SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 13B – END)

25 Jul

SIWON THE BOSS (PART 13 B-END)

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-17 (Beware: Kissing Flood)

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me.

Resensi Cerita Lalu

Chapter 1   |    Chapter 2   |    Chapter 3   |    Chapter 4   |   

Chapter 5   |    Chapter 6A   |    Chapter 6B |    Chapter 7   |   Chapter 8

Chapter 9   |    Chapter 10   |    Chapter 11 |    Chapter 12   |  Chapter 13 A   |

Tiffany’s quotes

“Jangan menjelaskan apapun kepadaku. Aku sudah terlalu lelah dengan perasaan ini. Aku tidak bisa lagi bermain-main dengan hatiku sendiri. Aku akui akulah yang pertama kali membuat hubungan kita menjadi tidak jelas seperti ini. Aku menolak lamaranmu dan membuatmu hidup dalam sandiwara yang sengaja dibuat untuk melindungi nama baik masing-masing. Aku begitu bodoh untuk bisa menyadari bahwa akupun memiliki perasaan serupa denganmu. Tapi semuanya terlambat. Kita sama-sama mencari pelampiasan atas rasa sakit hati ini. Aku pergi ke Jepang dan menjadi yeoja yang tidak perduli dengan apapun selain pekerjaanku dan kau menjadi namja Don Juan pemikat hati yeoja. Aku tidak menyukai kenyataan bahwa di sini aku selalu mengingatmu karena penyesalanku tapi di sana kau bermain-main dengan yeoja sesukamu.”  

Flash Back

1.5 Tahun yang Lalu

Seoul, Korea

Malam itu, beberapa hari setelah konferensi pers yang telah menghebohkan dunia hiburan Korea, seorang namja berdiri dengan tegang menghadap seorang pria tua yang tengah duduk di depannya. Ia dengan segala kenekatannya telah merusak segala kesepakatan dengan menemui pria itu di kantornya. Malam yang temaram semakin membuat kedua wajah mereka tambah kelam. Raut yang sama-sama lelah dan putus asa. Kenapa mereka jadi harus saling bersebrangan seperti ini. Berdebat tanpa menemukan titik temu. Bukankah tujuan mereka sama? Bukankah mereka mencintai orang yang sama? Lantas kenapa rasa cinta itu membuat membuat mereka harus melakukan sesuatu yang saling bertentangan?

“Sekali ini, tolonglah katakan kemana Tiffany pergi, Hwang-ssi”

Siwon menatap Tuan Hwang dengan tajam, bukan lagi dengan tatapan memohon seperti sebelumnya. Kali ini ada tekanan memaksa dalam ucapannya.

“Kenapa kau masih tidak mengerti? Kau tahu sendiri aku tidak bisa mengatakannya. Sekretarisku sampai bosan menerima telefonmu. Penjelasannya sudah cukup jelas. Tiffany pergi untuk suatu alasan dan demi kebaikan kalian, kami tidak boleh mengatakan di mana anakku berada,”

Tuan Hwang mencoba mengontrol emosinya sendiri. Andaikata takdir tidak berjalan seperti ini, ia ingin sekali mengatakannya, tapi tidak bisa. Perjanjian sudah disepakati dan ia harus mematuhinya.

Siwon mendesah lelah, sia-sia ia membujuk Tuan Hwang, pendiriannya sangat kukuh seperti Tiffany. Ia akhirnya mengerti dari mana sifat keras kepala yeoja itu berasal.

“Kau tahu aku bisa mencarinya sendiri tanpa meminta bantuanmu.”

“Kumohon jangan melakukannya, jangan coba-coba membentur dinding atau kau akan terluka.”

Tuan Hwang masih berusaha mencegah Siwon untuk mencari tahu kemana Tiffany berada. Ia sedih melihat kenyataan kisah cinta anaknya berakhir mengenaskan seperti ini. Tapi ia sendiri tidak punya pilihan. Nama baik keluarga Hwang dan perusahaannya ikut dipertaruhkan jika ia berdiri dalam posisi sama dengan namja itu.

Siwon masih menatap Tuan Hwang dengan harapan yang mulai menguap. Ia masih mengumpulkan asa yang walau sedikit demi sedikit menghilang dari hatinya. Sudah beberapa hari ini ia berusaha untuk menemui Tiffany tapi yang didapatnya adalah fakta bahwa yeoja itu telah pergi dari Korea. Tidak ada seorangpun yang bisa menjawab kemana ia pergi. Tiffany raib begitu saja. Hatinya tambah sengsara mengingat Tuan Hwang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.

“Mengertilah Siwon, aku dengan senang hati ingin sekali mengatakan dimana Tiffany berada. Jika perlu aku bahkan akan mengantarmu langsung kepadanya. Tapi sekarang kondisinya lain, aku tidak bisa,” Tuan Hwang berkata dengan tegas,” Setelah semua yang kau katakan di konferensi pers itu, kami tidak bisa lagi membuat langkah yang bisa membuat skandal yang sudah mulai menutup ini terkuak kembali.”

Siwon menunduk, ia tidak bisa menerima alasan itu. Bahkan Leetuk, orang yang paling dihormatinya sekalipun sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak memaksakan diri mencari yeoja itu tapi tidak diindahkannya. Tiffany pergi karena kesalahpahaman dan ia ingin menjelaskan semuanya. Ia sekalipun tidak memiliki hubungan dengan Song Hyo Ri, semuanya hanyalah setting yang sengaja dibuat untuk membuat orang-orang tidak mengaitkan Tiffany dengan dirinya.

“Aku ingin menemuinya untuk menjelaskan semuanya. Kesalahpahaman  dan kebohongan ini, aku tidak bisa lagi menahannya. Aku tidak mau Tiffany pergi dengan membawa kekecewaan atas diriku.”

“Aku mengerti, tapi kau telah menyetujui semua rencana ini. Kau telah membuat takdir untukmu sendiri dan takdir itu sayangnya tidak mengikutsertakan Tiffany di dalamnya.”

“Ini bukan takdir, ini hanya skenario yang dibuat manusia. Aku bisa mengubahnya. Aku akan membuat takdir berpihak kepadaku.”

“Dengan membuat teman-temanmu dan keluargamu kembali menderita, apa itu yang paling kau inginkan? Kau mendapatkan Tiffany tapi kau melukai mereka. Terlalu banyak yang akan kau korbankan jika kau mendesak dirimu sendiri untuk mendapatkan anakku. Nama baik perusahaanmu, Super Junior, keluargamu juga keluarga mereka. Bukankah member Suju sudah seperti saudara bagimu. Apakah kau tega membuat mereka kehilangan semua yang telah mereka capai hanya karena keegoisanmu. Ingat kalian saling terkait satu sama lain. Apa yang akan menimpamu akan menimpa mereka juga. Akibatnya akan sangat panjang dan lebih menakutkan. Camkanlah itu!”

Namja itu terdesak, Tuan Hwang telah menyingkap kesadaran yang ia coba hindari. Memang benar, mendekati Tiffany sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Tidak hanya hidupnya tapi juga orang-orang yang menyayanginya. Ia sudah terlanjur mengatakan bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dengan yeoja itu dan sudah memiliki yeoja chingu sendiri. Jika tiba-tiba ia mendekati Tiffany, bukankah itu sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri. Tidak hanya media, bahkan masyarakat akan sadar bahwa Siwon telah berbohong. Citra dirinya juga member Super Junior akan tercoreng.

Siwon mengepalkan kedua tangannya, ia tidak bisa lagi menahan rasa frustasinya. Kenapa meraih cinta ini begitu berliku dan terjal?

“Tiffany pergi karena aku. Setiap hari aku didera rasa rindu dan bersalah. Aku tidak bisa menanggung beban ini lagi. Tapi aku juga tidak bisa melepasnya. Apakah salah jika aku mencintainya dan ingin memilikinya?”

“Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang, tetapi akan menjadi salah jika rasa ingin memiliki itu membuatmu harus mengorbankan orang-orang yang kau sayangi. Orang-orang yang begitu menyayangimu dan selalu mendoakanmu setiap saat. Apakah itu balasan yang akan kau berikan pada mereka? Tiffany juga akan menderita seandainya kau memaksakan diri untuk mendekatinya. Ia mungkin akan menerimamu. Tapi bagaimana ia bisa hidup tanpa harga diri karena seluruh Korea mencibirnya? Mungkin saat ini kau merasa bisa melewati itu semua tapi percayalah hidup tanpa harga diri itu begitu menyedihkan.“

Tuan Hwang mencoba menggoyang kekukuhan namja itu. Ia sesungguhnya sangat mengerti perasaan Siwon.

“Aku berani menanggung resikonya.”

“Tapi aku tidak akan membiarkan anakku menderita!”

“Maksud Hwang-ssi?,” Siwon mendongak mendengar kalimat penuh ketegasan yang datang dari mulut Tuan Hwang.

“Jika apa yang kau lakukan membuat Tiffany menderita, aku akan melakukan segala cara untuk mencegahmu mendekatinya.”

“Begitukah?,” Namja itu berucap tak percaya, bahkan Tuan Hwang telah berbalik menentangnya.

“Mianhae Siwon, kita dalam posisi bersebrangan sekarang. Aku selalu bermimpi bahwa kau akan menjadi menantuku. Tapi jalan hidup berkata lain, kau harus melangkahiku dulu sebelum mendekati Tiffany.”

Siwon terpana dengan pernyataan penuh ancaman dari Tuan Hwang. Ia tidak menyangka bahwa Tuan Hwang yang dihormatinyapun kini benar-benar menentangnya. Rasa frustasi itu semakin membuncah karena member Super Juniorpun sudah tidak mendukungnya lagi untuk mendekati Tiffany. Ia teringat ketika dengan hati-hati ia memohon ijin mereka untuk mencari yeoja itu.

“Sadarlah Siwon, setelah apa yang dilakukan Tiffany kepadamu. Kau masih ingin mengejarnya? Ingat dialah yang menolakmu, dialah yang melepaskanmu. Apakah kau masih punya harga diri untuk mengejar yeoja yang jelas-jelas telah mengabaikanmu dan membuatmu kesulitan seperti ini”

Deg, ucapan Heechul membuat  harapannya pupus. Ia sadar member Super Junior merasa sakit hati atas penolakan Tiffany terhadap lamarannya tempo lalu. Mereka telah begitu berharap bahwa ia dan Tiffany menikah sehingga persoalan skandal ini tuntas sudah. Tapi ternyata yeoja itu malah menolaknya dan masalah menjadi lebih kompleks dari sebelumnya.

“Aku tidak ingin menjelekkan Tiffany tapi kemana dia ketika kau sedang membutuhkannya? Ia malah pergi meninggalkanmu dengan memberikan setumpuk masalah yang harus kau selesaikan sendiri. Skenario ini, kebohongan ini, harus kau jalani sendirian hanya untuk melindungi namanya. Lantas inikah balasannya?,” Hanggeng yang selama ini tidak terlalu banyak bicara ahirnya mengucapkan kalimat ketidaksetujuannya.

“Aku mencintainya. Hanya itu alasannya,” Siwon menjawab pendek. Semua argumen mereka terasa benar di otaknya tapi kenapa hatinya menentang itu semua.

“Lantas apakah ia mencintaimu? Jika kau pun bisa menemukannya, apakah ia akan membalas perasaanmu?,” kali ini giliran Donghae yang mengingatkannya. Dengan sangat menyesal Donghae yang paling merestui hubungan inipun berbalik menolak harapannya.

Leetuk mencoba lebih bijak,”Aku mengerti perasaanmu, cinta memang aneh. Tapi kalian berdua telah membuat keputusan. Media sekarang sudah ramai-ramai menceritakan hubunganmu dengan Hyo Ri, suatu langkah bagus untuk membuat publik melupakan skandalmu dengan Tiffany. Jika kau ingin mendekati dia kembali, tidakkah itu membuat semuanya menjadi lebih buruk.“

Saat itu Siwon hanya bisa diam, ia tidak bisa membantah semua perkataan Hyung-nya. Logikanya sangat menyetujui apa yang dikatakan mereka, tapi hatinya berkata sebaliknya.

“Tolong katakan padaku, berapa lama aku harus menunggu supaya aku dan Tiffany bisa bersama?, ”Siwon masih berusaha mengais-ngais harapan, “Berikan aku waktu, setahun, dua tahun, lima tahun atau lebih. Berapapun! Asalkan aku masih diberi kesempatan untuk mendapatkannya, aku akan menunggu Tiffany selama waktu itu.”

Member Super Junior sudah tidak tahu bagaimana cara meyakinkan namja itu. Orang yang mereka kenal begitu logis dan terencana bisa sangat bodoh dan nekat jika menyangkut cinta.

“Kau gila Siwon, perasaanmu telah membutakanmu. Berpikirlah logis, apakah kau mampu menunggunya selama itu,” tanya Leetuk keras.

“Aku memang gila Hyung, aku memang buta. Tapi aku akan menunggunya sampai kapanpun. Aku akan menunggu sampai gossip ini benar-benar reda. Sepuluh tahunpun tidak masalah jika memang itu waktu yang diperlukan untuk menunggunya.”

Rasanya Leetuk dan member Super Junior sudah tidak bisa mencairkan keteguhan sikap Siwon.

“Lalu apa yang kau inginkan dari kami?”

“Aku meminta kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki nama baikku dan Tiffany Hwang. Aku akan melakukan segala cara untuk membuat media sialan itu melupakan namanya dan skandal ini. Aku tidak perduli jika usahaku itu membuatku sangat menderita . Yang kuharapkan hanya supaya cara ini tidak menyentuh kalian dan keluarga kita. Jika nama baikku hancur, aku tidak ada masalah sama sekali karena aku telah bersiap menerimanya. Namaku pernah jatuh di titik nadir, jika namaku harus jatuh lagi, aku sudah pernah mengalaminya dan aku akan lebih tegar kali ini.”

Member Super Junior saling bertatapan mencari kesepakatan.

Siwon tidak mau membuat mereka berpikir terlalu lama,”Sekarang berikanlah aku sebuah angka. Satu tahun, dua tahun, lima tahun? Katakanlah berapa tahun aku harus bersabar menunggunya.”

1 tahun kemudian.

Seoul, Korea

Seperti mengulang pola yang sama yang terjadi 1 tahun lalu, kini namja itu kembali berdiri menghadap seorang pria tua yang tengah duduk di depan meja kerjanya. Tapi jika 1 tahun lalu, ia menghadap pria itu dengan wajah lelah dan putus asa, sekarang ia memiliki sedikit kepercayaan diri untuk mengejar harapannya.

“Aku tahu dimana Tiffany berada. Ia tidak terlalu jauh dariku ternyata.”

Tuan Hwang bertepuk tangan,  plok plok.

“Daebak, kau tidak pernah putus asa rupanya. Bukankah aku pernah mengingatkanmu untuk menjauh darinya.”

“Aku tidak akan pernah menyerah,” jawab Siwon dengan sangat tegas. Selama setengah tahun waktunya dihabiskan untuk mencari keberadaan Tiffany.  Yeoja itu ternyata berada di Jepang dan bekerja di salah satu cabang  Hwang  Company di Tokyo.

“Lalu kau akan menemuinya?”

Siwon mengangguk, “Tapi aku harus meminta ijinmu terlebih dahulu.”

“Ah rupanya kau masih menganggapku.Tanpa aku perlu tahupun, kau sebenarnya bisa bebas menemuinya. Kenapa kau harus meminta ijinku? Tidak takutkah aku akan menolaknya?”

“Aku selalu menganggapmu calon mertuaku. Suka atau tidak suka dengan sikapmu, aku akan selalu menghormatimu.”

Tuan Hwang terkekeh, namja di depannya sudah mulai berani menunjukan posisinya, “Lalu bagaimana dengan koleksi yeojamu itu? Mau kau buang kemana mereka? Calon mertua mana yang bisa dengan mudah menerima fakta bahwa calon suami anaknya adalah Casanova.”

Siwon tersenyum miris, rupanya Tuan Hwang mengikuti semua berita mengenai kedekatannya dengan berpuluh-puluh yeoja cantik di Korea ini.

“Kau telah mengenalku dengan cukup baik Hwang-ssi, kau pasti tahu apa maksud dari semua ini.”

“Siwon the Boss, yang selalu terkontrol dan terencana. Yah dua tahun ini aku sudah cukup mengenalmu. Tidak ada sesuatu yang tidak direncanakan. Semua terjadi bukan karena kebetulan, selalu ada tujuan dibalik semuanya, bukankah begitu filosofi hidupmu?”

“Anda sangat mengenalku rupanya. Tapi juga wajar mengingat setiap hari Hwang-ssi menyuruh pengawalmu terus mengintaiku.”

Tuan Hwang tersenyum tipis. Ia telah menemukan lawan yang setara. Namja itu tahu jika gerak geriknya diawasi.

“Aku tidak menyangka mendapatkan Tiffany seperti sedang bermain bidak catur, harus selalu mengatur strategi dan membuat langkah maju dan bertahan dengan tepat. Aku juga tidak menyangka, hubungan ini membuat kepintaranku diuji sehingga aku menyadari ternyata otakku tidak secerdas yang pernah kira. Aku begitu bodoh dan rapuh. Tapi tidak mengapa jika memang harus begitu adanya,” Siwon memaparkan perasaannya.

Lagi-lagi Tuan Hwang menyunging senyum. Ia tahu bahwa kedekatan Siwon dengan para yeoja itu  itu hanya akal-akalan seorang  Choi Siwon untuk mengalihkan perhatian media dan masyarakat dari Tiffany dan skandal masa lalunya. Selama setahun ini, hidup Siwon yang lurus tiba-tiba berubah ekstrim. Ia menjadi namja playboy yang sering mengencani banyak artis yeoja dan sosialita Korea. Awalnya ia merasa kecewa bagaimanapun ia terlanjur jatuh hati pada namja itu tapi akhirnya ia mengerti bahwa semuanya itu hanyalah kepura-puraan. Laporan dari pengawal yang selalu mengintai Siwon dan pernyataan Leetuk telah membukakan matanya.

“Tuan Hwang, aku harap kau jangan menuduh Siwon-ah sangat buruk. Apa yang dilakukannya kini semata-mata hanya untuk membuatnya mendapatkan Tiffany.”

“Bagaimana mungkin berkencan dengan puluhan yeoja dan menunjukan kemesraan mereka di semua media adalah cara untuk mendapatkan anakku. Apa maksudnya? Sebagai Appa, aku tidak rela Tiffany jatuh ke pelukan playboy seperti itu.”

“Ia tidak berkencan dengan mereka,” sanggah Leetuk. Secara rutin mereka memang punya agenda bertemu. Bagaimanapun skandal Siwon dan Tiffany belum benar-benar reda. Mereka harus sering bertemu untuk bertukar pikiran dan mencari solusi untuk mempercepat redanya gossip ini.

“Maksudmu?”

“Itu hanya akal-akalan kami. Aish bagaimana mengatakannya, tapi kami telah membuat skenario sehingga mengesankan bahwa Siwon sedang memacari atau berkencan dengan mereka. Memang harus kuakui sebagian besar yeoja itu menjadi salah arti dengan perhatian dan kebaikan Siwon. Tapi perlu kupastikan bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara Siwon dengan mereka.”

Saat itu akhirnya Tuan Hwang mengerti dengan keanehan laporan dari pengawal yang mengintai Siwon. Laporan yang menuliskan bahwa kencan itu tampak hanya pura-pura belaka.

“Aish sampai kapan kita akan terus bermain strategi dan menjalani skenario seperti ini, Leetuk-ssi. Aku sudah tua, rasanya aku sudah tidak bisa lagi mencerna semua kejutan-kejutan ini.”

Percakapan itu membayangi pikiran Tuan Hwang saat Siwon datang menemuinya dan tiba-tiba meminta ijin untuk menyusul Tiffany ke Jepang. Ia merasa senang karena sudah ada titik terang pada masa depan hubungan anaknya dengan Siwon. Namja itu telah berhasil membuat publik dan media melupakan skandal mereka dulu. Kini pers lebih tertarik untuk membahas hubungan percintaan Siwon dengan siapapun teman kencannya. Tapi ia masih belum yakin, entahlah masih ada rasa trauma yang menghantuinya. Ia tidak boleh gegabah. Siwon masih harus meyakinkan dirinya.

“Bagaimana? Setelah satu tahun ini bisakah aku menemuinya?,” Siwon setengah memaksa, ia sudah tidak sabar ingin bertemu yeoja itu.

Tuan Hwang mengela nafas dengan berat.

“Tunggulah sampai setengah tahun lagi.”

“Mwo?”

“Tidak ada diskusi lagi. Aku telah cukup berbaik hati mengijinkanmu menemui Tiffany. Setengah tahun bukan waktu yang tidak terlalu lama. Aku hanya ingin memastikan bahwa kedekatan kalian tidak akan menjadi boomerang jika masyarakat mengetahuinya. Aku memang sudah merasa bahwa media sudah tidak mengejarmu lagi mengenai Tiffany, tapi aku tidak boleh terburu-buru.”

Siwon bersandar dengan lemah, tadi ia sudah begitu percaya diri bahwa kini Tuan Hwang tidak akan menolaknya lagi. Setengah tahun, 6 bulan, memang bukan waktu yang terlalu lama, tapi bagi Siwon rasanya seperti beratus-ratus tahun lamanya. Selama ini ia hanya mendengar kabar mengenai Tiffany dari mulut Otsuji-san dan istrinya tapi ia sama sekali tidak pernah menemuinya. Bagaimana Tiffany yang kini berubah menjadi yeoja yang begitu dingin telah mengganggu pikirannya. Ia ingin sekali memandang Tiffany dengan mata kepalanya sendiri. Apalagi mendengar bagaimana yeoja itu begitu dekat dengan Kamio, direkturnya di Hwang Company Jepang. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk pergi ke negara itu dan merebutnya dari tangan namja itu. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus menunggu enam bulan lagi, pada rentang waktu itu mungkin saja tiba-tiba Tiffany tertarik pada Kamio.

“Oh ya, kudengar perusahaan anda di Jepang sedang mencari investor untuk pembangunan seribu apartemen di prefektur Chiba, Jepang?”

Mata Tuan Hwang mengernyit, apa maksud dari pertanyaan Siwon? Bukankah tadi mereka sedang membicarakan Tiffany, kenapa sekarang ia tiba-tiba bertanya mengenai rencana ekspansi perusahaannya. Pasti ada sesuatu yang sedang direncanakannya.

“Apa maksudnya kau bertanya seperti itu?”

“Aku dengar bahwa sampai sekarang investor masih keberatan dengan beberapa klausul prinsip yang kau tawarkan.”

“Ya ada yang harus kita diskusikan lebih lanjut, lalu apa maksudmu bertanya seperti itu. Keinginanmu untuk bertemu dengan Tiffany tidak ada hubungan dengan rencana bisnisku,” Tuan Hwang masih mencari-cari mata rantai yang dapat menghubungkan kedua hal berbeda tersebut.

“Aku akan menawarkan diri atas nama perusahaanku untuk menjadi investor tunggal pada proyekmu. Aku tidak keberatan dengan semua klausul yang akan kau berikan. Aku akan menerima rasio pembagian keuntungan sesuai yang kau inginkan tanpa bantahan. Aku juga tidak akan menyertakan ahli hukumku dalam penandatanganan ini jika kau menginginkannya. Intinya aku akan mengikuti semua keinginanmu Hwang-ssi.”

“Itu bukan penawaran seorang pebisnis sepertimu. Kau telah menghamburkan uang untuk sesuatu yang bukan bidangmu.”

Siwon tampak mengabaikan sindiran itu,“Jawablah apa kau menyetujuinya Hwang-ssi. Tawaran ini begitu menggiurkan bukan?”

“Tentu saja, tapi apa hubungannya dengan Tiffany. Kau  sedang menyusun rencana?”

Siwon tersenyum agak licik, “Tentu saja, jadi aku punya alasan untuk menemuinya.”

“Benar seperti yang dikatakan Leetuk-ssi, kau sudah gila Siwon. Hanya untuk memiliki alibi supaya bisa menemui Tiffany, kau bahkan harus mengeluarkan semua assetmu untuk menjadi investorku. Kau sangat tidak berhati-hati karena aku bisa bermain-main dengan celah yang kau berikan pada penawaranmu.”

“Aku sudah memikirkan kemungkinan itu, aku juga sudah bersiap-siap jika anda ingin bermain curang denganku. Tapi aku tahu Hwang-ssi tidak akan melakukannya.”

“Aish, kau begitu percaya diri.”

“Aku belum pernah seyakin ini. Bagaimana anda setuju bukan? Ayolah aku tahu pembangunan apartemen ini harus sudah dimulai bulan ini dan anda belum mendapatkan kepastian yang berarti dari calon investormu itu. Tidak ada tawaran yang begitu menggiurkan selain apa yang tadi sudah aku tawarkan. Jika Hwang-ssi menginginkan partner dari Jepang, aku bisa menyediakannya untukmu,” Siwon setengah memaksa, rencana ini harus berhasil. Ia telah menyingkirkan investor yang ingin menanam modalnya untuk pembangunan komplek apartemen di Jepang. Tidak ada pilihan lagi bagi Tuan Hwang selain menerima tawarannya.

“Sangat menggiurkan, tapi jika itu membuatku harus mengijinkanmu bertemu dengan Tiffany, aku harus berpikir lebih dalam lagi.”

“Tenanglah, aku sudah mengurungkan niatku untuk bertemu Tiffany sekarang. Aku akan menuruti permintaanmu, enam bulan tidak terlalu lama, aku bisa bersabar. Penawaran investasiku juga masih berlaku. Aku tidak memiliki prasyarat apapun untuk investasiku. Tapi aku hanya meminta satu hal darimu, Hwang-ssi.”

“Apa yang kau inginkan?,” Tuan Hwang menyerah, dari sekian proposal investasi yang masuk, hanya tawaran dari Siwon lah yang menarik insting bisnisnya.

“Jika aku bertemu dengannya nanti dan aku yakin Tiffany masih mencintaiku, aku tidak akan ragu untuk menikahinya saat itu juga.”

“Aku selalu mengharapkan pernikahan kalian tapi apa maksudnya dengan menikahinya saat itu juga. Kau tidak akan membawanya ke Korea dan membuat pesta pernikahan seperti umumnya?”

“Aku tidak akan mengambil resiko dengan membawanya kembali ke Korea dengan status belum menjadi istriku. Aku akan menikahinya di sana.”

“Tanpa kami? Tanpa Super Junior,  tanpa keluargamu?”

Namja itu hanya tersenyum pendek, ia tidak akan mentolelir segala hambatan yang terkait dengan waktu. Waktu telah mempermainkan hidupnya, kini ia tidak akan membiarkan waktu merusak semua mimpinya. Jika keluarganya dan member Suju membuatnya harus menunggu pernikahan ini barang sedetik saja maka ia akan memilih pernikahan dengan caranya sendiri. Ia memang gila, cinta telah membuat akal sehatnya hilang.

Ia pergi meninggalkan Tuan Hwang di ruangannnya. Ketika Siwon sudah menuju pintu keluar, tiba-tiba ia berbalik.

“Oh ya, aku mohon jika kerja sama kita ini berlanjut, Hwang-ssi mungkin bisa memberikan posisi baru untuk Kamio-sajangnim. Kudengar ia sangat efisien dalam bekerja. Mungkin kantor cabang di Prancis itu cukup tepat baginya.”

 

1,5 tahun kemudian

Jepang.

Tiffany terbangun dengan kepala yang masih berat. Rintik hujan yang deras telah membangunkan kesadarannya. Ia melihat ke sekeliling. Kamar tidur ini begitu indah, dengan nuansa dinding kayu yang menimbulkan kesan hangat dan natural. Ranjangnya juga begitu halus dan empuk. Sesaat ia mengagumi hal-hal baru di sekitarnya, sampai kemudian ia kembali tersadar bahwa tempat ini sangatlah asing. Dimana dia? Kenapa ia bisa ada di sini. Kepalanya tiba-tiba berputar, rasa pusing kembali menderanya. Dalam kesakitannya, ia ingat bahwa sore itu ia tidak sadarkan diri setelah Siwon membuang semua obat penenangnya. Siwon? Choi Siwon? Tiba-tiba otaknya mencoba berfikir jernih bahwa pertemuannya dengan Siwon bukanlah mimpi. Lantas kemana dia sekarang? Apakah dia yang membawa dirinya ke sini?

Kreek, suara pintu kayu terbuka perlahan. Seorang namja masuk. Tiffany tidak bisa berpura-pura tidak tahu menahu apa yang telah terjadi. Sebelum kesadarannya hilang sore itu, ia masih ingat bahwa ia telah dengan gamblang menyatakan semua perasaannya. Tiffany tidak mampu menahan rasa malunya. Babo sekali kau ini Tiffany, bagaimana mungkin ia bisa berterus terang seperti itu? Apa pandangan Siwon terhadapnya kini?

Namja itu mendekatinya dengan membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman. Tiffany terperangah, Siwon tampak terlihat tampan. Yah, namja itu memang selalu tampan tapi hari ini ia terlihat berbeda. Auranya begitu hangat dan menenangkan, berbeda sekali ketika namja itu ada di pesta dansa dan apatonya beberapa hari lalu. Saat itu Siwon begitu menakutkan sekaligus menggairahkan. Tiffany bergidik, ia juga takut dengan dirinya sendiri. Ia masih ingat bagaimana dengan panasnya ia membalas semua sentuhan Siwon.

“Kau melamun Tiffany?”

Tiffany tersenyum kikuk mendengar pertanyaan namja itu. Ia kini sedang terbaring lemah di kasur itu dan Siwon duduk  di pinggir ranjang menghadapnya. Namja itu mengelus-elus dahi dan rambut Tiffany dengan lembut.

“Akhirnya kau sudah bangun. Butuh waktu seharian untuk bisa melihatmu sadar kembali.”

Mereka saling bertatapan, spontan Tiffany menunduk, ia jengah, “Siwon, aku sedang ada di mana? Apakah aku pingsan begitu lama?”

“Kau pingsan seharian Tiffany. Rumah ini mungkin asing bagimu, tapi tempat ini tidak. Kita pernah punya memori yang baik dan buruk di sini.”

Tiffany terbangun, kepalanya kini menyadar di kepala ranjang,”Apakah kita masih di Jepang?”

“Tentu saja. “

“Dimana?”

“Ini adalah tempat kedua kita bertemu setelah pertemuan yang tidak menyenangkan di Haneda airport 2 tahun lalu.”

“Kita ada di Nagano?”

Siwon mengangguk.

“Kenapa kau membawaku ke sini?”

Otomatis Tiffany memeriksa badannya. Ia sangat khawatir sesuatu buruk terjadi padanya. Bukankah mereka hanya berdua saja di tempat ini. Tapi ia masih memakai baju tidur yang dipakainya kemarin. Siwon tidak melakukan sesuatu yang buruk bukan? Ia menghela nafas lega.

Namja itu bisa menangkap ketakutan Tiffany,”Aku ingin mengenang pertemuan kita di sini. Nagano begitu berkesan untukku. Karena disinilah aku tertarik untuk mengenalmu lebih dalam dan melakukan hal-hal gila untuk bisa menemukanmu dan bisa bekerjasama dengan perusahaanmu. Tentu saja aku tidak melakukan sesuatu yang buruk denganmu kecuali….”

Ia berhenti berucap membuat Tiffany yang sudah bernafas lega kembali ketakutan.

“Kecuali apa?”

“Hmm kecuali aku telah beberapa kali mencium keningmu saat kau pingsan. Apakah itu hal buruk? Jika iya aku ingin meminta maaf. Begitu juga dengan ciumanku saat di apatomu itu. Aku tidak dapat mengendalikan diriku saat itu. Aku begitu marah setelah sekian lama menunggumu kau memperlakukanku dengan tidak baik.”

Tiffany terperangah,”Kau menungguku? Apa maksudmu?”

Siwon menunduk, meraih jemari Tiffany yang mungil dan memainkannya dengan jarinya sendiri. Sesaat yang terdengar hanya keheningan dan suara rintik hujan yang sudah tidak begitu deras. Yeoja itu menikmati sentuhan ringan di jarinya. Kedekatan tanpa sesuatu yang bersifat erotis tapi sangat hangat terasa di hatinya.

“Siwon?”

Namja itu mendongak, “Nanti akan kujelaskan, sekarang kau makan dulu ya. Perutmu pasti lapar karena tidak diisi makanan sejak kemarin.”

“Aku tidak lapar,” sanggah Tiffany, entahlah ia suka sekali merusak kebersamaan yang sudah terjalin dengan bersikap buruk dan ketus seperti ini. Mungkin karena ia tidak tahan dengan kedekatan fisiknya dengan Siwon. Jika ia bisa membuat Siwon menjauh untuk beberapa saat rasanya itu lebih baik untuk meredakan hatinya yang begitu tegang.

“Bohong kau pasti lapar,”  sanggah Siwon sambil menyiapkan beberapa mangkuk yang tersusun cantik di meja kecil di dekatnya.

“Sungguh aku tidak lapar,” tolak Tiffany lemah sampai tiba-tiba perutnya berbunyi. Muka yeoja itu memerah karena malu. Sialan kenapa perutnya tidak bisa diajak bekerja sama. Siwon tersenyum menatapnya intens. Yeoja itu memalingkan badannya, ia tidak tahan dipandang seperti itu.

“Kau memang lapar bukan, sudahlah jangan berpura-pura.”

Siwon mengambil mangkuk berisi bubur hangat yang harumnya sangat mengundang selera.

“Makannya aku suapi. Mau kan?”

Ia menyodorkan sendok ke mulut Tiffany yang masih terkatup. Seumur-umur belum pernah ada seorang namja yang pernah menyuapinya. Kondisi ini membuatnya kikuk.

“Ani, aku bisa makan sendiri, Siwon.”

Namja itu menggelang-gelangkan kepala.”Walaupun kau keras kepala tapi kenapa aku terus menyukaimu ya?”

Blush, wajah Tiffany kembali memerah. Ia tidak bisa menahan perasaan antara malu dan juga bahagia. Ia senang mendengar bahwa Siwon masih menyukainya, walaupun ada perasaan tidak yakin mengingat banyaknya yeoja yang pernah singgah di hati Siwon. Apakah namja itu sedang merayunya atau sungguh-sungguh? Entahlah.

“Sekarang buka mulutmu, kau tidak akan menyesal, rasa bubur ini benar-benar enak.”

Dengan ragu-ragu, Tiffany membuka mulutnya dan memakan bubur itu pelan-pelan. Sedetik kemudian ia tersenyum.

“Enak. Kau membeli di mana?”

Siwon membelalakkan matanya,”Membeli? Aku membuatnya sendiri?”

“Mwo? Kau bisa memasak?”

“Kau meragukan kemampuanku?”

“Tapi aku tidak pernah melihatmu memasak.”

Sambil terus menyuapi Tiffany, mereka berbincang-bincang dengan hangat seolah tidak pernah ada hal buruk yang terjadi pada hubungan mereka. Dinginnya udara Nagano rupanya telah mendinginkan bara api dalam hati masing-masing, “Sebelum kau datang, aku sudah terbiasa memasak untukku sendiri. Kau tahu kan? Aku kurang percaya dengan makanan di luar. Jadi aku harus terampil memasak minimal untuk diriku sendiri.”

“Kalau begitu kenapa kau menyuruhku memasak untukmu. Kau tahu sendiri, aku saja sampai muntah memakan buatanku.”

“Jika tidak begitu, mana mungkin kau bisa memasak seperti sekarang. Kudengar kau sering membawa bekal ke kantor.”

Tiffany tersenyum, “Pasti kau mendengarnya dari Otsuji-san ya? Aku ketularan dirimu tahu, aku lebih suka makan makanan rumah. Lebih sehat dan lebih puas.”

“Berarti aku membawa pengaruh baik untukmu bukan?”

Yeoja itu mencibir, pura-pura tidak senang. Siwon baru sadar setelah sekian lama bersama Tiffany, ia belum pernah melihat yeoja itu bersikap rileks kepadanya seperti hari ini. Mungkin saat itu hubungan mereka masih seperti atasan dan bawahan, atau tepatnya boss dan pelayan. Walaupun terpaksa tapi yeoja itu selalu berusaha bersikap sopan kepadanya. Sampai saat itu, Tiffany pun masih memanggilnya dengan sebutan Siwon-ssi.

“Hey kenapa kau melihatku seperti itu. Ada yang aneh dengan penampilanku?”

Tiffany tidak tahan jika Siwon terus menatapnya seperti itu. Ia merapikan rambutnya yang ternyata acak-acakan. Aduuh, jelek sekali pasti penampilannya hari ini.

Dengan pelan Siwon mengibaskan tangan Tiffany dan mencoba merapikan rambut yeoja itu dengan jarinya, kemudian ia mengelus pipi Tiffany yang begitu halus dan kenyal. Dirinya begitu merindukan yeoja ini. Bertahan selama 1,5 tahun telah telah membuat perasaan cintanya menjadi obsesi yang tidak berkesudahan. Tiffany menunduk, ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Hatinya berdegup kencang, selalu saja begitu jika Siwon menyentuhnya.

“Aku merindukanmu. Banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu. Semua skenario dan kebohongan yang terlanjur kau percayai. Tapi mungkin terlalu berat jika aku mengatakannya sekarang. Kau masih sakit dan butuh beristirahat. Aku tidak mau membuatmu shock dengan semua kebenaran yang ada.”

“Siwon?”

“Dengarkan aku Tiffany?”

“Apapun yang dikatakan orang tentangku, kumohon jangan kau telan begitu saja. Terlalu banyak kebohongan yang terjadi pada hidupku setelah kepergianmu sampai akupun sulit membedakannya mana yang benar mana yang tidak. Tapi aku hanya minta agar kau percaya padaku. Itu sudah cukup membuatku lega.”

“Aku tidak mengerti,” Tiffany menggelang lemah.

“Aku akan membuatmu mengerti dengan perlahan. Tapi tolonglah jangan sekalipun kau tidak mempercayaiku. Rasanya begitu sakit melihat kau begitu membenciku karena sesuatu yang sama sekali tidak benar.”

Tiffany bisa menangkap kesedihan dalam nada suara Siwon. Ia ingin mempercayai namja itu tapi entahlah rasanya tidak mudah karena musuh terbesarnya justru ketidakyakinannya yang begitu besar.

“Aku akan berusaha.”

Siwon tersenyum, kemudian mengacak-ngacak rambut Tiffany.

“Aish rambutku rusak lagi, kau senang sekali mengacak-acak rambutku.”

Tingkah Tiffany yang pura-pura marah malah membuatnya tambah gemas. Ah kenapa waktu berjalan begitu lambat. Rasanya ia ingin memiliki Tiffany saat ini juga, tapi ia harus bersabar. Ia harus meyakinkan yeoja itu terlebih dahulu. Begitu banyak rahasia yang harus ia singkap agar Tiffany mau menerimanya kembali. Tapi sayangnya itu butuh waktu, dengan kondsisi yeoja itu yang masih lemah. Semua informasi yang diberikannya hanya akan membuat bola salju yang menggelinding semakin besar. Ia harus perlahan dan bersabar dan Nagano adalah tempat yang tepat untuk semua kebenaran yang akan ia ungkapkan.

Ia berdiri sambil mengangkat nampan bersisi mangkuk dan gelas yang sudah habis. Ia senang Tiffany menikmati semua jerih payahnya.

“Kau mau kemana Siwon?”

Tiffany memandang Siwon tampak khawatir. Ia takut dengan ilusinya sendiri bahwa Siwon akan pergi meninggalkannya.

“Aku akan ke dapur, sekarang tidurlah, hari sudah malam.”

“Lalu kau tidur di mana?”

“Aku tidur di luar, pintumu kubuka sedikit supaya aku bisa mendengar jika kau memanggilku. Kau tidak masalah dengan itu?”

Tiffany menggelang, ia menatap Siwon begitu rupa. Sesuatu bergejolak dalam dadanya. Spontan ia menarik tangan Siwon yang mencoba berbalik. Untunglah nampan yang dipegang namja itu tidak jatuh karena dengan cepat Siwon telah menahan nampan dan segala isinya dengan lengan kanannya.

“Wae Tiffany?”

“Hmm, jangan tinggalkan aku. Kumohon, aku tidak mau sendirian.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Hmm maksudku, hmmm tidurlah di sini bersamaku.”

Tiffany mengeluarkan keinginannya dengan terbata-bata. Ia takut Siwon berpikir macam-macam seolah mengundangnya untuk melakukan suatu hubungan yang lebih intim. Siwon berdiri kaku, ia mencoba mencerna tawaran aneh yang datang dari Tiffany.

“Aku tidak mau sendirian. Di sini begitu dingin. Aku harap kau tidak salah mengerti, aku hanya ingin kau menemaniku, tidak lebih dari itu.”

Tetap saja undangan sederhana itu membuat batin Siwon tercekat. Ia menatap Tiffany, dilihatnya wajah yeoja itu yang begitu takut-takut ketika mengatakannya.

“Tapi aku mengerti jika kau tidak mau. Aku harap kau tidak lantas menganggapku sebagai yeoja murahan. Mianhae.”

Siwon mendesis, lagi-lagi yeoja itu telah menantang instingnya sebagai seorang namja yang normal. Permintaan Tiffany begitu jelas, ia hanya ingin ditemani saat tidur tanpa ada sentuhan yang berlebihan tapi bisakah dirinya menahan naluri alamiah yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya? Ia sudah cukup merasa bersalah karena mencium Tiffany di apatonya kemarin tapi kini yeoja itu telah berhasil mendesak gairah yang sudah ia tahan sekuat mungkin supaya tidak muncul.

“Aish Tiffany, kau telah membuatku gila.”

Dengan cepat ia meletakkan kembali nampan dan segala isinya di atas meja kecil di sebelah kanan ranjang itu. Ia menarik selimut yang menutupi badan yeoja itu kemudian menindihnya. Siwon mengamati wajah Tiffany yang begitu pucat, berusaha memahami arti tawarannya yang membuat gairahnya kembali menyala. Ia berusaha menelusuri wajah cantik Tiffany dengan jarinya, sampai kemudian ujung jarinya sudah bermain-main dengan bibir Tiffany yang begitu lembut. Tiffany terpana bagaimana sentuhan ringan di bibirnya bisa membangunkan hasratnya sebagai seorang yeoja.

“Siwon…,” ia mendesah.

Dengan segenap perasaan Siwon mencium lembut bibit Tiffany. Ia tidak mau serakus dan sepanas ciuman yang dilakukannya di apato itu. Ia mencium Tiffany begitu lembut dan ringan seperti sayap kupu-kupu. Tiffany berhak mendapatkan perlakuan yang istimewa. Sambil mencium bibir Tiffany, tidak henti-hentinya Siwon menghujaninya dengan pujian yang membuat yeoja itu merasa nyaman bersamanya. Tifany menggeliat menahan gelora yang ada dalam dirinya. Dengan takut-takut ia membalas semua pagutan bibir Siwon dengan lembut. Namja itu menarik tangan Siffany sehingga kini kedua tangannya sudah mengunci kepala Siwon. Ia mendengar bagaimana yeoja itu melenguh ketika ia mencoba bermain-main dengan leher dan bibirnya berganti-ganti. Siwon menikmati rasa manis dari bibir Tiffany dan harum alami dari leher yeoja itu. Ia mencoba mereguk kenikmatan itu secara perlahan. Sampai akhirnya mereka harus saling melepaskan diri karena kehabisan nafas, terengah-engah dan merasa malu satu sama lain terutama Tiffany karena dirinyalah yang mengundang Siwon untuk masuk terlalu dalam seperti ini.

Namja itu menatap Tiffany dengan nanar seolah-olah tidak rela bahwa ciuman itu harus berakhir secepat itu. Tapi ia sadar, ia sudah mencuri kesempatan untuk bisa mencium yeoja itu tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu. Tawaran Tiffany tentu tidak termasuk dengan ciuman tadi  bukan? Siwon lantas menarik selimut untuk menutupi mereka berdua. Ia memeluk pinggang dan perut Tiffany dari belakang. Yeoja itu bisa mendengarkan desah nafas Siwon dari belakang  lehernya.

“Semoga kau tidak keberatan jika aku memelukmu seperti ini dan kujamin aku tidak akan melakukan lebih dari ini malam ini, percayalah. Sebesar apapun aku menginginkanmu tapi aku akan menjagamu sampai waktunya tiba,” terdengar nada parau dari suara Siwon,”Tidak lama lagi Tiffany.”

Tiffany tidak menjawab. Perasaaannya masih campur aduk. Ciuman Siwon masih terasa di bibirnya. Ia menyukai bagaimana namja itu memperlakukannya dengan lembut ketika menciumnya tadi  begitu juga dengan pelukannya kini yang membuatnya merasa hangat dan terlindungi. Malam ini ia hanya ingin diyakinkan bahwa Siwon adalah miliknya, bahwa namja itu tidak akan pergi lagi darinya. Walaupun untuk mendapatkan perasaan itu, ia harus mengobral harga dirinya untuk meminta namja itu menemani tidurnya.

“Menikahlah denganku Fany,” yeoja itu masih berada dalam pelukannya, Rambutnya tergelung di dada bidang Siwon.

“Siwon?,” Tiffany mencoba berbalik mencari kepastian dari raut muka Siwon. Ia memang melihatnya, wajah itu begitu yakin.

“Menikahlah denganku, sampai hari inipun tawaranku tidak berubah.”

Siwon menatap mata Fany dengan penuh pengharapan. Ia menyangga kepala bagian kanannya dengan sebelah tangan kanannya sehingga  ia bisa leluasa melihat yeoja yang dicintainya itu berada dalam pelukannya. Tiffany terdiam, ia begitu senang mendengarkan bahwa kesempatan itu masih terbuka untuknya. Tapi terlalu banyak pertanyaan yang menggelayut di pikirannya. Ia sendiri masih belum bisa mendapatkan penjelasan mengenai rumor Siwon yang dekat dengan puluhan yeoja setahun belakangan ini.

“Kau tidak menyukai lamaranku?”

Mereka masih saling berpelukan dan bertatapan satu sama lain. Beberapa saat mereka terdiam.

“Banyak hal yang mengganggu pikiranku. Aku hanya butuh diyakinkan bahwa gossip yang kudengar itu salah.”

“Kau yakin ingin mendengarnya hari ini. Kau sedang sakit dan aku tidak ingin membuatmu tambah sakit.”

“Justru ketidakyakinan ini membuatku tambah sakit. Yakinkanlah aku sehingga aku bisa menerima lamaranmu.”

Siwon mengangkat badannya sambil menarik Tiffany masih dalam pelukannya. Mereka kini terduduk dan bersandar di kepala ranjang. Kepala Tiffany masih menempel di dadanya. Yeoja itu sudah meninggalkan jauh-jauh rasa gengsinya, ia memang menginginkan kedekatan seperti ini, bukan sesuatu yang bersifat erotis atau gairah semata, tapi kebersamaan yang saling menyamankan.

Siwon mengelus-elus puncak rambut Tiffany.

“Aku ingin meminta maaf padamu atas hari-hari sulit yang telah kau alami. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Young Ah begitu juga dengan yeoja-yeoja yang kerap dibicarakan oleh nyamuk-nyamuk pers itu. Mungkin aku pernah dalam kondisi begitu rapuh sehingga membiarkan beberapa yeoja masuk dalam kehidupanku tapi tidak pernah lebih dari sekedar teman kencan dan aku tidak pernah melakukan hal lebih selain dari makan malam. Mereka sengaja disetting untuk menimbulkan keyakinan bahwa aku memang tidak memiliki hubungan denganmu. Butuh sesuatu yang ekstrim supaya media bisa melupakan namamu dan skandal kita. Sejujurnya setelah kejadian yang menyakitkan di antara kita, aku tidak yakin apakah aku bisa membangun hubungan dengan yeoja selain dirimu.”

Tiffany terperangah, hatinya sedikit bahagia, tapi sesuatu hal masih mengganjalnya

“Tapi kau berpacaran dengan Song Hyo Ri, setidaknya selama beberapa bulan itu, aku melihat foto-foto kalian selalu berduaan.”

“Apa kau tahu siapa Hyo Ri sebenarnya? Apakah Appa-mu tidak mengatakan sesuatu?”

“Appa? Maksudmu?”

“Kukira Tuan Hwang telah menceritakan skenario untuk konferensi pers setelah kau menolak lamaranku.”

Tiffany teringat saat Appa memaksanya untuk bisa bercerita mengenai skenario itu, tapi saat itu ia terlalu rapuh untuk bisa mendengarnya.

“Aku menolaknya, saat itu aku begitu sedih aku tidak mampu untuk mendengarkan apa-apa lagi.”

“Bodoh!”

“Aku bodoh? Maksudmu?”

“Jika kau tahu skenario itu kau tidak akan sembarangan menuduhku dengan Hyo Ri. Ia hanyalah yeoja chingu pura-pura yang disewa Kangin untuk juga menjadi bodyguardku.”

Yeoja itu terkejut dengan kebenaran itu,“Tapi ia menciummu Siwon.”

“Itulah kebodohanku. Ia menjalankan tugas begitu berlebihan. Saat itu tahukah kau banyak wartawan yang mengintai kami. Apa jadinya jika pers bisa mengendus kebersamaan kita padahal beberapa jam sebelumnya aku sudah berkata bahwa aku dan dirimu tidak memiliki hubungan apa-apa.  Hyo Ri dengan spontan menciumku untuk membuatmu pergi. Saat itu aku sudah tidak perduli apakah pers akan mengetahui kebohonganku atau tidak, yang penting aku bisa mendapatkanmu kembali. Tapi kau benar-benar telah pergi. Kau pergi begitu jauh. Aku tidak akan mengetahui kemana kau pergi jika aku tidak nekad menyewa detektif mencarimu.”

“Lalu kenapa kau tidak menyusulku.“

“Tentu saja aku ingin tapi saat itu aku juga rapuh Tiffany. Aku tidak tahu apakah kau masih mau membalas perasaanku atau tidak, aku juga masih diperhatikan oleh masyarakat dan media sehinga aku tidak boleh gegabah melakukan sesuatu. Appa-mu dan member Suju melarangku untuk menemuimu. Percayalah satu setengah tahun lalu, suasananya begitu mencekam bagiku. Aku bisa saja menyusulmu tapi itu akan membuat skandal ini terkuak dan kau lagi-lagi akan menjadi korban dari keegoisanku. Ku harap kau mengerti. Aku mencoba bersabar walaupun harus rela ditempa gossip yang tidak mengenakan mengenai hubungan asmaraku dengan yeoja-yeoja itu. Selama setahun lebih ini aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, memandangmu tanpa bisa menyentuhmu. Untunglah Otsuji-san dan istrinya selalu rajin memberikan informasi tentangmu hampir setiap hari. Hal itu membuatku sedikit lega tapi tetap saja jauh darimu adalah adalah siksaaan terberat untukku”

“Otsuji-san?”

Akhirnya ia mengerti kenapa pasangan suami istri itu selalu ingin tahu kegiatannya. Rupanya mereka sedang mengumpulkan informasi untuk dapat diberikan pada Siwon. Ia tidak menyangka selama ini namja itu memperhatikannya walau melalui mata Otsuji dan istrinya.

Mereka kini bertatapan, ada titik air mata di ujung mata Tiffany. Ia merasa bersalah telah menuduh Siwon begitu rupa. Namja itu mengelus buliran air mata yang jatuh di pipi Tiffany.

“Mungkin kau tidak akan percaya, sampai saat inipun jika melihatmu sedih, aku juga sedih, seperti ini, kau menangis dan hatiku tiba-tiba nyeri.”

Yeoja itu menghapus air matanya dengan punggung tangannya, ia malu terlihat begitu cengeng

“Sebesar itukah perasaanmu padaku. Aku tidak menyangka. Maksudku betapa aku begitu bodoh dan egois, aku merasa akulah yang paling menderita dan terluka. Tapi ternyata kau lebih sakit daripada aku. Kau menelan semua masalah ini sendirian dan aku sama sekali tidak membantumu.”

“Sudahlah, itu masa lalu yang penting kau percaya padaku sekarang. Apakah kau mempercayaiku?”

Yeoja itu masih dalam pelukan Siwon, kepalanya kini menyender ke bahu lembut Tiffany. Namja itu menarik nafas dalam-dalam, tercium aroma lembut dari pangkal leher yeoja yang dikasihinya.

“Aku percaya padamu.”

“Sungguh?”

“Hmmm…”Tiffany tidak menjawab, ia tidak tahan dengan hembusan nafas Siwon yang mengenai belakang lehernya. Tapi ia menikmati kedekatan ini. Siwon kembali mencium leher dan bahunya dengan sangat lembut. Tiffany berbalik untuk mencari wajah namja itu. Cup bibir itu kemudian mengenai pipi dan bibirnya.

“Siwon,” Tiffany mengerang ketika bibir itu lagi-lagi menyentuh bibirnya. Siwon kini menghujaninya dengan ciuman-ciuman yang membangunkan setiap sel syarafnya. Seolah melepaskan perasaan rindu yang selama ini terpendam dan tidak tersalurkan, tapi ia sadar ia tidak bisa terlalu ‘lebih mengambil’ hal yang berharga dari yeoja yang dipujanya. Ia harus menjaga Tiffany sampai harinya tiba. Siwon kemudian melepaskan ciuman panasnya dengan tiba-tiba. Tiffany terperangah dalam hatinya ia tidak rela namja itu melepasnya begitu saja.

“Apa yang kau perbuat padaku Tiffany, setiap melihatmu aku tidak tahan untuk mencumbumu. Padahal aku tidak mau kau menganggapku memanfaatkan fisikmu. Aku benar-benar tulus mencintaimu dan ingin menikahimu. Jika perlu aku siap menikahimu sekarang juga.”

Yeoja itu terdiam sampai tiba-tiba ia mengeluarkan kalimat yang membuat Siwon tercekat.

“Kalau begitu menikahlah denganku,” tukas Tiffany parau. Ia tidak bisa lebih lama lagi menahan hasrat dirinya yang pelan-pelan tumbuh seiring kedekatannya dengan Siwon. Namja itu telah memberinya pelajaran yang sangat banyak dan ia menyerapnya dengan cepat.

Siwon menatap Tiffany tidak percaya,”Kau sungguh-sunguh? Aku tidak mau memaksamu untuk menikahiku saat ini juga walaupun aku sangat senang mendengarnya.”

“Lakukanlah. Aku menginginkan pernikahan ini sekarang juga.”

Entah pikiran apa yang tiba-tiba merasuk dalam benak Tiffany. Ia begitu nekat mengajak Siwon menikahinya detik itu juga. Anehnya hal yang sama juga muncul dalam benak namja itu. Mungkin mereka membutuhkan penyatuan itu untuk membuat semua kedekatan ini menjadi legal dan benar. Mereka juga letih dengan hubungan tarik ulur yang sering terjadi. Mungkin menikah adalah solusi untuk menghambat masalah psikologis yang muncul karena perasaan yang terlalu mencintai seperti ini.

Siwon menatap Tiffany lekat, “Kau yakin? Tanpa orang tuamu? Tanpa kerabat dan teman-temanmu.”

“Aku yakin. Memang aku sangat mengharapkan pernikahanku akan berjalan normal seperti umumnya. Tapi dalam kasusku dan atas semua yang terjadi aku tidak bisa lagi menunggunya. Aku lelah dengan ketidak jelasan yang selalu terjadi di antara kita. Aku tahu keluargaku mungkin kecewa tapi aku percaya Appa akan mengerti dan kita masih tetap bisa melangsungkan pernikahan di Korea setelah ini.”

“Mungkin aku sepaham dengan pikiranmu. Untuk urusan perasaan, aku tidak lagi percaya pada rencana, aturan, atau sebagainya. Bukan berarti aku berusaha melanggar norma bangsa kita tetapi kau itu seperti ikan yang ada di tanganku. Jika aku tidak segera menyimpanmu di kolam, maka kau akan bisa lepas dari tanganku karena terlalu licin. “

“Mwo? Kau menyamakan aku dengan ikan?”

“Kyaa, aku hanya mencari perumpaan yang tepat. Susah sekali membuatmu terus berada di sisiku tanpa ada masalah yang terjadi. Selalu ada masalah dan kau selalu menghilang setelahnya. Jika aku menunda pernikahan ini aku takut kau akan menghilang lagi.”

“Aku tidak akan menghilang.”

“Kau mungkin tidak akan menghilang tapi jalan hidup siapa tahu. Aku begitu takut kehilanganmu. Ketika pertama kali aku melihatmu lagi di Tokyo, keinginanku untuk menikahimu secepatnya sudah ada dalam bayanganku. Aku juga sudah membayangkan Nagano akan menjadi saksi ikatan pernikahan kita.”

“Jadi kau memang merencanakannya?”

“Aku tidak tahu jika itu disebut rencana, anggap saja aku bergerak sesuai insting dan perasaanku,” Siwon tersenyum, ia merasakan kebahagiaaan yang amat sangat.

“Jadi malam ini kita akan menikah?”

Siwon melepaskan pelukannya dan langsung berdiri di sisi ranjang. Kedua tangannya menarik Tiffany dan membopongnya.

“Siwon apa yang kau lakukan? Kau gila? Kita bahkan belum menikah?,” Tiffany menjerit dengan aksi aneh namja itu.

Ia bahkan berputar-putar dengan posisi Tiffany di depannya,”Hentikan Siwon kau membuatku pusing!”

Akhirnya Siwon menghentikan aksinya dan berjalan masih dengan menggendong Tiffany ke arah kamar mandi,”Mian, aku hanya terlalu bahagia. Aku sedang belajar bagaimana menggendongmu setelah kita menikah nanti,”

“Siwon Babo!,” teriak Tiffany.

Siwon dengan yeoja dipangkuannya terus berjalan mendekati kamar mandi.

“Hey kita tidak akan mandi bersama bukan?,” jerit yeoja itu melihat mereka sudah melangkah masuk ke kamar mandi. Ia masih dalam posisi digendong Siwon.

“Belum tentu saja. Sekarang mandilah. Aku sudah menyiapkan beberapa pasang baju untukmu. Kau kan belum mandi dua hari. Aku tidak tahan jika calon pengantinku berbau aneh.”

Tiffany menatap Siwon dengan kejam.”Kau mengata-ngataiku lagi, kita tidak akan menikah.”

“Omo, kau galak sekali kepadaku. Tapi apakah kau sanggup berpisah denganku?”

Yeoja itu mengerling tidak menanggapi tapi hatinya senang juga tegang tidak terkira. Malam ini mereka akan menikah, suatu konsep yang sangat ditakutinya dulu. Tapi kini ia malah yang memintanya pada Siwon. Tanpa perayaan, tanpa pesta pora, hanya mereka berdua. Hatinya begitu berdebar menungu saat itu tiba. Begitu juga dengan Siwon, setelah menunggu sekian lamanya, sebentar lagi yeoja itu akan menjadi miliknya.

Tiffany mematut diri di depan cermin. Gaun putih berdesain simple dengan beberapa aksen drippery melekat sangat sempurna di tubuhnya. Gaun itu telah  disiapkan Siwon sejak lama. Malam itu ia terlihat sangat anggun, ditambah dengan riasan wajah yang ia oleskan sendiri pada wajahnya. Tidak berlebihan tapi membuat Tiffany menjadi sangat cantik.

“Tiffany kau sudah siap?” Siwon memanggilnya dari luar kamar. Ia tahu, seharusnya calon pasangan suami istri belum boleh bertemu sebelum pemberkatan pernikahan dimulai tapi sudahlah, pernikahan ini sendiri sudah begitu unik sejak awal.

“Baiklah.” Tiffany melangkah keluar dari kamarnya dengan malu-malu.

Siwon menatapnya takjub, “Kau sangat cantik sekali, seperti saat aku melihatmu di pesta dansa malam itu. Tapi yang ini lebih spesial karena kau akan menjadi istriku sebentar lagi.”

Tiffany tersenyum rikuh.

Dengan mengendarai mobil Siwon kini mereka berdua sudah berada di sebuah kapel kecil di dekat perbukitan hutan Nagano. Kota ini memang terkenal dengan banyaknya kapel yang disediakan untuk tempat melangsungkan janji pernikahan. Selain itu fasilitas bungalow-bungalow cantik untuk pasangan yang akan berbulan madu serta toko-toko yang menjual segala aneka barang yang terkait dengan pernikahan telah menjadi daya pikat kota ini.

Tiffany berdiri dengan tegang, setengah jam lagi prosesi pernikahannya akan segera dimulai. Siwon terus menggenggam tangannya. Memberi kekuatan.

“Kau tegang Tiffany?,” tanya Siwon yang melihat raut muka Tiffany yang tampak pucat pasi.

“Tentu saja. Kau tegang?”

“Aku tegang karena terlalu bahagia.”

Yeoja itu tersenyum menahan debaran aneh di hatinya,“Apakah kau benar-benar ingin menikah denganku Siwon?

“Tentu saja, lalu kau? Apakah kau juga benar-benar ingin menikah denganku?”

Yeoja itu mengangguk dan membuat Siwon mendesah lega.

Siwon merapikan tuxedo hitamnya,“Apakah kau sudah menghubungi Appa dan Omma.”

“Sudah, aku tidak berani menghubunginya langsung. Aku hanya mengirimkan email pada Appa. Aku takut Appa marah pada kita karena bukan pernikahan seperti ini yang diinginkan Appa padaku.”

“Ia tidak akan marah padamu.”

“Wae? Kenapa kau begitu yakin?,” tanya yeoja itu tidak percaya. Tapi ia telah terbiasa dengan Siwon yang selalu terencana.

“Percayalah padaku. Sejak setengah tahun lalu Tuan Hwang telah mempersiapkan hatinya jika tiba-tiba aku membawa kabur putri semata wayangnya.”

“Aku tidak mengerti, hmmm sudahlah aku takut terlalu shock jika kau menjelaskan tapi mudah-mudahan ucapanmu benar. Aku lega mendengarnya. Lalu apakah kau sudah mengontak keluarga dan member Super Junior yang lain.”

“Tentu, sebelum aku pergi ke Jepang aku sudah mewanti-wanti mereka untuk tidak terkejut jika tiba-tiba aku pulang sudah membawamu sebagai istriku. Aku memang sudah memikirkan kemungkinan bahwa mungkin kita menikah di sini.”

“Pernikahan kita ini tidak romantis sama sekali. Padahal aku sangat memimpikan menikah seperti layaknya kisah putri di negeri dongeng.”

Yeoja itu mengeluh tapi tetap tersenyum. Tidak masalah ia menikah secara sederhana seperti ini asalkan yang menjadi pendamping hidupnya adalah Siwon. Bersama namja itu ia merasa sanggup menghadapi masa depan yang tidak jelas putarannya. Waktu telah menjawab, badai ganas sekalipun tidak pernah melunturkan perasaan dan kasih sayang namja itu kepadanya. Ia tahu ia bisa mengandalkan Siwon sampai kapanpun.

Seorang pendeta menghampirinya dan menyuruh mereka bersiap-siap.

“Kau yakin tidak ada paparazzi yang mengintaimu sampai ke Nagano ini?,” tanya Tiffany sambil berbisik.

Pendeta itu berdehem. Tiffany terdiam, ia tidak mau disemprot pendeta itu.

“Tiffany berdirilah di sampingku,” panggil Siwon yang sudah mendekati pendeta, Pintu gereja telah tertutup.  Yeoja itu berhenti di sisi Siwon.

“Kau sangat cantik.” bisik Siwon.

“Sepertinya kau sudah mengatakan ini lebih dari seratus kali.”

Pendeta itu berdehem kembali karena ia akan segera memulai prosesi. “Kalian berdua bermaksud untuk menjadi suami istri dalam ikatan pernikahan yang suci. Saya mohon anda berdua untuk dapat saling mengucap janji di hadapan Tuhan. Kalian siap?

Tiffany mengangguk begitupun dengan Siwon.

Ahirnya prosesi pernikahan berlangsung dengan baik, khidmat dan cepat. Walaupun ada beberapa kesalahan terutama dari Tiffany yang tampak canggung. Setelah Siwon mengucapkan janjinya, pendeta itu bertanya pada Tiffany

“Apakah engkau, Tiffany Hwang menerima dia, Choi Siwon, sebagai suamimu, dan akan mengasihinya dengan setia, baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit?”

“Hmm Saya bersedia, hmm menerima Choi Siwon, sebagai suami saya, dan akan mengasihinya…:

Suasana menjadi hening sejenak karena Tiffany tidak dapat melanjutkan kalimatnya dengan baik. Siwon memberikan contoh melalui gerak mulutnya tapi Tiffany tampak kesulitan.

“Hmm saya bersedia mengasihinya dengan setia, baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit.”

Mukanya merah karena tidak dapat menirukan kalimat yang dicontohkan pendeta dengan benar.

Beberapa kali pendeta memandunya tapi gagal, entahlah ia begitu tegang sehingga kalimat sederhanapun tidak bisa ia ikuti dengan mudah.

“Sudahlah, yang penting di depan Tuhan, kalian sudah sama-sama berniat menikah,” jawab pendeta itu menyerah.

Tiffany tersenyum malu-malu, Siwon membelalakan matanya ke arah yeoja itu. Antara kesal dan gemas bercampur menjadi satu.

“Sekarang pengantin dipersilahkan bertukar cincin.”

Tiffany terkejut, ia tidak tahu bahwa dalam pernikahan ada prosesi tukar cincin. Siwon tersenyum ia menyerahkan satu kotak kecil untuk Tiffany.

“Pasanglah cincin ini untukku.”

Akhirnya mereka bedua sama-sama memegang cincin dan menyematkan cincin tersebut ke jari manis pasangannya. Lagi-lagi Tiffany melakukan kesalahan karena membuat cincin itu jatuh ke lantai berkali-kali.

Pendeta rupanya kesal dengan kecerobohan yeoja itu. Berkali-kali ia harus membungkuk untuk mengambilkan cincin yang terlanjur jatuh ke arah kakinya.

Ia berbisik ke arah Siwon,”Lebih baik kau sematkan cincin itu pada jarimu sendiri. Yang penting niatnya sudah ada bahwa kalian memang ingin menikah.”

“Maafkan kami,” Siwon mencoba menengahi kegugupan yang secara nyata ditunjukan Tiffany.

“Dan kini, kalian berdua sah sebagai suami-istri. Siwon-ssi kau berhak mencium istrimu sekarang.”

Siwon langsung mencium bibir Tiffany lembut. Mereka kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dalam suasana kapel yang begitu sederhana, akhinya mereka menikah. Memang bukan pernikahan mewah bertaburan intan berlian. Tidak ada bridesmaid, pengiring pengantin perempuan atau best man, pengiring pengantin pria, gaun pengantin yang menjuntai, cake pernikahan yang tinggi menjulang, serta tamu undangan yang memeriahkan acara.  Ia hanya bisa menawarkan pernikahan yang sederhana tapi dengan mantap ia telah memberikan jiwa dan  hatinya untuk yeoja yang kini sudah menjadi istrinya. Ia tahu menikah bukan serta merta akan membuat mereka mendadak menjadi sepasang suami istri yang bahagia. Tentu akan ada pasang surut dan masalah yang akan menghadang mereka ke depan, apalagi tidak dipungkiri dirinya dan Tiffany adalah dua orang dengan karakter yang sangat bertolak belakang. Butuh waktu yang panjang untuk dapat saling memahami perbedaaan masing-masing. Tapi selama ia masih memiliki Tiffany bersamanya, selama yeoja itu mempercayainya, ia cukup yakin bahwa mereka akan dapat mengarungi semua kehidupan pernikahan yang akan ditemuinya kelak. Baik atau buruk hal yang akan mereka hadapi nanti, selama mereka bersama, Siwon percaya semua masalah akan terselesaikan dengan kebersamaan ini.

Prosesi pernikahan akhirnya selesai sudah. Siwon dan Tiffany telah resmi menjadi suami istri. Memikirkan bahwa mereka telah menikah telah meninggalkan kegugupan sendiri ketika mereka memasuki kamar pengantin, kamar yang Tiffany tempati saat pingsan kemarin. Bukan kamar yang tepat untuk disebut kamar pengantin karena tidak ada hiasan bunga-bunga seperti layaknya kamar pengantin ‘normal’.

Tiffany tidak henti-hentinya meracau, ia ingin mengendalikan rasa malu dan gugup yang melandanya. Anehnya setelah mereka resmi seperti ini, sentuhan seperti saling menggenggam tanganpun menjadi terasa ganjil. Mereka seperti orang asing yang baru bertemu. Ia duduk di tepi ranjang sambil memainkan Ipad milik namja yang beberapa menit lalu sudah menjadi suaminya.

“Appa telah membalas emailku, benar katamu ternyata Oppa dan Omma sangat senang. Ia ingin menelepon kita tapi katanya Appa akan meneleponku besok karena tidak mau mengganggu kita. Aku tidak tahu apa yang kau katakan kepada Appa karena tampaknya Appa sangat menurut padamu. Ia juga  sudah memprediksi bahwa kedatanganmu ke Jepang adalah untuk menikahiku. Aish, aku bingung kenapa Appa tahu terlalu banyak ya? Tapi sudahlah mengetahui Appa dan Omma sudah memberi restupun aku sangat senang.”

Siwon tersenyum, ia membuka tuxedo hitamnya di depan Tiffany yang mulai jengah.

“Oh ya Appa dan Omma katanya akan menghubungi kedua orang tuamu untuk membahas pesta pernikahan kita di Korea. Sebetulnya aku sudah cukup menikah sederhana seperti ini. Tapi aku mengerti keluarga kita mungkin ingin mengundang rekan bisnis, relasi, dan keluarga besar kita.”

Namja itu tersenyum mendengarkan ocehan Tiffany, ia tahu yeoja itu sedang menutupi rasa tegangnya. Ia kini sudah membuka kemeja dan dasinya.

“Member Super Juniorpun mengirimkan email padaku. Aku heran kenapa mereka tidak berani menelepon kita. Email tidak asyik karena kita tidak bisa bercakap-cakap. Kau tahu apa yang mereka tulis. Waah mereka menulis sangat panjang, masing-masing member menuliskan ucapan selamat pada kita. Tapi yang paling panjang adalah dari Kyuhyun, ia malah meminta kita berdoa untuknya agar bisa mempunyai yeoja chingu. Aku tidak menyangka dongsaengmu itu romantis juga. Tapi ia menulis katanya ia ingin segera punya yeoja chingu supaya ada yang bisa memasakkan makanan dan melayaninya. Huh, dia sama saja denganmu Siwon, mencari yeoja chingu atau mencari pembantu?”

Siwon hanya menganguk kini ia sudah bertelanjang dada dan bercelana pendek selutut. Terlihat muka Tiffany yang memerah saat melihatnya. Yeoja itu kemudian menunduk.

“Oh ya, aku belum mendengar kabar dari keluargamu. Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya. Hmm terus terang aku takut keluargamu tidak menyetujuiku. Aku mungkin bukan yeoja yang siap menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku kadang terlalu cuek, ceroboh, canggung, apakah mereka akan menyukaiku?”

Tiba-tiba Siwon sudah ada di tempat tidur dan memeluknya dari belakang. Tiffany mencoba menepiskan pelukan itu. Tapi sia-sia jika harus adu tenaga dengan namja itu karena Siwon telah menariknya kuat sehingga ia terjengkang ke belakang. Dengan cepat Siwon mengangkat badannya sehingga posisi mereka tertidur saling berhadapan. Posisinya kini menindih badan Siwon. Dari atas ia bisa melihat dengan jelas gurat wajah suaminya.

“Siwon?”

“Kau tidak boleh memanggilku seperti itu, yeobo. Kau bisa memanggilku yeobo atau mungkin Oppa itu tidak masalah. Sebelum nanti sebentar lagi kau harus memanggilku Appa.”

“Hmm Oppa saja, baiklah.” Tiffany mengucapkannya dengan nada aneh dan terpaksa.

“Bagus dan perlu kau tahu kau tidak usah khawatir dengan keluargaku. Aku sudah menceritakan dirimu pada mereka dan mereka tampaknya menyukaimu. Tenang saja keluarga kami adalah keluarga yang cukup demokratis. Kau tidak usah terlalu banyak khawatir.”

Siwon mengelus pipi Tiffany yang halus sedangkan yeoja itu memainkan anak rambut Siwon. Sesaat mereka hanya bisa saling bermain dengan pipi dan rambut tanpa ada suara sama sekali. Tiffany tahu saatnya telah tiba. Ia sangat gugup tapi iapun terlalu gengsi untuk menunjukan perasaannya. Sampai kemudian tangan kanan Siwon telah memeluk bagian lehernya. Posisi mereka sudah saling menempel satu sama lain.

“Oppa?”

“Hmm?” Siwon tidak menjawab ia menikmati mencium leher Tiffany yang wangi.

“Apakah kita akan melakukannya.”

“Jika kau menginginkannya.”

“Hmm aku belum mau menginginkannya. Aku belum siap.”

Siwon tiba-tiba melepaskan pelukannya,”Padahal aku sudah banyak berharap malam ini tapi tidak apa-apa aku menunggu sampai kau merasa nyaman.”

“Mianhae Oppa.”

Siwon kemudian memeluknya sambil memejamkan matanya,”Jika begitu tidurlah, kau pasti sudah sangat lelah.”

Akhirnya Tiffany tidur dengan posisi Siwon sedang memeluknya. Mereka berbaring saling berhadapan, ia bisa mendengar suara nafas suaminya dan nafasnya sendiri. Ia bisa mendengar detak jantung mereka, bedanya detak jantung Tiffany terasa lebih cepat. Suaminya itu mungkin sudah tertidur, tapi sayangnya kenapa ia tidak bisa tidur  malam ini. Ia begitu resah. Ia berbalik dari posisi menghadap Siwon sampai membelakanginya, tapi tetap saja ia tidak bisa tidur.

Siwon rupanya bisa menangkap kegelisahan Tiffany. Ia membuka matanya.

“Wae, chagiya eh yeobo?”

“Hmm…:, Tiffany tidak menjawab. Ia malah bermain-main mengelus-elus pipi Siwon dengan jarinya.

Diamnya Tiffany malah membuat Siwon terbangun, sikap istrinya aneh sekali malam ini. Apakah yeoja itu masih malu-malu karena harus tidur berdua dengannya?

“Kau tidak bisa tidur?”

Yeoja itu mengangguk.

“Baiklah aku mengerti. Kau mungkin belum terbiasa seranjang dengan suamimu ini.”

Siwon bangun dan mengambil beberapa bantal.

“Oppa kau mau kemana?”

“Aku akan tidur di sofa, aku tidak mau mengganggumu. Kau harus istirahat.”

Tiffany menarik tangan Siwon,”Jangan tidur di sofa, di sini saja.”

“Tapi kau jadi tidak bisa tidur kan? Sudahlah aku mengerti kita masih harus belajar menyesuaian diri.”

“Hmm bukan itu maksudku?”

Dengan agak sedikit mengantuk, Siwon bingung mencerna sikap Tiffany yang aneh.

“Lalu apa?”

“Aku ingin melakukannya, hmm aku siap melakukannya?”

Spontan Siwon terjaga. Apa maksudnya?

Tiffany menarik tangan Siwon supaya lebih mendekat ke arahnya. Semakin dekat sampai tiba-tiba, cup bibir mungil Tiffany mencium bibirnya. Siwon terkesiap. Tiffany telah membangunkan semua gairah yang ada dalam dirinya. Tapi ia mencoba menahan diri.

“Aku siap untuk malam pertama kita Oppa.”

Sudah cukup, Siwon sudah mengerti maksud pembicaraan ini. Rasa kantuk yang menyerangnya tiba-tiba hilang berganti oleh hasrat yang sangat membara yang selalu ditahannya selama beberapa tahun ini. Obsesinya pada Tiffany yang kadang membuatnya tidak mampu mengendalikan diri. Ia membalas ciuman Tiffany, sampai yeoja itu kemudian mendorongnya untuk menjauh.

“Kenapa? Bukankah kau ingin…”

Siwon menatap Tiffany nanar.

“Hmm, bisakah Oppa mematikan lampunya, atau mengurangi kadar terang lampu di kamar ini, aku malu.”

Yeoja itu tersenyum rikuh.

Dengan berat Siwon beranjak mencari tombol lampu dan sedetik kemudian ruangan kamar itu sudah begitu gelap.

“Segelap ini yang inginkan yeobo?”

Hanya itu suara yang masih terdengar karena selanjutnya hanyalah terdengar suara musik klasik pelan yang dinyalakan Siwon. Mereka akan melakukannya malam ini, malam pertama layaknya pasangan pengantin yang baru menikah. Siwon sangat tegang karena ia tidak mau menyakiti yeoja yang dicintainya. Ia berharap semua berjalan dengan baik seperti seharusnya.

EPILOG

6 Bulan Kemudian.

Tiffany masuk ke kamar tidurnya dengan kesal, ia melempar tasnya sebagai tanda protes. Siwon juga mengikutinya dari belakang dengan perasaan yang sama. Ia membuka jas, dasi, dan kemeja yang dikenakannya dan langsung masuk ke kamar mandi karena gerah. Gerah karena udara musim panas yang membuatnya terus berkeringat dan juga gerah melihat bagaimana Tiffany begitu dekat dengan member Super Junior yang lain. Mereka baru saja menghadiri pesta pernikahan Kibum dan Sulli dan seperti biasa akan selalu terjadi keributan kecil jika mereka berdua pergi ke suatu tempat. Selalu saja begitu, bahkan malam inipun perang dunia akan terjadi lagi entah untuk kesekian kalinya.

“Oppa, jangan masuk dulu. Aku yang pertama masuk kamar ini berarti aku yang berhak untuk mandi duluan.”

Belum juga masalah di tempat pesta tadi selesai, kini mereka sudah membuat masalah baru. Kadang-kadang hanya karena masalah sepele seperti ini. Tiffany dengan handuk kimono yang membungkus tubuhnya dengan cepat menahan suaminya itu untuk masuk ke kamar mandi.

“Ngawur, dari mana peraturan itu bisa datang. Sudah ah badanku gerah aku ingin mandi.”

“Eits, enak saja aku dulu, Oppa,” rengek Tiffany.

Sebuah pikiran aneh tiba-tiba muncul dalam pikiran Siwon.

“Apakah kau tidak capek bertengkar terus dengan suamimu ini? Begini saja, Oppa-mu ini mau mandi, kau juga. Jadi kita mandi bersama saja, ottokhae?”

Tiffany berkacak pinggang, menggelang dengan kuat.

“Aku tidak mau, rencananya hari ini aku sedang marah besar pada Oppa.”

“Mana ada marah tapi direncanakan,” walaupun sedang kesal, Siwon tersenyum geli. Ternyata setelah menikah ia baru tahu bahwa ada sisi kekanak-kanakkan dalam diri istrinya.

“Pokoknya aku marah, aku sedang menikmati pesta bersama dengan teman-temanmu. Oppa seenaknya saja menarikku keluar dan menyuruhku pulang. Aku jadi malu dengan teman-teman Super Junior yang lain, selalu saja begitu, setiap aku dekat dengan namja. Oppa pasti cemburu. Padahal mereka teman baikmu Oppa. Aku juga ingin dekat dengan mereka sama sepertimu.”

Sebenarnya dari awal sebelum menikahpun, Tiffany sudah bisa menangkap gejala posesif yang dari diri Siwon, tapi ia tidak menyangka jika setelah menikah sifat itu justru muncul dan terasa berlebihan.

“Tapi mereka itu namja. Pertemanan kalian tidak bisa disamakan seperti aku dengan mereka. Ingat kau adalah istri Oppa sekarang, namja satu-satunya yang boleh dekat denganmu hanya Oppa, Oppa, Oppa!”

“Selalu saja begitu. Mana bisa aku punya teman jika kau terus mengekang dan mengawasiku terus,” Tiffany menggerutu.

“Kau kan masih punya Jessica dan teman-temen yeojamu yang lain.”

“Mencari teman itu tidak boleh dibatasi Oppa, aku juga ingin punya teman namja. Satu-satunya teman namjaku malah telah kau usir sampai ke Prancis.”

“Maksudmu Kamio?”

Tiffany mengangguk sebal. Ia sudah tahu kalau ternyata suaminyalah yang berada di belakang kepergian namja itu ke Prancis. Appa yang mengatakannya saat pesta pernikahan meriah yang diadakan di Korea beberapa minggu setelah pernikahannya di Nagano. Kamio yang ditunggu-tunggunya tidak bisa hadir karena sudah berada di Prancis. Sebetulnya namja itu bisa saja datang jika Siwon tidak membuat segudang alasan untuk tetap membuat Kamio berada di Prancis selama pesta pernikahannya.

“Mana mungkin aku merelakan Kamio menjadi temanmu jika aku tahu ia mencintaimu,” jawab Siwon datar,  “Seharusnya kau senang karena temanmu itu sudah aku tempatkan di negara yang paling ingin ia tempati. Secara teknis aku tidak mengusirnya hanya memindahkannya saja ke tempat yang paling sesuai dengannya. Ia pekerja keras dan layak mendapatkan promosi.”

Ia melihat istrinya mencibir,“Yaa sama saja. Baiklah Kamio memang pernah punya perasaan denganku. Tapi bagaimana dengan member Super Junior yang lain. Masa aku hanya mengobrol ringan dengan Kyuhyun dan Donghae saja seperti tadi tiba-tiba Oppa jadi kalang kabut seperti itu?”

“Jangan dekat dengan Donghae, dia ahli merayu yeoja.”

Tiffany berkacak pinggang, “Oppa, tapi dia tidak sedang merayu aku.”

Siwon tidak mendengarnya,”Jangan juga Kyuhyun karena dia itu maknae Super Junior.”

“Lantas kenapa jika dia maknae?”

Siwon tidak menjawab ia juga bingung karena alasannya benar-benar tidak logis. Ia hanya tidak mau istrinya terlalu dekat dengan namja selain dirinya. Ia sadar dirinya terlalu berlebihan tapi perasaan ketakutan akan kehilangan Tiffany begitu besar.

“Pokoknya kau jangan terlalu dekat dengan teman-teman namja Oppa.”

Tiffany mengomel sambil berputar-putar seputar kamar. Kabiasaan yang juga baru diketahui Siwon setelah mereka menikah setengah tahun yang lalu. Harusnya yang cemburu itu dirinya, bukan suaminya. Siwon adalah artis terkenal dan juga seorang pengusaha sukses, daya tariknya bisa menjadi magnet setiap yeoja. Bahkan setelah menikahpun, masih banyak sesama artis yeoja dan sosialita Korea yang masih memujanya. Tapi ia percaya pada suaminya seperti ia mempercayai dirinya sendiri. Tiffany begitu kesal karena sampai sekarang Siwon masih belum percaya padanya.

“Posesif, pencemburu. Sudah menikah saja Oppa masih selalu cemburu padaku. Padahal aku hanya ingin berteman baik dengan teman-teman yang sudah sangat dekat dengan Oppa. Kupikir sahabat Oppa adalah sahabatku juga. Aku sedih karena Oppa tidak percaya denganku. Apakah aku terlihat seperti yeoja penggoda? Selama ini waktu telah membuktikan bahwa aku selalu setia pada Oppa tapi Oppa masih tidak percaya padaku juga sampai saat ini. Aku malu tadi ketika kau menggeretku keluar dari tempat pesta. Kesannya aku telah berbuat tidak senonoh dengan teman-temanmu, padahal kami hanya mengobrol ringan. Aku malu dengan Kibum-ah dan Sulli-ah. Mereka sudah mengundang kita dan Choi Siwon yang terhormat merusaknya. Aku sebal tahu!”

Tiffany terduduk di tepi ranjang dengan terisak. Seperti yang pernah diingatkan Omma, menikah bukan berarti akan hidup bahagia selamanya seperti kisah cinta di negeri dongeng. Menikah justru menambah tantangan baru karena kita harus bisa menyatukan dua kepala yang berbeda.

Siwon merasa bersalah, dalam hatinya ia tahu bahwa dirinya terlalu berlebihan menyikapi pertemanan istrinya dengan teman-temannya yang berjenis kelamin namja. Tapi ia juga tidak bisa menutup kenyataan bahwa semakin hari, ia semakin takut kehilangan Tiffany. Ia sangat mempercayai kesetiaan istrinya tapi ketakutan bahwa suatu hari Tiffany akan meninggalkannya membuatnya menjadi lebih posesif. Mungkin penderitaan yang menimpa hubungan mereka sebelum menikah dulu telah meninggalkan luka dan trauma dalam hatinya yang berbekas sampai sekarang. Bagaimana kehilangan Tiffany seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia tidak mau merasakan kesakitan seperti itu lagi. Perjuangan cinta mereka memang penuh liku,  darah dan air mata. Tidak berlebihan jika lantas ia meyakini bahwa Tiffany hanyalah untuk dirinya seorang, tidak akan dibagi dan tidak mau berbagi. Ia tidak mengijinkan orang lain mengagumi kecantikan dan kepintaran yeoja itu  kecuali dirinya. Apapun semua yang ada dalam diri Tiffany, 100% murni adalah milik dia seutuhnya.

Ia menghampiri dan memeluk Tiffany kemudian mencium puncak kepala istrinya pelan.

“Maafkan Oppa , yeobo, jangan menangis ya. Aku bersalah, Aku minta maaf. Aku hanya terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu. Sudah cukup waktu dua tahun saat kita belum menikah dulu menjadi kenangan buruk bagiku.”

Tiffany menatap wajah suaminya. Bagaimana mungkin Siwon yang terkenal sangat percaya diri bisa begitu terlihat lemah saat ini. Ia merengkuh wajah orang yang telah mengisi relung hatinya selama bertahun-tahun ini,”Aku tidak akan kemana-mana Oppa. Bukankah waktu sudah membuktikan bagaimana akhirnya kita selalu bisa bersama-sama. Percayalah padaku. Aku akan selalu menjaga kepercayaan Oppa. Jebal?”

“Aku ingin mencobanya tapi itu tidak mudah.”

“Aku mengerti kita pelan-pelan saja, yang penting Oppa percaya padaku itu sudah cukup berarti bagiku.”

“Tentu saja aku mempercayaimu.”
Mereka kini saling berhadapan, saling bertatapan. Deg, debar jantung itu ternyata masih selalu muncul bahkan setelah berbulan-bulan setelah mereka menikah. Rasa hangat dan desiran dalam jiwa mereka selalu datang dalam kondisi intim seperti ini. Tiffany masih merasa malu jika Siwon dengan lembut menatapnya. Siwon juga masih tidak bisa mengendalikan diri jika yeoja itu berada di sampingnya.

Siwon masih bertelanjang dada, fisik namja itu begitu sempurna baginya. Tidak ada namja yang paling sempurna selain Choi Siwon. Ia beruntung mendapatkan namja itu sebagai suaminya.

Dengan kedua telapak tangannya tiba-tiba Tiffany mengusap-usap dada Siwon yang bidang. Ia menyusuri setiap lekuk tubuh Siwon yang berotot dengan lembut dan hati-hati.

“Aku juga bisa posesif, dada ini milikku dan semua yang ada dalam dirimu adalah milikku.”

Namja itu terperangah dengan sikap agresif Tiffany. Ia tahu sebentar lagi hasratnya yang lain akan muncul dan jika saat itu muncul, siapapun tidak bisa menahan gairahnya yang meluap. Ia langsung menarik Tiffany ke arahnya, memeluknya kemudian menggendongnya. Yeoja itu hanya memakai komono handuk pendek. Mereka lupa sebelum pertengkaran tadi, bukankah mereka sedang berseteru mengenai siapa yang berhak mandi pertama?

“Kau mau bawa aku kemana?”

“Hmm Tiffany,” Siwon menatap yeoja itu intens sehingga membuat pipi istrinya itu merah merona

“Aku ingin punya anak.”

“Mwo? Bukankah kita sepakat menundanya, dengan segala kesibukan kita…”

Tiffany tidak melanjutkan pernyataannya karena Siwon sudah keburu membawa mereka ke kamar mandi.

“Mungkin jika kita punya anak, aku bisa mengalihkan energi cemburuku ini. Aku menginginkan keluarga besar yang ramai. Empat anak bagaimana?”

“Mwo? Apa itu tidak terlalu banyak.”

“Aku suka anak-anak. Rumah kita begitu sepi, Jika ada anak-anak aku tidak akan terlalu sering berpikir yang macam-macam.”

“Tapi empat Oppa, it’s too many dan Oppa tahu aku belum siap punya anak,” keluh Tiffany. Ia sangat takut dengan ide ini.

“Sudah aku katakan aku akan selalu mendampingimu jika saat itu tiba. Kau tidak akan sendirian bahkan Appa dan Omma kita sudah menawarkan bantuan dari dulu. Hanya kau saja yang masih belum yakin.”

“Aku bukan berarti tidak mau punya anak tapi aku belum yakin apakah aku bisa mengurus mereka dengan baik. Aku tidak mau menjadi Omma yang menelantarkan anak-anaknya.”

“Aku yakin kau bisa, kau adalah yeoja yang cepat belajar. Kau ingat saat kau kupaksa untuk bisa memasak dan menjahit? Saat itu bumbu dapur dan cara memasang kancing saja kau tidak tahu tapi ternyata sekarang kau bisa melakukannya dengan sangat baik malah. Masakanmu selalu lezat dan kemeja yang kau buat untukku juga sangat bagus.”

“Tapi itu kebetulan saja.”

“Bukan kebetulan chagiya, tapi karena kau memang cepat paham terhadap sesuatu. Aku yakin mengurus anak juga sama seperti itu, apalagi dengan instingmu sebagai seorang Ibu.”

“Lantas kalau aku punya anak, apakah kau akan berpaling dariku. Mungkin saja aku tidak semenarik dulu.”

“Kau terlalu berpikiran buruk. Aku mencintai apa yang ada dalam dirimu. Aku tidak perduli kau akan menjadi gemuk atau kurus kering sekalipun, aku akan tetap mencintaimu karena aku tidak memuja fisikmu. Okey lah fisikmu memang bagus dan itu adalah bonus untukku tapi bukan itu yang pertama aku cari darimu ketika aku memintamu untuk menjadi istriku. Aku memang menyukaimu dengan apa adanya dirimu, bahkan sifat keras kepalamu yang menyebalkan itu juga membuat aku mencintaimu”

“Benarkah?”

“Percayalah padaku Tiffany.”

“Kau tidak sedang menggombal.”

“Aish, aku berkata apa adanya yeobo.”

Siwon kini sudah menurunkannya di dekat Jacuzzi yang sudah terisi air hangat dan wangi essens flower oil. Namja itu sudah berdiri di depan Tiffany dengan jarak yang sangat dekat, membuat yeoja itu limbung kehilangan pegangan. Ia masih tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dengan kedekatan ini.

Namja itu merengkuh wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mencium istrinya dengan lembut.

“Aku mencintaimu Tiffany.”

Yeoja itu memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya.

“Aku juga mencintai Oppa.”

“Hmm jadi kau setuju untuk membuat program anak malam ini?”

Tiffany membuka matanya mencari keyakinan pada mata suaminya.

“Asal Oppa berjanji selalu ada di sampingku, memiliki empat anakpun aku tidak keberatan.”

Siwon tersenyum, ia kembali mencium Tiffany pelan, kali ini pipinya, keningnya, matanya, kemudian bibirnya. Ia mendorong istrinya ke dinding dan dalam diam mereka saling berciuman dan berangkulan. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati, Siwon membuka tali yang menutup kimono handuk yang menutupi tubuh istrinya. Yeoja itu tercekat jantungnya rasanya berhenti berdetak. Entah apa yang mereka berdua lakukan setelahnya karena namja itu kemudian menutup kamar mandi.

Dan malam ini sebuah rekonsiliasi cinta telah terjadi antara Siwon dan Tiffany. Siwon berjanji untuk mengurangi rasa cemburunya dan Tiffany pun menerima dengan pasrah ide memiliki banyak anak yang ditawarkan suaminya. Begitulah hubungan suami istri yang sebenarnya ternyata tidak mudah. Butuh pengertian dan kepercayaan mendalam di antara keduanya. Tapi di sela-sela kesulitan yang muncul selalu lebih banyak perasaan menyenangkan yang muncul. Perbedaan bukan lagi tantangan. Kebersamaan dalam suka dan duka juga telah menguatkan ikatan pernikahan mereka.Tiffany dan Siwon sama-sama yakin bahwa mereka bisa saling mengandalkan satu sama lain sampai kapanpun.

END

KLIK “WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART

KLIK “DOUBT IN LOVE”

Author:

Di bulan Ramadhan ini author ingin mengucapkan jeongmal mianhamnida karena telah membuat readers menunggu ff ini terlalu lama. Maklum sebagai anak kuliahan, author harus bisa membagi waktu juga dengan mengerjakan tugas dan ujian.

Baiklah mari kita review langsung part ini, dari awal author memang tidak menginginkan banyak cast masuk di seri terakhir ini karena fokusnya adalah untuk membuat kedua insan ini (cieee bahasanya) bisa saling mengerti dan menerima satu sama lain. Author juga ga mau terjebak dalam prosesi pernikahan standar yang ramai dan mewah, author menyukai keheningan untuk mereka, rasanya pas. Mengenai adegan romantisnya, terus terang karena sekarang sudah memasuki bulan Ramadhan, author harus mengerem imajinasi otak liar ini heheh tapi jika readers masih menganggapnya terlalu vulgar mohon dimaafkan yah. Kadang-kadang standar vulgar dan tidak vulgar, atau yadong dan tidak yadong itu tiap orang bisa beda-beda. Khusus untuk hal ini author sampe ngedit beberapa kali, sayang sih banyak part romantis yang harus dibuang tapi sudahlah ini demi kebaikan bersama :)

Mudah-mudahan eksekusi ending STB ini masih bisa dinikmati, terus terang author agak sedikit ga konsen karena otaknya harus dibagi2 tapi untunglah I did it either well or not hehehe.

Baiklah setelah STB ini selesai, akan berlanjut ke love story-nya Kyuhyun. Cast yang akan dipasangkan mungkin mengejutkan untuk beberapa readers tapi percayalah ceritanya menarik kok. Jadi kalo readers masih mau dukung SJRLS ini jangan lupa read, like , comment ya. Masukan dan pujian diterima dengan tangan hampa *halah apa maksudnya. Hmm pokoknya seperti yang pernah author bilang, author akan selalu welcome dengan segala komen bahkan curhat readers. Btw mian jika ada komen yang belum kebales, itu berarti author lagi ga buka HP atau lepi. Gomawo juga buat all readers yang selalu dukung aku, kadang-kadang mood author bisa naik turun saat menulis, tapi ketika membaca komen readers tiba-tiba semangat author bangkit kembali. Seperti  STB part ini, sebetulnya mood lagi turun karena ujian kuliah tapi pas baca lagi support readers, hati ini tergerak untuk segera menulis.

Segitu aja ya readers, pokoknya di minggu ini kalo ada email notifikasi: SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART. Please RCL ya karena itu berarti author yang bikin  bukan orang laen hehehe.

I love u, saranghae, muah muah. (Oh ya lupa , yang nanyain alamat twit n fb, ntar dikonfirmasi pas edisi Kyuhyun ya, aku sengaja pengen bikin khusus untuk dunia per-ff-an hehehe, )

337 Responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 13B – END)”

  1. fransisca aurelia January 15, 2014 at 7:40 pm #

    wahhh….so sweet banget.
    tiffanynya lucu deh merasa kaya anak” aja walau agak egois.
    siwon oppa keren banget bisa sesabar itu sama tiffany dan siwon oppa agak nakal dan romance banget:-)

  2. nur oktaviani May 18, 2014 at 5:05 pm #

    Bagus bngt ff’a happy ending
    tiffany sma siwon serasi bngt di ff ini

  3. SiFany shipper July 15, 2014 at 1:17 pm #

    Wah author aku baca dari part part awal, cerita nya seru banget…

Trackbacks/Pingbacks

  1. SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 1-PROLOG) | FFindo - July 31, 2012

    [...] Part 8  | Part  9   |  Part 10  | Part  11  |  Part  12  | Part  13A   |  Part  13B  | [...]

  2. SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 13 A) « hyeahkim - August 22, 2012

    [...] TO BE CONTINUED [...]

  3. SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PROLOG) « hyeahkim - August 22, 2012

    [...] Part 8  | Part  9   |  Part 10  | Part  11  |  Part  12  | Part  13A   |  Part  13B  | [...]

  4. INTRO_HYEAHKIM | FFindo - May 3, 2013

    [...] sama matkul yang njelimet. FF pertamaku adalah Doubt in Love, ga nyangka responnya bagus, kemudian Siwon The Boss, ff paling epic menurutku dan Wild Orchid for Kyuhyun’s Heart, ff yang paling ngures [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,245 other followers

%d bloggers like this: