Poster : terima kasih untuk Boo^^ , i like this
Title : Late but Sweet [special for Hae's Birthday]
Main cast :
-Lee Donghae
-Shin Minrie(Oc)
Sub cast :
-Shin Minra(Oc)
-Lee Hyukjae
Rating : teen
Genre : Romance gatot,AU, fluff, ada semi angs nya(?)
Lenght : oneshot
Warning : Typo *kalau nemu typo feel free to correct ya ^^
Message : Fic ini didedikasikan khusus untuk ulang tahun nae lopely fishy^^ , meskipun fic nya sangat abal tapi aku mengerjakannya dengan sepenuh hati untuk fishy ku tersayang#eeeaaaa hoho.
Please be a good reader ^,^
Ini adalah hasil pemikiran saya sendiri jika ada kemiripan mungkin itu hanya kebetulan semata
No copy cat ,be sportif guys^,^
Late but Sweet
Aku terduduk didepan teras rumahku sambil sesekali menguap lebar, mencoba menahan bosan yang semenjak tadi tengah menggerayangiku, menuntunku untuk terus menguap. Aku tahu, kalau begini terus lama-kelamaan aku pasti akan jatuh tertidur, apalagi ini masih sangat pagi, namun hal itu sebisa mungkin kucegah, aku tidak ingin hari penting yang akan penuh kejutan ini rusak gara-gara aku tertidur…
Ckiit…
Tiba-tiba suara ban mobil menyentakkanku, aku segera beranjak dari dudukku yang hampir setengah terlentang dan cepat-cepat berdiri, menunggu orang yang sejak tadi kunanti menghampiriku. Tapi harapanku pudar seketika ketika kulihat seseorang yang memasuki gerbang rumahku bukanlah orang yang kunanti sejak tadi.
“Ada apa?” tanyaku, ketika kulihat Hyukjae mendekatiku dengan tergopoh-gopoh, tidak biasanya dia pucat begini, biasanya kan dia selalu cengengesan dan bermuka mesum(?)
“Aku mau memberi kabar penting…” dia menatapku ragu-ragu lalu menunduk gugup, apa terjadi sesuatu?
“tapi, kau jangan panik ne?” lanjutnya yang membuatku mengurungkan niatku untuk bertanya dan mengangguk singkat.
Ada apa? Kenapa aku tidak boleh panik? Perasaanku mulai tak enak sekarang, semoga firasatku salah…
Kulihat Hyukjae menarik nafasnya dalam-dalam sebelum membuka mulutnya,”Shin Minrie, dia kecelakaan…”
………..
Aku terduduk lemah dan memandang nanar pada gadis yang selalu mengisi relung hatiku itu, tubuhnya yang ringkih dan penuh lebam berbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit dengan selang-selang yang tertempel dibeberapa bagian tubuhnya sebagai alat penunjang kehidupan…
‘Dia tertabrak mobil saat akan mengambil pesanan kue ulang tahun yang dipesan khusus untukmu. Tubuhnya terhempas keaspal dengan keras, kata dokter beruntung dia selamat, tapi untuk sementara waktu dia akan koma.’
Kata-kata Hyukjae kembali terngiang ditelingaku.
Tanpa sadar bulir-bulir air mata mulai melesak keluar dari pelupuk mataku, mengalir melalui pipiku lalu jatuh keatas sprai putih gading yang ditiduri Minrie. Kenapa harus begini? kenapa gadis yang paling kusayang, harus seperti ini karena ingin merayakan ulang tahunku? Kenapa?
……….
“Oppa… oppa…”
Suara lembut itu menyentakkanku, kuusahakan mataku untuk terbuka, melawan cahaya menyilaukan yang berada tepat di depan mataku…
Aku dimana? Siapa wanita yang memanggilku tadi? Sepertinya itu suara Minrie, apa dia sudah bangun?
“Minrie, kaukah itu?” aku terus menajamkan mataku sambil berjalan kearah cahaya silau itu.
“Oppa… oppa…”
Suara itu terdengar lagi, membuatku semakin yakin kalau itu memang suara gadisku. Segera kupercepat langkahku menuju cahaya silau itu, kugunakan tanganku untuk melindungi mata dari cahaya yang terus berebut masuk kedalam kornea mataku itu.
Setelah sekian lama aku melangkah, aku berhasil menemukan siluet itu berdiri dihamparan padang rumput hijau, berdiri dihadapanku dengan senyum malaikat andalannya, saat ini cahaya sudah mulai meredup, membuatku bisa lebih jelas menatap sekelilingku.
Aku menghentikan langkahku, membuat jarak diantara kami. aku sedikit tidak percaya dia ada dihadapanku, bukankah tadi kami di rumah sakit?
“Rie-ya… kaukah itu?” tanyaku memastikan, takut kalau saat ini hanya fatamorgana yang mungkin akan membuatku menelan pahit yang mungkin bisa membunuhku. Aku takut ini tidak nyata.
Sosok itu hanya tersenyum kecil, lalu berjalan mendekatiku.
“Saenggil chukae.” Ucapnya seraya mengecup pipiku, dan anehnya, seperti dipancang oleh ribuan paku, tubuhku tidak bisa bergerak, kaki dan tanganku kaku, susah digerakkan, padahal saat ini aku ingin sekali menyentuh dirinya, kau nyatakan gadisku?
“Rie-ya…” panggilku pelan, tapi dia tidak menjawab, diarahkannya jari telunjuknya kebibirku.
“Waktuku sedikit Oppa, mianhe aku membuatmu kawatir. Kau tidak bersalah ne? Jadi jangan menyalahkan dirimu.”
Apa maksutnya? Kenapa dia berkata seperti itu? Jangan-jangan…
“Kau mau kemana? Jebal jangan tinggalkan aku!” ucapku dengan susah payah, kenapa susah sekali melakukan sesuatu disini?
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Oppa, aku akan selalu ada dihatimu.” Ucapnya sambil tersenyum lalu berbalik meninggalkanku, saat ini aku ingin sekali berteriak lalu mengejarnya, tapi seperti kehilangan kendali disetiap ujung sarafku, aku tak bisa menggerakkan tubuh atau bersuara sedikitpun yang kurasakan hanyalah pandanganku mulai mengabur…
“Hah…hah…hah…”
Kubuka mataku dengan cepat, kini aku telah berada diruangan tempat Minrie terbaring. Segera kutatap gadis yang berada didepanku itu, kusentuh bagian tubuhnya, kupastikan dia masih disini, tidak kemana-mana seperti mimpiku tadi.
Ngomong-ngomong soal mimpi, apa tadi mimpi? Kenapa terasa nyata sekali?
Kuraba pipiku yang tadi dicium olehnya, masih hangat, aku masih dapat merasakan sentuhannya…
“Apa kau tadi menemuiku Rie ya?” tanyaku sembari mengelus pelan puncak kepalanya perlahan.
“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?… “
“cepatlah bangun…”
“aku merindukanmu…”
Lirihku, walau tahu aku tak akan pernah mendapat jawaban darinya, aku tetap mengajaknya berbicara, dengan harapan dia bisa mendengarku lalu bangun dari komanya.
“jebal Rie-ya, aku mencintaimu. jangan buat aku tersiksa…”
Kuraih jemari tangannya yang dingin lalu kugenggam erat, kuciumi punggung tangannya sambil sesekali mengusap airmata yang entah sejak kapan mengalir lagi dipipiku.
“Aku ingin mendengar saengil chukae secara langsung darimu, kumohon bangunlah…” isakku, aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Walau aku lelaki, jika berhadapan dengan hal seperti ini keteguhanku serasa runtuh tak bersisa.
………..
Aku berlari tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit, tak kupedulikan berapa kali aku terjatuh dan menabrak orang-orang yang berada disana, bahkan beberapa umpatan dari orang yang kutabrakpu tak kuhiraukan saat ini yang ada dipikiranku adalah Shin Minrie…
‘Minrie Oeni , dia sedang kritis oppa, hiks… jebal segeralah kemari…’
Perkataaan Minra, saudara kembar Minrie terus terngiang dikepalaku. Tadi aku memang meninggalkan rumah sakit sebentar untuk mengambil baju, tapi, sesaat setelah aku sampai dirumah, aku mendapat telepon dari Minra, kau baik-baik sajakan Rie-ya? Gadisku, bertahanlah!!
Kupercepat lariku sampai kemudian aku melihat sosok Minra yang berada didepan kamar perawatan Minrie, wajahnya pucat dan terlihat sangat kawatir.
Segera kudekati Minra lalu kugoncangkan bahunya panik,”Bagaimana keadaannya?”
“Mollayo, dokter sedang menanganinya…”
Mata Minra melirik pada kaca cendela besar yang kordennya tidak tertutup, segera kudekati cendela itu, dapat kulihat disana para Doktersedang berusaha menyelamatkan kekasihku.
Ya Tuhan, tolong selamatkan gadisku, jebal…
“Kenapa bisa seperti ini?” kutatap kembali Minra yang berada tepat dibelakangku.
“Molla, tadi tiba-tiba tubuhnya mengejang tanpa sebab. Aku juga belum mendapat penjelasan dari dokter disini.”
Kuhembuskan nafasku kasar lalu kutatap kembali cendela didepanku itu, menampakkan sosok-sosok yang sepertinya kelihatan susah payah menangani keadaan kekasihku. Kumohon chagiya, bertahanlah…
Selama satu jam aku terus mengguman frustasi, bahkan sudah tidak terhitung berepa kali aku berjalan mondar-mandir seperti orang kesetanan, aku benar-benar tidak bisa berpikiran jernih saat ini, pikiranku selalu langsung terpusat pada mimpi yang kemarin.
Kenapa para dokter itu lama sekali sih? Apa yang mereka lakukan sebenarnya?
“Tenanglah Oppa.”
Suara Minra menenangkanku, aku mendengar suaranya agak bergetar, aku tahu dia hanya pura-pura santai untuk menenangkanku.
“Mana bisa? Kekasihku sudah disana selama satu jam Minra ya…”
Kutunjuk pintu bewarna coklat muda yang sedari tadi tertutup.
‘Ya, dan kekasihmu itu unniku, tenanglah sedikit jebal…’ mohonnya, dia menatapku memohon.
Baiiklah, mungkin aku memang harus tenang.
“Baiklah.”
Akupun segera mendudukan diriku, masih dengan menggerakkan kakiku kesana kemari, aku benar-benar terlalu cemas.
Cklek…
Tiba-tiba perhatianku segera terpusat pada kenop pintu yang mulai terbuka secara perlahan.
Itu pasti dokternya.
Aku dan Minrapun segera menghambur kearah pintu tersebut secara bersamaan.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanyaku cepat, perasaanku tidak enak.
“Dia… maaf tapi…”
………….
Aku berjalan gontaimendekati tubuh itu, kubelai pipinya yang memucat dan dingin…
“Rie-ya, kenapa semua harus seperti ini?” gumamku pelan, suaraku terdengar serak karena terlalu banyak menangis.
“Kenapa ini harus terjadi padamu? Kenapa bukan aku saja?” sesalku sambil meraih jemari tangannya lalu meletakkannya didadaku.
“Kenapa?” suaraku semakin lirih, kutundukan kepalaku menatapnya.
Wajah ayunya yang memucat membuatku miris, hatiku sakit hingga aku tidak sanggup membendung airmataku untuk kembali menuruni pipiku.
‘Maaf aku harus bicara dengan keluarganya…’
‘Otak kecilnya mengalami pendarahan, itu membuatnya kejang-kejang dan hampir kehilangan nyawanya.’
‘Aku tidak bisa meramalkan kapan dia akan bangun dari komanya, tapi sepertinya itu akan berlangsung lama…’
‘Kalau dia bangun kemungkinan besar dia akan mengalami amnesia atau kemungkinan paling buruknya lumpuh.’
Lagi-lagi suara dokter itu terngiang ditelingaku, koma, amnesia, lumpuh? Kenapa harus kau yang mengalami semuanya yeobo?
………
“Oppa, kenapa kau tidak pulang saja dan cobalah beristirahat sejenak?” suara Minra membuatku yang sedang bergelut dengan laporan-laporan untuk perusahaanku terhenti.
“Mwo?”
“Kubilang pulanglah, dan beristirahatlah. Sudah satu minggu lebih kau meninggalkan pekerjaanmu dan tidak pulang sama sekalikan?”
“Shireo! Aku akan terus menjaganya.” Tolakku, lalu kualihkan pandanganku menatap kembali kertas-kertas penting untuk perusahaanku.
“Oppa, jebal. Kalau unniku tahu dia pasti sedih melihat kekeras kepalaanmu.”
Minra mencoba mendebatku lagi, membuatku kembali mendongak.
“Aku hanya ingin menjaganya minra-ya. Pekerjaanku akan baik-baik saja. Direkturnyakan aku.” Ujarku menenangkan, aku masih ingin menunggui kekasihku.
“Jangan bohong oppa, aku tahu akhir-akhir ini pekerjaanmu memburuk. Kau kehilangan beberapa kolega, benarkan?”
Degg…
Darimana dia tahu? Aku memang kehilangan beberapa kolega karena aku selalu membatalkan beberapa meeting dan tidak pernah datang kekantor semenjak satu minggu yang lalu.
“Mwo? Dari…”
“Kau tidak perlu tahu! Kalau kau tidak pulang kau akan kularang bertemu dengan unniku. Arra?” potongnya penuh penekanan, dia mengancamku dan melarangku bertemu degan Minrie? Ini tidak adil!!
“ya!! Itu tidak adil!!”
“Lebih baik kita berbagi tugas, bibi Hwang akan menjaganya di pagi hari, kau sore hari dan aku dimalam hari. Itu keputusanku!”
Setelah itu Minra meninggalkanku, membuatku mengacak rambutku frustasi.
………..
Akhirnya-dengan terpaksa- akupun mengikuti saran Minra, setiap sore hari aku datang kerumah sakit, dan malamnya aku akan pulang, digantikan oleh Minra.
“Selamat sore yeobo.” Ucapku pada Minrie setelah aku memasuki ruang perawatannya.
“Hari ini aku membawakanmu sebuket bunga mawar untukmu.”
Kuperlihatkan sebuket bunga mawar dihadapannya, lalu dengan cepat kuganti bunga yang berada di vas dengan bungaku tersebut.
Setelah selesai, kubalikan badanku menghadap Minrie lagi, kuelus pelan puncak kepalanya,”Kau sukakan? Dulu kau bilang kau sangat suka aroma mawar, makanya aku membawakanmu bunga mawar, siapa tahu setelah menciumnya kau akan sadar.” Ujarku panjang lebar, aku selalu mencoba berinteraksi dengannya, kata dokter itu bagus untuk merangsang keinginan bangun kembali dari dalam dirinya.
Aku harap kau segera bangun yeobo, kemudian kucium puncak kepalanya dalam dan lama, aku merindukanmu…
……….
Aku melangkahkan kakiku cepat menuju ruang perawatan Minrie, hari ini aku agak terlambat menemui kekasihku dikarenakan ada meeting mendadak untuk para pemegang saham, dan itu wajib diikuti.
“Maksut dokter dengan perkembangan ini unni ku bisa koma selamanya? Tapi bukankah kata dokter dulu unni ku masih punya kesempatan walau kemungkinan dia akan lumpuh atau amnesia?”
Kuhentikan langkahku saat sama-samar kudengar suara Minra berbicara dengan seorang dokter muda-yang menangani Minrie- didekat kamar perawatan. Segera kudekatkan tubuhku ketembok terdekat yang meemisahkanku dari tempat mereka, mencoba menguping pembicaraan mereka dari balik tembok sekaligus bersembunyi.
“Memang benar aku mengatakannya, tapi itu sebelum aku melihat keadaannya hari ini. melihatnya hari ini rasanya mustahil dia bisa bangun lagi.”
“Apa maksut dokter? Apa benar-benar tidak ada cara untuk menyelamatkan unniku dok? Kumohon dokter Kim usahakan sesuatu untuk unniku.”
Kulihat Minra mulai histeris, ditarik-tariknya kemeja putih yang dipakai dokter itu.
“Maaf, tapi aku juga tidak tahu. Aku rasa saat ini kita hanya bisa berdoa.”
Kata-kata terakhir dokter itu membuat tubuhku melemah dan dalam hitungan detik aku telah kehilangan seluruh keseimbangan tubuhku. Aku merosot jatuh kelantai diiringi dengan airmata yang ikut mengalir dikedua sudut mataku. Hatiku sakit, nafasku sesak, tubuhku lemah, siapa saja kumohon tolong aku…
………
“Aku ingin bicara padamu Oppa.”
Suara Minra membuatku yang sedang membersihkan kuku Minrie berhenti, kudongakkan kepalaku menatapnya.
“Ada apa?” tanyaku, aku berpura-pura tidak mendengar apa yang kudengar kemarin. Dan aku tahu, Minra pasti ingin membicarakan masalah yang tidak sengaja kudengar kemarin.
“Tidak disini Oppa, ikutlah denganku!” ucapnya sambil mendahuluiku menuju pintu kamar Minrie. Mau tak mau akhirnya akupun mengikutinya, dia mengajakku menuju taman rumah sakit.
“Minumlah Oppa.” Minra menyodorkanku segelas kopi hangat dan mengajakku duduk disalah satu bangku taman.
“Gomawo.” Jawabku singkat seraya mengambil gelas kopi itu dari tangannya.
Setelah itu kami terdiam, aku menunggu Minra berbicara dulu denganku. Meskipun aku sudah tahu pasti masalahnya, aku tetap ingin mendengar semuanya dari Minra. Aku berharap kemarin aku salah dengar atau mungkin salah presepsi.
“Kau… apa kau mencintai unniku Oppa?”
Setelah beberapa lama dia mulai bersuara, dan pertanyaan itu membuat keningku berkerut seketika.
“Apa maksutmu? Tentu saja aku mencintainya, sangat mencintainya.” Tekanku, harusnya dia tahu aku sangat mencintai unninya.
“Walau unniku tidak akan bangun lagi? kau ingin seperti ini terus oppa? Menunggu unni?”
“Ya! Minra, apa maksutmu sebenarnya?”
Sebenarnya apa poin yang ingin dia sampaikan? Kalau soal kemarin bukankah ini terlalu berbelit-belit?
“Sebenarnya kemarin, dokter kim mengatakan padaku, kalau nyawa unni dalam bahaya, bahkan kemungkinan besar dia tidak akan bengun lagi.”
Aku sudah tahu…
“Lalu?” ucapku datar, aku sudah tahu jadi aku tidak akan dan tidak ingin membahasnya.
“Memangnya kau akan menunggunya terus?”
Sebuah pertanyaan itu membuat gerakanku yang sedang menyeruput kopi berhenti, kudongakan kepalaku menatap Minra.
“Ya!! Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja iya.” Jawabku cepat, bagiku itu hanay pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban.
Tentu saja aku Mencintai Shin Minrie, bahkan selamanya.
“Apa kau tidak ingin melanjutkan hidupmu Oppa? Bukankah lelaki paling tidak suka digantung?” ujarnya. Keningku semakin berkerut mendengar ucapannya.
Sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan? Kenapa perasaanku berkata kalau ini berbahaya untukku?
“Kumohon langsunglah ke titiknya.” Ujarku yang sudah terlalu jengah untuk berbelit-belit.
“Aku mau kau move on oppa, jangan tunggu unni. Cukup dua bulan ini saja kau menderita ta…”
Apa katanya? Move on?
“Shireo!! Aku tidak akan menurutimu. Untuk kali ini saja biarkan aku Minra, jebal…”
Denagn cepat kupotong ucapannya, aku benar-benar sekalipun tidak pernah berniat meninggalkan Minrie, tidak akan!!
“Tapi Oppa…”
“Jebal, aku mencintainya. Kalau kau menyuruhku meninggalkannya sama saja dengan membunuhku secara perlahan Minra.” Ucapku memelas, berharap dia mengurungkan niatnya menyuruhku mejauh dari kehidupan Minrie.
“Baiklah, maafkan aku oppa. Aku sedang…”
Minra menunduk kulihat ada raut penyesalan diwajahnya, aku tahu…
“Arra, lebih baik aku kembali dulu. Anyeong.”
Aku berjalan dengan gontai menuju ruang perawatan Minrie, aku masih memikirkan beberapa perkataan Minra tadi. Aku tahu Minra berkata tadi untuk kebaikanku, dia tidak ingin aku terpuruk karena unninya secara berlebihan, tapi apa dayaku? Aku terlalu mencintainya sampai aku tidak bisa berpikir jernih. Apa benar dia tidak akan bangun lagi? kalau dia tidak bangun lagi aku harus bagaimana?
Astaga!! Kenapa aku malah berpikiran seperti itu?
Kugelengkan cepat kepalaku, mengusir pikiran buruk yang berkelebatan dikepalaku.
Aku harus optimis!! Minrie pasti sadar!! Pasti!!
Aku terus bergumam sampai tiba-tiba seorang perawat berlari kearahku dengan nafas tersenggal.
“Ada apa?” tanyaku.
“Anda.anda kerabat nona shin bukan?”
“Ne, kenapa dia?”
“Di.dia sadar…”
………..
Aku segera berlari memasuki ruang perawatan Minrie, kabar dari perawat itu benar-benar mengejutkanku. Apa benar Minrie sadar? Ya Tuhan, terima kasih, terima kasih…
Sesampainya disana segera kubuka ruang perawatan itu, dan benar saja dia tengah berada disana. Duduk diranjangnya sambil menghadap ke cendela.
Tanpa pikir panjang, segera kudekati dia lalu kupeluk tubuhnya.
“Bhogosipo, bogoshipo nae chagi.” Gumamku.
Namun tidak seperti biasanya, dia hanya diam, tidak membalas pelukanku. Apa dia masih sakit? Sudahlah, biarkan saja, yang penting dia sudah bangun^^
“Nu.nuguseyo?”
Suara lirih itu langsung membuatku melepaskan pelukanku.
Aku menatapnya cengo, apa dia bilang tadi? Nu gu se yo? Hey, aku tidak salah dengarkan?
“Aku? Aku Lee Donghae, kekasihmu. Apa maksutmu dengan nuguseyo?” tanyaku panik, kulihat dia mengernyitkan keningnya.
“Maaf, tapi aku tidak mengenalmu. Kurasa kau salah orang.” Ucapnya tegas, lalu dia membaringkan tubuhnya dan membalikan posisinya membelakangiku.
Mwo? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia…
“Kalau dia bangun kemungkinan besar dia akan mengalami amnesia atau kemungkinan paling buruknya lumpuh.”
Perkataan dokter itu terlintas dikepalaku, Minrie tidak lumpuh dia bisa duduk dan berbaring sendiri, jangan-jangan dia amnesia?
Jadi sekarang dia tidak mengingatku?
Kenyataan itu sontak menyentakkanku kelubang hitam yang paling dalam. Hatiku sakit sekali saat tahu dia tidak mengingatku, orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Karena sakit hati dan sedih, kuputuskan untuk pergi dari ruangan itu tanpa berkata apa-apa lagi, aku tidak ingin dia melihatku menangis, sudah cukup rasa sakit ini kuterima.
………..
Piiip…
‘Oppa, kau dimana? Unniku sudah sadar. Kau tidak kemari?’
‘Oppa, unni telah sadar dari komanya.’
‘Oppa…’
Segera kumatikan mesin penjawab otomatis yang terus membunyikan suara Minra. Sejak aku tahu Minrie amnesia seminggu yang lalu, memang aku tidak pernah lagi datang kerumah sakit, aku sangat terpukul saat dia mengatakan dia tidak mengingatku. Biarlah otakku beristirahat sejenak.
Tingg toong…
Suara bell menyentakkanku, siapa datang pagi-pagi begini?
Segera kudekati pintu apartementku, dan tanpa melihat layar lcd aku membukakan pintu untuk tamuku tersebut.
Begitu pintu terbuka hatiku serasa mencelos, diakan…
“Anyeonghaseyo… Shin Minrie imnida.”
………..
“Silahakann diminum.” Ujarku kaku sambil menaruh nampan berisi teh hangat dan beberapa kue diatas meja.
Sebenarnya ada apa dia kemari? Bukankah dia amnesia?
“Ne, kamsahamida Donghae si.” Jawabnya, jujur saja aku sedikit sakit hati ketika dia memanggilku dengan sebutan Donghae-si, bukan oppa atau yeobo seperti biasanya.
“Emm, ada apa kau menemuiku?” tanyaku to de point.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu… er… sebenarnya apa hubungan kita? Kenapa waktu bertemu kau memanggilku Chagiya dan memelukku? Bahkan Minra selalu mempedulikanmu saat kau tidak menemuiku.”
Mendengar pertanyaannya aku tersenyum seduktif lalu kutatap dia dalam-dalam,” menurutmu apa?”
Dia menggendikkan kedua bahunya, lalu mengambil secangkir teh yang tadi kusajikan.
“Kenapa kau malah berbalik bertanya?”
“Well, aku takut kau tidak akan mempercayaiku.” Kataku sambil kuubah posisiku, berusaha membuat tubuhku serileks mungkin, walau kutahu disaat seperti ini itu akan mustahil.
“Kalau begitu aku percaya padamu.” Katanya sambil membalas tatapanku.
Baiklah kalau itu maumu, masa bodohlah dengan setelahnya…
“Kita sepasang kekasih.” Jujurku. Walau aku ragu untuk mengatakannya tapi…
“Benarkah? Apa kau mencintaiku?” tanyanya.
Tentu saja!! Sangat malah!!
“Mungkin ini terdengar konyol mengingat kau baru mengenalku. Lebih tepatnya lupa padaku, tapi bagaimana kalau aku bilang aku sangat mencintaiku, kau akan merasa jijik padaku?” ucapku ragu-ragu, sebenarnya inilah yang sejak kemarin kutakutkan. Biasanya secara alamiah manusia akan selalu mejauh ketika kita agresif mendekatinya, apalagi Minrie sedang amnesia, dia pasti melupakan semua tentangku. Aku jadi takut kalau memaksanya aku akan dibenci.
Sejenak kami membisu, benarkan? Dia pasti tidak mempercayaiku…
“Hahahahahaha.”
Tiba-tiba kudengar suara tawa yang sangat keras darinya.
Hey, aku barusaja menyatakan cintaku, kenapa dia malah tertawa terbahak-bahak seperti itu? Apa aku kurang meyakinkan?
Segera kutatap dia dengan pandangan penuh tanya, dia membalas tatapanku sambil tersenyum memegangi perutnya yang sakit, efek dari tertawa yang berlebihan.
“Hahahah, aku tak sanggup lagi. aku benar-benar tak sanggup lagi.”
Tak sanggup apa? Tertawa? Kenapa sih dia?
“Maksutnya?” tanyaku, aku terlalu bingung untuk mencerna semuanya.
Begitu mendengarku dia menghentikan tawanya, lalu dia tersenyum penuh arti padaku, sebelum kemudian dia menghambur kepelukanku. Membuat tubuhku menegang seketika.
“Aku juga mencintaimu nae yeobo. Bogoshipoyo…”
Apa aku tidak salah dengar? Dia berkata merindukanku? Mencintaiku? Bukankah dia…
“Hah?” tanyaku yang terlalu lemot untuk mencerna apa yang terjadi, jujur saja aku bingung dengan kelakuannya.
“Aku mencintaimu. aku ingat semuanya kok.” Katanya menjelaskan. Membuat semua benang merah yang dikepalaku tersambung sepenuhnya.
“Mwo?” pekiku, kutatap dia dari sudut mataku dengan pandangan tak percaya.
“Aku mengerjaimu yeobo.”
Mengerjai? Astaga!! Gadis ini!!
“Yak Shin Minrie!! Neo jinja!!!” teriakku sambil memeolototinya, tapi bukannya takut dia malah terkekeh geli lalu semakin mengeratkan pelukannya di pundakku.
Tunggu dulu, bukankah kata dokter…
“Tunggu, tapi bagaimana bisa?”
“Molla, kata Dokter kim ini mukzizat hehehe.”
Jadi semua ini nyata? Syukurlah… terima kasih Tuhan…
“Astaga, lalu kenapa kau mengerjaiku hah? Kerasukan setan darimana kau sampai berniat mengerjaiku setelah kau koma selama duabulan? Kenapa kau jahil sekali hah?” cercaku, walau aku bersyukur tapi aku kesal juga kalau dikerjai seperti ini. Mana ada manusia yang sempat-sempatnya mengerjai pacarnya setelah bangun dari koma? Kalau ada manusia itu pasti sudah gila, dan parahnya orang gila itu adalah pacarku sendiri.
“Habisnya waktu aku bangun tidak ada siapa-siapa di kamarku, hanya ada perawat yang langsung berceloteh tentang namjachinguku yang selalu datang kesana merawatku. Diapun menceritakan keadaanku yang sangat buruk. Dari sanalah ide itu tercipta.” Jawabnya tanpa dosa.
Mendengarnya segera kupegangi kepalaku yang tiba-tiba sakit.
“Aishh jinja…”
“Yak!! Oppa, kau marah padaku?” tanyanya sambil melepaskan pelukannya, dia merubah posisinya menjadi duduk disebelahku.
“Kau masih berani bertanya hah? Kau tahu tidak? Aku terpuruk selama satu minggu penuh gara-gara kau bilang tidak mengingatku.” Teriakku, masa bodoh dengan semuanya. Entah kenapa emosiku memuncak, padahal aku tahu dia hanya sedang iseng.
“Yak!! Oppa, akukan hanya bercanda. Jangan marah padaku ya? Jeball…”
Dia mulai merajuk, ditarik-tariknya ujung bajuku, tapi aku tidak peduli. Hari ini aku akan marah padanya!! Titik!!
“Oppa… jeballl…” rajuknya, tapi aku tidak menghiraukannya.
“…”
“Oppa…” rajuknya lagi, dan aku tetap tidak menggubrisnya sama sekali.
“…”
“Yak Oppa!!” pekiknya frustasi sambil menyubit pundakku pelan.
“Apa?”
Akhirnya aku bereaksi, dengan setengah terpaksa.
“Maafkan aku ne?”
“Tidak mau!!”
Kualihkan pandanganku darinya seperti anak kecil.
“Oppa, jebal…”
“Shireo!”
“Kalau kau tidak marah lagi aku akan memberikan sesuatu padamu, bagaimana?” rayunya, sebenarnya aku masih marah, tapi aku penasaran juga apa yang akan dilakukannya.
Kutatap dia penasaran,”Apa?”
Bukannya menjawab dia malah terseyum misterius lalu bangun dari posisinya, tangannya beralih menarikku hingga aku beranjak dari dudukku…
Sebenarnya aku mau diajak kemana?
……..
“Apa aku sudah boleh membuka mataku?”
Tanyaku sambil mencoba mencari celah pada saputangan yang diikatkan Minrie pada mataku.
“Tidak boleh.” Kata Minrie tegas sambil memepererat saputangan yang melilit mataku. Haiiish, menyebalkan. Sebenarnya aku mau dibawa kemana sih? Sejak tadi aku seperti di ajak menaiki ratusan anak tangga, dan berjalan jauh.
Aku terus merutuk, namun juga terus berjalan, mau bagaimana lagi, aku penasaran sih.
“Yap… kita sampai, tapi jangan kau buka dulu matamu oppa!” perintahnya, dapat kurasakan aku kini telah duduk disebuah kursi.
Aishh, menyuapku dengan makan malam rupanya? Klasik sekali.
Aku tidak akan mudah tersuap Shin Minrie!! Enak saja.
“Sudah oppa.”
Satu perintahnya membuatku langsung membuka penutup mataku. Walau aku tahu, apa kejutannya, tapi tetap saja aku merasa sedikit excited.
“Ommo!!” pekikku yang tak kuasa menahan rasa kaget begitu melihat semua yang berada didepanku, apa dia gila? Aishh jinja!!
Segera kutatap ia cepat-cepat, meminta penjelasan. Tapi bukannya menjawab dia malah terkekeh geli dihadapanku lalu memerosotkan tubuhnya dibawahku, berlutut dengan menyodorkan sebuah cincin bewarna perak padaku.
“Will you marry me Lee Donghae?”
Hah? Suatu pengalaman yang paling unik terjadi dihidupku!! Aku dilamar seorang wanita, yang benar saja.
Belum sempat aku menjawab dan mengeluarkan semua unek-unekku, gadis itu kembali berbicara.
“Aku tahu kau kaget, pasti kau kaget. Tapi seluruh kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini membuatku sadar, kau adalah orang yang sangat mencintaiku Oppa. Dan kau tahu? Akupun begitu, makanya kupersembahkan seluruh lilin yang dibawah sana beserta seluruh hatiku untukmu. Aku mengesampingkan seluruh harga diriku demimu, orang yang paling kucintai sepanjang usiaku.” Ucapnya panjang lebar sambil menunjuk puluhan lilin yang dibentuk kata ‘Will you marry me’ dibawah bukit tempat kami berada.
Aku… aku tidak tahu harus bagaimana, saat ini aku hanya mengikuti seluruh insting yang berada dikepalaku.
Kupeluk dia cepat…
“Dasar bodoh!! Harusnya aku yang melakukannya.” Gumamku disela-sela pelukanku. Aku sedikit tidak terima sebenarnya, tapi tetap saja aku terharu, bahkan aku akan menerimanya akukan mencintainya.
Mendengar protesku dia hanya terkekeh geli,”Jadi apa kau bersedia tuan Lee?” tanyanya, segera kulepas pelukanku pada tubuhnya.
Kutatap dia dalam-dalam, lalu kuraih cincin yang tadi disodorkannya, memakaikannya kejari manisku.
“Puas kau berhasil mengerjaiku calon nyona Lee?” jawabku seraya menunjukkan cincinku tepat dimukanya.
“Sangat puas!!”
Setelah itu kami saling tertawa dan berpelukan.
“Meski telat, ini adalah kado ulang tahu darinku untukmu Tuan Lee. Saenggil chukae.”
“Meski telat ini lebih manis dari ulang tahunku yang sudah-sudah. Saranghae Shin Minrie.”
END
Gyyyaaa, eotte? apakah sangat abal? maaf ya T.T, aku ngebut banget ngerjainnya. bisa dibilang sangat kilat T.T. tapi gapapa deh, setidaknya aku sudah berpartisipasi dalam ulang tahun abang ikanku tersayang :*/chhuu.
Saengill Chukae Mas ikan ku :*


haaaa.. sama kaya judulnya Late but Sweet ceritanya manis bgt so sweet.. buat donghae oppa saengil cukhae yaa
syukur deh kalau sweet^^ aku kira ceritanya agak ngaco.
btw thanks for read and coment^^
hihi..so sweet. Minrie iseng banget yak ngerjain donghae wkwkwk :p
hhe iya wkwkwk, kaya authornya yang suka ngisengin orang :p /plak.
btw makasih udah baca dan coment ^^
hihihi kirain bakal jadi sad ending soalnya Minrie amnesia,haahaha
engga lah, aku takut ditimpukin sama hae(?) kalau buat sad ending di fic special birthday nya dia wkwkkw.
Keren!! Dapet wangsit darimana chingu?? Baru kali ini aku baca FF yg di adegan berlututnya itu si yeoja yg berlutut.. Sumfehh.. Romance’nya berasa banget.. Chingu neo jinjja DAEBAK!! ^^
hhhe^^v aku cuma lagi iseng aja, kan di ff biasanya donghae yang romantis, kali ini pengen aku balik. tapi cwenya ga terlalu agresif kan ya?
syukurlah kalau berasa^^ gomawoo ya chingu^^
aigooo..
itu fotonya bikin melting euuuy..
certany tak terduga.. daebak.. hha
saengil chukae donghae oppaaa ^^
gantengkan? wkwkkw, pastinya, suami siapa dulu?#ditimpukin.
hahah, gumawoo.
Oke ini sweet. suka sama karakternya minrie :3 good ff thooor
oke :3 makasih ea…^^
seruu:)
FFnya bagus thor, terus berkarya yaa^^
oke deh, ditunggu karya selanjutnya ya? gumawoo^^
ulang taun donghae taun ini agak sepi yah sepertinya. cuma ada ff ini aja yag merayakan ulang tahun donghae.
nice ff chingu
iya nih, sepi banget aku sependapat, tapi gpplah chingu yang penting uri fishy selalu sehat walafiat XD makasih lo ya ^^