Last Memories [2 of 2]

25 Apr

Tittle : Last Memories [2 of 2]

Author : Hikachovy (@Raechanyz)

Cast : Eunhyuk Super Junior

Genre : Romance, Angst

Length : Twoshot

Previous Part : Prolog, Part 1

a/n : Yang warnanya orange masih nyeritain flashback yah. Ntar klo warnanya item berarti itu udah masuk ke tahun 2012 ^^

Part akhir ini teramat sangaaaaaat panjaaaaaaaaang!! jadi siapin kopi segalon biar ga ngantuk. *plak* hahahah~

===========

Rae Eun mengeratkan jaket tebalnya dan terus mempercepat langkah kakinya agar bisa segera sampai ke gedung SM. Gadis itu mengerutkan wajahnya dengan ekspresi kesal yang terpancar dengan jelas sementara mulutnya terus mengeluarkan umpatan-umpatan yang ditujukan untuk evil magnae, Cho Kyuhyun.

Dengan sangat terpaksa, Rae Eun harus menerima nasibnya mengantarkan kaset di tengah cuaca dingin seperti sekarang ini hanya karena kalah taruhan dari Kyuhyun. Sangat konyol dan menggelikan. Kalau bukan karena sifat ‘sok mau ikut campur urusan orang’ , gadis itu pasti tidak akan mengalami nasib menyedihkan seperti ini.

Tadi karena tidak tega melihat Donghae yang beradu mulut dengan Kyuhyun, Rae Eun berinisiatif turun tangan dengan ikut-ikutan memaksa Kyuhyun agar mau mengantarkan kaset ke gedung SM yang berjarak tidak terlalu jauh dari dorm Suju. Niat awalnya, Rae Eun hanya ingin menjebak Kyuhyun dengan mengajaknya taruhan bermain kartu remi. Sejauh ini, permainan kartu remi Rae Eun tidak ada yang menandingi makanya gadis itu merasa yakin bisa menang dari Kyuhyun. Tapi malang baginya, hanya kurang dari lima menit Rae Eun sudah kalah telak dari Kyuhyun dan itu artinya mau tidak mau gadis itu harus rela jadi tumbal menggantikan Kyuhyun sebagai kurir pengantar kaset.

Rae Eun menghembuskan napas lega begitu melihat gedung SM yang sudah ada di depan matanya. Tapi entah kenapa, dadanya malah kembali berdegup kencang mengingat dia harus menyerahkan kaset yang berisi demo lagu itu kepada satu-satunya orang yang sedang ingin dihindarinya. Lee Hyukjae.

Sambil berjalan ke arah gedung SM, Rae Eun terus komat-kamit membaca doa dan berjuang meredakan debaran jantungnya yang semakin di luar kontrol itu. Rae Eun berharap kalau tugasnya kali ini bisa berjalan dengan lancar tanpa harus lama-lama bertatap muka dengan Eunhyuk.

Rae Eun berhenti tepat di sebuah ruangan yang tadi di tunjukkan oleh salah seorang karyawan SM ent. Rae Eun memegang dadanya kuat-kuat, menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah merasa cukup kuat, Rae Eun memegang handle pintu di depannya lalu mendorongnya ke depan.

Rae Eun melongokkan kepalanya ke dalam sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sampai tiba-tiba matanya menangkap sosok Eunhyuk yang tengah asik menari dengan diiringi lagu hip-hop. Nafas Rae Eun langsung tercekat saat itu juga.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Dan dua puluh menit berlalu sementara posisi Rae Eun masih tetap berada di tempat awal saat dia pertama kali datang. Matanya masih tetap menatap Eunhyuk dengan ekspresi kagum yang sulit untuk di sembunyikan.  Dadanya semakin berdegup kencang namun Rae Eun sudah tidak lagi peduli. Gadis itu begitu menikmati tarian Eunhyuk sampai mengabaikan semua hal yang terjadi pada organ tubuhnya yang saat ini mulai bersikap tidak wajar. Rae Eun benar-benar terhanyut dalam setiap gerakan tubuh Eunhyuk.

Rae Eun tau kalau laki-laki itu sangat pandai menari. Tapi Rae Eun baru tau kalau tarian laki-laki itu bisa membuat kesadarannya menipis secara perlahan. Matanya seolah dikunci sehingga sulit berkedip ataupun berpaling ke arah lain. Tarian laki-laki itu benar-benar memabukkan hingga membuatnya lupa untuk menghirup oksigen.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

DEG!

Rae Eun mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengumpulkan kesadarannya yang tadi sempat melayang-layang. Sejak kapan pria itu berhenti menari? Ah, tidak. Sejak kapan pria itu berdiri di depannya?

Rae Eun meneguk air liurnya dengan susah payah lalu mencoba menyunggingkan sebuah senyuman, meskipun ia tau senyuman yang keluar dari bibirnya itu pasti terlihat sangat aneh. “ah.. hai~” akhirnya Rae Eun sanggup mengeluarkan suaranya.

Eunhyuk tidak menggubris sapaan Rae Eun dan tetap menatap gadis itu sinis. “Aku tanya, apa yang kau lakukan disini? Menguntitiku?”

“Apa?” Rae Eun membulatkan matanya kaget.

“Tidak perlu memasang tampang polos seperti itu. Bukankah kemarin aku sudah bilang kalau aku, Lee Hyukjae tidak akan pernah terjebak dengan topeng sok polosmu itu, hem?” Eunhyuk mengulurkan kedua tangannya ke arah tembok hingga membuat tubuh Rae Eun terkunci sempurna. “Kau tau? Melihat wajahmu selalu membuatku mual dan ingin muntah. Jadi lebih baik cepat katakan apa tujuanmu datang kesini sebelum aku mengeluarkan semua isi perutku ke wajah sok polosmu itu.”

“Kau… benar-benar membenciku?”

“Sangat!” Eunhyuk melepaskan satu tangannya dari tembok, menyentuh dagu Rae Eun dan menariknya ke atas hingga membuat wajah gadis itu terangkat. Eunhyuk menyipitkan matanya dengan tajam. “Aku. Sangat. Membencimu.”

“Meskipun seandainya aku adalah gadis yang kau temui delapan tahun lalu?”

“Mwo?!” Eunhyuk mundur beberapa langkah.

“Apakah kau akan tetap membenciku jika seandainya aku adalah gadis yang kau temui di pinggir sungai Han delapan tahun yang lalu?”

Eunhyuk mengepalkan tangannya kuat-kuat, “Apa maksudmu?!”

“Apakah kau benar-benar tidak mengenaliku, Lee Hyukjae-ssi?” Rae Eun menatap Eunhyuk dalam-dalam. Setelah beberapa detik laki-laki itu tidak memberikan respon, Rae Eun akhirnya memutuskan untuk memalingkan wajahnya dan menarik napas berat. “Lupakan!”

“Jadi memang seperti ini wajah aslimu?” Eunhyuk kembali bersuara setelah beberapa menit mereka saling diam.

Ucapan Yeongmi semalam tiba-tiba saja memutari otaknya.

“Han Rae Eun, adalah gadis yang penuh tipu daya. Seperti yang pernah kukatakan padamu, kalau dia selalu memiliki cara untuk membuat mangsanya merasa tertarik padanya. Akalnya licik oppa. Mungkin kelak kau akan menemukan dirinya yang bertingkah mirip dengan sikapku di masa lalu. Atau bisa jadi, suatu saat dia malah mengaku-ngaku kalau orang yang kau temui delapan tahun yang lalu itu adalah dia, bukan aku. Segalanya bisa menjadi mungkin kalau Han Rae Eun yang melakukannya. Karena seperti yang pernah kukatakan padamu berulang kali, dia itu tamak dan licik.”

Semalam, Eunhyuk sulit mempercayai ucapan Yeongmi. Tapi sekarang….

“Apakah keinginanmu untuk menjauhkanku dengan Yeongmi begitu besar sampai kau harus berbohong sejauh ini? Dengar Rae Eun-ssi, Aku tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu itu. Aku akan selalu berada di samping Yeongmi dan hubungan kami tidak akan mungkin berakhir. Sampai kapanpun!” Eunhyuk menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya dengan begitu jelas.

Rae Eun tersenyum. Sesuatu yang aneh kembali dirasakan Eunhyuk saat melihat gadis itu tersenyum. Sesuatu yang membuatnya merasa bersalah karena harus membuat gadis itu menampakkan senyuman pahitnya. Sebisa mungkin Eunhyuk mengabaikan perasaannya itu dengan memalingkan wajah dan mengepalkan tangannya yang mulai bergetar.

Eunhyuk terkesiap saat merasakan tangannya disentuh. Matanya otomatis melihat ke arah tangannya yang kini sedang diselipi sebuah kaset.

“Aku kesini hanya untuk menyerahkan kaset ini. Seharusnya Kyuhyun yang menyerahkan kaset ini. Tapi karena sesuatu hal, terpaksa aku yang menggantikan Kyu memberikan kaset ini padamu.” Rae Eun menatap Eunhyuk sambil tetap tersenyum. “Aku tidak akan menjauhkanmu dengan Yeongmi kalau kau memang bahagia dengan adikku. Dan maaf kalau aku selalu membuatmu mual karena melihat wajahku. Aku tidak akan menampakkan wajahku lagi. Aku janji.” Rae Eun berbalik, dan langsung berjalan menjauhi Eunhyuk.

Rae Eun menutup matanya pelan mencoba menguatkan hatinya yang kembali terluka. Setetes air mata kembali terjatuh disusul oleh tetesan yang lainnya.  Kembali, gadis itu menangis.

“Sooo, dramatic! Ahahaah”

Rae Eun berhenti tepat saat akan memencet tombol lift. Tubuhnya segera berbalik ke belakang dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Yeongmi yang sedang tersenyum ke arahnya. “Apa kau kaget, onnie-ku sayang?” tanyanya sinis.

Rae Eun mengusap pipinya yang basah. “Kau… melihatnya?”

“Tentu!” Yeongmi berjalan ke arah Rae Eun dengan tangan yang bersedekap di atas dada. “Aku melihat semuanya” dia berbisik tepat di depan telinga kakak tirinya itu.

Yeongmi berjalan mengelilingi tubuh Rae Eun dengan tatapan sinisnya. “Kau.. benar-benar terlihat menyedihkan eonni~”

“Mianhe.” Rae Eun menutup matanya. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya —mencoba mengalihkan kegugupan. “Jeongmal mianhe Yeongie-ah..”

“Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kau meminta maaf?ahahhaa~ lucu sekali.”

Rae Eun menunduk. “Kalau kau ingin membalas dendam, lakukan itu padaku. Kumohon jangan permainkan dia mi-ya”

“Cish, permintaan macam apa itu? Jadi kau meminta maaf agar aku mau menuruti omonganmu? Jangan bercanda~”Yeongmi kembali menyandarkan tubuhnya di samping Rae Eun. “Kau harus merasakan apa yang pernah kurasakan dulu, Han Rae Eun-ssi.”

“Mau sampai kapan kau seperti ini, Hyeo Yeongmi? Masih belum cukup kah kau menjauhkanku dari orang-orang yang kusayangi?” Rae Eun kembali menangis. Mengingat orang-orang yang disayanginya kini membencinya karena ulah Hyeo Yeongmi membuat hatinya kembali merasa sakit.

 “Kau tau dengan jelas kenapa aku jadi seperti ini Han Rae Eun-ssi. Kalau bukan karena kau yang memulainya, aku pasti akan membiarkanmu bersama orang-orang yang kau sayangi.” Yeongmi memainkan jari-jari kukunya sambil sesekali menatap Rae Eun. “Kau sudah membuatku menderita karena kehilangan Jonghoon. Maka aku pun akan membuatmu menderita dengan mengambil mereka-mereka yang kau sayangi. Termasuk…..” Yeongmi mendekatkan tubuhnya ke arah Rae Eun dan kembali berbisik tajam, “Lee Hyukjae.”

Rae Eun terhenyak.

Mendengar nama Jonghoon dan Hyukjae di waktu yang bersamaan membuat nafasnya tercekat.

Kim Jonghoon, adalah salah satu pacar Yeongmi yang bisa dibilang paling Yeongmi sayangi di antara laki-laki yang pernah menjadi pacarnya. Di antara pria lain, Jonghoon memang yang paling memberikan kesan baik pada Yeongmi. Pria itu tidak pernah terlihat memanfaatkan Yeongmi dalam hal apapun.

Saat memasuki perguruan menengah atas, Yeongmi sempat mengenalkan Jonghoon pada Rae Eun dan mengatakan kalau dia ingin serius dengan laki-laki itu. Untuk pertama kalinya, Yeongmi meminta Rae Eun merestui hubungan mereka — yang berarti dia tidak ingin melihat Rae Eun merebut kekasihnya lagi.

Pada awalnya, Rae Eun memang menyetujui permintaan Yeongmi. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak ikut campur urusan adiknya. Terlebih, saat Rae Eun melihat sikap Jonghoon yang sangat perhatian dan baik tanpa ada unsur memanfaatkan sama sekali.

Rae Eun sempat merasa yakin kalau Jonghoon pastilah laki-laki yang berbeda dari laki-laki yang selama ini dikenalnya. Rae Eun cukup merasa lega karena pada akhirnya Yeongmi bisa menemukan laki-laki yang tepat, yang bisa mencintainya sepenuh hati seperti yang dilakukan Kim Jonghoon.

Tapi sayangnya, keadaan seperti itu tidak bertahan lama.

Enam bulan sejak Yeongmi berpacaran dengan Jonghoon, Rae Eun dan Seunghwan secara tidak sengaja melihat Jonghoon bermesraan dengan wanita lain. Seunghwan yang emosi, langsung menghajar Jonghoon habis-habisan. Dan emosi Seunghwan semakin meningkat saat Jonghoon mengatakan kalau dia tidak benar-benar tulus mencintai Yeongmi.

Di luar dugaan, Jonghoon ternyata hanya menjadikan Yeongmi sebagai bahan taruhan dengan teman-temannya. Bahan taruhan untuk mengambil keperawanan Yeongmi. Tapi karena Jonghoon tidak kunjung memperoleh apa yang diinginkannya, laki-laki itu akhirnya memilih menyerah dan mencari wanita lain yang bisa memuaskan keinginannya. Meskipun tetap, dia tidak melepaskan Yeongmi sepenuhnya. Jonghoon masih tetap menjadi pacar  Yeongmi. Atau mungkin bisa dikatakan, laki-laki itu masih menunggu waktu yang tepat untuk mengambil hal berharga milik Yeongmi.

Saat mendengar itu, Rae Eun dan Seunghwan benar-benar terkejut. Sama sekali tidak menyangka kalau Kim Jonghoon yang mereka kenal bisa melakukan hal sehina itu.

Seunghwan yang selama ini mencintai Yeongmi, benar-benar kalap saat mendengar ocehan Jonghoon. Emosinya benar-benar tidak terkendali hingga ia tidak sadar saat sebuah mobil silver berkecepatan tinggi tengah melaju ke arahnya. Seandainya Rae Eun tidak bergerak cepat, tubuh Seunghwan pasti langsung remuk. Untungnya, beberapa detik sebelum mobil itu menghantam Seunghwan, Rae Eun berhasil mendorong tubuh pamannya dengan cepat hingga membuat Seunghwan selamat.

Tapi sayangnya, Kim Jonghoon yang harus menerima imbasnya. Jonghoon meninggal di tempat saat mobil silver itu menghantam tubuhnya.

“Kenapa kau diam?” Suara Yeongmi membuat kesadaran Rae Eun tertarik kembali dan bayangan menyeramkan itu lenyap seketika.

Tubuh Rae Eun kembali bergetar hingga membuat semua tulangnya melemas. “Kim Jonghoon…..” Rae Eun menutup matanya, membiarkan bulir-bulir air mata itu membasahi kedua pipinya. “Aku benar-benar menyesal atas apa yang terjadi pada Jonghoon. Tapi kejadian itu benar-benar di luar kehendakku. Aku  dan Seunghwan ajjuhssi….” Rae Eun menggigit bibir bawahnya pelan. “Saat itu kami benar-benar tidak bisa mengontrol diri karena—” Rae Eun segera menutup mulutnya saat kalimat yang selama ini ditahannya hampir keluar.

“Karena apa?”

Rae Eun diam. Dia kembali menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

“JAWAB!!”

Karena Jonghoon berniat mengambil keperawananmu. Karena Jonghoon menjadikanmu sebagai bahan taruhan dengan teman-temannya. Karena Jonghoon sudah mempermainkanmu.

Rae Eun ingin sekali mengucapkan kalimat itu. Tapi dia tidak sanggup. Tidak pernah sanggup.

Salah satu kebodohannya yang lain adalah, Rae Eun selalu merasa tidak kuat saat harus mengatakan hal yang bisa membuat Yeongmi sakit hati.

Selama ini Yeongmi hanya tau Jonghoon mati karena Seunghwan yang menghajarnya hingga sebuah mobil menabrak tubuhnya. Yeongmi tidak pernah tau alasan dibalik itu semua.

Rae Eun dan Seunghwan memutuskan untuk menyembunyikan semuanya dari Yeongmi karena mereka berdua tau sebesar apa rasa cinta Yeongmi untuk Jonghoon. Kabar Jonghoon meninggal sudah cukup membuat Yeongmi terpukul dan menderita. Dan mereka berdua tidak ingin menambah penderitaan Yeongmi dengan mengatakan tujuan Jonghoon menjadikan Yeongmi sebagai pacarnya. Rae Eun dan Seunghwan tidak sanggup kalau harus menambah luka baru untuk Yeongmi. Itulah kenapa mereka memilih untuk diam. Meskipun dengan begitu, mereka jadi dibenci Yeongmi habis-habisan.

Sejak kematian Jonghoon, Yeongmi menjadi semakin antipati terhadap Rae Eun dan Seunghwan. Bagi Yeongmi, Rae Eun dan Seunghwan tidak lebih dari seorang pembunuh yang harus segera dimusnahkan.

Yeongmi jelas tidak mampu memusnahkan Rae Eun dan Seunghwan sesuai dengan keinginannya. Tapi hal itu tidak membuat Yeongmi kehilangan akal. Jika Yeongmi tidak mampu memusnahkan Rae Eun dan Seunghwan, maka setidaknya gadis itu harus bisa membuat Rae Eun dan Seunghwan  merasakan apa yang sudah dia rasakan. Yeongmi ingin melihat bagaimana hancurnya Rae Eun dan Seunghwan saat kehilangan orang-orang yang mereka sayangi.

Perlahan tapi pasti, Yeongmi mulai melakukan berbagai macam cara untuk menjauhkan Rae Eun dan Seunghwan dari sahabat-sahabat mereka. Yeongmi rela melakukan apa saja asalkan tujuannya itu bisa tercapai. Tidak jarang Yeongmi memfitnah atau mengadu domba Rae Eun dan Seunghwan dengan sahabat-sahabat mereka agar mereka berdua dibenci dan dijauhi. Dan cara seperti itu nyatanya memang cukup efektif. Rae Eun dan Seunghwan kini telah banyak kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. 

Selalu ada kebahagiaan tersendiri setiap kali melihat dua orang yang sudah merampas kekasihnya itu menderita karena di tinggalkan orang-orang yang mereka sayangi.  

“Kenapa kau tidak menjawabnya onnie-ku sayang? Kau tidak mampu bilang kalau kalian melakukan itu semua karena ingin melihatku menderita? Hah?!”

Rae Eun membulatkan matanya. “Apa?! Demi Tuhan, kami tidak pernah berpikir seperti itu! Kau tau kami berdua sangat menyayangimu. Mungkin caraku dan Seunghwan ajjuhssi dalam mengungkapkan rasa sayang memang salah. Kami terlalu banyak ikut campur dan over protektif. Tapi percayalah itu semua karena kami tidak ingin melihatmu terluka Yongie-ah.”

“Tidak ingin melihatku terluka? Cih!” Yeongmi mendengus dan kembali menatap Rae Eun tajam. “Lalu apakah membunuh Jonghoon adalah salah satu bentuk kasih sayang kalian untuk membuatku TIDAK TERLUKA HAH?!”

“Mianhe.” Rae Eun kembali menundukkan kepalanya.

“Seharusnya kalian berdua dipenjara seumur hidup atau malah dihukum mati. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di otak para polisi brengsek itu sampai membuat kalian dibebaskan begitu saja!” Yeongmi menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menyeringai. “Tapi tidak masalah. Toh saat ini aku sudah bisa menikmati hukuman yang pantas untuk kalian dengan cara yang jauh lebih menyenangkan.”

“Yeongie-ah..”

“Apa? Kau mau protes?” Yeongmi menarik napas panjang. “Kau tau? Rasanya benar-benar menyenangkan saat melihatmu dan Seunghwan di dorm Suju saat itu. Ekspresi kalian benar-benar seperti orang bodoh yang menyedihkan. Aku bahkan tidak menyangka kalau pada akhirnya seorang Han Rae Eun yang biasanya diam dan pasrah mau turun tangan untuk menghentikan rencanaku menghancurkan Lee Hyukjae.” Yeongmi menatap Rae Eun sambil tersenyum. “Apa kau sudah siap melihat Lee Hyukjae kesayanganmu itu hancur seperti Park Jino?”

“Lee Hyukjae tidak tau apa-apa. Kumohon jangan libatkan dia Hyeo Yeongmi. Kau boleh melakukan apa saja padaku. Tapi kumohon jangan bawa-bawa dia!” Rae Eun menatap Yeongmi penuh harap. Gadis itu sama sekali tidak mampu membayangkan jika apa yang sudah terjadi pada Jino menimpa  Hyukjae.

Park Jino adalah salah satu sahabat terbaik Rae Eun. Laki-laki itu sudah Rae Eun anggap seperti kakaknya sendiri. Rae Eun dan Jino sudah bersahabat sedari kecil. Ikatan mereka begitu kuat sampai seorang Hyeo Yeongmi menghancurkan semuanya.

Tanpa Rae Eun ketahui, Jino ternyata menyimpan perasaan pada Yeongmi. Melihat kenyataan seperti itu membuat Yeongmi seolah mendapatkan peluang emas. Yeongmi mendekati Jino hingga mereka akhirnya berpacaran. Dan saat dimana Jino sudah menyerahkan segalanya dan tidak bisa terlepas dari sosok dirinya, Yeongmi meninggalkan Jino begitu saja. Membuat Jino benar-benar terjatuh hingga akhirnya laki-laki itu memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Rae Eun tau kalau Eunhyuk pasti tidak selemah Jino. Tapi tetap saja, Rae Eun tidak bisa tenang kalau belum memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Eunhyuk mampu bertahan jika seandainya Yeongmi melakukan sesuatu yang membuatnya down.

Dan itulah kenapa Rae Eun memaksakan diri menemui Eunhyuk dengan berpura-pura sebagai mahasiswa yang akan melakukan observasi. Selain karena Rae Eun ingin memenuhi janji yang pernah diucapkannya delapan tahun silam, Rae Eun juga ingin melakukan sesuatu agar Eunhyuk tidak masuk perangkap Yeongmi.

Rae Eun tidak ingin mengalami penyesalan seperti dulu.

Dulu, Rae Eun membiarkan Yeongmi melakukan semua yang diinginkannya karena dia masih merasa bersalah atas kematian Jonghoon. Rae Eun selalu menganggap bahwa apa yang diterimanya saat itu memang sepadan dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Yeongmi. Kasih sayang Rae Eun yang justru sering membuat Yeongmi terluka membuat Rae Eun membiarkan semua perlakuan buruk Yeongmi terhadapnya. Sampai pada akhirnya Jino meninggal dengan mengenaskan membuat Rae Eun sadar bahwa dia tidak bisa terus-menerus diam dan berpangku tangan. Rae Eun harus melakukan sesuatu sebelum datang ‘Jino-Jino’ yang lain yang menjadi korban Yeongmi.

“Untuk apa kau terus-menerus memohon untuk hal yang tidak akan mungkin kupenuhi Han Rae Eun-ssi?” Yeongmi kembali menyunggingkan senyuman khasnya. “Ah, ngomong-ngomong aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menceritakan tentang semua pertemuanmu dengan Lee Hyukjae delapan tahun lalu. Kau tau, ceritamu itu benar-benar membuat rencanaku berjalan mulus sampai laki-laki bodoh itu bertekuk lutut. Hahahah~ Dia bahkan bisa dengan mudahnya percaya kalau aku adalah gadis yang ditemuinya delapan tahun lalu hanya karena aku memperlihatkan sebuah gantungan kunci murahan dengan foto konyol itu. Benar-benar menggelikan!”

Rae Eun mengepalkan tangannya kuat-kuat— mencoba menahan diri untuk tidak menampar Yeongmi. “Kau benar-benar menyeramkan!”

“Benarkah? Bukankah kau jauh lebih menyeramkan dariku, hmm? Jangan salahkan aku nona. Apa yang sudah terjadi sekarang adalah buah dari kesalahanmu. Salahmu sendiri kenapa menceritakan semua petualangan konyolmu itu padaku dan menyimpan barang-barang menggelikan itu di sembarang tempat. Jika sekarang Lee Hyukjae-mu itu jauh lebih mempercayaiku dibanding dirimu, itu semua bukan kesalahanku. Dan sekali lagi kuingatkan, jangan terlalu banyak berharap untuk hal yang sia-sia. ok?”

“Kau…” Rae Eun benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. Gadis di depannya ini, benarkah dia adalah Hyeo Yeongmi yang begitu ia sayangi?

“Kurasa kau harus belajar melupakan Lee Hyukjae. Karena aku tidak akan membiarkan laki-laki bodoh itu mengenalimu. Aaaah, rasanya benar-benar menyenangkan bisa membuat orang yang kau sayangi membencimu habis-habisan seperti itu. Aku jadi penasaran, siapa yang paling bodoh di antara kalian. Kau? Atau Hyukjae? hahaha~”

PLAAAK!

Sebuah tamparan yang sudah ditahan Rae Eun sekuat tenaga akhirnya meluncur juga ke pipi mulus Yeongmi.

“Kau menamparku? Tampar saja!! Tamparanmu tidak akan merubah apapun. Kau akan tetap kubuat menderita. Kau dan Seunghwan harus masuk ke dalam neraka!!”

PLAAK!!

“HAN RAE EUN!! APA YANG KAU LAKUKAN??!!”

“Oppaaa~~!! huhuhuhu” Yeongmi segera berlari ke arah Eunhyuk yang datang tiba-tiba.

“Gwenchana?” Eunhyuk memegang pipi kekasihnya itu pelan dan langsung mendapatkan ringisan manja dari Yeongmi. “Aww sakit oppa~”

Eunhyuk membalik tubuh Rae Eun dengan kasar. PLAK! Eunhyuk menampar Rae Eun hingga membuat tubuh gadis itu terhuyung ke belakang dan langsung jatuh menyentuh lantai. Rae Eun bergeming. Gadis itu menangis tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

“BAGAIMANA RASANYA HAH??!”

“Oppa~ Jangan sakiti eonni. Aku tidak apa-apa. Sungguh!” Yeongmi menarik-narik lengan Eunhyuk. Tapi laki-laki itu tidak bergerak sedikitpun. Matanya masih tetap terarah pada tubuh Rae Eun yang terlihat lemah. “Kenapa sekarang kau diam hah? Mau berakting lagi? Mau memasang wajah sok polos lagi? Cih! Kau benar-benar membuatku muak Han Rae Eun-ssi. Pastikanlah untuk tidak muncul di hadapanku dan Yeongmi kalau kau masih ingin hidup. Mengerti?!” Eunhyuk menarik tubuh Yeongmi lalu pergi meninggalkan Rae Eun.

Sakit. Kenapa rasanya harus sesakit ini?

Bukan, ini bukan karena tamparan yang diberikan laki-laki itu.

Ucapannya, tatapan matanya, dan semua nada kebencian yang dikeluarkannya membuat Rae Eun jauh lebih merasa kesakitan. Lobang di hatinya kini semakin menganga lebar. Untuk kesekian kalinya, gadis itu kembali memperlihatkan kelemahan yang paling dibencinya. Menangis.

=O=

Sejak hari itu, Rae Eun benar-benar menjauhkan dirinya dari Eunhyuk. Bukan karena sikap kasar Eunhyuk atau karena dia ingin menyerah. Sampai saat ini Rae Eun bahkan masih menginap di dorm suju, juga masih menjalankan statusnya sebagai asisten sementara Suju dengan alasan yang sama yaitu untuk observasi. Rae Eun masih memiliki waktu dua minggu dari jatah satu bulan yang dimilikinya. Itulah kenapa gadis itu belum ingin menyerah. Alasan kenapa dia menjauhi Eunhyuk hanya karena dia tidak ingin membuat Eunhyuk semakin membencinya.

Setiap hari, Rae Eun seperti main kucing-kucingan. Dia pasti akan langsung bersembunyi setiap kali melihat Eunhyuk ataupun mendengar suara laki-laki itu. Terlihat begitu konyol dan kekanakkan. Beberapa member Suju juga sering menegur tingkah konyolnya itu. Tapi Rae Eun tidak peduli. Apapun akan Rae Eun lakukan asalkan dia bisa bertahan di tempat ini sampai waktu yang dimilikinya habis. Sejujurnya, perjuangan Rae Eun untuk bisa sampai ke tempat ini tidaklah mudah. Rae Eun harus berungkali meyakinkan kedua orang tuanya bahwa apa yang dilakukannya ini benar-benar penting. Mengingat kondisinya yang tidak begitu baik membuat Rae Eun benar-benar kesulitan untuk mendapatkan ijin dari ayah dan ibunya. Setiap kali ingat usahanya yang tidak mudah untuk bisa sampai kesini, membuat Rae Eun semakin bersikukuh untuk tetap bertahan.

“Waaah! Tadi itu benar-benar menakjubkan. Kalian lihat kan bagaimana mereka meneriakkan namaku? Lee Hyukjae! Lee Hyukjae! hahhaha~”

Rae Eun yang sedang bermain game dengan Kibum dan Kyuhyun langsung melempar stick ke sembarang tempat dan berlari ke kamarnya  begitu mendengar suara Eunhyuk dari arah pintu masuk.

“Yaa! kenapa kau melempar stick-nya ke kepalaku bodoooh!!” Rae Eun memegang dadanya yang bergerak tidak beraturan karena tegang. Masih di dengarnya suara Kyuhyun yang marah-marah tapi gadis itu tidak membalasnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membalas ucapan Kyuhyun.

Belum selesai Rae Eun menenangkan jantungnya, dia kembali terlonjak kaget saat  pintu kamarnya diketuk tiba-tiba dan wajah Donghae muncul di balik pintu. “Boleh aku masuk?” Rae Eun mengangguk.

Donghae duduk di samping Rae Eun. “Apa kau baik-baik saja?”

Rae Eun mengangkat sebelah alisnya. “Memang kenapa?”

“Apa terjadi sesuatu saat aku menyuruhmu mengantarkan kaset ke Eunhyuk?”

Rae Eun tersentak. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. “Tidak. Tidak terjadi apa-apa.” Rae Eun memalingkan wajahnya.

“Tatap aku Rae Eun-ah.” Suara Donghae yang pelan tapi tegas membuat ketakutan Rae Eun semakin menjadi. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Rae Eun menatap Donghae. “Bukankah saat pertama kali kau datang, kau sudah berjanji akan menganggapku sebagai kakakmu? Aku masih kakakmu kan?” Rae Eun mengangguk meskipun tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Donghae. “Kalau kau masih menganggapku sebagai kakakmu, kumohon ceritalah. Kau berubah dan selalu menjauhi Eunhyuk sejak aku menyuruhmu mengantarkan kaset itu. Sikap Eunhyuk juga jadi berubah setiap kali dia melihatmu. Aku sudah cukup lama mengenalnya. Dan aku tidak pernah melihat tatapan Eunhyuk yang seperti itu sebelumnya. Ada apa dengan kalian?”

“Tatapan seperti itu? Apakah maksudmu dengan ‘tatapan seperti itu’ adalah tatapan kebencian yang sering diarahkannya padaku?”

“Rae Eun-ah..”

“Dia membenciku oppa. Tidak ada alasan lain selain itu. Kau sendiri bahkan sudah tau itu kan? Kenapa kau masih bertanya?”

“Tapi kenapa?”

“Aku….. tidak bisa menjelaskannya. Suatu saat kau pasti akan tau. Tapi tidak sekarang.”

“Kalau kau tau dia membencimu lalu kenapa sampai sekarang kau masih diam-diam memperhatikannya, hmm? Jangan kau pikir aku tidak tau saat kau diam-diam menyimpan botol minuman untuk dia di ruang latihan. Atau saat kau menyimpan obat sakit punggung di kamarnya saat dia kelelahan berlatih menari. Aku juga sering melihat kau menyimpan makanan di tasnya setiap kali dia akan berangkat syuting dan tidak sempat makan. Han Rae Eun, kau begitu memperhatikannya dari hal-hal yang terkecil sekalipun. Kau tersenyum di depan kami semua, tapi diam-diam kau menangis setiap kali melihat Eunhyuk mengacuhkanmu. Ada apa denganmu? Kalau kau mencintainya, tunjukkan. Bukan dengan menghindarinya seperti ini.”

“Oppa..” Rae Eun menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau Donghae bisa tau semuanya. Bagaimana Donghae bisa tau? Dan.. Bagaimana Rae Eun harus menjelaskannya?

“Matamu… Aku bisa melihat ketulusan dari matamu. Kau tulus mencintainya. Tapi bukan berarti kau harus menyiksa dirimu seperti ini. Aku benar-benar tidak sanggup kalau harus selalu melihatmu begini Rae Eun-ah. Ceritalah padaku ada apa. Kenapa Eunhyuk bisa membencimu? Ijinkan aku membantumu sebagai kakak. o’ ?”

Rae Eun menatap Donghae dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sebisa mungkin gadis itu menahan air matanya agar tidak terjatuh. “Oppa gomawo. Tapi untuk saat ini, tidak ada yang bisa kita lakukan. Kau ataupun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Eunhyuk membenciku ada alasannya. Dan aku pun menghindarinya ada alasannya. Kelak, aku pasti akan bercerita. Hmm?”

“Kalian benar-benar menyebalkan. Eunhyuk tidak mau mengatakan apa-apa. Kau juga begitu. Apa aku benar-benar tidak bisa dipercaya?” Donghae merengut dan memasang wajah pura-pura kesal. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum saat melihat Rae Eun tertawa. Donghae mengacak-ngacak rambut Rae Eun pelan. “Teruslah tertawa seperti itu gadis Han~”

“Gadis Han mwoyaaa~? Hanya Seunghwan ajjuhssi yang boleh memanggilku seperti itu.” 

“Biar saja. Pokonya mulai sekarang aku akan memanggilmu seperti itu. Hahaha~”

“Yaa! andweee”

=O=

“Makan malam bersama? Aku tidak mauuu~” Rae Eun mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan Heechul tapi sia-sia.

“Kau harus mau!”

“Kim Heechul!!”

Heechul berhenti berjalan dan membelalakkan matanya lebar. “KIM HEECHUL? KAU BILANG KIM HEECHUL?”

“Ehehehhe. Heenim yang cantik~”

“Bagus! panggil aku seperti itu.” Heechul kembali berjalan dan menarik tangan Rae Eun.

“LEPASKAN AKUUU!”

“Tidak!”

“Yaaa~”

“Hari ini kangin ulang tahun. Dan semua orang harus merayakannya tanpa terkecuali.”

“Aku bisa merayakannya dengan Kangin oppa berdua. Pokonya aku tidak mau pergi~~” Rae Eun menghentikan langkahnya –mencoba menahan langkah Heechul yang terus menariknya.

“Heish, kau ini menyusahkan sekali. Ayo!”

“TIDAK!!”

Heechul menyipitkan matanya. “Apa karena Lee Hyukjae?”

“Mwo? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Hyukjae tidak akan menerkammu hidup-hidup. Aku yang akan jaminannya. Ayo!” Heechul kembali menarik tangan Rae Eun namun gadis itu tetap bergeming. “Han Rae Eun!!”

“Aku tidak mau oppa~” Rae Eun mulai merajuk.

“Aku hitung sampai tiga kalau kau masih tidak bergerak, aku akan menggendongmu!” Rae Eun membulatkan matanya. “Satu Dua Tiga!” Heechul menghitung sampai tiga dengan tempo yang sangat cepat lalu menarik tubuh Rae Eun dan mengangkatnya lalu menyampirkannya ke bahu, persis seperti gaya seorang penculik.

“KIM HEECHUUUL TURUNKAAAN AKUUUUUU!!”

=O=

“Gadis Han?” Seunghwan mengerjapkan matanya saat berpapasan dengan Rae Eun di pintu masuk restoran.

“Ajjuhssi, antarkan aku pulaaaaang! Aku diculik.” Rae Eun mendelik ke arah Heechul saat menyebutkan kata ‘diculik’.

“Diculik? Bagaimana bisa? Ahahaha”  Seunghwan tertawa membuat Rae Eun mendengus sebal. “Sudahlah, kurasa kau tidak akan apa-apa. Aku tidak bisa mengantarmu pulang karena selesai dari sini aku ada acara menemani Yesung.”

“Ajjuhssi~~~” Rae Eun merajuk.

“Dasar anak kecil. Ayo!” Heechul kembali menarik tangan Rae Eun. “Kau itu sudah masuk ke dalam Hee-line. Dan itu artinya kau harus berani sepertiku. Bukannya jadi anak cengeng begini.”

Rae Eun membulatkan matanya. “Aku tidak manja! dan kapan aku masuk ke dalam Hee-Line? Aku ini gadis normaaaal~ aww! kenapa kau menjitakku?”

“Halo gadis Haaan~” suara Donghae langsung menyambut Rae Eun dan Heechul begitu mereka berdua masuk ke dalam private room. “Kau benar-benar datang!”

“Itu karena aku diculik! Aaaaaw, kenapa kau menjitakku lagi Kim Heechul?”

Heechul melotot. “Kim Heechul?”

“Heenim yang cantik~ gezz!”

Rae Eun duduk di samping Donghae sambil melipat tangannya di atas dada.

“Kami berarti tidak salah mengirim Heechul hyung sebagai penjemputmu. kkkk~”

“Mwoyaa?! jadi kalian yang mengirimkan nenek sihir itu ke dorm?”

“Han. Rae. Eun.”

Bulu kuduk Rae Eun langsung merinding begitu mendengar suara Heechul tepat di belakangnya. Rae Eun menoleh. “Ehehehe Heenim cantik~ waaaaaaa”

=O=

Acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Kangin cukup meriah. Rae Eun sendiri cukup menikmati acara itu meskipun sesekali dadanya berdegup kencang setiap kali matanya beradu pandang dengan Eunhyuk. Sorot mata kebencian itu masih sering menghujam jantungnya membuat Rae Eun merasa kurang nyaman. Kehadiran Yeongmi di pesta itu membuat keadaan semakin memburuk. Kalau bukan karena Heechul dan Donghae yang selalu berada di sisinya, Rae Eun pasti tidak akan bertahan lama di pesta itu.

“Wajahmu pucat. Apa kau lelah?” Donghae berbisik khawatir.

Rae Eun menggeleng. Beberapa menit yang lalu Rae Eun memang merasa badannya kurang sehat. Tapi Rae Eun mengabaikannya. Dia hanya ingin menikmati kebersamaan ini dan tidak mau membuat orang-orang yang ada di sekitarnya khawatir. “Gwenchana oppa.” Rae Eun berdiri dari kursinya membuat Donghae mengernyit heran. “Kau mau kemana?”

“Toilet.”

Rae Eun baru saja akan berjalan ke arah pintu saat Yeongmi memanggilnya. “Eonni!” Rae Eun berbalik.

“Kau baik-baik saja? Dari tadi kuperhatikan, kau sepertinya kurang sehat.” Yeongmi menyodorkan segelas orange juice ke arah Rae Eun. “Minumlah. Orange Juice bisa membuat tubuhmu sedikit segar.”

Rae Eun memperhatikan Yeongmi lekat-lekat. Apalagi yang direncanakan gadis itu? Melihat senyuman Yeongmi malah membuat Rae Eun semakin merasa tidak enak.

“Aku tidak memasukkan apapun. Minumlah”

Dengan ragu, Rae Eun mengarahkan tangannya untuk mengambil gelas yang ada di tangan Yeongmi. Rae Eun mengerutkan keningnya saat dia merasa kesulitan mengambil gelas yang ada di tangan adiknya itu. Tidak, itu bukan karena tangan Yeongmi yang bergerak. Tapi tangannya benar-benar tidak bisa di kendalikan. Beberapa kali dia mencoba meraih gelas itu, tangannya selalu meleset dan malah bergerak ke samping gelas. Ketakutan mulai menjalari tubuh Rae Eun. Mungkinkah?

Rae Eun baru saja akan menarik napas lega saat dia berhasil mengambil gelas itu. PRANG! gelas yang dipegangnya tiba-tiba saja terjatuh membuat kelegaannya hilang dan digantikan ketakutan yang semakin menjadi.

“Eonni?” Rae Eun masih bisa mendengar suara khawatir Yeongmi. Tapi otaknya mendadak blank sampai suara Eunhyuk yang membentaknya membuat kesadarannya kembali. “APA YANG KAU LAKUKAN PADA KEKASIHKU?”

“Jaga nada bicaramu Lee Hyuk Jae!!” Seru Seunghwan tajam.

“Ya! Hyung, aku tau dia keponakanmu tap–”

“Aku tidak apa-apa oppa.” Yeongmi memotong ucapan Eunhyuk dan menarik pria itu keluar.

Pesta yang tadinya meriah pun hening dalam sekejap. Rae Eun menundukkan tubuhnya berkali-kali. “Mianhe. Jeongmal mianhe.”

“Gwenchana Rae Eun-ah.” Kangin mendatangi Rae Eun sambil tersenyum. “Wajahmu pucat. Apa kau baik-baik saja?”

“Benar! Aku sudah mengatakan padanya tadi. Dia pasti sedang kurang sehat.” Donghae ikutan menyahut.

Member Suju yang lain pun langsung mendatangi Rae Eun dengan raut wajah khawatir. Untungnya disana ada Seunghwan sehingga Rae Eun bisa cepat-cepat keluar ruangan tanpa menimbulkan kecurigaan.

“Mianhe. Aku jadi menganggu pekerjaanmu Ajjuhssi. Seharusnya kau menemani Yesung oppa kan?”

“Sejak kapan?” Seunghwan menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu menatap Rae Eun tajam. “Sejak kapan gejala seperti tadi datang?” 

Tubuh Rae Eun bergetar seketika. Rae Eun menunduk dan air matanya langsung meleleh. “HAN RAE EUN!”

“Aku tidak tau ajjuhssi.”

“Bukankah sudah kubilang kalau kau tidak boleh menyembunyikan apapun dariku?”

“Ini yang pertama kali Ajjuhssi.” Rae Eun menatap Seunghwan dengan air mata yang terus mengalir. “Ajjuhssi aku takut.”

Seunghwan menarik tubuh Rae Eun lalu memeluknya. “Gwenchana. Kau pasti akan baik saja-saja” Seunghwan mengelus-ngelus punggung keponakannya pelan mencoba memberikan kekuatan meskipun ia tau cara itu pasti tidak akan berhasil. Bukan hanya Rae Eun yang merasa takut, dirinya juga jauh merasa takut. Mimpi buruk itu, haruskah datang secepat ini?

“Kau harus berhenti Rae Eun-ah. Besok kita pulang ke Cheju.”

Rae Eun melepaskan tubuhnya dari pelukan Seunghwan. Kekagetan terpancar jelas  di wajah pucatnya. “Ajjuhssi…”

“Kau masih ingat perjanjiannya kan? Kau harus berhenti saat gejala itu datang. Aku tidak ingin mengambil resiko lebih jauh lagi.” Ucap Seunghwan tegas.

“Tapi aku tidak apa-apa. Aku janji aku akan baik-baik saja. Kumohon Ajjuhssi, aku bahkan belum melakukan apapun!”

“Tidak ada yang bisa kau lakukan.”

Rae Eun tersentak mendengar perkataan pamannya yang terkesan kejam. “Ajjuhssi..”

“Rae Eun-ah, kumohon berhentilah. o’ ? Kau sudah mengorbankan banyak hal untuk ini. Kumohon jangan buang waktumu lebih banyak lagi. Kesehatanmu jauh lebih penting.”

“Tidak mau! Aku tidak mau menyerah. Aku tidak ingin pergi sebelum Hyukjae mengingatku. Aku juga tidak akan pergi sebelum Yeongmi memaafkanku. Kau sendiri yang bilang kalau aku harus terus berjuang sampai akhir kan? Kau juga ingin kesalahpahaman ini cepat berakhir kan? Kenapa sekarang kau malah menyuruhku berhenti? Tidak! Aku tidak mau.”

“Rae Eun-ah..”

“Tidak! Aku tidak mauuuu.” Rae Eun menutup kupingnya kuat-kuat.

“HAN RAE EUN!!”

Rae Eun menggeleng dan terus menutupi kupingnya. “TIDAAAK!!”

“Dengarkan aku!” Seunghwan menarik tangan Rae Eun. “Dengarkan aku!” Seunghwan memegang bahu keponakannya itu dengan kuat. “Aku sudah mengatakan semuanya pada Yeongmi. Mengenai alasanmu merebut kekasih-kekasihnya dan alasan kenapa aku menghajar Jonghoon saat itu. Aku sudah menceritakan semuanya.”

“Ajjuhssi.” Rae Eun terhenyak tidak percaya.

“Tapi dia tetap pada pendiriannya. Kebenciannya sudah tidak bisa tertolong lagi. Sebesar apapun usaha kita untuk meminta maaf atau menjelaskan semuanya, Yeongmi akan tetap pada pemikirannya kalau kita ini manusia jahat yang harus dihukum.” Seunghwan menarik napas panjang. “Kumohon berhentilah Rae Eun-ah. Ada hal yang jauh lebih penting dari masalah Yeongmi dan Hyukjae. Aku janji akan menjaga Hyukjae-mu dengan baik seandainya kejadian Jino terulang lagi. Dan aku jamin, kalau Hyukjae tidak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Jino lakukan. Aku juga akan menyadarkan Hyukjae pelan-pelan dan membuat pria itu mengingatmu. Hmm?”

Rae Eun menutup matanya. Perlahan, tubuhnya bergerak ke samping dan bersandar pada pintu mobil. “Apa dosaku sampai harus mendapatkan hukuman ini Ajjuhssi? Penyakit ini…. Hyukjae… dan Yeongmi. Aku tidak sangggup. Aku takut. Pulang ke Cheju hanya akan mengantarkanku pada mimpi buruk yang selama ini kuhindari. Aku tidak ingin kehidupanku habis di Rumah Sakit. Ak—-” Rae Eun kembali menangis. Rasanya benar-benar sesak. Rae Eun baru sadar kalau menghadapi kenyataan ternyata bisa menjadi semenyeramkan ini.

=O=

“PULAAANG? kenapa secepat ini?”

“Bukankah kau akan disini selama sebulan? Masih ada waktu dua minggu lagi kan?”

“Ya! Han Rae Eun! Kau tidak boleh meninggalkan kami begitu saja!”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Wajahmu masih pucat”

Rae Eun hanya bisa bengong mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan itu. Semua member Suju benar-benar kaget saat mendengar keputusannya untuk pulang lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.

Atas nasihat Seunghwan semalam, Rae Eun akhirnya memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Cheju untuk menghadapi takdirnya. Menyakitkan memang, tapi Rae Eun tidak punya pilihan lain. Kesehatannya memang jauh lebih penting. Meskipun dia tidak bisa terbebas dari penyakit ini, tapi setidaknya Rae Eun akan berusaha untuk memperlambat laju penyakitnya itu sebisa mungkin. Dan untuk itulah dia memilih menyerah.

Terkadang, kita harus rela melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Dan itulah yang sedang Rae Eun coba lakukan sekarang. Gadis itu akan belajar melepaskan Hyukjae dan Yeongmi untuk mendapatkan takdirnya yang lebih baik.

“HAN RAE EUN!!”

Rae Eun tersentak. Semua member Suju sedang menatap tajam ke arahnya sekarang. “Nn–ne?”

“KAU TIDA BOLEH PULANG!!” Seru Leeteuk lantang

“DIA HARUS PULANG!!” Suara Seunghwan yang datang dari arah pintu masuk membuat semua member diam seketika. Seunghwan berjalan ke arah ruang TV dimana semua orang sedang berkumpul disana. “Rae Eun akan pulang besok dan itu tidak bisa diganggu gugat.” Kata Seunghwan tajam dan penuh ketegasan membuat semua yang ada disana mengkeret.

“Tapi hyung….” Donghae melihat ke arah Rae Eun sedih. Entah kenapa rasanya sulit sekali melepaskan gadis itu begitu saja. Matanya tiba-tiba saja sudah berkaca-kaca membayangkan suasana dorm yang pasti akan kembali datar.

“Mianhe oppadeul. Aku mengambil keputusan ini tiba-tiba. Jadwal masuk kempusku dipercepat, makanya aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Tapi kan…” Donghae kembali bersuara.

“Kau akan tetap mengunjungi kami kan?” Tanya Hankyung penuh harap.

“Tentu saja!” Rae Eun menjawab dengan penuh semangat.

“Kau tidak akan melupakan kami kan?” Kali ini Kibum yang bertanya ragu.

“Tentu saja!” Rae Eun mengangguk cepat.

“Kau akan tetap menjalin komunikasi dengan kami kan?” Siwon ikut melontarkan pertanyaan.

“Tentu saja!”

“Kau tidak akan berbohong kan?” Donghae bertanya dengan mata sembabnya. Dia benar-benar tidak mampu mengontrol air matanya untuk berhenti mengalir.

“Tentu saja!” Rae Eun menyunggingkan sebuah senyuman.

“Kau mencintaiku kan?”

“Tentu sa– Ya!! ” Rae Eun melotot ke arah Heechul membuat semua member tertawa.

“Baiklah, kalau begitu kami akan melepaskan kepergianmu. Nanti kalau kami ada show di Cheju, kau harus datang. Arachi?” Leeteuk mengancam dan langsung disambut Rae Eun dengan sebuah anggukan pasti. “Tentu saja aku akan datang. Aku akan teruuuusss menjadi ELF yang selalu mendukung kalian.”

=O=

“Leeteuk oppa?” Rae Eun berjalan ke arah sofa dengan ragu. “Kenapa lampunya tidak dinyalakan? Eh? Kenapa tidak bisa nyala?” Rae Eun bingung sendiri saat menyalakan sekrup lampu tapi ruangan masih tetap gelap.

“Lampunya sepertinya rusak.” Jawab Leeteuk sekenanya.

“Ohhh. Terus kenapa oppa tidak tidur?” Rae Eun duduk di samping Leeteuk dan memijiti lengan leader Suju itu pelan. “Kau pasti sangat lelah.” gumamnya.

“Hmm.. ” Leeteuk menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mencoba menahan air mata yang sudah menumpuk di kedua sudut matanya. “Kalau kau pergi, siapa yang akan memijitiku seperti ini?” Gumam Leeteuk dengan nada yang diusahakan sesantai mungkin.

Rae Eun terkekeh mendengarnya. “Kau punya dua belas dongsaeng oppa. Suruh saja salah satu di antara mereka untuk memijitimu.”

“Mereka itu dongsaeng yang tidak memiliki jiwa tukang pijit. Pijatan mereka bukannya membuat tubuhku segar, tapi malah makin sakit.”

“Jadi maksudmu aku memiliki jiwa tukang pijit, begitu? Menyebalkan!”

Leeteuk tertawa. “Aku pasti akan merindukan omelanmu yang seperti ini”

“Oppa..”

“Hmm?”

“Hiduplah dengan baik. o’ ?”

“Ne.”

“Jaga kesehatan.”

“Hmm.”

“Jangan selalu memaksakan diri.”

“Oke.”

“Jangan terlalu lelah.”

“Iya.”

Rae Eun mulai terisak. “Aku menyayangimu oppa. Kau sudah seperti kakak bagiku. Aku…. ” Rae Eun menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

“Kau leader terhebat yang pernah kutemui. Kalau kau lelah atau sakit, katakanlah. Jangan menyimpannya seorang diri. Berbagilah dengan oppadeul yang lain, o? “

Leeteuk menegakkan tubuhnya lalu menarik Rae Eun ke dalam pelukannya. “Dasar gadis cerewet!”

Rae Eun membalas pelukan Leeteuk dan membenamkan wajahnya  pada dada laki-laki yang sudah dianggapnya kakak itu. Leeteuk mengelus rambut Rae Eun lembut. “Kau juga harus hidup dengan baik. Jangan lupakan aku dan yang lain, hmm? Datanglah kesini setiap liburan. Pintu dorm ini akan selalu terbuka untukmu.”

“Ne. Gomawo oppa.”

Uriga mannage doen narul chugboghanun ee bamun
Hanulen dari pyo-igo byoldurun misojijyo
Gudeui misoga jiwojiji anhgil baleyo
Onjena haengbokhan nalduri gyesog doegil bilmyo

This night is blessing the day that we met.
The moon is out in the sky and the stars are smiling.
I wish that your smile won’t be erased as I pray
for these happy days to always continue

Rae Eun terkejut saat mendengar suara semua member menyanyikan lagu Believe. Dia melepasakan pelukan Leeteuk, lalu berbalik ke belakang. “Kalian….” Tangisan gadis itu pecah saat melihat sebelas pria yang disayanginya sedang berdiri dimana masing-masing dari mereka membawa sebuah lilin.

Honja jisenun bamun na gudega jakku to olla
Gudeyege jonhwarul golo tujongul burinda hedo
Sashil naui maumun guronge anirangol
Algoinayo da algodo morunche hanun gongayo

On the nights I spend alone I keep thinking about you
Even if I call you and I complain that’s not what
I really meant do. Did you already know and just act like you didn’t?

“Mereka luar biasa kan?” Bisik Leeteuk.

Rae Eun tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk sambil terus menangis. Senang dan sedih bercampur jadi satu.

Himdun iri idahedo gude mogsoril
Jamshirado dudge doendamyon nan da idgo usul su ijyo
Guderul mannal su issodon gon hengunijyo
Gyot-heman issodo usul su ige mandunikkayo
Gudega jo molli issodo chajul su issoyo
Ne-ane gudega misorul jidgo issunikka

When there are hard times,

if I’d just listen to your voice for a moment, I could forget everything and laugh it off.

I was so fortunate to able to meet you
because you’d make me smile by just being near
I could find you even if you go far away over there,
because you’re smiling inside of me

“Dasar gadis cengeng!” Heechul mencibir.

“Dasar gadis bodoh!” Donghae bersuara.

“Kami pasti akan merindukanmu.” Ujar Hankyung.

“Sering-seringlah main kesini.” Kata Siwon.

“Keep contact, o’ ?” Kibum menyunggingkan senyumannya.

“Jangan lupa untuk terus mendukung kami.” Pesan Sungmin.

“Awas kalau kau tidak datang saat kami mengadakan show di Cheju.” Ancam Yesung.

“Dapurku pasti akan sepi lagi. Kau satu-satunya perusuh yang akan kurindukan Rae Eun-ah.” Ungkap Ryeowook polos.

“Aku benar-benar akan kehilangan tumbal untuk disuruh-suruh.” Kali ini Kyuhyun bersuara dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari semua member.

“Kami pasti akan merindukan suara cemprengmu di pagi hari. ” Keluh Kangin.

“Nanti tidak ada yang berbagi makanan denganku lagi? Menyebalkan.” Rengut Shindong pura-pura kecewa.

Rae Eun semakin menangis. Meskipun pesan-pesan mereka terkesan konyol, tapi entah kenapa hal itulah yang malah membuat dadanya semakin sesak. Perhatian mereka, Kasih sayang mereka. Ini mungkin adalah yang terakhir kalinya yang bisa Rae Eun rasakan. “Gomawoyo. Jeongmal gomawo. Aku… Aku pasti akan sangat merindukan kalian.” Rae Eun menutup wajahnya, mencoba meredam suara isakan tangisnya yang semakin menjadi.

“Yaa! pesta perpisahan ini kan untuk bersenang-senang. Berhentilah menangis.” Leeteuk menepuk-nepuk punggung Rae Eun.

Rae Eun mengangkat wajahnya dan mengusap pipinya. “Ah, mianhe. Baiklah, kita akan bersenang-senang. Bagaimana kalau kita foto bersama?”

“Okeeeee~~”

Mereka pun berfoto bersama dengan keceriaan dan senyum yang terus menghiasi bibir.

Ini mungkin akan menjadi tawa terakhir, kebersamaan terakhir, dan kenangan terakhir yang bisa Rae Eun dapatkan. Setelahnya, apakah masih ada kesempatan untuk merasakan hal yang seperti ini lagi? Entahlah. Rae Eun tidak berani berharap.

=O=

“Kau yakin?”

Rae Eun mengangguk dan menyerahkan salah satu tasnya pada Seunghwan. “Aku tidak akan sanggup kalau harus pergi di depan mereka besok Ajjuhssi. Jadi lebih baik kita pergi sekarang saja.”

“Tapi ini sudah larut. Kau juga sudah terlalu lelah.”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat dulu.”

“Kemana?”

“Ke tempat Yeongmi dan Hyukjae.”

“Mwo?”

=O=

Rae Eun membuka pintu kamar Yeongmi pelan. Berkat bantuan Seunghwan, Rae Eun akhirnya bisa menemui adik tirinya itu dengan mudah. Beruntung Yeongmi tidur di kamarnya sendirian, jadi Rae Eun bisa semakin leluasa memasuki kamar Yeongmi tanpa harus mengganggu orang lain.

Rae Eun duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir ranjang. Posisi tidur Yeongmi yang menyamping menghadap tembok membuat Rae Eun menghembuskan napas lega.

“Yeongie-ah, apa kabar? Aku akan pergi sekarang. Benar-benar pergi. Kupikir, aku harus menemuimu dulu sebelum aku menghilang selamanya dari kehidupanmu. Hyeo Yeongmi mianhe. Aku sudah membuatmu menderita. Membuatmu kehilangan orang yang kau sayangi. Jeongmal mianhe.” Rae Eun menunduk meremas-remas jemarinya.

“Dulu aku terlalu bodoh. Aku hanya ingin melindungimu, menjagamu dan menjauhkanmu dari orang-orang yang bisa membuatmu terluka. Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata sikapku yang seperti itu malah membuatku menjadi satu-satunya orang yang selalu membuatmu terluka. Mianhe. Kau satu-satunya adik yang kupunya. Itulah kenapa aku selalu protektif terhadapmu. Yeongie-ah, seberapa besar kebencianmu padaku sekarang? Apakah aku benar-benar tidak memiliki harapan untuk di maafkan?”

“… Yeongmi, apa kau masih ingat kebersamaan kita dulu? Aku…. merindukannya. Aku rindu Hyeo Yeongmi yang dulu. Tidak bisakah kita seperti dulu, hmm? Kau tau aku benar-benar kesepian sejak kau meninggalkan rumah. Aku memang sempat marah saat tau kau pergi dari rumah dengan membawa foto dan gantungan kunci yang Hyukjae berikan padaku. Aku juga sempat kesal saat tau kalau alasan kau meninggalkan rumah adalah untuk masuk menjadi trainee SM dan mendapatkan Hyukjae dengan mengaku-ngaku kalau kau adalah aku yang dia temui delapan tahun yang lalu. Aku benar-benar kecewa saat itu. Bukankah kau tau kalau bertemu dengan Hyukjae adalah salah satu impianku? Tapi kau.. kenapa kau merusak mimpiku secepat itu? Saat Seunghwan ajjuhssi diterima bekerja di SM sampai akhirnya ditugaskan menjadi manager Suju, saat itu aku kembali menaruh harapan banyak. Aku berharap bisa bertemu dengan laki-laki itu dan membuatnya mengingatku. Aku juga berharap bisa meminta maaf padamu secara langsung dan memperbaiki hubungan kita. Aku berharap kau berhenti mempermainkan Hyukjae. Sungguh, aku tidak ingin apa yang terjadi pada Jino terulang kembali.”

“….Aku berharap banyak karena aku tau hidupku… tidak akan bertahan lama. Yeongie-ah, diantara sekian banyak harapan yang kupunya, bisakah kau mewujudkan salah satunya? Jika kau benar-benar mencintai Hyukjae, cintailah dia dengan tulus. Kumohon, jangan permainkan dia. o’ ? Seandainya kau tidak mencintainya, kumohon perlakukanlah dia dengan baik. Jangan kau abaikan dia. Bisakah, kau melakukan itu?”

“Hyeo Yeongmi, aku janji tidak akan menampakkan wajahku lagi di depanmu. Aku janji tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Kau… hiduplah dengan baik. Jangan terlalu lelah. Cintailah seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus. Hiduplah bahagia, ne?”

Rae Eun beranjak dari kursinya lalu berjalan mendekati Yeongmi. “Kembalilah jadi Yeongmi yang dulu. Aku menyayangimu Yeongie-ah…” Rae Eun mengecup puncak kepala adik satu-satunya itu lalu pergi sebelum tangisannya semakin pecah.

=O=

“Yakin kau ingin menemuinya?”

Rae Eun mengangguk. “Ini kesempatan terakhirku ajjuhssi.”

“Bertemu dengan Yeongmi saja sudah membuatmu menangis habis-habisan. Bagaimana kalau bertemu dengan laki-laki itu?”

“Aku akan tersenyum habis-habisan” Canda Rae Eun.

Seunghwan tersenyum, “Pergilah.. Aku menunggumu disini.”

“Oke!”

=O=

Rae Eun memperhatikan wajah Eunhyuk yang sedang tertidur lelap. Sesuai dugaannya, Eunhyuk ternyata memang tidur di ruang latihan. Rae Eun merasa bersalah karena kehadirannya membuat Eunhyuk harus sering tidur di tempat seperti ini. Sejak kejadian itu, Eunhyuk memang jadi sering tidur disini setiap kali dia ingin mengindari Rae Eun.

Rae Eun duduk di samping sofa tempat Eunhyuk berbaring. Gadis itu memperhatikan tiap lekukan wajah Eunhyuk dengan seksama. Garis wajahnya begitu sempurna.

Rae Eun menyentuh wajah Eunhyuk dengan hati-hati. Darahnya berdesir dengan cepat saat tangannya mengenai kulit wajah laki-laki itu. Telah banyak yang berubah sejak pertemuan pertamanya dengan Eunhyuk delapan tahun lalu. Laki-laki itu menjadi semakin tampan. Semakin terlihat dewasa. Dan semakin membuat Rae Eun jatuh hati.

“Lee Hyukjae, annyeong.” Rae Eun membuka suaranya sepelan mungkin agar Eunhyuk tidak bangun. Setetes air mata mulai jatuh, tapi gadis itu membiarkannya.

Rae Eun menarik napas dalam. “Hyukjae-ssi, mianhe. Hari ini aku melanggar janjiku dengan muncul di hadapanmu. Tapi aku janji ini yang terakhir kalinya aku menemuimu. Aku akan pergi jauh setelah ini. Mungkin akan sangat jauh jika usahaku nanti mengalami kegagalan.”

“Hei, apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau melupakan sungai Han sampai kau tidak mampu mengenaliku? Padahal Seunghwan ajjuhssi terus-menerus memanggilku gadis Han. Tapi kenapa kau tidak juga sadar, eh?” Rae Eun tersenyum getir. “Sungai Han. Gadis Han. Tidakkah kau merasa ada kemiripan di antara dua nama itu? Apakah kau tau kenapa aku menyuruhmu untuk selalu mengingat sungai Han? Itu karena namaku berawalan Han, bodoh! Ck. Aku tidak menangka kalau Lee Hyukjae yang pandai menari bisa memiliki otak sebodoh ini.”

Rae Eun menggenggam tangan Eunhyuk hati-hati. Napasnya sempat tercekat saat Eunhyuk bergerak. Tapi kelegaan segera memenuhi dadanya ketika Rae Eun mendengar suara dengkuran pria itu. “Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu Hyuk-ah. Apa kau tidak merindukanku? Ah, tentu saja. Kau sudah memiliki Yeongmi jadi untuk apa kau merindukanku. Ehehehe”

“…. Rasanya aneh sekali. Kita hanya bertemu satu kali tapi bayanganmu selalu menemaniku sepanjang hari selama kurun waktu delapan tahun. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu? Hei, apa kau masih ingat apa janjimu padaku waktu itu? Kau bilang, kau akan selalu mengenaliku meskipun wajahku nantinya mengalami perubahan. Kau juga bilang kalau kau akan tetap mengenaliku sekalipun nanti aku tidak mampu menunjukkan foto dan gantungan kunci yang kau beri. Bukankah kau sudah memotret wajahku dengan kedua matamu? Tapi kenapa kau masih juga salah mengenali orang, eh? Kurasa matamu sedang bermasalah Hyukjae-ssi. Hanya karena Yeongmi menunjukkan foto dan gantungan kunci itu, kau langsung menganggap Yeongmi sebagai aku. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kau jahat Hyukjae-ah. Kau membuatku jatuh hati tapi setelah itu mengabaikanku habis-habisan. Kenapa kau bisa sejahat itu hah?”

Rae Eun menundukkan kepalanya dan tanpa sadar menggenggam tangan Eunhyuk dengan erat. “Kuharap kau akan tetap melupakanku. Aku tidak ingin kau mengingatku disaat aku tidak bisa menemuimu. Lee Hyukjae, teruslah lupakan aku. Jangan pernah mengingatku. o’ ? Biarkan aku saja yang mengingatmu. Cukup aku saja yang mencintaimu.” Rae Eun mengangkat wajahnya. Air matanya semakin deras mengalir. Hatinya benar-benar perih sekarang. “Lee Hyukjae, hiduplah dengan baik. Jika kau benar-benar mencintai adikku, kumohon bahagiakanlah dia. Aku titip Yeongmi padamu. Kelak aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu. Kau harus bisa menjaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu memaksakan diri dengan terus berlatih menari. Tarianmu sudah hebat Hyuk-ah. Jadi luangkanlah sedikit waktumu dengan beristirahat. Jangan suka makan sembarangan. Kau harus menjaga kesehatanmu sebaik mungkin.” Rae Eun menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Lee Hyukjae, saranghae”

=O=

Februari, 2012

Eunhyuk meneguk strawberry milk shake miliknya hingga tersisa setengah. Dia mengirup oksigen sebanyak mungkin untuk membantu menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya –meskipun dia tau cara seperti itu tidak akan pernah berhasil. Lima tahun sudah berlalu sejak Rae Eun meninggalkannya dan selama itu pula dadanya tidak pernah berhenti merasa sesak. Eunhyuk menggenggam pin stroberri miliknya dengan erat. Hanya benda itulah satu-satunya hal yang ia miliki saat ini. Satu-satunya benda berharga yang ditinggalkan Rae Eun untuknya.

Seandainya malam itu dia bangun dan tidak mempertahankan egonya dengan pura-pura tidur, Rae Eun mungkin masih berada di sisinya. Dia juga pasti tidak akan menderita seperti sekarang.

Malam itu, Eunhyuk sebenarnya terbangun saat Rae Eun menyentuh tangannya. Eunhyuk juga mendengar semua penuturan Rae Eun pada malam itu. Mengenai kekesalannya karena dia tidak kunjung mengenalinya, mengenai rasa sakitnya, juga mengenai pengungkapan cintanya. Eunhyuk mendengar semuanya. Eunhyuk sempat terkejut saat mendengar itu semua. Ingin rasanya dia memeluk Rae Eun saat itu juga. Meminta maaf dan melakukan apapun yang bisa membuat gadis itu berhenti menangis. Sungguh, mendengarnya menangis membuat hati Eunhyuk merasa teriris-iris. Benar-benar menyakitkan.

Lantas, kenapa saat itu dia tidak bangun? Kenapa saat itu dia mempertahankan akting tidurnya? Entahlah, Eunhyuk juga tidak mengerti. Mungkin takut? merasa bersalah? Atau… bingung.

Eunhyuk tidak tau. Dia benar-benar tidak tau.

“Aku benar-benar bodoh hyung. Seandainya malam itu aku bangun, mungkin aku masih bisa bersama dengannya.” Air mata Eunhyuk kembali meleleh. Mengingat gadis itu selalu membuat air matanya keluar begitu saja. “Pin ini… Aku benar-benar tidak tau kalau dia ternyata menyimpan pin ini. Aku tidak tau kalau saat itu dia mengambil pin-ku diam-diam. Seandainya dia menunjukkan pin ini lebih awal, Aku pasti akan langsung mengenalinya. Aku pasti tidak akan mengacuhkannya dan terjebak dengan ucapan Yeongmi. Hyung eotthokke? Aku benar-benar menyesal. Aku benar-benar merindukannya.”

Sungmin hanya bisa menatap Eunhyuk miris. Dia ingin sekali menghibur dongsaengnya itu. Membantunya menghilangkan rasa sakit. Tapi Sungmin tidak bisa. Penghiburan seperti apapun tidak akan bisa membuat Eunhyuk membaik. Rasa sakit Eunhyuk sudah terlalu besar. Tidak ada yang bisa mengurangi ataupun menyembuhkan rasa sakitnya selain gadis itu. Han Rae Eun, betapa Sungmin juga merindukan gadis itu. Semua membernya juga bahkan merindukan gadis itu.

Sejak malam itu, Rae Eun benar-benar menghilang seperti di telan bumi. Gadis itu benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Nomor ponselnya tidak aktif. Dan tidak ada satupun di antara mereka yang bisa menghubungi gadis itu. Seunghwan, satu-satunya manager yang menjadi harapan mereka pun tutup mulut. Pria itu sama sekali tidak mau menyebutkan dimana Rae Eun berada. Gadis itu, apakah dia baik-baik saja?

“Kau harus kuat Hyuk-ah. Bukankah dia selalu berpesan, kalau kita harus hidup dengan baik? Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi bukan berarti kita harus terus-menerus terpuruk karena sebuah penyesalan. Bangkitlah, dan jadikan penyesalan mu di masa lalu itu sebagai kekuatan untuk merangkai kehidupan yang lebih baik.”

“Aku tidak bisa Hyung. Aku tidak bisa.” Eunhyuk menutup wajahnya. Bahunya bergetar karena tangisannya yang semakin menjadi. “Selama ini, surat-surat darinya selalu menjadi penopang hidupku. Setidaknya, dari surat yang dikirimkannya, aku merasa kalau dia selalu memperhatikanku. Lewat suratnya, aku memiliki kekuatan karena itu artinya aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Tapi sekarang? Sejak dia berhenti mengirimiku surat, kekuatanku lenyap begitu saja. Aku tidak tau bagaimana kabarnya. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya. Aku… Aku tidak tau apakah dia hidup dengan baik atau…. ” Eunhyuk tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia tidak sanggup menyuarakan ketakutan terbesarnya. Dia takut, jika dia mengatakannya membuat harapan yang selama ini dipegangnya menjadi hancur.

“Hyung…. Aku… Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya?” Eunhyuk menatap Sungmin dengan lekat.  “Satu kali saja Hyung. Aku ingin bertemu dengannya meskipun hanya satu kali. Aku ingin mengubah kenangan terakhirnya. Aku tidak ingin sifat burukku terhadapnya menjadi satu-satunya kenangan terakhir yang dia miliki.”

“Entahlah Hyuk-ah. Ak—” Ucapan Sungmin terhenti saat dia melihat sosok Heechul yang sedang berjalan keluar dari sebuah pertokoan. “Heechul Hyung?” gumam Sungmin bingung. Eunhyuk berbalik mengikuti arah tatapan Sungmin. “Winnie the pooh?” Eunhyuk ikut bergumam. Matanya langsung membulat dan menatap Sungmin tegang. “Hyung.. mungkinkah?”

“Kita ikuti dia.” Kata Sungmin cepat.

Mereka berdua pun langsung beranjak dari kursi masing-masing, dan langsung berlari keluar cafe untuk mengejar Heechul.

Tuhan, satu kali saja. Kumohon kabulkan permohonanku satu kali saja. Doa Eunhyuk dalam hati.

=O=

Eunhyuk memacu mobilnya dengan cepat mengikuti mobil hitam yang sedang dikendarai Heechul. “Bagaimana Hyung?” Tanya Eunhyuk tidak sabar.

Sungmin menggeleng. “Leeteuk hyung tidak tau Heechul hyung akan pergi kemana. Dia bahkan tidak tau kalau laki-laki itu sedang berlibur dari kegiatan wamilnya.”

“Apakah mungkin….” Suara Eunhyuk kembali mengambang. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang.

“Kau tau kalau gadis itu sangat menyukai boneka winnie the pooh kan? Dia dan Heechul hyung juga memiliki hubungan yang sangat dekat. Jadi kurasa, kemungkinan itu akan selalu ada Hyuk-ah.” Kata Sungmin mencoba menyemangati.

“Hyung, kita….tidak ada salahnya berharap kan?” Eunhyuk melirik Sungmin ragu.

Sungmin tersenyum. “Tentu saja! Kita bahkan tidak boleh berhenti berharap. o’ ?” Sungmin menepuk pundak dongsaengnya pelan membuat semangat Eunhyuk terpacu semakin tinggi.

“Gomawo Hyung.”

=O=

Eunhyuk merasa tulang-tulangnya lenyap. Tubuhnya lemas dan sulit sekali melangkah. “Kenapa…. Kenapa Heechul hyung ke rumah sakit?” Tanyanya dengan nada bergetar. Ketakutannya menanjak naik begitu melihat Heechul yang memasuki kawasan Rumah sakit. “Tidak Hyung. Dia pasti bukan untuk menemui gadis itu”

“Kita tidak akan tau sebelum kita melihatnya dengan mata kepala sendiri.” Tegas Sungmin lalu menarik lengan Eunhyuk agar berjalan dengan lebih cepat.

“Hyung…” Eunhyuk ingin sekali menolak. Tapi…

“Kau ingin memastikannya atau diam dan terus hidup dalam penyesalan hah?”

Eunhyuk diam. Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Eunhyuk kembali berjalan. Semoga saja ketakutannya salah. Semoga Heechul tidak menemui gadis itu. Semoga Han Rae Eun baik-baik saja. Semoga…

Eunhyuk terus berdoa dalam hati sampai……

“H—hyuung..” Eunhyuk merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Matanya membulat sempurna dan tubuhnya ambruk seketika. Rae Eun…. benarkah dia adalah Han Rae Eun? Eunhyuk mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha mengalihkan rasa sakit yang menghimpit dadanya.

Sungmin juga tidak kalah kaget. Namun dia masih mampu mengontrol emosinya. “Han Rae Eun…” hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.

Han Rae Eun yang dilihat oleh matanya saat ini sangat berbeda jauh dengan Han Rae Eun yang dilihat oleh matanya lima tahun yang lalu.

Wajah gadis itu pucat. Tubuhnya benar-benar kurus dengan tulang pipi yang terlihat dengan begitu jelas. Dia tersenyum saat melihat Heechul. Tapi senyumannya… benar-benar berbeda dengan senyuman yang pernah Sungmin lihat lima tahun yang lalu. Senyumannya saat ini benar-benar terlihat lemah. Mata gadis itu sayu. Dan tangannya.. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan tangannya? Sungmin melihat tangan Rae Eun yang kaku seperti seseorang yang terkena stroke. Tunggu.. apakah jangan-jangan… Mungkinkah Han Rae Eun menderita stroke? Sungmin menangis. Hatinya benar-benar sakit. Dadanya luar biasa sesak. Han Rae Eun, apa yang terjadi dengan gadis itu?

Sungmin jatuh dan berlutut. Kakinya benar-benar lemas hingga tidak sanggup menopang tubuhnya. Sungmin menatap Eunhyuk yang kini sedang menangis hebat. Pria itu menutup mulutnya dengan satu tangan dan tangan yang lainnya memegang dada kuat-kuat. Sungmin memeluk dongsaengnya itu erat. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka hanya mampu menangis dan menangis sampai suara Heechul menghentikan tangisan mereka. “Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Heechul tajam.

Sungmin dan Eunhyuk hanya bisa diam. Mereka tidak mampu menjawab pertanyaan Heechul. Suara mereka seolah terserap oleh rasa sesak yang menghujam dada.

“Ikut aku” Heechul berjalan dengan tetap memasang wajah datar.

=O=

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Heechul dengan tubuh yang membelakangi Eunhyuk dan Sungmin.

“Apa yang terjadi dengan Rae Eun, hyung?” Tanya Sungmin mengabaikan pertanyaan Heechul.

Heechul berbalik. “Kalian mengikutiku?”

“HYUNG JAWAB PERTANYAANKU!!” Teriak Sungmin frustasi.

“KAU YANG SEHARUSNYA MENJAWAB PERTANYAANKU!!”

Hening beberapa saat.

Eunhyuk tetap menangis sambil menutup wajahnya. Sungmin dan Heechul pun diam sambil menundukkan kepala. Masing-masing dari mereka sibuk mengontrol emosi yang semakin tidak stabil.

“Rae Eun menderita penyakit Spinocerebellar degeneration.” Suara Seunghwan menyentakkan Eunhyuk, Sungmin, dan Heechul.

Seunghwan yang dari tadi mengikuti Sungmin, Eunhyuk dan Heechul dengan diam-diam akhirnya memutuskan untuk bersuara. Sungmin dan Eunhyuk menatap Seunghwan bingung sementara Heechul berjalan dan duduk di salah satu bangku di pinggir bangku Sungmin dan Eunhyuk.

Seunghwan berjalan dan duduk di sisi bangku yang lain. Wajahnya menunduk dengan senyuman miris yang menghiasi wajahnya. “Spinocerebellar degeneration adalah penyakit yang menyerang otak kecil dan membuat penderitanya perlahan-lahan lumpuh.” Seunghwan menarik napas untuk menguatkan hatinya. “Penyakit seperti itulah yang sekarang sedang menyerang Rae Eun.”

Tangisan Eunhyuk semakin pecah dan tak terkendali. Sungmin yang juga merasa shock mencoba untuk tenang dan bertanya. “Sejak kapan hyung? Sejak kapan Rae Eun…” Sungmin menahan napasnya dan tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

“Satu bulan sebelum dia datang ke dorm kalian.”

Eunhyuk dan Sungmin refleks menatap Seunghwan tidak percaya. “Apa?” Tanya mereka bersamaan.

Seunghwan mengangguk seolah-olah menegaskan ucapan yang ia katakan sebelumnya. “Satu bulan sebelum dia datang ke dorm Suju, gadis itu sudah divonis menderita penyakit spinocerebellar degeneration. Saat itu kondisinya memang masih normal karena masih berada pada tahapan awal. Tapi perlahan, saat penyakit itu berkembang, kondisinya sedikit demi sedikit akan mengalami penurunan. Gejala awal dari penyakit ini adalah tidak mampu menggerakkan tubuhnya dengan normal. Kalau kalian masih ingat, hari dimana Rae Eun pergi adalah sehari setelah dia datang ke acara perayaan ulang tahun Kangin. Saat itu, di ulang tahun Kangin, Rae Eun mengalami gejala pertama dari penyakitnya ini.”

Sungmin mengingat-ngingat kejadian yang terjadi di acara ulang tahun Kangin lima tahun yang lalu. Tubuhnya langsung berjengit saat mengingat kejadian itu. Kejadian dimana Rae Eun memecahkan gelas yang diberi Yeongmi. Sungmin menatap Seunghwan tidak percaya. “Jadi hyung…” Lagi-lagi Sungmin tidak mampu melanjutkan ucapannya. Seunghwan hanya mengangguk mengiyakan.

“Saat itu, aku melihat Rae Eun kesulitan mengambil gelas yang di sodorkan Yeongmi. Beberapa detik setelah gelas tersebut berhasil digenggamnya, tiba-tiba saja gelas itu jatuh. Itulah tanda awal bahwa Rae Eun kesulitan mengendalikan saraf motoriknya. Dan itulah kenapa aku memaksa Rae Eun untuk segera pulang ke Cheju.”

“Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami, Hyung?” Eunhyuk akhirnya bersuara.

“Mengatakannya? Apa kau lupa bagaimana sikapmu pada gadis itu hah?” cecar Heechul emosi.

Eunhyuk kembali tertunduk.

“Aku tidak mengatakannya karena permintaan gadis itu.” Jawab Seunghwan datar.

“Apakah ada kemungkinan dia untuk sembuh?” Sungmin kembali bertanya.

Seunghwan menggeleng lemas. “Dokter hanya mampu memperlambat pergerakan penyakitnya.”

=O=

Eunhyuk bersembunyi di balik pohon sementara matanya tetap fokus memperhatikan gadis yang sedang asik mendengarkan musik lewat i-podnya. Sudah satu minggu sejak Eunhyuk mengetahui kabar gadis itu. Dan selama itu pula Eunhyuk mulai menjalankan aktifitas barunya setiap hari. Memperhatikan Rae Eun diam-diam.

Eunhyuk ingin sekali menemui gadis itu secara langsung. Ingin memeluknya setiap kali gadis itu berada dalam jarak pandangnya. Ingin meminta maaf padanya atas semua keburukan yang pernah ia lakukan. Eunhyuk ingin sekali berada di samping gadis itu, menemaninya sepanjang hari, dan merebut semua rasa sakit yang dimiliki gadis itu untuk dilimpahkan padanya.

Eunhyuk tersenyum getir. Sayangnya dia tidak mampu melakukan itu semua.

Bukan hanya karena larangan Seunghwan dan Heechul. Tapi Eunhyuk tidak mampu karena dia sendiri tidak memiliki keberanian sebesar itu. Eunhyuk terlalu takut menerima respon Rae Eun saat bertemu dengannya. Eunhyuk takut kalau gadis itu akan menolaknya dan membuat dirinya kesulitan  melihat wajahnya. Eunhyuk tidak ingin hal itu terjadi. Eunhyuk lebih memilih memperhatikan gadis itu diam-diam daripada harus mengalami penolakan dari gadis itu.

“Ke– ma– ri– ll…ah Hyu—k Jae—-ssi”

Eunhyuk tersentak dari lamunannya. Ap- apa tadi dia tidak salah dengar? Gadis itu memanggilnya? Eunhyuk baru saja akan mencerna apa yang baru saja terjadi saat melihat kursi roda yang diduduki Rae Eun bergerak ke belakang, menghadapnya. Rae Eun tersenyum. Senyuman pertama yang dilihatnya setelah lima tahun gadis itu pergi meninggalkannya. Senyuman pertama yang membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdegup kencang. Tuhan, apakah ini mimpi?

Eunhyuk masih tidak bergerak dari tempatnya. Dia terlalu shock bahkan untuk sekedar membalas senyuman gadis itu. Rae Eun menekan tombol yang ada di kursi rodanya, membuat kursi roda tersebut bergerak ke arah Eunhyuk. “Lee….. Hy–uk J–ae-ssi, anny–eong.” Rae Eun menyapa Eunhyuk dengan susah payah. Bibir gadis itu masih menyunggingkan sebuah senyuman. Sangat manis.

Tanpa terasa, air mata Eunhyuk mengalir begitu saja. Eunhyuk terduduk menyentuh tanah. Tubuhnya kembali lemas. Eunhyuk menatap Rae Eun dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan. Raut wajah itu menyiratkan sebuah penyesalan, rasa sakit, tapi juga ada kebahagiaan disana.

Rae Eun mengulurkan tangannya yang bergetar dengan susah payah. “Ba—ngun—-lah…” Ucapnya terbata-bata. Penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya membuat gadis itu menjadi kesulitan untuk berbicara.

Eunhyuk meraih tangan Rae Eun –masih dengan posisi duduk. Pria itu menggenggam tangan kurus Rae Eun dengan hati-hati. Eunhyuk mengecup telapak tangan Rae Eun. “Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku bersalah padamu. Aku benar-benar jahat. Jeongmal mianhe” Tangisan Eunhyuk semakin tak terkendali. Pria itu jatuh tersungkur dengan terus mengucapkan kata maaf berulang kali.

Rae Eun tidak kuat melihat Eunhyuk seperti itu. Tidak tau harus melakukan apa, Rae Eun pun akhirnya ikut menangis.

Eunhyuk mengangkat wajahnya, menatap Rae Eun lekat-lekat. Kelegaan langsung menjalari tubuhnya saat melihat wajah gadis itu. Wajah yang selama ini sangat dirindukannya. Oksigennya telah kembali. Benar-benar kembali. Tidak ada kebahagiaan lain lagi yang bisa membuat hatinya sedamai ini. Eunhyuk menangkupkan wajah Rae Eun dengan kedua tangannya. “Mianhe aku sudah melupakanmu.” Eunhyuk mengelus kedua pipi Rae Eun dengan ibu jarinya. “Mataku… Mataku pasti benar-benar sudah rusak sampai tidak mampu mengenalimu. Bagaimana mungkin aku melupakan wajah ini? Wajahmu, aku sudah memotret wajahmu tapi kenapa aku melupakannya?” Eunhyuk meraih kedua tangan Rae Eun lalu mengecupnya lembut. “Mianhe. Jeongmal mianhe Rae Eun-ah.”

“Gwen—cha—–na….” Rae Eun menyunggingkan senyumannya. Dan sejak saat itulah Eunhyuk merasa semua bebannya terangkat dan musnah begitu saja. Sumber kebahagiaannya telah datang. Apalagi yang ia butuhkan selain itu? Tidak ada.

=O=

Eunhyuk merasa seperti hidup kembali. Sejak hari itu, hari dimana Rae Eun memaafkannya dan memberikan senyuman manisnya, Eunhyuk merasa hidupnya telah kembali sempurna. Sejak saat itu, Eunhyuk selalu rutin mengunjungi Rae Eun di sela-sela kesibukannya. Member-member yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka rajin mengunjungi Rae Eun dan terus memberikannya semangat. Kehidupan mereka seolah semakin terasa lengkap sejak berhasil ‘menemukan’ Rae Eun kembali.

Eunhyuk segera meraih ponselnya begitu selesai melakukan ‘tugasnya’ di atas panggung. Dia segera menekan angka satu untuk menghubungi gadisnya.

Tunggu.. tunggu, gadisnya? Eunhyuk tersenyum sendiri mendengar istilah yang mampir ke otaknya itu. Meskipun belum ada ucapan secara langsung mengenai status hubungan di antara mereka berdua, tapi entah kenapa Eunhyuk begitu percaya diri untuk menganggap Rae Eun sebagai gadisnya. Yah, setidaknya sebentar lagi dia akan melangkah ke arah sana. Secepat mungkin, Eunhyuk akan melamar Rae Eun dan memintanya untuk hidup bersamanya sebagai istrinya.

Eunhyuk tersenyum geli saat membayangkan wajah Rae Eun yang bersemu merah saat menerima lamarannya nanti. Gadis itu, pasti akan terlihat semakin cantik.

“Hyuk—-ja—e?” Suara Rae Eun menyadarkan Eunhyuk dari lamunannya.

“Hai?” Eunhyuk mengangkat sebelah tangannya ke arah ponsel.

Rasa lelahnya menguap secara perlahan begitu wajah Rae Eun muncul di ponselnya. Mendengar suara gadis itu, melihat wajahnya yang selalu terlihat cantik membuat kelelahan Eunhyuk menurun drastis. Benar-benar menakjubkan.

=O=

Eunhyuk dan Rae Eun sekarang sedang berada di hamparan bukit yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Hari ini, Eunhyuk berniat untuk melamar Rae Eun. Jantungnya terus berdegup kencang sejak tadi pagi. Dia gugup. Benar-benar gugup dan tidak tau bagaimana cara menghentikannya.

Rae Eun duduk dengan berselonjoran kaki sementara Eunhyuk memeluknya dari belakang. Udara musim semi membuat keduanya benar-benar menikmati kebersamaan ini. “Hyu—kk Ja–e” Rae Eun bersuara membuat Eunhyuk sedikit terlonjak kaget. “Hmm?”

“Kka–lau ak–u per–gi, ber–jan–ji–lah kka–u ak–an me–lu–pa–kan–kk–u. o’ ?”

Eunhyuk tersentak. “YA! kau ini bicara apa?” Sungutnya tidak terima. “Kau tidak akan kemana-mana. Kau akan disini, disampingku. Ara?” Ketegangan langsung melanda Eunhyuk. Mendengar kekehan Rae Eun tidak membuat perasaan Eunhyuk membaik sedikitpun.

“Da–sar bo—doh! Ki—ta ti–ddaaak mung–kin se–la–manya ber–sam–a. Ma–nu–ssia ti–dak ak–an bi–sa ter–le–pas dar–i ke–ma–ti–an kka–an?”

“Rae Eun-ah…” Eunhyuk mulai menangis.

Kondisi Rae Eun memang semakin memburuk. Dia tau itu. Sudah berulang kali gadis itu mengalami masa kritis. Tapi Eunhyuk selalu merasa yakin kalau Rae Eun pasti akan baik-baik saja. Gadis itu sangat kuat. Selama ini Rae Eun bisa melewati masa kritisnya dengan baik. Jadi Eunhyuk percaya kalau sampai kapanpun, gadisnya itu pasti akan selalu bersamanya.

“Ul–ji–ma” Rae Eun menggenggam tangan Eunhyuk yang melingkar di pinggangnya dengan erat. “Ja–ngan an–tar–kan ke–per—gi–an–ku de–ngan ta–ngi–san.” Suara Rae Eun mulai terdengar serak. Tanpa harus melihatnya, Eunhyuk yakin gadis itu pasti sedang menangis sekarang.

“Rae Eun-ah. Jangan tinggalkan aku. Kau pasti akan baik-baik saja. Hmm? Aku bahkan belum sempat melamarmu. Setidaknya ijikan aku melamarmu dulu.”

Rae Eun kembali terkekeh. “Ba—ik–lah. Kka–lau be–gi–tu, lam–ar–lah akk-u se–kka-rang. Se–tte–lah it-tu ak–u per–gi. Ott–e?”

“Shireo! Kau tidak boleh pergi kemana-mana. Kalau begitu aku tidak akan pernah melamarmu supaya kau tidak meninggalkanku.” Eunhyuk menenggelamkan wajahnya pada bahu Rae Eun lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Rae Eun.

Eunhyuk merasakan napas Rae Eun semakin melemah. “Rae Eun-ah?”

“Hmmm” Gumam Rae Eun pelan. Rae Eun menyandarkan tubuhnya pada dada Eunhyuk lalu mulai memejamkan matanya. “Lee Hy–uk Jj-ae… go–ma–wo. Te–ri–ma–ka–sih su–dah mem–be–rikan ke–nangan ter–ak-hir yang in–dah un–tukku.” Nafas Rae Eun mulai tersengal-sengal membuat Eunhyuk semakin takut.

“RAE EUN-ah!!” Teriaknya refleks.

“Hmm.. “

Eunhyuk membalikkan tubuh Rae Eun dengan perlahan membuat gadis itu berada dalam pangkuannya. Rae Eun membuka matanya pelan. “Ak–u be–lum ma–ti bo–doh!” Rae Eun tersenyum lemah.

Eunhyuk terisak. Dadanya terasa sangat menyesakkan. Tuhan, kumohon jangan ambil dia dariku. lirihnya dalam hati.

Rae Eun kembali memejamkan mata membuat Eunhyuk kembali berteriak. “HAN RAE EUN!!”

“Ssst. Ja–ngan be–ri–sik bo–doh! Ak–u le–lah.”

“Jangan tutup matamu.” Pinta Eunhyuk sambil terus terisak. “Teruslah berbicara. Jangan diam! Jangan membuatku takut.”

Rae Eun membuka matanya pelan. Bibirnya kembali menyunggingkan sebuah senyuman. “Opp—a”

Eunhyuk menggeleng kuat-kuat. “Tidak! kumohon jangan panggil aku oppa.”

“Sara—nghae….” Rae Eun kembali memejamkan matanya.

“HAN RAE EUN!!” Eunhyuk kembali berteriak namun kali ini tidak mendapatkan jawaban. Gadis itu telah benar-benar pergi. Menutup mata untuk selamanya.

Eunhyuk memeluk tubuh Rae Eun dan tangisannya semakin deras mengaliri kedua pipinya. “Saranghae. Neomu neomu saranghae. Saranghanda. Saranghamnida.”

There are no good-byes, where ever we are, you’ll always be in my heart.

===THE END===

22 Responses to “Last Memories [2 of 2]”

  1. zhafir June 4, 2014 at 9:34 pm #

    nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,251 other followers

%d bloggers like this: