Cappuccino (Part 11)

5 Jan

cappuccino-by-zola-kharisaAuthor: Zola Kharisa

Title: Cappuccino

Cast: Han Hye-Na (OC), Cho Kyuhyun, Other Cast

Genre: Romance, AU, Family

Rating: PG+15

Length: Chapter

Disclaimer: This story and OC is mine. But the other cast is belong to God.

Credit Poster: Thanks to MissFishyJazz

Previous: [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4A] [Part 4B]

 [Part 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8] [Part 9] [Part 10]

~oOo~

AUTHOR’S POV

Sora memasuki pelataran butik dengan paper bag di tangan. Senyum puas tersungging di bibirnya kala melihat isi butik itu penuh dengan barang-barang sesuai dengan ekspektasinya. Ia menilik Hye-Na yang kelimpungan dari sudut mata.

“Hye-Na, kau cobalah gaun-gaun ini.”

Hye-Na menguap kecil, tak merespon perintah Sora yang tengah menyampirkan gaun-gaun—yang harus diakui gadis itu bahwa semuanya terlihat menawan. Sedikit keinginan terbit di benaknya untuk mencobanya.

“Sora-ssi, aku sudah membeli belasan gaun itu,” tunjuk Hye-Na pada tujuh paper bag dengan berbagai label yang tercantum di sana. “Kau berniat menghabiskan uang hanya untuk benda-benda itu? Hei, kita bahkan belum makan malam.”

“Aku janji ini yang terakhir,” kata Sora seraya menyerahkan sebuah gaun berwarna merah dengan bagian bahu hingga punggung atas yang terbuka. Potongan gaun itu nampaknya selutut, dengan aksen tirai di bagian pinggang kanan. Hye-Na sedikit tergiur.

Sepertinya itu gaun terindah sejak ia melangkah keluar dari rumahnya tadi siang.

Sora mengamati Hye-Na yang terlihat detail memperhatikan setiap inci gaun di tangannya. Sebenarnya, Sora ingin mencoba gaun itu dan membelinya. Namun ketika pikirannya mengingat bahwa ia datang ke sini untuk Hye-Na, jadi ia mengurungkan niat itu. Setidaknya ia yakin bahwa gaun itu lebih cocok dikenakan Hye-Na yang lebih tinggi dua sentimeter darinya.

“Kau janji ini yang terakhir,” tekan Hye-Na. Ia mengambil ragu gaun merah itu dan berjalan menuju kamar ganti. Sora tersenyum puas melihatnya.

***

“Jadi, apa yang akan kau lakukan lagi kali ini?”

Sora bergeming, masih sibuk menyisir rambut panjang Hye-Na. Sentuhan lembut jemari Sora membuat Hye-Na merasa sedikit tenang. Sudah lama seseorang tak mengelus rambutnya dengan hati-hati seperti ini.

Hye-Na menatap dirinya yang sedang duduk di depan cermin. Ia melirik Sora dari pantulan bayangan di depannya. Gadis itu tampak memusatkan fokusnya untuk merapikan rambut Hye-Na, bak hair-stylist. Ini memang konsekuensi Hye-Na yang tidak ingin diajak Sora ke salon.

“Sora-ssi, sebenarnya mengapa kau melakukan ini?”

Sora tak menyahut. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, membuat garis-garis tak beraturan di sepanjang kening Hye-Na.

“Menurutmu, kenapa?”

Hye-Na mendengus, “Aku tak akan bertanya padamu jika aku tahu jawabannya.”

Sora berhenti menyisiri rambut Hye-Na. Ia beralih mengambil pita-pita berwarna putih tulang di atas meja. “Di dalam kehidupan, kita tidak akan tahu seberapa banyak orang yang menyimpan rahasia tentang kita. Entah itu berupa hal yang mereka selidiki sendiri, atau kita yang memang mengungkapkannya secara pribadi. Terhitung di sini termasuk kau. Coba pikirkan berapa banyak orang yang mengetahui rahasiamu?”

“Untuk apa aku memikirkannya?” dengus Hye-Na, kendati otaknya pun berputar mencari jawaban. Seberapa banyak?

Sora menyimpulkan pita itu pada rambut Hye-Na yang sudah terkepang dengan bentuk menyerupai kerangka tulang. Ia tersenyum kecil menatap rambut coklat itu tampak lebih rapi dibanding sebelumnya. “Ada banyak hal yang perlu kau ketahui, Hye-Na. Meskipun kau tak ingin mengetahuinya, mungkin cukup baik bila kau mau tertarik. Setidaknya pada salah satunya.”

“Seperti apa misalnya?”

Sora mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang, tepat di seberang Hye-Na. Gadis itu berbalik hingga memunggungi cermin.

“Ini mungkin akan membuatmu terus teringat untuk beberapa waktu. Tetapi, jika kau bisa mengendalikannya, kurasa tak butuh waktu lama untuk kau mengubur seluruh apa yang akan kukatakan nanti di dalam ingatanmu,” Sora menghela napas.

“Baiklah. Aku sudah cukup mengantuk, Sora-ssi, jadi tolong jangan diperlambat,” kata Hye-Na seraya menguap kecil.

Sora menarik napas dalam-dalam, “Aku menyukai Kyuhyun. Sudah sejak lama aku menyukainya,” ia memulai pembicaraan. Mendengus tatkala raut Hye-Na tampak datar, meski gadis itu tahu bahwa Hye-Na tertegun. Tubuh gadis itu terlihat kaku selama beberapa detik usai Sora mengucapkan kalimat pembukanya.

“Banyak hal yang kulalui bersama dengan Kyuhyun. Semenjak meninggalnya kedua orangtuaku, hanya Kyuhyun yang mau membuka mata. Tidak mengejekku seperti kebanyakan orang lain. Atau sekadar berkasak-kusuk di belakangku dan menyebar gosip tak berdasar. Ia membantuku untuk melupakan segala keterpurukanku dan mengulurkan tangan kendati ia sendiri pun menjadi bahan omongan.

“Masa-masa SMA itu kuhabiskan bersama dengan Kyuhyun. Ia mengajariku banyak hal, bahkan membuatku percaya bahwa meninggalnya kedua orangtuaku bukanlah sesuatu yang perlu disesali. Tidak ada yang terlibat di baliknya. Tuhan memang menggariskanku takdir seperti itu. Lalu, apa yang bisa kuperbuat bila Tuhan sudah berkehendak?

“Nyonya dan Tuan Cho juga amat baik padaku. Mereka selalu membantuku jika aku mengalami kesusahan semisal… katakanlah, uang. Sejak orangtuaku meninggal, perusahaan yang ditangani appa mengalami penurunan drastis. Akibatnya banyak pegawai yang mengundurkan diri atau sekadar bekerja sama dengan perusahaan rival appa-ku demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Saat itu mungkin merupakan masa-masa gelapku.”

“Aku tidak pernah tahu soal ini,” gumam Hye-Na.

“Tidak ada yang tahu kecuali aku dan keluarga Kyuhyun. Tuan Cho saat itu mengeluarkan uang cukup banyak kepada media massa agar tutup mulut dari kasus nyaris bangkrutnya perusahaan appa-ku. Ketika itu juga, Tuan Cho menyarankan agar Jungsoo oppa mengambil alih perusahaan appa. Yah, saat itu tidak ada lagi alasanku menolak jika perusahaan appa sudah di ujung tanduk, bukan?”

“Lalu soal kepergianmu ke Amerika?”

“Itu terjadi tepat seminggu setelah Jungsoo oppa bekerja di perusahaan appa. Memang, bukan waktu yang tepat untuk meneruskan mimpiku ke Amerika. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk menghindar sementara dari Seoul. Dari orang-orang yang masih betah menyebarkan gosip bodoh tentangku, juga Kyuhyun yang…”

Suara dering ponsel dari saku Hye-Na memutus sepihak ucapan Sora. “Angkat saja,”

Hye-Na mengangguk, lantas dengan cepat menempelkan ponsel ke telinga. “Yeoboseyo,”

“Oh. Ya, ada apa, Oppa?

“Hari ini? Hmm, kebetulan aku sedang bersama dengan Sora sekarang. Memang ada hal penting apa?”

“Baiklah. Kami akan segera ke sana.”

“Ada apa?” tanya Sora datar. Mengingat Hye-Na memanggil ‘Oppa’ pada suara di seberang sana. Kemungkinan antara Donghae ataupun Jungsoo.

“Jungsoo oppa meminta kita ke kafe Byun,” sahut Hye-Na. “Ia mengatakan bahwa ada hal penting yang harus disampaikannya.”

Sora berjengit, matanya menatap kaget. “Kita? Dia menyuruhku ikut juga?”

Hye-Na mengangguk. Sora mendengus kasar.

“Ya, sudah. Mungkin memang ada hal penting yang ingin disampaikannya. Kajja, bersiap-siaplah, Hye-Na.”

***

“Bagaimana?”

Jisun memandang lembar demi lembar kertas di tangannya. Matanya berbinar kala memorinya berputar membentuk bayang-bayang akan masa depan. Senyum kecil mengulas di bibirnya.

“Bagaimana bisa kau sekreatif ini? Sungguh, ini luar biasa.”

“Kau harus bersyukur mempunyai suami sepertiku,” kata Hyunjoo. “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Tentu saja menghubungi Hanna dan Yeonghwan,” tukas Jisun semangat. “Ada beberapa hal yang perlu mereka ketahui, bukan? Lalu, apa… di rumah, Hye-Na baik-baik saja?”

Hyunjoo memperbaiki letak kacamatanya. “Bukankah lebih baik kita mempercayai mereka?”

Jisun menghela napas, “Ini menjadi lebih rumit,” desahnya.

Hyunjoo terpaku berpikir, tak lama mengempaskan punggungnya pada sandaran sofa. “Mungkin tidak akan serumit ini jika menyangkut masalah antara ‘masa lalu’ dan ‘sekarang’. Ada beberapa poin penting yang mereka ketahui sehingga hal itu membuat rencana ini berjalan dengan lambat. Lagi pula, sepertinya Hye-Na dan Kyuhyun sudah mengetahui rencana kita lebih dalam. Tapi—“

“Untuk kali ini, mereka tidak tahu, bukan?”

Hyunjoo menggeleng, “Hanna dan Yeonghwan saja belum tahu.”

“Apa kau sudah menghubungi Jungsoo?” Jisun mengalihkan topik. “Mereka di mana sekarang?”

“Sabarlah Jisun,” kekeh Hyunjoo. “Mungkin sekarang Jungsoo sudah bertemu dengan Hye-Na. Sebenarnya, rencananya sedikit berubah karena Sora meminta padaku agar ia bisa menginap sementara di rumah. Kau juga bertemu dengannya tadi, kan?”

Jisun mengangguk, “Awalnya aku terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba. Tapi, setelah kuperhatikan lebih detail, gadis itu cantik dan terlihat cerdas, Hyun. Lalu, ia juga mengatakan rencanamu yang kau ubah itu dan aku pun langsung melesat ke sini. Oh, ya… apa ini semua akan baik-baik saja?”

Hyunjoo mengernyit. “Maksudmu?”

“Yah, kau tahu bukan bahwa Sora menaruh perasaan pada Kyuhyun. Apa ia bisa diajak bekerja sama dengan kita jika ia pun masih berharap dengan namja itu?”

Hyunjoo melepaskan tawa, beringsut ke arah Jisun sambil memegang pundak wanita itu. Meremasnya pelan, seolah meyakinkan. “Hmm, apa aku belum memperdengarkanmu voice note yang dikirimkan Sora?”

“Apa?”

“Sepertinya belum,” terka Hyunjoo, lantas dengan perlahan merogoh ponsel dari sakunya. Cekatan, ia menempelkan ponsel itu tepat di telinga Jisun. “Dengar dengan baik, Jisun-ah. Gadis itu memiliki mental dan ambisi yang tinggi. Sepadan. Dan perlu kau ketahui, tak ada satupun orang semacam itu yang mau melakukannya dengan cuma-cuma, bukan?”

***

Hye-Na merengut kesal. “Di mana oppa? Bukankah ia bilang sudah menunggu di sini?”

Sora melirik jam tangannya dan mendengus kecil. Mereka sudah tiba di Kona Beans sejak lima belas menit yang lalu namun sosok Jungsoo sama sekali tak tampak di sepenjuru kafe. Ponsel pria itu pun tidak aktif kala Sora sudah menghubunginya selama di perjalanan. “Kita tidak salah kafe, kan?”

Hye-Na menggeleng dan meraih cappuccino-nya yang tak lagi panas. “Kafe orangtua Kyuhyun memang ini. Satu-satunya mungkin. Setahuku, kafe ini belum membuka cabang.”

“Tak perlu sedetail itu,” gumam Sora geli.

Hye-Na kembali merengut.

“Oh, ya bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?”

Deg. Hye-Na terpaku beberapa saat sebelum bisa menguasai dirinya lagi, ia terlanjur bergumam, “Tidak baik.”

“Apa?”

Hye-Na terkesiap, dengan cepat menatap Sora panik. “Hubungan? Kami… hanya berteman. Tidak lebih, Sora-ssi.”

“Benarkah?” Sora memicingkan mata. “Bukankah kau sudah… he’s kissed you, right?

MWO?!” teriak Hye-Na refleks. Sora memandang sekeliling sambil menunduk minta maaf. Sementara Hye-Na tersenyum tipis menanggapi.

“Yah, aku melihat kau dan Kyuhyun di halaman tadi pagi. Kupikir, ia menciummu. Bukankah begitu?” Sora mengangkat bahu, berpura-pura tidak acuh.

“Tidak. Ia hanya membantuku saat aku hampir jatuh,” tukas Hye-Na.

“Baiklah, lupakan soal Kyuhyun sejenak. Coba kau hubungi Jungsoo oppa dari ponselmu, mungkin saja diangkat. Lagi pula, ia yang mengajakmu bukan?”

“Ia mengajak kita,”

Sora memutar bola mata, sedikit risih. Gadis itu dengan sigap meraih ponsel Hye-Na yang tergeletak di atas meja. “Biar kuhubungi sendiri.”

Hye-Na mengangguk sekilas. Sedikit banyak, ia merasa Sora bukan pribadi yang jahat. Ia bukan tokoh antagonis. Tapi, sedikit perasaannya masih ragu. Tindakan tiba-tiba gadis itu yang berubah sebaik ini—mengajaknya ke butik, salon, lalu bercerita panjang lebar dengannya—malah membuat Hye-Na bimbang. Sedikit curiga.

Sebenarnya apa maumu, Han Hye-Na? Bukankah sudah bagus bila gadis itu memberikan respon baik padamu?

Yeoboseyo,” suara Sora yang mengalun cukup keras di telinga Hye-Na membuyarkan lamunan gadis itu. Cepat-cepat, ia menilik ekspresi Sora yang tak menentu.

Yaa! Apa maksudmu, Oppa? Aish, tahu begini aku tidak akan capek-capek ke sini. Mengapa kau tidak bilang dari awal?”

“Ya, ya. Percayakan padaku. Dan jangan lupa, kirim alamatnya ke ponselku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk.”

“Oke, bye.”

“Ada apa?” Hye-Na memasang raut penasaran begitu Sora sudah bangkit dari duduknya.

“Hye-Na, mengapa kau tidak bilang bahwa Hanna ahjumma baru saja membuka cabang baru?”

Hye-Na membulatkan mata, “Apa? Setahuku tidak—“

“Oke, sebenarnya Jungsoo oppa sedang berada di sana. Ia lupa untuk mengirimimu alamat kafe yang seharusnya. Hah, benar-benar memusingkan.”

Hye-Na mengikuti langkah panjang Sora menuju tempat parkir. “Sora-ssi, memang—“

“Oh ya,” Sora membalikkan badan cepat. Ia menatap Hye-Na dengan pandangan berbinar. “Oppa bilang kalau Kyuhyun sedang bersamanya di sana.”

“Kyuhyun?”

“Iya,” Sora kembali berjalan setelah mengangguk antusias. “Dari cara bicaranya, sepertinya ada suatu hal yang amat penting yang ingin disampaikannya padamu. Hmm, kau sedang tidak bermasalah dengan Kyuhyun, kan, Hye-Na?”

***

Hye-Na membatin cemas. Perasaannya kalut. Sungguh, ia tidak tahu efeknya akan semaksimal ini.

Ia masih ingat betul bagaimana ekspresinya terlontar tatkala Sora menanyakan perihal hubungannya dengan Kyuhyun. Ia pun sendiri bingung bagaimana menjawabnya. Haruskah ia menceritakannya? Pada gadis yang jelas-jelas mencintai pria itu?

Tidak mungkin, keluhnya.

Sejak kejadian tadi pagi, saat Kyuhyun mengatakan bahwa gadis itu memiliki takdir bersama dengannya, pikiran Hye-Na tak bisa terbebas dari bayangan wajah Kyuhyun. Ucapan pria itu membuatnya takut untuk menduga; apa Kyuhyun menyukainya?

Hye-Na lantas menggeleng, cepat.

Gadis itu masih tidak percaya bahwa Kyuhyun memukul Donghae tadi. Kendati ia tidak merespon Kyuhyun, bukan berarti ia tak peduli, kan? Ia peduli. Sangat. Bagaimana mungkin Kyuhyun yang notabene orang asing, memukul Donghae karena alasan refleks? Sungguh tidak masuk akal. Benaknya kembali menduga-duga; apa Kyuhyun cemburu?

Entah mengapa hatinya sedikit lebih lega.

“Hye-Na, kau belum menjawab pertanyaanku.” Ucapan Sora menyentakkan Hye-Na kembali ke dunianya. Tiba-tiba, panik kembali melanda. Bagaimana aku harus menjawabnya?

“Hmm, itu…” Hye-Na memutar bola matanya, berpikir. “Tidak ada yang terjadi. Mungkin… ada insiden kecil. Yah, kau tahu bukan bahwa sifatnya memang,” Hye-Na memicingkan sedikit matanya. “iblis?

Sora tergelak, ia melirik sebentar Hye-Na lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. “Dia memang begitu, biarkan saja.”

Hye-Na mengembuskan napas panjang. “Omong-omong, di mana letak cabang baru Hanna ahjumma?”

“Menurut alamat yang diberikan oppa… sepertinya sekitar daerah Kyunghee.”

Mwo? Mengapa aku sama sekali tidak tahu?”

Sora mencibir, “Kau terlalu memikirkan tentang masalahmu, Hye-ssi. Coba hitung berapa banyak kau menghabiskan waktu bersama Hyo-Mi akhir-akhir ini?”

“Berapa… tunggu, Hyo-Mi? Kau mengenalnya?”

Ah,” meski sedikit, Hye-Na sempat melirat gurat panik Sora di wajahnya. “Itu… yah, siapa yang tidak mengenal gadis paling populer di Kyunghee? Teman Han Hye-Na?”

Hye-Na memiringkan kepalanya, memandang Sora penuh. “Sebegitu populerkah—“

“Kau menjadi populer, Hye-Na. Aku yang notabene bukan mahasiswa di sana pun mengetahuinya, mengapa kau sepolos itu tidak menyadari?”

Rona tipis menjalari pipi Hye-Na. Ia kembali menegakkan kepalanya semula dan menatap lurus jalanan Seoul yang dibasahi titik-titik air hujan. “Hei, ini bukan arah ke kampus, Sora.”

“Ini arah ke kampus,” jawab Sora. Senyum miring itu tercetak jelas di sana. “Bisa dibilang alternatif. Dulu saat SMA, aku sering melewati jalan ini bersama Kyuhyun jika ingin pergi ke taman di dekat Kyunghee.”

“Benarkah? Memang ada taman di sana?”

Sora mengangguk, “Kyuhyun tidak pernah mengajakmu ke sana? Itu berada tepat di belakang gedung Kyunghee. Tamannya begitu luas, juga indah.” Sora menerawang jauh, sesekali senyum terukir di wajahnya.

Hye-Na mencoba menarik kedua sudut bibirnya kendati terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tersenyum.

Dadanya berdenyut cepat, sedikit banyak aliran panas memenuhi tubuhnya.

“Apa,” Hye-Na menarik napas, menetralkan perasaannya. “Kau… sebegitu dekatnya dengan Kyuhyun?”

Hening. Perlahan, Sora tersenyum tipis seraya tangannya membelokan setir pada pelataran kafe. “Ya. Aku dekat dengan Kyuhyun, mungkin lebih dari apa yang kau bayangkan, Hye-Na.”

Seketika itu juga Hye-Na merasa bahwa dadanya berhenti berdenyut.

***

Ada banyak hal yang gadis itu tidak ketahui. Terlalu banyak, hingga menimbulkan berbagai macam pertanyaan yang berbeda. Pikirannya kembali melayang ketika Sora mengatakan bahwa hubungan gadis itu dengan Kyuhyun begitu dekat. Mungkin, lebih dari sekadar sepupu atau sahabat.

Dan Hye-Na tahu apa konsekuensi menanyakan hal yang bersifat pribadi. Hatinya harus siap menerima apa pun yang akan merasuki telinganya. Termasuk penglihatan, hatinya pun harus siap.

Kala Sora memeluk Kyuhyun, begitu posesif. Di depan matanya.

Mengapa sesak? Apakah mencintai seseorang itu akan berefek seperti ini?

Hye-Na melirik Kyuhyun dari sudut mata, berpura-pura tidak acuh. Kendati napasnya semakin tercekat saat dilihatnya Kyuhyun tidak membalas pelukan gadis itu, melainkan sepasang arus lingkar itu menatap tajam dirinya. Seolah ingin menguliti gadis itu, membuat Hye-Na merasa tidak nyaman.

Hye-Na baru bisa membuang napas yang sudah ditahannya lama saat Jungsoo menghampirnya sembari tersenyum. “Hye-Na, mengapa masih di sana? Ayo masuk.”

Hye-Na cepat-cepat menguasai diri dan mengangguk, kakinya melangkah pelan memasuki kafe seraya matanya menatap sekeliling. Takjub, untuk mengekpresikan apa yang dilihatnya kini.

Desain interior kafe itu didominasi oleh warna pastel. Membuat sepasang matanya menatap teduh sekaligus hangat menggerayanginya. Langit-langit kafe itu dibuat tinggi, sehingga udara yang masuk terasa lebih dingin. Lantainya pun terbuat dari kayu yang dicat cokelat, dengan dinding kafe yang berwarna cokelat muda menambah kesan teratur. Aksen jendela yang nyaris memenuhi dinding di sepanjang mulai dari pintu masuk, menambah kesan harmonis di setiap musim, terutama musim gugur. Hye-Na tak dapat lagi menahan kekagumannya begitu melihat meja dan kursi yang ditata sedemikian rupa di dalam kafe tersebut, ditambah poin plus untuk ukiran-ukiran bunga yang menghiasi kursi-kursi itu. Hye-Na tersenyum lembut.

Kaki jenjangnya melangkah mendekati Jungsoo yang ternyata mengamatinya sedari tadi. Pipinya menghangat karena malu. “Oppa, ada hal penting apa sebenarnya?”

Jungsoo melirik Kyuhyun dan Sora yang sudah duduk di kursi, kemudian mengedikkan kepalanya pada Hye-Na untuk mempersilakan gadis itu duduk. Hye-Na menarik napas dalam-dalam kala melihat kursi yang tersisa hanya berada di samping Kyuhyun ketika ia kalah cepat oleh Jungsoo yang sudah duduk di sebelah Sora.

Sial, desahnya.

Dengan enggan, Hye-Na mendudukkan tubuhnya di samping Kyuhyun. Ia menghirup napas dalam-dalam untuk menetralkan jantungnya namun sial, aroma maskulin pria itu malah merasuki indra penciumannya. Membuatnya meringis.

Kyuhyun mengernyitkan dahi begitu melihat Hye-Na memejamkan mata, seolah tengah mencoba melenyapkan hal yang mengusiknya. Kyuhyun membuang napas, dan baru tersadar saat sedari tadi napasnya tertahan. Membuat kerja jantungnya berkali-kali lebih cepat ketika hidungnya tak bisa mengelak aroma manis yang menguar dari rambut panjang Hye-Na. Membuat pria itu tersadar—

–betapa inginnya memeluk gadis itu.

Kyuhyun melemparkan pandang ke arah Ahra yang sedang menatapnya di balik meja kasir. Pria itu mendengus saat Ahra mengedikkan bahu ke arah Hye-Na. Iya tahu. Sungguh. Apa yang dimaksud dengan isyarat Ahra itu. Dan berjanji akan mengajak gadis itu bicara selesai ini.

“Apa yang ingin Oppa bicarakan?” suara Hye-Na menyeruak ke dalam gendang telinga Kyuhyun, lantas dengan gerakan tak terduga pria itu menolehkan kepala, menatap Hye-Na dari samping. Memperhatikan wajah gadis itu dalam.

“Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjalku akhir-akhir ini,” kata Jungsoo menjawab. “Tapi… aku takut ini malah mengusikmu. Atau kuharap kau tidak terlalu memikirkannya jauh.”

“Memang apa?” Hye-Na penasaran. Kyuhyun masih memperhatikan raut gadis itu sebelum tersentak ketika mendengar Jungsoo berdeham. Lantas mengalihkan pandang ke arah Ahra yang baru saja menyerahkan gelas-gelas frappuccino di mejanya.

Eonni,” sapa Hye-Na dan Sora bersamaan. Kyuhyun kembali mengernyit; bingung dengan reaksi kedua gadis itu yang tampak kompak.

“Hai kalian,” balas Ahra. Ia melirik Kyuhyun sesaat lalu kembali menatap Hye-Na dan Sora, “Maaf kalau aku mengganggu kalian. Tetapi sebagai bentuk dibukanya cabang baru ini, aku ingin kalian menikmati frappuccino itu. Tenang saja, untuk kali ini kuberikan gratis.”

“Terimakasih,” ucap Jungsoo diikuti anggukan yang lain. Ahra balas tersenyum lalu kembali ke tempatnya setelah menepuk pundak Kyuhyun.

“Jadi, apa sesuatu yang mungkin akan mengusikku itu?” Hye-Na menyeruput pelan frappuccino-nya.

“Sebenarnya bukan hanya kau yang kutakutkan,” Jungsoo melirik Kyuhyun. “Aku juga ragu kalau Kyuhyun tidak tersinggung.”

“Aku?” gumam Kyuhyun. “Sudah cepat selesaikan, Hyung. Memang apa yang akan kami takutkan?”

Jungsoo menghela napas panjang, “Sebenarnya… kalian ini benar-benar sepasang kekasih?”

Kyuhyun menaruh kembali gelas frappuuccino yang hendak diteguknya kala pertanyaan Jungsoo terngiang-ngiang di telinganya. Jantungnya berdentum cepat. Diliriknya Hye-Na dari sudut mata.

Ia mencelos.

Pria itu menatap Hye-Na yang tanpa ekspresi. Rautnya datar tetapi jemari yang berada di pangkuannya tampak samar gemetar. Gadis itu terlihat tengah mengatur napas. Kyuhyun seolah mendapat firasat buruk saat mulut Hye-Na terlihat terbuka, ingin berbicara.

“Hmm… kami—“

“Aku dan dia memang sepasang kekasih, Hyung. Apa yang salah?”

Hye-Na terkesiap begitu Kyuhyun memotong ucapannya. Menatap pria itu tak percaya seolah apa yang didengarnya hanya ilusi semata. Atau mungkin, harapannya.

Hye-Na menggigit bibir, tangannya meraih jemari Kyuhyun dan menggoyangkannya di balik meja. Pria itu mengerti apa yang diinginkan gadis itu; menyudahi semuanya. Membongkar setiap kebohongan di antara mereka. Tetapi, sungguh Kyuhyun tak pernah memiliki niat itu. Ia memang berbohong, awalnya, tapi tidak untuk kali ini.

Kyuhyun mendesah frustasi dan menatap tepat di manik Hye-Na. Meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sorot tajam pria itu mengalihkan fungsi otak Hye-Na dalam sekejap.

“Lalu apa ada pertanyaan lainnya?” tanya Kyuhyun dengan nada tenang sambil tangan kirinya merangkul pundak Hye-Na.

Ah,” Jungsoo kembali menguasai diri. Ia menatap Kyuhyun dan Hye-Na bergantian. “Kalau memang begitu… bisakah kalian menjadi raja dan ratu di hari kelulusan nanti?”

“Raja dan ratu?” Hye-Na mengernyit.

“Ya, raja dan ratu. Kebetulan donatur terbesar untuk acara kelulusan nanti berasal dari Yeonghwan ahjusshi, dan beberapa staf dosen di sana mengajukan usul agar raja dan ratu kembali dihadirkan dalam acara kelulusan. Menurut perolehan nilai tertinggi di kampus itu, kau dan Kyuhyun berhasil menyandang posisi tertinggi di ujian kemarin.”

“Darimana kau mengetahui hal itu, Hyung?”

“Tidak sulit. Yeonghwan ahjusshi sendiri yang menyampaikannya padaku.”

“Mengapa aku tidak diberitahu duluan?” tanya Kyuhyun dengan nada sedikit kesal.

“Beliau bilang ponselmu tidak aktif,” sahut Jungsoo. “Dan ia baru mengatakannya padaku beberapa menit setelah aku bertemu denganmu di rumah Hye-Na.”

Kyuhyun mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ia mengeratkan rangkulannya pada Hye-Na. “Aku dan gadis ini?”

Hye-Na merengut, “Mengapa kau mengatakannya seolah-olah tak percaya?”

“Bukan begitu, Na-ya. Tapi—“

“Hei, tidak bisakah kalian diam sebentar?” Jungsoo menengahi. Hye-Na menatap Jungsoo seraya tersenyum masam. Entah mengapa sedikit perasaannya lebih lega ketika matanya menangkap raut Sora tampak datar, tidak ada kecemburuan di sana.

“Berarti dua hari lagi kalian harus siap,” kata Jungsoo hendak mengambil ancang-ancang untuk beranjak sementara Hye-Na mengangkat kedua tangan di depan dada.

“Siap? Untuk apa? Hanya menjadi raja dan ratu, kan?”

“Ayolah, Hye-Na,” Sora mengambil alih. “Berapa tahun kau berkuliah di sana, eoh? Raja dan ratu berarti dua orang paling berpengaruh di kampus. Mereka akan menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di satu angkatan. Kau dan Kyuhyun harus tampil berbeda.”

“Kata lain dari memukau,” timpal Jungsoo.

Yup, sekaligus jangan lupakan adegan puncak.” Sora tersenyum lebar.

Puncak?” Kyuhyun menekankan katanya. “Apa maksudmu?”

Sora memutar bola mata dan bangkit berdiri, “Kurasa besok kau akan mengetahuinya. Aku yakin seluruh mahasiswa di kampus akan gempar.”

Yaa! Berhenti membuatku bingung!” Kyuhyun menatap Jungsoo yang sudah beranjak berdiri.

“Seperti yang dikatakan Sora, Kyuhyun-ah. Tidak seru jika aku mengatakannya sekarang. Tidak sabar menunggu besok, hmm?” Jungsoo tersenyum menggoda sebelum beringsut menjauh dan menggapai lengan Sora keluar dari kafe.

Kyuhyun mendengus panjang, “Apa yang… hei¸kau mau ke mana?”

Hye-Na menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kyuhyun. Sorot tajam gadis itu melumpuhkan pertahanan Kyuhyun untuk tidak menghela napas. Berada di dekat gadis itu juga berefek sama dengan tercekatnya napas.

“Bukankah sudah selesai? Aku ingin pulang.” Hye-Na berujar dingin dan baru akan melangkah lagi saat tiba-tiba sosok Ahra sudah muncul di depannya. Membuatnya tersentak dan tak bisa lagi menolak begitu suara lembut Ahra mengalun.

“Mau minum teh sebentar?”

***

Kyuhyun sadar bahwa permasalahannya dengan gadis itu rumit. Ini tidak akan selesai hanya dengan permintaan maaf, sesuai dengan apa yang dikatakan gadis itu bahwa perlu ada jaminan dan alasan kuat mengapa Kyuhyun tetap mempertahankannya. Alasan logis dan bisa diterima akal sehat. Alasan yang mampu membuat Hye-Na tak akan bisa menghindarinya lagi.

Dan Kyuhyun sebenarnya tahu apa alasannya.

Ahra menuangkan teh ke dalam cangkir Hye-Na dan Kyuhyun. Gadis itu menatap mereka yang duduk dipisahkan oleh jarak, membuatnya mengernyit. “Kurasa saat kalian bersama dengan Jungsoo tadi, kalian tampak baik-baik saja. Mengapa sekarang kalian duduk berjarak seperti itu?”

Seperti tersadar, Kyuhyun mendekatkan posisi duduknya dengan Hye-Na sembari tangannya menarik pelan bahu gadis itu, membuatnya mau tak mau menurut. “Ah, mungkin… terlalu memalukan jika dilihat olehmu, Noona. Bisa kau… keluar sebentar?”

“Kau mengusirku? Memang apa yang ingin kau lakukan hanya berdua dengan Hye-Na?” goda Ahra. Seketika tanpa bisa dicegah pipi Hye-Na merona.

“Ada banyak hal,” tukas Kyuhyun menekankan tiap katanya. Hye-Na membulatkan mata.

“Baiklah, aku keluar.” Ahra terkekeh jahil sembari melangkah keluar dari ruangan khusus di dalam kafe itu. Tanpa sadar keduanya menghela napas.

Hye-Na mengibaskan tangan Kyuhyun yang melingkar di lehernya, “Mau apa kau sebenarnya?”

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam, “Soal yang kemarin… Na-ya, bisakah kau—“

“Ya, aku tahu harus bertahan di sampingmu, kan? Mempertahakan kebohongan ini hingga acara kelulusan nanti. Lalu, setelah acara kelulusan itu… kita selesai, bukan? Kau pasti berpikir itu akan jauh lebih baik karena teman-temanmu bisa mengira bahwa kau dan aku berpisah setelahnya karena berbeda jarak. Kau ke luar negeri dan aku tetap di sini. Sederhana,” dengus Hye-Na, menilik Kyuhyun tepat di manik.

“Aku belum mengatakan apa pun,” geleng Kyuhyun. “Dan kau pikir aku akan berpikiran serendah itu?”

“Rendah?” Hye-Na menarik napas, “Kau yang memulai semua ini, Kyu. Harusnya…” tenggorokan gadis itu seolah tercekat begitu saja saat pikirannya melayang ke titik di kali pertama mereka bertemu. Menyusun semua sandiwara itu tanpa memikirkan akibat yang mungkin terjadi; ketika salah satu di antara mereka menaruh perasaan.

“Aku… aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya… tapi, bagaimana cara mengakhiri kebohongan ini jika kedua keluarga kita sudah terlalu masuk dalam sandiwara yang kita buat? Bagaimana kita menjelaskan kepada mereka… kalau, kita hanya berpura-pura? Mengecewakan mereka terlalu sulit bagiku.”

“Kalau begitu,” Kyuhyun memejamkan mata sesaat, “Bagaimana kalau… tak usah diakhiri?”

“Apa?”

“Tak perlu diakhiri,” gumam Kyuhyun, dengan segera meraih jemari gadis itu sebelum beranjak. “Tak bisakah kau…”

“Ya, aku akan bertahan di sampingmu.” Hye-Na mengibaskan tangannya dalam genggaman Kyuhyun, “Sampai dua hari lagi. Aku tak ingin mengecewakan appa-mu, juga Jungsoo oppa. Hanya dua hari, kan?” ia menatap dingin Kyuhyun.

“Hanya dua hari?” bisik Kyuhyun tak yakin. Sangat.

“Untuk apa… berlama-lama, Kyu? Kau tidak mencintaiku. Kebohongan ini hanya status semata, bukan? Tak perlu diperpanjang maupun dipermasalahkan,” tukas Hye-Na dan hendak melangkah lagi ketika tangan Kyuhyun menahannya. Erat.

“Kau yakin?”

Hye-Na menghela napas panjang, membalikkan tubuh sembari menatap Kyuhyun dalam. Kali ini egoisnya sengaja disingkirkan sejenak, membiarkan dirinya secara terang-terangan menatap Kyuhyun. Lembut. “Aku… tak pernah merasa seyakin ini sebelumnya.”

“Aku mengenalmu bukan satu dua hari, Han Hye-Na,” geram Kyuhyun, merasa perlu menahan keinginannya untuk tidak memeluk gadis itu dan meneriakkannya tepat di telinga. “Ada banyak hal yang kau sembunyikan dariku. Bersikap tenang seolah tak pernah ada yang terjadi di antara kita. Kau bahkan masih akan menyangkal jika kau dan aku ditakdirkan bersama?”

“Takdir? Kau pikir itu lelucon?”

“Tidak ada yang melucu di sini, Na-ya. Aku hanya mengungkapkan faktanya. Lagi pula, kurasa pada akhirnya kita akan tetap bersama—dengan atau tidak adanya persetujuanmu.”

“Kau… menyetujuinya?” desis Hye-Na, seakan baru dirasuki pemikiran konyol. “Kyuhyun—“

“Bagaimana kalau aku bilang, ya?” Kyuhyun beringsut ke arah Hye-Na, tatapan tajamnya menghujam Hye-Na tanpa cela. “Apa yang akan kau jawab?”

Tubuh Hye-Na terasa bergetar saat Kyuhyun menarik pinggangnya, mendongakkan wajah gadis itu dengan telunjuknya. Dan nyaris terbius oleh pandangan namja itu saat perlahan mendekatkan wajah, membekukan Hye-Na hanya karena sapuan hangat napas pria itu di wajahnya.

“Berhenti!” Hye-Na mendorong tubuh Kyuhyun tepat sedetik ketika bibir keduanya nyaris bertemu, “Kenapa kau melakukan ini, hah?!” ia menormalkan deru napasnya.

Hye-Na membalikan badan, meninggalkan Kyuhyun yang mematung di tempatnya. Sebelum benar-benar keluar, ia sempat berdiri di ambang pintu, “Kau tidak mencintaiku, Kyuhyun. Tolong, jangan semakin memperumit perasaanku padamu.”

Kyuhyun menerawang Hye-Na yang perlahan menghilang di balik pintu. Kakinya amat ingin mengejar gadis itu, namun seolah tertahan oleh beban berat.

“Sial,” desisnya. Mengapa aku tidak dapat mengontrol perasaanku?

Kyuhyun mengempaskan tubuhnya pada sofa putih di ruangan itu. Pikirannya berkecamuk. Bayangan Hye-Na yang menolaknya tadi masih terngiang jelas di kepalanya.

Pikirannya melayang jauh, sebelum suara dering ponsel dalam saku celananya membuat ia mendesah kesal. Siapa yang menelepon di saat-saat tak tepat seperti ini?

Yeoboseyo,”

Ya! Apa-apaan suaramu itu, Cho Kyuhyun.”

“Ah, Appa? Ada apa?”

“Kau di mana sekarang? Cepat pulang! Ada yang ingin Appa bicarakan.”

“Aku ada si Kona Beans. Ya, aku pulang sekarang.”

Kyuhyun mematikan sambungan telepon ketika Yeonghwan di seberang sana mengakhirinya.

Kyuhyun melangkah gontai keluar dari ruangan itu. Ditatapnya sekilas Ahra yang memandang dengan raut cemas; mengingat Hye-Na keluar dari ruangan itu duluan. Sendirian.

“Apa kau gagal lagi kali ini?”

Kyuhyun mendesah berat, “Noona… tolong jangan tanya apa pun padaku dulu saat ini. Kurasa Hye-Na butuh waktu. Menaklukan hatinya harus dengan cara yang berbeda, Noona. Sekarang, yang kau lakukan hanya perlu percaya pada adikmu ini. Oke?”

***

Kyuhyun melangkah gontai memasuki rumahnya. Sunyi mendera. Fokusnya sedikit teralih begitu melihat ruang tamu kosong dan para pelayan pun tampak tidak berseliweran di dekatnya. Biasanya di saat jam segini, beberapa pelayan akan langsung menghambur ke arahnya memberi salam atau sekadar mengajaknya untuk makan.

Ia menaiki tangga ke lantai atas saat mendengar suara saling bersahutan di halaman belakang. Oh, tidak. Sepertinya bukan hanya suara satu atau dua orang saja di sana.

Kyuhyun membalikkan badan dan berjalan menuju halaman belakang. Seketika tertegun saat mendapati halaman belakang tampak ramai oleh berbagai dekorasi. “Ini ada apa?”

Hanna yang sedang berbicara dengan kepala pelayan di rumah itu, Jaekyung, segera menoleh. “Kyu!”

Melihat lambaian tangan Hanna, Kyuhyun melangkah cepat. “Eomma, memang ada pesta?”

Hanna tersenyum, “Yah, tidak bisa dibilang pesta juga. Hanya perayaan kecil.”

“Perayaan kecil dengan dekorasi se… terlalu berlebihan ini?”

“Tidak berlebihan. Eomma hanya membuat halaman belakang kita ini tampak seperti taman. Bukankah ini manis?” Hanna mengedarkan pandangan.

“Memang manis. Tapi, ada perayaan apa?”

Hanna kembali menatap Kyuhyun, mengulas senyum kecil. “Lusa hari kelulusanmu, bukan? Eomma dan Appa berniat mengundang keluarga besar kita untuk merayakannya tepat setelah acaramu selesai nanti. Yah, anggap sebagai perayaan akan kesuksesanmu.”

Eomma, aku tidak butuh semua ini.”

Hanna melipat kedua tangan di dada, “Kau berniat membatalkan ini? Hasil jerih payah orang-orang itu?” tunjuk Hanna pada para pelayan yang bekerja giat mendekorasi tempat itu.

Kyuhyun menghela napas, “Terserah Eomma saja.”

Hanna menepuk pundak Kyuhyun. “Wajahmu terlihat murung. Ada masalah?”

“Sedikit,” gumam Kyuhyun. “Tapi Eomma tak perlu mencemaskannya.”

Hanna memiringkan sedikit kepalanya, “Kalau kau mau menceritakannya…”

Eomma, tadi appa meneleponku kalau dia menyuruhku cepat pulang. Memang ada apa?”

Seakan tersadar, Hanna menepuk dahi. “Ah, ya. Tadi Yeonghwan mengatakan padaku bila kau sudah sampai di rumah, kau di suruh ke ruang kerjanya.”

“Baiklah, terimakasih Eomma.”

Hanna mengangguk, membiarkan Kyuhyun melenggang cepat memasuki rumah.

“Untuk hari ini cukup!” seru Hanna pada para pelayan di sekitarnya. “Kita lanjutkan besok. Pastikan tak ada yang luput dari kertas yang kuberikan. Mengerti?”

***

“Ada hal penting apa, Appa?”

Yeonghwan memutar kursi dan meniti Kyuhyun di balik kacamatanya. “Kau sudah tahu tentang acara kelulusan nanti?”

“Raja dan ratu?”

Yeonghwan mengangguk, “Sebelum Appa membahas ini, sepertinya kau perlu diberi ucapan selamat.”

Kyuhyun tertawa. Merasa geli melihat ayahnya tampak berbasa-basi. “Bukankah aku memang harus berusaha sebaik mungkin?”

“Kau benar. Justru karena kau berusaha sebaik apa yang kau bisa, Appa merasa bangga. Kau melakukannya dengan luar biasa, bukan? Menjadi salah satu lulusan paling diincar oleh sederetan nama besar di Seoul.”

Appa terlalu melebihkan,” rona sedikit menghias pipi Kyuhyun. “Ini memang tugasku sebagai anakmu, kan?”

Yeonghwan tertawa lepas. Sudah lama rasanya tak berbincang sesantai ini dengan Kyuhyun. “Tapi kau perlu memberitahuku alasan di balik ujian kemarin,”

“Alasan? Memang ada apa?” Kyuhyun mengernyit.

“Kau belum melihat hasilnya secara keseluruhan? Salah satu nilai ujianmu berada di bawah Hye-Na.”

“Oh,” Kyuhyun mengangkat bahu. “Mungkin aku tidak beruntung saat itu.”

Yeonghwan memicingkan mata. “Kurasa kau ada masalah dengan Hye-Na saat itu, benar bukan?”

Appa jangan asal menebak,” elak Kyuhyun. “Setidaknya nilaiku yang lain berada di atasnya.”

“Dengan perbandingan yang tipis.”

“Tapi aku tetap perada di peringkat teratas.”

Yeonghwan mendengus geli, “Kurasa kau sedang ada masalah dengan Hye-Na saat ini,”

“Sedikit,” jawab Kyuhyun, tak berniat melanjutkan. “Ngomong-ngomong, Appa akan membahas apa? Kalau soal acara nanti, Jungsoo hyung sudah menjelaskannya.”

“Sebenarnya bukan hanya itu, Appa ingin menanyakan perihal hubunganmu dengan Hye-Na. Apa kau masih mencintai gadis itu? Berniat melanjutkan ke hubungan yang lebih serius?”

Kyuhyun membelalak mendengar rentetan ucapan Yeonghwan yang terlalu inti. Sejak kapan ayahnya menjadi tertarik tentang hubungannya?

A-appa, memang kenapa?”

“Kau masih memiliki niat untuk bekerja di perusahaan Appa?”

“Tentu saja!” ujar Kyuhyun spontan. Ia tidak dapat mengelakkan bahwa keinginannya untuk bekerja di sana amat besar. Perusahaan yang sudah mendominasi nyaris seluruh Asia itu ingin dikembangkannya hingga ke seluruh dunia. Itu mimpinya bertahun-tahun ini.

“Lalu,” Yeonghwan memajukan tubuhnya. “Setelah bekerja di perusahaan Appa, apa yang akan kau lakukan bersama Hye-Na?”

“Yang kulakukan?”

“Kau tidak berniat, ehm, menikahinya?”

“Apa?”

“Menikahinya,” jelas Yeonghwan. “Sudah seberapa jauh hubungan kalian?”

Oh, Tuhan.

Kyuhyun ingin sekali bilang bahwa hubungannya dengan Hye-Na bahkan bukan suatu kebenaran. Belum menginjak dua bulan. Dan mulutnya ingin sekali berteriak bahwa kendati hanya kepura-puraan, hubungan mereka tampak rumit. Sekelumit masalah seolah mengusik kehidupan mereka. Seakan-akan hubungan itu memang terjadi, layaknya para pasangan di luar sana.

Appa, aku…”

“Kau mencintainya, kan?” nada tegas Yeonghwan membuat kepala Kyuhyun berdenyut.

Dan dengan gerakan pelan, Kyuhyun mengangguk.

Yeonghwan tersenyum puas.

“Kalau kau mencintainya, mengapa kau tidak mengungkapkannya?”

Kyuhyun terdiam sejenak. Mencerna baik-baik sebelum dengan cepat mendongak, menatap bingung Yeonghwan. “Appa—“

“Kau bisa mengungkapkannya sekali lagi pada gadis itu, kan? Meyakinkannya bahwa kau mencintainya sama seperti kau menyatakannya dulu? Aish, apa susahnya.”

Kyuhyun mengembuskan napas lega.

“Tidak semudah itu, Appa. Cukup banyak yang terjadi di antara kami. Aku… memang mencintainya, tapi apakah dia juga mencintaiku?”

Yeonghwan mengerutkan dahi, “Dia pasti mencintaimu jika menerima pernyataanmu, bukan?”

“Dulu,” kata Kyuhyun. “Sekarang—“

“Apa dia menunjukan perasaan sukanya pada orang lain?”

Kyuhyun menggeleng, “Kurasa… tidak.”

“Kalau memang begitu, mengapa kau menjadi goyah seperti ini? Cho Kyuhyun, hubunganmu memang belum berjalan lama dengan Hye-Na, tapi Appa rasa jika kau yakin dengan perasaanmu… mengapa kau tidak melamarnya?”

“Hah?”

“Jangan berekspresi seperti itu,” Yeonghwan menggelengkan kepala. “Aku sudah merestuimu seperti ini tapi kau menunjukan gelagat seolah menolaknya.”

“Aku tidak menolaknya!” refleks Kyuhyun berseru. “Ah, aku… biarkan aku memikirkan semuanya, Appa.”

“Baiklah, terserah pada keputusanmu, Kyu.”

Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya sebelum berbalik, “Jadi ini hal penting yang ingin Appa sampaikan?”

Senyuman khas terpampang di wajah Yeonghwan, “Ini memang hal penting, kan?”

Kyuhyun menaikkan alis sebelum tersenyum tipis. Tiba-tiba bayangan wajah Hye-Na berkelebat di otaknya. “Ya, memang penting, Appa.”

***

Sora duduk di sofa ruang tamu sambil melipat kedua tangannya. Matanya meruncing tajam tatkala mendengar suara pintu utama berdecit. Dilihatnya orang yang sudah ditunggu selama berjam-jam olehnya menampakkan wajah.

“Kau tidak lihat sudah jam berapa sekarang?”

Hye-Na menghela napas, dengan enggan melirik jam dinding. “Pukul sembilan malam, kenapa?”

“Kau tanya kenapa?” Sora bangkit dari duduknya. “Han Hye-Na, sebenarnya apa yang kau lakukan dengan namja itu sampai semalam ini?”

“Namja itu siapa?” Hye-Na melewati Sora, mendudukkan tubuhnya pada sofa. Matanya terpejam erat. “Kalau yang kau maksud Kyuhyun, aku tidak bersama dengannya. Ah, tidak sampai samalam ini.”

“Lalu kau darimana?”

“Hanya berjalan-jalan di sekitar taman kota.”

Sora mendengus, mendudukkan tubuhnya di samping Hye-Na. “Jisun ahjumma bilang kalau ia akan menginap di perusahaan bersama Hyunjoo ahjusshi. Ada beberapa proyek yang perlu ditangani.”

Hye-Na hanya balas bergumam. Pikiran dan tubuhnya sudah cukup lelah untuk merespon segala hal di sekitarnya. “Lalu kau sendiri sampai kapan akan menginap di sini?”

“Besok aku akan pulang,” kata Sora. “Oh, ya tadi Hyo-Mi menelepon kalau ponselmu tidak aktif sama sekali. Kubilang saja bahwa ponselmu tertinggal dan dalam keadaan mati. Kau sengaja tidak mengangkatnya?”

“Ponselku mati,” desah Hye-Na. “Dia mengatakan apa lagi?”

“Dia bilang akan menjemputmu besok pagi. Ehm, sekitar jam sembilan.”

“Baiklah. Ah, aku mengantuk sekali. Sora-ssi, kalau kau mau tidur, kau bisa menggunakan kamar tamu tepat di seberang kamarku.” Hye-Na bangkit, menatap heran Sora yang tak bergeming.

“Bisa aku tidur di kamarmu saja?” suara Sora terdengar pelan, nyaris berbisik. “Rasanya lebih nyaman tidur bersama orang yang dikenal di rumah yang… ehm, asing bagiku.”

Hye-Na tertawa. Membuat Sora terkesiap saat mata gadis itu terpejam, melengkung dengan garis anggun. Hye-Na menarik lengan Sora, “Termasuk dengan tidur di rumah pria yang dikenal?”

Sora meninju bahu Hye-Na pelan, “Pengecualian untuk itu.”

Hye-Na beringsut ke kamar dengan Sora di belakangnya. “Sora-ssi, kau di sini hanya menginap satu hari, tapi mengapa membawa koper sebesar itu?” ia menunjuk koper berwarna merah muda di sudut ruangan.

“Oh, itu…” Sora memutar bola mata, berpikir. “Aku… setelah ini, akan menginap di tempat lain. Jungsoo oppa yang mengajakku.”

“Di mana?”

Sora tersenyum, “Di rumah keluarga Cho.”

***

“Hari ini aku akan membuatmu berterimakasih padaku, Han Hye-Na!”

“Mengapa aku harus berterimakasih?” Hye-Na melirik heran Hyo-Mi. Sementara gadis itu hanya balas tersenyum misterius, tak membalas lirikan Hye-Na sama sekali.

Pagi tadi, tepat seperti yang dikatakan Sora semalam, Hyo-Mi datang ke rumah Hye-Na dengan cengiran lebar yang khas. Suatu kebiasaan yang Hye-Na tahu memiliki maksud tersembunyi. Entah apa.

Pikiran sahabatnya itu sangat sulit ditebak.

“Ngomong-ngomong, setelah lulus apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyo-Mi sambil tetap fokus menyetir, sesekali memperhatikan Hye-Na dari sudut mata.

“Mungkin aku akan mencoba bekerja di perusahaan appa,” jawab Hye-Na, ragu.

“Kau tidak ingin pergi ke Cambridge? Kupikir nilaimu di sini cukup untuk melanjutkan studi di sana.”

Hye-Na mendesah, “Aku berubah pikiran.”

“Kenapa?”

“Setelah kecelakaan yang menimpa keluargaku, perusahaan appa nyaris berada di ambang keterpurukan. Meskipun sekarang sudah kembali normal, tetap saja aku tidak yakin kalau sewaktu-waktu perusahaan appa akan jatuh lagi. Kau tahu bahwa usia appa semakin bertambah. Sudah saatnya ia lebih mementingkan kehidupannya, bukan? Bersama eomma.”

“Kau berniat mengambil posisinya?”

“Tidak,” sanggah Hye-Na. “Aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang mendapatkan sesuatu dengan mudah. Aku akan melakukannya dari bawah, nol. Lalu, kau sendiri apa yang akan kau lakukan?”

“Bagaimana dengan Kyuhyun?” alih-alih menjawab, Hyo-Mi malah balik bertanya. Ia memutar kemudi memasuki pelataran sebuah salon mewah.

“Untuk apa kita ke salon?” tanya Hye-Na, menghindari percakapannya tentang Kyuhyun.

“Tentu saja perawatan, Hye-Na! Sudahlah cepat keluar. Dan oh, ya kita akan lanjutkan percakapan yang sebelumnya di dalam. Oke?”

Hye-Na hanya mendesah panjang.

***

Kyuhyun bergerak gelisah di atas kasurnya. Pikirannya dipenuhi oleh ucapan Yeonghwan yang terus terngiang. Membuatnya tak bisa tidur sejak semalam.

“Hei, kau baru bangun?”

Kyuhyun mendengus saat mendengar suara Ahra, “Tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?”

“Ck, kalau kuketuk pun apa kau akan membukakannya untukku?” cibirnya. “Kau kenapa? Baru bangun saja—“

“Aku tidak baru bangun, Noona.”

Ahra dengan cepat menghampiri Kyuhyun, lalu duduk di pinggir ranjang. Mendapati kantung mata di wajah pucat adiknya. “Kau tidak tidur? Sejak kapan kau bisa sekebal itu?”

“Bagaimana bisa aku tidur kalau pikiranku hanya—“

“Han Hye-Na saja? Oh, lihat adikku ini. Kau benar-benar jatuh cinta rupanya.”

Kyuhyun memalingkan wajah, “Appa menanyakan hubunganku dengan Hye-Na kemarin.”

“Lantas? Kau menjawab apa?” mata Ahra berbinar.

Kyuhyun menghela napas, “Ia juga bilang mengapa aku tidak… ehm, menikahinya.”

Ahra terkesiap, kemudian tertawa lepas. Cukup keras hingga Kyuhyun rasanya ingin menyumpal telinganya. “Yaa! Jangan tertawa!”

“Maaf,” gumam Ahra setelah bisa meredakan tawa. “Tidak kusangka appa berpikiran seperti itu. Kalau begitu, bukankah appa berarti bersungguh-sungguh dengan pernyataannya?”

Noona… bagaimana? Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Minta maaflah padanya,” saran Ahra. “Dan kau bisa berbicara baik-baik dengan gadis itu. Katakanlah hal yang diinginkannya.”

“Hal yang diinginkannya…” Kyuhyun bergumam, “Bagaimana bisa aku mengatakannya jika ia ingin… berpisah, Noona?”

MWO?!” Ahra berjengit, rasanya seperti mendapat kabar yang amat buruk. “B-bagaimana bisa? Kau berselingkuh darinya hingga ia ingin berpisah darimu, Cho Kyuhyun?! Ya! Kekasih macam apa kau ini?!”

Kyuhyun bangkit dari duduknya dengan gusar, “Noona… mana mungkin aku berselingkuh? Kau lucu sekali,” dengusnya. “Ada hal yang belum terselesaikan antara aku dan dia. Yang hanya aku dengan gadis itu yang tahu.”

“Apa itu?” Ahra memicingkan mata. “Jangan-jangan kau meng—“

Ya! Pikiranmu pendek sekali, Noona!” sungut Kyuhyun tidak terima. “Pokoknya, berhenti bertanya dulu hingga detik ini. Biarkan aku berpikir dengan tenang apa yang harus aku lakukan selanjutnya.”

“Ingat, besok sudah hari kelulusan. Kau tidak tahu kan apa rencana gadis itu setelah ini? Bisa saja ia pergi meninggalkanmu semisal, ke luar negeri, begitu? Kau bisa ditinggalkannya.”

Aish, Noona berhenti membuatku takut!” seru Kyuhyun. “Aku tidak akan membiarkan gadis itu pergi kemana pun. Akan kubuat dia terkurung olehku selamanya. Jadi, berhenti membuatku cemas sendiri, Noona. Mengerti?”

***

“Kapan kita bisa pulang?”

Hyo-Mi menatap Hye-Na yang mendengus panjang. Ia mengerti bahwa gadis itu pasti lelah karena nyaris empat jam berada di salon dan sekarang tengah mengelilingi kawasan COEX dengan beberapa kantung belanjaan. “Berhenti menanyakan itu, Na-ya. Bukan hanya kau di sini yang lelah, tapi juga aku.”

Hye-Na melirik tajam Hyo-Mi, sedikit membulatkan mata mendengar panggilan gadis itu. Err, rasanya terlalu aneh jika bukan… pria itu yang mengatakannya. “Jangan panggil aku seperti itu. Menggelikan.”

“Oke, tapi berjanji bahwa kau tidak akan mengeluh setelah ini?”

Hye-Na mengangguk pasrah. Sebenarnya, Hyo-Mi memanggilnya seperti itu bermaksud untuk menggoda Hye-Na. Ia tahu kalau panggilan itu lebih sering ditunjukkan oleh Kyuhyun dibanding orang lain. Bahkan termasuk pada sahabatnya sendiri.

“Mi-ya, kita sudah membeli banyak pasang sepatu dan gaun. Kau butuh apa lagi sebenarnya?” Hye-Na menahan lengan Hyo-Mi yang hendak masuk ke dalam sebuah butik, lagi.

Hyo-Mi mendecak, “Kita ke sini bukan untuk membeli gaun ataupun sepatu,” katanya. Hye-Na mengangkat alis. “Kau butuh beberapa aksesoris rambut. Kurasa ini tempat yang paling bagus untuk membeli barang-barang itu.”

Hye-Na terpaku. Menatap diam Hyo-Mi yang tengah disapa oleh beberapa pramuniaga di sana.

“Bagaimana bisa aku punya sahabat maniak fashion seperti itu?”

***

Hye-Na mengempaskan diri di ranjangnya. Matanya terpejam lelah. Seharian ini tubuhnya seperti dipaksa untuk melakukan semua hal di luar kebiasaannya. Baiklah, ia memang tidak terbiasa pergi ke salon ataupun shopping berjam-jam hingga memakan waktu demi beberapa pasang sepatu, gaun, atau aksesoris terbaru. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah dengan setumpuk novel atau film. Urusan pakaian dan sebagainya, bukankah ia bisa memakai yang ada? Atau membelinya cukup di satu butik.

Suara pintu berderak, menyembulkan tubuh Hyo-Mi dari balik pintu. “Hei, Nona Han, berniat meminum secangkir cappuccino dan waffle cokelat?”

Hye-Na terkesiap, dengan cepat bangkit dan menghampiri Hyo-Mi di ambang pintu. “Apa itu buatan Hyekyo ahjumma?” matanya berbinar.

Hyo-Mi mencibir, ia melangkah memasuki kamar Hye-Na dengan nampan di kedua tangan. “Ini buatanku. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena membuatmu kelelahan hari ini.”

Diam-diam, Hye-Na mengulas senyum. Ia mengambil sepiring kecil waffle dan menyuapkannya ke dalam mulut. “Hmm, mashita.”

Hyo-Mi hanya tersenyum. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang Hye-Na setelah menaruh nampan tersebut di atas nakas. “Besok hari kelulusan, ya? Tidak terasa sekali.”

Hye-Na ikut merebahkan tubuhnya di samping Hyo-Mi. “Banyak sekali yang terjadi,”

Hyo-Mi membalikkan badan, menghadap Hye-Na. “Kau belum menceritakan masalahmu dengan Kyuhyun. Bagaimana setelah ini?”

“Apanya yang setelah ini?”

Aish, kau tidak bodoh,” sahut Hyo-Mi kesal. “Hubunganmu dengan Kyuhyun. Meskipun hanya berpura-pura, kurasa sebenarnya kalian seperti menjalinnya dengan sungguh-sungguh. Jika tidak begitu, permasalahan ini tidak akan merumit.”

“Hye-Na, aku tahu kau sebenarnya mencintai Kyuhyun. Kenapa kau tidak mengungkapkannya saja? Jika ia memang tidak mencintaimu, masih banyak pria lain di luar sana yang bisa kau dapat. Namun, rasanya tidak mungkin Kyuhyun tidak menaruh perasaannya terhadapmu. Aku yakin itu.”

“Seberapa yakin?”

“Seyakin aku bahwa besok Lee Donghae akan datang ke acara kelulusan.”

Hye-Na terperanjat, “Kau serius? Mengapa ia datang?”

“Kau tidak tahu bahwa acara kelulusan besok akan dihadiri oleh banyak orang penting? Salah satunya, Donghae oppa.”

“Apa?!” Hye-Na bangkit dari tidurnya, menatap tajam Hyo-Mi. “Seberapa kuat koneksi pria itu? Umurnya masih terbilang muda, Mi-ya.”

“Kau akan mengatakan mustahil? Han Hye-Na, pria itu bahkan lebih dari sekadar yang kau bayangkan.”

“Apa maksudmu?” tanya Hye-Na, cemas melanda.

Hyo-Mi bangkit dari posisinya, menatap lurus-lurus mata cokelat Hye-Na. “Lee Donghae itu sebenarnya… kau masih ingat sahabatmu semasa SMA itu?”

Hye-Na mengangguk ragu, “Apa masalah—“

“Sebenarnya, ia telah meninggal sebulan sebelum Donghae kembali ke Korea. Mengidap penyakit kanker otak stadium akhir.”

Hye-Na terpaku tidak percaya. “J-jadi…”

“Donghae kembali ke Korea karena berusaha mengumpulkan semua kenangannya. Sejujurnya, kurasa ia masih memiliki perasaan padamu. Mungkin,” Hyo-Mi menjeda, membuat Hye-Na gelisah tak keruan. “ia ingin memilikimu lagi. Membalas semua perbuatannya dulu padamu dan memulainya lagi dari awal. Sekarang ini, ia sedang mencoba peruntungan terakhir.”

“Tapi bukankah Donghae oppa tahu kalau aku sedang berpacaran dengan Kyuhyun?”

“Dengan tingkah kalian yang seperti itu?” Hyo-Mi mendecak, “Kupikir beberapa orang sudah tahu kalau kau hanya kekasih pura-pura Kyuhyun, Hye-Na.”

Hye-Na semakin cemas, “Jangan berusaha menakutiku—“

“Aku tidak menakutimu,” tegas Hyo-Mi. “Lee Donghae akan mencoba peruntungan terakhirnya besok. Dan aku rasa kau harus mempersiapkan hatimu baik-baik. Besok akan menjadi hari yang panjang, Hye-Na.”

“Peruntungan terakhir? Apa maksudmu?”

“Ia akan mencoba mendapatkanmu kembali,” Hyo-Mi menarik napas dalam-dalam, “Dan kau harus mempersiapkan semuanya, Hye-Na. Hatimu dan logikamu. Jadi, pikirkan masak-masak, mana yang akan kau pilih; Cho Kyuhyun yang notabene kekasihmu saat ini atau Lee Donghae orang yang kau suka di masa lalu?”

***

Sinar mentari memaksa masuk melewati relung jendela kamar yang tampak luas, berpendar mengarungi suasana yang masih redup akibat tertutup gorden berwarna gelap. Suara erangan itu terdengar memenuhi sepenjuru kamar yang sepi, melengkapi geliat malas yang tengah berbaring di atas ranjang.

Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali—rasanya masih terlalu cepat untuknya terjaga kendati waktu telah berputar hingga di pukul sembilan. Bulu matanya bergerak mengaluni kelopak matanya yang mulai terbuka, membiaskan cahaya yang masuk ke dalam matanya.

Beberapa saat setelahnya, matanya terbuka menatapi langit-langit kamarnya yang putih. Tidak ada yang menarik. Hanya saja mendadak hidungnya berfungsi optimal tatkala harum feromon yang membuatnya merindu sepanjang hari merasuki penciumannya. Terasa nyata.

Begitu tersadar, sentuhan halus mendarat di wajahnya. Menyentuhnya amat pelan; merasai permukaan kulitnya dengan jemari lentik yang begitu mengagumkan—seolah memuja. Kyuhyun kembali memejamkan mata. Terlalu enggan untuk meninggalkan semua kenyamanan yang baru didapatnya itu—sekaligus fantasinya bahwa orang yang tengah menyentuhnya ini memang orang yang diimpikannya setiap malam.

Tangan Kyuhyun bergerak meraih jemari orang itu sembari mengelusnya perlahan. Tersentak sedikit saat merasakan kulitnya begitu halus; seolah memang diciptakan agar bisa disentuhnya sepanjang yang ia mau. Hanya oleh Kyuhyun. Dan jantungnya berdebar keras saat ingatannya terbayang sekilas demi sekilas bahwa hanya satu orang yang memiliki kulit sehalus ini. Sentuhan senyaman ini.

Han Hye-Na.

Tidak mau terlarut lebih lama, Kyuhyun membuka mata. Begitu pelan. Seolah takut bahwa apa yang dipikirkannya mungkin keliru. Sungguh, ia hanya menginginkan gadis itu yang menyentuhnya selembut ini. Ia hanya ingin Han Hye-Na, bukan gadis lainnya.

Dan napasnya tercekat. Tak mampu lagi mengungkapkan apa pun untuk mendeskripsikannya.

Wajah itu hanya satu. Pemiliknya hanya satu.

Dengan susah payah Kyuhyun mengambil napas, berujar pelan—sangat pelan, “Na-ya?”

Gadis itu tersenyum. Mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun—meminimalisir jarak yang bisa digapainya. Kemudian memberi kecupan ringan di ujung hidung pria itu.

Lagi-lagi Kyuhyun hanya bisa menahan napas.

Singkat, namun debaran Kyuhyun tak tertahankan. Ia sangat ingin meraih tubuh gadis itu, memeluknya, menciumnya, melakukan apa pun yang bisa membuat batin akan asupan rindunya terpenuhi. Yang ia inginkan hanya gadis itu. Sekarang. Begitu menginginkannya.

Kyuhyun mendesah frustasi saat organ tubuhnya seolah tak bisa bergerak sama sekali begitu Hye-Na mengelus pipinya, lembut. Membuat Kyuhyun mati-matian untuk tidak merubah posisi Hye-Na yang berada di atasnya—seolah-olah Kyuhyun kalah.

Dan ia memang kalah.

Jemari Hye-Na bergerak menyusuri rambutnya, mengacaknya pelan. Kemudian tersenyum kecil saat Kyuhyun dilihatnya memejamkan mata; menikmati kembali setiap sentuhan yang diberikannya. Meski ringan, namun memberikan efek besar.

Gadis itu mengecup singkat pelipis pria itu, kemudian turun ke bawah, mengecup pipi yang merona merah. Mata cokelatnya bergerak mengamati setiap perubahan raut Kyuhyun yang begitu sempurna di matanya. Sempurna akan bagaimana wajah itu bisa berekspresi sehalus itu.

Tak mampu menahan, Kyuhyun membuka mata. Mendapati tatapan Hye-Na yang menghujam tepat di matanya. Saling beradu pandang. Meresapi bagaimana kontrasnya warna cokelat yang terpantul dari kristal masing-masing. Tatapan keduanya begitu kuat, seolah tak memberi celah bagi siapapun untuk memasuki. Tidak sama sekali.

Dan entah sejak kapan, Kyuhyun menyentuhkan bibirnya. Menyalurkan seluruh rasa yang dimilikinya, segenap apa yang dirasakannya.

Dengan napas nyaris terputus, pria itu berbisik, “Aku mencintaimu, Na-ya.”

***

“Pestanya diadakan mulai sore nanti, Hye-Na!”

Seruan Hyo-Mi menyentakkan Hye-Na dari lamunannya. Buru-buru menjauhkan jangkauan telunjuknya dari bibir, “Hingga malam?”

Hyo-Mi mengangguk antusias, “Kita masih punya banyak waktu untuk berdandan! Dan—ah, aku tidak sabar. Kalau pesta nanti malam terbuka untuk orang-orang di luar Kyunghee, bukankah berarti akan banyak pria tampan?”

“Belum tentu, kan? Sejak kapan kau tertarik dengan dua kata ‘pria tampan’? Bukankah selama ini kau yang menghindari mereka?”

Hyo-Mi duduk di samping Hye-Na dan menyeruput ice macchiato-nya, “Itu karena aku sudah malas menjadi buah bibir di kampus. Kau tahu bukan bahwa menjadi gadis populer tidak selamanya menyenangkan?”

Hye-Na tersenyum menanggapi perkataan Hyo-Mi. “Mi-ya, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Oh,” Hyo-Mi menaruh minumannya di atas meja, matanya menatap serius Hye-Na. “Aku… aku akan ke luar negeri setelah ini.”

Hye-Na membeliak, tangannya mencengkram kuat lengan Hyo-Mi. “Mengapa kau tak mengatakan padaku sebelumnya? Kapan kau akan berangkat?”

Hyo-Mi mendesah panjang, “Besok.”

“Secepat itu?” Hye-Na masih berada dalam batas syoknya, “Kau tidak bercanda, kan? Mengapa kau pergi?”

“Aku mendapat tawaran untuk mengambil S2 di Harvard. Salah satu sahabat eomma juga menawarkanku untuk bekerja di Vogue sembari menjalani masa kuliahku.”

“Aku belum siap,” gumam Hye-Na sedih. “Kalau kau pergi besok, apa yang bisa kulakukan sekarang? Denganmu saja masalahku belum teratasi, Mi-ya.”

Hyo-Mi meraih Hye-Na dan memeluknya erat, “Percayalah padaku bahwa hari ini masalahmu akan teratasi.”

“Kau tidak akan bisa menjamin,”

“Aku menjamin. Jika masalahmu tidak selesai hari ini, aku akan menunda keberangkatanku hingga lusa.”

Hye-Na memukul pelan bahu Hyo-Mi, “Hanya menunda satu hari? Ayolah, itu tidak menjamin apa pun.”

Hyo-Mi melepaskan pelukannya, menatap Hye-Na serius. “Kalau begitu, jujurlah pada perasaanmu, Hye-Na. Sebenarnya masalah ini tidak akan serumit ini jika kau mau membuka mata dan hatimu. Hati akan menunjukan kebenaran sementara mata akan menjadi perantaranya. Kau hanya perlu yakin dengan satu pilihan. Jangan terombang-ambing seperti ini. Ingat, kau bukan seorang yang sedang menjalani tahap masa remaja lagi.”

“Tapi—“

“Mulai dari yang sederhana, apa kau selalu merasa tidak suka jika Sora berada di dekat Kyuhyun?”

Hye-Na tersentak. Pikirannya kembali berputar ketika di mana Sora mengatakan kalau ia akan menginap di rumah Kyuhyun. Kendati ada beberapa pelayan, juga mungkin keluarga Kyuhyun, bukankah tetap saja ia tinggal satu atap dengan pria itu?

Mengapa mengingatnya membuatku sesak lagi?

Hah, wajahmu saja sudah mengatakan segalanya,” dengus Hyo-Mi, sementara Hye-Na merasa wajahnya memanas. “Wajahmu memerah, Hye-Na.”

Yaa! Berhenti menggodaku!” seru Hye-Na. “Jadi apa yang akan kita lakukan setelah ini?”

Hyo-Mi menangkap binar di dalam mata Hye-Na, membuatnya tersenyum tipis. Ia meraih tangan Hye-Na dan mengajaknya pergi, “Bagaimana kalau mencoba gaun-gaun di rumahmu? Kita bisa mencari yang paling bagus untuk,” Hyo-Mi menjeda sebentar membuat Hye-Na mengernyit, “calon Ratu kita.”

Dan kembali, wajah Hye-Na menghangat.

***

Tidak ada yang lebih buruk dari ini.

“Kau kira sekarang sudah jam berapa, hah?” Ahra bertanya gusar, “Lihat baik-baik jam beker di sampingmu, Kyuhyun! Sudah pukul dua belas siang dan kau baru bangun?!”

Yaa! Noona, berhenti meneriakiku!” balas Kyuhyun tak kalah gusar. Ia sendiri tampak kacau sekarang. Bukan, bukan karena seruan Ahra yang mengagetkannya tadi.

Noona, apa… tadi Hye-Na datang ke mari?”

Ahra yang bersiap meneriakkan suaranya tiba-tiba berhenti. Menatap bingung Kyuhyun. “Hye-Na? Untuk apa kau menanyakan itu?”

“Jawab sajalah, Noona!”

Mendengar suara Kyuhyun yang nyaris setinggi suaranya, Ahra memberengut. “Hye-Na tidak ke sini. Kau pikir bagaimana mungkin ia datang ke sini jika kalian saja masih seperti anjing dan kucing yang malu-malu? Ah, sudahlah yang penting sekarang cepat kau mandi dan bersiap-siap.”

“Jadi… Hye-Na tidak datang ke sini?” gumamnya pelan. “Lalu apa itu tadi?”

“Apa?” Ahra bertanya saat mendengar Kyuhyun bergumam, “Hye-Na tidak datang ke sini. Mungkin kau bermimpi tentang Hye-Na.”

“Mimpi?” gumam Kyuhyun sekali lagi, tapi terlalu nyata.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Ahra melirik sebuah mantel cokelat yang terlihat feminim di atas ranjang, “Itu punya Hye-Na?” tunjuknya.

Kyuhyun mengikuti arah tunjuk Ahra, sedetik kemudian tersentak. Buru-buru menatap Ahra dan mengangguk, “Ah, iya… mungkin tertinggal waktu itu.”

Ahra manggut-manggut, “Kalau begitu cepatlah mandi dan… ah, sudah siang begini bagaimana bisa dikatakan sarapan?” dengusnya. Ia berjalan cepat keluar dari kamar itu, meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku di tempatnya.

Kyuhyun mengambil mantel cokelat itu, kemudian menarik napas dalam-dalam. Aroma Hye-Na yang masih membekas pada mantel itu mengingatkannya pada momen beberapa jam lalu. Masih terlalu nyata bagi Kyuhyun untuk merasai bahwa itu hanya mimpi. Namun, ketika ia coba mencium aroma yang menguar dari mantel cokelat itu sekali lagi, kepalanya seperti menyadari sesuatu.

“Bukankah tadi aku tertidur sambil memeluk mantel ini? Apa terbawa hingga ke mimpi?” lirihnya pelan, sedikit kecewa menyadari semuanya hanya ada dalam bunga tidurnya. Kyuhyun mendesah panjang, “Begitu juga dengan ciumannya?”

***

Suasana penjuru aula terlihat ramai oleh para mahasiswa yang tengah menikmati alunan lagu pembuka. Ruangan besar itu disulap menjadi sebuah gedung yang nampak cantik sekaligus elegan. Nuansa dinding berwarna pastel, juga red carpet di sepanjang pintu masuk hingga ke depan panggung yang berada di pusat aula menambah kesan resmi.

Seluruh mahasiswa namja mengenakan setelan resmi berupa tuksedo, sementara para yeoja mengenakan gaun. Sedikit banyak di antara mereka saling bersenda gurau, mengobrol tentang hal apa yang akan dilakukan setelah ini, dan berdansa ketika para pemain musik memainkan lagu slow yang romantis. Beberapa di antaranya pula bahkan saling mengungkapkan perasaan masing-masing sebelum benar-benar lulus.

Sebagian perhatian kini mendadak terpusat pada seorang gadis yang tengah menggandeng lengan seorang pria memasuki aula dengan langkah anggun. Beberapa namja menatap kagum rupa gadis itu sementara para yeoja menjerit tertahan tatkala melihat sosok pria asing di mata mereka yang begitu memukau.

“Kau tidak mengatakan padaku bahwa kita akan menjadi MC malam ini,” bisik Sora, melirik tajam Jungsoo. “Oppa berhutang banyak penjelasan padaku.”

Jungsoo tersenyum kecil sebelum balas berbisik, “Ikuti saja apa kataku nanti.”

“Sebenarnya apa yang sedang kau rahasiakan dariku?” bisik Sora lagi setelah membalas senyum beberapa pria yang dilintasinya, “Tidak akan ada pertunjukan malam ini, bukan?”

Jungsoo melepas rangkulan Sora dan berjalan ke belakang panggung. Sora mengikuti di belakang sembari bibirnya mengumpat plastik yang nyaris membuatnya terpeleset. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku!”

Jungsoo tak menggubris dan langsung masuk ke sebuah ruangan khusus. Sora mendengus melihatnya, lantas dengan cepat melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu.

Oppa kau ini—ah, Hanna ahjumma?”

***

“Baiklah para hadirin sekalian, terimakasih atas kehadirannya dalam acara ini…” suara Jungsoo menyeruak begitu Kyuhyun menatap jam dinding besar di aula itu menempati pukul lima sore. Ia sedikit menatap sinis ketika Sora berjalan naik ke atas panggung dan berdiri di sebelah Jungsoo. Jadi, keduanya adalah MC hari ini? Kyuhyun mendengus tak percaya.

Pria itu menatap sekelilingnya, mencari sosok yang sedari tadi membuat batinnya bergejolak. Di mana gadis itu? Ia tidak berniat kabur dari acara ini, kan?

“Hari ini ada tradisi lama yang kembali dimunculkan setelah beberapa dekade menghilang,” ucapan Jungsoo membuat fokus Kyuhyun beralih, memandang pria yang tengah menampilkan senyum lesung pipinya itu. “Raja dan Ratu tahun ini. Ada yang tahu siapa?”

Seluruh aula tiba-tiba riuh oleh berbagai suara yang saling melontarkan dugaan, bisik-bisik, ataupun teriakan-teriakan yang membahana ke seantero gedung. Kyuhyun mencoba menulikan pendengarannya sejenak, namun gagal. Suara-suara itu semakin terdengar keras ketika pintu aula terbuka. Ia mendecak kesal; siapa orang yang menimbulkan suara riuh ini karena keterlambatannya?

Kyuhyun hendak meninggalkan tempat itu saat matanya tak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang berdiri gelisah begitu mendapati dirinya sebagai pusat perhatian. Berdiri di sana, dan pria itu baru menyadari bahwa sekitarnya mendadak sunyi. Kyuhyun mencoba mencari fokusnya yang lenyap entah ke mana saat melihat tubuh sempurna gadis itu dalam balutan gaun berwarna merah. Sial, desis Kyuhyun dalam hati. Ia mengedarkan pandangan, apa ia tidak tahu efek apa yang sudah dilakukannya?

Suara Jungsoo memecah keheningan yang terjadi, “Jadi, siapa yang bisa menebak Raja dan Ratu kita malam ini?” seru pria itu. Para mahasiswa di sana mengalihkan keterpanaannya sesaat dari Hye-Na, kendati masih mencuri-curi pandang pada gadis itu.

Hye-Na mengenakan gaun dengan panjang di atas lutut dan bagian bahu terbuka. Menampilkan bahu dan lehernya yang jenjang, membuat Kyuhyun harus mati-matian menahan diri untuk tidak melepas jasnya dan menutupi tubuh gadis itu dari tatapan para pria yang terang-terangan menatapnya. Rahang Kyuhyun mengeras saat Hye-Na berjalan—menghampirinya.

Suara riuh kembali terdengar tatkala Hyo-Mi, gadis populer itu menyembulkan tubuhnya dari balik pintu. Sebagian mahasiswa langsung melemparkan tatapan terpana pada Hyo-Mi dalam balutan gaun berwarna cokelat muda selutut kendati masih mencuri lirik Hye-Na yang dengan gugup beringsut ke arah Kyuhyun. Bahkan sepertinya, gadis itu hanya mendapat perhatian selama beberapa detik setelah Hye-Na sudah berdiri berhadapan dengan pria itu. Pemandangan yang jauh lebih mendapat sorotan.

Tapi meski begitu, Hyo-Mi tersenyum senang. Ia menatap kedua insan itu seraya berdoa dalam hati.

Kyuhyun menatap Hye-Na tak berkedip. Jantungnya berdebar keras begitu melihat penampilan Hye-Na dari jarak sedekat ini. Begitu cantik. Sangat. Apa ia perlu mengakuinya?

Rambut panjang gadis itu dibiarkan terurai, dengan jalinan kepang kecil yang melingkari bagian rambut di daerah belakang. Sementara beberapa helainya jatuh di kedua sisi wajah, mendorong gadis itu untuk menyampirkannya ke belakang telinga.

Kyuhyun terpaku. Menatap intens gadis itu tanpa berusaha menutupi keterpanaannya. Gadis itu… bagaimana bisa terlihat sangat memukau di matanya?

“Apa secantik itu, Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun terkesiap, ia menggaruk belakang lehernya. “Kau—“

“Sepertinya semua sudah hadir,” suara Sora kali ini menggema ke sepenjuru gedung. “Bagaimana kalau kita mulai acara yang sesungguhnya?”

Hyo-Mi meneguk wine-nya sekali, lalu menatap Sora dari ujung pandangannya. Perasaannya sedikit tidak enak; bukan karena beberapa pria yang sengaja berdiri di dekatnya. Tapi…

“Kita sambut… Cho Kyuhyun dan Park Hyo-Mi!”

Sontak seantero gedung dipenuhi oleh suara riuh. Nyaris semuanya bertepuk tangan menanggapi hal itu. Beberapa di antaranya berdecak kagum—memang sudah menduga bahwa kedua orang itulah yang akan saling bersanding diri di depan. Bahkan, para pria yang berada di sekitar Hyo-Mi langsung menjauhkan diri mendengarnya.

Sementara di lain riuhnya suara, tubuh Hye-Na menegang. Sangat kaku, bahkan hanya untuk sekadar menoleh ke arah Hyo-Mi.

Kyuhyun mendelik tajam Jungsoo dan Sora di atas panggung yang memasang wajah tak berdosa. Sama sekali tak bersalah. Ia menggeram kesal. Permainan apa lagi sekarang?

Namun, ada hal yang jauh lebih penting dari itu semua.

“Na-ya…” Kyuhyun mencoba meraih lengan gadis itu namun langsung ditepisnya kasar. Hati gadis itu sakit. Sesak. Ia mendongak, menatap tepat di manik Kyuhyun. Sedetik kemudian sebutir kristal itu jatuh di pelupuk matanya.

Dada Kyuhyun terasa dipukul berkali-kali. Melihat gadis yang dicintainya menangis. Di hadapannya. Seorang diri.

“Puas kau mengacaukan hidupku?” suara serak Hye-Na mengalun bagai bisik. “Kau pasti… merencanakan ini semua bersama Jungsoo oppa sebelum aku tiba di kafe waktu itu, kan?”

Mendengar tuduhan itu, Kyuhyun berujar cepat, “Aku tidak merencanakan ini semua. Sungguh. Aku tidak tahu tentang ini sama sekali, Na-ya.

“Kau bohong!” seru Hye-Na tanpa sadar. Sungguh, rasanya ia sudah tak peduli dengan tatapan yang dihujam sekitarnya. Pikirannya berkecamuk. Batas kesabarannya seolah lenyap begitu saja. “Atau ini yang kau maksud mempertahankan kebohongan kita hingga hari kelulusan? Agar kau mempunyai alasan bersama dengan Hyo-Mi?”

“Hyo-Mi?” ujar Kyuhyun merendah. “Gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya. Aku—“

“Berhenti!” Hye-Na menarik napas dalam-dalam, mengusap cepat air matanya yang kembali jatuh. “Kalau kau memang menginginkan sahabatku, mengapa kau tidak bilang dari awal? Setidaknya kau bisa menjadikannya kekasih pura-puramu, bukan aku!”

Mendengar kata pura-pura, beberapa mahasiswa yang berada di dekat mereka langsung berbisik-bisik. Kyuhyun panik. Bukan karena pengaruh sekitarnya namun kondisi Hye-Na di hadapannya sekarang. Wajah gadis itu memerah seolah menahan amarah. Dan Kyuhyun tidak bisa membiarkan gadis itu tetap dalam keadaan kacau seperti ini. Ia harus membawanya pulang—sekarang juga. Persetan dengan acara kelulusan ataupun predikat ‘Raja dan Ratu’.

“Ayo ikut aku pulang,” tukas Kyuhyun sambil menarik pergelangan tangan gadis itu. Hye-Na mengibaskan tangannya kasar, membuat Kyuhyun tak bisa menahan kecemasannya lagi. “Ikut aku pulang, Na-ya!”

Hye-Na tersentak mendengar bentakan Kyuhyun. Kendati ia tahu bahwa Kyuhyun mencemaskannya, namun otaknya sudah tak berfungsi dengan baik. Dengan cepat ia berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu.

Kyuhyun semakin panik, ia baru saja hendak mengejar gadis itu saat sebelah tangan kekar mencengkram lengannya cukup kuat.

“Kau ingin meninggalkan semua kekacauan ini?”

Appa?”

Appa sudah tahu semuanya. Jadi, lebih baik jelaskan semuanya padaku. Sekarang.”

***

Hye-Na berjalan tak tentu arah. Matanya sembab. Udara dingin yang menerpa tubuhnya seolah menembus kulit dan menusuk tulang. Otaknya sudah seperti tak berada di tempat yang seharusnya.

Hye-Na mendesah panjang tatkala matanya kembali memanas. Peristiwa yang baru terjadi beberapa belas menit yang lalu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Berputar-putar dan membuatnya pusing. Ia nyaris saja limbung saat tak sengaja tersandung trotoar di depannya dan baru menyadari bahwa ada seseorang yang menahan lengan dan bahunya. Buru-buru ia berterimakasih tanpa sempat melihat wajah orang itu, kemudian kembali melangkah.

Gadis itu berhenti saat lengannya kembali dicengkram, kali ini lebih kuat. Sesaat takut menyergapnya. “Ada apa?”

“Tidak bisakah kau menatap lawan bicaramu?”

“Donghae Oppa?” Hye-Na terkesiap, sekilas terkejut mendapati Donghae yang menolongnya tadi. “Ah, mianhae.”

Donghae tersenyum, namun mendadak lenyap saat wajah Hye-Na terlihat lebih jelas begitu membalikkan badan. Sinar lampu menerangi tubuh gadis itu meski remang-remang. “Apa terjadi sesuatu?”

Hye-Na menggeleng, “Tidak usah mengkhawatirkan aku.”

Donghae berusaha tenang dengan meraih tubuh gadis itu dan memeluknya. Sebenarnya, hatinya cemas bukan main ketika merasakan tubuh itu terasa dingin. Begitu rapuh. Ingin sekali bertanya berbagai hal namun yang keluar hanya, “Kalau kau ingin menangis, menangislah.”

Sekejap pertahanan Hye-Na runtuh. Ia menelungkupkan kepalanya pada Donghae dan air matanya kembali berderai. Isakan itu semakin menjadi saat Donghae mengusap puncak rambutnya dengan gerakan teratur. Hye-Na membutuhkan hal ini sekarang—meski tak merubah kondisi apa pun—agar perasaannya bisa sedikit tenang. Bahkan tanpa sadar ia memukul dada Donghae ringan sebagai bentuk pelampiasannya.

Donghae masih bersikap tenang meski keinginan untuk bertanya sangat besar. Ia menangkupkan kedua tangannya pada wajah Hye-Na saat gadis itu melepaskan pelukannya. “Mau menceritakannya padaku?”

Hye-Na menggeleng, “Mungkin tidak sekarang, Oppa.”

Pria itu menghela napas dan menghapus sisa air mata di wajah gadis itu, “Kau mengenakan gaun ini… apa terjadi sesuatu di acara itu?”

Oppa baru akan ke sana, ya?”

Donghae berusaha sabar saat gadis itu mengalihkan pembicaraan, “Aku sedikit terlambat karena ada urusan yang harus kuselesaikan,” jawabnya. “Kau mau pergi bersamaku?”

“Tidak,” ujarnya, ada sedikit nada getir. “Aku harus pulang, Oppa. Ada suatu hal penting yang harus kuselesaikan,” dustanya.

Donghae mengangguk kendati tak yakin dengan alasan gadis itu. “Mau kuantar pulang?”

Hye-Na menggeleng cepat, “Tidak perlu. Lagi pula sebelum pulang ada tempat yang harus kukunjungi,” Hye-Na membungkukkan badan. “Ehm, maaf telah membuat jasmu basah, Oppa.”

Donghae tersenyum lalu merapikan sebentar rambut Hye-Na yang agak berantakan. “Kalau begitu berhati-hatilah, Hye-Na.”

Hye-Na mengulas senyum mendengar perhatian kecil pria itu, lalu dengan perlahan berbalik pergi setelah melambaikan tangan.

Donghae menarik napas panjang, berbalik memasuki pelataran Kyunghee lebih dalam saat matanya tak sengaja bersobok dengan sesosok pria yang menatapnya tajam.

Donghae hanya mengangkat bahu acuh saat pria itu masih menghujam tatapan yang sama, “Kau yang membuatnya menangis?”

Kyuhyun mendengus, “Apa urusannya denganmu?”

“Tentu saja ada, Kyuhyun-ssi,” Donghae menerawang Hye-Na yang sudah menghilang di gerbang belakang, “Kau harusnya sadar apa yang kau perbuat. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian atau yang terjadi di dalam sana.” Donghae mengendikkan kepala ke aula.

Kyuhyun berjalan melewati Donghae begitu saja tanpa berusaha membalas ucapan pria itu. Namun baru pada langkah ketiga, suara Donghae mengalun menembus gendang telinganya. “Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri,”

“Apa?”

“Gadis yang kau cintai menangis,” tegas pria itu. “Bahkan sekarang ia berusaha untuk pulang. Kau pikir dalam keadaan gadis itu sekarang, ia bisa menyetir dengan baik? Atau dengan gaun terbuka itu kau yakin tidak akan ada orang yang mengganggunya?”

“Sial,” desis Kyuhyun. Kecemasan benar-benar merasuki seluruh sel tubuhnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia langsung berlari meninggalkan Donghae.

“Kau sudah tidak apa-apa sekarang? Aku kagum dengan sikap tenangmu,” suara itu membuat Donghae tersentak, seketika menatap Hyo-Mi yang sudah berdiri di belakangnya.

“Yah, mungkin aku termasuk dalam kategori cinta itu tidak harus memiliki,” Donghae menegakkan bahu santai. “Oh, ya sebenarnya apa yang terjadi?”

Hyo-Mi tersenyum, “Akan kuceritakan sambil kita berjalan.”

Donghae hanya menurut dan menyamakan gerak langkah kakinya dengan gadis itu.

***

Hye-Na melangkah sembari menunduk hingga tak sadar saat kakinya berhenti pada sebuah taman. Ia mendongakkan sedikit wajahnya, kemudian tertegun kala melihat objek di depannya.

Sebuah air mancur dengan patung seorang wanita.

Gadis itu tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di belakang gedung Kyunghee—sebelum Sora mengatakannya—dan rasanya sedikit menyesal mengetahui hal itu. Pasalnya, taman ini sepertinya tidak terbuka untuk umum karena sekelilingnya diberi batas pagar yang menjulang hingga dua meter. Dan tak ada tanda-tanda pintu di sana kecuali akses masuk melalui gedung Kyunghee sendiri.

Hye-Na menangkupkan kedua tangannya pada wajah saat merasakan embusan angin lagi-lagi menerpa tubuhnya. Mengumpat dalam hati mengapa ia tak kembali dulu ke mobil? Setidaknya ia bisa mengambil jaket di sana.

Tapi, bukankah ini langkah yang dituntunnya sendiri? Tanpa arah hingga membawanya ke taman ini?

Tak ingin berdebat dengan batinnya sendiri, Hye-Na berjalan masuk ke dalam taman tersebut sambil tatapannya terfokus pada sesosok patung wanita yang dipahat serupa ballerina. Patung itu berada di tengah-tengah kolam dan tertutupi oleh derasnya air yang mengucur dari jemarinya yang lurus ke atas. Samar-samar, pahatan untuk wajah ballerina itu digariskan senyum yang melengkung sempurna. Indah—jika dibayangkan bahwa itu nyata.

Sejenak perasaan gadis itu lebih tenang saat suara gemericik air beradu dengan embusan angin. Membuatnya lupa apa yang dipermasalahkannya sekarang.

Hye-Na tidak tahu apa yang ia pikirkan ketika ia melepas sepasang stiletto-nya, dan bermaksud menenggelamkan setengah betisnya di dalam air kolam itu. Ia tahu bahwa rasanya pasti dingin. Namun entah mengapa ia ingin mencobanya. Mungkin akan menyenangkan demi menyegarkan pikiran.

Ia baru akan mendudukkan tubuhnya saat kakinya tak sengaja terpeleset genangan air yang licin di pinggir pembatas kolam. Jantungnya mencelos; mendadak bergemuruh cepat. Ia menutup matanya tak mencoba menerka-nerka kemungkinan yang akan terjadi. Namun, beberapa saat setelahnya, ia merasa waktu seakan berhenti. Kepalanya tidak limbung ke atas tanah atau dirinya yang tidak tercebur ke kolam. Oh, apa Tuhan menyelematkannya?

Alih-alih membuka mata, ia malah mencoba mencari pegangan. Lalu menarik napas lega saat merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya. Ia menggenggam lengan orang itu tanpa menaruh rasa curiga. Otaknya sudah tidak fokus; seakan-akan terkontaminasi oleh pengaruh alkohol.

Hye-Na membuka mata dan bermaksud membalikkan badan saat orang itu mengangkatnya dari pembatas kolam dan menurunkannya tepat di depan orang itu. Seorang pria, pikir Hye-Na. Sudah benar-benar seperti orang mabuk sebelum hidungnya sadar ketika mendeteksi aroma yang menguar di depannya.

Kemudian terkesiap, lalu mencelos.

Hye-Na mendengus. Otaknya tiba-tiba kembali berfungsi saat mengetahui siapa orang yang menolongnya tadi. Ah, rasanya jauh lebih menyebalkan ketika seluruh tubuhnya merespon pria itu. Ia lebih baik kembali lupa akan apa yang terjadi daripada harus kembali menerima kenyataan.

Hye-Na duduk pada bangku yang disediakan taman itu sembari mengenakan kembali stiletto-nya, sama sekali tak berminat mengucapkan terimakasih pada pria itu. Atau sekadar mendongakkan kepala demi melihat rautnya. Sejujurnya, ia masih takut. Bukan enggan karena hal lain. Ia takut pria itu akan kembali membuatnya jatuh—untuk kesekian kali.

Hye-Na bangkit dari duduknya, bermaksud meninggalkan taman itu saat Kyuhyun menahan lengannya kuat. Benar-benar tak ingin gadis itu pergi sebelum ia menjelaskan sesuatu.

“Na-ya, dengarkan aku dulu,”

Hye-Na tak bergeming.

“Kau harus dengarkan penjelasanku, Na-ya. Sungguh, aku tidak pernah merencanakan hal itu. Semuanya memang sudah diatur.”

Hye-Na masih tak bergeming. Matanya cepat sekali memanas.

“Na-ya, biarkan aku—“

“Kau sudah selesai bicara?” Hye-Na membalikkan badan, tatapannya berubah sendu. “Cho Kyuhyun, tolong bisakah kau akhiri semua ini? Aku akan bilang kepada kedua orangtuamu besok bahwa ini semua hanya kepura-puraan.”

“Tidak!” geleng Kyuhyun tegas, “Aku tidak akan membiarkannya.”

“Kenapa?!” seru Hye-Na. “Beri aku alasanmu, Cho Kyuhyun! Kau gila jika tetap mempertahankan kepura-puraan ini!”

“Aku memang sudah gila sepertinya,” kata Kyuhyun, berusaha menenangkan diri. Dengan cepat ia meraih tubuh Hye-Na ke dalam pelukannya. Hye-Na berusaha meronta dari dekapan pria itu. “Berikan aku waktu dua menit lagi. Aku janji, setelah ini kau boleh meminta apa pun dariku. Bukankah waktu itu aku sudah berjanji?”

Hye-Na menggigit bibirnya saat memorinya terbayang satu demi satu. Awal pertemuannya dengan Kyuhyun, saat menginap kali pertamanya di rumah pria itu, hingga pertemuan-pertemuan tak terduga dengan orang-orang baru saat ia menjalani hari bersama Kyuhyun. Rasanya begitu singkat—entah mengapa.

“Apa?” suara Hye-Na mengalun bagai bisik. Ia sudah tidak punya tenaga untuk meronta dari dekapan Kyuhyun yang seolah mengekangnya. Menjeratnya secara posesif. Toh, hanya dua menit, kan?

Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya, indera penciumannya menghirup baik-baik aroma gadis itu. Menyimpannya di dalam memori dan berusaha dibekukan.

Tanpa sadar, pria itu menghela napas panjang saat wajahnya menghangat. Kendati dalam situasi seperti ini pun, batinnya sedikit tidak siap. Jantungnya berdebar keras seolah takut Hye-Na dapat merasakannya dalam jarak sedekat ini. Meskipun dalam saat yang bersamaan perasaannya takut bahwa setelah ini, hubungan keduanya malah semakin jauh. Tapi tidak ada salahnya…

“Hye-Na,” bisik pria itu, mencoba menormalkan degup jantungnya sendiri. “Aku mencintaimu.”

Tubuh gadis itu menegang dalam pelukannya. Benar-benar kaku.

Lalu beberapa saat setelahnya, suara tawa serak terdengar, “M-mau mencoba membohongiku lagi?”

Kyuhyun terkesiap; tak menyangka Hye-Na akan berpikir kalau pria itu membohonginya. Karena terlalu terkejut, dengan mudah gadis itu melepaskan pelukannya saat lengan Kyuhyun mengendur. Pria itu mengumpat.

“Jangan mempermainkan perasaan seseorang,” ujar Hye-Na dalam, pertahanannya nyaris runtuh. “Aku…”

Kyuhyun tak tahu lagi apa yang ada dipikirkannya selain mengunci bibir gadis itu dengan bibirnya. Hanya menyentuhkannya, lama, melupkan seluruh emosi dan perasaan yang disimpannya. Berharap gadis itu mengerti. Sangat mengerti dengan tindakannya.

Hye-Na amat terlalu terkejut dengan tindakan Kyuhyun tanpa bisa mencernanya dengan baik. Otaknya sudah limbung saat bibirnya masih bisa merasakan sisa ciuman itu. Bahkan saat Kyuhyun sudah mengalunkan kembali suaranya, dengan nada nyaris tak tergoyahkan.

Aku mencintaimu, Na-ya. Aku mencintaimu.”

 

-To Be Continued-

A/N: Annyeong, yeorobun!!!

Ya, ampun ini kenapa lama banget publishnya? Sampai dua bulan begini?? Aduh, aku minta maaf banget ya, ini habis comeback *apaan* dari hiatus sementara. Maaf banget publishnya gak sesuai jadwal, soalnya ini aku cicilnya kalau ada waktu libur. Lalu sempat kehilangan ide juga di tengah cerita karena mendadak draft yang udah disusun hilang *ditimpuk*. Sekali lagi, aku minta maaf, ya. Sebagai permintaan maaf, part ini aku panjangin sekitar 2000 kata (kepanjangan gak sih?) pokoknya aku minta maaf karena udah bikin readers lama nunggunya. Syukur-syukur aku nggak terlambat publish lagi, amiiin.

Untuk part depan aku nggak bisa yakin udah final atau belum, pokoknya aku rencanain part depan final atau dua part lagi (di part 13) finalnya. Oleh karena itu, untuk silent readers aku mohon pengertiannya, ya. ‘Kan jarang-jarang aku minta dikomentarin *masa sih* hehehe pokoknya part depan bakal aku cepat publish kalau komentarnya lebih banyak. Seperti yang sudah-sudah, komentar itu ‘kan oksigennya para author *soktaunya kumat* kalau part ini komentarnya lebih banyak sesuai dengan harapan, part depannya bakal aku publish secepatnya! Mumpung belum masuk rentan waktu buat fokus banget sama UN (berhubung aku lagi semester akhir), jadi masih ada waktu buat nyelesain part selanjutnya sebelum aku benar-benar hiatus.

Oke, untuk typo yang berseliweran aku minta maaf juga. Lalu, aku butuh saran dan komentar kalian juga buat FF ini. Yang biasanya jadi silent readers, ayo suarakan komentarnya. Dan, ah terimakasih buat yang nge-vote nominasi author favorit itu. Beneran gak nyangka FF tidak jelas ini bisa masuk ke sana T.T pokoknya sekali lagi makasih buat yang nge-vote! Sebenarnya itu juga yang buat aku semangat nulis di tengah hiatus, juga komentar kalian di part sebelumnya.

Terakhir, maaf kepanjangan *lirik ke atas*. Selama dua bulan ini rasanya ingin berkoar-koar, hehehe. Oke, jangan lupa komentar dan sarannya, ya. Review kalian itu berharga banget buat aku yang cuma bisa nulis ini di malam hari atau saat libur aja, jadi saatnya kalian menghargai aku, ya. Aku juga bakal menghargai komentar-komentar yang masuk. Buat yang mau tanya-tanya tentang jadwal publish FF bisa mention aku; @zolakharisa

Sip, terimakasih banyak atas perhatiannya! :D

156 Responses to “Cappuccino (Part 11)”

  1. marinizuu May 8, 2013 at 8:55 pm #

    Asdfghjkl
    Kenapa tbc????????????!!!!!!
    AahHhhh nanggung banget.ga boong :(
    Next chapternya harus cepet gamau tau hehe
    Nice ff onnie :D

  2. lee rae sang June 8, 2013 at 12:24 am #

    Serius ini sweet bgt. Kyu udh mikir lma2. Ngungkapinnya special kek.

  3. fazriyah June 12, 2013 at 6:17 am #

    Ini benar2 sweet … Sayang sekali TBC datang :(

  4. Nuri nda June 17, 2013 at 10:39 pm #

    Akhirnya..brani jga kyu ngungkapin pras2nya..

  5. luluchoi June 17, 2013 at 11:16 pm #

    baru baca part ini
    so sweet

  6. norma August 12, 2013 at 7:29 am #

    Duh thor dari part 9 10 udah gereget banget ko lamaaaaa banget bilang cinta, akhirnyaaaaaah…. Keren thor! (´⌣`ʃƪ)

  7. rae220315 January 11, 2014 at 2:27 pm #

    asli. chap ini bikin tegang. >_<
    akhirnya kyu ungkapin perasaannya juga. :D

Trackbacks/Pingbacks

  1. Cappuccino (Part 12-A) | FFindo - March 24, 2013

    [...] [Part 11] [...]

  2. Cappuccino (Part 12-B) | FFindo - April 4, 2013

    [...] [Part 11] [Part 12-A] [...]

  3. Cappuccino (Part 13-A) | FFindo - January 6, 2014

    […] [Part 11] [Part 12-A] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,263 other followers

%d bloggers like this: