu aku melihat pemuda berambut almond yang tadi tergambar dalam pengelihatanku.

             Mataku mengikuti troli itu sampai pintu ICU, di dalam sana kulihat pemuda tadi sedang berdiri memandangi trolinya masuk. Wajahnya yang pucat menengok ke arahku, ia tersenyum dan menghilang.

          “Kita akan bertemu lagi Jeon Boram.”

         Angin berhembus saat bisikan itu datang, dan aku tahu kami terikat oleh takdir bahkan hingga mati nanti. Aku dan pemuda bernama Lee Taemin itu adalah satu.

END FLASHBACK

“Eonni, kenapa melamun?”

Aku kaget mendengar suara Tia yang tiba-tiba ada di sampingku, ia menatapku dengan tatapan memohon maaf. Sadar kalau dia mengagetkanku dengan suksesnya.

“Aniyo, hanya memikirkan sesuatu.” Kataku, mengambil bantal di samping sofa membawanya dalam dekapanku. “Mengapa kau belum tidur, eoh?”

“Aku, tidak bisa eonni. Melihat mayat Sunny eonni tadi, aku terus terbawa mimpi. Eonni sendiri kenapa tidak tidur?” sesuai dugaanku, daya ingat gadis ini sangat kuat.

“Aku belum mengantuk, lagipula besok sekolah diliburkan karena insiden tadi siang.”

“Ne,” aku melirik Tia yang menampilkan segurat kesedihan. Ada apa dengan anak ini?

“Kau kenapa?” tanyaku, usil melemparnya dengan bantal yang tadi kupeluk. “Ih, eonni. Gwenchana hanya berpikir mengenai beberapa hal.”

“Hell Gate, ya?” terkaku asal. Dia agak terkejut dengan tebakanku, terlihat jelas dari wajah blasterannya yang menegang. “Uhm, darimana eonni tahu?”

“Jujur, aku sangat penasaran dengan situs itu. Apa kau tahu sesuatu?” tanyaku sambil menarik kursi rodanya agar lebih dekat denganku. “Itu, aku tidak terlalu tahu banyak. Tapi—Yoona eonni dan Seulmi eonni selalu melakukan ritual di kelasnya setiap hari kamis saat istirahat kedua—“

“Ritual?” Tia mengangguk.

“—anak-anak di kelas eonni banyak yang menggunakan situs Hell gate untuk mencapai harapan mereka. Padahal situs itu adalah situs yang menuntut pengorbanan nyawa sebagai jaminan. Ibarat kata, bila kau meminta apapun pada Hell Gate kau harus mengorbankan apapun dan siapapun yang kau miliki sebagai imbalan.” Tia semakin mengkerut dalam kursi rodanya, aku tahu ia sangat tidak suka dengan situs itu.

“Dan, Yoona sudah menggunakan situs itu?”

“ Ne, itulah yang membuatku khawatir. Aku takut terjadi sesuatu dengan Yoona eonni, apalagi dengan kematian Sunny eonni. Mungkin saja setelah ini masih banyak korban yang berjatuhan, hiks!” aku memandang iba Tia, ini pertama kalinya aku kembali berekspresi pada orang lain. Namun, aku rasa aku sudah menyayangi Tia sebagai adikku.

“Sudahlah, tidak akan terjadi apa-apa dengan Yoona.” Karena aku akan mencoba mengakhiri lingkaran setan ini.

“Kau sudah menyayangi Tia rupanya, syukurlah!” Taemin entah darimana, tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Tia dengan tangannya bersembunyi di balik saku celana hitamnya.

“Memang kenapa? Kau khawatir aku tidak menjaganya dengan baik? Tenang saja Taemin ahjussi!” ledekku.

“Mwoya! AHJUSSI!” Mata Taemin melotot dengan garangnya, dan aku untuk pertama kalinya kembali tertawa. “Eonni, kau—tertawa?”

Aku memandang Tia dingin, “tidak, lupakan saja!”

Setidaknya aku tidak sendiri, masih banyak orang yang membutuhkanku untuk mengakhiri semua ini. satu-satunya tempat kau dapat meminta adalah Tuhan, dan tempat kau akan kembalipun Tuhan, bukan Iblis.

# # #

Keesokan harinya sekolah diliburkan dan seluruh murid wajib mengikuti pemakaman Sunny. Selaku anak penggalang dana terbesar dalam sekolahan ini, gadis itu dianggap asset yang penting bagi semua pihak. Naas, asset yang dimaksud adalah objek pemanfaatan.

Aku keluar dari kamar mandi dengan tshirt yang ditutupi cardigan berwarna hitam dan celana jeans serta sneakers hitam, sementara Tia dengan dress hitamnya siap menghadiri upacara pemakaman itu.

Makam Sunny berada di Chungwan’s Graveyard beradius 500 meter dari sekolah. Aku dan Tia memutuskan naik taxi karena tidak mungkin dengan keadaan Tia yang seperti ini aku memaksanya naik bus.

Ketika tiba di sana sudah banyak siswa yang sampai, aku dan Tia berhenti di bawah sebuah pohon oak dan menunggu sampai pemakaman selesai. Hampir seluruh siswa di Chungwan memasang muka poker face mereka, padahal dalam hati tak jarang mereka bersorak atau bahkan merutuki kenapa harus datang kepemakaman yang bagi mereka tak penting ini.

Hanya ada dua orang yang tidak bisa kubaca, Tia dan Krystal yang berada tak jauh dari kerumunan. Mereka bukan mempunyai kekuatan yang istimewa, tetapi karena mereka tidak memasang poker face, dan yang ada dihati mereka hanyalah. Ketakutan.

Mereka takut dengan apa itu kematian, setelah melihat apa yang terjadi dengan Sunny kemarin siang. Begitu banyak pikiran sampai aku tidak ingin membaca pikiran mereka lagi. Ini saja baru satu kasus, apalagi nanti ketika Hell Death aktif. Apa mereka akan menjadi gila dalam sekejap?

“Hey, aku mendengar salah satu pikiran berbeda di sini!” tegur Taemin melalui telepati kami. Dia berada di samping Krystal, tatapan tajamnya mengarah padaku.

“Aku tahu, Lee Jinki’kan? Pemuda itu sepupu Sunny, jelas saja kalau pikirannya tidak sama dengan mereka semua!”

“Kalau itu akupun tahu, coba kau lihat pemuda berhoodie hitam putih dibarisan paling belakang.” Dugaan Taemin memang benar. Pemuda itu, berapa kali dia menggunakan Hell Gate, auranya kelam sekali.

“Dia Cho Kyuhyun anak kelas 2 C, berbeda dengan Sunny.”

“Dia mantan pacarnya Sunny, dan dia dendam pada Sunny karena mencampakkannya!” jawab Taemin.

Dalam pikiran Cho Kyuhyun dia memaki dengan sumpah serapah kepada mayat Sunny yang sudah hampir terkubur sempurna itu, segala cacian dan makian. Mungkinkah, dia yang membunuhnya?

“Mungkin dia yang membunuhnya?” kata Taemin, satu pikiran denganku.

“I guess, may be. Tapi kalau hanya dari pikiran,  kita tidak bisa menyimpulkan seenaknya, setidaknya kita cari bukti yang menguatkan dia tersangkanya.” Saranku, mengendikkan bahuku sedikit. “So, darimana mau kau mulai mencari bukti?”

“Mr. Lee, kaukan yang menyuruhku untuk mengaktifkan gamenya? Tentu saja dengan itu penyelidikkan lebih mudah, kalau perlu kita buat satu persatu dari mereka membuka mulut mereka sendiri.” Aku tidak tahu juga akankah ini berhasil atau tidak, namun aku harap dengan sadarnya mereka dengan kesalahan yang mereka lakukan dapat sedikit membantuku.

“Yang sekarang harus kita lakukan adalah, mencari tahu bagaimana mengaktifkan Hell Death.” Taemin mendongak ke atas langit, nampak mega mendung membentang seolah bersedih dengan apa yang terjadi hari ini. “Kurasa tidak perlu nona Boram!”

Mataku memandang dingin pada Taemin, rambutku terbang oleh angin barat yang terasa menusuk ke tulang. “Just relax okay, I’m sure that culprit will show it face soon. But, I have a plan for to do?”

“What is it? Make its mission failed?”

“You’re pretty smart, it’s nice plan. Make its mission to kill someone failed, tonight I’m sure it will come to kill other. The next prey is—“

# # #

Bayangan yang terpantul di cermin itu nampak mengerikan, dan itu bayangan wajahku yang marah. Wajah ini sudah sedari tadi terpahat sekembalinya aku dan Tia dari makam Sunny, dan semenjak dengan bodohnya aku menyetujui rencana Taemin.

Malam ini, akan ada korban baru—kemungkinan. Karena dewan kematian sendiri belum mengetahui pasti siapa target selanjutnya. Bodoh bukan, aku berhenti di depan kelas 3.D. Ini kelas pemuda itu, si the next target–Jang Wooyoung, pemuda yang berada satu tingkat di atasku.

Terlalu muda untuk mati. Taemin di sampingku, menghilang dan muncul entah kemana seperti hantu jangan lupa, dia memang hantu. Aku mendesah keras, jaket hitam ini membuatku ke panasan dan lagi sudah tengah malam, rasanya mataku berat.

“Jangan mengeluh terus, pekerjaanmu saja belum selesai kau dengan bodohnya mengeluh karena kantuk? Indigo macam apa kau?”

Aku tidak menjawab dan hanya mendelik kesal pada Taemin. “Ini, pakai!” pemuda di depanku ini melemparkan sebuah topeng hitam padaku, hah! Lucu sekali dia, di saat seperti ini malah memberikanku topeng, ia pikir kami akan pergi ke pesta?

“Pakai saja topeng itu, selama kau belum mati, Identitasmu di pastikan harus dirahasiakan dari orang-orang, karena kami tahu hal ini akan mengundang banyak masalah untukmu!” Taemin berkata sambil menyandarkan tubuh jangkungnya pada tembok. Pemuda yang seharusnya berumur 28 tahun ini, menyebalkan sekali gelagatnya! Don’t say he got PMSing period.

“Sudah seperti pahlawan saja menutupi identitasnya, lagi pula makhluk-makhluk dunia bawah itu bisa apa?” ujarku sengak.

“Ya! Bocah, sudah diam!” tuhkan, akhir-akhir ini ia sensitif sekali padaku.

Aku segera menutupi wajahku dengan topeng itu, ketika dirasa ada sesuatu yang aneh. Jang Wooyoung, pemuda itu dalam bahaya!

# # #

Author’s POV

Nafas pemuda itu sudah terengah-engah akibat berlari, ia mengumpat keras ketika di lihatnya hanya sebuah tembok yang menjadi penghalang jalan terakhirnya untuk lari dari psikopat bertopeng Jigsaw itu.

Wooyoung frustasi, siapa orang bodoh yang berani mengirim iblis itu untuk menjemput nyawanya? Edan, apakah ini karena ia tak pernah mau melakukan what-so-they-called-ritual?

Pemuda itu, adalah target selanjutnya setelah penyerangan yang terjadi pada Sunny 2 hari lalu, karena bingung harus apa Wooyoung memilih keluar dari jalan itu dan menempuh jalan lain. Sekiranya dorm mungkin akan menjadi tempat yang aman untuknya, namun ketika hendak berbalik seseorang memukul kepalanya dengan benda tumpul and he faint in front of the death.

Boram dan Taemin yang sudah merasakan adanya kejanggalan segera berlari menuju tempat kejadian. Tetapi, yang mereka temukan, hanya sebuah bercak darah yang nampak terseret di lantai marmer.

“Apakah kita terlambat?” Boram bertanya dengan nada kesal. Ia menggeram pada Taemin.

“Belum, aku masih bisa merasakan jantung anak itu di sekitar sini. Kurasa pelakunya belum jauh!” mereka kembali berlari, kali ini mengikuti jejak darah yang terseret itu. Namun tidak mengetahui kamuflase apa di balik darah itu.

# # #

“Arrrghh, dimana ini? Ya! Kenapa tanganku diikat! Hey, siapapun JAWAB!!!” teriakan Wooyoung sekiranya mampu bergema  dalam ruangan itu, tidak mengherankan. Siapa yang tidak panik menemukan dirimu terikat di dalam ruangan berpenerangan redup bahkan darah mengucur deras dari luka pada tempurungmu yang menganga?

“Ya!!!  LEPASKAN AKU IBLIS BIADAB!!!! DASAR KALIAN GILA!!”

“Khukhukhu…tenang Wooyoung-ssi saatnya sudah tiba!” Wooyoung terkejut mendengar suara anak gadis kecil menyahutinya, dan lebih terkejut lagi ketika menemukan sosok itu bertubuh tinggi layaknya seorang pria pegulat.

“Siapa kau?” teriak Wooyoung. “Aku? Dewa kematianmu. Ternyata wajahmu sangat tampan ya, namun sayang ini hari terakhirmu dapat  berkaca pada cermin. Maka dari itu, aku membawakan cermin untukmu, hihi!” orang itu menunjukkan sebuah cermin dari balik punggungnya, kemudian dengan cepat menghantamkan cermin itu ke tembok hingga hancur berkeping-keping.

[PRAAANGG]

“Yah, cerminnya pecah. Bagaimana ini Wooyoung-ssi, aku tidak punya cermin lagi?” katanya dengan nada sedih.

“Cih, heh iblis! Lepaskan aku sekarang juga! Dasar biadab, aku tidak akan sudi bercermin dari cermin yang kau berikan! DASAR GILA! YOU BITCH!!!” Wooyoung menendang keras kursi di depannya hingga terjatuh. Ia mendesis.

“Uhh, nampaknya mulut itu harus diajari ya? Kau tidak boleh begitu pada anak kecil Wooyoung-ssi, sayang sekali wajah tampan tetapi bicaramu seperti itu. Bagaimana kalau kita perbaiki saja bentuk wajah dan bibirmu—menjadi bentuk yang sesungguhnya? HAHAHAHAHA!” orang itu tertawa keras sambil bertepung tangan layaknya orang gila.

Dan Wooyoung sadar, ia tidak mungkin selamat dari kematian. “BUNUH AKU! LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA MELIHATMU. DASAR IBLIS BUSUK!!!!”

“Uhh, really? If you say so I will granted your wish Wooyoung-ssi. Khukhukhu!”

Orang itu mengambil serpihan cermin yang tadi dipecahkannya, kemudian secara perlahan dan melingkar ia goreskan pada pipi kiri Wooyoung. “AAARRRRRGGGHHHHHHH!!!!”

“Sabar Wooyoung-ssi, ini hanya sakit sedikit kok. Hihi, wajahmu pasti akan semakin tampan dengan sedikit riasan sebelum kau menikah dengan sang KEMATIAN!! Hahahaha!!!” ujarnya dengan penekanan pada kata kematian.

Tangan orang itu berangsur mendekati bibir Wooyoung, dan dengan sekali tarik ia merobek kedua pinggiran bibir Wooyoung hingga bibir itu sobek dengan lebar, menampilkan gusi dan gigi-gigi putih sang korban. “AAARRRRRGGGGHHHHHHH!!!!!!!!!”

“Sekarang bibir ini pasti lebih sopan dalam berbicara, iyakan Wooyoung-ssi!!” Wooyoung hanya mampu berteriak-teriak menahan sakit, beserta darah yang tiada henti terus mengalir dari luka-luka di wajahnya yang menganga lebar itu.

Boram dan Taemin berhenti di sebuah ruangan, keduanya tak mendengar apapun dari luar. Apakah mereka sudah terlambat? Pikir Boram. Kemudian, pemuda di sampingnya memberikan sebuah anggukan sebagai tanda mereka harus masuk dalam ruangan itu.

Pintu ruangan itu berderit nyaring ketika tangan Boram mendorong knopnya untuk membuka pintu, keduanya masuk dalam ruangan itu. Dan tidak menemukkan apapun kecuali sebuah tivi di tengah ruangan yang diterangi oleh sebuah lampu yang hampir meredup.

“Shit! Kita dijebak!” umpat Taemin keras.

yBoram menendang udara kosong, ia marah. Kenapa tidak pernah mempercayai penglihatannya sendiri! “Jadi kau sudah tahu ini akan terjadi, dan bodohnya tidak menceritakan padaku?”

Taemin memandang tajam wajah Boram, ia kelihatan marah pada gadis itu. “Penglihatan yang kulihat samar-samar, aku tidak tahu kalau yang dimaksud akan seperti ini, kau tidak bisa menjudgeku!” sahut Boram naik pitam.

“ Hello para indigo kematianku sayang!” mereka berdua tersentak ketika tivi di depan mereka menyala dan menampilkan sesosok gadis sedang dududk di sebuah kursi namun penerangan yang nampaknya sengaja digelapkan membuat Boram dan Taemin tak dapat melihat sosok itu dengan jelas.

“Siapa kau sebenarnya?!” Boram mengepalkan tangannya keras-keras.

“Yeoja kecil, kau tidak sabaran sekali ya? Tentu saja, aku Hell Girl. Yang bertugas mengabulkan harapan semua anak-anak remaja yang kehilangan arah dan sendirian.” Katanya santai.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, huh? Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan dapat mengganggu keseimbangan antara dunia manusia dengan dunia sana!” Taemin menyahut tak kalah keras.

“HAHAHAHAHA!!! Justru kalian yang menggangguku, kalian mencampuri urusanku! Lebih baik kalian berhenti mengacaukan rencanaku kalau tidak mau berakhir sama seperti yang lain!” nada bicara gadis di depan tivi itu sudah mulai mengancam.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan!”

“Aku hanya ingin bermain! Hahaha!”

“Kau gila! Yang seharusnya mati kau! Kau sudah melanggar aturan dunia bawah hai Iblis!” bentak Taemin.

“Hahahaha, lalu? Kau mau menghukumku begitu?”

“Makhluk sepertimu harus dilenyapkan!”

“Taemin, dia manusia!”

Seketika wajah Taemin berubah pucat pasih, “maksudmu?”

“Dia sama seperti kita, indigo!”

Taemin menoleh pada tivi itu, dan mendengar suara tawa keras dari sana. “Yeah, kita memang sama. Apa kau terkejut, Taemin-ssi?”

“Sebenarnya kau siapa? Dan apa tujuanmu membuat kekacauan seperti ini?”

“Kita indigo, di bedakan berdasarkan aliran.Dan aliranku adalah, dunia bawah. Mengerti maksudku?” gadis itu memutar  kursinya.

“Apa maksudmu berdasarkan aliran?”

“Uhh, ternyata berbicara dengan kalian lebih menyusahkan ya? Karena kalian sudah menentangku, bagaimana kalau kita bertemu di Hell Death, kurasa banyak darah akan jauh lebih menyenangkan daripada melihat kalian dari ruangan sesak ini. See you lady and gentleman!”

Dan saluran itupun mati. Bersamaan dengan ditancapkannya sebilah pisau ke jantung Wooyoung dan dengan tak berperikemanusiaan di tarik keluar melalui rongga rusuknya.

“Kita, terlambat…” lirih Boram. Tubuh Taemin merosot ke lantai sementara Boram menangis dalam diam.

# # #

Ruang kelas pagi itu kembali sepi, ini karena kembali terjadi pembunuhan di sekolah itu. Tentu saja Boram tak ingin melihat seperti apa bentuk mayat Wooyoung, namun dari cerita yang didengarnya dari beberapa anak yang berlalu lalang. Wajah Wooyoung sudah tidak nampak dikenali lagi karena hancur, sementara jantungnya sudah tidak berada di tempatnya semula.

Krystal tiba-tiba menerobos masuk ke kelas, Boram melihat keadaannya sudah kacau. Wajahnya merah dan matanya sembab, dan kacamata itu sudah tidak pada tempatnya. “Kenapa?” kata Krystal memandang Boram.

“Kenapa harus Wooyoung oppa? WAEYO BORAM-SSI? WAEYO?!!” teriaknya. Boram terkejut, namun ia masih dapat mengendalikan dirinya.

Krystal dan Wooyoung adalah sepasang saudara, hanya saja saudara angkat. Dan Boram tahu Krystal mencintai Wooyoung lebih dari seorang adik pada kakaknya. Boram memandang kosong pada Krystal yang kini terduduk di lantai.

‘Hidup itu memang tidak adil. Dan kau tahu itukan Taemin-ah?’

                    “Aku…..tidak tahu.” Bisik Boram pelan.

Sebenarnya, Wooyoung masih ada di sini. Ia sedang mendekap Krystal, tapi ia sadar Krystal tidak akan merasakan apapun dari tubuhnya yang kini transparan itu. “Sudah Krystal-ah, semua sudah terjadi. Relakan aku, please!” isaknya.

“Jang Wooyoung. Waktumu sudah tiba.” Wooyoung  mendongak, menemukan seorang pria berpakaian serba hitam sedang mengulurkan tangannya. “Kau—siapa?” tanya Wooyoung. “Kau beruntung, jiwamu berhasil selamat dari neraka. Dan waktumu untuk pergi ke dunia sana telah tiba.”

Wooyoung menatap Krystal untuk terakhir kalinya, sebelum ia berdiri dan mengikuti langkah pria itu. Taemin.

‘Aku tak ingin kau menangis karenaku Krystal. Dan jangan pernah..

Aku bukanlah kakak yang baik untukmu, dan aku ingin kau tahu. Aku mencintaimu lebih dari yang kau sadari selama ini, bukan kakak pada adiknya, tetapi pria pada wanita yang dijaganya. Aku yakin, diluar sana ada seorang namja yang merupakan takdirmu. Kejarlah harapanmu, larilah menuju masa depan jangan pernah memandang lagi ke belakang. Biarkan aku menjadi serpihan masa lalumu.. Wooyoung yang pernah menjaga dan mencintaimu..’

                 Boram berdiri dari duduknya, menghampiri Krystal yang masih terisak . “Hapus air matamu Krystal, Wooyoung tidak akan suka kau menangis. Dia ingin kau tersenyum dan terus mengejar harapanmu. Karena dia juga mencintaimu, sama seperti kau yang mencintainya.” Gadis itu berdiri, dan meninggalkan Krystal yang semakin terisak dalam tangisnya.

I realized, I should finish this. Don’t let anyone fell missing for someone they love again… and Alice try to out from murderland.

Hari itu juga murid-murid Chungwan di kirim kembali ke rumah mereka untuk 3 hari ke depan sampai penyelidikkan pembunuhan selesai.

# # #

Boram’s POV

Aku dan Tia menunggu ayahku di depan halte dekat persimpangan sekolah. Sekolah, terpaksa diliburkan selama 3 hari guna mempermudah penyelidikkan dan menghindari kembali terjadinya korban. Tapi, semua tidak akan seperti yang mereka kira.

Klakson mobil membuyarkan pikiranku, itu ayahku. Ia keluar dari mobilnya, mencium keningku dan Tia secara bergantian. “Boram-ah, Tia-ya. Kalian baik-baik sajakan?” katanya cemas.

“Gwenchana appa, ayo lebih baik kita pulang. Aku agak kurang sehat, appa!” ajak Tia. Ayah segera menggendong Tia dan aku memasukkan kursi roda Tia ke dalam bagasi mobil bersama koper kami. Mobil itu kembali melaju di jalan, tanpa ada satupun dari kami berbicara. Karena jujur aku masih kesal dengan ayah yang seolah pilih kasih. Dan aku sadar, aku tidak akan bisa bersikap seperti dulu pada ayah. Waktunya aku mandiri tanpa siapapun.

>FLASHBACK<

Aku menatap tanpa ekspresi pada ayah dan wanita yang harus aku panggil ‘eomma’ itu. Mereka bahkan lupa dengan keberadaanku di sana dan terus saja saling bermesraan. Ayah seolah lupa kalau ini hari ulang tahunku, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ia hanya pura-pura.

                     Tetapi, itu tidak terbukti. Ketika malam menjelang, ayah dan wanita itu nampak rapih dalam balutan busana formal mereka. “Appa mau kemana?” tanyaku dingin.

                    “Kami ingin pergi ke pertunangan chingu appa-mu Boram-ah!” cih, mengapa malah wanita itu yang menyahut. “Aku tidak bertanya padamu!” wanita itu segera merubah raut wajahnya. “Jeon Boram! Kau tidak boleh begitu pada eomma-mu!” bentak ayah. Semenjak menikah dengan wanita itu, ayah bahkan selalu membentakku.

                   “Apa appa lupa hari apa ini?” tanyaku sinis.

                   “Tentu saja hari selasa, memang apa lagi?”

                     “Lebih tepatnya ini hari ulang tahunku. Bahkan tak ada satupun dari kalian yang ingat! Sebenarnya aku ini anakmu bukan appa?” aku segera berlari memasuki kamar tanpa memperdulikan ayah dan wanita itu yang mulai berteriak memanggil namaku.

                   Kupikir mereka akan membatalkan kepergian mereka, nyatanya mereka tetap pergi ke acara itu. See, aku memang bukan siapa-siapa selain spoiled girl bagi mereka.

-FLASHBACK END-

Aku keluar dari mobil begitu kami sampai, rumah ini masih sama sekiranya. Kupikir si Yoona itu akan segera mengacaukan rumah ini begitu aku keluar dari rumah ini. “Boram-ah, ayo masuk!” ajak ayah, senyuman itu tersemat lebar di wajahnya. Namun, aku hanya memandang datar pada pria itu.

“Berhentilah bersikap seperti itu Boram-ah!” katanya, aku menghentikan langkahku tidak berani menatapnya yang berdiri dengan Tia di belakangku. “Ini memang diriku dan aku tidak akan merubah apapun.” Gumamku. Masih cukup untuk mereka dengarkan. “Oh ya, mulai sekarang penthouse di lantai 3 akan menjadi kamarku. Kuharap kali ini tidak ada yang merebut!” tambahku sinis. Aku benci rumah ini, dan aku benci takdirku.

# # #

Aku merebahkan diri di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang hanyalah kaca tembus pandang dengan berlatarkan langit jingga yang kelabu. Meskipun kamar ini 2 kali lebih luas dari kamarku, tetapi yang aku sesalkan adalah banyaknya kenangan dalam kamar itu. Tentunya bersama ibu kandungku.

“Kau masih marah?” tanyaku, tentu saja pada Taemin yang sejak kemarin menghilang dan baru muncul sekarang. “Marah? Mengapa aku harus marah dan pada siapa?”

“Tentu saja aku, karena kegagalan kita.”

“Dalam hidup semuanya selalu bergulir, dan takdirpun termasuk dalam hal itu. Aku tidak akan mungkin marah padamu, bagaimanapun kau manusia biasa namun setidaknya dengan begini kita tidak perlu repot-repot mengaktifkan Hell Death, yeoja itu sendiri yang akan melakukannnya.” Suara Taemin datar sama seperti raut wajahnya.

Yah, dia benar. Sebesar apapun aku berusaha tetaplah ada batasan dalam diriku. Namun, aku tetaplah merasa bersalah dengan kematian Wooyoung, seseorang yang juga sangatlah berarti bagi Krystal. Dan seseorang yang terpaksa harus menjadi korban dalam lingkaran setan ini.

Missing someone is a bad thing we should experience, even we have special power. When it come to fate, we can’t do anything except keep silent and see..waiting for our fate bring the same..

“Aku—aku tidak tahu. Apa yang harus aku lakukan.”

Walau tidak melihatnya aku tahu Taemin menoleh dan tengah menatapku sekarang. “Maksudmu?”

“Apapun yang aku lakukan tidak pernah bisa menyelamatkan siapapun, walaupun aku tahu mereka akan pergi!” aku benci menampilkan sosokku yang ini, air mata ini—kenapa tidak mau berhenti mengalir, sih?

“—aku tidak bisa menyelamatkan eommaku walaupun aku tahu dia akan mati. Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan yeoja dan namja Wooyoung itu—aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar, kalau begitu untuk apa kekuatan ini? Ini hanya kutukan dan yang bisa kulakukan hanya—melihat, ini bodoh! Aku ingin mati saja, AKU MUAK DENGAN SEMUA INI LEE TAEMIN!!!!”

“STOP IT JEON BORAM!!! I SAY STOP IT, YOU JUST HURT YOURSELF!!!” Taemin mengguncang dengan keras kedua bahuku, mata coklatnya berair—menangis.

“Tidak ada kutukan dalam kekuatan itu, tidak ada hal seperti itu. Apa yang terjadi murni bukan salahmu—ini takdir, dan kalau ada yang patut disalahkan adalah sekelompok remaja bodoh itu beserta yeoja gila yang mengomandoi mereka melalui Hell Gate, kau tidak salah! Kau dengar?! THIS ISN’T YOUR FAULT!” tekannya sekali lagi.

“Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang menerima kekuatan ini? MENGAPA HARUS AKU YANG MELIHAT SEMUA KEMATIAN ITU?  BAHKAN AKU MELIHAT KEMATIANMU!!! WAEYO~!!” kali ini aku meraung dalam tangisku, aku tahu aku gila. Tapi salahkah? Aku juga manusia biasa yang mempunyai hati, walaupun hatiku sudah lama mati.

“Dengarkan aku Jeon Boram, ini takdir. Ini tidak seburuk yang kau pikirkan, aku tahu kau sakit dengan semua kegilaan ini tapi dengarkan aku, kau tidak pernah sendirian—ada aku dan Tia, aku adalah partnermu, ingat? Aku akan selalu di sini sampai kapanpun!” dia merengkuhku dalam pelukannya, meski suhu tubuhnya dingin sekali namun aku dapat merasakan cinta yang ia berikan.

Malam itu, aku menghabiskannya dengan terisak dalam pelukan Taemin. Melepaskan semua kepenatan yang aku rasakan, tetapi masih ada bagian diriku yang belum kutunjukkan pada siapapun termasuk lelaki ini. Sesuatu yang sangat aku benci dari diriku, dan aku tahu dia marah dengan penolakan sepihak olehku.

# # #

Author’s  POV

               Malam menjelang sangat cepat dan Boram terbangun dari tidurnya ketika jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Taemin sudah tidak ada di sana lagi, mungkin lelaki itu pergi ketika Boram sudah tertidur.

Kamar gadis itu gelap dan beberapa jendela terbuka, angin dari pegunungan Jinhwa masuk melalui sela-sela tirai dan membuat kamar itu semakin berhawa dingin. Tiba-tiba tenggorokan gadis itu terasa kering dan ia memutuskan untuk turun ke bawah mengambil segelas air.

Boram menggumam kesal dalam perjalanannya, pasalnya jarak kamarnya dengan dapur terbilang jauh, apalagi kamarnya sekarang ada di lantai 3. Ia benci harus naik  turun. Ketika sampai di lantai 2 Boram melihat kamarnya—tidak kamar Yoona dengan lampu masih menyala, karena penasaran dengan langkah kecil ia mendekati pintu itu kamar itu dengan perlahan.

Samar-samar sebuah percakapan tertangkap oleh Boram, ternyata Seulmi pun menginap di sini. “APA!!!! Aku tidak mau ikut dalam permainan gila itu, aku tidak mau masuk dalam Hell Death?!” sentak Yoona dengan panik.

“Percuma saja, karena ketika kita masuk 3 hari lagi maka permainan itu akan di mulai. Kalau kau tidak mau ikut, itu artinya kau akan mati!” ujar Seulmi memperingatkan.

“Lalu kita harus bagaimana, aku tidak mau mati seperti Sunny ataupun Wooyoung!!”

Boram menyeringai, dia pikir mungkin game ini bisa memberikan Yoona sedikit pelajaran untuk tidak merebut apa yang bukan menjadi miliknya. “Mau tidak mau kau pun akan mati Im Yoona, hahahah.” Tawanya kecil.

Kemudian gadis itu berlalu dengan wajah yang sulit diartikan.

# # #

Sooner or later is same for me…

                      I couldn’t resist my fate and I couldn’t run from my death.

 Because I’m Alice… who trapped in wonderland with ‘them’

 

TO BE CONTINUE

Tidak bisa berbasa basi dulu, mohon maaf bila ada kesalahan tidak bermaksud untuk menistakan tokoh. RCL please.. ^_^ annyeong…

 

 

 

26 Responses to “Supernatural: Death Recap 1 B”

  1. aliyar19 April 3, 2012 at 9:03 pm #

    bikin deg-degan sumpah! tapi keren seperti biasa dan aku suka, banget!!!!!! aku masih bingung bedanya hell gate sama hell death apaan! jelasin dong thor…. ditunggu kelanjutannyaaaaaaa…

    • terastory April 5, 2012 at 12:29 pm #

      mianhe chingu, aku baru nongol. makasih udah baca dan komen. seneng kalo kamu suka, oh ya soal bedanya hell gate itu kalo hell gate itu situsnya sementara hell death itu game dari hell gate jadi siapapun yang main itu gak akan bisa mundur kecuali kalo mau nyawa mereka melayang dan yang udah pernah pake hell gate itu wajib ikut game itu tiap hell death diadain bgitu.. komawo ^^

  2. terastory April 5, 2012 at 1:20 pm #

    mian ya chingu aku belum bisa bales komen kalian satu2, iya aku sibuk sama sekolahku mian kalau lama banget. terus, aku seneng banget ada yang masih mau bacaa dan komen ff gaje ini. sekali lagi komawo!! aku akan coba update cepet cuma tahu sendiri jadi author kadang ada aja godaannya terutama males hehe mian ya kalo kepanjangan juga *curcol*
    oke see you next part!!!

  3. aira park April 5, 2012 at 5:28 pm #

    waw . bikin deg degan banget …
    kasian kalo jadi boram , ketakutan gitu ..

    krystal ama tia knapa takut ?
    mereka kn ga ikut game itu ?

    penasaran nih ..
    ditunggu next chapnya :)

  4. ichafasya September 7, 2012 at 7:22 pm #

    lanjutannya mana thor?? :D keren nih :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,713 other followers

%d bloggers like this: