Cappuccino (Part 6)

15 Aug

Image

Author: Zola Kharisa

Title: Cappuccino

Cast: Han Hye-Na (OC), Cho Kyuhyun, Other Cast

Genre: Romance, AU, Family

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: This story and OC is mine. But the other cast is belong to God

A/N: Annyeong readers, ini lanjutan dari FF sebelumnya. Buat yang belum baca part sebelumnya atau dari awal, bisa klik link di bawah ya. Oke nggak lama, selamat membaca!

Credit Poster: Thanks to Nana (myfishyworld.wordpress.com)

Previous:  [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4A] [Part 4B] [Part 5]

~~~oOo~~~

AUTHOR’S POV

Sudah hampir pukul 8 malam di Seoul, namun gadis itu masih enggan melepaskan tatapannya pada sosok yang amat dirindukannya. Seorang wanita dengan umur yang sudah mencapai kepala lima itu—dengan segala kesempurnaan fisiknya—tersenyum menatap anak semata wayangnya yang kini masih sesenggukkan menangis. Sedangkan pria paruh baya yang juga berada di dekat gadis itu hanya bisa mengelus kepalanya lembut—berharap gadis itu dapat meredakan tangisannya.

Hye-Na jarang menangis, wanita dan pria itu tahu betul tentang satu hal itu. Ia hampir tidak pernah menangis di hadapan kedua orang tuanya. Bahkan mungkin lima jari tangannya saja sudah lebih dari cukup untuk menghitung berapa kali ia menangis di depan wanita dan pria paruh baya itu. Dan mengetahui itu, kedua orangtuanya merasa bangga sekaligus sedih. Bangga mengetahui Hye-Na tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan mereka—agar mereka tidak khawatir. Namun sedih juga bila mengetahui mungkin gadis itu akan menangis tersedu-sedu—seperti sekarang—di belakang mereka.

Hye-Na mengusap air mata dengan punggung tangannya. Mata gadis itu memerah. Membuat sebersit kekhawatiran menghinggapi wanita yang masih terbaring lemah di ranjang.

“Eomma tidak perlu khawatir. Aku menangis bukan karena sedih. Eomma tahu kan kalau aku menangis karena terlalu bahagia? Berarti penantianku berbuah hasil.” Seakan bisa membaca pikiran Eommanya, Hye-Na menarik dua sudut bibirnya ke atas.

Eomma mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Hye-Na yang melihat itu langsung menahan lengan Eomma. “Jangan dulu Eomma,”

“Tapi Eomma merasa tubuh Eomma terlalu kaku jika terus berbaring Hye-Na~ya.” Eomma menatap manik mata Hye-Na—meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hye-Na menghela napas, lalu dengan perlahan membantu Eomma bangun. Wanita itu sedikit meringis, namun ringisannya tak terdengar Hye-Na. Ia menyenderkan punggungnya ke sandaran tempat tidur dan mengucapkan kata terima kasih tanpa suara.

Hye-Na baru saja ingin beranjak untuk mengambil segelas air putih untuk Eomma ketika seseorang menahan lengannya. “Duduklah di sini. Eomma ingin menceritakan sesuatu,”

Gadis itu mengerutkan keningnya heran sebelum dengan patuh kembali duduk di kursi samping ranjang kedua orang tuanya.

“Apa yang ingin Eomma ceritakan?”

Eomma menarik napas dalam-dalam lalu meraih tangan Hye-Na agar berada dalam genggamannya.

“Selama Eomma koma, Eomma pernah bermimpi suatu kali,” ia melirik Appa yang berada di seberangnya, tersenyum, lalu kembali membuka mulut. “Di dalam mimpi itu, Eomma bertemu dengan kau, Appa, dan seorang… namja yang Eomma tidak ketahui siapa.”

“Saat itu kita berada di sebuah ruangan putih, tanpa cela atau pun noda. Eomma waktu itu menghampiri kalian. Tapi saat Eomma ingin menghampirimu, Eomma melihat seorang namja menggenggam salah satu tanganmu. Wajah namja itu terlalu samar, sehingga Eomma tidak bisa mengetahui dengan jelas bagaimana rupanya.

“Kau dan namja itu tersenyum kepadaku. Lalu tiba-tiba kau memelukku, berbisik, dan bilang kalau kau akan meninggalkan Eomma. Setelah itu kau dan namja itu berbalik dan pergi menjauh dari tempatku. Saat itu Eomma ingin mengejarmu, bertanya apa maksudmu mengatakan hal itu. Tapi tangan Appa tiba-tiba menahan bahuku untuk menyusul kalian, Appa berkata kalau kau tidak akan pergi ke tempat yang jauh, hanya sebuah tempat di mana tidak bisa setiap saat Eomma dapat melihatmu.

“Lalu…,” Eomma menatap manik mata Appa. “setelah kalian pergi, Appa mengajakku untuk pulang. Entah untuk pulang ke mana. Saat kami membuka sebuah pintu, pemandangan pertama yang kami lihat adalah sebuah altar gereja. Dan aku melihat kau dan namja itu duduk di barisan paling depan seraya menyunggingkan senyum pada kami. Ketika tersadar, saat itu sedang berlangsung sebuah pernikahan. Namun anehnya, calon mempelai wanita dan pria itu adalah… Eomma dan Appa sendiri.” Eomma mengakhiri penjelasannya.

Hye-Na dan Appa tampak menatap Eomma tidak berkedip. Kedua mulut mereka terbuka. Hening selama hampir satu menit sebelum seorang gadis membuka mulutnya. “Eomma… tidak sedang mengarang kan?”

Eomma menggeleng. “Untuk apa? Itu benar-benar mimpi yang Eomma alami. Bahkan mimpi itu kembali terulang untuk kedua kalinya.”

Hye-Na dan Appa yang mendengar itu menghela napas bersama sebelum keduanya bertatapan dan tertawa  keras.

Eomma yang melihat itu merasa tidak terima. “Kalian berdua, apa yang lucu?”

Hye-Na masih tertawa gelak, sedangkan Appa mulai meredakan tawanya. “Eomma… dalam mimpi itu aku bersama dengan seorang namja? Omona, bagaimana bisa Eomma bermimpi seperti itu?”

“Eomma tidak tahu. Kau dan namja itu sering menghampiri mimpi Eomma. Bahkan sebelum Eomma sadar sekarang, Eomma bermimpi kalau kau dan namja itu… menikah.”

Hye-Na yang sedari tadi tertawa, kini menghentikan tawanya. Pandangannya berubah serius. “Seperti apa kira-kira rupa orang itu, Eomma?”

Eomma mengangkat bahu. “Eomma tidak tahu. Rupa wajahnya samar-samar di ingatan Eomma.”

Mendengar itu Hye-Na mendesah pelan. Itu hanya mimpi Hye-Na, tidak perlu dipikirkan.

“Sudah malam Hye-Na, apa kau tidak ingin pulang? Besok kau masih harus kuliah.” Suara Appa terdengar di belakang Hye-Na.

“Tapi aku masih ingin—“

“Appa benar. Kau harus pulang sekarang. Lihatlah, tubuhmu pasti sudah lengket dan kau butuh mandi. Besok kau bisa kembali ke sini Hye-Na. Oke?” Eomma menyela Hye-Na seraya mengelus perlahan rambut panjang gadis itu.

Hye-Na menghela napas dan mengangguk kecewa. Gadis itu sebenarnya masih sangat ingin bersama dengan kedua orang tuanya. Tapi mengingat apa yang dikatakan Eomma dan Appanya benar, gadis itu hanya bisa menuruti apa yang dikatakan wanita dan pria itu. Lagipula, bukankah esok ia masih bisa bertemu mereka?

“Baiklah, kalau begitu aku pamit.” Hye-Na bangkit dari duduknya lalu mengecup singkat pipi kedua orang tuanya sebelum berlalu meninggalkan ruangan bercat putih itu.

Keheningan muncul di ruangan itu ketika Hye-Na sudah menghilang dari balik pintu. Atmosfir canggung menyelimuti keduanya sebelum suara berat seorang namja terdengar. “Sudah lama bukan kita tidak berkumpul seperti tadi?”

Eomma menoleh dan tersenyum tipis. “Benar. Sudah sangat lama.”

“Soal mimpimu tadi… apa ada kelanjutannya?”

Eomma sedikit terperangah ketika Appa membahas soal mimpi itu. Lalu wanita itu menggeleng lemah. “Tidak ada. Hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Aku merasa kalau mimpi itu terasa begitu nyata. Apalagi saat… Hye-Na dan sosok namja itu menikah.” Eomma menghembuskan napasnya. “Hyunjoo-ya, apa ada yang terjadi pada Hye-Na selama aku koma?”

Appa menatap Eomma lama. Pria itu begitu rindu akan semua yang dimiliki wanita di hadapannya. Terutama pada bola mata sebening kaca miliki wanita itu—berwarna biru safir alami.

“Tidak ada yang terjadi, semua baik-baik saja,” Appa meyakinkan Eomma. “Namun kurasa… putri kita sedang menyukai seseorang Jisun-ah.”

Pupil mata Eomma melebar. “Hye-Na sedang menyukai seseorang? Apa kau tahu siapa orangnya?” wanita itu berujar tergagap.

Appa menegakkan bahu singkat. “Aku tidak mengenalnya. Namun sepertinya namja itu adalah… putra Presdir Cho Corp.”

Tubuh wanita itu tiba-tiba menegang. Darahnya berdesir cepat. “Putra… Presdir Cho Corp? Kau tidak sedang bercanda kan, Han Hyunjoo?”

***

Seorang namja masih tampak asyik dengan PSP yang berada di kedua tangannya. Jari-jarinya dengan lincah menari di atas tombol-tombol itu, sedangkan matanya tampak fokus tak berkedip di depan layar.

Tiba-tiba, suara umpatan ke luar dari mulutnya ketika tulisan ‘GAME OVER’ tertera dengan jelas di tengah layar. Dengan kesal, ia melemparkan tubuhnya ke sandaran sofa. Tangan kanannya sibuk memijat dahinya yang sebenarnya tidak sakit. Ia memejamkan matanya perlahan—berharap dengan melakukan hal itu perasaan kesalnya bisa menghilang sedikit demi sedikit. Namun sepertinya hal itu sama sekali tidak membuahkan hasil, karena beberapa detik setelah itu, ia kembali membuka matanya dan menghela napas berat.

Sudah tiga hari Kyuhyun tidak menemui gadis itu. Ia merasa ada sesuatu yang kurang—atau menghilang—di dalam hidupnya. Sebenarnya bukan keinginannya untuk tidak bertemu dengan gadis itu. Justru ia sudah mencoba beberapa kali untuk menemui gadis itu di kampus setiap kali melihatnya, namun Kyuhyun merasa gadis itu menghindar. Menghindar tepat saat Kyuhyun sudah berada di dekatnya. Namja itu juga merasa bingung dengan sikap gadis itu padanya. Apa ada yang salah terhadapnya? Atau gadis itu marah kepadanya?

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak ada yang salah terhadapku. Lantas, apa? Mengapa Hye-Na seperti menghindariku?

“Ada apa Kyu?” Kyuhyun tersentak dari lamunannya, lalu mendongak pada seorang gadis yang sedang membawa beberapa toples snack dan satu cangkir… coffee? Seperti déjà vu, Kyuhyun tersenyum tipis. Matanya menerawang.

“Halo… kau mendengarku kan Kyu?” gadis itu—Sora, menaruh benda-benda itu ke meja di hadapannya lalu duduk di samping Kyuhyun. “Apa yang sedang kaupikirkan? Mengapa kau tak mengacuhkan pertanyaanku?”

Kyuhyun tersadar, lalu menggeleng. “Tidak, tidak ada. Ah, apa itu?” Kyuhyun menunjuk secangkir kopi di depannya.

Kau bohong Kyu, batin Sora dalam hati. Lalu mengikuti arah tunjuk Kyuhyun.

“Itu hot coffee. Kau sedang tidak berpura-pura tidak tahu kan?” Sora memicingkan sedikit matanya. Kyuhyun tertawa samar lalu menatap Sora.

“Kupikir hot chocolate, mian,” Kyuhyun nyengir lalu mengambil secangkir coffee itu dan menyeruputnya perlahan.

Sora menghela napas. “Hot chocolate adalah minuman kesukaan Jungsoo Oppa. Jadi, ya, kau tahu kan kalau persediaan cokelat panas di rumah ini pasti cepat habis?”

Kyuhyun mengangguk kecil tanpa berniat menanggapi ucapan Sora. Lalu dengan pelan, mengambil remot televisi di depannya.

Sora yang melihatnya mengernyit samar. Dan garis-garis di dahinya semakin bertambah begitu melihat film apa yang ditonton Kyuhyun.

“Kyu, kau sedang demam?” Sora menaruh telapak tangannya di dahi Kyuhyun. Tidak panas, batinnya.

Kyuhyun melepas telapak tangan Sora yang menempel di dahinya dan melirik sekilas gadis itu. “Bagaimana bisa kau berpikir kalau aku demam? Memang apa yang salah denganku?”

Sora mendengus. “Kau tidak pernah sekalipun tertarik pada drama-drama di Negara kita Kyu-ya. Kecuali beberapa yang lain di antaranya.”

“Aku memang tidak tertarik. Hanya saja…” Kyuhyun menggantung ucapannya. Sekilas, momen beberapa hari yang lalu terkenang di dalam benaknya. Ia masih ingat dengan jelas apa yang ia lakukan tiga hari lalu. Hal yang membuatnya hampir saja…

“Kau melamun lagi.” Ucapan Sora menyentakkan Kyuhyun pada kehidupannya sekarang. Ia menoleh pada gadis yang tengah melipat kedua lengannya di dada. Matanya terpejam, ia membanting punggungnya ke sandaran sofa. Sepertinya gadis itu sedang kesal karena tak diacuhkan. Atau bukan sepertinya, tapi memang kesal.

“Mian,” ucap Kyuhyun singkat namun sukses membuat Sora membuka mata. Kemudian menolehkan kepalanya ke samping, dan menatap tepat di kedua bola mata warna coklat di hadapannya. Kyuhyun yang sedikit merasa risih ditatap Sora seperti itu akhirnya angkat bicara. “Waeyo?”

“Kau masih ingat perjanjian kita, kan?”

Kyuhyun mengangkat alis dan menegakkan bahu. “Hmm, ya.”

“Jadi, apa yang kau rasakan sekarang?”

Sora tidak mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun begitu melihat raut wajah Kyuhyun berubah. Gadis itu sebenarnya masih menyukai Kyuhyun—ani, mencintai. Namun bukan karena sebuah obsesi. Setiap orang pasti akan merasa egois setiap mengenal kata yang disebut cinta. Jika dibolehkan memilih antara menjadi seorang desainer terkenal atau menjadi kekasih Kyuhyun, opsi kedualah yang pasti akan dipilih gadis itu. Namun sayangnya, empat tahun yang lalu, opsi kedua sama sekali tidak menjamin. Bahkan bisa dipastikan, ia tidak akan bisa mendapatkan apapun jika terus berharap pada opsi kedua empat tahun yang lalu. Namun, itu empat tahun yang lalu, berbeda dengan saat ini, detik ini. Jadi, bisakah ia berharap kembali menjadi kekasih namja itu? Setelah mendapatkan opsi pertama yang diraihnya?

“Aku… masih belum bisa memahami perasaanku sendiri Songie. Jadi, aku masih memiliki waktu untuk memikirkannya kan?”

Kau bukan belum bisa memahaminya Kyuhyun-ah, tetapi hanya tidak mencoba untuk mengertinya. Berhentilah menyiksa batinmu sendiri.

“Ya… aku mengerti. Kau masih punya waktu kurang lebih tiga minggu lebih tiga hari. Jadi, pikirkanlah baik-baik,” Sora menyentuh lengan Kyuhyun perlahan. “Tapi aku juga tidak akan berhenti untuk mencoba membuatmu menyukaiku Kyuhyun-ah. Jadi, bisakah kau juga membuka hatimu untukku?”

Kyuhyun sedikit terperangah mendengar ucapan yang dikeluarkan Sora. Ia merasa… bingung. Di satu sisi, ia ingin mengiyakan ucapan gadis itu—setidaknya memberikannya kesempatan—walaupun ia tahu persis kalau kemungkinannya adalah satu banding seribu. Namun di sisi lain, hati kecilnya seperti memberontak. Ia tidak boleh mengiyakan ucapan gadis itu—yang mungkin malah akan membuat Sora merasa mendapat harapan dari Kyuhyun. Padahal sudah jelas kalau perasaan Kyuhyun tidak pernah terasa menggebu-gebu saat bersama dengan Sora. Ia tahu itu, namun saat ini ia masih mencoba menyangkalnya. Ia tidak ingin membuat Sora merasa terluka karenanya, meskipun ia tahu, suatu saat ia pasti akan melukai gadis itu. Atau di masa lalu, ia juga pernah melakukannya. Namun saat itu berbeda, karena Sora hanya mengungkapkan perasaannya bukan menginginkan namja itu menjadi kekasihnya secara terang-terangan seperti ini.

“Biarkan waktu yang menentukan segalanya, Songie-ya.” Ucap Kyuhyun setelah beberapa menit keheningan tercipta di antara keduanya.

Sora mengangguk kecil. “Kau tidak pernah berpikir aku bodoh kan?”

Kyuhyun mengernyit. “Kenapa? Aku tidak pernah berpikir kalau kau bodoh,”

“Bodoh dalam artian… seperti menunggu harapan yang tak pasti.”

Kyuhyun sedikit terkejut. Ia tahu ucapan Sora ditunjukkan padanya, tapi ia tak pernah menduga kalau Sora benar-benar akan mengatakan hal itu. Hal… yang seolah-olah Kyuhyun telah membuat Sora berpikir kalau ia adalah gadis yang paling tidak beruntung. Gadis yang menganggap dirinya bodoh, dan dengan pikirannya yang melambung jauh, ia berpikir kalau namja yang dicintainya menganggapnya bodoh juga. Namun Kyuhyun tidak pernah berpikir begitu. Itu hanya pemikiran sesaat—kala dimana gadis itu merasa harapannya semakin tipis.

Kyuhyun tidak bersuara. Ia hanya menatap Sora lalu mengembangkan senyumnya—berharap dengan itu dapat menggantikan suaranya untuk menjawab. Sora terperangah melihat Kyuhyun tersenyum. Tapi lagi-lagi pemikiran sesaatnya menghampiri otak gadis itu. Ia tidak boleh lagi jatuh terlalu dalam pada pesona yang terpancar dengan kuat dari namja di sebelahnya. Tidak boleh lagi.

Karena ia belajar mencoba untuk mengerti dengan satu hal yang terus mengusik benaknya. Pilihan. Kalau dalam sebuah ujian terdiri dari empat opsi dan ia hanya boleh memilih satu, lalu bagaimana dengan keputusannya empat tahun yang lalu? Ia hanya memiliki dua opsi, namun begitu sulit. Dan gadis itu dijatuhkan pilihan untuk memilih satu di antaranya. Opsi pertama untuk karirnya, dan opsi kedua untuk orang yang dicintainya. Tapi keduanya sama sekali tak menjamin. Tak menjamin bahwa kehidupannya di masa depan akan terlihat bersinar dan secerah harapannya.

Lalu sekarang, bagaimana jika gadis itu kembali di hadapkan oleh dua opsi yang sulit? Memperjuangkan cintanya demi kebahagiaannya sendiri, atau… meninggalkan semuanya demi kebahagian namja yang dicintainya?

Ia menghela napas berat, lalu memejamkan matanya. Sekarang gadis itu sedang lelah berpikir dan butuh sebuah sandaran. Lalu dengan satu gerakan ragu, ia menyenderkan kepalanya di bahu namja di sampingnya. Sedangkan Kyuhyun terlihat tidak menolak, sampai saat ini ia hanya menganggap Sora yeodongsaengnya sendiri, tidak lebih.

Sora memposisikan kepalanya agar terasa lebih pas dan nyaman di bahu Kyuhyun. Sementara otaknya mulai berpikir lagi, pemikiran ringan, dan sebuah harapan. Semoga esok semuanya terlihat lebih jelas. Kalau saat ini aku belum bisa menentukan pilihannya, bisakah aku memilih satu di antara dua opsi itu besok? Setidaknya, mungkin, Tuhan menakdirkanku memilihnya besok, atau mungkin lusa. Atau mungkin minggu depan, satu bulan, lalu…

Gadis itu mendadak membuka matanya namun tidak beranjak dari bahu nyaman Kyuhyun. Tiba-tiba kepalanya teringat satu hal. Satu hal yang seharusnya tidak boleh ia lupakan sama sekali.

Besok, ia akan bertemu dengan gadis itu. Jadi, bukankah itu akan membantunya untuk memantapkan pilihannya terhadap dua opsi tersebut?

***

HAN HYE-NA’S POV

“Mengapa kau tergesa-gesa sekali Hye-Na~ya?”

Aku menoleh pada Hyo-Mi yang kini tengah menatapku bingung seraya menggelengkan kepala lalu kembali pada aktivitasku memasukkan barang-barangku ke dalam tas.

“Yaa! Apa maksudmu menggelengkan kepala seperti itu? Bukan jawaban tidak, kan?” kurasakan ia mendengus, aku hanya tersenyum tipis menanggapi. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. 13.45. Berarti aku masih punya waktu lima belas menit lagi untuk sampai ke kafe.

Aku memutar tubuhku untuk pergi dari kelas yang sudah kosong itu—hanya tinggal aku dan Hyo-Mi. Saat aku akan beranjak, sepasang tangan seseorang memegang bahuku. Oh, siapa lagi kalau bukan Hyo-Mi.

“Ada apa Hyo-ya? Aku sedang buru-buru,”

“Kau belum menjawab pertanyaanku Hye-Na~ya, kau mau ke mana sampai buru-buru seperti itu?” Hyo-Mi menatapku, terlihat sedikit kekhawatiran di raut wajahnya.

Aku tersenyum. “Aku mau bertemu dengan Sora, Hyo-ya.”

Sudah kuduga, matanya pasti membulat. “Sora? Jung Sora? Ada apa kau bertemu dengannya?”

Aku mengangkat bahu. “Entah. Kemarin ia meneleponku dan mengajakku bertemu siang ini. Ah,” aku melirik jam tanganku. Sisa sepuluh menit lagi, dan aku tidak ingin membuatnya yang malah menungguku. “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Kita bertemu lagi besok, oke?” lanjutku lalu segera beranjak dari tempat itu. Kudengar Hyo-Mi memanggil-manggil namaku di belakang, tapi maaf Hyo-Mi, untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa membuat gadis itu menungguku.

Karena lebih baik aku yang menunggunya, agar aku bisa mempunyai waktu untuk menormalkan degup jantungku. Dan… aku merasa ada sesuatu yang ganjil di dalam perasaanku. Tapi, apa?

***

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe, mencari-cari sosok gadis itu di antara orang-orang yang tengah mengobrol, makan, atau sekedar minum coffee sambil memainkan gadget-nya. Namun sampai pandanganku tertuju pada sudut pojok kafe ini pun, batang hidung gadis itu sama sekali belum kelihatan. Jadi kesimpulannya adalah Sora belum datang ke sini.

Aku menghela napas lega mengetahuinya, lalu melangkahkan kakiku menuju salah satu tempat kosong yang berada di samping jendela. Belum sempat aku sampai ke tempat itu, tak sengaja aku menabrak seseorang di depanku. Aku sedikit meringis begitu tahu kalau yang kutabrak adalah seorang namja.

“Mianhae,” aku membungkukkan badan, belum berani menatap raut orang itu secara langsung. Salah-salah, bisa saja namja di depanku malah memaki-makiku di depan belasan pengunjung kafe di sini.

Aku merasakan keheningan. Kenapa? Apa ia marah dan sedang mencoba menahan emosinya? Atau jangan-jangan coffee yang dibawanya tumpah di bajunya?

Dengan takut-takut, aku mendongakkan kepala perlahan. Menatap bajunya yang mungkin saja terkena tumpahan cairan coffee itu. Tapi pemikiranku meleset, coffee itu masih berada di genggamannya, secara utuh tanpa sedikitpun tanda-tanda akan jatuh dari si pemilik tangan itu. Lalu, bagai slow motion aku mendongakkan lagi kepalaku untuk melihat wajah namja yang kutabrak.

Deg. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan cepat. Napasku mendadak sesak. Kakiku terasa lemas, bahkan sekarang aku benar-benar berusaha keras agar kakiku dapat menopang tubuhku untuk tetap berdiri.

Oh Tuhan, apa semua ini benar? Apa ini mimpi?

Namja itu berdiri tepat di depanku dan raut wajahnya juga tak kalah terkejut denganku. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Namun saat ini ia terlihat lebih tampan, dan dewasa—bukan lagi seorang namja yang menggunakan seragam SMA. Tubuhnya terlihat tegap dan lebih tinggi. Rambutnya berwarna coklat tua hampir kehitaman itu menambah kesan good-looking pada penampilannya.

Tak ada yang bersuara di antara kami. Aku tahu, ia juga pasti syok melihat orang yang ditabraknya adalah aku. Beberapa pengunjung di kafe ini juga kurasa memperhatikan kami, namun aku sama sekali tidak peduli.

Sampai akhirnya, aku mendengar suaranya. Suara bass khas namja—dan dirinya—yang mengucapkan namaku. Ia terlihat gugup, tapi semuanya langsung terasa lenyap tak berbekas saat ia mengulurkan tangannya dan tersenyum.

“Hye-Na, apa kabar?”

Aku menatap matanya lalu beralih pada tangan kanannya yang terulur. Beberapa kali aku melakukan itu hanya untuk memastikan kalau semua ini benar. Lalu dengan canggung, aku menyambutnya. “Aku baik Donghae… Oppa. Bagaimana denganmu?”

Ia mengangguk. “Aku juga sama baiknya denganmu,” ia melirik meja di belakangnya—sebuah tempat di mana sebelum ada insiden tabrak ini, aku sudah melirik meja itu terlebih dahulu. “Sepertinya kita bisa duduk di sana terlebih dahulu.” Ia tersenyum padaku sembari menarik tanganku menuju tempat itu.

“Jadi, sudah berapa lama kita tidak bertemu?” ujarnya memulai pembicaraan.

“Hmm, sekitar… empat setengah tahun?”

Ia tertawa. Tawa yang sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Sudah lama sekali…” matanya terlihat menerawang lalu beralih menatapku. “Kau juga tampak berubah sekarang,”

“Berubah dalam artian apa?” ucapku dengan nada berpura-pura menyelidik.

“Semuanya. Kau terlihat seperti gadis yang cantik dan cerdas.” Sahutnya sambil melontarkan cengiran innocent.

Aku mencibir. “Jadi Oppa baru tahu hal itu sekarang?”

“Tidak sepenuhnya,” ia tersenyum lagi.

Aku mengangguk. “Bagaimana Oppa bisa berada di sini? Bukankah Oppa sedang berada di New York?”

Sesaat aku merasakan tatapannya berubah, namun aku tidak tahu apa arti di dalam tatapannya itu. Lalu ia tersenyum tipis, sangat tipis. “Sekolahku di New York sudah selesai Hye-Na~ya. Sekarang… aku kembali ke Seoul.”

“Jinjja? Wah, chukkae berarti untuk kelulusanmu!” aku hampir saja menjerit mengucapkannya. Kulihat ia tertawa kecil, lalu tangannya terangkat, dan mengacak-acak pelan rambutku.

“Kau tidak berubah Hye-Na~ya… ah,” Donghae Oppa melirik jam tangannya lalu menepuk singkat dahinya. “Aku harus pergi sekarang. Ah, hmm, kau tidak apa-apa?” sejenak ia menatap ragu padaku.

Aku menganggukkan kepala. “Tidak apa-apa Oppa. Lagipula, aku di sini memang sedang menunggu seseorang.” Aku tersenyum simpul meyakinkannya. Sebelum beranjak, ia merogoh sesuatu di dalam tas ranselnya, lalu mengeluarkan sesuatu seperti…

Aku merasakan ia menatapku sendu sekaligus teduh. Ia meraih tanganku lalu menyelipkan benda itu pada jari-jariku. “Ini… undangan pernikahanku. Kalau bisa, datanglah.” Ia mengembangkan sebuah senyum, yang entah mengapa sedikit membuat kepalaku berdenyut.

Donghae Oppa akan segera menikah? Dengan siapa?

“Aku pasti akan datang Oppa. Chukkae! Apa aku tahu siapa orangnya?” aku menatap tepat di manik matanya.

“Aku tidak akan memberitahumu. Baca saja undangan itu, oke?” sekali lagi, ia mengacak pelan rambutku sebelum beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku sendirian.

Seandainya aku masih berada pada posisi yang sama bertahun-tahun yang lalu, mungkin sekarang aku akan jatuh terduduk di lantai. Kembali menangis tersedu-sedu, mengurung diri tanpa membiarkan satu orang pun berbicara padaku. Namun entah, bahkan aku tidak bisa mengingat bagaimana bisa aku mengatakan hal itu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa aku bersikap normal seperti itu dengannya. Bersikap seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi. Tapi lagi-lagi, aku tidak bisa mengingat memang-apa-yang-terjadi-di-antara-kami. Aku tidak mengerti mengapa senyumannya sempat membuat kepalaku berdenyut. Apa ini efek karena aku belum sarapan? Atau karena aku tidak bisa tidur dengan nyenyak kemarin malam?

Lalu kemudian, aku menoleh kearah jendela di sampingku. Dan mataku menangkap sosok Sora yang sedang berjalan masuk ke pelataran kafe. Aku menghela napas, ternyata masih ada sesuatu yang lebih membingungkan dari ini.

Sebenarnya, apa yang mau dibicarakan oleh gadis itu?

***

AUTHOR’S POV

“Apa yang mau kau bicarakan Sora-ssi?” tanya Hye-Na ketika seorang pelayan telah meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan Sora.

Sora tersenyum tipis. “Aku tidak akan berbasa-basi Hye-Na-ssi. Tapi sebelumnya, kuharap kau tidak akan marah pada siapapun yang akan aku bicarakan nanti.”

Hye-Na mengernyit, tak mengerti dengan maksud gadis di depannya. “Marah? Untuk apa?”

“Katakan saja iya atau paling tidak anggukkan saja kepalamu,”

Hye-Na tampak menimbang sejenak sebelum akhirnya mengangguk pasrah.

“Oke,” Sora menarik napas. “Apa kau mencintai Cho Kyuhyun?”

Hye-Na terperangah. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu terlontar dari mulut seorang Jung Sora. Mendadak lidahnya terasa kelu. Ia mencoba untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya begitu dirasa ia menahan napas cukup lama.

Sekelebat memorinya bersama dengan Kyuhyun kembali muncul di benaknya. Ia merasa nyaman berada di dekat Kyuhyun. Bahkan saat ini saja, batinnya sudah cukup letih tidak bertemu dengan namja itu. Entah perasaan apa yang membuat Hye-Na seperti itu, tapi yang pasti—yang selalu ia tahu—adalah kalau saat bersama dengan Kyuhyun jantungnya akan berdetak di atas normal. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia tidak mau langsung menyimpulkan kalau ia mencintai namja itu. Ia tidak mau, bukan berarti ia tidak ingin.

Ia hanya takut, takut kalau perasaannya akan semakin meluap dan tak mampu dibendungnya.

“Oh, kau sudah tahu kalau aku adalah kekasih pura-puranya, kan?” Hye-Na tertawa samar. “Untuk masalah perasaanku padanya… aku tidak tahu. Butuh waktu untuk menyadarinya Sora-ssi.”

Tapi kau tidak mencoba untuk mengerti dan menyadarinya Han Hye-Na, batin Sora.

“Lalu? Bagaimana kalau seandainya aku menjadi kekasih Kyuhyun yang asli? Apa kau akan marah padaku ataupun pada Kyuhyun?”

Hye-Na tersentak, dan sedikit mengaduh saat punggungnya terbentur sandaran kursi kayu di belakangnya. “A-Apa kau serius?”

Sora baru akan menjawab ketika pesanannya tiba. “Gamsahamnida,” Sora tersenyum pada sang pelayan. Lalu tatapannya beralih kembali pada Hye-Na.

“Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Aku bisa saja menjadi kekasih Kyuhyun. Lalu, kau, bagaimana perasaanmu?”

Hye-Na tidak bersuara. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit. Kepalanya tiba-tiba berdenyut dengan cepat. Ia seperti pernah mengalami hal ini, tapi ia tidak tahu kapan pastinya.

“Sudah kukatakan kalau aku tidak tahu Sora-ssi. Kalau Kyuhyun mencintaimu… mengapa kau harus bertanya padaku? I… itu tidak hubungannya denganku.” Hye-Na tampak mengalihkan tatapannya, lalu meraih cappuccino-nya dan meneguknya.

Sora mendengus. “Kau akan menyesal.”

“Mwo?”

“Kau akan menyesal Hye-Na-ssi. Tempo lalu aku membuat perjanjian dengan Kyuhyun,” Sora menarik napas. “Dalam perjanjian itu, Kyuhyun harus bisa menentukan pilihannya—siapa gadis yang sebenarnya dicintainya, aku, atau kau—dengan batas waktu sampai ujian kelulusan berakhir. Kalau ia memilihku, maka kau yang harus mundur teratur. Tapi kalau kau… aku yang akan mundur mendapatkan Kyuhyun. Adil, kan?”

“Kau bercanda.”

“Kau pikir aku bercanda? Aku serius. Dan, oh, apa Kyuhyun tidak mengatakannya padamu?” Sora memicingkan sebelah matanya menatap Hye-Na intens.

Hye-Na menggeleng. Tangannya terkepal kuat di bawah meja. Tidak ada yang tahu, termasuk Sora, kalau gadis itu sedang menahan emosinya. Reaksi tubuhnya membenarkan, tapi raut wajahnya, siapa yang tahu? Terlalu tenang dan datar, walau bibirnya kini tampak sedikit bergetar.

“Kalau kau memang tidak memiliki perasaan apapun padanya, jangan dekati dia lagi. Sudahi permainan kalian yang berpura-pura seperti itu. Sampai kapan kalian akan terus membohongi semua orang di sekitar kalian? Kau pikir, kau akan bisa seperti ini terus bersama dengan Kyuhyun? Menjadi sepasang kekasih tanpa dasar saling menyukai ataupun mencintai?” Sora bangkit, lalu berjalan ke samping kursi Hye-Na. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya agar bisa mensejajarkan pandangannya dengan Hye-Na.

“Suatu hari kau akan menyesal kalau kau tidak mencoba mengerti dirimu sendiri. Pikirkanlah baik-baik. Walaupun aku mencintai Kyuhyun, tapi aku mencintainya tanpa dasar obsesi. Kalau ia mencintai orang lain yang lebih baik daripada diriku, aku akan dengan rela melepaskannya.” Sora menatap Hye-Na yang sedikit menundukkan kepalanya. “Tapi aku tidak akan menyerah semudah itu. Aku juga akan berusaha membuat mata Kyuhyun melihat ke arahku. Jadi, sebelum kau menyesal, kutawarkan dua opsi padamu,”

Akhirnya, Hye-Na menolehkan kepalanya. “Dua… opsi?”

Sora menyeringai tipis. “Opsi pertama, kau bisa mengikuti perjanjian ini—masuk ke dalam permainan ini. Kalau kau memiliki perasaan padanya, walau hanya sedikit, kusarankan agar kau mengikuti ini, sebelum kau benar-benar menyesal. Lalu, opsi kedua. Kau bisa meninggalkan Kyuhyun, jangan pernah dekati dia lagi. Jika perasaanmu padanya masih sedikit, jangan membuat perasaanmu berkembang menjadi lebih besar. Atau kau akan menyesal ketika terlambat menyadarinya.”

“Tapi… kenapa?” suara Hye-Na bergetar.

“Walaupun aku mencintai Kyuhyun, ingin menjadikannya sebagai kekasihku, sudah kubilang kalau aku mencintainya tanpa dasar obsesi. Aku bukan gadis dengan pikiran picik yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun keinginannya. Aku bukan gadis seperti itu.” Sora menghela napas. “Namun aku mungkin bisa sedikit lebih egois. Jadi, sebelum kau menolak, lebih baik kau pikirkan matang-matang. Aku tidak pernah mengharapkanmu menjadi kekasih Kyuhyun, tetapi jika kau dan Kyuhyun memang takdir yang memang sengaja dipertemukan… siapa yang bisa menolak garis takdir itu? Tapi, bukankah takdir bisa diubah? Perjanjian ini seperti air, mengalir. Semuanya akan mengalir seiring berjalannya waktu. Kalau kau tidak ingin ini semua mengalir seperti air, kau bisa menjadi batu. Gunakan kepalamu untuk berpikir dan sedikit lebih keras kepala. Air memang akan terus mengalir, tapi ia tidak akan bisa menembus batu di hadapannya. Hanya bisa melewatinya membelah ke sisi samping, tanpa bisa menerjang lurus. Kurasa, kau cukup pintar untuk mengerti maksudku.” Sora mengakhiri ucapannya, ia baru saja akan beranjak pergi ketika tangan Hye-Na menahannya.

“Bisa kau berikan aku intinya?”

Sora menyeringai lalu berbisik pelan. “Pahami dirimu sendiri. Mungkin saja kau akan bisa memahami dirimu sendiri dalam waktu yang tidak lama lagi. Kali ini biarkan kau menjadi air terlebih dahulu, setelah apa yang akan terjadi, baru kau bisa menjadi batu.”

Setelah mengucapkan itu, Sora berlalu. Meninggalkan Hye-Na yang masih mencerna setiap perkataan yang diucapkan Sora. Ia sendiri masih tidak mengerti, tapi yang jelas perasaannya kini tidak menentu.

Tidak menentu, tentu saja. Bagaimana bisa namja itu tidak memberitahukan perjanjian yang melibatkan dirinya? Sungguh, ia ingin bertemu dengan Kyuhyun sekarang. Bukan untuk melepas rindu, tapi melepas semua umpatan yang sudah membukit di benak gadis itu.

***

Sore itu, seorang namja dengan balutan kemeja berwarna putih dan celana jinshitamnya berjalan di tengah koridor yang cukup lengang. Tampak para yeoja yang berada di sana menatap namja itu kagum. Tidak sedikit pula di antaranya yang menjerit tertahan, berbisik-bisik, dan menghentikan kegiatan mereka hanya untuk memandang seorang namja yang akhir-akhir ini jarang terlihat batang hidungnya. Walaupun kabar mengenai namja itu sudah memiliki kekasih, tetapi tetap saja tak urung membuat para yeoja itu gentar untuk menunjukkan sisi manis mereka di depan namja itu, Cho Kyuhyun. Seolah-olah dengan melakukan hal itu, Kyuhyun dapat putus dengan kekasihnya dan terpikat dengan salah satu di antara mereka.

Kyuhyun berhenti di depan sebuah kelas sastra Inggris. Dari balik pintu, matanya menelusuri setiap sudut kelas itu—berharap orang yang dicarinya masih berada di sana.

“Hyo-Mi!” suara Kyuhyun hampir memekik itu terdengar. Membuat gadis yang ditujunya menoleh.

“Kyuhyun?” gumam Hyo-Mi pelan lalu menghampiri Kyuhyun yang berada di ambang pintu.

Kyuhyun menghela napas lega begitu melihat Hyo-Mi masih berada di dalam kelas. Soalnya, seingatnya kelas sastra Inggris sudah bubar dari sepuluh menit yang lalu dan ia pasti akan terlambat datang ke sini mengingat kelasnya yang berada di gedung yang berbeda dengan gedung kelas Hyo-Mi berada.

Kyuhyun melongokkan lagi kepalanya ke dalam ruang kelas. Matanya kembali menelusuri setiap mahasiswa yang ada, berharap gadis yang dicarinya berada di sana.

“Di mana Hye-Na?”

Hyo-Mi melirik sekilas kelasnya sebelum kembali menatap Kyuhyun. “Dia tidak masuk di jam terakhir Kyuhyun-ah. Yang kutahu ia sedang berada di…” Hyo-Mi langsung mengatupkan bibirnya rapat. Hampir saja ia akan bilang kalau kemungkinan Hye-Na tidak masuk di jam terakhirnya adalah bertemu dengan… Sora. Hyo-Mi yang menyadari raut Kyuhyun berubah langsung memperbaiki gelagatnya. “Kau tidak tahu? Eomma Hye-Na telah sadar.”

Hyo-Mi menghembuskan napas lega begitu melihat Kyuhyun sepertinya percaya dengan apa yang dikatakannya. Toh, dia memang tidak berbohong. Setidaknya ia mengatakan hal yang benar—walaupun tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun yang sebenarnya.

“Sejak kapan?” tanya Kyuhyun terlihat sedikit antusias.

“Kemarin. Hmm, kau mau menjenguknya?”

Kyuhyun dengan mantap mengangguk. “Hye-Na juga sedang berada di sana, kan?”

Hyo-Mi terlihat ragu menjawabnya, tapi akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum. Berharap senyum palsu-nya tidak diketahui oleh Kyuhyun.

“Oke kalau begitu. Gomawo informasinya Hyo-ya.” Ucap Kyuhyun sebelum beranjak dari tempat itu. Hyo-Mi mendengus pasrah ketika melihat punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Saat ini, ia hanya bisa berharap semoga Hye-Na memang benar-benar berada di rumah sakit.

***

“278… 279…” Kyuhyun berhenti melangkah saat matanya menemukan sebuah pintu bercat biru dengan nomor kamar yang dicarinya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan setengah ragu meraih kenop pintu itu.

Suara berdecit halus terdengar melewati indera pendengaran Kyuhyun. Dengan pasti, kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan yang dirasa begitu sunyi. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau sosok gadis yang tengah dicarinya itu berada di sana. Lalu secara perlahan langkahnya berhenti seirama dengan matanya yang mulai menangkap sosok seorang wanita paruh baya sedang duduk di atas ranjang, sendirian, dengan matanya yang terlihat menerawang.

“Annyeong haseyo,” ucap Kyuhyun cukup keras sambil membungkukkan badannya, membuat wanita paruh baya itu menoleh dan mengernyit samar.

“Anda siapa?”

Suara asing wanita itu membuat Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan tersenyum innocent. Tampak salah tingkah. “Kyuhyun, Cho Kyuhyun imnida.”

Wanita yang tidak lain adalah Eomma Hye-Na itu terkejut. Ia memperhatikan namja itu dari atas hingga bawah lalu kembali menatap sepasang mata berwarna coklat gelap milik Kyuhyun yang kini terlihat berbinar saat cahaya matahari sore terpantul di sana. Sesaat, Eomma merasa persendiannya tiba-tiba kaku. Ia tersenyum tipis pada namja tersebut—berharap sikapnya dapat terlihat normal walaupun jantungnya kini terasa berdetak dengan lambat, seolah mengaluni pikiran Eomma yang perlahan menemui jalan buntu dan sibuk mencari cara agar suaranya dapat ke luar. Setidaknya memberi tanggapan atas perkenalakan namja itu.

“Duduklah,” suara itu terdengar begitu pelan saat wanita itu mengatakannya. Terdengar sedikit serak, namun Kyuhyun terlihat tidak mempedulikannya. Atau justru memang Kyuhyun tidak menemukan satu pun keanehan dari suara wanita itu.

“Kau teman Hye-Na?” suara itu terdengar lagi saat Kyuhyun sudah nyaman duduk pada posisinya di samping ranjang—kali ini wanita tersebut sudah dapat mengontrol tubuhnya, meskipun sebagian pikirannya masih melayang entah ke mana.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Maaf jika saya mengganggu istirahat Anda,”

Satu tangkapan baik diterima oleh wanita itu. Seolah seluruh saraf tubuhnya mendukung, Eomma menarik dua sudut bibirnya ke atas, sedikit. Tapi cukup membuat perasaan gugup Kyuhyun berkurang.

“Tidak apa-apa. Lagipula, saya memang sedang sendirian.”

Dugaan namja itu tepat kalau Hye-Na sedang tidak berada di sana. Awalnya ia berharap dugaannya salah, dan ia berpikir Hye-Na mungkin sedang berada di kantin rumah sakit atau sedang mengunjungi dokter untuk berkonsultasi tentang perkembangan kesehatan orang tuanya. Namun lagi-lagi, Kyuhyun tidak bisa bertemu dengan gadis itu. Setidaknya untuk melihatnya saja, sampai saat ini, ia tidak bisa melakukannya. Atau belum.

“Apa ada yang membawamu ke sini?”

Kyuhyun mendongak dan perlahan menyadari kalau bola mata wanita di depannya begitu indah. Hampir persis dengan Hye-Na. Hanya saja keduanya memiliki warna yang berbeda, dan Kyuhyun bisa pastikan kalau bola mata yang dimiliki keduanya asli, tanpa penggunaan softlens.

“Hmm, sebenarnya saya ingin menjenguk Anda, Nyonya Han. Saya dengar kalau Anda sudah sadar. Ah ya, Anda memang tidak mengenal saya dan mungkin terlihat aneh jika saya mengatakan hal itu. Tapi percayalah kalau saya memang berniat menjenguk Anda, dan kalau boleh jujur, saya juga bisa mengetahui tentang Anda adalah dari… Hye-Na.”

Alis wanita itu tertaut. “Hye-Na sering menceritakan tentangku?”

“Pernah beberapa kali,” sahut Kyuhyun cepat. “Selama Anda koma, hampir setiap hari ia menjenguk Anda. Bahkan kalau saya ingat, setiap pulang dari kampus, ia akan menghabiskan sepanjang malamnya untuk berada di sini, di ruangan ini. Mungkin ia berharap dengan itu orang yang pertama kali di lihat Eommanya saat bangun adalah wajahnya.”

Eomma mengangguk. “Sayangnya pengharapannya itu tidak terkabul,”

“Dia sedang tidak bersama dengan Anda saat Anda sadar?”

Eomma mengangguk. “Mungkin dia sedang ada urusan. Oh ya, kau terlihat seperti orang yang sudah mengenal Hye-Na dengan lama, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun merasa sedikit aneh saat wanita itu menyebutkan namanya, tapi entah bagaimana, di saat itu juga sebuah perasaan hangat menjalari tubuh Kyuhyun. Ia merasa ada sesuatu yang terselip saat wanita di depannya memanggil namanya. Oh, bahkan untuk satu hal sekecil itu saja pikiran namja itu sudah seperti tervirus oleh ribuan hal kecil yang sama.

“Saya baru mengenalnya kurang dari tiga minggu, jika dihitung dengan hari ini.”

Eomma tampak sedikit terkejut mendengarnya, lantas buru-buru menatap mata Kyuhyun seolah meminta penjelasan. “Sesingkat itu kah?”

Kyuhyun mengangguk. “Kami berada di jurusan yang berbeda di Kyunghee. Pertemuan saya dengan Hye-Na juga memang karena ketidaksengajaan, atau mungkin memang sudah diatur Tuhan,” Kyuhyun tersenyum sekilas lalu tiba-tiba meralat. “Tidak, bukan seperti itu. Pertemuan saya dengan Hye-Na memang kebetulan, waktu itu saya tidak sengaja bertemu dengannya di kafe milik Eomma saya.” Ia mengusap tengkuknya pelan, sadar kalau ucapan-sebelum-ia-meralat adalah salah. Bisa-bisa wanita di hadapannya berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

Dan tiba-tiba saja, wanita di depannya tertawa. Garis matanya kian menyipit seiring dengan tawanya yang semakin lebar, namun terdengar pelan. Kyuhyun mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti, lalu berbagai macam pemikiran menggelayuti otak namja itu.

Apa dia sudah mengatakan sebuah hal lelucon? Atau ekspresi wajahnya yang tanpa sadar membuat wanita itu tertawa?

Setelah bisa meredakan tawanya, Eomma menatap Kyuhyun penuh arti. “Kau mengatakannya dengan lucu Kyuhyun-ssi. Lagipula, siapa yang akan peduli itu tidak sengaja atau pun bukan? Semuanya akan terdengar sama saja jika hal itu memang sudah menjadi garis takdirmu.” Ujar Eomma yang di saat bersamaan ingin kembali tertawa saat perlahan dilihatnya rona merah mewarnai pipi putih namja itu.

Sekali lagi Kyuhyun menaruh telapak tangannya di leher belakangnya. “Ah, Anda benar Nyonya Han.”

Wanita itu tersenyum melihat sikap Kyuhyun. “Apa ada alasan lain lagi kau datang ke sini?”

Kyuhyun tersentak, lalu sedetik setelah itu menghela napas. “Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Hye-Na. Namun sepertinya gadis itu belum da—“

“Annyeong, Eomma, Appa!”

Deg. Jantung Kyuhyun mendadak berpacu dengan cepat mendengar suara yang sangat familiar untuknya itu. Detak tubuh namja tersebut semakin tak terkendali seiring dengan langkah seseorang yang semakin mendekat. Diliriknya wanita di depannya yang terlihat sumringah melihat siapa orang yang tengah menghampirinya sebelum tiba-tiba perasaan gugup semakin menyelimuti Kyuhyun ketika diliriknya sekali lagi, pandangan wanita di hadapannya berubah menjadi heran melihat seseorang di belakang Kyuhyun.

Keheningan yang begitu dingin membuat Kyuhyun tidak nyaman. Dengan pasti sambil menghitung mundur, ia menolehkan kepalanya ke belakang sambil berharap-harap cemas.

Dan tubuhnya menegang begitu melihat gadis itu tengah menatapnya dalam. Tapi, bukan itu yang dipermasalahkan batin Kyuhyun sekarang. Tatapan gadis itu berbeda, seolah terselip sebuah perasaan benci di mata gadis itu.

“Hye-Na?” suara Eomma terdengar memecah keheningan. Membuat dua insan yang sedang saling menatap satu sama lain itu tersadar.

Dengan cepat Hye-Na menaruh sekeranjang buah apel yang dibawanya ke atas nakas. “Eomma, maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku masih harus menyesaikan tugas kuliahku yang harus dikumpulkan besok pagi. Annyeong,” Hye-Na berujar terburu-buru lalu dengan cepat kakinya melangkah ke luar dari ruangan ini. Kyuhyun terdiam selama beberapa detik sebelum tersadar ketika terdengar suara pintu ditutup. Namja itu bangkit dari duduknya.

“Maaf Nyonya Han, sepertinya saya juga harus pergi sekarang. Annyeong,” ujar Kyuhyun tak kalah cepat dengan Hye-Na. Ia baru saja akan beranjak ketika seseorang menahan lengannya.

“Kau mau menyusul Hye-Na?”

Kyuhyun terdiam sejenak sebelum mengangguk mantap. “Anda tidak perlu khawatir Nyonya Han,”

“Baiklah,” Eomma melepas pegangannya di lengan Kyuhyun. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kuharap kalian bisa memperbaiki semuanya jika kalian sedang memiliki masalah.” Lanjut Eomma bijak sambil tersenyum. Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sekilas sebelum benar-benar beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.

Eomma menatap punggung Kyuhyun yang kini sudah menghilang di balik pintu. Ia menghembuskan napasnya berat. Ingatannya kembali pada masa bertahun-tahun silam, di mana kala itu tubuhnya masih dapat bergerak bebas. Kulit putihnya tak sepucat sekarang, dan beberapa helaian rambutnya belum memutih. Lalu tiba-tiba, potongan-potongan percakapannya dengan Hyunjoo saat itu kembali terulang di benaknya. Tangannya terangkat, menyentuh dahinya.

Dan saat tersadar, ia melupakan sesuatu. Melupakan suatu hal yang seharusnya tidak membiarkan ia berbicara dengan bebas tak lebih dari belasan menit yang lalu.

Ya, seharusnya.

***

“Yaa! Han Hye-Na! Berhenti!”

Kyuhyun berusaha berteriak dengan keras seraya terus berlari mengejar gadis di depannya. Tidak dipedulikannya orang-orang yang menatap mereka penuh minat. Yang ada di benaknya sekarang hanyalah bagaimana caranya supaya dapat membuat gadis itu berhenti berlari dan menanyakan alasan mengapa ia menghindari namja itu. Lalu dilihatnya gadis itu menyebrangi jalan, Kyuhyun terus berlari lebih cepat dari yang ia mampu. Sampai akhirnya, sebelum langkahnya berhenti mendadak, lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau. Otaknya semakin kosong saat perlahan mobil-mobil bergerak maju, sedangkan gadis itu belum sampai di seberang. Masih sambil berlari kecil di tengah jalan dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Bahkan otaknya semakin kosong, blank, saat sebuah mobil sedan hitam melaju dari arah kiri. Lidahnya terasa kelu, dan sedetik setelah itu kakinya bergerak lebih cepat daripada otaknya.

“HAN HYE-NA!”

Hye-Na tampak menoleh dan tiba-tiba saja jantungnya berpacu dengan lebih cepat, matanya hampir saja terpejam andai tidak ada seseorang yang merengkuhnya, dan menarik tubuhnya ke trotoar. Tidak bisa menjaga keseimbangan, keduanya terjatuh di aspal dengan kedua lengan orang itu, Kyuhyun, masih erat memeluk Hye-Na. Napas keduanya tersengal-sengal. Otak Hye-Na masih tidak fokus, begitu juga Kyuhyun. Sampai kesadaran Hye-Na terkumpul, ia membuka matanya takut-takut dan pandangannya langsung bertemu dengan wajah Kyuhyun yang terlihat kesakitan, ia berusaha bangkit dari atas tubuh namja itu, namun lengan kekar Kyuhyun masih menguncinya.

“KAU MAU MATI, HAH? KAU PIKIR KAU PUNYA NYAWA BERAPA HAN HYE-NA?!”

Alih-alih menanyakan kondisi Hye-Na, Kyuhyun malah membentaknya. Hye-Na menggigit bibir bawahnya takut, tidak berani menatap mata Kyuhyun. Ini pertama kalinya gadis itu dibentak oleh seorang namja.

“Jawab aku! Bagaimana kalau seandainya tadi aku telat menolongmu?! Kau lihat, dua detik saja aku terlambat maka semuanya akan benar-benar terlambat!” Kyuhyun menurunkan volume suaranya meskipun masih membentak gadis di hadapannya sekarang. Pikirannya kalut. Kesal, khawatir, dan cemas menghantui namja itu. Ia sebenarnya tidak ingin membentak gadis itu, hanya saja kali ini ia tidak dapat berpikir jernih. Ia hanya takut, takut kalau-kalau Hye-Na mengalami kecelakaan itu dan berakibat fatal, yang tidak diingikannya.

“Mianhae,” suara Hye-Na terdengar pelan dan bergetar. Ia menundukkan kepalanya, matanya terasa memanas. Kyuhyun menghela napas, lalu melepaskan kedua lengannya di tubuh Hye-Na. Ia bangkit perlahan, diikuti pula Hye-Na yang masih mencoba menahan air matanya agar tidak menyeruak ke luar.

Kyuhyun meringis saat punggung dan kepalanya terasa sakit. Hye-Na yang mendengar ringisan Kyuhyun itu mendongak dan mendapati pelipis namja itu mengeluarkan darah segar.

“Kau berdarah! Ayo kita ke rumah sakit!” Hye-Na tampak menatap cemas Kyuhyun, ia beranjak berdiri dan mencoba untuk mengajak Kyuhyun pergi ke rumah sakit saat namja itu hanya mendongakkan kepala dan menggeleng.

“Aku tidak mau ke rumah sakit. Lebih baik kita pulang sekarang.”

Hye-Na melotot, namun sedetik setelah itu ia kembali mengecilkan pupil matanya saat mata Kyuhyun menatapnya penuh. Ia hanya mendengus pelan, lalu mangedarkan pandangan ke sekelilingnya.

Rona merah perlahan menjalari pipi putih gadis itu saat dilihatnya orang-orang di sekitarnya sudah berkerumun membentuk sebuah lingkaran mengelilingi Hye-Na dan Kyuhyun. Sebagian di antaranya menatap mereka cemas dan khawatir, sedangkan sebagian lainnya adalah gadis-gadis sepantaran SMA yang sedang asyik mengamati Kyuhyun dari dekat. Sepertinya pesona Kyuhyun tidak bisa menghilang begitu saja bahkan pada kondisi seperti ini, di saat Kyuhyun terduduk di tepi jalan dengan rambut sedikit berantakan dan ekspresi wajahnya yang terlihat menahan sakit yang amat.

Hye-Na membungkukkan badannya sambil mengucapkan kata tidak apa-apa berulang kali pada kerumunan orang-orang itu. Satu per satu dari mereka tersenyum dan melenggang pergi meninggalkan kedua orang itu, sedangkan beberapa yang lainnya masih tampak mengamati Hye-Na dan Kyuhyun dengan penuh minat. Terutama pada Kyuhyun, si penolong tampan seorang gadis yang hampir saja mengalami kecelakaan.

“Gwenchana?” Hye-Na membungkukkan tubuhnya sedikit untuk dapat memperjelas pandangannya mengamati kondisi Kyuhyun.

“Kau pikir ini tidak apa-apa? Lebih baik sekarang kau ambil mobilku di lobi parkir rumah sakit, ini kuncinya,” sahut Kyuhyun yang sempat menunjuk pelipisnya lalu menyerahkan kunci mobil pada tangan Hye-Na yang terulur—sebenarnya niat awal gadis itu bukan untuk meminta kunci mobil, melainkan ingin menyentuh luka Kyuhyun yang salah diartikan oleh namja itu. “Kau bisa menyetir? Dan ah, kau juga tidak lupa mobilku itu seperti apa, kan?” Kyuhyun bangkit berdiri, dan menatap Hye-Na yang masih dengan tatapan seperti ingin memakan Hye-Na bulat-bulat. Hye-Na meneguk air liurnya paksa dan manggut-manggut.

“Jadi, untuk apalagi kau di sini?” suara Kyuhyun terdengar menginterupsi Hye-Na. Gadis itu tersadar lalu mengangguk singkat sebelum berjalan dengan terpogoh-pogoh ke arah rumah sakit saat dilihatnya lampu lalu lintas berwarna hijau untuk para penyebarang. Tanpa diketahui gadis itu, Kyuhyun tersenyum. Ia hendak berbalik untuk duduk pada kursi panjang di depan sebuah toko kue saat dilihatnya kerumunan gadis-gadis SMA masih setia mengamatinya. Kyuhyun tersenyum sekilas ke arah mereka yang langsung mendapat jeritan histeris tertahan, bahkan hampir saja tawa Kyuhyun meledak ketika salah seorang di antara mereka mengambil fotonya. Oh, apa gadis-gadis itu akan selalu terpesona padanya?

Lalu langkahnya berhenti dengan sengaja saat telinganya mendengar salah satu di antara mereka berbicara tentang gadis yang berada di samping Kyuhyun, Hye-Na. Ia menolehkan lagi kepalanya ke arah gadis-gadis itu.

“Maaf,” Kyuhyun bersuara, dan gadis-gadis SMA itu tampak percaya diri bahwa merekalah yang dituju Kyuhyun. “Tapi gadis itu adalah kekasihku.”

Raut wajah gadis-gadis SMA itu langsung berubah. Tampak seperti seseorang yang sudah patah hati untuk sekian lamanya padahal mungkin ini kali pertama mereka bertemu dengan Kyuhyun. Kyuhyun yang menyadari perubahan raut wajah-wajah itu hanya melemparkan sebuah senyuman manis pada mereka. Berpikir bahwa senyumannya saja mungkin sudah bisa ‘sedikit’ menghargai perhatian mereka. Dan ya, insting Kyuhyun benar. Gadis-gadis SMA itu dalam sekejap mengembangkan senyum mereka sebelum berlalu meninggalkan Kyuhyun yang kini sudah duduk di kursi yang ditujunya sedari awal.

Ia menyenderkan punggungnya yang masih terasa sakit ke sandaran kursi. Matanya terpejam sejenak. Pikirannya kembali melayang pada hal-hal sebelum peristiwa-hampir-kecelakaan-itu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu? Mengapa ia terlihat menghindariku?

Kyuhyun masih berkutat pada pikirannya sebelum suara klakson terdengar nyaring di dekatnya. Ia membuka matanya dengan enggan, dan mendapati mobil hitamnya sudah berada pada jarak pandangnya dengan seorang gadis yang tengah duduk di kursi kemudi.

“Yaa! Mau sampai kapan kau duduk di situ, eoh?”

Kyuhyun menyeringai sesaat lalu bangkit dari tempat duduknya.

Kurasa aku masih punya waktu untuk memikirkannya, atau menanyakan langsung pada gadis itu nanti.

***

“Kurasa tadi kau baik-baik saja Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menoleh dan menyeringai tipis mendapati Hye-Na yang terlihat kesal sekaligus lelah memapah tubuh Kyuhyun. Ya, Kyuhyun meminta gadis itu untuk membantu memapahnya. Sejujurnya kakinya memang sedikit sakit, meskipun ia tahu ia masih bisa berjalan dengan baik. Tapi ia tidak ingin mengambil resiko, lagipula ia perlu penyegaran batin. Dan penyegaran batinnya adalah melihat Hye-Na kesal, namja itu memang tidak pernah mengakuinya dengan terus terang, tapi entah mengapa ia selalu merasa senang melihat wajah Hye-Na yang ditekuk, menurutnya lucu ketimbang menyeramkan.

“Kau seharusnya berterima kasih padaku karena menolongmu, Han Hye-Na. Kau hanya perlu membantuku seperti ini, dan aku tidak menerima komentar apapun darimu.”

Hye-Na mendengus tanpa sedikit pun berniat melirik Kyuhyun. Ia merasa dirinya aneh, sangat aneh. Seharusnya sekarang ia marah dengan Kyuhyun mengingat omongan Sora tadi siang. Tapi entah bagaimana, rasa marah gadis itu seperti lenyap entah kemana—meskipun rasa penasaran dan tidak sukanya masih melekat dengan sangat di hati gadis itu. Apapun caranya, ia harus tetap terlihat mendinginkan Kyuhyun sebelum namja itu memberikan penjelasan yang diinginkannya padanya.

“Kau mau ke mana?” Kyuhyun menahan pergelangan tangan Hye-Na saat ia sudah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.

“Membuat teh.” Tanpa sedikit pun menatap Kyuhyun, Hye-Na mengibaskan pelan pergelangan tangannya dan berjalan perlahan ke arah dapur. Kyuhyun yang melihat itu hanya bisa terbengong, bingung dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba saja berubah.

Tidak butuh waktu lama untuk Hye-Na kembali ke ruang tamu dengan dua buah cangkir berisi teh di kedua tangannya.

Hye-Na menyodorkan satu di antaranya tanpa mengucapkan satu patah kata pun pada Kyuhyun. Kyuhyun yang melihatnya hanya bingung, namun beberapa detik setelah itu menerima cangkir tersebut dan menyeruputnya perlahan. Terlalu enak untuk ukuran teh, batin Kyuhyun. Ia meneguk lagi teh yang tidak terlalu panas itu, lalu meneguknya lagi, sampai cairan berwarna coklat bening di dalam cangkir itu habis, tak bersisa.

“Sekarang luka di pelipismu itu harus diobati,” ucap Hye-Na setelah teh yang berada di genggamannya juga telah habis, sama dengan Kyuhyun, tak bersisa. Lalu entah bagaimana caranya, sekarang di pangkuan Hye-Na sudah ada kotak P3K milik keluarga Kyuhyun. Dan namja itu hanya bisa menatap takjub Hye-Na.

“Bagaimana bisa kau menemukan kotak P3K itu?”

“Tidak sulit. Benda ini berada tepat di bawah meja di hadapanmu.”

Kyuhyun mengangkat alisnya sedikit tidak mengerti namun akhirnya mengangguk paham. Ia memperhatikan Hye-Na yang kini tengah mengeluarkan antiseptik, obat merah, satu gulung perban, dan plester.

“Coba lihat,”

Kyuhyun menautkan alisnya. “Lihat apa?”

Hye-Na mendengus. “Kau pura-pura bodoh atau apa? Tentu saja luka di pelipis kirimu itu.”

Kyuhyun sedikit terkejut dan malu di saat yang bersamaan. Mengapa sekarang ia terlihat sangat bodoh di depan gadis itu?

Kyuhyun mendesah pelan dan memposisikan tubuhnya seutuhnya ke hadapan Hye-Na, membuat gadis itu merasa ada sengatan listrik yang dengan cepat merambati tubuhnya saat matanya dapat menangkap keseluruhan wajah Kyuhyun. Dan sebuah perasaan itu tiba-tiba saja kembali muncul.

Menahan pemikirannya yang mulai melayang entah ke mana, bola matanya beralih pada luka Kyuhyun yang kini terlihat darah yang telah mengering di sana. Lantas ia mengambil tisu, dan mengusap pelan darah di sekitar luka Kyuhyun. Sempat membuat namja itu meringis, namun tatapan tajam Hye-Na yang seolah berkata “Jangan menjadi anak kecil!” membuat Kyuhyun berhenti. Sebagai ganti pengalihan sakitnya, ia mulai menatap keseluruhan wajah Hye-Na. Wajah yang sudah berhari-hari ini ia rindukan.

Merasa risih Kyuhyun menatapnya, Hye-Na menarik tangannya dan meneteskan betadine ke atas perban. Sebelumnya, ia menetesekan sedikit cairan antiseptik pada tisu dan mengusapnya kembali pada sekitar luka Kyuhyun. Dan kali itu, Kyuhyun tidak dapat menahan ringisannya. Hye-Na hanya menghela napas, lalu kembali pada perban di pangkuannya.

Agak ragu, Hye-Na sedikit memajukan tubuhnya pada Kyuhyun. Menempelkan perban itu di pelipis namja itu dengan plester di tangannya. Tak hampir semenit, perban itu sudah menempel dengan rapi di pelipis Kyuhyun.

“Gomawo,” suara Kyuhyun terdengar pelan, dengan canggung ia menyentuh perban di pelipisnya. Hye-Na tidak menjawab, hanya tersenyum seadanya.

Keheningan tercipta di antara keduanya. Sebenarnya, berbagai pertanyaan sudah berkecamuk di dalam pikiran Hye-Na. Ia ingin sekali menanyakan hal-hal yang sudah membuatnya penasaran setengah mati. Namun apa yang terjadi sekarang? Gadis itu sibuk dengan jantungnya yang masih berdetak dalam ritme cepat. Alih-alih menaruh kotak P3K itu di bawah meja, ia malah memasukkan plester dan benda-benda lainnya itu dalam gerakan yang pelan. Sengaja, untuk mengulur-ulur waktu. Namun sepertinya hal itu tidak berhasil, karena setelah ia menutup kotak P3K itu, Kyuhyun sudah lebih dulu mengambil alih dan menaruhnya di bawah meja.

“Aku ingin berbicara denganmu.” Suara Kyuhyun terdengar serius, membuat Hye-Na mau tidak mau menoleh.

“Bicaralah,”

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. “Mengapa saat di rumah sakit tadi kau menghindariku? Lalu, mengapa teleponku selalu tidak dijawab? Kau tahu, bahkan saat Eommamu sadar kau tak mengatakannya padaku.”

Mendengar itu, emosi Hye-Na naik perlahan. “Siapa yang menghindarimu? Aku memang sedang ada tugas, Kyuhyun-ssi. Soal teleponmu, aku tidak tahu. Dan untuk masalah Eommaku, apa sebegitu pentingnya aku memberitahumu? Kurasa tidak.”

“Kau jelas-jelas menghindariku Na-ya. Apa? Jadi selama ini kau pergunakan untuk apa ponselmu, Nona Han? Oh, baiklah, kau memang tidak memberitahuku, tak apa, asal kau memberikanku alasan yang tepat mengapa kau terlihat menghindariku Na-ya.” Kyuhyun menatap Hye-Na menuntut.

Hye-Na menarik napas, emosinya sudah tidak stabil. “Lalu, apa kau bisa memberikanku juga alasan yang tepat mengapa kau mengiyakan sebuah perjanjian yang melibatkanku? Berpikir kalau aku menyukaimu sehingga kau bisa dengan mudah mengiyakan perjanjian itu?!” suara Hye-Na hampir membentak itu sukses membuat Kyuhyun terperangah. Perjanjian? Apa?

“Oh, jadi sekarang kau berpura-pura lupa? Siapa yang membuat perjanjian konyol dengan aku, sebagai salah satu orang terkait, agar kau bisa menentukan pilihanmu sampai ujian kelulusan tiba? Kau pikir aku gadis seperti apa Cho Kyuhyun?!” Hye-Na sudah akan beranjak berdiri ketika tangan seseorang menahan lengannya, Kyuhyun.

Kyuhyun tampak membasahi bibirnya sebentar. Ia menatap Hye-Na dalam, ia tahu apa yang dimakud gadis itu sekarang. Perjanjian konyol—memang benar. Dan seharusnya Kyuhyun tahu cepat atau lambat Hye-Na akan mengetahuinya. Mau pun itu ia ketahui dari dirinya sendiri atau dari… Sora.

“Kau harus mendengar penjelasanku dulu,” Kyuhyun bersuara tenang, berharap Hye-Na dapat menuruti apa yang dikatakannya.

“Jelaskanlah! Aku tidak mau waktuku terbuang hanya untuk mendengar penjelasanmu.” Sahut gadis itu ketus, tak ingin menatap mata Kyuhyun.

Kyuhyun menghembuskan napasnya berat. “Perjanjian itu… memang benar. Namun bukan aku yang menginginkannya Na-ya, aku bersumpah. Namun saat itu… aku tidak bisa menolak karena Sora yang memintanya. Ia sudah seperti adikku sendiri, dan aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Termasuk—“

“Termasuk melibatkanku di dalamnya? Mengapa kau mengiyakannya? Apa kau menyukaiku, Cho Kyuhyun?” kali ini, Hye-Na menolehkan kepalanya menatap Kyuhyun. Seolah-olah dengan itu ia bisa membaca apa yang dipikirkan namja di depannya. Meskipun ia tahu hal itu terlihat sia-sia.

Kyuhyun tampak menarik napasnya. “Itu permintaan sepihak Sora,” Kyuhyun meluruskan. “Aku tidak tahu apa yang terjadi nanti, mungkin aku bisa menyukaimu, tapi mungkin aku bisa menyukai Sora atau mungkin orang lain.”

Mendengar itu, Hye-Na merasa seperti ada sesuatu yang menyayat di dalam tubuhnya. Matanya terasa mulai memanas. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya sendiri, tapi mendengar kemungkinan yang dikatakan Kyuhyun, Hye-Na merasa ada sesuatu yang mengganjal dan menyesakkan hatinya. Dan ia tidak suka hal itu, tidak suka. Atau malah ia membencinya.

“Sepertinya aku harus pulang sekarang,” Hye-Na bangkit berdiri dan dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu. Kyuhyun awalnya terdiam sejenak, berpikir bahwa yang sedang ke luar dari rungan itu bukanlah Hye-Na. Namun saat kesadarannya telah kembali seluruhnya, ia beranjak dan segera menyusul Hye-Na yang sudah menghilang di balik tembok.

Kyuhyun mempercepat langkahnya dan hampir berlari saat Hye-Na dilihatnya hampir meraih kenop pintu depan. Ia menarik pergelangan tangan gadis itu cukup kuat dan membalikkan tubuhnya.

Dan bagai déjà vu, lagi-lagi Kyuhyun melihat mata gadis itu memerah. Seolah tengah menahan air matanya untuk ke luar.

“Lepaskan aku Kyuhyun-ssi!”

Kyuhyun tersenyum pahit. “Bahkan kau memanggilku dengan embel-embel seperti itu lagi.”

Hye-Na tidak menjawab, ia mengibaskan tangan Kyuhyun kasar dan baru saja akan kembali meraih gagang pintu saat kedua tangan Kyuhyun sudah mengunci lengan gadis itu.

Perasaan takut menyelimuti Hye-Na saat Kyuhyun membalikkan tubuhnya, dan perlahan menyudutkannya ke dinding. Tatapan Kyuhyun terlihat tajam, namun menenangkan.

“Kau… mau apa?”

Kyuhyun tidak menjawab, ekspresinya masih tetap sama bahkan ketika punggung Hye-Na sudah menempel erat dengan dinding berlapis cat warna krem di belakangnya.

“Sudah kubilang kau tidak boleh menangis di depanku, kan?”

Mata Hye-Na membulat. “Tapi aku sama sekali tidak menangis!”

“Matamu memerah.” Kyuhyun menconcongkan sedikit wajahnya sambil memperhatikan bola mata Hye-Na.

Otak Hye-Na sudah merespon agar ia segera membebaskan diri dari namja itu. Namun tubuhnya seakan merespon sebaliknya. Satu hal lagi, ini yang paling ia tidak suka dengan dirinya sendiri saat bersama dengan Kyuhyun. Otak dan tubuhnya tidak merespon hal yang sama.

Hye-Na menghela napas. “Apa kau juga melakukan hal seperti ini dengan Sora? Bahkan dengan gadis-gadis lainnya?”

Kyuhyun mengernyit, seakan mengerti respon Kyuhyun, Hye-Na menambahkan. “Apa kau melakukan hal yang sama pada Sora dan gadis-gadismu lainnya? Memeluk mereka, mencium, dan bermanja-manja dengan mereka? Apa kau melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku?”

Kyuhyun sedikit terperangah. “Mengapa kau berpikir begitu?”

Hye-Na mengumpat dalam hati. “Kau terlalu menyebalkan Cho Kyuhyun, seharusnya dari awal aku mengetahui hal ini dan membencimu.” Hye-Na mendorong Kyuhyun pelan yang anehnya, Kyuhyun tidak menolak. Ia melepaskan Hye-Na dengan mudah. Seolah mengiyakan pertanyaan Hye-Na, dan membuat perasaan gadis itu limbung ke tempat yang paling dalam.

Hye-Na sudah memegang gagang pintu dan hendak memutarnya saat seseorang menyentuh bahunya dan membalikkan tubuhnya cepat. Kali ini ia menatap mata gadis di depannya dalam-dalam. Menghimpit tubuh gadis itu dengan kedua tangannya yang menempel pada bagian pintu, memajukan tubuhnya, dan menatap lekat-lekat Hye-Na yang terlihat gugup, cemas, dan kesal yang bercampur menjadi satu.

Kyuhyun tersenyum yang perlahan berubah menjadi sebuah seringai. Hye-Na yang melihatnya hanya bisa melirik kiri dan kanannya, berharap dapat menemukan jalan ke luar agar dapat terbebas untuk kedua kalinya dari jeratan namja iblis di depannya. Ia masih kesal dengan Kyuhyun. Ia masih kesal saat ingat namja itu mungkin hanya menggodanya, saat ingat mungkin namja itu hanya ingin bermain-main dengannya, dan saat satu hal yang kembali diingatnya dan bagai sebuah tamparan untuk dirinya sendiri. Ia masih menjadi kekasih pura-pura Kyuhyun, dan itu juga sebuah permainan. Permainan yang diciptakan namja itu, yang dengan tidak adilnya malah membawa gadis itu semakin masuk ke dalam kehidupannya.

Dengan tidak adilnya membuat perasaan gadis itu bagai tengah berlari mencari jalan ke luar di dalam labirin yang panjang dan berliku. Dan itu membuat kepalanya berdenyut, lagi, entah untuk keberapa kalinya hari ini. Ia seperti pernah mengalami hal ini, tapi ia tidak tahu kapan dan dimana, atau bagaimana.

Saat tersadar, wajah Kyuhyun sudah berada di samping wajahnya. Terpaan napas Kyuhyun membuat Hye-Na menggigit bibir bawahnya, seperti ada sengatan listrik yang begitu cepat menyetrum tubuhnya. Kyuhyun menempelkan dagunya di bahu Hye-Na. Mencium aroma gadis itu dalam-dalam. Ia sudah seperti kehilangan oksigennya berhari-hari, dan terbalas sudah sekarang. Kyuhyun memejamkan matanya, walau ekspresinya terlihat tenang dan indera penciumannya tengah menikmati aroma tubuh gadis itu, tapi sejujurnya jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Terlalu cepat, bahkan ia sendiri bingung bagaimana mengatasinya. Ia tahu, satu-satunya cara adalah menjauh dari gadis ini. Tapi ia tidak bisa, perasaan egoisnya lebih menginginkannya agar tetap pada posisi ini, seperti ini. Walaupun batinnya cukup tersiksa dengan detak jantungnya yang tidak dapat diajak bekerja sama.

Lama mereka berada pada posisi seperti itu, Hye-Na juga tampak tidak menolak. Ia merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Kyuhyun. Paru-parunya bagai terisi dengan penuh saat hidungnya menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuh namja itu. Ia ingin sekali memejamkan mata, menikmati setiap detik ini dengan baik. Namun otaknya kembali merespon hal yang berbeda dengan yang diinginkan tubuhnya. Ia masih butuh penjelasan dari namja itu, dan sekarang mungkin saatnya untuk bertanya pada Kyuhyun.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tentang hal yang aku tanyakan terakhir kali.”

Kyuhyun hanya menggumam pelan, lalu setelah itu mendesah pelan. Ia menarik wajahnya dari bahu Hye-Na, mensejajarkan wajahnya dan pada wajah cantik alami gadis itu.

“Aku harap kau mempercayaiku,” Kyuhyun mengambil jeda sebentar. “Kau memang bukan orang pertama yang kupeluk atau pun kusentuh dengan jemariku. Tapi… aish, apa aku harus mengatakannya?” Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tapi… kau orang pertama yang kucium, saat malam itu, memang bukan di bibir tapi… ah, sudahlah. Kurasa kau mengerti apa yang kukatakan.” Kyuhyun tampak salah tingkah, Hye-Na hampir saja tertawa saat melihat rona merah menjalari pipi Kyuhyun, namun kali ini ditahannya.

Kyuhyun merasa degup jantungnya semakin tak terkendali saat dirasanya pipinya memanas. Buru-buru ia melepaskan himpitannya pada Hye-Na dan menarik diri.

“Lalu? Mengapa? Soal perjanjian itu, bagaimana?”

Untuk sesaat degup jantung Kyuhyun teralihkan, ia menatap Hye-Na sejenak. “Biarkan waktu yang menentukannya.” Kyuhyun tersenyum samar, terkesan ragu atas apa yang dikatakannya sendiri. Seolah-olah, ia ragu antara telah menentukan, atau tidak.

Hye-Na tersenyum sekilas, lalu memegang kenop pintu. Ingatannya kembali pada ucapan Sora beberapa jam yang lalu.

“—Kali ini biarkan kau menjadi air terlebih dahulu, setelah apa yang akan terjadi, baru kau bisa menjadi batu.”

Apa mungkin ini yang dimaksud oleh Sora? Menjadi air terlebih dahulu?

Sebelum hendak memutar kenop pintu, Hye-Na menolehkan kepalanya pada Kyuhyun.

“Kau bisa memahami dirimu sendiri. Aku tidak tahu apa isi kepalamu, tapi semoga kau tidak menentukan pilihan yang salah. Kutegaskan aku tidak mau terlibat di dalamnya. Tapi… sebenarnya semuanya berada di tanganmu. Walau pada akhirnya kau menyadari perasaanmu, semoga itu tidak terlambat. Lagipula itu adalah hakmu Kyuhyun-ah, seandainya kau menyukai Sora, gadis lain atau pun… padaku.” Hye-Na tersenyum tipis dan membungkukkan badan pamit pada Kyuhyun.

Kyuhyun masih mencerna kata-kata Hye-Na, sebelum ia tersadar dan menyusul Hye-Na yang kini terlihat berjalan ke arah gerbang.

Lalu langkahnya berhenti mendadak, ia membiarkan Hye-Na berjalan ke luar dari gerbang rumahnya. Otaknya sekarang sibuk berasumsi.

Mengapa kau mengejarnya? Kau bukan ingin bilang kalau kau tidak merasa ada sebuah tarik menarik seperti magnet pada gadis selain dia kan, Cho Kyuhyun?

Kyuhyun tersentak saat mendengar suara seperti bisikan halus itu terdengar melewati indera pendengarannya. Buru-buru ia menggelengkan kepala dan kembali masuk ke dalam rumahnya sebelum bisikan halus itu kembali terdengar.

Kau jangan bodoh Cho Kyuhyun, kau tahu sebenarnya apa yang kau inginkan, dan kau rasakan. Tetapi kau hanya butuh waktu, dan kurasa kau tidak butuh waktu yang lama untuk menyadarinya. Sebentar, hanya sebentar.

Kyuhyun mengerang frustasi. Tidak, siapa yang membisikkan hal itu? Sebentar? Oh, janji palsu macam apalagi itu?

Namja itu menggelengkan kepala, ragu. Bukan, ia menyusul gadis itu hanya untuk menawarkannya untuk mengantarkannya pulang, itu saja.

Atau mungkin, bukan hanya itu.

-To Be Continued-

A/N: Annyeong readers, mianhae ya kalau part ini kepanjangan banget, semoga puas ya. Part ini sengaja aku bikin panjang karena mungkin, sampai lebaran nanti dan beberapa hari setelahnya aku belum bisa sempat mempublish part berikutnya (mau mudik dan silaturahmi). Masih di minggu depan, tapi mungkin akan lebih terlambat dari biasanya. Part ini juga aku minta maaf lagi karena publishnya lebih lama dan lebih dari sepuluh hari kalau dihitung dengan hari publish di part sebelumnya. Tapi, kalau aku sempat di hari raya nanti, mungkin aku bakal publish part selanjutnya sebagai persembahan hari raya hehe namun kalau aku nggak publish, berarti part ini yang aku kasih buat menyambut hari raya^^

Buat yang nanya part ini ending di part berapa, aku udah jadwalin bakal ending kapan, tapi tentu masih rahasia hehe. Yang jelas, untuk ending masih cukup lama kok—kalau dihitung dengan hari pembulish-an—walaupun menurutku gak terlalu kama banget. Tapi tergantung respon readers, sampai saat ini aku senang membaca responnya, sehingga memberi penyemangat buat bikin part2 selanjutnya (soalnya terkadang aku suka ngelanjutinnya tergantung mood, hehe).

Oke, karena aku nggak tahu bisa publish part selanjutnya saat lebaran atau nggak, jadi lebih baik aku ngucapin sekarang aja ya. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah! (buat yang menjalankannya) dan Mohon Maaf Lahir & Batin :-D

RCL-nya senang hati diterima, dan terima kasih atas perhatiannya^^

 

138 Responses to “Cappuccino (Part 6)”

  1. FAUSTINAAA March 26, 2013 at 9:43 am #

    yakin da itu keluaga Kyu sama keluarga HyeNa kya punya masalah gtu.. iya gak sih?? ._.

  2. tiffany1995 March 28, 2013 at 7:50 pm #

    hywaa. dong hae udh mw nikah?

  3. Hyerin Lee March 28, 2013 at 9:44 pm #

    Wuaaah. Daebak bener-bener daebak! Berasa readers masuk ke dalam cerita itu. Aku bisa merasakannya. Penyampaiannya bagus. Aku suka. Keep writing!:D and mianhe baru bisa comment di sini. Aku bacanya ngebut bgt.

  4. compatablemind April 17, 2013 at 8:44 pm #

    eeaa… kyuhyun galau..

  5. heenimut26 April 22, 2013 at 3:18 pm #

    Yeay akhirnya eommanya hyena sadarrr ^^, di scene ini feelnya dapet banget eon yaampunnn senyum-senyum sendiri bcanyaaa pas kyu sama hyena scene xD

    Nunggu banget kyu bener-bener nyatain perasaannya sama hyenaaa u.u ga sabarrrrr merekaa jadiannnnn u.u aduhhh kyu plis nyatain perasaannya udh sora nya tinggalin aja T.T …

    Ohh iya Ada cast baru nih donghae, penasran donghae siapanya hyena ._. Lanjut dehhh wuss~~~~

  6. lee rae sang June 7, 2013 at 2:28 pm #

    Part ini lebih serius tp ttp dalem. Wow

  7. fazriyah June 11, 2013 at 12:07 am #

    Aaaah, kenapa aku suka deg-degan baca ff ini ? :D

  8. Nuri nda June 17, 2013 at 9:45 am #

    Kyanya ada yg d smbunyiin orang tuanya hye na ya..

  9. rae220315 January 10, 2014 at 9:49 am #

    part ini bikin deg deg an :D

  10. dee May 28, 2014 at 10:35 am #

    kenapa sulit memahami perasaan yg sdah berada di dpn mta?

Trackbacks/Pingbacks

  1. Cappuccino (Part 7) | FFindo - August 26, 2012

    [...] 5] [Part 6]        [...]

  2. Cappuccino (Part 7) « Zola Kharisa - August 26, 2012

    [...] 5] [Part 6]        [...]

  3. Cappuccino (Part 8) | FFindo - September 9, 2012

    [...] 5] [Part 6] [Part [...]

  4. Cappuccino (Part 10) | FFindo - November 2, 2012

    [...] 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8] [Part [...]

  5. Cappuccino (Part 12-A) | FFindo - March 24, 2013

    [...] 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8] [Part 9] [Part [...]

  6. Cappuccino (Part 12-B) | FFindo - April 4, 2013

    [...] 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8] [Part 9] [Part [...]

  7. Cappuccino (Part 13-A) | FFindo - January 6, 2014

    […] 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8] [Part 9] [Part […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,593 other followers

%d bloggers like this: