My Boy My Kiss [Kiss~14]

19 Apr

Author : mumuturtle

Title     : My Boy My Kiss

Genre  : romance

Rating : PG-15

Length : Series (two last episodes)

Cast     :

  • Lee Taemin (SHINee)
  • Lee Jin Ki (SHINee)
  • Shin Su Jin
  • Kim Min Ji
  • Kim Jonghyun (SHINee)
  • Lee Jin Hae
  • Kim Ki Bum (SHINee)

Other casts      : temukan sendiri…!

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi dan murni ide dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan plotnya saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Enjoy It!! Sebelumnya saya minta maaf jika karakter taemin saya ubah drastis. Saya minta maaf jika banyak yang gak suka, tapi ini semua hanya semata-mata untuk FF. Gomawo!

~My Boy My Kiss~

~æ~æ~æ~

Klekk…

Terdengar suara kepikan saat sebuah pintu kayu itu tertutup rapat oleh seseorang. Ia menghela nafasnya sebelum memutuskan untuk membalikkan tubuhnya menghadap pintu lainnya, satu setengah meter di depannya.

Matanya yang sayu—tampak ia masih menahan rasa kantuknya—menatap sendu pada pintu yang hening tak bersuara itu. Tertutup rapat, entah memang di dalam sepi tak berpenghuni atau justru seseorang pemilik kamar itu masih terlelap tidur.

”Jika kau tahu aku tak bisa tidur semalaman hanya karena kau terus mondar-mandir di pikiranku Shin Sujin! Berhentilah membuatku tak mengerti dengan diriku sendiri.” Gumam Taemin entah pada siapa. Hanya udara tak bergerak serta benda-benda mati di sekitarnya yang mendengar keresahan hatinya saat ini, sembari menatap pintu itu dengan lekat. Seolah-olah pintu itu ada sebuah refleksi dari tunangannya. Gumaman yang terdengar seakan menyalahkan itu hanya menjadi angin lalu di sekitarnya. Tak terjawab. Tak terbalas. Tak terdengar.

 

Taemin menuruni tangga dengan cukup cepat. Di pegangnya tali tasnya dengan cukup erat seraya pandangannya tak lepas dari sepatunya yang berjalan konstan menuruni satu persatu anak tangga. Di lihatnya Shin Ommonim yang tengah sibuk menyiapkan beberapa piring penuh makanan ke atas meja, begitu ia sampai di ruang makan—yang langsung berpapasan dengan dapur bersih mereka.

”Oh… Taemin kau sudah bangun! Cepat makan sarapanmu sebelum kau terlambat!” Seru wanita paruh baya itu dengan tangannya yang diayunkan menyuruh Taemin untuk mendekat.

”Kita tidak menunggu Sujin dulu?” Tanya Taemin dengan kening berkerut, karena kebiasaan di keluarga ini—menunggu seluruh anggota keluarga berkumpul sebelum memulai acara makan mereka. Langkah kakinya kini santai menuju sebuah kursi kosong yang biasa ia tempati. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil nasi berikut sebuah ikan bakar yang membuat perutnya terasa semakin meronta untuk minta diisi.

”Apa Sujin tidak memberitahumu kalau dia berangkat lebih dulu?”

Taemin menghentikan aktivitas tangannya di udara. Otot-otot sarafnya lebih tertarik untuk membuat kepala Taemin menoleh menatap wanita paruh baya yang kini tengah menyantap sarapannya ketimbang meneruskan mengambil setiap bahan makanan yang telah tersedia menggiurkan. Bahu Taemin terlihat merosot seiring dengan desahan nafasnya yang terdengar sangat kecewa.

Kecewa. Ya. Entah kenapa itulah yang dirasakan Taemin saat ini. Ia pikir hari ini ia masih bisa menatap wajah Sujin, berangkat bersama ke sekolah seperti biasanya. Atau setidaknya ia ingin sekali mengatakan bahwa semenjak kencan sehari mereka semalam, ia merasakan sesuatu yang mengganjal. Menyesakkan hatinya dan membuatnya bahkan ingin menangis. Jujur saja Taemin bukan tipikal orang yang dengan mudahnya menangis meski di depannya tersaji sebuah drama tragis sekalipun. Sehingga wajar saja jika hal menyesakkan—yang tak di mengerti oleh Taemin itu—membuatnya merasa aneh dengan dirinya sendiri.

Perlahan, rasa sesak yang sudah berusaha ia tekan itu—karena menurutnya akan lebih baik ketika bertemu dengan Sujin—kini justru semakin menyesakkan. Membuat tenggorokannya terasa tercekat. Nafsu makannya hilang sudah. Cacing-cacing di perutnya sudah berhenti meronta seakan mengerti dengan keadaannya saat ini. Ia bahkan yakin perutnya justru akan terasa mual ketika makanan itu mendarat di lambungnya. Mendarat beserta perasaan aneh yang menyiksa itu.

”Dia tidak memberitahuku.” Taemin menundukkan kepalanya. Menatap piring berisi makanan yang belum tersentuh sama sekali. Seakan meneliti namun tak urung pendangannya itu tampak kosong tak berarti.

”Kupikir dia sudah memberitahumu. Omma juga tak tahu kenapa ia berangkat pagi-pagi sekali. Tak pernah Sujin berangkat sepagi itu sebelumnya, apa mungkin dia ada tugas lain di sekolahnya?”

Taemin bergeming. Ia hanya mengaduk-aduk mangkuk nasinya dan memandang kosong. Pikirannya menjajah entah kemana, membuatnya tak bisa fokus bahkan untuk sekedar mendengar pertanyaan Shin Ommonim sekalipun.

Apa ini berarti semua sudah berakhir?

Apa pertunangan ini sudah berakhir?

Apa aku bukan tunangan Sujin lagi?

Apa itu berarti aku tidak bisa menggenggam tangannya lagi, dan menyerukan pada orang-orang bahwa ia tunanganku?

Sekelibat kalimat-kalimat yang baginya sangat mengganggu itu terus berputar di otaknya. Kalimat yang bagi diri Taemin sendiri tak mudah untuk di mengerti. Ia bahkan bingung kenapa bisa pikirannya memproduksi berjuta kalimat pertanyaan itu.

Ia mengalihkan pandangannya dari piring keramik putih di hadapannya. Beralih menatap sebuah cincin yang kini tak lagi dijadikan kalung olehnya, cincin yang kini dengan—amat—rela ia kenakan di jari manisnya. Menghiasi kekosongan di jarinya yang baru ia sadari ternyata tak seburuk seperti yang ia pikirkan. Namun entah mengapa, cincin itu saat ini justru terlihat sangat menyedihkan bagi Taemin. cincin itu seakan telah berkarat di mata Taemin bahkan benda mati itu terlihat seakan menertawakan Taemin saat ini. Entah Taemin tak mengerti, jikalau cincin itu nyata bisa tertawa sekalipun ia pun tak mengerti apa yang cincin itu tertawakan. Kebodohannyakah?

”Ommonim, apa sebelum Sujin berangkat ia mengatakan sesuatu pada Abonim?” tanya Taemin.

Kepala Shin Ommonim memiring. Matanya menyipit dan menatap kebawah seakan ia tengah berusaha mengingat-ingat. Namun hal itu menjadi sebuah ketegangan sendiri bagi Taemin. degup jantungnya mulai memacu, semakin kencang seiring dengan heningnya Shin Ommonim yang membuat Taemin terus meremas tangannya sendiri. Batinnya pun barulang-ulang mengatakan ”Tidak”, seolah memang itulah kata yang ia harapkan keluar dari bibir ibu Sujin itu.

”Tidak. Abeonim pergi tengah malam karena ada masalah dengan cabang perusahaan yang ada di Jinan. Jadi kupikir Sujin belum bertemu dengan Appanya. Memang apa yang harus di bicarakan?”

Taemin sedikit menghela nafas lega. Setidaknya Sujin belum mengatakannya pada Tuan Shin sehingga itu berarti pertunangan mereka belum di akui berakhir.

Taemin menggeleng, ”Bukan apa-apa. Aku akan berangkat sekarang.”

”Kau tidak menghabiskan sarapanmu?”

”Aku sudah kenyang ommonim. Annyeonghaseyo!”

~æ~æ~æ~

Lelaki berambut pirang itu berdiri dengan santai. Punggungnya ia sandarkan pada dinding yang menjadi sebuah bangunan bagian paling belakang di sekolahnya. Berkali-kali ia berdecak kesal, dan berkali-kali pula ia menatap jam yang melilit pergelangan tangannya. Seakan ia telah jenuh untuk menunggu lama.

Ia menatap sekitar. Tak ada hal menarik yang bisa ia pandangi dari halaman belakang sekolah. Hanya taman yang tak cukup baik di rawat. Jelas saja, lagi pula jarang sekali ada orang yang singgah ke tempat ini, kecuali tukang-tukang kebun yang bertugas untuk menjaga kebersihan setiap halaman di sekolah ini mungkin.

Lagi, ia mendesah. Tubuhnya menegap seketika siluet seorang gadis tertangkap matanya. Berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menghampirinya—karena ia memang menyuruh gadis itu untuk cepat menemuinya. Wajah gadis itu semakin terlihat jelas di matanya, rambutnya yang lurus panjang dan berwarna hitam kelam itu berayun ke kanan dan kekiri seiring dengan lari kecilnya yang semakin cepat mendekatinya. Ia tampak kewalahan mengatur langkah juga nafasnya yang mulai tersengal-sengal.

Dialihkannya pandangan lelaki itu pada jasnya. Entah apakah ia yakin dengan masih berpijak di sekolah ini dan memakai seragam ini sedangkan ayahnya sudah memutuskan untuk mengirimkannya ke Amerika. Ia memang membantahnya—hal yang hampir selalu ia lakukan pada ayahnya—namun ia juga tak menyangkal kekeras kepalaan ayahnya itu. Suatu gen yang menurun padanya.

”Key Oppa, ada apa? Kenapa menyuruhku cepat-cepat ke tempat seperti ini? pagi-pagi pula.” Minji berucap dengan terbata-bata di sela sengalan nafasnya. Matanya menatap ke sekitarnya, taman yang di penuhi bunga yang kebanyakan berwarna kuning dan sebagian sudah layu. Tembok yang ada di belakang Key pun tampak sedikit menghitam karena lumut, dan tercetak jelas retakan-retakan kecil yang menandakan tembok itu sudah lapuk termakan waktu dan terhempas cuaca.

”Kita berakhir sekarang, disini.”

Glek…

Seperti ada hempasan ombak yang menerjang tubuhnya. Tenggelam dalam keterkejutan saat pernyataan singkat Key tadi meluncur cepat dan tertangkap jelas di pendengarannya. Perlahan-lahan, masih dengan keterkejutan yang menyelimutinya itu, matanya beralih menatap mata Key.

Mata runcing tajam yang juga tengah memandangnya. Mulutnya menganga meski tak cukup lebar sebagai aksi kebingungannya, matanya yang sudah mulai berair itu menandakan kesedihannya saat mendengar kata ”berakhir” itu, dan degup jantungnya yang memacu menandakan ketakutannya jika saja apa yang diucapkan Key bukan hanya bualan atau halusinasinya.

”Apa? Apa yang Oppa bicarakan?” Tanya Minji memastikan. ia mengerjapkan matanya yang sekaligus membuat cairan bening air mata itu turun menyusuri pipinya—membasahinya.

”Sudah jelas. Kita berakhir! Aku baru sadar kau tak terlalu berguna untukku.” Kata-kata yang bagi Minji sangat pedas itu meluncur dengan begitu mudahnya. Di selingi dengan palingan kepala Key, lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Seakan sudah memprediksikan bahwa setelah ini Minji akan menggamit tangannya. Dan benar, namun Key sudah terlebih dulu mencegahnya.

Hati Minji terasa tertohok sekarang. Entah kenapa dalam benaknya serasa terdengar suara gemeratakan yang menandakan kehancuran hatinya. Meski ia tak bisa melihat bagaimana rupa kesakithatiannya itu, namun jika di kira-kira Minji yakin akan serupa dengan tembok lapuk di belakang Key. Kakinya tanpa sadar mundur satu langkah. Ia menggelengkan kepalanya, mengeyahkan segala pemikiran yang mulai menghantui pikirannya.

Sekelebat wajah Sujin—sahabatnya terlintas di benaknya. Wajah lebamnya yang saat itu terlihat sangat menyedihkan, di tambah kilatan ingatan saat ia dengan tega melayangkan tangannya untuk menampar Sujin itu membuatnya menggeleng semakin kuat. Ia takut dengan kenyataan saat ini. Ia takut dengan fakta apa yang sudah ia lakukan pada sahabatnya itu. Meski ia ingin percaya dengan sahabatnya—saat ini—namun mati-matian pula ia menyangkal hanya karena lelaki di depannya ini.

Tak terlalu berguna untukku. Kalimat itu menggema di otaknya, membuat dadanya terasa sesak. Rasa sayang pada lelaki di depannya itu sudah cukup besar untuk waktu yang terbilang belum terlalu lama ini. Mungkin saja kini hal itu sudah berubah menjadi rasa cinta.

”Oppa… apa maksudmu… aku… hanya sebagai alat agar kau bisa mendapatkan Sujin? Apa saat itu… kau benar-benar berusaha memperkosa Sujin? Apa itu semua benar? Jadi Sujin tidak berbohong padaku?”

Key menolehkan kepalanya. Meski sedikit terkejut melihat gadis di depannya itu menangis dan wajahnya sudah memerah tapi ia kembali berusaha sebisa mungkin membuat ekspresi mukanya terlihat datar. Selama ini ia tak pernah melihat gadis itu bersedih. Bersungut sekalipun jarang. Hanya ekspresi ceria dengan senyum simpul manis terukir di wajahnya yang selalu gadis itu sguhkan untuk dirinya.

”Benar. Dan kau sudah salah besar menamparnya saat itu.” Key menundukkan kepalanya sejenak dan sedetik kemudian ia kembali mengangkatnya, seakan sebagai tanda perpisahan darinya.

Dada Minji semakin terasa sesak kali ini, ketika lelaki berambut pirang, yang selama ini ia pikir memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, yang selama ini sudah mengisi hari-harinya itu pergi melewatinya begitu saja. meninggalkannya dengan sejuta tanda tanya yang sebenarnya ingin ia tanyakan namun tak mampu. Ternggorokannya yang tercekat itu membuatnya sangat sulit untuk mengucapkan sepatah katapun dari bibirnya. Dan hatinya yang seakan ingin menolak untuk tahu lebih, tak ingin lebih merasa sakit lagi.

Gadis itu menggigir bibir bawahnya, menahan isak tangisnya dengan sesekali menahan nafas dan memejamkan matanya rapat-rapat.

”Oppa…” Minji memanggil, membuat Key langsung menghentikan langkahnya meski ia sama sekali tak berbalik. ”Apa beberapa waktu yang kita lalui ini, sama sekali tak mengubah perasaanmu?”

Key mendongakkan kepalanya. Menghela nafas sejenak dengan melihat ketenangan awan yang saling berarak di atas kepalanya itu, memayunginya dari sinar matahari yang memancarkan panas teriknya. Biasanya ia akan sangat senang memandangi awan berarak itu, membuatnya tenang. Namun entah, kali ini awan itu justru terasa sangat memusingkan bagi Key.

Aku tak tahu dengan perasaanku. Aku tak tahu apa yang diriku inginkan. Aku hanya tak ingin menyakiti lebih lagi dengan keegoisanku.

”Tidak. Kuharap kau melupakanku. Aku bukan lelaki yang baik untuk kau harapkan. Anggap saja aku tak pernah hadir di kehidupanmu.”

~æ~æ~æ~

Gadis berambut panjang yang diikat dua itu kini menatap sebuah pintu berdaun dua yang masih tertutup rapat. Papan bertulis perpustakaan itu terasa seakan menatapnya tajam, membuat gemuruh di rongga dadanya terasa seakan ingin meremukkan seluruh tulangnya. Ia menenggak liurnya dengan susah payah. Di abaikannya seragam sekolahnya yang tak terlalu rapi terpasang itu. Kaos kaki yang terpasang dengan panjang tak seimbang. Blazer hitam yang tak seluruhnya terkancing dan dasi yang terpasang miring. Sama sekali tak menegaskan sikap asli gadis itu. Pergi ke sekolah terlalu pagi membuat gadis itu tak mempunyai waktu untuk tampil sempurna seperti biasanya hari ini. Hanya satu yang mengindentitaskan gadis itu secara jelas, name tag bertulis Shin Sujin. Nama gadis itu.

Gadis itu melangkahkan kakinya satu langkah ke depan. Tangannya itu terulur memutar knop pintu dan beruntungnya, pintu itu sama sekali tak terkunci. Ia melangkah semakin memasuki ruangan itu lebih dalam begitu pintu berdaun dua itu telah ia buka selebar-lebarnya.

Gelap. Hanya itu yang bisa di tangkap oleh matanya. Beberapa bendapun hanya samar-samar terlihat. Tirai hijau masih menutupi celah jendela rapat-rapat, dan lampu masih padam. Tak dilihatnya pustakawati yang biasanya menjaga tempat ini. mungkin ini terlalu pagi untuknya datang ketempat ini.

”Hh…” ia mendesah berat. Menundukkan kepalanya sejenak sebelum memutuskan untuk kembali melangkah semakin dalam. Ia tak peduli jika ada orang yang memergokinya memasuki ruang kosong ini. toh niatnya memang bukan untuk mencuri atau apapun yang negative. Ia hanya ingin kembali mengulas semua kenangan pahit manisnya sebelum ia meyakinkan untuk….

 

Menjadi Sujin yang dulu.

Menjadi Sujin yang tenang. Menjadi Sujin yang selalu mendapat berbagai tatapan dari seluruh siswa di sekolah ini. menjadi Sujin yang tak menghiraukan seluruh pandangan itu dan memilih diam agar mereka berhenti dengan sendiri. Menjadi Sujin yang terkenal lugu dan polos. Menjadi Sujin yang terkenal tak peduli dengan lelaki di sekitarnya. Menjadi Sujin yang tidak terlalu pusing dengan suatu hal bernama CINTA.

Jemarinya yang lentik itu meraih setiap ujung tirai dan menariknya, membukanya membuat sinar-sinar matahari menyusup dan menerangi ruangan penuh buku itu. tak perlu lagi nyala lampu untuk menerangi ruangan itu.

Kakinya kembali melangkah. Pandangan matanya mengedar ke setiap rak buku yang tertata rapi bak domino raksasa. Sesekali jemarinya menelusuri setiap judul buku yang tak jelas terbaca oleh matanya. Kakinya terhenti. Sedikit terhuyung kedepan ketika kakinya terasa seperti tertanam dan berhenti melangkah secara tiba-tiba.

Sebuah meja kosong berdiri kokoh di sejauh dua meter di depannya. Tak ada hal-hal menarik di sana. Hanya sebuah meja kosong. Ya. Kosong, tak berpenghuni, tak ada satupun benda yang ada di atasnya. Namun satu hal bayangan yang membuatnya mengulas senyum simpulnya.

”Tempat ini. Aku ingat bagaimana ekspresi datar Taemin saat mengacaukan Jinki Sunbae yang hampir menciumku.” gumamnya seraya sebuah senyum samar terlihat.

Sujin menolehkan kepalanya. Pandangannya mengedar mengamati setiap judul buku. Sebuah buku yang terlihat usang dengan sampul coklat dan beberapa rumus algoritma secara acak tertulis di sampulnya itu diambil. Tanpa membukanya sama sekali, Sujin hanya berniat untuk melihat buku itu dan mengamatinya sejenak. Sebuah buku yang ia ingat sekali, digunakan Taemin untuk mencegahnya dan Jinki berciuman saat itu.

Ia melangkah kembali, setelah buku itu ia kembalikan ke tempat asalnya. Langkahnya kembali menyusuri setiap lorong-lorong yang tercipta antar rak buku itu. Lagi-lagi langkahnya terhenti di sebuah ujung. Tempat dimana buku kesastraan korea tersimpan.

Matanya memandang lekat pada sebuah lantai kosong tepat di depannya. Ia menundukkan kepalanya sejenak. Entah kenapa bulir air matanya justru ingin menyeruak keluar saat ini. menggenang di pelupuk matanya padahal sama sekali tak ada apapun di depannya. Kosong. Hanya lantai kosong yang tampak sangat mengilukan bagi Sujin.

Tempat dimana pertama kalinya ia menyadari dengan bodohnya bahwa ia menyukai sosok lelaki bernama Lee Taemin. saat-saat yang selalu mendebarkan untuknya ketika Taemin mulai melumat lembut bibirnya dengan hangat. Sujin menghela nafasnya seraya membalikkan tubuhnya.

”Membosankan ternyata di sini.” desahnya. Sebuah senyum masam terukir di wajahnya.

Ia memejamkan matanya. Sepertinya semalam saat ia memutuskan hal terberat ini, ia masih baik-baik saja. meski ia sendiri sadar paginya matanya harus memerah dan sembab karena terlalu lama menangis. Tapi kenapa saat ini rasanya berat sekali untuknya. Kenapa ia baru menyadari jika mencoba melepaskan Taemin itu adalah hal terberat untuknya? Bahkan ia sendiri hampir merasa seperti tak sanggup melupakannya.

Drrttt… drrtt…

Handphonenya berdering mengagetkannya ketika sebuah cairan bening mulai turun membasahi pipinya. Di rogohnya saku blazernya sembari tangannya yang lain mengusap pipinya kasar.

”Yeoboseyo?”

”Bisakah kau ke gedung belakang sekarang? Minji terus menangis. Aku tak tahu bagaimana cara menenangkannya. Dia terus menyebut namamu dan meminta maaf.”

Sujin terperanjat begitu nama Minji terdengar. Sudah lebih dari dua hari ia tak berkomunikasi dengan Minji. Jangankan berbincang, gadis yang masih ia anggap sebagai sahabatnya sampai saat ini pun tak pernah mau untuk sekedar menatapnya.

”Kau siapa? Apa yang sedang kau bicarakan?” Sujin membalas dengan lantang. Seakan ia menantang lelaki—yang ia taksir dari suaranya—itu jikalau memang terjadi apa-apa dengan Minji. Seumur-umur meski Minji telah menamparnya sekalipun ia tak akan membiarkan sahabatnya mendapat masalah—terlebih masalah yang serupa dengannya.

”Ck… tak mengenali suaraku? Aku Minho. Aku tahu kita memang tak sering bertemu, tapi kemari saja. Sebelum orang lain datang dan mengira yang tidak-tidak dengan keberadaanku disini.”

Sujin sedikit banyak menghela nafas lega begitu mengetahui si penelpon adalah Choi Minho. Sunbaenya di sekolah. Tanpa berpikir panjang lagi, ia memutuskan sambungan telpon itu. mengambil langkah lari yang cepat. Tak dihiraukannya pintu perpustakaan yang masih terbuka saat ia meninggalkan ruangan itu. Kali ini Sujin hanya tak ingin membuang-buang waktu dengan hanya menutup pintu, ia ingin cepat sampai di tempat Minji sekarang ini. Ia menggenggam erat handphonenya, seakan dengan hal tersebut ia bisa mengeluarkan tenaga lebih untuk berlari lebih kencang.

~æ~æ~æ~

Parkiran saat ini sudah cukup ramai. Sudah setengah bagian dari parkiran tersebut terisi dengan kendaraan-kendaraan bermotor mulai dari yang bermerk biasa sampai bermerk cukup terkenal sekalipun.

Lelaki dengan rambut merah mencolok itu menaikkan kaca helmnya sebelum akhirnya ia melepaskan helm berwarna merah yang senada dengan warna motornya itu. Kakinya yang cukup panjang itu ia julurkan kebelakang, meraih standar motornya. Ia mencabut kunci motornya bersamaan dengan menjauhnya tubuhnya dari kendaraan itu.

Belum sempat ia berbalik untuk melangkah lebih jauh, kakinya kembali terhenti. Ia menatap sekali lagi motornya. Bukan, sebenarnya bukan motor yang sudah hampir sehari-hari menemaninya kemanapun itu yang menarik perhatiannya. Melainkan jok belakang motornya. Jika orang-orang mendengarnya mungkin mereka hanya akan tertawa. Hal bodoh apa yang tengah ia lakukan? Memandangi jok motornya sendiri seakan benda itu adalah kekasihnya?

Orang-orang mungkin akan berpikir sesederhana itu. namun tidak dengan Taemin. Selama motor itu menjadi miliknya, tak pernah—jarang sekali—ada seseorang yang menumpagi jok tersebut. Kecuali satu orang yang akhir-akhir ini justru hampir setiap hari pergi bersama dengannya dan motornya. Hanya satu orang itu, Sujin.

”Huh? Apa yang kau pikir sedang kau lihat, hah? Bodoh!” Taemin merutuk pada dirinya sendiri. Ia berbalik menjauhi motornya itu, sebaliknya ia berjalan mendekati bangunan sekolahnya.

Ia hanya diam dengan dirinya sendiri. Tak ada lamunan apapun dalam pikirannya, hanya senandung kecil yang digumamkannya dengan volume suara sangat kecil. Ia menoleh ke samping, saat merasa sebuah siluet seseorang gadis berjalan sejajar dengannya.

”Mwo?” Taemin mengerutkan keningnya, saat mendapati kekosongan di sisinya. Tak ada siapa-siapa. Ia hanya berjalan sendiri, beberapa siswa lainpun berjalan dengan jarak cukup jauh darinya. ”Sudah kubilang berhenti, Shin Sujin. Kau membuatku pusing!”

~æ~æ~æ~

”YA! Sunbae apa yang kau lakukan pada Minji, ha?” Sujin berteriak lantang sembari langkah kakinya terus berlari semakin mendekat. Dimatanya kini hanya ada sesosok lelaki yang berdiri dengan berkacak pinggang serta seorang gadis yang duduk menunduk di sebuah bangku kayu yang telah lapuk itu.

Tanpa menghela nafas terlebih dulu, entah ia mungkin sudah lupa harus mengatur nafasnya terlebih dulu. Sujin malah langsung memeluk gadis yang kini tengah menangis terisak itu. mendekapnya dengan erat tak peduli apakah gadis itu akan mendorongnya hingga terjatuh, mencercanya atau bahkan menamparnya sekalipun.

”Aku akan pergi meninggalkan kalian berdua. Dan aku tidak berbuat macam-macam pada Minji, Sujin~ah!” Minho menegaskan.

Hening. Hanya terdengar isakan tangis Minji yang tertahan dan derap langkah kaki Minho saat meninggalkan mereka berdua. Bukannya Sujin menunggu Minho pergi terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan dengan Minji, ia hanya sedang merangkai kata-kata yang tepat untuk ia lontarkan. Tak ingin ada salah-salah kata yang justru akan berakibat lebih fatal pada hubungan persahabatan mereka.

”Waeyo? Kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan di halaman belakang seperti ini? Menangis? Seingatku kau bukan tipe gadis yang mudah menangis.” Sujin terkekeh renyah. Sedikit mencairkan suasana canggung meski akhirnya itu tak berguna karena beberapa menit Minji hanya diam. Sibuk dengan isak tangisnya.

Namun satu hal yang membuat Sujin merasa lega. Sahabatnya tidak mendorongnya, mencercanya bahkan menamparnya seperti dugaannya. Minji justru memeluknya erat. Sangat erat dan jujur saja membuat Sujin sedikit kewalahan untuk mengambil nafas.

”Mianhae. Maafkan aku Sujin~ah. Aku tidak mempercayaimu saat itu. aku benar-benar bodoh. Aku bodoh karena hanyut dalam cerita bersama lelaki brengsek itu.” Akhirnya Minji berkata, meski tak terdengar terlalu jelas oleh Sujin karena  dibarengi dengan isak tangis Minji itu.

”Maksudmu Key Sunbae? Kau… sudah tahu yang sebenarnya? Bagaimana…”

”Dia tidak bercerita padaku secara detail.” Minji melepaskan pelukannya. Ia mengusap pipinya dengan kedua tangannya itu secara terburu-buru, meski hasilnya sama saja. air matanya yang lain masih berjuang keras untuk keluar semakin membanjiri pipinya. ”Ia hanya berkata jika aku tidak terlalu berguna untuknya. Apalagi maksud dari itu jika bukan ia hanya memanfaatkanku? Untuk mendapatkanmu?”

”Minji…”

”Awalnya aku sangat kesal. Aku marah tak hanya dengan Key Oppa, namun juga denganmu dan diriku sendiri. Aku kesal kenapa Key Oppa ternyata begitu brengsek. Dan aku kesal, kenapa harus dirimu? Kenapa ia harus menyukaimu? Bukankah masih banyak gadis lain di sekolah ini?

”Dan kenapa aku baru sadar aku begitu bodoh? Aku lebih mempercayai lelaki itu ketimbang dirimu, sahabatku sendiri. Yang aku tahu kau tak mungkin berbohong padaku. Aku justru menamparmu saat itu. Jeongmal mianhae.”

Sujin kembali menarik Minji ke dalam pelukannya. Ia mengusap puncak kepala sahabatnya itu sembari air mata juga mengalir di pipinya. Ia merasa sedih, senang, terharu juga merasa bersalah atas apa yang menimpa sahabatnya.

Ia senang dan terharu mendapati Minji telah menyadari kebenaran dan akhirnya kembali padanya. Menjadi sahabatnya yang selalu akan mensupportnya, menemaninya senang maupun sedih. Namun ia sedih saat menyadari Minji harus merelakan perasaannya kandas karena lelaki itu justru lebih menginginkan dirinya—bukan bermaksud menyombong. Dan ia merasa bersalah akan hal itu. meski ia sendiri tak tahu dari sisi mana dirinya harus disalahkan. Bukan keinginannya juga untuk menjadi seperti ini.

”Sudahlah! Jangan perlakukan aku seperti itu! aku baik-baik saja! kau memelukku terlalu erat!” Minji mendorong Sujin pelan agar melepaskan pelukannya. Mereka berdua terkekeh bersama meski sadar mata mereka sama-sama memerah karena tangis.

”Bagaimana bisa kau baik-baik saja sedangkan wajahmu sangat basah seperti itu? sebelumnya kau bahkan membuatku hampir  mati kehabisan nafas!” balas Sujin bersungut yang hanya ditanggapi dengan senyuman simpul oleh Minji.

Mereka sangat merindukan saat-saat seperti ini. saat-saat bisa tertawa bersama, bisa mencurahkan perasaan mereka satu sama lain tanpa ada rasa canggung. Saling mempercayai sesama dan tak berprasangka buruk. Bukannya justru tak mempercayai dan saling menyalahkan. Ataupun saling menghindar. Karena memang inilah arti sederhana dari persahabatan yang mereka jalin selama ini.

”Aku lapar. Kau traktir aku kali ini ya?” Minji merajuk.

”Mwo? Aish… baiklah, aku juga belum sarapan pagi ini. kajja!”

~æ~æ~æ~

Mereka tak henti-hentinya berbincang satu sama lain saat ini. entah saat mereka mengantri untuk mendapat makanan pagi mereka atau saat mereka tengah mencari tempat seperti sekarang ini. terasa seperti sudah bertahun-tahun mereka tidak melakukan hal seperti ini.

Minjipun terlihat sudah baik-baik saja. entah memang ia sudah membaik atau justru berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan Sujin agar tak membuat sahabatnya khawatir. Karena tak hanya sekali dua kali Minji harus berpapasan dengan Key, yang justru melengos saat bertemu dengannya. Jujur saja itu sangat menyakitkan bagi Minji, namun gadis itu malah tersenyum dan kembali mengeluarkan gurauan lain untuk Sujin.

”Kau cepat sekali merubah perasaanmu.” Tanya Sujin dengan kening yang berkerut. Mereka berdua kini tengah memosisikan tubuh mereka dalam duduk yang nyaman di sebuah bangku kosong yang mereka dapati di tengah-tengah kantin tersebut.

”Hey, aku bukan seperti dirimu yang terlalu berlarut-larut.”

”Ya! Kenapa mengungkit-ngungkit aku segala? Kau yakin? Aku justru berpikir dirumah nanti kau akan menangis histeris.” Sujin mengambil sesuap nasi dan mengarahkan pada mulutnya. Mengunyahnya dengan cepat sembari tersenyum meledek pada Minji.

”YA! Kenapa kau justru berharap seperti itu? Jahat sekali!”

”Aku hanya bercanda.”

Sujin menyeruput teh hangatnya. Ia kembali hening dan fokus terhadap makanan di mangkuk yang ada di atas meja itu. begitu pula dengan Minji. Tampaknya memang kedua gadis itu sudah menahan rasa lapar mereka demi berangkat pagi ke sekolah ini. meski bukan dengan tujuan yang pasti dan justru harus mendapati kenyataan pahit disini.

Sujin mengedarkan pandangannya sejenak sembari mulutnya itu sibuk mengunyah. Jemari tangan kirinya itu bermain di atas meja. mengetuk-ngetuk seolah menyesuaikan dengan irama lagu yang terputar di dalam batinnya.

Ia terpaku. Seluruh makanan yang belum hancur secara sempurna itu ia paksakan telan begitu saja. jemarinya itu kini beralih menggenggam sisi meja seolah ingin meremukkannya. Di tundukkan kepalanya sejenak. Sejurus kemudian kepalanya memutar, kesisi kiri, kanan, juga menatap pemandangan yang ada di belakang punggung Minji itu. ia menenggakkan liur dengan susah payah, membasahi kerongkongannya yang terasa kering tiba-tiba.

Apa…

Ini…

Bukankah ini tempat yang kemarin kusinggahi bersama Taemin? Saat ia mengajariku untuk ulangan dadakan dan justru ia menciumku saat itu?

Sujin menjilat lidahnya tanpa sadar. Ia seolah merasakan rasa ice krim yang kemarin ia makan saat bersama Taemin. seolah-olah ice krim itu masih melekat di bibirnya sampai saat ini dan ia masih bisa merasakannya.

”Ini salah satu tempat kencan sehari itu.” Gumam Sujin lirih. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.

”Apa?” Sujin terhenyak saat Minji menyahutinya. Ia tak tahu jika Minji akan mendengarnya, dan bodohnya ia sempat melupakan keberadaan Minji di hadapannya itu.

”Aniyo. Aku hanya sedang mengingat-ingat lirik lagu saja.” Ujar Sujin berkilah. Ia kembali menyantap makanannya meski kini ia sudah tak seberselera seperti sebelumnya. Saat ini perutnya bahkan terasa bergolak dan menolak untuk diisi makanan. Padahal Sujin sendiri sadar, baru beberapa sendok saja nasi yang masuk ke tubuhnya melalui rongga mulutnya itu.

”Aku baru sadar. Ternyata tak selamanya memiliki apa yang kita inginkan itu menjadikan kebahagiaan tersendiri bagi kita.”

Minji memiringkan kepalanya. Menatap Sujin dengan salah satu alis terangkat, menandakan kebingungannya terhadap ucapan Sujin itu. ia tak mengerti dengan topik yang Sujin angkat itu, dan ia sama sekali tak berpikir kemana arah pembicaraan Sujin itu akan berujung.

”Apa maksudmu? Kau sedang mengingat lirik lagi?”

”Bukan. Maksudku… terkadang meski kita mencintai seseorang sekalipun, kita tak bisa memaksakan untuk bersamanya. Bisa jadi itu akan menjadi siksaan tersendiri bagi mereka meski kita justru merasa bahagia. Atau justru kita yang akan menyiksa diri kita sendiri. Sehingga pada akhirnya kita harus merelakannya. Kau mengerti? Kasusmu itu mungkin menjadi salah satu dari dua perumpamaan itu. oh… maaf aku menyinggungnya lagi.” Sujin tersenyum pahit sembari menunduk. Ia kembali mengaduk-aduk makanannya dengan pandangan kosong.

Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang telah mengeluarkan kata-kata yang baginya justru terdengar sangat bodoh itu. ia bukan hanya membuka luka hatinya sendiri namun juga luka sahabatnya. Sekali dayung dua pulau terlewati.

”Kau terdengar… ck… ada apa? Ada sesuatu denganmu dan Taemin?” Tanya Minji. Ia sedikit lebih mencondongkan tubuhnya, seakan benar-benar penasaran dengan hubungan kedua muda-mudi itu.

Meski tak ingin mengakui namun jujur saja cerita dari sahabatnya perihal pertunangannya atau apapun yang menyangkut tentang itu sangat amat dinantikan oleh Minji. Entah baginya itu merupakan kebodohan Sujin sekalipun. Karena ia benar-benar gemas dengan pasangan yang satu ini. entah kenapa ia justru seakan melihat kedua orang bodoh yang tengah jatuh cinta. Di satu sisi mereka sama-sama merasakan perasaan yang sama, cemburu atau apapun namun mereka sama sekali tak mau mengakui dan menyangkalnya mati-matian. Hingga disinilah rasa dilema itu menghantui Sujin akhir-akhir ini.

”Kurasa tak ada lagi yang perlu kuceritakan. Singkat cerita kami sudah berakhir.”

”APA?” Minji berteriak spontan, membuat Sujin mendelikkan matanya sekejap, memperingati sahabatnya untuk tidak menarik perhatian lebih dari siswa lain yang ada di sana. ”berakhir? Jangan bercanda Shin Sujin! Kemarin aku dengar kabar Taemin menciummu saat di kantin.”

”Itu hanya sandiwara! Lagipula aku yang memintanya untuk berkencan sehari saja denganku. Dan sekarang kami berakhir. Mungkin… aku memang tidak… sepenuhnya rela. Tapi… inilah akhir dari ceritaku dan Taemin.”

”Sandiwara kau bilang? Kau gila ya? Kau tak bisa menjadikan sesuatu yang menyangkut perasaan menjadi sebuah lelucon seperti itu.” Sulut Minji. Ia mengacungkan sumpitnya tepat di depan hidung Sujin seolah benar-benar ingin menegaskan pada gadis itu. mengecamkan pada gadis itu apa yang ia ucapkan. Tak peduli ia akan terlihat seperti seorang ibu-ibu yang tengah menasehati anaknya sekalipun. Membuat Sujin kini terpojok seakan ia adalah tersangka dalam kasus ini.

”Bisa saja! buktinya Key Sunbae bisa melakukannya, kan?” Sujin menghentikan ucapannya ketika bersamaan ia terkesiap. Sadar dengan ucapannya yang terlampau menusuk untuk Minji. ”Maaf. Aku lagi-lagi menyinggungmu. Moodku benar-benar tak stabil hari ini. Tapi mengertilah, memang itu yang seharusnya kulakukan, bukan?”

Minji menggelengkan kepalanya. Ia mengeyahkan rasa sakit hatinya yang kembali menganga saat tadi Sujin kembali mengungkit perihal Key yang mempermainkannya. Ia hanya tak ingin membuat perasaan Sujin menjadi lebih buruk dan membuatnya merasa bersalah jika ia justru terlihat bersedih saat ini. meski ia akui dalam hati apa yang di katakan Sujin ada benarnya. Key Sunbae telah menggunakan taktik sandiwara bodoh untuk memacarinya hanya untuk mendapatkan Sujin. Jadi kenapa Sujin dan Taemin tak bisa melakukannya?

”Kau tidak menimbang dulu perasaan Taemin padamu? Apa kau yakin ia memang benar-benar tak menyimpan secuil saja perasaan padamu? Sudah dua tahun ini kau bertunangan dengannya tak mungkin perasaannya tak berbunga sedikitpun!”

Sujin menyimak baik-baik ucapan Minji. Namun hal lain mengambil alih perhatiannya. Ia tercengang ketika dari sudut kantin—pintu kantin berada—sesosok lelaki dengan jaket yang masih melekat di tubuhnya itu memasuki ruangan kantin ini. lelaki itu menundukkan kepalanya membuat juntaian poninya menutupi sebelah matanya.

Dada Sujin tiba-tiba merasakan dentuman-dentuman keras saat jantungnya berdetak tak karuan menatap Taemin. mau bagaimana lagi? Sesakit hati dirinya dibuat oleh Taemin namun rasa sukanya—cintanya—tak semudah itu hilang seperti saat ia membasuh kotoran yang ada di tangannya.

”Aku ingin kekelas. Aku sudah kenyang. Kau mau ikut atau masih ingin tinggal?”

”Jangan terlalu banyak menghindari kenyataan, Sujin~ah.”

~æ~æ~æ~

Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Dan sudah selama itu pula lelaki berambut coklat itu duduk tenang di bangku taman. Lalu lalang orang tak dihiraukannya dan ia hanya menganggapnya seolah angin lalu yang berhembus. Tangannya tergerak untuk membenahi rambutnya yang sedikit berantakan oleh tiupan angin.

Ia menengadahkan kepalanya, menatap awan-awan putih yang terlihat seperti kepulan-kepulan asap bersih itu. ia menghela nafasnya. Bosan memang. ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. ia kemaripun—ke taman—tanpa tujuan yang pasti. Hanya bermodalkan sebuah buku yang ia pikir bisa menghilangkan kejenuhannya. Salah besar, buku itu justru menjadikannya semakin jenuh dengan dirinya sendiri.

Jika hari-hari biasa—sebelumnya—ia akan berlari ke kantin secepat mungkin, atau mungkin berlari ke salah satu kelas dimana memungkinkannya bertemu Sujin. Namun kali ini ia benar-benar menghindari itu. Bahkan ia pun mencari waktu yang tepat hanya untuk pergi ke perpustakaan. Menghindari berpapasan dengan gadis itu. memang berat, namun semua ini ia lakukan toh untuk kebaikan dirinya juga. Ia tak mungkin terus berlarut-larut dalam cinta bertepuk sebelah tangan ini. ia lelaki. Move on! Harus ia lakukan, meski ia pun tahu hal itu tak semudah membalikkan kertas buku.

”Kau tahu? Kudengar Shin Sujin sudah tidak memakai cincin pertunangannya!” Sebuah suara yang terdengar tak terlalu jauh darinya itu menarik perhatiannya.

Jinki sama sekali tak menoleh meski nama Sujin yang tersebut itu sangat amat membuatnya penasaran dengan topik pembicaraan mereka. Ia takut saat ia menoleh mereka justru akan bungkam dan berhenti menggosip.

”Benarkah? Apa itu berarti dia sudah mengakhiri hubungannya dengan Taemin Sunbae?” Tanya gadis lain yang tampak sama antusiasnya.

”Molla. Yang jelas teman sekelasku sendiri juga melihatnya. Hmm… kalau mereka memang benar berakhir itu berarti aku masih ada kesempatan untuk bersama Taemin Sunbae.”

”Mwo! YA! Jangan terlalu berharap. Kau pikir Taemin Sunbae mau dengan gadis sepertimu? Perbandinganmu dengan Sujin itu benar-benar jauh!”

Jinki membuka bukunya. Membuka asal tanpa tahu pada halaman berapa ia berhenti. Ia hanya mencoba menyibukkan diri saat kedua gadis itu berjalan di depannya. Ia mencoba untuk terlihat biasa agar gadis itu tak menyadari keberadaannya dan tak menyadari bahwa ia telah mencuri dengar pembicaraan mereka.

Ia menatap kosong pada untaian kata yang tercetak di buku tersebut. Sama sekali tak menarik perhatiannya untuk membaca dan justru terlihat seperti banyak semut yang berjalan teratur. Bahunya merosot seiring dengan helaan nafasnya yang terdengar berat.

”Kau melepas cincinmu? Apa itu berarti kau sudah benar-benar berakhir? Apa itu berarti aku tak perlu mencoba keras melupakanmu?” Gumam Jinki sembari tetap menatap bukunya. Seolah ia mengejakan setiap kalimat dibuku itu.

Ia menutup buku tebal itu dengan cukup keras. Membuat suara debaman kecil tercipta meski akhirnya tenggelam diantara suara deru angin yang berhembus. Bangkit dari kursinya dengan semangat lebih dalam dirinya kemudian melangkah dengan langkah lebar.

~æ~æ~æ~

Jinki semakin mempercepat langkahnya ketika papan identitas kelas itu terlihat semakin jelas di depannya. Sejurus kemudian langkahnya terhenti saat pintu kelas tersebut masih berjarak dua meter di depannya. Ia menatap sekitarnya, tak terlalu ramai. Dan itu menjadi suatu keberuntungan baginya.

Ia sedikit berjinjit. Agar tinggi tubuhnya dapat meraih jendela terbuka yang ada di sisi kirinya. Matanya mengedar ke dalam kelas yang tampak sepi itu. ia semakin berjinjit lebih tinggi, tak urung ia seakan memanjangkan lehernya.

Sebuah senyum simpul ia ulas ketika seorang gadis yang tengah merapikan bukunya tertangkap oleh matanya. Tampak sedang bercanda gurau dengan sahabat di sampingnya. Biarlah ia tak peduli dengan lalu lalang orang di sekitarnya. Ia tak perduli dengan berbagai bisikan yang mulai terdengar mempertanyakan apa yang ia lakukan. Ia tak peduli mereka akan menganggapnya seakan ia adalah seorang penguntit sekalipun.

Kau benar-benar tak memakai cincinmu?

Kening Jinki berkerut saat dengan jelas terlihat dimatanya jari manis Sujin kosong. Tak ada sebuah cincin berlian yang menghiasinya seperti biasa yang ia lihat.

”Sujin!” Jinki memanggil.

Gadis yang merasa namanya terpanggil itu menoleh ke berbagai arah. Mencari-cari suara sosok lelaki yang memanggilnya itu. Dan bisa dilihat ekspresi keterkejutannya saat ia mendapati Jinki menatapnya dari balik jendela.

Sujin memutar tubuhnya. Berbalik berjalan menjauhi jendela dimana tempat Jinki tersenyum pada Sujin kali ini. gadis itu berjalan menuju pintu, dengan langkah lari kecilnya ia menghampiri. Tak lupa Minji mengekor di belakangnya.

”Sunbae apa yang lakukan?”

”Apa yang kulakukan? Mengintipmu?” Jinki terkekeh.

Terdengar sangat lepas di telinga Jinki saat ini. terasa seperti ada bongkahan besar yang terangkat keluar dari dasar hatinya. Membuatnya bisa sedikit bernafas lega ketika ia juga mendapati Sujin ikut tersenyum bersamanya. Jujur saja inilah saat yang sangat ingin ia alami. Ketika ia bisa dengan bebas tersenyum dan melihat senyuman Sujin. Ketika ia dengan bebas bisa memandang wajah gadis itu.

”Kita kekantin? Sebagai permintaan maafku untuk kemarin.” Ajak Jinki yang ditanggapi dengan kerutan kening Sujin.

”Minta maaf apa?”

’Kemarin aku merasa bersikap ketus padamu. Terserah saja jika kau tak merasakannya, tapi yang jelas aku merasa bersalah padamu.” Jinki kembali tersenyum. Yang mau tak mau membuat Sujin ikut tersenyum juga. Sudah sangat lama sepertinya sejak terakhir kali ia melihat Jinki tersenyum selembut dan setulus ini padanya. Meski ia tak tahu pasti juga karena apa namun ia hanya memang merasa akhir-akhir ini Jinki terkadang menghindarinya.

”Ah… aku paham Sunbae.” Sujin melirikkan matanya sejenak. Menatap Minji yang berdiri satu langkah di belakangnya. Seakan dari tatapan matanya tersebut ia meminta pendapat akan apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia menerima tawaran Jinki dan justru seolah memberi lelaki itu harapan lagi? Meski tak ingin menyombongkan dirinya tapi Sujin paham Jinki pasti masih setidaknya menyimpan sekecil rasa untuknya. Atau haruskah ia menolaknya dan membuat Jinki kecewa?

”Selesaikan masalahmu. Aku akan membiarkan kalian berdua.” Bisik Minji.

~æ~æ~æ~

”Kemana cincinmu?”

Sujin yang terngah sibuk dengan makan siangnya itu kini terkesiap. Setidaknya satu dua bulir nasi itu berhasil menyangkut di tenggorokannya membuatnya tersedak saat ini. Ia meraih gelas minumnya dan menenggaknya dengan cepat sebelum akhirnya ia kembali menatap Jinki dengan tatapan penuh tanda tanya.

”Aku bertanya kemana cincinmu?” Ulang Jinki dengan lebih jelas dan penuh penekanan. Sujin masih diam. Ia hanya menunduk dan menelan sisa-sisa makanan yang masih ada di mulutnya itu dengan teramat susah. ”Apa pertanyaanku begitu susah dan mengejutkanmu?”

YA! Sujin ingin sekali berteriak dan mengatakan ”ya”. Pertanyaan sesederhana itu entah kenapa justru terasa sangat sulit bagi Sujin. Padahal sebenarnya Sujin hanya perlu menjawab jika cincin itu sudah tak pantas ia kenakan dan pertunangannya sudah berakhir. Namun kenapa ia susah sekali untuk mengucapkan apa yang ada di benaknya itu? kenapa bibirnya terasa kelu setiap kali ingin membuka mulut dan menjawab?

”Bolehkan aku tidak menjawab pertanyaanmu, Sunbae?” Tanya Sujin balik. Ia tersenyum masam dan Jinki paham itu. ia paham dengan apa yang dirasakan gadis itu dan jujur hal tersebut membuatnya menjadi semakin tidak yakin dengan kuputusannya yang ingin mngurungkan niat melupakan Sujin.

”Gwenchana. Kau punya privasimu sendiri.”

Hening. Tak ada yang mereka bicarakan. Sujin sibuk dengan makannya dan lamunannya sendiri. Gadis itu bahkan mengabaikan Jinki yang ada di hadapannya, ia merasa seolah ia hanya sendiri di meja itu. ia juga tak tertarik untuk membuka pembicaraan dan lebih tertarik untuk kembali menatapi jari manisnya yang tampak hampa itu.

Sementara itu Jinki justru mengabaikan makannnya. Ia lebih ingin berlama-lama berada dalam posisi seperti ini. menatap wajah gadis itu meski ia sendiri sadar gadis itu sedang melamunkan seseorang lainnya. meski ia sadar gadis itu kini justru mengabaikannya. Dan walaupun menatap gadis itu menjadikan luka batinnya semakin menganga lebar karena ia semakin menyadari ia tak bisa menggapai gadis itu, namun sedikit kesenangan membuat sebuah senyum terulas. Entah ia sendiri tak tahu arti apa yang terkandung dalam senyumannya itu. sedikit banyak bahkan ia membodohi dirinya yang benar-benar seakan mengemis cinta ini.

Jinki ikut menolehkan kepalanya begitu Sujin menoleh. Diliriknya sebentar wajah Sujin yang kini tampak sendu itu sebelum ia memastikan siapa yang di tatap Sujin sedalam itu. dengan keraguan yang cukup besar Jinki kembali memusatkan pandangannya, mengikuti arah pandang mata Sujin. Dan betapa ia hanya bisa mendengus kesal saat ternyata sosok beruntung itu adalah Lee Taemin.

”Kau mencintainya! Aku tahu kau mencintainya, jadi jangan berbuat macam-macam yang akan menyakiti dirimu sendiri.” Ujar Jinki seraya bangkit dari duduknya.

Ia sedikit menunduk menatap Sujin yang kini menengadahkan kepalanya penuh—juga menatapnya. Bedanya alis gadis itu berkerut seakan tak mengerti apa yang diucapkan Jinki.

Jinki hanya tersenyum simpul. Sejurus kemudian ia melangkahkan kakinya, berjalan meninggalkan Sujin. Atau mungkin lebih tepatnya ia berjalan menjauhi perasaan cintanya. Serta berharap menjauhi rasa sakit hatinya, namun sayang justru hal sebaliknya yang ia dapatkan. Semakin langkahnya mendekati pintu kantin hatinya terasa semakin sesak.

Kau benar-benar bodoh Lee Jinki! Sejak kapan kau jadi sebodoh ini? Ia hanya bisa merutuki dirinya dalam hati. Tampaknya keputusannya memang harus dibulatnya. Bagaimana bisa Jinki berpikir untuk terus mencintai gadis itu? sementara ia pun tak pernah ada di mata gadis itu? Tampaknya jalan takdirnya memang diharuskan untuk melupakan gadis itu, meski sebenarnya tangannya ingin sekali memberi sentuhan kehangatan pada Sujin saat ia tahu gadis itu juga tengah dalam kegalauannya.

~æ~æ~æ~

Sujin menatap jam di pergelangan tangannya itu. Sudah lima belas menit ia berdiri disini tapi kenapa rasanya seperti baru beberapa detik saja. entah apa yang membuatnya benar-benar tak merasakan waktu. Mungkin dirinya sudah terlalu larut dalam lamunannya sejak tadi.

Sepulang ia sekolah, tanpa mengganti seragamnya atau bahkan memasuki kamarnya ia justru memilih untuk berdiri mematung menatap pintu kamar Taemin. entah juga apa yang ia lakukan. Ia sendiri tahu Taemin belum pulang dan sudah jelas kamar itu kosong. Tapi baginya, menatap pintu kamar itu bagaikan melihat refleksi diri Taemin di depannya. Ia bahkan dengan bodohnya membayangkan Taemin yang tersenyum lembut padanya. Atau setidaknya jika ia sudah lebih gila lagi, ia akan kembali membayangkan bagaimana manisnya saat berkencan dengan lelaki itu.

”Apa yang kau lakukan?” sebuah suara yang sangat familiar ditelinga Sujin terdengar. Gadis itu lantas menoleh dengan cepat dan betapa terkejutnya ia sangat melihat Taemin—dengan wajah sayunya yang lelah—menatapnya dengan alis berkerut.

”Aku… aku sedang berpikir dimana aku meletakkan buku matematikaku. Kupikir ada di kamarmu, tadinya aku ingin masuk tapi aku tahu itu akan sangat tak sopan. Bisakah kau mencarikannya? Berikan padaku jika kau sudah menemukannya.” Ujar Sujin berbohong. Ia memaksakan senyumannya saat wajah Taemin kini bisa dengan jelas terlihat di matanya. Tepat berada di hadapannya. Sungguh, Sujin ingin sekali menumpahkan air mata yang tampak ingin memberontak keluar itu. Sungguh, Sujin ingin sekali menghambur ke pelukan Taemin. Namun sayang, ia justru membalikkan langkahnya dan berjalan menuju kamarnya.

Sujin terkesiap, saat sebuah sentuhan hangat menjalar di pergelangan tangan kirinya. Ia menoleh, dengan mata membulat ia menatap pergelangan tangannya yang sudah di genggam erat oleh Taemin.

”kenapa menghindariku? Apa artinya sehari kemarin jika akhirnya kau seperti ini padaku?”

”Mwo? Apa maksudmu? Bukankah memang seharusnya seperti ini? Dengan begitu kau tidak terganggu dengan kehadiranku. Begitu juga denganku yang akan dengan mudah melupakanmu!” jawab Sujin dengan setengah membentak.

Taemin menggelengkan kepalanya lemah. Entah kenapa jantungnya terasa bergemuruh kencang tiba-tiba, membuat kata-kata yang ada di kamus otaknya berserakan kemana-kemana. ”Kau pikir melupakan seseorang itu mudah? Aku tahu waktu itu sangat berharga. Tapi  bisakah sedikit saja kau membuang waktumu untukku?”

”Untuk apa? Untuk membuat luka hatiku semakin melebar? Kenapa kau benar-benar jahat Lee Taemin? berhentilah membuatku tak mengerti dengan sikapmu. Berhentilah membuatku bingung. Aku hanya ingin menjadi Sujin yang dulu. Aku tak ingin terus menangis! Kau mengerti? Aku lelah Taemin~ah! Kau lelaki, seharusnya kau lebih tegas bersikap. Kau terlalu bertele-tele, asal kau tahu itu!”

Sujin memutar tangannya, yang sekaligus memutus kontak di tangan mereka itu. Ia tak peduli dengan air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir itu. Tak dihiraukkannya Taemin yang sudah akan membuka mulutnya untuk kembali berbicara. Ia dengan cepat berbalik, membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan cukup keras.

Dikuncinya pintu itu, setidaknya satu jam saja ia ingin menyendiri di kamar. Tak satupun ia ingin mengganggunya termasuk orang tuanya sekalipun. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu. Tangannya menutup mulutnya rapat-rapat, menahan jerit tangis yang seakan ingin memecah itu. tubuhnya perlahan merosot bersamaan dengan derasnya air mata yang mengaliri pipinya.

”Aku ingin. Aku ingin membuang waktu sebanyak apapun untukmu. Tapi apa yang aku dapat dari itu? apa yang akan kau janjikan untukku? Kau benar-benar lelaki yang brengsek!”

~æ~æ~æ~

Sujin menatap kalender di hadapannya itu dengan tatapan datar. Ia sudah siap dengan seragam sekolahnya sejak dua puluh menit yang lalu. Namun tak juga ia kunjung berangkat. Sedari tadi ia hanya menghela nafasnya dengan berat sembari sesekali menundukkan kepalanya.

”Sudah satu minggu.” Gumam Sujin lirih.

Benar. Sudah satu minggu lamanya. Ini adalah hari dimana sudah satu minggu semenjak kencannya dengan Taemin saat itu. bodohnya ia, sampai saat ini ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan lelaki itu.

Meski ia sedikit banyak senang. kehidupannya hampir seperti dulu lagi. Ia tidak harus direpotkan dengan lelaki yang mengumbar pertunangannya. Ia tak lagi harus repot di gosipkan sana-sini. Karena entah kenapa Jinkipun jarang menemuinya. Sikap siswa lainnyapun kembali normal begitu mengetahui cincin pertunangannya itu benar-benar sudah ia lepas. Ia senang, namun kesedihan juga menyelimuti sebagian lain di hatinya.

Ia melingkari tanggal hari ini. Hari ini adalah hari terakhir Taemin juga Jinki beserta senior lainnya untuk menjalani Ujian kelulusan. Berharap saja semoga mereka sukses. Itulah salah satu faktor kenapa akhir-akhir ini ia jarang bertemu Jinki juga Taemin. mereka sibuk mengurus ujian mereka. Mereka juga pasti tak ingin konsentrasi mereka terganggu hanya karena urusan perasaan. Lain hal, hari ini juga menjadi hari yang spesial bagi Sujin. Sangat spesial karena di setiap tahunnya hari inilah yang ia tunggu.

”Saengil Chukkae Sujin~ah!” Suara lantang ibunya terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamarnya. Ia tesenyum saat menatap ibu dan ayahnya bersamaan memasuki kamarnya. Dengan dua buah kotak kardus berukuran sedang di tangan ayahnya—yang ia lansir sebagai kado untuknya. Juga sebuah nampan berisi tart coklat kesukaannya.

Di longokkannya kepalanya. Menatap sisi di belakang kedua orang tuanya itu. hanya mereka berdua, tak ada lagi orang disana. ”Taemin sudah berangkat lebih pagi. ia bilang banyak yang harus ia siapkan hari ini.” Ujar ibunya seakan tahu apa yang ia cari.

”Gomawo omma, appa!” Sujin lantas meniup sebatang lilin di atas tart tersebut. Setelah sebelumnya ia mengucapkan harapannya dalam hati.

Sudah seminggu ini, ia jarang bertemu Taemin. Hanya bertemu sesekali saja, paling sering yakni saat mereka harus memasuki waktu makan. Mereka pasti akan bertemu dan menyempatkan diri untuk berbincang sekedar menunjukkan pada kedua orang tuanya bahwa hubungan mereka baik-baik saja. namun selama seminggu ini pula, tak ada salah satu dari mereka yang berbicara bahwa mereka ingin mengakhiri pertunangan mereka. Maka dari itu pasangan suami istri paruh baya Shin itu tak ada yang tahu hubungan sebenarnya dari mereka.

~æ~æ~æ~

Sudah sejam yang lalu kelas berakhir. Namun Sujin masih saja berada di lingkungan sekolah ini. Tak beranjak dan hanya bergeming di tempat duduk yang berada sepuluh meter dari gerbang sekolah. Ia hanya menatap pintu gerbang itu dengan kosong.  Tak seperti biasanya memang, selama Ujian kelulusan berlangsung semua siswa kelas sepuluh dan sebelas akan pulang lebih awal. Dan itu berarti kali ini menjadi kali terakhir ia pulang lebih awal berikut juga menjadi akhir dari ujian kelulusan bagi seniornya itu.

Namun entah kenapa ia sama sekali tak ingin cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya kali ini. Tak mengerti. Sujin sendiri tak mengerti kenapa hari-hari yang ia lalui akhir-akhir ini terasa sangat berat untuknya.

Ia mengeratkan syal berwarna baby pink yang melilit lehernya. Sebuah senyum manis terulas di bibirnya saat ia menatap kembali lekat-lekat syal rajutan itu. betapa senangnya ia saat mendapat syal ini sebagai kado ulang tahunnya. Sebuah syal yang sangat ia inginkan, yang sempat ia lihat di kawasan Shindang saat bersama Taemin lalu. Tak ada ucapan, tak ada nama pengirimnya namun bisa dengan jelas Sujin mengetahuinya jika kado itu pemberian Taemin.

”Terakhir. Ini akan menjadi yang terakhir aku mengingatmu.”

Bisakah aku menepati janji ini? Tuhan tolong, hanya kau yang tahu apa yang seharusnya aku perbuat dengan perasaanku.

Sujin bangkit dari duduknya. Dengan sebuah senyuman yang menyiratkan semangat ia mulai melangkah. Bersamaan dengan beberapa siswa lain—meski tak dikenalnya—keluar melalui gerbang sekolah yang terbuka lebar saat itu.

~æ~æ~æ~

Taemin menatap lurus ke suatu arah di depannya dengan tatapan berkerut. Langkah yang seharusnya ia ambil itu kini di alihkan. Ia justru berputar dan memilih menatap gerbang sekolah. Membelakangi motor sport merahnya yang sudah menunggu di belakangnya.

Ia menatap seorang gadis—yang sampai saat ini entah masih menjadi tunangannya atau tidak. Bukan menjadi alasan yang tidak masuk akan keningnya itu berkerut. Pasalnya ia melihat Sujin justru berjalan berlawanan arah dengan arah ke rumahnya. Lantas mau kemana gadis itu?

Seingatnya Sujin tak pernah ada les atau apapun. Jangan berpikir Sujin mengambil kerja sambilan untuk menghindarinya! Taemin mati-matian mengenyahkan pemikiran bodohnya itu.

Tanpa berpikir—bahkan ia melupakan keberadaan motor kesayangannya itu—ia melangkah. Hendak membuntuti Sujin sebenarnya. Ia hanya penasaran saja apa yang gadis itu lakukan. Kebetulan ujian yang ia lalui sudah rampung sehingga ia tak terikat dengan kesibukan apapun hari ini. terlebih lagi sikap gadis itu terlihat berbeda dari biasanya—yang ia kenal. Sujin yang selalu tampak menghindarinya itu membuat Taemin mau tak mau semakin mengkhawatirkannya. Meski Taemin sendiri paham Sujin adalah gadis yang baik-baik, tapi bukankah tidak mungkin kesakithatian membuat seseorang bisa berbuat suatu hal yang diluar nalar?

”Mau kemana kau?” Taemin buru-buru menghentikan langkahnya ketika sebuah suara berat seseorang menginterupsinya. Ia jelas akan segera mengumpat jika suara itu milik Jonghyun. namun memang itu bukanlah suara Jonghyun.

”Apa urusanmu?” tanya Taemin balik. Ia menyipitkan mata menatap Lee Jinki yang kini ada di depannya. Melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang tampang datar. Seperti biasa saat ia bertemu dengan adik tirinya.

”Kau adik tiriku. Tunanganmu itu adalah gadis yang aku cintai. Jadi sedikit banyak kau menjadi urusanku.”

”Apa kau kurang sibuk? Urus saja dirimu! Urus saja perasaanmu! Bukankah kau juga seharusnya mengobati hatimu? Sudah jelas Sujin tidak menyukaimu, bukan?” tandas Taemin. kedua bola matanya bergerak-gerak tak tenang. Sedari tadi berulang-ulang ia menatap bergantian antara wajah Jinki—yang baginya sangat menyebalkan itu—dan pintu gerbang. Dimana disana sudah tidak terlihat lagi sosok Sujin. Bahkan punggungnya sekalipun. ”Kau selalu saja mengungkit permasalahanku jika bertemu denganku. Berhentilah bersikap seolah kau mengetahui segalanya!”

”Dan kau, berhentilah bersikap dan berpikiran yang membuat tak hanya dirimu namun juga orang lain bingung!” Taemin mengerutkan keningnya. kepalanya sedikit dimiringkan sebagai aksi tak mengertinya serta ia mengepalkan tangannya erat. Kesal dengan segala kebertele-telean dari kakak tirinya itu. ”Jika aku sangat egois mungkin aku akan membawa kabur Sujin sejak lalu. Mungkin juga aku akan bertindak lebih gila dari yang Key lakukan. Kau paham? Bisa saja aku membawanya mati bersamaku. Setidaknya sebelum ia terikat dengan pernikahan. Atau mungkin aku akan membawanya ke seorang psikiater, menyuruhnya menghipnotis Sujin agar mencintaiku dan mau menikah denganku. Tapi bagaimana dengan perasaan Sujin? Perasaanmu? Kau mau itu terjadi?”

”Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Kenapa kau jadi banyak bicara seperti ini?” Taemin memutar bola matanya kesal. sudah lebih dari sepuluh menit ia berada di hadapan Jinki. Dan apa yang mereka bicarakan benar-benar tak ada intinya. Hanya membuang-buang waktu Taemin. Jikalau lelaki itu tak hadir di depan Taemin mungkin saat ini ia sudah bisa mengetahui tempat perginya Sujin tadi.

”Aku tahu apa yang sedang kau khawatirkan sekarang. Aku tahu apa yang kau perhatikan dari tadi, aku juga sama sepertimu! Aku khawatir melihat Sujin berjalan justru menjauhi arah rumahnya. Tapi…”

”KUBILANG KATAKAN! JANGAN BERTELE-TELE! KAU BODOH, HA?”

”Pikirkan baik-baik perasaanmu! Apa kau merasa tenang-tenang saja melihat Sujin sudah tak memakai cincin pertunangan kalian? Kau rela andaikan Sujin akhirnya bersamaku? Apa kau masih mencintai adikku—Jinhae? Apa semua masih seperti dulu? Kali ini aku tidak bersikap seolah aku ini yang tertua dari kalian yang harus setiap kali menasehati. Tapi kali ini aku memohon padamu, Lee Taemin, untuk bersikap tegas. Karena disini aku juga menjadi salah satu yang membutuhkan kepastian darimu!” Jinki menarik nafas dalam-dalam. Nafasnya sedikit tersengal saat ia mengucapkan untaian kalimat dalam hampir satu tarikan nafas itu. ”Maaf, aku membuang waktumu!”

Taemin menyeringai sepeninggal Jinki dari hadapannya. Sejurus kemudian ia memutar balik tubuhnya. Menatap punggung Jinki yang semakin menjauh darinya itu. Entah kenapa semua ucapan yang terlontar dari bibir Jinki tadi benar-benar menusuk sampai ke ulu hatinya, tak urung juga membuat debaran jantungnya semakin memacu cepat. Entah ada getaran apa yang membuatnya kini justru tak berkonsentrasi dan melayang dengan pikirannya sendiri.

Ia tahu lelaki itu lebih tua satu tahun lebih beberapa bulan darinya. Dan mungkin hal itu membuat lelaki itu mengenal kejamnya dunia lebih dari padanya. Tapi apa yang tadi diucapkan oleh Jinki? Ia sama sekali tak mengerti—belum tepatnya. Atau mungkin ia yang justru tak mengerti dengan perasaannya sendiri.

Ia mendecakkan lidahnya, sekaligus membuyarkan lamunannya selagi matanya masih menatap punggung Jinki yang semakin menghilang. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Kim Jonghyun, bisakah kau memberitahuku apa yang harus aku lakukan? –Oh baiklah, aku akan menjelaskannya nanti, sekarang apa kau di apartemenmu? Aku kesana!”

~æ~æ~æ~

Jinki terus melangkah dengan langkah yang teramat pelan. Langkah lebarnya itu harus ia pelankan agar sama cepatnya dengan langkah kecil gadis yang berada empat meter di depannya. Punggung gadis itu sama sekali tak pernah lepas dari matanya. Juga setiap gerak-gerik yang di lakukannya.

”Apa yang kau lakukan di daerah seperti ini?” Tanya Jinki menggumam. Ia menatap jalanan ramai itu sejenak sebelum kembali memusatkan pandangannya pada punggung gadis yang semakin menjauh cepat.

Ia berlari kecil. Memperpendek setidaknya satu meter jarak dari gadis itu—mengingat jalan yang ia tempuh ini semakin ramai dan ia tak ingin kehilangan jejak gadis itu.

”Sebenarnya apa yang kau cari? Apa yang ingin kau beli? Kau memasuki beberapa toko tapi keluar dengan tangan kosong?” Gumam Jinki yang lagi-lagi bertanya-tanya.

Setelah helaan nafas beratnya itu terdengar ia kembali melangkahkan kakinya. Rasa khawatirnya belum juga reda meski di depan matanya sendiri ia melihat Sujin masih dalam keadaan baik-baik saja. tidak terlihat menemui sesosok asing, pergi dari rumah atau mungkin bunuh diri? Jangan sampai perkiraan terakhirnya itu terjadi.

~æ~æ~æ~

Sujin menatap jam tangannya sekilas. Sudah lebih dari dua jam ia berjalan di tengah kota ini. sendirian. Lagipula siapa orang yang bisa ia ajak untuk menemaninya? Taemin? mustahil sekali. Justru hanya akan membuatnya kembali  menangis nantinya. Jinki? Oh Tuhan, Sujin tak ingin lebih menyakiti lelaki itu lagi. Minji? Well, bisa saja. namun ia tak ingin membawa sahabatnya itu ikut ke dalam gelapnya kesedihannya kali ini. Sudah cukup Minji juga menderita oleh kelakuan Key.

Ia menatap jalanan Shindang yang ramai di depannya itu. Pusat perbelanjaan ini tampaknya tak pernah sepi sama sekali. Langit yang sudah berubah senja itu kini seakan menjadi latar belakang pemandangan di depannya. Indah, namun juga membawa ketenangan tersendiri bagi Sujin saat ia menatapnya.

Ia kembali melangkah. Baru beberapa meter ia melangkah Sujin kembali menghentikannya. Ia menatap ke sisi kanannya. Sebuah toko accecories yang kini terlihat cukup ramai dengan gadis-gadis sebayanya. Ia tersenyum miris melihatnya. Digenggamnya syal yang melilit dilehernya itu dengan erat. Sedikit menggigit lidahnya agar ia menahan air mata yang hendak tumpah itu. andai ia bisa kembali ke tempat ini bersama Taemin, betapa indahnya pasti.

”Kenapa penjual permen kapas itu tak ada?” Sujin celingukan. Sedikit memanjangkan lehernya, mengedarkan pandangannya menatap sekeliling hanya untuk mencari sebuah gerobak sederhana yang menjual permen kapas berwarna pink muda.

Senyumnya mengembang saat sebuah benda terbungkus plastik—yang bentuknya seperti dakron pengisi bantal gulingnya di rumah—menyembul di tengah kerumunan orang. Ia melangkah dengan cukup cepat, perlahan-lahan hingga akhirnya ia sampai.

”Ahjumma, aku beli satu!” Ujar Sujin semangat sembari menyerahkan selembar uang seribu won dari saku seragamnya. Ia tersenyum senang ketika mendapatkan permen itu. bagaikan anak kecil seumur lima tahun yang masih gemar memakan manisan-manisan seperti ini.

”Aish… permen kapas sebesar ini seingatku, aku hanya bisa menghabiskan setengahnya saja. Lalu… aku membaginya dengan Taemin.” Sujin tersenyum pahit lagi sembari menundukkan kepalanya sejenak. Mungkin sebaiknya setelah ini ia pulang saja. meski sebenarnya ia masih ingin pergi ke tempat ice skating, atau mungkin namsan tower yang masih jauh. Tapi sepertinya acara ’kembali mengenang’nya ini bukanlah keputusan yang bagus.

”Kali ini aku akan menghabiskanmu sendiri! Semoga saja aku tidak sakit gigi nanti!” Seru Sujin semangat, diselingi kekehan tawanya. Ia membuka bungkus permen tersebut. Mengambilnya sejumput lalu memasukkannya kedalam mulutnya. Ia mengecapkan mulutnya, merasakan rasa permen tersebut yang mulai melumer juga di tenggorokannya. Keningnya berkerut saat ia menelan permen itu.

“Kenapa rasanya tak semanis biasanya?” Tanya Sujin sembari menatap permen kapas itu. Ia mendesah pelan. Dengan sangat kecewa ia membuangnya.

“YA! Kau baru memakannya sekali suap, kau sudah ingin membuangnya? Kenapa menyia-nyiakan seperti ini?”

Sujin tergelak saat sebuah teriakan seorang lelaki mengagetkannya. Ia yang sontak membalikkan badannya itu hanya bisa membulatkan matanya tak percaya saat melihat Jinki ada di depannya saat ini.

“Su… Sunbae… Mwohaeseujyo?”

Jinki tak menjawab pertanyaannya. Ia justru malah mengambil sedikit permen kapas itu dan memakannya. Keningnya berkerut saat lidahnya berusaha merasakan rasa permen yang menjalar di lidahnya itu.

“Permen ini sangat manis! Bagaimana bisa kau mengatakan permen ini tidak manis? Kau tidak sakit kan?” Jinki meletakkan telapak tangannya di kening Sujin. Memeriksa suhu tubuh gadis itu yang ternyata normal-normal saja.

“Aku baik-baik saja Sunbae!” Sujin menyingkirkan tangan Jinki yang kemudian di susul dengan kekehan lelaki itu. Membuat Sujin hanya mengerutkan kening tak mengerti.

“Aku tahu! Tidak bersama orang yang kau sukai pasti membuat semua suasana disini tidak semenarik biasanya. Benarkan?”

“Kau mengikutiku, Sunbae?” Pekik Sujin menyelidik. Ia bahkan menyipitkan matanya seolah Jinki memang benar-benar menguntitnya. Walaupun tanpa sepengetahuan Sujin memang itulah yang Jinki lakukan.

“Mengikutimu? Untuk apa? Aku masih punya banyak pekerjaan dirumah! Aku hanya ingin mencari udara segar. Aku jenuh.” Ujar Jinki, berbohong tentu saja. Akan jadi apa dirinya di hadapan Sujin jika saja ia berkata “Ya. Aku mengikutimu karena aku mengkhawatirkanmu. Aku belum bisa melepasmu dari pikiranku.”

Andai kalimat itu yang keluar dari bibir Jinki, ia yakin Sujin akan bersikap canggung padanya. Anggap saja kali ini Sujin tak tahu perasaannya. Anggap saja Jinki tak pernah mengungkapkannya. Anggap saja saat ini hubungan yang mereka jalin hanya sebatas teman biasa seperti awalnya. Atau mungkin anggap saja kali ini adalah sebuah perjalanan yang akan membawanya melupakan gadis itu dari dalam hatinya. Sepenuhnya, ia benar-benar telah membulatkan tekad untuk melupakan Sujin. Persetan meski Taemin pada akhirnya tak akan bersama Sujin. Karena bagaimanapun juga hati Sujin tak akan berpaling padanya, bukan?

“Baiklah karena aku bertemu denganmu disini. Kau mau menemaniku sebentar saja?”

~æ~æ~æ~

Lelaki berambut coklat, yang memiliki otot—tak terlalu besar memang—di tangannya itu kini tengah sibuk dengan beberapa koper yang baru saja ia keluarkan dari gudangnya. Ia mengangkat koper tersebut menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri itu. Dengan susah payah, ia membuka pintu kamarnya dengan kaki. Menjatuhkan secara sembarangan koper besar tersebut ke atas ranjangnya.

Ia membuka almarinya yang cukup rapi itu. Tidak terlalu sebenarnya, karena ada beberapa baju yang terletak melenceng dan keluar-keluar dari tumpukan itu. Sangat mengganggu mata. Ia mengambil cukup banyak helai baju dan meletakkannya secara rapi ke dalam koper tersebut. Tak lupa beberapa kejema dan jas formal  maupun semi formal. Ia juga mengambil cukup banyak celana jeans dan celana bahan yang mungkin akan dibutuhkannya untuk acara tertentu.

Klek…

Terdengar suara pintu terbuka. Jonghyun tak terlalu ambil pusing. Beberapa menit yang lalu Taemin menelponnya untuk datang kemari dan sudah jelas orang yang datang tersebut adalah Taemin. Hanya ia dan Taemin yang tahu kode apartemen ini. Oh, mungkin tambahan satu orang lagi, karena apartemennya ini ia beri kode yang sama seperti rumahnya yang ada di Paris sana.

“Kim Jonghyun, Eodiya?” teriak Taemin. Terdengar dari suara lelaki itu tampaknya sahabatnya itu sedang tidak dalam perasaan yang baik.

Jonghyun sempat berdecak kesal. Sebelum akhirnya memutuskan untuk hengkang dari kamarnya yang itu berarti meninggalkan aktivitasnya untuk berkemas. Sejujurnya ia sangat membenci harus berkemas sendiri seperti ini, selain terkadang ia ceroboh dan itu menyebabkannya lupa membawa beberapa barang, ia sendiri tak tahu bagaimana cara meletakkan barang-barang itu agar terlihat tak terlalu memakan tempat. Maka dari itu Jonghyun menggunakan koper besar agar ia bisa bebas meletakkan barangnya.

Begitu Jonghyun membuka pintunya, bisa dilihat Taemin sudah berada di ruang tamu. Apartemennya memang bukan apartemen yang elit—sehingga bagitu ia keluar kamar ia langsung berpapasan dengan ruang tamu, setidaknya cukuplah untuk tempat hidupnya. Lagipula Jonghyun sendiri tak ingin repot dengan membersihkan ruangan yang terlalu besar. Apartemen sekecil ini saja ia sering menyewa petugas untuk membersihkannya.

“Kenapa semua barang ini kau tutupi kain putih? Dan kenapa semua barang kau masukkan kedalam kardus? Kau mau kemana?” Tanya Taemin dengan alis  berkerut. Matanya sama sekali tak menatap Jonghyun dan justru menatap ke sekeliling. Masih merasa asing dengan ruangan yang kini serba putih oleh kain itu.

“Aku harus pulang…”

“Ke Paris?” Potong Taemin cepat seraya menoleh menatap Jonghyun.

“Tentu saja. Kedua orang tuaku dan adikku disana. Lagipula aku harus menemui Seo Ra Noona.” Jawab Jonghyun. Ia kemudian beranjak dan kembali berbenah. Memang sebenarnya keberangkatannya tidak secepat itu. Ia bukannya pergi besok atau lusa, tapi ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan berbenah. Sehingga ia tak perlu tergesa-gesa dan meminimalisir kecerobohannya nanti.

“Kupikir kau akan kuliah disini. Kenapa? Ada masalah dengannya?” Taemin mendudukkan dirinya. Meski merasa tak nyaman tapi ia berusaha mengabaikannya dan tetap duduk di atas sofa berlapis kain putih itu. Beruntung kain itu belum berdebu.

“Aku hanya pergi sebentar. Kau tahu kan? Bukan hanya dirimu yang dihadapkan dengan perjodohan! Setelah itu aku akan kembali ke sini dan mengurus kuliahku!”

Taemin terkekeh sembari memainkan ponsel di tangannya. Ia terus menatap Jonghyun kemanapun sahabatnya itu bergerak dan mengamati apa yang ia lakukan. Entah mengangkat sebuah kardus atau memasukkan barang lain ke dalam kardus. “Pertunanganmu di percepat?”

“Bingo! Dan tampaknya calon tunanganku tak suka itu! Semalam ia menelponku dan merutuk padaku. Dia bilang ingin focus dengan karirnya yang baru akan menanjak. Dasar wanita!”

“Akhirnya, kau merasakan juga betapa menyebalkannya terlahir dalam keluarga yang berkecimpung dengan dunia bisnis.” Cibir Taemin. Lelaki berambut merah mencolok itu mengambil sebuah buku tebal dan membukanya. Dilihatnya deretan angka dan huruf yang ada di sana. Ternyata hanya sebuah buku telpon biasa. Ia pun memutuskan untuk menutupnya dan kembali menatap Jonghyun dengan tangan yang dilipat di depan dada.

“Kau bangga sahabatmu menderita? Baiklah Lee Taemin, sebenarnya ada apa kau kemari? Kau tak mungkin kemari jika tak ada tujuan khusus. Kau juga tak mungkin kemari hanya untuk mengecek keadaanku, bukan?”

“Kau pikir aku baby sittermu? Pendapat! Tidak! Maksudku aku butuh saranmu. Kau tahu? Sujin!”

Jonghyun menatap Taemin dengan ekor matanya. Sejurus kemudian salah satu ujung bibirnya tertarik dan membentuk sebuah seringaian. Serta merta ia berdecak dan berjalan mendekati sahabatnya itu.

“Kenapa lagi? Masih tak mengerti dengan perasaanmu? Begini saja. Kau jangan berurusan lagi dengan Jinhae dan katakan pada Sujin kau mencintainya. Itu akan menyelamatkan pertunanganmu secara telak!”

“TAPI AKU TIDAK BILANG KALAU AKU MENCINTAINYA!”

“Kau memang tidak mengatakannya tapi kau merasakannya! Ck… kau bilang dirimu pintar. Mengikuti jalur aselerasi, tapi kau benar-benar bodoh soal cinta! Kau pikir aku guru pembimbing asmaramu?” Gerutu Jonghyun. Tak tanggung-tanggung ia melemparkan sebuah kemucing penuh debu pada Taemin. Membuat debu yang berserakan itu bertebaran dan alhasil Taemin terbatuk di buatnya.

“Aish… tampaknya percuma aku datang kesini!” Taemin bangkit dari duduknya dengan sedikit kesal. Ia memutari setengah bagian dari sofa itu dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

“YA!” teriakan Jonghyun membuatnya berhenti. Taemin lantas menoleh dan menanggapinya hanya dengan sebuah endikan dagunya. Menatap malas pada Jonghyun yang justru membuang-buang waktunya, bukannya memberi saran seperti yang diminta. Sebenarnya Jonghyun sudah memberinya saran, hanya Taemin saja yang tak ingin menerimanya.

“Dari matamu saja sudah terlihat bagaimana perasaanmu pada Sujin. Cepat temui Jinhae, rasakan baik-baik saat kau berhadapan dengannya masih seperti dulukah? Dan putuskan secara cepat. Maksudku jangan menundanya atau kau akan bimbang lagi! Jangan ragu, salah-salah kau bisa-bisa tak mendapatkan keduanya!”

~æ~æ~æ~

Satu bulan kemudian…

Gadis itu berpenampilan tak seperti biasanya hari ini. Ia mengikat rapi rambutnya ke atas dan membuatnya menjadi sebuah gulungan rapi dengan dihiasi pita berwarna pastel. Ia mengenakan dress yang terlihat lebih formal dari biasanya, dipadukan dengan sebuah blazer yang berwarna senada dengan pita juga high heelsnya.

Ia menatap pintu rumah mewah di depannya itu dengan ragu. Rumah itu memang tak kalah mewah dengan rumahnya, sehingga tak perlu lagi ia berkagum-kagum dengan rumah yang bersih dan banyak di hiasi tanaman itu. Namun keraguannya seketika itu kembali membuncah saat sebuah mobil sedan hitam berhenti beberapa meter di belakangnya.

Ia berbalik. Sudah diduganya siapa yang ada di dalam mobil itu. Lelaki dengan paras wajah yang lembut dan menenangkan. Rambut coklatnya itu ia sisir rapi dan sebuah senyum terulas meski tak terlalu lebar saat mendapati dirinya masih berdiri di depan rumah bernuansa mediterania itu.

“Kenapa masih berdiri disini? Tidak masuk?” Tanya Jinki dan hanya dibalas dengan tundukan kepalanya. “Aku tahu apa yang kau rasakan. Kau pasti takut terjadi sesuatu di dalam sana kan? Yang akan membuat perasaanmu tidak enak? Aku juga sama sepertimu. Tapi setidaknya kita masuk dulu. Sepertinya hanya tinggal kita yang belum hadir.” Ujarnya sembari menatap mobilnya dan mobil Sujin yang terparkir berdampingan. Serta sebuah motor sport berwarna merah yang sudah ia paham milik siapa.

Jinki membuka pintu rumah itu dengan cukup tenang. Tak perlu lagi ia mengetuk pintu atau bahkan menekan bel rumah itu. Untuk apa ia melakukan itu? Toh rumah besar ini bisa dianggap sebagai rumahnya juga. Rumah milik ayahnya yang itu berarti juga bisa ditempati oleh Jinki walaupun Jinki sebenarnya tak mau. Entahlah, berapa rumah yang sudah di miliki ayahnya itu, yang jelas ini adalah salah satu rumah keluarganya yang ada di Seoul.

“Sujin~ah, akhirnya kau datang!” Seru seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul menghampirinya. Memeluknya dengan cukup hangat sebagai sapaan selamat datang setelah terakhir kali mereka bertemu. Entah sudah beberapa bulan yang lalu.

Jinki hanya berlalu, meninggalkan Sujin yang masih terlihat canggung dan tak tahu harus bersikap seperti apa dengan wanita itu. Kang Saera, atau lebih tepatnya Nyonya di rumah ini. Istri dari Tuan Lee—Ayah Jinki dan Jinhae—dan ibu dari Lee Taemin.

“Kau cantik hari ini! Ayo kita masuk!” Wanita itu menarik tangan Sujin dengan lembut. Menuntunnya memasuki istananya lebih ke dalam lagi. Dan lebih dalam itu pula Sujin bisa melihat lukisan-lukisan mahal dan beberapa Kristal yang apik terpajang.

DEG…

Sujin menghentikan langkahnya tiba-tiba. Belum sampai mereka pada ruang makan—dimana mereka akan melaksanakan acara makan malam bersama hari ini. ya, Tuan Lee baru saja kembali dari Paris, selain dengan alasan ingin mengurus bisnis ia juga ingin menjemput istri tercintanya yang ingin kembali ke Paris. Well, tak perlu lagi bertanya-tanya, uang yang berlimpah membuat Tuan Lee tak perlu khawatir dengan terbuangnya uang yang akan ia gunakan untuk perjalanan Paris-Seoul demi menjemput Kang Saera. Dan Tuan Lee juga berkata ia ingin sekali semua anak-anaknya berkumpul bersama di makan malam kali ini. entah kenapa ia juga bisa undang, mungkin karena setahu mereka ia adalah tunangan Taemin.

“TAEMIN! JINHAE! APA YANG KALIAN LAKUKAN?” Serta merta wanita itu membentak. Persetan dengan betapa terkejutnya Sujin yang ada di sampingnya itu. Juga terkejutnya Taemin dan Jinhae yang lantas menoleh dan melepaskan pelukan mereka.

Sujin hanya bisa menatap nanar pada kedua insan itu. Setelah menatap wajah Jinhae yang tampak basah oleh air mata itu, Sujin menundukkan kepalanya.

“Kau pergilah ketaman belakang, ne? udara disana cukup segar.” Titah wanita itu dengan lembut. Karena ia tahu gadis muda di sampingnya ini pasti sangat terpukul dengan apa yang barusan dilihatnnya.

Bagaimana tidak? Melihat tunangannya—orang yang dicintainya—berpelukan dengan gadis lain apalagi itu adalah cinta lamanya, tentu membuat hati Sujin itu terasa perih. Seakan luka yang membuka kembali itu ditaburi garam yang menimbulkan perih teramat dalam.

~æ~æ~æ~

Sujin hanya termenung, duduk di sebuah bangku taman kembali. Menatap kosong pada kolam ikan yang hias air mancur itu. Selama satu setengah jam acara makan malam itu hanya membuatnya tersenyum dan sedikit berbicara. Menanggapi beberapa pertanyaanpun hanya secara singkat. Karena ia tak tahu dengan apa ia harus menjawab. Terlebih saat ditanyai hubungan pertunangannya dengan Taemin. Ia rasanya ia benar-benar ingin menjeritkan bahwa mereka sudah berakhir saat itu.

Entah kenapa suasana yang terasa di sana sangat canggung. Bayangkan saja, dirinya, Jinki, Taemin dan Jinhae berada dalam satu meja makan. Bisa dibayangkan betapa itu sangat mengerikan bagi keempatnya.

“Suasana di dalam sangat tidak enak. Aku benar bukan?” Sujin menoleh saat sebuah suara membuyarkan lamunannya. Dan betapa jantungnya harus kembali merasa berdebar-debar saat melihat Taemin kini duduk di sisinya. Sangat dekat dengannya dan tersenyum menatapnya.

Seperti patung Sujin saat ini. menatap Taemin seolah kehadiran lelaki itu di sisinya adalah sebuah hal mustahil yang kini terjadi. Sudah berapa lama sejak mereka berdua dalam jarak sedekat ini? sudah berapa lama sejak Sujin menatap senyum Taemin yang terlihat begitu ringan itu?

Sujin hanya terkekeh menanggapi pertanyaannya, dan berkata, “Iya bagiku. Tapi untukmu aku tak yakin. Oh… ngomong-ngomong selamat atas kelulusanmu! Kudengar kau mendapat peringkat kedua. Dibawah Jinki Sunbae.”

Taemin hanya tersenyum pahit sebagai balasan. Tanpa ucapan terima kasih sekalipun. Berharap saja senyumannya itu sudah mewakilkan rasa terimakasihnya.

Hening. Tak ada dari mereka yang berbicara. Hanya hembusan angin malam yang terasa sangat menusuk bagi Sujin kali ini. membuat hatinya yang menganga lebar akibat luka itu harus terasa seakan menggigil tanpa balutan kasih sayang. Dan bunyi gemericik air itu menambah canggung suasana yang tercipta di tengah keduanya.

Sesekali keduanya saling melirik meski akhirnya mereka cepat-cepat membuang muka saat tatapan mereka berpapasan. Taemin berdeham cukup keras, ingin menghilangkan rasa canggung serta sebagai awal untuk membuka pembicaraan.

“Aku akan kembali ke Paris.”

Jantung Sujin seakan berhenti berdetak sesaat ketika ia tergelak mendengar ungkapan Taemin. Namun berkebalikan dari yang diingan Taemin. Entah kenapa sebuah senyuman yang terulas di wajah Sujin itu bukanlah yang diharapkan oleh Taemin. Rasanya seperti kekecewaan justru yang ia rasakan. Ia sendiri tak mengerti. Tak mengerti, karena ia justru berharap Sujin menangis dan memeluknya. Atau setidaknya berkata pada Taemin untuk jangan pergi. Tapi yang dilihatnya saat ini Sujin justru tersenyum padanya.

“Kudengar Jinhae juga akan kembali ke Paris karena masa liburannya sudah habis disini. Apa kau sudah merencanakan sesuatu untuk kalian lakukan? Mm… kapan kau akan berangkat?”

Sujin masih membuka lebar matanya, tersenyum dan seakan-akan ia telah mendengar kabar yang begitu baik dari Taemin. Namun jauh dari apa yang ia pertunjukkan. Semuanya hanya topeng belaka. Topeng tebal yang menutupi raut kesedihannya, rasa kehilangannya, dan air matanya yang sebenarnya ingin ia tumpahkan. Berikut pula dengan begitu baik ia berusaha menutupi rasa ingin memeluk lelaki di depannya itu.

“Lusa. Aku akan berangkat lusa, bersama Jonghyun juga.” Bahu Taemin terlihat merosot. “Kau tidak menanyakan untuk apa sebenarnya aku kembali ke Paris?”

“Oh… kau benar. Aku lupa, untuk apa kau kembali ke Paris?”

Taemin lagi-lagi hanya bisa mendesah. “Aku harus kuliah disana. Permintaan Appa, sebelum akhirnya perusahaan diserahkan padaku. Apa kau akan datang mengantarku?”

“Maksudmu ke bandara? Aku tak tahu, aku belum melihat agendaku.” Jawab Sujin. Ia memalingkan sejenak wajahnya. Menghela nafas yang terasa begitu berat untuknya. Sesak juga. Dan rasanya sesuatu yang mengganjal di matanya itu ingin segera menyeruak keluar. Ia bahkan sudah meremas-remas sendiri tangannya, sebagai lampiasan atas semua perasaan campur aduk yang membuat hatinya tertekan itu. Kembali ia mencoba tersenyum sebelum akhirnya kembali menatap Taemin.

“Apa aku tampak tak terlalu penting untukmu?”

SANGAT! Kau sangat penting untukku, asal kau tau Lee Taemin! Jerit Sujin dalam batinnya. Namun tentu saja Sujin tak bisa mengatakan kalimat itu. Pasti akan terdengar sangat lucu di telinga Taemin. Dan alhasil Sujin hanya bisa menundukkan kepalanya.

Bungkam. Memilih diam ketimbang jawabannya justru membuat dirinya semakin sakit sendiri. Ketimbang nanti ia harus menangis nantinya.

Drttt…

Sujin terkesiap saat ponselnya terasa bergetar. Di amatinya layar ponselnya itu, sebuah pesan dari Minji. Dalam hati Sujin hanya bisa mengucap syukur. Betapa leganya akhirnya ia bisa mempunyai alasan untuk terlepas dari segala jerat kesakithatian yang sangat menyiksa ini.

“Taemin~ah…” Panggil Sujin. Oh… betapa kelunya bibir Sujin saat ia mengucapkan nama itu. Entah untuk berapa lama lagi ia bisa memanggil seperti itu. “Aku harus pergi. Aku lupa ada urusan dengan Minji.” Sujin bangkit.

Dan sesuatu yang teramat sangat diinginkannya itu terjadi. Taemin menahan lengannya. Menghentikan awal langkahnya yang hendak menjauhi Taemin. Ia pun berbalik. Menatap Taemin dengan penuh harap. Tak bisa dipungkiri ia sangat ingin mendengar Taemin mengungkapkan rasa cinta padanya. Meski ia sangat amat sadar hal itu mustahil terjadi. Haruskah ia menunggu sampai bulan di atas kepalanya itu runtuh hingga akhirnya Taemin mengucap kata cinta itu?

“Aku harap kau datang. Ada sesuatu yang aku ingin kau dengar.”

Sujin tersenyum sembari melepaskan genggaman tangan Taemin. Sedikit rasa kecewa menyelinap di batinnya. Kecewa karena ucapan yang keluar bukanlah yang ia ingin dengar. “Aku harap sesuatu itu tak membuatku lebih terluka. Na galkke!”

~æ~æ~æ~

Some hours before the departure…

Sujin mengintip dari balik pintu kamarnya. Sedikit aneh memang jika terlihat oleh anggota keluarganya yang lain. Namun ia tak peduli, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk tetap mengamati apa yang tengah lelaki—yang dicintainya—itu lakukan.

Terlihat dari ujung matanya yang mengintip itu, pintu kamar Taemin terbuka lebar. Dan terlihat jelas pula Taemin tampak sibuk mengemasi barang-barangnya yang cukup banyak itu. Tidak terlalu buru-buru memang karena setengah dari barangnya sudah di kemar semalam. Ia hanya bisa mendesah

Tangannya terangkat. Meraba bagian dadanya yang terasa sangat perih itu. Bukan luka fisik yang dideritanya. Oh well, Sujin akan lebih memilih menderita sakit fisik ketimbang sakit hati ini. Jujur saja ini sangat menyakitkan untuknya. Dan entahlah, berapa lama Sujin bisa bertahan dengan keadaan ini.

Ia hanya bisa menebak-nebak dalam hati, apa setelah kepergian Taemin ini ia akan langsung bisa tersenyum bahagia? Karena dengan begitu tak ada lagi orang yang membuatnya mengenyam yang namanya luka batin. Atau ia justru akan menangis tanpa henti setelah mendapati kamar lelaki itu sudah kosong. Tak ada lagi baju-baju yang biasa membalut lelaki itu, tak ada lagi wangi khas dari parfum Taemin yang biasanya membuat Sujin merasa nyaman saat menghirupnya. Dan lebih parahnya lagi tak ada lagi sosok yang bisa membuat jantung ini berdebar kencang.

Ia meraba bibirnya sendiri. Sebuah senyum pahit yang terlihat sangat menyedihkan itu terulas. Lembat laun derai air mata mengalir di bibirnya. Apa ciuman pertama dan terakhirnya hanya untuk Taemin seorang? Ia sangat ingin itu terjadi. Hanya untuk Taemin seorang ia memberikan lembutnya kecupan bibirnya. Tapi kapan lagi ia bisa merasakan itu? Kapan lagi ia bisa merasakan betapa manis dan lembutnya saat Taemin mencumbunya dengan hangat? Kapan ia bisa merasakan pelukan menghangatkan dari tangan Taemin?

Drrtt…

Sujin mengalihkan pandangannya. Diusapnya secara kasar air mata yang membasahi wajahnya itu. Keningnya berkerut, ketika ia menatap layar ponselnya. Sebuah nomor tak di kenalnya menelponnya dan itu benar-benar menganggu aktivitasnya yang tengah meratap itu.

“Yeoboseyo?” Ujar Sujin menjawab panggilan itu. Dengan suaranya yang terdengar serak dan bergetar.

“Ne. Ini aku. Lee Jinhae.” Sujin membelalakkan matanya begitu mendengar suara gadis itu menyebutkan nama Lee Jinhae sebagai perkenalan diri.

“Mwo? Mwohaneungeoya?”

“Satu setengah jam lagi pesawatku akan berangkat. Temui aku di JC café. Dua blok dari sekolahanmu.”

~æ~æ~æ~

~My Boy My Kiss~

To be continue

^Wait for other kiss^

AUTHOR’S NOTE:

Annyeong semuanya!!! Author mumuturtle kembali dengan membawakan FF lawas yang belum juga selesai ini… eh ralat maksudnya hampir selesai ini…

Gimana-gimana cerita di part ini? author sebenernya yakin gak yakin waktu mau publish ini, pasalnya, author ngerasa kayaknya Feel di part ini tuh kurang dapet banget. Mana ceritanya kayaknya rada melenceng ni. Huh… gak tau deh pasrah aja yah sama yang diatas. Semoga tetap menghibur.

Oya… kemarin ada yang Tanya lagi ni tentang tempat tinggal aku… aku jawab sekali lagi, aku dari magelang. :D

Eh tau gak tau gak tau gak? Author beberapa hari yang lalu mendapat ilham dari yang diatas. *bahasanya gak banget* jadi gini ni… kan ni FF jadinya tamat di part 15. Yang itu berarti tinggal satu part lagi kan? Mungkin casts disini udah selesai semua permasalahannya. Maksudnya permasalahan yang menyangkut inti cerita dari MBMK ini. tapi author punya keyakinan pasti reader semua masih bertanya-tanya ini kemana. Itu kenapa? Terus hubungan ini sama itu gimana? Iya kaaaaannnnn???

Jadi mungkin author akan berencana untuk membuat sekuelnya. Baru planning sih. Jadi gak tahu juga bakal dilakuin apa enggak. Tergantung respon reader juga ya? Dan tenang aja, niatnya ni ya… kalo gak ada halangan merintang semua casts Shinee aku kasih sekuelnya. Kecuali Taemin mungkin karena udah full di certain disini. Tapi gak tau sih jadi apa enggak… doain aja ya…

Dan kalo jadi… kalian maunya casts utamanya siapa? *emang reader setuju?/PLAK

Oke ini teaser untuk selanjutnya.

 

 

TEASER:

 

Not available..

Hehe, habisnya kan udah final. Masa perlu dikasih teaser lagi? Ntar gak seru dong..

*reader: author jahaaattt…. *ditimpuk pake sandal

Yaudah berhubunga author baik hati, sabar, suka menolong dan suka menabung author akan kasih sepenggal aja. Inget! SEPENGGAL AJA… well… check this out!!

“Aku mau semuanya putih. Dan aku ingin setelah acara itu kita tidak pergi kemanapun. Kau mengerti?”

Hayooo… ada yang bisa nebak arti dari penggalan tersebut? *kedip-kedip.

KEEP READ+COMMENT+LIKE that’s my oxygen to make my story better and better (aku harap aku tidak mengecewakan reader sekalian. *BOW oya kemarin kommen sempet turun dari part sebelumnya jadi secara jujur aja ya, author sedikit kecewa. Tapi gak papa author udah seneng masih ada yang mau kommen. ^^)

189 Responses to “My Boy My Kiss [Kiss~14]”

  1. ellen07 June 25, 2014 at 11:28 pm #

    akhirnya sampe di dua part terakhir??! XD
    semoga happy ending yaa

Trackbacks/Pingbacks

  1. My Boy My Kiss « Mumuturtle's Blog - June 14, 2012

    [...] Kiss 14 [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,715 other followers

%d bloggers like this: