I Never Married An Idol!

20 May

Title                 : I Never Married An Idol!?

Author             : Han Aikyung (http://hanaikyung.wodpress.com)

Main Cast        : Song Sehyun (OC→yeoja), Lee Jinki (SHINee)

Support Cast   : Lee Jieun (IU), Song Jihyo (Running Man), Sehyun Eomma

Genre              : PG15

Length             : Oneshot

Disclaimer       : The OC and story is mine…

Author’s Note  : Mengenai nama Ocs nya, aku waktu itu tiba-tiba terlintas nama Song Sehyun di kepala dan terlanjur jatuh cinta alias suka sama nama itu. Karena nggak yakin dengan ingatanku (karena barangkali pernah denger nama itu di suatu tempat), aku searching di mbah google tentang nama ini. Dan oh ternyata, nama Song Sehyun itu sudah ada! Aku kecewa. Apalagi pas tau kalo pemilik asli nama ini adalah namja!! Wkwkwk, jadi Jinki pasangannya namja *buset ngeri amat dah. Tapi berhubung aku udah suka banget sama nama ini, aku nggak pengen ganti namanya. Karena itu buat reader yang udah tahu Song Sehyun yang asli jangan ngebayangin orang itu ya, tapi ngebayanginnya cewek, ato diri sendiri kalo perlu, wkwkwk.

HAPPY READING AND RCL!!!
I Never Married An Idol!? © 2012 Han Aikyung

-o0o-

Song Sehyun, wanita 26 tahun yang memutuskan untuk tinggal sendirian di apartemennya di pusat kota walaupun dia masih memiliki keluarga yang lengkap. Sehyun merasa rumahnya—yang berada di pinggiran kota—terlalu jauh untuk melakukan pekerjaannya sebagai ahli gizi di sebuah perusahaan makanan. Selain itu, Sehyun merasa ingin mandiri, sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukannya sewaktu masih tinggal bersama keluarganya.

Namun setelah Sehyun tinggal sendiri di apartemennya ini, dia menjadi lebih dewasa dan mandiri. Beberapa minggu sekali dia akan pulang ke rumahnya atau keluarganya yang akan mengunjunginya. Bahkan, adik perempuannya—Song Jihyo—sering menginap di apartemennya setelah pulang sekolahnya saat weekend.

Setelah sadar dari tidurnya yang lelap, Sehyun membuka matanya dan membiarkan sedikit sinar matahari yang masuk lewat celah tirainya menyapa mata indahnya. Mata bulat dengan ujung meruncing itu mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan datangnya pagi. Tangan Sehyun yang sebelumnya terbungkus rapat oleh selimut naik dan mengucek matanya hingga mata itu terbuka sepenuhnya. Sehyun menggeliat kecil, menaruh kedua tangannya diatas kepalanya dan menariknya sedemikian rupa hingga tubuhnya terasa nyaman setelahnya.

Sehyun membuka selimutnya dan menurunkan kakinya ke lantai dengan tubuh yang masih terduduk di tempat tidurnya. Dia tersenyum melihat fotonya dan Jihyo yang terpampang pada pigura foto di meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Dirinya dan Jihyo tersenyum lebar, dan tidak pernah mampu membuat Sehyun menahan senyumnya ketika melihat foto itu. Sehyun menoleh ke belakang, tempat dimana biasanya adiknya itu tidur bersamanya ketika ia menginap. Tidak ditemukan siapapun di sebelahnya, hanya selimut berwarna biru muda dan beberapa bantal berwarna sama yang menemaninya tidur tadi malam. Tentu saja, karena Jihyo mengaku ingin mengerjakan tugas sekolahnya yang cukup banyak dan meminta ijin untuk tidak menginap di apartemen Sehyun weekend ini.

“Hhh, ternyata sepi ya hidup sendiri,” gumamnya. Sehyun menggeleng dan tersenyum pada dirinya sendiri. Kenyataan ini adalah pilihannya dahulu, karena itu dia tidak boleh luluh akan perasaannya sendiri. Dia harus menerima konsekuensi dari pilihannya.

Sehyun memutuskan untuk mandi dulu sebelum melakukan aktivitas hari ini. Karena itu, dia pergi mengambil handuknya yang digantungkan di sisi kiri kamarnya dan masuk ke kamar mandi yang berada di sisi kanan kamarnya.

“Eh? Sejak kapan shampo ini habis? Rasanya terakhir kali aku memakainya masih ada?” tanya Sehyun bingung. Dia berencana untuk mengganti shampo cair ini setelah mandi hari ini dan menggunakan yang masih tersisa. Namun nyatanya shamponya tiba-tiba saja sudah habis. Sehyun memutuskan bahwa ingatannya meleset. Sehyun pergi keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk pada tubuhnya. Dia mengambil cadangan shampo yang ada di lemari rias di kamarnya.

Kakinya yang basah sedikit mengotori lantai kamarnya. Sehyun memutuskan untuk membersihkannya setelah mandi. Ketika dia bangkit dari duduknya setelah mengambil cadangan shampo, dilihatnya pintu kamarnya yang terbuka. Seingatnya dia belum keluar dan membuka pintu kamar setelah bangun tidur tadi. Mengapa pintunya terbuka? Cepat-cepat dihampirinya pintu dan ditutupnya. Walaupun tidak ada siapapun dirumah kecuali dirinya, dia merasa risih jika pintu kamarnya terbuka begitu. Setelah menutup pintu itu dia membenarkan letak handuknya dan kembali melanjutkan mandinya.

Selesai mandi, Sehyun mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Sebelumya dia merasa sedikit aneh dengan lantai yang terasa kering, padahal jelas-jelas dia telah mengotorinya saat mengambil shampo tadi. Sesaat Sehyun menajamkan pendengarannya, untuk menendengarkan apapun yang menimbulkan suara di dalam apartemennya. Namun, tidak ada yang terjadi, membuat pikiran Sehyun yang mengira ada seseorang selain dirinya—yang sangat tidak mungkin mengingat Jihyo tidak bisa menginap—terbukti salah.

Akhirnya Sehyun memilih untuk tidak mengambil pusing dengan lantai yang tiba-tiba menjadi bersih itu dan melanjutkan kegiatannya. Dia duduk di depan meja rias kemudian mengeringkan rambut hitam bergelombangnya selama beberapa menit. Wanita itu sedikit memberikan parfum pada lehernya kemudian bangkit dari kursi riasnya dan pergi keluar kamar.

Sehyun tidak ingin terlalu banyak memasak jenis makanan karena dia akan berada di luar apartemen seharian. Dia berencana memasak sesuatu yang mudah dan cepat seperti omelette lalu kemudian pergi untuk bertemu sahabatnya. Semalam Jieun—sahabatnya—yang sekarang sudah menikah menanyakan kabarnya melalui sms. Sehyun dan Jieun sudah lama tidak bertemu sejak Jieun menikah sebulan yang lalu. Jieun menikahi seorang fotografer yang sering pergi keluar negri untuk melaksanakan pekerjaannya. Karena suaminya mendapatkan panggilan untuk berangkat ke Kanada tepat setelah pernikahan mereka, Jieun memutuskan untuk ikut bersamanya. “Sekalian honeymoon,” kata Jieun dengan nada bercanda pada Sehyun saat Sehyun mengantarkannya ke bandara.

Sehyun tersenyum mengingat ekspresi Jieun saat mengatakan hal itu. Tapi Sehyun langsung menghentikan senyumannya ketika mengingat perkataan Jieun setelahnya. “Ayo, kau juga cepat menikah! Umur kita sudah 26 lho!”

Ketika dia mengocok telur di dalam mangkuk menggunakan sumpitnya, tiba-tiba dirasakannya kehadiran seseorang di balik punggungnya. Pasti Jihyo ingin mengerjaiku, pikirnya. Sehyun ingin melihat adiknya yang sedang mengendap-endap di belakangnya itu, namun sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Sehyun merasakan kehangatan pada punggungnya.

“Jihyo-ya, kau mengagetkanku saja!” serunya. Sehyun tidak mendengar jawaban dari Jihyo yang berada di balik punggungnya. Justru dia merasakan Jihyo menaruh dagunya pada bahu kiri Sehyun karena memang adiknya itu lebih tinggi dari dirinya.

“Ya, Jihyo-ya, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau memeluk Eonnie seperti ini?” tanya Sehyun menyandarkan wajahnya pada kepala Jihyo. Dia mengelus rambut Jihyo yang sedikit menyentuh wajahnya.

“Hmm,” gumam Jihyo dari balik bahunya. Tapi tunggu!

Sejak kapan suara Jihyo berubah menjadi seperti ini? Berat seperti suara laki-laki. Apakah Jihyo sedang flu?

“Jihyo-ya, kau sedang flu? Suaramu berubah!” Sehyun berusaha untuk melihat wajah Jihyo yang menempel pada bahunya. Namun, karena pemilik rambut hitam itu sedang memposisikan wajahnya sedikit miring ke arah yang berlawanan dengan Sehyun, dia tidak bisa melihat wajah Jihyo. Eh, tunggu… Rambut hitam?

Ini aneh, rambut Jihyo warnanya tidak seperti ini. Jihyo memiliki rambut agak kecoklatan dan rambutnya sedikit lebih panjang dari yang dilihatnya sekarang. Sedangkan orang yang sedang memeluknya saat ini berambut hitam legam dan pendek. Apakah dia bukan Jihyo?

Sehyun merasakan tangan yang memeluk perutnya. Dia menyentuhnya perlahan dan mengelus permukaannya. Kedua tangan yang memeluknya memang halus, tapi tidak sehalus tangan Jihyo. Dan ukurannya! Ukurannya jauh lebih besar dari tangan Jihyo.

“Jihyo-ya,” panggil Sehyun hati-hati. Apa adiknya merubah semua penampilannya—termasuk suaranya—selama satu minggu tidak bertemu dengan Sehyun?

“Aku bukan Jihyo,” Sehyun mendengar suara pria dari balik punggungnya.

Siapa pria ini? Jelas bukan ayahnya. Karena Sehyun dan ayahnya jarang melakukan skinship selain tangan ayahnya yang mengelus kepalanya dan pelukan singkat. Bahkan Sehyun nyaris yakin bahwa suara seperti ini bukan milik ayahnya.

“Eugh, lepaskan aku!” Sehyun panik. Bagaimana mungkin ada pria selain ayahnya dapat mengetahui password apartemennya. Selain itu, mengapa pria ini memeluknya seakan mereka sudah mengenal sejak lama? Apakah pria ini maniak atau penjahat? Tidak, Sehyun tidak ingin terjadi apa-apa pada mahkota paling sucinya dari pria tidak jelas ini.

“Hmm? Kenapa kau tidak memanggilku Dubu-ya dengan aegyo-mu seperti biasa? Apa kau tidak merindukan suamimu?”

“Suami? Maksudmu apa? Aku belum menikah! Ya! Lepaskan tanganmu, maniak!” Sehyun berusaha menarik bahunya yang disandari oleh pria itu dan melepas tangan yang melingkar pada tubuhnya.

“Maniak?” tanya pria itu melepaskan pelukannya pada perut Sehyun. Selepas kedua tangan itu dari tubuhnya, Sehyun langsung membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan laki-laki kurang ajar yang berani memeluknya.

Belum  sempat Sehyun melemparkan telapak tangannya pada pipi pria itu, dia membatu dan tercengang. Apakah benar apa yang ada di hadapannya saat ini adalah nyata? Apakah dia sedang berhalusinasi. Pria ini kan…

“Wae?” kata pria itu merasa aneh dengan reaksi wanita di hadapannya ini. Satu tangannya bergerak naik untuk mengelus pipi Sehyun. Sedangkan satu tangannya lagi berpindah ke belakang pinggang Sehyun untuk menariknya mendekat. Tiba-tiba Sehyun teringat salah satu adegan mesra pada drama favoritnya yang dimainkan oleh orang yang sekarang ada dihadapannya ini, Lee Jinki.

“Kenapa kau tercengang begitu? Kau tidak merindukan ciumanku?” bisiknya di depan bibir Sehyun sebelum mencium bibir yang sedikit terbuka itu karena tercengang. Jinki mencium Sehyun dengan lembut. Dia membuka mulutnya agak lebar supaya bisa mengulum bibir Sehyun. Jinki memainkan bibir Sehyun sebentar sebelum kemudian menggigitnya gemas. Sehyun masih mematung pada posisinya tadi, tidak pernah membayangkan bahwa seorang artis akan masuk ke rumahnya di pagi hari dan mengaku sebagai suaminya.

Sehyun menarik kesadarannya yang sempat melayang-layang di udara dan mengerjapkan matanya. Dilihatnya pria bernama Lee Jinki yang sedang populer di layar kaca itu sedang memejamkan matanya dan menikmati bibirnya yang menyatu dengan bibir Sehyun. Dengan seluruh kewarasan Sehyun bahwa pria di hadapannya ini tidak dikenalnya, gadis itu mendorong paksa tubuh Jinki hingga menghentikan ciumannya.

“Neo…” suara Sehyun bergetar dan kata-katanya terpotong. Dia bingung, begitu banyak makian yang terlintas di kepalanya, namun tidak ada satupun yang keluar dari bibirnya yang basah karena ciuman tiba-tiba orang gila di hadapannya.

“Wae?” tanya Jinki dengan wajah heran. Tangannya yang terlepas dari tubuh Sehyun menggantung di udara mendukung pertanyaanya barusan.

“Neo, nuguya? Seenaknya saja menciumku!” kata Sehyun ketus. Tangannya mengusap-usap bibirnya cepat, berusaha menghilangkan jejak bibir Jinki. Namun tidak bisa. Kehangatan bibir Jinki masih terasa di bibirnya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia ingin merasakan kehangatan itu lagi. Entah kenapa dia merasa rindu akan ciuman itu, seperti dia pernah merasakannya sebelumnya. Tapi tidak, tidak ada pria lain yang pernah menodai bibirnya—kecuali pria di hadapannya ini tentunya, baru saja.

“Wae? Kenapa aku tidak boleh mencium istriku sendiri?” Jinki masih menggantungkan tangannya di udara, agak shock melihat respon istrinya setelah beberapa hari tidak bertemu.

“AKU BUKAN ISTRIMU!!!”

“Kau kenapa sih? Kita kan sudah menikah seminggu yang lalu?” Jinki melangkah maju untuk kembali mendekap istrinya. Namun Sehyun berteriak-teriak melarangnya mendekat.

“Aku bukan istrimu!” Sehyun mengulangi perkataanya dengan nada tinggi.

Dia merasa aneh sekarang. Apakah dia sedang bermimpi? Apakah saat berhari-hari menghabiskan waktu dengan menonton drama yang pemeran utamanya adalah Lee Jinki membuatnya bermimpi idolanya itu menjadi suaminya sekarang? Sehyun mengakui bahwa dia selalu meleleh ketika melihat Jinki dalam dramanya. Dia bahkan sering memanggil-manggil nama Jinki seperti fans-fans memanggil-manggil idolanya dalam konser. Sehyun juga sering mengajak ngobrol Jinki yang wajahnya sedang di zoom-in di televisi, meskipun tahu bahwa orang yang berada di televisi tidak mungkin mendengar perkataanya. Apakah sering menonton drama Jinki membuatnya berhalusinasi bahwa Jinki adalah suaminya sekarang?

Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Sehyun masih single dan belum menikah. Apalagi menikah dengan seorang Idola seperti Lee Jinki. Dia harus bangun sekarang karena dia pasti sedang bermimpi. Sehyun memejamkan mata dan mencubit lengannya kencang, menginginkan keanehan ini segera berakhir dan membuatnya tenang. Sehyun merasakan sakit pada lengannya yang diyakininya akan membekas pada kulitnya. Belum sempat dia membuka matanya untuk menemukan dirinya terbangun pada kasurnya, suara seseorang membuat harapannya itu pupus.

“Gwenchana?”

Sehyun mengerang pelan sambil membuka matanya. Bukan pemandangan kamar saat bangun tidur seperti diharapkannya yang menyambutnya saat ini. Namun wajah seorang pria tampan yang terlihat khawatir.

“Kau kenapa sih? Apakah kau demam?” Jinki mendekat, bermaksud menaruh tangan di dahi Sehyun dan memeriksa panas tubuhnya. Sehyun menepis tangan itu dan berjalan menuju arah kamar tidurnya. Dia ingin memastikan semuanya. Tidak mungkin Sehyun bermimpi tanpa bisa dibangunkan seperti ini.

“Ya, Sehyun-ah!” Jinki mengikuti Sehyun dibelakangnya.

Yang pertama Sehyun datangi setelah tiba di dalam kamarnya adalah meja di samping tempat tidurnya. Sehyun mengambil pigura foto yang dipandanginya sambil tersenyum setelah bangun tidur tadi.

“Aah, aku merindukan tidur di kasur ini. Empat hari tidur di kasur hotel sangat tidak mengenakkan,” celetuk Jinki yang sudah membaringkan setengah tubuhnya di kasur.

Sehyun mendecak melihat Jinki yang merasa nyaman di kasur yang seharusnya bukan miliknya itu—menurut Sehyun. Tapi itu tidak terlalu penting sekarang. Sehyun mendecak lebih keras setelah melihat pigura foto di tangannya. Yang dilihatnya bukan seperti bayangannya—yaitu dirinya dan adiknya—namun dirinya dan Jinki lah yang berada di dalam bingkai itu. Sehyun dan Jinki yang berada di dalam pigura foto tersenyum lebar sedangkan Sehyun yang asli justru menatap mereka dengan geram. Apakah tadi yang dilihatnya di dalam pigura foto benar-benar Jinki dan bukan adiknya? Sehyun mengacak-ngacak rambutnya kesal.

Sehyun berjalan ke arah meja riasnya, dimana dia menaruh tas kecilnya untuk berpergian. Dia merogoh isi tas itu dengan kasar dan mengeluarkan ponsel ungunya. Dia membuka flip ponsel itu, bermaksud untuk melihat wallpaper-nya. Betapa sebal hatinya ketika yang dilihatnya sama seperti sebelumnya, foto dirinya dan Jinki yang sedang memasang pose favorit mereka: Jinki dengan jempolnya dan Sehyun dengan ‘v’ nya.

Sehyun beralih melihat file-file foto di dalam ponselnya. Ingin membuktikan apakah benar yang dikatakan oleh Lee Jinki itu bahwa dirinya dan Sehyun sudah menikah seminggu yang lalu. Jika itu adalah kenyataan yang mungkin dilupakan Sehyun karena dia mengalami amnesia atau apapun, pastinya fotonya dan Jinki ada di dalam gallery foto pada ponselnya.

“Eungh,” Sehyun mengerang setelah melihat fotonya bersama Jinki dengan ekspresi wajah yang tidak kalah gembira dibandingkan pada pigura foto. Sejak kapan foto ini bisa ada dalam ponselnya?

Sehyun mencoba mengingat masa-masa apa yang terjadi sebelumnya. Mencoba untuk mengingat masa pacaran atau pernikahannya dengan lelaki yang tidur di kasurnya itu. Sehyun belum pernah menikah, dia yakin itu. Dan dia sangat yakin tidak memiliki ingatan apapun tentang perkenalannya dengan Lee Jinki. Lalu bagaimana bisa mereka menikah tanpa adanya perkenalan? Apakah Sehyun sudah gila?

Sehyun bergegas membuka daftar kontak di ponselnya dan menelepon sahabatnya. Mungkin dengan menelepon sahabatnya itu bisa menjawab semua keanehan ini. Dan Sehyun berharap sahabatnya itu dapat membantunya mengusir pria yang tengah bersantai di kasur Sehyun.

“Yoboseyo, Jieun-ah,” ujar Sehyun segera setelah mendengar panggilan yang sama pada sambungan di seberang teleponnya.

“Sehyun-ah? Bogoshipoyoooo….” Jieun tidak memberi kesempatan pada Sehyun untuk bicara. Sehyun mengangguk mengerti mendengar pernyataan Jieun karena dia juga merasakan hal yang sama. Namun karena sambungan antar kedua sahabat itu adalah melalui suara, jelas Jieun tidak bisa melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu.

“Jieun-ah, dengarkan aku, aku ingin bercerita!” Sehyun mengatakannya dengan nada memerintah.

“Ne? Kau ini kenapa? Tidak merindukanku ya? Marah-marah seperti itu,” jawab Jieun.

“Aku tidak bercanda Jieun-ah, dengarkan aku,” Sehyun mendengar jawaban seperti ‘ne’ dari mulut Jieun di seberang. Dia tidak terlalu memerhatikannya karena setelah menyelesaikan kalimatnya yang sebelumnya Sehyun langsung melanjutkan,

“Apakah aku sudah menikah?” tanyanya. Sehyun menyadari ucapannya yang terdengar bodoh. Pertanyaan itu terdengar seperti cemoohan karena tidak mungkin seseorang tidak mengetahui apakah dirinya sudah menikah atau belum. Tapi Sehyun merasa masa bodoh dengan semua itu, dia hanya harus memastikan hal aneh ini tidak pernah terjadi.

“Hah? Kau tersandung lalu terjatuh ya? Pertanyaanmu aneh sekali,” jawab Jieun. “Tentu saja kau sudah menikah, suamimu Lee Jinki kan? Apa kau tidak ingat ketika Jinki-sshi melamarmu dan kau bercerita padaku dengan wajah super bahagia?” Sehyun merasakan kepalanya pusing.

“Dan aku juga datang ke pernikahanmu, ne! Masak kau tidak ingat!” lanjut Jieun. Sehyun masih merasa kepalanya sakit.

“Ah, iya. Apakah suamimu sudah pulang? Ku dengar dia baru saja menyelesaikan shooting drama terbarunya? Pasti lelah ya, sibuk sekali!” komentar Jieun membuat Sehyun bertambah pusing. Apakah sahabatnya juga sedang mengerjainya?

“Jieun-ah,” sela Sehyun jengah. “Aku tidak ingat pernah menikah!” Sehyun berseru demi meluapkan kekesalannya akan lelucon ini. Siapa yang berani memberikannya lelucon macam ini? Hari ini bukan tanggal ulangtahunnya. Bahkan hari ini bukan April Mop. Lalu apa yang terjadi padanya?

“Kau bercanda?” tanya Jieun. “Apakah kau sedang bertengkar dengan suamimu?”

“Aniii, aku tidak punya suami, aku belum menikah!” Sehyun melanjutkan seruannya untuk menegaskan apa yang dimaksudnya. Yang bercanda itu adalah Jieun, bukan dirinya. Pasti semua orang sedang menertawakan dirinya yang terjebak dalam lelucon konyol ini.

“Ah, kau ini kenapa sih? Selesaikan baik-baik masalahmu dengan Jinki-sshi, jangan begini,” Jieun mulai menasehati Sehyun dan membuatnya tambah panas karena kesal.

“Arasou! Arasou!” Sehyun memutuskan untuk menghentikan nasihat Jieun. Dia tidak ingin berlama-lama menelepon sahabatnya yang sedang membuat lelucon dengannya. “Kau lanjutkan saja apa yang sedang kau kerjakan sebelumnya. Aku mau menelepon Ibuku,” kata Sehyun dan mematikan sambungan begitu Jieun menyudahi obrolan mereka.

Sehyun mengetikan angka tiga pada ponselnya dengan geram. Ponsel itu langsung menghubungkan ke speed dialnya pada Ibunya. Sehyun memutuskan untuk menunggu Ibunya mengangkat panggilannya dengan duduk di depan meja rias, masih memerhatikan Jinki yang asyik dengan kasur dan bantal miliknya.

“Yoboseyo, Eomma!” nada bicara Sehyun agak tinggi dan terdengar tidak sabar.

“Ne? Wae Sehyun-ah? Kau seperti sedang marah?”

“Aniyo, aku ingin bertanya Eomma—“

“Ah, bagaimana kabar suamimu, Jinki? Dia sudah pulang kan? Aku mendengar dari berita di televisi katanya dia sudah menyelesaikan shooting dramanya. Eomma selalu menonton dramanya itu lho. Eomma membayangkan yang menjadi pasangannya pada drama itu adalah kau Sehyun!” Sehyun bahkan tidak mendengarkan perkataan Eommanya yang memuji Jinki sedemikian rupa. Kepalanya sudah sangat pusing, mendengar Eommanya menjawab pertanyaanya yang tidak pernah terlontar.

“Apakah itu Eommonim?” tiba-tiba Jinki sudah berada di belakang Sehyun. Tanpa menunggu jawaban Sehyun, pemuda itu mengambil paksa ponsel pada tangan Sehyun dan berbicara padanya.

“Eommonim, annyeonghaseyo!” seru Jinki dengan nada senang.

“…”

“Ne, aku sehat Eommonim. Bagaimana dengan Eommonim sendiri?”

“…”

“Ne, aku baru saja menyelesaikan shooting ku. Anda tahu Eommonim? Selama shooting berlangsung, tidak hentinya aku memikirkan Sehyun dan Eommonim. Aku merasa sangat bersalah melakukan hal-hal yang mesra tapi tidak dengan putri Eommonim…”

Obrolan selanjutnya tidak didengar Sehyun karena dia sudah berjalan ke luar ruangan meninggalkan Jinki yang asyik berbincang dengan Ibunya.

Kenapa begini? Kenapa semua orang mengatakan bahwa Jinki adalah suaminya? Bagaimana mungkin ada mimpi yang tidak bisa dibangunkan? Sehyun harus cepat bangun agar tidak terlanjur senang berada pada mimpi yang terkesan nyata ini. Karena jika sudah terlarut terlalu dalam dan kemudian dia terbangun, hatinya akan merasa sangat sakit menyadari bahwa hal indah ini hanyalah mimpi.

Sehyun sebenarnya bukan tipe wanita yang suka berhubungan dekat dengan pria. Pacarnya satu-satunya adalah sewaktu dia duduk di bangku SMA. Saat itu itu dirinya dan pacarnya masih merasakan cinta monyet dan belum pernah melakukan skinship. Sehyun memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka karena dia ingin lebih fokus pada sekolahnya. Dan hingga saat ini dia tidak pernah merasakan pacaran.

Dan pertanyaan yang paling besar yang bergelantungan di otaknya adalah: bagaimana mungkin dia sudah menikah tanpa diketahuinya? Apakah dia mengalami lupa ingatan atau semacamnya? Karena di dalam ingatannya dia tidak pernah berpacaran dengan siapapun selain teman SMA nya dulu, apalagi melangsungkan resepsi pernikahan.

Namun dari lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa senang. Jika Lee Jinki memang adalah suaminya, Sehyun merasa dia adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi. Selain karena Jinki adalah aktor favoritnya, juga karena dia sangat mengetahui kebaikan dan kesopanan seorang Lee Jinki. Wanita mana yang tidak jatuh hati pada pria tampan bermulti talenta sepertinya.

Sehyun merasakan gerakan pada samping kirinya. Dilihatnya Jinki telah duduk disampingnya sambil menatapnya penuh arti. Sehyun tidak mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Mempercayai bahwa pria di hadapannya ini adalah suaminya, atau mempercayai ingatannya. Sehyun sangat bingung.

“Sehyun-ah,” ujar Jinki lembut. Sangat lembut hingga membuat Sehyun meleleh hanya dengan mendengar suara dan menatap matanya.

“Apa yang terjadi padamu, chagiya? Ceritakanlah padaku,” Jinki mengelus kepala Sehyun yang bergeming membalas tatapannya. Sehyun merasakan hangat terpancar dari belaian Jinki. Rasanya ingin mengerjapkan mata untuk menghilangkan rasa canggungnya, namun tatapan pria itu begitu menguncinya.

“Apakah kau marah padaku karena aku sering meninggalkanmu?”

“Aa.. Aku,” Sehyun mulai membuka mulutnya untuk menceritakan perasaannya. “A-aku, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi,” Sehyun menelan ludahnya dengan susah payah demi melihat wajah Jinki yang memancarkan keteduhan.

“Aku tid—“ ucapan Sehyun terhenti karena bibir Jinki telah mencapai telapak tangan kanannya dengan sempurna. Sehyun merasakan napasnya yang terhenti karena kaget, menatap Jinki yang memejamkan matanya ketika mencium tangannya. Setelah beberapa lama, Jinki melepaskan ciumannya.

“Kau sudah tenang?” katanya sambil tersenyum manis.

“N-ne,” Sehyun masih merasa ‘wah’ dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Seorang Lee Jinki memberikan jackpot ciuman padanya dua kali hari itu.

“Jadi sekarang ceritakan padaku apa yang membuatmu resah sejak tadi,” ujar Jinki merubah posisi duduknya agar menghadap Sehyun. Dia membimbing tangan Sehyun agar duduk menghadapnya. Mereka duduk berhadapan dengan tangan Sehyun masih berada di dalam genggaman Jinki.

“Saat aku bangun tadi, aku merasa hidupku masih seperti biasa, hidup sendirian menjadi seorang ahli gizi di apartemenku. Terkadang keluarga atau temanku datang dan menginap di sini,” mulai Sehyun dengan suara pelan. “Aku tidak memiliki namjachingu apalagi suami sampai sekarang—seingatku sih,” Jinki merasa aneh dengan cerita Sehyun, rasanya jelas-jelas ia berpacaran dengan Sehyun sejak satu tahun yang lalu dan melamarnya satu setengah bulan yang lalu. Namun pria itu memilih untuk mendengarkan cerita Sehyun sampai selesai.

“Namun tiba-tiba datang seorang aktor yang biasanya hanya kulihat di layar televisi mengaku sebagai suamiku dan menciumku,” Sehyun menghentikan ucapannya dan melihat ekspresi Jinki. Pria di hadapannya itu memerhatikan ceritanya dengan seksama. Terlihat alisnya yang agak berkerut, fokus mendengar setiap kata yang diucapkan Sehyun.

“A-aku tidak mengerti. Kenapa semua orang—termasuk kau—berkata bahwa kau adalah suamiku, sedangkan diingatanku mengatakan bahwa aku masih lajang dan belum menikah. Apa yang sebenarnya terjadi, apakah aku sedang bermimpi?”

“Hmm,” Jinki mengangguk kecil mendengar cerita Sehyun. Sehyun sedikit membelalakkan matanya melihat gerakan kepala Jinki. Jadi benar ini semua hanya mimpi?

“Benar ini hanya mimpi?” Sehyun memastikan.

“Lanjutkan saja, apa yang kau rasakan sekarang?”

“Eung, aku merasa asing dengan ini semua karena ingatanku mengatakan bahwa ini tidak benar. Tapi disaat yang sama aku juga merasa senang dengan yang terjadi,” Sehyun merasa bingung. Dia tidak bisa memilih kosa kata yang tepat untuk mengungkapkan semua isi hatinya, akhirnya kata-kata yang keluar justru terdengar aneh. Sehyun sangsi Jinki mengerti perkataannya.

“Jadi, kau merasa senang?”

Sehyun mengangguk, ternyata Jinki mengerti dengan ucapannya.

“Sehyun-ah,” Jinki mengeluarkan suara yang membuat Sehyun tidak bisa lebih meleleh lagi dari ini. “Kita sudah berpacaran sejak setahun yang lalu. Dan pernikahan kita baru diadakan seminggu yang lalu. Suamimu itu aku, Lee-Jin-Ki,” kata Jinki mengeja namanya seakan memberi penekanan.

“Sehyun-ah?” panggil Jinki melihat tidak adanya respon dari Sehyun.

“A-aku tidak tahu. Aku rasa… Aku… Salah,” Sehyun merasa pusing pada kepalanya sedikit mereda pasca mengatakan kalimat itu.

“Aku rasa ingatanku… Aneh…” kata Sehyun, menatap tulisan pada baju Jinki seraya mengusap-usap pelipisnya.

Sehyun mengangkat wajahnya sehingga matanya kembali menatap mata sipit Jinki yang indah. Kedua mata itu mengedip pelan penuh ketulusan menatap istrinya yang saat ini terlihat imut dengan kebingungannya.

“Kau ingat bahwa aku suamimu?”

“Ng, aku masih ragu. Aku bingung, aku—“ Sehyun merasa tubuhnya dipaksa untuk condong ke depan dan masuk dalam pelukan Jinki.

“Bagaimana jika seperti ini? Apakah kau sudah yakin?” Sehyun tidak merespon. Dia sibuk mengatur detak jantungnya yang terasa menggema di telinganya sendiri.

“Kalau seperti ini bagaimana?” Jinki menarik tubuhnya dan mencium kening Sehyun, membuatnya tambah melayang dan lupa untuk menjawab pertanyaan Jinki.

Jinki menurunkan ciumannya ke salah satu mata Sehyun, kemudian ke hidungnya, dan berlanjut ke dagunya. Jinki berhenti sebentar ketika bibirnya hendak mencium bibir Sehyun. Dipandanginya sebentar bibir pink yang membuatnya berdebar-debar itu. Dirasakannya napas yang keluar dari bibir pink itu yang pendek-pendek. Jinki memajukan wajahnya untuk menyentuh bibir Sehyun. Dia menempelkan bibirnya pada Sehyun selama beberapa lama, merasakan kehadiran istrinya.

“Otte? Kau sudah ingat padaku?” tanya Jinki tersenyum melihat Sehyun yang masih memejamkan matanya walaupun Jinki telah menyudahi ciumannya.

Jinki melihat istrinya membuka matanya kemudian mengangguk pelan, malu-malu.

“Aku ingat rasa ciuman ini,” kata Sehyun, wajahnya masih merah, membuat Jinki gemas.

“Tapi aku masih belum percaya bagaimana aku bisa mendapatkan suami seorang aktor.”

“Ah, kau belum ingat semuanya rupanya,” Jinki menyeringai. “Karena kita belum sempat melakukan malam pertama, akan kubuat kau mengingatku lebih,” Jinki mendorong Sehyun pada sofa dan kembali mencium istrinya.

END

Aaah, akhirnya rampung juga. Tahu nggak? Sebenernya FF ini udah selesai sejak lama, tapi banyaaaak banget perubahan dan akhirnya jadi dalam beberapa versi. Jadi deh baru bisa diposting sekarang =,=


Akhir-akhir ini aku selalu ngiri deh sama Ocs yeoja yang aku bikin di FF ku sendiri, karena mereka bisa ngapain aja sama uri Jinki, wkwkwk. *nggak penting, abaikan.


Ni Oneshot pertamaku yang adegannya sama sekali nggak pindah latar. Tetep di dalam rumah yang sama dan diwaktu yang sama. Nggak pake pindah2 scene. Aku juga bingung kok bisa begitu ya. Begitu muncul ide cerita kayak gini langsung aja ngalir kata-katanya, da tiba-tiba udah nyampe 11 halaman Word (aku nggak pernah bikin FF Oneshot lebih dari 10-11 halaman Word, kalo lebih mending dibuat Twoshoot aja biar reader nggak cape bacanya, kekek). Baguslah karena biasanya tersendat tuh kata-kata mengalir.

Eugh, saya belum nerusin Neorago Part 4 lah. Maaf ya reader. Sabar menunggu kan??? Hehehe ^^


FF ini aku berniat untuk bikin sequel nya, hehe. Ada yang berminat nggak???

80 Responses to “I Never Married An Idol!”

  1. Yoonhae May 22, 2012 at 5:04 pm #

    Sequel thor,,

  2. echa May 26, 2012 at 6:26 pm #

    demi apa thor. Aku juga mau , pagi pagi waktu bangun tidur ada salah satu dari biasku ngaku ngaku jadi suamiku >< #plakk

    sequel dong thor :)

  3. mybabyLiOnew May 28, 2012 at 9:01 am #

    mau bc sequelnya.. jadi bc ini dulu..
    oalah.. kirain td sehyun amnesia.. bekas jatuh ato apa gtu.. trnyata efek terbiasa sendiri ya.. hahaha

    jd yg bersihin lantai kmr itu jinki.. baik bgt.. takut istrinya tergelincir ya..

    baca sequelnya ah

  4. mybabyLiOnew May 28, 2012 at 9:02 am #

    mau bc sequelnya.. jadi bc ini dulu..
    oalah.. kirain td sehyun amnesia.. bekas jatuh ato apa gtu.. trnyata efek terbiasa sendiri ya.. hahaha

    jd yg bersihin lantai kmr itu jinki.. baik bgt.. takut istrinya tergelincir ya..

    baca sequelnya ah..

  5. LeeShin91 June 4, 2012 at 8:08 pm #

    hwaaa… jdi pngen
    pas bangun pagi2 lngsung brubah statusnya jd istri onew
    onew sweet bgt sie

  6. Kyouhei Amano P June 11, 2012 at 2:55 pm #

    Jinkiiiiiii >////<)9

  7. taeminiesha June 13, 2012 at 1:34 pm #

    Laahh jadi sebenernya Sehyun kenapa? ._.
    Daebaklah, aku sampe ikut bingung bacanya, Sehyun nya aja bingung apa lagi readers yg gak tau apa2 *loh hahahahaa xD
    Ada sequel nya? Udah publish kan?
    Capcuss dehh ^^;;

  8. inthah June 17, 2012 at 6:53 pm #

    no comment!!
    Its to perfect ^_^
    I’ll go to d next…
    *lagaknya pake b ing*
    aye nguber yg sequel yaq, Thor…. ehehehhe

  9. vinvinn June 20, 2012 at 9:06 pm #

    iri sm sehyun.. aq jg mau!! >< #apadeh
    ga asing dgn ff bginian krn uda prnh bca ff yg awalnya gitu jg. bangun2 uda pny suami/istri tp ga ingat apa-apa. cm ff ini bingungin ya. haha..
    sy bca ff sequelnya dulu.. ^^

    • Han Aikyung June 21, 2012 at 7:15 am #

      Oh ya? Sudah banyakkah cerita seperti ini?
      Tapi ini original dari kepalaku loh, bukan njiplak ato gimanapun

      silakan dibaca sekuelnya biar ga bingung,
      emang aku kurang pandai menjelaskan ke orang lain sih :D

      • vinvinn June 21, 2012 at 4:46 pm #

        ga banyak kok. cm satu yg prnah q baca.
        udah kubaca sequelnya. jadi ngerti. haha :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. The Foreboding [1.2] – Sequel INMAI | FFindo - May 26, 2012

    [...] Note : Jadi, ini cerita flashback nya kenapa Sehyun bisa kayak gitu di I Never Married an Idol (INMAI). Plotnya agak diambil dari novel Hocus [...]

  2. The Foreboding [2.2] – Sequel INMAI | FFindo - May 28, 2012

    [...] The Foreboding [1.2]  |  I Never Married An Idol [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 21,269 other followers

%d bloggers like this: