Teenager Love Story – Chapter 3


Tittle:

Teenager Love Story

Author:

EnnyHutami

Lenght:

Chaptered

Rating:

General

Genre:

Romance, Friendship, School-life, Drama

Cast:

Lee Jieun
Bae Sujie
Jo Kwangmin
Lee Taemin
Others
Note: Semua karakter di sini cuma khayalan, bener-bener beda. Sudah pernah di publish di blog pribadi, school of fanfiction dan Boyfriend Fanfiction.

Chapter 1 | Chapter2

Don’t be plagiator and Siders!

›››

~ooOoo~

Banyak dari kita yang belum melihat kalau Lee Jieun dari kelas sebelas B mendapatkan hadiah dari kelompok populer di sekolah kita. Tetapi, hanya beberapa anak yang tahu kalau kemarin Lee Taemin, ketua dari kelompok populer, habis mengerjai dia melewati perantara atau lebih tepatnya dia menyuruh orang lain agar mengolesi lem di kenop toilet ketika dia, Lee Jieun, hendak ke toilet. Dan kami dari redaksi majalah sekolah dan klub photografi bekerja sama untuk mendapatkan gambarnya.

Kulihat beberapa foto diriku ketika memegang kenop pintu toilet. Semua foto ini menampilkan wajah kesalku.

Aku membanting ke atas meja majalah ini. “Ya Tuhan,” gerutuku seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku. Kini aku tak tahu harus berbuat apa. Coba lihat! Namaku dan fotoku tertera sangat jelas di halaman depan majalah.

“Sepertinya kau mulai terkenal, Jieun-ah,” Kata Sujie sambil membaca kembali majalah sekolah biadab itu. “Apa yang harus kita lakukan?” lalu ia bertanya padaku.

Aku mengangkat bahu, tak mau memikirkan ini. Lalu, “Katakan pada tim redaksi majalah sekolah untuk berhenti memajang nama dan fotoku,” Ujarku. Kali ini tak akan ada masalah lagi untuk Sujie. Kulihat ia menatapku dengan alis dinaikkan. “Waeyo?” tanyaku ketika ia terus menatapku.

Ia menggeleng. “Aku hanya heran padamu,” Katanya. “Kau lebih mengkhawatirkan nama dan fotomu yang terpampang di majalah sekolah dibanding keselamatanmu dari kelompok berandal itu?”

Aku mengangguk. “Apa yang harus kutakuti dari mereka?” aku justru bertanya padanya. “Kemarin saja mereka hanya mengerjaiku dengan olesan lem di kenop pintu toilet. Itu masih sanggup kutangani.”

Kulihat Sujie masih menatapku dengan pandangan aneh. Aku melemparkan pandangan bertanya padanya dan dia menggeleng lalu pergi. “Baiklah,” Katanya sebelum pergi. “Aku akan bicara pada ketua tim redaksi majalah.”

Aku tersenyum lebar. “Gomawo, Sujie-ya,”

“Jieun-ah,” beberapa menit setelah Sujie pergi, kini giliran Jinri yang menghampiriku dengan wajah yang hampir menangis.

Aku menatapnya khawatir. “Kau kenapa Jinri-ya?” tanyaku cemas. Jelas saja aku cemas, ia bukan orang yang suka sekali mengumbar air matanya. Dan sekarang, lihatlah sendiri.

Ia duduk di tempat Sujie tadi. “Kau tahu kan kalau aku menyukai Minwoo?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk. “Mm,” Sahutku. Aku tahu kalau dia menyukai Minwoo sejak pertama kali melihatnya di sekolah ini, tepatnya saat ia melihat Minwoo di upacara penerimaan murid baru. Tepatnya sekitar satu setengah tahun yang lalu.

“Ternyata dia menyukaimu.” Kini kulihat air matanya memberontak keluar dari pelupuk matanya. Namun, dia tak sampai menangis tersedu-sedu. Hanya matanya yang merah dan beberapa butir air mata merembes dari pelupuk matanya.

Aku membelalakan mataku. Dia… menangis karena Minwoo menyukaiku? “Mwo?” tanyaku kaget. “Dia menyukaiku? Aniyo. Dari mana kau dengar itu? Aku yakin sekali kau salah dengar. Dia hanya menganggapku teman, tidak lebih dan begitu pula denganku. Aku hanya menganggapnya teman. Tidak lebih.” Aku mulai mengoceh tak jelas. Aku merasa tak enak padanya.

“Aku yakin aku tidak salah dengar. Aku dengar dari mulut Minwoo. Dia yang mengatakan itu sendiri padaku.” Shock mendengarnya lagi. Jadi… benarkah itu? Omo, kini aku harus bagaimana? “Kau yakin hanya menganggapnya teman?” tanya Jinri lagi.

Aku mengangguk dengan sangat yakin. “Aku sangat yakin,” Ujarku. “Aku akan membantumu membuat Minwoo jatuh cinta padamu. Kau juga harus berusaha, oke?” aku menyemangatinya dengan membuat huruf O dengan jariku saat mengatakan ‘oke’. Hanya ini yang bisa kulakukan. Hh. Bisa saja aku melukai keduanya kalau aku salah mengambil jalan.

Lalu ia tersenyum dan mengikuti jariku yang membentuk huruf O. “Gomawo, Jieun-ah. Kau teman terbaikku.” Katanya sambil memelukku. Aku yakin kalau kelas ada orang selain diriku, Jinri tak akan mau menangis seperti ini. Lagipula, aku heran kenapa dia bisa menangis karena hal ini. Apa rasa sukanya pada Minwoo benar-benar besar?

Kemudian aku yang tidak terbiasa di peluk, melepaskan diri. “Ya! Kau tahu aku tak suka dipeluk seperti itu, Jinri-ya,” omelku, mencoba untuk mencairkan suasana. Ia menghapus air matanya yang membuat pipinya basah dengan punggung tangan. Ia pun menjulurkan lidahnya sebelum keluar kelas—asumsiku ia ingin ke toilet untuk menghapus jejak bahwa ia habis menangis. “Kadang aku tak mengerti jalan pikirannya. Dia terlalu misterius.” Gerutuku sambil meneruskan menyalin tugas Bahasa Inggris milik Sujie.

-›››

“Ah, bukuku kutinggal di loker!” seruku begitu bel masuk setelah jam istirahat kedua terdengar.

Sejak Taemin mengancamku—entah memang benar-benar mengancam atau apapun itu, aku tak tahu—aku tak keluar kelas sama sekali kecuali jika ada guru yang menyuruhku menemuinya di kantor atau sekarang ini, mengambil bukuku di loker.

“Kau ini benar-benar pelupa.” Kudengar Sujie menyahut dengan nada suara yang terdengar sakartis. Aku hanya memasang wajah-tak-berdosa padanya dan tersenyum dibuat-buat.

Setelah sampai di depan lokerku, aku membuka kuncinya dan ada selembar kertas jatuh dari dalam loker. Aku tak ingat kalau aku menaruh kertas di sini. Terakhir kali aku membuka loker ini kalau tidak salah empat hari yang lalu.

Kupungut selembar kertas itu dan kubaca tulisannya.

Jangan pernah mencoba kabur dariku, Lee Ji Eun. Dimanapun kau sembunyi aku akan menemukanmu.

Aku menelan ludah membaca tulisan yang hanya ada dua kalimat namun sukses membuatku takut. Ini surat ancaman. Tanpa ada nama si pembuat surat ini pun aku sudah tahu siapa yang menulis surat ini. Siapa lagi kalau bukan Lee Taemin? Kumasukkan surat itu ke dalam saku seragamku dan mengambil buku yang kuperlukan lalu bergegas kembali ke kelas.

Apa maksud dari surat ini? Apa dia menganggapku kabur darinya? Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?

“Jieun, kau kenapa?” aku menoleh. Kulihat Sujie menatapku khawatir. “Wajahmu pucat. Kau sakit?” aku menjawabnya hanya menggelengkan kepalaku.

Ya! Bae Sujie! Bisakah kau diam?” kudengar Guru Kim berteriak dari balik mejanya. Sejak kapan Guru Kim masuk ke kelas? Sepengetahuanku, saat aku kembali ke kelas, ia belum ada.

Mianhamnida, Songsaniem,” Jawab Sujie sembari menundukkan kepalanya. “Aku hanya khawatir dengan Jieun. Wajahnya terlihat pucat.”

Aku menoleh padanya lalu pada Guru Kim. Kulihat Guru Kim menghampiri tempat dudukku. “Omo. Kau pucat sekali,” Begitu katanya ketika ia melihat wajahku. Apa sangat terlihat kalau saat ini aku sedang ketakutan? “Kau, Bae Sujie, cepat temani dia ke ruang kesehatan.” Lanjutnya.

Ne.” Lalu Su Jie mengajakku untuk segera bangkit.

Aku menurut saja ketika ia membawaku keluar kelas. Padahal aku sedang tidak ingin keluar kelas. Lihat surat itu? Benar-benar menakutkan.

“Kau ini sebenarnya kenapa?” kudengar Su Jie bertanya lagi.

Aku mengambil surat yang kudapat di lokerku dari saku seragam dan menyerahkannya pada Sujie. “Baca ini.” Kataku.

Kulihat ia menatapku penasaran dan matanya membelalak begitu melihat isi surat itu. “Ini…” ia menggantungkan kalimatnya seraya masih menatap kertas itu.

Aku mengangguk begitu tahu apa yang dipikirannya. “Mm. Itu dari Taemin.” Ucapku parau. Entah kenapa begitu menyebut namanya, tubuhku terasa tak bertenaga.

Kulihat ia menggeleng. “Ini tak bisa dibiarkan. Kau harus melaporkan ke kepala sekolah,” Katanya sambil menarik tanganku. Aku menahannya.

Andwae,” tolakku. “Aku tidak mau Taemin Sunbae justru akan menerorku lebih dari ini.”

Lalu kudengar Sujie mendecakkan lidah. “Ya! Kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana? Kau tahu kalau mereka itu tak melihat jenis kelamin dari korban mereka, bukan?” aku mengangguk. “Kalau begitu ayo.” Ia menarik tanganku lagi.

Kini aku melepaskan tangannya dengan paksa. “Andwae, andwae. Jangan, kalau aku laporkan ke kepala sekolah, urusannya akan sulit. Toh, mereka juga akan lupa dengan sendirinya kalau aku tak melawan.”

Ia menatapku lama sekali. Lalu, “Baiklah,” Katannya. “Tapi kalau kau terluka karena mereka, aku akan bilang pada Oppamu—tidak ke kepala sekolah.”

Aku mengangguk. “Mm. Lihat saja nanti.” Kataku lalu kembali berjalan menuju ruang kesehatan.

-›››

“Kau disini?” aku menoleh kearah sumber suara. Kulihat ia ikut duduk disampingku. “Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak seperti yang lain.”

Aku menggeleng lalu mengalihkan pandangannku. “Mian.”

“Kau sudah baca surat itu?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menolehnya. “Kau…”

“Itu rencana Hyunseong. Dia hanya ingin tahu seberapa berani kau. Dan bersikaplah biasa saja,” ia menyela perkataanku. Tanpa sadar aku menghela nafas lega. Setidaknya itu bukan sungguhan. “Tapi kau jangan senang dulu.”

Ne?” tanyaku kaget.

Kulihat ia tersenyum kecil. “Aku mendengar obrolanmu dengan Sujie tadi,” Ujarnya. “Lebih baik kau menyuruh temanmu untuk tidak asal bicara daripada ada orang lain yang mendengar. Untung saja itu aku.”

Aku menunduk. “Gamsahamnida, Kwangmin Sunbaenim,” Kataku. Entahlah, tapi kurasa ia orang baik. “Kumohon jangan beri tahu siapapun. Jangan libatkan Sujie.”

Lalu kulihat ia hanya menaikkan pundaknya dan berdiri. “Aku tak bisa jamin.” Katanya sambil berlalu pergi.

Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Jauh sebelum aku tahu dia, kukira ia laki-laki yang sangat dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Tapi begitu aku lihat senyumnya—walaupun hanya sekilas dan sebentar—tapi aku merasa ada yang berubah. Rasanya hangat…

Aish! Apa yang kupikirkan tadi? Mungkin aku benar-benar gila karena sekelompok yang ditakuti di sekolah ini. “Aish!” gerutuku seraya mengacak rambutku dan berdiri untuk kembali ke kelas.

Sepanjang perjalanan dari taman ke kelas. Aku merutuk diriku dengan pikiran anehku. “Aish. Aku benar-benar sudah gila. Mana mungkin aku bisa berpikir begitu? Semua orang di sekolah ini tahu kalau dia adalah laki-laki terdingin dan tersombong yang pernah ada. Jarang sekali ada orang melihat ia tersenyum.

“Lee Jieun,” Aku berbalik begitu mendengar seseorang memanggilku. Taemin Sunbae? Aku menahan nafas begitu ia menghampiriku. Mau apa dia?

Langsung saja aku menunduk. “N… ne?” sahutku tergagap. Aku teringat lagi dengan kata-kata Kwangmin Sunbae. Bersikaplah biasa saja, Itu katanya. Lalu aku menegakkan tubuhku kembali.

“Kau sudah baca suratnya?” tanyanya tenang seraya melempar senyum membunuh—bukan artian aku langsung terpesona oleh senyumnya, melainkan senyum yang benar-benar bisa membuatku ingin bunuh diri—padaku.

Aku menggeleng. “Belum. Surat apa?” tanyaku berbohong. Sebenarnya aku tahu sudah membacanya dan merasa takut. Tapi untung saja Kwangmin Sunbae memberitahuku sebelum Taemin bertanya padaku.

Kulihat raut wajahnya berubah. “Kalau begitu bacalah. Di lokermu.” Ia memerintahkanku. Aku heran. Sebenarnya dia ini bodoh atau bagaimana? Kenapa menyuruhku mencari surat itu? Bukankah harusnya ini menjadi ‘kejutan’ untukku? “Kertas putih dengan tinta biru.” Tambahnya.

Ne?” tinta warna biru? Bukankah surat yang kubaca tadi bewarna merah?

Kulihat ia mengangguk mengiyakan. “Pergi dan baca sekarang.” Katanya sambil berlalu pergi.

Setelah ia semakin menjauh, aku melangkahkan kakiku menuju loker dengan terburu-buru—tapi tidak berlari. Berkali-kali aku mnyenggol orang lain dan aku harus meminta maaf karena barang bawaannya jatuh. Begitu sampai didepan loker, aku membukanya dan secarik kertas jatuh. Kulihat warna tinta surat ini biru dan mataku membelalak begitu membaca isis suratnya.

“Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya.”

›››-

Kubaca tulisan dari secarik kertas itu lagi dengan seksama.

Aku tunggu kau di taman di atap gedung bagian barat sepulang sekolah. Ada yang 
ingin kubicarakan denganmu. Dan jangan beritahu siapapun. Lee Taemin. 

Mau apa dia? Belum cukupkah surat yang membuatku tegang setengah mati tadi? Apa dia ingin mengerjaiku dengan tangannya sendiri secara rahasia? Aku memeluk diriku sendiri dan memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti. “Hh. Ini baru berapa hari. Kenapa harus seberat ini?” gumamku seraya mengunci kembali lokerku.

“Jieun!” kudengar seseorang memanggilku. Aku berbalik dan melihat No Minwoo menghampiriku dengan berlari kecil. Cepat-cepat aku menyembunyikan surat itu. “Dari mana saja kau? Aku mencarimu.”

Melihat Minwoo, aku jadi teringat ketika Jinri yang menangis ketika dia tahu Minwoo menyukaiku. “Ada apa mencariku?” tanyaku.

“Kudengar kau sakit,” Katanya. “Jadi aku menghawatirkanmu.”

Aku tersenyum simpul melihatnya peduli padaku. Kenapa dia harus sebaik ini sih padaku? Tapi aku tak mau merusak persahabatanku dengannya ataupun Jinri. Jadi, aku tak mau memberi harapan kosong padanya. “Kau lihat sendiri, bukan?” aku mundur beberapa langkah agar ia melihatku lebih jelas. “Aku baik-baik saja, Minwoo-ssi. Tak usah khawatirkan aku.”

“Ada yang salah denganku?” aku menatapnya heran, tak mengerti arah pembicaraannya. “Kau hanya akan memanggilku dengan formal kalau aku ada salah denganmu. Dan aku tak suka mendengarnya. Jadi?”

Tidakkah salah kalau aku berpikir dia memperhatikanku? “Tidak apa-apa. Maaf ya, aku hanya sedang tidak enak badan.”

“Nah, benar kan kau sedang sakit,” katanya. Aku hanya memiringkan kepala heran. “Tapi, boleh aku lihat senyummu? Aku jarang lihat kau tersenyum belakangan ini.”

Yah, mau tak mau aku harus menurutinya. Jadi aku menarik sudut bibirku, aku harap ia tak melihat kecemasanku. Dan… benarkah belakangan ini aku tak tersenyum?

“Begitu lebih baik,” ujarnya sambil tersenyum puas. Syukurlah senyumku bisa terlihat ikhlas. Dan, pastilah aku baru menyadari kenapa Jinri menyukai Minwoo, pastilah dia terikat dengan senyum ini dan cara dia memperlakukan temannya sendiri. “Bagaimana aku tak mengkhawatirkanmu, Jieun-ah? Kau punya masalah dengan Taemin Sunbae dan para pengikutnya! Aku sangat khawatir, kau tahu?”

Aku menghela nafas dengan gusar. Dia mulai lagi. “Berhentilah mengkhawatikanku, Minwoo-ya, dan cobalah kau lebih memperdulikan Jinri. Kau tahu bukan kalau dia menyukaimu?” kataku dengan tenang agar dia bisa mencerna apa yang sedang kubicarakan.

“Tapi aku menyukaimu,” Inilah yang membuat suatu persahabatan retak. Aku sangat benci kalau aku terjebak di dalamnya, seperti sekarang ini. “Aku hanya menganggap Jinri sebatas teman tidak lebih,”

“Dan aku juga menganggapku teman, Minwoo, tidak lebih.” Selaku. Kulihat dia membelalakan matanya tanda ia terkejut. Lalu aku menambahkan, “Mianhae, Minwoo-ya, aku hanya tak mau kau mengaharapkan aku. Dan harusnya kau lebih memedulikan perasaan Jinri, bagaimana jika dia mendengarmmu berkata seperti itu?”

“Kau juga tak memperdulikan perasaanku, Lee Jieun!” seru Minwoo marah. Aku meloncat kaget. Aku baru pertama kali melihatnya marah dengan suara yang meninggi seperti ini.

Aku menunduk. “Maafkan aku.” Gumamku lirih.

“Lagipula, Jinri sudah menguping sedari tadi,” Aku menolehkan kepalaku menatapnya. Apa yang baru saja dia bilang? “Aku melihatnya berlari menjauh ketika aku bilang hanya menganggapnya teman.” Lanjutnya menjawab pertanyaanku yang tidak kusuarakan.

“Kau…” aku tak tahu harus menjawab apa. Pikiranku kacau. Pastilah Jinri sangat sedih mendengarnya terlebih lagi dia mendengar dari mulut laki-laki yang ia sukai. “Kau tidak punya hati, No Minwoo!” seruku lalu pergi meninggalkannya. Kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Kau yang membuatku seperti ini!” kudengar Minwoo berteriak di belakangku. Masa bodolah dengannya saat ini. Yang kupikirkan sekarang hanyalah Jinri. Dia bukan tipe orang yang gampang menangis dan sekarang ia pasti menangis. Terkutuklah perasaan suka pada seseorang yang rumit. Aku harap aku akan merasakannya kalau aku sudah dewasa.

-›››

Satu jam pelajaran setelah jam istirahatpun aku membolos untuk menenangkan Jin Ri. Aku tahu sekali apa yang dia rasakan walaupun aku tak pernah mengalami hal seperti ini—namja yang kusukai lebih menyukai sahabatku sendiri. Tapi aku ini juga yeoja yang memahami pikiran dan hatinya. Apalagi Jin Ri sangatlah perasa.

“Jin Ri-ya, aku minta maaf. Aku sudah bilang padanya kalau kau lah yang menyukainya bukan aku.” Kataku mencoba menenangkannya. Aigoo, aku tak tahu harus berbuat apa dalam situasi ini.

Jin Ri menghapus air matanya yang mengalir di wajahnya. “Baboya! Bukan kau yang salah Ji Eun-ah, kenapa harus minta maaf?” dia mencoba tersenyum sambil sesenggukan karena menangis.

Aku menggeleng. “Jelas saja ini salahku.” Bantahku. “Uljima, Jin Ri-ya, aku yakin diluar sana akan ada namja yang jauh lebih baik darimu.” Aku melanjutkan lalu memberi tissu yang selalu kubawa kemana-mana.

Jin Ri menerima tissu dariku dan menghapus sisa air matanya yang membasahi wajahnya. Lalu kulihat ia tersenyum dan mengangguk. “Mm, mulai sekarang aku akan melupakan namja yang bernama No Minwoo!” serunya.

Aku ikut tersenyum dan mengepalkan tanganku untuk menyemangatinya. “Fighting, Jin Ri-ya!” kulihat Jin Ri mengikuti gerakan tanganku.

›››-

Aku benar-benar lelah.

Sepulang sekolah, aku diminta Guru Shin untuk menemaninya menjaga perpustakaan. Jelas saja aku tak keberatan, toh hanya menemani saja. Tapi, alih-alih menemaninya, ia justru memintaku—dengan rayuan seperti gadis lemah tak berdaya dari Guru berusia pertengahan dua puluhan ini—membantunya membersihkan perpustakaan sekolah.

Dan, hari ini bukan hari keberuntunganku. Kurasa tadi banyak siswa yang datang keperpustakaan sekedar untuk menghabiskan jam istirahatnya atau untuk belajar karena banyak buku yang berserakan di meja-meja baca. Yang benar saja! Dan aku harus menata buku-buku itu dengan rapih hanya dibantu dengan Guru Shin. Merepotkan.

“Terima kasih sudah menemaniku, Lee Jieun,” Aku memutar bola mata sekilas dan menepuk kedua tanganku menghilangkan debu yang menempel pada telapak tanganku. “Kau boleh pulang sekarang.” Lanjutnya dengan senyum puas yang terhias diwajahnya.

Aku mengambil tasku dan membungkuk sedikit padanya. “Aku pulang. Annyeong, Songsaniem.” Lalu aku melangkahkan kakiku dengan malas. Tanganku terasa pegal karena daritadi aku terus menaruh buku-buku itu dirak yang tinggi.

Kenapa hari ini begitu menyebalkan? Pertama tentang surat ancaman itu—yang kutahu dari Kwangmin Sunbae kalau itu hanya tipuan saja. Tahu tentang kebohongan itu, aku jadi bernafas lega. Setidaknya para murid yang terkenal sering mengerjai murid-murid lain dengan kejam itu tidak sungguhan mengancamku.

Lalu, tentang Minwoo dan Jinri. Aku benar-benar merasa bersalah pada keduanya terutama Minwoo. Yah, memang sulit berada di posisiku sekarang. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku telah menganggap Minwoo sebagai teman terdekatku tapi dia justru menyukaiku dan jujur saja aku tak punya perasaan apapun padanya.

Belum lagi dengan Jin Ri yang diam-diam menyukai Minwoo…

“Lee Jieun!” aku berhenti ketika seseorang memanggilku darai balik punggungku. Siapa lagi ini? Aku berbalik dan melihat Lee Taemin sedang berlari kecil menghampiriku. Aku mendengus pelan. Mau apa lagi dia?

Dia berhenti tepat didepanku. Wajahnya menampakkan kalau ia sedang kesal, seketika aku merasa wajahku memucat. Gawat. Apalagi yang akan ia lakukan padaku? Tuhan… lindungi aku dari orang ini. “Aku sudah menunggumu satu setengah jam! Kenapa kau tidak datang?!” tanyanya dengan suara yang mengerikan—itu menurutku—dan meninggi.

Ah, aku lupa. Dia menungguku di atas atap sekolah sepulang sekolah. “Aku…” aku tak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, kini dia mulai memajukan tubuhnya sedangkan aku mundur sampai punggungku membentur dinding. Apa yang akan dia lakukan?

“Kau harus menanggung perbuatanmu karena telah membuatku menunggu.”

~TBC~

~Wait another story~

Chapter 3 hereeeee! Buat yang udah pernah baca di blog pribadiku, disini emang bakal aku rombak, jadi jangan kaget yaa hehe

Oke, ini cuplikan next chapter. Cekidot~

“Dia sangat menakutkan.”

“Laki-laki tadi itu siapa? Pacarmu?”

“Aku rasa dia sedang menyusun rencana untuk menjahiliku.”

“Bisakah kau pikirkan baik-baik? Aku akan menunggu.”

“Kwangmin menyukai gadis itu?”

“Dia memanfaatkan keadaan.”

“Hanya kau satu-satunya junior yang berani bicara seperti itu padaku.”

Cukup segitu ya cuplikan dialognya. Tunggu next chapter^^


14 thoughts on “Teenager Love Story – Chapter 3

  1. aishh, jd yg ngancem itu bukan taemin tapi hyunseong. tapi klo kwangmin namja terdingin jarang senyum tp di depan jieun sepertinya berbeda ya. jgn2 kwangmin suka lagi sama jieun? hohoho ato mungkin taemin jg kah? cuplikannya bikin penasrannnn~

  2. loh aku kira mereka ketemuan di taman tengah kota. kok taemin bilang di atap sekolah?
    hehe ffnya bagus chingu, cuma agak panjangan ya :) aku suka ide & alur ceritanya. keep writing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s