I Stole Those Lips (Part 6-end)

(Chapter 1|Chapter 2| Chapter 3|Chapter 4|  Chapter 5)

  • Title : I stole Those Lips
  • Author : Doo_yoon aka dwlee87 on Dooyooncouple
  • Main Cast :
    .
    Lim Hyunsik (BtoB), Kim Hyuna (4minute), Jang Hyunseung (B2ST), Nam Jihyun (4minute), Hong Jintaek (BEAST manager)
  • Genre : Fanfiction, Sad, Romance
  • Rating : PG 17
  • Length : Chapter
  • Disclaimer : Ide didapat dari Taeyang wedding dress dan BtoB MV Irressistible Lips
  • A.N :  Dont be silent readers and plagiator, really appreciate your comment …..gomawo…^_^
  • Authors note : mianhe
  • mianhe
  • mianhe…
  • author sibuk pake banget
  • mungkin terkesan keburu-buru endingnya…tapi…emang rencana awal part ini ga panjang
  • mianhe yorobun baru post sekarang -_-, pengalaman ga terlupakan nulis FF ini, ntah kenapa. Gomawo udah ngikutin, yang nagih juga gomawo, semua readers, author mengucapkan gomawooooo

Although it’s useless to be sad, you still would not have smiled
Looking back again, you went away as if it was nothing
It’s hard biting my lips, but it hurts once again
I do not want to talk about this, I want to lean beside you

(Gayoon – Wind blow)

PART 6

6 month later

“Jihyun-a annyeong!!!”

Jihyun menoleh seketika mendengar suara lantang yoja tersebut. Hyuna dengan senyum cerahnya memasuki toko yang begitu akrab dengannya. Jihyun menyambutnya dengan senyum cantiknya yang tak pernah meninggalkannya.

“Annyeong, bawa barang apa kau hari ini?”

“Beberapa topi, dress dan celana, ini” Hyuna menyerahkan satu tas berukuran besar kepada Jihyun dan diterima Jihyun dengan penuh semangat. Jihyun berkali-kali mengeluarkan beberapa baju dan mencoba memadu padankannya dengan yang lain. Sembari Jihyun sibuk dengan baju kiriman itu, Hyuna berjalan perlahan berkeliling di toko yang saat ini begitu berubah baginya.

“Kau tak pernah mencoba mencarinya?”

“Mencari? Mencari siapa?” Jihyun yang sedikit bingung menatap wajah Hyuna dengan wajah pura-pura bodoh.

“Hentikan kepura-puraanmu itu, kau ingin mencari dia kan? Mencari Hyunseung?”

Jihyun tersenyum kecut, sedikit mengalihkan perhatiannya pada baju-baju yang dipegangnya. Dia mendesah kemudian memegang satu baju yang ditinggalkan Hyunseung saat itu.

“Sangat, aku sangat ingin mencarinya, tapi dia tak mau dicari, aku harus bagaimana?”

“Lalu, perasaanmu, akan kau bawa kemana?”

“Entah…….aku ingin seperti ini dulu. Sampai sekarang….aku tetap tak bisa melupakannya…”

Hyuna memeluk Jihyun seketika, mengusap punggungnya. Melihat wajah sahabatnya yang sudah tak bisa menangis itu Hyuna tak bisa melakukan hal lain untuk menghiburnya selain memeluk dan mengusap punggung yang kesepian itu.

“Nan gwenchana Hyuna-ya~~~ gogjong hajima~~~ (aku baik-baik saja, jangan khawatir)“

“Ne…..aku tahu kau berusaha kuat, bukan karena kau taka pa-apa, tapi kau terlalu kuat untuk menghadapi ini semua. Maafkan aku yang dulu pernah ikut andil dalam menyakiti hatimu.”

Jihyun tersenyum, senyum yang selama ini dipelajarinya selama berbulan-bulan untuk menutupi luka hatinya. Walaupun dia tak bisa menyembuhkan luka hatinya, tapi dia akan berusaha menutupinya dengan senyuman yang takkan dilepasnya. Senyuman yang tidak akan membuat orang lain khawatir. Senyuman yang bisa membuat orang lain ikut tersenyum bersamanya. Walau sebenarnya, senyum itu sarat akan luka baginya.

“Permisi, apa betul ini toko milik Nam Jihyun?”

“Ne?”

Seorang yoja yang cukup cantik, bahkan perawakannya bisa dibilang mirip dengan seorang model mengejutkan Jihyun dan Hyuna dengan kehadirannya.

“Ada perlu apa kemari…..nona……?”

“Ah….kau pasti pemilik toko ini? Nam Jihyun kan?”

Jihyun mengangguk ragu, dia masih mengamati yoja itu dari atas hingga kebawah.

“Ya, saya Nam Jihyun, ada apa mencari saya?”

“Ah…..ini, undangan untukmu, kau harus datang, jangan tanyakan dari siapa, karena kurasa kau akan menyesal jika tidak datang. Ehm…..kau boleh datang bersama pasanganmu.”

“Pasangan? Bagaimana kalau aku datang sendiri? Aku  tak punya pasangan saat ini.” Jihyun masih mengernyitkan keningnya, membolak-balikkan undangan yang dilihatnya nampak mewah. Undangan putih tulang yang terukirkan namanya dengan begitu indah.

“Jinjjayo? Daebak! Kalau begitu kau harus betul-betul datang! Kami menunggumu!”

Kami? Arti kata-kata kami ini semakin membuat Jihyun mengernyitkan keningnya.

“Datang ya!” Yoja itu menyalami tangan Jihyun dengan penuh semangat, memakai kacamata hitam yang tadi dilepasnya dan keluar dari toko itu. Sementara Jihyun dan Hyuna ditinggal terbengong-bengong dengan undangan yang kini dipegang Jihyun.

“Undangan apa?” Hyuna bertanya dengan penuh antusias, sedangkan Jihyun hanya bisa mengangkat bahunya.

“Mungkin yang aku lakukan hanya bisa datang.” Jihyun membuka undangan putih tulang itu dan matanya seketika membelalak tak berkedip melihat nama yang terpampang di undangan itu. Melihat gelagat aneh Jihyun, Hyuna dengan tanpa ijin dari Jihyun segera saja ikut melihat undangan dan seketika menutup mulutnya.

Jang Hyunsung

Walk spirit to the Show

Mode JJ launching

At Hotel XX hall

9 Pm KST

 “DAEBAK!! Dia jadi designer? Maksudku……benar-benar dia wujudkan? Jinjja!! Jihyun-a kau harus datang!!”

Jihyun tak bisa berkata, dia terduduk lemas, memegang undangan itu erat dengan kedua tangannya, memeluknya…..menangis tanpa suara, menggigit bibir bawahnya untuk mencegah suaranya keluar.

“Jihyun-a kau tak apa……Jihyun-a….?”

Jihyun menggelengkan kepalanya. Sembari memeluk erat undangan itu, dia mengucapkan satu kata yang menggelayut dipikirannya sejak dibukanya undangan itu.

“Jang hyunseung, syukurlah……..”

****

Jihyun berkali-kali melihat dirinya di cermin etalase toko yang dilewatinya. Sementara Hyuna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya dan segera menariknya cepat ke dalam mobil Hyunsik. Tak hanya Jihyun, rupanya Hyuna dan Hyunsik juga diundang ke acara launcing brand yang diklaim bernama JJ oleh Hyunseung itu

“Kau sudah cantik Jihyun-a, sekarang cepatlah masuk atau kita akan terlambat!” ucap Hyuna

“Ne…ne….” Jihyun dengan sedikit gelagapan masuk ke mobil Hyunsik dengan perasaan was-was.

“Aku tahu perasaanmu, tenanglah sedikit…kau membuat mobil ini tak stabil karena kakimu terus tak tenang sedari tadi.

“Mian…..”

Sesekali Jihyun membenarkan rambutnya yang tak berantakan.Raut wajahnya sama sekali tak menandakan ketenangan. Di benaknya berbagai pikiran berubah menjadi suatu kalut bercampur kegembiraan yang tak bisa digambarkannya.

“Hotel XX, ini kan?”

Hotel bintang 5 dengan segala kemewahannya tampak dari lobi hotel tersebut. Baik Jihyun, Hyuna dan Hyunsik merasakan mereka tidak berada di dunia mereka. Deretan artis papan atas dan desainer ternama, serta para model berjalan indah di karpet merah yang diperuntukkan untuk mereka. Mereka bertiga bingung untuk masuk ke tempat yang bagi mereka terasa asing itu.

“Nona Nam Ji hyun ?”

“ne?” Yoja cantik yang kala itu mengantarkan undangan kepada Jihyun menepuk pundak jihyun dari belakang. Dengan senyumnya dia melihat bergantian ke arah Jihyun, Hyuna dan Hyunsik  satu persatu dan mempersilahkan mereka menuju satu pintu masuk.

“Silahkan lewat sini, kalian bertiga tamu istimewa desainer kami, silahkan duduk di tempat yang sudah kami sediakan.”

Tiga kursi terdepan yang paling strategis ditunjukkan olehnya. Tiga kursi yang memang diperuntukkan secara istimewa oleh Hyunseung kepada mereka bertiga. Jihyun, Hyuna dan Hyunsik menempati kursi itu perlahan. Tanpa bisa menutupi rasa penasaran mereka, Hyuna dan Hyunsik seringkali menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, bahkan tak jarang mereka berbisik-bisik tentang artis yang datang. Hyuna juga terkadang membisikkan hal yang sama kepada jihyun, tapi Jihyun sama sekali tak merespon. Pikirannya kini tak ada pada tempatnya. Jihyun dengan pandangan kosong memandang ke arah anggung catwalk di hadapannya.

Acarapun dimulai dan kini pandangan Jihyun tak lagi kosong. Sesosok namja yang amat dirindukannya, kini berdiri di hadapannya. Perubahan pada diri Hyunseung membuat Jihyun menghela nafas. Antar kekaguman, kelegaan semua berbaur menjadi satu dalam otak Jihyun yang sekarang tak tahu lagi untuk berkata-kata. Senyuman Hyunseung dihadapannya menjawab semua pertanyaan Jihyun bahwa Hyunseung baik-baik saja. Jihyun mati-matian melawan matanya yang mulai berkaca-kaca akibat tangis yang begitu ingin keluar dari dirinya. Senyum Hyunseung, caranya berjalan, setiap gerak-gerik Hyunseung, tak ada lagi keraguan bahwa sekarang Hyunseung jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Ditengah rasa syukur luar biasa pada diri Jihyun saat itu, Hyunseung melempar pandangannya ke arah Jihyun dan tersenyum. Senyum yang lama tak dilihatnya, senyum yang selalu dirindukan dalam mimpinya. Senyum yang tertuju dan ada untuknya. Acara demi acara berjalan. Para model memperagakan merek JJ yang baru saja di launching di catwalk termasuk model cantik pengantar undangan kepada Jihyun yang sesekali melemar senyum padanya.

“Sebagai penutupan catwalk ini, marilah kita sambut, MARIE dari desainer muda kebanggaan kita Jang Hyunseung.”

Marie, tak lain adalah gaun pengantin rancangan desainer yang seringkali ditampilkan pada akhir show seorang desainer. Gaun putih yang begitu indah, dengan hiasan kerlip yang sederhana namun nampak begitu indah dan elegan dipandang Jihyun dengen menahan nafas. Gaun yang sama sekali tak disangka Jihyun bisa dibuat oleh seorang Jang Hyunseung. Gaun Putih yang mempesona dan membuat semua orang menginginkan untuk memakainya. Terakhir kali Hyunseung menutup shownya dengan menghormat ke seluruh penonton dan menutupnya dengan sepatah kata

“JJ, aku membuat kata ini, berharap, namaku dan seseorang yang sangat kuhormati, dapat bersanding menjadi satu nama. Terimakasih atas kehadiran kalian semua. Ijinkan aku memberikan penghormatan terakhirku pada kalian.”

Hyunseungpun membungkuk, meninggalkan panggung catwalk dan mendapatkan riuh tepuk tangan yang luar biasa dari penonton saat itu. Jihyun yang masih mendapatkan setengah kesadarannya ikut bertepuk tangan dan kini, senyum terpaksa Jihyun terhapus dengan senyum keikhlasan yang sudah lama tak nampak pada wajahnya,

****

“Kalian yakin tak menemuinya? Bukankah kita dipanggil bertiga?”

“Tidak, kau saja, kau jauh lebih berhak daripada kami.”

“Ayolah tak inginkah kalian sedikit menunjukkan wajah kalian? Aku yakin dia ingin melihat wajah kalian.”

“Aish kau ini, masuklah!”

Hyuna mendorong badan Jihyun yang sedari tadi menolak untuk masuk. Mereka bertiga kini berada di depan ruangan desainer yang tak lain adalah ruangan dari Hyunseung sendiri. Setelah acara show selesai, mereka bertiga dipanggil untuk menemui Hyunseung secara pribadi. Hyuna dan Hyunsik segera saja menarik Jihyun yang belum mendapatkan kesadarannya ke depan ruang yang ditunjukkan oleh salah seorang model.

“Benar kalian tak ingin masuk?”

“Selesaikan masalahmu dulu oke? Kami menunggu disini.”

“Baiklah….”

Dengan penuh debaran hati yang masih berdegup, Jihyun memberanikan diri masuk ke dalam ruangan di hadapannya. Jihyun perlahan membuka pintunya, melongokkan kepalanya, sebelum membiarkan badannya masuk secara sempurna. Sepanjang pandangannya hanya penuh hamparan baju yang dipajang, kemudian model yang seibuk berbincang dan berkeliling. Matanya mencari sosok Hyunseung di tengah kesibukan di belakang panggung itu. Matanya menemukan sosok namja berambut merah yang dikelilingi para model dan disalami banyak orang. Dia tengah berbincang dengan orang lain dengan tawa lepas yang begitu dirindukannya. Tawa yang tak pernah dilihatnya selama 6 bulan ini, bahkan dalam ingatan terakhirnya tentang Hyunseung.

“Ah anda bisa saja, saya hanya melakukan hal yang saya bisa, pujian anda saya rasa terlalu berlebihan. “

Suara berat Hyunseung yang kini didengar Jihyun membuat degup jantung Jihyun semakin bertambah kencang. Jihyun tak tahu lagi apakah dia bisa melangkahkan kakinya untuk mendekati Hyunseung saat ini. Seketika Hyunseung melihat Jihyun dalam kasat matanya. Hyunseung segera menoleh dan berjalan menuju ke arah Jihyun,

“Permisi, saya ada urusan yang harus saya selesaikan, sekali lagi maaf.” Hyunseung dengan cepat membuyarkan gerombolan orang yang sedari tadi menggerumbulinya dan menarik tangan Jihyun menuju satu tempat kecil yang bagi Jihyun, nampak seperti kamar pribadi untuk Hyunseung. Di kamar itu hanya satu baju yang dipajang, baju pengantin yang ditampilkan pada terakhir kali show. Hyunseung tak langsung berbicara pada Jihyun, membiarkan Jihyun menunduk dan memikirkan hal-hal yang selama ini ingin ditanyakan pada Hyunseung. Hyunseung sibuk membenahi baju pengantin yang dipajang di kamar itu, sesekali mengubah posisinya agar lebih enak dipandang. Setelah beberapa saat mereka berdua terdiam dalam keheningan masing-masing, Hyunseung melihat Jihyun dengan tersenyum

“Bagaimana kabarmu?”

Suara Hyunseung yang seketika saja memecahkan keheningan membuat Jihyun sedikit tergagap.

“Ah….ne……aku…aku baik, toko juga baik, sudah buka satu cabang lagi sejak kau menyerahkannya padaku.” Jihyun berusaha menata jantungnya yang terus saja melompat kesana kemari. Melihat senyum Hyunseung yang kini nampak begitu berbeda baginya. Senyum hyunseung kini tak ada beban, begitu tulus, senyum terindah yang dilihat Jihyun pada diri Hyunseung.

“Begitu? Baguslah…” Hyunseung tetap menjawabnya dengan senyumnya. Kali ini, tatapan Hyunseung tak berpindah dari wajah Jihyun, membuat wajah Jihyun sedikit merona. Jihyun menundukkan kepalanya untuk menghindari pikirannya yang semakin tak berjalan lurus.

“Kau….tak bersama Jintaek? Bagaimana kalian? Apa sudah menikah?”

Kini, dalam nada bicara Hyunseung ada sedikit penekanan. Hyunseung sekuat tenaga mencoba tenang untuk menyebut nama namja itu,

“Mwo? Ani…..aku dan Jintaek oppa hanya teman, tak lebih.”

Hyunseung yang sedari tadi menyibukkan dirinya membenahi gaun pengantin yang terpajang menghentikan tangannya seketika dan menolehkan pandangannya pada Jihyun.

“Mwo? Kau serius? Bukankah kalian berdua sudah dijodohkan orangtua kalian.”

“Dijodohkan iya, tapi keputusan ada pada kami berdua, dan aku memutuskan untuk tetap menganggapnya oppa, tidak lebih.”

Hyunseung menghela nafasnya kencang, jatuh terduduk, sementara Jihyun masih menatapnya heran. Hyunseung kembali menatap Jihyun, menelan ludahnya dan berdiri.

“JJ…..apa kau tahu kenapa aku member nama JJ untuk brand bajuku?”

“JJ? Bukankah kau tadi sudah mengatakan kalau ingin menyadingkan namamu untuk orang yang kau hormati? Aku yakin salah satu singkatannya pasti margamu Jang. Apa aku benar?” ucap Jihyun tersenyum. Senyum Jihyun yang begitu menawan orang yang melihatnya. Kali ini Hyunseung juga terpesona melihatnya. Kelegaan yang bertaut dengan cinta yang baru disadarinya setelah sekian lama.

“Senyummu, tak berubah Jihyun-a.”

“Senyumku? Wae?”

“Aniya….tetap cantik.”

Jihyun tergagap, membetulkan letak rambutnya dan menunduk. Tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Hyunseung.

“Ehm….kau ingin bicara apa/? Kebetulan Hyuna dan Hyunsik ada di luar apa perlu kupanggilkan?”

Jihyun dengan salah tingkah melangkah untuk keluar dari kamar itu namun sesegera mungkin ditarik oleh Hyunseung untuk mencegahnya melangkah lebih jauh.

“Mwo ya?”

“Aku ingin hanya kau yang mendengar ini.” Ucap Hyunseung

“Mendengar apa?”

Hyunseung memegang erat kedua tangan Jihyun, sesekali menunduk, menarik nafas dalam. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya. Hyunseung kini berlutut di depan Jihyun.

“Mwo..??? Apa yang kau lakukan? Berdirilah! Kenapa kau berlutut?”

“Bisakah kau diam, dan membiarkanku mengucapkan kata-kata yang sudah lama kupendam? Jebal?”

Jihyun terdiam, hatinya tak mengerti, debar jantungnya hampir membuatnya melompat tanpa arah. Jihyun menggigit bibirnya dan menggamit balik tangan Hyunseung yang menggenggamnya.

“Maafkan aku yang sudah menghilang tiba-tiba, maafkan aku yang dulu membuatmu merasa tersisihkan, maafkan aku yang dulu sama sekali tak menjaga perasaanmu. Tahukah kau? Hatiku begitu terkoyak saat melihatmu berdua bersama Jintaek. Aku hanya bisa menyadari cinta yang terlambat untukmu dan aku merasa tak pantas setelah terus menyakitimu. JJ, aku membuat nama brand ini J kedua seperti tebakanmu, itu adalah Jang, kuambil dari margaku. Sedangkan tahukah kau J yang pertama? J yang pertama adalah namamu Jihyun. Kepanjangan dari brandku adalah Jihyun Jang. Sebenarnya aku ingin memberikan baju pernikahan ini untuk pernikahanmu kelak. Tapi…..”

Hyunseung menunduk menata nafasnya, sementara Jihyun terus menanti dan berharap kata-kata selanjutnya keluar dari mulut Hyunseung

“Tapi…..setelah mengetahui kau tak lagi bersama Jintaek…..bolehkah aku mengatakan ini padamu? Cinta itu setelah sekian lama…..tetap tak berubah. Aku yang dulu menyakitimu, mungkin tak pantas mengatakan ini. Tapi aku mencintaimu sungguh…..ehm…..bolehkah…aku melamarmu? Maksudku…..apakah boleh jika kukatakan aku ingin menikahimu? Menjadikanmu pendampingku……Jika aku masih berhak dan kau masih mempunyai perasaan yang sama.”

Mata Jihyun membelalak, tak percaya dengan yang didengarnya. Pengakuan Hyunseung didengarnya seperti sekelibatan kilat yang tak bisa dipercayainya. Tangan Hyunseung yang bergetar dingin menggamit tangannya saat ini membuatnya percaya yang didengarnya saat ini bukanlah mimpi. Jihyun berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan Hyunseung. Melepaskan gamitan tangan Hyunseung dan memegang wajah Hyunseung dengan kedua tangannya.

“Tatap aku Jang Hyunseung.”

Hyunseung menatap Jihyun dengan kedua mata lebarnya sembari menggigit bibir tipisnya

“Apakah kau mencintaiku? Menyayangiku dan takkan menyakiti hatiku lagi?”

Hyunseung menatap Jihyun dan mengucapkan sepatah kata singkat.

“saranghae Jihyun-a, cant you believe it?”

Jihyun tersenyum

“Kau menyakitiku dulu, dan aku bertahan. Ketika ada seseorang yang sanggup membuatku bahagia, hatiku tak bisa beralih dan tetap memilih rasa sakit itu. Rasa sakit itu kemudian menghilang dengan meninggalkan sepucuk surat dan menambah rasa sakit itu semakin dalam.”

Jihyun menatap mata Hyunseung yang semakin dalam membalas tatapannya.

“Dan ketika rasa sakit itu muncul kembali, membalikkan semuanya, merubah perasaanku menjadi secercah kebahagiaan, penantian sekian lama, apa menurutmu aku akan berkata tidak?”

“Mwo?”

Jihyun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Hyunseung perlahan. Hyunseung membelalakkan matanya, menatap Jihyun tak percaya. Kecupan yang hampir tak diharapkannya diperolehnya dari Jihyun sendiri.

“Ini jawabanku, kuharap kau cukup pintar mengartikannya.” Ucap Jihyun tersenyum

“Aku terlalu bodoh untuk itu.”

Hyunseung memegang dagu Jihyun dan memberi kecupan serupa pada Jihyun dan cukup membuat pipi JIhyun memerah.

“Melihat rona pipimu, kurasa aku sekarang cukup cerdas untuk mengartikan kecupanmu sebagai pengganti kata iya.”

Hyunseung memeluk erat Jihyun yang kini dihadapannya.

“Mianhe, gomawo…..saranghae….”

EPILOG

“Hyaaaaaaaaaaaaa, apalagi yang belum diurus? Catering sudah, baju sudah? Aish make upmu! Bisakah kau sedikit mengurangi makanmu sebelum pesta?”

Hyuna berlari kesana kemari, sementara Jihyun hanya melihatnya dengan bola mata ke kiri dan ke kanan

“Semuanya sudah, kenapa kau panik sekali?”

“Aish!” Hyuna duduk di tempat tak jauh dari Jihyun dan menatap Jihyun tajam.

“Tega sekali kau menyuruhku uuntuk mengurus ini semua.”

“Balas dendam masa lalu? Tak bolehkah?” ucap Jihyun dengan senyum khasnya

“Okey, terserah kau, sial. Baiklah semua sudah selesai, sekarang mana tuan Jangmu? Sudah jam segini dia belum datang dan 15 menit lagi pengantin harus sudah memasuki hall.”

“Dia sudah di jalan, tenang saja.”

Tak lama pintu ruangan itu terbuka dengan begitu kencang. Terdegar suara namja yang terengah dengan jas putihnya, memandang Jihyun dengan baju pengantinnya dengan terpesona.

“Ah ini dia yang baru saja dibicarakan! Cepatlah, kau harus sedikit di touch up, kau ini designer terkenal, jangan sampai dandananmu seperti ini. 15 menit lagi pengantin memasuki hall.”

Hyunseung hanya diam mendengar celoteh Hyuna. Termangu melihat Jihyun yang baginya nampak begitu cantik dengan balutan baju pengantin yang didesainnya. Jihyun yang merasa pandangan Hyunseung terpaku padanya, berjalan ke arahnya dan melihatnya tersenyum

“Mwo ya? Kenapa memandangku begitu?”

“Nomu yeppeo….jinjjayo….”

“Jinjja? Gomawo….” Jihyun tersenyum malu-malu menundukkan wajahnya

“Ne….jinjja……” Hyunseung membelai pipi Jihyun perlahan. Jihyun yang semakin salah tingkah hanya memegang pipinya dan menunduk malu

“Ehem-ehem….mesra-mesraannya bisa dilanjutkan nanti? Kita sekarang harus bergerak cepat oke? Tuan Jang?”

“Ah…ne….mianhe…..”

Hyunseung tersenyum, berdiam membiarkan wajahnya yang sedikit disentuh oleh make up dan baju yang ditata kembali oleh asistennya. Jihyun berjalan mendekati Hyunseung yang hampir selesai persiapannya.

“Kau tampan.”

“Jinjja? Sepertinya memang dari dulu aku tampan.”

“Aku ralat kalau begitu, kau cantik. “

“Ya……pujilah dengan tulus, yang mana yang benar?”

“Yang manapun, kau tetaplah tuan Jang dan aku mencintaimu.”

Jihyun mengecupkan ciumannya ke pipi Hyunseung dan membuat Hyunseung sedikit terkejut. Jihyun sedikit berlari tersenyum, menjulurkan lidahnya mengejek karena Hyunseung yang tak bisa mengejarnya.

“Lihat saja nanti malam oke?”

Jihyun hanya terdiam. Wajahnya memerah seketika, sedangkan Hyunseung hanya menyembunyikan senyum simpulnya dibalik tangan besarnya, puas menatap Jihyun yang merona akibat perkataannya.

Everything is beautiful at the right time ^^

About these ads

15 thoughts on “I Stole Those Lips (Part 6-end)

  1. Adaaaw
    akhirnya happy ending *sujud syukur /.\
    ikut bahagia deh :33
    setelah ini, dapat dipastikan diriku bakal sering baca ff jihyun xD

    keren banget nih ff.. Bakal di rekomendasikan ama temen dah xD
    keep write thor mumumu :**

  2. asoyyy seru abis akhirnya dri yg bantal ku basah karna air mata jadi berubah menjadi senyuman bahagia *girangsendiri* \m/

  3. Miane aku baru komen di last part ini.. terlalu menggebu-gebu bacanya XD
    bahasanya sederhana tapi tetap dapat menyampaikan segala perasaan yang ada di dalamnya. Sungguh luar biasa.
    aku suka ff mu thor ^○^
    Mengguras air mata hanya untuk sebuah senyum di ending. Keren !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s