Cappuccino (Part 1)

26 Jun

Image

Author: Zola Kharisa

Title: Cappuccino

Cast: Han Hye-Na (OC), Cho Kyuhyun

Genre: Romance, AU

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: This story and OC is mine. But the other cast is belong to God.

A/N: Anneyong readers, ini FF pertama yang aku publish disini sekaligus author baru disini. Kalau ada kesamaan tokoh, plot dll itu benar-benar murni suatu kebetulan. Semoga aja readers suka dengan cerita ini ya. Dan kunjungi juga blog pribadiku. Oke, selamat membaca:D

~~~oOo~~~

HAN HYE NA’S POV

            Aku tersenyum tipis seraya menatap ke luar jendela. Memandang rintik-rintik hujan yang sudah membahasahi Kota Seoul semenjak beberapa menit yang lalu. Mataku masih terfokus menatap orang-orang yang berlalu lalang sambil mencoba melindungi tubuh mereka dengan kedua tangan di atas kepala—walaupun aku, atau mereka tahu pasti itu tidak akan pernah cukup membuat tubuh mereka terlindung dari hujan yang pasti membuat pakaian dan rambut mereka basah.

“Ini cappuccino yang Anda pesan, Nona.” Suara seseorang yang terdengar cukup familiar untukku sukses membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada cappuccino yang sudah diletakkan orang itu di depanku. Lalu kini aku mendongakkan kepala pada orang yang mengantarkan cappuccino itu.

“Kyuhyun?” aku sedikit tersentak ketika seorang namja dengan kulit putih pucat dan rambut coklatnya berdiri di samping mejaku. Ia memasang senyum manisnya yang biasa ia perlihatkan kepada yeoja-yeoja di luar sana yang pasti langsung mendapatkan perhatian penuh yeoja-yeoja itu. Walaupun sepertinya itu tidak akan berpengaruh terhadapku.

“Mengapa kau terlihat kaget seperti itu Nona Han? Apa aku terlalu tampan di dalam penglihatanmu itu?” ujarnya seraya memasang senyum kebanggaannya itu.

“Apa kini profesimu sudah beralih sebagai pelayan café ini Cho Kyuhyun-ssi?” aku menatapnya dengan tatapan merendahkan. Mengapa bisa ada namja yang terlalu percaya diri seperti itu? Dan apa pula maksudnya mengantarkan pesanan cappuccino-ku ini?

Ia tertawa ringan. “Aku memang tampan Han Hye-Na-ssi, tidak perlu mengalihkan pembicaraan seperti itu.” Tanggapnya lalu duduk pada bangku di seberang mejaku.

“Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aish, sepertinya sia-sia berbicara dengan Tuan Super Menyebalkan sepertimu.”

Aku sudah bersiap-siap hendak beranjak pergi dari tempat itu ketika kurasakan seseorang menahan lenganku. “Duduklah kembali, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,”

Aku mendengus kesal sebelum akhirnya kembali duduk di kursi yang beberapa puluh detik lalu aku tempati. Entahlah, tapi aku merasa sedikit penasaran dengan apa yang ingin ia bicarakan. Hanya sedikit penasaran. Karena tidak biasanya seorang Cho Kyuhyun mau mengajak seorang yeoja berbicara dengannya—apalagi sepertinya ini pembicaraan yang serius.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” aku menatapnya datar sambil menyembunyikan rasa penasaran di dalam diriku.

“Aku…” ia menggantung kalimatnya seraya mengusap perlahan tengkuknya. Mwoya? Seorang Cho Kyuhyun bisa bersikap malu seperti itu?

“Sudah cepat katakan Kyuhyun-ssi.” Ucapku tidak sabar dan ia mendengus pelan.

“Jadilah yeojaku.”

Hening. Aku terdiam mencerna apa yang baru saja namja itu lontarkan dari mulutnya. Jadilah yeojaku? Aish… apa aku tidak salah dengar?

“Bisa kau ulangi sekali lagi?”

“Jadilah yeojaku,” ucapnya datar walaupun aku bisa melihat sedikit raut gelisah di wajahnya. “Ini bukan pernyataan cinta atau semacamnya. Seperti yang kau dengar, jadilah yeojaku. Ani, lebih tepatnya berpura-pura lah menjadi yeojaku. Aku… punya alasan yang cukup masuk akal mengapa harus kau dan mengapa aku melakukan ini.”

Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, “Bisakah kau jelaskan alasan mengapa harus aku yang melakukannya dan mengapa kau melakukan hal ini?”

Ia terlihat menimbang-nimbang apa yang sepertinya akan dikatakannya. Dari raut wajahnya bisa dengan mudah ditebak ketika ia sedang berpikir seperti itu.

“Karena kau satu-satunya yeoja yang tidak bisa memasak yang aku ketahui dan nilai akademismu pun tidak terlalu baik walaupun tidak bisa dibilang juga terlalu buruk.” Mwo? Aigoo, namja ini benar-benar menyebalkan!

“Yaa! Alasan macam apa itu, hah?!” aku menaikkan volume suaraku lebih tinggi membuat beberapa pengunjung café menolehkan kepalanya kearahku.

“Mianhae.” Gumamku pelan sambil menatap sekeliling café seraya membungkukkan punggungku.

Kulihat ia tersenyum geli ketika aku sudah menyelesaikan aksi ‘minta maaf mendadak’ku itu. Aish, gara-gara dia…

“Lalu alasan mengapa kau melakukan ini?” aku memberikan death glare-ku padanya.

Ia menghembuskan nafas perlahan. “Setiap hari Eommaku selalu berbicara tanpa henti mengapa sampai sekarang aku belum juga memiliki kekasih. Dan dua hari yang lalu, karena terbawa emosi, aku berbohong pada Eomma kalau aku tengah memiliki seorang yeoja. Dan reaksi Eomma yang di luar dugaanku adalah dia ingin aku membawa yeoja itu ke rumah dan mengenalkannya pada Eomma. Sedangkan aku pada saat itu hanya bisa menganggukkan kepala lemah melihat ekpresi Eomma yang menurutku kelewat senang. Anggaplah karena aku tidak bisa mengecewakannya.” Ia menghembuskan nafas panjang lalu dengan cepat mengambil cappuccino-ku yang sama sekali belum kusentuh itu dan menyesapnya.

“Yaa! Itu milikku!” aku menatapnya kesal sekaligus jengkel sedangkan ia bersikap acuh tak acuh.

“Jadi, apa kau mau membantuku?” tanyanya setelah selesai menyesap cappuccino-ku itu yang kini terlihat tinggal ¾ dari semula.

“Tidak.” Gelengku tegas dan mendapatkan tatapan menolak darinya. “Bukankah aku yeoja yang tidak bisa memasak yang kauketahui dan nilai akademisku pun tidak sebagus dirimu? Jadi, untuk apa aku membantumu. Lagipula, aku tidak ingin terlibat di dalam kehidupanmu, Cho Kyuhyun-ssi.”

Ia mengacak rambutnya frustasi. “Justru itu. Eommaku sangat ingin aku memiliki yeoja yang pandai memasak dan nilai akademisnya setidaknya tidak jauh berbeda denganku. Dan ini satu-satunya kemungkinan cara yang bisa membuat Eomma tidak akan menjodohkanku dengan yeoja-yeoja pilihannya.” Ia menatapku dengan tatapan memohon. “Aku janji jika ini semua selesai kau boleh meminta apapun dariku. Ani, setidaknya jika Eomma mengurungkan niatnya untuk menjodohkanku, kau boleh terlepas dari perjanjian ini. Bagaimana?”

Aku menimbang-nimbang sejenak penawarannya. Hanya berpura-pura bukan? Sepertinya… tidak masalah. Lagipula, imbalannya cukup membuatku tertarik.

“Aku boleh meminta apapun darimu?” ujarku memastikan dan kulihat ia menggangguk pasti.

Aku tersenyum tipis menanggapinya. “Akan aku pertimbangkan.”

***

AUTHOR’S POV

Gadis itu berjalan perlahan mendekati sebuah ranjang rumah sakit yang di atasnya berbaring seseorang yang terlihat pucat dan kaku. Namun memiliki garis wajah yang terlihat tegar.

“Eomma… apa kabar?” sapa gadis itu—Han Hye-Na, seraya tersenyum simpul. Menyembunyikan perasaan sedihnya setiap kali berkunjung menjenguk wanita paruh baya yang terlihat pucat itu di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus dan beberapa alat bantu lainnya yang dipasangkan pada tubuh wanita itu.

“Kau tahu Eomma, sekarang aku sudah mengerjakan seluruh pesan Eomma. Mulai dari sering mencoba lebih banyak menelepon atau sekedar mengirimkan e-mail pada Appa, sampai belajar mencoba membuat jajangmyeon yang biasa Eomma buatkan untukku. Walaupun seharusnya aku tahu pasti rasanya tidak akan pernah sama dengan buatan Eomma. Ani, jauh dari kata sama atau sekedar ‘cukup enak’.” gadis itu tertawa hambar menyadari kalau ia tidak akan mendapat tanggapan atas apa yang dikatakannya. Ia meraih tangan Eommanya dan menggenggamnya erat.

“Eomma… sampai kapan kau akan terus tidur seperti itu? Apa Eomma tidak lelah terus berbaring seperti ini? Apa Eomma…” gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya. Air mata yang sudah susah payah ia tahan akhirnya mengalir juga. Membasahi pipinya hingga terdengar isakkan kecil yang keluar dari bibir mungilnya.

“Ini sudah genap 4 bulan Eomma terbaring disini. Bukankah kata dokter Eomma sudah melewati masa kritis? Tapi mengapa sampai sekarang Eomma tidak juga membuka mata? Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai kapan…” ia kembali terisak. Menarik perlahan tangan Eommanya lalu menyentuhkan ke pipinya. “Apa Eomma tidak merindukanku?”

Perlahan tapi pasti, seseorang berjalan mendekat dari balik punggung gadis itu yang kehadirannya sama sekali tidak disadari oleh Hye-Na. Bahkan suara langkah kaki orang itu seakan tenggelam dengan suara isakkan yang ke luar dari bibir mungil gadis itu.

“Uljima.” Hye-Na tersentak ketika seseorang menyentuh pundaknya perlahan.

Hye-Na menoleh dan mendapati seorang berdiri dengan tatapan hangatnya seraya tersenyum samar. “A-Appa?”

“Eun-Ri pasti baik-baik saja. Ia hanya koma Hye-Na~ya. Suatu hari nanti ia pasti akan membuka matanya. Percayalah.” Ujar laki-laki paruh baya itu menenangkan putri satu-satunya itu. Hye-Na memaksakan sebuah senyum, terkesan ragu atas apa yang Appanya ucapkan.

“Mengapa Appa bisa berada disini?” tanya Hye-Na ketika mereka berdua sudah duduk di salah satu sofa yang berada di sudut kamar rumah sakit itu. Memang, kamar perawatan yang digunakan oleh Eomma Hye-Na, Park Eun-Ri, adalah kamar perawatan VIP yang khusus. Sehingga tidak dicampur dengan pasien lainnya.

“Appa baru saja pulang dari Jepang tadi sore dan memang sudah berniat untuk menjenguk Eun-Ri,” ujar Appa sambil menatap sosok Eomma yang tengah berbaring kaku.

“Oh, apa Appa tidak ada pekerjaan lagi setelah ini? Atau Appa sedang berusaha bolos?” terka Hye-Na yang langsung membuat sosok laki-laki paruh baya itu tertawa.

“Aigoo, sejak kapan kau peduli terhadap perusahaan Appa?” Hye-Na berpura-pura terlihat berpikir sedangkan Appa terlihat berpura-pura menunggu jawaban putrinya.

“Entahlah.” Ujar Hye-Na seraya mengangkat bahu.

“Appa ingin menjaga Eomma malam ini. Sebaiknya kau pulang sekarang Hye-Na~ya. Bukankah besok pagi kau masih harus kuliah?”

“Jeongmal? Appa akan menjaga Eomma malam ini? Bukankah Appa masih harus bekerja?” Hye-Na menatap Appanya tidak percaya. Sungguh, ini pertama kalinya semenjak 4 bulan berlalu Appa terlihat benar-benar peduli pada Eomma. Tapi…

“Ne. Appa sungguh-sungguh. Sudah jam 9 malam, tidak baik untuk seorang gadis pulang lebih larut daripada ini.” Appa menatap lekat-lekat mata Hye-Na mencoba meyakinkan gadis itu.

“Baiklah. Aku akan pulang.” Hye-Na menurut lalu beranjak perlahan dari sofa diikuti Appa di belakangnya.

“Eomma, aku pulang dulu. Besok aku akan mengunjungimu lagi,” Hye-Na melirik Appa sekilas. “Hari ini Appa yang akan menjaga Eomma. Cepat bangun ya Eom…” lanjut Hye-Na lagi seraya tersenyum tipis pada Appa.

“Aku pamit.”

***

“Yaa! Untuk apa kau menyeret-nyeretku seperti ini, hah?!” Hye-Na meronta-ronta dari perlakukan namja paling menyebalkan untuknya saat ini.

“Apa kau tidak bisa tenang sedikit?” namja itu membalas ucapan Hye-Na datar, seakan-akan gadis itu tidak sedang kesal terhadapnya.

“Yaa! Aku masih ada kelas siang ini Cho Kyuhyun!” dengan kasar, Hye-Na melepaskan genggaman Kyuhyun di pergelangan tangannya yang ternyata meninggalkan sedikit jejak kemerahan akibat perlakuan Kyuhyun itu.

“Memang kau mau membawaku kemana, hah?” tanya Hye-Na ketika ia sudah bisa meredakan emosinya.

“Menemui Eommaku.” Kyuhyun menatap datar wajah gadis di depannya.

“Mwo? Bukankah aku belum memberikan jawaban atas penawaranmu itu?” Hye-Na menatap jengkel sosok Kyuhyun. Bagaimana bisa ia mau mempertemukan aku dengan Eommanya sedangkan aku sama sekali belum memberikan jawaban atas penawarannya? Ya, walaupun…

Kyuhyun kembali menarik tangan Hye-Na dan menggenggamnya lebih erat.

“Aku yakin kau tidak akan menolaknya, Han Hye-Na-ssi.” Ujar Kyuhyun mantap seraya terus menarik tangan Hye-Na dan dengan paksa menyeretnya menuju parkiran. Tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang kini tengah melayangkan tatapan heran dan terlebih tatapan ‘tidak menyenangkan’ yang dihujam oleh para yeoja yang ada di kampus itu, membuat Hye-Na benar-benar merasa tidak nyaman.

“Yaa! Aish, kau benar-benar menyebalkan Cho Kyuhyun!!!”

***

CHO KYUHYUN’S POV

Aku melirik sekilas gadis di sampingku yang tengah mengurucutkan bibirnya. Aigoo, lucu sekali… mwo? Apa yang baru saja kau katakan Cho Kyuhyun?

Han Hye-Na. Tidak pernah sekali pun terlintas di benakku kalau gadis ini lah yang akan menjadi ‘yeoja pura-pura’ku. Hari itu, hari dimana aku bertemu dengannya di Kona Beans, benar-benar seperti sebuah kebetulan yang tidak terduga.

Rintik-rintik hujan mulai membasahi jalanan Kota Seoul. Aku semakin mempercepat langkahku menuju Kona Beans, café yang didirikan oleh Eommaku dan 2 teman Eommaku yang lain.

Setibanya di Kona Beans, aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Dan sedikit terperangah ketika aku mendapati sesosok gadis yang sangat familiar di mataku tengah duduk di salah satu meja yang menghadap ke jendela. Gadis itu… Han Hye-Na. Aku tidak mungkin salah.

Aku menghampiri kasir yang kebetulan sedang dijaga oleh Sungmin Hyung disana.

“Hyung, apa kau tahu menu apa yang dipesan gadis itu?” ujarku seraya menunjuk sosok Hye-Na yang di mejanya masih terlihat kosong tanpa secangkir coffee atau pun sepotong cake.

“Oh, gadis itu, tadi ia memesan cappuccino Kyuhyun-ah. Hanya saja, karena tadi pelanggan yang datang cukup banyak, jadi kami harus membuatnya menunggu cukup lama.” Aku menganggukkan kepala mengerti. Lalu, entah ide darimana yang melintas begitu cepat di kepalaku.

“Hyung, bolehkah aku yang mengantarkan pesanan gadis itu?”

Aku tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Han Hye-Na. Kami memang kuliah di kampus yang sama, Kyunghee University. Aku mengetahuinya dan kuyakin ia juga mengetahuiku. Siapa yang tidak mengenal seorang Cho Kyuhyun?

Walaupun kami berada di kampus yang sama, tidak membuat kami mengenal lebih dekat satu sama lain. Pribadinya yang tertutup dan selalu terlihat terlalu fokus pada apa yang dilakukannya, membuatnya tidak cukup populer di kampus. Walaupun harus kuakui, seandainya ia lebih terbuka pada sekitarnya, kuyakin ia akan menjadi gadis populer di kampus. Apalagi… menurutku wajahnya juga begitu mempesona, cantik.

Tunggu, kalimat terakhir itu… apa yang baru saja kukatakan?

“Kau sudah seperti orang gila Kyuhyun-ssi, senyum-senyum sendiri seperti itu.” Aku tersentak dari lamunanku sesaat dan menoleh pada gadis di sampingku ini.

Aku tersenyum kecil. “Sepertinya kau memperhatikanku sedari tadi Hye-Na~ah.” Ujarku menggoda gadis ini.

Ia mencibir. “Cish. Aku memperhatikanmu? Justru aku harus memperhatikan keselamatanku jika kau melamun seperti itu selagi menyetir.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Lalu keselamatanku?”

“Tentu saja itu tergantung padamu Cho Kyuhyun-ssi. Kalau kau masih mau hidup, menyetirlah dengan benar! Aku tidak mau menjadi korban kelalaianmu itu. Dan tunggu… kau memanggilku apa tadi? Hye-Na~ah? Aish, jangan panggil aku seperti itu karena kita belum dekat satu sama lain.” Ia memberikanku death glare-nya yang malah membuatku ingin tertawa setiap melihatnya.

Lagi-lagi, sebuah ide melintas dengan cepat dipikiranku. Kali ini ide itu bukan untuk meminta bantuannya.

Aku menepikan mobilku ke sisi kiri jalan. Seperti dugaanku, ia menatapku heran.

“Kenapa kita berhenti?”

Aku menolehkan kepalaku ke samping. Memberikannya sebuah senyum kebanggaanku, senyum iblisku.

“Kau bilang kita kurang dekat kan?”

Ia menganggukkan kepala. “Ne. Lalu?”

Aku sedikit memajukan tubuhku padanya. “Mengapa bisa kau berpikir seperti itu?”

Ia mengalihkan tatapannya ke dashboard mobil. Matanya bergerak perlahan ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.

“Kurasa karena selama ini kita memang belum pernah saling berbicara satu sama lain kan? Kecuali semenjak pertemuan kita di café waktu itu. Lagipula, kau yang tiba-tiba datang kepadaku dan memintaku menjadi yeoja pura-puramu kan? Dan kurasa, kita memang belum dekat satu sama lain. Disebut teman pun… kurasa lebih cocok disebut kenalan.” Ia mengalihkan tatapannya lagi padaku. Dan kini dengan jelas aku bisa menatap kedua bola mata coklatnya. Dan entah mengapa, menatap kedua bola mata itu seakan membuat seluruh organ tubuhku tidak bisa bekerja sesuai dengan pikiranku.

“Yaa! Apa yang ingin kau lakukan, hah?!”

Kedua tangannya mulai mencoba mendorong tubuhku menjauh. Namun penolakannya justru membuatku semakin mencondongkan tubuhku padanya.

“Yaa! Namja mesum mau apa kau?!” mwoya? Namja mesum?

Kini jarak antara wajahku dengan wajahnya tak lebih dari sejengkal tanganku. Kedua tangannya masih mencoba mendorong tubuhku menjauh. Namun dengan pasti, aku menahan tangan kanannya dengan tangan kiriku. Dan tangan kananku menempel pada jendela kaca—tempatnya sekarang bersandar. Sedangkan kedua bola mataku mulai menelusuri perlahan setiap lekuk wajahnya yang baru kusadari sekarang begitu sempurna.

“Yaa! Lepaskan aku Cho Kyuhyun atau kuanggap perjanjian kita batal!” ia menatap kedua bola mataku yang terlihat seakan tak suka dengan apa yang aku lakukan. Kulihat wajahnya mulai merona merah.

Aku mendengus pelan. “Apa tidak ada ancaman selain itu?”

Aku pun kembali menarik diriku menjauh dengan sedikit enggan dan mulai menyalakan mesin mobil. Samar-samar bisa kudengar helaan nafasnya.

“Aish! Appo…” rintihku ketika kurasakan gadis itu menjitak kepalaku kasar.

“Awas jika kau berani dekat-dekat padaku seperti itu lagi Cho Kyuhyun!” ujarnya dengan nada mengancam.

Aku menyunggingkan senyum miringku. “Tapi kurasa tadi kau menikmatinya Hye-Na~ah.”

“Mwo?! Yaa! Jangan panggil aku seperti itu lagi!!!”

***

“Ayo turun.” Ajakku pada Hye-Na ketika sudah sampai di kediaman keluargaku.

“Kau yakin?” ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya. Aku menatapnya heran.

“Waeyo?”

“Apa yang harus aku lakukan jika aku sudah bertemu dengan Eommamu?” tanyanya sarkatis.

Aku tersenyum tipis. “Lakukanlah semuanya secara alami. Eommaku sangat suka orang yang terbuka dan apa adanya.”

Ia terlihat berpikir lagi. “Tapi bagaimana kalau—“

“Tenang saja Hye-Na~ah, ikuti saja apa kata hatimu. Dan oh, ya, jangan panggil aku dengan embel-embel ssi seperti itu lagi. Cukup panggil aku Kyu, oke? Atau kau mau memanggilku dengan sebutan jagiya?” ujarku seraya menggodanya.

“Aish, kau memang menyebalkan!” ia langsung membuka pintu mobil di sampingnya diikuti pula aku.

“Ayo masuk.” Ajakku sambil menggandeng tangannya.

“Tidak bisakah kau tidak melakukan skinship denganku?” ia kembali memberikan death glare-nya padaku.

“Waeyo? Aku suka menggengam tanganmu.”

Dan ucapan terakhirku itu meluncur begitu saja dari mulutku. Butuh beberapa detik sampai aku tersadar akan ucapanku sendiri. Kulirik Hye-Na yang juga terdiam sedari tadi.

“Aish, Lupakan. Kajja, ayo masuk!” ucapku namun kali ini aku membiarkan diriku sendiri melepas genggamanku padanya.

***

HAN HYE NA’S POV

            “Waeyo? Aku suka menggenggam tanganmu.”

Mengapa ucapannya tadi terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku? Hei, Han Hye-Na, ayo fokus! Untuk apa kau memikirkan ucapan Kyuhyun tadi? Lagipula, ini bukan saatnya kau memikirkan itu. Ini saatnya untuk menunjukkan kemampuan aktingmu sebagai seorang ‘kekasih Cho Kyuhyun’. Ingat! Kau harus bersikap alami dan apa adanya.

Untuk beberapa saat, aku terpana menatap rumah Keluarga Cho yang menurutku terlalu besar ini. Seingatku, Kyuhyun hanya mempunyai seorang kakak bernama Cho Ahra. Dan kedua orang tuanya memang masih lengkap, hanya saja Appa Kyuhyun, Cho Yeonghwan, sering berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Sedangkan Eomma Kyuhyun, Kim Hanna, lebih memilih tinggal di Korea untuk mengurusi anak-anaknya dan mengurus beberapa bisnisnya, termasuk Kona Beans, café yang menurutku masih terbilang baru. Apa kalian heran mengapa aku bisa begitu mengetahui hal itu? Bukan, bukan karena aku mencari tahu tentang namja itu. Lebih tepatnya, yeoja-yeoja yang menggilainya yang memberi tahuku secara tidak langsung lewat obrolan mereka.

Dan jangan sekali-sekali berpikir kalau aku berusaha menguping ucapan para yeoja itu. Aku hanya… sudahlah, penting kah aku harus membahas hal semacam itu?

“Kyuhyun, kau sudah pulang?”

Aku tersadar dari lamunanku dan beralih pada sosok wanita paruh baya yang masih terlihat segar di hadapanku. Kulihat Kyuhyun menghampiri wanita itu dan berbincang sebentar dengannya sebelum mata wanita paruh baya itu menatapku… hangat.

“Jadi kau yang bernama Han Hye-Na?” tanya Eomma Kyuhyun ramah padaku.

Seandainya tadi aku bertaruh dengan Kyuhyun, dengan taruhan ‘kalau sampai Eomma Kyuhyun menyambutku dengan tangan tertutup’ sepertinya aku akan kalah—karena sejak awal aku berpikir Nyonya Cho itu tidak akan menyambutku dengan ramah. Justru seperti pada drama-drama dimana tokoh sang ibunda laki-laki itu akan menolak secara terang-terangan hubungan sang anak dengan kekasihnya, dan… hei, sejak kapan aku suka menonton drama seperti itu?

“Ne.” jawabku sambil membungkukkan tubuhku sopan.

“Omona, akhirnya Kyuhyun membawa kekasihnya ke hadapanku. Aish… aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan. Apa kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan bersama-sama?” dan kembali di luar dugaanku. Ternyata Eomma Kyuhyun terlihat benar-benar seperti yang dikatakan Kyuhyun, kelewat senang.

“Apa tidak merepotkan Ahjumma?” kulirik Kyuhyun yang berdiri di balik punggung Ahjumma tengah menahan tawanya. Aish, awas kau Cho Kyuhyun!

“Tentu tidak. Kajja, kita ke ruang makan. Kebetulan Ahra juga sedang berada di rumah.” Nyonya Cho merangkul pundakku lembut seraya mensejajarkan tubuhku dengannya. Aku melirik Kyuhyun kesal sedangkan ia terlihat tersenyum-senyum tidak jelas.

Omona… bagaimana dengan nasibku?

***

“Tidak kusangka, dongsaengku ternyata memiliki seorang gadis.” Ucap Ahra Eonni sambil melirik Kyuhyun yang tengah menghabiskan jajangmyeon-nya. Aku menatapnya heran.

“Jangan salahkan aku jika aku sempat berpikir kalau dongsaengku ini menyukai… sesamanya.”

“Uhuk.” Kyuhyun tersedak ketika Ahra Eonni baru saja menyelesaikan ucapannya. Dengan cepat, Nyonya Cho menyerahkan segelas air putih pada Kyuhyun yang langsung disambar cepat oleh namja itu.

“Yaa! Apa maksudnya itu Noona?!” ujar Kyuhyun tidak terima seraya memasang tatapan tidak percaya pada Noona-nya itu setelah selesai meredakan insiden ‘tersedak’ itu, sedangkan Ahra Eonni menanggapi dengan tertawa geli.

“Sudah kubilang jangan salahkan aku bukan? Kau ini—“

“Aku bertanya apa maksudnya Noona bukan menyalahkanmu!” sela Kyuhyun cepat.

“Mwo? Jadi sebelumnya itu… benar?” Ahra Eonni memasang ekspresi pura-pura terkejut.

“Yaa! Kalian ini! Kenapa malah jadi meributkan hal sepele seperti itu?” sela Nyonya Cho sambil menghela nafas panjang untuk menengahi pertengkaran kecil pasangan kakak beradik itu. Sedangkan Ahra Eonni dan Kyuhyun saling berpandangan sebelum akhirnya saling membuang muka. Aigoo, lucu sekali.

“Oh, ya, apa satu minggu besok kau ada waktu luang Hye-Na~ah?” tanya Nyonya Cho membuka pembicaraan setelah merasa keadaan pulih kembali.

Aku menolehkan kepalaku pada Ahjumma yang tengah menyantap dessert-nya.

“Hmm… satu minggu besok kebetulan kampus akan diliburkan Ahjumma. Ada apa?”

“Wah, bagus sekali kalau begitu…” Nyonya Cho menatapku dan Kyuhyun secara bergantian. “Bisakah kau tinggal disini selama satu minggu itu Hye-Na~ah? Kebetulan Ahjumma dan Ahjussi akan pergi ke Taiwan untuk melakukan kegiatan bisnis lusa nanti yang harinya bertepatan dengan kepulangan Ahra ke Jepang. Sedangkan anak ini…” Nyonya Cho memegang pundak Kyuhyun perlahan. “tidak akan ada yang mengurusnya. Jadi… bisakah kau tinggal sementara disini sampai Ahjumma kembali?”

Aku membulatkan mataku menatap sosok Nyonya Cho tidak percaya. Aku? Tinggal satu rumah dengan namja iblis itu?

“Mwoya? Apa Eomma sedang bercanda?” tanya Kyuhyun yang ekspresinya tidak kalah terkejut denganku.

“Untuk apa Eomma bercanda dengan hal seperti ini Kyu? Lagipula, tidak ada salahnya. Aku percaya padamu kalau kau tidak akan berbuat macam-macam pada Hye-Na.” Ucap Nyonya Cho bijaksana. Mwo? Bijaksana itu…

“Tapi tetap saja tidak baik untuk seorang namja dan yeoja tinggal dalam satu atap Eomma!” sergah Kyuhyun tetap pada pendiriannya, menolak.

“Siapa bilang kau akan tinggal berdua saja dengan Hye-Na, Kyuhyun~ah? Atau kau memang berharap begitu?” goda Nyonya Cho membuat Kyuhyun mendecak kesal.

“Tenang saja. Akan ada Eunji Ahjumma dan Junghyo Ahjussi yang akan menemani kalian disini. Lagipula, sepertinya selain Eomma dan Ahra yang bisa membangunkanmu dari tidurmu itu hanya Hye-Na, Kyuhyun~ah. Jadi, akan lebih baik kalau Hye-Na bersedia untuk tinggal disini sementara waktu.” Jelas Nyonya Cho lalu memandang kearahku. “Bagaimana denganmu Hye-Na~ah?”

Aku yang sedari tadi memilih diam kini harus menjawab tawaran Nyonya Cho. Aish, apa yang harus kujawab? Sungguh, aku ingin sekali berkata tidak. Bahkan kalau bisa berteriak tidak. Tapi mata Nyonya Cho yang seolah berharap itu membuatku… ragu.

“Hmm… walaupun begitu Ahjumma, benar apa kata Kyuhyun kalau seorang yeoja dan namja tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan itu terkesan… kurang baik.” Aku melirik sekilas Kyuhyun yang kini bisa kurasakan menatapku lekat-lekat. Sedikit membuatku risih.

Nyonya Cho menghela nafas. “Tidak. Aku tidak bisa membiarkan anak laki-lakiku ini berkeliaran tidak jelas atau pun yang lainnya selama kami tidak ada. Harus ada yang mengawasinya. Dan kurasa Eunji dan Junghyo saja tidak cukup untuk mengawasi namja ini. Jadi, sebagai gantinya, sepertinya hanya kau yang bisa mengawasinya Han Hye-Na~ah. Anggap saja Ahjumma meminta bantuanmu.”

Detik itu, aku merasakan bibirku kelu. Entah mengapa mulutku sama sekali tidak bisa meluncurkan kata-kata yang berujung pada penolakan. Kyuhyun pun terlihat menatap Eommanya kesal seakan tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan Nyonya Cho.

“Jadi? Bagaimana?”

Aku menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya mengangguk pasrah. Bisa kurasakan tatapan Nyonya Cho yang berubah lega bercampur dengan senang. Aish… mengapa beliau bisa terlihat selega dan sesenang itu?

Dan lagi…

Aku melirik perlahan pada Kyuhyun. Berharap ia juga sedang tidak melihat kearahku.

Tapi sepertinya harapanku tidak terkabul. Pandangan mata kami bertemu dan bisa kurasakan sesaat tatapannya berubah dingin sebelum ia menghembuskan nafasnya panjang seraya memejamkan matanya.

***

AUTHOR’S POV

Selama perjalanan pulang, tidak ada percakapan yang terjadi antara keduanya. Mereka berdua memilih untuk saling diam dan bergelut pada pikiran masing-masing. Kyuhyun sedikit mengencangkan genggamannya pada setir mobil sedangkan Hye-Na memilih memandang ke luar jendela.

Hye-Na menghembuskan nafas perlahan. Ia sudah tidak tahan. Ia sudah tidak tahan untuk tidak membicarakan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Hal yang membuat pikirannya hanya terfokus pada satu titik. Cho Kyuhyun.

Dengan segenap keberanian yang ia punya. Ia mencoba memulai pembicaraan dengan Kyuhyun dan berharap agar namja itu tidak menanggapi ucapannya dengan dingin. Walaupun ia tahu, ia tidak boleh berharap terlalu lebih. Setidaknya, Kyuhyun mau menanggapi. Itu terasa sudah sangat cukup bagi Hye-Na untuk saat ini.

“Kyuhyun-ssi, bagaimana?” tanya Hye-Na kaku. Kyuhyun melirik sekilas Hye-Na lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.

“Bagaimana apanya? Dan bukankah sudah kubilang jangan memanggilku dengan embel-embel ssi seperti itu lagi? Aku merasa tua dipanggil seperti itu.”

Untuk sesaat Hye-Na tersentak. Ia memberanikan diri menolehkan wajahnya untuk menatap mata namja itu perlahan. Nada suaranya… nada suaranya benar-benar seakan memperlihatkan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Apa ia tidak merasa… kesal?

“Tentang… aku yang akan tinggal sementara di rumahmu itu. Apa kau tidak merasa…” Hye-Na berujar enggan. Hei, apa yang terjadi padamu Han Hye-Na?

Kyuhyun melirik sekilas Hye-Na dan menyunggingkan senyum samar. “Tenang saja. Aku yang telah memintamu untuk menjadi yeoja pura-puraku bukan? Lagipula, jika kau berpikir kalau aku merasa tidak suka… hmm, entahlah. Setidaknya, kesempatanku agar aku tidak dijodohkan terlihat semakin kecil.”

Hye-Na mengangguk-anggukan kepalanya. Namja itu benar. Untuk apa aku memikirkan ia kesal atau tidak? Bukankah memang namja itu yang sedari awal memulai hal ini. Permainan ini.

Hye-Na tersenyum tipis. “Oke kalau begitu. Oh, ya, kau belum tahu rumahku bukan? Antarkan saja aku ke Seoul Hospital, Kyu.”

Kyuhyun melirik sekilas Hye-Na. Dengan sangat jelas terdapat sedikit kerutan pada dahi Kyuhyun, menandakan kalau ia tengah berpikir.

“Seoul Hospital? Untuk apa? Dan oh, ya, aku cukup puas mendengarmu tidak memanggilku Kyuhyun-ssi lagi. Itu terdengar sedikit… menggelikan.” Ujar Kyuhyun membuat Hye-Na mencibir.

“Cish. Kau tidak perlu tahu Tuan Cho Kyuhyun. Dan apa yang kudengar tadi? Menggelikan? Haha. Kurasa akan lebih baik jika aku memanggilmu dengan sebutan itu, Kyuhyun-ssi.” Hye-Na tertawa renyah. Membuat Kyuhyun terpana untuk sepersekian detik hingga ia tersadar ketika tawa renyah itu berubah menjadi sindiran mengejek.

“Kyuhyun-ssi… Kyuhyun-ssi… Kyuhyun-ssi…”

“Yaa! Berhenti memanggilku seperti itu Han Hye-Na!”

“Aigoo, Kyuhyun-ssi… kau tidak boleh marah-marah seperti itu. Nanti wajah jelekmu itu semakin terlihat…” Hye-Na tersenyum merendahkan Kyuhyun. “Jelek.”

“Yaa! Awas kau Han Hye-Na! Atau kau mau aku memanggilmu dengan panggilan jagiya, hah? Aigoo, jagiya…” ucap Kyuhyun dengan suara yang dibuat-buat.

“Aigoo, aish! Berhenti-berhenti! Itu benar-benar lebih dari sekedar menggelikan!” Hye-Na menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Membuat Kyuhyun merasa menang karena telah sukses membalas ledekkan Hye-Na.

“Jagiya… kenapa kau menutup kedua telingamu? Bukankah kau senang mendengar suara indahku ini memanggilmu dengan sebutan jagiya itu? Hei, jagi…” ujar Kyuhyun dengan suara yang tetap dibuat-buat. Membuat Hye-Na menggeram kesal.

“Yaa! Aish! Hentikan itu Cho Kyuhyun! Benar-benar sangat menggelikan!!!” teriak Hye-Na yang malah membuat Kyuhyun tak bisa menahan tawanya.

“Hahaha. Jangan teriak-teriak seperti itu…” Kyuhyun menatap Hye-Na yang sudah memejamkan matanya karena kesal dengan tingkah Kyuhyun. “Jagiya~” lanjut Kyuhyun lalu kembali melanjutkan tawanya.

***

“Eomma, tapi… waeyo?” tanya seorang gadis menuntut penjelasan dari Eommanya. Tatapannya menyiratkan sebuah penasaran yang amat.

“Ahra… Eomma sudah mengenal anak-anak Eomma lebih dari 20 tahun. Semua sifat dan sikapnya dari yang paling sulit dilihat oleh orang lain sekali pun bisa Eomma ketahui.” Ucap wanita paruh baya itu, Kim Hanna, seraya tersenyum tipis. Ahra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lalu maksud Eomma?”

Kim Hanna kembali menyunggingkan senyum tipisnya. “Han Hye-Na. Entah mengapa, Eomma sudah menyenangi gadis itu dari awal pertemuan kami tadi siang. Namun… seperti yang Eomma sudah bilang. Sikap Kyuhyun terhadap Hye-Na sangatlah berbeda, tidak selayaknya. Kau tahu maksud Eomma bukan?” Ahra mengangguk.

“Tapi, pandangan mata mereka. Kali ini Eomma tidak mungkin salah Ahra~ya…”

Ahra lagi-lagi memberikan tatapan heran atas perkataan Eommanya. “Oke, Eomma bisa to the point bukan? Apa alasan Eomma membiarkan Hye-Na menetap sementara di rumah kita padahal ini kali pertamanya Eomma bertemu gadis itu.”

“Eomma hanya ingin mereka bersama. Itu saja.” Jawab Kim Hanna sekenanya.

Ahra mengernyit heran. “Bersama? Bukankah mereka memang bersama Eomma? Apa maksudnya?”

Kim Hanna lagi-lagi tersenyum membentuk sebuah simpul lengkung ke atas. “Sudah ku bilang aku tahu setiap sikap dan sifat yang akan berubah terhadap anak-anakku. Hye-Na dan Kyuhyun. Eomma ingin mereka benar-benar bersama bukan sekedar kebohongan semata. Sikap mereka menunjukkan kalau mereka enggan. Tapi, percayalah, mata mereka tidak bisa berbohong. Eomma bisa merasakan kalau takdir memang mempertemukan mereka. Apa kau tidak merasa aneh kalau… tiba-tiba saja Kyuhyun mau membawa kekasihnya? Padahal selama ini anak itu tidak pernah menunjukkan sedikit pun sikapnya yang berhubungan kalau dia memiliki seorang gadis. Apa kau tidak merasa kalau Kyuhyun… saat itu terbawa emosi dan berbohong?”

Ahra berpikir sejenak setelah mendengar dengan seksama penjelasan Eommanya. Jadi maksudnya…

“Ah! Aku mengerti sekarang.” Ujar Ahra bersemangat diikuti senyum lebar Kim Hanna. “Sepertinya anak itu harus lebih cerdas daripada Eomma. Dan kuharap… mereka, memang benar-benar bersama.”

***

Seoul Hospital, 7.30 PM.

Gadis itu berjalan perlahan menuju sebuah kamar di dalam rumah sakit itu. Senyum di bibirnya tidak pernah lepas sedari tadi. Langkah ringan yang menggiringnya benar-benar menunjukkan seolah ia sedang merasa bahagia. Tanpa ada beban yang terasa dipijaknya.

Tepat berada di depan pintu kamar yang ditujunya, gadis itu, Han Hye-Na, dalam sekejap merasa tubuhnya diliputi perasaan tidak menyenangkan. Gadis itu memegang kenop pintu dan membuat perasaan yang kini berubah menjadi gelisah itu semakin melingkupi tubuhnya.

Sambil memejamkan matanya sejenak, ia membuka pintu kamar dengan nomor 279 itu perlahan. Hatinya seolah mengharapkan apa yang tadi baru saja dirasakannya bukan menunjukkan suatu hal buruk.

“Eomma, aku da—“ gadis itu tidak melanjutkan ucapannya. Ia membulatkan matanya dan sebuket bunga lili putih yang berada di genggamannya sedari tadi jatuh terhempas begitu saja ke lantai.

“A-APPA?!”

-To Be Continued-

Bagaimana ceritanya readers? Berikan komentar dan saran buat ke depannya ya. Oke, gomawo:D

91 Responses to “Cappuccino (Part 1)”

  1. fazriyah June 10, 2013 at 9:14 pm #

    Hallo~ff ini mempermainkan perasaanku saat membacanya..
    Ooh, next part~

  2. Nuri nda June 16, 2013 at 5:26 pm #

    Ibunya meninggalkah?tp msh gak ngrti,klw ibuny kyu pngen mantu yg pnter masak ma nilai akademisnya bgus kn dy psti gak ska ma hyena,trus kyu d jdhin ma plhan dy yg ssuai keingnan dya..#apa q yg gak nymbung ya..he..he..

  3. Kim vhindie* July 20, 2013 at 9:46 pm #

    Daebak….seru nih kyk.a….heuh knp baru nemu nie ff sekarang???

  4. GyuHae September 27, 2013 at 6:34 am #

    Sebenarnya aku udh baca di blog pribadi miliknya, cuma waktu itu aku ga komen karna belum punya blog jadi krn sekarang aku udh punya blog jadi aku komen n ff nya bagus kayanya kyu memang udh suka hye na dari dulu atau gimana ya ? Dia bilang dia suka kl dia megang tangan hye na :-D

  5. Melinda January 7, 2014 at 12:34 am #

    eh,knp th

  6. Chu~ January 7, 2014 at 9:11 pm #

    Seneng nii liat kyuhyun yang kayak gini… kesan pertama di part satu KEREN!!! ^^

  7. rae220315 January 9, 2014 at 9:17 am #

    keren ^^

  8. littlem09 February 12, 2014 at 8:04 am #

    Hai eon! Keren bgt nih ceritanya… Dah lama aku nggak buka ffindo dan aku ulang lagi buat baca Cappucinno apalagi castnya kyu dan jg nggak terlalu banyak dialognya.. Hehe figthing eon! ^^

  9. shin myunghee July 24, 2014 at 7:05 pm #

    eonni ffmu seperti biasa DAEBAAKKK!!!
    eommany kyu pinter banget, yaiyalah anakny aja pinter apa lg emakny-_-
    next next :3

Trackbacks/Pingbacks

  1. Cappuccino (Part 12-A) | FFindo - March 24, 2013

    [...]  [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4-A] [Part 4-B] [...]

  2. Cappuccino (Part 12-B) | FFindo - April 4, 2013

    [...]  [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4-A] [Part 4-B] [...]

  3. Cappuccino (Part 13-A) | FFindo - January 6, 2014

    […]  [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4-A] [Part 4-B] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,573 other followers

%d bloggers like this: