
Tittle:
Teenager Love Story
Author:
EnnyHutami
Rating:
General
Lenght:
Chaptered
Genre:
Romance, Friendship, Family
Cast:
Lee Jieun, Bae Sujie, Choi Jinri, Lee Taemin, Choi Minho, Jo Kwangmin, No Minwoo
Copyright © EnnyHtm fanfiction 2012
Previous: Chapter 10
~ooOoo~
Memar-memar di wajah Taemin memang belum hilang sepenuhnya, tapi bagi orang yang tidak tahu mungkin tidak mengira kalau ada memar di wajahnya. Key memang benar-benar hebat.
Saat jam istirahat pertama, Taemin mengunjungi balkon di gedung timur untuk sekedar mencari udara. Namun, ia mengurungkan niatnya begitu mendengar percakapan seseorang melalui telfon yang menyebut-nyebut nama Sujie. Begitu memasang telinganya, Taemin menyadari suara berat itu milik Choi Minho.
“…begitu maksudku. Kupikir akan lebih baik kalau Sujie yang memutusku tanpa memberitahu tentang taruhan itu.”
Didengarnya Minho terdiam sejenak mendengarkan seseorang di seberang telponnya. Siapa lagi kalau bukan Soo Jung? Kemudian ia berkata lagi, “Baru saja Sujie bertanya padaku bahwa hari ini aku ada acara atau tidak. Begitu aku menjawab tidak ada dan bertanya kenapa, dia bilang tidak apa-apa. Jadi, kurasa sepulang sekolah dia akan ke rumahku, entah untuk apa.”
Lagi-lagi Minho tak bersuara. Namun, beberapa detik kemudian dia melanjutkan, “ya, sayang, bagaimana kalau nanti kau ke rumahku? Nanti akan kuberi tahu apa rencananya.”
Taemin membalikkan tubuhnya dan bergegas kembali ke kelasnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkecambuk dipikirannya.
Dan sekarang di sinilah dia, berdiri di samping Jieun di halte bus sembari menatap punggung Sujie yang menjauh.
“Jadi… apa rencanamu?” tanya Jieun hati-hati. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Taemin hari ini, entah itu apa.
Taemin tidak menjawab pertanyaan Jieun—bukan karena ia merasa ini bukan urusan gadis itu, tapi karena dirinya sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia hanya ingin mengikuti Sujie dan ingin melihat rencana apa yang akan dilakukan Minho dan Soo Jung. “Lebih baik kau pulang. Terima kasih, ya, Jieun.” Ujar Taemin sambil lalu sembari menepuk bahu Jieun.
Ekpresi atau tanggapan Jieun tak diketahui Taemin karena ia tidak membalikkan badannnya untuk sekedar melihat. Ia justru tetap berjalan dan setengah berlari begitu mendapati Sujie berbelok di ujung jalan.
Beberapa menit berjalan, Taemin melihat Sujie yang berhenti di depan pagar rumah Minho. Dari tempatnya berdiri, Taemin melihat Minho dan Soo Jung sedang duduk santai di bangku panjang di pekarangan rumah Minho. Begitu Taemin melangkah mendekat, ia mendapati Minho tengah melirik ke arah Sujie namun sepertinya Sujie tak melihatnya. Detik berikutnya, Taemin berlari ke arah Sujie ketika melihat Minho memajukan wajahnya ke wajah Soo Jung sampai-sampai tak ada jarak di antara wajah mereka.
Taemin membalikkan badan Sujie hingga gadis itu berdiri menghadapnya. Ia tahu ia terlambat, Sujie baru saja melihat Minho mencium Soo Jung. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Sujie karena gadis itu terus menunduk menatap sepatunya, jadi ia tak bisa melihat reaksi yang dibuat oleh gadis itu.
Bagaimana kalau seandainya ia tak mendengar pembicaraan Minho dengan Soo Jung di atap? Bagaimana kalau seandainya ia tak mengikuti Sujie? Apakah Sujie akan baik-baik saja?
Taemin mengangkat kepalanya dan menatap Minho dengan tajam. Tidak pernah terpikirkan olehnya Minho akan melakukan ini, membuat Sujie memutusnya namun dengan cara yang menyakitkan bagi gadis itu.
Minho menarik wajahnya begitu mendapati sosok Taemin berdiri di depan pagar rumahnya sembari menatapnya tajam. Di hadapan Taemin, berdirilah Sujie yang entah bagaimana caranya sudah memunggunginya. Dugaannya benar. Minho tahu bahwa Taemin menguping saat ia berbicara dengan Soo Jung di telpon, dan ia menduga Taemin akan mengikuti Sujie sampai kemari. Dan, ia berharap semua ini cepat selesai. Soo Jung lepas dari ikatan pertunangan dengan Taemin dan kembali padanya, sedangkan Sujie lepas dari taruhan konyol yang dibuat Taemin, walaupun dengan cara yang akan membuat gadis itu tersakiti.
Mendengar suara isakan Sujie, Taemin menundukan kepalanya melihat bahu Sujie yang gemetar. Tak tega membiarkan Sujie menangis di sini, Taemin pun membawa Sujie pergi menjauh dari rumah Minho dengan memegang pundak Sujie dengan sebelah tangannya.
Orang yang berlalu lalang di jalan yang mereka lewati menatap Taemin dengan pandangan menuduh. Taemin tahu itu, makanya dia mengambil mantel dari tas plastik yang dibawa Sujie dan menaruh mantel itu di atas kepala Sujie. Dia memang tidak terganggu dengan tatapan menuduh yang dilayangkan padanya, namun ia tidak ingin orang lain melihat Sujie menangis—walaupun wajah Sujie tidak terlihat jelas karena rambut panjangnya yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Walaupun isakan Sujie tidak sekeras tadi—bahkan isakannya tadi hanya terdengar bagai bisikan—tapi Taemin tahu gadis itu masih terisak, melihat bahunya yang bergerak naik turun.
Begitu melihat tempat bermain anak-anak yang sepi, Taemin mengajak Sujie ke sana. Ini bukan taman yang penuh dengan rumput hijau dan pohon-pohon, hanya taman bermain anak kecil dengan alas pasir kasar yang dibawa dari pantai kemari.
Dengan hati-hati, Taemin mendudukkan Sujie di kursi taman yang tidak ada penyandar punggung tanpa melepas mantel yang masih menutupi kepala gadis itu.
Sudah sekitar lima menit tak ada yang bicara di antara mereka. Taemin sempat berpikir untuk meminjamkan dada atau pundaknya untuk tempat Sujie menangis. Tapi, kenapa dia merasa begitu gugup? Dan, dia juga takut kalau gadis itu menolak pinjaman dada atau bahunya. Dia tidak ingin mendapat penolakan.
“Sunbaenim,” akhirnya salah satu dari mereka membuka suara. Setelah yakin bahwa ia bisa mengeluarkan suaranya tanpa terdengar menyedihkan, akhirnya Sujie memanggil Taemin—walaupun ia tak berani mengangkat wajahnya dan melepaskan mantel di atas kepalanya karena takut Taemin melihat wajahnya yang kacau.
Bagaimana mungkin Sujie tahu laki-laki yang duduk di sampingnya ini adalah Lee Taemin? Oh, yang benar saja! Tadi ia sempat menatap sekilas wajah Taemin saat tubuhnya diputar balik oleh laki-laki itu. Kalau ia tidak tahu siapa orang yang membawanya ke taman ini, mana mungkin Sujie dengan mudahnya mengikuti laki-laki yang membawanya? Tidakkah itu terlihat sangat murah?
“Maaf aku merepotkanmu, Sunbaenim,” lanjut Sujie sembari menautkan jari-jarinya di atas pahanya yang masih tertutup rok sekolah dan menahan suaranya agar terdengar normal, namun tetap saja suaranya terdengar tercekat di telinga Taemin.
“Tidak, tidak. Kau sama sekali tidak merepotkanku,” sahut Taemin sembari menatap khawatir pada Sujie. Dalam hatinya, ia merasa bersalah karena semua kesulitan yang didapati Sujie dan lainnya ini adalah ulahnya sendiri. Kalau saja dia tak bersikap egois, kalau saja ia tak bersikap konyol. Oke, berhenti mengandai-andai. Itu sama sekali tak berguna.
Di balik mantel dan rambutnya, Sujie menghapus sisa air matanya dengan telapak tangannya. Ia benar-benar kecewa, bingung dan marah. Emosi itu bersatu dan kemudian menguap sehingga membuat air matanya mendesak keluar. Ia benci keadaan seperti ini, saat orang lain melihat kerapuhan perasaannya.
Setelah yakin air matanya tak akan mendesak keluar lagi, Sujie mencoba tersenyum kemudian melepaskan mantel dari kepalanya. Namun, begitu ia menoleh ke samping, ia tak mendapati Taemin duduk di sebelahnya. Ia justru mendapati Taemin tengah melangkah menuju ayunan di tengah taman bermain yang dipenuhi pasir.
Taemin berdiri tepat di belakang ayunan—sama sekali tidak berniat duduk di sana—kemudian menoleh pada Sujie yang menatapnya heran. Untuk menghilangkan rasa penasaran Sujie, Taemin yang kedua tangannya memegang tali ayunan mengendikkan dagunya, menyuruh Sujie untuk duduk di ayunan di depannya.
Dengan ragu-ragu, Sujie berdiri namun tak beranjak dari tempatnya sebelum Taemin mengendikkan dagunya sekali lagi dengan melayangkan tatapan perintah. Akhinya Sujie melangkahkan kakinya dan duduk di ayunan sedangkan Taemin menarik dan mendorong tali ayunan dengan pelan.
“Kau tidak bertanya kenapa aku datang saat waktunya tepat—yah, sebenarnya aku terlambat beberapa detik,”
Sujie membalikkan setengah tubuhnya hingga ia bisa menatap Taemin dengan pandangan heran.
Namun ketika Sujie hendak membuka mulut untuk menanyakan maksud Taemin, laki-laki itu justru memutar bahu Sujie agar ia kembali menatap ke depan kemudian kembali membuat ayunan bergerak.
“Akan aku beritahu sesuatu tentang Minho,” Sujie terdiam begitu Taemin berkata dan menyebut-nyebut nama Minho, laki-laki yang baru beberapa menit yang lalu ia lihat berciuman dengan gadis yang diakuinya sebagai adik. Namun sudah beberapa menit Sujie menunggu Taemin melanjutkan, laki-laki itu hanya diam.
“Maaf,”
Begitu Taemin membuka suara untuk melanjutkan, justu kata maaf yang keluar dari bibir laki-laki itu. Sujie tak lagi membalikkan badannya untuk melihat raut wajah Taemin walaupun ia ingin bertanya, ia hanya memegang kedua tali di sisi tubuhnya sembari menatap lurus ke depan, dan ia tahu Taemin belum menyelesaikan kalimatnya.
“Maaf karena membuatmu sulit. Salahku karena mengenalkanmu pada Minho,”
Kali ini Sujie menoleh cepat untuk menatap Taemin. “Apa maksudmu, Sunbae?” selanya. “Kau mengenalkanku pada Minho Oppa?”
“Ya,” sahut Taemin tanpa balas menatap tatapan Sujie. Gerakan tangannya pun berhenti namun tetap menggenggam tali ayunan. “Karena aku, Minho hanya menjadikanmu taruhan. Tidak lebih.”
Mata Sujie membulat begitu mendengar pengakuan Taemin. “Taruhan?” gumamnya pada dirinya sendiri namun tetap memandang Taemin lurus-lurus.
“Kau boleh marah padaku, tapi kumohon biarkan aku menjelaskan alasannya.”
Sujie terdiam tidak mengatakan apa-apa. Dia bertanya-tanya kenapa Taemin ada di sini, menyebut-nyebut taruhan dan ingin menjelaskan sesuatu yang ia tidak mengerti. Dia tidak tahu harus berkata apa, terlalu bingung untuk menyuarakan pikirannya. Bukankah ini terlalu rumit? Taemin yang setahunya kekasih Jieun tiba-tiba ada di sini bersamanya, tentang taruhan yang baru saja di sebut-sebut, dan tentang Minho yang baru saja mencium adikknya. Ya Tuhan! Pertanyaan-pertanyaan rumit yang ia tidak tahu jawabannya terus berputar di kepalanya.
“Aku yakin kau pasti bertanya-tanya,” Taemin berkata seakan ia membaca pikiran Sujie ketika gadis itu terus menggoyang-goyangkan kakinya di atas pasir. Sebenarnya tidaklah sulit menebak apa yang dipikirkan Sujie saat ini mengingat apa yang telah dilihatnya barusan. “Jadi, kau boleh menanyakan apapun padaku tentang Minho, gadis tadi atau aku.”
Sebelum menjawab pertanyaan Taemin, Sujie mengigit bibirnya ketika bayangan wajah Minho dengan Soo Jung sudah tak berjarak. Kemudian dengan ragu ia membuka mulut, “Soo Jung itu… bukankah dia adik Minho Oppa?”
Taemin mendengus sebal. Di saat seperti ini pun Sujie masih tetap memanggil Minho dengan embel-embel Oppa? Dan, bagaimana bisa Sujie mengira Soo Jung adalah adik Minho?
“Beberapa hari yang lalu adalah pertama kalinya aku datang ke rumah Minho Oppa untuk mengenalkan adiknya serta orangtuanya padaku.” Lanjut Sujie sebelum Taemin menjawab pertanyaannya.
“Bukan,” sahut Taemin sembari kembali mengayunkan tali ayunan, membuat Sujie kembali memegang tali ayunan di kedua sisi tubuhnya. “Maaf kalau aku mengejutkanmu, tapi Soo Jung itu kekasih Minho. Mereka sudah bersama kurang lebih dua tahun yang lalu.”
Baiklah, kini Sujie merasa tenggorokannya tercekat lagi. Namun ia menahannya agar air matanya tak mendesak keluar lagi, jadi dia hanya diam karena seperti ada yang mengganjal di tenggorokkannya sehingga ia tak mampu mengeluarkan suaranya.
“Orangtuaku dan Soo Jung menjodohkan kami sekitar delapan bulan yang lalu, tentu saja karena urusan bisnis,” lanjut Taemin sembari tertawa meremehkan mengingat saat orangtuanya memberitahu tentang perjodohan tersebut. “Pada saat tahu siapa yang dijodohkan denganku, jujur saja aku senang karena saat itu aku menyukai Soo Jung yang saat itu adalah kekasih Minho. Sekali aku melihat Soo Jung menangis di pelukan Minho yang aku yakin karena pertungan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Melihat mereka seperti itu, entah kenapa membuat rasa sukaku pada Soo Jung menguap entah kemana,”
Taemin terdiam sebentar memberi waktu Sujie mencerna ceritanya sekaligus mengambil nafas. Setelah diam beberapa detik, ia pun melanjutkan, “Setelah itu, aku melihatmu bersama Jieun dan satu temanmu—”
“Jinri,” potong Sujie dengan suara yang pelan, memberitahu nama Jinri.
Taemin tak mengomentari ucapan Sujie yang memotong ceritanya. Ia pun melanjutkan kembali, “Entah darimana pikian itu berasal, setelah melihatmu, terlintas ide untuk membuat taruhan yang jika Minho berhasil menjalankannya, aku akan membatalkan pertunganganku dengan Soo Jung. Aku tahu Minho ragu untuk menjawab, dan kurasa ia memberitahu Soo Jung tentang taruhan yang aku ajukan. Dua hari setelah aku memberitahu taruhan itu, ia pun menyetujuinya. Berpacaran denganmu sampai ia lulus tanpa ada pertengkaran.”
“Kukira akan sulit untuknya menjalankan suatu hubungan tanpa ada pertengkaran mengingat ia tidak memutuskan hubungan dengan Soo Jung. Ternyata dia berhasil sebelum aku ikut campur,”
“Ikut campur?” sela Sujie dengan suara yang tercekat.
“Ya,” sahut Taemin. “Surat dan foto itu dariku, hanya saja Jieun yang—”
“Jieun?” potong Sujie cepat sembari bangkit dari ayunan dan berdiri menghadap Taemin dengan heran. “Jieun membantumu, dan dia tahu taruhan ini?”
“Tidak, tidak. Dia sama sekali tidak tahu. Aku hanya menyuruhnya tanpa memberitahu apa yang terjadi karena aku mengancamnya,” Sergah Taemin tak kalah cepat. Ia tidak mau merumitkan orang lain lagi. Sujie dan Jieun bersahabat, dan dia baru saja membuat Jieun kesulitan karena Kwangmin yang sepertinya marah pada gadis itu. “Yang tahu taruhan ini hanya aku, Kwangmin, Minho, dan Soo Jung. Tak ada yang lain.”
Sujie tak berkomentar. Ia hanya menatap Taemin dengan pandangan meragukan. “Lalu, apa maksudmu mengirimi surat ancaman yang kukira dari penggemar Minho Oppa dan foto itu?” tanyanya kemudian.
“Aku juga tak tahu,” aku Taemin sembari menatap alas duduk pada ayunan yang tali pengikatnya masih digenggam oleh kedua tangannya. “Awalnya, kukira aku hanya tak ingin melepaskan Soo Jung. Karena itu aku mengirimimu surat-surat yang mungkin bisa membuatmu marah dan memilih untuk memutuskan hubunganmu dengannya.”
Taemin berhenti bicara sejenak dan ia mendengus begitu mengingat bagaimana reaksi Sujie yang biasa-biasa saja terhadap surat itu. Dan kemudian ia melanjutkan, “aku mulai menyadari perubahan perasaanku setelah Jieun bilang kalau aku hanya cemburu pada hubunganmu—saat itu memang belum sepenuhnya aku mengakui perasaanku, tapi yang dikatakan Jieun benar—aku cemburu melihatmu bersama Minho,”
“Sunbae,” sela Sujie dengan suara serak khas seseorang habis menangis. Dengan ragu Sujie manatap Taemin yang tengah menatapnya dengan pandangan bertanya. “Apa kau… menyukaiku?”
Mendengar pertanyaan Sujie, Taemin setengah mendengus dan setengah tertawa meremehkan. Namun ia tetap menjawab dengan mantap. “Ya, aku menyukaimu.”
Sujie tetap menatap Taemin. Wajahnya sama sekali tidak merona merah karena malu. Ia justru mengerutkan kening dengan heran. Kini, muncul sederet pertanyaan tentang laki-laki di depannya. “Bukankah kau pacar Jieun? Kenapa kau justru menyukaiku?”
Ini terlalu cepat menurutnya. Ia baru saja mendengar hal yang cukup—bahkan sangat—menyakitkan baginya, hubungannya dengan Minho yang sudah berjalan sekitar enam bulan bertahan karena taruhan. Dan dia adalah gadis taruhannya. Benar-benar membuat Sujie tertawa meremehkan, kisahnya menyedihkan.
“Tidak. Kami tidak berpacaran.” Jawab Taemin tegas. Kemudian ia melanjutkan saat mulut Sujie terbuka hendak bicara kembali. “Jieun bilang padaku, katanya kau memergokinya bersamaku. Jadi dia hanya mengiyakan saat kau mengira kami berpacaran. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada Jieun. Lagipula Kwangmin lah yang menyukainya, bukan aku.”
“Kwangmin Sunbae?” sela Sujie lagi.
“Ya,” sahut Taemin. “Saat dia mengaku bahwa dia menyukai Jieun, aku tidak langsung percaya. Dia bukan orang yang mudah jatuh cinta, dia menutup hatinya rapat-rapat. Namun begitu melihat kesungguhan yang kulihat di matanya, aku percaya. Dan setelah itu, aku pun langsung memikirkan baik-baik tentang perasaanku padamu,”
Taemin berhenti lagi untuk melihat ekpresi wajah Sujie yang berubah-ubah mendengar cerita darinya. Seperkian detik kemudian, ia pun menghela nafas dan melanjutkan, “dari saat itu, aku mulai mengakui bahwa aku menyukaimu dengan sepenuh hatiku.”
¯
Semua tes untuk ujian kelulusan yang dilaksanakan selama satu minggu telah selesai. Namun setelah itu, mereka tetap dianjurkan untuk masuk sekolah karena mengurusi tes masuk di universitas yang mereka inginkan dua bulan setelah pemberitahuan kelulusan diumumkan.
Masuk tidak masuk pun sebenarnya tidak masalah, ada beberapa anak tingkat tiga yang masuk namun hanya berleha-leha di sekitar sekolah, ada yang sibuk dengan guru pendampingnya mengurusi persiapan tes untuk masuk universitas, bahkan ada yang memilih tidak masuk sekolah.
Tapi tidak untuk hari ini, semua murid tingkat tiga hadir ke sekolah untuk mengetahui hasil ujian mereka.
“Kau akan meneruskan kemana?” tanya Jinki pada Kwangmin ketika mereka berdua tengah berjalan melewati lorong-lorong panjang sekolah setelah guru pendamping mereka membagikan kertas yang isinya hasil dari ujian mereka.
Kwangmin mengangkat bahunya cuek. “Masih kupikirkan.”
“Setahuku gadis itu pacar Choi Minho,” ucap Jinki tiba-tiba begitu mengalihkan kepalanya ke arah ruang musik yang tengah mereka lewati.
“Apa?” tanya Kwangmin heran.
Saat Jinki menghentikan langkahnya dan mengendikkan dagunya ke dalam ruang musik, Kwangmin juga ikut menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya untuk melihat ke dalam ruang musik dengan pandangan heran.
“Aku tidak tahu Taemin bisa bermain piano,” Lanjut Jinki sembari memperhatikan dua orang di dalam ruang musik tersebut. Gadis itu bernyanyi sembari menatap laki-laki di sampingnya dengan senyum lembut yang menghiasi wajahnya. Sedangkan yang laki-laki tengah memainkan piano sembari bernyanyi, sesekali ia menatap gadis di sebelahnya. “Mereka berdua terlihat seperti saling menyukai. Kau tahu itu?”
Kwangmin hanya mengendikkan bahunya tak peduli kemudian melanjutkan langkahnya.
“Oh ya,” ucap Jinki saat tak ada yang bicara lagi di antara mereka berdua. “Kau tidak berniat mendiami gadis itu sampai kau keluar dari sekolah ini kan?” tanya Jinki begitu teringat gadis yang belakangan ini sering mendatangi Kwangmin namun diabaikan begitu saja olehnya.
“Tidak.” Jawab Kwangmin setelah cukup lama ia terdiam dan hanya memandang lurus ke depan tanpa mengurangi langkahnya. “Aku hanya ingin mengujinya.”
Jinki mendengus pelan mendengar jawaban Kwangmin. “Menguji apa lagi? dia mengejarmu belakangan ini untuk minta maaf padahal ia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya, bukan? Orang buta sekali pun tahu kalau dia menyukaimu.”
Kali ini Kwangmin tak bisa menjawab. Apa yang dikatakan Jinki barusan sangatlah berbeda dengan pikirannya. Yah, ia memang menyadari kalau Jieun perlahan mulai menyukainya. Namun ia bisa merasakan kalau rasa suka Jieun pada Kwangmin belum benar-benar penuh—maksudnya, Kwangmin merasa Jieun masih membagi rasa sukanya. Antara dia dan Taemin, walaupun ia tahu rasa suka Taemin pada Sujie sudah sepenuhnya.
TBC
“Datanglah ke ruang musik.”
“Jadi kau butuh bantuan apa dariku?”
“Jadi, kapan dia menyatakannya?”
“Aku takut kalau dia hanya mengasihaniku.”
“Tentu saja kau harus menjawabnya sebelum ia berubah pikiran.”
“Benar-benar laki-laki brengsek!”
“Sendirian?”
“Biarkan aku mengulangnya.”
“Terima kasih karena tetap menyukaiku.”
RCL like oxygen for me^^v
sekarang ngerti thor,konfliknya apa. dari chapter kemarin penasaran banget, ‘ada apa’ ._. daebak thor,makin penasaran akunya hehe ^^ di tunggu next chapternya ya thor,anyway nanti endingnya Jieun sama siapa thor? kalau sama taemin,tapi taemin udah suka suzy -____- kalo sama kwangmin,kelihatannya meragukan… pokoknya di tunggu next chapternya deh thor,fighting! ^^
Hihi ketauan deh(?)._.v hem… Sama itu dan itu deh pasti, btw, makasih udah baca+komen yaa:D
waaaa… critax kereeen thor ..

wa,si taemin akhirx ngengungkapkan prasaanx jg ..
thor,bnar2 penasaran dgn lnjutannya
cpatan yaa publish FFnya xD
hehe makasih yaaa:D udah dipublish kok chapter 12nya^^
Like banget! makin klimaks critanya XD
jadi IU sama skali gk muncul di chapter ini! padahal daritadi nunggu part nya IU ._.
jadi gitu si Sujie cuma jadi cewek taruhan nya Taem sama Minho ya… *angguk2*
next part nya jangan terlalu lama ya^^ udah gk sabar soalnya
iya._. dichapter ini masih fokus sama cerita belibetnya Taemin-Minho-Krystal-Suzy._.v iudah ada kok lanjutannya^^ makasih udah baca+komen yaa:D
wah…asyik…taem ga jadi ma IU, udah Kwangmin IU aja hehe…lanjut thor
nee:D makasih udah baca+kome yaa^^
ga nyangka ternyata minho mmg sengaja ngelakuinnya gara2 liat suzy depan pager. tp setidakny krn masalah itu, taemin jd ngaku yg sebenernya ama suzy. ah, taemin cinta mati sama suzy jd iu bertepuk sebelah tangan donk? uda, IU ama kwangmin aja, cocok jg koq. hehehe..
hem…. gak bertepuk sebelah tangan kok (kenapa thor?) nah, masih rahasia:p makasih udah baca+komen yaaa^^
aigo. tetem kenapa sukanya ama suzy???!! argghh,, padahal aku sukanya kan kalo tetem ama jieun!! /masabodo/ -_-
semuanya emang udah keungkap sih, tapi kenapa gituyah, masih berasa penasaran (lagi) sama jieun yang.. err,, di part ini jarang (atau gapernah) nongol gituh -_-v
next part secepatnya yah! SECEPATNYA loh thor ~~ jangan lupaa~~ kekeke ^^v
sebenernya aku juga sukanya IU sama tetem.-.v emang blm diceritain semuanya kok kalo gak salah, apa udah ya? #plakk
nongol diawal doang kok tadi._.v neee:D ditunggu yaa~
pengennya taemin ma jieun…tp kayaknya enggak ya?
next