Title: She’s Fantasy
Cast:
- Kim Sunggyu (Infinite)
- No Minhyun (OC, You)
Support Cast: Infinite member
Genre: Romance
Length: Oneshot / Songfic
Rating: PG – 13
Author’s Note:
Got inspiration from OST. What Is Mom? By Infinite – SHE’S FANTASY. Enjoy ^O^!
They say to erase each memory of you one day at a time
They say I’ll harden like a stiff tree
They call me a fool but who cares?
When you smile, my heart stops
I can’t say anything but my heart grows larger
Everyone tells me to forget you
“Hyung, kenapa lewat jalan ini? Harusnya tadi di perempatan itu kita belok kanan bukannya lurus! Kalau lurus kita tidak akan sampai tepat waktu! Aigoo!”
Aku menggosok daun telingaku sambil menguap. Omelan Sungyeol yang duduk di sebelahku seperti angin yang berasal dari kereta bawah tanah. Cepat, berisik, dan mengundang rasa pedih di mata.
“Hyung, kau tidak lupa jalan ke salon kan? Kau tahu kan akibatnya kalau kita terlam – “
“Kita tidak akan terlambat!” potongku cepat sebelum Sungyeol mengeluarkan omelan yang lain. “Aku tidak lupa jalan. Kau harusnya tahu kenapa aku mengambil jalan lurus, bukan belok kanan seperti yang seharusnya.”
Sungyeol diam. Aku menatapnya sekilas. Alisnya berkerut-kerut, kemudian detik berikutnya ia menatapku tak percaya dengan mulutnya yang terbuka.
“Aish jinjja! Hyung! Jangan bilang kalau…. AISH! Kenapa aku bisa lupa kalau hari ini adalah hari Selasa? Arghhh!!!”
Sungyeol mengacak-acak rambutnya frustasi. Entah kenapa aku ingin tertawa melihatnya seperti itu saat ini. Mungkin karena pengaruh mood ku yang sangat baik. Biasanya aku ingin balas mengomelinya.
“Sunggyu hyung, sampai kapan kau mau seperti ini? Setiap hari Selasa menunggunya di depan kantor hanya untuk melihatnya berlari terburu-buru keluar dari bus dengan rambut tergerai!”
Aku hanya menyunggingkan senyum sebagai jawaban. Aku sendiri tidak tahu jawabannya kapan. Melihatnya tersenyum dengan wajah malu-malu ketika ketahuan terlambat oleh satpam kantor saja jantungku rasanya berhenti untuk beberapa saat.
“Hyung…” panggil Sungyeol yang menyender pasrah.
“Hmmm?”
“Lupakan dia.”
“Kau orang kedua yang mengatakan itu.” ucapku sambil menarik rem tangan. Mobil kami berhenti tepat di seberang kantor yeoja itu. “Yang pertama mengatakannya adalah Dongwoo. Jadi kau belum beruntung karena hanya menempati peringkat kedua.”
“Hyung, aku serius!”
“Memangnya aku kelihatan seperti sedang bercanda?” tanyaku sambil memicingkan mata ke arah kantor.
“Hyung! Aku tidak ingin kau terlihat seperti orang bodoh seperti ini!”
“Aku tidak peduli! Sekarang kau diam karena sebentar lagi bisnya akan datang!” tegasku. Sungyeol melempar pandangnya keluar jendela dan nafasnya terdengar berat. Ia pasti sangat ingin protes.
Beberapa saat kemudian…
“Oh, itu dia!” tunjukku penuh semangat ke arah bis yang baru saja datang. Tepat seperti perhitunganku, yeoja itu keluar dengan langkah terburu-buru dengan rambut panjangnya yang tergerai. Hari ini dia mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru dan celana jeans hitam. Sederhana, tapi memikat.
Pemandangan inilah yang selalu kutunggu setiap hari selasa. Aku tidak tahu pasti apa yang ia lakukan sampai ia harus terburu-buru seperti itu setiap selasa pagi, tapi itu justru menguntungkan. Senyumnya itu adalah senyuman yang sangat kutunggu. Andai yang ia senyumi itu aku, bukan satpam kantor…
“Yeoboseyo? Ne, hyung, aku sedang di jalan bersama Sunggyu hyung. Wae?”
Aku mendecak sebal ke arah Sungyeol yang tiba-tiba mendapat telepon dan menjawabnya dengan suara nyaring. Sungyeol melirik dan menyadari kekesalanku.
“Sebentar Hoya hyung. Aku keluar mobil dulu, terlalu mencekam di sini.”
Sungyeol menjulurkan lidahnya ke arahku, lalu keluar mobil dengan kecepatan kilat. Bagus, sekarang pengganggu sudah pergi. Aku bisa melihat objek yang…..
YA! Ke mana yeoja itu? Apa dia sudah masuk kantor? Tapi kenapa cepat sekali? Biasanya ia membutuhkan waktu sekitar 30 detik untuk masuk ke dalam gedung…
*****
They say it’s all a fantasy, that it’s a lingering attachment, that it’s an obsession
No one knows you
But I’m like this, I’m like this because it’s you, I’m like this again
Even if everyone says no, I only have you
<BLAM!>
Sungyeol menutup pintu mobil dan menghempaskan diri duduk di sebelahku. Aku melirik sekilas ke arahnya dan ekspresinya terlihat keruh.
“Apa yang dikatakan Hoya?”
“Ia hanya menyuruh kita supaya cepat ke salon. Sudah selesai mengintipnya, hyung?” Tanya Sungyeol sambil membuka sebotol air.
“Sudah.” Jawabku lemah.
“Kenapa lemas begitu? Biasanya kata Dongwoo hyung kau selalu bersemangat setelah mengintipnya.”
“Dia menghilang begitu cepat hari ini. Lebih cepat 30 detik dari biasanya. Menyebalkan.” Sungutku kesal sambil memainkan jari-jariku.
“Ckckck… kau benar-benar terobsesi padanya, hyung.”
“Aku tidak terobsesi!”
“Kau terobsesi!”
“Tidak!”
“Iya! Kau sampai sangat tahu berapa detik ia akan sampai ke kantor! Itu namanya terobsesi!”
Aku terdiam mendengar perkataan Sungyeol. Kalau dipikir-pikir, ia ada benarnya juga. Aku sudah dalam fase terobsesi dengan seseorang.
“Masih mau mengelak?” tanya Sungyeol dengan nada menantang. Aku menggeleng dan langsung menyalakan mesin mobil.
*****
There is jealousy and bad-mouthing from here and there
People get stirred up pointlessly and cross the line
But my head finds you because you’re my beautiful lover
You’re perfect so you complete me to fit together with you
“Kenapa baru sampai? Kami sudah hampir selesai semuanya!”
“Baru selangkah aku masuk ke salon, tapi kau sudah mengomeliku. Apa-apaan kau ini?” omelku balik pada Hoya yang sedang membaca majalah di ruang tunggu salon.
“Aku tidak mengomel. Aku bertanya.”
“Dia sedang mengintip gadisnya yang tidak jelas itu, hyung.” Sungyeol menjelaskan keterlambatan kami pada Hoya.
“Mwo?” Sambar Woohyun yang rambutnya sedang ditata. “Memangnya apa yang kau intip? Apa dia sedang mandi?”
“Tidak lucu, Nam Woo Hyun!” desisku pelan.
“Yeoboseyo? Ne, aku sedang di salon…. Kau mau ke sini?” Woohyun tiba-tiba menempelkan ponselnya ke telinga. Aku duduk di sebelah Dongwoo dengan wajah ditekuk.
They say to stop looking because it’s not gonna happen anyway
They say that it’s a waste of time in my short life
They call me a fool but who cares?
“Hyung, kau mengintipnya lagi hari ini?” bisik Dongwoo.
“Ne. Bukannya kau sudah hapal kebiasaanku 6 bulan ini?” tanyaku heran.
“Ani. Hanya memastikan saja.” Dongwoo menggaruk tengkuknya. “Hyung, bolehkah aku memberimu saran?”
“Saran apa?” tanyaku sambil bersiap untuk cuci rambut. Dongwoo menatapku dalam, ia kelihatan sangat serius.
“Lupakan dia. Jangan cari dia lagi. Itu tidak baik untuk hidupmu.”
Ucapan Dongwoo sedikit banyak menyulut kemarahanku. Aku melipat kedua tanganku di depan dada.
“Aku tidak peduli kau ingin mengatakan apa. Sekalipun kau mengatakan aku bodoh atau terobsesi sekalipun.”
“Hyung, kalau kau terus begitu kau akan kehilangan waktumu yang berharga!”
“Kau…”
<TENG!>
Suara bel lonceng yang ada di depan pintu salon membuat kemarahanku untuk Dongwoo terinterupsi. Aku menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang yang ingin kulihat tapi tidak ingin kutemui.
Yeoja itu… Yang kulihat tadi pagi di depan kantornya tapi ia menghilang begitu cepat dan sekarang ia berjalan menuju ke arahku…
When I look at you, the world stops
So I can’t even look at your eyes and I just burn up inside
Everyone tells me to forget you
DEG! DEG! DEG!
Jantungku berdebar sangat keras. Terlalu keras untuk kudengar sendiri. Dunia terasa berhenti. Aku menunduk, menghindari tatapan matanya karena saat ini dadaku terasa panas. Meskipun terdengar gila tapi bagaimana pun aku takut dadaku meledak. Sudah jelas sekali aku jatuh cinta, tapi kenapa semua orang mengatakan aku harus melupakannya?
Hey, I know all this but it’s not that easy, it’s not that easy
Time ticks by everyday
Hey, I tried but it’s not that easy
I try to talk to you but I freeze up
Everyone tells me to forget you
“Annyeonghaseyo.”
Aku mengangkat kepalaku. Yeoja itu membungkuk dalam di depanku dengan senyum tersungging di bibirnya.
Jantungku… duniaku… rasanya berhenti saat itu juga. Aku berusaha menjawab salamnya tapi lidahku sepertinya membeku. Bagaimana ini? Siapapun tolong aku!
“A… annyeong hase…yo.” jawabku pada akhirnya. Ini benar-benar tidak mudah. Benar-benar sangat sulit.
“Oh, kau sudah datang? Cepat sekali…”
Aku menoleh ke belakang dan menemukan Woohyun berjalan cepat ke arah kami berdua.
“Kalian saling kenal?” Tanya Woohyun heran. Aku bingung antara ingin menggeleng dan mengangguk. Dibilang kenal, hanya aku yang mengenalnya. Dibilang tidak kenal, memang benar kami tidak pernah berkenalan langsung.
“Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali di restoran di depan kantor.” Jawab yeoja itu memberikan penjelasan pada Woohyun. Aku mengangguk setuju, tapi kemudian Woohyun memeluk yeoja itu dan…. mencium kedua pipinya.
Tunggu, apa-apaan itu? Woohyun mencium yeoja itu di depan mataku? MENCIUM?
Aku menoleh ke arah Dongwoo, kemudian pada Sungyeol, Hoya, Sungjong, dan terakhir pada L yang sejak tadi hanya memainkan ponselnya. Mereka semua balas menatap ke arahku dengan tatapan yang sama, seperti tatapan memberikan belas kasihan.
Apa-apaan ini?
Aku menoleh lagi ke arah Woohyun dan yeoja itu menyerahkan sesuatu ke tangan Woohyun. Terlihat seperti sebuah dompet.
DOMPET?
“Maaf merepotkanmu. Aku memang agak pelupa akhir-akhir ini. Untung kau yang menemukannya. ”
“Ne, oppa. Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk. ”
Aku membelalakkan mata ketika melihat yeoja itu memanggil Woohyun dengan oppa. Apalagi ketika mereka berdua saling tatap, kemudian tersenyum dan tertawa bersama dengan bahagia.
“Woohyun-ah, siapa yeoja ini? Kenapa dompetmu bisa ada padanya?” tanyaku tanpa sadar. Woohyun menatapku dengan alis berkerut, tapi detik berikutnya ia menepuk dahinya seperti lupa akan sesuatu.
“Maaf hyung. Sepertinya aku memang belum pernah mengenalkannya padamu. Kenalkan, ini pacarku, yang sering kuceritakan padamu.”
Kepalaku mendadak seperti tersambar petir. Sendi-sendiku terasa lemas dan aku hampir saja merosot ke lantai kalau saja aku tidak berpegangan pada lengan kursi yang ada di sebelahku.
“No Min Hyun.” Yeoja itu tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menyambut uluran tangannya sambil menahan diri agar tanganku tidak gemetar. Akhirnya aku mengetahui nama yeoja yang selalu kukagumi dari kejauhan.
Tapi…
Dia adalah pacar Woohyun. Pacar….. Woohyun. Teman terdekatku, teman satu kamar sekaligus satu grup.
Demi Tuhan…
Seseorang yang kurasa sempurna untukku kini hanya boleh bergerak liar di dalam fantasiku saja.
Hanya fantasi, bukan dalam realita.
======= END =======

6 bulan untuk sesuatu yg bahkan belum dimulai, tp sudah berakhir (?)
NYES SEK!!!!
Sabar yah sabar .__. *kasih permen*
JLEB banget !
banget banget ya .__.
oke, keinget masa lalu *motong mendoan dengan emosi*
Sunggyu-ya, aku tahu gimana rasanya kok
jadi penasaran sama lagunya deh…
Waduh.. apa salah mendoan T___T *plak* XD
Wah, pengalaman pribadi ya? yg sabar ya .__.
SIlakan didengerin aja lagunya
kasian Sunggyu._.
sabar ya’-')/(._. ) #pukpuk
#pukpuk kamu sudah disampaikan kok ke Sunggyu .–. hehehe
woaaaaaaa…. kenapa kisah cinta gyuzizi begitu tragis.
hadehh.. seru banget ceritanya.
pas baca ada campuran lucu, gemes, tapi sedih diendingnyaa.
waaaaa.. semoga gyuzizi menemukan gadis idaman yg lain.
kekeke~~~ good job buat authornya.
fighting!!!!!!!!!
Amiin.. semoga gyuzizi lekas menemukan jodohnya *dan trjadi huru hara di luar sana* XD..
Sip!! makasih yaa ^^
ending yg sangat tidak terduga
ditunggu ff karya author Joonisa yg lainnya
hehe iya mama dimas
..makasih yaa udah mau baca, komen, dan nunggu (?) XD
Gyu… Sabar ya…
Woohyun ga pernah diajak ngintipin yeoja itu??
kalau berdasarkan cerita sih ngga pernah ^_^ hehehe
iya.. sabar ya mas gyu .–.
hoowaaa daebak,
tak ku sangka dan tak ku kira thor XD
Oyunn, knapa kamu begitu O.O
oper oll, gud job thorr XD i like itt
teng kyu ^0^
kasihan sunggyu
kasih #pukpuk .–.
Malang sekali nasibmu,nak…*puk puk Sunggyu*
Miris bacanya*lap ingus.-.*