FF : Please, Stop The Time [CHAPTER 6]

19 Nov

Title : Please, Stop The Time (CHAPTER 6)

Author : Hayamira (HayashiMirai)

Genre : Romance, Friendship, Married Life Story

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Cast :

Jung Na Eun/Nana (Ocs)

Kris (EXO-M)

Oh Se Hun (EXO-K)

Kim Jong Hyun (SHINee)

Choi Min Ho (SHINee)

Krystal Jung (f(x))

Byun Baek Hyun (EXO-K)

Amber Liu (f(x))

Lee Jin Ki (SHINee)

Jung Na Mi as Nana’s Sister

Summarize :

Please, stop the time

I wanna be with you always

I Looked up the sky, following each and every shining star

Searching for, You

Note : Hai! Hyerin disini!!! Maaf reader-deul Hyerin belum sempat publish FF u.u . Mungkin next time yaa~~ Jadi, disni aku membawa FF temen saya hehehehe. mian juga ini dipostnya lamaa banget, authornya lagi error sih *ditampar* jadinya gini T^T Happy Read ya ~ XD NO SILENT READERS, NO COPYCAT PLAGIATOR. APPRECIATE THE AUTHOR’S STORY PLEASE.

PREVIOUS PART

[PROLOG]  [CHAPTER 1]  [CHAPTER 2] [CHAPTER 3] [CHAPTER 4A] [CHAPTER 4B]  [CHAPTER 5]

 

Kris yang sedang suntuk, berdiri di balkon Carribean Cafe, terletak didepan taman Dong Yo. Kris masih belum bisa melupakan Nana, rasanya saat ini juga, dia akan memeluknya dan tidak akan membiarkannya pergi apabila Nana terlihat di depannya.

Namun, Kris sadar, itu hanya mimpi. Sakit rasanya, kehilangan orang yang dicintai.

Lamunan Kris terhenti, melihat sosok yang sangat dia kenal duduk di bangku taman Dong Yo. Nana dan Se Hun yang duduk berhadapan.

Nana, dan Se Hun? Dan mereka sedang berpelukan. Bahkan Kris tidak perlu mengamati mereka lebih dalam, karena itu jelas sekali. Nana dan Se Hun!

Amarah memenuhi Kris. Tapi, dia hanya bisa berdiri di balkon tersebut melihat semuanya.

Mereka melepaskan pelukannya, lalu Se Hun menyentuh pipi Nana. Nana sama sekali tidak keberatan. Hey, sejak kapan Nana-ku seperti itu? Ujar Kris dalam hati. Dan sekarang, Se Hun memandang ke mata Nana. Mereka saling berpandangan

Kris sudah tidak mau melihatnya, meninggalkan balkon tersebut dan ke taman Dong Yo.

#NANAPOV#

Se Hun memandangku. Aku merasakan kehangatan dari matanya, sekaligus rasa sedih yang mendalam.

“Jangan menangis,” katanya menghapus air mataku dengan punggung tangannya. Aku mengangguk.“Terima Kasih sudah mau mendengarkanku,” kataku membalas kebaikannya. Meskipun itu tidak cukup. Se Hun terlalu baik untukku.

Se Hun tersenyum, membelai rambutku pelan, “Sama-sama, Nana.”

Aku merasakan adanya orang yang berlari ke arah kami, aku mengenali auranya. Dia…

“Kalian ya.”

Aku menoleh, dan, Kris muncul dengan wajah yang penuh amarahnya. Aku tidak bisa memandangnya, tidak bisa.

“Kenapa?”kata Se Hun seraya berdiri.

“Kenapa kau bersama Nana?” tanya Kris sengit. Se Hun melirik sinis Kris. “Memang kenapa? Bukankah kau tidak membutuhkannya?”tanya Se Hun kembali.

Aku terpaku. Aku tidak bisa bergerak, aku tidak bisa berkata apa apa. Sosok Kris membuatku menangis lagi

“Dia itu Istriku.”
“Bukan, Dia itu bukan istrimu, Kris.” seru Se Hun sedikit tinggi.

Seluruh tubuhku gemetar hebat melihatnya.

“Dia istri sahku, dan kau bukan siapa siapanya.”wajay Kris mendekat ke Se Hun. Se Hun mengelah

“Sial ! kau pikir Nana bodoh? Dia tidak menyukaimu bodoh,”kata Se Hun. Kris sangat marah, namun dia mendorong Se Hun dan ke arahku. Aku berdiri, menggerakkan seluruh ototku  untuk lari, melawan batin yang tidak ingin lari. namun dia meraih tanganku dan memutar badanku sehingga aku berhadapan dengannya

“Nana,”ujarnya melembut. Air mataku terus saja mengalir, badanku pun terus gemetar. Genggaman tangannya terasa begitu… tidak dapat dijelaskan. Aku berdiri mematung dihadapannya.

Wajahnya nampak sangat kehilangan. Matanya nampak kosong. Tangannya pun membelai wajahku, menghapus air mataku. Aku mematung, aku tidak bisa berbuat apa apa

“Ini kau kan?”katanya menyentuh wajahku pelan. Lidahku keram, tidak bisa bicara apapun.

“Nana-Ku? Nana Ku? Ini Nana Kan?”

“Nana, aku merindukanmu.”

Dia menarikku ke pelukannya. Sangat erat, dan aku sama sekali tidak memberontak. Hangat tubuhnya mengalir, dan air mataku pun jatuh. Aku juga merindukannya, sangat merindukannya, tetapi dia ….

Dengan segenap kekuatan yang ada, aku melepaskan pelukanya dan berjalan mundur menjauh dari Kris

“Maaf.”

Hanya itu yang bisa kukatakan dan berlari. Berlari darinya sambil menahan rasa sesak ini.

Maafkan Aku, Kris. Aku minta maaf, karena membuatmu sedih.

***

Aku terbangun dikamar yang sama, flatku. Kepalaku serasa sedikit berputar. Aku mengerjapkan mata, nampak wajah Amber yang melihat kearahku. Kurasakan badanku sangat lemah, apa yang terjadi kepadaku?

“Kau pingsan didepan rumah. Karena Kris.”

Seperti Amber bisa membaca pikiranku. Dia terus duduk disamping ranjangku, memperhatikanku.

Dengan mengumpulkan tenagaku, aku beranjak duduk. Amber membantuku duduk. Astaga! Kini pandanganku berputar. Kepalaku pusing sekali.

“Makanlah,”kata Amber menyuguhkan semangkuk bubur kepadaku. Aku memandang kosong mangkok itu. Tidak membangkitkan seleraku. Aku tidak mau makan, sama sekali tidak berselera.

Aku merenung, melihat ke jendela. Mengingat kejadian semalam yang membuatku seperti ini. Padahal aku sudah menjauhinya, dan sudah tiga minggu aku hampir tidak pernah memikirkannya. Tapi, kenapa aku masih harus seperti ini? Aku ini kenapa?

Hangat peluknya masih terasa dibadanku. Feromon, wajahnya, sentuhannya. Semuanya masih sangat terasa. Namun, itu menambah luka di hatiku. Kenapa dia bersikap seperti itu jika dia ingin meminta untuk berpisah? Dia juga sudah punya pacar. Krystal, yang baru saja aku ingat namanya. Kenapa dia harus menunjukkan semuanya kepadaku…

Membuatku sedikit berharap, namun aku tahu, itu tidak mungkin. Oh Nana kenapa kau sangat bodoh masih saja berharap yang tidak mungkin. Aku menggigit bibir menyesalinya. Bodoh.

“Itu dari Se Hun,”suara Amber menyadarkan lamunan panjangku. Aku terhenyak, dan kembali menatap Amber. Se Hun?

“Untuk apa dia membawakanku itu?”kataku menunjuk bungkusan diatas meja.
“Dia itu sangat mengkhawatirkanmu, makanya tadi pagi datang ke sini membawakanmu bubur itu. Tapi kau masih pingsan, jadi dia tidak jadi menjengukmu. Itu, dia juga mengirimkan bunga Lili dan Lavender kesukaanmu, untukmu agar kau ceria lagi, katanya.”

Aku tercengang mendengar semuanya. Se Hun selalu saja mengkhawatirkanku, peduli kepadaku. Apa aku saja yang selalu menutup mataku, kenapa Se Hun terlalu baik denganku? Aku… tidak mengerti. Tapi, terima kasih, Se Hun.

Pikiranku melayang ke Kris. Kenapa… Se Hun dan Kris berbeda….

Kenapa Kris tidak bersikap baik seperti Se Hun?

Kenapa Kris tidak memperhatikanku seperti Se Hun?

Kenapa Kris tidak pernah memberiku buket bunga Lili dan Lavender? Apa Kris tidak tau favoritku? Dia bahkan tidak peduli denganku.

Apa yang dia rasakan sama denganku? Apa Kris juga merasakan kehilangan yang sangat berarti, hati yang kosong?

I wonder if you hurt like me

I wonder if you cry like me

I wonder if you live all day in memories like me

Like a wind-up doll, like it’s my job, i laugh

Even when i watch tv, i meet my friends

I’m filled with thoughts of you

Because i smile every day, i show my smiles

They think i am happy

But how can i smile, how can i smile without you

I smile and i smile but tears flow again

[2AM – I Wonder If You Hurt Like Me]

“Berhenti melamun dan berhenti menangis,”seru Amber. Aku sadar, menyeka air mataku yang bahkan jatuh dengan sendirinya. Aku tersenyum pahit mengingat semuanya.

“Kurasa aku perlu Baek Hyun sekarang…” pikirku menyeka air mataku sendiri. Amber menatapku heran lalu kembali mengambil air untuk dirinya dan menegaknya. Amber kembali menatapku.

“Byun Baek Hyun…. Yang penyanyi itu?”kata Amber. Aku mengangguk, “I ever told you before that he is my bestpals in Hokkaido, don’t you?”

“Iya. Tapi apa kau tidak berpikir, kalau menceritakan ke Baek Hyun… maksudku, bukankah nanti Na Mi akan tahu, dan ibumu akan tahu juga?”

Benar kata Amber. Aku tidak ingin memberitahukan dulu ke Ibu dan Nami. Barusaja mereka melihatku Nampak bahagia dengan Kris, aku tidak mau merusak persepsi mereka tentang happy-life-family ku dengan Kris. Hanya tidak ingin melihat Ibuku khawatir, dan Nami yang mungkin secara tidak langsung aku akan merusak pekerjaannya dengan kisahku ini.

“Jadi…”
“Better to don’t tell them in Hokkaido,” ujar Amber. Hatiku membenarkannya.

“I Will …”

“What will you will?”

“Atasi semua ini sampai tidak ada yang akan kecewa lagi.”

“kau yang dikecewakan, Nana.”
“I Don’t Know,”gumamku sembari memadangi langit biru yang cerah. Sebentar lagi musim gugur.

Kris… Kau dengarkan aku? Aku merasa sangat jauh darimu sekarang. Entah kenapa, hatiku merasa sangat hampa. Walaupun aku tahu, aku tidak akan bisa meraihmu. Meraihmu sangat sulit bagiku, yang terlalu sempurna untukku.

 

Entah aku ingin marah dihadapanmu, kenapa harus aku yang menjadi korban dari ini semua. Tapi, aku tidak bisa. Kau tahu, setiap melihat wajahmu, hatiku miris. Waktu itu… aku tidak bisa berkata-kata banyak. Lidahku kelu, aku terlalu memberikan seluruh hatiku untukmu, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa membentakmu, aku lemah dihadapanmu. Sangat lemah.

 

Mungkin angin musim panas yang menyegarkan ini akan mengantarkan segalanya. Maafkan aku yang sudah membuatmu susah, sebal, malu, jengkel selama aku hidup di kehidupanmu. Maafkan aku…. Aku akan selalu mengingat senyummu, walaupun bukan untukku. Mungkin sudah saatnya aku melepasmu. Inilah kebodohanku karena terlalu menyayangimu…

 

Kris Li, aku mencintaimu… aku sangat mencintaimu…. Aku merindukanmu…

 

 

Because I’m a fool
I can only look at you from the distance
Maybe your heart will turn away
And so like that, we would become distant again

Because I’m really foolish
Maybe waiting for meeting again would be painful
And I’m afraid my days would become sad

[TaeYeon – If]

#AUTHOR POV#

Can you feel the distance that is as great as the emptiness in my heart?

Why weren’t we able to be more honest with each other?

If we had backed up one step, it wouldn’t have came to this,

It’s too late to turn back what happened not because of fault but because of selfishness

Because it may be a regret, because it may be a scar,

I don’t wanna hurt because I loved you

[BoA – Don’t Know What To Say]

Kris menggeliat diatas kasur kamar Nana. Kekosongan hatinya masih terasa, terlebih pertemuannya dengan Nana semalam. Rasa rindu Kris membuncah begitu melihat Nana, namun Nana tetap saja menghindar.

Kris bangkit, berusaha menyeret kakinya ke dapur. Rupanya sudah pagi. Matahari berusaha menerobos jendela rumah Kris, menampakkan sinar cerahnya. Kris menganbil gelas di rak, dan menuangkan susu dingin dari kulkas kemudian meminumnya.

“Kris, Kau mau sarapan apa?” Ujar sebuah suara. Senyum Kris mengembang, dia menoleh namun tidak mendapatkan siapa-siapa. Hanya gorden yang menari pelan tertiup semilir angin musim panas. Kris mendengus napas kecewa. Rupanya ilusi Nana.

Sudah berapa lama Nana tidak tinggal bersamanya? Kris melirik kalender disamping kulkas. 3 minggu, sekarang akhir Agustus. Musim gugur akan dating. Musim kesukaan Nana.

“Haaah,”desah Kris sekali lagi dan entah untuk berapa kali dia selalu merasa sesak.

Kris memandangi langit biru yang cerah, kemudian mengingat Nana dan segala hal tentang dia, yang bahkan Kris pun masih menerka-nerka.

Nana, apa kabar? Aku tidak tahu kabarmu. Sudah sejak lama, sekitar 3 minggu yang lalu. Kau sehat kan? Kuharap begitu.

 

Nana, kau tahu, setiap hari aku merasa semakin menjadi orang jahat. Aku tahu, aku sudah menyakiti hatimu lebih dalam dari siapapun. Mungkin akulah yang paling jahat didunia ini terhadapmu, yang tega mempermainkanmu. Maukah kau memaafkanku?

 

Aku tahu, maafmu akan sulit kuraih. Tapi ingatlah, kesalahanku ada membiarkan orang yang kucintai pergi dari sisiku. Yaitu kau. Aku sudah menyukaimu sejak lama, namun keegoisanku yang menutupnya. Maafkan aku.

 

Dimanapun kau sekarang, percayalah padaku bahwa aku sangat mencintaimu, juga Aku merindukanmu

 

Kembalilah, Jung Na Eun. Kembalilah ke sisiku

Kris menghela napas. Dia merindukan Nana, tapi kenapa untuk mengatakannya sangat susah? Kenapa dulu dia tidak mau mengakuinya saja, bahkan dia belum mengakui saat Nana sudah tidak bisa dijangkau lagi.

Matanya beralih ke tangan kanannya. Di jari manis, tersemat cincin pernikahan yang dulu dia tidak mau ada bertengger dijarinya. Cincin itu berkilau memantulkan cahaya, Kris mengingat, Nana selalu memakai cincin itu.

Trrtt Trrtt

Telepon rumah Kris berdering. Dengan malas, Kris mengangkat telepon itu. Dan suara Nuna-nya langsung menyapa, membuat Kris berpikir akan ke dokter THT setelah menerima telepon Nunanya. Namun, dia masih sedikit beruntung. Yang menelpon bukan ibunya.

“Kris Li! Demi Tuhan darimana saja kau tidak menjawab telepon ku?”

“Sedang tidak ingin diganggu Nunaku sayang. Ada apa?”

“Mana Nana?”

Kris tidak menjawab. Haruskah dia menjawab dengan menceritakan yang sebenarnya? Belum siap, batinnya.

“Kami…bertengkar.”

“Haa? Baru kali ini aku lihat kau dan Nana bertengkar. Sekarang dia dimana? Kau tahu, ibu mulai lagi menjodohkanmu dengan anak teman arisannya… Tunggu, umurmu berapa Kris?”

“23. Astaga Ibu tidak kapok juga.”

“Kau dijodohkan dengan anak umur 17 tahun, Ibu benar benar keterlaluan. Makanya aku mau kau dan Nana datang ke rumah sekarang, Ibu seperti tidak percaya dengan pernikahan kalian. Katanya ada kepalsuan, benarkah? AKu harap tidak. Karena aku menyukai Nana.”

Deg! Kenapa firasat ibunya benar? Apa Ibunya memata-matainya?

“Hah! Tidak mau. Aku sudah bosan dengan rencana Ibu menjodoh-jodohkan. Firasat Ibu itu salah, Nuna”

“Jadi kau tidak bisa datang ke rumah sekarang? Oh God! Kau harus tahu Shinichi Jung, kau ingat anaknya yang akan dijodohkan denganmu?”

“Tidak. Lihat wajah Paman Jung saja tidak pernah, kenapa lagi Nuna?”

“Ibu masih ingin menjodohkan anaknya dengan dirimu, bahkan mengancam kau boleh menikah 2 Kali.”

Kris melongo mendengar penjelasan Nuna-nya. Ibunya… yang bahkan tidak pernah melihat foto anak Paman Shinichi Jung terkesan dan mengancam akan memaksa dirinya menikah lagi? Oh, yang benar saja. Hatinya hanya satu, dan hanya untuk Nana Jung Na Eun, istrinya.

“Nuna… Bisakah kau menyuruh Ibu untuk berhenti menjodohkanku?”

“Entahlah. Jadi kuharap secepatnya kau ke Rumah, dan batalkan perjanjian konyol Ibu. Sampai jumpa, kris”

Kris masih tidak percaya. Seberapa mengagumkannya anak paman Shinichi Jung, sampai ibunya yang tidak pernah melihat wujud aslinya saja memaksa dia untuk menikah dengan gadis itu.

“Cobaan apa ini,” kata Kris mengelus dada. Tangannya menyentuh kalung berbandul belahan bunga itu. Dirinya memandangi bandul itu. Mengingatkan kepada gadis kecil itu lagi. Ah, Kris merindukannya.

Gadis kecil dimasa lalu, dan Jung Na Eun dimasa kini. Kris merindukannya, dia tahu itu.

“If you had love with someone, and she gone from your side, just run away chasing her. Cause you don’t know when the last time you’ll met her”

Entah darimana Kris memikirkan kata-kata yang barusan melintas indah dikepalanya. Tak perlu memikirkan lagi, Kris beranjak dari kursinya dan mengejar apa yang perlu dia kejar.

***

Krystal melihat orang yang didepannya itu sambil tersenyum lebar. Lelaki itu menyerahkan sebuah map ke Krystal, dan Krystal Nampak berbinar menerimanya.

“Suho Oppa,”ujar Krystal menatap lelaki itu, “Makasih ya.”

“Iya. Kita sama sama ingin membuat seseorang yah… seperti itulah,”kata lelaki itu.

“Jung Na Eun dan Jung Na Mi, kan?”kata Krystal retoris.

“Benar… Jung Na Mi.”

***

Kris seperti orang bodoh, itulah pikirannya sekarang. Dia menunggu dikantor Jung Na Eun, dari sejam yang lalu. Berharap Nana datang ke kantor. Dan harapan Kris terwujud, matanya melihat Nana yang berjalan santai menuju kantornya.

Tanpa basa-basi, Kris berlari kearah Nana, lalu menarik tangannya. Nana yang Nampak kaget menoleh, dan ekspresi kaget bercampur sedih langsung menyergap kornea mata Kris.

“Nana,” kata Kris menahan tangan Nana, “We Need to talk,” sambungnya, menatap mata Nana. Nana memalingkan muka dari Kris, lalu mendesah pelan.

“Apa, Kris?” kata Nana yang terdengar lirih. Kris tahu, Nana sedang berusaha menyembunyikan segalanya dari Kris. Rasanya Kris ingin memeluk Nana yang ada didepannya, namun Kris menahannya. “Aku merindukanmu,”kata Kris pelan dan lirih.

Hening. Sunyi. Nana menatap Kris tajam, seakan tak percaya.

“Aku selalu mencarimu… Kau dimana selama ini?” lanjut Kris merengkuh pipi Nana dan menatapnya dalam, “Aku…”

“Aku kehilangan cara. Aku tidak tahu dimana kau tinggal, dengan siapa kau berinteraksi… aku… gila,”sambung Kris tanpa melepaskan pandangannya dari Nana.

“Jangan berpikir aku tidak pernah mencarimu. Aku selalu mencarimu, namun aku kehabisan ide tentang dimana dirimu… semuanya terasa hampa.”

Nana menghela napas, berusaha sekuat tenaga menghindari tatapan mata Kris yang bisa membuatnya menangis. “Jangan mengkhawatirkan aku Kris,”kata Nana menggantung kalimatnya.

“Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu, kalau…”

“Kau mau kita bercerai, bukan?”lanjut Nana lagi, membuat Kris kaget, “Apa katamu? Cerai?” Kris bertanya pada Nana yang wajahnya sangat datar sekarang.

Nana menghela napas, “Iya. Krystal yang memberikanku surat pernyataannya,”lirih Nana lalu menatap Kris. “Kalau memang itu maumu… Maka, aku setuju.”

Nana melepaskan genggaman tangan Kris, berusaha tersenyum menatap wajah yang bahkan dirinya merasa sama sekali tidak punya tenaga lagi untuk melihatnya. Nana sudah terlalu lelah menghadapi ini semua.

Nana menghela napas, melangkah mundur dari Kris lalu menatapnya, perlahan tersenyum. “Sampai Jumpa, Kris Li.”

Dan Nana pun melangkah meninggalkan Kris yang terus termenung menatapi kepergian Nana. Harapan Kris hanya melihat Nana berbalik arah, dan berlari ke arahnya. Mengucapkan bahwa yang semua dia katakana itu bohong.

Namun, sudah beberapa menit Nana pergi, dia tidak menoleh, namun terus berjalan masuk ke kantornya. Harapan Kris pun hancur seiring angin yang berhembus di pagi itu.

#NANA POV#

Selamat tinggal. Kata yang beberapa jam lalu meluncur indah dari mulutku. Ini sudah tekadku, bukankah tidak ada lagi yang pantas dipertahankan? Kalau memang ada, apa? Apa hal itu bisa mengubah segalanya, aku rasa tidak.

Jangan berpikir aku tidak pernah mencarimu. Aku selalu mencarimu, namun aku kehabisan ide tentang dimana dirimu… semuanya terasa hampa

Tuhan, kenapa disaat aku sudah mulai melupakan Kris, kau memberikan harapanku kembali dari kata-katanya? Tatapannya, segalanya tentang dia. Jiwanya hampa ? Tuhan, aku tidak sanggup melihat wajah sedihnya, hatiku akan sedih bila aku melihatnya…

Kurasakan aku sudah terlampau jauh dengan perasaanku. Melupakan hatiku, tapi aku harus berbuat apa. Disisi lain aku masih mencintainya, namun fakta menyatakan aku harus menjauhinya. Aku kenapa…

Kuatkan aku, Tuhan. Kuatkan Aku…

“Ada masalah lagi, Nana?”

Aku tersentak, menoleh mendapati Onew dengan setumpuk berkas marketingnya sedang menatapku bingung. “Tidak ada kok,” ujarku membela diri. Aku memang tidak ahli dalam berbohong dan  Onew memang sulit untuk dibohongi, buktinya sekarang dia malah balik menatapku tak percaya.“Sudah tahu kau tidak bisa bohong, mau membohongiku lagi.”

“Makan siang nanti kuceritakan,”kataku lagi. Onew mengangguk dan kembali ke mejanya. Aku menghela napas lalu kembali memfokuskan diri.

Makan Siang

Sepertinya Onew sedang menahan amarahnya, terlihat wajahnya merah padam. Tangannya mengepal, sambil terus mendengarkan ceritaku tentang Kris dan Krystal, sambil memandangi jendela kafetaria kantor.

“Jadi sekarang Kris meminta cerai?” katanya setelah sekian lama keheningan tercipta. Aku mengangguk lemas, mengaduk-aduk makan siangku malas. Entah kenapa, memikirkan ini membuatku tak napsu makan, juga kehilangan fokus pada pekerjaan.

Onew menegak air putihnya, lalu kembali menatapku. “Kau setuju?” katanya. “Mau tak mau,”jawabku menghela napas.

“Sudah kuduga. Sejak awal aku sudah menduga, kalau Kris memang brengsek. Lihat kan? Apa yang dia lakukan ke kau sekarang. Sudah menyakitimu bertahun-tahun,”

“2 tahun.”

“Aku tidak perduli, itu cukup lama,” bantahnya mengibaskan tangan didepan wajahku, “Selama ini kau menderita, seenaknya saja menceraikanmu… tunggu dulu, bukankah ini yang terbaik? Dengan cara ini, kau tidak akan pernah sakit hati dengan manusia dingin papan es seluncur Kris Li itu.”

Senyumku tersungging mendengar julukan Amber untuk Kris yang baru saja Onew katakan. “Mungkin.”

Onew kembali meneguk air putihnya, lalu menyantap makan siang ayamnya. Mataku beralih memandang luar jendela, rupanya musim panas akan berganti menjadi musim gugur. Aku selalu menyukai musim gugur dimanapun itu. Tapi… aku merasa, musim gugur tahun ini akan terasa sangat berbeda.

Onew sudah meninggalkanku, kembali bekerja. Kini, aku menikmati kesunyian kafetaria ini dengan memandang jendela. Kesendirian ini kembali membawaku ke Kris dan segala tentang dirinya. Ah, kenapa aku mengingatnya kembali.

“Hai, Na Eun,” panggil seseorang. Aku menoleh, dan sesuai dengan firasatku. Krystal, dengan map ditangannya, datang lalu duduk didepanku dengan senyum lebarnya, “Aku datang sesuai dengan janjiku. Ini,” Dia menunjukkan surat, ternyata ini surat pernyataan perceraiannya, “Ini suratnya.”

Aku menatap Krystal, “Mana tanda tangan Kris kalau begitu? Kenapa dia belum menandatanganinya?” tanyaku melihat kolom nama Kris belum ditanda tangani. Krystal menghela napasnya panjang. “Jung Na Eun, Kris yang memberikan ini padaku,” ujarnya penuh keyakinan.

Aku menatap surat itu. Inikah yang terbaik untukku? Berpisah dengan Kris? Tanganku masih terpaku pada pulpen yang Krystal berikan untuk menanda tanganinya. Aku meraih pulpen itu, dan menandatanganinya.

“Sudah.”

Kulihat Krystal bahagia melihatku selesai dengan berkas ini. Tanpa ragu, aku beranjak, membungkuk sedikit dan pergi meninggalkan Krystal.

Inilah pilihanku. Aku harus memantapkan diri. Maafkan aku, Kris.

#AUTHOR POV#

Semilir angin di dekat Sungai Han membelai lembut rambut yang dari tadi menari mengikuti alunan irama alam. Wajahnya menatap kosong riak Sungai Han yang bergerak. Hatinya sehampa langit malam yang luas, kontras dengan riuh ramai kendaraan jalanan.

Dirinya memejamkan mata. Selamat tinggal ternyata kalimat yang bisa membuat hatinya berantakan, seperti saat ini. Sekarang dirinya bertanya, apa masih ada harapan untuknya, agar bisa kembali seperti dulu? Dimana orang yang dirinya cintai masih ada disampingnya, bersamanya dan membagi senyuman dan tawa. Tanpa ada sedikit luka.

Tangannya kembali memutar cincin pernikahan yang tersemat dijarinya. Apa dengan memutar-mutar bisa mengembalikan segalanya? Dirinya sekarang sudah tidak bisa berpikir logis. Seluruh tenaganya habis, jiwanya tersedot entah dimana.

“Aku tidak mau berpisah.”

Kris tersenyum pahit. Bodoh, hal itu yang dia batinkan. Kini Nana sudah ingin bercerai, apa lagi haknya?

“Aku tidak mau pergi dari sisimu.”

Kris masih mengingat, Nana masih memakai cincinnya. Tersemat manis dijarinya. Kris kembali mencoba berharap. Tapi, apa orang sepertinya pantas untuk berharap lebih? Sementara dirinya telah melakukan kesalahan yang fatal?

“Hey Bro,” seseorang menepuk pundak Kris. Kris menoleh kesamping, mendapati sosok Min Ho Choi duduk sambil meminum sekaleng bir. Kris memalingkan wajah sebal kembali menatap riak Sungai Han tenang.

“Hey, tidak usah marah denganku. Ya, aku tahu kita bertiga salah,” kata Min Ho membuka percakapan. Kris menghela napas berat. “Aku yang paling salah,” jawab Kris menyandarkan punggungnya dikursi taman yang panjang.

Min Ho juga sebenarnya merasa bersalah setelah mengetahui semuanya dari Jong Hyun. Tapi, apa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kini, melihat Kris tanpa semangat seperti ini menyita rasa penyesalan buat Min Ho. Dirinya lah pencetus utama semuanya.

“Tapi, sebenarnya bagaimana perasaanmu dengan Nana?”

Kris terdiam. Matanya yang terpejam, terbuka dan menatap Min Ho. “Menurutmu?” seru Kris. Retoris, karena Min Ho tahu apa jawabannya. Namun, Min Ho tersenyum tipis melihat teman satu gengnya kembali memejamkan mata.

“Kau tidak mungkin ke Sungai Han kalau tidak ada masalah. Dan masalahnya adalah Jung Na Eun, benar kan?”

Kris tidak menggubris pertanyaan Min Ho. Min Ho terus saja mengoceh, “Sebenarnya, aku tahu kau sudah terlalu dalam dengan perasaanmu terhadap Nana. Awalnya kau ingin mempermainkan Nana, namun kau memang tidak memperhitungkan persentase kau akan jatuh hati dengan Nana. Bagaimana?”

“Tapi… Alasan lain kau menikah dengannya karena kau menghindari perjodohan Ibumu. Klasiknya, kau hanya menganggap Nana sebagai istri pajangan atau lebih kasarnya, Istri Mainan.”

Min Ho menatap Kris tajam. “Tapi kenapa harus Nana yang kau pilih? Banyak gadis lain… Itu yang masih menjadi pertanyaan besar diotakku, juga Jong Hyun. Kenapa harus gadis sepolos Nana?”

Kris membuka matanya, dan menatap Min Ho lagi.

“Takdir,” jawabnya singkat. Min Ho tertawa mendengar jawaban Kris. “Jangan mengelak lagi. Aku tahu kalau kau memang sering memperhatikan Nana dari dulu. Hanya saja, kau terlalu naif. Kenapa kau tidak bilang saja perasaanmu yang sebenarnya ke Nana? Bukankan dengan bersikap seperti ini, hanya akan terus menyiksamu?”

Kris mengatupkan mulutnya rapat, tidak jadi membalas pertanyaan Min Ho. Min Ho tersenyum lagi, “Kau terlalu naif, Kris. Apa susahnya mengakui kalau kau mencintainya? Bahkan aku bisa melihat dari matamu. Sangat jelas. Apa kata I Love You terlalu berat untuk kau ucapkan?”

“Aku sudah mencoba tapi Nana menghindariku, kesalahan ini terlalu besar dampaknya,” jawab Kris jujur. Kris memejamkan mata. Dadanya sesak lagi. Lagi, dan lagi. Min Ho menepuk pundak Kris.  “Kau menyerah? Dan kau membiarkan Nana akan berjalan berdampingan di altar pernikahan dengan Se Hun?”

“Tidak.”

“Kau hanyut dalam permainanmu sendiri dan terlihat idiot sekarang. Sekarang, terserah padamu, mau mengejarnya sekali lagi, atau merelakannya dengan Se Hun. Tahu sendiri kan, perasaan Se Hun ke Nana seperti apa”

Min Ho menepuk lagi pundak Kris, dan meninggalkan Kris. Sungguh, melihat Se Hun dengan Nana saja sudah menyita energinya, apalagi jika hal itu terjadi. Kris sangat tidak setuju.

Kris lalu beranjak dan berlari.

#NANA POV#

Aku memandang kosong layar laptopku. Pikiranku blank. Aku tidak bisa menyelesaikan kerja ku besok, dan aku bersiap diri dimarahi oleh atasanku Tuan Jung.

“Akh!”teriakku. aku pun merennganggakan otot ototku, lalu untuk kesekian kalinya, aku mengoleskan minyak aromaterapi ke leher, kepala, dahi dan dibawah mataku.

“Panas! Aduh,” kataku merajuk. Tapi, ini satu satunya obatku melawan kantuk, karena sudah 2 gelas kopi kuhabiskan dan belum juga mempan. Kafein pun tidak bisa membuat mataku kembali terang. Aku menghela napas keras, mengacak-ngacak rambutku yang kini sanggulnya sudah terlihat jelek.

“aku tidak tahu,”gumamku melihat pekerjaanku yang tak kunjung selesai. aku menopang dagu melihatnya, dan handphoneku berdering.

Aku menyambar handphone ini. Tunggu, layar yang tak dikenal. Nomor ini… aku tak kenal juga. Aku pun mengangkatnya

“Yoboseyo? Jung Na Eun berbicara”

“Nana?”

Suara ini, aku sangat mengenal suara ini. Kris.

Aku tidak menjawab. Aku hanya diam membisu

“Nana? Ini aku, Kris”

Aku merangkai kata-kataku, dan mulai mengatakannya

“Ada apa, Kris?”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Aku menggigit bibirku keras, menahan air mata ini agar tidak tumpah.

“Apa?”

“Kuharap kau ke taman Dong Yo sekarang. Pembicaraan ini akan panjang.”

Tidak kujawab. Aku mengatur napasku yang semakin berat, agar tidak menangis

“Kau menangis?”

Iya, karena aku menyayangimu

“Tidak.”

“Kumohon, datanglah. Ini pemintaanku yang terakhir.”

Yang terakhir? Ini Artinya……

Suaranya terdengar sangat lemah.

Apa dia begitu ingin bertemu denganku?

Apa yang akan dia katakan?

“Nana?”

“aku,”

“aku terus menunggu disini?”

“apa katamu?”

“aku…akan pergi karena telah membuatmu menderita. Aku…aku…minta maaf kalau…membuatmu…seperti sekarang.”

Aku terdiam mendengarnya. Kaget, tentu saja. Kaget, kenapa Kang Kris seperti ini

“Aku sangat merindukanmu,”

Aku juga, sangat merindukanmu

“Nana, aku…datanglah. ini kesempatan terakhirku mengatakan hal yang ingin kukatakan.”

Akalku hilang, tidak ada kata pun bisa kuutarakan atau ucapkan.

“kalau kau tidak datang, maka… Aku akan pergi dari hidupmu.”

Apa katanya? Pergi dari…hidupku?

Apa aku sanggup? Apa aku….tidak akan merasa kehilangan?

Tapi, bukankah dia akan pergi, surat perceraian itu. Masih kuingat sampai sekarang.

“Satu lagi, soal perceraian, aku sama sekali tidak mau berpisah denganmu. Krystal merekayasa semuanya. Percayalah padaku.”

Jadi semua yang dikatakan Krystal adalah rekayasa Krystal. Lidahku kelu, tidak bisa menjawab pertanyaan Kris.

“Sampai jumpa, Nana.”

Sambungan ditutup. Air mata yang kutahan, tumpah. Apa aku sanggup kehilangan dia? Apa aku bisa hidup tanpanya?

Selama 2 tahun ini, mungkin dia tidak menganggapku, tapi aku…aku jujur, sangat membutuhkannya. Aku membutuhkannya disisiku, aku merindukannya, aku mencintainya sepenuhnya, sepenuh hatiku membutuhkannya.

Aku menyambar jaketku, lalu berlair keluar flat, memakai sendal dan berlari, terus berlari sambil memegang handphoneku. Seluruh tubuhku membutuhkannya, akal sehat yang menolak dirinya, kuusir dalam dalam. Seluruh syaraf ini bergerak ke arah Kris.

Apa dia memang mencintaiku?

Apa yang akan dia bicarakan?

Apa dia akan memintaku untuk disisinya?
When I reach my hand and I call your name
I just find myself deeply breathe again
All this confusion makes me want you more
Don’t know why I keep on coming back to you

Aku tidak memperdulikan siapa-siapa lagi. Aku ingin mendengar apa yang ingin dikatakan Kris Li kepadaku, tidak peduli sudah seberapa besar dia menyakitiku.

Taman Dong Yo di seberang jalan. Aku terengah-engah, langsung berlari ke arah taman itu. Aku melihatnya, melihatnya, melihat Kris Li disebelah sana.

Kulaju langkahku menuju taman itu, lalu aku mendengar bunyi mobil dari arah 100 meter melaju dengan kecepatan tinggi, Aku menoleh .

Brukk

Kurasakan tubuhku terbanting jauh. Mataku perlahan memudar, dan hanya teriakan minta tolong yang bisa kudengar.

Seluruhnya kemudian menjadi gelap.

#AUTHOR POV#

Krystal memukul setir mobilnya kesal. Air matanya sudah banyak tertumpah jatuh. Kepalanya pusing karena meminum banyak alcohol. Tidak perduli, dia hanya ingin Kris menjadi miliknya. Tapi, tadi siang dia dipermalukan oleh Kris.

Kris membentaknya, merobek surat palsu milik Krystal, dan meninggalkan Krystal yang menahan malu. “Ah!” teriak Krystal. Sekarang, mobil yang dia kemudi mulai berjalan tidak menentu. Sudah berapa kali menabrak pembatas jalanan.

Krystal lalu melirik jalan kesal. Tiba-tiba, dia menginjak pedal gas, dan melajukan mobilnya lebih kencang dari sebelumnya. Kecepatan yang melanggar. Peduli apa, batin Krystal.

Brukk

Krystal menginjak rem. Tidak, dia menabrak seseorang. Orang itu terpental jauh, dan langsung tak bergerak. Krystal ketakutan, dan memutar balik mobilnya lalu menginjak gas lagi. Kabur, hanya itu satu-satunya pikiran di otaknya.

***

Pulau Hateruma, Kepulauan Yaeyama, Jepang

Nami membelak matanya kaget. Sungguh, mimpinya sangat tidak menyenangkan. Dirinya bangkit terduduk dan memijit kepalanya. Masih heran dengan mimpinya barusan. Aneh, kenapa dia bermimpi Nana ada dirumah sakit, terbaring lemah dengan berbagai alat kedokteran mengerubunginya.

“Ada apa, Nami?” Tanya Him Chan duduk disamping Nami. Nami menoleh kearah Him Chan, “Aku bermimpi tentang adikku, Nana.”

Him Chan membelai rambut Nami pelan. “Kau sudah terlalu stress dengan kasusmu dan juga Suho. Itu hanya pikiranmu saja, kembalilah tidur.”

“Tidak. Aku yakin, adikku kenapa-kenapa.”

Nami meringkuk memeluk lututnya, memandangi langit indah malam hari dengan rasa cemas. Tangannya mulai bergetar, takut. Dengan susah payah, dia meraih handphonenya, lalu menekan nomor Byun Baek Hyun.

“Halo, Nami?”

“Baek Hyun, tolong, cari tahu keadaan Nana sekarang seperti apa. Aku khawatir.”

“Kukira hanya aku saja, ternyata Nuna juga seperti itu.”

“Kau Juga merasa Nana sedang dalam bahaya?”
“Iya. Biar aku saja yang cari tahu. Nami Nuna beristirahatlah, masalah Nuna terlalu banyak sehingga membuat Nuna harus menyepi di sana.”

“AKu tahu. Kabari aku secepatnya, ya?”

“Iya.”

“Kuharap adikmu baik-baik saja, Nami.”

***

Kris Li memandang langit yang terasa mengejeknya. Angin serasa membisikkan perbuatannya. Rumput seakan menyindirnya halus dengan gerakan lembutnya. Semuanya menertawakan dan menghujaminya dengan lembut, namun menusuk. Sampai ke nuraninya merasakan pdeihnya sindiran itu.

Kris Li menghirup oksigen dalam, untuk menenangkannya. Setiap detik saat itu terasa seperti palu memukul kepalanya. Sakit.

Kerumunan di tepi jalan mengalihkan perhatian Kris. Sepertinya ada orang yang kecelakaan, baru saja. Dia pun terarah ke sana. Kris Li berjalan, namun ada sebersit perasaan halus, yang membuatnya khawatir. Rasa khawatir itu semakin dia berjalan kearah kerumunan itu, semakin besar. Siapa dia? Kenapa Aku mengkhawatirkannya?batin Kris.

Kris Li melihat ke arah pusat perkumpulan tersebut. Sayang, dia terlambat. Korbannya sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Kata orang di TKP tersebut, korban adalah seorang gadis yang berusia sekitar 20-an, terlihat sedang terburu-buru. Namun, sang pengemudi menabrak gadis itu, padahal gadis itu sudah melihat lampu lalu lintas.

Kris Li kembali melihat ke arah jalan raya, siapa tahu sosok yang dia cari muncul. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada

“Kau menginginkan aku pergi?”

“Akh!” Kris meringis. Jarinya terluka, tergores dengan paku besar yang menancap di kursi taman itu. Sial, kenapa bisa paku ini menancap seperti ini?

Kris berjalan ke minimarket 24jam terdekat. Sepanjang jalan, perasaannya gelisah. Sangat gelisah. Merasa ada sesuatu yang terjadi, tapi Kris tidak tahu hal itu apa.

AKhirnya FF nya di post (9^o^)9

buat para readers yang sering menunggu lama, kata Authornya maaf sebesar-besarnya. Need Critizm and Suggestion buat FF ini lebih baik. yang mau menghubungi atau sekedar say hy sama authornya, bisa ke hayashimirai@ymail.com dia baik kok ^o^v

oh Ya, jangan silent readers dong. please, kasian Author HayaMira yang karyanya dikomen dikit. jadi, apa susahnya mengomentari,kan?

disini juga udah muncul Nami. bentar, tenang kok ada sequelnya versi Nami. jadi yang ngepens sama Nami (?) bisa menunggu sekuel yang sedang dibuat ^^b

Bye, see ya next part XD

88 Responses to “FF : Please, Stop The Time [CHAPTER 6]”

  1. kimasshiyffa August 25, 2013 at 2:28 pm #

    ya amplop masalah baru dtng lagi…..

  2. damnilovebsj September 23, 2013 at 1:50 pm #

    Yatuhan jangan pisahin mereka donggg :(

  3. gyuwoonmel April 14, 2014 at 9:38 pm #

    Wah nana tabrakan. Sebenernya penasaran sama yg terjadi dengan nami dan suho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 21,187 other followers

%d bloggers like this: