The Stab of Jelangkung (The Myungshidae PG-15)

9 Jun

Title                : The Stab Of Jelangkung

Author           : @gumihae

Length            : Chaptered

Rate                : PG-15

Genre             : Horror, Thriller, Romance (Little)

Cast                :

  • SJ Siwon
  • Park Ririn
  • Lee Haejin
  • SJ Donghae
  • SJ Leeteuk
  • SJ Shindong
  • SJ Eunhyuk
Credit :
  • Tusuk Jelangkung Movie (2003) Directed by Dimas Djayadiningrat
  • Tusuk Jelangkung Novel written by FX Rudy Gunawan

Disclaimer : Diangkat dari Novel + Film yang berjudul Tusuk Jelangkung, yang dimainkan oleh Marcella Zalianty, Samuel Rizal, Dinna Olivia dkk, pada tahun 2003. Aku bener-bener suka film itu sampai berkhayal gimana kalau anak Super Junior main disana bareng aku wkwkwkwk :p maaf ya Mas Dimas dan Mas Rudy saya acak-acak karyanya wkwkwkwkwk, pernah di publish di SJFF2010 dan Jinhaexy ^^

Before

Berulangkali kukatakan…

Benci, Dendam, dan Amarah…

Itu adalah makananku, maka bertengkarlah kalian…

Kulahap kalian…

Tapi, Ririn dan Siwon… Cinta kalian bisa jadi momok untukku…

Begitu pula dengan yang lainnya…

*Rumah Siwon*

Sekitar pukul satu, Donghae, Ririn, Haejin, Eunhyuk, dan Shindong kembali berkumpul di rumah Siwon, setelah dari rumah Soo Man Haraboji, kemudian mereka mengambil kembari perlengkapan mereka untuk dibawa pergi ke Myungshidae, mereka masih belum tau medan sama sekali, dan demi waktu, mereka memutuskan untuk langsung pergi ke Myungshidae malam itu juga. Rombongan kali ini berangkat dengan dua mobil, sedan hitam pertama berisi Siwon dan Ririn. Kemudian X-Trail hitam yang biasa, dibawa oleh Leeteuk, dengan Donghae, Haejin, Eunhyuk, dan Shindong di dalamnya. Ririn, yang bener-bener nggak tau suasana, masih juga ingin cari kesempatan berdekatan dengan Donghae, sempat protes, tapi Siwon dengan tegas mengatakan bahwa ia tak mau kalau Ririn ketiduran lagi di bahu Donghae.

”Ya ampun, Siwon-ah… orang ketidura gitu aja kamu bahas serius banget! Kita kan lagi ngadepin masalah besar, masa kamu sempat mikir gitu? Kan cuman…?”

”Cuman?!” potong Siwon. ”Denger ya, Ririn-ah… bagiku, setan-setan itu baru ’cuma’, segala Hostes Bunting! Jonghyun, apalah lagi itu baru ’cuma’! tapi kalo hubungan kita, itu baru segalanya!”

Ririn langsung terdiam mendengar omongan Siwon, yang meski di ucapkan dengan nada keras, tapi berhasil mengharu-biru perasaannya. Ririn akhirnya nurut, dan langsung naik di kursi depan, diikuti Siwon. Mereka berdua langsung tancap gas, dengan kecepatan tinggi berhubung sudah malam, dan tidak terlalu macet.

”Siwon-ah… ini nggak apa-apa boneka jelangkung ada di mobil kita?” tanya Ririn melirik ke belakang.

”Nggak pa-pa…” sahut Siwon masih agak jutek, dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

”Hhh… yakin kamu?” tanya Ririn lagi, Siwon cuma menggumam pelan. Ririn melirik spedometer, melihat jarum sudah melewati batas tengah spedometer. ”Kamu bawa mobil pelan dikit kenapa, sih?” Ririn menoleh ke belakang. ”Leeteuk sama yang lain ketinggalan kan?”

Siwon yang masih agak jutek cuma menggumam lagi, tanpa melambatkan laju mobilnya. Ririn akhirnya bersandar di kursi, dan ikut menatap lurus ke depan, ketika tiba-tiba sosok Hostes Bunting muncul, dan merayap di kap depan  mobil  mereka.

”Siwon-ah!” jerit Ririn.

Siwon berusaha mengendalikan laju mobilnya, sementara Ririn menjerit-jerit di sebelahnya. Hostes Bunting terus merayap seperti ingin menembus kaca, dan Siwon kehilangan kendali mobilnya, Ririn dan Siwon berteriak meminta pertolongan, tapi jalan terlalu sepi. Mobil berputar-putar cepat, ketika tiba-tiba sebuah kerangka bus besar muncul, dan menabrak mobil Siwon. Mobil itu terbalik dua kali, hingga kembali ke keadaan semula. Kepala Ririn terbentur kaca, hingga berdarah, Ririn pingsan. Begitu pula dengan Siwon, yang pingsan dengan kepala di kemudi.

Sementara di mobil X-Trail hitam belakang, Leeteuk sedang berusaha mengejar ketinggalannya dengan Siwon. Donghae duduk disebelahnya, konsentrasi juga menatap ke jalan. Sementara di tengah duduk berjajar Shindong, Eunhyuk, dan Haejin yang menahan kantuk.

”Teukie-ah!” suara Donghae terdengar waspada. ”Itu… itu kan mobilnya Siwon?!” Donghae menunjuk ke depan.

Shindong, Eunhyuk, dan Haejin langsung tegang, kantuk menghilang dari mata mereka bertiga. Leeteuk mempercepat laju mobilnya, dan langsung menginjak pedal rem begitu sudah dekat. Dia dan Donghae keluar dengan sigap, begitu juga Haejin, Shindong, dan Eunhyuk.

”Siwon-ah?! Siwon-ah?!” teriak Leeteuk menghampiri pintu sisi Siwon, membukanya, lalu dibantu Shindong dan Eunhyuk mengeluarkan Siwon dari dalam mobil, dahi Siwon berdarah.

Siwon nampak lemas dan masih antara sadar dan tidak. Sementara Haejin membantu Donghae menarik keluar Ririn dari dalam mobil. Ririn masih belum sadar, Haejin mengalungkan tangan Ririn ke bahu Donghae, kemudian dia menepuk-nepuk wajah Ririn. ”Ririn-ah! Ririn-ah! Ireona! Ireona!”

”Eunhyuk-ah, Shindong-ah… tolong ambil barang-barangnya Ririn dan Siwon, bawa ke mobil. Donghae-ah, bawa Ririn ke mobil!” Leeteuk memapah Siwon yang setengah sadar ke arah mobil, kemudian Donghae juga membawa Ririn ke dalam mobil. Shindong dan Eunhyuk membereskan barang-barang Siwon dan Ririn yang berceceran di dalam mobil. Begitu Shindong keluar membawa beberpa tas, dibantu Donghae yang ikut mengambil barang-barang, Eunhyuk menyadari Haejin tidak ada.

”Haejin-ah?!” panggilnya.

Haejin sementara itu, ternyata dia menaiki kerangka bus bekas kecelakaan parah tersebut. Haejin melihat bahwa kursi-kursi bus tersebut sudah menjadi kerangka. Bus ini pastilah dulu meledak, Haejin berjalan di koridor bus, sampai pandangannya jatuh ke bawah.

Sebuah peti mati berwarna cokelat tergeletak di bawah. Bulu kuduk Haejin langsung meremang melihat peti mati tersebut, tapi kakinya menuntunnya maju meski gemetaran dari ujung rambut hingga ujung kaki. Begitu dia sampai tepat di depan peti mati tersebut, Haejin yang masih gemetaran berjongkok perlahan-lahan. Dengan tangan gemetar, dan keringat yang mengucur deras, diulurkannya kedua tangannya perlahan-lahan untuk menyentuh peti mati tersebut.

Begitu tangannya sedikit lagi menyentuh peti, peti mati itu bergetar kencang. Haejin terlonjak, dan mundur kebelakang dengan cepat sementara peti itu berdiri dan mengejarnya. Haejin merangkak mundur menjauhi peti yang semakin mendekat, dengan kecepatan tinggi Haejin bangkit dan berlari.

”Haejin-ah! Lari! Lari!” teriak Eunhyuk yang datang menyelamatkannya sambil menggandeng tangannya keluar dari dalam bus. Begitu mereka sudah sampai di depan mobil, Haejin masih gemetar ketakutan. Eunhyuk menepuk-nepuk punggungnya. ”Gwenchana, gwenchana… Haejin-ah… sudah tidak apa-apa.”

Haejin cuma mengangguk ketakutan sambil memegang dadanya yang terasa sakit karena terlalu cepat berlari.

Mobil kembali melaju menuju Myungshidae. Leeteuk dan Donghae bergantian menyetir mobil, sementara keadaan Ririn dan Siwon berangsur-angsur pulih. Haejin duduk di tengah, menjaga mereka berdua. Hari kedua perjalanan, ketika menginjak pukul sepuluh malam, Leeteuk dan Donghae yang bergantian menyetir nyaris dua puluh empat jam rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di sebuah bangunan kuno, yang terlantar, namun dilihat dari tulisan di depannya, penginapan ini masih buka, dan menyediakan beberapa kamar.

Bangunan itu benar-benar seperti bangunan terlantar! Jika tidak ada tulisan open di depannya, mungkin mereka mengira ini bukan penginapan. Bau lumut dimana-mana, dan debu menutupi lobi tersebut. Tanpa lampu, hanya beberapa lilin menyala, dan akuarium yang sudah butek yang memberikan tanda bahwa tempat itu masih ada kehidupan.

Lukisan-lukisan tua dipajang di dinding-dinding lobi penginapan tersebut. Tapi, kaca-kaca jendelanya sudah pecah semua, dan kursi-kursi juga sudah patah-patah, sementara sofa bolong-bolong dan berjamur.

”Yakin nih, ini penginapan? Nggak ada yang lebih serem lagi?” tanya Haejin. Dia menyenteri seluruh isi ruangan. Semua sekarang menggunakan senter masing-masing untuk membantu penerangan.

”Bangunan terlantar kali…” sahut Eunhyuk yang merapat pada Haejin.

”Ya habis mau nginap dimana lagi? Cuma penginapan ini satu-satunya yang kita temuin.” Jawab Siwon, sambil merangkul Ririn, dan menyenteri ruangan juga.

Shindong menyahut. ”Mending kita pindah tempat aja yuk!”

”Mau pindah kemana? Habis ini jalanan hutan terus, Shindong-ah…” sahut Siwon lagi.

”Permisi!” kata Leeteuk keras di meja resepsionis, sementara Donghae menekan-nekan bel yang tergeletak di meja resepsionis tersebut. Belnya masih berfungsi. Shindong dan Eunhyuk melihat-lihat lukisan di dinding. Lukisan seorang nenek tua yang mengenakan gaun putih.

”Yah! Lukisannya seram sekali…”

”He-eh…” Eunhyuk mengangguk. ”Udah ah, Shindong-ah… jangan diliatin! Matanya kayak liatin kita tau!” Eunhyuk dan Shindong berpaling, tanpa tahu mata itu bergerak-gerak.

Donghae memencet bel lagi. ”Masa sih nggak ada orang?”

”Ada yang bisa saya bantu?” seorang pria paruh baya bersuara berat tiba-tiba muncul. Wajahnya galak, berjenggot, dan nampak seram. Dia membawa lampu minyak dari belakang, dan meletakkan lampu minyak tersebut di atas meja resepsionis.

”Kami mau pesan tiga kamar…” jawab Leeteuk.

Pria tersebut menatap semua tamunya dengan tatapan menyelidik, kemudian mengambil kunci dari gantungan dan meletakkannya di atas meja, sambil berkata dengan suara bertanya. ”Satu kamar, paling atas.”

Donghae meraup tiga kunci tersebut, dan mengajak semuanya berkumpul. ”Ini Teukie-ah…” Donghae menyerahkan satu kunci kepada Leeteuk. ”Ini, kamar Ririn sama Haejin.” Haejin mengambil kuncinya.

”Eh! Tunggu dulu! Aku gak mau ah, tidur cuma berduaan cewek-cewek doang! Siwon tidur sama kita aja deh, nanti kan bisa di sofa, atau dimana kek gitu…” sergah Ririn panik.

Donghae mengangguk. ”Kalian atur aja,” kemudian menyerahkan satu kunci pada Shindong. ”Ini, Shindong sama Eunhyuk. Lantai atas…”

”Yah! Kok di atas sih?!” keluh Shindong.

”Nggak mau ah! Donghae-ah, nggak mau!” Eunhyuk geleng-geleng. ”Nggak ada apa kamar yang satu lantai lagi?”

”Ya udah, coba kutanya lagi…” Donghae berbalik, dan kaget mendapati pria tadi sudah tidak ada. ”Lho?!”

”Udah deh, kalian kan cowok-cowok berdua pula!” kata Haejin. ”Udah malem nih, sekarang mendingan kita naik, tidur!”

Mereka akhirnya bersama-sama naik tangga ke lantai dua, ternyata tangga menuju lantai tiga terdapat disisi lain koridor, maka Shindong dan Eunhyuk ikut berjalan mengikuti yang lain pergi menuju kamar mereka.

”Ini semua gara-gara kau, Ririn-ah!” Shindong tiba-tiba kembali ngedumel.

”Eh! Shindong-ah! Kau tidak ada bosan-bosannya ya, menyalahkanku! Aku tau aku salah! Tapi nggak usah di ungkit-ungkit terus gitu, dong!” balas Ririn yang juga langsung naik pitam.

Baru saja Shindong mau membalas, Donghae akhirnya berkata. ”Shindong-ah, keumanhae!”

”Yah, neo!” Shindong langsung menunjuk Donghae dengan marah. ”Kau gak usah sok ngatur-ngatur ya! Emang kau kira kau itu siapa?! Baru juga kenal, udah main perintah-perintah aja!”

”Iya, emang kau siapa sih?!” Eunhyuk ikutan. ”Sok mimpin kita!”

Dan Siwon pun ikut berkomentar. ”Kalau itu aku setuju! Pokoknya disini nggak ada yang sok mimpin-mimpin! Semua sama!”

”Maksudmu apa?!” akhirnya emosi Donghae tersulut.

”Siwon-ah, keumanhae! Ngapain mesti ribut begini sih?!” sela Ririn.

”Kok kamu jadi ngebentak aku sih?!” Siwon protes Ririn memarahinya.

”Udah!” potong Leeteuk. ”Semuanya berhenti ribut! Omongan kalian semua tuh pada kelewatan tau! Kayak anak kecil aja!”

”Tau, kalian semua tuh emang kelewatan!” tambah Haejin kesal. ”Kita tuh susah-susah, capek-capek pergi kesini supaya nggak digangguin lagi! Bukannya mau ribut! Kita kesini itu supaya hidup kita kembali tenang, inget itu!”

Tiba-tiba petir menyambar, dan lampu-lampu minyak di koridor mendadak mati semua. Semua tersentak kaget, Eunhyuk langsung menyambar tangan Shindong dan Haejin.

”Udah deh mendingan sekarang kita istirahat di kamar masing-masing! Besok kita harus pergi pagi-pagi!”

*Kamar Siwon-Ririn-Haejin*

”Kok kamu tadi bukannya belain aku sih, malah belain Donghae?!”

”Belain apa sih?!” tanya Ririn sambil dengan gusar membuka ranselnya dan menarik keluar piyama birunya dari dalam tas. Haejin sedang di kamar mandi, mengganti bajunya.

”Ya itu tadi! Bukannya belain aku kamu malah belain Donghae!”

”Aku nggak belain siapa-siapa! Emang kamu tadi ngomongnya kelewatan!”

”Tuhkan masih nggak mau ngaku kan kalo belain Donghae!”

”Ya ya ya…” Ririn akhirnya menjawab dengan suara malas. ”Aku emang belain Donghae. Puas kamu?! Emang itu kan yang pengen kamu denger?!” Ririn berdiri dan membawa piyamanya ke kamar mandi, karena Haejin sudah keluar dari kamar mandi, dan sekarang memakai kaus dan celana pendek.

Terdengar suara bisikan begitu Ririn masuk ke dalam kamar mandi. Siwon dan Haejin saling pandang takut, tapi tidak bicara apa-apa. Kemudian Ririn keluar dan langsung berbaring, begitu pula dengan Haejin yang langsung tidur di sebelahnya. Siwon sementara itu duduk memandangi wajah kekasihnya, sambil sesekali membelai rambutnya.

Ruangan semakin temaram, Siwon memutuskan untuk mengganti lilinnya dengan lilin baru, namun begitu melewati kaca. Dilihatnya bayangan anak kecil botak sedang tertawa terkekeh-kekeh. Siwon langsung terlonjak, lilin yang dipegangnya jatuh. Ya, setan Jonghyun kemudian muncul dan tertawa-tawa mengerikan di dalam kamar itu, dia berpindah kesana-kemari membuat Siwon pucat setengah mati. Suara tawa dan bisikan semakin nyaring. Siwon berusaha berpindah, namun Jonghyun selalu muncul dan mengagetkannya.

Haejin kemudian terbangun karena mendengar suara bisik-bisik yang membuat bulu kuduk meremang. Dia melihat Siwon sedang gemetaran. Haejin melompati Ririn yang masih tidur, dan merapat pada Siwon. ”Siwon-ah?! Kenapa kau tidak bangunkan aku dari tadi?!”

”Molla! Molla!”

Suara tawa dan bisikan semakin nyaring. Gendang telinga Haejin dan Siwon serasa mau pecah mencari-cari sumber suara, sementara si setan Jonghyun terus mempermainkan mereka berdua. Haejin meraih senter, dan berusaha menyenteri setiap sudut ruangan untuk mencari sumber suara bisikan dan tawa yang mengerikan itu.

”Siwon-ah?!” pekik Ririn. Ririn terbangun juga akhirnya, Siwon menarik tangan Ririn, kemudian berusaha melindungi Ririn sekaligus Haejin. Ketiganya mencari-cari sumber suara.

”Siwon-ah! Kayaknya mendingan kita keluar aja dari sini, yuk!” pekik Haejin, suaranya seperti orang mau menangis.

Tanpa aba-aba Siwon, Ririn, dan Haejin meraih pintu dan berusaha membukanya, namun pintu itu terkunci. Ketiganya panik menggedor-gedor pintu kamar tersebut. Ririn tidak kuat lagi mendengar suara tawa yang melengking tersebut, Ririn ambruk sambil memegang kedua telinganya.

”Buka pintunya‼!”

”Tolong‼!”

”Buka pintu! Buka pintu! Tolooooong!”

Siwon dan Haejin terus berusaha menggedor-gedor pintu kamarnya, namun usaha mereka sia-sia. Dan Jonghyun muncul di belakang mereka mendekat, dengan tangan terangkat.

*Kamar Leeteuk & Donghae*

Leeteuk dan Donghae meletakkan tas mereka di lantai, keduanya duduk di kasur masing-masing sambil mengeluarkan beberapa peralatan mandi. Kemudian Leeteuk berdecak.

”Aduh! Gak ada air lagi…”

”Oh iya… gak ada air…” Donghae merogoh-rogoh tasnya juga mencari air. Persediaan airnya sudah habis.

”Cari air dulu yuk!”

”Ayo deh…” Donghae bangkit membawa senternya, Leeteuk juga mengambil senternya keluar dari kamar dan mereka berdua berjalan di lorong bersama-sama ketika mereka berjalan dalam kesunyian, tiba-tiba alunan lagu Fur Elise terdengar di dekat mereka.

Leeteuk berhenti, kemudian menatap Donghae. ”Aku kayaknya pernah dengar suara piano ini.”

”Darimana ya?” Donghae celingukan dengan senternya. Kemudian mereka melihat sebuah jeruji besi, dan suara piano terdengar jelas disitu. Keduanya langsung berjalan perlahan-lahan mendekat ke arah jeruji besi itu.

Donghae mengangkat senternya dan menyinari ruangan di dalam jeruji tersebut. Sebuah piano tua, dengan tangan tanpa tuan. Mendendangkan Fur Elise yang membuat bulu kuduk meremang. Leeteuk dan Donghae terperangah melihat hanya tangan yang memainkan piano tersebut, tanpa mereka sadari tiba-tiba Nenek Belanda yang ada di lukisan tersebut muncul tiba-tiba di hadapan mereka. Keduanya berteriak, dan berlari tunggang langgang.

Keduanya sampai di depan sebuah kamar. Begitu keduanya berhenti di depan kamar itu untuk mengatur napas, gagang pintu itu bergerak-gerak cepat. Leeteuk dan Donghae kembali terlonjak kaget, dengan mantap Leeteuk perlahan-lahan meraih gagang pintu tersebut, dan membukanya.

Siwon, Ririn, dan Haejin menghambur keluar dari dalam situ. Ketiganya nampak pucat dan ketakutan.

”Udah deh, kayaknya mendingan sekarang kita jangan ada yang mencar-mencar!” kata Leeteuk. ”Semuanya kumpul di satu tempat!”

Siwon, Ririn, dan Haejin mengangguk.

”Shindong sama Eunhyuk mana?!” tanya Haejin panik.

”Oh iya, Shindong sama Eunhyuk…” Ririn menggandeng tangan Siwon panik.

”Ya udah kalian disini aja, Shindong sama Eunhyuk biar aku yang panggil.” Siwon melepaskan genggaman Ririn. Kemudian dia langsung berlari naik ke atas dengan terburu-buru, namun begitu sampai di anak tangga teratas, Hostes Bunting muncul di hadapannya, Siwon yang kaget, langsung mundur, terjatuh berguling-guling hingga pingsan.

*Kamar Eunhyuk & Shindong*

”Rese semua! Bukannya pada bantuin nyalahin si Donghae, malah aku lagi yang kena getah!” Shindong marah-marah sambil menyalakan lebih banyak lilin, sementara Eunhyuk duduk di kasur.

”Tapi, Shindong-ah… kayaknya kita juga kelewatan deh…” lirih Eunhyuk. ”Aku agak-agak nyesel gitu ngomong kayak tadi ke Donghae.”

”Dasar plin-plan!” sembur Shindong sambil duduk di kasur dan meraih guling, kemudian berbaring.

”Yah jangan diambil, aku tidak bisa tidur tanpa guling!”

”Ini guling aku duluan yang ambil!”

”Orang aku duluan yang ambil gulingnya!”

Shindong merebut guling dari tangan Eunhyuk. ”Ya udah gini aja, yang adil… ini guling kita taro di tengah, dan nggak ada satu pun juga yang boleh pinjem, ngerti?!”

”Ah udah biarin!” Eunhyuk langsung ngambek dan tidur memunggungi Shindong.

Shidong menyikutnya. ”Dasar anak mama!” akhirnya Shindong ikut memunggungi Eunhyuk. Tak lama kemudian dari balik kasur muncullah setan botak itu, membuah Shindong keringat dingin. Dan yang makin membuatnya tidak bisa bergerak adalah, setan itu kemudian berpindah ditengah-tengah, diantara Eunhyuk dan dirinya.

Keesokan harinya. Semua nampak kuyu dan pucat, karena mengalami terror yang semakin berat semalaman. Dan mereka sendiri masih belum berisitirahat dengan cukup.

Shindong dan Eunhyuk akhirnya berhasil dikeluarkan dari kamarnya semalam, berkat Donghae juga. Setelah menyadari Siwon, Shindong, dan Eunhyuk tidak turun-turun juga. Donghae akhirnya menyusul, dan menemukan Siwon yang pingsan di tangga. Donghae menyadarkan Siwon, dan membawa Siwon kembali ke Leeteuk, Ririn, dan Haejin, kemudian dia sendiri langsung naik ke atas dan mengeluarkan Shindong dan Eunhyuk yang sudah menangis berpelukan karena diganggu oleh setan Jonghyun.

Mobil Nissan X-trail hitam Leeteuk akhirnya tiba di batas jalan. Untuk sampai ke desa Myungshidae, mereka harus menyebrangi rawa menggunakan perahu, atau melewati hutan rawa. Akhirnya mereka bertujuh, yang masih kuyu keluar dari mobil dan mendekati gubuk kecil di pinggir rawa. Disitu ada seorang pria tua kecil.

”Permisi, Ahjussi… numpang tanya, tau Myungshidae, rumahnya Jinki?” tanya Leeteuk pada pria tua kecil itu.

”Jinki?” ulang pria tua itu. ”Jinki Haraboji? Yang dukun itu, ya? Iya, tinggalnya di Myungshidae, di seberang rawa ini.”

”Oh kalau begitu, Ahjussi, bisakah Ahjussi mengantarkan kami kesana?” tanya Leeteuk lagi.

Ahjussi itu menggeleng. ”Aduuuh, joesohamnida, Nak… saya nggak berani nyebrangin rawa kalau sudah mau maghrib begini. Di rawa itu banyak setannya, Nak…”

Ketujuh anak itu langsung kaget. Diam dan bingung, juga takut. Tapi kan konyol banget kalau mereka nggak berhasil sampai ke Myungshidae.

”Aduh, tolong banget dong, Ahjussi… kami perlu banget bertemu dengan Jinki Haraboji.” Pinta Haejin dengan nada memelas.

”Iya, Ahjussi… ini menyangkut hidup-mati kita.” Tambah Eunhyuk.

”Kita bayar berapa aja deh, asal kita bisa sampe kesana.” Lanjut Ririn dengan nada yang sama melasnya dengan Haejin dan Eunhyuk.

”Kalo nggak gini aja deh, Ahjussi… kita sewa perahunya dengan harga lima kali lipat. Dan kita sendiri yang dayung perahunya sampe sana, gimana?” usul Donghae mencari jalan keluar.

Akhirnya penjaga perahu itu setuju dengan usul Donghae. Segera mereka bersama-sama naik ke atas perahu, dan Donghae serta Leeteuk mendayung perahunya perlahan-lahan meninggalkan dermaga kecil itu.

”Pokoknya, rumahnya Jinki Haraboji itu di tengah-tengahnya ada pohon gede…” ujar penjaga perahu itu.

Suasana mulai gelap perahu mulai begerak meninggalkan gubuk. Donghae dan Leeteuk terus membawa perahu maju ke depan, sementara Shindong dan Eunhyuk memegang lampu senter untuk menerangi sekeliling mereka. Kabut yang semakin tebal membuat mata sulit melihat sekeliling. Semua memerhatikan keadaan dengan waspada. Suara-suara binatang rawa sesekali terdengar memecah kesunyian dan kecepak dayung Leeteuk dan Donghae. Seekor serangga tiba-tiba menggigit Ririn, membuatnya memekik sambil menepuk pipi.

”Aduuuh, apaan sih nih?” serangga itu lolos dari tepukan tangan Ririn. Tak ada yang bersuara. Eunhyuk dan Haejin serius menyenteri rawa. Cahaya senter Haejin menangkap sesuatu yang mengapung di samping perahu. Ririn kembali menjerit.

”Itu apa, Haejin-ah?!”

Haejin menyorotkan senternya lebih dekat dan melihat kepala sebuah boneka terapung-apung. Mirip sekali dengan kepala manusia.

”Ah, kirain apa, ternyata cuma boneka, Jagi…” Siwon menenangkan.

”Tapi itu kan bisa aja sebuah pertanda buruk buat kita!” komentar Shindong.

”Udah deh, Shindong-ah… kita bosen denger omonganmu yang ituuu melulu!” protes Haejin kesal.

Sebuah benda lain kembali terlihat mengambang di depan perahu. Eunhyuk menyorotkan lampu senternya dan Ririn kembali berteriak ngeri melihat bangkai burung dengan leher nyari putus mengambang-ngambang mengerikan di depan mereka.

”Kalian liat, kan? Masa pada nggak nangkep artinya, sih? Itu jelas pertanda buruk! Artinya kita semua bakalan mati kayak burung itu!” Shindong berkomentar lagi.

Donghae menjulurkan tangan dan langsung mencekal kerah baju Shindong dengan satu tangan. ”Shindong-ah, aku bukan mau sok mimpin! Tapi sekali lagi kudengar kau bicara ngaco seperti itu, aku bisa kasar padamu!” ancam Donghae yang sudah gerah mendengar komentar Shindong.

”Udah ah…” tegur Leeteuk pelan.

Shindong pun terdiam.

Mereka mulai diam dan terus mendayung. Tiba-tiba terdengar suara-suara seperti orang menguak semak-semak dari samping Eunhyuk. Eunhyuk langsung menyenter ranting-ranting pohon bakau di sampingnya. Tak ada apa-apa. Senternyata hanya menyorot daun dan ranting-ranting. Tiba-toba dari belakang perahu terdengar suara kecipak air seolah ada seseorang yang berenang mengikuti perahu. Haejin langsung menyorotkan lampu senternya. Tak ada apa-apa, tapi riak air rawa terlihat lebih besar. Semua mulai ketakutan. Teror yang mereka alami semalam masih mencekam jiwa mereka, kini teror yang lebih ngeri mulai membayangi. Ini diluar kemampuan mereka untuk menghadapinya.

Perahu tiba-tiba oleng seperti tersangkut sesuatu di bawahnya. Ririn, Eunhyuk, dan Haejin menjerit.

”Aduuuuuuh…. Apa lagi, nih???”

”Tenang… Ririn-ah… tenang semua…”

Perahu kembali stabil. Di bawah perahu, tampak tangan Hostes Bunting memegang dasar perahu.

”Eh, kalian pada liat ke sebelah kanan deh… itu apaan sih, putih-putih?” seru Haejin sambil menunjuk dengan senter ke kanan.

”Iya… apa tuh? Jangan-jangan… kayaknya… kayaknya… mirip po… pocong!” seru Shindong terbata-bata.

”Aduuuh, serem!” sahut Eunhyuk sambil lagi-lagi memeluk pinggang Haejin dengan kedua tangannya. Haejin memukul-mukul tangan Eunhyuk minta dilepaskan.

”Aku yakin itu kuburan.” Ujar Donghae.

”Kuburan? Di rawa ada kuburan?” tanya Haejin.

”Biasanya itu kuburan orang sakti.”

”Kayaknya kita musti lebih cepet lagi, deh! Disini emang angker! Bener yang dibilang tukang perahu tadi. Banyak setan!” Siwon mengingatkan.

Tiba-tiba di atas kepala berkelebatan binatang berwarna hitam yang bentuknya mirip kepala manusia. Binatang-binatang itu berseliweran dengan cepat dan mulai menukik ke arah mereka. Ririn berteriak-teriak ketakutan, begitu juga dengan Eunhyuk dan Shindong. Haejin mencoba menenangkan Ririn.

”Tenang, tenang… Ririn-ah…”

Siwon masih sambil merangkul Ririn berusaha mengarahkan lampu senternya ke arah binatang-binatang itu, tapi tiba-tiba seekor binatang menukik dan menyambar kepala Eunhyuk. Eunhyuk menghindar, tapi wajahnya sedikit tersambar oleh binatang itu. Perahu oleng oleh gerakan Eunhyuk yang menghindar dengan panik. Siwon menahan tubuh Eunhyuk dengan satu tangan yang bebas dan berusaha menstabilkan perahu. Siwon mengimbangi dengan berpindah posisi sampai perahu kembali tenang. Posisi Siwon yang berubah tempat membuah Haejin terpaksa maju sedikit ke depan, karena panik, tanpa sadar memegang tangan Donghae. Donghae balas menggenggam tangan Haejin untuk menguatkan dan menenangkannya. Eunhyuk memerhatikan dari belakang Haejin dengan tatapan penuh kecemburuan.

”Ayo dayung lebih cepet lagi, Teukie-ah! Donghae-ah! Kalo capek, sini aku yang gantiin!” kata Siwon yang nampaknya mulai panik. Ririn sudah mau menangis di tempatnya. Akhirnya perahu sampai di pinggir rawa ketika malam telah begitu tua dan gelap. Mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menembus hutan yang gelap. Sampai satu jam mereka berjalan tanpa suara. Lelah. Takut. Putus asa. Dengan sisa-sisa tenaga, mereka mencoba bertahan untuk mencari rumah Jinki.

Semua menghela napas lega, ketika mulai melihat tanda-tanda kehidupan tak jauh di depan mereka. Sejumlah gubuk kecil yang diterangi lampu teplok tampak di hadapan mereka. Siwon merangkul Ririn, memberi isyarat bahwa mereka sudah selamat dari setan-setan raa dan hutan yang menyeramkan. Tapi benarkah keadaan sudah membaik? Satu-dua penduduk yang melihat mereka langsung menutup pintu gubuk rapat-rapat. Di dinding sebuah gubuk, tampak siluet seseorang yang terpasung di dalamnya. Haejin miris melihatnya. Ia tertegun, tapi Donghae segera menggamit tangannya agar ia terus berjalan dan tak perlu memerhatikan siluet itu. Haejin terus berjalan sambil menunduk, Donghae merangkulnya, sementara Eunhyuk terus memerhatikan mereka dari belakang dengan kecemburuan yang lebih besar.

Mereka akhirnya menemukan rumah Jinki. Ternyata sesuai seperti yang dikatakan si tukang perahu. Rumah itu terletak di ujung jalan yang membukit, dengan sebuah pohon di tengah rumahnya. Ririn langsung tersenyum lega. Eunhyuk juga melempar senyum kepada Siwon dan Shindong. Leeteuk menepuk bahu Donghae. Donghae dan Haejin saling tatap dengan wajah penuh harapan. Tapi hanya Shindong yang masih terlihat pesimis.

Rumah Jinki kini sudah di depan mata.

To Be Continued


6 Responses to “The Stab of Jelangkung (The Myungshidae PG-15)”

  1. Viael June 9, 2012 at 10:10 pm #

    Yg bagian mereka naik perahu itu serem bgt ><
    Lanjutannya ditunggu thor :D

  2. Viona Adelia June 10, 2012 at 6:49 am #

    Pas lg seru TBC
    serem banget waktu di penginapan sa di perahu!!
    Ditunggu part selanjutnya!><

  3. N2 June 10, 2012 at 11:15 am #

    lanjut!
    itu eunhyuk jealous banget sama donghae.hihihi
    ditunggu next chap nya!

  4. aphinalockets June 10, 2012 at 12:30 pm #

    dag…..dig….dug……. deh bacanya q
    serem bgt………..

  5. chanyb June 10, 2012 at 9:23 pm #

    Yaampun2 part yg ini tak bs d’ungkpkn dg kata2 (lmpat k’part 6)

Trackbacks/Pingbacks

  1. The Stab of Jelangkung (The Final Battle PG-15) | FFindo - June 10, 2012

    [...] Before [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,596 other followers

%d bloggers like this: