Author: Mythantik
Genre: Romance
Length: Chaptered
Casts:
- Choi Junhee
- Kang Minhyuk
- Jung Yonghwa
| Prolog |
Semburat sinar mentari pagi mengintip masuk ke dapur melalui celah pada jendela kayu di samping bak cuci piring, menyilaukan mataku yang kala itu tengah mencuci beberapa peralatan masak yang sesaat sebelumnya kupergunakan. Aku baru saja selesai memasak sarapan untuk diriku sendiri di pagi yang cukup hangat pada awal musim dingin kala itu. Dihadapanku kini tersaji sepiring omelette au fromage hangat, dengan ekstra keju parmesan dan taburan daun ketumbar segar yang merupakan salah satu menu sarapan favorit yang dulu sering dimasak oleh ibu untuk kami sekeluarga. Rasanya seperti baru kemarin aku menikmati hidangan yang sama bersama ayah, ibudan kakakku, Choi Siwon dalam suasana ceria penuh kehangatan. Namun ternyata, tanpa terlalu kusadari, kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Saat itu, kami berempat masih mendiami rumah yang sama di daerah Tongyeong, sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Gyeongsangnam-du. Aku bahkan belum genap berusia 12 tahun saat suatu pagi, selepas sarapan bersama dengan menu omelette au fromage, Siwon tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk hidup mandiri dan melanjutkan kuliahnya di Seoul. Kami semua terkejut mendengar niatannya itu. Pada waktu itu, aku bahkan langsung berlari meninggalkan meja makan dan mengunci diri di dalam kamar seharian karena terlalu sedih mendengar keinginan Siwon.
Sejak kecil, aku memang sangat dekat dengan kakak lelakiku. Choi Siwon, yang terpaut 6 tahun lebih tua dariku itu memang figur kakak sempurna yang diidam-idamkan oleh teman-teman perempuan sebayaku. Siwon adalah seorang kakak yang baik dan bertanggung jawab, meski tak jarang pula ia menjahiliku sampai membuatku menangis bila penyakit usilnya kambuh sewaktu-waktu. Satu-satunya hal yang membuatku sedikit sebal padanya adalah rasa sayang dosis tingginya yang terkadang memperlakukanku dengan overprotective.
Terlepas dari semua itu, aku sangat menyayanginya dan tidak ingin tinggal berjauhan dengannya. Maka dari itu, aku merengek pada ayahdan ibuuntuk melarang keinginan Siwon agar ia tetap tinggal di rumah saja karena aku tidak siap berpisah dengannya. Berhari-hari aku menangis hanya agar Siwon mau mengurungkan tekadnya untuk pindah ke Seoul. Ayah, ibudan bahkan Siwon sendiri sudah kehabisan akal membujukku agar membiarkan kakakku itu mengejar cita-citanya di ibukota.
Akhirnya saat itu ayahmembuat keputusan bijak, beliau memercayakanku pada kakak lelaki kesayanganku itu dan mengizinkan aku tinggal bersama Siwon di Seoul untuk melanjutkan sekolahku di sana. Dengan berat hati, ayahdan ibumelepaskan kepergian kami, karena keduanya tidak bisa begitu saja pindah dari Tongyeong dan meninggalkan bisnis restoran seafood yang yang baru saja mulai dirintis oleh ayahdi sana.
Aku baru saja lulus SD, sementara Siwon telah menyelesaikan SMA-nya saat kami pindah ke Seoul. Tanpa pernah sekalipun mengatakannya padaku, kakakku itu ternyata sudah lama berniat melanjutkan pendidikannya di Culinary Institute of Korea untuk lebih mendalami seluk beluk dunia bisnis kuliner agar kelak bisa mengelola restoran milik ayahsecara lebih profesional, begitulah yang dikatakannya padaku suatu kali saat aku menanyakan apa yang membuatnya begitu teguh pada pendiriannya waktu itu.
Pada akhirnya, setelah kini aku tumbuh menjadi gadis dewasa, keadaan lah yang berhasil memaksaku untuk hidup terpisah dari Siwon. Setelah lulus dari Culinary Institute of Korea sekitar setahun lalu, ia memutuskan untuk menerima tawaran kerja di sebuah restoran yang beroperasi di atas kapal pesiar. Jadilah kini aku hidup seorang diri, jauh dari orangtua dan kakak lelakiku satu-satunya yang selama ini selalu menemani dan menjagaku itu.
~
Setelah selesai sarapan dan merapikan meja makan, aku bergegas mandi untuk kemudian bersiap berangkat ke kampus. Kegiatan perkuliahan sebenarnya baru akan aktif sepekan ke depan, namun aku harus ke kampus hari ini sebab akan diselenggarakan acara simposium tahunan yang wajib dihadiri oleh seluruh mahasiswa baru dari seluruh jurusan.
Maka, di sinilah aku berada kini, duduk berderet pada salah satu jajaran kursi di dalam auditorium universitas yang sangat luas bersama ribuan mahasiswa baru lainnya yang belum kukenal satupun. Saat aku memasuki ruangan besar ini sekitar setengah jam yang lalu, tempat ini masih menyisakan begitu banyak kursi yang belum terisi, namun kini yang kulihat sungguh berbeda, deretan-deretan kursi itu telah dipadati oleh mahasiswa dari berbagai angkatan dan jurusan yang ada. Sementara di barisan tempatku duduk kini pun hanya menyisakan satu kursi kosong yang letaknya persis di sebelah kananku.
Acara baru akan dimulai sekitar 15 menit lagi dan aku masih duduk dengan pasif tanpa berniat untuk memperkenalkan diri kepada mahasiswa lain yang ada di barisan yang sama denganku. Ya, aku memang agak bermasalah dengan perkara adaptasi dan sosialisasi. Hampir seluruh teman yang kini kupunya, sempat berasumsi bahwa aku adalah seorang gadis yang tidak ramah pada awal perkenalan kami.
Padahal kenyataannya sungguh jauh berbeda dari itu. Aku sesungguhnya adalah seseorang yang sangat pemalu dan terkesan menutup diri saat dihadapkan pada lingkungan dan orang-orang baru. Okay, sebut saja aku ini pengidap sindrom introvert stadium lanjut. Menciptakan kesan ramah dan bersahabat di hadapan sekelompok orang yang baru kukenal bukanlah salah satu keahlian yang kumiliki. Sungguh, kemampuanku untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru sangatlah buruk. Apalagi bila membandingkannya dengan Siwon, kakakku satu-satunya itu adalah makhluk yang sangat mudah bergaul dan mempunyai segudang kawan.
Maka kuputuskan untuk merogoh tasku, mengambil iPod yang sengaja kubawa tadi lalu memilih menenggelamkan diriku dalam alunan musik yang menggema di telingaku. Tak berapa lama setelah aku memasang earphones – bahkan lagu ketiga yang terputar secara acakdari iPodku pun belum lagi selesai– tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang baru saja duduk dengan tergesa-gesa di kursi kosong di samping kananku. Refleks bola mataku melirik ke arah kursi yang kini telah diduduki oleh seorang lelaki kurus berwajah mirip tokoh kartun dengan rambut yang tidak tertata rapi dan kacamata berbingkai besar bertengger di pangkal hidungnya.
Salah seorang panitia nampak sedang membuka acara simposium dan saat itu juga kulepaskan earphones agar bisa mengikuti jalannya acara dengan seksama. Tema simposium yang berkaitan tentang lingkungan hidup cukup menggugah rasa ingin tahuku yang selalu haus akan informasi baru.
Setelah sekitar 30 menit acara berlangsung dan aku tengah sibuk mencatat beberapa poin menarik yang sedang dipaparkan oleh salah seorang profesor di podium, tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang menghinggapi bahuku. Aku menoleh dan di sana, di bahu kananku, kudapati kepala si ‘lelaki culun’ tadi bersandar dengan nyamannya. Ia tertidur di bahuku.
Astaga! Bagaimana bisa ia tertidur dengan lelapnya di saat seperti ini?
Aku menghentakkan bahuku pelan, bermaksud membangunkan tidurnya. Lelaki itu akhirnya bangun juga setelah hentakanku yang ketiga. Ia mengusap-usap matanya dengan jemari kanannya lalu tersipu malu menyadari bahwa ia baru saja tertidur di bahuku. Aku hanya menatap datar tanpa ekspresi ke arahnya.
“Oh, jwesonghaeyo…” kata lelaki itu seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai permohonan maafnya.
Aku hanya membalas anggukannya pelan tanpa kata.
“Maaf, aku tidak tahu kalau kepalaku tersandar ke bahumu. Aku tak bermaksud untuk tidur tadi, namun aku terlalu lelah dan mengantuk, itulah mengapa aku tertidur dengan kepala menggelayuti bahumu. Aku benar-benar minta maaf ya…” katanya menjelaskan tanpa kuminta.
Sementara aku yang diajaknya bicara hanya menggumam ‘hm’ hampir tanpa suara. Bukan maksudku untuk tidak mengacuhkannya, hanya saja aku masih merasa sangat awkward dengan situasi yang baru saja kuhadapi ini, sehingga aku belum terlalu berselera untuk banyak bicara.
“By the way, namaku Kang Min Hyuk. Kau bisa memanggilku Minhyuk saja. Ireumi mwoyeyo?”lelaki itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.
“Choi Junhee ragohaeyo,”jawabku sambil membalas jabatan tangannya.
* * *
Persahabatan antara aku dan Kang Min Hyuk telah terjalin sejak sekitar setahun silam, tepatnya saat simposium di kampus kami. Kala itu, aku dan Minhyuk adalah dua orang asing yang saling mengenal karena suatu ketidaksengajaan. Semenjak aku mengenal dan mulai berteman dengannya, penilaianku tentang pribadinya tetap sama hingga kini. Kang Minhyuk adalah jenis manusia yang ramah dan sangat mudah bergaul. Bagiku, ia adalah seorang teman yang sangat baik. Selain itu, ia juga merupakan tipikal lelaki humoris yang sangat menyenangkan untuk dijadikan kawan karib. Di antara teman-teman sekelasku yang lain, nyatanya aku yang memang agak bermasalah dengan sosialisasi ini bisa dengan cepat merasa nyaman berada di dekatnya. Kami kerap kali menghabiskan waktu bersama selepas jam kuliah berakhir. Kegiatan yang paling sering kami lakukan adalah bermain gitar bersama di taman belakang kampus atau sesekali di studio musik milik klub kegiatan kemahasiswaan yang kami ikuti.
Sejak kecil aku memang sangat menggemari musik dan sudah bisa bermain gitar dengan cukup baik semenjak usia delapan tahun. Choi Siwon lah yang mengajarkan kemahirannya bermain gitar padaku. Kakak lelaki kesayanganku itu begitu sabar dan telaten mendampingi sekaligus menyemangatiku pada masa-masa awalku belajar bermain gitar, hingga akhirnya aku berhasil menguasai alat musik berdawai 6 itu setelah mempelajarinya dengan tekun selama kurang lebih satu tahun. Ah, tiba-tiba saja aku menjadi sangat rindu padanya.
Kembali ke sahabatku, Kang Minhyuk. Lelaki kurus nan jangkung itu adalah anak band sejati. Kemahirannya dalam bidang musik tidak perlu diragukan lagi karena sejak duduk di bangku kelas 2 SMP ia telah bergabung dengan band sekolahnya. Kurasa hal itu jugalah yang membuatnya memiliki kemampuan menguasai beberapa alat musik sekaligus. Tak hanya itu, anak itu juga memiliki suara yang sangat merdu, yang membuatku semakin bangga menjadi sahabatnya. Lagipula, setidaknya aku bisa sekalian mencuri sedikit ilmu bermusik darinya, sebab aku hanya mempelajari musik secara otodidak saja.
Sejak perkenalan pertama kami yang sama sekali tidak disengaja hari itu, hingga kini aku dan Minhyuk tak terpisahkan. Maksudku, hampir di setiap kesempatan kami pasti selalu bersama; di kelas saat jam kuliah berlangsung, di cafeteria kampus, bahkan tak jarang Minhyuk menemaniku berbelanja persediaan bahan makanan setiap bulannya. Aku dan Minhyuk bahkan dijuluki ‘CC’ (Campus Couple) oleh teman-teman kami. Aku memilih untuk tak terlalu ambil pusing dengan segala anggapan orang atas hubungan persahabatan kami, sebab apa yang kami jalani ini memang murni persahabatan tanpa pretensi apa-apa di baliknya. Aku tulus menyayanginya sebagai seorang sahabat sekaligus kakak, karena tak jarang perlakuan yang ia berikan padaku membuatku teringat pada Siwon yang kini berada jauh dariku. Meski dari luar penampilannya terkesan nyentrik dan asal-asalan, sesungguhnya Minhyuk adalah sosok pribadi yang hangat dan sangat melindungi.
* * *
Desember 2010
Sudah hampir 3 bulan aku menyandang status baru sebagai seorang mahasiswi. Euforia pergantian jenjang pendidikan dari SMA ke universitas, ditambah julukan ‘freshman’yang melekat padaku kini sungguh membuatku merasa sangat keren. Aku memang sudah sejak lama bercita-cita untuk mendalami ilmu sastra agar kelak aku bisa mewujudkan impianku untuk menjadi penulis yang bisa menghasilkan karya gemilang seperti Emily Brontë.
Anyways, aku dan Minhyuk sedang makan di cafeteria kampus selepas kuliah grammar siang itu. Saat lelaki berkacamata itu tengah menyantap semangkuk ramyeon di hadapannya dengan lahap, aku berseru,
“Minhyuk ah, kau tidak lupa kan kalau sore ini kita harus datang ke auditorium untuk menghadiri gathering anggota baru ‘Harmony Club’?”tanyaku memastikan sambil mengaduk perlahan jus stroberi di hadapanku.
Seketika ia mengalihkan perhatiannya dari menu makan siangnya lalu mendongakkan kepalanya ke arah wajahku, kelopak matanya terlihat membesar karena terkejut. Minhyuk lalu menyahut sambil menepuk dahinya keras,
“Ah, astaga…! Aku hampir saja lupa bila kau tak mengingatkanku, Junhee ah. Tentu, kita pergi ke sana bersama ya? Nanti akan kujemput kau di rumahmu. Kau sudah tidak ada kelas kan setelah ini?”
“Tidak usah menjemputku, aku tidak akan ke mana-mana setelah ini. Aku ingin di kampus saja, membaca beberapa buku di perpustakaan. Setelah acara di ‘Harmony Club’ selesai, baru aku akan pulang,”jawabku padanya.
“Begitu ya? Tapi kau tidak apa-apa kan kalau kutinggal sendirian sebentar? Aku harus pergi ke toko peralatan musik untuk membeli senar gitar karena salah satu senar gitarku putus kemarin,”ucap Minhyuk dengan nada agak khawatir dan merasa bersalah karena akan membiarkanku seorang diri berkeliaran di kampus.
“Ish, kau ini! Kau pikir aku anak kecil yang harus selalu ditemani kemana-mana, hah? Menyebalkan sekali!”jawabku sambil mencubit lengan kurusnya.
Minhyuk hanya tersenyum sambil meringis memegangi lengan kurusnya yang baru saja kucubit gemas. Setelah kami selesai makan beberapa menit kemudian, kami meninggalkan cafeteria menuju dua arah berlawanan.
“Kau jangan ke mana-mana sebelum aku kembali ya, Junhee ah… Aku akan menyusulmu ke perpustakaan nanti.”katanya seraya melambaikan tangan padaku.
Aku hanya menjawab kata-katanya dengan anggukan kecil dan ibu jari teracung ke udara. Lalu kulangkahkan kakiku menyusuri koridor menuju ke perpustakaan.
***
Kuayunkan langkah memasuki ruangan luas itu dengan ringan. Aku selalu suka aura di tempat ini, suasananya sangat cozy dan menyenangkan, itulah yang membuatku betah berlama-lama berada di sini. Kaki-kakiku kini menelusuri jejeran rak-rak tinggi yang memuat begitu banyak buku, entah berapa jumlahnya. Aku memang sangat menyukai buku semenjak masih kecil. Masih tergambar jelas di ingatanku, masa-masa di mana ayah dan ibu selalu membawaku ke toko buku hampir setiap akhir pekan. Mereka akan membiarkanku memilih dan membaca buku sesukaku di toko-toko buku itu, lalu pulang dengan membawa setumpuk buku pilihanku. Ya, aku memang seorang kutu buku dan aku bangga akan hal itu.
Tanpa terlalu kusadari, kakiku telah membawaku ke direktori sastra, tempat favoritku di gedung perpustakaan ini. Mataku masih menyapu barisan rak-rak yang tingginya melebihi tinggi tubuhku ini, sambil memilah-milih buku mana yang akan kubaca kali ini. Aku bingung sekali, ingin rasanya kulahap semua buku yang ada di sini. Namun setelah beberapa menit mengitari lorong yang sama, akhirnya kuputuskan untuk mengambil sebuah novel kuno – dengan cover yang mulai usang berjudul “Crime and Punishment” karya penulis Rusia, Fyodor Dostoyevsky.
Berjalan menyusuri lorong di antara deretan rak, dari balik buku-buku yang tersusun rapi, mataku tiba-tiba menangkap sosok yang baru pernah kulihat selama kurang lebih tiga bulan menimba ilmu di kampus ini. Di seberang lorong tempatku berdiri saat ini, kulihat sesosok lelaki berwajah teduh tampak sedang membolak-balik halaman buku yang tengah dipegangnya dengan mimik serius. Lelaki itu mengenakan kaus lengan panjang warna biru langit dengan motif garis-garis dan celana jeans yang mulai pudar warnanya. Entah mengapa pakaian yang dikenakannya saat itu tampak begitu sempurna membalut tubuhnya sehingga membuatnya terlihat begitu manis di pupil mataku.
Lelaki itu terlihat mulai menjauh dari tempatnya berdiri tadi lalu beranjak menuju ke meja baca yang berderet di bagian tengah ruangan. Secara refleks, ekor mataku mengikuti ke mana langkah lelaki itu akan terhenti. Rupanya lelaki manis yang-belum-kuketahui-namanya itu memilih sebuah meja kosong di bagian sayap kanan ruang baca. Aku beringsut dari tempatku dan melangkah pelan menyusulnya ke ruang baca.
Kini selera membacaku telah menguap habis tanpa sisa, tergantikan dengan rasa penasaran tingkat tinggi akan si lelaki manis itu. Kupilih sebuah meja yang terletak berseberangan dengan tempat lelaki itu duduk saat ini. Tidak terlalu lurus saling berhadapan memang, tapi kurasa aku bisa memerhatikannya dengan leluasa tanpa khawatir akan tertangkap basah menguntit dengan jarak seperti ini.
Lelaki itu kini terlihat mengangguk-angguk kecil dan mulutnya tampak bergerak-gerak menggumamkan sesuatu, atau mungkin lebih tepatnya ia sedang bernyanyi tanpa suara sambil serius membaca. Memang sedari tadi kulihat ada wireless headphones berwarna putih bertengger di puncak kepalanya. Dengan masih menggenggam buku yang kuambil dari rak tadi, mataku tak lepas mengamati setiap gerak-geriknya. Aku sudah persis seperti seorang fangirl fanatik yang tengah membuntuti idolanya secara diam-diam. Baiklah, kuakui aku sangat norak dan konyol saat ini, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur terpesona oleh si pria manis ‘anonim’ itu.
Aku kini mulai ‘berpura-pura’ membuka halaman demi halaman buku dalam genggamanku, hanya agar gerak-gerikku sebagai stalker amatir tidak terlalu kentara di mata pengunjung perpustakaan lainnya. Kuangkat buku itu tepat di depan wajahku, sambil terus memerhatikan lelaki itu dari balik buku. Sesekali ia terlihat mengetik sesuatu pada notebook yang ada di hadapannya, sambil terus membaca dengan serius. Kusimpulkan dengan sedikit sok tahu bahwa lelaki manis itu adalah seporang senior yang sepertinya sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Tanpa sadar, aku mengangguk-angguk sendiri karena merasa puas dengan analisis sok tahuku barusan itu.
Detik berikutnya kulirik lagi lelaki itu, kali ini ia nampak sibuk dengan ponselnya, entah mengetik SMS atau apa, aku tak tahu. Tidak berapa lama, ia terlihat mulai merapikan barang-barangnya yang terserak di atas meja dengan agak tergesa, lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruangan ini.
Aku hampir saja ikut bangkit dari kursiku dan berniat melanjutkan kegiatan stalking ini bila saja ponselku tidak tiba-tiba bergetar saat itu. Minhyuk mengirim SMS padaku yang mengatakan bahwa ia telah menungguku di depan pintu perpustakaan. Aku sungguh telah lupa kalau aku punya janji bersamanya untuk menghadiri gathering ‘Harmony Club’sore ini. Ya ampun, lelaki itu benar-benar telah menghipnotisku dengan pesona wajah teduhnya.
Ah iya, Kang Min Hyuk! seruku dalam hati seraya bangkit dari tempat dudukku lalu berjalan cepat keluar dari ruangan baca.
“Ya, Junhee ah… Kenapa kau lama sekali berada di dalam sana? Aku sampai berkarat menunggumu di sini,”cerocos Minhyuk merajuk.
Dasar anak ini, ia memang terbilang alergi dengan buku sampai-sampai masuk ke dalam perpustakaan pun enggan. Herannya, ia malah memilih untuk kuliah di jurusan sastra yang jelas-jelas menuntut para mahasiswanya untuk membaca segala macam bentuk literatur yang ada. Entahlah, mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan temanku yang satu itu, pikirku geli.
“Mianhae, Minhyuk ah… tadi aku terlalu asyik membaca sampai hampir lupa dengan acara gathering itu. Kau tahu sendiri bagaimana aku jika sudah berhadapan dengan buku-buku,” jawabku sedikit berbohong sambil terkekeh pelan.
Minhyuk tidak menyahutiku lagi, ia lalu meraih tanganku dengan cepat. Ia membimbing langkahku menuju ke auditorium, tempat diselenggarakannya acara gathering sore ini yang berada di lantai dasar. Melangkah di belakangnya sambil terus membiarkan tangannya menggandeng jemariku, kulihat ruangan yang cukup luas itu telah ramai didatangi oleh para mahasiswa, baik yang senior maupun freshman seperti kami. Beberapa di antara mereka ada yang sudah kukenal, tapi banyak juga yang baru kulihat saat itu.
Sekarang aku dan Minhyuk telah duduk di kursi yang terletak di jajaran depan auditorium. Aku melihat-lihat ke sekelilingku dan bola mataku terhenti pada sosok yang belum lama ini kuamati dan kuperhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Beberapa kali kukerjap-kerjapkan kelopak mataku, khawatir bila yang kulihat ini salah atau aku hanya sedang berhalusinasi. Ternyata tidak, sosok yang baru saja kulihat itu memang sama dengan sosok yang sejak tadi kupandangi di perpustakaan. Dari tempatku duduk kini, tampak ia sedang memeluk sebuah gitar sambil mengobrol dengan teman-temannya.
Ya Tuhan, ini sungguh sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan.
Aku tersenyum sendiri di tempatku saking gembiranya, sampai-sampai aku tidak sadar jika Minhyuk sudah memerhatikanku cukup lama. Seketika kukatupkan bibirku yang terus-terusan melengkung sejak tadi, lalu bersikap polos seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapan penuh selidik dari mata sipit miliknya pun kuabaikan begitu saja. Aku hanya tak ingin ia curiga lalu menggodaku habis-habisan bila ia sampai tahu yang sebenarnya.
Perhatian kami lalu teralihkan ke atas panggung, karena salah seorang di antara senior kami sedang mulai membuka acara di sore itu. Acara ini sebenarnya tidak terlalu formal dan hanya merupakan acara kumpul-kumpul biasa guna menjalin keakraban di antara anggota klub, baik yang sudah lama maupun yang baru bergabung sepertiku dan Minhyuk ini. Ada sekitar 20 anggota lama klub yang hadir pada sore yang cerah itu.
Menjelang penghujung acara, satu per satu mereka memperkenalkan nama masing-masing kepada kami, para anggota baru ‘Harmony Club’. Setelah acara perkenalan dari para anggota lama klub, akhirnya acara sore itu ditutup dengan penampilan akustik dari tiga orang anggota lama ‘Harmony Club’yang membawakan lagu “Fix You” milik grup band asal Inggris, Coldplay, yang merupakan salah satu lagu favoritku selama ini.
Di atas panggung, lelaki pemilik wajah teduh yang kuketahui bernama Jung Yong Hwa itu tampak sedang mengatur posisi stand mic di hadapannya dengan sebuah gitar akustik berwarna putih tersandang di punggungnya.
Oh my God, he looks so stunning… pikirku dalam hati sambil terus mengarahkan pandanganku padanya tanpa berkedip.
~~~ Lights will guide you home…
And ignite your bones… And I will try to fix you…
Suara merdu serta petikan gitar Jung Yonghwa yang begitu membiusku itu sayup mulai tak terdengar seiring bait terakhir dari lagu itu tuntas mereka bawakan. Aku masih tertegun di tempat dudukku dan masih terus menatap lurus ke arah panggung meski Yonghwa dan teman-temannya itu kini telah silam di balik tirai yang menutupi bagian backstage.
Kang Minhyuk sedang mengibas-ngibaskan tangannya persis di depan hidungku yang membuat perhatianku dari atas panggung terenggut seketika.
“Apa kau berniat untuk menginap disini, Junhee ah?”tanya Minhyuk meledekku.
Kuabaikan saja pertanyaan konyolnya itu, aku hanya mendengus sambil menyikutnya pelan. Dengan cepat ia menggamit lenganku lalu kami berdua keluar dari ruangan luas itu. Minhyuk segera mengantarku pulang karena hari sudah mulai gelap dan semakin dingin. Selama perjalanan menuju rumahku, aku terus saja memikirkan Jung Yonghwa. Bahkan aku sempat meng-update status di account twitter milikku dari atas skuter Minhyuk,
“Never ever thought that princes are even exist in this real world, but I’ve just seen one today. He is so real and isn’t a part of fairytales. Lucky me…^^”
—0o0—
Hello…Serenade in Silence is back!
Ditunggu komentarnya ya, teman-teman… Gomawo…^^

@firda: udah
) –> ffindo.wordpress.com/2012/10/21/serenade-in-silence-chapter-2/