Author : vankyu (@bluavania)
Main Cast : Cho Kyuhyun, Kim Mi So (OC)
Other Cast: Eunhyuk, Lee Donghae
Genre : Romance, Comedy
Rating : G
Length : Chapter
Annyeong chingudeul~~ Finally!!!!!!!! Selesai juga chapter terakhir my dandelion. Butuh banyak waktu buat nulis chapter 4 ini
Semoga di chapter ini para reader bisa tahu isi hati abang evil yg sebenarnya. Dan semoga para reader suka bacanya ![]()
Inget yaaaa, semua dari sudut pandang Kyuhyun. Cerita ini masih flashback, mudah-mudahan para reader gak bingung.
Kim Mi So POV (part 1) (part 2) Kyuhyun POV (part 3)
Lastly, Happy reading ![]()
***********************************
Tidak terasa semua ujian sudah selesai. Untung semua hasil ujianku di atas 80, jadi psp kesayanganku tidak jadi dibuang oleh eomma hahaha. “Ya! Ternyata dongsaengku ini masih punya otak. Kukira otakmu tertinggal di dalam psp mu itu.” Dasar Ahra noona, seenaknya saja merendahkan dongsaengnya ini.
Aku masih ingat betul saat dibagikan hasil ujian matematika kemarin. Punyaku tentu saja nilai sempurna. Siapa yang bisa melawan juara olimpiade matematika sepertiku hahaha *tendang Kyu!!*. Kulirik Kim Mi So yang sedang terduduk lemas di kursinya. Kurebut kertas ujiannya dan terpampang jelas nilainya yang kebakaran. “Ya Kim Mi So! Bodoh sekali kau. Soal seperti ini saja tidak bisa dikerjakan. Hahaha,” ejekku.
Dia menggembungkan pipinya dan merebut kembali kertasnya lalu pergi meninggalkanku. Mengejeknya memang hal yang menyenangkan bagiku. Apalagi saat melihat ekspresinya. Terlalu lucu untuk dilewatkan.
Karna semua ujian sudah selesai dan tahun ini adalah tahun terakhir kami di sekolah ini, maka para siswa dan siswi akan mengadakan acara perpisahan dengan teman sekelas. Rencananya acara itu akan dilaksanakan selama 2 hari 1 malam dan berlangsung di daerah pegunungan.
Hari ini adalah hari keberangkatan kami. Aku mengenakan kaos lengan panjang dan celana jeans. Barang yang kubawa juga cuma sedikit dan kumasukkan dalam ransel. Sebelum berangkat kami berkumpul dulu di kelas untuk mendengar arahan dari Kim seongsaenim.
“Kyuhyun-ah, nanti kau duduk denganku ya di bis,” ucap Eunhyuk. “ANDWAE! Kalau kau duduk dengan Kyuhyun, nanti aku duduk dengan siapa?” balas Donghae. “Ck. Kalian ini. Kau duduk dengan Donghae saja Hyuk. Daripada couple-mu ini marah. Bisa-bisa aku ditendang keluar di perjalanan nanti,” ucapku yang dibalas dengan pukulan di kepalaku oleh pasangan monyet dan ikan ini.
“Ya! Kami masih normal namja setan. Ya sudah kalau begitu. Nanti kau duduk dengan siapa?” ucap Eunhyuk. Tiba-tiba terlintas sebersit ide di otakku. “Tenang saja aku tak kan sendirian di bis nanti. Malah perjalanan kali ini akan menyenangkan,” jawabku sambil menyeringai. “Pasti ada sesuatu yang akan kau lakukan. Seringaimu itu menakutkan Kyuhyun-ah,” ucap Donghae. Aku mengangkat bahuku dan berjalan menuju bis.
Ah! Itu dia yeoja yang kucari. Aku menarik ransel di punggungnya saat yeoja itu berencana untuk duduk. “Ya! Apa-apaan kau?” teriaknya kesal. Aku hanya tersenyum dan menariknya ke deretan kursi belakang secara paksa. Mau tidak mau dia terseret mengikuti langkahku sambil sesekali memberontak. “Cepat duduk di sini,” ucapku. Dengan tampang galak dia menatapku. “Shireo!” balasnya sambil berusaha melepaskan tanganku dari ranselnya. Ck, si bodoh ini kapan sih menyadari kalau tenagaku itu lebih kuat darinya. Jadi semua usahanya tentu saja sia-sia.
Aku mendudukan dia di kursi dan dengan cepat aku duduk di sebelahnya. Kim Mi So mendorong-dorong pundakku, “Kyuhyun-sshi, ireona. Cepat menyingkir. Aku mau pindah,” ucapnya. “Andwae,” jawabku santai. Yeoja ini membulatkan matanya dan semakin mendorongku supaya aku berdiri. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan yeoja ini.
Dengan cepat aku menahan kedua tangannya yang dari tadi mendorong pundakku dan kudekatkan wajahku. “Kau diam saja dan duduk di sini dengan manis. Arasseo?” bisikku. Masih dengan wajah kesal dia membalas ucapanku, “Wae? Kenapa aku harus duduk di sini denganmu? Apa yang mau kau perbuat.” Kukeluarkan seringai setanku, berusaha menahan detak jantungku yang tidak bersahabat, “yang ingin kuperbuat? Tentu saja menyiksamu.” Kulepaskan tanganku dan menjauhkan wajahku dari hadapannya.
*********
“Kyuhyun-ah kenapa Mi So ada di sini?” tanya Donghae saat melihat siapa yeoja yang ada di sampingku. “Wah Kim Mi So, apa kau juga salah satu fans Kyuhyun? Ckckck, hebat sekali kau Kyuhyun bisa menaklukkan yeoja secantik dia.” Sambung Eunhyuk sambil menggoda yeoja itu. Langsung saja Kim Mi So berteriak di sebelah kupingku.
“Apa kau bilang? Aku fans dari namja setan ini? Cih, sampai mukamu berubah menjadi tampan pun aku tidak akan menyukainya,” balasnya. “Aku kan memang sudah tampan Mi So-ah. Kau tidak melihat aura yang bersinar dari diriku?,” jawab Eunhyuk sambil menunjukkan gummy smile-nya. “Tampan? Apa kau tidak pernah berkaca? Sudahlah Eunhyuk, lebih baik kau diam atau aku akan menjitakmu dengan kekuatan penuh,” balas yeoja itu kesal.
Aku tertawa geli mendengar pertengkaran mereka yang tidak bermutu. PLAK! Kurasakan kepalaku dipukul dengan sangat kencang, “YA! APPO!” teriakku sambil mengusap-usap kepalaku yang mulai berdenyut. Dasar yeoja gila. Apa dia mau membuatku lupa ingatan. Belum aku membalas pukulannya dia sudah memalingkan wajahnya dan memutar lagu kencang-kencang. Bahkan aku masih bisa mendengar lagu apa yang dipasang melalui headsetnya.
Aku memandangi wajahnya yang sedang tertidur. Diam-diam kuambil kameraku dan kupotret wajahnya. Setidaknya selama 2 hari ini aku harus mengumpulkan banyak memori tentang dirinya, sebelum… Hah, sudahlah lupakan saja. Kusingkirkan anak-anak rambut yang kurasa mengganggu dari dahinya. “Kyuhyun-ah. Kau benar-benar sedang jatuh cinta ternyata,” ucap Eunhyuk yang sedari tadi bersama Donghae memperhatikan tingkahku. “Jatuh cinta? Mungkin kau benar,” ucapku sambil ikut memejamkan mataku.
Tak lama aku merasa bahwa bis ini berhenti. Mungkin sudah sampai. Tapi belum mataku terbuka dengan sempurna, kurasakan injakan keras di kakiku. “AISSSSH! Neomu appo.. Awas kau Kim Mi So,” teriakku kepada yeoja itu. Dia menjulurkan lidahnya dan cepat-cepat turun dari bis. Kau ingin kabur rupanya, tak akan ku biarkan.
“Woah, daebak. Penginapan ini lumayan juga ternyata,” seru Eunhyuk dengan wajah noraknya. Kami pun berjalan memasuki halaman penginapan. Memang benar, penginapan ini jauh dari yang aku bayangkan. Halaman yang luas serta aula dan ruang makan yang langsung menghadap pemandangan kota di bawah. Ditambah dengan sungai kecil dan hutan pinus di sekeliling penginapan.
“Ayo cepat kita ke kamar. Berhentilah mempermalukan diri kalian,” ucapku sambil menarik kerah kemeja Donghae dan Eunhyuk. “Ya! Kyuhyun-ah lepaskan kami,” teriak Donghae sambil terus meronta-ronta. Hahaha, karena tidak tega kulepaskan cengkraman tanganku dari kerah mereka berdua. “Salah apa aku bisa bersahabat dengan namja setan seperti dia,” seru Eunhyuk sambil mengusap-usap lehernya yang sepertinya tercekik kerah kemeja yang kutarik tadi. Aku pun tertawa mendengarnya.
Saat menaiki tangga, kami berpapasan dengan Mi So dan Yung Mi. Terlihat bahwa yeoja itu sangat kaget dan dia menahan lengan sahabatnya untuk tidak menuruni tangga. Aku menyeringai ke arahnya. Kau tidak akan bisa kabur, batinku.
*********
“Anak-anak, malam nanti kita akan mengadakan acara api unggun, maka dari itu saya akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama tugasnya menyiapkan makan malam nanti, anggotanya Seo Jun, Choi Siwon, Park Yura….” Kim seongsaenim mulai membagi kami ke dalam kelompok. Dengan malas aku mendengar ocehannya.
“Kelompok 4 meyiapkan tempat untuk api unggun,yaitu Jung Hwa, Shin Ji, Kim Kibum, Eunhyuk, dan Kang Yung Mi,” lanjut Kim seongsaenim. “Yaaaa! Aku tidak mau sekelompok dengan monyet yadong itu,” teriak Kang Yung Mi tiba-tiba sambil menunjuk Eunhyuk. HAHAHA! Polos sekali yeoja itu. Kulirik wajah sahabatku yang dipanggil monyet oleh yeoja itu tadi. “Aiiish, yeoja gila. Masa wajahku yang tampan ini dibilang mirip monyet,” ucap Eunhyuk kesal. “Kau ini memang mirip monyet Eunhyuk-ah,” ucapku yang langsung membuat suasana semakin riuh. Eunhyuk dengan tampang bodohnya melemparkan tatapan maut ke arahku.
“Ya setan! Berhentilah menertawaiku,” ujar Eunhyuk sambil mengerucutkan bibirnya. Kim seongsaenim pun kembali melanjutkan pembagian kelompok, “Dan kelompok selanjutnya bertugas untuk mencari kayu bakar untuk api unggun nanti, anggotanya Lee Donghae, Hyeonsung, Kim Mi So, dan Cho Kyuhyun.” Senyuman lebar langsung menghiasi wajahku. Kamsahamnida seongsaenim.
********
Aku masih bisa melihat dari ujung mataku bahwa yeoja ini terus-menerus mengerucutkan bibirnya. Mungkin dia kesal harus mencari kayu bakar, apalagi bersamaku. Seharusnya dia tahu bahwa kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama, jadi tak ada gunanya menjauh dariku. Seharusnya kami mencari kayu berempat, bersama Donghae dan Hyeonsung. Sengaja sebelum berangkat aku meminta Donghae untuk berpisah dari kami berdua.
“Kau gila Kyuhyun-ah? Shireo! Aku sahabatmu, jadi aku tahu jalan pikiranmu. Tak mungkin aku meninggalkan kau berdua dengan yeoja itu,” seru Donghae. Kalau bukan untuk yeoja bodoh itu aku tidak akan memohon kepada namja ikan dihadapanku. “Ayolah Donghae-ah, sekali ini saja. Biarkan aku bersama dengan yeoja ini. Lagipula aku kan bukan si monyet yadong itu, jadi kau tenang saja. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang akan mencelakai yeoja itu,” ucapku putus asa.
“Tapi..” ucap Donghae dengan ragu-ragu. “Jebal Donghae-ah, kau tahu betul kan rencana appaku. Kesempatan untukku cuma dua hari ini.” Donghae berpikir sejenak. “Baiklah, akan kuturuti permintaanmu.”
Jadilah sekarang dia terdampar berdua denganku di tengah hutan. BRUK! Kim Mi So kembali menendang batu kerikil ke arahku. Anak ini benar-benar menguji kesabaranku. “Aissh, kau ini sedang apa sih? Apa kau ini memang tidak bisa diam?” aku berbalik ke arahnya. Tapi yeoja di hadapanku ini menghiraukan ucapanku dan dengan cemberut berjalan mendahuluiku. Sekarang wajahnya berhadapan denganku.
“Ndo! Cho Kyuhyun! Kau harus tanggung jawab! Gara-gara kau kita terpisah dengan Donghae dan Hyeonsung,” ucapnya sambil mengarahkan telunjuknya di depan hidungku. Kenapa sih yeoja ini tidak berhenti menyebut nama Donghae. Membuatku kesal saja. Aku berjalan melewatinya dan sengaja tidak memandang wajahnya.
“Ya Kyuhyun-ah aku sedang bicara kepadamu,” teriaknya kembali sambil menahan lenganku. Aku memandangnya dengan tajam. “Kau ini berisik sekali. Kalau kau begitu kesal karena kehilangan Donghae cari saja sana sendiri, sekarang aku akan mencari kayu bakar dan kembali ke penginapan. Terserah kau mau ikut apa tidak,” ancamku sambil menepis tangannya yang mencengkeram lenganku. Tuhan, kenapa kau membuat hatiku terikat kepada yeoja yang suka sekali memancing emosiku ini. “Kyuhyun-ah!! Tunggu aku!!” teriaknya.
Akhirnya mulut yeoja ini berhenti mengoceh. Kukira Cuma Ahra noona satu-satunya yeoja yang bermulut tajam. Ternyata Kim Mi So juga tidak kalah menyebalkan dengannya. Aku membayangkan bagaimana kalau dua yeoja itu bertemu? Pasti dunia ini tertutupi suara cempreng mereka. Matahari senja mulai terlihat. Sudah berapa lama kami mencari kayu bakar? Aissh babo kau Kyuhyun-ah.
Aku berbalik, sepertinya kayu bakar kami sudah cukup. Baru saja aku mau meneriaki yeoja itu, mataku menangkap adanya lubang di depan kaki Kim Mi So. Otakku mengatakan yeoja ini tidak menyadari keberadaan lubang itu. Sedetik kemudian aku berlari ke arahnya. Jantungku terasa berhenti berdetak. Tidak mungkin aku biarkan yeoja ini kembali terluka di depan mataku.
“Akkkhhh,” teriakannya bersamaan dengan tubuhku yang siap menangkapnya. Namun sial, kakiku terpeleset dan membuat kami berdua jatuh ke dalam lubang. Tak kuhiraukan rasa sakit yang menjalar di punggungku. Mataku memperhatikan sekujur tubuh yeoja itu, takut ia terluka. Mata Kim Mi So masih terpejam. Mungkin dia belum menyadari kalau dia jatuh di atas badanku.
“Baboya! Kapan sih kau berhenti mencelakai dirimu sendiri?” teriakku. Rasa cemas tadi berubah menjadi rasa kesal yang memuncak. Dia membuka matanya, dengan tatapan terkejut dia menarik badannya menjauhiku. Aku berdiri dan membersihkan pakaianku sesaat.
“Mianhae,” ucapnya pelan, hampir tak tertangkap telingaku. Aku memandang wajahnya sejenak dan berlutut di hadapannya. “Gwenchana?” tanyaku khawatir. ”Nde, Gwenchana. Apakah kau terluka? Apakah ada yang sakit? Mianhae, tadi aku tidak memperhatikan jalan,” ucapnya. Kurasakan bahwa jantungku sudah berfungsi kembali saat tahu bahwa dia baik-baik saja.
“Tentu saja badanku sakit. Kau tidak tahu seberapa berat badanmu?” ucapku asal. “Ya! Apa maksudmu namja setan? Badanku ini termasuk ringan!” balasnya kesal. Aku menghela nafas sekali. Dalam keadaan seperti ini saja, yeoja ini masih mau menguji kesabaranku. “Terserah kau saja lah. Apa kakimu tidak apa-apa? Kakimu masih belum sembuh benar kan? Apa kau bisa jalan?” tanyaku.
Apakah kerja otaknya sangat lambat? Sampai-sampai keadaannya sendiri pun lama sekali disadarinya. Dengan tidak sabaran aku berlutut membelakanginya. “Mau apa kau Kyuhyun-ah?” tanyanya heran. Ingin sekali aku menjitak kepalanya. “Naiklah, aku akan menggendongmu sampai tempat penginapan,”
“ Tidak usah Kyuhyun-ah, aku masih bisa berjalan,” ucapnya kaget. Apakah yeoja ini juga lupa bahwa aku tidak menerima segala bentuk penolakan. Tanpa menggubris perkataannya, aku menarik tangannya mendekatiku.
“Sudah tidak usah cerewet. Naik saja dan pegangi kayu-kayu ini. Kita kembali ke penginapan sekarang.” Dan aku pun menggendongnya. Keberadaan Kim Mi So di punggungku membuatku semakin tidak ingin melepasnya. Apakah aku terlalu egois, bila aku menginginkanmu untuk terus bersamaku?
*********
“Mi So-ah!! Kau kenapaaaaa??” teriak seorang yeoja yang sedang berlari ke arah kami. Sadarkah yeoja gila itu bahwa suaranya menarik perhatian orang-orang? Dasar! Pantas saja mereka bersahabat. Sama-sama bodoh rupanya. Kurasakan Mi So semakin menundukkan kepalanya. “Yung Mi-ah, jangan teriak seperti itu, sangat memalukan kau tau?” ucap yeoja di punggungku ini kesal.
“Biar saja. Cho Kyuhyun apa yang kau lakukan terhadap Mi So? Hah?” teriak Yung Mi kesal sambil memukul-mukul kepalaku. “Ya Ya! Apa-apaan kau ini? Sakit tau,” teriakku tak kalah kencang sambil berusaha menghindari pukulannya. “Kalian berdua ini kenapa sih? Berhenti!” ucap Mi So panik karena takut terjatuh dari punggungku yang bergoyang-goyang karna menghindari pukulan dari yeoja gila dihadapanku ini.
Dengan kasar aku menurunkan Mi So dari punggungku. “Dasar yeoja gila! Seenaknya saja memukulku. Lihat temanmu ini, kalau aku tidak menolongnya sekarang dia pasti pincang lagi,” teriakku kesal. Berani sekali dia memukul kepalaku, padahal sahabat tercintanya ini sudah kutolong. Sedetik kemudian aku berbalik menghadap Kim Mi So. “Kau juga menyusahkan saja,” Aku pun langsung melangkahkan kaki menjauhi kumpulan yeoja gila itu.
Acara api unggun pun dimulai, kami bersenang-senang bersama karena ini kan malam terakhir kami berkumpul seperti ini. Aku sengaja menjaga jarak dengan Mi So. Ku keluarkan kameraku dan memotret dirinya. Senyum itu, apakah aku masih bisa melihatnya sehabis malam ini? “Ya, kau memotretnya lagi?” ucap Eunhyuk yang tiba-tiba datang dan merangkul bahuku. “Hmm” Aku bergumam singkat menanggapi pertanyaannya.
“Kau benar-benar mencintainya Kyu,” sambung namja di sampingku ini. Perlahan aku melirik Eunhyuk dan kupukul kepalanya dengan kayu yang ada di dekatku. “Kenapa kau memukulku?” ucapnya tidak terima. “Kau tahu? Kata-kata yang kau ucapkan tadi terdengar menjijikan di telingaku. Mulai besok jangan terlalu dekat dengan namja ikan itu. Bisa-bisa kau terkontaminasi dengan virus sok romantisnya,” ucapku sambil mengalihkan kembali fokusku memotret Mi So.
“Aku serius kali ini, Kyu. Kau memang benar-benar mencintainya. Aku bisa melihat dari tatapan matamu.” Kali ini aku menghentikan lagi kegiatan memotretku. Segamblang itukah perasaanku terlihat orang lain? Tapi kenapa yeoja itu tidak juga menyadarinya? Batinku dalam hati. “Cih! Tidak usah menasihatiku. Lagipula tahu apa kau tentang cinta? Jatuh cinta saja belum pernah….” Tiba-tiba seperti ada yang memukul kepalaku. Jangan-jangan.. “Jangan bilang kalau ada yeoja yang berhasil mencuri hatimu? Aigoo, jinjjayo?” ucapku sambil menatap namja monyet itu.
Eunhyuk terlihat kelabakan dan salah tingkah. “HAHAHAHA! Jinjjayo?? Eiiiiy siapa yeoja beruntung itu?” godaku sambil menyenggol lengannya. “Bukan urusanmu namja setan.” Eunhyuk buru-buru pergi dan menghampiri Donghae.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah sahabatku itu. Ternyata dia bisa jatuh cinta juga toh. Aku pun melanjutkan kegiatanku yang tadi tertunda gara-gara namja monyet itu. Namun kali ini tanpa kamera. Aku terus memandangnya. Biar saja tertangkap basah olehnya. Sudah berkali-kali mata kami bertemu, tapi dia dengan cepat memalingkan wajahnya.
Apa aku harus berteriak? Tidak sadarkah dia dengan gerak gerikku selama ini? Yeoja ini benar-benar tidak peka. Aku tidak menggubris hal-hal lain yang berusaha melepaskan pandanganku darinya. Aku hanya ingin merekam memori sebanyak-banyaknya tentang dirinya. Wajahnya, matanya, hidungnya, senyumnya, semua dari dirinya. Biarlah kupuaskan dulu, biar nanti kalau aku pergi, wajah itu tidak terlupakan oleh otakku.
“Ya anak-anak sekarang sudah malam kalian bisa pergi tidur, tapi sebelum itu kalian harus membereskan ini semua,“ ujar Kim Seongsaenim tiba-tiba. Dan detik itu juga aku melihat Kim Mi So berjalan cepat menuju kamarnya.
.
*********
Pagi-pagi benar Kim seongsaenim mengetuk pintu kamarku. “Kyuhyun-ah, ayahmu menelepon. Keluarlah dan terima telepon dari ayahmu.” Sial! Sengaja kumatikan ponselku agar appa tidak mengganggu hariku dengan memberi kabar buruk. Dengan malas aku keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
“Kenapa appa menelponku pagi-pagi buta seperti ini?” ucapku langsung to the point. “Cho Kyuhyun! Kenapa ponselmu tidak aktif? Appa mencoba menghubungi nomormu dari kemarin.” Aku menghela nafas. “Baterai ponselku habis. Aku lupa bawa charger,” ucapku berbohong. “Baiklah. Dengarkan appa. Kau tahu kan bahwa kita sekeluarga akan pindah ke New York? Keberangkatan kita dipercepat, bukan 2 minggu lagi, melainkan seminggu lagi.” Hatiku mencelos saat mendengar perkataan appa.
“Maka dari itu sepulang kau dari sana, kita akan mengurus semuanya. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai. Arasseo?” tanya appa penuh dengan penekanan. Aku menghela nafasku sekali lagi. “Arasseo appa.” Setelah itu percakapan kami pun berakhir.
Tidak kusangka kepindahan kami dipercepat. Aku tidak rela meninggalkan korea. Aku tidak rela meninggalkan gadisku di sini. Tunggu, apakah bisa aku menyebut dirinya dengan katagadisku? Appa benar-benar sukses membuat anaknya menderita. Kulangkahkan kakiku keluar, berharap suasana di sini mampu membuatku berpikir jernih kembali.
Jalanan yang kutapaki semakin menanjak dan aku pun tidak peduli. Sudah daritadi aku berjalan tanpa arah. Aku tidak bisa berpikir. Benang kusut di otakku tidak dapat terurai. Tiba-tiba mataku menangkap hamparan putih di ujung bukit sana. Tanpa pikir panjang kakiku melangkah menuju hamparan putih yang tertutup pohon-pohonan tersebut.
Woah! Apakah benar yang kulihat ini? Di depanku terpampang hamparan bunga dandelion. Aku berjalan ke ujung dan dapat kulihat pemandangan seluruh kota dari atas sini. Perlahan aku duduk dan merebahkan kepalaku memandang awan. Tuhan memang adil. Disaat aku mempertanyakan seluruh perasaanku, dia menjawabnya dengan pemandangan ini. Kututup mataku sejenak.
Kenapa wajah yeoja itu selalu ada di kepalaku? Kenapa jantungku tidak bekerja dengan normal saat berada di dekatnya? Kenapa aku merindukan senyumnya, padahal senyuman yeoja itu terlihat bodoh? Kenapa aku terlihat seperti orang bodoh saat membiarkan yeoja itu terluka di hadapanku?
Pertanyaan itu terus-menerus berputar di benakku. Aku tersenyum dan memandang bunga dandelion di sampingku. Jawabannya mudah. Kau mencintai yeoja itu Cho Kyuhyun. Benar-benar mencintai bunga dandelionmu.
***************
Tidak terasa sudah berjam-jam aku berada di sini. Tenyata memang ketenangan yang kubutuhkan sekarang. “Neomu yeppeo!!” Perlahan kubuka mataku yang sedari tadi terpejam. Aiiish bisakah yeoja ini berhenti mengganggu ketenanganku. “YA! Kau ini selalu tidak bisa diam ya? Suara cemprengmu itu bisa menerbangkan semua bunga dandelion disini!” teriakku.
“Kenapa sekarang kau malah bengoong? Dasar babo,” ucapku sambil bangun dari posisi tidurku tadi. Terlihat jelas di wajahnya bahwa dia kaget dengan keberadaanku. “Kyuhyun? Sedang apa kau di sini?” tanyanya. Aku mengacak-acak rambutku, berusaha membersihkannya dari serbuk-serbuk bunga dandelion. “Mencari ketenangan. Tapi sekarang tempat ini menjadi ramai karenamu,” ucapku sambil melirik ke arahnya. Tunggu saja, sebentar lagi dia pasti balas berteriak.
“Kau ini berlebihan sekali. Mana mungkin cuma gara-gara satu orang sepertiku membuat tempat ini menjadi ramai.” Bingo! Tepat dugaanku. Aku menanggapi ucapannya dengan menyeringai. “Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kemarilah,” ujarku sambil menepuk-nepuk tempat disampingku.
Dengan ragu dia mendekatiku. Tidak sabar dengan kerja otaknya yang lambat aku menarik tangannya agar duduk di sampingku, “duduklah.” Sudah lima menit tidak ada yang berbicara. “Kim Mi So, apa kau menyukai bunga dandelion?” tanyaku. “Nde!” jawabnya cepat sambil tersenyum ke arahku.
“HAHAHA! Berhentilah memandangku dengan wajahmu yang seperti itu. Kau semakin mirip anak anjing hahaha,” Dia menggembungkan pipinya karena kesal. Aigoo, yeoja ini benar-benar lucu dan tanpa sadar aku mencubit pipinya. “Aaah! Appo Kyuhyun-ah! Berhentilah mencubit pipiku,” ujarnya kesal. “Karena itu berhentilah melakukan hal-hal yang menggemaskan di depanku,” aku berbisik pelan di telinganya. Saat itu juga semburat merah di pipinya terlihat. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Aku melepaskan cubitan di pipinya dan kembali memandang yeoja di sampingku ini. Bisakah kau tetap duduk di sampingku sampai kapan pun?
Mi So semakin menundukkan wajahnya. Saat itu kulihat tengkuk lehernya yang putih. “Kim Mi So,” panggilku. “Nde?” Dengan pelan dia mendongakkan kepalanya menatapku. “Aku tidak suka kalau kau mengikat rambutmu seperti ini.” Sedetik kemudian aku sukses menarik ikatan rambutnya, membiarkan rambut ikalnya jatuh tergerai menutupi punggun yeoja itu
“Apa-apaan kau ini Kyuhyun-ah,” omelnya. “Aku hanya membuatmu terlihat lebih menarik,” jawabku santai. Ditambah aku tidak senang kau memperlihatkan tengkukmu kepada namja lain. Cukup aku saja namja yang melihat dan mengagumi tengkuk lehermu, batinku. Sesaat keheningan kembali menyelimuti kami. Angin berhembus perlahan, membuat suasana semakin nyaman. Perlahan Mi So menutup kedua matanya. Angin menerpa wajahnya ringan dan perlahan memainkan rambutnya yang tergerai. Sekali lagi jantungku terasa berhenti.
“Neomu yeppeo,” tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu dari bibirku. Sepertinya otak dan mulutku tidak dapat bekerja sama dengan baik. Matanya pun terbuka dan berbalik menghadapku, “ tadi kau bilang apa Kyuhyun-ah?” tanyanya. “Aniyo. Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawabku sambil berusaha mengontrol suaraku yang sedikit bergetar. Kali ini giliran pipiku yang tidak dapat bekerja sama. Karena kurasakan kedua pipiku ini memanas. Apalagi tatapan matanya masih berusaha mencari kebenaran dari wajahku.
“Berhentilah memandangku seperti itu Mi So-ah. Aku tahu kalau aku ini tampan,”ucapku agar dia mengalihkan matanya dari wajahku. Tiba-tiba mataku menangkap setangkai bunga dandelion. Aku memetik setangkai bunga dandelion. “ Ini, untukmu.” Ku sodorkan bunga itu ke tangannya. Mi So masih membulatkan kedua matanya. “ Untukku?” tanyanya bingung. Aku menganggukkan kepalaku sekali.
Dia mengambil bunga dandelion itu walau wajahnya masih terlihat bingung. “ Mi So-ah. Apa kau mau tahu satu rahasia?” tanyaku sambil menatap langit. “Aku juga sangat menyukai bunga dandelion, sama sepertimu,” lanjutku. Terlihat bahwa yeoja itu mau memotong perkataanku. “Untuk kali ini diamlah sebentar. Belajarlah untuk mendengarkan,” Ucapku tidak sabar dan kulihat mulutnya tertutup kembali dengan rapat.
“Apa kau tahu, sebelum bunga dandelion berubah menjadi putih dan rapuh seperti ini, mereka berwarna kuning, cerah dan kuat?” Dia menggeleng pelan. “Bunga dandelion sebenarnya berwarna kuning cerah, lama-kelamaan bunga ini mengering dan gugur, kemudian muncullah serbuk-serbuk putih ini,” aku kembali melirik yeoja di sampingku. Mengecek apakah yeoja ini mengerti ucapanku atau tidak, melihat dari kemampuan otaknya selama ini aku meragukannya. Namun dia terlihat menyimak dengan baik. Aku pun melanjutkan kata-kataku.
“ Aku tidak pernah memperhatikan bunga ini secara serius, tapi semua berubah saat satu yeoja bodoh dengan seenaknya masuk ke dalam kehidupanku,” Sengaja aku berhenti sesaat dan tersenyum.
“ Bagiku yeoja ini menggambarkan bunga dandelion. Awalnya memang tidak terlihat namun semakin hari terus menarikku dengan pesonanya. Selalu berusaha untuk tegar dan sok kuat. Tidak pernah ingin terlihat lemah. Tidak pernah mau kalah dengan keadaan. Sama dengan bunga dandelion, walaupun dia mengering dan mati namun tetap bertahan bahkan berubah menjadi sosok bunga yang luar biasa.” Aku sudah benar-benar gila. Yeoja ini berhasil merubah perbendaharaan kata-kataku terdengar menjijikan seperti ini.
“Bunga dandelion membuatku selalu tersenyum, sama seperti yeoja ini yang selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Termasuk aku. Walau terkadang dia itu sangat bodoh dan menyebalkan,” Kulirik dia sebentar, “namun saat melihat dia tersenyum rasanya seperti ada yang memompakan semangat masuk ke dalam diriku. Yeoja ini seperti vitamin untuk diriku, seperti narkoba yang membuatku kecanduan. Yeoja ini bunga dandelionku.”
Aku memaklumi tatapan Kim Mi So kali ini. Pasti dia berpikir, bagaimana bisa seorang namja setan sepertiku mengeluarkan kata-kata yang biasanya dapat kau dengar di film-film. Jangan tanyakan hal itu kepadaku. Karena aku juga tidak tahu. “Ya! Mi So-ah! Kenapa kau bengong seperti itu? Kau terpana mendengar kata-kataku? Hahahaha, aku ini namja romantis kan?” ucapku membuyarkan lamunannya. “Cih! Sekali namja setan tetap namja setan. Tidak bisa diganggu gugat,” ujarnya.
“Arra, arra terserah kau saja,” ucapku sambil mengacak rambutnya perlahan. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benakku. Aku menarik yeoja ini agar ia berdiri, “Ya! Kenapa kau menarikku?“ teriaknya di kupingku. Jinjja, yeoja ini suka sekali berteriak, persis seperti noonaku yang galak itu. ” Berhentilah berteriak. Apa kau memang ingin membuatku tuli?” ucapku sedikit kesal. “Makanya jangan membuatku kaget seperti tadi,” ujarnya pelan. Aku tidak tahan untuk mengeluarkan seringai setanku. “Memang kenapa kalau aku memegang tanganmu? Apa kau deg-degan? Hah?” kataku sambil mendekatkan wajahku ke depan wajahnya.
“Berhentilah menggodaku Cho Kyuhyun, sebenarnya kau mau apa?” Dengan tanganku yang bebas aku memetik dua bunga dandelion dan menyodorkan salah satunya ke yeoja bodoh ini. Dia menerimanya dengan wajah bingung. “ Kata orang bunga dandelion bisa mengabulkan permintaanmu. Tutup matamu dan ucapkan dalam hati apa yang kau inginkan lalu tiup bunga dandelion ini, dan harapanmu pasti akan terkabul. Ayo cepat kita lakukan sama-sama,” Ucapku.
Mi So tersenyum sesaat dan sukses membuatku terpana beberapa detik. Yeoja di sampingku ini menutup matanya. Sepertinya dia benar-benar mengucapkan permintaan.Maafkan aku yang begitu egois. Aku sangat membutuhkan gadis ini. Dia adalah hidupku. Buatlah dia terikat selamanya denganku dan terus berada di sampingku. Sesederhana itu.Aku pun meniup bunga itu dan kembali memandang siluet indah di hadapanku. Bisakah aku membawa keindahan ini ke New York?
Perlahan dia membuka matanya dan meniup bunga dandelion di tangannya. Tanpa sadar bibirku membentuk sebuah senyuman. Mi So mengalihkan tatapannya dan balik menatap mataku. Bisakah aku menghentikan waktu?
Tiba-tiba dari arah belakang ada suara yang memanggilku dan Mi So. ” Kim Mi So! Cho Kyuhyun! Lihatlah kemari,” spontan kami menengok ke belakang dan lupa bahwa kami masih saling berpengangan tangan. Sekelebat sinar putih dari kamera meliputi penglihatanku…
*FLASHBACK END
******
Aku memeluk foto yang kini berada di genggamanku. Eunhyuk pagi itu mengambil kameraku diam-diam, sengaja memotret momenku berdua dengan Kim Mi So dan aku bersyukur dia melakukannya. Sudah lima tahun aku meninggalkan Korea. Meninggalkan yeoja yang dengan rakus menempati seluruh hatiku sampai tak tersisa untuk gadis lain. Cinta. Satu kata klise. Tak mengenal usia, tempat,maupun waktu. Gadis itu dengan berani merebut hatiku jauh di saat aku belum mengenal satu kata klise tersebut.
Apakah dia tetap menungguku dengan bodohnya selama lima tahun ini? Baru kali ini aku mengharapkan kebodohan tidak berkurang dari dirinya. Apakah dia masih mengingat wajahku? Apa dia masih mengingat bahwa ada namja bernama Cho Kyuhyun di bumi?
KRIIING! Suara ponsel membuyarkan semua lamunanku. Dengan malas aku berdiri dan mengambil ponselku. ”Hello?” Ucapku sambil mendekatkan ponsel ke telingaku. ”ANNYEONG ADIKKU YANG TAMPAN!!!!” Suara cempreng Ahra noona bergema di telingaku. Sontak kujauhkan ponsel demi keselamatan gendang telingaku.
”Ya! Noona! Bisa tidak kau berhenti meneriakiku? Kau benar-benar mau membuat telingaku tuli hah?!!” teriakku tidak kalah kencang. ”Aigoo, dongsaengku ini memang menyebalkan. Apa kau tidak merindukan noona-mu yang paling cantik ini? Bogoshippo Kyuhyun-ah,” ucap kakakku manja. ”Hahaha! Hentikan tingkahmu itu. Sangat menjijikan kau tahu. Yeoja galak sepertimu tidak pantas bermanja-manja seperti itu,” ledekku sambil menjauhkan ponsel dari telinga, karena sebentar lagi dia pasti kembali berteriak.
”DASAR SETAN KECIL!! KAU MEMANG TIDAK PERNAH BERUBAH!! Padahal aku punya kabar baik untukmu. Lebih baik kumatikan saja telepon ini sekarang!!!!” Aku kembali mendekatkan ponsel ke telingaku, ”memangnya kau punya kabar baik apa noona?” tanyaku. Hening. Tidak terdengar satu suara pun dari seberang. ”Cho Ahra. Apa kau masih di sana? Ya ppali. Jangan diam saja,” ucapku kembali. Tetap tidak terdengar balasan dari noona ku. ”Cho Ahra! Kau mendengarku kan? Kau tidak tuli kan noo…”
”Appa meminta kau kembali tinggal di Korea bersama kami.” Ucapnya memotong perkataanku. ”MWOOOOOOOOO?!!!!” Gantian aku yang berteriak dan membuat Ahra noona menutup teleponnya sambil mengumpat.
-The End-
Gimanaaaaaaaaaaaaa????? Udah jelas kan perasaan Kyu yang sebenernya?
Akhirnya gantung? Sengaja :p *ditimpuk reader*
Ada sequel gak ya?? hehehe. Butuh inspirasi dulu nih dari pacar author *peluk Kyuhyun * ![]()
Gomawo reader yang masih setia nunggu fanfic ini *deep bow with Kyu*

Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 5a [Sequel of "My Dandelion"] | Kyutiramisu
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 5a [Sequel of "My Dandelion"] | FFindo
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 5b [Sequel of "My Dandelion"] | Kyutiramisu
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 5b [Sequel of "My Dandelion"] | FFindo
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 6 [Sequel of "My Dandelion"] | FFindo
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 6 [Sequel of "My Dandelion"] | Kyutiramisu
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 7 [Sequel of "My Dandelion"] | Kyutiramisu
Pingback: (KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 7 [Sequel of "My Dandelion"] | FFindo