Tittle : Chocolate Cheorom | Because I Love You, so I….
Main Cast : Jo Kwangmin (Boyfriend), Cho Arra (Imagine Cast), Kim Myungsu (Infinite)
Other Cast : Lee Jeongmin (Boyfriend), Choi Minho (SHINee), Hoya (Infinite)
Author : Nurul Ummi Flamers
Rate : General
Genre : Romance, Friendship, Comfort
Warning : Maybe typo. This is sequel.
DISCLAMER & COPYRIGHT : Cover art, Idea, Cho Arra, FF text, copast without Author’s permission? No!
~oOo~
Karena aku mencintaimu, maka aku akan melakukan segalanya.
~oOo~
Cho Arra’s POV
“Aigoo. Neomu bokkureowo. Aku tidak sanggup jika harus bertemu muka dengan Kwangmin. Jangan sampai! Jangan sampai! Aku bisa mati berdiri karena saking malunya,” aku bergumam agak keras.
“Ya! Masih berdebar? Ahahaha. Kau ini! Yang bilang padanya kan aku, bukan kau. Untuk apa kau malu, hah? Lagipula aku belum memberitahunya.”
Tsk! Gain benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kurasakan.
“Meskipun kau yang mengatakan padanya, tapi siapa memangnya subjek utama dari perkataanmu? Itu aku, Gain-ah.”
“Ya! Jika kau bersikap seperti orang tidak waras begitu, aku tidak akan membantu mengutarakan perasaanmu pada Kwangmin. Eottokae?”
Sontak aku menghentikan gerakan kakiku yang sedari tadi menuntunku untuk mondar-mandir tidak jelas.
“Ya ya! Jebal….”
“Anja! Aku pusing melihatmu seperti itu.”
Aku menuruti perintahnya.
Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu sejak sebulan yang lalu. Alasannya? Hm, hari ini aku akan mengutarakan perasaan sukaku pada Kwangmin, namja yang sangat kusukai.
Jo Kwangmin, dia adalah teman sekelasku. Namja paling pintar dari seluruh kelas dua belas eksak. Sudah tampan, pintar, dan dia juga kapten tim kesebelasan sepak bola di sekolah. Omo! Wanbyeokhae! Mungkin karena ketiga alasan tadilah, sehingga banyak yeoja yang menggilainya. Haah, aku sering merasa sedih bila yeojadeul di sekolah berusaha menarik perhatiannya. Aku saja yang sangat menyukainya tidak sampai seperti itu padanya.
Rasa sukaku tumbuh dari perasaan benci padanya. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa membencinya dulu. Mungkin karena aku tidak terlalu mengenalnya dan percaya pada rumor yang beredar di sekolah kalau dia pernah melakukan kecurangan untuk mendapatkan peringkat satu. Tapi, ternyata itu hanya kabar burung. Kenyataannya lain. Dia difitnah oleh oknum yang tidak menyukai prestasinya yang gemilang di sekolah.
Selain itu, Hyerin juga turut andil menanamkan perasaan indah ini. Pada mulanya Hyerin juga sangat menyukai Kwangmin, namun pada akhirnya dia menyerah. Ah! Satu hal yang harus kalian tahu, Kwangmin adalah orang yang tidak mudah tergoda pada yeoja. Secantik dan seseksi apapun yeoja itu, ia samasekali tidak tergoda. Omo! Aku benar-benar lega ketika mengetahui sifatnya yang demikian.
Sepanjang aku hidup, aku baru merasakan jatuh cinta sebanyak…. Dua kali. Ahahaha. Pabo! Padahal yeoja sepantaranku saja sudah pacaran berkali-kali. Aku? Aku belum pernah yang namanya merasakan apa itu dan bagaimana pacaran.
Aku ini tipe yeoja yang sangat susah untuk jatuh cinta. Ah, mungkin begini lebih tepatnya, aku adalah tipe yeoja yang tidak mudah untuk menjatuhkan pilihan pada namja manapun sekalipun dia sangat tampan. Dan Kwangmin, dia adalah namja kedua yang telah berhasil membuka kembali pintu hatiku untuk cinta. Aku ingin dia tahu soal hal ini.
Kwangmin adalah namja yang sangat sulit untuk ditaklukan. Sudah banyak yang membuktikan hal ini. Tak terhitung, sudah berapa banyak yeoja yang berusaha mendekatinya namun dengan halus ditolaknya. Ini membuatku bertanya-tanya, sebenarnya tipe yeoja idealnya seperti apa? Sehingga yeoja sesempurna Kim Seora-pun ditolaknya mentah-mentah. Sementara yang lainnya mencari cinta, dia malah menolak cinta yang datang. Haah, molla.
Namun, itu pulalah yang membuatku berani berniat mengungkapkan perasaanku padanya. Jika aku diterimanya, maka aku tidak salah dalam mempercayakan hatiku padanya. Jika aku ditolaknya…. Masalah ditolak atau diterima itu urusan nomor dua. Yang terpenting adalah dia tahu kalau aku serius menyukainya. Paling tidak hanya sekadar tahu bahwa Cho Arra menyukainya. Itu akan meringankan beban di hatiku.
“Ya ya! Itu Kwangmin!” pekik Gain sambil menunjuk Kwangmin dan gerombolannya.
“Mwo? Mana?” aku mencari sosok yang dimaksud Gain.
Omo! Benar itu Kwangmin. Aigoooo…. Pangeranku….
“Eottokajyo?” aku gugup, apalagi ditambah dengan Kwangmin yang semakin dekat berjalan ke arah kami berdua.
“Ne misoga. Ahahaha. Kepiting rebuspun kalah merahnya denganmu. Ahahaha.” Gain terpingkal-pingkal memegangi perutnya.
“Gain-ah!” aku memukul lengan Gain.
“Mwo? Ja!” aku diseret oleh Gain.
“Andwae! Aku mau sembunyi saja.” aku meronta berusaha melepaskan pergelangan tanganku yang digenggamnya kuat.
“Ya! Masa begitu?”
“Gain-ah, aku harus sembunyi. Sesuai perjanjian, kau bicara empat mata dengannya.”
Kwangmin makin mendekat. Jantungku semakin tak terkendali detakannya. Hah! Mau copot rasanya. Ini melebihi detakan jantung normal manusia. Darahku juga makin deras berdesir. Sepertinya sistem kardiovaskuler di tubuhku sudah rusak.
“Pengecut!” cibir Gain sembari melepaskan tanganku.
Aku dikatai pengecut olehnya? Tsk! Aku memang pengecut karena aku tidak berani mengatakan secara langsung pada Kwangmin. Tapi, tidak mengertikah Gain dengan perasaanku? Melihat punggung Kwangmin dari radius puluhan meter saja, aku sudah jantungan dan berkeringat. Apalagi jika ditambah dengan mengutarakan perasaan. Michinde! Mungkin aku bisa pingsan di hadapan Kwangmin dan itu akan makin membuatku malu.
Melihat Gain yang sedang berusaha mengajak Kwangmin bicara, aku langsung sembunyi. Dengan situasi seperti ini, tiba-tiba aku merasa ciut. Aku takut Kwangmin akan menolakku. Padahal sebelumnya aku sangat yakin kalau Kwangmin juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Ini adalah hal tergila yang pernah kulakukan selama tujuh belas tahun aku hidup. Menyatakan perasaan sukaku pada orang yang kusuka. Sebelumnya aku belum pernah melakukannya. Seperti ada dorongan besar dari dalam hatiku yang membisikan agar aku mengatakan yang sebenarnya pada Kwangmin.
Satu yang pasti adalah aku tidak ingin menyesal dikemudian hari hanya karena menahan perasaan yang semakin hari semakin dalam ini. Haah, sudah pernah jatuh cinta, kan? Pasti tahu bagaimana rasanya menahan perasaan itu. Apalagi ditambah dengan perasaan rindu yang amat membuncah di dada. Aish! Jinjja! Aku pernah sampai insomnia gara-gara merindukannya.
Pertimbangan lain adalah karena Kwangmin sebentar lagi sudah tidak bersekolah di sini. Dia lulus tahun ini. Ani. Dia lulus bulan ini sama sepertiku. Itu artinya…. Itu artinya besar kemungkinan untuk tidak bertemu dengannya lagi. Mungkin untuk selamanya. Andwaeee!
Aku tahu dia sangat ingin masuk ke Universitas Cambridge. Cambridge itu di mana? Inggris. Jauuuhhh sekali. Tidak mungkin aku bisa bertemu lagi dengannya. Karena aku hanya akan masuk universitas di Korea saja. Kemungkinan sangat kecil untuk bisa melihatnya lagi.
Ah, kenapa aku bisa punya pikiran kalau Kwangmin juga menyukaiku? Banyak alasan untuk menjawab pertanyaan ini. Ada banyak sekali kejadian yang membuatku semakin yakin dan terus meyakini perasaan ini. Kejadian yang selalu mempertemukanku dengannya. Entah itu kejadian yang disengaja maupun tidak olehku. Dan kadang kejadian itu seperti de javu.
Seperti kejadian yang aku anggap sebagai sugesti. Ketika Kim sonsaengnim menyuruh kami untuk mengerjakan soal Fisika yang lumayan sulit, kemudian menunjuk salah satu dari kami untuk mengerjakannya di papan tulis. Kebetulan juga, dari sekian banyak anak di kelas, hanya tinggal beberapa saja yang belum maju untuk mengerjakan. Salah satunya adalah aku.
Aku sangat alergi dengan fisika dan segudang rumusnya. Baru melihat bentuk soalnya saja aku langsung lesu, tidak bergairah untuk melanjutkan. Untuk soal semudah vektor saja aku tidak mengerjakannya. Parahnya lagi, Kim sonsaengnim terus melihat ke arah aku duduk. Ish! Apakah aku yang akan jadi korbannya? Andwae!
Yang bisa aku lakukan hanyalah menyugesti diriku sendiri dan berdoa pada Tuhan, agar orang lain saja yang mendapatkan jatah itu. Dan satu-satunya orang yang terlintas di kepalaku hanyalah dia, Kwangmin, Sang Master Fisika. Kebetulan juga dia belum maju.
Selain aku menyukainya, aku juga membencinya. Bukan membenci dalam artian perasaan itu. Tapi, karena aku iri dengan otaknya. Kenapa bisa ada manusia secerdas dan sepintar dia di sini? Bertahun-tahun menduduki peringkat satu. Aku sangat menginginkan posisinya dan aku selalu kalah darinya. Apakah yeoja itu ditakdirkan untuk menjadi nomor dua? Shireo!
Dan benar, akhirnya Kim sonsaengnim menunjuknya. Huuh, lega sekali aku. Padahal dari tadi Kim sonsaengnim terus melihatku. Lagi-lagi Kwangmin menyelamatkanku dari keadaan yang tidak menguntungkan. Aku mengatakan ‘lagi-lagi’ karena memang itu bukanlah kejadian yang pertama kali, tapi ini sudah berkali-kali dan selalu Kwangmin yang secara tidak langsung menyelamatkanku.
Kejadian sebelumnya adalah ketika pelajaran Kimia, yang juga menjadi mata pelajaran favorit dari Kwangmin. Kenapa semua mata pelajaran yang dia suka adalah mata pelajaran yang sangat kubenci? Mungkin Tuhan telah menakdirkan demikian, agar kami saling melengkapi satu sama lain. Diantara ketidaksempurnaan seseorang pasti akan ada seseorang yang melengkapinya. Aigoo…. Bicara apa kau, Cho Arra? Kau berbicara seolah-olah Kwangmin memang diciptakan khusus untukmu!
Selain kejadian ‘heroik’ itu, masih ada kejadian lainnya. Dan ini adalah kejadian yang membuatku semakin mantap untuk mengutarakan isi hatiku padanya. Di mana kami semua harus berkumpul di aula sekolah untuk mendapatkan pengarahan seputar ujian negara sebulan yang lalu. Aku saja masih suka tersenyum bila mengingatnya. Kwangmin menatapku lama dan itu juga tidak lepas dari menyugesti diri sendiri. Kejadian apa itu?
Waktu itu, dia duduk di deretan kursi paling depan dan aku di tengah. Aku sempat mencarinya, hanya ingin tahu, apakah dia datang ke acara ini atau tidak. Ini acara sepele karena kami sesungguhnya sudah tahu teknis ujian negara. Tapi aku tahu, dia tidak mungkin tidak menghadiri acara seperti ini. Apalagi ini menyangkut masalah kelulusan dan nilai ujian. Hmm, aku senang dengan sifatnya yang tidak main-main dengan masa depannya. Itu tandanya dia adalah namja yang bertanggungjawab.
Aku mencari Kwangmin hanya lewat tampak belakangnya. Aku hafal betul punggung dan rambut tampak belakang namja yang kusukai. Punggungnya yang tegap dan rambutnya yang selalu terpotong rapi, itu menunjukkan kalau dia peduli dengan penampilan.
Ah! Bicara soal penampilan, aku jadi ingat pada diriku sendiri. Ternyata benar ya, jatuh cinta bisa membuat kita berubah. Sebenarnya lebih tepatnya adalah kita yang berusaha merubah diri kita agar sesuai dengan kemauan orang yang kita suka. Tapi, aku tidak terlalu seperti itu. Aku memposisikan diriku sebagai diriku sendiri, Cho Arra. Hanya saja aku sedikit lebih peduli dengan penampilanku.
Sudah kukatakan sebelumnya kalau tidak ada yang mengetahui yeoja ideal Kwangmin itu seperti apa. Dia sangat tertutup dengan yang satu ini. Jangan-jangan dia tidak pernah menyukai yeoja? Aish! Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu, Arra!
Soal tatap-menatap itu…. Hmm…. Aku meyakini itu sebagai respon yang baik darinya. Waktu itu aku hanya bisa berkata di dalam hati, “Berbaliklah dan lihatlah aku. Aku ada di belakangmu, Kwangmin-ah.”
Aku tidak tahu, apakah ini suatu kebetulan? Atau apakah dia benar-benar mendengarnya? Kwangmin memalingkan wajahnya menghadap belakang. Pandangan kami bertemu. Pandanganku benar-benar terkunci olehnya. Aku tersenyum padanya.
Omo! Waktu terasa berhenti. Seakan semua yang ada di sekitar kami terhenti aktivitasnya. Dunia milik kami berdua. Di dalam hati selama kami bertatapan, aku mengatakan kalimat yang sebenarnya ingin sekali kuutarakan secara langsung padanya, “Lewat mataku, Kwangmin-ah, aku ingin mengatakan kalau aku menyukaimu. Aku bahagia bisa merasakan rasa ini kembali. Gomawo.” Berharap Tuhan memberiku keajaiban, Kwangmin bisa membaca hatiku seketika. Kedengarannya memang konyol, tapi memang itulah yang kuharapkan.
Aku tahu dia sedang menatapku karena aku merasakannya. Namun, semakin lama semakin tidak kumengerti kenapa tatapannya menjadi seperti itu padaku. Apa yang kau katakan lewat matamu? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau juga tak membalas senyumku. Wae?
When I see you, I feel comfortable
Even though you don’t like it when I say that
(Super Junior – A Day)
Sesaat kemudian, ia memalingkan wajahnya. Antara senang dan sedih juga. Senang karena Kwangmin menatapku untuk waktu yang tidak sebentar. Itu merupakan suatu hal yang langka bagiku. Jarang sekali seorang Jo Kwangmin mau menatap seorang yeoja. Bukankah aku termasuk yeoja yang beruntung? Lalu, sedih karena tatapannya itu seolah-olah mengatakan bahwa, “Jangan harapkan aku!”
~oOo~
Ingat, Cho Arra. Cinta itu seperti coklat. Coklat tidak selamanya manis di lidah. Rasakan dengan baik-baik. Kau akan merasakan pahitnya juga.
No matter how it hurts, it’s fine….
(Super Junior – A ‘Good’ Bye)
~oOo~
4 years later
Mungkinkah kami akan bertemu di sini?
…. because I’m going to see you now.
(A ‘Good’ Bye – SuJu)
~oOo~
Kwangmin’s POV
KRIIIING KRIIIING
“Eungh,” aku menggeliat di bawah hangatnya selimut di musim dingin.
“Wooaah,” aku bangun dari posisi tidurku, menguap.
KRIIING KRIIING
“Aish! Arasseo! Aku sudah bangun!” aku mematikan alarm pikachu yang terletak di meja sebelah tempat tidurku.
“OMO!”
Aku benar-benar bangun dari posisiku sekarang. Dinginnya udara karena musim salju memang sangat menggoda untuk tidur di ranjang yang empuk dan berselimut tebal, tapi ada satu hal yang memaksaku untuk benar-benar bangun. Aku baru ingat kalau hari ini aku ada reuni SMA. Kenapa aku bisa lupa acara yang sebegitu pentingnya? Aih! Ini pasti karena kesibukan di kantor.
Aku segera berlari ke kamar mandi, lalu bersiap-siap. Meskipun reuni akan dimulai nanti malam…. Ah! Masa bodoh! Mau nanti malam atau pagi ini sekalipun, reuni itu tetap lebih penting bagiku. Menduduki peringkat pertama schedule hari ini. Bahkan aku sampai meng-cancel beberapa meeting dengan relasi appa.
Aku akan mengambil setelan tuxedo hitam terlebih dahulu, yang sengaja aku pesan dari langganan appa. Untuk bertemu dengan kawan-kawan lama, aku harus kelihatan berbeda dari aku yang dulu.
~oOo~
“Ahjussi, tuxedo-ku sudah jadi?” tanyaku pada sajangnim toko pakaian langganan appa.
“Ah, darawayo, Kwangmin-ssi! Aku menyimpannya di dalam lemari khusus. Aku tahu tuxedo ini akan kau kenakan ke acara reuni SMA, bukan?”
Aku mengikuti ahjussi menuju lemari khususnya. Aku rasa ini bukanlah lemari khusus seperti yang aku bayangkan. Ini hanya sebuah etalase biasa.
“Igo!” ahjussi mengeluarkan tuxedo hitam milikku, lalu memperlihatkannya padaku.
Elegan. Sungguh terkesan sangat elegan tuxedo ini. Aku pasti akan terlihat tampan? Ahahaha.
Sejak aku kuliah di Inggris, aku memang tidak pernah kembali lagi ke Korea. Undangan untuk reuni SMA pun, aku sudah tiga kali kutolak. Jadi untuk kali ini, selagi aku sedang berada di Seoul, aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Selain itu, aku ingin mengobati kerinduanku pada seseorang.
Because I missed you so much during the time you were far away.
(A ‘Good’ Bye – SuJu)
~oOo~
Aku sampai di depan pintu gerbang SMA Hankook. Hmh, sekolah ini tidak berubah sama sekali. Bangunan dan tatanannya tetap begini. Apa murid-murid di sini tidak bosan dengan warisan seperti ini?
Aku memarkir mobilku di tempat parkir yang telah disediakan. Sebelum turun, aku merapikan rambut, dasi, dan tuxedo-ku. Lalu mengambil undangan reuni yang aku simpan dalam dashboard.
Kumasuki halaman sekolah. Ramai sekali. Pasti semuanya datang ke sini. Dari tahun ke tahun, SMA-ku memang rajin mengadakan reuni besar-besaran. Tujuannya untuk mempererat hubungan antar alumnus dan adik kelas yang sekarang. Yah, ini bagus. Tapi, apa tidak terlalu boros? Melihat acaranya semeriah ini? Ah, pabo! Bahkan aku sendiri pun tergabung dalam donatur terlaksananya acara ini.
Kuedarkan pandanganku pada mereka-chingudeul-semuanya tampak berubah. Oh! Ani. Tidak semuanya. Ada beberapa diantara mereka yang masih tetap seperti dulu. Kelakuannya sama. Lihat saja Jeongmin yang sedang menggoda yeojadeul. Mata keranjangnya sungguh tidak berubah. Atau tengok Jinho. Dia juga tidak berubah. Masih saja tetap menyisir rambutnya ala detektif Ventura. Aku rasa umur tidak menjadi faktor penunjang kedewasaan seseorang.
“Ya!” seseorang yeoja melambaikan tangannya padaku. Yeoja itu menghampiriku dan tersenyum. Dia terlihat cantik mengenakan dress merah selutut.
“Annyeonghaseyo, Kwangmin-ah!” dia membungkukkan badannya padaku.
“Annyeonghaseyo….”
Apa dia Yoon Gain?
“Kau lupa padaku? Aish! Payah. Tiga kali tidak datang reuni, ke mana saja kau, hah? Ah, terakhir aku mendengar kabarmu kau sedang ada bisnis di Paris. Wah, kau sudah jadi orang sibuk rupanya.”
“Yoon Gain, kau tidak banyak berubah.”
“Kau mengenaliku? Ahahaha. Ah, kalau kau masih bisa mengenaliku, apa kau juga bisa mengenalinya?” Gain menunjuk seorang yeoja yang sedang berbicara dengan mantan teman-teman sekelasku.
Aku mengikuti arah telunjuk Gain. Jarinya menunjuk seorang yeoja berambut panjang sebahu yang mengenakan mantel bulu berwarna coklat. Yeoja yang cantik. Bahkan jauh lebih cantik daripada Gain.
“Nugu?”
“Nugu?” Gain malah berbalik tanya padaku.
“Kau benar-benar tidak bisa mengenalinya?” lanjutnya.
Kenyataannya aku memang tidak bisa mengenali yeoja cantik itu. Apa dia teman sekelasku waktu kelas tiga? Dua? Atau satu? Rasanya tidak ada yang secantik itu dulu.
Aku menggeleng.
“Cantik, bukan?” Gain memandang yeoja itu, lalu giliran menatapku.
“Ne. Tapi dia siapa? Teman sekelas kita? Aku rasa kaulah yang paling cantik diantara yeojadeul di kelas.”
“Mwo? Ahahaha. Jeongmal? Kau ini bisa saja.” Gain tertawa.
Memang benar. Dulu Yoon Gain adalah yeoja paling cantik diantara yeoja kelas tiga lainnya. Dan sampai sekarang pun dia masih cantik.
“Kwangmin-ah, aku harus ke sana dulu. Seseorang sedang menungguku.” Gain bermaksud pergi menemui teman namjanya. Namun, aku berhasil menahannya.
“Beri tahu aku, siapa yeoja itu?”
Gain menatapku, lalu tertawa kecil. Apa salah aku menanyakan nama yeoja itu? Lagipula ini karena dia yang menunjukkannya padaku.
“Dia….” lagi-lagi Gain tertawa kecil, lalu tersenyum memandang yeoja itu.
“Dia adalah yeoja yang pernah kubantu untuk menyatakan perasaannya padamu. Kau ingat?” kemudian dia pergi meninggalkanku.
Pernyataan Gain barusan membuatku mematung.
“Apa dia…. Cho…. Apa dia Cho Arra?” aku bergumam sambil memperhatikan yeoja di depan.
Cho Arra? Yeoja yang selama empat tahun telah sukses membuatku…. Ahk! Sekarang aku bertemu dengannya? Michinde!
Aku tersenyum melihatnya. Mianhae, karena aku tidak bisa mengenalimu.
The day when my lips naturally smile though my heart aches
(A ‘Good’ Bye – SuJu)
~oOo~
Setelah memberikan undangan kepada panitia, aku dipersilahkan untuk masuk ke aula sekolah-tempat reuni akan berlangsung. Aku duduk di antara ke empat sahabatku-Hoya, Jeongmin, Minho, dan Myungsu. Dalam aula sebesar ini, apakah aku akan melihatnya lagi?
“Ya! Apa kau sekarang sesibuk itu, hah?” Jeongmin hyung menyenggol lengan kiriku.
“Wae?” tanyaku.
“Tiga kali reuni, tapi tidak pernah sekalipun melihatmu datang,” tambah Minho hyung.
“Kudengar kau cumlaude? Keuji? Woah! Chukkae!” Hoya hyung memeluk pundakku.
“Kau tidak banyak berubah. Selalu serius dalam karir.” Myungsu hyung tersenyum padaku.
“Mana boleh kita bermain-main dengan hal macam itu, hyungdeul,” ujarku.
“Ahahaha. Lihat? Dia samasekali tidak berubah.” Hoya hyung makin mempererat pelukannya, itu membuatku sedikit sulit bernafas.
“Kalian juga tidak banyak berubah,” kataku.
“Yaaa, santailah sedikit. Pikirkan sisi kehidupanmu yang lainnya.” Minho hyung menepuk bahuku.
“Seperti?” tanyaku.
“Ah! Seperti calon istri mungkin? Ahahaha. Kau kan anti sekali bicara soal itu.” Jeongmin hyung tertawa.
“Ya! Bicara soal calon istri….” Myungsu hyung menghentikan ucapannya.
“Mwo?” tanya kami serempak karena penasaran.
“Cho Arra adalah ideal type-ku.” Myungsu hyung tersenyum sambil menunduk.
MWO? Myungsu hyung….
“Mwoya? Aish! Ya! Sejak kapan kau suka padanya, hah? Kenapa aku baru tau soal ini?” tanya Minho hyung yang tiba-tiba bertukar posisi duduk menjadi di sebelah Myungsu.
“Bimilya,” jawabnya.
Mendengar Myungsu hyung bicara seperti tadi, ini membuatku sedikit tidak nyaman. Aku merasa tidak rela bahwa Cho Arra adalah ideal type darinya. Tidak kupungkiri sejak kejadian empat tahun yang lalu, aku selalu dibayangi rasa bersalah pada yeoja Cho Arra. Meskipun aku dalam keadaan tidak menyukainya sewaktu dia mengutarakan perasaannya lewat Gain, namun waktu telah mengubah perasaanku padanya.
“Dia tahu kalau kau menyukainya?” tanya Jeongmin pada Myungsu. Myungsu menggeleng.
Fiuuhh. Syukurlah Arra tidak mengetahuinya. Empat orang sahabatku ini, mereka tidak tahu kalau Arra pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Aku memang sengaja merahasiakannya. Karena selain memang ini permintaan Gain, pertimbangan lainnya adalah aku merasa kasihan pada Arra. Arra pasti akan malu bila hal ini diketahui banyak orang. Terlebih karena aku menolak perasaannya. Aku tidak ingin menambah lukanya.
“Ya! Kau harus mengutarakan perasaanmu padanya!” seru Hoya pada Myungsu.
“Matji! Harus itu!” Jeongmin menimpali.
Kalau sampai Myungsu hyung mengutarakan perasaannya pada Arra dan Arra menerimanya….
“Kau pikir mudah mengatakan hal semacam itu? Bicara enak, melakukannya susah, pabo!” Myungsu menjitak kepala Hoya dan Jeongmin bergiliran.
Aku tersenyum mendengar perkataan Myungsu. Bicara memang gampang, tapi realisasinya tidak semudah yang dibayangkan. Salah satu alasan Arra menyuruh Gain adalah ini.
Flashback of Kwangmin
“Ya! Jo Kwangmin!” panggil Gain padaku, lalu menarikku menjauhi gerombolan teman-temanku.
“Mwoya?” tanyaku bingung karena tiba-tiba Gain menggandeng tangan kananku.
“Aku ingin bicara denganmu. Empat mata saja!” ucapnya setengah berbisik.
“Marhae!”
Apa ini menyangkut hal yang serius? Harus empat mata?
“Tidak di sini. Di sana saja.” Gain menunjuk tempat yang agak sepi di koridor sekolah.
“Apa ini pembicaraan yang serius? Palli, aku masih ada urusan dengan mereka.”
Aku masih harus membayar hutang pada teman-temanku. Mentraktir mereka karena aku lulus dengan nilai terbaik di sekolah.
“Arasseo. Ah, chukkae! Kau lulus dengan nilai terbaik, kan? Woah! Keren sekali kau ini. Pantas dia begitu menyukaimu.” Gain memandangku kagum.
“Ne? Menyukaiku?”
“Ah, keurae, Kwangmin-ah. Sasileun…. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang begitu penting padamu. Ada seseorang yang menaruh hati padamu.”
“Mworago?” aku terkejut.
“Ada seorang yeoja yang menaruh hati padamu. Dia temanku.”
Aku harus bagaimana? Aku baru pertama kali mendengar pengakuan suka dari seseorang. Yah, meskipun orang tersebut menyuruh temannya untuk menyampaikannya padaku. Sebelumnya aku tidak pernah mengalami hal demikian. Bahkan aku tidak tahu kalau ternyata ada yeoja yang menyukaiku. Aku terlalu sibuk dengan sekolah.
“Nugu?”
“Tebak!” Gain malah tertawa melihatku.
“Gain-ah, temanmu banyak. Haruskah aku menebaknya satu-persatu?”
“Dia teman baikku,” katanya.
“Teman baikmu? Kim Seora? Han Chaejin? Park Jungmi?”
Gain menatapku heran.
“Kau bahkan hafal dengan nama teman-teman baikku?”
Aku memang hafal dengan teman-teman Gain. Itu karena aku pernah menaruh hati pada yeoja di depanku ini. Tapi itu tidak lama, karena Gain ternyata sudah memiliki namjachingu.
“Itu aneh?” tanyaku.
“Tapi, kenapa kau tidak menyebutnya?” Gain makin menatapku heran.
Aku jadi bingung sendiri dengan keadaan ini.
“Hm? Nugu? Ada yang belum aku sebutkan?”
“Apa dia samasekali tidak pernah terlintas di pikiranmu?”
“Ya! Palli marhae! Sigani obso!”
“Jinjja! Sudah kukatakan padanya seharusnya dia tidak menaruh hati padamu.” Gain terlihat kesal.
“Ya!”
“Arasseo! Aku juga tidak bisa menyalahkannya atau dirimu. Cho Arra menyukaimu. Jangan bocorkan ini pada siapapun!” ujarnya dengan kesal.
“Mwo? Cho Arra menyukaiku? Ahahaha.”
Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau sedang bersandiwara dan yang sebenarnya menyukaiku adalah kau sendiri?
“Wae? Apanya yang lucu?”
“Kau tahu sendiri kan, bagaimana aku ini?”
“Araaa. Namja sibuk yang tidak punya waktu untuk memikirkan yeoja dalam hidupnya.” Gain berkacak pinggang.
“Seharusnya dia paham itu.”
“Apa hatimu sudah benar-benar mati untuk cinta, Kwangmin-ah?”
“Jangan berkata seperti itu padaku! Temanmu itu salah, jika mengira kalau aku sedang mencari yeochin.”
“Ya! Jangan bicara seperti itu! Perasaan Arra tidak dapat kau salahkan!”
“Lalu, untuk apa dia mengatakannya padaku disaat perpisahan sekolah seperti ini? Sementara dia sendiri tahu bagaimana aku ini. Dan kenapa dia tidak mengutarakannya secara langsung padaku? Dia takut karena aku akan menolaknya?”
“Aish! Otak jeniusmu ternyata tidak sejenius yang kubayangkan! Tentu saja karena dia tidak ingin menyesal seumur hidup karena menahan perasaan. Dan kenapa dia tidak mengatakannya langsung padamu? Karena mungkin sebelum dia mengatakannya, dia akan langsung pingsan. Ya! Tidak mudah mengungkapkan cinta di hadapan orang yang kau cintai. Semuanya akan berbeda setelah kau menatap langsung mata orang yang kau cintai. Pabo neo!”
Kami berdua kemudian terdiam.
Begitukah? Apa sebegitu parahnya aku mengenai cinta?
“Eottokae? Ne….?” tanyanya.
“Mwo?”
“Apa yang harus aku katakan padanya? Tidak mungkin aku tidak mengucapkan sepatah kata apapun padanya, kan? Sekalipun dia tidak bertanya bagaimana hasilnya, paling tidak aku harus menyampaikan kejadian ini padanya.”
“Katakan padanya, aku sangat berterimakasih dan minta maaf.”
“Jadi, kau menolaknya?”
“Aku sedang tidak memikirkan yeoja untuk saat ini.”
“Keuraeyo?”
“Katakan padanya, aku minta maaf karena menolaknya. Bukan karena aku tidak menyukainya. Tapi, karena aku belum berpikiran memiliki kekasih untuk saat ini.”
“Hanya itu saja? Gomawo atas waktunya. Ah, jika kau bertemu dengannya, tolong jangan abaikan dia. Bersikaplah seperti biasanya.” Gain memutar badannya, ia mulai berjalan menjauhiku.
Apa dia kesal padaku? Aish!
“Ya! Yoon Gain!” aku menghampirinya.
“Katakan juga padanya, kalau…. Semuanya dapat berubah. Jika memang kami ditakdirkan akan bersama, kami pasti akan bersatu.”
End of Flashback
“Apa perlu aku yang mengatakannya langsung pada Arra?” tawar Minho.
“Ya! Kim Myungsu! Jangan jadi pengecut kau!” seru Hoya.
“Aku bukan pengecut! Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang.”
Pengecut? Itulah yang sempat terlintas di pikiranku tentang sikap ketidakberanian Arra untuk mengatakannya secara langsung padaku. Jika memang dia menyukaiku, seharusnya dia sendiri yang mengungkapkannya. Bukan lewat Gain. Nilai Arra berkurang di mataku? Tidak juga. Karena aku juga seorang pengecut. Setelah Gain mengatakan hal itu kepadaku, aku samasekali tidak berani untuk bertemu dengan Arra. Aku selalu mencari jalan agar tidak bertemu dengannya. Entahlah. Tapi, itulah yang aku inginkan.
Tadi aku bahkan hampir tidak mengenalinya. Bagaimana bisa aku berharap bertemu denganmu, sementara aku tidak tahu bagaimana wajahmu? Selama ini aku tidak berani untuk mencari tahu seperti apa dirimu yang sekarang. Bagiku, asalkan kau baik-baik saja, itu sudah cukup untukku.
“Myungsu-ya, apa karena sekarang Arra sudah menjadi wanita yang cantik, jadi kau suka padanya? Keuji, hah?” tanya Hoya.
Arra yang aku lihat tadi, apa dia benar-benar Cho Arra? Dia yang sekarang dengan dia empat tahun yang lalu sangat jauh berbeda.
“Ya! Kau sudah melihatnya? Dia menjadi yeoja yang sangat cantik sekarang?” Hoya melihatku, lalu menunjuk Arra yang sedang duduk di deretan lima baris di depan posisi kami.
“Aku sudah melihatnya, hyung. Dia banyak berubah.”
Sekarang Arra telah menjadi yeoja dewasa yang feminim dan cantik. Yang aku dengar, dia juga telah menjadi desainer pakaian, persis seperti yang ia cita-citakan.
Mianhae, Arra-ya. Aku tidak pernah mencarimu. Aku terlalu pengecut untuk bertemu denganmu. Disamping itu, karena aku tahu kita pasti akan bertemu.
“Ani. Bukan karena dia sudah cantik sekarang. Dari dulupun dia sudah cantik. Aku tidak menilainya dari wajah, pabo!” Myungsu tersenyum memandang punggung yeoja yang ia suka.
Aku…. Apa yang membuatku dulu menolak yeoja itu? Karena wajahnya tidak secantik Gain? Dulu aku selalu menjadikan Gain sebagai tolak ukur yeoja yang aku idamkan.
“Jika kau menilai yeoja selalu dari wajahnya, sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkannya. Kebahagiaan tidak akan datang hanya karena rupa, tapi karena ini.” Myungsu menyentuh dadanya.
Myungsu hyung, ucapanmu benar. Benar sekali. Jika sekarang Arra tidak secantik itu pun, aku akan tetap menyukainya.
“Ya! Wajah cantik juga mendukung!” seru Jeongmin.
“Pabo! Kau ingin berpacaran dengan yeoja secantik apa, hah? Jika kau hanya mengejar kesempurnaan fisik saja, nikahi saja dokter oprasi plastik!”
Aku tersenyum menanggapi perkataan Myungsu hyung.
Selama empat tahun bahkan sampai sekarang ini, aku masih terus bersyukur karena Arra telah menyatakan perasaannya padaku. Karena apa? Karena perasaannya yang selalu menjaga hatiku. Dalam waktu empat tahun, pikirkan, aku tidak pernah sekalipun jatuh hati pada yeoja lain. Padahal ada banyak yeoja cantik di kampusku. Yang jika aku mau, aku bisa saja menjadikannya kekasihku untuk hari ini, dan besoknya aku campakan. Namun aku tidak melakukannya, karena aku selalu mengingat perasaan Arra padaku.
Sempat juga aku berpikir kalau aku ini bodoh. Dalam waktu empat tahun lebih sedikit itu, bagaimana bisa aku selalu beranggapan dan merasa kalau Arra masih menyukaiku? Apa yang membuatku begitu meyakininya?
“Ya! Eiii, kenapa diam begitu? Daritadi kami terus yang bicara. Giliran kau. Ah! Ceritakan bagaimana yeoja-mu? Kau pasti sudah memiliki kekasih bule, araaaa~?” Minho tertawa.
“Yeoja-mu pasti berambut pirang?” tanya Hoya padaku.
“Dia dari negara mana? Ukraina? Swedia?” tambah Myungsu.
“Anio. Obseoyo.” aku menggeleng.
“Mwo? Belum punya?” Minho kaget.
“Jeongmal? Aish!” Jeongmin terlihat kecewa.
“Ckckck. Kau ini benar-benar keterlaluan.” Myungsu geleng-geleng kepala.
“Apa di otakmu itu hanya ada buku, buku, dan buku? Aih, jeongmal! Bagaimana tidak cumlaude kalau begitu caranya!” seru Hoya.
Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum. Mereka mana tahu, kalau hatiku sudah ada yang menjaganya.
“Hyungdeul, itu acaranya sudah dimulai!” aku mengalihkan pembicaraan.
Kenyataannya memang acara intinya sudah dimulai. Jauh di depan sana, ada satu buah screen besar berwarna putih yang digunakan untuk menampilkan gambar dari proyektor. Foto-foto kenangan kami ketika masih berseragam SMA Hankook, ditampilkan dengan manis. Slide berganti slide. Semuanya berisikan kenangan kebersamaan kami. Bahkan ada beberapa foto yang membuatku bertanya-tanya, darimana mereka mendapatkannya? Apa ada paparazi khusus yang disiapkan untuk ini semua? Karena ada beberapa fotoku yang aku samasekali tidak tahu kapan pengambilannya.
Banyak yang terisak karena melihat diri mereka sendirilah yang ada di foto itu. Tiga tahun di SMA begitu cepat berlalu. Aku saja masih tidak percaya, kalau aku telah lulus SMA dengan nilai terbaik, lalu lulus kuliah dengan predikat cumlaude, dan sekarang aku telah menjadi seorang direktur yang seperti aboji inginkan. Yah, siapa yang bisa menghentikan waktu? Waktu akan terus berjalan seiring kita melangkah.
Dalam reuni seperti ini, bahkan tawapun menunjukkan keharuan. Siapa yang mampu menghapus kenangan? Kenangan bukanlah sesuatu untuk dihapus. Kenangan adalah sebuah rekaman yang paling berkesan dalam hidup, yang tersimpan dalam memori jangka panjang kita. Setiap orang memiliki kenangan untuk menjadikan dirinya jauh lebih kuat ke depannya.
Aku tercengang melihat foto yang sedang ditampilkan. Apa itu foto ketika Arra mencegah Gain? Di foto itu ada aku, Arra, dan Gain. Sebelum Gain benar-benar mengatakan kalau Arra menyukaiku di hari perpisahan sekolah, beberapa hari sebelumnya Gain juga mengajakku untuk bicara. Namun, belum sempat Gain menyelesaikan pembicaraannya denganku, tiba-tiba saja Arra menarik tangan Gain dan mengajaknya pergi. Gain terlihat kesal dengan sikap Arra. Aku sempat berpikir kalau Arra tidak sopan berbuat begitu pada Gain. Namun, beberapa hari setelah Gain sukses memberitahuku soal perasaan Arra, aku mengerti akan sikapnya yang demikian. Arra merasa belum siap. Itu yang bisa kusimpulkan.
Foto ini, darimana mereka mendapatkannya?
“Ya! Jangan bilang kalian bertiga terlibat cinta segitiga?” tanya Jeongmin. Itu membuat hyungdeul langsung mengalihkan pandangannya padaku.
“Mwo? Ani!” aku cepat-cepat menggeleng.
Aku langsung melihat reaksi Arra mengenai foto barusan. Percaya atau tidak, sekarang dia sedang melihat ke arahku. Dia tersenyum padaku? Aish, jinjja! Arra benar-benar berubah. Entah apa yang ia lakukan pada dirinya, sehingga sekarang dia…. Yah, sangat-sangat berbeda dan jauh lebih cantik daripada Yoon Gain. Itu membuatku terpesona.
When you give off that lovely smile with your eyes
You are beautiful, eye-blinding
(Super Junior – A Day)
~oOo~
Apa Arra masih mengingat peristiwa itu?
Aku melihatnya bangkit dari kursinya. Mau ke mana dia? Ah, ini mungkin kesempatan bagiku untuk mengatakan semuanya. Sebelum semuanya terlambat dan aku menyesal dikemudian hari.
“Ya! Eodiga?” tanya Myungsu, karena aku yang tiba-tiba berdiri.
“Hwajang.”
“Palli! Setelah ini kita harus berfoto,” kata Hoya.
Aku keluar dari deretan kursi yang diduduki oleh teman-teman, kemudian mencari Arra.
Apa itu dia? Bukankah tadi dia memakai mantel bulu? Aku melihat seorang yeoja bergaun putih selutut sedang berbelok menuju deretan ruang kelas. Itu Arra. Apa yang akan dia lakukan di sana? Bukankah semuanya berkumpul di aula sekolah? Apa dia berjanji pada seseorang untuk menemuinya di sana? Aku harus mengikutinya.
Arra berhenti tepat di depan kelas dua belas…. Aku melihat papan kecil bertuliskan nama kelas yang tergantung di atas pintu tepat Arra berdiri. Ternyata dia berdiri tepat di depan pintu kelas kami. Kelas di mana kami berdua pernah menjadi teman sekelas selama satu tahun. Dua belas science dua. Apa yang akan dia lakukan? Tidak ada orang lain di sana dan tidakkah ini gelap? Penerangan di area ini memang dibuat sedemikian rupa, hanya ada satu lampu yang menerangi dalam setiap kelas.
Aku melihat Arra memegang knop pintu. Apa dia berusaha untuk membukanya? Dia ingin masuk ke dalam? Untuk apa?
Arra tampak kecewa karena pintu kelas yang terkunci. Lalu, ia menuju jendela kelas di sebelah pintu. Sepertinya Arra sedang mengamati keadaan dalam kelas. Apakah Arra sedang mem-flashback ingatannya?
“Bangku itu samasekali tidak dipindah,” katanya sambil tersenyum.
Bangku siapa, Arra?
“Tulisan itupun samasekali tidak ada yang menghapusnya,” katanya lagi.
Dia sedang membaca tulisan apa?
“Kau benar-benar menentukan takdirmu lewat tulisan itu. Kau berhasil menjadikan dirimu sebagai raja.”
Apa dia sedang membaca tulisan yang ada di mejaku?
“Kau sungguh menunjukkannya padaku, Jo Kwangmin.” Arra mengalihkan pandangannya padaku.
DEG!
Aku menarik mundur kepalaku agar tidak kelihatan olehnya. Dia mengetahui keberadaanku? Dia melihatku?
“Jo Kwangmin! Kenapa kau bersembunyi seperti itu?”
Eottokae? Aku harus bagaimana? Keluar atau tidak? Aish! Kenapa aku ini? Kenapa tiba-tiba saja nyaliku ciut untuk bertemu langsung dengannya?
The day when my heart flutters because I will get to see you in a while.
(A ‘Good’ Bye – SuJu)
…..
Kami berdua diam. Suasana menjadi sunyi kembali. Suara riuh di aula memang tidak terdengar sampai ke sini, karena aula sekolah menggunakan peredam suara.
“Kwangmin-ssi?”
Arra memanggilku ‘Kwangmin-ssi’? Aku bisa mengerti ini. Selain karena kami tidak pernah bertemu sekian tahun lamanya, kami berdua juga tidak akrab satu sama lain.
“Aku tidak akan memaksamu untuk keluar dari persembunyianmu sekarang.” Arra tertawa kecil, aku bisa mendengar tawanya.
“Aku juga tidak memaksamu untuk bicara denganku sekarang.”
Arra kembali diam.
“Empat tahun lebih aku tidak melihatmu secara langsung, ternyata kau tidak banyak berubah. Kau tetap menjadi Jo Kwangmin yang selalu bekerja keras untuk masa depannya. Aku dengar kau cumlaude. Chukkae! Aku senang sekali mendengarnya. Hmm, kau terlihat tampan dengan busana kebesaran Cambrigde.”
Aku tersenyum. Dia bilang aku tampan? Ahahaha.
Jakkaman! Mwo? Pakaian kebesaran Cambridge? Apa dia melihat foto-foto kelulusanku?
“Mianhae. Jeongmal mianhae. Karena aku telah memerintahkan oppa-ku untuk mencuri beberapa fotomu di sana. Kau pasti mengenal Park Sanghyun. Dia adalah oppa-ku.”
Mencuri foto? Apa maksudnya? Dan Park Sanghyun, dia adalah sunbaenim-ku di sana. Kami berdua lain jurusan. Tapi, aku mengenalnya karena dia adalah ketua Ikatan Mahasiswa Korea di Cambridge.
“Jika kau marah, aku tidak keberatan.”
“Ani! Ani! Aku samasekali tidak marah atau keberatan. Dashi manna bangapta, Cho Arra.” aku keluar dari balik tembok tempat aku bersembunyi dan menghampirinya.
Sekian lama aku merindukannya, sekarang aku benar-benar berhadapan dengannya?
“Dari mana kau tahu kalau aku sedang sembunyi di balik tembok itu?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Arra tersenyum, “Kau pikir aku tidak merasa kalau aku sedang diikuti?”
“A~” aku hanya bisa tertawa kecil.
“Bagaimana kau tahu kalau itu aku?”
Arra hanya menjawabnya dengan senyuman. Aku juga tidak peduli dia tahu dari mana.
“Neo….” kami berdua tidak sengaja mengucapkannya secara bersamaan.
“Lady’s first.” aku mempersilahkan Arra untuk bicara terlebih dahulu.
“Ani. Kau saja duluan,” balasnya.
“Untuk apa kau ke sini? Bukankah di aula jauh lebih baik?” tanyaku.
“Ini pertama kalinya aku datang ke sekolah setelah perpisahan dulu. Hanya ingin melihat keadaan kelas yang sekarang. Ternyata tidak ada yang berubah. Letak bangkumu pun tetap di sana.” Arra menunjuk dalam kelas.
Pertama kalinya ke sekolah setelah perpisahan? Jadi, dia tidak pernah datang ke acara reuni sebelumnya? Kenapa sama persis denganku?
“Mwo? Kau masih ingat letak kursiku?”
Arra sedikit kaget mendengar pertanyaanku.
“Ah, ne.” dia menjawabnya dengan ragu.
“Keurom….” aku mendekatinya, lalu memeluk pundaknya dan menuntunnya kembali menuju jendela kelas.
“Kwangmin-ssi?”
Arra pasti tidak menduga kalau aku akan memeluk pundaknya.
“Tunjukkan padaku, di mana tempat dudukku?”
“Di sana,” tunjuknya pada bangku baris ke dua dari depan.
“Lalu kau?” tanyaku.
“Aku di sebelah sana,” tunjuknya pada bangku yang masih satu deret dengan bangku-ku.
Entah kau menyadarinya atau tidak, Arra. Tapi kita selalu satu deret, di manapun kelasnya.
“Kita selalu satu deret, bukan?”
Aku menyadari sekarang Arra sedang memandangku. Aku menarik tanganku dari pundaknya.
Sejak aku mengetahui perasaan Arra padaku, ada banyak hal yang terlintas di pikiranku. Hal-hal tersebut semuanya berhubungan dengannya, dan selalu mengikutiku ke manapun aku melangkah. Tidak tahu ini hanya pikiranku saja yang selalu menghubungkannya atau memang berhubungan.
“Di kelas dulu, nomor absenmu tiga belas. Apa aku salah?” tanyaku.
“Ne? Kau mengingatnya?”
Tiga belas. Bukankah sebagian orang percaya kalau itu adalah angka kesialan? Bagiku justru itu adalah angka keberuntungan.
“Saat kuliah, nomor urutku juga tiga belas. Tidak hanya itu, nomor kamar apartemenku juga tiga belas. Tepatnya lantai lima nomor tiga belas.” aku tertawa kecil. Arra terkejut.
“Penyanyi solo favoritmu adalah Kim Bumsoo?”
“Neo ara?”
“Sahabat baikku di kampus sangat menyukai Bumsoo. Setiap hari dia menyanyikan ‘Different’ di hadapanku.”
Matanya membulat.
“Kau sangat terobsesi dengan Picaso?”
“Dari mana kau tahu?” Arra makin membulatkan matanya karena terkejut.
“Beberapa waktu yang lalu, kerabat memberiku lukisan. Dan itu ternyata karya Pablo Picaso. Lalu, nama spesies tanaman yang aku jadikan sebagai obyek penelitianku adalah Helianthus anuus. Kau tahu apa artinya itu? Helianthus anuus adalah nama ilmiah untuk haebaragi (=bunga matahari). Itu adalah bunga kesukaanmu.”
Semua itu berhubungan denganmu. Seandainya kau tahu, Arra-ya. Aku tidak akrab denganmu, tapi mengapa tiba-tiba semua yang aku ketahui tentang dirimu, muncul di hadapanku.
“Sebenarnya apa maksudmu mengatakan semua itu padaku?” tanyanya.
Aku mengerti jika ia bertanya-tanya apa maksudku.
“Itu hanya sebagian, Arra-ya. Entah ini hanya sebuah kebetulan belaka atau bukan, tapi menurutku Tuhan tidak ingin aku melupakanmu.”
Arra sangat terkejut, ini tergambar jelas di wajahnya.
“Sekarang giliranmu. Apa yang ingin kau sampaikan tadi?”
“Untuk apa kau mengikutiku?” Arra melangkahkah kakinya mundur beberapa langkah dariku.
“Itu karena aku tidak ingin menyesal nantinya.”
“Menyesal karena apa?”
The day when I no longer can tell you I love you
( Super Junior – A ‘Good’ Bye)
“Karena aku telah melepaskanmu untuk kedua kalinya.”
Arra makin menatapku. Matanya memancarkan kebingungan hatinya.
“Bogoshipeo,” ujarku.
Pernyataan ini hanyalah pernyataan bodoh yang sangat aku ingin ketahui respon darinya. Pernyataan yang sangat ingin aku sampaikan padanya. Yang mungkin saja akan tertahan bertahun-tahun lagi, jika aku tidak bertemu dengannya sekarang. Dan menahannya adalah sesuatu yang menyesakkan dada.
“Apa kau masih menyukaiku, Cho Arra?” tanyaku hati-hati.
Arra terhuyung ke belakang. Apa dia sampai sekaget mendengarnya?
“Wae neo kkapjaki…. (=kenapa kau tiba-tiba….)”
“Apa kau masih menyukaiku, Arra-ya? Apa kau masih mengharapkanku? Jawablah!”
“Aku tidak tahu.” Arra menunduk.
“Wae? Wae neo molla? Bukankah tadi kau bilang kau sampai menyuruh Sanghyun sunbae untuk mendapatkan foto kelulusanku? Aku yakin tidak hanya sebatas foto kelulusanku saja. Apa itu tidak menunjukkan bahwa kau masih menyukaiku? Kau juga menyuruh sunbae untuk selalu peduli dengan kesehatanku, kan?”
“Kau mengetahuinya? Tapi, bukan begitu maksudnya.”
“Kalau bukan begitu lalu apa?” aku setengah berteriak. “Karena aku tidak pernah mengaktifkan akun pribadiku, kau jadi tidak tahu bagaimana keadaanku. Untuk itu kau meminta sunbae untuk menjadi informanmu, kan? Jangan katakan itu salah! Jangan pernah berbohong pada orang yang kau sukai, Cho Arra!”
“Ada beberapa hal yang perlu aku luruskan mengenai kejadian empat tahun yang lalu itu. Aku samasekali tidak pernah berharap untuk menjadi yeojachingu-mu, Jo Kwangmin.”
Jika alasannya itu aku sudah tahu.
“Arata. Untuk itu Gain menyatakannya saat perpisahan.”
“Aku memang tidak ingin menjadi yeojachingumu. Karena aku tidak memiliki kesempatan. Selain itu, aku bukanlah Gain. Kau tahu, kenapa aku menyuruhnya untuk menyatakan perasaanku padamu? Karena dia adalah satu-satunya yeoja yang akan kau dengarkan setiap perkataannya. Jika bukan karena Gain, mungkin sampai sekarang kau tidak akan tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku tahu kau menyukai Gain. Aku sangat tahu.” Arra menitihkan air mata.
Jadi begitu? Jadi, inilah alasannya kenapa dia memilih Gain? Ini adalah salah satu jawaban dari sekian banyak pertanyaanku tentang Arra. Dan yang dikatakannya memang benar. Aku hanya peduli pada yeoja yang aku suka. Karena aku pernah menyukai Gain walau hanya sebentar, oleh karena itu aku mendengarkannya.
“Saat itu aku samasekali tidak mengharapkan jawaban apapun darimu. Aku tidak peduli apakah kau akan menolak atau menerima perasaanku. Aku hanya ingin menyampaikan perasaan sukaku padamu. Hanya menyampaikannya saja. Namun Gain, dia salah paham terhadap maksudku. Dia justru meminta jawaban darimu. Jawaban yang sebenarnya aku sudah mengetahuinya.” Arra berusaha tersenyum.
Begitukah yang sebenarnya? Jadi, pandanganku terhadap Arra selama ini salah? Karena sampai saat ini, jujur, aku terkadang sering berpikiran kalau Arra telah menurunkan martabatnya sebagai seorang yeoja di mataku.
“Arra-ya.” aku menarik kedua tangannya dan merengkuhnya dalam pelukanku.
“Mianhae, aku masih menyukaimu, Jo Kwangmin.”
DEG!
Jeongmal? Dia masih menyukaiku?
“Aku masih mengharapkanmu.”
Apa telingaku tidak salah dengar? Dia bilang dia masih mengharapkanku?
“Yang membuatku terus berharap adalah ucapanmu padaku. Gain bilang padaku diakhir pertemuan kalian, kau mengatakan ‘Semuanya dapat berubah. Jika memang kami ditakdirkan akan bersama, kami pasti akan bersatu’. Kalimatmu sungguh menenangkan hatiku. Gomapta.”
Aku mempererat pelukanku.
“Empat tahun, itu bukanlah waktu yang singkat, Arra-ya. Dalam waktu selama itu, semua yang berhubungan denganmu selalu muncul di hadapanku. Awalnya aku berpikir kalau itu adalah perasaan bersalahku padamu, karena aku telah mengabaikanmu. Tapi jika itu suatu kebetulan, kenapa selalu terulang dan terulang? Secara tidak langsung itu membuat perasaanku berubah padamu.”
“Apa maksudmu?” tanyanya.
“Aku…. Aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Sekarang aku menyukaimu dan untuk seterusnya aku mencintaimu.”
“Jeongmal? Kau sedang tidak bermain-main denganku, kan?”
“Ani. Demi Tuhan aku mengatakannya padamu. Nal mideo!”
“Gomawo, Kwangmin-ssi. Gomawo.” Arra akhirnya membalas pelukanku. “Aku pernah mencoba untuk melupakanmu. Tapi, semuanya yang berhubungan denganmu selalu muncul dan menghalangi usahaku. Berkali-kali aku mencobanya, namun selalu gagal. Melupakanmu hanyalah usaha yang membuat hatiku sakit,” ujarnya padaku.
Dia begitu juga? Hal-hal yang berhubungan denganku juga muncul di hadapannya? Ternyata seperti itu. Ternyata Tuhan menunjukkan jalan kami dengan cara demikian, agar kami tidak saling melupakan satu sama lain.
“Semua yang kau lakukan, aku bisa memahaminya sekarang.” aku membelai rambutnya yang halus.
Memeluknya, lalu mendengar kalimat yang ingin aku dengar darinya, ini membuatku nyaman. Kami berpelukan untuk waktu yang tidak singkat.
“Ah! Kwangmin-ssi!” Arra tiba-tiba melepas pelukanku.
“Tidak bisakah kau menghilangkan ‘ssi’ diakhir namaku? Aku tidak suka mendengarnya.”
Arra tertawa kecil.
“Kita harus kembali ke aula sekarang,” katanya sambil menghapus air mata di pipinya.
“Ah, eo!” aku melihat jam di tanganku.
Aku mengatakan pada mereka kalau aku akan ke toilet. Tapi, ini sudah lebih dari setengah jam. Mereka bisa curiga padaku, terutama Myungsu hyung. Dia pasti curiga karena aku keluar berbarengan dengan Arra.
Arra berbalik arah, bermaksud untuk meninggalkanku terlebih dahulu.
Kau pikir aku hanya akan melakukan seperti yang kau lakukan di masa lalu? Hanya menyatakan kalau aku menyukaimu? Ani! Untuk yang satu ini aku benar-benar tidak ingin menyesalinya seumur hidupku.
“Cho Arra!” aku menarik tangan kanannya, sehingga dia sekarang kembali jatuh ke pelukanku. Arra kembali terkejut dan menatapku.
“Aku tidak melihat ada cincin di jari manismu?” aku memperhatikan tangan kirinya yang menahan dadaku.
“Www wae?” Arra tergagap. Aku tertawa, namun aku kembali serius menatapnya.
“Menikahlah denganku!”
Ahahaha. Apa aku benar-benar sudah gila sekarang? Aku, Jo Kwangmin, adalah namja yang tidak pernah peduli pada perasaan sekarang sedang memohon kepada seorang yeoja untuk menjadi istrinya? Maldo andwae!
Arra tercengang. Benar-benar tercengang karena mendengar perkataanku. Bukankah dia bilang, dia tidak pernah menginginkan untuk menjadi yeojachingu-ku? Bagaimana dengan istri? Apa dia masih tidak mau juga?
“Kwangmin-ah?” Arra masih menatapku tidak percaya.
“Aku hanya mengucapkannya satu kali seumur hidupku. Kumohon kau jangan menolaknya. Atau kau hanya akan membuatku menjadi namja yang kesepian seumur hidup.”
Arra tertawa kecil. Wae? Kenapa sekarang malah tertawa? Apa dia senang mendengar kalimat ‘namja yang kesepian seumur hidup’?
“Arasseo. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kokjongma, Kwangmin-ah. Kau boleh menikahiku.” Arra tersenyum manis, kemudian memelukku.
Aku menarik nafasku lega. Ya Tuhan, terimakasih atas jawaban-Mu. Terimakasih karena telah memberiku kesempatan untuk mengubah segalanya.
Myungsu hyung, jeosonghamnida. Jeongmal jeosonghamnida. Kali ini dan seterusnya, aku tidak bisa memberikan Arra padamu. Jeosonghamnida.
~oOo~
People who love each other end up reuniting. No matter how far apart they are, they will reunite in the end. Love is something that returns. (Stairway To Heaven)
Adalah salah satu quote yang membuatku yakin akan kekuatan takdir dan cinta.
~oOo~
Cho Arra’s POV
There is an event that made me happy today
The time when I met you
And the fact that I knew I have someone to love
Really, how is it like to love? Is it sweet?
Without him, I cannot smile
I keep changing by the fact that he is my love
Put you arms around me, hold me sweetly
Always tell me that you will stay with me
Smooth like chocolate and sweet
Everyday makes me think more deeply
Like cold ice, make my heart melts
Hope his warm love will be like the beginning
Oh I love you the way you love me, my love
(4Minute – Creating Love)
~oOo~
Bagaimana? Hehehe. Ceritanya kurang menarik, ya? Disini emang konfliknya belum muncul. So, yang pengen tau kelanjutannya, silahkan baca Chocolate Cheorom | I Love You. Itu sekuel untuk FF ini. RCL yaw! Kamsahae udah mau baca FF saya. Annyeoooooooong! J

WOW !! Daebak banget ceritanya,kirain bakal sedih endingnya ternyata ga.hehe
btw bikin sequelnya dong thor,hehe.sayang nih cerita dan gaya bahasanya uda bagus gini kalo ga diterusin
ditunggu next partnya,hehe
keep fighting chingu !
whooaaaa~ keren ceritanya ini..
suka sama quotenya terutama yg stairway to heaven, swit banget sih mreka berdua..
berjarak jauh & berusaha saling melupakan ternyata 4 taun itu malah bermunculan yg menghubungkan 1 sama lain..keren itu, sgala sesuatu kesukaan arra beruntun muncul depan kwangmin..hehehe
huaaaaaa jinja daebak thor kwangmin~ kenapa dirimu begitu ganteng hahahaha
ihh jealous deh ama arra mau bgt di lamar ama kwangmin *di kasih deathglare sama sehun haha* upss haha tenang hun bercaanda doang kok hehe aku cuma mau dilamar ama kamu *ihh gaje lu ngayal jg ketinggian ntar jatoh loh* halah
oke thor sukses yah KEEP WRITING THOR~ ^^ :*
Asli deh aku suka tutur bahasanya!
DAEBAKK~!
ntah knp kayak K-movie aku ngebayangin nih ff >.<
So sweet jg
Huwaaa~~ good job chingu
wiiihiiiiieeeee~ \(^o^)/
kereeeen xD
daeeeebaaakkkkk~ ^^
i need squel min.. keren tau meu lihat gimana kelanjutan hidupnya KwangRa.. {\^0^/}
WOW daebak, ceritanya keren banget !!!
penggambarannya bener-bener kyk nyata,ah ga sabar pengen baca sekuelnya.
ceritanya benar2 bagus…cho ahra tidak bertepuk sebelah tangan atas cinta..
ada sequelnya, jd penasaran nieh..
Aku baru baca ._.v Demi apa!! Ff nya kereeeeeeeeen!!! Penafsiran narasi nya itu ya, ck.. Bener bener mantap!! Aku suka aku sukaaaa xD