SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 8)

SIWON THE BOSS

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-15

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

PS: Typo, typo, sorry for that. Please feel free to correct me. (thx for readers & a cup of bitter coffee, u make my day )

Part 1   |   Part 2   |   Part 3   |   Part 4   |   Part 5   |   Part 6A   |   Part 6B   |   Part 7   |  

Resensi Cerita Lalu

“Tujuanku ke sini adalah untuk meminta maaf padamu, selama sebulan lebih ini, aku banyak berfikir dan melakukan introspeksi. Memang benar kata Appa, aku terlalu banyak memiliki sifat buruk sehingga membuat orang-orang di sekitarku menderita. Mianhae karena telah banyak melibatkanmu dalam masalahku. Padahal kau selalu baik padaku…”

 “Tinggallah bersamaku Tiffany. Di luar begitu berbahaya untukmu.”

 “Untuk menjadi pelayanmu? Aku tidak mau!”

 “Dengar Tiffany, sesungguhnya aku tidak pernah mau menjadikanmu sebagai pelayanku. Tapi jika itu tidak kulakukan aku takut Appamu akan melakukan sesuatu yang lebih kejam lagi dari ini. Tolonglah Tiffany kita harus bekerja sama. Ini demi kebaikanmu”

SIWON THE BOSS PART 8

Siwon POV

Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, sesekali menoleh ke yeoja di sebelahku yang sedang tertidur. Rasanya aku ingin menghentikan mobil ini dan memeluk yeoja itu sekali lagi. Tapi kutepiskan keinginan itu, alih-alih aku mengacak-acak rambutnya. Dia bergerak, spontan aku menghentikan aksiku.

Kami sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah singgah setelah tadi mengunjungi kediaman Tuan dan Nyonya Park, pemilik Sirkus yang sudah berbaik hati menampung Tiffany. Walaupun mengijinkan tapi kedua orang tua itu tampak sedih kehilangan Tiffany.

“Siwon-ssi, kau jaga baik-baik Fany ya. Dia yeoja yang manis dan baik hati.”, Nyonya Park tampak berkaca-kaca. Ia sudah jatuh hati dengan yeoja itu.

Aku menatap Tiffany yang tampak malu-malu dipuji seperti itu. Ia berbisik,”Belum pernah ada yang memujiku manis dan baik hati. Ini pujian pertama buatku.”

“Fany, datanglah sekali-kali mengunjungi kami. Jika kau mau aku akan ajarkan atraksi sirkus yang kau suka?”, ujar Tuan Park tulus. Ia juga sedih ditinggalkan Fany.

“Jinja? Baiklah, aku akan datang sewaktu-waktu. Bolehkan Siwon-ssi?,” Tiffany memohon.

Aku mengangguk. Yeoja itu tersenyum senang. Kami kemudian pamit pergi kepada kedua orang tua itu. Aku tercengang melihat travel bag yang dibawa Tiffany.

“Wae Siwon-ssi?”

“Travel bag itu.”, aku tersenyum mengingat gara-gara travel bag itulah aku bisa mengenal Tiffany.

“Hanya travel bag biasa.”

‘Ya ya bagimu mungkin biasa,’ jawabku dalam hati sambil membantu membawakan dan memasukkan tas itu ke dalam bagasi mobil.

“Sekarang kita akan mengunjungi rumah singgah itu. Kau siap?”

Yeoja itu mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Sepanjang perjalanan ia tidak banyak berbicara. Aku tidak mau mengganggunya. Satu bulan lebih, yeoja itu hidup menggelandang tak jelas. Pasti banyak yang dipikirkannya kini.

“Aku pernah tinggal di rumah singgah itu selama seminggu, Siwon-ssi,” tiba-tiba Fany berucap, matanya lurus menatap ke depan.

“Mwo? Bagaimana rasanya?” aku mencoba bersikap biasa. Kehidupan keras yang dialami Tiffany selalu membuatku terkejut.

“Mengingatnya membuatku menangis. Subsidi walikota untuk rumah singgah itu tidak mencukupi sehingga kami sering berpuasa supaya jatah makanan tidak habis. Aku berjualan balon selama di sana. Kadang laku kadang tidak. Aku sedih jika aku pulang tidak bisa membawa uang atau makanan untuk mereka.”

Aku menatapnya, yeoja itu mulai terisak.

“Yang membuatku sedih, mereka masih kecil dan harus bekerja hampir 24 jam hanya untuk bisa makan. Mereka juga tidak bisa sekolah. Aku mengajari mereka baca tulis, hanya itu yang bisa kulakukan untuk mereka. Aku jadi malu dengan diriku. Dulu aku begitu boros dan sering membuang-buang makanan begitu saja. Padahal ada banyak orang yang sangat membutuhkannya. Aku begitu jahat ya Siwon-ssi. Aku merasa akulah yang paling menderita di dunia ini tapi ternyata penderitaanku tidak ada apa-apanya dibanding mereka.”

Yeoja itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis tersedu-sedu. Aku menghentikan mobilku. Kuraih tubuhnya. Kupeluk Tiffany. Kutepuk-tepuk punggungnya pelan. Ia masih menangis.

“Kau tidak jahat. Keadaanlah yang membuat seseorang berlaku berbeda. Sebentar lagi kita sampai ke rumah singgah itu, jika kau terus menangis, mereka akan sedih. Setidaknya buatlah teman-temanmu itu bergembira hanya dengan melihat senyumanmu.”

Yeoja itu menatapku kemudian tersenyum. Ia membersihkan matanya yang basah dengan punggung tangannya,”Gomawo Siwon-ssi. Kata-katamu bagus, pasti kau ahli merayu ya?”

Aku membelalakan mataku, maksudnya? Aish, yeoja itu selalu membuatku heran, ia bisa merubah moodnya hanya dalam waktu beberapa detik. Baru beberapa saat yang lalu ia menangis sekarang sudah meledekku. Tiffany terkikik.

Beberapa menit kemudian, aku dan Tiffany telah sampai ke rumah singgah itu. Memang benar yang dikatakannya, baru beberapa menit aku menginjakkan kakiku ke sini tapi aku sudah merasa sedih. Rumah singgah yang kumuh, tidak terurus dan anak-anak jalanan yang harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Aku memangku seorang anak kecil berusia 2 tahun yang tidak pernah berkedip menatapku.

“Namanya Hyu Rin, hmm sebenarnya kami tidak pernah tahu namanya. Ia ditinggalkan begitu saja di sini oleh orangtuanya. Kami memberikan nama itu karena anak ini begitu cantik. Sepertinya ia menyukaimu,” Fany berbisik kepadaku.

Aku menatap anak kecil itu. Memang benar ia memang cantik dan ia tidak pernah berhenti menatapku,”Ia sepertimu dalam versi lebih baik,” ucapku pada Tiffany.

“Maksudmu? Jadi kau mau bilang aku ini versi lebih buruk begitu?”, ia pura-pura marah,”Tapi tidak apalah, setidaknya secara tidak langsung kau ingin mengatakan  aku cantik hehehe.”

“Aish, terlalu percaya diri.”

Tiffany masih tertawa dan kemudian langsung bergabung bersama anak-anak penghuni rumah singgah yang tampaknya sedang belajar. Tidak kusangka yeoja itu begitu populer di antara anak-anak penghuni rumah singgah itu. Mereka berebutan untuk bisa memeluknya.

“Eonnie, kau kemana saja kami merindukanmu,” anak-anak itu mengerubungi Tiffany seperti semut mengerubungi gula. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan, takjub.

“Fany Eonni sekarang kami sudah bisa menulis tegak bersambung loh.”

“Aku sudah bisa baca Eonnie, majalah ini sudah aku baca semuanya loh,” seorang anak laki-laki menunjukan satu majalah bekas pada Tiffany.

“Aku bisa gambar dan yang pertama kugambar adalah wajah Fany Eonni”, seorang anak perempuan memperlihatkan hasil gambarnya.

Fany memeluk mereka satu persatu dengan terharu,“Kalian pintar, Eonni senang sekali melihatnya. Mianhae Eonnie jarang berkunjung ke sini. Tapi mulai dari sekarang Eonni janji untuk sering-sering ke sini”, yeoja itu menatapku meminta persetujuan. Sambil menggendong anak kecil bernama Hyu Rin itu aku mengangguk kepadanya.

“Nah sekarang Eonni punya hadiah karena kalian rajin belajar. Mau?”

“Mauuuuuuuuu!!!!!!”

Anak-anak itu meloncat-loncat dengan gembira ketika pengurus rumah singgah itu menunjukan banyak makanan yang tadi kubeli. Tanpa sepengetahuan Tiffany, aku juga membeli banyak mainan dan alat tulis. Anak-anak itu terlihat bahagia, mereka berjingkrak-jingkrak dan bernyanyi-nyanyi karena begitu senang. Sesekali berebut mainan yang kubeli. Sebagian langsung memakan makanan itu dengan lahapnya. Rumah yang tadinya begitu sepi kini riuh oleh jeritan bahagia anak-anak itu. Aku sangat sensitif dengan pemandangan seperti ini. Rasanya begitu bahagia karena pemberian yang bernilai kecil ini ternyata besar harganya untuk mereka.

“Hyu Rin mau mainan juga?” aku mencoba berbicara dengan anak kecil yang kupangku ini. Ia mengangguk. Kuambilkan sebuah boneka. Ia meraihnya dengan gembira dan memeluknya.

Tiffany melihatku yang sedang berinteraksi dengan anak itu. Tatapannya lain, aku tidak bisa membaca artinya.

“Eonni gomawo ya, makanannya enak nyam nyam”, seorang anak berbicara sambil terus mengunyah makanannya.”

“Iya Eonni gomawooo, mainannya bagus-bagus, alat tulisnya juga. Asyiiik, kami jadi semangat untuk belajar.”

Tiffany menunjukku,”Kalian jangan berterimakasih pada Eonni, karena yang membelikan ini semua adalah Siwon Samchon. Berterimakasihlah padanya.”

Aku gelagapan ketika semua anak itu memandangku. Siwon Samchon? Apa aku sudah setua itu. Tiffany saja masih dipanggil Eonnie, masa aku dipanggil Samchon.

Anak-anak itu langsung mengerubutiku dan memelukku. Lagi-lagi aku terharu.

“Gomawo Siwon Samchon”, anak-anak itu berterima kasih padaku. Suasana ini membuatku mensyukuri apa yang telah kudapatkan selama ini. Rasanya bahagia sekali bisa menyenangkan mereka.

Tiffany menghampiriku, “Melihatmu menggendong Hyu Rin, aku seperti melihat anak perempuan dengan Appa-nya.”

“Begitukah? Ini pujian apa hinaan?”

Aku bermain-main boneka dengan Hyu Rin. Ternyata aku bisa akrab juga dengan anak kecil.

“Yang pasti itu berarti kau memang sudah tua Siwon-ssi, jadi jangan marah kalau mereka memanggilmu Samchon.”

Mengataiku sudah tua? Yeoja ini benar- benar….. Aish sudahlah. Selama beberapa jam aku dan Tiffany berada di rumah singgah itu. Bermain dan mengobrol layaknya teman sebaya. Aku memperhatikan Tiffany yang tampak nyaman bersama mereka. Tidak tampak lagi keangkuhan dan kesombongan yang selalu aku lihat dari dirinya. Ia tampak berbaur dengan mudah bersama mereka. Sebulan hidup di luar sangkar membuatnya berubah banyak.

Kini ia sudah ada di sampingku, kembali duduk terdiam di dalam mobil yang aku kendarai dengan cepat. Setelah dari rumah singgah,  aku memang ingin segera sampai ke apartemenku. Badanku sangat lelah begitu juga dengan Tiffany. Ketika tiba di suatu jalan pintas, wajah yeoja itu tiba-tiba resah. Ia terus melihat ke kanan dan kiri jalan seperti ketakutan

“Bisakah kita tidak melewati jalan ini?,” ia tampak gugup.

“Kenapa? Ini jalan paling cepat supaya cepat sampai ke apartemenku.”

“Putar saja, lewat jalan lain.”

Aku tidak mengerti dengan sikapnya, “Tapi nanti lebih lama. Jalur lain lebih panjang dan macet.”

“Tolonglah Siwon-ssi, jangan lewat jalan ini ya, jebal.”

Wajahnya masih ketakutan, ia kemudian menutupi mukanya dengan koran yang tergeletak di dashboard mobil, seolah-olah takut ada orang yang mengenalnya.

“Baiklah, tapi kau harus menjelaskannya padaku.”

Dengan cepat, aku putar setir mobilku untuk berputar haluan, mencari alternatif jalan lain. Ia masih ketakutan. Kutarik koran yang menutupi mukanya tapi ia menariknya lagi. Yeoja itu kembali menutupi mukanya dengan lembaran kertas itu. Ada apa dengan dia? Sikapnya aneh.

“Sudah hentikan sikapmu, kita sudah tidak di jalan itu lagi.”

Dengan takut-takut, Tiffany menurunkan koran itu pelan-pelan dari mukanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri.

“Tidak akan ada yang melihatmu di mobil ini. Sekarang jelaskan padaku ada apa sebenarnya?”

“Mwo?”

“Jelaskan kenapa kau bertingkah aneh seperti tadi.”

“Di situ… hmm, di situlah tempat karaoke yang dulu mempekerjakanku. Aku masih trauma karena dikejar-kejar penjaga tempat itu. Aku takut mereka menemukanku dan memaksaku untuk menjadi wanita penghibur di sana,” dengan ragu-ragu Tiffany menjelaskan.

“Mereka masih mencarimu?”

“Entahlah, mungkin. Aku selalu merasa mereka mengejar-ngejarku.”

Aku menghentikan mobilku mendadak. Dikejar preman bukan hal yang harus disikapi secara biasa. Aku menghadapnya menuntut jawaban yang jelas.

“Mereka masih mengejarmu sampai sekarang?”

“Molla, tapi kadang aku merasa seperti itu. Aish mungkin itu hanya feelingku saja. Sudahlah ini tidak penting.”

“Ini serius, mereka masih mencarimu?”, tanyaku sekali lagi dengan tegas. Sejak hari ini aku bertanggungjawab atas keselamatannya.

“Ani, rasanya tidak. Lupakan-lupakan. Aku mengantuk, berapa menit lagi sih sampai ke apartemenmu? Aku ingin tidur. Rasanya capek sekali hari ini. Aku sudah tidak sabar melihat apartemenmu. Pasti mewah dan indah ya. Aku ingin lihat bagaimana kau mengatur rumahmu. Apakah kau punya sense yang bagus?”

Aku tahu ia sedang mengalihkan pembicaraan. Baiklah, mengingat sifat keras kepalanya lebih baik aku ikuti saja keinginan yeoja itu. Suatu saat nanti juga ia akan bercerita. Mudah-mudahan ia tidak bercerita ketika sudah tersandung masalah.  Beberapa menit kemudian, kulihat Tiffany sudah meringkuk, tertidur seperti bayi.

 

Keesokan harinya,

Apartemen Siwon

Author POV

Tiffany mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menguap. Matanya langsung terbelalak melihat ia kini sedang ada dalam kamar yang tertata rapi dalam posisi tertidur. Tunggu, bukankah tadi ia sedang bersama Siwon di mobil. Ia memang tertidur karena kelelahan. Tapi kenapa ia bisa sampai di sini. Dimanakah ia berada? Ruangan ini terasa asing baginya. Belum habis keterkejutannya, tiba-tiba pintu sebelah terbuka dan keluarlah Siwon dengan handuk tergantung di lehernya. Spontan Tiffany menunduk, menyadari bahwa namja itu ternyata bertelanjang dada.

“Oh, kau sudah bangun. Bagus, sekarang siapkan sarapan untukku. Jangan lupa bekalku untuk makan siang”, namja itu bertingkah biasa sambil memilih-milih kemeja di lemari. Ia tampak habis mandi.

‘Apa namja ini sudah gila?’, rutuk Tiffany dalam hati. Seenaknya masuk ke kamar dengan yeoja di dalamnya tanpa mengetuk pintu dahulu, bertelanjang dada lagi tanpa merasa risih. Walaupun memakai handuk tapi tetap saja tidak pantas. Tapi kenapa juga dirinya bisa sampai ada di tempat tidur ini? Dan apa tadi? Siwon menyuruhnya untuk membuat sarapan dan  bekal makan siang?

“Memang sekarang jam berapa? Bukannya ini masih malam.”

“Malam?,” Siwon melirik Tiffany dengan pandangan heran,”Sekarang sudah pukul 7 pagi. Lihatlah ke jendela sana sudah ada matahari.”

“Bukankah kita baru saja pulang dari rumah singgah?”

“Kau ada disorientasi waktu ya? Pulang dari rumah singgah itu delapan jam yang lalu,” jawab Siwon sambil memakai kemeja dan menyisir rambutnya di depan kaca. Tiffany jengah dengan pemandangan yang ada di depannya. Siwon bersikap seolah-olah tidak ada yeoja di kamar itu.

“Oh begitu. Terus kenapa aku bisa sampai di sini?”

“Kau ini kalau tertidur susah dibangunkan.  Aku sampai harus menggendongmu untuk sampai ke sini. Aish kau kelihatan kecil tapi ternyata berat. Punggungku sampai sakit.”

Muka Tiffany memerah karena malu. Ia digendong Siwon? Ada apa dengan dirinya? Bisa-bisanya tidur kebablasan tanpa mengenal waktu dan tempat.

“Kenapa aku tidak dibangunkan lebih keras, aish sudahlah. Terus kenapa kau ada di sini? Jangan-jangan kau macam-macam padaku ya, yeoja itu menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya ngeri. Pikiran buruk tiba-tiba muncul begitu saja.

“Ini tempat tidurku, aku belum menyiapkan kamar untukmu. Terpaksa kau kutidurkan di sini.”

“Jadi kita tidur bersama?”

“Memang kenapa kalo iya?”, namja itu memakai dasinya membelakangi Tiffany sambil menghadap kaca. Ia tersenyum melihat pantulan muka yeoja itu yang berubah menjadi pucat.

“Beraninya kau!”, Tiffany melemparkan bantal ke arah Siwon,”Aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual tahu!”

Siwon mengelak dari serangan Tiffany,”Silahkan saja, yang ada kau yang ditertawai.”

Yeoja itu langsung turun dari tempat tidurnya dan menghadap Siwon. Untunglah pakaiannya masih lengkap seperti yang ia pakai kemarin. Ia masih membawa bantal untuk memukul Siwon lagi.

“Kau melakukan apa padaku? Jawab!”

“Kau ini parno sekali, harusnya kau berterima kasih karena aku mau menggendongmu dan menidurkanmu di tempat tidurku. Tidurmu nyaman kan? Buktinya jam segini baru bangun.”

“Serius Siwon-ssi!”, yeoja itu memukulkan bantal itu ke badan Siwon yang sudah berjalan kea rah luar kamar,”Kau melakukan apa saat aku tidur?”

Namja itu tidak bergeming, ia terus berjalan ke ruang tengah sambil memakai jam tangannya.

“Siwon-ssi , aku tidak main-main, kau melakukan apa padaku? Jika tidak menjawab aku tidak ragu-ragu melaporkanmu ke polisi atau atau mungkin infotainment supaya mereka tahu bintang idolanya telah melakukan sexual harassment terhadap pelayannya sendiri!” Tiffany terus mengikuti Siwon sambil memukul-mukulkan bantal ke badan namja itu. Ia tidak berhenti berbicara.

“Tiffany, berisik sekali kau ini, aku bilang selama di sini kau harus percaya padaku. Itu saja yang harus kau pegang. Aku tidak tidur bersamamu, jelas?Aku tidur di sofa, tapi kamar mandiku kan di dalam sana. Jadi aku terpaksa masuk. Lagian kau ini tidur seperti koala yang hibernasi, aku ketuk-ketuk pintu, tidak bangun-bangun juga. Aku terpaksa masuk saat kau tidur jika tidak aku bisa kesiangan ke kantor. Jelas sekarang?”

“Oh begitu ya he he he, mian aku salah menduga.”

Tiffany tersenyum malu.

“Otakmu itu harus dibersihkan, selalu berfikir negatif terhadap orang. Sudah sekarang siapkan sarapan dan bekal makan siang. Kau punya waktu satu jam. Jangan lupa selalu siapkan susu dan jus buah tanpa gula tiap pagi. Oh ya kopi juga, 3 sendok teh dengan 1 gula batu”

Tiffany berdiri mematung mendengar instruksi Siwon yang begitu panjang,”Semuanya hanya dalam satu jam?”

“Iya, ayo cepatlah. Dapur di sana. Semua bahan makanan sudah ada di lemari es,” Siwon menunjuk ke arah dapur. Kemudian ia menatap  Tiffany yang hanya diam di depannya,”Kenapa diam saja, cepatlah masak, aku ada pertemuan penting hari ini. Oh ya aku tidak suka makanan instan jadi buatlah makanan yang sehat untukku.”

“Hmm, baiklah,” dengan berjingkat pelan, yeoja itu masuk ke dapur. Matanya terpejam karena khawatir. Ia harus masak? Seumur-umur masuk dapurpun tidak pernah.

Ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua bahan makanan memang lengkap tersimpan di lemari es, begitu juga dengan bumbu dapur dan alat masak, semuanya tertata rapi di lemari. Tapi ia harus masak apa? Membedakan bumbupun ia tidak tahu. Apa ia masak ramen saja ya? Tapi namja itu tidak suka makanan instan. Jangankan menentukan mau masak apa, bagaimana cara memasakpun ia sendiri tidak tahu. Baiklah lebih baik ia menyiapkan susu dan jus buah saja dulu. Itu lebih mudah. Untuk sarapan Siwon pagi ini mungkin sandwich saja, itu tampaknya gampang. Tapi untuk bekal makan siang? Ia belum ada ide.

Siwon tampak anteng membaca koran di ruang tengah sambil sesekali melirik ke dapur. Biasanya ia menyeruput kopi setiap pagi. Tapi sekarang kan sudah ada Tiffany, kenapa ia harus repot-repot membuatnya. Suasana sangat ramai dari arah dapur. Klontang klontang, seperti ada suara panci bergelontangan. Jika tidak, ada saja barang yang tampak jatuh. Yeoja itu sedang memasak apa sih? Kenapa begitu heboh? Ia sedikit khawatir, sudah hampir satu jam berlalu. Namja itu segera beranjak ke dapur dan betapa terkejut ketika melihat dapurnya sudah berantakan seperti kapal pecah. Semua bahan makanan dan alat masak tergelar di lantai dapur begitu saja seperti pasar pinggir jalan.  Yeoja itu tampak tidak perduli dengan kekacauan ini. Tiffany sedang menatap kompor dengan pandangan frustasi.

“Tiffany apa yang kau lakukan? Kau membuat dapur ini seperti tempat sampah.”

Yeoja itu menatap Siwon datar,”Aku sedang masak, tenang nanti kubersihkan.”

“Terus kenapa kau hanya berdiri di depan kompor seperti itu?”

“Hmm, aku sedang mencari cara bagaimana menyalakannya.”

“Berarti kau tidak bisa menyalakan kompor? Jadi selama hampir satu jam, kau melakukan apa saja?”

Yeoja itu terdiam. Apa ya? Rasanya ia sibuk tapi tidak menghasilkan apa-apa.

“Begini, Kau hanya tinggal memencet tombol-tombol ini, tidak boleh terlalu keras karena ini touch screen. Dan jangan pegang lapisan keramiknya karena panas. Kulitmu akan terbakar nanti,” Siwon mengajari Tiffany,”Ini kompor listrik. Kau mengerti?”

“Baiklah aku mengerti. Sekarang kau bisa sarapan dulu. Aku mau menyiapkan bekal makan siang untukmu.”

“Aku tidak bisa makan jika ruangan kotor begini?”

Dapur, pantry dan bar ada dalam satu ruangan. Jika satu tempat kotor, tempat yang lain juga akan kelihatan sama.

“Kau tutup mata saja. Ayolah nanti kau kesiangan. Aku membuatkan makanan luar biasa untukmu pagi ini.”

“Apa itu?,” Siwon kembali bersemangat. Perutnya memang sudah lapar.

“Roti selai strawberry dengan taburan keju.”

“Bukannya itu biasa saja? Aku sering membuatnya.”

“Apa kau bilang? Sembarangan! Aku membuatnya dengan susah payah tahu! Ayolah makan. Ini jus jeruk dan susu-nya seperti yang kau minta Tuan Raja.”

“Tuan Raja? Kau menyindirku?”

“Kau kan bosku sekarang. Ayo cepatlah makan.”

Dengan terpaksa, Siwon menuruti keinginan yeoja itu. Ia memakan roti yang hanya diolesi selai strawberry dan taburan keju cheddar. Apa maksudnya dengan menyebut makanan ini luar biasa? Ia kemudian menyeruput jus jeruknya. Tiba-tiba ia mengernyit.

“Aish kenapa jus ini begitu pahit, kau masukkan apa ke dalamnya?”

Yeoja itu menghampiri Siwon dengan tergopoh-gopoh,”Aku tidak memasukkan apa-apa, seperti yang kau bilang, jus buah tanpa gula.”

Sesuatu menempel di lidahnya,”Kau masukkan juga kulit jeruknya?”

Tiffany mengangguk,”Kenapa? Tidak boleh ya?”

“Tentu saja tidak boleh karena rasanya jadi pahit seperti ini,” Siwon menyeruput susu coklat yang dibuat yeoja itu untuk menghilangkan rasa pahit di lidahnya, tapi tiba-tiba ia menyemburkan susu yang ada di mulutnya. Untunglah tidak sampai memercik ke arah bajunya.

“Kau, kau, Tiffany kau masukkan garam ke susu ini?”

“Ani, aku masukan sedikit gula.”

“Kau tidak memasukkan gula, kau memasukkan garam. Rasa susu ini seperti oralit.”

“Oh mian kalau begitu”, jawab Tiffany datar.

Gantian Siwon yang frustasi. Baru satu hari tapi ia sudah merasa mendapatkan mimpi buruk. Jus pahit dan susu asin!

“Mianhae, ternyata gula dan garam itu bentuknya hampir sama ya? Mau kubuatkan lagi? Kali ini susu dijamin tanpa garam,” Tiffany menawarkan diri.

“Sudah-sudah, kau ini membuat minuman saja salah. Aku mau ke ruang tengah lagi. Pastikan dalam 10 menit bekalku sudah jadi karena aku harus segera pergi. Dan ingat, dapur ini harus sudah bersih ketika aku pulang nanti.”

“Baiklah, jangan khawatir, aku pekerja yang cekatan,” jawab yeoja itu percaya diri.

Siwon berbalik dan mendesah kesal. Yeoja ini, apa belum pernah masak sebelumnya? Masa tidak bisa membuat jus jeruk dan membedakan gula dengan garam. Apa sih yang dilakukannya selama ini. Apa Omma-nya tidak pernah mengajarinya memasak? Minimal mengajari bagaimana caranya menyalakan kompor atau membersihkan ruangan? Aish ia sudah tidak berselera untuk makan, padahal perutnya teramat lapar. Mudah-mudahan bekal makan siang nanti tidak seburuk sarapan ini.

Suju Tower

Pukul 12.00 siang

Donghae menghampiri Siwon yang baru saja bertemu dengan beberapa klien di ruang kerjanya

“Bagamana kabar Tiffany, ia baik-baik saja?”

Siwon tidak tahu harus menjawab apa. Tentu saja jawabannya adalah ‘tidak baik-baik saja’!

“Sejauh ini bisa dikendalikan dan dikontrol. Situasi aman terkendali.”

“Kau bicara seperti sedang memelihara alien saja.”

Memang benar, Tiffany, yeoja dari planet lain. Mengingat kelakuannya agak tidak umum dari kebanyakan yeoja lain.

“Member Suju mengajakmu makan di restoran di lantai 1. Restoran Italia baru, kita harus mencobanya. Ryewook bilang pasta dan pizza-nya rasanya enak sekali. Kau mau ikut?”

Siwon menggelang,”Kau saja duluan, aku sudah disiapkan bekal oleh Tiffany?”

Donghae membelalakan matanya,”Aish, baru juga satu hari, sudah jadi istri idaman.”

Siwon tersenyum bangga. Tapi ia heran kenapa hatinya senang diledek seperti itu oleh Donghae.

“Boleh aku mencicipi bekalmu?”

“No way, Tiffany membuatkannya untukku, jadi hanya aku yang boleh memakannya.”

“Aish, sama Hyung-mu sendiri kau begitu pelit.”

“Mianhae, Hyung. Dia pelayanku jadi hanya aku yang berhak dilayaninya. Kau carilah pelayan yang lain.”

“Aku mau punya pelayan asal secantik dan sepintar yeoja chingumu itu eh pelayanmu. Tanyakan Tiffany, jangan-jangan dia punya teman yang seperti itu. Aku mau mendaftar jika ada. Jika perlu langsung kujadikan istri.”

Siwon tersenyum, “Lebih baik kau pilih saja satu dari yeoja chingudeul-mu itu. Aku yakin mereka akan mengantri walaupun hanya sekedar jadi pelayanmu.”

“Ide yang tidak buruk. Nanti kucoba. Ya sudah, aku duluan. Jika kau masih tertarik bergabung. Kau menyusul saja.”

Donghae berbalik pergi, meninggalkan Siwon yang sudah kelaparan dari sejak pagi tadi. Tapi ditahannya untuk tidak makan apapun sampai sekarang karena Siwon ingin mencicipi menu lunch yang sudah disiapkan Tiffany. Mudah-mudaha rasanya enak kali ini.

Baru satu suap, tiba-tiba rasa aneh menyerang mulut dan tenggorokannya. Makanan apa ini, rasanya tidak karuan. Tanpa bisa dicegah, ia muntah saat itu juga. Untung ada wastafel. Siwon membersihkan mulut dan bajunya yang terpercik muntahannya tadi. Aish, makanan apa ini, rasanya sungguh tidak enak. Perutnya melilit, ia masih ingin muntah. Makanan ini seperti nasi goreng kimchi biasa tapi kenapa rasanya begitu tidak jelas. Ada rasa amis ikan di dalamnya yang membuatnya tidak tahan. Sungguh tidak enak. Tiffany, Tiffany, kau benar-benar tidak bisa masak ternyata. Masakanmu begitu parah!

Namja itu segera menghubungi Donghae.

“Hyung, kau ada di restoran mana? Ne ne lantai 1, La Ficonta Resto. Okey, aku ke sana. Tunggu aku segera! Oh ya Hyung pesankan juga 1 pizza pan large untuk kumakan sore nanti, arraseo? Gomawo Hyung, aku segera meluncur.”

Ia tidak sanggup membayangkan malam nanti, ia harus makan makanan Tiffany. Lebih baik ia makan banyak dulu sebelum pulang sehingga perutnya tetap kenyang saat di rumah.

Begitulah, setelah dua minggu berlalu, ternyata hubungan boss dan pelayan yang tinggal seatap ini tidak mulus seperti yang dibayangkan sebelumnya. Banyak kekacauan, keributan, dalam proses adaptasi ini. Siwon yang terlalu rapi dan Tiffany yang terlalu cuek. Kedua orang ini akhirnya menyadari bahwa mereka tidak terlalu cocok untuk ‘hidup bersama’.

Apartemen Suju

Tiffany POV

Sudah hampir dua minggu, aku menjadi pelayan untuk tuan muda nan bossy, Choi Siwon. Aku tidak menyangka ia benar-benar memperlakukanku seperti pembantu. Memang ia tidak pernah menjahatiku. Tapi ia membuatku stress dengan segala permintaannya. Aku harus bangun sepagi mungkin untuk bisa membuatkan sarapan dan bekal makan siangnya. Ia sangat menuntut dalam hal makanan. Tidak boleh inilah, tidak boleh itulah, harus begini, harus begitu. Aish, namja itu harusnya menyewa tenaga professional saja jika apa-apa harus selalu dihitung kalorinya. Mana aku mengerti sih soal food combining. Ia juga sangat teliti dalam hal kebersihan. Namja itu tidak boleh melihat satu sel debupun di apartemennya. Ruangan harus rapi. Meja sofa bergeser sedikit saja, Siwon dapat mengenalinya. Biasanya ia akan ngomel-ngomel jika melihat ruangannya berantakan. Penderitaan itu belum cukup karena setiap hari aku harus mendengar kata-kata seperti ini.

“Jangan lupa cuci dan setrika bajuku, harus rapih jangan sampai ada lipatan yang salah. Takaran detergennya harus benar. Kaca jendela harus dilap dilap tiap hari. Sabunnya jangan tertukar dengan pembersih keramik. Pastikan kamar mandi juga selalu bersih dan wangi. Di balkon ada beberapa tanaman bonsai, kau harus rajin menyiramnya tapi tidak boleh terlalu banyak air….”

Aku sendiri tidak ingat apa lagi yang dikatakannya. Tuhan, ternyata penderitaan ini belum berakhir. Di rumah dulu, sejak kecil, mana pernah aku mengerjakan tugas rumah tangga. Semua sudah ada yang mengerjakan. Aku hanya bertugas belajar dan belajar. Selebihnya main dan bersenang-senang.

“Siwon-ssi, pekerjaan yang kau berikan padaku terlalu banyak?,” suatu saat aku memberanikan diri untuk protes.

“Kau ingin dikurangi jumlah pekerjaanmu?”

“Ne,” aku mengangguk, respon namja itu acuh tak acuh menanggapiku.

“Kalau begitu aku akan mengurangi gajimu juga.”

“Mwo?”

“Pekerjaan berkurang, gaji berkurang juga dong Tiffany.“

“Tapi,…Baiklah daripada gajiku berkurang, aku akan kerjakan semuanya.”

Seperti biasa Siwon selalu menang. Aku kembali mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tidak ikhlas.

Ia juga selalu membawakanku buku-buku resep. Dalam satu hari, harus ada makanan yang kumasak berdasarkan resep itu. Tipe namja bossy dengan level akut.

“Hari ini aku ingin kau buat samteyang, besok tangsuyuk, untuk Rabu aku ingin seolleontang. Untuk Sabtu dan Minggu aku ingin dibuatkan makanan yang manis-manis, hoedeok. Boleh juga”

“Kenapa tidak bibimbap atau ddukbokkie, itu lebih mudah?”

“Bosan setiap hari kau masak itu terus, sekarang harus ada variasi. Hitung-hitung kau belajar memasak.”

Aku hanya bisa terpana menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa. Makanan yang dimintanya terlalu sulit. Bahkan orang yang terbiasa masak pun belum tentu bisa meracik makanan itu dengan baik. Aish, Siwon, boss berdarah dingin berhati kejam, dia sebenarnya tahu kalau aku tidak bisa masak tapi bisa-bisanya dia menyuruhku ini itu. Tapi apalah daya, aku kan hanya seorang pelayan.

Kadang-kadang ia juga seperti sengaja membuatku harus bekerja ekstra keras. Seperti hari itu, kancing kemeja yang baru dibelinya tiba-tiba lepas. Siwon memintaku memperbaikinya. Mana bisa aku melakukannya. Memasukkan benang dalam jarum saja aku tidak pernah.

“Aku tidak bisa Siwon-ssi, aku tidak bisa menjahit,” tolakku saat itu.

“Aku tidak menyuruhmu menjahit, aku hanya minta kau perbaiki kancing ini. Kau harus membuat kancing ini menempel lagi di kemeja ini. Mudah bukan?”

“Caranya?”

“Hanya tinggal ditisik dengan jarum dan benang. Aku tidak mau tahu. Pulang nanti harus sudah selesai.”

Lihat kan gayanya seperti diktator, mengingatkanku pada Appa. Aish kenapa hidupku harus terhubung dengan tipe namjadeul seperti itu. Putus asa karena beberapa kali jariku tertusuk jarum, akhirnya aku ada ide. Kuambil lem besi dan kurekatkan saja kancing di kemeja itu. Beres bukan?

Tapi bukannya berterima kasih, namja itu malah marah-marah. Aish kalau marah dia begitu menakutkan.

“Fany apa yang kau lakukan, kau merusak kemejaku!”

“Masa?”

“Kenapa kau lem kancing itu? Kemeja ini jadinya kotor, aku tidak bisa memakainya lagi. Aku juga tidak bisa mengancingnya. Kau lem kancing ini begitu rapat.”

Tipikal namja gampang protes seperti dia memang harus diberi sedikit pelajaran, “Sudah yang sabar saja, nanti aku cuci baju itu gampang pasti bersih lagi. Soal lem itu? Bukannya kau minta aku menempelkannya. Ya sudah aku tempel saja!”

Dan seperti biasa Siwon akan melotot tajam ke arahku. Tampangnya seperti ingin mencekikku. Tapi aku juga kesal padanya. Ia memperlakukanku seperti budak rodi penjajahan Jepang dulu.

Tapi ia memang seperti sengaja ingin mengerjaiku. Lagi-lagi kancing kemeja barunya terlepas. Aku curiga jangan-jangan ia memang dengan sengaja melepaskannya. Tapi aku tidak kehabisan akal. Kutelepon Jessica. Setelah aku tinggal di apartemen Siwon ini, aku memang sering meneleponnya. Soalnya aku bosan berada di rumah terus karena Siwon tidak pernah mengajakku ke luar. Bahkan untuk membeli keperluan dapur saja harus dia yang membelinya. Dia begitu tidak percaya padaku. Apa dia pikir aku akan kabur.

“Yoboseo Jessica, aku boleh pinjam uangmu? Ne, akan aku bayar kalau sudah gajian nanti. Aku ingin membelikan Siwon-ssi hadiah kemeja. Aku sudah punya modelnya. Aku mohon kau mau kan mengantarku?”

Begitulah, akhirnya aku punya alasan untuk keluar rumah. Akhirnya untuk pertama kali setelah pengusiran Appa, aku masuk mall. Aku merindukan suasana mall seperti ini. Mall adalah hidupku.

“Kemeja apa yang kau inginkan?,” tanya Jessica.

“Merk Dolce and Gabbana, warna putih tapi ada sedikit aksen hitam di kerah dan sakunya. Seperti yang ini!,” tunjukku pada satu kemeja yang memang mirip dengan kemaja yang kancingnya harus aku perbaiki.

“Kau yakin?”

Aku mengangguk mantap pada Jessica.

“Lihatlah harganya dulu,” suruhnya.

Aku begitu terkejut ketika melihat harga yang menempel di baju itu. Mahal sekali, bisa tidak ya gajiku menutupi ongkos membeli kemeja ini.

“Jessica, bagaimana jika aku bayarnya dengan dicicil. Mungkin 3 atau 4 kali cicilan,” aku memohon pada sahabatku itu. Rasanya gajiku tidak cukup untuk membayar kontan kemeja ini. Ironis memang karena dulu dia adalah bawahanku.

“Sudah aku traktir saja, itung-itung hadiah untukmu!”

“Ne, aku ingin membelinya dengan uangku sendiri. Mau kan? Tenang aku tidak akan kabur. Kau bisa menagihku jika aku telat bayar.”

“Baiklah, terserah kau saja. Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kau ingin memberikan hadiah pada Siwon?”

Saat itu kami sudah duduk di sebuah café sambil menyeruput kopi. Jessica mamaksa untuk mentraktirku.

“Hmmm, ingin saja, tidak ada alasan khusus,” masa harus kubilang aku mau mengganti kemajanya karena satu kancingnya terlepas.

“Alasan yang aneh. Jangan-jangan kau menyukainya ya?”

Aku membelalakan mata terkejut karena kesimpulan sepihak yang dibuat Jessica.

“Tidak mungkin aku menyukainya. Namja tukang perintah, sok bossy. Aish baru 2 minggu tinggal bersamanya aku sudah stress. Jika kau menemukan uban di rambutku, itu pasti karena dia.”

“Mana kelihatan uban dengan rambut pendek seperti itu,” yeoja itu tersenyum penuh arti. “Jangan lupa, ia selalu menolongmu setiap kau ada masalah.”

“Iya sih.”

“Aku saja bisa melihat bagaimana dia baik dan perhatian padamu. Kau saja yang kurang peka. Jangan-jangan dia menyukaimu juga? Ha ha ha menarik. Begitu-begitu, dia kan mantan namja chingumu Fanny. Aish hanya tinggal menungu waktu melihat kalian jadian. Masalahnya hanya ada di dirimu saja yang kurang sensitif.”

Aku mendelik tajam ke arah Jessica,” Rasanya aneh jika aku berpacaran dengan Siwon. Apalagi mengingat bagaimana dia kadang-kadang kejam padaku dari sejak pertama kali bertemu hingga kini. Aku yakin dia tidak menyukaiku. Mungkin hanya kasihan atau berempati. Nasibku kan begitu buruk saat ini”

“Aku tidak melihat dia kejam padamu.”

“Sica-ah, kau tidak tahu saja. Sudah ah, aku tidak mau memikirkan kemungkinan itu. Yang sekarang aku pikirkan adalah bagaimana supaya aku bisa bertahan di apartemen Siwon sambil mencari-cari pekerjaan yang layak buatku.”

“Yaa, kau harusnya bersyukur masih ada yang mau memberimu tempat berteduh. Yah, walaupun kau harus jadi pelayannya,” Jessica menceramahiku.

Benar juga, tinggal bersama Siwon bagaimanapun lebih baik daripada tinggal di jalanan seperti yang aku rasakan dulu.

Tapi sebetulnya ada satu, satu hal yang sangat menggangguku dengan tinggal bersamanya kini. Tentu aku tidak berani menceritakan hal rahasia tersebut pada yeoja itu. Kau tahu, bagaimanapun aku seorang yeoja dan Siwon adalah namja. Entah dia begitu bangga dengan badannya yang penuh dengan tonjolan-tonjolan otot. Tapi hampir tiap pagi aku selalu disuguhi pemandangan yang membuatku jengah. Apa namja itu terbiasa bertelanjang dada sehabis mandi dan berkeliaran di sekitarku tanpa risih. Setiap hari, aku merasa seperti berada di pantai melihatnya setengah topless.

“Ya, Siwon-ssi, pakailah baju lengkap di depanku!,” suatu waktu aku pernah protes setelah mengumpulkan keberanian,” Apa sih maksudnya, mau pamer di depanku?”

“Wae? Kau terganggu? Aku terbiasa begini.”

Masa aku harus bilang aku terganggu. Nanti disangkanya aku tertarik lagi.

“Tapi aku ini yeoja, rasanya tidak pantas.”

“Kau tutup mata saja kalau begitu.”

Aku hanya bisa mendengus karena malas berdebat dengannya, terserah dia saja deh. Mau bugil juga ini kan rumahnya. Aku hanya pembantu. Lebih baik aku menutup mataku atau jika terlihat juga lebih baik aku menganggapnya seonggok daging yang akan kucincang dan kumasak hehehe.

Itulah pendapatku tentang namja itu selama dua minggu aku tinggal di apartemennya. Aku berikan sedikit saja. Kupikir dia juga punya pendapat sendiri tentang diriku. Mungkin tidak terlalu bagus tapi sudahlah aku pasrah saja jika dia mencapku begitu.

 Siwon POV

Aku yakin yeoja itu sedang menganalisaku. Mungkin ia sedang mengumpulkan penilaiannya tentang diriku. Tapi aku tidak perduli juga apa aku terlihat baik atau sebaliknya. Aku hanya ingin memperlihatkan seorang Siwon apa adanya.

Aku juga punya opini sendiri tentang Tiffany. Tapi yang pasti, aku sangat tidak mengerti apa yang dipikirkan Appa Tiffany saat menyuruhku memberi pekerjaan anaknya sebagai pelayanku. Kupikir kemampuannya dalam mengurus rumah tangga selevel dengan IQ-nya yang tinggi tapi ternyata memiliki pelayan sama dengan membuat masalah baru. Tiffany tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga apapun. Makanan yang dibuatnya selalu berhasil membuatku muntah. Kupikir ia juga menyadarinya.

“Kita pesan layanan pesan antar saja ya Siwon-ssi?,” mukanya berubah jadi hijau ketika kupaksa ia mencicipi makanan buatannya sendiri.

“Lalu untuk apa ada kau di sini?,” jawabku pendek.

“Aku bisa mengerjakan pekerjaan lain tapi jangan memasak.”

Pekerjaan lain? Yang kutahu apapun pekerjaan yang berhubungan dengan rumah tangga, dia tidak mampu melakukannya dengan baik.

“Tidak boleh, kau harus masak!”

“Tapi masakanku tidak enak. Kau juga tidak mau memakannya bukan.”

“Memang tapi aku akan memakannya walau terpaksa.”

“Mwo?”

“Jika tidak begitu, kau tidak akan belajar. Melihatku makan makananmu seharusnya membuatmu jadi lebih bersemangat untuk belajar masak. Kau mengerti? Masa kau tega melihatku memakan makanan ini. Kau sendiri ingin muntah saat memakannya.”

Padahal dalam hatiku aku lebih memilih pesan makanan di luar saja. Tapi jika Tiffany tidak diancam seperti itu, sampai kapanpun ia tidak akan pernah mau belajar. Padahal aku sudah memberinya banyak buku resep tapi kemampuannya tidak berkembang juga. Dan entah untuk berapa lama aku harus bertahan untuk memakan hasil racikannya.

Ada hal lain juga yang membuatku bertanya-tanya dengan kemampuan yeoja itu dalam mengurus rumah. Ketika ia mengatakan sedang merapihkan ruangan, itu tandanya yeoja itu sedang membuat ruangan itu lebih berantakan lagi. Aku tidak mengerti apa yang dimaksudnya dengan kata ‘rapi’.

“Siwon-ssi, aku sudah membereskan dan mengepel semua ruangan ini dengan baik. Lihatlah!”

Yeoja itu menunjukkan hasil bersih-bersihnya yang membuatku terkejut. Dalam pandangan mataku, semua malah jadi lebih tidak tertata dari sebelumnya.

“Kau benar-benar membereskannya?”

“Tentu saja, semua beres kan?”

Apa? Beres? Apartemenku malah lebih hancur daripada sebelumnya. Semua barang tidak pada tempatnya. Ia juga tidak mengepel dengan bersih karena aku bisa merasakan debu di telapak kakikku. Setelah itu seperti biasa, akulah yang akan merapihkan kembali kekacauan yang telah ia buat. Semuanya aku susun kembali seperti semula. Aku lap dan pel lagi semua furniture dan lantai supaya benar-benar bersih. Tapi Jika terus begini kapan aku bisa beristirahat dengan nyaman. Ia terus menggangguku bahkan ketika aku sedang di kantor sekalipun. Pernah suatu waktu ia meneleponku dengan panik. Padahal aku sedang ada rapat penting hari itu.

“Siwon-ssi. Kenapa mesin cuci ini tidak berhenti mengeluarkan busa. Busanya keluar sampai ke lantai. Aku sudah mematikan listriknya tapi busanya tidak hilang-hilang juga. Aduuuh sekarang malah masuk ke ruang tengah.”

Pernah di lain waktu, ia juga meneleponku dan anehnya selalu di saat-saat aku benar-benar sibuk.

“Siwon-ssi, mesin pencuci piringnya ngadat. Rasanya aku salah pencet.”

“Siwon-ssi, bagaimana cara mengatur suhu microwave jika kita ingin memasak sayur. Kenapa sayur yang kubuat jadi layu dan bau ya?”

“Listrik korslet, aku jadi tidak bisa bekerja. Tolong datanglah ke sini.”

Lagi-lagi aku harus membereskan kekacauan ini. Setelah selesai meeting dan mengerjakan pekerjaanku, dengan terburu-buru aku pulang sejenak hanya untuk memperbaiki masalah yang telah dibuatnya.

Argh, kadang-kadang aku frustasi dengan tingkahnya. Banyak kejadian yang membuatku mengoreksi lagi tentang keputusanku untuk menerimanya di rumahku. Sepertinya lebih baik ia tidak usah jadi pelayan saja, jadi penunggu rumahku juga cukup. Tapi pasti yeoja itu tidak mau menerimanya. Selain keras kepala, gengsinya juga tinggi.

Kau tahu, selama dua minggu bersamanya aku juga mendapati sifat pelupanya yang sangat parah. Salah satunya adalah insiden kamar mandi. Karena kamar mandi di apartemenku hanya satu, itu juga terletak di kamarku. Dengan terpaksa aku harus berbagi kamar mandi dengan dia. Tapi yeoja itu, aish… apa dia selalu lupa mengunci pintu?

“Aaaaaaa!”, dia menjerit ketika tidak sengaja aku masuk ke kamar mandi. Untuk kesekian kali badanku basah karena dia spontan menyiram tubuhku. Mana aku tahu dia sedang mandi.

“Kau sengaja masuk ya? Apa yang sudah kau lihat?”

Tuh kan bukannya minta maaf, ia malah menuduhku. Ia sudah keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap dan berkacak pinggang di depanku, bosnya!

“Mana bisa aku melihat jika kau mengguyurku begini,” jawabku sambil mengibas-ngibaskan jasku yang basah. Sebenarnya harus kuakui aku melihatnya sedikit tapi hanya satu per sepuluh ribu detik. Aku juga hanya menerka  apa yang telah kulihat. Tapi mana mungkin aku mengatakannya.

”Harusnya aku yang bertanya padamu. Kau ini sengaja menggodaku dengan tidak mengunci pintu kamar mandi bukan? Ayo mengaku saja,” aku membalas tuduhannya.

“Enak saja kau mengatakan aku ingin menggodamu. Aku hanya lupa.”

Dasar yeoja yang aneh. Sudah keras kepala, gengsian, pelupa lagi.

“Lupa tapi sering. Ini sudah keempat kalinya tahu!”

“Tapi harusnya kau mendengar jika ada suara orang di dalam.”

“Aku baru pulang kantor, mana sempat mengecek ada siapa di kamar mandi.”

“Pokoknya kalau kau tiba-tiba masuk ke kamar mandi lagi saat aku sedang di dalam. Aku tidak segan-segan lapor polisi!”

Mwo? Dasar yeoja gila. Dia yang salah malah aku yang kena.

“Kau berani melakukannya? Kau akan kupecat! Sudah berapa kali kuingatkan Tiffany, kunci pintu kamar mandi jika kau sedang ada di dalam. Masih muda sudah pikun.”

“Apa kau bilang aku pikun? Kau juga berani mau memecat aku?”

Dan seperti biasa ia akan berisik jika aku mengatainya macam-macam. Apartemen ini sudah tidak setenang dulu lagi. Mungkin aku harus segera membuat jadwal penggunaaan kamar mandi, karena jika tidak ini akan menjadi berbahaya, untukku dan juga Tiffany. Hidup serumah antara namja dan yeoja ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Aku harus bisa mengendalikan emosiku dan hasratku yang lain. Hmm, kau mengerti kan maksudku?

 

Suju Tower

Satu bulan kemudian.

Pukul 11 siang

Author POV

Tiffany dan Jessica kini sedang berada di Suju Tower, tempat Siwon bekerja. Dari lobi Fany bisa mendengarkan suara Heechul dan Shindong yang sedang siaran. Ia menyukai gaya siaran kocak member Super Junior itu. Tapi karena begitu terburu-buru, ia tidak bisa menikmati obrolan mereka.

“Tunggu-tunggu, Tiff jangan cepat-cepat jalannya,” teriak Jessica yang sudah ngos-ngosan. Ia dipaksa menemani Tiffany untuk datang ke Suju Tower karena yeoja itu tidak tahu bagaimana caranya naik bis.

Tapi Tiffany berjalan begitu cepat sehingga ia kecapaian.

“Istirahat dulu ya?”

“Cepatlah, kasihan Siwon-ssi jika ia tidak segera makan siang.”

Tiffany mengacuhkannya dan terus menarik tangan Jessica untuk masuk ke studio Suju Radio yang ada di lantai 8.

Akhirnya mereka sampai juga di Studio Suju. Sayangnya kedua yeoja itu harus menunggu Siwon di ruang tunggu karena namja itu sedang ada meeting internal untuk desk program radio. Tiffany menunggu dengan resah sambil terus melihat jam di dinding.

“Baru jam sebelas, tenang aja, Siwon-mu tidak akan sampai mati kelaparan kok Fany”, ujar Jessica sedikit kesal karena diburu-buru. Kakinya sakit karena berlari-lari.,”Justru harusnya aku yang kau kasihani, aku hampir mati kelaparan karena habis lomba marathon bersamamu.”

“Mian, Jessica, aku begitu khawatir. Siwon itu pola hidupnya teratur, mulai dari bangun, makan sampai tidurpun semuanya sesuai jadwal. Aku takut kalau dia sampai telat makan siang gara-gara bekalnya ketinggalan.”

“Dia kan bisa membelinya. Banyak restoran enak di sini tampaknya.”

“Siwon-ssi tidak suka makan makanan jadi seperti itu. Katanya kebersihan dan kesegaran bahannya belum terjamin. Ia suka makanan rumahan, lebih sehat dan segar,” jawab Tiffany.

“Rasanya terlalu berlebihan.”

“Maksudnya?”

“Masa sampai segitunya. Apa dia tidak tergiur dengan aroma dan pemandangan lezat dari restoran yang ada di Suju Tower ini. Aku yakin dia sering mencicipinya. Lagian makan bekal juga membosankan apalagi kalau menunya tidak ada variasi.”

“Molla, yang pasti demi membuat bekal makan siangnya, setiap hari aku harus bangun jam 4 pagi.”

“Mwo? Pagi sekali,” Jessica berteriak kaget.

“Soalnya aku belum terbiasa masak, jadi agak lambat. Daripada nanti dia mencak-mencak karena telat lebih baik aku bangun pagi sekalian.”

Tiffany melirik jam di dinding. Sudah jam 12.15, Siwon pasti kelaparan. Namja itu entah kenapa sering meninggalkan bekalnya akhir-akhir ini. Tapi Tiffany biasanya sigap mengingatkan. Hanya saja untuk hari ini yeoja itu begitu sibuk menyetrika baju Siwon sehingga lupa untuk mengingatkannya agar membawa bekal.  Untunglah di ruang tunggu itu tiba-tiba Ryeewok, Sungmin, dan Kyuhyun datang. Ternyata ketiga namja itu rupanya sedang menunggu Siwon juga.

“Tiffany dan Jessica, senang melihatmu lagi. Kalau boleh tahu itu ada tujuan apa kalian bertemu Siwon? Tumben, biasanya Tiffany jadi penunggu rumah yang setia jika Siwon sedang pergi,” ketiga namja itu dengan ramah mengajak bicara Tiffany dan Jessica.

“Aku ingin menyerahkan bekalnya yang ketinggalan,” jawab Tiffany mantap sambil menunjukan lunch box-nya.

“Bekal? Wah padahal kami ingin mengajaknya lunch bareng di resto gedung sebelah. Sekalian saja kalian ikut kami,” tawar Sungmin bersemangat.

“Kami sih mau saja tapi Siwon-ssi pasti tidak mau. Ia tidak suka makan makanan luar.”

Ketiga namja itu saling berpandangan. Perasaaan Siwon yang mereka kenal tidak seperti itu.

“Memang Boss-mu itu sukanya bagaimana?,” tanya Kyuhyun penasaran.

Akhirnya Tiffany menjelaskan lagi semua permintaan makanan sehat ala Siwon yang harus dipatuhinya. Member Super Junior itu lagi-lagi saling berpandangan. Siwon seperti itukah? Aneh. Kesamber apa tiba-tiba Siwon jadi begitu perduli dengan jumlah garam dan gula yang harus ada pada makanannya atau komposisi bahan makanan pada menunya. Yang mereka tahu Siwon tidak pernah pilih-pilih makanan. Bukan berarti Siwon senang makan sembarangan tapi tidak sebegitu strict seperti  yang diceritakan Tiffany.

“Jadi mulai hari ini kau akan terus membuatkannya bekal begitu?,” tanya Ryeewok,” Aku kagum sekali pada Tiffany-ssi, selain pintar ternyata mahir memasak.  Siwon Hyung sungguh beruntung.”

“Aku masih belajar kok. Sejak aku tinggal di apartemennya. Aku rajin membuatnya bekal. Berarti sudah sekitar satu bulanan ini. Apa kalian tidak tahu? ”

Namjadeul itu menggelang, “Kami tidak pernah melihat Siwon membawa bekal.”

“Oh ya? Mungkin tidak terlihat saja. Ketika kalian makan siang di luar, Siwon-ssi makan siang di kantor.”

“Tapi Siwon selalu makan siang bersama kami kok,” cetus Kyuhyun spontan. Sungmin terkejut dengan ucapan polos dongsaeng-nya itu. Tiffany memasang muka tidak enak. Namja itu sudah bisa membaca situasi. Sungmin memberikan tanda pada Kyuhyun dengan matanya.

“Begitukah? Siwon selalu makan siang di luar?” Tiffany terkejut.

Ryeewok juga sudah mulai merasa tidak enak. Berarti sudah hampir beberapa minggu ini Siwon selalu dibekali makan siang oleh Tiffany? Tapi kenapa Siwon selalu makan siang di luar? Kyuhyun juga sayangnya tidak mengerti dengan bahasa isyarat yang diberikan kedua Hyung-nya.

“Hampir setiap hari kerja, kami selalu makan siang bersama. Siwon-Hyung malah membuat khusus grup wisata kuliner.”

Sungmin dan Ryeewok mendelik tajam pada Kyuhyun tapi namja itu terus berbicara tanpa mengerti apa maksud tatapan aneh dari kedua hyung-nya. Memang kenapa? Ia salah apa?

“Misi kami adalah mencicipi makanan di semua restoran yang ada di Suju Tower dan sekitarnya. Dia itu paling jago memilihkan makanan yang paling enak. Seleranya paling bagus.”

Tiffany terhenyak dengan semua pernyataan Kyuhyun. Jadi Siwon tidak pernah memakan bekalnya? Jadi selama ini ia berbohong dengan mengatakan bahwa ia penyuka makanan sehat dan memilih makan makanan rumahan buatannya? Jadi selama ini namja itu hanya mengerjainya? Menyuruh ini itu, padahal apa yang telah dibuatnya dengan susah payah ternyata tidak dimakannya sama sekali. Siwon tega sekali kau!

“Aish Tiffany, jangan kau dengarkan Kyuhyun. Ia kadang suka ngawur,” hibur Sungmin melihat wajah Tiffany yang sampai tidak mampu berbicara karena begitu shock atas semua kebenaran yang didapatnya. Jessica juga ikut-ikutan emosi mendengar perlakuan Siwon terhadap sahabatnya.

“Siwon itu benar-benar jahat padamu, Tiff”, ia membuat amarah Tiffany semakin meledak.

Kacaunya, Kyuhyun tidak mengerti kondisi sama sekali,”“Loh siapa yang ngawur Hyung? Memang itu kenyataannya kan? Ayo Tiff, Sica, kita makan bareng. Aku yakin Siwon-Hyung mengijinkan.”

Sayangnya pada saat situasi emosi tingkat tinggi seperti ini tiba-tiba Siwon muncul dengan muka tanpa dosa.

“Tiffany, ada Jessica juga, senang melihatmu ke sini. Bagaimana rumah sudah beres, kau tidak lupa mengunci pintu bukan?”

Yeoja itu menatap Siwon dengan marah. Ia sudah tidak mampu mengendalikan kekesalannya. Jessica mencoba menahan yeoja itu.

“Sudahlah Fany, kita pulang saja.”

“Tidak, aku harus membuat perhitungan dengan orang ini!”

Siwon terkejut, ada apa dengan Tiffany? Kenapa tiba-tiba marah. Ia menatap member Super Junior yang ada di ruangan itu meminta penjelasan tapi Sungmin dan Ryeewok hanya bisa menatapnya ngeri. Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Yeoja itu mendekati Siwon yang masih tidak mengerti situasi.

“Ada apa Tiffany, kenapa kau seperti ini? Bisa kita bicarakan baik-baik?”

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Siwon. Siwon terkejut, emosinya langsung naik. Yeoja gila, ada apa tiba-tiba datang langsung menamparnya.

“Hey, Kau! Choi Siwon!  Berani-beraninya kau mempermainkanku, membohongiku. Aku memang pembantumu. Tapi bukan berarti kau bisa bersikap semena-mena padaku. Kau menyuruhku membuat bekal tiap hari tapi ternyata kau tidak pernah memakannya. Padahal aku berjuang keras hanya untuk bisa membuatkanmu bekal. Aku sampai menyusulmu kemari karena bekalmu ketinggalan. Aku takut kau kelaparan karena kau tidak bisa makan makanan sembarangan. Tapi ternyata apa yang kubuat, kau mungkin membuangnya begitu saja di tempat sampah. Kau keterlaluan. Kau jahat. Aku tidak pernah menyangka kau seburuk itu Choi Siwon.”

Tiffany menunjuk-nunjuk muka Siwon dengan marah. Sudah cukup namja itu mempermainkannya. Membuatnya seperti orang bodoh karena harus mematuhi permintaan-permintaan Siwon yang aneh dan berlebihan.

Namja itu mengelus pipinya yang sedikit lebam karena ditampar begitu keras oleh Tiffany. Ternyata yeoja itu tahu apa yang diperbuatnya. Ia merasa bersalah tapi sesungguhnya ia memiliki penjelasan logis mengenai hal itu. Walaupun Siwon tidak yakin Tiffany akan menerimanya atau tidak.

“Mianhae Tiffany, dengarkanlah penjelasanku dulu.”

“Tidak mau! Aku kecewa padamu.”

“Kalau begitu kita selesaikan ini di rumah saja ya. Tidak enak kita jadi bahan tontonan gratis seperti ini.”

Siwon menatap Sungmin, Ryeewok, dan Kyuhyun dengan pandangan membunuh. Pasti mereka yang mengatakan semua kebenaran ini pada Tiffany.  Kyuhyun sudah mulai menyadari apa yang terjadi. Ia meringis sambil tersenyum pada Siwon. Ia menyesal menjadi terlalu polos.

“Sungmin –Hyung, Ryeewok, dan kau Kyuhyun aku tunggu nanti di ruang kerjaku!,” ancam Siwon.

Spontan Sungmin dan Ryeewok mendelik ke arah Kyuhyun dengan sebal,” Ini kan gara-gara kau Kyu!”

“Hey Choi Siwon. Awas ya jika kudengar kau memarahi mereka. Mereka tidak ada hubungannya. Ini hanya urusanku dan kau!”

Ternyata yeoja itu kalau sedang marah cukup mengerikan.

“Sudahlah Tiffany, jangan marah ya, aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Aku akan menjelaskannya tapi tidak di sini. Kau lihat beberapa orang di luar sudah mulai melihat kita. Tolonglah Fany, kau pulanglah dulu bersama Jessica. Nanti malam kita bicara. Kau boleh menamparku berkali-kali, tidak apa-apa jika itu bisa membuatmu lega. Tapi tolong tahan dulu emosimu ya. “

Bisa heboh dunia persilatan Korea  jika ada yang mendengar seorang pelayan menampar Choi Siwon.

“Jessica tolong bujuk Tiffany,” Siwon memohon bantuan Jessica.

Tapi Jessica ikut-ikutan memarahi Siwon.

“Kau ini tidak peka sekali. Dia sedang marah malah kau suruh pulang begitu saja. Padahal ia kurang baik apa coba padamu. Ia selalu menurut walaupun kau perlakukan dia seperti budak.”

Kontan pernyataan Jessica membuat ketiga member Super Junior yang lain bertanya-tanya. Seorang Siwon memperlakukan Tiffany seperti budak?

“Tolong Jessica jangan buat semuanya menjadi rumit.”

“Tidak, aku harus membela Tiffany. Kau keterlaluan sekali padanya. Kau mempermainkan dia padahal dia selalu memperhatikanmu. Kau tahu dia sampai rela meminjam uang padaku karena ingin memberikanmu hadiah.”

“Hadiah?”, Siwon mengerenyitkan dahinya,”Kapan dia memberikanku hadiah?”

Tiffany menatap Jessica tidak percaya. Tidak boleh! Yeoja itu tidak boleh meneruskan pembicaraannya. Bisa-bisa semua kedoknya terbongkar.

“Jessica itu tidak penting dibicarakan. Ayo kita pulang saja,” yeoja itu menarik-narik tangan Jessica.

“Tidak, aku sedang emosi. Aku tidak rela teman baikku diperlakukan buruk oleh orang ini.”

“Ayolaaah, kita pulang saja.”

Jessica menepiskan tangan Tiffany yang mencoba menariknya.

“Bossmu ini harus diberi pelajaran!”

“Tapi Jessica kau akan membuat semuanya menjadi lebih buruk.”

Yeoja itu tidak perduli dengan ucapan Tiffany. Ia malah menghadap Siwon sambil berkacak pinggang, “Tuan Siwon, kau tahu kan kemeja Dolce Gabbana yang berwana putih. Itu adalah hadiah yang susah payah diberikan Tiffany untukmu. Ia sampai harus mencicilnya kepadaku karena harga baju itu sangat mahal. Dan sekarang kau tega-teganya membohonginya, membuatnya seperti budak belian yang bisa kau perlakukan seenaknya. Padahal dia sangat baik padamu.”

Kali ini giliran Tiffany yang terdiam. Aish Jessica, apa yang kau lakukan. Kau membuatnya semakin kacau. Rasanya ia ingin kabur tapi tidak bisa karena Jessica menahannya.

Siwon membelalakan matanya karena terkejut. Ia menyipitkan matanya menatap Tiffany yang mulai tertunduk dengan tajam.

“Maksudmu kemeja ini Tiffany?”

Ia menunjuk kemeja putih yang dipakainya. Yeoja itu semakin menunduk. Jika tadi ia yang marah sekarang namja itulah yang akan memarahinya.

“Jadi kau lebih baik membelinya daripada memperbaikinya?”

Siwon mendekati Tiffany yang semakin tertunduk karena ketakutan.

“Kau katakan bahwa kau berhasil menjahitnya, tapi ternyata kau membelinya. Berarti kau juga berbohong.”

“Siwon-ssi, aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku tidak suka kau berbohong padaku!,” seru Siwon marah mengingat bagaimana yeoja itu telah berani menamparnya tadi.

Ryeewok, Sungmin, dan Kyuhyun memandangi kedua orang di depannya bergantian dengan bingung.

“Kenapa ceritanya jadi lain. Tadi Tiffany yang marah, sekarang kenapa Siwon Hyung yang marah?”, tanya Ryeewok.

“Syuut, jangan banyak bicara, kita nonton saja. Kayaknya seru,” ucap Sungmin.

“Pertengkaran dalam rumah tangga, itu sih biasa. Tidak usah khawatir, ” ucap Kyuhyun sok tahu

Jessica juga baru menyadari kesalahannya. Ya ampun apa yang telah dilakukannya. Alih-alih membantu Tiffany,  ia malah membuatnya masuk dalam masalah baru.

“Pantas kau merengek minta uang tambahan dan kenaikan gaji, ternyata ini maksudnya.”

“Tapi Siwon-ssi, kau juga berbohong padaku. Kesalahanmu jauh lebih banyak daripadaku. Aku hanya sekali tapi kau berulang kali berbohong seolah-oleh kau memakan bekal makan siangmu.”

“Aku tidak berbohong. Aku memakannya.”

“Ya, kau berbohong!  Kau makan siang di luar apa maksudnya?”

“Aku ingin makan lagi saja. Jadi apanya yang berbohong. Kaulah yang berbohong padaku.”

“Itu karena kau menyuruhku menjahit. Aku tidak bisa melakukannya”

“Sama saja kau berbohong!”

Jessica, Sungmin, Ryeewok, dan Kyuhyun menjadi penonton untuk adegan pertengkaran Siwon dan Tiffany ini. Mereka saling berpandangan dan tidak ada yang berinisiatif untuk melerai.

“Sudahlah, jangan diganggu, itu masalah mereka berdua, ”

“Mereka sangat mengerikan kalau sedang marah begitu.”

“Pasangan yang cocok.”

“Pertengkaran yang romantis.”

Keempat orang itu saling bersahutan. Setengah jam Siwon dan Tiffany masih bersiteru.

“Kita tinggalkan saja mereka, tidak ada gunanya kita di sini. Kau mau ikut Jessica, sekalian kita makan siang, kau lapar kan?”ajak Sungmin diamini Ryeewok dan Kyuhyun.

“Baiklah, aku memang sudah lapar,” jawab Jessica,”Ayo kita ke luar. Aku gerah melihat mereka bertengkar.”

Mereka kemudian meninggalkan ruang tunggu. Di belakang masih terdengar suara Siwon dan Tiffany yang masih saling beradu mulut. Sungmin tersenyum geli. Ketika jauh saja dicari-cari, ketika sudah dekat, ribut melulu. Aneh!

“Aku pulang! Aku malas bertengkar denganmu”, Tiffany mengambil tas-nya.

“Ya pulang saja sana!”jawab Siwon,”Jangan lupa rumah harus beres pada saat aku pulang nanti. Listrik matikan jika tidak perlu.”

Yeoja itu mendelik kesal,” Dasar namja arogan, kejam, diktator, bossy, egois,…. “

“Apa kau bilang? Kau sebut aku apa tadi?”

Tapi Tiffany sudah melesat pergi. Untunglah karena jika ia bertahan di tempat itu kurang dari satu detik saja. Pasti akan terjadi pertengkaran babak baru dengan topik baru. Siwon berbalik menuju ruang kerjanya dengan kesal. Arrgggh, yeoja itu tidak pernah berhenti membuat emosinya meninggi.

Apartemen Siwon

6 Jam Kemudian

Siwon POV

Aku pulang dengan perasaan dongkol tapi juga bersalah. Aku marah karena Tiffany membohongiku tapi di sisi lain merasa tidak enak karena ketahuan selalu makan siang di luar bersama member Super Junior yang lain. Tapi ada tuduhan Tiffany yang salah, aku memang memakan bekal itu walaupun hanya satu suap. Jika perutku tidak segera diisi lagi dengan makanan yang rasanya normal. Dijamin aku akan muntah-muntah lagi untuk kesekian kalinya. Ini adalah pengorbananku untuk bisa membuat Tiffany pintar memasak seperti yang kuharapkan. Baiklah hari ini aku harus berbicara baik-baik dengan yeoja itu. Tidak boleh ada kesalahpahaman lagi.

Pintu apartemen terkunci, aku membukanya.

“Tiffany?”

Ruangan begitu gelap. Aku menyalakan lampu.

“Tiffany?”

Kupanggil yeoja itu tapi ia tidak muncul. Aku sudah mulai khawatir. Kucari yeoja itu ke seluruh ruangan di apartemen ini. Tapi aku tidak menemukan siapapun. Aku mulai panik. Tiffany tidak ada di sini. Kemana dia? Apa dia kabur?

Dengan tergesa-gesa, aku menghubungi Jessica.

“Mwo? Tiffany menghilang? Sejak kalian bertengkar tadi, aku tidak bersamanya. Kupikir ia bersamamu. Makanya aku pulang lebih dahulu,” jawab yeoja itu.

“Kira-kira kemana dia pergi? Ke rumah orang tuanya?,” tanyaku khawatir.

“Tidak mungkin, ia tidak akan ke sana. Arah jalan saja dia tidak tahu.”

“Mwo? Maksudmu?”

“Ia tidak tahu jalan. Oh tidak! Ini gawat, Tiffany itu buta peta dan juga tidak tahu caranya naik kendaraan umum. Kau tahu, ia juga tidak punya uang untuk bisa pulang naik taksi.”

Aku ternganga dan merasa bersalah karena membiarkan Tiffany pulang begitu saja. Aku tidak mau yeoja itu menghilang untuk kedua kalinya.

“Tolonglah berikan sedikit petunjuk, kira-kira ia dimana?”

Aku sangat tegang memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Tiffany sekarang.

“Cobalah ke tempat selama sebulan dia menghilang. Rumah singgah atau kediaman pemilik sirkus itu. Bagaimana jika kita berbagi tugas, kau ke rumah singgah, aku ke rumah Tuan dan Nyonya Park itu.”

“Gomawo Jessica.”

Hubungan terputus. Aku kemudian memencet telepon untuk menghubungi semua member Super Junior. Tapi semuanya tidak aktif atau tidak terangkat, hanya Sungmin yang mengangkat telefonnya. Namja di seberang telepon itu terkejut ketika mendengar Tiffany menghilang lagi. Apalagi kali ini karena kesalahanku.

“Kau ini harusnya menjaga Tiffany bukannya malah membuatnya hilang lagi Aish, apa sih yang kau inginkan dari yeoja itu. Kau tahu sendiri dia bukan yeoja yang belajar bagaimana cara mengurus rumah tangga. Ia dididik untuk menjadi pewaris Hwang Company. Kau menuntut terlalu banyak”

“Tapi ia kan pelayanku? Sudahlah, jangan terus menceramahiku, Hyung.”

“Ani, kau harus aku kasih tahu supaya tidak kebablasan. Apa sih yang kau inginkan dari dia. Jessica banyak bercerita padaku bagaimana kau memperlakukannya. Itu terlalu berat untuk seorang Tiffany.”

“Aku harus mendidiknya. Bagaimanapun ia seorang yeoja.”

“Lantas kenapa jika ia yeoja?”

“Suatu saat ia akan menjadi seorang istri. Ia harus terampil melakukan pekerjaan rumah tangga.”

“Istri untuk siapa? Untukmu maksudnya?”

Aku tercekat, “Sudahlah Hyung, kau mau membantuku tidak.”

“Baiklah aku akan membantumu, akan kuhubungi member Super Junior lainnya. Kita akan menyisir seluruh tempat di kota ini. Jangan khawatir.”

Aku segera meraih kunci mobilnya, dengan tidak sabar aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku sangat khawatir dan panik. Aku takut yeoja itu benar-benar menghilang dan kali ini aku tidak bisa memaafkan diriku jika hal itu terjadi.

Mobil kemudian aku arahkan ke rumah singgah itu. Aku mencoba menelepon pemilik rumah singgah sebelumnya. Tapi aku begitu terkejut mendengar jawabannya ketika kutanya kemungkinan Tiffany ada di rumah singgah.

“Tiffany-ssi tidak ada di sini, Tuan Siwon.”

“Jadi dia benar-benar tidak datang ke sana?”

“Betul, saya sudah bertanya pada semua anak-anak di sini. Mereka tidak bertemu Tiffany-ssi hari ini.”

Ya Tuhan, kemana lagi aku harus mencari yeoja itu. Aku sudah mulai frustasi apalagi ketika membaca sms dari Jessica.

Tiff tidak datang ke rumah pemilik sirkus

Tapi tiba-tiba instingku berkata lain. Dalam waktu yang terbatas seperti ini seharusnya aku mencari ke tempat dimana kemungkinan Tiffany dalam kondisi bahaya. Aku memutar haluan mobilku. Memacunya dengan kecepatan sangat tinggi. Aku tidak perduli dengan umpatan para pengendara mobil lain yang tidak berhenti mengklaksonku.  Aku sangat takut Tiffany ada di tempat karaoke itu. Bukankah itu tempat yang paling ditakuti yeoja itu?

Mobilku akhirnya sudah sampai di parkiran tempat karaoke kumuh itu. Terus terang akan sangat berbahaya jika orang-orang dapat mengenaliku. Seorang Choi Siwon memasuki tempat prostitusi yang berkedok tempat karaoke! Tapi perduli amat dengan semua gossip yang akan menyebar di media yang penting Tiffany selamat! Bau alkohol yang kuat tercium sehingga membuatku sedikit pusing. Suara-suara genit yeoja nakal dapat kudengar. Aku berharap tidak menemukan Tiffany di sini.

Seorang germo mendekatiku. Wanita tua yang berdandan menor dan berpakaian seksi. Beberapa wanita murahan juga mengikutinya mencoba merayuku.

“Tuan, mau karaoke? Siapa yang kau inginkan untuk menemanimu. Kami punya banyak yeoja cantik yang bisa membuatmu bahagia malam ini.”

“Siapa yang akan kau pilih Tuan, kami tidak keberatan jika kau pilih semuanya. Kami bisa berbagi kok,” seorang yeoja berbaju sangat menerawang tertawa genit padaku. Jika tidak demi Tiffany , pantang aku menurunkan harga diriku untuk datang ke tempat ini.

“Aku mencari Tiffany. Adakah dia di sini?”

“Tiffany?”, germo itu terkejut,”Kau mengenalnya?”

Seorang yeoja murahan itu mendelik marah,”Selalu saja Tiffany yang mereka minta. Padahal kami lebih cantik dari dia.”

Aku terkejut,”Jadi ada Tiffany di sini? Yeoja yang berambut pendek bukan?”

“Kau menginginkannya?,” germo itu memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mudah-mudahan orang itu tidak mengenalku. Aku memakai kaca mata hitam untuk menutupi identitasku.

Aku mengangguk. Hatiku beribu kali lebih khawatir daripada sebelumnya.

“Hmmm, ia memang ada di sini.”

“Sejak kapan?”

“Maksudmu?”

“Tidak-tidak, maksudku dia sudah bekerja di sini sejak kapan?,” aku mengoreksi pertanyaanku supaya tidak terdengar mencurigakan.

“Itu rahasia perusahaan”

“Aku menginginkannya!”

“Tapi dia tidak kutawarkan. Harganya sangat tinggi.”

Ternyata benar yeoja itu di sini. Instingku tepat, tapi kenapa Tiffany bisa sampai di sini? Aku tidak sanggup membayangkan hal buruk yang menimpanya di tempat ini. Semoga ia belum tersentuh laki-laki manapun. Aku harus cepat-cepat menyelamatkannya sebelum terlambat.

“Aku sanggup membayarnya.”

“Berapapun?”

“Asal itu Tiffany yang kuinginkan, aku sanggup. Berikan dia sekarang.”

“Baiklah uang di muka, satu juta won untuk down payment. Lima juta setelah transaksi selesai”

Aku membayar germo mata duitan itu. Gila 6 juta won! Tapi demi Tiffany, uang sebesar itu tidak seberapa.

“Dia masih fresh, kami baru mendapatinya tadi siang. Jadi ia harus kami permak dahulu. Kau tunggu sebentar. Dijamin ia akan memuaskanmu.”

“Aku ingin sekarang!, ” seruku tidak sabar.

“Wow, kau begitu tidak sabaran ya. Apa kau tidak mau karaoke dulu, atau bermain-main dengan yeoja yang lain sebelum bertemu Tiffany?,” germo itu mencoba mengulur waktu.

“Aku ingin dia sekarang. Kau mengerti? Atau kutarik lagi uangku!, ” aku berseru keras pada germo gila itu. Hatiku kebat-kebit memikirkan apa yang terjadi pada Tiffany. Mungkinkah bodyguard tempat karoke ini menemukannya saat yeoja itu pulang dari Suju Tower. Hanya itu penjelasan yang masuk akal. Tiffany maafkan aku, aku sangat menyesal.

“Baik, baik, jangan galak begitu dong. Tapi walaupun kau pemarah kau kelihatan tampan sekali. Mari kuantar, ia ada di kamar nomor 15.”

“Kami menguncinya, maklum ia masih liar. Selamat bersenang-senang. Jika kau puas, kau bisa menambah jam lagi. Tambahannya 1 juta won per jam khusus untuk Tiffany,” germo itu mengerling nakal dan tertawa-tawa kesenangan sambil membayangkan pundi-pundi uangnya yang bisa segera penuh karena kehadiran yeoja itu.

Detik berlalu terasa begitu lama. Aku berjalan menyusuri tangga dengan cepat tapi waktu bejalan begitu lambat. Seharusnya tidak kubiarkan ia pulang sendiri, seharusnya aku mengalah, dan tidak membuat keributan dengannya. Andaikata waktu bisa berputar ke beberapa jam yang lalu. Aku tidak akan marah walau dia berbohong atau menamparku. Aku berharap belum ada laki-laki hidung belang yang menyakitinya. Aku tidak akan dapat memaafkan diriku sendiri jika hal itu terjadi. Andaikata saja aku bisa lebih sabar menghadapi sikapnya. Tiffany berikan aku satu kesempatan lagi, aku tidak akan membuatmu menderita.

Dengan tidak sabar kubuka pintu itu. Kulihat punggung seorang yeoja yang sedang duduk . Kepalanya menunduk.

“Tiffany?”

Ia menoleh, benar itu Tiffany tapi dengan busana yang sangat minim dan norak. Wajahnya bermake up tebal. Aku tercekat melihatnya. Perasaan bersalahku semakin besar.

“Siwon-ssi?”

Tiffany tersenyum gembira. Ia langsung memelukku.

“Tolong selamatkan aku Siwon. Mereka menemukanku ketika aku mau pulang tadi. Aku tidak bisa lari lagi.”

“Kau tidak apa-apa Tiffany? Belum ada yang menyentuhmu bukan?”

Tiffany menggelang. Aku bernafas lega. Tidak boleh ada laki-laki manapun yang menyentuhnya.

”Kita harus pergi dari sini Fany.”

“Tapi mereka akan selalu menemukanku.”

“Kenapa mereka mengejarmu terus.”

Tiffany terdiam.

“Jawablah Tiffany, waktuku terbatas bersamamu.”

“Aku punya utang dengan germo itu.”

“Utang?”

“Dia germo juga rentenir. Dia membujukku supaya meminjam uang darinya. Saat itu aku memang sangat membutuhkan uang. Tapi aku tidak menyangka utangku terus bertambah besar setiap hari. Ia akhirnya menawarkan membebaskan utangku asal aku mau bekerja di sini. Aku mau asalnya, tapi kau lihat sendiri kan. Ini bukan tempat karaoke, ini tempat pelacuran.”

“Berapa utangmu?”

“Aku tidak tahu sudah berapa banyak sekarang. Tiap hari berbunga kau bayangkan berapa besar utangku sekarang.”

“Harusnya kau jujur padaku soal ini.”

“Mianhae Siwon-ssi. Aku tidak mau merepotkanmu.”

“Jika aku membayar utangmu, apakah itu berarti kau akan bebas?”

“Tidak, aku tidak bisa bebas begitu saja. Germo itu akan mengarahmu. Dia sangat licik, ia tidak mau kehilangan orang yang bisa memberikannya uang banyak. Siwon mianhae membuatmu terlibat. Jika ia tahu kau siapa, ia tidak akan segan-segan memerasmu.”

“Sudah aku pikirkan semuanya,” aku memencet sebuah tombol di HP-ku. ”Baiklah, kita harus kabur dari sini.”

“Bagaimana caranya? Tempat ini begitu banyak penjaga. Mereka begitu kuat dan kejam.”

“Kau ikut aku saja,” aku menarik tangannya,”Aku akan membebaskanmu.”

“Jika tertangkap, kita akan disiksa, Siwon-ssi.”

“Aku harus mengambil resiko itu, tidak ada jalan lain,” aku membuka pintu kamar itu pelan.

“Siwon-ssi.”

“Ayolah apalagi yang kau tunggu. Kita harus segera pergi,” aku berbisik.

Yeoja itu melepaskan peganganku. Ia berjinjit dan menarik wajahku dengan kedua tangannya. Tiba-tiba cup, yeoja itu menciumku pendek. Aku terperangah. Sebuah ciuman singkat yang membiusku.

Ia menatapku, “Aku takut kita tidak bertemu lagi. Jika penjaga itu menemukan kita. Jangan selamatkan aku. Karir dan masa depanmu lebih penting. Kau tidak usah khawatir, aku bisa menjaga diri.”

Sesaat ada jeda dalam otakku, ciuman itu membekas di otakku.

“Jangan katakan itu, kita akan keluar dari tempat ini bersama-sama. Kau harus percaya padaku.”

Yeoja itu mengangguk dan tersenyum. Andaikata tidak dalam situasi seperti ini. Aku ingin membalas ciumannya lebih lama dari yang diberikan Tiffany padaku.

“Sekarang kita harus pergi. Jangan lepaskan tanganku. Kau mengerti Tiffany?”

Yeoja itu mengangguk dan mengeratkan pegangan tangannya. Dalam hatinya, ia mempercayai Siwon dengan seluruh jiwanya. Namja itu selalu hadir menolongnya di saat yang tepat. Semua kekesalannya pada namja itu menguap begitu saja.  Apapun hal buruk yang menimpanya, namja itu akan selalu datang melindunginya. Ada yang berubah dari caranya memandang Siwon kini.

 

To Be Continued

Author: Kyaaaa, akhirnya publish juga. Mianhae readers karena menunggu seri ff ini begitu lama. Author sedang sibuk latihan nari Saman nih (acara kampus dan ga boleh nolak). Pulang-pulang langsung tepar deh. Tolong maafkan author kalo ceritanya jadi geje, sebetulnya masih panjang untuk part ini tapi karena readers udah penasaran dengan kelanjutannya, terpaksa dipotong sampai di sini. Karena kalau menunggu sampai ending yang seharusnya, takut readers lebih lama lagi nunggunya.Kritikan welcome banget, typo pasti banyak karena enggak ada waktu buat ngedit. Jangan bosen buat RCL ya, komen readers jadi senjata author buat excuse sama pelatih supaya bisa absen latihan hehehe, mian ya readers jadi tameng. Lumayan buktinya dapat satu hari untuk menyelesaikan ff ini.

Oh ya, part ini adalah ‘bridge’ untuk mereka saling mengenal dan masuk ke romantic scene nanti. Jadi jangan lewatkan part selanjutnya yang mudah-mudahan bisa keluar cepet* pake mata bling bling takut ditampar readers kalo telat lagi. Sekali lagi, gomawo atas support readers selama ini. I will always love you,without you, author is nothing. Saranghae, muah muah muah.

207 thoughts on “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s