part 1 – part 2 – part 3 – part 4 – part 5 – part 6 – part 7 – part 8 – part 9
Title : Seven Wishes – part 10
Author : @Leeyaaaa
Length : chaptered (10/11)
Main Cast:
- Yoona SNSD as Im/Kim Yoona
- Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun
- Geonil Supernova as Maiden (angel)
Minor Cast:
- Jiyoung Kara as Grasella/Kim Jiyoung
- Nana After School as Im/Kim Jin Ah
- Kibum Super Junior as Kim Kibum
- TOP BigBang as Choi Seung Hyun
- Jeon In Hwa as Yoona’s mother
- Kim Soo Ro as Yoona’s step father
Genre : fantasy, romance, family
Rate : PG-13
Note : Maaf udah bikin nunggu lama seperti biasa. Selamat membaca
Yoona POV –
Aku berjalan menyusuri padang bunga yang luas dan indah dengan latar sinar matahari yang hangat. Tak kulihat seorang pun di tempat ini selain diriku sendiri. Aneh, tempat apa ini? Kenapa aku berada disini?
“Yoona..”
Kudengar suara seorang pria tiba-tiba memanggil namaku. Aku mencoba mencari si pemilik suara yang membuatku teringat pada suara ayahku. Aku berjalan mendekat gazebo putih ketika kulihat seseorang berdiri disana.
“Yoona..”
Suara itu terdengar semakin jelas, membuatku yakin bahwa pria itulah yang memanggilku. Ia, dengan kemeja putih dan celana putih, berdiri membelakangiku. Punggung pria itu mengingatkanku lagi pada punggung ayahku. Aku menunggu sampai ia memutar tubuhnya untuk menghadapku.
“Yoona..” panggilnya lagi sembari berbalik ke arahku.
Aku memandangi wajahnya familiar untukku. Mata yang teduh, senyum yang damai, dua hal yang juga hanya kutemukan pada wajah ayahku. Tapi ia terlalu muda, seumuran dengan Maiden sepertinya.
“Jangan takut. Aku menghuni di tempat ini.”
Oh, jadi ia tinggal di tempat yang indah ini? Ia sangat beruntung. Pasti ia merasa damai bisa melihat pemandangan indah setiap hari.
“Ingin berkeliling? Aku bisa mengantarmu.” Tawarnya dengan diiringi senyum.
Aku membalas senyumannya dan mengangguk. “Terima kasih.”
Pria itu mengulurkan tangannya untuk menggandengku. Meski tak kenal, aku tak menolak uluran tangan pria itu. Caranya menggenggamku persis seperti cara ayah menggandengku dulu. Ia memiliki tangan yang besar dan hangat, sama seperti milik ayah.
Kami berjalan bergandengan menyusuri tempat itu. Aku tak melewatkan kesempatan untuk mengamati wajah pria itu, terlalu penasaran karena kemiripannya dengan ayah.
“Yah! Kembalikan boneka itu!”
Teriakan nyaring khas anak kecil membuatku mengalihkan mataku. Kulihat seorang anak perempuan dengan kaos kebesaran berwarna biru, celana pendek, sepatu yang talinya tak terikat, serta rambut yang diikat ekor kuda. Ia tengah mengejar beberapa anak laki-laki. Salah satu dari tiga anak laki-laki itu, mengacung-acungkan boneka beruang yang kepalanya hampir lepas.
Huh? Kenapa anak itu mirip denganku?
“Yah!”
Anak perempuan itu berhasil menangkap anak laki-laki yang membawa boneka. Ia memukul dan mencubit si anak nakal sampai menangis, sementara dua temannya berlari ketakutan.
“Jangan mengganggu adikku lagi!” ancam si anak perempuan ketika anak laki-laki yang sebelumnya membawa boneka itu berlari menyusul kedua temannya.
Anak perempuan itu memungut boneka yang tergeletak di tanah dan menepuk-nepukkan dengan tangan kecilnya agar bersih. Ia lalu berlari menghampiri pohon besar tak jauh dari situ.
“Jin Ah, ini bonekamu!”
Jin..Ah?
Seorang anak perempuan lainnya keluar dari balik pohon sembari mengusap-usap matanya yang merah karena menangis. Mengenakan baju seperti putri dengan warna merah muda, sepatu seperti putri dengan warna merah muda, dan bando pita merah muda yang menghias rambutnya yang diurai. Jin Ah kecil itu..tidakkan ia mirip dengan Jin Ah saudara kembarku?
“Kepalanya putus..” ujar si anak yang bernama Jin Ah setelah memeluk bonekanya kembali.
“Tidak apa-apa. Nanti minta umma menjahitnya.”
“Nanti umma marah..”
“Tidak akan. Ayo kita pulang dan minta umma menjahitnya.”
Si anak dengan rambut ekor kuda menarik tangan Jin Ah, dan keduanya berlari bersama sampai tak terlihat lagi. Kejadian ini tak asing bagiku. Bukankah aku juga pernah mengalami ini saat kecil? Tapi apa mungkin?
“Mereka..” aku menggantung ucapanku. Tidak mungkin mereka berdua adalah aku dan Jin Ah.
Pria yang bersamaku menoleh padaku dan kembali tersenyum. “Mereka putriku. Keduanya cantik bukan?”
Aku hanya mengangguk karena aku tak tahu harus menjawab apa. Dua anak itu sangat mirip denganku dan Jin Ah, tapi secara logika tak mungkin mereka adalah aku dan Jin Ah. Mana mungkin aku melihat masa laluku.
“Ingin berkeliling lagi?” tanya pria itu, yang sekali lagi kujawab dengan anggukan.
Kamipun kembali berjalan. Sampai di rumah besar yang terlihat seperti villa tua, ia mengajakku masuk. Kata pria itu, disanalah ia tinggal bersama istri dan anak kembarnya. Aku mengitarkan pandanganku ke halaman rumah itu. Aneh kurasakan sinar matahari semakin terang seperti saat siang hari padahal beberapa menit lalu masih terasa seperti pagi hari.
Pria itu kembali mengajakku berkeliling, kali ini di rumahnya sendiri. Setelah menapaki anak tangga yang terkesan kuno, kulihat sebuah ruangan dengan pintu setengah terbuka, dimana dari dalamnya, terdengar gertak marah bercampur tangisan.
Karena terlalu penasaran, aku berjalan menuju ruangan itu, tak sadar telah mendahului si pemilik rumah. Dalam ruangan tersebut, kulihat seorang wanita yang siluetnya begitu mirip dengan ibu, dan anak perempuan berusia sekitar sembilan tahun yang mengingatkanku pada diriku sendiri. Dengan sebuah kertas -yang kurasa adalah kertas ujian- di tangannya, wanita tersebut memarahi si anak. Anak perempuan yang tengah dimarahi, hanya bisa menunduk ketakutan.
“Kenapa nilaimu selalu buruk? Berapa kali umma bilang, kau harus belajar! Harusnya kau bisa seperti saudaramu, bukan membuat malu umma seperti ini, Yoona!”
Yoona? Kali ini anak itu memiliki nama yang sama denganku. Anak itu juga sangat mirip denganku. Apakah anak perempuan itu aku? Kejadian ini juga tak asing bagiku. Bukankah ini juga sama persis dengan yang kualami dulu? Kenapa hatiku terluka melihatnya dimarahi oleh ibunya? Seolah-olah akulah yang tengah dimarahi..
“Umma tidak mau tahu lagi. Mulai sekarang kau tidak boleh bermain dengan Jonghyun! Kau harus terus belajar sampai nilaimu bagus!”
Apa yang ia sebut jonghyun itu adalah Lee Jonghyun kawanku? Tunggu, ini semakin aneh bagiku.
“Awas.” Pria yang bersamaku menarikku ke belakang, menghindari pintu yang tiba-tiba menjeblak terbuka.
Kulihat wanita yang mirip ibu itu melangkah keluar tanpa melihat ke arahku ataupun pria di sampingku. Bukankah pria yang bersamaku ini adalah suaminya? Kenapa ia tak menyapanya? Apa ia tak melihat kami?
“Itu putri kembarku.” Ucap pria tersebut membuatku kembali melihat ke dalam ruangan. Putri kembar? Lalu siapa dua anak kecil di taman tadi?
Kulihat anak perempuan -selain anak bernama Yoona- yang kurasa tak kulihat sebelumnya karena terhalang pintu. Anak dengan rambut terurai sampai pinggang itu berdiri agak jauh dari Yoona. Ada tatapan iba..atau mungkin kasihan..dari kedua mata anak tersebut. Di balik punggungnya, ia menggenggam erat secarik kertas seolah ingin menyembunyikan serapat mungkin.
“Maaf. Aku sudah menyembunyikan kertas ujianku tapi umma menemukannya sendiri.” Kata anak itu dengan nada menyesal.
Demi semua keanehan yang terjadi, anak perempuan itu sangat mirip dengan Jin Ah.
Perlahan anak perempuan dengan rambut terurai itu berjalan mendekati anak bernama Yoona. Ia melebarkan tangannya untuk memeluk Yoona, tapi Yoona justru melangkah mundur untuk menghindarinya. Dengan air mata yang telah terkumpul di pelupuk, Yoona kemudian berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Anak perempuan di ruangan itu menunduk sembari memandangi kertas ujian yang semula ia sembunyikan di balik punggungnya. “Maaf, Yoona..”
Aku menggigit bibir bawahku tanpa sadar. Entah karena merasakan luka yang dialami anak perempuan yang memiliki nama sepertiku, atau karena aku merasa iba pada anak perempuan di ruangan itu. Jika benar mereka adalah aku dan Jin Ah, mungkinkah dulu Jin Ah juga merasa bersalah padaku?
“Ingin kembali ke taman?”
Pertanyaan pria yang bersamaku itu membuyarkan lamunanku. Kembali ke taman.. Kurasa itu ide yang bagus. Di sini membuat hatiku terasa ngilu.
Aku menoleh pada pria itu. Ia tersenyum padaku kemudian menggandengku lagi, menuntunku menuruni anak tangga sampai mencapai pintu utama. Kami berjalan lagi menyusuri taman hijau nan luas itu, hingga kaki kami mencapai jarak yang cukup dekat dengan tepian danau. Sinar matahari senja terpantul indah di air danau tersebut. Tenang dan sejuk. Mungkin dua kata ini yang tepat untuk menggambarkan danau sejernih dan sedamai itu. Aneh, untuk kesekian kalinya aku merasa pernah berada di pinggiran danau itu bersama seseorang.
“Yah, berhenti kau!”
Aku menoleh ke belakang ketika terdengar suara teriakan seorang laki-laki. Jauh di belakangku, ada dua anak remaja dengan seragam sekolah tengah berkejaran. Si anak laki-laki, dengan menuntun sepedanya, kesusahan mengejar anak perempuan yang mengayuh sepedanya sendiri serta mengibarkan secarik kertas di tangan kirinya.
“Kau membuat ban sepedaku bocor dan sekarang mau meninggalkanku? Yah!”
“Salah siapa kau mendapat nilai ujian bagus! Kau tidak setia kawan!”
Mereka.. Mereka berdua mengingatkanku akan diriku sendiri dan Jonghyun. Wajah mereka juga terlalu mirip dengan wajahku dan Jonghyun saat usia kami tiga belas tahun.
“Aku akan membakar kertas ini nanti!”
“Yah, Im Yoona!”
Yoona? Remaja perempuan itu juga memiliki nama yang sama denganku? Ataukah itu memang aku?
Si anak laki-laki akhirnya berhasil menghentikan sepeda si anak perempuan. Ia merebut kertas –yang kuyakin adalah kertas ujian miliknya- yang ada di tangan Yoona.
“Dasar bodoh! Apa yang mau kau lakukan tadi?!” marah si anak laki-laki.
“Kau..bilang aku bodoh, Jonghyun?”
Jonghyun? Anak itu juga bernama Jonghyun?
“A..ani.. aku..” Anak laki-laki itu terlihat panik karena menyadari ia telah salah bicara. “Yoona, maksudku..”
“Oh. Aku memang bodoh. Aku tak sepertimu yang hari ini mendapat nilai sempurna untuk ujian Matematika! Aku memang bodoh, kenapa kau mau berteman denganku? Kenapa kau tak berteman saja dengan Jin Ah, hah?!”
Yoona melempar sepedanya ke tanah lalu berlari meninggalkan Jonghyun dengan air mata mengaliri pipinya. Sementara Jonghyun sendiri hendak mengejar Yoona tapi ia tersandung kakinya sendiri sampai tersungkur di tanah. Karena kakinya yang terkilir, ia tak dapat mengejar Yoona.
“Lee Jonghyun bodoh!” marah anak laki-laki itu pada dirinya sendiri. Ia memukuli kaki dan kepalanya, lalu meremas dan melempar kertas ujiannya.
“Seharusnya aku tak berusaha mendapat nilai sempurna hanya untuk mendapatkan gitar dari appa! Dasar bodoh!”
Jika mereka adalah Jonghyun dan Yoona..apakah yang kulihat ini adalah masa lalu kami? Jika benar, apakah selama ini Jonghyun mendapat nilai buruk hanya karena menjaga perasaanku? Apakah semua yang kulihat sedari tadi adalah.. Tapi kenapa? Kenapa aku melihat semua ini?
“Di atas bukit itu..” Pria itu membuatku mengalihkan pandanganku padanya. Sama seperti sebelumnya, ia tengah tersenyum.
“..ada rumah milik kawanku.”
Apa yang akan terjadi jika aku kesana? Apakah aku akan melihat orang-orang yang mirip denganku lagi? Aku tak mau kesana. Aku takut.
“Jangan takut.” Pria itu mengusap kepalaku, sesuatu yang membuatku tenang. Setenang sentuhan ayah yang lama tak kurasakan.
“Kau mau berkunjung kesana?”
Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Tak mendapat perlawanan dariku, maka ia mengajakku berjalan ke atas bukit di dekat danau tersebut. Hari menjadi gelap saat kami sampai disana. Di sana kulihat sebuah rumah begitu mirip dengan rumahku saat ini, rumah ayah tiriku.
“Awas.” Pria di sampingku menarikku ke belakang untuk menghindari motor sport yang tiba-tiba lewat di depan kami.
Aku melihat ke arah motor putih itu yang kini sudah cukup jauh. Pengendara motor itu, dan motor itu sendiri, mengingatkanku pada sosok Jonghyun. Apa mungkin yang akan kulihat sekarang adalah aku di masa kini?
“Anak berandalan. Tidak tahu aturan. Dan kau sudah tertular sikap buruknya.”
Aku menoleh ke halaman rumah. Kulihat mereka yang ebgitu mirip dengan ayah tiriku, ibuku, Jin Ah, Kibum, dan..aku. Aku tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Pasti kejadian saat aku tak pulang dua hari karena berada di makam ayah.
“Dari mana saja kau, Yoona? Tidak pulang dan berkeliaran bersamanya? Umma sungguh kecewa padamu. Umma tidak akan membelamu. Terserah pada appa jika ia ingin menghukummu.”
Aku menggigit bibir bawahku. Apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa aku melihat kejadian ini lagi?
“Tindakanmu sudah kelewat batas, Yoona. Tidak pulang dua hari, dan baru kembali tengah malam begini. Mau jadi apa kau ini? Nilai di bawah rata-rata tapi malah berkeliaran tidak jelas. Jangan harap appa akan iba karena berandalan itu mengatakan kau sakit. Jangan harap appa tidak akan menghukummu hanya karena kau memasang raut pucat seperti itu. Malam ini, kau tidur di luar. Renungkan kesalahanmu!”
“Appa, Yoona sedang sakit. Badannya panas. Ia pasti de..”
“Diam Jin Ah! Appa perlu menghukumnya untuk mendidiknya!”
“Tapi Yoona benar-benar sakit, appa.”
Jika malam itu aku tak bisa menerima sepenuhnya apa yang mereka bicarakan, kini aku bisa mendengar dan melihat dengan jelas. Jin Ah merangkul bahuku –aku yang berada disana-, menyanggaku yang terlihat lemas. Ia hampir menangis saat memohon pada ayah tiri kami.
“Appa bisa menghukumnya besok. Jangan malam ini.”
Aku berganti menatap Kibum. Ia terlihat sama cemasnya meski nada bicaranya terdengar tenang.
“Diam! Tidak ada yang boleh membantah. Kecuali kalian juga ingin appa hukum.”
“Tapi, appa..”
Ibuku memotong ucapan Jin Ah dengan memaksanya untuk melepaskanku. Ia menyeret Jin Ah masuk ke rumah setelah membuatku terduduk di tanah karena tidak sanggup berdiri. Kemudian Kibum setengah berlari menghampiriku. Dan ayah tiriku kembali membentaknya.
“Kibum, masuk!”
Kibum mengangkatku lalu mendudukkanku pada kursi kayu di teras. Ia tidak mempedulikan teriakan marah dari ayahnya sendiri.
“Ia demam. Jika sesuatu terjadi padanya, appa akan menyesal.”
Dan kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah, meninggalkanku di teras menggigil sendirian. Hatiku merasakan sakit yang sama seperti dulu. Aku ingin berlari dari tempat ini melihat diriku sendiri yang diperlakukan seperti itu.
“Tunggu dulu.” Ucap pria di sampingku, seolah mengerti apa yang kupikirkan.
Aku ingin bertanya kenapa, tapi ia lebih dulu menunjuk ke arah rumah. Aku menuruti arah telunjuknya dan kulihat pintu utama rumah membuka. Kibum dan Jin Ah. Mereka keluar dan menolongku. Kibum mengangkatku yang tak sadarkan diri dan membawaku masuk. Jin Ah mengikuti di belakang kemudian menutup pintu.
“Ayo.” Ucap pria itu membuatku kembali menoleh padanya.
“Tapi..” Aku takut untuk masuk.
Pria itu tersenyum padaku dan mengajakku masuk ke rumah. “Tidak apa.”
Tak bisa menolak, aku aku pun menuruti perintahnya. Kami masuk ke rumah tersebut. Tepat setelah menutup pintu, aku dikejutkan dentang keras, seperti lempengan yang jatuh ke lantai. Tanpa perintah, kakiku melangkah sendiri ke arah dapur. Menemukan pemandangan di dapur, aku tersentak kaget. Jin Ah tengah memegangi tangan kanannya yang basah dan berwarna kemerahan. Di lantai, tergeletak baskom dari aluminium dan di sekitarnya terdapat kubangan air dengan asap yang sedikit mengepul.
“Ah..”
Kudengar rintihan sakit dari Jin Ah. Ia menggigit bibirnya untuk meredam teriakannya. Beberapa detik kemudian Kibum masuk ke dapur dengan sepotong handuk putih. Ia terkejut saat melihat keadaan Jin Ah.
“Kau terkena air panas? Sudah kubilang biarkan aku yang melakukannya.”
“Aku tidak apa-apa, oppa.” Jin Ah mengambil handuk dari tangan Kibum dan memungut baskom.
“Aku juga ingin merawat Yoona.” Lirihnya.
Ia..ingin merawat Yoona. Merawatku.. Aku mengusap dadaku yang tiba-tiba merasa sesak.
“Baiklah.” Kibum menghela nafas. “Tapi setelah aku mengobati lukamu.”
Jin Ah mengangguk. Mereka berdua keluar dari dapur. Sedangkan aku masih berdiri mematung di sini. Jadi luka kemerahan yang kulihat di tangan Jin Ah saat itu, karenaku? Karena ia ingin merawatku?
“Yoona..”
Aku mendapati seseorang menggenggam tanganku. Ia mengajakku keluar dari dapur, menuju kamar ibu dan ayah tiriku yang berada di lantai satu dekat anak tangga. Ia membuka pintu kamar, memperlihatkan sepasang suami istri yang tengah duduk berdampingan di tepi tempat tidur dan membelakangi kami.
“Aku khawatir padanya.” Ucap ibuku dengan diikuti helaan nafas.
Ayah tiriku merangkulkan tangannya ke pundak ibu. “Percaya padaku, Kibum dan Jin Ah akan membawanya masuk. Kita melakukan ini untuk mendidik Yoona.”
“Bagaimana jika ia memang sakit? Aku mencemaskannya..”
“Jin Ah pasti akan merawatnya. Kau yang bilang sendiri padaku kalau kita harus mengerasi Yoona. Terkadang ada anak yang perlu dididik dengan keras. Aku juga mengalami itu dulu. Aku dipukul ayahku setiap hari sementara hyungku tidak. Karena aku nakal, tak sepertinya.”
Ibuku mengangguk. “Kuharap Yoona tak apa-apa.”
“Tentu. Ia anak yang kuat. Kau yang mengatakan itu.”
“Oh. Ia anak yang tak pernah sakit, berbeda dengan Jin Ah.”
Aku menggigit bibir bawahku mendengar itu. Aku berjalan mundur dan tanpa sadar berlari meninggalkan rumah tersebut. Kenapa? Kenapa aku melihat semua ini? Kenapa aku mendengar semua yang berkebalikan dengan apa yang kupikir selama ini? Kenapa..
Seseorang menarik tanganku, menghentikan berlari. Ia berdiri di hadapanku dan menyentuh bahuku. Dan aku yakin ia adalah pria itu, pria yang mirip ayah. Aku mendongak untuk menatap wajahnya. Mataku membulat saat melihat wajah pria itu perlahan berubah dari sebelumnya, menjadi wajah ayah yang terakhir kali kulihat. Wajahnya saat aku masih berusia delapan tahun. Bukan lagi wajah pria muda seusia Maiden, tapi ayahku sebelum meninggalkan kami, pria dewasa berusia hampir kepala empat. Mungkinkah ia..appa?
Pria itu mengangguk. “Ini appa, sayang.”
Seketika air mataku mengalir. Aku memeluknya erat. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Kurasakan tangannya mengusap kepalaku selagi membalas pelukanku.
“Maaf membawamu berjalan-jalan terlalu lama.” Ayah melepas pelukan kami. Ia menghapus air mataku dan tersenyum padaku.
“Sekarang pulanglah, sayang. Banyak yang harus kau selesaikan.”
Aku menggeleng. Aku tidak mau berpisah dengan ayah. Aku tidak mau..
“Ayah akan mengunjungimu lagi, suatu hari nanti.”
Ia mencium keningku dan tiba-tiba semuanya menjadi silau karena cahaya yang begitu terang.
7———–
Author POV –
Yoona terbangun dari tidurnya dengan raut terkejut. Wajahnya berubah menjadi sedih setelah menyadari bahwa yang dialaminya hanyalah mimpi.
“Appa..”
Ia menyadarkan punggungnya pada dinding. Memeluk gulingnya, ia kembali menangis. Ia merindukan ayahnya. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan selama ini pada orang-orang di sekitarnya karena mimpi itu. Ia merasa bersalah pada ayahnya.
“Appa pasti kecewa padaku..” lirihnya.
7———–
Mimpi aneh tentang ayahnya membuat Yoona terjaga sepanjang malam. Banyak yang menggelayuti pikirannya. Trauma karena Seung Hyun, ketakutan karena memikirkan Jonghyun, dan mimpi yang baru saja ia alami yang membuatnya sangat amat menyesal. Sampai fajar hampir datang, Yoona masih duduk termenung dalam kamarnya yang gelap. Di sisi tempat tidurnya yang kosong, duduk Maiden tanpa ia sadari.
“Ayahmu saja tak tenang melihatmu dari surga. Ia susah payah mendatangimu dalam mimpi hanya untuk menyadarkanmu.” kata Maiden.
Tatapan sesal dan iba tergambar dari kedua mata malaikat itu. Ia mengusap ujung kepala Yoona, membuat gadis itu menoleh ke arah Maiden secara tiba-tiba. Tapi tentu Yoona tak dapat menemukan siapapun disisinya.
“Aku juga menyayangimu seperti ayahmu menyayangimu. Aku juga tak ingin kau melukai ataupun terluka sendiri, Yoona.”
7———–
Yoona POV –
Setelah mimpi aneh itu, aku terjaga sampai pagi benar-benar tiba. Aku terhenyak ketika Kibum tiba-tiba masuk ke kamarku dengan nampan di tangannya.
“Aku..tidak bisa mengetuk pintu.” Ujarnya sedikit canggung lalu menempatkan nampan itu di meja samping tempat tidur.
Aku melirik ke meja samping. Setangkup roti panggang dan segelas susu cokelat bertengger manis di sana. Aku beralih memandang Kibum yang kini duduk di tepi tempat tidur. Menatap kedua matanya, entah kenapa aku menemukan kehangatan dan ketulusan disana.
Kenapa kau baik padaku, Kibum? Kenapa kau membuatku sangat merasa bersalah?
“Umma menginap di rumah sakit. Aku tak bisa memasak, jadi hanya itu yang bisa kubuat. Kalau kau tak suka..”
“Terima kasih.” Potongku, takut ia salah paham karena raut datarku.
Kibum mengangguk. “Kau sudah baikan?”
Kurasa yang Kibum maksud dengan ‘kau sudah baikan’ adalah pertanyaan kiasan dari ‘kau tak takut lagi setelah hampir ditiduri Seung Hyun’? Tiba-tiba bayang-bayang kejadian menjijikan itu berputar kembali di pikiranku. Kejadian itu begitu mengerikan. Sangat menakutkan. Membuatku tiba-tiba takut untuk bangun dari tempat tidur ini. Takut jika dunia tahu apa yang hampir terjadi padaku. Takut jika kejadian seperti itu akan terulang lagi. Jika..
“Jangan takut.” Kata Kibum seolah dapat membaca pikiranku. Ia menepuk pelan kakiku yang terbujur di sisinya dan terbungkus rapat oleh selimut.
“Aku akan menjagamu.”
Aku menatap wajah Kibum. Aku teringat lagi pada mimpiku. Kibum yang saat itu membelaku di depan ayah tiriku dan juga membawaku masuk ke rumah. Tuhan..kenapa hatiku tibat-tiba merasa berat? Orang yang pernah ingin kulenyapkan nyatanya selalu bersikap baik padaku.
“Aku tak mengatakan apapun pada orang tua kita. Kau tak perlu khawatir.”
Ia bahkan memikirkan perasaanku dan orang tua kami. Memikirkan perasaan orang lain. Sesuatu yang tak pernah terlintas di kepalaku selama ini. Tuhan..sejahat itukah aku selama ini?
“Yoona, maaf aku harus ke rumah sakit. Aku tak akan lama. Kunci rumah jika..”
“Menjenguk Jin Ah?” potongku tanpa sadar.
Kibum mengangguk ragu. Ia seperti merasa bersalah karena meninggalkanku untuk menjenguk Jin Ah di rumah sakit. Jin Ah.. Dalam mimpi itu aku juga melihat bagaiman besarnya kasih sayang Jin Ah padaku. Ia berusaha menyembunyikan kertas ujiannya untuk menjaga perasaanku. Ia juga membelaku dan merawatku sampai-sampai melukai dirinya sendiri. Tuhan..sebesar apa kesalahan yang kulakukan pada Jin Ah? Begitu kejamkah aku padanya?
“Maaf. Tapi aku harus ke..”
“Bolehkah aku..” Aku memotong ucapan Kibum lagi. Dengan wajah tertunduk, kulanjutkan ucapanku meski merasa malu dan bersalah.
“..ikut menjenguknya?”
Hening. Tak ada jawaban yang kunjung terdengar, aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku. Entah ini nyata atau sekedar halusinasi, karena yang kulihat Kibum tengah tersenyum dan menatapku dengan berbeda.
“Tidak..bolehkah?” tanyaku, tak yakin dengan reaksi Kibum. Mungkin aku tak pantas menemui Jin Ah. Bukahkah aku selalu bersikap jahat padanya selama ini?
Mendadak sepasang lengan menarikku dalam pelukannya. “Jin Ah pasti senang melihatmu datang.”
“Terima kasih, Yoona.. Terima kasih.”
7———–
Author POV –
Sementara Kibum dan Yoona bicara di kamar, dua sosok lainnya menyimak dengan baik pembicaraan mereka. Jin Ah dan Maiden. Jin Ah melayang membelakangi pintu balkon, sedangkan Maiden berbaring di sisi tempat tidur yang kosong.
Saat terlontar keinginan Yoona untuk ikut menjenguk Jin Ah di rumah sakit, Jin Ah terlihat terkejut, ragu, bahagia, sekaligus terharu. Ia tak tahu pasti apa yang dirasakannya. Atau mungkin ia juga tak tahu apa yang dirasakan saudara kembarnya sampai mengatakan itu. Sedangkan si malaikat yang dapat mendengar suara hati Yoona, hanya memasang senyum kecil.
“Kalau kau punya air mata, aku yakin kau saat ini sudah menangis.” ucap Maiden setelah berpindah ke sisi Jin Ah.
Jin Ah menoleh pada malaikat yang jauh lebih tinggi darinya itu. Ia menatap Maiden dengan sendu. Seperti yang dikatakan Maiden, ia tentu akan menangis sejadi-jadinya jika air mata dimiliki oleh roh.
“Maiden, apakah ini berarti Yoona menerimaku? Jika Yoona mau menjengukku di rumah sakit, apa berarti ia tak lagi membenciku?”
Maiden tersenyum. “Kuharap juga begitu.”
Jin Ah tersenyum, senyum yang jauh berbeda dari senyuman yang biasanya ia tunjukkan pada orang di sekitarnya. Senyum yang mewakili hatinya yang tengah berkata ‘Kalaupun aku tak akan hidup lagi setelah ini, aku tak akan pernah menyesalinya.’
7———–
Yoona POV –
Aku dan Kibum telah sampai di rumah sakit. Ketika sampai di lobi, Kibum tiba-tiba saja berkata padaku kalau ada yang harus ia lakukan sehingga terpaksa meninggalkanku sendiri. Ia memberitahuku dimana kamar Jin Ah dan berjanji padaku akan segera menyusul kesana setelah ini. Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas ia terlihat terburu-buru. Karena kelihatannya sangat penting, dan karena aku juga tak mau lebih merepotkannya, maka aku hanya mengiyakan saja. Begitu Kibum meninggalkanku, aku berjalan masuk ke lift. Kupijit tombol enam, seperti kata Kibum, kamar Jin Ah ada di lantai enam. Saat mencapai lantai 3, pintu lift terbuka. Mataku terbelalak ketika melihat seseorang yang kukenal, berdiri persis di depan lift dengan baju pasien.
“Jonghyun-ah..” suaraku terdengar aneh, kurasa karena aku terlalu kaget melihat Jonghyun berada di rumah sakit dengan perban di kepala dan kakinya, serta lebam dan goresan luka di wajahnya.
Jonghyun menatapku datar. Tanpa membalas ucapan kagetku, ia melangkah masuk dan memunggungiku. Ada apa dengannya? Apa ini karena pertengkaran kami di klub saat itu? Apakah ia terlalu marah sampai tak mau bicara denganku atau bahkan menatapku? Tunggu, apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa ia terluka seperti itu?
“Kenapa..” aku menjajarkan tubuhku dengannya, dan memandangi lukanya. “..kau bisa terluka?”
Jonghyun melirikku. Dari raut wajahnya aku tahu kalau ia merasa terganggu dengan pertanyaanku.
“Berkelahi.” Jawabnya dengan ketus.
Berkelahi? Sampai separah ini? Aku tak pernah melihatnya terluka begini parah meskipun kudengar ia berkelahi beberapa kali.
“Mm..bagaimana keadaanmu?” tanyaku sedikit takut.
Jonghyun mendelik. Ia terlihat marah. Semarah itukah ia padaku?
“Jonghyun-ah..” Aku sempat menghindari tatapan tajamnya karena terlalu takut.
“Kau..marah padaku?” lanjutku ragu-ragu.
“Menurutmu aku tak akan marah?” balasnya sebelum keluar dari lift.
Lantai enam. Aku baru menyadari kalau Jonghyun juga akan ke lantai enam. Aku berjalan mengikutinya di belakang. Beberapa kali ia sempat menoleh ke arahku dan memutar bola matanya. Tapi aku terus mengikutinya, bukan hanya karena ingin bicara dengannya tapi juga karena tempat tujuan kami yang kurasa sama.
“Aish..aku bisa gila.” Gerutu Jonghyun selagi memutar badannya menghadapku.
“Hei nona, sebenarnya apa yang kau mau dariku?”
Kugigit bibir bawahku. Bahkan menyebut namakupun ia tak mau. Ia pasti sangat membenciku karena ucapan kasar di klub malam itu.
Aku menundukkan kepala, memilih memandangi lantai daripada tatapan marah Jonghyun. “Kau sungguh marah padaku?”
“Tentu saja aku marah!” Jonghyun mendengus selagi berjalan mendekatiku.
“Kenapa kau mengikutiku? Apa saking kurang kerjaan kau menggangguku?”
“Maaf..aku hanya..”
“Nona, tidak bisakah kau melihat wajahku kalau sedang bicara?”
Kuangkat kepalaku begitu Jonghyun menyelesaikan ucapannya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menggeleng heran.
“Kutanya sekali lagi, ada perlu apa kau denganku?”
Aku menggeleng. Aku tak bermaksud mengganggunya, tapi jika aku menyangkal aku takut Jonghyun akan semakin marah.
“Kau bicara padaku dengan menggunakan banmal. Kau bersikap sok kenal padahal kita baru pertama kali bertemu. Dan apa sekarang? Kau mengikutiku? Apa yang kau mau nona? Katakan padaku apa yang kau inginkan?”
Aku terdiam. Terkejut. Terlalu terkejut pada kalimat yang terlontar dari bibir Jonghyun. Ia tak mengenaliku? Ia tak tahu siapa aku? Apa yang terjadi? Oh! Jangan-jangan.. Tidak..itu tidak boleh. Tolong katakan padaku ini hanya halusinasiku..
“Nah, sekarang kau diam lagi. Sudahlah, aku harus menjenguk temanku.” Jonghyun berjalan meninggalkanku. Sebelum jauh, ia memutar tubuhnya menghadapku.
“Sekali lagi kukatakan, jangan ikuti aku.”
7———–
Author POV –
Saat Kibum dan Yoona sampai di lobi rumah sakit, Kibum sekilas melihat sosok Grasella berdiri di halaman luar. Karena itulah Kibum memutuskan untuk mencari Grasella. Ia meminta Yoona lebih dulu ke lantai atas sedangkan ia sendiri berlari ke luar gedung rumah sakit. Ia menyusuri taman, tempat parkir, dan ke seluruh tempat di luar gedung untuk menemukan Grasella. Ada bisikan di hatinya yang mendorong untuk mencari gadis yang tak sempat ia tanyakan namanya itu. Bukan karena kata terima kasih yang lupa ia ucapkan kemarin, tapi juga rasa yang ia tak tahu pasti.
Sementara Kibum sibuk mencari, yang dicari justru diam mengamati. Dari atap gedung perkantoran yang berada di seberang rumah sakit, Grasella duduk menggantungkan kaki di udara. Ia menatap sedih sang kakak yang berada di kejauhan. Ia ingin bertemu dan berbicara pada Kibum, sama seperti yang diinginkan Kibum. Tidak, bahkan jauh berkali lipat dari keinginan Kibum. Tapi sekali lagi, ia tak cukup punya keyakinan dan keberanian untuk melakukan itu. Apa yang harus dikatakannya nanti? Apa yang harus dijelaskannya nanti? Haruskah ia berbohong? Atau haruskah ia berkata jujur?
“Sekali saja, beri aku kesempatan untuk bertanya. Sekali ini saja..” kata Kibum di antara keputusasaannya mencari Grasella.
Dengan kekuatan malaikat yang Grasella miliki, jelas ia mendengar ucapan Kibum meski jarak mereka berjauhan. Ia mengalihkan pandangannya ke sisinya yang kosong. Grasella tersentak ketika Maiden tiba-tiba Maiden muncul di sana.
“Kau tuli?”
Grasella memalingkan wajahnya, kembali melihat Kibum di kejauhan. “Akan lebih baik jika tuli.”
“Lucu. Kau jelas mendengarnya tapi tak mau menemuinya.”
“Mendengar yang ia katakan bukan berarti menuruti keinginannya.”
“Keinginanmu juga.”
“Tsk. Ini tak semudah yang kau pikirkan, Maiden.”
“Kenapa? Apa begitu sulit hanya sekedar bicara dengannya?”
“Tak sulit jika aku masih hidup. Apa kelihatannya masuk akal jika aku menjelaskan padanya bahwa aku, adiknya yang bernama Kim Jiyoung, sudah mati?”
“Kau memang sudah mati, Grasella. Sudah bagus kau mendapat kesempatan menjadi malaikat tujuh permintaan sementara untuk menyelesaikan urusan duniamu.”
Grasella menggigit bibir bawahnya ketika Kibum akhirnya masuk kembali ke gedung rumah sakit. “Seandainya..aku tak mengejar surat beasiswa yang terbawa angin itu dan tak ada sopir bus bodoh yang menabrakkan busnya pada tubuhku.”
Maiden tertawa sinis. “Menyesali kematianmupun tak akan membuatmu hidup lagi.”
“Kau tak tahu rasanya mati, Maiden. Kau tak tahu rasanya meninggalkan orang-orang yang kau sayangi.” Grasella menatap tajam pada malaikat di sampingnya. “Kau tak tahu apa-apa.”
“Oh.” Maiden membalas tatapan Grasella. “Lalu kau tahu rasanya menjadi makhluk immortal yang dibuang dari dunianya? Kau tahu rasanya membuat manusia yang dilindunginya berdiri di tepi jurang karena permintaan-permintaan yang ditawarkannya sendiri? Kau tahu rasanya hanya bisa melihat seseorang itu terjun ke jurang tanpa bisa mengulurkan tanganmu untuk menolongnya?”
Grasella terkesiap. Ia bisa merasakan sakit yang disimpan Maiden dalam kalimat yang terdengar ketus. Malaikat yang terlihat tangguh dan seenaknya itu, kali ini berhasil menggerakkan hatinya.
“Aku tak mengatakan ini untuk membuatmu kasihan atau membuatku terlihat malang. Aku hanya tak ingin membuat kau menganggap dirimu sebagai makhluk yang paling menderita. Aku hanya ingin agar kau percaya bahwa kesempatan dan harapan selalu ada.”
Grasella menunduk. Ia menyadari kekeliruannya berpikir. Maiden benar, ia bukan satu-satunya yang menderita di dunia. Setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk menyelesaikan urusannya, tidak seperti arwah lain.
“Bukankah aku pernah mengatakan ini? Manusia bukan makhluk lemah. Mereka bisa berdiri dalam badai dengan kedua kakinya sendiri.”
“Jangan menjadi drama queen..” Maiden menepuk bahu Grasella. “..Jiyoungie”
7———–
Yoona POV –
Jonghyun melupakanku. Seperti yang kumau, seperti yang kuminta, sahabatku berhenti menggangguku dan melupakanku. Maiden benar-benar berhasil mengabulkan semua permintaanku. Tak ada lagi Jin Ah, tak ada lagi Jonghyun, tak ada lagi Maiden, persis seperti yang kumau.
Aku..aku membuat mereka pergi. Keinginan bodoh itu..permintaan bodoh itu..telah membawa mereka meninggalkanku. Aku..aku yang membuat semua ini terjadi.
Kedua lututku mendadak terasa lemas sampai tak bisa menyangga tubuhku untuk tetap berdiri. Aku duduk tersungkur di lantai dengan pandangan kosong dan tangan bergetar.
Jonghyun melupakanku. Sahabatku yang selalu menjagaku dan melindungi kini melupakanku. Meninggalkanku seperti yang kumau. Aku yang membuangnya. Ia melupakanku..
“Ia..melupakanku..”
7———–
Author POV –
Dengan raut kecewa, Kibum kembali ke dalam gedung rumah sakit. Ia menuju kamar Jin Ah, seperti yang ia janjikan pada Yoona sebelumnya.
Keluar dari lift setelah mencapai lantai enam, pemandangan di lorong membuatnya terkejut. Yoona terduduk lemas disana, membuatnya berlari menghampiri.
“Yoona-ya, apa yang terjadi?” tanya Kibum penuh rasa cemas. Ia semakin cemas karena menyadari adiknya tengah menangis. Ia memeluk Yoona, berharap itu dapat menenangkannya. Rasa bersalah karena telah meninggalkan Yoona memenuhi hatinya meski ia tak tahu apa yang terjadi.
“Jangan menangis, aku ada disini.”
Kibum berusaha menenangkan Yoona sebisanya. Ketika Yoona sudah terlihat lebih tenang, Kibum mengajaknya duduk di kursi depan ruang perawatan Jin Ah.
“Tidak apa-apa. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku ada disini.” Ucap Kibum untuk kesekian kalinya. Ia menepuk-nepukkan tangannya yang melingkar di bahu Yoona. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Yoona. Ia tak tahu apa yang terjadi, ia juga tak berniat mendesak Yoona untuk bercerita. Ia hanya ingin Yoona tahu bahwa ia ada disana, untuk menjaganya dan mendengarkannya. Sesuatu yang selama ini hanya berani ia lakukan pada Jin Ah.
“Ia..” Yoona memandang Kibum dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Kibum menunggu Yoona menyelesaikan ucapannya. Tak memburu gadis itu, karena membuka mulut saja ia rasa sudah sangat berat bagi Yoona.
“Ia..” air mata Yoona kembali mengalir, membuat Kibum kabur di matanya. Yang ia tahu, detik berikutnya Kibum kembali memeluknya. Dan pelukan itu yang membuatnya mampu bicara.
“Ia..melupakanku.”
Seketika tangan Kibum berhenti mengusap bahu Yoona. Ia melepaskan pelukannya, menatap wajah Yoona yang penuh air mata. Terkejut karena adiknya itu tahu tentang Jonghyun, sekaligus merasa bersalah karena tak memberi tahunya lebih dulu.
“Jonghyunnie..ia..melupakanku..”
Kibum kembali memeluk Yoona, mendekapnya hanya untuk mengurangi kesedihannya. “Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Janji Kibum yang ia yakin tak akan bisa diwujudkannya pada Yoona.
Roh Jin Ah yang sebenarnya juga berada di dekat Kibum dan Yoona, hanya bisa menatap iba. Ia ikut merasa sedih atas apa yang menimpa saudara kembarnya itu. Jika saja ia bisa melakukan sesuatu untuk mencegah Yoona meminta hal itu, tentu sudah ia lakukan. Tapi ia hanya roh. Arwah yang tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanya berharap. Berharap Jonghyun tak selamanya melupakan Yoona.
“Jangan menangis, Yoona.. Jangan menangis lagi..”
7———–
Yoona POV –
Setelah aku benar-benar telah tenang, Kibum mengajakku ke kamar Jin Ah. Aku sempat menolak karena aku tahu Jonghyun ada disana. Namun tak lama kemudian Jonghyun keluar, hampir bersamaan dengan ibuku yang ternyata juga ada disana. Mereka bisa akur di dalam? Oh bagaimana mungkin otakku masih sempat berpikir kesana. Pada Kibum, ibu berkata ia akan ke ruang dokter sebentar sehingga lebih dulu meninggalkan kami bertiga. Sedangkan Jonghyun, ia bertegur sapa dengan Kibum, tapi tidak denganku. Aku menunduk terus sampai Jonghyun berlalu dari hadapanku dan Kibum.
“Yoona, masuklah lebih dulu.” Kata Kibum sembari menuntunku menuju pintu kamar Jin Ah.
“Aku..mm..akan menyusul umma.” Tambahnya seperti dapat membaca raut wajahku yang tengah bertanya ia akan kemana.
Aku mengangguk lesu. Bukan, bukan karena akan ditinggal pergi lagi oleh Kibum, tapi karena setengah dari jiwaku serasa melebur setelah bertemu Jonghyun.
Kibum membuka pintu untukku dan menyuruhku masuk. Aku menoleh sedikit ke belakang bersamaan dengan Kibum menutup pintu. Tanpa sadar, aku memutar kepalaku ke depan, menemukan seseorang yang terbaring lemah di bawah selimut khas rumah sakit.
Lama aku terpaku di tempatku berdiri. Dengan tatap mata kosong, dan dengan nafas tertahan. Disana. Ia ada disana, dengan kedua matanya yang terpejam rapat. Ia ada disana, diam tak bergerak dan tak bicara. Seperti yang kumau, seperti yang kuinginkan. Nenek sihir itu lenyap seperti permintaanku. Ia..hilang dari kehidupanku..
Jin Ah..
Aku membuat saudaraku sendiri seperti ini. Saudara kembar yang saat kecil selalu kubela dan kulindungi. Saudara kembar yang membuatku iri saat kami dewasa. Aku hampir membunuhnya.. Aku melukainya..
Jin Ah..
Tak secuilpun kata yang mampu meluncur dari bibirku. Tak seinchipun kakiku berani melangkah untuk mendekatinya. Hanya buliran air mata yang bersikukuh mengalir. Hanya kedua kaki ini yang bersikeras berlutut di hadapan tempat tidurnya.
Maaf.. Maaf..
7———–
Author POV –
Ketika Yoona masuk ke ruang perawatan Jin Ah, roh Jin Ah ikut masuk bersamanya. Jin Ah tersenyum sembari menggerakkan tangannya seolah sedang mengusap air mata Yoona. Tidak, bukan karena ia jahat maka ia tersenyum melihat Yoona menangis. Tapi karena ia tersentuh. Baru kali ini. Hanya sekali ini, ia melihat kakak kembarnya itu menangis untuknya, bukan menangis karenanya.
“Kau..tak lagi membenciku..”
7———–
Setelah mengantar Yoona ke kamar Jin Ah, Kibum berlari menyusul Jonghyun. Beruntung, Jonghyun masih berada di sekitar situ. Ia duduk di kursi tunggu. Kibum hendak menghampirinya, bermaksud untuk membicarakan tentang Yoona. Tapi langkah Kibum terhenti ketika ia melihat sosok Grasella tiba-tiba muncul di samping Jonghyun. Meski terkejut, Kibum tak berteriak, ia justru bersembunyi dan mengintip dari balik dinding. Hatinya berkata ia harus mendengar apa yang mereka bicarakan walaupun itu berarti ia melanggar etika.
Dan karena, sekali lagi, Grasella tidak dapat merasakan aura manusia seperti malaikat murni, maka ia tak tahu bahwa Kibum tengah mengintipnya dan Jonghyun.
7———–
“Jonghyun-ah, bagaimana ke..”
“Yah, kau mengagetkanku!” Jonghyun memundurkan badannya sembari mengusap dada, pertanda ia hampir terkena serangan jantung karena melihat Grasella tiba-tiba.
“Huh?” Grasella menaikkan alis kanannya. “Kau saja yang tidak konsentrasi. Aku sudah muncul dari sepuluh, oh tidak, tiga belas detik lalu.”
“Kau menghitungnya?” tanya Jonghyun yang lebih lengkapnya berarti ‘Kau kurang kerjaan sampai menghitungnya?’
“Masalah?” balas Grasella tidak terima. Beruntung Jonghyun tak berniat membalasnya lagi.
“Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?”
“Apa perban-perban ini membuatku terlihat baik-baik saja?”
“Yah, kenapa setelah dihajar anak-anak itu kau jadi menyebalkan begini? Yang kumaksud adalah tentang ingatanmu.”
“Nah, kau sudah tahu bukan? Dokter berkata kalau aku terkena amnesia. Padahal aku mengingat semuanya dengan jelas. Namaku, keluarga, teman-temanku. Dokter itu tidak masuk akal.”
Grasella mengangguk-angguk, membuat Jonghyun kembali membuka mulutnya. “Kau juga berpikir kalau dokter itu tidak masuk akal?”
“Tidak.”
“Huh?”
“Kau tahu Im Yoona?”
“Kau juga kenal Im Yoona? Memangnya siapa gadis itu? Member baru SNSD atau apa?! Kenapa semua orang membicarakannya?!”
“Hm..sepertinya tak akan lama lagi giliranku datang.”
“Giliran apalagi sekarang?”
Grasella mengendikkan bahunya, lalu bangkit berdiri.
“Yah, mau kemana kau?”
“Jalan-jalan? Mencari kakakku? Kurasa.”
“Kakak?”
“Oh. Kenapa? Itu bukan urusanmu?”
“Aish..malaikat gila ini.. Terserah, itu bukan urusanku.”
“Apa kau bilang?!”
“Sudah sana pergi. Malaikat macam apa kau ini. Tidak membantu saat dikeroyok, baru datang menjenguk sehari kemudian, dan sekarang..sudahlah sana pergi.”
Grasella menendang kaki Jonghyun yang tertutup perban dengan sepatu bootsnya. Ia tertawa lebar karena rintihan sakit dari mulut Jonghyun.
“Rasakan.” Ucap Grasella kemudian menghilang.
7———–
Kibum menolehkan kepalanya menghadap ke depan setelah Grasella menghilang dan setelah Jonghyun pergi dari tempatnya semula. Bola matanya berputar, melihat ke banyak arah bersamaan dengan otaknya yang tengah menyerap hal paling tak masuk akal yang baru saja di terima telinganya. Untuk pertama kalinya, ia merasa semua bagian tubuhnya tak bekerja dengan baik. ‘Apa aku sudah gila?’ Adalah satu-satunya kalimat yang mampu digumamkan bibirnya. Beberapa menit kemudian, Kibum merasa otaknya telah kembali bekerja, menyadari apa yang baru saja dilihat dan juga didengarnya. Dan tiba-tiba saja ia tak lagi berminat untuk mencoba bicara dengan Jonghyun tentang Yoona. Hanya satu yang ingin ia lakukan, mencari Grasella dan memastikan siapa ‘kakak’ yang ia cari. Maka ia melangkah kaki, mencari sosok Grasella meski tak tahu harus mencari dimana.
‘Ia tak mungkin Jiyoungie, bukan?’ pikirnya.
7———–
Yoona POV –
Perlahan aku menguatkan diriku untuk kembali berdiri. Tanpa berani melihat Jin Ah lagi, aku pun pergi meninggalkan rumah sakit. Aku terlalu merasa bersalah. Terlalu merasa bersalah sampai aku tak berani menatap Jin Ah dan tak sanggup mengucapkan satu kata maaf padanya.
Aku menyusuri jalan pulang dengan langkah lesu dan wajah tertunduk. Air mataku tak henti mengalir. Kedua tanganku tanpa henti bergetar.
Tanpa sadar aku telah mencapai rumahku. Aku memasuki bangunan yang tiba-tiba terasa menyeramkan bagiku. Bagaimana jika rumah ini kehilangan satu penghuninya? Bagaimana..jika aku tak lagi melihat Jin Ah disini?
Menapaki anak tangga ketiga, sepasang mataku tak sengaja melihat ke arah ruang makan di sisi kanan. Disana, di ruang makan itu, aku melihat Jin Ah setiap pagi tersenyum menyambutku. Senyum yang baru hari ini kusadari begitu tulus. Senyum..yang baru kali ini kurindukan.
Aku kembali menapaki anak tangga dengan pandangan kabur karena air mata yang menggenang. Sampai di lantai dua, bukannya masuk ke kamarku sendiri, kakiku justru menuntunku masuk ke kamar Jin Ah. Kamar yang dulu selalu kulihat hanya dari luar tanpa niatan untuk memasukinya. Aku menghapus air mataku yang kembali mengalir. Duduk di tepi tempat tidur, kupandangi seluruh sudut ruangan yang bernuansa cokelat muda itu. Di meja belajar, kulihat dua bingkai foto berdiri di atasnya. Satu menunjukkan foto kami bersama ibu dan ayah kandung kami, sementara yang lainnya adalah foto bersama Kibum dan ayah tiri kami saat pernikahan mereka. Aku beranjak ke arah meja belajar. Kuusap foto Jin Ah kecil dalam bingkai pertama. Ia tersenyum ceria sementara kedua tangannya menggandengku dan ibu. Sama sepertiku, yang tertawa lebar sambil mendongak pada ayah yang juga menggandengku. Ayah..lagi-lagi aku teringat pada mimpi itu. Ia pasti kecewa padaku karena telah menyakiti Jin Ah. Bukankah aku seharusnya menjaganya seperti saat kami kecil dulu?
“Appa..” jemariku berganti mengusap foto wajah ayah. “..apa yang harus kulakukan?”
Menarik tanganku dari bingkai foto itu, tanpa sengaja aku menyenggol tumpukan buku di bagian sudut meja sampai menyerupai barisan domino yang terjatuh. Di antara buku-buku itu, ada satu yang menarik pandanganku. Buku berukuran besar dan tebal yang mempunyai warna kesukaan Jin Ah, merah muda, dengan tali pembatas yang memiliki bandul peri. Entah apa yang membuatku begitu lancang membuka buku yang sebelumnya kuyakin adalah buku harian milik Jin Ah. Tidak..aku salah. Ini bukan buku harian Jin Ah. Bukan tulisan-tulisan yang kulihat di dalamnya, melainkan sekumpulan sketsa. Aku menatap setiap lembar di buku itu. Gores-gores pena di setiap lembarnya, menceritakan tentang sepasang anak kembar yang tumbuh bersama dari mereka bayi sampai dewasa. Di bagian bawah halaman, selalu tertulis ‘Jin Ah dan Yoona’ sebagai pembuka kisah tiap sketsa. Dalam setiap sketsa, tak tergambar kesedihan atau amarah, yang ada hanya senyum cerah dan tatapan bahagia.
Air mataku tiba-tiba berjatuhan setelah memandangi buku sketsa itu. Aku merasakan sakit yang luar biasa karena marah dan kecewa pada diriku sendiri. Begitu besar sayang Jin Ah padaku sampai ia membuat kisah kami sendiri yang jauh berbeda dari kenyaataan yang ada.
“Maafkan aku..”
7———–
Author POV –
Setelah lelah mencari Grasella untuk kedua kalinya dalam sehari, Kibum pun menyerah. Jika Grasella memang malaikat, maka benar-benar mustahil baginya menemukan sosok itu lagi. Karena itu, Kibum memutuskan kembali ke dalam gedung rumah sakit. Ke dalam kamar Jin Ah lebih tepatnya. Ia terkejut saat melihat Yoona tak ada disana, hanya ibunya yang ia lihat tengah membersihkan tangan Jin Ah dengan handuk basah. Sempat pikiran Kibum melayang ke hal lain karena hal itu. Ibu tirinya menyayangi Jin Ah, jika tidak, tak mungkin ia repot-repot membersihkan tangan Jin Ah. Ia ingat betul dokter pernah berkata pada mereka bahwa mengajak bicara dan memberi sentuhan pada pasien yang mengalami masa koma dapat membantu kesembuhan pasien itu.
“Oh? Kibummie, kau sudah kembali.” Ucap ibu tirinya, mengembalikan Kibum pada kesadarannya.
“Dimana Yoona?”
“Yoona? Umma pikir kau baru kembali karena mengantar Yoona pulang.” Jawab sang ibu, menghentikan kegiatannya dan fokus menatap Kibum.
Melihat raut cemas –yang hampir tertutup nada datar- dari ibu tirinya itu, Kibum pun memutuskan untuk berbohong. “Mungkin ia berada di kamar Jonghyun.”
“Oh, baguslah.”
Bagus? Dahi Kibum mengernyit. Selain fakta bahwa ibunya memang menyayangi Jin Ah dan Yoona, ia juga mendapat fakta baru? Bahwa beliau tak membenci Jonghyun?
“Aku akan mengantar Yoona pulang.” Ucap Kibum. Setelah senyum dan anggukan dari beliau, ia pun berlalu meninggalkan kamar Jin Ah.
7———–
Entah beruntung, entah takdir, entah naluri yang menghubungkan mereka. Kibum dan Grasella justru bertemu di saat Kibum mencari Yoona di sekitar lobi rumah sakit sementara Grasella tengah duduk melamun di kursi tunggu. Melupakan niat awalnya untuk mencari Yoona, ia justru menghampiri Grasella. Grasella terperanjat dari tempat duduk saat melihat Kibum mendekatinya. Jika bukan karena banyak manusia di tempat itu maka sudah pasti ia menghilang dan meninggalkan Kibum.
“Kumohon jangan pergi lagi.” Ucap Kibum ketika mereka berhadapan.
Grasella mencoba menghindari tatapan Kibum karena ia takut Kibum mengenalinya. Aneh, bukankah sebelumnya ia bersedih karena kakaknya sendiri tak mengenalinya? Tiba-tiba saja ia merasa tak dikenali Kibum akan lebih baik daripada harus menjelaskan apa yang terjadi padanya jika Kibum mengenalinya. Di saat Grasella sibuk memandangi kakinya, Kibum tiba-tiba mengangkat dagunya sehingga kedua pasang mata mereka bertemu pandang. Dan tak sampai lima detik kemudian, bola mata Kibum membulat. Ia mengenali manik mata cokelat muda milik Grasella. Ia mengenali tatapan Grasella.
“Jiyoungie?”
Kibum menarik Grasella dalam pelukannya. “Jiyoung-ah..”
Grasella tak membalas pelukan Kibum. Ia ragu untuk membalas pelukan sang kakak.
“Aku mendengar pembicaraanmu dan Jonghyun.”
Perkataan Kibum membuat tangan Grasella yang semula ingin membalas pelukan Kibum, menjadi menggantung di udara.
“Apa yang terjadi, sayang?”
7———–
Yoona POV –
Aku menata kembali buku-buku Jin Ah yang kujatuhkan, setelah aku mulai sedikit tenang. Di antara buku-buku itu, sesuatu kembali menarik perhatianku. Kali ini adalah amplop-amplop yang kusut dan bahkan terdapat bekas hampir terbakar, yang tak sengaja menyembul keluar dari salah satu buku Manajemen milik Jin Ah. Terdapat satu amplop dengan logo universitas kami, yang terlihat paling kusut dibandingkan amplop lain, seperti telah diremas-remas. Sekali lagi, dengan sangat lancang, aku membuka barang yang bukan milikku.
“Surat beasiswa.. Kim Kibum..”
Aku menelan ludah. Sepotong-potong kata yang kuucapkan di setiap baris dengan suara lirih. Surat penawaran beasiswa ke Kanada untuk Kibum dari universitas kami. Bukankah beasiswa ini yang kurebut dengan memanfaatkan kekuatan Maiden?
“Maaf..”
Aku memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop dan meletakkannya ke atas meja. Dadaku sesak membaca surat itu. Seolah, memandangi surat beasiswa itu lebih lama dapat menghentikan oksigen mengaliri paru-paruku. Padahal aku bisa berucap dengan lantang saat menolak permohonan Jin Ah untuk melepaskan beasiswa tersebut.
Kemudian aku mengambil amplop berikutnya. Amplop berwarna biru muda tanpa alamat di bagian depannya. Membuka surat di dalamnya, aku lalu membaca isi surat yang ditulis tangan dengan rapi. Dadaku kembali sesak setelah menyelesaikan isinya.
Jiyoung, nama seorang gadis yang tertera di sudut kiri atas sebagai pembuka kalimat. Jiyoung, nama yang semula asing bagiku, namun kemudian kutahui sebagai adik Kibum setelah mencapai tiga kalimat berikutnya. Adik kandung Kibum yang tinggal bersama ibu mereka di Kanada, yang bertahun-tahun tak ia temui. Surat tanpa alamat ini, surat yang ditulis Kibum sekedar untuk meluapkan rasa bahagianya karena mendapat penawaran beasiswa ke Kanada, karena ia berhasil menepati janjinya pada adiknya untuk menyusulnya.
Aku memejamkan kedua mataku, sekali lagi, aku menangis menyesali kesalahanku.
“Maaf..”
7———–
Author POV –
“Aku tak tahu apakah ini waktu yang tepat.”
Grasella mengulurkan tangannya pada Kibum. “Ikutlah denganku sebentar. Aku tak bisa menjelaskannya disini.”
Kibum menerima uluran tangan Grasella. Mereka kemudian berjalan keluar dari gedung rumah sakit. Mereka terus berjalan sampai tak ada orang di sekitar mereka. Grasella pun mengajak Kibum berhenti. Ia memposisikan dirinya berada di depan Kibum dan menggenggam kedua tangan Kibum. Ia meminta Kibum memejamkan matanya. Dengan kekuatan Grasella, mereka menghilang, berpindah ke sebuah bukit yang berada jauh dari kota. Bukit di samping padang ilalang yang dulu sering mereka kunjungi di masa kecil.
“Kau membawaku kesini.” Ucap Kibum setelah membuka mata dan melihat sekitarnya.
“Jadi apa yang kudengar benar..” lirih Kibum kemudian.
Grasella hanya bisa tersenyum pedih. Ia mengajak Kibum duduk tanpa berniat membalas ucapan Kibum sebelumnya.
“Apa yang terjadi, Jiyoung-ah?” tanya Kibum tanpa menoleh ke arah Grasella. Ia takut mendengar sesuatu yang ia cemaskan. Sesuatu yang pada akhirnya mengecewakannnya.
Sama seperti Kibum, Grasella juga tak berani memandang wajah Kibum. Keduanya melihat ke arah depan, ke padang ilalang yang berada di bawah mereka.
“Aku..bukan lagi Jiyoung yang dulu. Aku bukan lagi seorang manusia.”
Kibum menghela nafas. Ia tahu apa yang ia dengar akan sama dengan apa yang ia pikirkan. Setelah masalah Jin Ah dan Yoona, haruskah ia kembali menghadapi kenyataan pahit tentang Jiyoung?
“Aku yang sekarang adalah malaikat.”
Grasella memilih untuk tak menjelaskan statusnya sebagai malaikat tujuh permintaan Jonghyun. Ia tak mau semua menjadi lebih rumit.
“Malaikat sementara bernama Grasella. Aku diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusan duniaku. Aku menolak pergi ke dunia atas karena itu mereka memberiku kesempatan ini.”
Grasella menoleh pada Kibum, membuat Kibum pada akhirnya memandang wajahnya. “Pejamkan matamu, oppa. Aku akan menunjukkan apa yang terjadi pada hari itu sampai aku menjadi seperti ini.”
7———–
Yoona POV –
Ketika malam datang, tepat setelah aku lelah menangis di kamar Jin Ah, aku melangkah keluar. Aku menyempatkan diri untuk memandangi kamar itu beberapa detik sebelum menutup pintu dan berlalu kemudian masuk ke kamarku. Terduduk di tepi tempat tidur, tanpa sengaja aku melihat sebuah kotak biru berada di dekat kaki tempat tidur, persis di sisi kiri lemari. Merasa tak asing dengan benda itu, aku pun memungutnya. Bukankah ini kotak yang diberikan Jonghyun di hari ulang tahunku? Aku tersenyum kecil. Berani bertaruh, aku hanya akan menemukan tutup botol minuman soda di dalam kotak ini. Aku membuka kotak itu. Terkejut, yang kulihat bukan seperti yang kubayangkan. Sebuah benda panjang dari emas putih berkilat terpasang di dalam kotak itu. Gelang dengan bandul huruf J yang ujung berbentuk seperti bunga tulip.
“Jonghyun..memberiku ini?”
Tiba-tiba saja dadaku kembali terasa sesak. Jadi selama ini aku membuang sesuatu yang ia ingin ia berikan padaku?
Mengambil gelang dari kotak tersebut, aku kemudian menemukan kertas kecil di dalamnya. Kubuka kertas yang dilipat asal-asalan itu. Kutemukan sederet tulisan berantakan khas Jonghyun dengan tinta biru.
Happy Bday! Hei tiang listrik, kau lebih tua setahun sekarang, kk. Jangan khawatir, aku yakin kau akan tetap cantik meski saat ulang tahun ke-120 nanti.
Aku memberi gelang ini sebagai hadiah untukmu. Pakailah dan kujamin kau tak akan menangis lagi karena gelang ini adalah gelang ajaib yang sudah kumantarai. Percaya padaku, aku akan selalu menjagamu sama seperti gelang ini.
- Sahabatmu yang tampan, Jonghyun
PS: aku menggunakan uang jajanku seminggu hanya untuk memberimu hadiah, kau harus mentraktirku :p
Jonghyun-ah.. Kurasakan pandanganku kembali kabur karena air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Melihat surat itu, menggenggam gelang itu, satu penyesalan kembali kurasakan. Jonghyun-ah..
“Maafkan aku..”
7———–
Author POV –
Kibum membuka kedua matanya setelah penglihatan yang diperolehnya dari Grasella. Ia merasakan peristiwa yang dilihatnya itu begitu nyata, seolah terjadi di hadapannya. Ia menarik Grasella dalam pelukannya. Ia tak bisa membayangkan betapa sakit yang dirasakan adiknya itu saat kecelakaan tersebut merenggut nyawanya. Ia juga tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya adiknya saat mendapati dirinya meninggal atau saat mendapati kakaknya sendiri tak mengenalinya.
“Maaf. Maafkan oppa, Jiyoungie.” Sesal Kibum dalam pelukannya.
“Seandainya oppa datang ke Kanada lebih awal. Maafkan kakakmu yang tak berguna ini..”
Grasella menggeleng. Ia tahu ini adalah takdirnya. Meski ia sempat menyesali, tapi ia tahu semua yang terjadi padanya adalah yang terbaik, yang dipilihkan Tuhan. Ia tersenyum, setidaknya Kibum kini tahu siapa dirinya. Setidaknya, hal yang membuatnya menolak meninggalkan dunia manusia telah terpenuhi.
7———–
Yoona membawa dirinya ke beranda kamar bersama gelang pemberian Jonghyun di tangannya. Duduk di lantai beranda yang dingin, ia menatap langit malam.
“Appa..” lirih Yoona memanggil ayahnya. Menatap bintang di langit membuatnya berpikir kalau di antara ribuan bintang itu, ayahnya berada di balik salah satunya.
“Aku ingin mengembalikan waktu..” lanjutnya diikuti helaan nafas.
Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada kaca jendela yang menjadi batas beranda dan kamarnya. Memeluk lututnya yang terlipat di depan dada, ia memejamkan mata. Air mata kembali mengalir meski kedua matanya telah terpejam. Entah berapa banyak air mata yang telah ia keluarkan, yang ia tahu ia tak akan pernah berhenti menangis. Menangis penuh penyesalan karena hal-hal bodoh yang ia lakukan.
Tanpa ia tahu, Maiden muncul di sampingnya. Ia duduk memperhatikan Yoona yang tengah menangis. Ia duduk disana sampai Yoona tertidur. Ia mengalungkan tangannya pada bahu Yoona lalu menyandarkan kepala Yoona pada bahunya sendiri.
“Maiden..kembali..” gumam Yoona dalam tidurnya. Apapun yang tengah dimimpikannya, tentu bukanlah sesuatu yang baik. Karena air mata kembali mengalir dari matanya yang terpejam.
Maiden menghapus air mata Yoona dengan tangannya yang bebas. “Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.”
7———–
Kibum kembali ke rumah setelah menghabiskan malam di bukit bersama Grasella. Ia kembali tepat saat fajar tiba. Mencapai kamarnya, ia baru teringat tentang Yoona. Raut wajahnya menjadi panik, ia menyesal telah melupakan adik tirinya itu. Ia berjalan ke arah kamar Yoona, berharap Yoona telah berada disana, berbaring di atas tempat tidur. Ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada adiknya lagi karena kelalaiannya.
Kibum menghela nafas lega setelah membuka pintu kamar Yoona. Adiknya itu telah terlelap di atas tempat tidur. Ya, tentu karena Maiden yang memindahkannya dari beranda kamar sebelum Kibum datang.
Kibum masuk ke kamar Yoona. Menghampiri tempat tidur Yoona, ia kemudian membenarkan letak selimut. Ia mengusap kepala Yoona, tak sengaja membuat Yoona terbangun.
7———–
Yoona POV –
Aku terbangun saat merasakan sentuhan di kepalaku. Setelah membuka mata, aku menemukan sosok Kibum berada di dekat tempat tidurku. Oh, pasti aku tertidur di teras dan ia yang kemudian memindahkanku kemari.
“Aku membuatmu terbangun, maaf.”
Mendengarnya nada bicaranya yang menyesal, membuatku teringat pada diriku sendiri. Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf? Aku menggigit bibirku, lagi-lagi aku merasakan sakit di dalam hati. Aku sangat merasa bersalah, termasuk pada Kibum. Jika bukan karenaku pasti ia bisa bertemu dengan adik kandungnya di Kanada.
“Kau menangis?” Kibum terlihat cemas setelah menyadari air mata mengalir di wajahku. Ia kemudian duduk di tepi tempat tidurku dan menghapus air mata dengan ibu jarinya.
“Wae?”
Aku tak menjawab, malah menurunkan tangannya dari wajahnya. Aku menggenggam tangan kanannya itu dengan kedua tanganku. Menundukkan kepala, aku menyembunyikan air mata yang kembali mengalir.
“Aku sangat jahat padamu. Aku selalu bersikap buruk. Aku bahkan merebut beasiswa yang seharusnya menjadi milikmu. Maaf..” Jelasku dalam tangis.
“Yoona-ya..” Kibum mengangkat kepalaku dengan tangan kirinya. Ia menggeleng dan menunjukkan senyumnya. Melihatnya seperti itu membuatku semakin merasa kecewa pada diriku.
“Maaf..maafkan aku, oppa..”
Kibum terdiam saat mendengarku memanggilnya kakak. Mungkinkah ia tak suka aku memanggilnya begitu. Ya, tentu saja. Aku sudah terlalu jahat padanya.
“Bisakah..kau memanggilku begitu sekali lagi?”
Kini giliranku yang terdiam. Ia ingin mendengarku memanggilnya kakak sekali lagi?
“Op..pa? Aku..aku tak akan mengulanginya kalau kau keberatan aku..”
Kibum memotong ucapanku dengan memelukku, membuatku terkejut dan bingung. Aku tak tahu harus bagaimana selain membalas pelukannya. Kami terdiam dalam posisi itu cukup lama. Cukup lama sampai aku menyadari bukan hanya kemeja Kibum yang basah karena air mataku, tapi juga kemejaku. Aku ingin melepaskan pelukan kami untuk memastikan apakah benar Kibum tengah menangis.
“Adik kandungku meninggal dan aku baru mengetahuinya malam ini.” ucapnya membuatku mengurungkan niat untuk melepaskan pelukan kami.
Adik kandungnya telah..meninggal? Adik kandungnya yang berada di Kanada dan telah lama tak bertemu dengannya? Adik kandungnya yang sangat ia rindukan?
“Ia memiliki aroma yang sama denganmu. Untuk sekali ini, bolehkah aku..”
“De.” Aku memotong ucapannya yang terdengar amat sedih. Aku mengusap punggungnya, berharap itu dapat menenangkannya. Aku tahu rasanya kehilangan orang yang ingin kita temui. Aku tahu karena aku juga pernah merasakan sakit dan kecewa saat tahu ayah telah meninggal.
“Ia akan menjagamu darisana. Semua akan baik-baik saja..oppa.”
Kurasakan Kibum memelukku semakin erat dan aku kembali mengusap punggungnya. Aku ingin menjadi tempat untuknya yang rapuh dan menjaganya malam ini. Sama seperti Jonghyun yang menjadi tempatku bersandar malam itu. Sama seperti Jin Ah dan Kibum yang menjagaku malam itu.
“Semua akan baik-baik saja, oppa..”
7———–
Dua bulan kemudian…
“Terima kasih, bibi.”
Yoona membungkuk setelah menyerahkan uang pada penjual bunga dan menukarnya dengan seikat bunga mawar putih. Ia berjalan meninggalkan toko tersebut, menuju rumah sakit untuk menjenguk Jin Ah. Ia melirik mawar putih dalam pelukannya itu dan tersenyum kemudian. Hari ini adalah hari istimewa untuk Yoona. Karena hari ini pada akhirnya ia berhasil mengembalikan beasiswa ke Kanada untuk Kibum setelah proses yang panjang dengan universitasnya. Meski ia tahu beasiswa tak terlalu berguna lagi untuk Kibum, tapi ia tetap melakukannya. Setidaknya ia ingin Kibum bertemu dengan ibu kandungnya lagi. Selain itu, ia yakin pada dasarnya Kibum ingin meneruskan pendidikannya ke luar negeri.
Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Yoona tak sadar seorang pria yang sibuk mengutak atik ponselnya tengah berjalan ke arahnya. Mereka bertabrakan karena saling tak melihat. Keduanya terjatuh dan mengaduh bersamaan.
“Nona, kau tak bisa..yah! Kau lagi?!”
Yoona tak berani mengangkat kepalanya saat berdiri setelah mendengar suara yang ia kenali sebagai seuara Jonghyun itu. Ia tahu Jonghyun akan marah padanya karena bukan sekali ini mereka bertabrakan. Meskipun ia tak pernah sengaja, tapi takdir terus mempertemukan mereka dalam keadaan seperti itu.
“Kau mengikutiku lagi ya?! Aish..benar-benar menyebalkan!” Jonghyun kemudian berjalan meninggalkan Yoona.
“Gadis gila!” umpatnya ketika telah jauh namun masih bisa didengar oleh Yoona.
Yoona baru berani mengangkat kepalanya setelah itu. Ia melihat ke arah Jonghyun yang kini telah berada di tempat penyeberangan jalan. Dan ia hanya bisa menghela nafas. Bukan hanya sekali hal seperti ini terjadi. Karena Jonghyun masih juga tak mengingat Yoona maka keduanya tak lagi dekat seperti dulu. Lebih tepatnya Jonghyun membenci Yoona yang menurutnya selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.
Yoona membalikkan badan setelah puas memandangi punggung Jonghyun. Ia terkejut saat melihat sosok Grasella ada di depannya tiba-tiba. Sebenarnya sudah beberapa kali Yoona melihat Grasella bersama Jonghyun dan ia pikir sebagai kekasih Jonghyun. Ia tak pernah tahu kalau Grasella adalah adik Kibum, ia juga tak pernah tahu kalau Grasella adalah malaikat tujuh permintaan Jonghyun.
“Kau tak ingin menyesali sesuatu? Kau tak ingin mendapatkan kembali..mm..sesuatu yang hilang dari hidupmu?”
Yoona menatap Grasella dengan raut kebingungan. Mereka tak saling mengenal –setidaknya itu yang dipikirkan Yoona- jadi kenapa Grasella bertanya seperti itu padanya? Seolah-olah mengetahui sesuatu dalam hidupnya.
“Maaf. Aku harus pergi.” Ucap Yoona diikuti bungkukan badan. Ia berlalu melewati Grasella. Bukannya apa-apa, ia merasa tak nyaman setiap kali melihat malaikat itu. Ada rasa yang membuatnya ingin marah atau tak terima karena Grasella –setahunya- adalah kekasih Jonghyun.
Grasella berdecak. Ia benar-benar kesal dengan sikap Yoona yang menurutnya hanya menyusahkan dirinya. Ia melipat kedua tangannya di dada sembari berbalik untuk memperhatikan Yoona yang melangkah menjauh darinya.
“Kau tinggal menyesal dan menginginkan si anak bodoh itu kembali. Kenapa sampai dua bulan kau tak melakukannya Im Yoona? Aish..”
“Kenapa ia selalu pasrah seperti itu? Dasar bodoh! Sampai kapan aku harus membuat mereka bertabrakan?!”
Grasella menggerak-gerakkan kakinya untuk beradu dengan aspal. “Argh aku bisa gila!”
“Yah, manusia-manusia yang melihatmu sekarang memang sudah menganggapmu gila.”
Grasella menoleh ke arah Maiden yang tiba-tiba ada di tepi tempat pejalan kaki. Dari dalam ferrari merah dengan kacamata hitamnya, ia tersenyum miring pada Grasella. “Naik. Kita urus mereka berdua.”
“Huh?”
“Kurasa sudah cukup hukuman penyesalan yang diderita Yoona. Kasihan arwah Jin Ah terlalu lama berkeliaran.”
“Apa hubungannya dengan Jonghyun dan Yoona? Ani, apa hubungannya dengan permintaan Jonghyun yang sampai sekarang belum bisa kupenuhi?”
“Jika kau ingin tahu naiklah lebih dulu.”
Grasella mengernyitkan keningnya. Sudah lama ia tak melihat Maiden seperti ini. Maiden yang ia lihat dua bulan ini adalah Maiden si malaikat menyedihkan dan bermuka datar. Cukup melegakan melihat Maiden telah kembali seperti semula, si malaikat sok tahu dan sok tampan.
“Oh. Baiklah, tuan sok misterius.”
7———–
Yoona POV –
Aku berlari. Berlari. Terus berlari tanpa arah pasti dengan air mata tak hentinya mengalir. Tidak. Aku tidak mau mendengarnya. Aku tidak mau ini terjadi. Aku tak mau. Jin Ah..Jin Ah tak boleh mati. Jin Ah tak boleh pergi seperti ini. Mereka tak boleh mencabut alat-alat itu dari tubuh Jin Ah. Tidak boleh. Tidak boleh. Tidak boleh.
Flashback –
“Maaf, nyonya. Tapi nona Jin Ah tak menunjukkan perkembangan sama sekali.”
Aku yang saat itu baru datang, tanpa sengaja mendengar pembicaraan ibuku dan Kibum dengan dokter yang biasa merawat Jin Ah. Aku memutuskan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik pintu ruangan Jin Ah dirawat.
“Jantungnya berdetak semakin lemah tiap harinya. Nona Jin Ah hanya hidup dengan bantuan alat-alat ini. Sangat kecil ia bisa bangun lagi lagi. Sebaiknya kita merelakannya pergi.”
Tanganku yang semula memegang gagang pintu, turun dengan lemas. Mawar putih di tangan kiriku terjatuh ke lantai. Pandanganku tiba-tiba kabur karena air mata yang menggenang.
“Tidak dokter. Kau tidak boleh melakukan itu pada anakku!”
“Maaf nyonya. Kami sudah berusaha maksimal. Hanya sampai disini kami bisa berusaha.”
Kulihat ibu memukul-mukul dada dokter muda itu. “Kau tak boleh melakukannya dokter! Kau tak boleh melakukannya pada Jin Ah!”
“Umma..”
Kibum memeluk ibuku dengan sedikit paksa. Ia berusaha menenangkan ibuku meskipun aku tahu ia sendiri juga terlihat kebingungan dan cemas.
“Kibum, katakan sesuatu padanya! Jangan biarkan Jin Ah pergi, Kibum!”
“De..de..umma.”
“Kibum-ah..Jin Ah..”
Air mataku tak lagi terbendung. Aku menangis dengan suara tertahan. Dan aku berlari meninggalkan tempat itu. Berlari..berlari..
Flashback end –
Tidak, Tuhan.. Kau tak boleh mengambilnya dariku. Kau tak boleh mengambilnya karena kesalahanku. Tidak, Tuhan.. Kumohon jangan lakukan ini padaku. Kumohon jangan biarkan ia pergi karena aku belum menebus semua kesalahanku padanya. Jangan..jangan ambil ia dariku. Aku mohon, Tuhan.. Aku mohon dengan sangat..
7———–
Author POV –
Tanpa sadar Yoona terus berlari sampai saat senja ia tiba di makam ayahnya yang sebenarnya terletak jauh dari kota. Ia menangis sejadi-jadinya sembari memeluk nisan makan tersebut. Ia menangis, seolah tengah meminta ayahnya untuk menolongnya dengan memohon pada Tuhan agar tak membawa pergi Jin Ah.
“Aku mohon, appa.. Jangan biarkan Tuhan mengambil Jin Ah. Aku mohon jangan biarkan Ia melakukan itu padaku. Aku mohon..tolong aku..appa..”
7———–
Kibum menempelkan ponselnya ke telinga sembari berjalan cepat mengitari area kampus dan memperhatikan sekitar. Ia tengah mencari Yoona karena sampai larut malam belum juga kembali ke rumah. Ia menjadi cemas apalagi setelah menyadari kalau mawar putih yang ditemukannya di depan pintu ruangan Jin Ah adalah bunga yang dibawa Yoona. Itu berarti besar kemungkinan Yoona mendengar pembicaraan dokter tentang Jin Ah. Ia tahu Yoona menyayangi Jin Ah. Ia melihat sendiri perubahan Yoona selama dua bulan ini. Ditambah lagi ia tahu besarnya rasa bersalah Yoona –yang ia pikir sebatas kelakuan buruk Yoona- pada Jin Ah.
“Hyung!”
Kibum menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat Jonghyun berlari menghampirinya. “Apa yang hyung lakukan malam-malam begini? Tidak mungkin hyung mendapat kelas tambahan karena..”
“Apa kau melihat Yoona?” potong Kibum lalu menurunkan ponselnya.
“Huh?”
Raut wajah Jonghyun berubah ketika mendengar nama Yoona disebut. Beberapa minggu lalu ia baru tahu kalau gadis pengganggu yang tenyata beranama Yoona adalah saudara kembar Jin Ah sekaligus adik tiri Kibum.
“De. Siang tadi, di dekat toko bunga..kurasa.”
“Itu berarti sebelum ia ke rumah sakit. Kau tak melihatnya lagi setelah itu?”
Jonghyun menggeleng. “Kenapa? Gadis aneh itu..maksudku Yoona.. apa ia tidak pulang ke rumah?”
“Oh. Aku sudah menghubungi ponselnya berkali-kali tapi ia tak menjawabnya. Bisakah kau membantuku mencarinya?”
Jonghyun menelan ludah. Ia tak mau repot-repot mencari seseorang yang dianggapnya sebagai pengganggu itu. Tapi ia juga tak enak hati menolak permintaan Kibum yang dikenalnya sebagai senior yang disegani di kampus karena kepandaiannya.
“Rr..de. Aku akan berusaha mencarinya.”
7———–
“Sial.”
Jonghyun mengumpat untuk ketiga belas kalinya setelah berada dalam bus. Dengan berat hati ia menuruti permintaan Kibum. Anehnya ia tak tahu kenapa ia justru memilih untuk naik bus yang arahnya tak ia ketahui kemana. Kakinya seolah berjalan sendiri tanpa perintah otaknya.
“Kalau motorku tak ditahan appa sampai aku terpaksa jalan kaki dan naik bus kemana-mana mungkin aku tak akan menggerutu seperti ini.”
“Ani, kenapa aku harus mencari Yoona? Sial. Sial. Sial.”
Setengah jam kemudian Jonghyun turun dari bus. Sama seperti sebelumnya, kakinya seolah berjalan sendiri. Menuntunnya ke suatu tempat.
“Tsk, sebenarnya ini dimana?”
Langkah kaki Jonghyun terhenti ketika ia melihat kompleks pemakaman beberapa meter dari tempatnya berdiri.
“Apa aku sudah gila?”
7———–
“Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” tanya Grasella tepat setelah Jonghyun naik ke bus.
“Kau akan melihatnya sendiri.”
“Tsk. Tadi siang kau bilang kau akan menjelaskannya setelah aku naik ke mobil bututmu itu. Sampai sekarang kau tak menjelaskannya, bodoh.”
Maiden tertawa. “Kubilang aku akan menjelaskan apa hubungan dari permintaan Jonghyun padamu dengan nyawa Jin Ah serta dengan hubungan Jonghyun dan Yoona. Kujelaskan padamu, setelah permintaan Jonghyun terlaksana aku yakin Jonghyun akan menggunakan sisanya untuk Jin Ah.”
“Aku tahu aku tahu. Tapi kenapa kau tak menjelaskan bagaimana caranya membuat Yoona menginginkan Jonghyun kembali.”
“Aku tak berjanji akan menjelaskan itu padamu seingatku. Tapi bukankah kau sudah melihatnya sebagian di rumah sakit? Kau akan melihat sisanya setelah ini.”
“Hm? Apa yang kau bicarakan?”
Maiden tertawa sekali lagi. “Bukan salahku kalau kau tak mengerti.”
“Aish..terserah.”
Grasella menggerutu sendiri sembari masuk ke mobil Maiden. Maiden menyusul kemudian diikuti senyum jahilnya. Mobil kesayangannya itu kemudian melaju mendahului bus yang dinaiki Jonghyun menuju tempat dimana Yoona berada.
7———–
Jonghyun POV –
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju makam. Aku terkejut saat mencapai pintu makam dan melihat seorang gadis terduduk di tanah sembari memeluk nisan dan menangis. Aku memandangi gadis itu. Siluet gadis itu terlihat familiar bagiku. Kejadian ini juga tak asing bagiku. Apa aku pernah mengalaminya?
Aku berjalan menghampiri gadis itu tanpa pikir panjang. Semakin dekat, aku bisa mengenali sosok itu. Nah, bukankah ini adik kesayangan Kibum yang hilang?
“Yah, kau gadis aneh!”
Yoona menoleh padaku. Matanya sembab dan merah. Ia..terlihat sedih. Apa yang terjadi padanya? Oh, kenapa hatiku menjadi tak nyaman melihatnya begitu? Sama seperti yang kurasakan saat di rumah sakit setelah peristiwa pengkroyokan itu. Aku juga melihatnya menangis -meski sepertinya itu karenaku- aku merasa ada yang sakit di dalam dadaku.
Aku melipat kakiku, menyamakan posisiku dengannya. Tanpa sengaja aku melihat ke arah tangannya. Di pergelangan tangannya terdapat sebuah gelang emas putih dengan bandul huruf J yang berbentuk seperti bunga tulip. Apa gelang ini terlalu pasaran sampai aku merasa pernah melihatnya sebelum ini?
“Hei..” ucapku kemudian, berganti memandang wajahnya. Ia menatapku kebingungan diantara buliran air matanya. Berani bertaruh ia pasti heran karena aku menemukannya sejauh ini.
“Rr..aku datang kemari untuk menjemputmu. Maksudku..maksudku Kibum yang memintaku mencarimu karena ia khawatir padamu. Ya, seperti itu.”
Sial. Aku pasti terlihat seperti sangat berniat mencarinya. Jangan-jangan ia beranggapan aku memang mengenalinya seperti yang pernah ia ocehkan dulu.
“Kau bisa pergi.” Ucap Yoona setelah kami terdiam lama. Ia kembali menghadap ke nisan dan memunggungiku.
“Aku akan pulang setelah ini.” lanjutnya.
Huh? Reaksinya berada di luar dugaanku. Kukira ia akan berteriak histeris karena aku menemuinya. Baguslah. Kalau begitu tak ada yang perlu kukhawatirkan.
“Oh. Baiklah.”
Aku bangkit berdiri dan berjalan keluar areal pemakaman. Aku tinggal menghubungi Kibum hyung untuk menjemput Yoona sementara aku pulang ke rumah. Tunggu..aku tidak punya nomor ponsel Kibum! Sial. Sepertinya aku harus menunggui gadis ini sampai selesai lalu mengantarnya pulang.
7———–
Yoona POV –
Aku menghela nafas setelah lelah menangis. Aku tak tahu apa yang kulakukan hampir seharian di tempat ini. Mungkin karena terlalu putus asa dan tak tahu harus kemana. Kalau saja ada Jonghyun..ah apa yang kukatakan.
Aku bangkit berdiri setelah mengucapkan salam perpisahan pada makam ayah. Aku melangkah keluar dari areal pemakaman sembari menghapus sisa air mata di wajahku. Begitu sampai di jalan luar pemakaman, kulihat sosok Jonghyun berdiri menyandari dinding rumah yang membelakangi pemakaman. Ia tengah memejamkan mata, sepertinya menikmati musik yang didengarnya dari headset yang terpasang di telinganya.
Untuk apa ia masih disini? Apakah ia menungguku?
Aku terdiam di tempatku berdiri. Memandangi wajah Jonghyun adalah hal yang seperti beribu-ribu tahun tak kulakukan. Aku merindukan sahabatku ini. Sejak ia pergi dari kehidupanku, atau lebih tepatnya sejak aku membuatnya meninggalkanku, aku merasakan kehilangan yang luar biasa. Aku menyesal telah melakukan ini. Sangat menyesal. Jika saja boleh aku berharap semuanya kembali seperti semula. Jika saja..Jonghyun kembali padaku dan mengingatku..
Aku menghela nafas. Aku mengalihkan pandanganku, menahan air mata agar tak lagi terjatuh. Lebih baik aku pergi dari sini tanpa Jonghyun ketahui. Terlalu berat jika aku harus melewati perjalanan kembali ke kota dengannya berdua. Aku bisa menghubungi ponselnya nanti setelah berada di bus dan menyuruhnya pulang.
7———–
Jonghyun POV –
“Yah! Kemana gadis aneh itu?”
Aku berlari mencari Yoona setelah menyadari gadis itu tak ada di dalam pemakaman. Saat hampir putus asa mencarinya selama lima belas menit, kudengar teriakan minta tolong dari ujung jalan yang gelap karena lampu jalan yang rusak. Samar-samar kulihat seorang gadis tengah meronta, mencoba melepaskan lengannya dari tangan seorang pria. Pria itu sepertinya memaksa si gadis masuk ke dalam mobilnya.
Aish..merepotkan. Kenapa harus di saat seperti ini? Kenapa harus di saat aku sudah sangat mengantuk dan harus mencari gadis aneh bernama Im Yoona?
“Kenapa aku harus menjadi sok pahlawan?” sinisku sembari menghampiri keduanya.
“Yah, kau, pria mesum!” teriakku begitu jarak kami lumayan dekat.
Pria yang menggunakan hoodie itu menoleh padaku. Aku berdecak padanya. Ia pikir ini drama atau apa? Bertingkah misterius dengan dandanan begitu lalu bertindak kurang ajar pada gadis menurutnya bagus?
Aku beralih pada si gadis. Betapa terkejutnya aku saat menyadari gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Yoona. Hei..apa aku sedang bermain dalam drama? Kenapa bisa kebetulan sekali?
“Bukan urusanmu! Pergi dari sini!”
Nah, sepertinya aku memang perlu bertindak seperti aktor utama yang menyelamatkan si aktris utama dalam drama ini. Baiklah baiklah..sekali-sekali menggunakan kemampuan berkelahi tak ada salahnya. Apa gunanya punya sabut hitam? Hitung-hitung untuk menutupi maluku karena kalah saat berkelahi dengan teman-teman ingusan Minhwan.
“Kita selesaikan dengan benar. Lepaskan gadis itu dan berkelahi denganku.”
“Cih. Aku tak perlu melakukan itu.”
“Tentu saja perlu bodoh. Kau hanya bisa membawanya pergi jika kau berhasil mengalahkanku.”
Pria itu mengumpat sebelum akhirnya menuruti perkataanku. Aku membiarkannya melangkah maju dan menyerang lebih dulu. Tapi tentu saja aku berhasil mengelak. Ia menyerangku lagi, dan aku mengelak lagi. Sampai untuk ketiga kalinya, barulah aku menyerangnya. Aku menghajarnya sampai ia kalah telak dan terbaring di aspal jalan.
“Belajar berkelahi dulu baru berpikir untuk menculik wanita.”
Aku menendang kepalanya, membuat hoodie yang menutupi wajahnya tanpa sengaja terbuka. Kedua mataku membulat saat melihat wajah pria itu. Meski dengan lebam dan darah yang hampir mengering, sekali lihat aku bisa mengenali kalau pria itu adalah Choi Seung Hyun. Yah, apa pria ini berlatih drama dengan melakukan hal nyata seperti ini?
“Kau pasti sudah gila.” Ucapku kemudian beralih pada Yoona yang berdiri ketakutan di belakang mobil Seung Hyun.
Aku menghampiri Yoona. Sedikit keheranan karena gadis itu terlihat sangat pucat. Air mata mengaliri pipinya sementara keringat membanjiri dahinya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar terihat ketakutan. Kenapa ia menjadi seperti ini? Bukankah aku berhasil menyelamatkannya? Aku datang sebelum Seung Hyun melakukan hal kurang ajar padanya bukan?
“Hei..” Aku menyentuh bahunya. Ia menatapku dan tangisannya semakin menjadi. Tanpa pikir panjang aku melebarkan lenganku dan mendekapnya. Aku mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
Apa yang terjadi pada gadis ini? Apa ia mengalami trauma dengan kejadian seperti ini sebelumnya? Oh..kenapa melihatnya menangis begini membuat hatiku terluka lagi?
Tiba-tiba Yoona menarik dirinya dari pelukanku. Ia seperti berusaha menarikku ke sisi kananku. Hm? Apa yang ia ingin laku..
Dugh. Terdengar suara benturan benda begitu jelas di telingaku. Kurasakan sakit yang luar biasa di kepalaku sedetik kemudian. Aku berbalik dan menemukan Seung Hyun berada di belakangku dengan batu teracung di tangannya. Aku menyentuh bagian belakang kepalaku. Kulihat cairan merah kental memenuhi telapak tanganku. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing sampai aku tak bisa berdiri dengan seimbang. Aku jatuh terjembab dan tak ada lagi yang kutahu kecuali suara teriakan Yoona dan langit yang hitam.
7———–
Author POV –
Grasella mengangkat tangannya untuk menggunakan kekuatannya. Ia membuat Seung Hyun -yang sebenarnya sudah hampir tak sadarkan diri karena pukulan Jonghyun- bangkit berdiri dan memukulkan batu ke belakang kepala Jonghyun. Ia melakukan ini sesuai ucapan Maiden, untuk mengabulkan permintaan pertama Jonghyun secara masuk akal. Ya, karena beberapa menit lalu Yoona tanpa sadar telah menginginkan Jonghyun untuk kembali padanya melalui pikirannya. dan meskipun Grasella tak dapat membaca pikiran itu, tapi Maiden bisa mendengarnya dengan jelas.
“Jadi ini rencanamu?” gumam Grasella setelah menurunkan tangannya. Tugas kecilnya sudah terlaksana.
“Dari keputusan dokter untuk melepas alat-alat di tubuh Jin Ah sampai saat ini kau merencanakan itu semua.”
Grasella menoleh ke arah Maiden yang bersandar di pintu mobil, persis di sampingnya. “Maiden, kau sungguh luar biasa.”
Maiden tertawa kecil mendengar kalimat Grasella yang terakhir. Ia memainkan kerah bajunya lalu tersenyum miring. “Aku tahu aku luar biasa.”
Grasella memutar bola matanya, menyesal telah memuji si malaikat tampan. Ia kembali memperhatikan tiga manusia di hadapannya. Yoona tengah menangisi Jonghyun yang pingsan, sementara Seung Hyun mulai ketakutan lalu berlari ke mobilnya dan meninggalkan mereka berdua. Melihat Seung Hyun, membuat Grasella teringat sesuatu. Ia menyikut perut Maiden.
“Hei, tapi kenapa kau melibatkan Seung Hyun lagi?”
“Kebetulan ia lewat sini dan mungkin ini malam keberuntungannya.”
“Beruntung sekali ia merasakan pukulan Jonghyun. Pasti lebih sakit dari pukulan kakakku.”
Maiden membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. “Lagipula, aku ingin menghukumnya karena pernah menyakiti Yoona. Dengan melibatkannya dalam urusan ini, aku bisa menghukumnya nanti.”
“Hukuman apa yang mau kau berikan?” tanya Grasella, menoleh ke dalam mobil. Sayangnya ia hanya mendapat jawaban berupa endikan bahu dari Maiden.
Berdecak, Grasella kemudian masuk ke dalam mobil. “Sekarang kemana kita?”
“Rumah sakit. Tugasmu belum selesai.”
Tbc –
Nb:
Maafkan saya teman-teman. Tadinya mau saya bikin tamat smp sini, tapi batal karena ternyata terlalu panjang. Duh..daripada dipaksa dan jadi aneh, maka saya tamatin aja di part 11 dan saya potong part ini sampai obrolan nggak pentingnya Maiden dan Grasella. Jangan khawatir, kali ini nggak akan post lama karena lanjutannya udah jalan saya bikin. Minggu depan, di antara kekosongan jadwal UTS insya Allah saya post part terakhirnya. Dan jangan khawatir juga, karena part terakhir nggak akan sepanjang ini, tapi seperti part2 awal.
Oh ya, maaf sedalam-dalamnya untuk reader semua karena saya telat sekali ngepost part ini. Padahal terlanjur janji mau post dua minggu setelah part 9. Tapi biarpun telat, jangan lupa tinggalkan komen, kritik, dan saran kalian. Karena reader yang baik selalu menghargai karya yang dibacanya kan? Terima kasih


akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
makasih thor udah diupdate
walopun aku telat bacanya hehe..
serius thor.. chap ini sedih banget… penuh air mata TT.TT
jin ah, kibum, jonghyun, semua orang yang yoona kenal (kecuali seunghyun) itu baik banget sama dia..
dan akhirnya dia sadar dan minta jonghyun kembali
seneng ^^
kutunggu ya thor part terakhirnya..
oh ya author lagi uts ya? sama dong *gak ada yang nanya* haha
semangat ya utsnya
semangat juga bikin karya yang lain
fighting ^^
hehe..aku juga sering telat post *sudah jadi rahasia umum (?)
iya, seung hyun yang awalnya keliatan paling baik ternyata malah jahat sama yoona
dan akhirnya yoona bilang pengen jonghyun balik sama dia, jadi grasella ga perl nabrak2in mereka lagi..haha
iya nih aku lagi uts, sama2 ya. semangat juga buat uts km
besok part 11 aku post
jangan lupa dibaca n kasih komennya ya
makasih udah baca n komen
penyesalam emang selalu datang belakangan kan. kasian jg yoona sebenernya. tapi jd terbuka semuanya sekarang. fiuhhhhh ternyata semua org disekitar yoona yg dulu dipadangan yoona mereka jahat ternyata tidak sama sekali. dan ini buat saya jg milir dan nyesel ngira mereka jahat jg ma yoona haha.. author jjang !!!!! dan ternyata mereka semua sayang sama yoona. cuma 1 disini yg jahat yaitu choi seung hyun huffft.
aaaaaaaaaaaaaa jin ah jangan meninggal. dan jonghyun ayooo cepat pulih ingatannya. pengen cepet liat yoona jonghyun bersatu nih haha..
ahhhhh lanjut part 111. author makin keren
Semuanya hampir Clear XD
Hwaaah kasian Seunghyun jd bulan2an trs…
Akhirnya Yoong, hti nurani mu kembali XDDDD
#lnjut baca part 11 :’)
Daebaaaaaaaaak~~~~ ^o^
ini part bat bersedih2 ria ya? XD
kerenlah pokoknya ditambah pas jonghyun mukul seunghyeun n sebaliknya=sadis mamen XD
Akhirnya suka lagi ama Yoona disini XD